0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan17 halaman

Konstruksi Dinding Penahan Tanah

Makalah ini membahas tentang konstruksi dinding penahan tanah yang digunakan untuk menjaga kestabilan tanah dan mencegah keruntuhan, dengan fokus pada proyek pembangunan basement di Masjid Agung Medan. Penulis menjelaskan prosedur pelaksanaan, perhitungan stabilitas, dan alat berat yang digunakan dalam proyek tersebut. Diharapkan makalah ini memberikan manfaat dan inspirasi bagi pembaca.

Diunggah oleh

M Alghazali S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan17 halaman

Konstruksi Dinding Penahan Tanah

Makalah ini membahas tentang konstruksi dinding penahan tanah yang digunakan untuk menjaga kestabilan tanah dan mencegah keruntuhan, dengan fokus pada proyek pembangunan basement di Masjid Agung Medan. Penulis menjelaskan prosedur pelaksanaan, perhitungan stabilitas, dan alat berat yang digunakan dalam proyek tersebut. Diharapkan makalah ini memberikan manfaat dan inspirasi bagi pembaca.

Diunggah oleh

M Alghazali S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah tentang "Kontruksi mengenai
Dinding Penahan Tanah".

Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut
memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini. Tentunya, tidak akan bisa maksimal
jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan
maupun tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah
hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi
untuk pembaca.

Palembang, 2024

Muhammad Alghazali S.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Adapun latar Konstruksi dinding penahan tanah ini digunakan untuk menjaga
kestabilan tanah dan mencegah keruntuhan tanah di samping basement tersebut. Tembok
penahan tanah adalah konstruksi yang dibangun untuk penahan tanah yang mempunyai
kemiringan atau lereng dimana kemantapan tanah tersebut tidak dapat dijamin oleh tanah itu
sendiri. Bangunan Tembok Penahan Tanah digunakan untukmenahan tekanan lateral yang
ditimbulkan oleh tanah urugan atau tanah asli yang labil akibat kondisi topografinya. Konsep
dasar tembok penahan tanah urugan atau tanah asli yang labil akibat topografinya dan
berdasarkan perhitungan kestabilan lereng kondisi tanah dalam keadaan aktif maupun pasif.

Dinding kantilever adalah dinding yang terdiri dari kombinasi dinding dan beton
bertulang yang berbentuk huruf T. Ketebalan dari kedua bagian relatif tipis dan secara penuh
diberi tulangan untuk menahan momen dan gaya lintang yang bekerja padanya. Kestabilan
dinding penahan tanah diperoleh dari berat dinding kantilever, tekanan tanah, serta gaya aksial
yang bekerja diatasnya. Didasari oleh pentingnya kebutuhan akan konstruksi basement, saya
mengambil penulisan tentang proyek pembangunan basement pada salah satu gedung
bertingkat, dalam hal ini Parkiran Masjid Agung Medan, dengan konsentrasi khusus pada
dinding penahan sebagai penahan keruntuhan galian.

1.2 Rumusan masalah


[Link] perhitungan stabilitas guling dan stabilitas geser tanah untuk penangganan
longsor?
2. Bagaimana perhitungan stabilitas terhadap keruntuhan kapasitas dukung tanah
penangganan kelongsoran
1.3 Tujuan
1. Keamanan terhadap gaya akibat penggeseran, dan penggulingan
2. Keamanan terhadap stabilitas kapasitas daya dukung tanah
3. Untuk menetukan kestabilan dinding penahan tanah maka penulis menggunakan berat
sendiri dinding kantilever, dan tekanan tanah aktif, dan tidak memperhitungkan beban gempa.
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Nama, Lokasi, dan Waktu Pengerjaan Proyek
Nama proyek yang di pilih untuk penulisan makalah ini adalah Dinding Penahan
Tanah Pada “Proyek Pembangunan Parkiran Masjid Agung Medan”. Lokasi Proyek Parkiran
Masjid Agung Medan berada di Jl. Pangeran Diponegoro, Madras Hulu, Medan Polonia,
Kota Medan, Sumatera Utara. Adapun waktu yang direncanakan berkisar selama 3 bulan
mulai tanggal 06 Maret 2018 sampai 06 Juni 2018.

