0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan54 halaman

Rencana Pembangunan Wisata Flamboyan

Dokumen ini menjelaskan rencana pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah di Palangka Raya, yang mencakup lokasi, kesesuaian tata ruang, dan tahapan kegiatan. Pembangunan ini diharapkan menjadi ikon kota dan melibatkan masyarakat dalam proses sosialisasi serta pengadaan lahan. Selain itu, dokumen juga mencakup dampak lingkungan dan kebutuhan tenaga kerja selama tahap konstruksi.

Diunggah oleh

Bayu Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan54 halaman

Rencana Pembangunan Wisata Flamboyan

Dokumen ini menjelaskan rencana pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah di Palangka Raya, yang mencakup lokasi, kesesuaian tata ruang, dan tahapan kegiatan. Pembangunan ini diharapkan menjadi ikon kota dan melibatkan masyarakat dalam proses sosialisasi serta pengadaan lahan. Selain itu, dokumen juga mencakup dampak lingkungan dan kebutuhan tenaga kerja selama tahap konstruksi.

Diunggah oleh

Bayu Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 RINGKASAN DESKRIPSI RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


1.1.1 Kesesuaian Lokasi Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Dengan Rencana Tata
Ruang
Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan wisata
Flamboyan Bawah berada di wilayah administrasi Kelurahan Langkai, Kecamatan
Pahandut, Kota Palangka Raya, dengan luas areal ± 18,81 Ha. Lokasi Pembangunan
Kawasan wisata Flamboyan Bawah dapat dilihat pada Gambar 1.1. Secara visual terlihat
bahwa rencana pembangunan kawasan wisata Flamboyan Bawah ini memiliki ruang
yang berada di Tepi Sungai Kahayan. Sungai Kahayan ini merupakan salah satu sungai
besar yang ada di Kalimantan Tengah.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 8 Tahun 2001 tentang
Rencana Detail Tata Ruang Kota Palangka Raya, areal rencana kegiatan pembangunan
Kawasan Wisata Flamboyan Bawah ini berada di Kawasan Predagangan Regional seluas
9,16 Ha, Permukiman seluas 8,78 Ha, dan Daerah Penyangga Sungai 0,87 Ha
(Gambar 1.2.). Kondisi ini memperlihat, secara peruntukan berdasarkan peraturan ini
kawasan wisata Flamboyan Bawah berada pada areal yang cukup strategis untuk
dilaksanakan menjadi kawasan wisata. Hal ini mengingat Kota Palangka Raya
memerlukan suatu maskot sehingga dengan adanya kawasan wisata Flamboyan Bawah
bisa menjadi salah satu icon keberadaan Kota Palangka Raya.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Tengah
No. 5 Tahun 2015, lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan kawasan wisata Flamboyan
Bawah yang berada di Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya,
Provinsi Kalimantan Tengah, seluruhnya berada pada kawasan Permukiman atau seluas
± 18,81 Ha (100%). Peta kesesuaian lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan
RTRW tersebut berada pada Kawasan Permukiman dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia
Nomor : SK. 529/Menhut-II/2012 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pertanian
Nomor 759/KPTS/UM/10/1982 tentang Penunjukan Areal Hutan di Wilayah Provinsi
Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Seluas ± 15.300.000 HA (Lima Belas Juta Tiga Ratus
Ribu Hektar) sebagai Kawasan Hutan, maka lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan
pembangunan kawasan wisata Flamboyan Bawah berada pada kawasan Areal
Penggunaan Lain (APL) atau seluas ± 18,81 Ha (100%) dapat dilihat pada Gambar 1.4.
Sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang
Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer
dan Lahan Gambut, maka lokasi Kawasan Wisata Flamboyan Bawah berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK 2312/Menhut-VII/IPSDH/2015 Tanggal 27
Mei 2015 tentang Penetapan Peta Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru Pemanfaatan
Hutan, Penggunaan Kawasan Hutan dan Perubahan Peruntukaan Kawasan Hutan dan
Areal Penggunaan Lain (Revisi IX), berada pada kawasan bukan moratorium dapat
dilihat pada Gambar 1.5.

BAB I - 1
Gambar 1.1. Peta Lokasi Rencana Pembangunan Kawasan wisata Flamboyan Bawah

BAB I - 2
Gambar 1.2. Peta Lokasi Rencana Pembangunan Kawasan wisata Flamboyan Bawah,
berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kota Palangka Raya (Peraturan
Daerah Kota Palangka Raya Nomor 8 Tahun 2001)

BAB I - 3
Gambar 1.3. Peta Lokasi Rencana Pembangunan Kawasan wisata Flamboyan Bawah,
berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan
Tengah (Perda Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 5 Tahun 2015)

BAB I - 4
Gambar 1.4. Peta Lokasi Rencana Pembangunan Kawasan wisata Flamboyan Bawah,
berdasarkan SK Menhut No. 529/Menhut-II/2012

BAB I - 5
Gambar 1.5. Peta Lokasi Rencana Pembangunan Kawasan wisata Flamboyan Bawah,
berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Nomor
SK. 2312/Menlhk-VII/IPSDH/2015 tentang Peta Indikatif Penundaan
Pemberian Izin Baru Pemanfaatan Hutan, Penggunaan Kawasan Hutan
dan Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan dan Areal Penggunaan Lain
(Revisi IX)

BAB I - 6
1.1.2 Deskripsi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Berpotensi Menyebabkan
Dampak Lingkungan Berdasarkan Tahapan Kegiatan

[Link] Tahap Para Konstruksi


1). Sosialisasi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan Pasal 9 dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat Dalam
Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan serta Peraturan
Gubernur Kalimantan Tengah No. 13 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Keterlibatan
Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup, maka dalam menyusun AMDAL mengikutsertakan masyarakat
terkena dampak dan masyarakat pemerhati lingkungan hidup serta yang terpengaruh
atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL, maka sebagai langkah awal
dilakukan kegiatan sosialisasi AMDAL.
Kegiatan sosialisasi merupakan lingkup kegiatan sebelum tahap prakonstruksi.
Tahap kegiatan ini dilaksanakan sebelum pembangunan fisik dimulai dan merupakan
salah satu tahapan proses kegiatan penyusunan Dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL) Kegiatan Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan
Bawah.
Pelaksanaan sosialisasi AMDAL ini dilakukan dengan berbagai metode, yaitu
dimulai dari pengumuman melalui media masa (Koran), dilanjutkan dengan observasi
lapangan dan wawancara untuk menghimpun pendapat, pandangan dan aspirasi
masyarakat.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan
AMDAL ini yang pelaksanaannya difokuskan di Kelurahan Langkai yang berada di
sekitar lokasi Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah dengan tujuan
kehadiran rencana usaha dan kegiatan ini dapat diterima serta didukung oleh segenap
lapisan masyarakat sebagai usaha pariwisata yang bersifat jangka panjang sesuai
dengan mekanisme peraturan yang berlaku. Selain itu supaya memasyarakatkan setiap
kegiatan Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah dan manfaatnya serta
dampaknya bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat dikenal dan dipahami oleh
masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Pemerintah Daerah Kota Palangka Raya melalui Dinas Cipta Karya, Tata Ruang
dan Perumahan Kota Palangka Raya telah melakukan sosialisasi AMDAL, yang
dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 21 September 2015 bertempat di Kecamatan
Pahandut, dengan melibatkan masyarakat, tokoh adat, Ketua RW, dan Ketua RT, aparat
pemerintah setempat (Camat dan Lurah) serta instansi terkait di sekitar lokasi proyek.
Kegiatan sosialisasi sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dengan membangun dialog dan komunikasi yang lebih intensif dengan masyarakat,
tokoh adat Ketua RW, dan Ketua RT, aparat pemerintah setempat (Camat dan Lurah)
serta instansi terkait di sekitar lokasi proyek.
2). Pembebasan Lahan
Pembebasan lahan dilakukan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya. Kegiatan ini
dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku tentang pengadaan lahan untuk
kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum yang berlaku di Kota Palangka Raya.

BAB I - 7
Kegiatan pembebasan ini akan mengacu pada Peraturan Perundangan yang
berlaku yakni Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 dan Peraturan Presiden No. 71 Tahun
2012, tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk
Kepentingan Umum serta Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun
2012, tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk
Kepentingan Umum.
Berdasarkan peraturan tersebut, pelaksanaan pengadaan tanah diselenggarakan
oleh Kepala BPN, selaku Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah, dengan susunan
keanggotaan yang berunsurkan paling kurang :
- Pejabat yang membidangi urusan pengadaan tanah di lingkungan Kantor Wilayah
BPN.
- Kepala Kantor Pertanahan setempat pada lokasi pengadaan tanah.
- Pejabat satuan kerja perangkat daerah provinsi yang membidangi urusan
pertanahan.
- Camat setempat pada lokasi pengadaan tanah
- Lurah atau nama lain pada lokasi pengadaan tanah.
Langkah-langkah pelaksanaan pengadaan tanah, dengan mengacu pada
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2012, antara lain sebagai
berikut:
- Penyiapan Pelaksanaan (Pasal 52 - Pasal 54).
- Inventarisasi dan Identifikasi (Pasal 55 - Pasal 62)
- Penetapan Penilai (Pasal 63 - Pasal 67)
- Musyawarah Penetapan Bentuk Ganti Kerugian (Pasal 68 - Pasal 73)
- Pemberian Ganti Kerugian (Pasal 74 - Pasal 95)
- Pelepasan Objek Pengadaan Tanah (Pasal 96 - Pasal 99).
Sementara itu pendanaan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk
kepentingan umum dilakukan oleh Instansi yang memerlukan tanah, dituangkan dalam
dokumen penganggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
pendanaan ini bersumber dari APBN dan/atau APBD.
Mengingat lokasi pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah adalah
kawasan pemukiman, maka bangunan, tanah-tanah milik dan atau lahan-lahan yang
telah diusahakan oleh masyarakat, akan dilakukan penyelesaian lahan-lahan milik
dan atau telah diusahakan oleh masyarakat serta bangunan-bangunan yang berada di
dalam izin lokasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan tersebut diatas.

3). Perizinan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pengurusan perizinan adalah penyelesaian
kewajiban administrasi dan perizinan yang diperlukan guna melengkapi persyaratan
pembangunan pada tahap konstruksi. Kegiatan pada tahap ini juga di ikuti dengan
kegiatan survei lahan meliputi pengukuran atau pemetaan topografi, penentuan
kebutuhan sarana prasarana lainnya termasuk penyelidikan tanah (soil investigation),
sehingga dapat ditentukan jenis tanah yang sesuai (land suitable) guna mendukung
peruntukan bangunan yang nantinya akan dibangun.

BAB I - 8
[Link] Tahap Konstruksi
Selama kegiatan tahap kontruksi ini dilaksanakan, pihak pemrakarsa atau pelaksana
kegiatan akan membuat rambu – rambu yang ditempatkan pada tempat yang rawan
untuk menghindari timbulnya kecelakaan.

1). Penerimaan Tenaga Kerja Konstruksi


Pelaksanaan kegiatan konstruksi memerlukan tenaga kerja yang cukup agar
dapat selesai tepat waktu dan hasilnya baik. Oleh karena itu perekrutan tenaga kerja
harus dilakukan sebelum pelaksanaan pembangunan. Selain tenaga terdidik, pekerjaan
pembangunan kawasan wisata ini juga membutuhkan tenaga terampil dan juga tenaga
kasar. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pembangunan ini diutamakan
dari warga yang tinggal di dekat lokasi rencana kegiatan pembangunan sesuai dengan
kebutuhan proyek.
Tabel 1.1. Prediksi Jumlah Tenaga Kerja Pada Tahap Konstruksi
Jumlah Yang Dibutuhkan
No. Jenis Tenaga Kerja
(orang)
1 Team Leader 1
2 Manajemen proyek 2
3 Tenaga Ahli 2
4 Supervisor / Mandor 4
5 Operasional / sopir 10
6 Tukang 20
7 Buruh 120
Jumlah 159
Sumber : Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Perumahan Kota Palangka Raya, 2015

Untuk tenaga kerja diprioritaskan untuk masyarakat disekitar lokasi proyek.


Tenaga kerja pada tahap konstruksi akan menempati base camp yang dibangun di dalam
area proyek. Kegiatan ini diperkirakan menimbulkan dampak berupa timbulnya
keresahan masyarakat dan potensi konflik, terbukanya kesempatan kerja, peningkatan
pendapatan masyarakat dan terbukanya peluang berusaha.

2). Pembangunan dan Operasional Base Camp


Kantor sementara (basecamp) diperlukan pada saat tahap konstruksi berjalan
untuk berbagai kegiatan seperti: kantor sementara, bengkel, gudang material serta
penginapan bagi para pekerja. Aktivitas di basecamp ini antara lain adalah pemeliharaan
dan perbaikan kendaraan/peralatan proyek yang mengalami kerusakan serta tempat
penampungan sementara material bangunan. Basecamp juga diperlukan oleh para
pekerja sebagai tempat penginapan sehingga akan ada aktivitas MCK. Pada ini tahap ini
dilakukan permemagaran area yang akan dibangun base camp melakukan pemyiraman
sebangak tiga kali sehari yaitu pagi, siang dan malam. Limbah padat yang dihasilkan
dari kegiatan ini dikumpulkan di TPS yang akan dikelola oleh pihak ketiga. Dampak
yang timbul akibat aktifitas ini adalah penurunan kualitas udara ambien, peningkatan
kebisingan, penurunan sanitasi lingkungan dengan peningkatan limbah padat,
gangguan biota perairan, terbukanya peluang usaha, peningkatan pendapatan
masyarakat, timbulnya keresahan masyarakat, gangguan kesehatan masyarakat,
timbulnya kecelakaan kerja dan penurunan kualitas air.

