Studi Budaya Pariwisata Tana Toraja
Studi Budaya Pariwisata Tana Toraja
DISUSUN OLEH :
IN DRI ADELIA KULLE
T202210149
i
KATA PENGANTAR
Segala puji Allah SWT dan junjungan kita Nabi Muhammad serta rasa
syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan
limpahan rahmatnyalah maka saya dapat menyelesaikan sebuah makalah dengan
tepat waktu.
Berikut ini saya mempersembahkan sebuah makalah dengan judul " Studi
Lapangan Di Tanah Toraja Sulawesi Selatan ", sesuai dengan tugas yang
berikan menurut saya dapat memberikan manfaat yang besar bagi saya dan
pembaca untuk dapat mempelajarinya agar menambah wawasan dan ilmu baru.
Melalui kata pengantar ini saya lebih dahulu meminta maaf dan memohon
memaklumi bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya
buat kurang tepat atau menyinggu perasaan.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat dan perubahan bagi diri sendiri juga dapat menjaga kearifan
lokal masyarakat untuk menjadi salah satu pariwisata yang unik bagi bangsa
indonesia.
Penyusun
i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1 latar belakang.................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................5
1.3 Tujuan.............................................................................................................5
1.4 Manfaat...........................................................................................................5
BAB II TINJAUANPUSATAKA..........................................................................6
2.1 Asal-usul Masyarakat Suku Tana Toraja.......................................................6
2.1.1 Identitas Etnik..........................................................................................6
2.1.2 Sejarah Etnik............................................................................................6
2.2 Gambaran Umum Pola Kehidupan Masyarakat Suku Tana Toraja...............8
2.2.1 Kondisi Sosial..........................................................................................8
2.2.2 Sistem Kepercayaan.................................................................................9
2.2.3 Sistem Kekerabatan.................................................................................9
2.2.4 Sistem Perkawinan.................................................................................10
2.2.5 Sistem Perkampungan/ Organisasi Sosial.............................................10
2.3 Gambaran Adat Istiadat, Budaya Dan Seni Pada Masyarakat Suku Tana
Toraja..................................................................................................................11
2.3.1 Tiga tongkonan di desa Toraja..............................................................11
2.3.2 Ukiran kayu...........................................................................................12
2.3.4 Upacara pemakaman..............................................................................12
2.4. Strategi Pengembangan Pariwisata Tana Toraja................................15
BAB III METODOLOGI...................................................................................18
3.1 Gambaran Lokasi.........................................................................................18
3.2 Metode Studi Lapangan................................................................................18
BAB IV HASIL STUDI LAPANGAN................................................................20
BAB V PENUTUP................................................................................................25
5.1 Kesimpulan...................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26
ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN
4
oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi
budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi
masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor
pariwisata yang terus meningkat.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana Asal-Usul Masyarakat Suku Tana Toraja?
Bagaimana Gambaran Umum Pola Kehidupan Sosial Suku Tana Toraja?
Bagaimana Gambaran Adat Istiadat, Budaya Dan Seni Pada Masyarakat
Suku Tana Toraja?
Bagaimana Pengembangan Pariwisata Tana Toraja?
1.3 Tujuan
Mengkaji Asal-Usul Masyarakat Tana Toraja.
Mengidentifikasi Sistem Pola Kehidupan Suku Tana Toraja.
Mengidentifikasi Adat Istiadata,Budaya Dan Seni Masyarakat Suku Tana
Toraja.
Mengkaji Perkembangan Pariwisata Di Tana Toraja.
1.4 Manfaat
Manfaat secara Umum:
5
BAB II
TINJAUAN PUSATAKA
6
ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di
pegunungan” sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya
“Orang yang berdiam di sebelah barat”
Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam Utara dan Cina Selatan,
dipercaya sebagai tempat asal suku Toraja. Telah terjadi akulturasi panjang
antara ras Melayu di Sulawesi dengan imigran Cina. Awalnya, imigran tersebut
tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan
dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi
tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki
sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir
terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama diantara
suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut
animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-
an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan
pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga
menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis
digambarkan di sekitar wilayah Sa’dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja
awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah
tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status
regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun
1957.