2.2 Fungsi kontruksi


Secara umum Dinding penahan tanah adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk
menahan tanah lepas atau alami dan mencegah keruntuhan tanah yang miring atau lereng
yang kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri. Bangunan yang
diciptakan pada area tanah yang miring sudah pasti akan mudah terkena longsor. Dengan
adanya dinding penahan tanah, bangunan tersebut dapat ditopang dengan baik sehingga tanah
yang ada di bawahnya, atau di sekitarnya, tidak akan mengalami erosi hingga terjadi longsor
atau lateral tanah dan malah membahayakan penghuni bangunan tersebut.
Kontruksi penahan tanah seperti dinding penahan, dinding bangunan bawah tanah
(basement), dan turap baja biasanya digunakan untuk menahan massa tanah dengan talud
vertikal. Agar dapat merencanakan konstruksi penahan tanah dengan benar, maka perlu
diketehui gaya horizontal yang bekerja antara konstruksi penahan dan massa tanah yang
ditahan. Gaya horizontal tadi disebabkan oleh tekanan arah horizontal (Braja M. Das, 1993:
47). Tekanan tanah lateral adalah sebuah parameter perencanaan (design parameter) yang
penting di dalam sejumlah persoalan teknik fondasi. Dinding penahan tanah maupun
konstruksi-konstruksi lain yang ada dibawah tanah, semuanya ini memerlukan perkiraan
tekanan lateral secara kuantitatif pada pekerjaan konstruksi, baik untuk analisa perencanaan
maupun untuk Analisa stabilitas.

2.3 Prosedur Pelaksanaan Dinding Penahan Tanah

1. Mobilisasi dan Demobilisasi

Mobilisasi disini dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu: mobilisasi personil tenaga
inti pelaksana, mobilisasi material, mobilisasi tenaga kerja dan mobilisasi peralatan.
a. Mobilisasi Personil

Akan dilakukan oleh sebelum pekerjaan dimulai sampai masa persiapan selesai. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan pelaksana dalam menyusun planning kerja setelah terlebih
dahulu mengenal lapangan dan melakukan identifikasi terhadap kemungkinan permasalahan
yang timbul nantinya selama waktu definitive pelaksanaan pekerjaan dimulai.

b. Mobilisasi Material dan Tenaga Kerja

Mobilisasi material dan tenaga kerja tidak dirinci disini, Karena penjelasan disini
menitikberatkan pada rencana mobilisasi alat berat.

c. Mobilisasi Alat Berat

Mobilisasi alat berat akan dilakukan sesuai kebutuhannya untuk pekerjaan yang akan segera
dilakukan dilapangan. Demobilisasi alat akan dilakukan setelah pekerjaan yang menggunakan
alat selesai dikerjakan dan setelah pekerjaan yang membutuhkan penggunaan peralatan telah
benar-benar selesai dilaksanakan.

2. Pembersihan Lapangan

Pembersihan di lakukan pada lokasi/pekerjaan, maupun lokasi untuk jalan masuk kelokasi
proyek, agar pelaksanaan pekerjaan nantinya dapat berjalan lancar. Semua daerah yang
ditempati bangunan atau yang dilewati jalur bangunan dibersihkan. Pembersihan meliputi
pembersihan pohon-pohon, sampah dan bahan lain yang mengganggu pelaksanaan pekerjaan.
Hasil pembersihan itu akan ditempatkan diluar tempat kerja atau dibuang, kecuali ada
ketentuan lain sesuai petunjuk direksi.

3. Dewatering

Pekerjaan Dewatering atau pekerjaan pengeringan merupakan pekerjaan persiapan saat


melakukan pengecoran pekerjaan yang mempunyai elevasi dibawah permukaan air dan
dilakukan secara terus menerus hingga konstruksi pasangan maupun beton bertulang sudah
mengering dengan sempurna. Tidak dibenarkan melakukan pasangan batu maupun beton
dalam keadaan tergenang air. Pekerjaan dewatering dapat diartikan dalam dua ditinjauan.
Yang pertama adalah pengeringan lapangan kerja dari permukaan air hujan, banjir yang
masuk area galian. Yang kedua adalah karena peristiwa rembesan yang mengakibatkan air
berkumpul di area galian dan mengganggu pekerjaan. Penentuan metode dewatering harus
berdasarkan debit rembesan, sifat tanah, air tanah, ukuran dan dalam galian, daya dukung
tanah, tipe pondasi, desain dan fungsi struktur, dan rencana pekerjaan. Ada beberapa metode
pekerjaan dewatering yang akan dijelaskan sebagai berikut ini:

a. Open Pumping

Metode ini masih dianggap sebagai teknik umum diterima dimana kolektordigunakan untuk
mengumpulkan air permukaan (khususnya air hujan) danrembesan dari tepi galian. Fungsi
kolektor adalah membuang air keluar dari galian.

