0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Praktik Sewa-Menyewa Tanpa Izin

Dokumen ini membahas pentingnya kerja sama dalam masyarakat, khususnya dalam konteks sewa-menyewa. Praktik oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Gununganyar Surabaya menjadi fokus utama, dengan penekanan pada permasalahan hukum yang muncul dari tindakan tersebut. Selain itu, dokumen ini juga mengacu pada ajaran Islam dan ketentuan hukum positif terkait sewa-menyewa.

Diunggah oleh

hajopan.pgrb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Praktik Sewa-Menyewa Tanpa Izin

Dokumen ini membahas pentingnya kerja sama dalam masyarakat, khususnya dalam konteks sewa-menyewa. Praktik oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Gununganyar Surabaya menjadi fokus utama, dengan penekanan pada permasalahan hukum yang muncul dari tindakan tersebut. Selain itu, dokumen ini juga mengacu pada ajaran Islam dan ketentuan hukum positif terkait sewa-menyewa.

Diunggah oleh

hajopan.pgrb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Telah menjadi kodrat bagi manusia sebagai makhluk sosial. Dalam

kehidupannya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari

orang lain. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia selalu membutuhkan antara

yang satu dengan yang lainnya dalam arti hidup manusia. Merupakan himpunan

atau kesatuan yang hidup bersama dan menimbulkan hubungan timbal balik.

Untuk mencapai kemajuan dan tujuan hidup tersebut manusia perlu bekerja sama

dan saling tolong menolong antara sesama. Sebagaimanaa dalam surat Al-

Maidah ayat 2 :

tÏiΒ!#u Iωuρ y‰Íׯ≈n=s)ø9$# Ÿωuρ y“ô‰oλù;$# Ÿωuρ tΠ#tptø:$# töꤶ9$# Ÿωuρ «!$# uÈ∝¯≈yèx© (#θ=ÏtéB Ÿω (#θãΖtΒ#u tÏ%©!$# $pκš‰r'¯≈tƒ

ãβ$t↔oΨx© öΝä3¨ΖtΒÌøgs† Ÿωuρ 4 (#ρߊ$sÜô¹$$sù ÷Λäù=n=ym #sŒÎ)uρ 4 $ZΡ≡uθôÊÍ‘uρ öΝÍκÍh5§‘ ÏiΒ WξôÒsù tβθäótGö6tƒ tΠ#tptø:$# |MøŠt7ø9$#

(#θçΡuρ$yès? Ÿωuρ ( 3“uθø)−G9$#uρ ÎhÉ9ø9$# ’n?tã (#θçΡuρ$yès?uρ ¢ (#ρ߉tG÷ès? βr& ÏΘ#tptø:$# ωÉfó¡yϑø9$# Çtã öΝà2ρ‘‰|¹ βr& BΘöθs%

∩⊄∪ É>$s)Ïèø9$# ߉ƒÏ‰x© ©!$# ¨βÎ) ( ©!$# (#θà)¨?$#uρ 4 Èβ≡uρô‰ãèø9$#uρ ÉΟøOM}$# ’n?tã

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar


Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang h{ad-ya, dan binatang-binatang
qala>-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan
dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji,
maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).

1
2

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan


takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Amat berat siksa-Nya.1

Dari sekian aspek kerja sama dan hubungan timbal balik antar manusia

maka sewa-menyewa termasuk salah satu aspek tersebut. Dalam meningkatkan

kesejahteraan hidup manusia, aspek sewa-menyewa ini sangat penting perannya.

Mereka selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan primer

maupun kebutuhan sekunder. Oleh sebab itu mereka membutuhkan rumah untuk

bertempat tinggal, membutuhkan binatang untuk kendaraan dan angkutan,

membutuhkan tanah untuk pertanian baik sawah dan tambak serta membutuhkan

peralatan hidup untuk digunakan dalam kebutuhannya.

