Dalam kimia, sebuah logam (bahasa Yunani: μέταλλον, metallon;
[1] bahasa Inggris: metal[2])
adalah material (sebuah unsur, senyawa, atau paduan) yang
biasanya keras tak tembus cahaya, berkilau, dan
memiliki konduktivitas listrik dan termal yang baik. Logam
umumnya liat—yaitu dapat ditempa atau ditekan permanen hingga
berubah bentuk tanpa patah atau retak—dan juga fusibel (bisa
dilelehkan) dan ulet (dapat ditarik hingga membentuk kawat halus).
[3] Sekitar 91 dari 118 unsur dalam tabel periodik adalah logam;
sisanya adalah nonlogam atau metaloid. Beberapa unsur
menunjukkan sifat baik logam dan nonlogam sekaligus.
Astrofisikawan menggunakan istilah "metal" untuk menjelaskan
secara kolektif seluruh unsur selain hidrogen dan helium, dua unsur
paling sederhana, dalam suatu bintang. Bintang memfusi atom-
atom yang lebih kecil, sebagian besar terdiri dari hidrogen dan
helium, untuk membuat atom yang lebih besar selama masa
hidupnya. Dalam pengertian itu, metalisitas suatu objek adalah
proporsi dari materi yang menyusun seluruh unsur kimia yang lebih
berat, tidak hanya logam-logam tradisional. [4]
Banyak unsur dan senyawa yang tidak diklasifikasikan secara
normal sebagai logam menjadi logam pada tekanan tinggi; ini
terbentuk sebagai alotropi metalik dari non logam.
Struktur dan ikatan
[sunting | sunting sumber]
hcp and fcc close-packing of spheres
Atom zat logam biasanya tersusun dalam salah satu dari
tiga struktur kristal umum, antara lain body-centered
cubic (bcc), face-centered cubic (fcc), dan hexagonal close-
pack (hcp). Dalam bcc, masing-masing atom terletak di pusat kubus
dikelilingi atom lainnya. Dalam fcc dan hcp, masing-masing atom
dikelilingi oleh duabelas atom lainnya, tetapi susunan lapisannya
berbeda. Beberapa logam mengadopsi struktur yang berbeda,
tergantung pada suhu.[5]
Atom logam mudah kehilangan elektron kelopak terluarnya,
menghasilkan awan elektron bebas yang mengalir dalam
pengaturan sifatnya yang padat. Hal ini menyebabkan kemampuan
zat logam menjadi mudah menghantarkan panas dan listrik. Jika
aliran elektron ini terjadi, karakteristik padat dari logam dihasilkan
oleh interaksi elektrostatis di antara masing-masing atom dan awan
elektron. Ikatan jenis ini disebut ikatan logam.[6]
Sifat-sifat
[sunting | sunting sumber]
Kimia
[sunting | sunting sumber]
Logam biasanya cenderung membentuk kation melalui mekanisme
kehilangan elektron,[6] bereaksi dengan oksigen di udara
membentuk oksida melalui beragam skala waktu
(besi berkarat setelah bertahun-tahun, sementara kalium terbakar
dalam hitungan detik. Contoh:
4 Na + O2 → 2 Na2O (natrium oksida)
2 Ca + O2 → 2 CaO (kalsium oksida)
4 Al + 3 O2 → 2 Al2O3 (aluminium oksida).
Logam transisi (seperti besi, tembaga, seng, dan nikel) lebih lambat
teroksidasi karena mereka membentuk lapisan pasivasi oksidanya
yang melindungi bagian dalam logam. Lainnya,
seperti paladium, platina dan emas, tidak bereaksi sama sekali
dengan atmosfer. Beberapa logam membentuk
lapisan oksida penghalang pada permukaannya yang tidak dapat
ditembus lebih jauh oleh molekul-molekul oksigen, sehingga dapat
mempertahankan kilau dan konduktivitasnya selama beberapa
dekade (seperti aluminium, magnesium, beberapa jenis baja,
dan titanium). Oksida logam umumnya bersifat basa, berlawanan
dengan nonlogam, yang bersifat asam. Pengecualian berlaku untuk
oksida dengan tingkat oksidasi sangat tinggi seperti CrO, Mn, dan
OsO, yang bereaksi sangat asam.