b. Predrainage

Prinsip metode tersebut adalah menurunkan muka air tanah terlebih dahulu sebelum
pekerjaan galian dimulai. Metode tersebut digunakan apabila karakteristik dari tanah
merupakan tanah lepas, berbutir seragam, cadas lunak dengan banyak celah. Debit rembesan
cukup besar dan tersedia saluran pembuangan air, slope tanah sensitif terhadap erosi atau
mudah terjadi rotary slide, tidak mempunyai efek mengganggu bangunan disekitarnya. Ada
dua jenis metode predrainage yaitu singlestage predrainage, multi stage predrainage. Metode
dewatering predrainage ada du jenis yaitu well points, submersible pump.

c. Cut off

Prinsip metode cut off adalah memotong aliran bidang air tanah melalui cara mengurung
daerah galian dengan dinding. Metode ini perlu memperhitungkan dalamnya “D” tertentu
agar tidak terjadi rembesan air masuk ke dalam daerah galian. Dinding cut off dapat
menggunakan Stellsheet pile (tidak dipakai sebagai struktur dinding permanen), Concrete
diaphragma wall (sebagai struktur dinding permanen), Concrete secant pile (dapat dipakai
sebagai dinding permanen). Metode cut off digunakan pada kondisi yang sama dengan
pemilihan predrainage. Dinding cut off difungsikan juga sebagai penahan tanah atau sebagai
dinding basement.

5. Timbunan Tanah

Galian tanah hasil galian akan didapatkan kembali menjadi tanggul setelah pekerjaan galian
dan konstruksi dalam galian selesai dilakukan. tanah timbunan dapat didatangkan atau dari
hasil galian setempat. Pemadatan tanah timbunan menggunakan alat bantu berupa balok
kayu, stamper.

6. Pasangan Batu Kali

Material utama pasangan batu kali yaitu batu kali dan mortar (semen, pasir, dan air) sebagai
pengikat antar pasangan batu. Sebelum memulai pelaksanaan pasangan batu kali, dipastikan
terlebih dahulu batu direndam dalam air. Campuran mortar disesuaikan dengan perencanaan.
Pasangan batu harus disusun rapi dan padat.

7. Pembesian

Dalam pekerjaan pembesian, baja tulangan harus memenuhi persyaratan dan ketentuan yang
berlaku kecuali tertulis pada gambar atau ditentukan direksi, bengkokan, pengelasan selmut
beton dan detail lainnya. Besi yang dipakai harus bebas pelumas, karat dan kotoran. Diameter
besi sesuai yang ditentukan, batang dengan berbagai ukuran agar diberikan tanda yang jelas
dan dikelompokan terpisah satu sama lainnya. Selimut pelindung beton harus terjamin sesuai
dengan gambar baik horisontal maupun vertikal dengan memasang beton deck. Tulangan
harus diikat erat dengan sedikitnya d (dua) kali putaran dengan kawat beton 1.6 mm.

8. Bekisting

Pekerjaan bekisting mengikuti ketentuan SNI-03-2487-2002 Pasal 8.1 Perencanaan cetakan.


Bekisting harus menghasilkan akhir yang memenuhi bentuk, garis, dan dimensi komponen
struktur seperti yang disyaratkan pada gambar rencana dan spesifikasi.

9. Pengecoran Beton

Pekerjaan pengecoran beton mengikuti ketentuan SNI-03-2487-2002 Pasal 7 Kualitas,


pencampuran, dan pengecoran. Pencampuran campuran beton bisa menggunakan tenaga
manusia atau alat bantu mixer untuk volume pengecoran berskala besar. Ada beberapa cara
pengecoran antara lain yaitu pengecoran menggunakan bucked yang dimobilisasi oleh alat
bantu crane, dan pengecoran.