Praktek sewa menyewa di tengah-tengah masyarakat banyak sekali liku-

likunya. Dengan demikian tanpa adanya aturan dan norma-norma yang tepat

maka sudah barang tentu menimbulkan bencana dan kerusakan dalam

masyarakat seperti permasalahan penerapan panjar (uang muka), DP (Down

Payment), atau al-urbun dan permasalahan transaksi oper sewa (Badal Khuluw)

tanpa izin pemilik. Tanpa kita sadari (pemilik) di tengah-tengah masyarakat

banyak sekali penyewa nakal seolah-olah memiliki hak atas barang sewaannya

sehingga melakukan transaksi oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik

yang terjadi di Kecamatan Gununganyar Surabaya.

1
Khadim al Haramainn asy Syarifain, Al Qur’an dan Terjemahnya ( Saudi Arabia :
Mujamma’ Al Malik Fahd, 1990), 156-157.
3

Sebuah fenomena yang cukup menarik, berhasil penyusun temui dari

pengamatan terhadap kegiatan oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di

Kecamatan Gununganyar Surabaya. Pada kasus ini yang unik adalah keberadaan

si penyewa melakukan praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik.

Ada pihak yang menganut pandangan bisnis bahwa oper sewa merupakan hak

milik sementara, ada juga yang menganggap praktek tersebut memanfaatkan

kesempatan dalam kesempitan sehingga merugikan salah satu pihak. Hal itu

disebabkan tidak ada bukti, atau surat perjanjian pada waktu pembayaran uang

sewa dari penyewa pertama tentang kejelasan.2

Kebutuhan tempat tinggal yang bertambah membuat harga rumah

meningkat bahkan tidak semua orang bisa membeli. Cara yang terbaik untuk

sementara waktu bagi perantau yang jauh dari rumah seperti mahasiswa dan

karyawan adalah rumah kontrakan. Harga relatif terjangkau dan mempunyai

tetangga dari karakter tetangga berbeda yang tidak bisa ditemui jika tinggal

dikampung halaman sendiri.

Pencari rumah sewa yang semakin banyak membuat para penyewa

menciptakan strategi untuk mencari untung dengan menerapkan oper sewa tanpa

izin pemilik dengan harga lebih tinggi dari harga pertama ia sewa jika ingin

menyewa. Hal itu dimaksudkan agar pengelola perlu mengontrol rumah yang

disewakan agar tidak ada orang lain yang mempunyai maksud sama. Walaupun

2
Deh Putri, Wawancara, selaku penyewa kedua Gununganyar, 01 Januari 2013.
4

sudah membayar dan menyewa, namun belum tentu orang tersebut benar-benar

akan jadi menyewa rumah yang dimaksud. Jika terjadi oper sewa tentu pengelola

rumah kontrakan sudah mendapatkan kerugian karena uang yang disewa tidak

sesuai dengan akad awal. Adapun ketentuan Al-qur’an tentang sewa-menyewa

terdapat dalam surat Az Zukhruf ayat 32 :

