LAPORAN INDIVIDU
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MILLITUS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Praktek Klinik
Keperawatan Paliatif
Di Ruang Edelweis B
RS Karsa Husada Batu
Oleh:
Nama : Chiesa Nadia Putri Benno
NIM : P17211223048
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN AJARAN 2025/2026
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan dan Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Diagnosa
Medis Hipertensi Di Ruang Edelweis B RS Karsa Husada Periode 1 0 F
ebruari s/d 15 Februari 2025 Tahun Ajaran 2024 / 2025
Telah disetujui dan disahkan pada tanggal …… Bulan……………… Tahun…………
Malang,
Preceptor Klinik Preceptor Akademik
NIP/NIK. NIP.
Mengetahui,
Kepala Ruang ……
NIP/NIK.
FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN
A. Masalah Kesehatan :
Diabetes Millitus
B. Pengertian
Menurut World Health Organization, diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang
ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang dapat menyebabkan kerusakan
serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf (World Health
Organization, 2023). Sedangkan menurut penyakit tidak menular Indonesia, diabetes
melitus didefinisikan sebagai gangguan metabolisme kronis dengan banyak penyebab
yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai gangguan metabolisme
karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin (Kemenkes,
2023). Diabetes melitus termasuk ke dalam golongan kelompok penyakit dengan
gangguan metabolik ditandai dengan hiperglikemi atau kenaikan gula darah akibat
adanya kelainan insulin yang disebabkan gangguan kerja dan atau sekresi insulin (Milita
et al., 2021). Diabetes melitus didefinisikan sebagai suatu sindrom yang ditandai dengan
disfungsi metabolik dengan potensi degeneratif yang melibatkan sumber energi akibat
perubahan produksi, sekresi dan ketidakmampuan insulin untuk bekerja secara efektif
(Adailton da Silva et al., 2018).
C. Gejala dan Tanda
Gejala dan tanda Diabetes Millitus dianatarnya :
1. Faktor Genetik
Faktor genetik atau faktor keturunan. Lebih dari 50% penderita diabetes melitus
memiliki keluarga yang juga menderita diabetes melitus. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa diabetes melitus cenderung diturunkan, bukan ditularkan
(Simatupang & Kristina, 2023).
2. Faktor Nutrisi
Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor utama penyebab
diabetes mellitus. Semakin berat badan berlebih maka akan mengakibat nutrisi
berlebihan dan hal itu akan mengakibatkan kemungkinan besar terjadinya diabetes
melitus (Simatupang & Kristina, 2023).
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sosial dan pemanfaatan pelayanan kesehatan menjadi salah
satu faktor penyebab penyakit diabetes dan komplikasinya (Lestari et al., 2021).
4. Faktor Lain
Faktor lain seperti sekresi atau kerja insulin, abnormalitas metabolik yang
menganggu sekresi insulin, abnormalitas mitokondria, dan sekelompok kondisi
lain yang menganggu toleransi glukosa (Lestari et al., 2021).