Pada tahun 1930-an, terjadi konflik-konflik antara penduduk Muslim di
dataran rendah dengan orang Toraja. Akibatnya, banyak orang Toraja yang
ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk
mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan
perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam.
Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan
mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam,
yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang
7
gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin
banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekrit presiden mengharuskan seluruh
penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui:
Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Kepercayaan asli Toraja
(aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret
tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai
bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan
sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
8
dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka.
Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.
2.2.2 Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan
animisme politeistik yang disebut aluk, atau “jalan” (kadang diterjemahkan
sebagai “hukum”). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga
dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja
sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam semesta,
menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan
dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan
kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia
bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang
dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga
terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja
lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Ongon-Ongon (dewi
gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo’ Belo Tumbang (dewi
pengobatan), dan lainnya.
2.2.3 Sistem Kekerabatan
Masyarakat Toraja terbagi atas keluarga inti, penanggung jawab
keluarga adalah ayah dan diganti anak laki-laki bila meninggal sedangkan ibu
hanya mendidik anak dan menjaga nama baik keluarga. Masyarakat Toraja
mengikuti garis keturunan Bilateral. Keluarga adalah kelompok sosial dan
politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar.
Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga
ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu
keempat dan seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan
[Link] Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai
dengan sepupu ketiga) kecuali untuk bangsawan, untuk mencegah penyebaran
harta.
Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. Anak,
dengan demikian, mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah
dan bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan
9
biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama bibi,
paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara
kandung.
1. Tana’ Bulaan, adalah lapisan masyarakat atas atau bangsawan tinggi sebagai
pewaris sekurang aluk, yaitu dipercayakan untuk membuat aturan hidup
dan memimpin agama, dengan jabatan puang, maqdika, dan Sokkong bayu
(siambeq).
10
3. Tana’ Karurunge adalah lapisan masyarakat kebanyakan yang merdeka,
tidak pernah diperintah langsung. Golongan ini sebagai pewaris yang
menerima Pande, yakni ketrampilan pertukangan, dan menjadi Pembina
aluk todolo untuk urusan aluk petuoan, aluk tanaman yang dinamakan
Toindoq padang (pemimpin upacara pemujaan kesuburan).
4. Tana’ Kua-kua adalah golongan yang berasal dari lapisan hamba sahaya,
sebagai pewaris tanggung jawab pengabdi kepada tana’ bulaan dan tana’
bassi. Golongan ini disebut juga tana’ matuqtu inaa (pekerja), juga
bertindak sebagai petugas pemakan yang disebut tomebalun atau tomekayu
(pembuat balun orang mati). Lapisan tana’ kua-kua ini dihapuskan oleh
pemerintah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan karena tidak sesuai
dengan harkat dan martabat manusia. Namun kenyataannya dalam
pelaksaaan upacara-upacara adat golongan ini masih terlihat.
2.3 Gambaran Adat Istiadat, Budaya Dan Seni Pada Masyarakat Suku Tana
Toraja
2.3.1 Tiga tongkonan di desa Toraja.
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang
berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual
suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta
karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.
Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan
empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah
tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan
biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.
1. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan
sebagai pusat “pemerintahan”.
2. Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki
wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan
3. Anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum
bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat
11
biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di
Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu
membangun tongkonan yang besar.
2.3.2 Ukiran kayu
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan.
Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran
kayu dan menyebutnya Pa’ssura (atau “tulisan”). Oleh karena itu, ukiran kayu
merupakan perwujudan budaya Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan
dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti
gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan
kesuburan. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai
harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah
melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan
keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang
tersimpan dalam sebuah kotak.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu
Toraja , selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering
digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan
abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam
ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya
meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka
sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen
geometris.
