0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan27 halaman

Studi Budaya Pariwisata Tana Toraja

Makalah ini membahas studi lapangan tentang pariwisata budaya di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, yang mencakup asal-usul, pola kehidupan, adat istiadat, dan pengembangan pariwisata masyarakat Suku Toraja. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai budaya lokal dan manfaat pariwisata bagi masyarakat. Dengan fokus pada kearifan lokal, makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

Diunggah oleh

Indah Adelia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan27 halaman

Studi Budaya Pariwisata Tana Toraja

Makalah ini membahas studi lapangan tentang pariwisata budaya di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, yang mencakup asal-usul, pola kehidupan, adat istiadat, dan pengembangan pariwisata masyarakat Suku Toraja. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai budaya lokal dan manfaat pariwisata bagi masyarakat. Dengan fokus pada kearifan lokal, makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

Diunggah oleh

Indah Adelia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PARIWISATA BUDAYA

STUDI LAPANGAN DI TANAH TORAJA SULAWESI SELATAN

DISUSUN OLEH :
IN DRI ADELIA KULLE
T202210149

PROGRAM STUDI SASTRA DAERAH


FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2022

i
KATA PENGANTAR
Segala puji Allah SWT dan junjungan kita Nabi Muhammad serta rasa
syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan
limpahan rahmatnyalah maka saya dapat menyelesaikan sebuah makalah dengan
tepat waktu.
Berikut ini saya mempersembahkan sebuah makalah dengan judul " Studi
Lapangan Di Tanah Toraja Sulawesi Selatan ", sesuai dengan tugas yang
berikan menurut saya dapat memberikan manfaat yang besar bagi saya dan
pembaca untuk dapat mempelajarinya agar menambah wawasan dan ilmu baru.

Melalui kata pengantar ini saya lebih dahulu meminta maaf dan memohon
memaklumi bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya
buat kurang tepat atau menyinggu perasaan.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat dan perubahan bagi diri sendiri juga dapat menjaga kearifan
lokal masyarakat untuk menjadi salah satu pariwisata yang unik bagi bangsa
indonesia.

Makassar, 7 Desember 2022

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1 latar belakang.................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................5
1.3 Tujuan.............................................................................................................5
1.4 Manfaat...........................................................................................................5
BAB II TINJAUANPUSATAKA..........................................................................6
2.1 Asal-usul Masyarakat Suku Tana Toraja.......................................................6
2.1.1 Identitas Etnik..........................................................................................6
2.1.2 Sejarah Etnik............................................................................................6
2.2 Gambaran Umum Pola Kehidupan Masyarakat Suku Tana Toraja...............8
2.2.1 Kondisi Sosial..........................................................................................8
2.2.2 Sistem Kepercayaan.................................................................................9
2.2.3 Sistem Kekerabatan.................................................................................9
2.2.4 Sistem Perkawinan.................................................................................10
2.2.5 Sistem Perkampungan/ Organisasi Sosial.............................................10
2.3 Gambaran Adat Istiadat, Budaya Dan Seni Pada Masyarakat Suku Tana
Toraja..................................................................................................................11
2.3.1 Tiga tongkonan di desa Toraja..............................................................11
2.3.2 Ukiran kayu...........................................................................................12
2.3.4 Upacara pemakaman..............................................................................12
2.4. Strategi Pengembangan Pariwisata Tana Toraja................................15
BAB III METODOLOGI...................................................................................18
3.1 Gambaran Lokasi.........................................................................................18
3.2 Metode Studi Lapangan................................................................................18
BAB IV HASIL STUDI LAPANGAN................................................................20
BAB V PENUTUP................................................................................................25
5.1 Kesimpulan...................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang


Pariwisata budaya merupakan suatu kegiatan wisata yang condong atau
cenderung kepada daya tarik wisata berwujud hasil-hasil dari seni budaya daerah
tersebut, contohnya adat istiadat, upacara keagamaan, tata hidup masyarakat,
peninggalan sejarah, hasil seni dan juga kerajinan masyarakat di daerah tersebut
( Menurut Damarjati, 2001).
Dalam pembangunan pariwisata, pemerintah Indonesia telah mengangkat
Pariwisata Budaya (Cultural Tourism) sebagai jenis pariwisata unggulan. Dalam
pelaksanaannya, di satu pihak diupayakan agar terus adanya peningkatan
kepariwisataan (jumlah wisatawan, prasarana dan sarana, jasa, promosi, atraksi)
yang makin mengarah ke pariwisata berkualitas dan di pihak lain agar masyarakat
Indonesia makin memperoleh manfaat yang positif, sehingga kesejahteraan makin
meningkat secara seimbang material-spiritual, tanpa mereka tercabut dari akar
budaya dan lingkungan sendiri.
Menurut Koentjaningrat (1985) kebudayaan adalah keseluruhan ide-ide,
tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Koentjaraningrat menekankan dua
aspek kebudayaan yaitu abstrak (non material) dan konkret (material. Pada
definisi Koentjaraningrat, tampak bahwa kebudayaan merupakan suatu proses
hubungan manusia dengan alam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya
baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam proses tersebut manusia berusaha
mengatasi permasalahan dan tantangan yang ada dihadapannya.
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara
Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan
500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja
Utara, dan Kabupaten Mamasa. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda
datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia
luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata
Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari

4
oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi
budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi
masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor
pariwisata yang terus meningkat.
1.2 Rumusan Masalah
 Bagaimana Asal-Usul Masyarakat Suku Tana Toraja?
 Bagaimana Gambaran Umum Pola Kehidupan Sosial Suku Tana Toraja?
 Bagaimana Gambaran Adat Istiadat, Budaya Dan Seni Pada Masyarakat
Suku Tana Toraja?
 Bagaimana Pengembangan Pariwisata Tana Toraja?
1.3 Tujuan
 Mengkaji Asal-Usul Masyarakat Tana Toraja.
 Mengidentifikasi Sistem Pola Kehidupan Suku Tana Toraja.
 Mengidentifikasi Adat Istiadata,Budaya Dan Seni Masyarakat Suku Tana
Toraja.
 Mengkaji Perkembangan Pariwisata Di Tana Toraja.

1.4 Manfaat
Manfaat secara Umum:

Sebagai media pembelajaran mahasiswa dalam mempelajari


pariwisata budaya di sulawesi selatan

Manfaat secara Khusus :

Agar mahasiswa dapat mengetahui sejarah asal mula tana toraja,


mahasiswa dapat mengetahui pola kehidupan masyarakat tana toraja dan
apa saja yang menjadi ritual-ritual penting yang sering dilaksanakan
masyarakat Toraja.

5
BAB II
TINJAUAN PUSATAKA

2.1 Asal-usul Masyarakat Suku Tana Toraja


2.1.1 Identitas Etnik
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka
sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan
Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran
tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai
kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara
desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai
praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. “Toraja” (dari bahasa pesisir
ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan
sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi.
Masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara
penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan
pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina).
(DR. C. Cyrut, 2001).
Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang
berdiam di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja
pada tahun 1909. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang),
Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-
kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri,
sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana
[Link] Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan
dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial
yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama
beberapa hari.

2.1.2 Sejarah Etnik


Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dihubungkan dengan sejarah
yang ada di Tana Toraja. Nama suku Toraja mulanya diberikan oleh suku
Bugis Sindengreng dan Luwu. Orang Sidengreng menamakan penduduk daerah

6
ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di
pegunungan” sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya
“Orang yang berdiam di sebelah barat”
Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam Utara dan Cina Selatan,
dipercaya sebagai tempat asal suku Toraja. Telah terjadi akulturasi panjang
antara ras Melayu di Sulawesi dengan imigran Cina. Awalnya, imigran tersebut
tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan
dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi
tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki
sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir
terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama diantara
suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut
animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-
an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan
pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga
menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis
digambarkan di sekitar wilayah Sa’dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja
awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah
tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status
regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun
1957.
Pada tahun 1930-an, terjadi konflik-konflik antara penduduk Muslim di
dataran rendah dengan orang Toraja. Akibatnya, banyak orang Toraja yang
ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk
mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan
perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam.
Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan
mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam,
yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang

7
gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin
banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekrit presiden mengharuskan seluruh
penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui:
Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Kepercayaan asli Toraja
(aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret
tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai
bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan
sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