D. Pohon Masalah
E. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Barbara [Link] (1995:9) pemeriksaan diagnostik untuk penyakit diabetes
millitus adalah :
Pemeriksaan Prosedur dan persiapan Interpretasi
Gula darah puasa Puasa mulai tengah malam Kriteria diagnostik untuk
(GDP) : 70 – 110 diabetes millitue
mg/dL plasmavena >140mg/dL palni sedikit
dal m 2x pemeriksaan atau
> 140 mg/dL disertai gejala
klasik hiperglikemia atau
CGT : 115 : 140 mg/dL
Gula darah 2 jam Gula darah diukur 2jam setelah Digunakan untuk skrining
postprandial < 140 makan berat atau 2 jam setelah atau evaluasi pengobatan,
mg/dL mendapat 100 gr gula bukan diagnostik
Digunakan untuk skrining
Gula darah sewaktu :
bukan diagnostik
140 mg/dL
Kriteria diagnotik unuk
Tes intoleransi Puasa mulai tengah malam, GDP
diabetes millitus , GDP :
glukosa oral diambil diberi 75 mg glukosa,
(TTGO).GD < sampel darah (dan urine) 140 mg/dL. Tapi gula
115mg/dL ditampung pada ½ 1, dan 2 jam
darah 2 jam dan
kadangkadang pada2, 4, dan 5
jam berikut. pemeriksaan lainya > 200
mg/dL dalam 2x
pemeriksaan untuk 165
GDP < 140 mg/dL 2 jam
natara 140-200 mg/dL dan
pemeriksaan untuk IGT :
GDP < 140 mg/dL . TTGO
dilakukan hanya pada
pasien yang bebas diit dan
beraktivitaas fisik 3 hari
sebelum tes, tidak
dianjurkan pad (1)
hiperglekimia yang sedang
puasa (2) orang yang
mendapat thiazide, dilantin
propanolol, lasix, tiroid,
estrogen, pil KB, steroid
(3) pasien yang dirawat
Tes toleransi glukosa Sama untuk TTGO Dilakukan jika TTGO
intravena (TTGI) merupakan kontra indikasi
kelainan gaastrointestinal
yang mempengaruhi
glukosa
F. Penatalaksanaan Medis
[Link] Diabetes Millitus
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah
dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik
pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa dalam darah normal (euglikemia) tanpa
terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien(Rendi dan Margareth, 2012).
[Link] (2011) menjelaskan bahwa tujuan diet nutrisi ini antara lain:
1) Memulihkan dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam kisaran nilai yang normal
sehingga mencegah terjadinya glikosuria beserta gejala-gejalanya.
2) Mengurangi besarnya perubahan kadar glukosa darah postprandial. tindakan ini bersama-
sama dengan normalisasi kadar glukosa darah, akan membantu mencegah terjadinya
komplikasi lanjut yang mencakup penyakit mikrovaskuler
3) Memberikan masukan semua jenis nutrien yang memadai sehingga memungkinkan
pertumbuhan normal dan perbaikan jaringan
4) Memulihkan dan mempertahankan berat badan yang normal
Penderita diabetes melitus didalam melaksanakan diet harus memperhatikan (3 J), yaitu:
jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal makan yang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus
diperhatikan.
➢ Tipe diet nutrisi pasien Diabetes Melitus
Tipe diet nutrisi untuk pasien DM (Beck, 2011) :
1) Diet Rendah Kalori
Diet rendah kalori untuk menurunkan berat badan yang kemudian diikuti dengan diet untuk
mempertahankan berat badan. Pasien DM yang menjalani diet rendah kalori harus menyadari
perlunya penurunan berat badan dan berat badan yang diturunkan tidak boleh dibiarkan naik
kembali.
2) Diet Bebas Gula
Tipe diet ini digunakan untuk pasien diabetes yang berusia lanjut dan tidak memerlukan
suntikan insulin. Diet bebas gula diterapkan berdasarkan dua prinsip:
a. Tidak memakan gula dan makanan yang mengandung gula
b. Mengkonsumsi makanan sumber hidratarang sebagai bagian dari keseluruhan
hidangan secara teratur.
3) Sistem penukarang hidratarang
Sistem penukarang hidratarang digunakan untuk pasien-pasien DM yang mendapatkan suntikan
insulin atau obat-obatan hipoglikemik oral dengan dosisi tinggi. Diet yang berdasarkan sistem
ini merupakan diet yang lebih rumit untuk diikuti oleh seseorang pasien DM, tetapi mempunyai
kelebihan, yaitu diet ini lebih fleksibel dan bervariasi ketimbang diet tipe bebas gula.
➢ Syarat diet DM hendaknya dapat:
▪ Memperbaiki kesehatan umum penderita
▪ Mengarahkan pada berat badan normal
▪ Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda
▪ Mempertahankan kadar KGD normal
▪ Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik
▪ Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
▪ Menarik dan mudah diberikan Jumlah sesuai kebutuhan
▪ Jadwal diet ketat
▪ Jenis: boleh dimakan/tidak
Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan kalorinya.