BAB I - 9
3). Mobilisasi Peralatan dan Material
Kegiatan pengangkutan peralatan dan material menggunakan jasa angkutan
darat ke lokasi rencana kegiatan. Alat-alat berat yang digunakan dalam pembangunan
Kawasan Wisata Flamboyan Bawah secara rinci disajikan pada tabel berikut :
Tabel 1.2. Peralatan Yang digunakan untuk Pembangunan Kawasan Wisata
Flamboyan Bawah
No. Jenis Peralatan Unit
A. Peralatan Berat
1. Excavator 2
2. Wales/Vibro 1
3. Dump Truck 5
4. Buldozer 1
5. Crane pancang 1
6. tractor 1
B. Peralatan Pembangunan
1. Concrete vibrator Electric 1
2. Bar cutter 1
3. Bar Bender 1
4. Waterprass 1
5. Theodolite 2
6. Tripod 2
7. Bak Akur 1
8. Sccafolding
9. - Vertikal Frame 170 500
10. - Vertikal Frame 90 200
11. - Cross Trace 220 500
12. - Cross Trace 193 200
13. - Jack Base 60 700
14. - U – Head 60 700
15. - Pipa Sccafold 3 ¼ m 350
16. - Pipa Sccafold 6 m 150
17. - Klem 350
18. - Joint Beam 1000
Sumber : Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Perumahan Kota Palangka Raya, 2015

Pengangkutan material pembangunan akan dilakukan secara periodik. Rute atau


jalur kendaraan dalam pengadaan material ini. Dampak yang timbul akibat aktifitas ini
adalah penurunan kualitas udara ambien, peningkatan kebisingan, timbulnya keresahan
masyarakat, gangguan lalu lintas, timbulnya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan
masyarakat.

4). Pembersihan dan Pemadatan Lahan


Sebelum kegiatan pembersihan dan pemadatan lahan direncanakan akan
dilakukan relokasi penduduk yang berada pada daerah-daerah tertentu. Proses relokasi
penduduk ini akan dilaksanakan secara persuasif dan berpedoman pada peraturan yang
berlaku. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan lahan dan pemadatan lahan
sehingga lahan menjadi siap untuk didirikan bangunan di atasnya. Pekerjaan ini
dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti excavator, bulldozer maupun alat
konvensional menggunakan alat gergaji mesin dan parang atau kampak bila diperlukan.

BAB I - 10
Kegiatan pembersihan lahan dan pemadatan tanah ini juga dilaksanakan
dengnan mengacu pada Peraturan Menteri PU PR Nomor 28/PRT/M/2015 tentang
penetapan garis sempadan sungai dan garis sempadan danau. Setelah kegiatan
pembersihan lahan, akan dilaksanakan kegiatan pengurugkan yang selanjutnya
dilakukan kegiatan pemadatan tanah. Tanah urug akan didatangkan dari luar area
kegiatan. Kajian lingkungan untuk pengambilan tanah urug ini akan dikaji dalam
dokumen lingkungan yang terpisah dari AMDAL ini.

5). Pembangunan Konstruksi Fisik


Pekerjaan ini merupakan pekerjaan utama dari pembangunan Kawasan Wisata
Flamboyan Bawah dan dilaksanakan secara bertahap. Adapun rencana pembangunan
kawasan yang akan dibuat sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15. 0,54 ha

16.
17. = 0,09 ha
18.
19.
20
21. Jalan dan jaringan hidrologi = 0,20 ha

Pintu / gerbang masuk wisata dibuat gapura berorientasi ornamen dayak serta
disertai tanda rambu rambu. Pada kegiatan pembangunan konstruksi fisik juga akan
dibangun tempat sampah 3R disertai papan himbauan dilarang membuang sampah ke
sungai. Pada pembangunan pondasi akan meningkatkan dampak kebisingan, namun
untuk mengurangi kebisingan pada saat konstruksi dengan pemagaran lahan pada tapak

BAB I - 11
proyek. Limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan ini dikumpulkan di TPS yang akan
dikelola oleh pihak ketiga. Dampak yang timbul akibat aktifitas ini adalah peningkatan
limbah padat, dan gangguan biota perairan. Untuk mengurangi dampak-dampak seperti
menurunnya kualitas air tanah, air permukaan dan dampak lainnya, diperlukan
pembangunan drainase yang baik.

6). Demobilisasi Peralatan Konstruksi


Setelah izin berakhir, maka peralatan dan material yang digunakan untuk
kegiatan pembangunan, baik yang milik sendiri maupun sewa akan ditarik keluar dari
areal kerja. Demobilisasi peralatan dan material ini akan dilakukan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Dengan berakhirnya kegiatan ini maka kegiatan demobilisasi alat (alat-alat berat)
dan material dari lokasi proyek ke luar lokasi proyek sebagian besar dilakukan melewati
jalan darat diangkut dengan menggunakan mobil pengangkut khusus (trailer) yang
melewati ruas jalan raya yang ada. Dampak yang timbul akibat aktifitas ini adalah
timbulnya keresahan masyarakat, gangguan lalu lintas, timbulnya kecelakaan kerja dan
gangguan kesehatan masyarakat.

[Link] Tahap Operasi

1). Aktivitas Pariwisata


Parisiwata merupakan aktivitas utama di Kawasan Wisata Flamboyan Bawah.
Kawasan wisata ini direncanakan mampu menampung pengunjung sebanyak 108.378
orang per hari. Dengan mempertimbangkan aspek efisiensi, efektivitas dan budidaya
timur yang selalu menghabiskan waktu liburan atau sekedar berolahraga pagi dan sore.
Objek wisata Flamboyan Bawah ini dibuka untuk umum sehingga akan banyak
sekali aktivitas wisata yang terjadi di dalamnya. Kawasan Wisata Flamboyan Bawah
memiliki kawasan wisata kuliner. Area ini memiliki beberapa kios yang saling
berhadapan. Aktivitas wisata kuliner bisa dilakukan siang dan malam hari. Sambil
menikmati hidangan kuliner para pengunjung juga dapat mendengarkan alunan musik
karena pada area ini juga terdapat panggung musik.
Pengaturan ketinggian bangunan dan penanaman pohon pelindung di kawasan
dengan pengaturan layout lokasi daerah konervasi dekat dengan pintu masuk,
sedangkan area bermain berada di tengah kawasan konservasi. Limbah padat yang
dihasilkan dari kegiatan ini dikumpulkan di TPS yang akan dikelola oleh pihak ketiga.
Dampak yang timbul adalah penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan,
penurunan kualitas air, peningkatan limbah padat, perubahan jenis flora darat,
perubahan jenis fauna darat, gangguan biota perairan, terbukanya peluang berusaha,
terbukanya kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, gangguan lalu
lintas, gangguan kesehatan masyarakat dan timbulnya keresahan masyarakat.

2). Mobilisasi Pengunjung


Keberadaan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah yang berlokasi di Kelurahan
Langkai, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya akan menjadi sumber terjadinya
mobilisasi pengunjung baik dar wilayah Kota Palangka Raya maupun luar wilayah
studi. Mobilisasi pengunjung dengan menggunakan berbagai jenis model transportasi

BAB I - 12
akan menimbulkan bangkitan lalu lintas dan parkir di kawasan lokasi rencana kegiatan.
Dampak yang timbul adalah penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan,
gangguan lalu lintas, gangguan kesehatan masyarakat dan timbulnya kecelakaan kerja.
Dampak kegiatan mobilisasi ini akan dikaji lagi dalam AMDAL LALIN.

3). Utilitas

 Tenaga Listrik
Bangunan stasiun pembangkit listrik direncanakan dengan tujuan untuk memenuhi
energi listrik tambahan/cadangan selain dari sumber utama yaitu PLN. Energi listrik
ini diperoleh dari stasiun listrik tenaga diesel (SLTD) atau genset. Genset yang
digunakan yaitu yang bertipe silent (tidak menimbulkan suara yang keras) agar
tidak menimbulkan kebisingan dan mengganggu kegiatan yang ada di sekitarnya.
Genset tersebut diletakkan pada sebuah bangunan yang khusus dibuat untuk
menyimpan/meletakkan genset. Pada bagian pembuangan/knalpot juga dipasang
peredam suara untuk meminimalisir suara yang ditimbulkan. Dan pada bagian luar
bangunan dibuat instalasi oil trap untuk menangkap ceceran minyak dan oli bekas
yang dihasilkan dari perawatan genset tersebut.

 Air Bersih
Kebutuhan air untuk wahana air dan penangkaran fauna air yaitu sebanyak 8.000
m3 untuk tahapa pengisian awal/pertama. Air pada tahap pertama ini akan di suplai
dari PDAM. Air tersebut selanjutnya akan diolah kembali (recycle) sehingga
penambahan air kolam, termasuk untuk kebutuhan domestik pengunjung.
Kebutuhan penambahan air tersebut diperoleh dari air tanah dalam melalui sumur
bor. Untuk pengadaan sumur bor ini pemrakarsa akan mengurus perijinan sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Untuk wahana lainnya, kebutuhan air
diperkirakan adalah 10 m3 per hari. Sehingga total kebutuhan air untuk wahana per
minggu adalah 70 m3. Adapun kebutuhan air untuk pelayan penggunjung, pegawai
dan kantin yaitu :
Tabel 1.3. Kebutuhan Air Untuk Pelayanan

Personal Pengungjung/hari Asumsi Pemakaian l/hari Kapasitas Total/hari


Operasional - - 115,72
Pengunjung 108.378 15 1.625.670
Karyawan 105 15 1.575
Pelayan Kantin 80 100 8.000
Total/hari 108.563 130 1.635.360,72
Sumber : Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Perumahan Kota Palangka Raya, 2015

 Penanganan limbah
a. Pengelolaan limbah B3
Limbah B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau jumlahnya dan atau
konsentrasinya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan, merusak dan membahayakan lingkungan hidup, baik
terhadap kesehatan manusia maupun terhadap mahluk hidup lainnya.
Pengelolaan limbah B3 dari aktivitas operasional kawasan wisata Flamboyan
Bawah harus mengacu pada peraturan yang berlaku, menyesuaikan dengan
jenis limbah B3 yang dihasilkan.

BAB I - 13
b. Pengelolaan limbah domestik
Limbah padat atau limbah domestik dari kegiatan operasional, seperti sisa
makanan dari pusat makanan dan lainnya merupakan potensi pencemaran
terhadap lingkungan hidup apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah
padat dimaksud berupa plastik-plastik dan kaleng bekas. Pengelolaannya
dengan cara memisahkannya berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik,
non organik, serta barang pecah belah dan kaleng. Untuk menunjang
penanganan tersebut akan disediakan tempat sampah 3 in 1 serta TPS limbah
B3, yang jumlahnya disesuaikan. Setelah sampah tersebut terkumpul
kemudian diserahkan kepada pengumpul barang bekas atau tempat
pembuangan akhir atau warga setempat yang berminat untuk mengelolanya.
Untuk sampah sisa makanan, pihak pemrakarsa bekerja sama dengan
masyarakat setempat yang memiliki ternak untuk mengambil sampah
tersebut pada malam hari ketika jam operasional berakhir. Pemrakarsa juga
diwajibkan untuk melakukan sosialisasi kepada karyawan, pengunjung, dan
masyarakat sekitar untuk membuang sampah pada tempat yang telah
disediakan.
c. Pengelolaan limbah cair
Limbah cair yang biasanya dihasilkan dari kamar mandi, WC, dan wastafel,
dan lainnya harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air.
Fasilitas dan distribusi air bersih dalam gedung disediakan untuk memenuhi
kebutuhan toilet dan keperluan lainnya (restoran, tempat ibadah, dan
sebagainya). Limbah cair akan diolah melalui Sistem instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) domestik. IPAL domestik yang digunakan berupa IPAL
berjenis komunal berserta jaringan pipa dengan design menyesuaikan
karakteristik lokasi. Model IPAL mengacu pada standar atau SNI dan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2014 Tentang Baku
Mutu air Limbah
 Pemadam Kebakaran
Hidran merupakan salah satu sarana yang dipergunakan untuk pencengahan
dan penganggulangan resiko kebakaran. Klasifikasi hidran yang akan
dipergunakan yaitu berdasarkan jenis dan penempatan hidran, terdiri dari
hidran gedung dan hidran halaman. Adapun berdasarkan besar ukuran pipa
hidran yang dipakai meliputi hidran kelas I, II dan III. Jumlah dan peletakan
hidran gedung disesuaikan dengan klasifikasi bangunan dan luas lantai ruangan
yang dilindungi oleh hidran.
 Kegiatan parkir
Areal parkir sebagai prasarana dalam sistem transportasi harus dapat menunjang
aktivitas-aktivitas yang terjadi karena masalah parkir sangat erat kaitannya
dengan pengaturan lalu lintas. Mengingat banyaknya kendaraan yang akan
memasuki Kawasan Wisata Flamboyan Bawah, maka pemrakarsa perlu
menyediakan areal parkir yang memadai dan tertata dengan baik untuk
menghindari kesemrawutan kendaraan yang parkir.
Kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang di Kawasan Wisata
Flamboyan Bawah direncanakan dilaksanakan secara kontinyu dan berkesinambungan.
Agar bangunan utama dan fasilitas pendukung tetap dalam kondisi baik dan dapat
bertahan.

