MODUL 3
PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA
Pendahuluan
M
ateri yang terdapat pada modul 3 adalah mengenai kaidah ejaan
Bahasa Indonesia, meliputi pemakaian huruf, pada materi pertama
akan membahas berbagai jenis huruf dimulai dari huruf abjad, huruf
vokal, huruf konsonan, huruf diftong, gabungan huruf konsonan, huruf kaptal,
huruf miring serta huruf tebal. Pertemuan selanjutnya kegiatan belajar 2 akan
mempelajari penulisan kata, pada materi ini terdapat kata dasar, kata turunan,
kata ulang, gabungan kata, Kata Ganti ku, kau, mu dan nya, Kata Depan di, ke
dan dari, Kata si dan sang, partikel, singkatan, akronim, angk dan bilangan. Pada
pertemuan ke 3 mengenai pemakaian tanda baca meliputi tanda titil, tanda koma,
tanda titik koma, tanda titik dua, tanda hubung, tanda pisah, tanda elipsis, tanda
tanya, tanda seru, tanda kurung, tanda kurung dua, kurung siku, tanda petik dua,
tanda petik tunggal, tanda garis miring, tanda penyingkat atau apostrof serta
penulisan unsur serapan.
Kemampuan yang diharapkan setelah mempelajari materi ini adalah
mahasiswa mampu mengaplikasikan ejaan dalam bahasa tulis yang berkenaan
dengan penulisan huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca serta menulis
unsur serapan.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 55
KEGIATAN BELAJAR 1
PEMAKAIAN HURUF
A. Huruf Abjad
Abjad yang dipakai dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf
berikut.
Huruf
Nama Pengucapan
Kapital Nonkapital
A a a A
B b be Bé
C c ce Cé
D d de Dé
E e e É
F f ef Èf
G g ge Gé
H h ha Ha
I i i I
J j je Jé
K k ka Ka
L l el Èl
M m em Èm
N n en èn
O o o o
P p pe pé
Q q ki ki
R r er èr
S s es ès
T t te té
U u u u
V v ve vé
W w we wé
X x eks èks
Y y ye yé
Z z zet zèt
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima
huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.
56 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf Vokal
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
padi lusa
a api
enak petak sore
e* ember pendek -
emas kena tipe
i itu simpan murni
o oleh kota radio
u ulang bumi ibu
Keterangan:
*Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik berikut ini dapat
digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
1. Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
2. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Kami menonton film seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.
3. Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank
Indonesia.
Kecap (kêcap) dulu makanan itu.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21
huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf Contoh Pemakaian dalam Kata
Konsonan Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
b bahasa sebut adab
c cakap kaca -
d dua ada abad
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 57
f fakir kafan maaf
g guna tiga gudeg
h hari saham tuah
j jalan manja mikraj
k kami paksa politik
l lekas alas akal
m maka kami diam
n nama tanah daun
p pasang apa siap
q* qariah iqra -
r raih bara Putar
s sampai asli tangkas
t tali mata rapat
v variasi lava molotov
w wanita hawa takraw
x* xenon - -
y yakin payung -
z zeni lazim juz
Keterangan:
*Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu. Huruf
x pada posisi awal kata diucapkan [s].
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang dilambangkan
dengan gabungan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.
Huruf Contoh Pemakaian dalam Kata
Diftong Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
ai aileron balairung pandai
au autodidak taufik harimau
ei eigendom geiser survei
oi - boikot amboi
E. Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan
satu bunyi konsonan.
Gabungan Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf Konsonan Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
kh khusus akhir tarikh
ng ngarai bangun senang
ny nyata banyak -
sy syarat musyawarah Arasy
58 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
F. Huruf Kapital
1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Siapa namamu?
Randi membeli buku Biologi.
Kita harus bekerja keras.
Pelajaran Matematika akan selesai dalam dua jam.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk
julukan.
Misalnya:
Yulian Dinihari
Fajar Kurniadi
Eka Septiani
Nur Indah Sari
Jenderal Kancil
Dewa Pedang
Alessandro Volta
André-Marie Ampère
Mujair
Rudolf Diesel
Catatan:
a. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang
merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
ikan mujair
mesin diesel
5 Ampere
10 volt
b. Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang
bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf
pertama kata tugas.
Misalnya:
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 59
Abdul Rahman bin Zaini
Siti Fatimah binti Salim
Indani boru Sitanggang
Charles Adriaan van Ophuijsen
Ayam Jantan dari Timur
Mutiara dari Selatan
3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
“Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.”