menggunakan spray concrete dengan bantuan compressor sebagai alat pompa

adukan dari truck mixer


2.4 Alat Berat yang Digunakan

Dalam memilih alat berat sangat perlu diperhatikan metoda-metoda pelaksanaan


pekerjaan, atau penggunaan macam dan jenis alat-alat berat yang digunakan. Pemilihan
alternative yang paling baik sangat mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan proyek
yang bersangkutan. Faktor kemampuan pelaksanaan kerja dan faktor ekonomi
sangatmempengaruhi pada pemilihan alternatif. Pemilihan beberapa alternative dapat dibatasi
dengan faktor-faktor sebagai berikut :
1. Keadaan medan
2. Keadaan tanah
3. Kualitas pekerjaan yang disyaratkan
4. Pengaruh lingkungan
5. Volume pekerjaan yang disyaratkan
6. Biaya produksi untuk pelaksanaan pekerjaan dengan alat berat yang relative rendah
7. Prosedur operasi alat dan pemeliharaan alat yang mudah dan sederhana
8. Umur alat yang tinggi
9. Undang-undang perburuhan, termasuk keselamatan kerja untuk para pelaksana.

a. Bore Machine (soil mechanic)

Bore machine adalah alat berat yang berfungsi untuk mengebor tanah. Alat berat ini pada
umumnya digunakan pada pengeboran pondasi bore pile. Adapun mesin ini ada yang
menyatu dengan alat berat dan ada pula dengan system terpisah.

b. Excavator (Backhoe)

Excavator adalah alat berat yang berfungsi sebagai alat penggali, pengangkat,maupun alat
pemuat tanpa harus berpindah tempat. Pada bagian penggerak majum mundur alat berat ini
atau yang disebut traveling unit dapat berupa crawler(rantai) maupun wheel mounted (roda
karet) yang digunakan untuk berjalan.

c. Dump truck
Dump truck adalah alat pengangkut tanah yang sangat efisien untuk jarak jauh atau dalam
mobilisasi alat-alat berat dan mengangkut material dalam kapasitas besar. Pengangkutan ini
tergantung pada kondisi medan, volume material, waktu dan biaya.

d. Truck Concrete Mixer

Truck concrete mixer adalah truk yang memiliki drum diatas trucknya dan alat ini digunakan
sebagai pengaduk beton jadi maupun belum jadi atau dalam kondisi belum dicampur air.
Lamanya pengadukan beton berpengaruh pada kemampuan tekan beton.

e. Concrete Pump

Concrete pump adalah alat berat pemompa/penyalur beton yang digunakan untuk pekerjaan
pengecoran pada bangunan lebih dari 2 lantai. Dipillihnya alat berat ini agar proses
pelaksanaan pengecoran lebih cepat

2.5 Perhitungan Dan Desain Rencana

1. Perencanaan Dinding Kantiveler.

Dinding semi basement menyerupai pelat yang bertumpu sepanjang balok tepi. Peninjauan
dilakukan pada ruang semi basement yang berada pada kedalaman -3,0 m dari permukaan
tanah.

2. Parameter Dinding Semi Basement.

Parameter dinding semi basement berdasarkan data perencanaan konstruksi yang digunakan
dalam pelaksanaan pekerjaannya. Dari data primer yang diperolehdari proyek, parameter
dinding semi basement pada proyek Parkiran Masjid Agung Medan dinyatakan sebagai
berikut:
Berat tanah total (W) = 51,88 gr

Berat tanah kering (WS) = 32,42 gr

Berat air (WW) = 19,46 gr

Volume tanah total (V) = 31,40 cm3

Berat volume air (γw) = 1 gr/cm

= 1000 Kg/m3

Berat volume tanah basah (γb) = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 (𝑊)

𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 (𝑉)

= 51,88 𝑔𝑟

31,40 𝑐𝑚3

= 1,65 gr/cm3 = 1650 Kg/m

Berat volume tanah kering (γd) = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 (𝑊𝑠)

𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 (𝑉)

32,42 𝑔𝑟

31,40 𝑐𝑚3

= 1,03 gr/cm = 1030 Kg/m3

Berat volume jenuh air (γsat) = 𝛾𝑤 (𝐺𝑆 +𝑒) / 1 +𝑒

=1 (2,65 +1,57) / 1 +1,57

= 1,64 gr/cm3 = 1640 Kg/m3


Berat spesifik butiran padat (Gs) = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑑𝑎𝑡 (𝛾𝑠) / 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐴𝑖𝑟(𝛾𝑤)