2.3.4 Upacara pemakaman
upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya
mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara
pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga
bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta
pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan
berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang
disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain
12
sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan
berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang
ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan
merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu
tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas
rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian
yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat
mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja
percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi
merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau
akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa
helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya
tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan
melakukan perjalanan ke Puya
Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk
melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak
kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak
upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang
menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging
tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap
sebagai utang pada keluarga almarhum.
Upacara adat Rambu Solo
Upacara ini dilakukan untuk memakamkan leluhur atau orang tua. Bila
ada salah satu warga (orang tua atau leluhur ) yang meninggal orang-orang
berbaris pergi kerumah orang tersebut mengikuti dibelakang mereka hewan
ternak untuk dipersembahkan pada tuan rumah dan tuan rumah pun menyambut
dengan ramah dan diiringi oleh tari-tarian dan beraneka ragam santapan yang
telah dipersiapkan diatas daun pisang. Namun dalam Pelaksanaannya upacara
ini terbagi menjadi empat tingkatan yang mengacu pada strata sosial
masyarakat Toraja, yakni :
13
Dipasang Bongi: Upacara yang hanya dilaksanakan dalam satu malam
Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam dan
dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan
Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama
lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan
hewan
Dipapitung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama
tujuh malam setiap harinya ada pemotongan hewan.
Pemakaman kematian bagi masyarakat Toraja menjadi salah satu hal yang
paling bermakna, sehingga tidak hanya upacara prosesi pemakaman yang
dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai hewan ( Erong ),
namun mereka juga mempersiapkan tempat “peristirahatan terakhir” dengan
sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata yang berlaku dalam
masyarakat Toraja maupun ekonomi individu.
Pada umunya tempat menyimpan jenazah adalah gua atau tebing gunung
atau dibuatkan sebuah rumah (Pa’tane ). Budaya ini telah diwarisi secara turun
temurun oleh leluhur mereka, adat masyarakat Toraja menyimpan jenazah pada
liang gua atau tebing merupakan kekayaan budaya yang begitu menarik untuk
disimak lebih dalam lagi, Dapat dijumpai puluhan Erong yang berderet dalam
bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak disisi batu menandakan
petinya telah rusak akibat di makan usia. sebenarnya ada satu ritual adat nan
langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti
busana jenazah leluhur.
Salah satu tradisi yang masih terjaga dengan baik oleh masyarakat setempat
hingga saat ini adalah ritual “Ma'Nene” atau mayat yang berjalan. Tradisi ini
merupakan prosesi penggantian pakaian dan peti mayat pada kuburan batu.
Ritual ini hanya dilakukan sekali dalam satu generasi (25 tahun) saja. Di Desa
Lando Rundung Kecamatan Sesean Suluara, Kabupaten Toraja Utara, tradisi
ritual Ma'nene masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat . Ritual ini
14
memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara.
Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus.
Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang
tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena
upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara
perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang
tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah
dengan yang baru.
(1) Strategi dasar yang bersifat multipler effect atau strategi dengan
berbagai effect. strategi pengembangan ini dimaksudkan untuk
memberikan dasar pengembangan pariwisata yang mempunyai
15
dampak terhadap berkembangnya industri pariwisata yang terdiri
dariMeningkatkan citra (image) dan identitas (identity) yang jelas
tentang pariwisata Kabupaten Tana Toraja yang bernuansa wisata yang
atraktif dan [Link] dan mengembangkan produk wisata
yang bernuansa kultural, natural, dan religius, yang mengarah ke
wisata rohani dan budaya serta pengembangan wisata alam dan agro
yang berwawasan lingkungan dengan keunikan tongkonan, erong,
liang, dan tau-tausebagai fenomena objek wisata yang [Link]
suatu ketertarikan yang terpadu antara sosial budaya,lingkungan, dan
ekonomi, terhadap kemungkinan terciptanya suatu daya tarik wisata
(DTW) yang berdaya guna dan berdaya saing tinggi.