▪ Diit DM I : 1100 kalori
▪ Diit DM II : 1300 kalori
▪ Diit DM III : 1500 kalori
▪ Diit DM IV : 1700 kalori
▪ Diit DM V : 1900 kalori
▪ Diit DM VI : 2100 kalori
▪ Diit DM VII : 2300 kalori
▪ Diit DM VIII : 2500 kalori
Diit I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk
Diit IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal
Diit VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus. Diabetes remaja, atau diabetes komplikasi
Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J :
a) J I : jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambahkan
b) J II : jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya
c) J III : jenis makanan yang manis harus dihindari
Penentuan jumlah kalori diit diabetes mellitus harus disesuaikan oleh status gizi
penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung percentage of relative body weight
dengan rumus :
BBR = BB (Kg) x100%
TB (Cm)-100
Ket:
a. Kurus (underweight) : BBR < 90%
b. Normal (ideal) : BBR 90-110%
c. Gemuk (overweight) : BBR > 110%
d. Obesitas, apabila : BBR > 120%
- Obesitasringan : BBR 120-130%
- Obesitassedang : BBR 130-140%
- Obesitasberat : BBR 140-200%
- Morbid : BBR >200%
➢ Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang
bekerja biasa adalah:
- Kurus : BB x 40-60 kalorisehari
- Normal : BB x 30 kalorisehari
- Gemuk : BB x20 kalorisehari
- Obesitas : BBx10-15 kalorisehari
G. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Berisikan data umum dari pasien. Yang terdiridarinama, tempat dan tanggal lahir, jenis
kelamin, status kawin, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, alamat, tanggal
pengkajian, dan diagnose medis.
b. Identitas penaggung jawab
Berisikan data umum dari penanggung jawab pasien yang bisa di hubungi selama menjalani
masa rawatan di rumah sakit.
c. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Keluhan utama pada pasien diabetes mellitus adalah poliuria, polifagia, polidipsia,
polifagia, penurunan berat badan, dan ulkus yang lama sembuh. Pasien yang mengalami
ketoasidosis terdapat mual, muntah, dan nyeri abdomen. pada pasien yang mengalami
sindrom HHNK terdiri atas gejala hipotensi, dehidrasi berat (membran mukosa kering,
turgor kulit jelek), takikardi, dan tanda-tanda neurologis yang bervariasi (perubahan
sensori, kejang-kejang, hemiparise). Gejala yang timbul pada pasien yang mengalami
hipoglikemia adalah badan gemetar, berkeringat, takikardia dan kecemasan (Price &
Wilson, 2012).
2) Riwayat Kesehatan sekarang
Pada pasien diabetes tipe I, mengalami poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat
badan, dan ketoasidosis. semuanya terjadi akibat gangguan metabolik. Pasien dengan
diabetes tipe II juga dapat memperlihatkan gejala poliuria dan polidipsia, tetapi
umumnya asimtomatik.
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat penyakit diabetes melitus, kegemukan, penyakit pangkreas, penyakit
hormonal, konsumsi obat-obatan (aloxan, streptozokin: sitotoksin terhadap sel-sel beta,
derivat thiazide) yang dapat menurunkan sekresi insulin, malnutrisi (kekurangan protein
kronik). Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit
sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih lanjut dan untuk memberikan
tindakan selanjutnya.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita diabetes melitus atau adanya riwayat
obesitas dari generasi terdahulu.
d. Pola Aktivitas sehari-hari
1. Pola Nutrisi
- Anggaran makan, makanan kesukaan, waktu makan.
- Apakah ada diet yang dilakukan secara kusus?
- Adakah penurunan dan peningkatan berat badan dan berapa lama periode waktunya?
- Adakah status fisik pasien yang dapat meningkatkan diet seperti luka bakar atau demam.
- Adakah toleransi makan atau minum tertentu.
