0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan7 halaman

Proses dan Gaya Pengambilan Keputusan

Dokumen ini membahas pengambilan keputusan dalam organisasi, termasuk definisi perilaku organisasi, tahapan pengambilan keputusan, gaya pengambilan keputusan, etika, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan. Proses pengambilan keputusan melibatkan identifikasi masalah, analisis, evaluasi alternatif, dan implementasi keputusan. Selain itu, terdapat berbagai jenis keputusan seperti intuitif, rasional, berdasarkan fakta, pengalaman, dan wewenang.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan7 halaman

Proses dan Gaya Pengambilan Keputusan

Dokumen ini membahas pengambilan keputusan dalam organisasi, termasuk definisi perilaku organisasi, tahapan pengambilan keputusan, gaya pengambilan keputusan, etika, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan. Proses pengambilan keputusan melibatkan identifikasi masalah, analisis, evaluasi alternatif, dan implementasi keputusan. Selain itu, terdapat berbagai jenis keputusan seperti intuitif, rasional, berdasarkan fakta, pengalaman, dan wewenang.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan

Pengertian Perilaku Organisasi

Pengambilan keputusan memiliki beberapa definisi dari para ahli:

Perilaku organisasi adalah cara individu atau kelompok berinteraksi dan


berperilaku dalam konteks organisasi atau bisnis. Perilaku organisasi
meliputi berbagai aspek seperti motivasi, komunikasi, kepemimpinan, dan
budaya organisasi. Studi tentang perilaku organisasi bertujuan untuk
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dan keberhasilan
organisasi, serta untuk mengembangkan strategi dan kebijakan yang
tepat untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Menurut Greenberg dan Baron yang di kutip Wibowo (2014:2), Perilaku


organisasi adalah studi tentang apa yang orang pikirkan, rasakan dan
lakukan di dalam dan sekitar organisasi. Perilaku organisasi adalah suatu
studi tentang perilaku manusia dalam pengaturan organisasi, hubungan
antara individu dengan organisasi, dan organisasi itu sendiri. Perilaku
organisasi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang terus berkembang guna
membantu suatu organisasi untuk meningkatkan produktivitasnya.

Menurut Eisenfuhr dalam Lunenburg (2010), pengambilan keputusan


adalah proses membuat pilihan dari sejumlah alternatif untuk mencapai
hasil yang diinginkan. Definisi ini memiliki tiga kunci elemen. Pertama,
pengambilan keputusan melibatkan membuat pilihan dari sejumlah
pilihan. Kedua, pengambilan keputusan adalah proses yang melibatkan
lebih dari sekedar pilihan akhir dari antara alternatif. Ketiga, “hasil yang
diinginkan” yang disebutkan dalam definisi melibatkan tujuan atau target
yang dihasilkan dari aktivitas mental bahwa pembuat keputusan terlibat
dalam mencapai keputusan akhir (Lunenburg, 2010).

Selain itu, menurut Wang dan Ruhe (2007), berpendapat bahwa


pengambilan keputusan adalah proses yang memilih pilihan yang lebih
disukai atau suatu tindakan dari antara alternatif atas dasar kriteria atau
strategi yang diberikan. Sementara menurut Siagian dalam Hasan, (2002),
pengambilan. Keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis
terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang
menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pengambilan


keputusan adalah suatu proses melakukan penilaian dan menjatuhkan
pilihan yang tepat dari beberapa alternatif yang ada untuk mencapai hasil
yang diinginkan.

2.2 Tahap-tahap Pengambilan Keputusan

Guna memudahkan pengambilan keputusan maka perlu dibuat tahap-


tahap yang bisa mendorong kepada terciptanya keputusan yang
diinginkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah (Farhan, 2019):

1. Identfikasi masalah

Suatu organisasi dalam mengadakan identifikasi masalah tersebut perlu


dilakukan segala data atau hal yang merupakan komponen
permasalahannya dicatat untuk nantinya dianalisis lebih lanjut.

2. Menganalisis masalah

Disini data-data permasalahan mulai diseleksi, serta mengetahui data


relevan dan kurang relevan untuk masalah yang akan dihadapinya.
Kemudian juga harus diteliti dan dianalisis apa yang menjadi penyebab
timbulnya masalah.

3. Membuat alternatif pemecahan masalah

Setelah mengetahui penyebab timbulnya masalah, maka dibuat beberapa


alternatif pemecahannya dan alternatif ini dibuat tidak hanya satu
alternatif saja. Dengan berprinsip pada efesiensi, perlunya beberapa
alternatif dibuat sekaligus.