2.2 Gambaran Umum Pola Kehidupan Masyarakat Suku Tana Toraja

2.2.1 Kondisi Sosial

Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat


dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa,
dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia
Belanda). Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga,
tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih
sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil
yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh
menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan
dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan
budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada
kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat
memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah
kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.
Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga.
Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan
membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan
perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka,
tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak
diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama

8
dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka.
Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.
2.2.2 Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan
animisme politeistik yang disebut aluk, atau “jalan” (kadang diterjemahkan
sebagai “hukum”). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga
dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja
sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam semesta,
menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan
dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan
kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia
bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang
dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga
terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja
lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Ongon-Ongon (dewi
gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo’ Belo Tumbang (dewi
pengobatan), dan lainnya.
2.2.3 Sistem Kekerabatan
Masyarakat Toraja terbagi atas keluarga inti, penanggung jawab
keluarga adalah ayah dan diganti anak laki-laki bila meninggal sedangkan ibu
hanya mendidik anak dan menjaga nama baik keluarga. Masyarakat Toraja
mengikuti garis keturunan Bilateral. Keluarga adalah kelompok sosial dan
politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar.
Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga
ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu
keempat dan seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan
[Link] Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai
dengan sepupu ketiga) kecuali untuk bangsawan, untuk mencegah penyebaran
harta.
Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. Anak,
dengan demikian, mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah
dan bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan

9
biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama bibi,
paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara
kandung.

Siulu (keluarga batih) merupakan unsur terkecil dalam sistem


kekerabatan masyarakat Toraja. Di samping itu di kenal pula keluarga luas
extended yang terdiri dari beberapa keluarga batih, yang masih seketurunan.

2.2.4 Sistem Perkawinan


Sistem perkawinan yang berorientasi pada lapisan sosial masyarakat.
Seorang wanita dari golongan Tana’ Bulaan tidak diperkenankan kawin dengan
pria yang berasal dari golongan lebih rendah. Apabila perkawinan itu tetap
berlangsung, mereka akan dikenakan sanksi adat. Peristiwa demikian disebut
Untekaq Palandian atau Untekaq Layuk (melangkahi turunan). Sedangkan bagi
seorang pria boleh saja beristri seorang wanita yang golongannya lebih rendah,
akan tetapi mereka tidak bisa dinikahkan secara adat dan keturunan mereka
tidak berhak mendapat warisan atau gelar Tana’ Bulaan.

2.2.5 Sistem Perkampungan/ Organisasi Sosial


Dalam kehidupan masyarakat Toraja, dikenal adanya pelapisan sosial
yang disebut dengan Tana’ (kasta) yang sangat mempengaruhi perkembangan
masyarakat dan kebudayaan Torqaja . Menurut L.T. Tangdilintin (1974, 75)
mengatakan bahwa pelapisan sosial membedakan masyrakat atas empat
golongan masyarakat, yaitu:

1. Tana’ Bulaan, adalah lapisan masyarakat atas atau bangsawan tinggi sebagai
pewaris sekurang aluk, yaitu dipercayakan untuk membuat aturan hidup
dan memimpin agama, dengan jabatan puang, maqdika, dan Sokkong bayu
(siambeq).

2. Tana’ bassi, adalah lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris yang


dapat menerima maluangan batang(pembantu pemerintahan adat) yang
ditugaskan mengatur masalah kepemimpinan dan pendidikan.

10
3. Tana’ Karurunge adalah lapisan masyarakat kebanyakan yang merdeka,
tidak pernah diperintah langsung. Golongan ini sebagai pewaris yang
menerima Pande, yakni ketrampilan pertukangan, dan menjadi Pembina
aluk todolo untuk urusan aluk petuoan, aluk tanaman yang dinamakan
Toindoq padang (pemimpin upacara pemujaan kesuburan).