‫ﻕ‬
َ ‫ﻀ ُﻬ ْﻢ ﹶﻓ ْﻮ‬
َ ‫ﺤﻴَﺎ ِﺓ ﺍﻟ ﱡﺪْﻧﻴَﺎ َﻭ َﺭﹶﻓ ْﻌﻨَﺎ َﺑ ْﻌ‬
َ ‫ﺸَﺘﻬُ ْﻢ ﻓِﻲ ﺍﹾﻟ‬َ ‫ﺴ ْﻤﻨَﺎ َﺑْﻴَﻨ ُﻬ ْﻢ َﻣﻌِﻴ‬
َ ‫ﺤﻦُ ﹶﻗ‬
ْ ‫ﻚ َﻧ‬َ ‫ﺴﻤُﻮ ﹶﻥ َﺭ ْﺣ َﻤ ﹶﺔ َﺭِّﺑ‬
ِ ‫ﹶﺃ ُﻫ ْﻢ َﻳ ﹾﻘ‬
( ) ‫ﺠ َﻤﻌُﻮ ﹶﻥ‬ ْ ‫ﻚ َﺧْﻴ ٌﺮ ِﻣﻤﱠﺎ َﻳ‬
َ ‫ﺎ َﻭ َﺭ ْﺣ َﻤﺔﹸ َﺭِّﺑ‬‫ﺨ ِﺮﻳ‬
ْ ‫ﺨ ﹶﺬ َﺑ ْﻌﻀُﻬُ ْﻢ َﺑ ْﻌﻀًﺎ ُﺳ‬
ِ ‫ﺕ ِﻟَﻴﱠﺘ‬
ٍ ‫ﺾ َﺩ َﺭﺟَﺎ‬ٍ ‫َﺑ ْﻌ‬
Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian
yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat
mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik
dari apa yang mereka kumpulkan.3

Sementara itu dalam urusan sewa-menyewa Nabi SAW pun telah

mengajurkan kepada para sahabat, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh

Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Sa’ad bin Abi Waqash r.a. berkata :

‫ﻚ‬
َ ‫ﺻﻠﱠﻰ ﺍﷲ ُ َﻋﹶﻠْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱠ َﻢ َﻋ ْﻦ ﹶﺫِﻟ‬
َ ‫ﷲ‬
ِ ‫ﻉ ﹶﻓَﻨﻬَﻰ َﺭﺳُ ْﻮ ﹸﻝ ﺍ‬
ِ ‫ﺴﻮَﺍ ﻗِﻰ ِﻣ َﻦ ﺍﻟ ﱠﺰ ْﺭ‬
‫ﺽ ِﺑ َﻤﺎ ﻋَﻠ َﻰ ﺍﻟ ﱠ‬ ِ ‫ﹸﻛﻨﱠﺎ ُﻧ ﹾﻜﺮٍﻯ ﹾﺍ ﹶﻻ ْﺭ‬
(‫ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﲪﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬.‫ﻕ‬ ٍ ‫ﺐ ﹶﺍ ْﻭ َﻭ َﺭ‬
ٍ ‫َﻭﹶﺍ َﻣ َﺮﻧَﺎ ﹶﺍ ﹾﻥ ﱡﻧ ﹾﻜ ِﺮَﻳﻬَﺎ ِﺑ ﹶﺬ َﻫ‬

Atinya : “Dahulu kami menyewa tanah dengan (jalan membayar dari) tanaman
yang tumbuh. Lalu Rasullah saw melarang kami cara itu dan
memerintahkan kami agar membayar dengan uang, emas, atau
perak”.4

3
Khadim al Haramainn asy Syarifain, Al Qur’an dan Terjemahnya ( Saudi Arabia :
Mujamma’ Al Malik Fahd, 1990), 798.
4
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid XIII, (Bandung : al-Ma’arif, 1996), 18.
5

Jadi jelaslah, bahwa mengambil manfaat dengan jalan penggantian yang

disebut dengan sewa-menyewa dibolehkan.5 Hal ini pun telah disepakati oleh

seluruh fuqaha’ masa pertama yaitu Imam Syafi’I, dan Imam Malik. Walaupun

sebagian ulama’ ada yang melarangnya yaitu Imam Hanafi.6

Sementara itu didalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia

juga mengatur pasal-pasal tentang sewa-menyewa yakni Bab Ketujuh Buku

Ketiga. Pada pasal 1549 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dijelaskan bahwa

semua jenis barang yang bergerak maupun tidak bergerak dapat disewakan.7

Berpijak pada pasal 1559 KUHPer terdapat larangan untuk melakukan

ulang-sewa (over-sewa) tanpa izin pemilik, juga melepaskan sewanya kepada

orang lain sebagaimana bunyi Pasal 1559 BW :