BAB I - 14
Gambar 1.6. Lay Out Zona Wisata Flamboyan Bawah

BAB I - 15
[Link] Tahap Pasca Operasi
Seperti yang telah dijelaskan, kegiatan tahap pasa operasi belum bisa dipastikan
waktu pelaksanaannya mengingat beberapa kemungkinan yang belum dapat dipastikan
di masa mendatang. Dimasa akan datang merupakan suatu yang sulit untuk
memastikan kebijakan lingkungan yang akan dilakukan terkait dengan pengelolaan
lingkungan, khususnya pemanfaatan lahan bekas lahan Kawasan Wisata Flamboyan
Bawah pasca operasional. Pengelolaan lahan bekas Kawasan Wisata Flamboyan Bawah
akan mengacu pada ketentuan perundangan yang berlaku terkait dengan pemanfaatan
lahan di masa yang akan datang.

1.1.3 Alternatif-alternatif yang Dikaji dalam AMDAL


Kajian AMDAL merupakan studi kelayakan dari aspek lingkungan hidup
sehingga ada kemungkinan komponen rencana usaha dan/atau kegiatan memiliki
beberapa alternatif, antara lain alternatif lokasi, penggunaan alat-alat konstruksi,
kapasitas, spesifikasi teknik, sarana usaha dan/atau kegiatan, tata letak bangunan,
waktu, dan/atau bentuk alternatif lainnya. Alternatif-alternatif yang dikaji dalam
AMDAL dapat merupakan alternatif-alternatif yang telah direncanakan sejak semula
atau yang dihasilkan selama proses kajian AMDAL berlangsung. Fungsi dan manfaat
kajian alternatif dalam Amdal adalah:
1) Memastikan bahwa pertimbangan lingkungan telah terintegrasi dalam proses
pemilihan alternatif selain faktor ekonomis dan teknis.
2) Memastikan bahwa pemrakarsa dan pengambil keputusan telah
mempertimbangkan dan menerapkan prinsip-prinsip pencegahan pencemaran
(pollution prevention) dan/atau kerusakan lingkungan hidup dalam rangka
pengelolaan lingkungan.
3) Memberi peluang kepada pemangku kepentingan yang tidak terlibat secara penuh
dalam proses pengambilan keputusan, untuk mengevaluasi berbagai aspek rencana
usaha dan/atau kegiatan dan bagaimana proses suatu keputusan yang akhirnya
disetujui.
4) Memberikan kerangka kerja untuk pengambilan keputusan yang transparan dan
berdasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan ilmiah.
Berdasarkan hal-hal lain yang menyangkut desain, proses, tata letak bangunan
atau sarana pendukung dan lain sebagainya yang akan dikaji dalam studi AMDAL
Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah, maka tidak ada alternatif lain. Hal
ini didasarkan pada :

1. Pertimbangan lingkungan telah dilakukan secara terintegrasi.


2. Pemrakarsa dan pengambil keputusan telah mempertimbangkan dan menerapkan
prinsip-prinsip pencegahan pencemaran lingkungan dalam rangka pengelolaan
lingkungan.
3. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pihak pemrakarsa dilakukan dengan
transparan dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ilmiah.

BAB I - 16
1.2. DAMPAK PENTING HIPOTETIK
Penentuan dampak penting hipotetik yang akan timbul akibat pembangunan
Kawasan Wisata Flamboyan Bawah di Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut Kota
Palangka Raya dilakukan melalui proses pelingkupan. Pelingkupan dilakukan dengan
tujuan untuk membatasi permasalahan, sehingga dapat fokus pada hal-hal yang penting
baik ditinjau dari Komponen sosial ekonomi, sosial budaya, maupun ekologi. Adanya
pembatasan masalah (elimitation of the problem) diharapkan masalah yang timbul dapat
dikelola dengan baik dan terarah (manageable size). Proses pelingkupan (scoping)
dilakukan melalui 2 (dua) kegiatan yaitu:
1) Identifikasi dampak potensial;
2) Evaluasi dampak potensial;
Proses identifikasi dampak potensial dilakukan secara teoritis tanpa
memperhatikan skala atau besaran kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada tahap
evaluasi dampak potensial, skala dan besaran dan/atau intensitas kegiatan yang dinilai
menjadi sumber dampak akan menjadi penentu utama dalam memprediksikan
kemungkinan perubahan mendasar lingkungan yang akan terjadi. Seluruh dampak
penting hipotetik yang mungkin timbul dari hasil evaluasi dampak potensial, akan
dibahas cara pengelolaannya pada dokumen ANDAL.
Tata-laksana proses dampak penting hipotetik diilustrasikan seperti pada
Gambar 1.7. sebagai berikut :

Gambar 1.7. Bagan Alir Proses Dampak Penting Hipotetik Kegiatan pembangunan
Kawasan Wisata Flamboyan Bawah

BAB I - 17
1.2.1 Identifikasi Dampak Potensial
Identifikasi dampak potensial merupakan tahap awal dari proses pelingkupan.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menduga segenap dampak lingkungan baik primer
maupun sekunder yang mungkin timbul akibat rencana kegiatan pembangunan
Kawasan Wisata Flamboyan Bawah. Segenap dampak potensial yang mungkin akan
timbul diinventarisasi tanpa mempertimbangkan besar/kecilnya dampak dan penting/
tidaknya dampak. Adapun proses identifikasi dampak potensial dengan langkah-
langkah awal sebagai berikut :
1) Diskusi oleh Tim Penyusun dokumen ANDAL
Proses pelingkupan yang dimulai dari identifikasi dampak potensial diilakukan
dengan diskusi oleh para anggota tim penyusun ANDAL dan dipimpin oleh ketua
tim penyusun.
2) Konsultasi dan Diskusi dengan Pakar
Konsultasi dan diskusi dengan pakar lingkungan dimaksudkan untuk menggali dan
mendalami teknologi yang layak diterapkan dan karakteristik dampak yang
biasanya timbul akibat kegiatan sejenis.
3) Sosialisasi Rencana Usaha/Kegiatan
Sosialisasi rencana usaha/kegiatan disamping bertujuan mengumumkan seluruh
komponen rencana kegiatan yang akan dijalankan beserta dampak yang akan
ditimbulkan sebagai pelaksanaan keterbukaan infomasi, juga bertujuan untuk
menggali aspirasi masyarakat di sekitar lokasi usaha/kegiatan sebagai pelaksanaan
keterlibatan masyarakat, sebagaimana amanat Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Pasal 9 dan Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pedoman
Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan
Lingkungan serta Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah No. 13 Tahun 2007
Tentang Tata Cara Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam
Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pelaksanaan sosialisasi,
keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi ini bertujuan untuk melindungi
kepentingan masyarakat, pemberdayaan masyarakat dalam pengambilan keputusan
menyangkut rencana usaha/kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting
terhadap lingkungan, transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL, dan
menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang
berkepentingan.
Aspirasi masyarakat dan informasi-informasi yang tergali dari berbagai pihak dalam
pelaksanaan sosialisasi ini akan menjadi bahan masukan dalam proses identifikasi
dampak potensial.
4) Observasi Lapangan
Observasi lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi tapak proyek, rona
lingkungan awal secara umum dan untuk mengetahui ada/tidaknya usaha/kegiatan
lain disekitarnya.

BAB I - 18
5) Pengumpulan Data Sekunder
Serentak dengan pelaksanaan sosialisasi dan observasi lapangan, dilakukan
pengumpulan data sekunder, antara lain: RTRWP/RTRWK, Data Iklim, Kota
Palangka Raya Dalam Angka, Kecamatan Dalam Angka, Potensi Kelurahan, dan
Data Kesehatan Masyarakat dari Puskesmas.

Setelah pelaksanaan langkah-langkah tersebut di atas, proses identifikasi dampak


potensial dilanjutkan dengan menggunakan metode-metode yang telah baku berikut ini :
a) Diskusi/Brainstorming
Diskusi/brainstorming dilakukan diantara anggota tim penyusun AMDAL guna
menjaring segenap dampak yang mungkin timbul (dampak potensial). dan dampak-
dampak yang perlu ditelaah secara cermat dan mendalam (dampak penting
hipotetik).
b) Penggunaan Matrik Interaksi dan Bagan Alir
Setelah memperoleh data mengenai deskripsi rencana kegiatan dan rona awal
lingkungan secara umum dan menyeluruh, kemudian dilakukan analisis dituangkan
ke dalam matrik interaksi. Melalui matrik interaksi ini diharapkan dapat diperoleh
daftar segenap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak rencana
kegiatan. Selanjutnya matrik interaksi ini disebut matrik identifikasi dampak
potensial. Matrik identifikasi dampak potensial rencana kegiatan pembangunan
Kawasan Wisata Flamboyan Bawah ini disajikan pada Tabel 2.43.
Berikut ini diuraikan segenap dampak potensial atau segenap dampak-dampak
yang mungkin ditimbulkan oleh komponen-komponen rencana usaha/kegiatan
berdasarkan hasil langkah-langkah dan penggunaan metode-metode tersebut di atas.
A. Komponen geofisik dan kimia
1) Kualitas udara ambien
Dampak terhadap udara ambien dihasilkan dari peningkatan debu dan gas buang
kendaraan pada kegiatan pembangunan dan operasional basecamp, mobilisasi
peralatan dan material, peningkatan debu pada kegiatan pembersihan lahan dan
pemadatan lahan, pembangunan konstruksi fisik, dan demobilisasi peralatan
konstruksi, serta peningkatan volume kendaraan pada kegiatan aktivitas pariwisata
dan mobilisasi pengunjung serta utilitas.
2) Tingkat kebisingan
Dampak terhadap tingkat kebisingan dihasilkan dari kegiatan pembangunan dan
operasional basecamp, mobilisasi peralatan dan material, peningkatan debu pada
kegiatan pembersihan lahan dan pemadatan lahan, pembangunan konstruksi fisik,
dan demobilisasi peralatan konstruksi, serta peningkatan volume kendaraan pada
kegiatan aktivitas pariwisata dan mobilisasi pengunjung serta utilitas.
3) Air tanah
Dampak terhadap air tanah dihasilkan dari penurunan muka air tanah akibat alih
fungsi lahan dan penggunaan air tanah pada kegiatan pembangunan dan
operasional basecamp, pembangunan konstruksi fisik, serta penggunaan air tanah
pada kegiatan aktivitas pariwisata Flamboyan Bawah.

BAB I - 19
4) Air permukaan
Dampak terhadap air permukaan adalah dari penurunan kualitas air permukaan
akibat kegiatan pembersihan dan pemadatan lahan, pembangunan dan operasional
basecamp, pembangunan konstruksi fisik, serta penggunaan air tanah pada kegiatan
aktivitas pariwisata Flamboyan Bawah
B. Komponen Biologi
1) Flora
Dampak terhadap vegetasi dihasilkan dari penurunan komunitas vegetasi akibat
kegiatan pembersihan lahan dan pemadatan lahan.
2) Biota air
Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari penurunan kualitas air
permukaan yaitu sungai Kahayan.
C. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya
1) Kesempatan Kerja
Dampak kegiatan ini berasal dari kegiatan penerimaan tenaga kerja konstruksi.
2) Kesempatan berusaha
Dampak kesempatan berusaha akibat dari adanya kegiatan proyek tahap konstruksi,
sehingga memberi peluang kepada masyarakat sekitar dalam hal suplai kebutuhan
makanan para pekerja di lapangan.
2) Tingkat Pendapatan
Kegiatan pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah ini diperkirakan akan
meningkatkan pendapatan warga yang berdagang di sekitar lokasi. Karena dengan
adanya pertambahan buruh/tenaga kerja di lokasi kegiatan akan menambah jumlah
komsumsi di sekitar lokasi.
3) Persepsi masyarakat
Dampak terhadap sikap masyarakat dihasilkan adanya kesempatan bekerja dan
berusaha pada kegiatan penerimaan tenaga kerja konstruksi, sebagai dampak
turunan dari penurunan kualitas lingkungan pada kegiatan mobilisasi peralatan dan
material, pembersihan dan pemadatan lahan, pembangunan konstruksi fisik
bangunan, dan demobilisasi peralatan konstruksi, serta timbul karena kesempatan
berusaha pada tahap operasional.
4) Kepadatan lalu lintas
Dampak terhadap kepadatan lalu lintas dihasilkan dari peningkatan tarikan lalu
lintas pada kegiatan mobilisasi peralatan dan material, pembangunan konstruksi
fisik, dan kegiatan operasional yaitu aktivitas pariwisata dan mobilisasi pengunjung
di Kawasan Wisata Flamboyan Bawah.
D. Komponen Kesehatan Masyarakat
1) Tingkat sanitasi
Dampak terhadap tingkat sanitasi diakibatkan karena sampah penurunan kualitas air
permukaan pada kegiatan pembangunan dan operasional base camp, aktivitas
pariwisata, dan utilitas di Kawasan Wisata Flamboyan Bawah.

