MAKALAH DESKRIPTIF PROGRAM STBM
(FASILITATOR SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT)
Disusun Oleh:
Nama : Siti Iis Roziyah
NIM : 14215171
ID Kegiatan : 7719853
Program Studi : Kesehatan Masyarakat
Universitas : STIKes Surya Global Yogyakarta
Program Magang : STBM
Puskesmas : Kebonsari
Kelurahan : Pagesangan
MAGANG DAN STUDI INDEPENDEN BERSERTIFITAK BATCH 6
DINAS KESEHATAN KOTA SURABAYA
2024
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua
komponen bangsa yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang sehingga diharapkan terjadi peningkatan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Sistem Kesehatan Nasional, 2009).
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah
melalui program nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat, bahwa dalam rangka memperkuat upaya perilaku hidup bersih
dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan
masyarakat, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar perlu
menyelenggarakan STBM.
Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan lima pilar (Stop
Buang air besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air Minum dan
Makanan Rumah Tangga, Pengamanan Sampah Rumah Tangga, dan Pengamanan Limbah
Cair Rumah Tangga) akan mempermudah upaya meningkatkan akses sanitasi masyarakat
yang lebih baik serta mengubah dan mempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih
dan sehat.
Pelaksanaan program STBM dimulai dari pilar pertama yaitu Stop Buang Air Besar
Sembarangan (Stop BABS). Fokus pertama dilakukan pada Stop BABS karena pilar tersebut
berfungsi sebagai pintu masuk menuju sanitasi total serta merupakan upaya untuk memutus
rantai kontaminasi kotoran manusia terhadap air baku minum, makanan, dan lainnya (Ditjen
PP dan PL, 2011).
Menurut Chandra (2007), Buang air besar sembarangan dapat mengakibatkan
kontaminasi pada air, tanah, udara, makanan, dan perkembangbiakan lalat. Sesuai dengan
model ekologi, ketika lingkungan buruk akan menyebabkan penyakit. Penyakit yang dapat
terjadi akibat kontaminasi tersebut antara lain tifoid, paratiroid, disentri, diare, kolera, penyakit
cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit infeksi gastrointestinal lain, serta infeksi parasit
lain. Upaya untuk memutus terjadinya penularan penyakit dapat dilaksanakan dengan
memperbaiki sanitasi lingkungan.
Tersedianya jamban merupakan usaha untuk memperbaiki sanitasi dasar dan dapat
memutus rantai penularan penyakit (Suparmin dan Soeparman, 2002). Jamban merupakan
tempat yang aman dan nyaman untuk digunakan sebagai tempat buang air besar. Jamban
sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang mencegah kontaminasi ke badan air, kontak
antara manusia dan tinja, bau yang tidak sedap, membuat tinja tidak dapat dihinggapi
serangga, serta binatang lainnya, dan konstruksi dudukannya dibuat dengan baik, aman, dan
mudah dibersihkan (WSP-EAP, 2009).
Program STBM merupakan upaya dalam pencapaian Millenium Development Goals
(MDG’s) tahun 2015 poin 7c, yaitu meningkatkan aksesair minum dan sanitasi dasar secara
berkesinambungan kepada separuh dariproporsi penduduk yang belum mendapatkan akses.
Data dari BPS dan KemenPU tahun 2012 menyebutkan bahwa capaian akses sanitasi layak
masyarakat Indonesia pada tahun 2012 sebesar 57,35% dengan target MDG’s 12015
sebesar 62,41% , yang artinya ada 5,06% akses sanitasi masyarakat kita yang masih menjadi
perhatian pemerintah sampai tahun [Link] Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) dengan lima pilar (Stop Buang air besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun,
Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengamanan Sampah Rumah
Tangga, dan Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga) akan mempermudah upaya
meningkatkan akses sanitasi masyarakat yang lebih baik serta mengubah dan
mempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan sehat. Pelaksanaan program
STBM dimulai dari pilar pertama yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS).
Program STBM ini lebih menekankan pada perubahan perilaku kelompok masyarakat
dengan pemicuan menggunakan metode Metodology Participatory Assesmant Participatory
Hygiene and Sanitation Transformasi (MPAPHAST). Pemicuan dilaksanakan dengan cara
fasilitasi kepada masyarakat dalam upaya memperbaiki keadaan sanitasi di lingkungan
mereka hingga mencapai kondisi Open Defecation Free (ODF). Kondisi ODF ditandai dengan
100% masyarakat telah mempunyai akses BAB di jamban sendiri, tidak adanya kotoran di
lingkungan mereka, serta mereka mampu menjaga kebersihan jamban (Permenkes No.3
Tahun 2014).
Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 Tentang
Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat bahwa indikator outcome dari program
STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya
yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku, maka pada pilar pertama ini lebih menekankan
pada penurunan penyakit diare, karena penyakit diare merupakan penyakit umum yang tidak
hanya diderita oleh orang dewasa namun juga balita.
Sebagai program nasional, dalam pelaksanaan STBM sangat dibutuhkan
pemantauan dan evaluasi melalui kegiatan surveilans untuk dapat melihat pencapaian dan
pembelajarannya. Monitoring dan evaluasi program STBM melalui Sistem Informasi
Monitoring dilaksanakan secara umum melalui tahapan yaitu pengumpulan data dan
informasi, pengolahan, analisis data dan informasi, pelaporan dan pemberian umpan balik.
Sedangkan dalam melakukan pemantauan, hal yang paling substansi dan mempengaruhi
sistem secara menyeluruh adalah data. Pelaporan merupakan bagian penting dari
pemantauan dan evaluasi sebuah program yang memuat hasil kemajuan pelaksanaan
program secara berjenjang mulai dari tingkat desa sampai tingkat pusat. Alat bantu pelaporan
dalam pemantauan dan evaluasi STBM adalah dengan SMS gateway dan website.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah pelaksanaan sistem informasi manajemen pemantauan program
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 pilar?
C. TUJUAN
Mengetahui pelaksanaan sistem informasi manajemen pemantauan program
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
BAB II
PEMBAHASAN
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku
higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Metode
pemicuan dalam STBM tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Community Led-
Total Sanitation (CLTS). CLTS merupakan suatu pendekatan terintegrasi yang digunakan
untuk mencapai keberhasilan dan mendukung status Open Defecation Free (ODF). Dimana
pihak luar yang memberikan fasilitasi, tidak memberikan pendidikan kepada anggota
masyarakat selama proses pemicuan tersebut berlangsung. Melainkan melakukan kegiatan
fasilitasi dengan proses menyemangati dan memberdayakan masyarakat setempat. STBM
adalah sebuah pendekatan dalam pembangunan sanitasi pedesaan.
Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dalam pelaksanaanya program ini
mempunyai beberapa prinsip utama, yaitu:
a. Tidak adanya subsidi yang diberikan kepada masyarakat, tidak terkecuali untuk kelompok
miskin untuk penyediaan fasilitas sanitasi dasar.
b. Meningkatkan ketersediaan sarana sanitasi yang sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhan masyarakat sasaran.
c. Menciptakan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter untuk mendukung terciptanya
sanitasi total.
d. Masyarakat sebagai pemimpin dan seluruh masyarakat terlibat dalam analisa
permasalahan, perencanaan, pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan.
e. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Program Pembangunan Kesehatan dan Dasar-Dasar Total (STBM).
Komponen Pembangunan kesehatan adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan
kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup semua individu. Program Kesehatan
Dasar Total Nasional (STBM) merupakan alat utama dalam meningkatkan kesehatan
masyarakat.
Program STBM terdiri dari lima komponen: Stop Air Besar Sembarangan (Stop
BABS), Pengelolaan Air Bersih, Pengelolaan Kualitas Udara dan Air serta Limbah,
Pengelolaan Sampah, dan Limbah Limbah Cair Rumah Tangga.
Komponen pertama, Stop BABS, berfokus pada kesehatan menyeluruh dan
mencegah kontaminasi manusia terhadap air, tanah, badan air, dan sumber daya
alam lainnya. Tindakan Kesehatan upaya kesehatan mencakup pemantauan kualitas
udara, kontak antar manusia, permukaan anti selip, dan pembangunan fasilitas
pembuangan limbah. Komponen kedua, Pembangunan Kesehatan, berfokus pada
peningkatan kesehatan masyarakat melalui penggunaan metode Penilaian
Partisipatif dan Transformasi Higiene dan Sanitasi (MPAPHAST).
Hasil Program STBM adalah pengurangan sampah di lingkungan dan
pengurangan sampah berdasarkan faktor lingkungan lain yang berkaitan dengan
kesehatan dan kinerja.
Komponen pertama bertujuan untuk mengurangi sampah di lingkungan, karena
sampah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang umum, tidak hanya
ditangani oleh pemerintah tetapi juga oleh individu. Pemantauan dan evaluasi
program STBM dilakukan melalui Sistem Informasi Nasional yang meliputi
pendataan, analisis, pelaporan, dan partisipasi masyarakat.