BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Telah menjadi kodrat bagi manusia sebagai makhluk sosial. Dalam
kehidupannya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari
orang lain. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia selalu membutuhkan antara
yang satu dengan yang lainnya dalam arti hidup manusia. Merupakan himpunan
atau kesatuan yang hidup bersama dan menimbulkan hubungan timbal balik.
Untuk mencapai kemajuan dan tujuan hidup tersebut manusia perlu bekerja sama
dan saling tolong menolong antara sesama. Sebagaimanaa dalam surat Al-
Maidah ayat 2 :
tÏiΒ!#u Iωuρ y‰Íׯ≈n=s)ø9$# Ÿωuρ y“ô‰oλù;$# Ÿωuρ tΠ#tptø:$# töꤶ9$# Ÿωuρ «!$# uÈ∝¯≈yèx© (#θ=ÏtéB Ÿω (#θãΖtΒ#u tÏ%©!$# $pκš‰r'¯≈tƒ
ãβ$t↔oΨx© öΝä3¨ΖtΒÌøgs† Ÿωuρ 4 (#ρߊ$sÜô¹$$sù ÷Λäù=n=ym #sŒÎ)uρ 4 $ZΡ≡uθôÊÍ‘uρ öΝÍκÍh5§‘ ÏiΒ WξôÒsù tβθäótGö6tƒ tΠ#tptø:$# |MøŠt7ø9$#
(#θçΡuρ$yès? Ÿωuρ ( 3“uθø)−G9$#uρ ÎhÉ9ø9$# ’n?tã (#θçΡuρ$yès?uρ ¢ (#ρ߉tG÷ès? βr& ÏΘ#tptø:$# ωÉfó¡yϑø9$# Çtã öΝà2ρ‘‰|¹ βr& BΘöθs%
∩⊄∪ É>$s)Ïèø9$# ߉ƒÏ‰x© ©!$# ¨βÎ) ( ©!$# (#θà)¨?$#uρ 4 Èβ≡uρô‰ãèø9$#uρ ÉΟøOM}$# ’n?tã
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar
Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang h{ad-ya, dan binatang-binatang
qala>-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan
dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji,
maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).
1
2
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Amat berat siksa-Nya.1
Dari sekian aspek kerja sama dan hubungan timbal balik antar manusia
maka sewa-menyewa termasuk salah satu aspek tersebut. Dalam meningkatkan
kesejahteraan hidup manusia, aspek sewa-menyewa ini sangat penting perannya.
Mereka selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan primer
maupun kebutuhan sekunder. Oleh sebab itu mereka membutuhkan rumah untuk
bertempat tinggal, membutuhkan binatang untuk kendaraan dan angkutan,
membutuhkan tanah untuk pertanian baik sawah dan tambak serta membutuhkan
peralatan hidup untuk digunakan dalam kebutuhannya.
Praktek sewa menyewa di tengah-tengah masyarakat banyak sekali liku-
likunya. Dengan demikian tanpa adanya aturan dan norma-norma yang tepat
maka sudah barang tentu menimbulkan bencana dan kerusakan dalam
masyarakat seperti permasalahan penerapan panjar (uang muka), DP (Down
Payment), atau al-urbun dan permasalahan transaksi oper sewa (Badal Khuluw)
tanpa izin pemilik. Tanpa kita sadari (pemilik) di tengah-tengah masyarakat
banyak sekali penyewa nakal seolah-olah memiliki hak atas barang sewaannya
sehingga melakukan transaksi oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik
yang terjadi di Kecamatan Gununganyar Surabaya.
1
Khadim al Haramainn asy Syarifain, Al Qur’an dan Terjemahnya ( Saudi Arabia :
Mujamma’ Al Malik Fahd, 1990), 156-157.
3
Sebuah fenomena yang cukup menarik, berhasil penyusun temui dari
pengamatan terhadap kegiatan oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di
Kecamatan Gununganyar Surabaya. Pada kasus ini yang unik adalah keberadaan
si penyewa melakukan praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik.