4. Tana’ Kua-kua adalah golongan yang berasal dari lapisan hamba sahaya,
sebagai pewaris tanggung jawab pengabdi kepada tana’ bulaan dan tana’
bassi. Golongan ini disebut juga tana’ matuqtu inaa (pekerja), juga
bertindak sebagai petugas pemakan yang disebut tomebalun atau tomekayu
(pembuat balun orang mati). Lapisan tana’ kua-kua ini dihapuskan oleh
pemerintah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan karena tidak sesuai
dengan harkat dan martabat manusia. Namun kenyataannya dalam
pelaksaaan upacara-upacara adat golongan ini masih terlihat.

2.3 Gambaran Adat Istiadat, Budaya Dan Seni Pada Masyarakat Suku Tana
Toraja
2.3.1 Tiga tongkonan di desa Toraja.
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang
berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual
suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta
karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.
Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan
empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah
tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan
biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.
1. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan
sebagai pusat “pemerintahan”.
2. Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki
wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan
3. Anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum
bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat

11
biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di
Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu
membangun tongkonan yang besar.
2.3.2 Ukiran kayu
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan.
Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran
kayu dan menyebutnya Pa’ssura (atau “tulisan”). Oleh karena itu, ukiran kayu
merupakan perwujudan budaya Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan
dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti
gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan
kesuburan. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai
harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah
melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan
keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang
tersimpan dalam sebuah kotak.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu
Toraja , selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering
digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan
abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam
ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya
meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka
sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen
geometris.
2.3.4 Upacara pemakaman
upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya
mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara
pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga
bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta
pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan
berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang
disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain

12
sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan
berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang
ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan
merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu
tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas
rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian
yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat
mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja
percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi
merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau
akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa
helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya
tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan
melakukan perjalanan ke Puya
Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk
melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak
kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak
upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang
menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging
tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap
sebagai utang pada keluarga almarhum.
Upacara adat Rambu Solo

Upacara ini dilakukan untuk memakamkan leluhur atau orang tua. Bila
ada salah satu warga (orang tua atau leluhur ) yang meninggal orang-orang
berbaris pergi kerumah orang tersebut mengikuti dibelakang mereka hewan
ternak untuk dipersembahkan pada tuan rumah dan tuan rumah pun menyambut
dengan ramah dan diiringi oleh tari-tarian dan beraneka ragam santapan yang
telah dipersiapkan diatas daun pisang. Namun dalam Pelaksanaannya upacara
ini terbagi menjadi empat tingkatan yang mengacu pada strata sosial
masyarakat Toraja, yakni :

13
 Dipasang Bongi: Upacara yang hanya dilaksanakan dalam satu malam
 Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam dan
dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan
 Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama
lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan
hewan
 Dipapitung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama
tujuh malam setiap harinya ada pemotongan hewan.

Pemakaman kematian bagi masyarakat Toraja menjadi salah satu hal yang
paling bermakna, sehingga tidak hanya upacara prosesi pemakaman yang
dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai hewan ( Erong ),
namun mereka juga mempersiapkan tempat “peristirahatan terakhir” dengan
sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata yang berlaku dalam
masyarakat Toraja maupun ekonomi individu.

Pada umunya tempat menyimpan jenazah adalah gua atau tebing gunung
atau dibuatkan sebuah rumah (Pa’tane ). Budaya ini telah diwarisi secara turun
temurun oleh leluhur mereka, adat masyarakat Toraja menyimpan jenazah pada
liang gua atau tebing merupakan kekayaan budaya yang begitu menarik untuk
disimak lebih dalam lagi, Dapat dijumpai puluhan Erong yang berderet dalam
bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak disisi batu menandakan
petinya telah rusak akibat di makan usia. sebenarnya ada satu ritual adat nan
langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti
busana jenazah leluhur.

Upacara adat Ma’Nene

Salah satu tradisi yang masih terjaga dengan baik oleh masyarakat setempat
hingga saat ini adalah ritual “Ma'Nene” atau mayat yang berjalan. Tradisi ini
merupakan prosesi penggantian pakaian dan peti mayat pada kuburan batu.
Ritual ini hanya dilakukan sekali dalam satu generasi (25 tahun) saja. Di Desa
Lando Rundung Kecamatan Sesean Suluara, Kabupaten Toraja Utara, tradisi
ritual Ma'nene masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat . Ritual ini

14
memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara.
Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus.

Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang
tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena
upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara
perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang
tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah
dengan yang baru.

Dalam perkembangan jaman ritual Ma’nene, terjadi pergeseran dimana


ritual ini tidak lagi dilaksanakan setiap 25 tahun tetapi dilaksanakan setiap tiga
tahun sekali. Tentu ritual ini tidak dilakukan begitu saja tampa ada persetujuan
dan kesepakatan dari semua pihak, mulai dari pemuka adat hingga pengurus
[Link] Ma`nene sendiri dilakukan setiap tahun sekali. Ini merupakan
satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga
kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga
desa.

2.4. Strategi Pengembangan Pariwisata Tana Toraja


peranan pariwisata dalam pembangunan secara garis besar berintikan tiga
segi yakni segi ekonomi (devisa, pajak- pajak), segi kerjasama antarnegara (per-
sahabatan antarbangsa), segi kebudayaan (memperkenalkan kebudayaan kita
kepada wisatawan mancanegara). Pariwisata Tana Toraja sendiri kemudian di
kenal atas empat jenis objek wisata utama yakni objek wisata alam, objek wisata
sejarah, objek wisata seni dan budaya, dan objek wisata agro (Rahmatullah, 2014)

Adapun strategi pengembangan pariwisata yang dirumuskan dalam


RIPPDA Tana Toraja tahun 2011-2016 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Tana Toraja adalah:

(1) Strategi dasar yang bersifat multipler effect atau strategi dengan
berbagai effect. strategi pengembangan ini dimaksudkan untuk
memberikan dasar pengembangan pariwisata yang mempunyai

15
dampak terhadap berkembangnya industri pariwisata yang terdiri
dariMeningkatkan citra (image) dan identitas (identity) yang jelas
tentang pariwisata Kabupaten Tana Toraja yang bernuansa wisata yang
atraktif dan [Link] dan mengembangkan produk wisata
yang bernuansa kultural, natural, dan religius, yang mengarah ke
wisata rohani dan budaya serta pengembangan wisata alam dan agro
yang berwawasan lingkungan dengan keunikan tongkonan, erong,
liang, dan tau-tausebagai fenomena objek wisata yang [Link]
suatu ketertarikan yang terpadu antara sosial budaya,lingkungan, dan
ekonomi, terhadap kemungkinan terciptanya suatu daya tarik wisata
(DTW) yang berdaya guna dan berdaya saing tinggi.
(2) Strategi terkait dengan pengelolahan interset pariwisata Strategi yang
diharapkan untuk dapat mengembangkan aspek-aspek yang berkaitan
dengan pengembangan industri pariwisata meliputi Meluruskan usaha-
usaha positif bernuansa wisata yang telah dilakukan sebelumnya, baik
oleh pemerintah, swasta maupun perseorangan. Dikembangkan sesuai
dengan spesifikasi dan karakter wilayah dan lingkungan dalam strategi
pemasaran melalui perencanaan yang terarah, terpadu dan terkendali
Pengembangan jangkauan pasar wisata di dalam perencanaan
seharusnya dirancang berdasarkan pengelolahan dan biro regional
dalam kaitannya dengan interest wisata disetiap kecamatan agar
terarah.
(3) Strategi keterkaitan dan pengembangan produk.
Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik daerah tujuan
wisata dengan menciptakan berbagai produk wisata yang dapat
meningkatkan arus kunjungan wisatawan meliputi, Peningkatan
kualitas produk jasa pariwisata oleh swasta secara menyeluruh
khususnya dalam pelayanan seperti transportasi, akomodasi,
pengaturan perjalanan, rumah makan, dan penginapan, Meningkatkan
dan mencari objek wisata yang mempunyai ciri khas dengan mengolah
diversifikasi objek wisata agar kawasan satu dan lainnya terkait dan
saling mendukung. Diversifikasi produk minat khusus (driving river,