BAB I - 20
2) Gangguan kesehatan
Dampak terhadap gangguan kesehatan karena timbulnya penyakit ISPA akibat
kegiatan pembangunan dan operasional base camp, mobilisasi peralatan dan
material, pembersihan dan pemadatan lahan, pembangunan konstruksi fisik, dan,
akibat penurunan kualitas lingkungan pada tahap operasional yaitu aktivitas
pariwisata, mobilisasi pengunjung dan utilitas.
3) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Dampak Gangguan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari adanya kegiatan kontruksi
pembangunan dan operasional base camp, mobilisasi peralatan dan material,
pembangunan konstruksi fisik, dan, akibat penurunan kualitas lingkungan pada
tahap operasional yaitu utilitas, dan pemeliharaan dan perbaikan bangunan. Dan
pada kegiatan operasional perlu diperhatikan karena menyangkut dengan orang
banyak, sesuai dengan Kepmen yang mengatur tentang seluruh rencana dan atau
usaha kegiatan wajib memperhatikan K3 ketenaga kerjaan.

BAB I - 21
Tabel 1.4. Matrik Identifikasi Dampak Potensial Rencana Kegiatan Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah

BAB I - 22
1.2.2 Evaluasi Dampak Potensial
Evaluasi dampak potensial adalah tahapan untuk memisahkan dampak-dampak
yang perlu kajian mendalam untuk membuktikan dugaan (hipotesa) dampak, dari
dampak yang tidak perlu dikaji. Dasar penentuan suatu dampak potensial dapat
disimpulkan menjadi dampak penting hipotetik (DPH) dilakukan melalui kriteria
sebagai berikut:
1. Apakah beban terhadap komponen lingkungan tertentu sudah tinggi ?
2. Apakah komponen lingkungan tersebut memegang peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar (nilai sosial dan ekonomi) dan terhadap
komponen lingkungan lainnya (nilai ekologis) (sehingga perubahan besar pada
kondisi komponen lingkungan tersebut akan sangat berpengaruh pada kehidupan
masyarakat dan keutuhan ekosistem) ?
3. Apakah ada kekhawatiran masyarakat yang tinggi tentang komponen lingkungan
tersebut ?
4. Apakah ada aturan atau kebijakan yang akan dilanggar dan atau dilampaui oleh
dampak tersebut ?
Deskripsi terhadap evaluasi dampak potensial dapat dilihat sebagai berikut:
A. Komponen Geofisik-Kimia
1) Udara ambien
Peningkatan debu dan gas buang kendaraan di udara ambien tidak menyebabkan
beban yang tinggi terhadap komponen lingkungan, namun peningkatan debu dan
gas buang ini memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat, sehingga dapat menyebabkan timbulnya kekhawatiran di masyarakat
dan juga berpotensi melanggar peraturan yang berlaku. Namun dengan adanya
tanaman pelindung yang ada disekitar lokasi kegiatan, sehingga kualitas udara
ambien merupakan bukan Dampak Penting Hipotetik.
2) Tingkat kebisingan
Tambahan kebisingan pada tahap konstruksi dan operasional proyek tidak akan
menambah beban pada komponen geofisik kimia, tidak memegang peranan
penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan tidak berpotensi melanggar
peraturan yang berlaku. Namun kebisingan akan berkurang dengan adanya
tanaman pelindung yang ada disekitar lokasi kegiatan, sehingga dapat mengurangi
timbulnya gangguan terhadap masyarakat sehingga tingkat kebisingan ini
merupakan bukan Dampak Penting Hipotetik.
3) Air tanah
Penurunan kuantitas air tanah belum memberikan beban yang tinggi terhadap
komponen lingkungan, karena untuk pengambilan air tanahnya untuk keperluan
water park yang diambil adalah air tanah dalam sehingga tidak menganggu
ketersediaan air warga. Dengan demikian penurunan kuantitas air tanah ini bukan
merupakan Dampak Penting Hipotetik.

BAB I - 23
4) Air permukaan
Dampak terhadap penurunan kualitas air permukaan akibat limbah domestik akan
dikelola pada tahap operasional. Namun pada saat konstruksi, hal ini belum
dilaksanakan. Selain itu, air permukaan ini memegang peranan penting dalam
kehidupan masyarakat serta berpotensi melanggar peraturan yang berlaku,
sehingga penurunan kualitas air permukaan ini merupakan Dampak Penting
Hipotetik.
B. Komponen biologi
1) Flora
Penurunan jenis flora akan mengurangi daerah resapan air, namun dengan adanya
penanaman tanaman pelindung sehingga penurunan jenis flora bukan merupakan
Dampak Penting Hipotetik.
2) Fauna
Adanya penanaman tanaman pelindung di Kawasan Wisata Flamboyan Bawah
akan menjadi habitat fauna, sehingga adanya penurunan jenis fauna akibat
kegiatan pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah bukan merupakan
Dampak Penting Hipotetik.
3) Biota air
Penurunan komunitas biota air merupakan dampak lanjutan dari adanya
penurunan kualitas air, maka penurunan kuantitas biota air digolongkan menjadi
Dampak Penting Hipotetik.
C. Komponen sosial ekonomi dan budaya
1) Kesempatan Kerja
Dengan adanya penerimaan tenaga kerja pada tahap konstruksi dan operasi, dapat
memberikan peningkatan pendapatan keluarga terutama masyarakat yang
diterima bekerja pada kegiatan pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah.
Adanya kesempatan kerja ini memegang peranan penting dalam peningkatan
perekonomian warga sekitar sehingga disepakati bahwa kesempatan berusaha ini
menjadi Dampak Penting Hipotetik.
2) Kesempatan berusaha
Dengan adanya penerimaan tenaga kerja pada tahap konstruksi dan operasi, dapat
mendorong masyarakat sekitar lokasi untuk membuka bidang usaha makanan
minuman. Hal ini memegang peranan penting dalam peningkatan perekonomian
warga sekitar sehingga disepakati bahwa kesempatan berusaha ini menjadi
Dampak Penting Hipotetik.
3) Persepsi masyarakat dan Keresahan Masyarakat
Perubahan sikap masyarakat ini merupakan dampak dari kegiatan pembebasan
lahan, penerimaan tenaga kerja pada tahap konstruksi dan aktivitas pariwisata.
Ganti rugi lahan tidak sesuai dengan yang diharapkan dan adanya persaingan
kerja dikhawatirkan akan timbul keresahan masyarakat. Jumlah kebutuhan tenaga
kerja masih belum bisa mengakomodasi pencari kerja yang ada. Belum lagi
kemungkinan ada pesaing kerja dari daerah lain meskipun lowongan pekerjaan
yang ada diprioritaskan bagi pekerja lokal. Oleh karena itu, perubahan sikap
masyarakat dan keresahan masyarakat ini merupakan Dampak Penting Hipotetik.

BAB I - 24
4) Gangguan lalu lintas
Setelah proyek memasuki tahap konstruksi dan operasional, kepadatan lalu lintas
akan menambah beban pada komponen lingkungan. Juga dengan fungsi dan kelas
jalannya, kepadatan lalu lintas memang peranan penting dalam kehidupan sehari-
hari masyarakat. Dengan demikian gangguan lalu lintas merupakan Dampak
Penting Hipotetik.
D. Komponen kesehatan masyarakat
1) Tingkat sanitasi
Gangguan sanitasi belum memberikan beban yang tinggi dikarenakan pihak
pengelolaan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah, dikarenakan SOP yang
dijalankan oleh pengelola sudah sesuai aturan, sehingga bukan merupakan
Dampak Penting Hipotetik.
1) Gangguan kesehatan Masyarakat
Gangguan kesehatan masyarakat belum memberikan beban yang tinggi terhadap
komponen lingkungan. Namun hal ini memegang peranan penting dalam
kehidupan masyarakat sehingga dapat menimbulkan kekhawatiran dalam
masyarakat. Oleh karena itu, gangguan kesehatan merupakan Dampak Penting
Hipotetik.
3) Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3)
Gangguan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari adanya kegiatan kontruksi dan
kegiatan operasional perlu diperhatikan karena menyangkut dengan orang
banyak, sesuai dengan Kepmen yang mengatur tentang seluruh rencana dan atau
usaha kegiatan wajib memperhatikan K3 ketenaga kerjaan, untuk itu dampak ini
merupakan Dampak Penting Hipotetik.

BAB I - 25
Tabel 1.5. Matrik Dampak Penting Hipotetik Rencana Kegiatan Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah

BAB I - 26
DAMPAK POTENSIAL
1. Komponen Geofisik-Kimia DAMPAK PENTING HIPOTETIK
1) Penurunan kualitas udara
DESKRIPSI RENCANA 2) Peningkatan kebisingan 1. Komponen Geofisik-Kimia
KEGIATAN 3) Penurunan kualitas air 1) Penurunan kualitas air tanah
tanah 2) Penurunan kualitas air permukaan
 Tahap Pra Konstruksi
4) Penurunan kualitas air 3) Peningkatan Limbah Padat
 Tahap Konstruksi 4) Peningkatan Limbah Cair
permukaan
 Tahap Operasi 2. Komponen Biologi
5) Peningkatan Limbah Padat
6) Peningkatan Limbah Cair 5) Penurunan jenis biota perairan
2. Komponen Biologi 3. Komponen Sosial, Ekonomi dan
7) Penurunan jenis flora Evaluasi Dampak Budaya
8) Penurunan jenis fauna Potensial 6) Terbukanya kesempatan kerja
Identifikasi 9) Penurunan jenis biota 7) Terbukanya kesempatan berusaha
DESKRIPSI RONA Dampak perairan 8) Peningkatan pendapatan keluarga
LINGKUNGAN HIDUP AWAL Potensial 3. Komponen Sosial, Ekonomi dan 9) Munculnya persepsi masyarakat
Budaya 10) Timbulnya keresahaan masyarakat
 Komponen Geofisik-Kimia 10) Terbukanya kesempatan 11) Terjadinya gangguan lalu lintas
 Komponen Biologi kerja 4. Komponen Kesehatan Masyarakat
 Komponen Sosial, Ekonomi 11) Terbukanya kesempatan 12) Meningkatnya gangguan
dan Budaya berusaha kesehatan
 Komponen Kesehatan 12) Peningkatan pendapatan 13) Penurunan Keselamatan dan
Masyarakat keluarga Kesehatan Kerja
13) Munculnya persepsi
masyarakat
14) Timbulnya keresahaan
Metode
masyarakat
15) Terjadinya gangguan lalu  Diskusi antar pakar BUKAN DAMPAK PENTING HIPOTETIK
KONSULTASI PUBLIK DAN lintas  Studi literature TETAPI TETAP DIKELOLA
MASUKAN MASYARAKAT 4. Komponen Kesehatan
 Survei lapangan
Masyarakat 1. Komponen Geofisik-Kimia
 Konsultasi public (Kep.
16) Gangguan terhadap 1) Penurunan Kualitas Udara
Bapedal No.17/2012)
sanitasi lingkungan 2) Peningkatan Kebisingan
17) Meningkatnya gangguan  Professional juggement
2. Komponen Biologi
kesehatan 3) Penurunan jenis Flora
KEGIATAN LAIN DISEKITAR 18) Penurunan Keselamatan
Metode Matrik 4) Penurunan Jenis Fauna
dan Kesehatan Kerja

Gambar 1.8. Bagan Alir Dampak Penting Hipotetik Rencana Kegiatan Pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah

BAB I - 27
1.3. LINGKUP WILAYAH STUDI DAN BATAS WAKTU KAJIAN

Lingkup wilayah studi ditetapkan berdasarkan batas proyek, batas ekologis,


batas adminisitratif dan batas sosial. Peta batas wilayah studi disajikan pada
Gambar 1.15.

1.3.1. Lingkup Wilayah Studi


a) Batas Proyek
Yang dimaksud dengan batas proyek (batas rencana kegiatan) adalah ruang dimana
segenap rencana kegiatan akan dilakukan, baik kegiatan pra konstruksi, konstruksi
maupun operasi. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap
lingkungan di sekitarnya. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan
kawasan wisata Flamboyan Bawah berada di wilayah administrasi Kelurahan
Langkai, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, dengan luas areal ± 18,81 Ha.
b) Batas Ekologis
Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang sebaran dampak-dampak
mengikuti media lingkungan masing-masing dan/atau menurut timbulnya
kerusakan sumber daya alam, dimana proses-proses alami (keseimbangan
ekosistem) yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami
perubahan mendasar.
Komponen-komponen lingkungan yang merupakan daerah yang secara ekologis
akan terkena dampak dari berbagai bentuk proses alam dengan memperhatikan
besaran dampak. Persebaran dampak adalah ruang dari suatu rencana kegiatan
menurut media transportasi limbah (cair dan udara) dimana proses alami mengalami
perubahan mendasar. Lokasi di sekitar rencana usaha atau kegiatan yang secara
ekologis memberikan dampak terhadap aktifitas usaha kegiatan merupakan
perubahan mendasar. Dengan demikian penentuan batas ekologi perlu
mempertimbangkan sebaran dampak dari suatu kegiatan pembangunan.
Kualitas udara merupakan perimbangan mendasar dalam penenuan suatu batasan
ekologi. Batas ekologis kualitas udara didasarkan atas pertimbangan arah dan
kecepatan angin yang dihubungkan dengan rencana tapak proyek. Batas wilayah
ekologis ditetapkan berdasarkan penyebaran melalui media air khususnya badan
air Sungai Kahayan ke arah hulu dan hilir dari tapak proyek.
c) Batas Sosial
Batas sosial adalah ruang dimana masyarakat yang terkena dampak bertempat
tinggal atau berkegiatan. Batas ini mencakup pemukiman/ perkampungan
penduduk yang diprakirakan akan terkena dampak dimana masyarakatnya
mempunyai karakteristik, sosial, budaya, tatanan kehidupan dan adat istiadat yang
sama.
Sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang
diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya kegiatan
pembangunan Kawasan Wisata Flamboyan Bawah, batas sosial akan meliputi
Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan
Tengah.

