Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Hipertensi
Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Hipertensi
TAHUN 2023
Disusun oleh:
Sepsasari
P3.[Link].033
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2023
LAPORAN STUDI KASUS
TAHUN 2023
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Praktik Klinik Kebidanan II
Disusun oleh:
Sepsasari
P3.[Link].033
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2023
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
TAHUN 2023
Laporan studi kasus ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing
PEMBIMBING
NIP 198110152006042018
iii
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2023
GAMBARAN KASUS
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penting pada penyakit kardiovaskular,
penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah perifer, stroke dan penyakit ginjal yang
diupayakan untuk mencapai kategori tekanan darah normal dengan cara farmakologis maupun
nonfarmakologis. Hipertensi pada kehamilan digolongkan menjadi preeklampsia, eklampsia,
hipertensi kronis pada kehamilan, hipertensi kronis disertai preeklampsia, dan hipertensi
gestasional. Tujuannya adalah untuk dapat memberikan asuhan kebidanan hamil dengan
hipertensi kronik pada Ny. N di Puskesmas Kecamatan Makasar tahun 2023.
Kasus ini diambil di Puskesmas Kecamatan Makasar pada tanggal 20 September 2023 –
06 Oktober 2023. Ny. N umur 30 tahun G3P2A0 dengan perkiraan Hari Pertama Haid Terakhir
(HPHT) tanggal 05 April 2023, sehingga didapatkan taksiran persalinan adalah tanggal 12
Januari 2023 dan usia kehamilannya saat itu adalah 24 minggu. Pada tanggal 20 September
2023 Ny. N mengatakan tidak memiliki keluhan apapun. Hasil pemeriksaan Ny. N G3P2A0
hamil 24 minggu dengan riwayat hipertensi kronik. Asuhan kebidanan yang diberikan kepada
Ny. N adalah asuhan normal pada umumnya dengan memerhatikan pengontrolan tekanan darah
dengan cara farmakologis yang diberikan oleh fasilitas kesehatan.
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur Allah SWT atas segala berkat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis
dapat menyusun dan menyelesaikan Laporan Studi Kasus yang berjudul "Asuhan Kebidanan
Kehamilan Dengan Responsif Gender Pada Ibu Hamil Dengan Hipertensi Kronik di Puskesmas
Kecamatan Makasar Jakarta Timur 2023". Sebagai salah satu syarat menyelesaikan tugas mata
kuliah Praktik Klinik Kebidanan II pada Program Studi D-III Kebidanan Politeknik
Kememterian Kesehatan Jakarta III.
Dalam menyelesaikan laporan studi kasus ini penulis banyak sekali mendapatkan
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Ibu Erika Yulita Ichwan, [Link], [Link] selaku ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Jakarta III
2. Ibu Hamidah, [Link], [Link] selaku ketua Program Studi D-III Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Jakarta III
3. Ibu DR. Dewi Nirmalasari, Mbiomed selaku Pembimbing Laporan Studi Kasus yang
senantiasa membagikan ilmu yang sangat bermanfaat, membimbing dengan penuh
keikhlasan,memberi saran dan masukan yang mendukung untuk penyelesaian Laporan
Studi Kasus ini.
4. Kepala Ruangan dan kakak bidan di Puskesmas Kecamatan Makasar yang selalu
memberikan motivasi kepada penulis.
5. Ny. N dan Tn. R selaku pasien dan keluarga yang senantiasa memberikan dukungan kepada
penulis dan telah berkenan untuk bekerja sama menjadi pasien studi kasus selama
dilakukannya asuhan kebidanan ibu hamil.
6. Orang tua tercinta yang tidak henti-hentinya selalu memberikan doa dan dukungan kepada
penulis.
7. Rizal Arif Pujiyanto, Muhammad Dafa Ramadhan, Mohammad Noval, Fadya Amanda
Putri, Devi Indah Restiani, dan Humairoh Tazkiyatunnisa selaku sahabat yang senantiasa
memberikan dukungan dan doanya.
8. Putri Ayu Wulandari, Rachell Fatimah, Nurul Fathimah, Shafa Najla Sabrina, dan Siti
Mutmainnah selaku sahabat seperjuangan yang selalu bersama dalam suka maupun duka
saat penyusunan laporan studi kasus ini.
v
9. Salsabila Meyliza selaku sahabat seperjurusan yang senantiasa memberikan dukungan dan
pengalaman berharganya.
10. Kak Hilma selaku kakak asuh yang senantiasa memberikan motivasi dan saran atas
pengalamannya.
11. Nayla Hanan dan Aulia Chairunnisa selaku adik asuh yang senantiasa memberikan
dukungan dan doanya.
12. Serta Yogi Basuki selaku partner yang senantiasa menemani penulis dalam suka maupun
duka dan secara konsisten memberikan motivasi, dukungan, serta doanya di setiap proses
khususnya saat pembuatan studi kasus ini.
Penulis sadar sepenuhnya bahwa penyusunan laporan studi kasus ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, saran dan masukan dari semua pihak yang sifatnya membangun
sangat diharapkan.
Penulis
vi
DAFTAR ISI
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO), Angka kematian ibu (AKI) masih
sangat tinggi yaitu sekitar 287.000 perempuan meninggal selama dan setelah kehamilan
dan persalinan pada tahun 2020, sedangkan rata-rata AKI global pada tahun 2020 adalah
223 per 100.000 kelahiran hidup.
Secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia telah menurun dari 305
kematian per 100.000 Kelahiran Hidup (Survei Penduduk Antar Sensus, 2015) menjadi
189 kematian per 100.000 Kelahiran Hidup (Sensus Penduduk, 2020). Sedangkan melalui
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024,
pemerintah Indonesia memiliki target percepatan penurunan AKI sebagai bagian dari
prioritas strategis (Major Project) dalam pembangunan nasional untuk tahun 2024 yaitu
menurunkan kembali angka kematian menjadi 183 Kematian per 100.000 Kelahiran
Hidup, sehingga pencapaian yang terjadi pada tahun 2020 ini harus dipertahankan dan
ditingkatkan ke arah yang lebih baik lagi untuk mencapai target. (Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional, 2022)
Dari 8.341 kasus ibu hamil di Indonesia dengan rentang usia 15-54 tahun, prevelensi
hipertensi pada ibu hamil sebesar 1.062 kasus (12,7%) dan dari 1.062 kasus ibu hamil
dengan hipertensi tersebut ditemukan sebanyak 125 kasus (11,8%) pada ibu hamil yang
sebelumnya pernah didiagnosis hipertensi oleh petugas kesehatan atau hipertensi kronik
(Masriadi, Idrus, & Baharuddin, 2022).
1
Kasus hipertensi meningkat atas beberapa pengaruh atau risiko, diantaranya yaitu
memiliki keluarga dengan riwayat tekanan darah tinggi, kurangnya aktivitas, asupan
garam yang berlebihan, stres, dan kebiasaan gaya hidup seperti merokok dan konsumsi
alkohol (Arikah, Rahardjo, & Widodo, 2020). Preeklampsia dan eklampsia merupakan
bagian dari komplikasi akibat adanya hipertensi gestasional atau hipertensi kronik hingga
10% kehamilan dan merupakan penyebab penting terjadinya morbiditas dan mortalitas ibu
dan perinatal (Braunthal & Brateanu, 2019)
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan riwayat hipertensi
kronik di Puskesmas Kecamatan Makasar.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian terhadap Ny. N dengan hipertensi kronik.
b. Mampu membuat diagnosa masalah terhadap Ny. N.
c. Mampu merencanakan dan melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan
kehamilan pada Ny. N dengan riwayat hipertensi kronik.
d. Mampu melakukan pendokumentasian SOAP.
2
C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus
Pengambilan kasus dilakukan di Puskesmas kecamatan Makasar, Jakarta Timur yang
mulai dilakukan pada tanggal :
3
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah sesuatu yang berkesinambungan yang dimulai dari saat terjadinya
ovulasi (pematangan sel) lalu pertemuan ovum (sel telur) dan spermatozoa (sperma)
sehingga terjadi pembuahan dan pertumbuhan zigot yang kemudian terjadi penanaman
zigot pada uterus dan pembentukan plasenta, kemudian diikuti sampai tahap akhir tumbuh
kembang hasil konsepsi sampai usia kehamilan aterm (Mardiana, Musa, & Lestari, 2022).
Bila dihitung dari saat terjadinya fertilisasi hingga lahir bayi, kehamilan normal akan
berlangsung selama 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional.
Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai janin lahir, lamanya adalah 280 hari (atau sekitar
40 minggu atau 9 bulan 7 hari) yang dihitung mulai dari hari pertama haid terakhir (HPHT)
(Ningsih, 2018).
4
sehingga dapat meningkatkan libido atau keinginan atau bangkitan seksual terutama
pada kehamilan trimester dua.
3. Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta, terutama fungsi
produksi progesteron dan estrogen. Selama kehamilan ovarium tenang/ beristirahat.
Tidak terjadi pembentukan dan pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulasi, tidak
terjadi siklus hormonal menstruasi.
4. Payudara
Menurut (Cholifah & Rinata, 2022) Penampakan payudara pada ibu hamil adalah
sebagai berikut:
1) Mammae bertambah besar
2) Hiperpigmentasi areola mammae
3) Semakin tampak kelenjar Montgomery
4) Semakin menonjolnya puting susu
5) Hormon prolaktin belum dapat berfungsi sehingga ASI belum bisa keluar
karena dihambat oleh prolaktin inhibitng hormon
6) Pembuatan ASI dapat berlangsung setelah persalinan karena hambatan
prolaktin sudah tidak ada
5
2. Hormon Estrogen
Pada awal kehamilan sumber utama estrogen adalah Ovarium. Selanjutnya
estrone dan estradiol dihasilkan oleh plasenta dan kadarnya meningkat beratus kali
lipat, out put estrogen maksimum 30 – 40 mg/hari. Kadar terus meningkat
menjelang aterm.
3. Hormon Kortisol
Pada awal kehamilan sumber utama adalah adreanal maternal dan pada
kehamilan lanjut sumber utamanya adalah plasenta. Produksi harian 25mg/hari.
Sebagian besar diantaranya berikatan dengan protein sehingga tidak bersifat aktif.
Kortisol secara simultan dapat merangsang peningkatan produksi insulin dan
meningkatkan resistensi perifer ibu pada insulin, misalnya jaringan tidak bisa
menggunakan insulin, hal ini mengakibatkan tubuh ibu hamil membutuhkan lebih
banyak insulin.
4. Hormon Human Chorionic gonadotropin (HCG)
Hormon HCG ini diproduksi selama kehamilan. Pada hamil muda hormon ini
diproduksi oleh trofoblas dan selanjutnya dihasilkan oleh plasenta.
5. Hormon Human Placental Lactogen
Kadar HPL atau Chorionic somatotropin ini terus meningkat seiring dengan
pertumbuhan plasenta selama kehamilan. Hormon ini mempunyai efek laktogenik
dan antagonis insulin yang juga bersifat diabetogenik sehingga menyebabkan
kebutuhan insulin pada wanita hamil dapat meningkat.
6. Hormom Relaxin
Dihasilkan oleh corpus luteum, dapat dideteksi selama kehamilan, kadar
tertinggi dicapai pada trimester pertama. Peran fisiologis belum jelas, diduga
berperan penting dalam maturasi servik.