Ada pihak yang menganut pandangan bisnis bahwa oper sewa merupakan hak
milik sementara, ada juga yang menganggap praktek tersebut memanfaatkan
kesempatan dalam kesempitan sehingga merugikan salah satu pihak. Hal itu
disebabkan tidak ada bukti, atau surat perjanjian pada waktu pembayaran uang
sewa dari penyewa pertama tentang kejelasan.2
Kebutuhan tempat tinggal yang bertambah membuat harga rumah
meningkat bahkan tidak semua orang bisa membeli. Cara yang terbaik untuk
sementara waktu bagi perantau yang jauh dari rumah seperti mahasiswa dan
karyawan adalah rumah kontrakan. Harga relatif terjangkau dan mempunyai
tetangga dari karakter tetangga berbeda yang tidak bisa ditemui jika tinggal
dikampung halaman sendiri.
Pencari rumah sewa yang semakin banyak membuat para penyewa
menciptakan strategi untuk mencari untung dengan menerapkan oper sewa tanpa
izin pemilik dengan harga lebih tinggi dari harga pertama ia sewa jika ingin
menyewa. Hal itu dimaksudkan agar pengelola perlu mengontrol rumah yang
disewakan agar tidak ada orang lain yang mempunyai maksud sama. Walaupun
2
Deh Putri, Wawancara, selaku penyewa kedua Gununganyar, 01 Januari 2013.
4
sudah membayar dan menyewa, namun belum tentu orang tersebut benar-benar
akan jadi menyewa rumah yang dimaksud. Jika terjadi oper sewa tentu pengelola
rumah kontrakan sudah mendapatkan kerugian karena uang yang disewa tidak
sesuai dengan akad awal. Adapun ketentuan Al-qur’an tentang sewa-menyewa
terdapat dalam surat Az Zukhruf ayat 32 :
ﻕ
َ ﻀ ُﻬ ْﻢ ﹶﻓ ْﻮ
َ ﺤﻴَﺎ ِﺓ ﺍﻟ ﱡﺪْﻧﻴَﺎ َﻭ َﺭﹶﻓ ْﻌﻨَﺎ َﺑ ْﻌ
َ ﺸَﺘﻬُ ْﻢ ﻓِﻲ ﺍﹾﻟَ ﺴ ْﻤﻨَﺎ َﺑْﻴَﻨ ُﻬ ْﻢ َﻣﻌِﻴ
َ ﺤﻦُ ﹶﻗ
ْ ﻚ َﻧَ ﺴﻤُﻮ ﹶﻥ َﺭ ْﺣ َﻤ ﹶﺔ َﺭِّﺑ
ِ ﹶﺃ ُﻫ ْﻢ َﻳ ﹾﻘ
( ) ﺠ َﻤﻌُﻮ ﹶﻥ ْ ﻚ َﺧْﻴ ٌﺮ ِﻣﻤﱠﺎ َﻳ
َ ﺎ َﻭ َﺭ ْﺣ َﻤﺔﹸ َﺭِّﺑﺨ ِﺮﻳ
ْ ﺨ ﹶﺬ َﺑ ْﻌﻀُﻬُ ْﻢ َﺑ ْﻌﻀًﺎ ُﺳ
ِ ﺕ ِﻟَﻴﱠﺘ
ٍ ﺾ َﺩ َﺭﺟَﺎٍ َﺑ ْﻌ
Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian
yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat
mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik
dari apa yang mereka kumpulkan.3
Sementara itu dalam urusan sewa-menyewa Nabi SAW pun telah
mengajurkan kepada para sahabat, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh
Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Sa’ad bin Abi Waqash r.a. berkata :
ﻚ
َ ﺻﻠﱠﻰ ﺍﷲ ُ َﻋﹶﻠْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱠ َﻢ َﻋ ْﻦ ﹶﺫِﻟ
َ ﷲ
ِ ﻉ ﹶﻓَﻨﻬَﻰ َﺭﺳُ ْﻮ ﹸﻝ ﺍ
ِ ﺴﻮَﺍ ﻗِﻰ ِﻣ َﻦ ﺍﻟ ﱠﺰ ْﺭ
ﺽ ِﺑ َﻤﺎ ﻋَﻠ َﻰ ﺍﻟ ﱠ ِ ﹸﻛﻨﱠﺎ ُﻧ ﹾﻜﺮٍﻯ ﹾﺍ ﹶﻻ ْﺭ
( )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﲪﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ.ﻕ ٍ ﺐ ﹶﺍ ْﻭ َﻭ َﺭ
ٍ َﻭﹶﺍ َﻣ َﺮﻧَﺎ ﹶﺍ ﹾﻥ ﱡﻧ ﹾﻜ ِﺮَﻳﻬَﺎ ِﺑ ﹶﺬ َﻫ
Atinya : “Dahulu kami menyewa tanah dengan (jalan membayar dari) tanaman
yang tumbuh. Lalu Rasullah saw melarang kami cara itu dan
memerintahkan kami agar membayar dengan uang, emas, atau
perak”.4
3
Khadim al Haramainn asy Syarifain, Al Qur’an dan Terjemahnya ( Saudi Arabia :
Mujamma’ Al Malik Fahd, 1990), 798.