“Si penyewa, jika kepadanya tidak telah diperizinkan, tidak


diperbolehkan mengulang-sewakan barang yang disewanya, maupun melepaskan
sewanya kepada orang lain, atas ancaman pembatalan perjanjian sewa dan
penggantian biaya, rugi dan bunga sedangkan pihak yang menyewakan setelah
pembatalan itu, tidak diwajibkan mentaati perjanjian ulang-sewa tersebut.”8

Dalam bunyi pasal 1559 KUHPer tersebut telah jelas bahwa ”mengulang-

sewakan” maupun ”melepas-sewakan” barang kepada orang lain tanpa izin

pemilik hal ini tidak diperbolehkan. Adanya perbedaan antara mengulang-

sewakan dan melepas sewanya kepada orang lain, hal ini mempunyai maksud

5
Sohari Sahrani, Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2011), 169.
6
Ibid., 168.
7
Subekti,Tjitrosubidio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (Jakarta : Pradnya Paramita,
2006), 381.
8
Ibid., 383.
6

sebagai berikut : dalam hal mengulang-sewakan, si penyewa bertindak sendiri

sebagai pihak yang menyewakan dalam suatu perjanjian sewa-menyewa kedua

yang telah diadakan olehnya dengan seorang pihak ketiga.

Sedangkan dalam hal melepaskan sewanya ia mengundurkan diri sebagai

penyewa, sehingga pihak ketiga tersebut berhadapan sendiri dengan pihak yang

menyewakan. Jika si penyewa sampai berbuat apa yang telah dilarang dalam

perjanjian tersebut, maka pihak yang menyewakan dapat meminta pembatalan

perjanjian sewanya dengan disertai pembayaran kerugian. Sedangkan pihak yang

menyewakan, setelah dilakukannya pembatalan itu tidak diwajibkan mentaati

perjanjian ulang-sewa dengan orang ketiga tersebut.

Akan tetapi perbuatan oper sewa barang kepada orang lain tanpa izin dari

pemilik barang maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Misal seseorang menyewa

rumah yang dalam akad perjanjian sewa-menyewa rumah tersebut tidak

diperjanjikan untuk diulang-sewakan kepada orang lain, namun secara diam-diam

tanpa persetujuan dari pemilik barang (rumah tersebut) si penyewa menyewakan

rumah yang disewanya itu kepada orang lain. Dengan demikian, perbuatan-

perbuatan dari si penyewa rumah tersebut telah melakukan bentuk

penyimpangan dalam pasal 1559 BW.

Berdasarkan kegelisahan terhadap permasalahan oper sewa rumah

kontrakan tanpa izin pemilik tersebut, maka penyusun sangat tertarik untuk
7

meneliti pandangan hukum Islam dan hukum positif terhadap kasus oper sewa

rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Surabaya.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Dari paparan Latar Belakang Masalah tersebut diatas kajian ini dapat di

Identifikasikan sebagai berikut :

a. Tinjauan hukum, baik hukum positif dan hukum Islam, jika rumah

kontrakan yang masih dalam masa sewa di oper sewakan kepada penyewa

lain oleh penyewa pertama tanpa izin pemilik.

b. Terjadi transaksi oper sewa, padahal rumah masih dalam masa sewanya.

c. Akad yang dilakukan pada saat transaksi sewa menyewa.

d. Kerugian yang dialami pihak penyewa kedua dan pemilik rumah.

e. Pengetahuan tentang hak dan kewajiban penyewa dan pemilik masih

kurang.

f. Syarat bagi rumah yang masih dalam akad sewa yang di oper sewakan

oleh penyewa tanpa izin pemilik.

2. Batasan Masalah

Kajian ini hanya membahas seputar oper sewa tanpa izin dari pemilik dan

akibat hukum barang baik dari segi hukum Islam maupun dari segi hukum

positif. Oleh karena itu, pembatasan masalah yang dirumuskan sebagai

berikut :
8

1) Bagaimanakah praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di

Kecamatan Gununganyar Surabaya?