7. Hormon Hipofisis
Terjadi penekanan kadar FSH dan LH maternal selama kehamilan, namun
kadar prolaktin meningkat yang berfungsi untuk menghasilkan kholostrum. Pada
saat persalinan setelah plasenta lahir maka kadar prolaktin menurun, penurunan ini
berlangsung terus sampai pada saat ibu menyusui. Pada saat ibu menyusui prolaktin
dapat dihasilkan dengan rangsangan pada puting pada saat bayi mengisap puting
susu ibu untuk memproduksi ASI.
6
Pada ibu hamil terjadi perubahan pH pada vagina, sekresi vagina berubah dari
asam menjadi lebih bersifat basa sehingga pada ibu hamil lebih rentan terhadap infeksi
pada vagina. Mulai kehamilan 8 minggu sudah kelihatan gejala terjadinya kekebalan
dengan adanya limfosit–limfosit. Semakin bertambahnya umur kehamilan maka jumlah
limfosit juga semakin meningkat.
7
Menurut (Cholifah & Rinata, 2022) Pada sistem kardiovaskuler perubahan yang
terjadi akibat adanya pengaruh kadar hormon estrogen, progesterone, dan prostaglandin
yang meningkat. Dengan adanya perubahan secara fisiologis sistem kardiovaskuler ini
akan beradaptasi selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi janin dan
mempertahankan sirkulasi darah ibu sehingga terjadi perubahan hemodinamik. Fungsi
jantung mengalami perubahan menjadi lebih jelas terlihat pada usia kehamilan 8
minggu. Walaupun sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang tampak diawal
kehamilan atau pada trimester pertama dan berlanjut pada trimester ke II sampai
trimester ke III.
Beberapa perubahan yang terjadi meliputi:
1. Jantung: Pada masa kehamilan diafragma terdorong ke atas sehingga jantung akan
terangkat keatas, serta berotasi kedepan dan ke kiri.
2. Curah jantung: Perubahan curah jantung dimulai pada awal minggu ke 5
kehamilan.
Perubahan tersebut diantaranya berupa tekanan arteri dan resistensi pembuluh darah
mengalami penurunan, namun volume darah dan metabolisme basal mengalami
peningkatan. Curah jantung pada kehamilan lanjut lebih tinggi pada posisi berbaring
miring daripada terlentang akibat uterus yang besar dan berat menghambat aliran balik
vena ke jantung. Ciri khas pada ibu hamil terjadi peningkatan denyut nadi sekitar 10-
15x permenit pada saat istirahat.
8
Bentuk tubuh ibu hamil berubah secara bertahap menyesuaikan penambahan
berat ibu hamil dan semakin besarnya janin, menyebabkan postur dan cara berjalan ibu
hamil berubah.
Beberapa perubahan sistem muskuloskeletal yang dirasakan ibu hamil pada
Trimester II & III menurut (Cholifah & Rinata, 2022):
1. Pada trimester 1 tidak banyak perubahan pada muskuloskeletal. Akibat
peningkatan hormone estrogen dan progesterone terjadi relaksasi dari jaringan ikat,
kartilago, dan ligamen dalam tubuh yang menyebabkan peningkatn mobilitas dari
sambungan atau otot terutama otot pelvik.
2. Akibat membesarnya ukuran Rahim dapat menyebabkan perubahan drastis pada
kurva tulang belakang yang meningkatkan rasa ketidaknyamanan dan rasa sakit
pada bagian belakang bertambah seiring dengan penambahan umur kehamilannya.
3. Ligament rotundum yang terletak pada sisi uterus mengalami peningkatan dan
mendapatkan tekanan dari uterus yang mengakibatkan rasa nyeri pada ligament
tersebut.
4. Sebagai kompensasi adanya uterus yang semakin membesar sehingga postur tubuh
menjadi lordosis atau lebih condong ke bagian depan yang mengakibatkan
pergeseran pusat gravitasi ke belakang pada tungkai bawah, perubahan disebut
lordosis progresif.
5. Lordosis yang besar dengan fleksi anterorior pada leher dan menurunnya lingkar
bahu akan meyebabkan tarikan pada syaraf ulnalis dan medianus sehingga dapat
mengakibatkan rasa pegal, mati rasa dan lemah pada anggota badan bagian atas,
dan ini terjadi pada trimester akhir kehamilan.
6. Selain itu pada trimester akhir juga timbul ketidaknyamanan pada punggung bagian
bawah yang disebabkan oleh meningkatnya mobilitas sendi sakroiliaka,
sakrokoksigeal, dan sendi pubis.
9
bertambah sampai akhir kehamilan. Peningkatan BB selama hamil mempunyai
kontribusi penting dalam suksesnya kehamilan maka setiap ibu hamil periksa harus
ditimbang BB. Sebagian penambahan BB ibu hamil disimpan dalam bentuk lemak
untuk cadangan makanan janin pada trimester terakhir dan sebagai sumber energi pada
awal masa menyusui. Peningkatan BB pada trimester II dan III merupakan petunjuk
penting tentang perkembangan janin.
10
Komplikasi akibat hipertensi dalam kehamilan yang sering dijumpai yaitu
preeklampsia dan eklampsia yang apabila tidak segera ditangani akan mengakibatkan
kegawatdaruratan pada ibu di mana ibu akan kehilangan kesadaran yang berlanjut pada
terjadinya kegagalan pada jantung, gagal ginjal, atau perdarahan otak yang akan
mengakibatkan kematian maternal (Suparji, Nugroho, Karwati, & Arna, 2020).
Menurut (Sinambela & Sari, 2018) Hipertensi dalam kehamilan yaitu hipertensi
yang terjadi pada saat seorang wanita sedang dalam kondisi hamil dan biasanya terjadi di
akhir kehamilan atau lebih tepatnya biasa terjadi di usia kehamilan di atas 20 minggu yang
sebelumnya memiliki tekanan darah normal lalu terjadi kenaikan mencapai nilai 140/90
mmHg yang menjadi salah satu penyulit dalam kehamilan yang bisa berakibat fatal
contohnya yaitu pertumbuhan janin di dalam rahim terganggu yang akan mengakibatkan
hal lain yaitu terganggunya berat badan lahir.