4
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid XIII, (Bandung : al-Ma’arif, 1996), 18.
5
Jadi jelaslah, bahwa mengambil manfaat dengan jalan penggantian yang
disebut dengan sewa-menyewa dibolehkan.5 Hal ini pun telah disepakati oleh
seluruh fuqaha’ masa pertama yaitu Imam Syafi’I, dan Imam Malik. Walaupun
sebagian ulama’ ada yang melarangnya yaitu Imam Hanafi.6
Sementara itu didalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia
juga mengatur pasal-pasal tentang sewa-menyewa yakni Bab Ketujuh Buku
Ketiga. Pada pasal 1549 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dijelaskan bahwa
semua jenis barang yang bergerak maupun tidak bergerak dapat disewakan.7
Berpijak pada pasal 1559 KUHPer terdapat larangan untuk melakukan
ulang-sewa (over-sewa) tanpa izin pemilik, juga melepaskan sewanya kepada
orang lain sebagaimana bunyi Pasal 1559 BW :
“Si penyewa, jika kepadanya tidak telah diperizinkan, tidak
diperbolehkan mengulang-sewakan barang yang disewanya, maupun melepaskan
sewanya kepada orang lain, atas ancaman pembatalan perjanjian sewa dan
penggantian biaya, rugi dan bunga sedangkan pihak yang menyewakan setelah
pembatalan itu, tidak diwajibkan mentaati perjanjian ulang-sewa tersebut.”8
Dalam bunyi pasal 1559 KUHPer tersebut telah jelas bahwa ”mengulang-
sewakan” maupun ”melepas-sewakan” barang kepada orang lain tanpa izin
pemilik hal ini tidak diperbolehkan. Adanya perbedaan antara mengulang-
sewakan dan melepas sewanya kepada orang lain, hal ini mempunyai maksud
5
Sohari Sahrani, Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2011), 169.
6
Ibid., 168.
7
Subekti,Tjitrosubidio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (Jakarta : Pradnya Paramita,
2006), 381.
8
Ibid., 383.
6
sebagai berikut : dalam hal mengulang-sewakan, si penyewa bertindak sendiri
sebagai pihak yang menyewakan dalam suatu perjanjian sewa-menyewa kedua
yang telah diadakan olehnya dengan seorang pihak ketiga.
Sedangkan dalam hal melepaskan sewanya ia mengundurkan diri sebagai
penyewa, sehingga pihak ketiga tersebut berhadapan sendiri dengan pihak yang
menyewakan. Jika si penyewa sampai berbuat apa yang telah dilarang dalam
perjanjian tersebut, maka pihak yang menyewakan dapat meminta pembatalan
perjanjian sewanya dengan disertai pembayaran kerugian. Sedangkan pihak yang
menyewakan, setelah dilakukannya pembatalan itu tidak diwajibkan mentaati
perjanjian ulang-sewa dengan orang ketiga tersebut.
Akan tetapi perbuatan oper sewa barang kepada orang lain tanpa izin dari
pemilik barang maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Misal seseorang menyewa
rumah yang dalam akad perjanjian sewa-menyewa rumah tersebut tidak
diperjanjikan untuk diulang-sewakan kepada orang lain, namun secara diam-diam
tanpa persetujuan dari pemilik barang (rumah tersebut) si penyewa menyewakan
rumah yang disewanya itu kepada orang lain. Dengan demikian, perbuatan-
perbuatan dari si penyewa rumah tersebut telah melakukan bentuk
penyimpangan dalam pasal 1559 BW.