BAB I - 28
d) Batas Administrasi
Batas administratif adalah wilayah administratif yang wilayahnya tercakup dalam
salah-satu unsur/batas di atas (batas rencana kegiatan, batas ekologis atau batas
sosial). Wilayah administrasi yang termasuk wilayah terkena dampak meliputi
Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan
Tengah.

1.3.2. Batas Waktu Kajian


Batas waktu kajian adalah 30 tahun. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman
Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup, yang menyatakan bahwa batasan waktu
kajian adalah batas waktu kajian yang akan digunakan dalam melakukan prakiraan dan
evaluasi dampak dalam kajian ANDAL. Batas waktu tersebut minimal dilakukan selama
umur rencana usaha dan/atau kegiatan berlangsung.
Penentuan batas waktu kajian ini selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk
melakukan penentuan perubahan rona lingkungan tanpa adanya rencana usaha
dan/atau kegiatan atau dengan adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.
Secara rinci batas waktu kajian untuk tiap tahapan kegiatan dan proses
pelingkupan dampak penting hipotetik dapat dilihat pada tabel ringkasan proses
pelingkupan.

BAB I - 29
Gambar 1.9. Peta batas wilayah studi

BAB I - 30
Tabel 1.6. Ringkasan Proses Pelingkupan

Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan


Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
A. Tahap Prakonstruksi
1 Sosialisasi Rencana Usaha Sosialisasi kepada masyarakat Komponen Sosial,  Persepsi Pada prinsipnya masyarakat sekitar Disimpulkan tidak Termasuk batas Satu bulan selama
dan/atau Kegiatan tentang pembangunan Kawasan Ekonomi dan masyarakat lokasi kegiatan tidak berkeberatan menjadi DPH namun sosial di Kelurahan kegiatan sosialisasi
Wisata Flamboyan Bawah sudah Budaya  Keresahan dengan adanya rencana tetap dikelola dengan Langkai, dilakukan
dilakukan secara intensif yaitu masyarakat pembangunan Kawasan Wisata berpedoman terhadap Kecamatan
dengan mengadakan Konsultasi Flamboyan Bawah, sehingga tidak poin- poin Pahandut, Kota
publik dgn masyarakat pada akan menimbulkan dampak kesepakatan antara Palangka Raya
tanggal.21 September 2015. sosial yg negatif. warga dan pemrakarsa Provinsi
Mengakomodir saran dan masukan pada saat konsultasi Kalimantan
Masyarakat baik yang disampaikan publik. Tengah
secara tertulis ataupun secara lisan
pada saat konsultasi publik
2 Pembebasan Lahan Kegiatan pembebasan ini akan Komponen Sosial,  Persepsi Kegiatan pembebasan lahan pada Disimpulkan menjadi Termasuk batas Satu bln selama
mengacu pada Peraturan Ekonomi dan masyarakat tahap prakonstruksi dilakukan DPH sosial di Kelurahan proses
Perundangan yang berlaku yakni Budaya  Keresahan dalam rangka memperoleh legalitas Langkai, Pembebasan
Undang-Undang No. 2 Tahun masyarakat lahan pembangunan Kawasan Kecamatan Lahan
2012 dan Peraturan Presiden No. Wisata Flamboyan Bawah. Pahandut, Kota
71 Tahun 2012, tentang Dengan demikian diharapkan tidak Palangka Raya
Penyelenggaraan Pengadaan menyebabkan keresahan Provinsi
Tanah bagi Pembangnan untuk masyarakat yang dapat Kalimantan
Kepentingan Umum serta berdampak pada terjadinya konflik Tengah
Peraturan Kepala Badan sosial dan sikap negatif
Pertanahan Nasional No. 5 Tahun masyarakat terhadap Pemerintah
2012, tentang Petunjuk Teknis Kota Palangka Raya, dengan
Pelaksanaan Pengadaan Tanah demikian perubahan presepsi
bagi Pembangunan untuk masyarakat dan keresahan
Kepentingan Umum. masyarakatmerupakan dampak
yang perlu dikaji lebih lanjut dalam
ANDAL
3 Perijinan - Komponen Sosial,  Persepsi Pada prinsipnya masyarakat sekitar Disimpulkan tidak Termasuk batas Satu bln selama
Ekonomi dan masyarakat lokasi kegiatan tidak berkeberatan menjadi DPH namun sosial di Kelurahan proses perizinan
Budaya  Keresahan dengan adanya rencana tetap dikelola Langkai,
masyarakat pembangunan Kawasan Wisata dengan berpedoman Kecamatan
Flamboyan Bawah, hal ini hanya terhadap poin- poin Pahandut, Kota
terkait dengan masalah batas-batas kesepakatan antara Palangka Raya
sesuai perizinan. warga dan pemrakarsa Provinsi
pada saat Kalimantan
konsultasi publik. Tengah

BAB I - 31
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
B. Tahap Konstruksi
1 Penerimaan tenaga kerja Membuka lowongan kepada Komponen Sosial, Terbukanya Masyarakat menyambut baik Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan
konstruksi masyarakat setempat untuk Ekonomi dan kesempatan kerja dengan adanya kegiatan proyek, menjadi dampak sosial di Kelurahan satu bulan
bekerja di dalam kegiatan proyek Budaya dimana mereka dapat bekerja penting hipotetik Langkai, selama kegiatan
didalamnya yang perlu dikelola Kecamatan rekruitmen tenaga
karena masyarakat Pahandut, Kota kerja konstruksi
sudah diberikan Palangka Raya
kesempatan untuk Provinsi
bekerja Kalimantan
Tengah
- Komponen Sosial, Terbukanya peluang Masyarakat Menyambut baik Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan
Ekonomi dan usaha dengan adanya proyek ini, dimana menjadi dampak sosial di Kelurahan satu bulan
Budaya meraka dapat membuka peluang penting hipotetik Langkai, selama kegiatan
usaha baru untuk melayani para yang perlu dikelola Kecamatan konstruksi
pekerja proyek karena masyarakat Pahandut, Kota
mendapatkan manfaat Palangka Raya
peluang usaha baru Provinsi Kal-Teng
- Komponen Sosial, Peningkatan Masyarakat Menyambut baik Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan
Ekonomi dan pendapatan dengan adanya proyek ini, dimana menjadi dampak sosial di Kelurahan satu bulan
Budaya masyarakat meraka dapat membuka peluang penting hipotetik Langkai, selama kegiatan
usaha baru sehingga akan yang perlu dikelola Kecamatan konstruksi
meningkatkan pendapatan karena masyarakat Pahandut, Kota
masyarakat mendapatkan manfaat Palangka Raya
pendapatan Provinsi
Kalimantan
Tengah
- Komponen Sosial,  Persepsi Potensi timbulnya proses sosial Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan
Ekonomi dan masyarakat dimasyarakat berupa pro ataupun menjadi dampak sosial di Kelurahan satu bulan
Budaya  Keresahan kontra dalam mendapatkan penting hipotetik Langkai, selama kegiatan
masyarakat kesempatan untuk ikut bekerja yang perlu dikelola Kecamatan rekruitmen tenaga
dalam proyek karena masyarakat Pahandut, Kota kerja konstruksi
sudah diberikan Palangka Raya
kesempatan untuk Provinsi
bekerja Kalimantan
Tengah
2 Pembangunan dan operasi Pemagaran area yang akan Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Pembangunan dan operasi base Disimpulkan tidak - -
base camp dibangun base camp dan Kimia udara camp dapat meningkatkan kadar menjadi DPH
melakukan penyiraman terhadap debu ( PM10) dari pembuatan base
lokasi pembangunan base camp camp, namun dengan adanya upaya
sebanyak 3x sehari yaitu pagi, pemagaran dan penyiraman sudah
siang dan sore. bisa mengatasi peningkatan debu.

BAB I - 32
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
 Untuk menghindari kebisingan Komponen Geofisik- Peningkatan Pembangunan dan operasi base Disimpulkan tidak - -
pada saat kegiatan Kimia kebisingan camp dapat akan menimbulkan menjadi DPH
pengoperasian genset, telah dampak kebisingan bagi masyarakat
ditetapkan peraturan jarak yang tinggal sekitar jalan karena
aman, untuk unit adalah 300 adanya suara yang ditimbulkan dari
m dari lokasi genset dan untuk kendaraan pengangkut yang
manusia berada pada jarak melintasi jalan tersebut. Namun
500 m. demikian dampak ini bersifat
 Menggunakan alat proteksi sementara (tidak berlangsung lama)
seperti earplug (tutup telinga) dan suara masih dapat diredam
untuk para pekerja. dengan adanya pohon-pohon di
 Pembuatan landscape sekitar jalan yang akan dilalui,
disekeliling tapak proyek. sehingga dampak ini tidak
 Selain itu, rencana berpengaruh nyata pada kehidupan
pengelolaan lingkungan hidup masyarakat.
yang dilakukan adalah untuk
meminimalisasi konsentrasi
kebisingan agar tidak melebihi
baku tingkat kebisingan
sebagaimana yang ditetapkan
dalam lampiran Keputusan
Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor
48/MENLH/11/1996 tentang
Baku Tingkat Kebisingan dan
Keputusan Menteri Tenaga
Kerja No. Kep‐51/Men/1999
tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika di Tempat Kerja.
 Mengembangkan dan
memelihara sistem
manajemen terhadap
kesehatan, keselamatan,
lingkungan (K-3) dan
masyarakat secara konsisten
dengan standar yang diakui
secara internasional sehingga
memungkinkan untuk
mengidentifikasi, menilai, dan
mengelola resiko terhadap
karyawan dan masyarakat

BAB I - 33
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
- Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Adanya kegiatan pembangunan dan Disimpulkan menjadi Lokasi kajian Satu bulan selama
Kimia air tanah dan air pengoperasian base camp akan DPH termasuk kedalam proses
permukaan menigkatkan penggunaan air tanah batas ekologis pembangunan dan
maupun air permukaan. yaitu di operasional base
rencana tapak camp
yaitu Sungai
Kahayan dan
sumur warga

Komponen Geofisik- Peningkatan Limbah Pembangunan dan operasi base Disimpulkan menjadi Lokasi kajian Satu bulan selama
Kimia Cair camp dihasilkan limbah cair yaitu DPH termasuk kedalam proses
limbah domestic dari hasil kegiatan batas ekologis pembangunan dan
MCK para pekerja. Total pekerja yaitu di operasional base
pada tahap ini adalah sebanyak 50 rencana tapak camp
orang sehingga menghasilkan proyek yaitu
limbah cair sebanyak 1250 liter/hari Sungai Kahayan
yang akan dibuang langsung ke dan sumur warga
[Link] cair ini selanjutnya
dapat menurunkan kualitas air
terutama parameter BOD, COD,
TSS, dan Deterjen
Limbah padat yang dihasilkan dar Komponen Geofisik- Peningkatan Limbah Peningkatan limbah padat pada Disimpulkan tidak - -
kegiatan ini akan dikumpulkan di Kimia Padat kegiatan ini telah dikelola menjadi DPH tetapi
Tempat Penampungan Sementara berdasarkan SOP akan dikelola
yang nantinya akan di kelola oleh
pihak Ketiga berdasarkan SOP
- Komponen Biologi Gangguan Biota Operasi base camp bersifat Tidak menjadi DPH - -
Perairan sementara dng sumber air yg
dipergunakan cenderung tdk akan
langsung dialirkan ke sistim
pengairan yg ada di sekitar
Komponen Sosial, Adanya Adanya kesempatan kerja bagi Disimpulkan Tidak Termasuk batas Kajian dilakukan 1
Ekonomi dan kesempatan kerja masyarakat sekitar proyek menjadi DPH karena sosial di Kelurahan bulan selama
Budaya bagi masyarakat sudah diakomodir Langkai, kegiatan
sekitar lokasi untuk masyarakat local Kecamatan pembangunan
kegiatan terutama namun kegiatan ini Pahandut, Kota berlangsung
sebagai tenaga tetap dilakukan Palangka Raya
kerja dalam pengelolaan Provinsi
membangun base Kalimantan
camp Tengah

BAB I - 34
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
- Komponen Sosial, Adanya peluang Adanya peluang untuk membuka Disimpulkan Tidak Termasuk batas Kajian dilakukan 1
Ekonomi dan berusaha bagi usaha bagi masyarakat sekitar menjadi DPH karena sosial di Kelurahan bulan selama
Budaya masyarakat sekitar proyek sudah diakomodir Langkai, kegiatan
lokasi kegiatan untuk masyarakat local, Kecamatan pembangunan
pembangunan namun kegiatan ini Pahandut, Kota berlangsung
kawasan wisata tetap dilakukan Palangka Raya
Plamboyan Bawah pengelolaan Provinsi
Kalimantan
Tengah
- Komponen Sosial, Terjadinya Kenaikan tingkat pendapatan akan Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan 1
Ekonomi dan peningkatan berdampak positif terhadap tidak DPH karena sosial di Kelurahan bulan selama
Budaya pendapatan masyarakat pendapatan masyarakat Langkai, kegiatan
masyarakat sekitar meningkat, namun Kecamatan pembangunan
lokasi kegiatan kegiatan ini tetap akan Pahandut, Kota berlangsung
dikelola Palangka Raya
Provinsi Kal-Teng
- Komponen Sosial,  Persepsi Kegiatan ini berpotensi menimbulkan Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan 3
Ekonomi dan masyarakat persepsi negatif di masyarakat terutama tidak DPH namum perlu sosial di Kelurahan bulan selama
Budaya  Keresahaan adanya buang limbah yang dihasikan dikelola dan perlu Langkai, kegiatan ini
Masyarakat dari kegiatan ini terutama limbah padat dilakukan studi lanjut Kecamatan berlangsung
berupa sampah, namun adanya untuk melihat besaran Pahandut, Kota
pengelolaan yang dilakukan melalui dampak dan teknik Palangka Raya
pigak ketiga sehingga dapat dapat pengelolaannya. Provinsi
diminimalisir. Kalimantan
Tengah
Komponen Sanitasi Kegiatan pembangunan dan Disimpulkan tidak
Kesehatan operasional base camp akan menjadi DPH
Masyarakat menimbulkan dampak pencemaran
terhadap air sungai berupa
masuknya sampah ranting/kayu kecil
dan dedaunan serta lapisan tanah
yang terbawa aliran permukaan. Air
yang tercemar oleh sampah yang
kaya akan bahan organik dapat
mejadi habitat bagi bakteri pembawa
penyakit seperti diare, kolera dan
penyakit kulit. Dengan demikian air
menjadi tidak sehat untuk digunakan
keperluan sehari-hari. Namun
demikian sanitasi lingkungan sangat
dipengaruhi oleh pola kebiasaan

BAB I - 35
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
hidup sehari-hari masyarakat
terhadap lingkungannya dan
ketersediaan sarana prasarana
kesehatan yang dapat mendukung
terciptanya lingkungan rumah tinggal
yang sehat.