Dalam jurnal (Alatas, 2019) pun disebutkan hipertensi pada kehamilan apabila
tekanan darahnya ≥140/90 mmHg, h ipertensi bisa dikatakan ringan sampai dengan sedang
jika tekanan darah sistolik mencapat 140 sampai 159 dan diastolik mencapai 90 sampai
109 mmHg, lalu hipertensi bisa dikatakan berat jika tekanan darah sistorik mencapat lebih
dari 160/110 mmHg.
11
dalam urin. Pre-eklampsia biasanya disertai gejala sakit kepala, perubahan kesan pada
wajah, nyeri pada bagian ulu hati dan sampai merasakan sesak.
Dalam penelitian (Alatas, 2019) Beberapa faktor telah diidentifikasi terkait
dengan peningkatan risiko pre-eklampsia seperti usia, paritas, preeklampsia
sebelumnya, riwayat keluarga, kehamilan ganda, kondisi medis yang sudah ada
sebelumnya (misalnya diabetes mellitus tipe I), obesitas dan resistensi insulin,
hipertensi kronis, penyakit ginjal, penyakit autoimun, sindrom antifosfolipid, penyakit
rematik, merokok, peningkatan indeks massa tubuh (BMI), peningkatan tekanan
darah, dan adanya proteinuria.
Sedangkan eklampsia adalah terjadinya tekanan darah tinggi sampai kejang
pada wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat dikaitkan dengan penyebab
lainnya. Eklampsia merupakan keadaan darurat yang dapat mengancam jiwa.
Eklampsia dapat terjadi pada sebelum, saat, dan setelah persalinan (antepartum,
intrapartum, postpartum). Eklampsia didahului dengan gejala sakit kepala dan
perubahan penglihatan, kemudian kejang selama 60-90 detik.
12
Hipertensi yang disertai preeklampsia biasanya muncul antara minggu 24-26
kehamilan berakibat kelahiran preterm atau kurang bulan dan bayi lahir lebih kecil
dari batas normal (IUGR).
d. Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang terjadi pada kehamilan usia 20
minggu ke atas tanpa disertai proteinuria dalam urin.
Angka kejadiannya sebesar 6%. Sebagian wanita (> 25%) berkembang menjadi
pre-eklampsia diagnosis hipertensi gestasional biasanya diketahui setelah melahirkan
(Alatas, 2019).
Hipertensi gestasional berat adalah kondisi ketika tekanan darah meningkat
sampai lebih dari 160/110 mmHg. Tekanan darah baru menjadi normal pada post
partum, biasanya dalam sepuluh hari. Gejalanya mungkin mengalami sakit kepala,
penglihatan kabur, dan sakit perut dan tes laboratorium abnormal, termasuk jumlah
trombosit rendah dan tes fungsi hati abnormal. Wanita hamil dengan tekanan darah
tinggu memiliki peluang melahirkan normal walaupun tekanan darahnya tinggi.
Penyebab hipertensi gestasional belum jelas, tetapi merupakan indikasi terbentuknya
hipertensi kronis di masa depan sehingga perlu diawasi dan dilakukan tindakan
pencegahan.
Ibu hamil yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih
rasional dibandingkan mereka yang tidak berpendidikan. Ibu hamil, bersalin, dan nifas
yang berpendidikan rendah akan mempengaruhi penerimaan informasi tentang
pencegahan terjadinya hipertensi dalam kehamilan, maka akan menjadi terbatas dan
berdampak terjadinya preeklamsia. Semakin tinggi pendidikan maka kemampuan
untuk memperoleh dan menyerap informasi akan semakin baik khususnya tentang
hipertensi dalam kehamilan sehingga dapat dicegah dan diminimalisir.
13
mengetahui tanda gejala hipertensi dan manfaat pemeriksaan yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan.
Usia ibu sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi. Dalam kurun waktu
reproduksi sehat diketahui bahwa usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan
adalah usia 20-35 tahun, dimana organ reproduksi sudah sempurna dalam menjalani
fungsinya. Ibu yang bersalin dengan partus lama yang disebabkan oleh kelainan his
biasanya disebabkan oleh faktor usia yang relatif tua, terutama jika ia berusia lebih
dari 35 tahun.
Hal ini sama dengan penelitian (Walidah, 2012) ada hubungan signifikan antara
paritas dengan kejadian hipertensi (preeklamsia).
Wanita yang baru menjadi ibu atau dengan pasangan baru mempunyai resiko 6
sampai 8 kali lebih mudah terkena hipertensi (preeklamsia-eklamsi) dari pada
multigravida. Sekitar 85% hipertensi (preklamsi-eklamsi) terjadi pada kehamilan
pertama.
14
tekanan darah dan konsisi pembuluh darah. Gangguan ketidakseimbangan hormon ini
didapatkan pada penggunaan kontrasepsi hormonal.
a. Jangka pendek
1. Pada ibu hamil dengan hipertensi bisa meningkatkan risiko eklampsia,
hemoragik, isemik stroke, kerusakan hati (HELL sindrom), gagal hati, disfungsi
ginjal, persalinan cesar, persalinan dini, dan abruptio plasenta.
15
2. Pada janin meningkatkan risiko kelahiran preterm atau prematur, induksi
kelahiran, gangguan pertumbuhan janin, sindrom pernapasan, serta yang lebih
fatalnya yaitu kematian janin.
b. Jangka panjang
16
BAB III
PERKEMBANGAN KASUS
I. IDENTITAS
Istri Suami
Alasan datang
Keluhan Tambahan
Ibu mengatakan saat ini sedang mengalami batuk pilek yang sudah terjadi
dalam 2 hari.