Berdasarkan kegelisahan terhadap permasalahan oper sewa rumah
kontrakan tanpa izin pemilik tersebut, maka penyusun sangat tertarik untuk
7
meneliti pandangan hukum Islam dan hukum positif terhadap kasus oper sewa
rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Surabaya.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Dari paparan Latar Belakang Masalah tersebut diatas kajian ini dapat di
Identifikasikan sebagai berikut :
a. Tinjauan hukum, baik hukum positif dan hukum Islam, jika rumah
kontrakan yang masih dalam masa sewa di oper sewakan kepada penyewa
lain oleh penyewa pertama tanpa izin pemilik.
b. Terjadi transaksi oper sewa, padahal rumah masih dalam masa sewanya.
c. Akad yang dilakukan pada saat transaksi sewa menyewa.
d. Kerugian yang dialami pihak penyewa kedua dan pemilik rumah.
e. Pengetahuan tentang hak dan kewajiban penyewa dan pemilik masih
kurang.
f. Syarat bagi rumah yang masih dalam akad sewa yang di oper sewakan
oleh penyewa tanpa izin pemilik.
2. Batasan Masalah
Kajian ini hanya membahas seputar oper sewa tanpa izin dari pemilik dan
akibat hukum barang baik dari segi hukum Islam maupun dari segi hukum
positif. Oleh karena itu, pembatasan masalah yang dirumuskan sebagai
berikut :
8
1) Bagaimanakah praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di
Kecamatan Gununganyar Surabaya?
2) Bagaimanakah Komparasi Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap
praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan
Gununganyar Surabaya?
C. Rumusan Masalah
Agar lebih operasional, maka studi ini dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
a. Bagaimanakah praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di
Kecamatan Gununganyar Surabaya?
b. Bagaimanakah Komparasi Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap praktek
oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Gununganyar
Surabaya?
D. Kajian Pustaka
Tinjauan pustaka ini intinya adalah untuk mendapatkan gambaran
hubungan topik yang akan di teliti dengan penelitian sejenis yang pernah
dilakukan oleh penelitian sebelumnya.9
Upaya membahas masalah oper sewa telah di bahas oleh saudara M.
Khulaibi Aliful Wafa yang membahas tentang “Tinjauan Hukum Islam tentang
9
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada,1999), 135.
9
oper sewa lahan tambak tanpa izin pemilik (Studi Analisi di Desa kemudi
Kecamatan Dudusampeyan Gresik)”10 yang intinya membahas tentang
bagaimana deskripsi praktek oper sewa lahan tambak tanpa izin pemilik Desa
kemudi kecamatan Dudusampeyan Gresik serta bagaimana tinjauan hukum
Islam.
Adapun judul skripsi sebelumnya membahas mengenai ”Studi Analisis
Penjualan Tambak yang Masih Dalam Masa Sewa Kepada Pihak Lain di Desa
Prasung Tambak Kecamatan Buduran Sidoarjo Dalam Prespektif Hukum Positif
dan Hukum Islam” 2009 oleh saudari Luluk Maflul.11 Intinya dalam judul skripsi
tersebut membahas mengenai tambak yang masih dalam masa sewa diperjual
belikan oleh pemiliknya dalam tinjau hukum positif dan hukum Islam.
Berdasarkan penelurusan tersebut, maka judul skripsi penulis meneliti
tentang masalah “Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap oper sewa
rumah kontrakan tanpa izin pemilik (Studi Kasus Oper Sewa Rumah Kontrakan
Kecamatan Gununganyar Surabaya)” berbeda dengan penelitian yang dilakukan
sebelumnya, sehingga tidak ada pengulangan. Dengan maksud penulis teliti yang
intinya mengenai rumah kontrakan yang masih dalam perjanjian sewa di oper
sewakan kepada orang lain tanpa izin pemilik rumah menurut hukum Islam dan
10
M. Khulaibi Aliful Wafa, ”Tinjauan Hukum Islam Terhadap Lahan Tambak Tanpa Izin
Pemilik (Studi Analisi di Desa Kemudi Kecamatan Dudusampeyan Gresik) ,” Jurusan Muamalat
Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2007.
11
Luluk Maflul, ”Studi Analisis Penjualan Tambak yang Masih Dalam Masa Sewa Kepada
Pihak Lain Di Desa Prasung Tambak Kecamatan Buduran Sidoarjo”, Jurusan Muamalat Fakultas
Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya : Skripsi Tidak dipublikasikan, 2009.