2) Bagaimanakah Komparasi Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap

praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan

Gununganyar Surabaya?

C. Rumusan Masalah

Agar lebih operasional, maka studi ini dirumuskan dalam bentuk

pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

a. Bagaimanakah praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di

Kecamatan Gununganyar Surabaya?

b. Bagaimanakah Komparasi Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap praktek

oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Gununganyar

Surabaya?

D. Kajian Pustaka

Tinjauan pustaka ini intinya adalah untuk mendapatkan gambaran

hubungan topik yang akan di teliti dengan penelitian sejenis yang pernah

dilakukan oleh penelitian sebelumnya.9

Upaya membahas masalah oper sewa telah di bahas oleh saudara M.

Khulaibi Aliful Wafa yang membahas tentang “Tinjauan Hukum Islam tentang

9
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada,1999), 135.
9

oper sewa lahan tambak tanpa izin pemilik (Studi Analisi di Desa kemudi

Kecamatan Dudusampeyan Gresik)”10 yang intinya membahas tentang

bagaimana deskripsi praktek oper sewa lahan tambak tanpa izin pemilik Desa

kemudi kecamatan Dudusampeyan Gresik serta bagaimana tinjauan hukum

Islam.

Adapun judul skripsi sebelumnya membahas mengenai ”Studi Analisis

Penjualan Tambak yang Masih Dalam Masa Sewa Kepada Pihak Lain di Desa

Prasung Tambak Kecamatan Buduran Sidoarjo Dalam Prespektif Hukum Positif

dan Hukum Islam” 2009 oleh saudari Luluk Maflul.11 Intinya dalam judul skripsi

tersebut membahas mengenai tambak yang masih dalam masa sewa diperjual

belikan oleh pemiliknya dalam tinjau hukum positif dan hukum Islam.

Berdasarkan penelurusan tersebut, maka judul skripsi penulis meneliti

tentang masalah “Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap oper sewa

rumah kontrakan tanpa izin pemilik (Studi Kasus Oper Sewa Rumah Kontrakan

Kecamatan Gununganyar Surabaya)” berbeda dengan penelitian yang dilakukan

sebelumnya, sehingga tidak ada pengulangan. Dengan maksud penulis teliti yang

intinya mengenai rumah kontrakan yang masih dalam perjanjian sewa di oper

sewakan kepada orang lain tanpa izin pemilik rumah menurut hukum Islam dan

10
M. Khulaibi Aliful Wafa, ”Tinjauan Hukum Islam Terhadap Lahan Tambak Tanpa Izin
Pemilik (Studi Analisi di Desa Kemudi Kecamatan Dudusampeyan Gresik) ,” Jurusan Muamalat
Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2007.
11
Luluk Maflul, ”Studi Analisis Penjualan Tambak yang Masih Dalam Masa Sewa Kepada
Pihak Lain Di Desa Prasung Tambak Kecamatan Buduran Sidoarjo”, Jurusan Muamalat Fakultas
Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya : Skripsi Tidak dipublikasikan, 2009.
10

hukum positif. Sehingga penelitian ini bukan mengulangi penelitian-penelitian

terdahulu, tapi penelitian ini benar-benar memiliki nuansa berbeda dari

penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

E. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, Maka penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya praktek oper sewa rumah

kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Gununganyar Surabaya

2. Untuk mengetahui pandangan Hukum Islam dan Hukum Positif tentang

praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan

Gununganyar Surabaya.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain :

1) Teoritis

Kegunaan teoritis dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi

dan pengetahuan yang dapat dijadikan sumbangan pemikiran bagi Jurusan

Muamalat terutama tentang pandangan hukumn Islam terhadap praktek oper

sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik.