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama,
kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Islam Alquran
Kristen Alkitab
Hindu Weda
Allah
Tuhan
Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri
rahmat.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar
kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama
orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
Sultan Hasanuddin
Mahaputra Yamin
Haji Agus Salim
Imam Hambali
60 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Nabi Ibrahim
Raden Ajeng Kartini
Doktor Mohammad Hatta
Agung Permana, Sarjana Hukum
Irwansyah, Magister Humaniora
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar
kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan
kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Selamat datang, Yang Mulia.
Semoga berbahagia, Sultan.
Terima kasih, Kiai.
Selamat pagi, Dokter.
Silakan duduk, Prof.
Mohon izin, Jenderal.
7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supardi
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Papua Barat
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa,
dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Dani
bahasa Bali
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 61
Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk
dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan
hari besar atau hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Konferensi Asia Afrika
Perang Dunia II
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak
ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa
Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Jakarta Asia Tenggara
Pulau Miangas Amerika Serikat
Bukit Barisan Jawa Barat
Dataran Tinggi Dieng Danau Toba
62 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Jalan Sulawesi Gunung Semeru
Ngarai Sianok Jazirah Arab
Selat Lombok Lembah Baliem
Sungai Musi Pegunungan Himalaya
Teluk Benggala Tanjung Harapan
Terusan Suez Kecamatan Cicadas
Gang Kelinci Kelurahan Rawamangun
Catatan:
a. Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis
dengan huruf kapital.
Misalnya:
Berlayar ke teluk mandi di sungai
Menyeberangi selat berenang di danau
b. Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis
tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
jeruk bali (Citrus maxima)
kacang bogor (Voandzeia subterranea)
nangka belanda (Anona muricata)
petai cina (Leucaena glauca)
Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat
dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam
kelompoknya.
Misalnya:
Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir,
gula tebu, gula aren, dan gula anggur.
Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang
berbeda.
Contoh berikut bukan nama jenis.
Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik
Yogyakarta, dan batik Madura.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 63
Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan
film Jepang.
Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatra
Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua
unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan,
organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan,
yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010
tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden
dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Lainnya Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur
kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah
serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke,
dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
Dia agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singka- tan nama gelar,
pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.H. sarjana hukum
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
S.S. sarjana sastra
64 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
M.A. master of arts
[Link]. magister humaniora
[Link]. magister sains
K.H. kiai haji
Hj. hajah
Mgr. monseigneur
Pdt. pendeta
Dg. daeng
Dt. datuk
R.A. raden ayu
St. sutan
Tb. tubagus
Dr. doktor
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau
ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.
Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
“Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”
Catatan:
a. Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau
pengacuan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 65
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
b. Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
G. Huruf Miring
1. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau
nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar
pustaka.
Misalnya:
Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat
kebangsaan.
Berita itu muncul dalam surat kabar Cakrawala.
Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
2. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Huruf terakhir kata abad adalah d.
Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
Dalam bab ini tidak dibahas pemakaian tanda baca.
Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan lepas tangan.
3. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa
daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan
asing yang berkunjung ke Aceh.
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Weltanschauung bermakna ‘pandangan dunia’.
66 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan negara
Indonesia.
Catatan:
a. Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam
bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
b. Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian
yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
c. Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang
dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis
dengan huruf miring.
H. Huruf Tebal
1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis
miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan
Bahasa Indonesia.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’.
2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan,
seperti judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya:
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh bahasa
standar dan nonstandar, ratusan bahasa darrah,dan ditambah
beberapa bahasa asing, membutuhkan penanganan yang tepat
dalam perencanaan bahasa. Agar lebih jelas, latar belakang dan
masalah akan diuraikan secara terpisah seperti tampak pada
paparan berikut.
1.1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya
sikap yang beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di
Indonesia, yaitu (1) sangat bangga terhadap bahasa asing, (2)
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 67
sangat bangga terhadap bahasa daerah, dan (3) sangat bangga
terhadap bahasa Indonesia.
1.1.2 Masalah
Penelitian ini hanya membatasi masalah pada sikap bahasa
masyarakat Kalimantan terhadap bahasa-bahasa yang ada di
Indonesia. Sikap masyarakat tersebut akan digunakan sebagai
formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sikap
bahasa masyarakat Kalimantan, khususnya yang tinggal di kota
besar terhadap bahasa-bahasa yang ada di Indonesia.
Setelah membaca materi di atas, Anda perhatikan dan pahami juga video
pembelajaran di bawah ini.
Sumber: [Link]
Setelah membaca dan memahami materi di atas, jika diperlukan, Anda dapat
bertanya atau berdiskusi melalui Forum Diskusi Mata Kuliah Bahasa
Indonesia dengan pranala [Link] dan
menuliskan identitas NPM_Nama_Program Studi_Kelas_Pertanyaan.
Pertanyaan dan diskusi juga dapat disampaikan melalui forum yang
dipersiapkan oleh Dosen Pengampu masing-masing.