4. Mengevaluasi setiap alternatif yang dipilih

Alternatif yang telah dibuat harus ditunjukkan terlebih dahulu kelebihan


dan kekurangannya. Hal ini sangat penting dalam mempertimbangkan
alternatif mana yang akan dipilihnya. Membandingkan alternatif-alternatif
yang telah dibuat serta memikirkan akan mencapai tujuan atau tidak. Di
tahap ini akan terlihat alternatif yang lebih unggul daripada alternatif
lainnya.

5. Pemilihan dan penentuan alternatif


Setelah mengevaluasi setiap alternatif yang ada, maka langkah
selanjutnya yang harus dilakukan adalah memilih alternatif yang paling
baik. Menentukan pilihan alternatif tergantung pada pemeriksaan yang
telah dibuat berdasarkan dengan kelebihan dan kekurangan dari
keputusan tersebut.

6. Mengimplementasikan keputusan yang diambil

Dalam proses mengimplementasikan keputusan, membuat rencana yang


akan digunakan untuk mengatasi berbagai masalah yang mungkin terjadi
selama tindakan penerapan keputusan.

7. Evaluasi hasil keputusan

Tahap ini menentukan pemilihan keputusan yang telah diambil ini benar-
benar layak atau tidak. Setiap pemilihan keputusan yang dilakukan. Harus
secara konsisten dicermati serta melakukan penilaian untuk melihat
pelaksanaan pemilihan keputusan ini berjalan lancar atau sebaliknya.

Gaya Pengambilan Keputusan

Dalam mengambil keputusan, setiap individu akan menggunakan


pendekatan dengan berbagai cara yang berbeda terhadap setiap
permasalahan. Gaya pengambilan keputusan lebih menunjukkan pada
sikap dan tingkah laku yang ditunjukkan dalam menyelesaikan masalah.

Empat gaya pengambilan keputusan yakni:

1. Gaya mengarahkan. Tipe gaya ini memiliki toleransi rendah


terhadap ambiguitas, bersikap rasional dalam cara berpikir, efisien,
dan logis. Tipe gaya mengarahkan membuat keputusan secara
cepat dan memusatkan perhatian pada jangka pendek. Kecepatan
dan efisiensi dalam mengambil keputusan sering mengakibatkan
pengambilan keputusan dengan informasi minimum dan dengan
menilai sedikit alternatif saja.
2. Gaya analitis. Pembuat keputusan dengan gaya ini memiliki jauh
lebih banyak toleransi terhadap ambiguitas daripada tipe gaya
mengarahkan. Mereka menginginkan lebih banyak informasi
sebelum mengambil keputusan dan mempertimbangkan lebih
banyak alternatif daripada pengambil keputusan yang bertipe gaya
mengarahkan. Pengambil keputusan analitis dicirikan sebagai
pengambil keputusan yang hati hati dengan kemampuan untuk
beradaptasi atau menghadapi situasi yang unik.
3. Gaya konseptual. Individu dengan tipe gaya konseptual cenderung
lebih luas pandangan mereka dan memiliki banyak alternatif.
Mereka memusatkan perhatian jangka panjang dan sangat baik
dalam menemukan pemecahan kreatif atas sejumlah masalah.
4. Gaya perilaku. Pengambil keputusan dengan tipe gaya ini sangat
baik dalam bekerjasama dengan orang lain. Mereka menaruh
perhatian pada prestasi anak buah dan sangat suka menerima saran
dari orang lain. Seringkali mereka menggunakan rapat untuk
berkomunikasi meskipun mereka berusaha menghindari konflik.
Penerimaaan oleh orang lain itu penting bagi para pengambil
keputusan yang bergaya perilaku (Bernhard tewal, 2017).

Etika Pengambilan Keputusan

Dalam setiap pengambilan keputusan, organisasi memasukkan etika


sebagai pertimbangan pokok. Dengan kata lain, organisasi menerapkan
pertimbangan moral dalam setiap proses pengambilan keputusan. Hal ini
sehubungan dengan bahwa setiap keputusan harus mengacu kepada
kepentingan orang banyak sehingga setiap keputusan ataupun tindakan
yang diambil harus memiliki konsekuensi bagi orang lain. Seseorang yang
mengambil keputusan untuk kepentingan pribadi dapat berarah pada
kegagalan organisasi. Suatu keputusan dianggap etis ketika secara legal
ataupun moral dapat diterima oleh seluruh anggota organisasi namun
dalam penerapan etika pengambilan keputusan dapat menyebabkan
umpan balik yang negatif.