2) Praktis

Kegunaan praktis dari penemuan ini adalah dapat dijadikan sebagai

bahan pertimbangan bagi masyarakat yang suka dengan sewa menyewa rumah
11

agar memperhatikan perjanjian sehingga tidak dirugikan oleh penyewa kedua

dan pemilik rumah sewa dianjurkan agar lebih sering mengontrol para penyewa

rumahnya.

G. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah penjelasan definisi dari variable yang telah

dipilih dalam penelitian yang merujuk pada kepustakaan. Skripsi ini berjudul

“Studi Komparasi Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Oper Sewa Rumah

Tanpa Izin Pemilik (Studi Kasus Oper Sewa Rumah Kontrakan di Kecamatan

Gununganyar Surabaya)”. Agar diperoleh pengertian yang jelas dan batasan-

batasan yang tegas tentang arah dan tinjauan yang terkandung dalam konsep

penelitian. Maka perlu dijelaskan tentang definisi operasional yang menjelaskan

beberapa istilah kunci yang tercantum didalamnya yaitu :

1. Hukum Islam : Tinjauan atau sudut pandang mengenai oper sewa rumah

tanpa izin pemilik menurut ketentuan hukum yang terkait dengan hukum

mu’amalah atau ekonomi Islam dengan konsep oper sewa dan sewa menyewa

yang berdasarkan Al-Qur’an, As Sunnah, dan pendapat ulama’.

2. Hukum Positif : Tinjauan atau sudut pandang mengenai oper sewa rumah

yang masih dalam masa sewa yang berpacu berdasarkan hukum tertulis yakni

KUHPerdata seperti Kitab Undang - undang Hukum Perdata, Undang –

undang Pokok Agraria, Pokok – pokok hukum perdata, Hukum Agraria

Indonesia, dan Peraturan Pemerintah No.4 Tahun 1994. Yang berlaku dan
12

mengikat secara umum dan khusus, dimana masyarakat menaati dan

menerapkan hukum tersebut menaati dan menerapkan hukum tersebut untuk

anggota masyarakat itu sendiri dan ditentukan oleh penguasa negara.

3. Oper sewa : Menyewakan barang sewaan yang dilakukan oleh pihak penyewa

pertama kepada penyewa pihak kedua.

H. Metode Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini di laksanakan di Kecamatan Gununganyar Surabaya.

Adapun pemilihan lokasi ini didasarkan atas beberapa pertimbangan antara

lain :

a. Karena di Kecamatan Gununganyar Surabaya merupakan perumahan dan

masyarakat di daerah tersebut adalah mayoritas pegawai kantor.

b. Karena di Kecamatan tersebut merupakan daerah yang strategis bagi

penulis untuk teliti. Sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan

penghimpunan data yang sesuai dengan permasalahan diatas.

2. Data yang di himpun

Data yang dihimpun secara garis besar adalah sebagai berikut :

a. Proses terjadinya oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemik.

b. Cara penyewa rumah menawarkan atau mengoper sewakan kembali

rumah sewaan kepada orang lain.

c. Cara melakukan akad oper sewa rumah


13

d. Cara melakukan pembayaran

e. Oper sewa menurut Hukum Islam

f. Oper sewa menurut Hukum Positif

3. Sumber data

Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah terdiri dari :

a. Sumber Primer

Sumber yang diperoleh dari sumber-sumber asli yang member

informasi langsung dalam penelitian.12 Dan sumber tersebut diantaranya :

Mu’ji>r, dan Musta’ji>r yang pernah melakukan akad oper sewa

rumah kontrakan tanpa izin pemilik.

b. Sumber Sekunder

Sumber yang diperoleh dari sumber yang tidak langsung

memberikan informasi atau data tersebut.13 Dalam kaitan ini sumber

sekunder penelitian lapangan ini diantaranya:

1. Kitab – kitab Fiqih : Bidayatul Mujtahid, Fiqih Muamalah, Fiqih

Imam Syafi’i, Fiqih Sunnah, Dasar-dasar Hukum Ekonomi Islam, dan

Hukum Perjanjian dalam Perspektif Islam.