10
hukum positif. Sehingga penelitian ini bukan mengulangi penelitian-penelitian
terdahulu, tapi penelitian ini benar-benar memiliki nuansa berbeda dari
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
E. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, Maka penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya praktek oper sewa rumah
kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan Gununganyar Surabaya
2. Untuk mengetahui pandangan Hukum Islam dan Hukum Positif tentang
praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik di Kecamatan
Gununganyar Surabaya.
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain :
1) Teoritis
Kegunaan teoritis dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi
dan pengetahuan yang dapat dijadikan sumbangan pemikiran bagi Jurusan
Muamalat terutama tentang pandangan hukumn Islam terhadap praktek oper
sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik.
2) Praktis
Kegunaan praktis dari penemuan ini adalah dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan bagi masyarakat yang suka dengan sewa menyewa rumah
11
agar memperhatikan perjanjian sehingga tidak dirugikan oleh penyewa kedua
dan pemilik rumah sewa dianjurkan agar lebih sering mengontrol para penyewa
rumahnya.
G. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah penjelasan definisi dari variable yang telah
dipilih dalam penelitian yang merujuk pada kepustakaan. Skripsi ini berjudul
“Studi Komparasi Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Oper Sewa Rumah
Tanpa Izin Pemilik (Studi Kasus Oper Sewa Rumah Kontrakan di Kecamatan
Gununganyar Surabaya)”. Agar diperoleh pengertian yang jelas dan batasan-
batasan yang tegas tentang arah dan tinjauan yang terkandung dalam konsep
penelitian. Maka perlu dijelaskan tentang definisi operasional yang menjelaskan
beberapa istilah kunci yang tercantum didalamnya yaitu :
1. Hukum Islam : Tinjauan atau sudut pandang mengenai oper sewa rumah
tanpa izin pemilik menurut ketentuan hukum yang terkait dengan hukum
mu’amalah atau ekonomi Islam dengan konsep oper sewa dan sewa menyewa
yang berdasarkan Al-Qur’an, As Sunnah, dan pendapat ulama’.
2. Hukum Positif : Tinjauan atau sudut pandang mengenai oper sewa rumah
yang masih dalam masa sewa yang berpacu berdasarkan hukum tertulis yakni
KUHPerdata seperti Kitab Undang - undang Hukum Perdata, Undang –
undang Pokok Agraria, Pokok – pokok hukum perdata, Hukum Agraria
Indonesia, dan Peraturan Pemerintah No.4 Tahun 1994. Yang berlaku dan
12
mengikat secara umum dan khusus, dimana masyarakat menaati dan
menerapkan hukum tersebut menaati dan menerapkan hukum tersebut untuk
anggota masyarakat itu sendiri dan ditentukan oleh penguasa negara.
3. Oper sewa : Menyewakan barang sewaan yang dilakukan oleh pihak penyewa
pertama kepada penyewa pihak kedua.
H. Metode Penelitian
1. Lokasi penelitian
Penelitian ini di laksanakan di Kecamatan Gununganyar Surabaya.
Adapun pemilihan lokasi ini didasarkan atas beberapa pertimbangan antara
lain :
a. Karena di Kecamatan Gununganyar Surabaya merupakan perumahan dan
masyarakat di daerah tersebut adalah mayoritas pegawai kantor.
b. Karena di Kecamatan tersebut merupakan daerah yang strategis bagi
penulis untuk teliti. Sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan
penghimpunan data yang sesuai dengan permasalahan diatas.
2. Data yang di himpun
Data yang dihimpun secara garis besar adalah sebagai berikut :
a. Proses terjadinya oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemik.
b. Cara penyewa rumah menawarkan atau mengoper sewakan kembali
rumah sewaan kepada orang lain.
c. Cara melakukan akad oper sewa rumah
13
d. Cara melakukan pembayaran
e. Oper sewa menurut Hukum Islam
f. Oper sewa menurut Hukum Positif
3. Sumber data
Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah terdiri dari :
a. Sumber Primer
Sumber yang diperoleh dari sumber-sumber asli yang member
informasi langsung dalam penelitian.12 Dan sumber tersebut diantaranya :
Mu’ji>r, dan Musta’ji>r yang pernah melakukan akad oper sewa
rumah kontrakan tanpa izin pemilik.
b. Sumber Sekunder
Sumber yang diperoleh dari sumber yang tidak langsung
memberikan informasi atau data tersebut.13 Dalam kaitan ini sumber
sekunder penelitian lapangan ini diantaranya:
1. Kitab – kitab Fiqih : Bidayatul Mujtahid, Fiqih Muamalah, Fiqih
Imam Syafi’i, Fiqih Sunnah, Dasar-dasar Hukum Ekonomi Islam, dan
Hukum Perjanjian dalam Perspektif Islam.