Riwayat Haid
17
HPHT 6 April 2023 Ibu mengatakan ia pertama kali menstruasi di usia 11
tahun dengan siklus haid 28-30 hari dan lamanya 7 hari. ibu mengatakan terkadang
merasakan sakit perut saat menstruasi tetapi tidak sampai mengganggu aktifitasnya.
1. Anak I : Lahir tahun 2014, lahir cukup bulan, spontan, ditolong oleh bidan,
tidak ada penyulit, jenis kelamin laki-laki, BB 3000 gram, PB 46 cm, keadaan
sehat, nifas baik
2. Anak II : Lahir tahun 2019, lahir cukup bulan, spontan, ditolong oleh bidan,
tidak ada penyulit, jenis kelamin perempuan, BB 3500 gram, PB 50 cm,
keadaan sehat, nifas baik
3. hamil ini
Ibu mengatakan setelah melahirkan anak pertama dan kedua tidak pernah
menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan tidak mau.
Riwayat Penyakit
Ibu mengatakan memiliki hipertensi kronik yang terjadi sejak kehamilan anak
keduanya dan berlangsung sampai saat ini tetapi ibu mengatakan sedang tidak
mendapatkan pengobatan jangka panjang apapun, tidak pernah memiliki riwayat
penyakit jantung, diabetes mellitus, penyakit menular seksual, dan asma.
Pola makan 2-3 kali dalam sehari dengan menu nasi 1 centong setiap kali
makan, terdapat lauk ikan atau ayam dan tahu atau tempe, dan sayur diselingi dengan
camilan siang sampai sore berupa kue dan terkadang mengonsumsi buah-buahan.
Ibu mengatakan jarang minum air putih, dalam sehari hanya 1 liter dan sesekali
minum teh atau kopi. Ibu mengatakan setiap BAK berwarna kuning jernih tetapi
terkadang kuning pekat dan tidak disertai nyeri ataupun perih, BAB 1 kali sehari
lebih sering saat pagi hari dengan konsistensi padat, warna kecoklatan, terkadang
mengalami sulit BAB atau konstipasi. Ibu mengatakan lebih sering tidur cukup 7-8
jam sehari tanpa tidur siang, atau terkadang tidur kurang jika memiliki acara di
rumah sanak saudaranya. Ibu memiliki aktifitas rutin melakukan pekerjaan rumah
18
yaitu mengurus anak, memasak, menyuci, menyapu, mengepel yang terkadang
dibantu oleh anak dan suaminya. Ibu tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol,
serta tidak meminum jamu apapun selama hamil.
Kesadaran : Composmentis
Nadi : 85 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,2° C
3. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan : 71 kg
Lila : 30 cm
4. Pemeriksaan Fisik
19
Hidung : terdapat pengeluaran lender cair karena ibu sedang pilek
5. Pemeriksaan Obstetri
TFU 22 cm, di fundus teraba bokong, di sebelah kiri perut ibu teraba punggung
dan di sebelah kanan perut ibu teraba ekstremitas, bagian terendah teraba
kepala dan belum masuk PAP
DJJ 142x/menit, teratur
Pada vulva tidak ada oedema, tidak ada varices, tidak ada kondiloma, tidak ada
pengeluaran pervaginam, tidak ada haemoroid
IV. ANALISA
V. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dalam keadaan baik. Ibu mengerti
2. Menganjurkan ibu untuk tentap memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi. Ibu
mengerti
3. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan dan menghindari pemicu
tekanan darah tinggi khususnya mengurangi garam. ibu mengerti
4. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan tidak melakukan aktifitas
yang berat. Ibu mengerti
5. Memberitahu ibu tentang tanda bahaya kehamilan trimester 2. Ibu mengerti
6. Mengingatkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang pada tanggal 16
Oktober 2023. Ibu mengerti
20
7. Mengantarkan ibu ke laboratorium. Hasil hemaglobin 11, 8 gr/dl, protein
urine 1 +, leukosit 3+
8. Mengantarkan ibu ke poli ispa untuk dikonsultasikan ke dokter atas keluhan
batuk pilek. Sudah dilakukan
9. Melakukan pendokumentasian. Sudah dilakukan
21
B. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL KUNJUNGAN II
Kunjungan Kedua : 26 September 2023
I. DATA SUBJEKTIF
1. Ibu mengatakan tidak ada keluhan dalam kehamilannya sekarang
2. Ibu mengatakan sudah tidak batuk pilek
3. Ibu mengatakan tidak diberikan obat penurun tekanan darah tinggi
Kesadaran : Composmentis
Nadi : 85 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,2° C
3. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan : 71 kg
4. Pemeriksaan Fisik
22
Abdomen : tidak ada luka bekas operasi
III. ANALISA
Ny. N usia 30 tahun G3P2A0 hamil 25 minggu dengan hipertensi kronik
IV. PENATALAKSANAAN
1. Menganjurkan ibu untuk tentap memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi. Ibu
mengerti
2. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan dan menghindari pemicu
tekanan darah tinggi khususnya mengurangi garam. ibu mengerti
3. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan tidak melakukan aktifitas
yang berat. Ibu mengerti
4. Menganjurkan ibu untuk minum air putih dengan cukup atau sekitar 2 liter per
hari dan menghindari minum teh dan kopi. Ibu mengerti
5. Mengingatkan ibu untuk tetap mengonsumsi vitamin C 85 mg, tablet Fe 60
mg, kalsium 500 gr, dan asam folat 400 mcg 1x1 yang sebelumnya diberikan
oleh puskesmas dengan rutin. Ibu mengerti
6. Mengingatkan ibu kembali untuk melakukan kunjungan ulang pada waktu
yang sudah ditentukan yaitu 16 Oktober 2023. Ibu mengerti