2,65 𝑔𝑟 ⁄𝑐𝑚3 / 1 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

= 2,65

γS = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 (𝑊𝑠) / 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ


𝑃𝑎𝑑𝑎𝑡 (𝑉𝑠)

= 32,42 𝑔𝑟 / 12,23 𝑐𝑚3

= 2, 65 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

Angka pori (e) = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑅𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 (𝑉𝑉) / 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐵𝑢𝑡𝑖𝑟𝑎𝑛 (𝑉𝑆)

= 19,17 𝑐𝑚3 / 12,23 𝑐𝑚3

= 1,57

VS = 𝑊𝑆 / 𝐺𝑆 𝛾𝑤

= 32,42𝑔𝑟 / 2,65 ×1 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

= 12,23 cm3

VV = V - VS

= 31,40 cm3 - 12,23 cm3

= 19,17 cm3

Porositas (n) = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑅𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 (𝑉𝑉) / 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 (𝑉)

= 19,17 𝑐𝑚3 / 31,40 𝑐𝑚3 = 0,61


Sudut geser dalam tanah (𝜃) = 19,75°

Material dinding semi basement = Beton bertulang

Berat volume material = 2400 kg/m3

Tinggi dinding = 3,150 m

Catatan: 1 gr/cm3 = 1000 Kg/m3 = 10 kN/m3

1 MPA = 10 Kg/cm2

Berat w (kg) Jarak dari 0 Momen ke 0 (kg)


(m)
0,25 x 3,150 x 2400 = 1890 0,915 1729, 35
0,20 x 16,54 x 2400 = 7939,20 8,27 65657,18
0,12 x 15,50 x 2400 = 44464 8,79 39238,56
0,79 x 3,150 x 1650 = 4106,03 0,395 1621,88
0,79 x 200 = 158 0,395 62,41

3. Beban dan Reaksi Tanah

ΣW = 18557,23 Kg/m ΣMw = 108309,38

b. Tekanan tanah aktif total dan momen terhadap O menurut rumus 2.20:

Ka = tan2 (45 – 𝜃/2)

Ka = tan2 (45 − 19,75/2)

Ka = 0,495

ΣPa = 0,5 x H2 x Ka x γ + q x H x K

Tekanan Tanah Aktif Total, Pa (Kg) Jarak dari O (m) Momen ke O (Kg)
0,5 x (3,350)2 x 0,495 x 1650 = 4582,99 1,117 5119,20
200 x 3,350 x 0,495 = 331,65 1,675 555,51
ΣPa = 4914,64 ΣMgul = 5674,71

4. Stabilitas dinding terhadap tanah

a. Stabilitas terhadap penggguling

Stabilitas Penggulingan menurut rumus 2.33:

FGL = Σ𝑀𝑊/ Σ𝑀𝐺𝐿 ≥ 1,5

= 108309,38 𝐾𝑔/𝑚2 / 5674,71 𝐾𝑔/𝑚2

= 19,08 ≥ 1,5 (Aman)

b. Stabilitas terhadap Pergeseran

Tahanan geser pada dinding sepanjang B = 4 m, dihitung dengan menganggap dasar dinding sangat
kasar, sehingga sudut geser δb = 𝜃 dan adhesi Cd = C1,menurut rumus 2.32, yaitu:

Rh = Cd x B + ΣW tan δb = (1650 x 4) + (18557,23 x tan 19,75°)

= 6600 + 6662.73 = 13262,73

Stabilitas Pergeseran menurut rumus 2.29 :

FGS = Σ𝑅ℎ / Σ𝑃ℎ ≥ 1,5

= 13262,73 / 4914,64

= 2,69 ≥ 1,5 (Aman)

c. Stabilitas terhadap Keruntuhan Kapasitas Dukung Tanah

Dalam hal ini akan digunakan persemaan Hansen. Pada hitungan dianggap fondasi terletak di
pemukaan, rumus 2.36 :

Xe = Σ𝑀𝑊 − Σ𝑀𝐺𝐿 / Σ𝑊

108309,38 𝐾𝑔 𝑚2 − 5674,71 𝐾𝑔/𝑚2 / 18557,23 𝐾𝑔/𝑚

= 5,531 m

Eksentrisitas beban menurut rumus 2.37 :

e = 𝐵/ 2 – 𝑥𝑒
= 4 𝑚 /2 − 5,531 𝑚 m

= − 3,531 m < 𝐵 6 = 0,667 𝑚

Lebar efektif menurut rumus 2.38 :

B’ = B – 2e

= 4 m – (2 x −3,531 m)

= 11,062 m A’

= B’ x 1

= 11,062 m x 1 m

= 11,062 m2

Gaya horizontal: H = 4914,64 kg/m dan gaya vertikal: V = 18557,23 kg/m. Dari tabel 2.15 tentang
faktor kapasitas daya dukung dapat diambil nilai sebagai berikut: Nc = 14,83 ; Nq = 6,40 ; Nγ = 2,95.