Seperti pada pengambilan keputusan umumnya, etika pengambilan


keputusan pun didasarkan pada proses kognitif tingkat tinggi namun
terdapat pandangan lain seperti pengaruh emosi yang dapat berpengaruh
terhadap perilaku tidak etis. Gaudine dan Thorne (2001),
mengembangkan sebuah model yang menggambarkan bagaimana emosi
mempengaruhi komponen proses pengambilan keputusan etis individu.
Model tersebut menunjukkan bahwa

2.3 Proses Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

Menurut Herbert A. Simon, Proses pengambilan keputusan pada


hakekatnya terdiri atas tiga langkah utama, yaitu:

a. Kegiatan Intelijen

Menyangkut pencarian berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi


keputusan
b. Kegiatan Desain

Tahap ini menyangkut pembuatan pengembangan dan penganalisaan


berbagai rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan

c. Kegiatan Pemilihan

Pemilihan serangkaian kegiatan tertentu dari alternative yang tersedia,


Sedangkan menurut Scott dan Mitchell, proses pengambilan keputusan

Meliputi:

a. Identifikasi dan Diagnosa masalah.


b. Pengumpulan dan Analisis data yang revlen
c. Pengembangan dan Evaluasi alternative
d. Pemilihan alternative terbaik.
e. Implementasi keputusan dan evaluasi terhadap hasil

Proses pengambilan keputusan dalam organisasi ialah kumpulan yang


terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama, didalam
organisasi rentan terjadinya selisih pendapat begitu juga dalam
mengambil keputusan dalam mengambil sikap, dalam mengambil
keputusan.

2.4 Jenis jenis Keputusan Organisasi

1. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi

Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat


subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan factor kejiwaan
lain. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan
waktu yang singkat untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas.
Pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan
mencari perbandingannya dengan kata lain hal ini diakibatkan
pengambilan keputusan intutif.

2. Pengambilan Keputusan Rasional

Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah-


masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan
pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan
pertimbangan rasional lebih bersifat objektif.

3. Pengambilan keputusan berdasarkan fakta


Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan.
Data. Dengan demikian, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi
yang kemudian dijadikan dasar pengambil keputusan.

4. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman

Sering kali terjadi bahwa sebelumnya pernah terjadi. Pengingat semacam


itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip pengambilan keputusan yang
berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata
permasalahn tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal
melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan kondisi
saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang
sebelumnya ituuntuk mengatasi masalah yang timbul. Keputusan yang
berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis.

5. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang

Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan


wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan
kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
Keputusan yang berdasarkan wewenang semata akan menmbulakan sifat
rutin dan mengasosialisasikan dengan praktik dictatorial.

2.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan

Menurut Ridhomoordiningsih (2005) menyebutkan bawa terdapat 4 faktor


sebagai berikut:

1. Kreativitas individu yaitu bahwa individu memiliki kemampuan dan


strateri ketika menghadapi suatu permasalaha.
2. Lingkungan yang kondusif yaitu bahwa lingkungan yang kondusif ini
di dukung oleh motivasi individu, nilai-nilai yang dimiliki individu
serta komunikasi atau kelompok dimana mengambil keputusan.
3. Analisis yang sistematis dan ilmiah yaitu dimulai dengan
menganalisis masalah dan mengingat semua informasi terkait,
mempertimbangkan berbagai kondisi dan alternative pilihan yang
akan dihadapi sebelum mengambil keputusan.
4. Probabilitas keputusan untuk diaplikasikan yaitu kemampuan
individu memperkirakan resiko dari situasi yang dihadapi ketika
pengambilan keputusan.
Daftar Pustaka

Amalia, Rizki dan Firmadhani Citra. (2022). TEKNIK PENGAMBILAN


KEPUTUSAN. Bandung: CV. TUJUH MEDIA PRINTING

Fahmi, Irham. (2013). MANAJEMEN PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Bandung:


Alfabeta

Kusnadi, Dedek. (2015). PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERILAKU


ORGANISASI. Jambi Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi

Prastyawan, Agus dan Lestari, Yuni. (2015). PENGAMBILAN KEPUTUSAN.


Surabaya: Unesa University Press

Sari, Eliana. (2007). PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI.


Jakarta: Jayabaya University Press

Sitorus Pane, Fitri Handayani dan Siregar Sylviana. (2022). PENGAMBILAN


KEPUTUSAN PADA SAAT DAN PERILAKU DALAM ORGANISASI. Medan Jurnal
Ilmu Komputer, Ekonomi dan manajemen (JIKEM)

Syah, Lin Yan. (2014). PERILAKU ORGANISASI (Konsep dan Implementasi).


Bogor: IN MEDIA

Tewal, Bernhard, dkk. (2017). PERILAKU ORGANISASI. Bandung CV. PATRA


MEDIA GRAVINDO

Wibowo. (2014). PERILAKU DALAM ORGANISASI. Jakarta: Rajawali Pers

Wijaya, Candra. (2017). PERILAKU ORGANISASI. Medan LPPPI (Lembaga


Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia)

Anda mungkin juga menyukai