- Komponen Gangguan Adanya sanitasi yang dibangun Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan 3
Kesehatan kesehatan terutama MCK akan mengurangi DPH sosial di Kelurahan bulan selama
Masyarakat masyarakat terjadinya gangguan kesehatan. Langkai, kegiatan Pekerjaan
Namun melihat dari data kesehatan Kecamatan pembangunan
di Kecamatan Langkai terutama diare Pahandut, Kota basecamp
sehingga perlu adanya perhatian Palangka Raya
khusus untuk kegiatan tersebut Provinsi
terutama limbah yang dihasilkan dari Kalimantan
pengoperasian base camp yaitu dari Tengah
MCK.
- Keselamatan dan Timbulnya Adanya potensi untuk terjadinya Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan 1
kesehatan kerja kecelakaan kerja Insiden Kecelakaan kerja pada saat menjadi DPH , namun sosial di Kelurahan bulan selama
melakukan aktivitas di area perlu dikelola dengan Langkai, kegiatan
pembangunan adanya APD dan K3 Kecamatan pembangunan
Pahandut, Kota
Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
3 Mobilisasi peralatan dan  Sosialisasi peraturan tentang Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Mobilisasi peralatan dan material Disimpulkan tidak - -
material kendaraan bermotor untuk Kimia udara dapat meningkatkan kadar debu ( menjadi DPH
mengurangi polusi udara. PM10) dan kadar NOx serta CO dari
 Pembuatan pagar pembatas lalu lintas kendaraan, Kendaraan
proyek dengan lingkungan yang digunakan dalam kegiatan ini
ataupun papan pemberitahuan adalah truk dengan kapasitas 6 ton
adanya kegiatan sebanyak 5 truk
 Pembersihan dan penyiraman
jalan didepan proyek dengan
menggunakan truk tangki air
(water truck). Frekuensi
penyiraman tergantung dari
keadaan cuaca dan musim, bila
dalam keadaan kering,
frekuensi penyiraman akan

BAB I - 36
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
semakin tinggi.
 Penggunaan sarana K-3
berupa masker bagi karyawan
khususnya yang terkena
dampak langsung seperti
operator dan supir atau
mewajibkan semua truk
menggunakan AC, truk yang
AC-nya tidak berfungsi tidak
akan dioperasikan.
 Pengaturan arus keluar masuk
kendaraan proyek oleh petugas
proyek.
 Pengaturan/penjadwalan
transportasi yaitu pengaturan
antrian atau bergantian dalam
pengiriman peralatan ke tapak
proyek.
 Pengurangan kecepatan
kendaraan.
 Perawatan secara periodik
terhadap alat-alat kerja yang
digunakan dalam kegiatan
mobiliasai peralatan dan
material agar dapat
mengurangi konsentrasi debu
dan gas yang diakibatkan pada
saat beroperasinya alat
tersebut.
 Mempertahankan dan bahkan
meningkatkan keberadaan
vegetasi di sepanjang jalan
angkut peralatan, terutama
yang berkanopi lebar, agar
vegetasi tersebut dapat
berfungsi sebagai penyerap
dan filter debu.
 Mengembangkan dan
memelihara sistem manajemen
terhadap kesehatan,
keselamatan, lingkungan (K-3)

BAB I - 37
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
dan masyarakat secara
konsisten dengan standar yang
diakui secara internasional
sehingga memungkinkan untuk
mengidentifikasi, menilai, dan
mengelola resiko terhadap
karyawan dan masyarakat
sekitar.

 Pengurangan kecepatan Kebisingan Peningkatan Kebisingan bisa diminimalkan Disimpulkan tidak - -


kendaraan. kebisingan dengan adanya jadwal mobilisasi menjadi DPH
 Pengaturan arus keluar masuk peralatan dan pembatasan
kendaraan proyek oleh petugas kecepatan maksimal kendaraan.
proyek.
 Pengaturan jadwal jam kerja
proyek.
 Perawatan secara periodik
terhadap alat-alat kerja yang
digunakan dalam
pembangunan kawasan wisata
Flamboyan Bawah agar dapat
mengurangi kebisingan yang
diakibatkan pada saat
beroperasinya alat tersebut.
 Untuk menghindari kebisingan
pada saat kegiatan
pengoperasian genset, telah
ditetapkan peraturan jarak
aman, untuk unit adalah 300 m
dari lokasi genset dan untuk
manusia berada pada jarak 500
m.
 Menggunakan alat proteksi
seperti earplug (tutup telinga)
untuk para pekerja.
 perawatan dan pemeliharaan
kendaraan bermotor untuk
mengurangi emisi buang dan
kebisingan.
 Pembuatan landscape
disekeliling tapak proyek.

BAB I - 38
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
 Selain itu, rencana pengelolaan
lingkungan hidup yang
dilakukan adalah untuk
meminimalisasi konsentrasi
kebisingan agar tidak melebihi
baku tingkat kebisingan
sebagaimana yang ditetapkan
dalam lampiran Keputusan
Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor
48/MENLH/11/1996 tentang
Baku Tingkat Kebisingan dan
Keputusan Menteri Tenaga
Kerja No. Kep‐51/Men/1999
tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika di Tempat Kerja.
 Mengembangkan dan
memelihara sistem manajemen
terhadap kesehatan,
keselamatan, lingkungan (K-3)
dan masyarakat secara
konsisten dengan standar yang
diakui secara internasional
sehingga memungkinkan untuk
mengidentifikasi, menilai, dan
mengelola resiko terhadap
karyawan dan masyarakat
sekitar
perawatan dan pemeliharaan Komponen Sosial,  Persepsi Kepadatan kegiatan mobilisasi , dan Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
kendaraan bermotor untuk Ekonomi dan Masyarakat akses jalan kemungkinan besar dampak penting sosial di Kelurahan satu kali
mengurangi emisi buang dan Budaya  Keresahan akan menimbulkan perubahan hipotetik karena kajian Langkai, selama kegiatan
kebisingan serta jadwal Masyarakat persepsi di masyarakat sehingga mobilisasi akan Kecamatan mobilisasi
pengaturan mobilisasi perlu dilakukan pengelolaan agar dilakukan Pahandut, Kota peralatan dan
tidak terjadi penolakan Palangka Raya material
terhadap kegiatan Provinsi Kal-Teng
- Gangguan lalu lintas Kepadatan lalu lintas dan Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
akses jalan kemungkinan besar dampak penting sosial di Kelurahan satu kali
akan menimbulkan perubahan hipotetik karena kajian Langkai, selama kegiatan
persepsi di masyarakat sehingga lalu lintas akan dilakukan Kecamatan mobilisasi
perlu dilakukan pengelolaan Pahandut peralatan

BAB I - 39
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
- Komponen Gangguan Adanya perubahan kesehatan Disimpulkan Termasuk batas Tiga bulan selama
Kesehatan kesehatan masyarakat karena adanya kegiatan tidak menjadi dampak sosial di Kelurahan proses mobilisasi
Masyarakat masyarakat mobilisasi alat melakukan penting hipotetik Langkai, material
pemadatan, namun perubahan ini karena tidak Kecamatan
tidak signifikan menjadi negatif, berpengaruh besar Pahandut, Kota
karena proses pemadatan tidak akan perubahan Palangka Raya
berlangsung lama kesehatan masyarakat Provinsi
Kalimantan
Tengah
- Komponen Timbulnya Adanya potensi untuk terjadinya Disimpulkan tidak Termasuk batas Tiga bulan selama
Kesehatan penurunan Insiden Kecelakaan kerja pada saat menjadi DPH namun sosial di Kelurahan proses mobilisasi
Masyarakat keselamatan dan melakukan aktivitas di area proyek perlu dilakukan Langkai, peralatan dan
peningkatan selama proses mobilisasi peralatan pengelolaan seperti Kecamatan material
kecelakaan kerja dan materal aplikasi dan Pahandut, Kota
sosialisasi K3 dan Palangka Raya
perlunya koordinasi Provinsi
dengan pihak dinas Kalimantan
kesehatan. Tengah
4 Pembersihan dan pemadatan - Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Pembersihan dan pemadatan Disimpulkan tidak - -
lahan Kimia udara menimbulkan debu namun menjadi DPH namun
diminimalkan dengan adanya tetap dikelola
pemagaran.
Komponen Geofisik- Peningkatan Pembersihan dan pemadatan Disimpulkan tidak - -
Kimia kebisingan menimbulkan kebisingan dari menjadi DPH namun
penggunaan alat berat antara lan : tetap dikelola
bulldozer 2 bh ,eskavator 1 bh,
backhoe 2 bh, loader 1 bh, tandem
roller 1 bh truk 3 bh Kebisingan bisa
diminimalkan dengan adanya
pemagaran.

Penurunan kualitas Kegiatan pembersihan dan Disimpulkan menjadi Sungai Kahayan Satu kali dalam
air permukaan pemadatan lahan akan menimbulkan DPH enam bulan selama
dampak pencemaran terhadap air kegiatan konstruksi
sungai berupa masuknya sampah
ranting/kayu kecil dan dedaunan
serta lapisan tanah yang terbawa
aliran permukaan. Air yang tercemar

BAB I - 40
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
oleh sampah yang kaya akan bahan
organik dapat mejadi habitat bagi
bakteri pembawa penyakit seperti
diare, kolera dan penyakit kulit.
Dengan demikian air menjadi tidak
sehat untuk digunakan keperluan
sehari-hari. Akibatnya akan
mempengaruhi jenis biota perairan
yang ada disekitar lokasi tersebut
dan dampak lebih lanjut adalah
adanya gangguan kesehatan
masyarakat sekitar yang
mengkonsumsi air tersebut.
Komponen Biologi Perubahan jenis Pembersihan dan pemadatan lahan Tidak menjadi DPH - -
flora akan mengurangi jumlah jenis dan
individu flora darat karena gangguan
fisik, namun adanya tanaman
pelindung yang sudah ditanam dan
pembersihan dan pemadatan lahan
hanya dilakukan pada lokasi
kegiatan yang akan dibangun saja,
sehingga flora yang ada tetap
terjaga
Perubahan jenis Pembersihan dan pemadatan lahan Tidak menjadi DPH - -
fauna darat akan mengurangi jumlah jenis dan
individu fauna darat , namun adanya
masih tanaman penlindung yang
ada disekitar lokasi kegiatan, maka
aktivitas fauna yang ada disekitar
lokasi kegiatan tidak mengalami
perubahan
Penurunan Biota Merupakan dampak lanjutan dari Disimpulkan menjadi Lokasi Kajian Satu kali dalam
Perairan penurunan kualitas air DPH Kahayan enam bulan selama
kegiatan konstruksi
- Komponen Sosial,  Persepsi Timbulnya suara mobilisasi alat Disimpulkan menjadi Termasuk batas satu bulan selama
Ekonomi dan masyarakat pada saat melakukan kegiatan DPH karena dampak sosial di Kelurahan proses pemadatan
Budaya  Keresahan pemadatan adanya penurunan Langkai,
masyarakat kualitas air akan memicu Kecamatan
persepsi negatif Pahandut, Kota
kegiatan tersebut Palangka Raya