16
tour, archeological evidience tour) dikembangkan sesuai dengan minat
pasar dan mendapat dukungan pemerintah, masyarakat dan swasta
sebagai pelaku wisata.
(4) Strategi pemantapan pemasaran.
Setelah dilakukan deversifikasi produk maka objek dan daya tarik
wisata semakin berkualitas dan kuantitas bertambah, maka diperlukan
pemasaran daya tarik wisata, melalui berbagai bentuk promosi.
Strategi ini bertuuan untuk memasarkan daerah tujuan wisata kepada
pasar sehingga tertarik untuk datang. Yang meliputi Promosi bertema
spesifik yang sesuai dengan budaya daerah sebagai usaha untuk
menjaga, memelihara dan melestarikan serta mengadakan pemantapan
ulang berbagai atraksi wisata disertai dengan pembenahan ulang pada
sumber daya alam, infrastruktur, material dan cultural resources.
Promosi harus dikelola dan dilihat dalam bentuk industri pariwisata,
mengembangkan kerjasama terpadu dengan jajaran pariwisata dengan
airline dan aparat pemerintahan yang terkait untuk mengadakan
education tour menggunakan pendekatan user dan market oriented agar
promosi dapat berhasil.

17
BAB III
METODOLOGI

3.1 Gambaran Lokasi

Lokasi 1 museum Ne’gendeng lokasi 2 kete’ kesu

Lokasi ke 3 londa lokasi ke 4 burake lokasi 5 makale

3.2 Metode Studi Lapangan


Metode studi lapangan kami menggunakan metode survey, yaitu suatu
metode yang digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang
alamiah (bukan buatan), tetapi praktikum melakukan perlakuan dalam
pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner,test wawancara
secara terstruktur. Responden yang dipilih adalah pemandu dari salah satu temoat

18
wisata di londai. Pada studi lapangan ini memiliki keterbatasan waktu di
karenakan banyak mahasiswa yang turun ke tempat tersebut sehingga menjadi
sesak di dalam goa dari kurang lebih di berikan pengarahan 30 menit saja.
Penggambilan datanya dengan cara sampling yaitu dengan menentukan sampel
yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel akan dijadikan data sebenarnya,
yang mana mencakup keseluruhan data respondennya. Studi ini menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif yakni dengan menggunakan dua data, meliputi
data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara terjun langsung di
lapangan dari hasil wawancara . Data sekunder Data sekunder adalah data yang
diperole dari literatur yang ada kaitannya dengan judul hasil studi.

19
BAB IV
HASIL STUDI LAPANGAN
Tugas Studi Lapangan Mata Kuliah Pariwisata Budaya

1. Tuliskan setiap wisata dan bentuk-bentuk pariwisata budaya apa yang


anda saksikan atau kunjungi.
Wisata yang di kunjungi yaitu objek wisata di tanah toraja tepatnya di
Sulawesi selatan kami mengunjungi berbagai lokasi wisata yang ada di
tana toraja yaitu:
 Museum rambu solo Ne’gandeng
 Ke’te kesu
 Londa
 Burake
 Makale
2. Amati dengan baik setiap lokasi wisata budaya yang dikunjungi mengenai
keunikan atau ciri khas setiap objek pariwisata tersebut.
Kunjungan kami ke tana toraja masing objek wisatanya memiliki ke
unikan tersendiri yaitu:
 museum rambu solo negandeng terletak di kabupaten toraja utara
museum ini adalah tempat wisata bersejarah masyarakat toraja
memiliki rasa hormat terhadap leluhur adat yang sangat tinggi.
Disini terdapat berbagai macam rumah adat toraja yang bernama
tongkonan. Tempat wisata ini juga memiliki benda-benda yang
behubungan dengan Ne gendeng seperti patung, sapi albino, gong.
 Ke’te kesu merupakan desa tradisional eksentrik yang tersembunyi
di wilayah pegunungan tana toraja, usia dari desa ini mencapai 400
tahun. Uniknya tidak pernah mengalami perubahan sejak pertama
kali berdiri dalam desa ini terdapat makam-makam para leluhur
juga masih di jadikan tempat pemakaman masyaraat toraja. Ke’te
kesu juga di gunakan sebagi tempat perbelanjaan oleh-oleh toraja,
dan di gunakan juga untuk acara nikahan.