Faktor yang mempengaruhi diet:
- Status kesehatann
- Kulture dan kesehatan.
- Status sosial ekonomi.
- Faktor psikologis.
- Informasi yang salah tentang makanan dan cara diet.
2) Pola Eliminasi
a) Buang Air Kecil
Intake dan output pasien selama 24 jam. Dibandingkan antara kondisi pasien yang sehat
dengan kondisi pasien yang sedang mengalami perawatan dirumah sakit. Pasien
mengeluh sering berkemih dalam sehari.
b) Buang Air Besar
Konsistensi buang air besar, jumlah, kepadatan, warna dan bau di bandingkan saat kondisi
pasien yang sehat dengan kondisi pasien yang sedang mengalami perawatan dirumah
sakit.
3) Pola istirahat dan tidur
Waktu istirahat perhari pasien di bandingkan saat keadaan sehat dengan keadaan saat pasien
dirawat dirumah sakit.
4) Pola aktivitas dan latihan
Pemeriksaan fisik
1) Status Kesehatan Umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suarabicara, tinggi badan, berat badan dan tanda
– tanda vital.
2) Ukuran antropometri
a) TB dan BB untukmenetukan status nutrisi
b) Lingkar kepala
c) Lingkar dada
d) Lingkar lengan atas (MAC):
Nilai normal Wanitausiasubur: 23,5 cm
e) Lipatan kulit pada otot trisep
Nilai normal Wanita : 16,5 - 18 cm
Nilai normal Pria : 12,5 – 16,5 cm
3) Pemeriksaan kepala
Mengetahui bentuk dan fungsi kepala. Mengetahui kelainan yang terdapat di
[Link] rambut ditemukan rambut kusam, kering, pudar, kemerahan pecah atau
patah- patah.
4) Pemeriksaan wajah
Pada pemeriksaan di wajah ditemukan wajah pucat, bibir kering, pecah-pecah,
bengkak, adanya lesi, stomatititis, membran mukosa pucat.
5) Pemeriksaan mata
Pada pemeriksaan mata ditemukan konjungtiva pucat, kering, esofalmus, tanda-tanda
infeksi.
6) Pemeriksaan mulut dan bibir
Pada pemeriksaan mulut dan bibir ditemukan bibir pecah-pecah, bibir kering, ada lesi
dan bengkak di bagian bibir dan mulut, stomatitis dan membran mukosa mulut pucat.
Pada gusi terjadi perdarahan dan peradangan. Terjadi edema dan hiperemis pada lidah.
Pada gigi terdapat karies, nyeri dan kotor.
7) Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan
suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur
rambut dan kuku.
8) Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada, pada penderita DM mudah terjadi
infeksi.
9) Sistem Kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,takikardi/ bradikardi,
hipertensi/ hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
10) Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat
badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
11) Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
12) Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi badan, cepatlelah, lemah
dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
13) Sistemneurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat,
kacau mental, disorientasi.
f. Data Psikologis
Adanya perubahan sikap dan psikologis pasien selama sakit yang dapat mempengaruhi
pola makanan pasien selama di rumah sakit.
g. Data Sosial
Status ekonomi atau sosial keluarga pasien dalam memilih dan membeli makanan serta
kemampuan keluarga pasien dalam pemenuhan kesehatan.
h. Data Spiritual
Kepercayaan yang diyakini dan dianut oleh pasien dan keluarga.