(2) Strategi terkait dengan pengelolahan interset pariwisata Strategi yang
diharapkan untuk dapat mengembangkan aspek-aspek yang berkaitan
dengan pengembangan industri pariwisata meliputi Meluruskan usaha-
usaha positif bernuansa wisata yang telah dilakukan sebelumnya, baik
oleh pemerintah, swasta maupun perseorangan. Dikembangkan sesuai
dengan spesifikasi dan karakter wilayah dan lingkungan dalam strategi
pemasaran melalui perencanaan yang terarah, terpadu dan terkendali
Pengembangan jangkauan pasar wisata di dalam perencanaan
seharusnya dirancang berdasarkan pengelolahan dan biro regional
dalam kaitannya dengan interest wisata disetiap kecamatan agar
terarah.
(3) Strategi keterkaitan dan pengembangan produk.
Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik daerah tujuan
wisata dengan menciptakan berbagai produk wisata yang dapat
meningkatkan arus kunjungan wisatawan meliputi, Peningkatan
kualitas produk jasa pariwisata oleh swasta secara menyeluruh
khususnya dalam pelayanan seperti transportasi, akomodasi,
pengaturan perjalanan, rumah makan, dan penginapan, Meningkatkan
dan mencari objek wisata yang mempunyai ciri khas dengan mengolah
diversifikasi objek wisata agar kawasan satu dan lainnya terkait dan
saling mendukung. Diversifikasi produk minat khusus (driving river,
16
tour, archeological evidience tour) dikembangkan sesuai dengan minat
pasar dan mendapat dukungan pemerintah, masyarakat dan swasta
sebagai pelaku wisata.
(4) Strategi pemantapan pemasaran.
Setelah dilakukan deversifikasi produk maka objek dan daya tarik
wisata semakin berkualitas dan kuantitas bertambah, maka diperlukan
pemasaran daya tarik wisata, melalui berbagai bentuk promosi.
Strategi ini bertuuan untuk memasarkan daerah tujuan wisata kepada
pasar sehingga tertarik untuk datang. Yang meliputi Promosi bertema
spesifik yang sesuai dengan budaya daerah sebagai usaha untuk
menjaga, memelihara dan melestarikan serta mengadakan pemantapan
ulang berbagai atraksi wisata disertai dengan pembenahan ulang pada
sumber daya alam, infrastruktur, material dan cultural resources.
Promosi harus dikelola dan dilihat dalam bentuk industri pariwisata,
mengembangkan kerjasama terpadu dengan jajaran pariwisata dengan
airline dan aparat pemerintahan yang terkait untuk mengadakan
education tour menggunakan pendekatan user dan market oriented agar
promosi dapat berhasil.
17
BAB III
METODOLOGI
18
wisata di londai. Pada studi lapangan ini memiliki keterbatasan waktu di
karenakan banyak mahasiswa yang turun ke tempat tersebut sehingga menjadi
sesak di dalam goa dari kurang lebih di berikan pengarahan 30 menit saja.
Penggambilan datanya dengan cara sampling yaitu dengan menentukan sampel
yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel akan dijadikan data sebenarnya,
yang mana mencakup keseluruhan data respondennya. Studi ini menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif yakni dengan menggunakan dua data, meliputi
data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara terjun langsung di
lapangan dari hasil wawancara . Data sekunder Data sekunder adalah data yang
diperole dari literatur yang ada kaitannya dengan judul hasil studi.
19
BAB IV
HASIL STUDI LAPANGAN
Tugas Studi Lapangan Mata Kuliah Pariwisata Budaya
20
Londa merupakan objek wisata kuburan di tana toraja yang ada di
dalam goa yang birisi peti mati yang baru maupun sudah puluhan
tahun dan memiliki cara pemakan yang unik di gatung, di taruh
didalam batu ada juga dibuatkan patung yang dibuat tetapi tidak
sembarang patung hanya untuk kelas bangsawan yang memilki
upacara lengkap seperti memotong kerbau. Menurut pemahaman
dari masyarakat toraja mereka memikirkan kedepanya semakin
banyak pemakan di tanah lahan semakin sempit jadi mereke lebih
memilih dimakamkan di goa.