20
 Londa merupakan objek wisata kuburan di tana toraja yang ada di
dalam goa yang birisi peti mati yang baru maupun sudah puluhan
tahun dan memiliki cara pemakan yang unik di gatung, di taruh
didalam batu ada juga dibuatkan patung yang dibuat tetapi tidak
sembarang patung hanya untuk kelas bangsawan yang memilki
upacara lengkap seperti memotong kerbau. Menurut pemahaman
dari masyarakat toraja mereka memikirkan kedepanya semakin
banyak pemakan di tanah lahan semakin sempit jadi mereke lebih
memilih dimakamkan di goa.
 Burake merupakan salah satu objek wisata dengan ketinggian 900-
1.129 mdpl yang terletak di tana toraja provinsi sulawesi selatan
tempat sebagai tempat wisata religi dimana di buatkan patung
yesus di tempat ini dapat melihat wilayah toraja yang begitu hijau
dan cantik.
 Makale adalah sebuah kecamtan yang merupakan pusat
pemerintahan atau ibu kota dari kabupaten toraja. Makale terletak
di ketinggian sekitar 1500 dpl. Sehingga udara di kota ini sangat
senjuk. Kehidupan sehari-sehari masyarakat masih berpengaruh
pada adat istiadat.
3. Adakah cerita yang melatar belakangi sehingga tempat-tempat tersebut
menjadi manarik untuk dikunjungi dalam adat istiadat masyarakat dan
atraksi budaya yang anda saksikan simbol-simbol apa yang anda temukan?
(simbol benda, perilaku, dan gagasan/ide) dan apa makna simbol yang ada
temukan baik pada tempat-tempat objek wisata maupun adat istiadat
masyarakat dan atraksi budaya (kesenian).
 Museum Rambu Solo Ne’gandeng memiliki keunikan yaitu berbagai
rumah adat tongkonan yang ada di tanah toraja
 Ke’te Kesu memiliki ke unik kan yaitu tempatnya masih digunakan
masih rumah tongkonanya juga masih sangat awet.
 Londa memilii keunikan yaitu masih sangat kental dengan proses
pemakamnya dan di tempat ini sebagai pemakaman di dalam goa dari
leluhur.

21
 Burake keunikan dibuatkan patung yesus dengan ketinggian 900-
1.129mdpl dengan disujukan dengan pemandangan desa di toraja
dengan terlihatnya 4 desa yaitu kampung buisun sebelah utara,
kampung lea di sebelah timur, kampung limbong di sebelah selatan
dan burake disebelah barat.
 Makale merupakan pusat kota dari kabupaten tanah toraja di mana
menjadi pusat perekonomian.
4. Pertanyaan kepada informan yang dapat ditemui mengenai hal-hal yang
anda tidak ketahui berupa adat istiadat, kesenian masyarakat yang
dikunjungi, kekurangan dan kelebihan objek wisata budaya yang
dikunjungi.
Pertanyaa pada saat di lokasi wisata di londa dengan pemandu kami bapak
caka yaitu mencerikan tentang makam yang ada di goa londa yaitu cara
pemakaman dari masyarakat toraja yaitu di selipkan di bawah batu, dan
ada yang petinya digantung tepi pada zaman dahulu saja petinya
digantung, dan juga ada patung yang di buatkan tetapi tidak sembarang
dibuatkan hanya kelas bangsawan saja yang membuat acara pemakaman
dengan lengkap hingga memotong kerbau, juga di dalam sini terdapat
kisah Romeo dan Julie diceritakan kisahnya karena tidak setuju pernikahan
mereka dengan orang tua mereka pada akhirnya mereka gantung diri.
Dalam proses makaman ini juga ada strata sosialnya yaitu yang paling di
atas atau dibukit ada kelas bangsawan dan di tengah kelas menengah atas
dan di bawah adan kelas biasa. di dalam goa ini terdapat banyak barang-
barang dari para wisatawan yang memberikan barangnya seperti koin,
minuman bir, bunga untuk di kasih persembahan.
5. Bagaimana pengembangan wisata budaya yang dikunjungi dan menurut
anda bagaimana sebaiknya pengembangan objek wisata budaya tersebut
agar dapat dikenak oleh wisatawan asing dan menjadi objek wisata budaya
primadona khususnya disulawesi selatan.
Pengembangan wisata toraja sendiri tentunya sudah baik dari segi
fasilitasnya sudah standar nasional , tana toraja salah satu daerah yang ada
di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang sangat besar potensi