i. Data Penunjang Pemeriksaan Laboratorium
1) Albumin (N: 4–5,5mg/100ml)
2) Transferi (N: 170-25 mg/100ml
3) Hemoglobin (N: 12mg%)
4) BUN (N: 10–20 mg/100ml)
5) Pemeriksaan gula darah puasa
Nilai normal: Wholeblood: 60 – 100 mg/dl
Dewasa : 70 – 100 mg/dl
Bayi baru lahir: 30 – 80 mg/dl
Anak : 60 – 100 mg/dl
(Robbins dkk, 2007)
6) Pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan
Nilai normal : Dewasa : <140 ml/dl/2 jam
Wholeblood : <120 mg/dl/2 jam
(Robbins dkk, 2007)
7) Pemeriksaa gula darah sewaktu
Nilai normal : 200 mg / dl
8) Pemeriksaan HB AIC (Hemoglobin Glikosilasi)
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah, untuk memperoleh informasi kadar
gula darah yang sesungguhnya, karena pasien tidak dapat mengontrol hasil tes dalam
kurun waktu 2 – 3 bulan. Tes ini berguna untuk mengukur tingkat ikatan gula pada
hemoglobin A (AIC) sepanjang umur sel darah merah (120 hari).
9) Pemeriksaan fruktosamin
Pemeriksaan fruktosamin menggunakan metoda enzymatic seperti pada pemeriksaan
glukosa.
H. Daftar Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap
masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual
maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien
individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan. (Tim
Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
Berdasarkan pengkajian diatas kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul
adalah:
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d resistensi insulin (D.0027)
2. Neusea b.d gangguan biokimia (asisdosis metabolik) (D.0055)
3. Resiko ketidak seimbangan elektrolit b.d gangguan mekanisme regulasi (D.0037)
I. Intervensi/ Perencanaan Keperawatan
A. Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d resistensi insulin
Tujuan dan Kriteria Hasil (SLKI) Intervensi Keperawatan (SIKI)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Hiperglikemia( I.03115)
3 x 24 jam makadi harapkan kestabilan kadar Observasi
glukosa darah (L.03022) meningkat dengan 1. Identifikasi kemungkinan penyebab
kriteria hasil : hiperglikemia
1. Lelah/lesu menurun. 2. Identifikasi situsai yang menyebabkan
2. Kadar glukosa dalam darah membaik kebutuhan insulin menuingkat
3. Monitor kadar glukosa darah, jika
perlu.
4. Monitor tanda dan gejala,
hiperglikemia
5. Monitor intake dan output
cairan
Terapeutik
6. Berikan asupan cairan oral Edukasi
7. Anjurkan menghindari olahraga saat
kadar glukosa darah lebih dari 250mg/dL
8. Anjurkan monitor kadar glukosa darah
secara mandiri
9. Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan
olahraga
10. Anjutkan pengelolaan diabetes.
Edukasi
11.
Kolaborasi
12. Kolaborasi pemberian
insulin
B. Neusea b.d gangguan biokimia (asisdosis metabolik)
Tujuan dan Kriteria Hasil (SLKI) Intervensi Keperawatan (SDKI)
Setelah dilakukan tindakan
Manajemen mual (I.103117)
keperawatan 3 x 24 jam maka di
Observasi
harapkan tingkat nausea menurun
1. Identifikasi pengalaman mual
(L.08065) dengan kriteria hasil :
2. Identifikasi dampak mual
1. Nafsu makan membaik terhadap kualitas hidup
3. Identifikasi faktor penyebab mual
2. Keluhan mual menurun
4. Identifikasi antimetik untuk
3. Perasaan ingin muntah mencegah mual
5. Monitor mual
menurun
Terapeutik
6. Kendalikan faktor lingkungan
penyebab mual
7. Kurangi atau hilangkan keadaan
penyebab mual
8. Berikan makanan dalam jumlah
kecil dan menarik
9. Berikan makanan dingin, cairan
bening, tidak berbau dan tidak
berwarna, jika perlu
Edukasi
10. Anjurkan istirahat dan tidur yang
cukup
11. Anjurkan sering membersihkan
mulut, kecuali jika merangsang
mual
12. Anjurkan makanan tinggi
karbohidrat dan rendah lemak
13. Ajarkan terapi non farmakologi
untuk mengatasi mual
Kolaborasi
14. Kolaboras pemberian antiemetik.
C. Risiko ketidakseimbangan elektrolit bd. Gangguan mekanisme regulasi
Tujuan dan Kriteria Hasil (SLKI) Intervensi Keperawatan (SIKI)
Setelah dilakukan tindakan Pemantauan Elektrolit (I.03122)
tindakan kepeerawatan 3x24 jam Observasi
kesimbamgan elektrolit 1. Identifikasi kemungkinan
(L.03021), ekspetasi meningkat, penyebab ketidak seimbangan
dengan kriteria hasil : elektrolit.