2. Kitab – kitab Perdata : Kitab Undang - undang Hukum Perdata,
Undang – undang Pokok Agraria, Pokok – pokok hukum perdata,
12
Tatang [Link], Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta : PT Raja Grafindo, 1995), 132.
13
Ibid, 132.
14
Hukum Agraria Indonesia, dan Peraturan Pemerintah No.4 Tahun
1994.
4. Teknik pengumpulan data
Untuk memperoleh data yang kongkrit, peneliti menggunakan teknik-
teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a. Wawancara
Metode ini di lakukan untuk memperoleh data melalui Tanya
jawab kepada pihak yang berwenang mengenai permasalahan yang di
hadapi. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang sesuai dengan
penelitian wawacara penulis dilakukan dengan tatap muka langsung
(personal interview) karena dengan cara ini akan diperoleh informasi
yang ada di lapangan.14 Wawancara ini dilakukan dengan pihak-pihak
yang kompeten, seperti penyewa kedua (musta’ji>r kedua), pemilik rumah
(mu’ji>r), dan warga masyarakat yang terlibat didalamnya.
b. Studi Dokumen
Yaitu mencari data tertulis yang berkaitan dengan penelitian
tentang oper sewa rumah kontrakan tanpa izin pemilik sebagai penunjang
kelengkapan obyek penelitian.
14
[Link], Metode penelitian ,(Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988), 235.
15
5. Teknik analisis data.
Setelah data berkumpul, langkah selanjutnya adalah analisa terhadap
fakta-fakta dan informasi yang diperoleh dengan menggunakan metode
deskriptif analisis yaitu memberikan gambaran secara umum selanjutnya
dilakukan analisis terhadap sumber-sumber atau literatur yang di peroleh
sebelumnya.
Adapun dalam penganalisaan data, penulis menggunakan dasar-dasar
hukum Islam dan hukum positif mengenai oper sewa yang kemudian
digunakan untuk meninjau tentang praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa
izin pemilik di kecamatan Gununganyar Surabaya.
I. Sistematika Pembahasan
Untuk lebih mengarah tercapainya tujuan pada pembahasan skripsi ini
maka penulis membuat sistematika pembahasan tulisan skripsi yang terdiri dari
lima bab yang masing-masing bab berisi pembahasan sebagai berikut :
Bab pertama merupakan bagaian pendahuluan yang meliputi latar
belakang masalah, rumusan masalah. Kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan
hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua dibahas masalah tentang sewa menyewa dalam hukum Islam
dan hukum positif, yang terdiri dari pengertian sewa menyewa, pengertian
16
perjanjian, syarat-syarat dalam pembentukan perjanjian, pengertian oper sewa,
dan landasan hukum sewa menyewa.
Bab ketiga berisikan tentang penyajian data empiris yang berhasil
dihimpun dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis yang terdiri dari
sewa menyewa dalam hukum Islam, sewa menyewa dalam hukum positif,
gambaran rumah kontrakan, praktek sewa menyewa rumah kontrakan, cara
praktek oper sewa rumah kontrakan, dan faktor-faktor yang menimbulkan
pertikaian antara pengoper sewa (musta’ji>r) dengan pihak penyewa kedua
(musta’ji>r kedua).
Bab keempat berisikan tentang persamaan dan perbedaan antara hukum
Islam dan hukum positif terhadap praktek oper sewa rumah kontrakan tanpa izin
pemilik kecamatan Gununganyar Surabaya.
Bab kelima merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
Kesimpulan merupakan jawaban yang menyeluruh dari pembahasan pada bab-
bab sebelumnya yang disesuaikan dengan rumusan masalah yang ada, dan saran-
saran yaitu membuat nasehat atau rekomodasi hukum diberikan kepada penulis
terkait permasalahan yang di bahas.