Burake merupakan salah satu objek wisata dengan ketinggian 900-
1.129 mdpl yang terletak di tana toraja provinsi sulawesi selatan
tempat sebagai tempat wisata religi dimana di buatkan patung
yesus di tempat ini dapat melihat wilayah toraja yang begitu hijau
dan cantik.
Makale adalah sebuah kecamtan yang merupakan pusat
pemerintahan atau ibu kota dari kabupaten toraja. Makale terletak
di ketinggian sekitar 1500 dpl. Sehingga udara di kota ini sangat
senjuk. Kehidupan sehari-sehari masyarakat masih berpengaruh
pada adat istiadat.
3. Adakah cerita yang melatar belakangi sehingga tempat-tempat tersebut
menjadi manarik untuk dikunjungi dalam adat istiadat masyarakat dan
atraksi budaya yang anda saksikan simbol-simbol apa yang anda temukan?
(simbol benda, perilaku, dan gagasan/ide) dan apa makna simbol yang ada
temukan baik pada tempat-tempat objek wisata maupun adat istiadat
masyarakat dan atraksi budaya (kesenian).
Museum Rambu Solo Ne’gandeng memiliki keunikan yaitu berbagai
rumah adat tongkonan yang ada di tanah toraja
Ke’te Kesu memiliki ke unik kan yaitu tempatnya masih digunakan
masih rumah tongkonanya juga masih sangat awet.
Londa memilii keunikan yaitu masih sangat kental dengan proses
pemakamnya dan di tempat ini sebagai pemakaman di dalam goa dari
leluhur.
21
Burake keunikan dibuatkan patung yesus dengan ketinggian 900-
1.129mdpl dengan disujukan dengan pemandangan desa di toraja
dengan terlihatnya 4 desa yaitu kampung buisun sebelah utara,
kampung lea di sebelah timur, kampung limbong di sebelah selatan
dan burake disebelah barat.
Makale merupakan pusat kota dari kabupaten tanah toraja di mana
menjadi pusat perekonomian.
4. Pertanyaan kepada informan yang dapat ditemui mengenai hal-hal yang
anda tidak ketahui berupa adat istiadat, kesenian masyarakat yang
dikunjungi, kekurangan dan kelebihan objek wisata budaya yang
dikunjungi.
Pertanyaa pada saat di lokasi wisata di londa dengan pemandu kami bapak
caka yaitu mencerikan tentang makam yang ada di goa londa yaitu cara
pemakaman dari masyarakat toraja yaitu di selipkan di bawah batu, dan
ada yang petinya digantung tepi pada zaman dahulu saja petinya
digantung, dan juga ada patung yang di buatkan tetapi tidak sembarang
dibuatkan hanya kelas bangsawan saja yang membuat acara pemakaman
dengan lengkap hingga memotong kerbau, juga di dalam sini terdapat
kisah Romeo dan Julie diceritakan kisahnya karena tidak setuju pernikahan
mereka dengan orang tua mereka pada akhirnya mereka gantung diri.
Dalam proses makaman ini juga ada strata sosialnya yaitu yang paling di
atas atau dibukit ada kelas bangsawan dan di tengah kelas menengah atas
dan di bawah adan kelas biasa. di dalam goa ini terdapat banyak barang-
barang dari para wisatawan yang memberikan barangnya seperti koin,
minuman bir, bunga untuk di kasih persembahan.
5. Bagaimana pengembangan wisata budaya yang dikunjungi dan menurut
anda bagaimana sebaiknya pengembangan objek wisata budaya tersebut
agar dapat dikenak oleh wisatawan asing dan menjadi objek wisata budaya
primadona khususnya disulawesi selatan.
Pengembangan wisata toraja sendiri tentunya sudah baik dari segi
fasilitasnya sudah standar nasional , tana toraja salah satu daerah yang ada
di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang sangat besar potensi
22
yang disajikan yaitu pariwisata budaya, alam, keseniannya sehingga
diharapkan dapat dikembangkan dengan semaksimal mungkin agar dapat
mendukung pembangunan daerah.