1. Serum natrium meningkat 2. Monitor kadar eleektrolit serum.
2. Serum kalium meningkat 3. Monitor mual,muntah dan diare.
3. Serum klorida meningkat 4. Monitor kehilangan cairan,jika perlu.
5. Monitor tanda dan gejala hiponatremia
6. Monitor tanda dan gejala hipokalsemia
7. Monitor tanda dan gejala hiperkalsemia
8. Monitor tanda dan gejala
hipomagnasemia
9. Monitor tanda dan gejala
Hiperglikemia
Terapeutik
10. Atur interval waktu pemantauan
sesuai dengan kondisi pasien &
dokumentasiakan hasilpemantauan
Edukasi
11. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
12. Informasikan hsail pemanatuan,jika
perlu.
Kolaborasi
13. Kolaborasi pemerian insulin
J. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sudah di rencanakan dalam
keperawatan, tindakan mencakup tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi.
Pada tahap ini perawat melaksanakan tindakan keperawatan terhadap pasien
baik secara umum maupun secara khusus pada klien diabetes mellitus yang
mengalami kaki diabetes (diabetik food) pada pelakasanaan ini perawat
melakukan fungsi secara independent interpendent, dan dependent. (Prayugo
Susanto, 2022).
K. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir dari proses
keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana
antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat.
Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana perawatan dapat di
capai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan yang
diberikan. Untuk menentukan masalah teratasi, teratasi sebagian, tidak teratasi
atau muncul masalah baru adalah dengan cara membandingkan antara SOAP
dengan tujuan, kriteria hasil yang telah ditetapkan. Format evaluasi
menggunakan :
S : Subjek adalah informasi yang berupa ungkapan yang di dapat dari pasien
setelah tindakan dilakukan.
O : Objek adalah informasi yang di dapat berupa hasil pengamatan, penilaian,
pengukuran, yang dilakukan oleh perawat setelah dilakukan tindakan.
A : Analisa adalah membandingkan antara informasi subjrktif dan objektif dengan
tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa masalah teratasi,
masalah belum teratasi, masalah teratasi sebagian, muncul masalah baru.
P : Planning adalah rencanas keperawatan lanjutan yang akan dilakukan berdasarkan
hasil analisa, baik itu rencana diteruskan ,di modifikasi, dibatalkan ada masalah
baru, selesai, (tujuan tercapai) (Prayugo Susanto, 2022).
L. Referensi
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Brunner & Suddarth's Textbook
of Medical-Surgical Nursing. Lippincott Williams & Wilkins.
Fatmawaty, D. (2019). Neuropati diabetik dan ulkus diabetik: Faktor risiko
dan penanganannya. Jakarta: Penerbit Kesehatan.
Helmawati. (2021). Tanda dan gejala diabetes mellitus. Jakarta: Pustaka
Medika.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pengelolaan
Diabetes Mellitus di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI.
Manurung, A. (2018). Patofisiologi Diabetes Mellitus: Dari Teori ke
Praktik Klinis. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni). (2021). Konsensus
Pengelolaan Diabetes Mellitus di Indonesia. Jakarta: Perkeni.
Pokja SDKI DPP PPNI Grup. (2022). Standar Diagnosa Keperawatan
Indonesia (SDKI). Jakarta: PPNI.
Prayugo, S. (2022). Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan pada
Pasien Diabetes Mellitus. Bandung: Pustaka Medik
Suryati, T. (2021). Dasar-dasar Patofisiologi Penyakit Endokrin. Surabaya:
Pustaka Kedokteran.