Faktor kemiringan beban menurut rumus pada tabel 2.14, jadi:

iq = [1 − 0,5 𝐻 / 𝑉+𝐴′𝐶𝑑 cot 𝜃]*5 =

[1 − 0,5 × 4914,64 / 18557,23 + (11,062 ×1650 × cot19,75°) ] *5

= 0,835

ic = 𝑖𝑞 − (1− 𝑖𝑞) / 𝑁𝐶 tan 𝜃

= 0,835 − (1− 0,835) / 14.83 tan19,75°

= 0,804

Catatan : NC tan 𝜃 = Nq – 1

iγ = [1 − 0,7 𝐻 / 𝑉+𝐴′𝐶𝑑 cot 𝜃]*5

= [1 − 0,7 × 4914,64 / 18557,23 + (11,062 ×1650 × cot19,75°) ]* 5

= 0,775

Kapasitas dukung ultimit untuk fondasi di permukaan menurut Hansen pada rumus 2.35, (Df = 0,
Faktor kedalaman dc = dq = dγ = 1, faktor bentuk Sc = Sq = S γ
= 1):

qu = 𝑖𝑐 𝑐 𝑁𝑐 + 𝑖𝛾 0,5 𝐵 𝛾 𝑁𝛾

= (0,804 x 1650 x 14,83) + (0,775 x 0,5 x 11,062 x 1650 x 2,95)

= 19673,478 + 20864,660

= 40538,138

Bila dihitung dengan berdasarkan lebar fondasi efektif, yaitu tekanan fondasi ke tanah dasar terbagi
rata, menurut rumus 2.39, maka:

q’ = 𝑉 / 𝐵′

= 18557,23 / 11,062

= 1677,565

Bila dihitung dengan berdasarkan lebar fondasi efektif, yaitu tekanan fondasi ke tanah dasar terbagi
rata, menurut rumus 2.39, maka:

q’ = 𝑉 / 𝐵′

= 18557,23 / 11,062

= 1677,565

Atau dapat pula faktor aman dihitung dengan:

F = 𝑞𝑢 ×𝐵′ / 𝑉

= 40538,138 × 11,062 / 18557,23

= 24,165 > 3 (aman)

Stabilitas Penggulingan = 19,08

Stabiltas Pergeseran = 2,69

Stabilitas Keruntuhan Kapasitas Dukung Tanah = 24,1


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa stabilitas dinding penahan tanah, maka diperoleh kesimpulan bahwa
perhitungan dinding penahan tanah pada Proyek Pembangunan Parkiran Masjid Agung Medan,
aman terhadap Stabilitas Penggulingan dengan nilai 19,08 ≥ 1,5 dan aman Stabilitas Pergeseran
dengan nilai 2,69 ≥ 1,5 dan aman terhadap Stabilitas terhadap Keruntuhan Kapasitas Dukung Tanah
dengan nilai 24,165 ≥ 3

3.2 Saran
Berdasarkan hasil dari analisa stabilitas dinding penahan tanah, saran yang diajukan adalah sebagai
berikut:

1. Untuk mengantisipasi semakin besarnya nilai koefisien tanah jenuh akibat hujan yang terus
menerus, dapat dilakukan dengan melakukan pemavingan pada permukaan tanah sehingga air tidak
meresap kedalam tanah dan mengakibatkan tanah semakin jenuh.

2.. Perlu dilakukannya peninjauan perhitungan stabilitas dinding penahan tanah dengan sudut geser
dan nilai kohesi tanah yang berbeda.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB 1 PENDAHULUAN I
1.1 Latar Belakang 1
2.2 Rumusan Masalah 1
2.3 Tujuan 1

BAB 2 PEMBAHASAN II
Type chapter title (level 2) 2
Type chapter title (level 3) 2

Anda mungkin juga menyukai