7. Melakukan pendokumentasian. Sudah dilakukan
23
C. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL KUNJUNGAN III
Kunjungan Ketiga : 03 Oktober 2023
I. DATA SUBJEKTIF
1. Ibu mengatakan tidak ada keluhan dalam kehamilannya sekarang
2. Ibu mengatakan sebelumnya ia sempat sakit akibat kelelahan beraktifitas
Kesadaran : Composmentis
Nadi : 82 x/menit
Pernapasan : 21 x/menit
Suhu : 36,5° C
3. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan : 71 kg
4. Pemeriksaan Fisik
24
V. ANALISA
Ny. N usia 30 tahun G3P2A0 hamil 26 minggu dengan hipertensi kronik
V. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dalam keadaan baik. Ibu mengerti
2. Menganjurkan ibu untuk tentap memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi. Ibu
mengerti
3. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan untuk menghindari tekanan
darah tinggi khususnya mengurangi garam. ibu mengerti
4. Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi buah-buahan yang baik untuk tekanan
darah seperti pisang dan buah kiwi. Ibu mengerti
5. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan tidak melakukan aktifitas
yang berat. Ibu mengerti
6. Mengingatkan ibu untuk tetap vitamin C 85 mg, tablet Fe 60 mg, kalsium 500
gr, dan asam folat 400 mcg 1x1 dengan rutin. Ibu mengerti
7. Mengingatkan ibu untuk tetap mengonsumsi obat penurun tekanan darah
nifedipine 30 mg 1x1 sesuai waktunya dengan rutin. Ibu mengerti
8. Memberikan KIE tentang bahaya hipertensi dalam kehamilan. Ibu mengerti
9. Mengingatkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang sesuai tanggal yang
sudah ditentukan. Ibu mengerti
10. Melakukan pendokumentasian. Sudah dilakukan
25
D. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL KUNJUNGAN IV
Kunjungan Ketiga : Jumat, 3 November 2023
I. DATA SUBJEKTIF
1. Ibu mengatakan tidak ada keluhan dalam kehamilannya sekarang
2. Ibu mengatakan sebelumnya sempat sakit akibat kelelahan beraktifitas di
acara luar rumah
3. Ibu mengatakan ia sudah mengurangi konsumsi teh dan kopi
4. Ibu mengatakan ia diberikan obat penurun darah tinggi saat melakukan
kontrol ulang kehamilan pada 27 Oktober 2023
Kesadaran : Composmentis
Nadi : 82 x/menit
Pernapasan : 21 x/menit
Suhu : 36,5° C
3. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan : 72 kg
4. Pemeriksaan Fisik
26
Payudara : simetris, putting susu menonjol, areola bersih, dan tidak
III. ANALISA
Ny. N usia 30 tahun G3P2A0 hamil 29 minggu dengan hipertensi kronik
IV. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dalam keadaan baik. Ibu mengerti
2. Menganjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi
khususnya air putih. Ibu mengerti
3. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan dan menghindari pemicu
tekanan darah tinggi khususnya mengurangi garam. ibu mengerti
4. Mengingatkan ibu untuk tetap vitamin C 85 mg, tablet Fe 60 mg, kalsium 500
gr, dan asam folat 400 mcg 1x1 dengan rutin. Ibu mengerti
5. Mengingatkan ibu untuk tetap mengonsumsi obat penurun tekanan darah
nifedipine 10 mg 1x1 sesuai waktunya dengan rutin. Ibu mengerti
6. Memberikan KIE tentang bahaya kehamilan trimester 3. Ibu mengerti
7. Memberikan KIE tentang olahraga ringan yang bisa dilakukan oleh ibu hamil
seperti yoga, jalan pagi atau jalan sore, melakukan peregangan, dan Latihan
jongkok-berdiri dengan tumpuan Kasur atau meja. Ibu sudah melakukannya
dan merasa senang atas aktifitas barunya
8. Mengingatkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang sesuai tanggal yang
sudah ditentukan yaitu tanggal 14 November 2023. Ibu mengerti
9. Melakukan pendokumentasian. Sudah dilakukan
27
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
28
Penentuan status gizi pada ibu hamil menurut (Kementerian Kesehatan RI, 2015)
adalah normal jika lingkar lengan atas (LILA) ≥23,5 cm dan KEK jika LILA ≤23,5 cm
Menurut (Oktadianingsih, Irianto, Chandradewi, & Jaya, 2017) penambahan berat
badan ibu selama masa kehamilan terjadi karena adanya pertumbuhan janin, plasenta,
cairan amnion, dan perubahan metabolik ibu dan juga dipengaruhi oleh asupan zat gizi
ibu. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 menyatakan bahwa selama hamil,
ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan zat gizi dan energi yang cukup sesuai dengan
kebutuhannya selama masa kehamilan yang merupakan hal terpenting untuk proses
tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu.
Berdasarkan hasil pengkajian, didapati tekanan darah ibu yang selalu tinggi,
beberapa kali di atas 140/90 mmHg, sesuai dengan penelitian (Alatas, 2019) ibu hamil
dikatakan mengalami hipertensi ringan-sedang pada kehamilan apabila tekanan darahnya
≥140/90 mmHg. Dibagi menjadi ringan- sedang (140 – 159 / 90 – 109 mmHg) dan berat
(≥160/110 mmHg) dan Ny. N mengalami penurunan tekanan darah di akhir pengkajian
yaitu 132/78 mmHg setelah rutin mengonsumsi obat antihipertensi.
Ny. N mendapatkan terapi antihipertensi berupa nifedipine 10 yang diberikan oleh
Fasilitas Kesehatan untuk membantu menekan tekanan darah agar tidak terjadi
peningkatan yang membahayakan ibu serta janin.
