KARAKTERISTIK PENDUDUK BEKERJA DAN
KARAKTERISTIK PENGANGGURAN TERBUKA DI
INDONESIA
Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau
membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam
dalam seminggu terakhir. Untuk melihat struktur penduduk bekerja maka perlu
diperhatikan karakteristiknya. Karakteristik penduduk bekerja akan disajikan
berdasarkan lapangan usaha, status pekerjaan, pendidikan tertinggi yang ditamatkan,
jumlah jam kerja selama seminggu yang lalu, dan aktivitas komuter.
1. Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Komposisi penduduk bekerja menurut lapangan usaha dapat menggambarkan
struktur tenaga kerja di pasar kerja. Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2023, tiga
lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan sebesar 28,21 persen; Perdagangan Besar dan Eceran,
Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor sebesar 18,99 persen; serta Industri
Pengolahan sebesar 13,83 persen. Pola lapangan usaha dalam menyerap tenaga kerja
ini masih sama dengan Agustus 2022 .
Dibandingkan Agustus 2022, tiga lapangan usaha yang mengalami peningkatan
terbesar adalah Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum (1,18 juta
orang); Konstruksi (0,77 juta orang); serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (0,75
juta orang). Hanya terdapat tiga lapangan usaha yang mengalami sedikit penurunan,
yaitu Aktivitas Kesehatan Manusia dan Aktivitas Sosial (0,03 juta orang); Informasi
dan Komunikasi (0,02 juta orang); dan Treatment Air, Treatment Air Limbah,
Treatment dan Pemulihan Material Sampah, dan Aktivitas Remediasi (0,02 juta
orang).
Gambar 1 Distribusi dan Perubahan Penduduk Bekerja Menurut Lapangan
Usaha, Agustus 2023
2. Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan
Pada Agustus 2023, penduduk bekerja paling banyak berstatus
buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 37,68 persen, sementara yang paling sedikit
berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar, yaitu sebesar 3,21 persen.
Dibandingkan Agustus 2022, status berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tetap
dan dibayar, dan buruh/karyawan/pegawai mengalami kenaikan, masing-masing
sebesar 0,99 persen poin, 0,17 persen poin, dan 0,02 persen poin. Sementara itu,
untuk status pekerjaan yang lain mengalami penurunan, dengan penurunan terbesar
pada berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja keluarga/tidak dibayar yaitu sebesar
0,47 persen poin. Berdasarkan status pekerjaan, penduduk bekerja dapat
dikategorikan menjadi kegiatan formal dan informal. Penduduk yang bekerja di
kegiatan formal mencakup mereka dengan status berusaha dibantu buruh tetap dan
dibayar serta buruh/karyawan/pegawai, sedangkan sisanya dikategorikan sebagai
kegiatan informal (berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja
keluarga/tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga/tidak dibayar).
Pada Agustus 2023, penduduk yang bekerja pada kegiatan informal sebanyak 82,67
juta orang (59,11 persen), sedangkan yang bekerja pada kegiatan formal sebanyak
57,18 juta orang (40,89 persen). Dibandingkan Agustus 2022, persentase penduduk
bekerja pada kegiatan formal mengalami peningkatan sebesar 0,20 persen poin.
Gambar 2 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan dan
Kegiatan Formal / Informal, Agustus 2021 – Agustus 2023
3. Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Tingkat pendidikan dapat mengindikasikan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.
Pada Agustus 2023, penduduk bekerja masih didominasi oleh tamatan SD ke bawah
(tidak/belum pernah sekolah/belum tamat SD/tamat SD), yaitu sebesar 36,82 persen.
Sementara itu, penduduk bekerja tamatan Diploma I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3
sebesar 12,76 persen. Distribusi penduduk bekerja menurut pendidikan masih
menunjukkan pola yang sama dengan Agustus 2022.
Gambar 3 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan Tinggi yang
Ditamatkan, Agustus 2021 – Agustus 2023
Dibandingkan dengan Agustus 2022, penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah
dan Diploma I/II/III mengalami penurunan, masing-masing sebesar 1,98 persen poin
dan 0,01 persen poin. Sementara itu, penduduk bekerja dengan tingkat pendidikan
Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan,
dan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami peningkatan, dengan peningkatan terbesar
pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (0,72 persen poin).
4. Penduduk Bekerja Menurut Jam Kerja
Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam
per minggu) dengan persentase sebesar 68,92 persen pada Agustus 2023. Sementara
itu, 31,08 persen sisanya merupakan pekerja tidak penuh (jam kerja kurang dari 35
jam per minggu). Pekerja tidak penuh dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu
setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu. Dibandingkan Agustus 2022,
persentase pekerja tidak penuh mengalami penurunan sebesar 0,46 persen poin.
Gambar 4 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Jam Kerja, Agustus 2021 –
Agustus 2023
5. Penduduk Bekerja Yang Beraktivitas Sebagai Komuter
Penduduk yang melakukan kegiatan bekerja di luar kabupaten/kota tempat tinggal
dan secara rutin pergi dan pulang ke tempat tinggalnya pada hari yang sama disebut
sebagai pekerja komuter. Pada Agustus 2023 pekerja komuter berjumlah 7,38 juta
orang atau sekitar 5,28 persen dari keseluruhan penduduk yang bekerja. Terjadi
penurunan pekerja komuter sebesar 0,69 persen poin dibanding Agustus 2022 dan
0,32 persen poin dibanding Agustus 2021.