2. Kitab – kitab Perdata : Kitab Undang - undang Hukum Perdata,

Undang – undang Pokok Agraria, Pokok – pokok hukum perdata,

12
Tatang [Link], Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta : PT Raja Grafindo, 1995), 132.
13
Ibid, 132.
14

Hukum Agraria Indonesia, dan Peraturan Pemerintah No.4 Tahun

1994.

4. Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh data yang kongkrit, peneliti menggunakan teknik-

teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Wawancara

Metode ini di lakukan untuk memperoleh data melalui Tanya

jawab kepada pihak yang berwenang mengenai permasalahan yang di

hadapi. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang sesuai dengan

penelitian wawacara penulis dilakukan dengan tatap muka langsung

(personal interview) karena dengan cara ini akan diperoleh informasi

yang ada di lapangan.14 Wawancara ini dilakukan dengan pihak-pihak

yang kompeten, seperti penyewa kedua (musta’ji>r kedua), pemilik rumah

(mu’ji>r), dan warga masyarakat yang terlibat didalamnya.

b. Studi Dokumen

Yaitu mencari data tertulis yang berkaitan dengan penelitian

tentang oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik sebagai penunjang

kelengkapan obyek penelitian.

14
[Link], Metode penelitian ,(Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988), 235.
15

5. Teknik analisis data.

Setelah data berkumpul, langkah selanjutnya adalah analisa terhadap

fakta-fakta dan informasi yang diperoleh dengan menggunakan metode

deskriptif analisis yaitu memberikan gambaran secara umum selanjutnya

dilakukan analisis terhadap sumber-sumber atau literatur yang di peroleh

sebelumnya.

Adapun dalam penganalisaan data, penulis menggunakan dasar-dasar

hukum Islam dan hukum positif mengenai oper sewa yang kemudian

digunakan untuk meninjau tentang praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa

izin pemilik di kecamatan Gununganyar Surabaya.

I. Sistematika Pembahasan

Untuk lebih mengarah tercapainya tujuan pada pembahasan skripsi ini

maka penulis membuat sistematika pembahasan tulisan skripsi yang terdiri dari

lima bab yang masing-masing bab berisi pembahasan sebagai berikut :

Bab pertama merupakan bagaian pendahuluan yang meliputi latar

belakang masalah, rumusan masalah. Kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan

hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika

pembahasan.

Bab kedua dibahas masalah tentang sewa menyewa dalam hukum Islam

dan hukum positif, yang terdiri dari pengertian sewa menyewa, pengertian
16

perjanjian, syarat-syarat dalam pembentukan perjanjian, pengertian oper sewa,

dan landasan hukum sewa menyewa.

Bab ketiga berisikan tentang penyajian data empiris yang berhasil

dihimpun dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis yang terdiri dari

sewa menyewa dalam hukum Islam, sewa menyewa dalam hukum positif,

gambaran rumah kontrakan, praktek sewa menyewa rumah kontrakan, cara

praktek oper sewa rumah kontrakan, dan faktor-faktor yang menimbulkan

pertikaian antara pengoper sewa (musta’ji>r) dengan pihak penyewa kedua

(musta’ji>r kedua).

Bab keempat berisikan tentang persamaan dan perbedaan antara hukum

Islam dan hukum positif terhadap praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin

pemilik kecamatan Gununganyar Surabaya.

Bab kelima merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

Kesimpulan merupakan jawaban yang menyeluruh dari pembahasan pada bab-

bab sebelumnya yang disesuaikan dengan rumusan masalah yang ada, dan saran-

saran yaitu membuat nasehat atau rekomodasi hukum diberikan kepada penulis

terkait permasalahan yang di bahas.

Anda mungkin juga menyukai