Dalam penelitian (Alatas, 2019) pengobatan hipertensi dan kehamilan adalah
menggunakan obat nifedipine. Nifedipine digunakan secara luas pada hipertensi dalam
kehamilan, tetapi walaupun demikian pada brosur obat / SPC 2010 tidak dianjurkan pada
kehamilan sebelum 20 minggu dan pada ibu menyusui, di Indonesia obat nifedipin tersedia
di Formularium Nasional bentuk tablet 10 mg, tablet lepas lambat 20 mg dan tablet lepas
lambat 30 mg.
Preeklampsia merupakan suatu komplikasi dari hipertensi pada ibu hamil dan
merupakan keadaan timbulnya hipertensi yang disertai proteinuria yang terjadi setelah usia
kehamilan minggu ke-20 sampai minggu keenam setelah persalinan atau saat masa nifas.
Preeklampsia didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau
tekanan diastolik ≥ 90 mmHg sedangkan proteinuria didefinisikan sebagai ekskresi protein
dalam urin dengan kadar 300 mg/dl dalam urin tampung 24 jam atau dengan pemeriksaan
kualiatif ≥ 1+ pada pengambilan sampel urin secara acak. (Insani & Supriatun, 2020).
Hasil pengkajian lain yaitu ada pada abdomen, didapati TFU 22 cm, di fundus teraba
bokong, di sebelah kiri perut ibu teraba punggung dan di sebelah kanan perut ibu teraba
29
ekstremitas, bagian terendah teraba kepala, dan belum masuk PAP dan DJJ 142x/menit
frekuensi teratur.
Pengukuran tinggi fundus dilakukan pada setiap kali kunjungan antenatal bertujuan
untuk mendeteksi pertumbuhan janin yang sesuai atau tidak dengan usia kehamilan, jika
tinggi fundus tidak sesuai dengan usia kehamilan maka kemungkinan ada gangguan
pertumbuhan janin. Penilaian detak jantung janin (DJJ) dilakukan pada akhir trimester I
dan selanjutnya setiap kali melakukan kunjungan antenatal. DJJ terbilang lambat jika
kurang dari 120 kali/menit atau DJJ terbilang cepat jika lebih dari 160 kali/menit
menunjukkan adanya gawat janin (KEPMENKES NOMOR 91 TAHUN 2017).
Dari data yang telah didapatkan, sudah dilakukan cakupan kunjungan antenatal care
berupa 10 T dan diberikan tatalaksana sesuai dengan kondisi kehamilan ibu.
Ny. N melakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil kadar hemoglobin (Hb)
11,8gr dan sesuai dengan pendapat (WHO, 2017) di mana dikatakan aemia ibu hamil
mengalami anemia jika kadar haemoglobin dalam darah <11 gr% pada trimester I dan II,
sedangkan pada trimester III kadar haemoglobin ibu hamil <10.5 gr% dan anemia bisa
didefinisikan sebagai penurunan jumlah sel darah merah atau penurunan konsentrasi Hb
dalam sirkulasi darah.
Anemia pada ibu hamil dapat dibantu atau diatasi dengan memberikan tablet tambah
darah pada kehamilan trimester II yang dikonsumsi sehari satu kali bagi ibu hamil dengan
kadar haemoglobin normal >11gr%, dan sehari dua kali bagi ibu hamil dengan kadar
haemoglobin rendah <10gr% (Achchadi, 2018).
Untuk hasil pemeriksaan urin terdapat leukosit positif 3 dan terdapat protein urine
positif [Link] penelitian (Santoso & Laila, 2019) Leukosit selama terjadi kehamilan
mengalami perubahan fungsi kemotaksis adheso polomurfonuklear akan menurun pada
awal trimester atau awal kehamilan dan dapat berlarut sepanjang masa kehamilan. Jumlah
leukosit dapat meningkat akibat stress fisiologis yang diinduksi oleh kehamilan,
sedangkan penyebab protein urine positif dikarenakan adanya konsumsi protein yang
berlebih, demam tinggi, aktifitas fisik yang berat atau bisa juga disebabkan akibat
gangguan ginjal dan infeksi pada saluran kemih.
Ny. N dirujuk dan diberikan obat antihipertensi untuk menekan peningkatan tekanan
darahnya.
Dalam penelitian (Yana, Brata, & Irawati, 2023) dikatakan European Society of
Cardiology (ESC) 2018 merekomendasikan pemberian terapi antihipertensi pada semua
wanita yan terjadi peningkatan tekanan darah persisten pada nilai >140/90 mmHg hingga
30
>150/95 mmHg, termasuk pada wanita hamil dengan hipertensi gestasional (dengan atau
tanpa proteinuria), hipertensi kronik superimposed hipertensi gestasional, dan hipertensi
dengan gejala atau kerusakan organ subklinis tanpa usia kehamilan yang dikecualikan dan
dalam penelitian yang sama, dikatakan American College of Obstetricians and
Gynecologist (ACOG) 2019 menyatakan pilihan terapi antihipertensi yang dapat diberikan
pada klien dengan preeklampsia adalah labetalol, hidralazin dan nifedipin.
Hal serupa juga dikatakan dalam penelitian (Alatas, 2019) yaitu obat yang umum
digunakan dalam pengobatan hipertensi pada kehamilan adalah labetalol, methyldopa,
nifedipine, clonidine, diuretik, dan hydralazine dan dalam penelitian dikatakan bahwa
menurut ACC/AHA 2017 dan ESC/ESH 2018 obat antihipertensi pada kehamilan yang
direkomendasikan hanya labetalol, methyldopa dan nifedipine, sedangkan yang dilarang
adalah ACE inhibitor, ARB dan direct renin inhibitors (Aliskiren) (Whelton, Carey,
Aronow, Casey, & et al., 2017).
31
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam pelaksanaan studi kasus ini, penulis telah memberikan asuhan kebidanan
kehamilan secara partial. Kesimpulan yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Pengkajian data telah dilakukan dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Ny.