Gambar 5 Jumlah dan Persentase Pekerja Komuter, Agustus 2021 – Agustus 2023
Fenomena pekerja komuter biasanya banyak terjadi di wilayah metropolitan.
Berdasarkan Rencana Strategis 2020–2024 Badan Pengembangan Infrastruktur
Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terdapat
sepuluh Wilayah Metropolitan (WM) yang akan dikembangkan di Indonesia, yaitu
Mebidang, Patungraya Agung, Jabodetabekpunjur, Cekungan Bandung,
Gerbangkertosusila, Kedungsepur, Sarbagita, Banjarbakula, Bimindo, dan
Mamminasata. Proporsi pekerja komuter terhadap penduduk yang bekerja pada
Agustus 2023 paling tinggi adalah di wilayah metropolitan Jabodetabekpunjur, yaitu
sebesar 17,50 persen.
Keterangan: Mebidang (Medan, Binjai, dan Deli Serdang); Patungraya Agung (Palembang, Betung,
Indralaya, dan Kayu Agung); Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak,
dan Cianjur); Cekungan Bandung (Bandung, Sumedang, Bandung Barat, dan Cimahi); Kedungsepur
(Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi); Gerbangkertosusila (Gresik,
Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan); Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar,
dan Tabanan); Banjarbakula (Banjarmasin, Barito Kuala, dan Tanah Laut); Bimindo (Bitung,
Minahasa, dan Manado); Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar).
Gambar 6 Pekerja Komuter Menurut Wilayah Metropolitan (Persen), Agustus 2023
Karakteristik pekerja komuter pada Agustus 2023 didominasi laki-laki sebesar 70,54
persen, naik sebesar 0,33 persen poin dibanding Agustus 2022. Berdasarkan tingkat
pendidikan tertinggi yang ditamatkan, pada Agustus 2023 pekerja komuter lulusan
SMA, SMK, dan Diploma IV, S1, S2, S3 memiliki persentase lebih dari 20 persen.
Peningkatan persentase terbesar terdapat pada kelompok pekerja komuter dengan
pendidikan Diploma IV, S1, S2, S3 yaitu sebesar 0,96 persen poin. Menurut jenis
kegiatan formal/informal, pada Agustus 2023 pekerja komuter didominasi oleh
penduduk yang bekerja pada kegiatan formal, yaitu sebesar 83,91 persen. Terdapat
penurunan 2,49 persen poin pada pekerja komuter pada kegiatan formal dibanding
Agustus 2022. Untuk mendukung mobilitas dari/ke tempat kerja, sebagian besar
pekerja komuter menggunakan kendaraan pribadi/dinas (91,58 persen). Dibanding
Agustus 2022, terdapat peningkatan persentase pekerja komuter yang menggunakan
kendaraan umum sebesar 0,97 persen poin.
Tabel 1 Karakteristik Pekerja Komuter, Agustus 2021 – Agustus 2023
6. Karakteristik Pengangguran
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator yang digunakan untuk
mengukur tenaga kerjayang tidak terserap oleh pasarkerja dan menggambarkan
kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. TPT hasil Sakernas Agustus 2023
sebesar 5,32 persen. Hal ini berarti dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar 5
orang penganggur. Pada Agustus 2023, TPT mengalami penurunan sebesar 0,54
persen poin dibandingkan dengan Agustus 2022.
Tabel 2 Karakteristik Pengangguran, Agustus 2021 – Agustus 2023
Pada Agustus 2023, TPT laki-laki sebesar 5,42 persen, lebih tinggi dibanding TPT
perempuan yang sebesar 5,15 persen. TPT laki-laki dan perempuan memiliki pola
yang sama dengan TPT nasional yaitu turun dibandingkan Agustus 2022, masing-
masing sebesar 0,51 persen poin dan 0,60 persen poin.
Apabila dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan (6,40 persen) jauh
lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah perdesaan (3,88 persen). Dibandingkan
Agustus 2022, TPT perkotaan mengalami penurunan sebesar 1,34 persen poin.
Sementara itu, TPT perdesaan mengalami peningkatan sebesar 0,45 persen poin.
Pada Agustus 2023, TPT penduduk kelompok umur muda (15–24 tahun) merupakan
TPT tertinggi, yaitu mencapai 19,40 persen. Sementara itu, TPT penduduk kelompok
umur tua (60 tahun ke atas) merupakan yang paling rendah, yaitu sebesar 1,28 persen.
Pola TPT menurut kelompok umur tersebut juga sama dengan tahun sebelumnya
(Tabel 3). Dibandingkan Agustus 2022, semua kelompok umur mengalami penurunan
TPT dengan penurunan terbesar pada kelompok umur 60 tahun ke atas sebesar 1,57
persen poin.
Gambar 7 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan Tertinggi
yang Ditamatkan (Persen), Agustus 2021 – Agustus 2023
Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh angkatan
kerja, TPT pada Agustus 2023 mempunyai pola yang hampir sama dengan Agustus
2022. Pada Agustus 2023, TPT tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih
merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya,
yaitu sebesar 9,31 persen. Sementara itu, TPT yang paling rendah adalah pendidikan
SD ke bawah, yaitu sebesar 2,56 persen.
Dibandingkan Agustus 2022, penurunan TPT terjadi pada hampir semua tingkat
pendidikan, dengan penurunan terbesar pada yang berpendidikan Sekolah Menengah
Pertama, yaitu sebesar 1,17 persen poin. Sementara itu, lulusan Diploma I/II/III dan
lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami peningkatan TPT, masing-masing sebesar
0,20 persen poin dan 0,38 persen poin.