BAB I - 41
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
- Komponen Gangguan Adanya perubahan kesehatan Disimpulkan menjadi Termasuk batas satu bulan selama
Kesehatan kesehatan masyarakat karena adanya kegiatan dampak penting sosial di Kelurahan proses pemadatan
Masyarakat masyarakat mobilisasi alat melakukan hipotetik karena tidak Langkai,
pemadatan merupakan dampak berpengaruh besar Kecamatan
lanjutan dari penurunan kualitas air akan perubahan Pahandut, Kota
kesehatan masyarakat Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
5 Pembangunan konstruksi Penanaman tanaman pelindung Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Pembangunan Kontruksi Fisik dapat Disimpulkan tidak
fisik Kimia udara meningkatkan kadar debu ( PM10) menjadi DPH namun
dan kadar NOx serta CO dari lalu tetap dikelola
lintas kendaraan, serta penggunaan
alat berat. Kendaraan yang
digunakan dalam kegiatan ini adalah
truk dengan kapasitas 6 ton
sebanyak 5 truk, adapun alat berat
yang digunakan adalah bulldozer 2
bh ,eskavator 1 bh, backhoe 2 bh,
loader 1 bh, tandem roller 1 bh truk 3
bh sehingga terjadi akumulasi CO
dan NOx, namun dengan adanya
kegiatan penanaman tanaman
pelindung dapat meminimalkan
dampak yang ditimbulkan terhadap
kegiatan pembangunan Kawasan
Wisata Flamboyan Bawah.
Kebisingan Peningkatan Kebisingan bisa diminimalkan Disimpulkan tidak
kebisingan dengan system kontruksi borpile dan menjadi DPH namun
pemagaran area kontruksi tetap dikelola
menggunakan material dengan
ketebalan yang disesuaikan
Kualitas air Penurunan kualitas Dihasilkan limbah cair yaitu limbah Disimpulkan menjadi Lokasi Kajian Satu kali dalam
air domestic dari hasil kegiatan MCK DPH Kahayan enam bulan selama
para pekerja. Total pekerja pada kegiatan konstruksi
tahap ini adalah sebanyak 100
orang sehingga menghasilkan
limbah cair sebanyak 2500 liter/hari
yang akan dibuang langsung ke
[Link] cair ini selanjutnya
dapat menurunkan kualitas air

BAB I - 42
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Limbah padat yang dihasilkan dar Komponen Gofisik- Peningkatan Limbah Peningkatan limbah padat pada Disimpulkan tidak - -
kegiatan ini akan dikumpulkan di Kimia Padat kegiatan ini telah dikelola menjadi DPH tetapi
Tempat Penampungan Sementara berdasarkan SOP akan dikelola
yang nantinya akan di kelola oleh
pihak Ketiga berdasarkan SOP
Biologi Perubahan jenis Kondisi pembangunan akan Disimpulkan tidak - -
flora darat menganggu keadaan flora karena menjadi DPH
adanya kehilangan luasan yg
menjadi bangunan tetapi juga
adanya penambahan flora untuk
kepentingan estetika
Biologi Perubahan jenis Kondisi pembangunan akan Disimpulkan tidak - -
fauna darat menganggu keadaan fauna karena menjadi DPH
adanya kehilangan luasan yg
menjadi bangunan tetapi juga
adanya penambahan fauna untuk
kepentingan estetika
Biota perairan Gangguan biota Kondisi pembangunan akan Disimpulkan menjadi Lokasi Kajian Satu kali dalam
perairan menganggu keadaan biota air DPH Sungai Kahayan enam bulan selama
karena banyaknya sumber air yang kegiatan konstruksi
masuk ke dalam sistem perairan
Komponen Sosial, Adanya kesempatan Adanya kesempatan kerja untuk Disimpulkan tidak - -
Ekonomi dan kerja kegiatan pembangunnan konstruksi menjadi DPH
Budaya fisik ini bersifat sementara.
Timbulnya Peluang Adanya kegiatan pembangunan Disimpulkan tidak - -
Usaha konstruksi fisik akan menjadi DPH
membukanpeluang berusaha
terutama membuka warung makan
atau minuman akan menambah
pendapatan masyarakat yang ada
disekitar
Peningkatan Dampak lanjutan adanya Disimpulkan tidak - -
Pendapatan kesempatan kerja dan peluang menjadi DPH
Masyarakat berusaha adalah peningkatan
pendapatan masyarakat
 Persepsi Pembangunan konstruksi fisik akibat Disimpulkan Tidak, Termasuk batas Kajian dilakukan 3
masyarakat adanya kegiatan dapat menjadi dampak penting sosial di Kelurahan bulan i selama
 Timbulnya mempengaruhi persepsi hipotetik, namum perlu Langkai, kegiatan ini
keresahan masyarakat. dikelola dan perlu Kecamatan berlangsung
masyarakat dilakukan Pahandut

BAB I - 43
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Gangguan lalu Kepadatan lalu lintas dan akses Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
lintas jalan kemungkinan besar akan DPH sosial di Kelurahan tiga bulan
menimbulkan perubahan persepsi Langkai, selama kegiatan
di masyarakat sehingga perlu Kecamatan Pembangunan
dilakukan pengelolaan agar tidak Pahandut, Kota konsruksi fisik
terjadi penolakan terhadap Palangka Raya
kegiatan Provinsi
Kalimantan
Tengah
Komponen Gangguan Adanya potensi timbulnya penyakit Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan
Kesehatan Kesehatan akibat sanitasi yang buruk selama menjadi dampak sosial di Kelurahan tiga bulan
Masyarakat pembangunan penting hipotetik karena Langkai, selama kegiatan
sudah disediakan MCK Kecamatan Pembangunan
yan bersih di lokasi Pahandut, Kota konsruksi fisik
pembangunan Palangka Raya
konstruksi fisik Provinsi
Kalimantan
Tengah

Melaksanakan prosedur dan Kesehatan dan Adanya SOP yang dijalankan Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
penanggulangannya telah diatur Keselamatan Kerja dengan baik akan mengurangi DPH sosial di Kelurahan tiga bulan
dalam peraturan tentang tingkat kecelakaan, namun sering Langkai, selama kegiatan
keselamatan dan kesehatan kerja terjadinya kelalaian dan ketidak Kecamatan Pembangunan
(UU No. 1 Tahun 1970, Peraturan patuhan para pekerja akan Pahandut, Kota konsruksi fisik
Menteri Tenaga Kerja dan meningkatkan potensi kecelakaan Palangka Raya
Transmigrasi RI No. kerja Provinsi
[Link]/1978, Peraturan Kalimantan
Menteri Tenaga Kerja RI No. Per Tengah
05/MEN/1996, tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja), Peraturan
Pemerintah No. 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan, OHSAS
18001:2009 : OHS Management
system (memuat spesifikasi
Sistem Manajemen K3) dengan
demikian hal ini merupakan upaya
mitigasi terhadap dampak
kegiatan terhadap Keselamatan
dan Kesehatan Kerja.

BAB I - 44
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
6 Demobilisasi alat  Sosialisasi peraturan tentang Kualitas udara Penurunan kualitas Demobilisasi peralatan dan material Disimpulkan tidak Termasuk batas Kajian dilakukan
kendaraan bermotor untuk udara dapat meningkatkan kadar debu ( menjadi DPH namun sosial di Kelurahan tiga bulan
mengurangi polusi udara. PM10) dan kadar NOx serta CO dari tetap dikelola Langkai, selama kegiatan
 Pembersihan dan penyiraman lalu lintas kendaraan, Kendaraan Kecamatan Pembangunan
jalan didepan proyek dengan yang digunakan dalam kegiatan ini Pahandut, Kota konsruksi fisik
menggunakan truk tangki air adalah truk dengan kapasitas 6 ton Palangka Raya
(water truck). Frekuensi sebanyak 5 truk Namun kegiatan ini Provinsi
penyiraman tergantung dari tidak berlangsung lama Kalimantan
keadaan cuaca dan musim, bila Tengah
dalam keadaan kering,
frekuensi penyiraman akan
semakin tinggi.
 Penggunaan sarana K-3
berupa masker bagi karyawan
khususnya yang terkena
dampak langsung seperti
operator dan supir atau
mewajibkan semua truk
menggunakan AC, truk yang
AC-nya tidak berfungsi tidak
akan dioperasikan.
 Pengaturan arus keluar masuk
kendaraan proyek oleh petugas
proyek.
 Pengaturan/penjadwalan
transportasi yaitu pengaturan
antrian atau bergantian dalam
demobilisasi peralatan.
 Pengurangan kecepatan
kendaraan.
 Perawatan secara periodik
terhadap alat-alat kerja yang
digunakan dalam kegiatan
mobiliasai peralatan dan
material agar dapat
mengurangi konsentrasi debu
dan gas yang diakibatkan pada
saat beroperasinya alat
tersebut.
 Mempertahankan dan bahkan
meningkatkan keberadaan

BAB I - 45
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
vegetasi di sepanjang jalan
angkut peralatan, terutama
yang berkanopi lebar, agar
vegetasi tersebut dapat
berfungsi sebagai penyerap
dan filter debu.
 Mengembangkan dan
memelihara sistem manajemen
terhadap kesehatan,
keselamatan, lingkungan (K-3)
dan masyarakat secara
konsisten dengan standar yang
diakui secara internasional
sehingga memungkinkan untuk
mengidentifikasi, menilai, dan
mengelola resiko terhadap
karyawan dan masyarakat
sekitar.
 Pengurangan kecepatan Kebisingan Peningkatan Kebisingan bisa diminimalkan Disimpulkan tidak - -
kendaraan. kebisingan dengan perawatan dan menjadi DPH namun
 Pengaturan arus keluar masuk pemeliharaan kendaraan bermotor tetap dikelola
kendaraan proyek oleh petugas untuk mengurangi emisi buang dan
proyek. kebisingan
 Pengaturan jadwal jam kerja
proyek.
 Perawatan secara periodik
terhadap alat-alat kerja yang
digunakan dalam
pembangunan Kawasan Wisata
Flamboyan Bawah. agar dapat
mengurangi kebisingan yang
diakibatkan pada saat
beroperasinya alat tersebut.
 Untuk menghindari kebisingan
pada saat kegiatan
pengoperasian genset, telah
ditetapkan peraturan jarak
aman, untuk unit adalah 300 m
dari lokasi genset dan untuk
manusia berada pada jarak 500
m.

BAB I - 46
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
 Menggunakan alat proteksi
seperti earplug (tutup telinga)
untuk para pekerja.
 Perawatan dan pemeliharaan
kendaraan bermotor untuk
mengurangi emisi buang dan
kebisingan .
 Pembuatan landscape
disekeliling tapak proyek.
 Selain itu, rencana pengelolaan
lingkungan hidup yang
dilakukan adalah untuk
meminimalisasi konsentrasi
kebisingan agar tidak melebihi
baku tingkat kebisingan.
 Mengembangkan dan
memelihara sistem manajemen
terhadap kesehatan,
keselamatan, lingkungan (K-3)
dan masyarakat secara
konsisten dengan standar yang
diakui secara internasional
sehingga memungkinkan untuk
mengidentifikasi, menilai, dan
mengelola resiko terhadap
karyawan dan masyarakat
sekitar
Komponen Sosial,  Persepsi Kepadatan kegiatan demobilisasi , Disimpulkan tidak - -
Ekonomi dan Masyarakat dan akses jalan kemungkinan menjadi dampak
Budaya  Timbulnya besar akan menimbulkan penting hipotetik
keresahan perubahan persepsi di masyarakat
masyarakat sehingga perlu dilakukan
pengelolaan agar tidak terjadi
penolakan terhadap kegiatan
Gangguan lalu lintas Kepadatan lalu lintas dan akses Disimpulkan tidak - -
jalan kemungkinan besar akan menjadi dampak
menimbulkan perubahan persepsi penting hipotetik
di masyarakat sehingga perlu karena kajian lalu lintas
dilakukan pengelolaan agar akan dilakukan
tidak terjadi penolakan terhadap
kegiatan

BAB I - 47
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Komponen Keselamatan dan Adanya SOP yang dijalankan Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
Kesehatan peningkatan dengan baik akan mengurangi DPH sosial di Kelurahan tiga bulan
Masyarakat kesehatan kerja tingkat kecelakaan, namun sering Langkai, selama kegiatan
terjadinya kelalaian dan ketidak Kecamatan demobilisasi
patuhan para pekerja akan Pahandut, Kota peralatan
meningkatkan potensi kecelakaan Palangka Raya konstruksi
kerja Provinsi
Kalimantan
Tengah
C. Operasi
1 Aktivitas pariwisata Penanaman pohon pelindung Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Aktivitas pariwisata dapat Disimpulkan tidak - -
serta tanaman-tanaman di area Kimia udara meningkatkan kadar NOx serta CO menjadi DPH namun
masuk kawasan, selain itu dengan dari lalu lintas kendaraan tetap dikelola
pengaturan layout lokasi daerah pengunjung
konservasi dekat dengan pintu
masuk sedangkan area bermain
berada di tengah kawasan
konservasi akan mengurangi
dampak penurunan kualitas udara
dengan adanya aktivitas
pariwisata
Pengaturan tinggi rendah Komponen Geofisik- Peningkatan Kebisingan bisa diminimalkan Disimpulkan tidak - -
bangunan dan penanaman pohon Kimia kebisingan dengan pengaturan tinggi rendah menjadi DPH namun
pelindung serta tanaman-tanaman bangunan dan penanaman pohon di tetap dikelola
di area masuk kawasan, selain itu pintu masuk serta jalan ke kawasan,
dengan pengaturan layout lokasi selain itu pengaturan layout
daerah konservasi dekat dengan konservasi dan penempatan arena
pintu masuk sedangkan area bermain
bermain berada di tengah
kawasan konservasi
Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Aktivitas pariwisata menghasilkan Disimpulkan menjadi Sungai Kahayan 2 tahun
Kimia air limbah cair yaitu limbah domestic DPH
dari hasil kegiatan MCK para pekerja
dan pengunjung diprkirakan
sebanyak 10.000 orang sehingga
menghasilkan limbah cair sebanyak
50.000 liter/hari yang akan masuk ke
[Link] itu dari kegiatan
foodcourt juga Limbah cair ini
selanjutnya dapat menurunkan
kualitas air