N
2. Analisa masalah dan diagnose kebidanan pada ibu hamil telah dilaksanakan
sehingga penatalaksanaan masalah dan kebutuhan Ny. N dapat teratasi
3. Diagnosa kebidanan potensial pada ibu hamil telah dilakukan berdasarkan
pengkajian
4. Perencanaan dan penatalaksanaan pada ibu hamil telah dilakukan berdasarkan
Analisa dan kebutuhan Ny. N
5. Evaluasi Tindakan pada ibu hamil berdasarkan perencanaan dan penatalaksanaan
telah dilakukan sesuai kebutuhan
6. Pendokumentasian dengan metode SOAP asuhan kebidanan pada kehamilan telah
dilakukan
B. SARAN
1. Untuk Penulis
a. Diharapkan penulis dapat menerapkan teori yang sudah didapatkan secara
benar dalam membantu klien metode untuk menghadapi kehamilan dengan
hipertensi kronik dengan berlandaskan pada teori yang kredibel.
b. Diharapkan penulis dapat menggunakan media tambahan dalam
mengajarkan kepada klien dalam menerapkan metode untuk mengurangi
risiko komplikasi pada kehamilan dengan hipertensi kronik
2. Untuk Puskesmas Kecamatan Makasar
Diharapkan untuk dapat memberikan promosi Kesehatan serta dapat mengajarkan
atau memberikan pengetahuan yang dapat diterapkan oleh ibu hamil dengan
hipertensi kronik dalam mengantisipasi adanya risiko komplikasi.
32
DAFTAR PUSTAKA
Alatas, H. (2019, Oktober). Hipertensi pada Kehamilan. Herb-Medicine Journal, 2(2), 27-51.
Arikah, T., Rahardjo, T., & Widodo, S. (2020). Faktor Risiko Kejadian Hipertensi Pada Ibu
Hamil di Puskesmas Kramat Jati Jakarta Timur. Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1(2), 115-124.
Chaurullisa, G., & Kurmalasari, N. (2022). Pemberian Buah Naga Merah Pada Ibu Hamil
Trimester III Atas Indikasi Anemia Ringan di Puskesmas Geyer 1. TSJKeb_Jurnal,
7(1), 36-41.
Cholifah, S., & Rinata, E. (2022). Buku Ajar Kuliah Asuhan Kebidanan Kehamilan. Sidoarjo:
UMSIDA Press.
Insani, U., & Supriatun, E. (2020). Determinan Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Hamil di
Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Dukuhwaru Slawi. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Keperawatan, 16(2), 81-90.
Jufri, d. (2012). Gaya Hidup yang Berhubungan Dengan Terjadinya Hipertensi Pada Pasien
Rawat Jalan Puskesmas Ranaikang Kecamatan Sinjai Timur. Sinjai.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Profil Kesehatan Indonesia 2018. Indonesia Health Profile,
207.
Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi
Baru Lahir di Era Adaptasi Baru. 98.
33
KEPMENKES NOMOR 91 TAHUN 2017. (n.d.). Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 91 Tahun 2017 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran
Tata Laksana Komplikasi Kehamilan.
Mannan, H., Wahiduddin, & Rismayanti. (2012). Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Wilayah
Kerja Puskesmas Bangkala Kabupaten Jeneponto . Jeneponto.
Mardiana, E., Musa, S., & Lestari, M. (2022). Jurnal JKFT. Jurnal JKT: Universitas
Muhammadiyah Tangerang, 7(1), 54-58.
Ningsih, E. (2018). Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Hamil Trimester III dengan Keteraturan
Kunjungan ANC. Jurnal Midpro, 9(2), 2-5.
Oktadianingsih, D., Irianto, Chandradewi, A., & Jaya, I. K. (2017). Penambahan Berat Badan
Ibu Hamil Terhadap Berat Bayi Lahir di Kota Mataram. Jurnal Gizi Prima, 2(2), 76-
85.
Prautami, E. (2019). Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Dalam Kunjungan Antenatal Care di
Klinik Abi Ummi DW Sarmadi Palembang. Journal Midwifery Ners, 1(3), 7-12.
Safitri, A., & Djaiman, S. P. (2021). Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan dengan Kelahiran
Prematur: Metaanalisis. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 31(1), 27-
38.
Santoso, A. P., & Laila, M. (2019). Hubungan Leukosit Dengan Protein Urine Pada Ibu Hamil
Trimester III di Puskesmas Klampis Bangkalan Madura. MTPH Journal, 3(2), 101-106.
Sinambela, M., & Sari, N. M. (2018). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi Pada
Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Pancur Batu Kecamatan Pancur Batu
Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Keperawatan dan Fisioterapi (JKF), 1(1), 12-19.
Suparji, Nugroho, S. H., Karwati, & Arna, D. Y. (2020). Determinan Kejadian Hipertensi
Dalam Kehamilan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 13(2), 330-333.
34
Walidah. (2012). Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Hipertensi Pada Kehamilan di
Poli Klinik Obstetri Ginekologi Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang.
Manado.
Wawan, D. (2017). Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Nuha Media.
Whelton, P., Carey, R., Aronow, W., Casey, D., & et al. (2017).
ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/AS H/ASPC/NMA/PCNA Guideline for
the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in
Adults: A Report of the American College of Cardiology /American Heart Association
Task Force on Clinical. Hypertension.
Yana, A. U., Brata, C., & Irawati, S. (2023). Study of the Use Antihypertentives in Outpatients
Preeclampsia at the Polyclinic RSIA Bantuan 05.08.05 Surabaya. Jurnal Kesehatan,
14(2), 1-10.
35
LAMPIRAN
1. Informed Consent
36
2. Leaflet
37
3. Lembar Konsultasi
38
39
4. Bukti kunjungan
40