Strategi Pengembangan Pariwisata yang harus di perampkan di tana toraja
Arjana dalam (Sarjanti et.,al. 2019) “pengembangan suatu pariwisata
tidak luput pada daya tarik yang kemudian harus ditunjang oleh
ketersediaan sarana yang memadai dan hal yang dapat memudahkan untuk
menjangkau obyek wisata tersebut.” Menurut Cooper dkk dalam
(Hikmawanto, 2019)
“Alur strategi pengembangan pariwisata dapat dilakukan melalui berbagai
faktor
pengembangan obyek wisata, yakni:
a. Attractions potensi yang meliputi kekayaan alam, culture, dan bukan
alamiah. Accessibility meliputi, trayek angkutan, sarana prasarana
terminal, lapangan terbang, pelabuhan dan alat-alat angkutan lainnya
b. Amenities meliputi; akomodasi, restaurant, penjual souvenir, money
changer, bus wisata dan sarana prasarana lainnya yang dapat
memberikan kenyaman bagi para wisatawan.
c. Ancillary services ketersedian sarana pendukung lainnya dalam hal ini
fasilitas-fasilitas umum, seperti rumah sakit dan bank serta sarana
penunjang lainnya.
d. Institutions dalam hal ini fungsi smua pihak-pihak yang terlibatan
didalam pelaksanaan kepariwisataan termasuk dalam hal ini yakni
respon masyarakat sekitar obyek wisata. (Silitonga and Anom 2016)
“Pengembangan parwisata merupakan seluruh usaha dalam mencapai
tujuan dengan memakai seluruh potensi-potensi pariwisata dengan
menghubungkan semua unsur-unsur eksternal pariwisata.
6. Abadikan dalam gambar foto atau video rekaman (foto hasil rekaman
sendir) objek wisata budaya dan percakapan anda dengan informan yang
dapat di temui dan lokasi wisata budaya.
23
24
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dalam pembangunan pariwisata, pemerintah Indonesia telah mengangkat
Pariwisata Budaya (Cultural Tourism) sebagai jenis pariwisata unggulan. Dalam
pelaksanaannya, di satu pihak diupayakan agar terus adanya peningkatan
kepariwisataan (jumlah wisatawan, prasarana dan sarana, jasa, promosi, atraksi)
yang makin mengarah ke pariwisata berkualitas dan di pihak lain agar masyarakat
Indonesia makin memperoleh manfaat yang positif, sehingga kesejahteraan makin
meningkat secara seimbang material-spiritual, tanpa mereka tercabut dari akar
budaya dan lingkungan sendiri.
suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa
mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-
ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam
dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi
Sulawesi. Sehingga toraja memiliki keunikan yang berbeda dari daerah lain
sehingga toraja menjadikan salah satu objek wisata yang sangat terkenal di
indonesia dan manca negara dan juga peninggalan pada leluhur mereka sudah
tercatat dalam unicso sebagai bentuk peninggalan yang di jaga dan di lestarikan.
25
DAFTAR PUSTAKA
Hikmawanto, Noval. 2019. “Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Demak Dalam
Pengembangan Mesjid Agung Sebagai Destinasi Wisata.” Journal of Wind
Engineering and Industrial Aerodynamics 26(3):1–4.
Sarjanti, Esti, Nur Kartika Rahmawati, and Sigid Sriwanto. 2019. “Kajian
Persepsi Dan Dampak Berganda ( Multiplier Effect ) Masyarakat Untuk
Pengembangan Pariwisata Lembah.” Prosiding Seminar Nasional Geografi
Universitas Muhammadiyah Surakarta 244–53.
Silitonga, Samuel Saut Marihot, and I. Putu Anom. 2016. “Kota Tua Barus
Sebagai Daerah Tujuan Wisata Sejarah Di Kabupaten Tapanuli Tengah.”
Jurnal Destinasi Pariwisata 4(2):7. doi: 10.24843/despar.2016.v04.i02.p02
26