BAB I - 48
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Limbah padat yang dihasilkan dar Komponen Geofisik- Peningkatan Limbah Peningkatan limbah padat pada Disimpulkan tidak - -
kegiatan ini akan dikumpulkan di Kimia Padat kegiatan ini telah dikelola menjadi DPH tetapi
Tempat Penampungan Sementara berdasarkan SOP akan dikelola
yang nantinya akan di kelola oleh
pihak Ketiga berdasarkan SOP
Komponen Biologi Perubahan jenis Tingkat kunjungan wisata dapat Disimpulkan tidak - -
flora darat menyebabkan kehilangan flora menjadi DPH tetapi
karena aktifitas wisatawan, namun akan dikelola
dengan adanya peraturan dan
pengawasan yang dilakukan secara
ketat akan mengurangi gangguan
terhadap flora
Komponen Biologi Perubahan jenis Tingkat kunjungan wisata dapat Disimpulkan tidak - -
fauna darat menyebabkan kehilangan fauna menjadi DPH tetapi
karena aktifitas wisatawan, namun akan dikelola
adanya penjagaan dan pengawasan
yang ketat dapat mengurangi
pengrusakan terhadap flora yang
merupakan habitat fauna
Gangguan biota Tingkat aktiftas operasional park Disimpulkan menjadi Lokasi kajian Enam bulan
perairan akan menghasilkan limbah cair yang DPH Sungai Kahayan selama kegiatan
menganggu komunitas biota air saat operasional
dibuang ke sistim perairan
Komponen Sosial, Terbukanya Masyarakat Menyambut baik Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
Ekonomi dan Kesempatan kerja dengan dimulainya operasional ini, DPH yang perlu sosial di Kelurahan selama kegiatan
Budaya dimana meraka dapat membuka dikelola karena Langkai, operasional
lapangan kerja baru dalam ikut masyarakat Kecamatan
serta berpartisipasi dalam kegiatan mendapatkan manfaat Pahandut, Kota
wisata lapangan kerja baru Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
Komponen Sosial, Terbukanya peluang Masyarakat Menyambut baik Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
Ekonomi dan usaha dengan dimulainya operasional ini, DPH yang perlu sosial di Kelurahan selama kegiatan
Budaya dimana meraka dapat membuka dikelola karena Langkai, operasional
peluang usaha baru untuk melayani masyarakat Kecamatan
para pengunjung mendapatkan manfaat Pahandut, Kota
peluang usaha baru Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah

BAB I - 49
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Peningkatan Masyarakat Menyambut baik Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
pendapatan dengan dimulainya operasional ini, DPH yang perlu sosial di Kelurahan satu bulan
masyarakat dimana meraka dapat membuka dikelola karena Langkai, selama kegiatan
peluang usaha baru sehingga akan masyarakat Kecamatan operasional
meningkatkan pendapatan mendapatkan manfaat Pahandut, Kota
masyarakat pendapatan Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
 Persepsi Kemungkinan terjadi Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
masyarakat Akumulasi keresahan yang bias dampak penting sosial di Kelurahan satu bulan
 Timbulnya menimbulkan yang bias menimbulkan hipotetik karena Langkai, selama kegiatan
keresahan ketidak nyamanan pada masyarakat masyarakat dapat Kecamatan operasional
masyarakat lokal menerima dengan baik Pahandut, Kota
adanya pengunjung ke Palangka Raya
Kawasan Wisata Provinsi
Flamboyan [Link] Kalimantan
Tengah
Komponen Sosial, Gangguan lalu lintas Kemacetan lalu Disimpulkan Termasuk batas Kajian dilakukan
Ekonomi dan lintas di lokasi kegiatan diakibatkan menjadi dampak sosial di Kelurahan satu tahun selama
Budaya oleh mobilisasi pengunjung menuju penting hipotetik, Langkai, kegiatan
lokasi dapat menyebabkan namun perlu dikelola Kecamatan operasional
kemacetan lalulintas terutama pada dengan pemasangan Pahandut, Kota
saat jam berangkat dan pulang Rambu-rambu lalu lintas Palangka Raya
kantor Provinsi
Kalimantan
Tengah

Komponen Gangguan Merupakan dampak lanjutan dari Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
Kesehatan kesehatan penurunan kualitas air dan gangguan DPH sosial di Kelurahan satu tahun selama
masyarakat masyarakat terhadap biota perairan Langkai, kegiatan
Kecamatan operasional
Pahandut, Kota
Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah

BAB I - 50
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Keselamatan dan Kegiatan aktivitas pariwisata sangat Disimpulkan menjadi Termasuk batas Kajian dilakukan
Kesehatan Kerja beresiko terjadinya peningkatan DPH sosial di Kelurahan satu tahun selama
kecelakaan kerja apabila tidak Langkai, kegiatan
dilakukan dengan prosedur kerja Kecamatan operasional
yang benar akan mengurangi Pahandut, Kota
angkat kecelakaan. Namun Palangka Raya
demikian dalam pelaksanaan Provinsi
kegiatan ini prosedur dan Kalimantan
penanggulangannya telah diatur Tengah
dalam peraturan tentang
keselamatan dan kesehatan kerja
(UU No. 1 Tahun 1970, tentang
Keselamatan Kerja, Peraturan
Menteri Tenaga Kerja RI No. Per
05/MEN/1996, tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja), Peraturan
Pemerintah No. 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan, OHSAS
18001:2009 : OHS Management
system (memuat spesifikasi Sistem
Manajemen K3) dengan demikian
hal ini merupakan upaya mitigasi
terhadap dampak kegiatan terhadap
keselamatan dan kesehatan kerja.
Walaupun demikian sebagian
masyarakat maupun para pekerja
yang bermukim di sekitar lokasi
kegiatan pembangunan Kawasan
Wisata Flamboyan Bawah. masih
belum semua mematuhi peraturan
yang ada, sehingga perlu dikaji
lebih lanjut dalam ANDAL
3 Mobilisasi pengunjung Penanaman pohon pelindung Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Aktivitas pariwisata dapat Disimpulkan tidak - -
serta tanaman-tanaman di area Kimia udara meningkatkan kadar NOx serta CO menjadi DPH namun
masuk kawasan, selain itu dengan dari lalu lintas kendaraan tetap dikelola
pengaturan layout lokasi daerah pengunjung
konservasi dekat dengan pintu
masuk sedangkan area bermain
berada di tengah kawasan
konservasi mengurangi dampak

BAB I - 51
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
Pengaturan tinggi rendah Peningkatan Kebisingan bisa diminimalkan Disimpulkan tidak - -
bangunan dan penanaman pohon kebisingan dengan pengaturan tinggi rendah menjadi DPH namun
pelindung serta tanaman2 di area bangunan dan penanaman pohon di tetap dikelola
masuk kawasan, selain itu dengan pintu masuk serta jalan ke kawasan,
pengaturan layout lokasi daerah selain itu pengaturan layout
konservasi dekat dengan pintu konservasi dan penempatan arena
masuk sedangkan area bermain bermain
berada di tengah kawasan
konservasi
Komponen Sosial, Gangguan lalu lintas Mobilisasi pengunjung yang keluar Disimpulkan menjadi Termasuk batas Enam bulan
Ekonomi dan masuk areal Kawasan Wisata DPH sosial di Kelurahan selama kegiatan
Budaya Flamboyan [Link] pada Langkai, operasional
kemacetan arus lalu lintas di jalan Kecamatan
sekitarnya. Pahandut, Kota
Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
Komponen Gangguan Mobilisasi pengunjung yang keluar Disimpulkan menjadi Termasuk batas Enam bulan
Kesehatan kesehatan masuk areal Kawasan Wisata DPH sosial di Kelurahan selama kegiatan
masyarakat masyarakat Flamboyan Bawah. berdampak pada Langkai, operasional
gangguan kesehatan Kecamatan
Pahandut, Kota
Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah

Keselamatan dan Mobilisasi pengunjung yang keluar Disimpulkan menjadi Termasuk batas Enam bulan
kesehatan kerja masuk areal Kawasan Wisata DPH sosial di Kelurahan selama kegiatan
Flamboyan [Link] Langkai, operasional
peningkatan kecelakaan kerja Kecamatan
Pahandut, Kota
Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
4 Utilitas Penanaman pohon pelindung Komponen Geofisik- Penurunan kualitas Aktivitas pariwisata dapat Disimpulkan tidak - -
serta tanaman-tanaman di area Kimia udara meningkatkan kadar NOx serta CO menjadi DPH namun
masuk kawasan, selain itu dengan dari lalu lintas kendaraan tetap dikelola
pengaturan layout lokasi daerah pengunjung

BAB I - 52
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
konservasi dekat dengan pintu
masuk sedangkan area bermain
berada di tengah kawasan
konservasi akan mengurangi
dampak penurunan kualitas udara
dengan adanya aktivitas
pariwisata

Pengaturan tinggi rendah Peningkatan Kebisingan bisa diminimalkan Disimpulkan tidak - -


bangunan dan penanaman pohon kebisingan dengan pengaturan tinggi rendah menjadi DPH namun
pelindung serta tanaman2 di area bangunan dan penanaman pohon di tetap dikelola
masuk kawasan, selain itu dengan pintu masuk serta jalan ke kawasan,
pengaturan layout lokasi daerah selain itu pengaturan layout
konservasi dekat dengan pintu konservasi dan penempatan arena
masuk sedangkan area bermain bermain
berada di tengah kawasan
konservasi

Penurunan kualitas Kegiatan Utilitas menghasilkan Disimpulkan menjadi Lokasi kajian 2 tahun
air limbah cair yaitu limbah domestic DPH Kahayan
dari hasil kegiatan MCK para pekerja
Total pekerja pada tahap ini adalah
sebanyak 250 orang sehingga
menghasilkan limbah cair sebanyak
700 liter/hari yang akan masuk ke
[Link] itu dari kegiatan
pengurasan kolam renang
jugamenghasilkan Limbah cair.
selanjutnya dapat menurunkan
kualitas air terutama parameter
BOD, COD, TSS, dan Deterjen
Limbah padat yang dihasilkan dar Komponen Geofisik- Peningkatan Limbah Peningkatan limbah padat pada Disimpulkan tidak - -
kegiatan ini akan dikumpulkan di Kimia Padat kegiatan ini telah dikelola menjadi DPH tetapi
Tempat Penampungan Sementara berdasarkan SOP akan dikelola
yang nantinya akan di kelola oleh
pihak Ketiga berdasarkan SOP
Limbah B3 yang dihasilkan telah Timbulnya Limbah Limbah B3 dihasilkan dari Disimpulkan tidak - -
dikelola dengan menggunakan B3 pemeliharaan berupa oli bekas, menjadi DPH tetapi
SOP lampu, batu baterai, sudah dapat akan dikelola
dikelola menggunakan Peraturan
perundang-undangan

BAB I - 53
Deskripsi Rencana Pengelolaan Lingkungan yang Pelingkupan
Komponen
Kegiatan yang Berpotensi Sudah Direncanakan Sejak Awal Batas Waktu
No Lingkungan Dampak Penting Wilayah Studi
Menimbulkan Dampak Sebagai Bagian dari Rencana Dampak Potensial Evaluasi Dampak Potensial Kajian
Terkena Dampak Hipotetik
Lingkungan Kegiatan
- Komponen Biologi Gangguan biota Tingginya akitifitas utilitas disekitar Disimpulkan menjadi Lokasi kajian Tiga bulan selama
perairan wilayah Kawasan Wisata Flamboyan DPH Sungai Kahayan kegiatan
[Link] menghasilkan limbah operasional
cair dan padat yang masuk ke sistim
perairan sehingga menganggu biota
perairan
- Komponen Sosial,  Persepsi Adanya potensi air sisa Disimpulkan tidak Termasuk batas Selama proses
Eknomi dan Budaya masyarakat buangan/limbah selama utilitas menjadi DPH dilakukan sosial di Kelurahan utilitas berlangsung
 Timbulnya pengelolaan dengan Langkai,
Keresahan pembuatan septitank, Kecamatan
masyarakat resapan air limbah dan Pahandut, Kota
saluran Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
- Kesehatan Gangguan Adanya potensi air sisa Disimpulkan tidak Termasuk batas Selama proses
masyarakat kesehatan buangan/limbah selama utilitas menjadi DPH dilakukan sosial di Kelurahan utilitas berlangsung
masyarakat pengelolaan dengan Langkai,
pembuatan septitank, Kecamatan
resapan air limbah dan Pahandut, Kota
saluran Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah
- Keselamatan dan Adanya potensi untuk terjadinya Disimpulkan tidak Termasuk batas Selama proses
kesehatan kerja Insiden Kecelakaan kerja pada saat menjadi DPH perlu di sosial di Kelurahan utilitas berlangsung
melakukan utilitas kelola karena telah Langkai,
menggunakan APD, Kecamatan
rambu-rambu dan K3 Pahandut, Kota
Palangka Raya
Provinsi
Kalimantan
Tengah

BAB I - 54

Anda mungkin juga menyukai