22
yang disajikan yaitu pariwisata budaya, alam, keseniannya sehingga
diharapkan dapat dikembangkan dengan semaksimal mungkin agar dapat
mendukung pembangunan daerah.
Strategi Pengembangan Pariwisata yang harus di perampkan di tana toraja
Arjana dalam (Sarjanti et.,al. 2019) “pengembangan suatu pariwisata
tidak luput pada daya tarik yang kemudian harus ditunjang oleh
ketersediaan sarana yang memadai dan hal yang dapat memudahkan untuk
menjangkau obyek wisata tersebut.” Menurut Cooper dkk dalam
(Hikmawanto, 2019)
“Alur strategi pengembangan pariwisata dapat dilakukan melalui berbagai
faktor
pengembangan obyek wisata, yakni:
a. Attractions potensi yang meliputi kekayaan alam, culture, dan bukan
alamiah. Accessibility meliputi, trayek angkutan, sarana prasarana
terminal, lapangan terbang, pelabuhan dan alat-alat angkutan lainnya
b. Amenities meliputi; akomodasi, restaurant, penjual souvenir, money
changer, bus wisata dan sarana prasarana lainnya yang dapat
memberikan kenyaman bagi para wisatawan.
c. Ancillary services ketersedian sarana pendukung lainnya dalam hal ini
fasilitas-fasilitas umum, seperti rumah sakit dan bank serta sarana
penunjang lainnya.
d. Institutions dalam hal ini fungsi smua pihak-pihak yang terlibatan
didalam pelaksanaan kepariwisataan termasuk dalam hal ini yakni
respon masyarakat sekitar obyek wisata. (Silitonga and Anom 2016)
“Pengembangan parwisata merupakan seluruh usaha dalam mencapai
tujuan dengan memakai seluruh potensi-potensi pariwisata dengan
menghubungkan semua unsur-unsur eksternal pariwisata.
6. Abadikan dalam gambar foto atau video rekaman (foto hasil rekaman
sendir) objek wisata budaya dan percakapan anda dengan informan yang
dapat di temui dan lokasi wisata budaya.

23
24
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dalam pembangunan pariwisata, pemerintah Indonesia telah mengangkat
Pariwisata Budaya (Cultural Tourism) sebagai jenis pariwisata unggulan. Dalam
pelaksanaannya, di satu pihak diupayakan agar terus adanya peningkatan
kepariwisataan (jumlah wisatawan, prasarana dan sarana, jasa, promosi, atraksi)
yang makin mengarah ke pariwisata berkualitas dan di pihak lain agar masyarakat
Indonesia makin memperoleh manfaat yang positif, sehingga kesejahteraan makin
meningkat secara seimbang material-spiritual, tanpa mereka tercabut dari akar
budaya dan lingkungan sendiri.

suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa
mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-
ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam
dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi
Sulawesi. Sehingga toraja memiliki keunikan yang berbeda dari daerah lain
sehingga toraja menjadikan salah satu objek wisata yang sangat terkenal di
indonesia dan manca negara dan juga peninggalan pada leluhur mereka sudah
tercatat dalam unicso sebagai bentuk peninggalan yang di jaga dan di lestarikan.

25
DAFTAR PUSTAKA
Hikmawanto, Noval. 2019. “Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Demak Dalam
Pengembangan Mesjid Agung Sebagai Destinasi Wisata.” Journal of Wind
Engineering and Industrial Aerodynamics 26(3):1–4.

Koentjaraningrat. 1985. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta : Universitas


Indonesia.

Sarjanti, Esti, Nur Kartika Rahmawati, and Sigid Sriwanto. 2019. “Kajian
Persepsi Dan Dampak Berganda ( Multiplier Effect ) Masyarakat Untuk
Pengembangan Pariwisata Lembah.” Prosiding Seminar Nasional Geografi
Universitas Muhammadiyah Surakarta 244–53.

Silitonga, Samuel Saut Marihot, and I. Putu Anom. 2016. “Kota Tua Barus
Sebagai Daerah Tujuan Wisata Sejarah Di Kabupaten Tapanuli Tengah.”
Jurnal Destinasi Pariwisata 4(2):7. doi: 10.24843/despar.2016.v04.i02.p02

26

Anda mungkin juga menyukai