68 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Latihan
Petunjuk Soal
Bacalah penggalan wacana berikut ini, lalu tulis kembali dengan memperhatikan
pemakaian huruf, baik huruf kapital, cetak miring, dan lainnya sesuai Ejaan
Bahasa Indonesia!
belakangan ini muncul fenomena memudarnya kesantunan berbahasa di
kalangan masyarakat indonesia. ada tiga sikap bahasa yang dirumuskan oleh
garvin dan mathiot (chaer & agustina, 2004) yang bisa menggambarkan
kenyataan terhadap bahasa indonesia dewasa ini. ketiga ciri sikap bahasa
tersebut adalah (1) kesetiaan bahasa yang mendorong masyarakat suatu bahasa
mempertahankan bahasanya dan apabila perlu, mencegah adanya pengaruh
bahasa lain; (2) kebanggaan bahasa (language pride) yang mendorong orang
mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas
dan kesatuan masyarakat; (3) kesadaran adanya norma bahasa (awareness of
the norm) yang mendorong orang menggunakan bahasanya secara cermat dan
santun; dan yang terakhir ini adalah merupakan faktor yang sangat besar
pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa
(language use). ketiga ciri tersebut adalah ciri-ciri sikap positif terhadap bahasa.
sebaliknya, apabila ketiga ciri sikap bahasa tersebut sudah menghilang atau
melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota
masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah
melanda diri atau kelompok orang itu. sikap negatif terhadap bahasa akan lebih
terasa apabila seseorang atau sekelompok orang tidak mempunyai kesadaran
akan adanya norma bahasa. artinya tidak lagi mengindahkan kaidah berbahasa
yang baik dan benar serta tidak memperhatikan aspek kesantunan berbahasa
(lingusitic politeness).
Hasil latihan dikirimkan melelui Google Form dengan pranala
[Link] atau melalui media yang dipersiapkan
oleh Dosen Pengampu masing-masing.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 69
Rangkuman
➢ Huruf abjad dipakai dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf, yaitu
A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, dan Z.
➢ Huruf vokal yaitu huruf yang melambangkan fonem vokal terdiri atas lima
huruf, yaitu A, E, I, O, dan U.
➢ Huruf konsonan yaitu huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa
Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu B, C, D, F, G, H, J, K, L, M, N, P, Q, R,
S, T, V, W, X, Y, dan Z.
➢ Huruf diftong, di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang
dilambangkan dengan gabungan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.
➢ Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan
satu bunyi konsonan.
➢ Penggunaan huruf kapital:
• dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat
• dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan
• dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung
• dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan
Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan
• dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan,
keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar
akademik yang mengikuti nama orang
• dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan,
keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai
sebagai sapaan
• dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang
tertentu, nama instansi, atau nama tempat
• dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa
• kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari
besar atau hari raya
• dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah
70 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
• dipakai sebagai huruf pertama nama geografi
• dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk
ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau
dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk
• dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang
sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama
majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang,
dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal
• dipakai sebagai huruf pertama unsur singka- tan nama gelar, pangkat, atau
sapaan
• dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan,
seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain
yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan
➢ Penggunaan huruf miring
• dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar
yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka
• dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata,
atau kelompok kata dalam kalimat
• dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau
bahasa asing
➢ Huruf Tebal
• dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring
• dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku,
bab, atau subbab
Tes Formatif
Mengerjakan tes formatif dapat dilakukan melalui tautan … atau mengikuti
ketentuan dari dosen pengampu masing-masing.
Bacalah dengan cermat soal-soal berikut ini, lalu pilihlah jawaban yang
paling tepat!
1. Bacalah teks berikut dengan cermat!
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 71
Judul: penggunaan teknik rekontruksi cerita film melalui media vcd dalam
pembelajaran menulis cerpen
Penulisan judul yang sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar adalah…
A. Penggunaan Teknik Rekontruksi cerita film melalui media VCD dalam
Pembelajaran Menulis Cerpen
B. Penggunaan teknik rekontruksi cerita film melalui media vcd dalam
pembelajaran menulis cerpen
C. Penggunaan Teknik Rekontruksi Cerita Film melalui Media VCD dalam
Pembelajaran Menulis Cerpen
D. Penggunaan Teknik Rekontruksi Cerita Film Melalui Media Vcd Dalam
Pembelajaran Menulis Cerpen
E. Penggunaan Teknik Rekontruksi Cerita Film Melalui Media vcd Dalam
Pembelajaran Menulis Cerpen
2. Cermati kalimat berikut ini!
Dalam prakteknya kemacetan kredit sering terjadi kerena
faktor eksternal dan hal itu merupakan resiko suatu bank.
Penulisan yang tepat untuk istilah yang bercetak miring dalam kutipan
tersebut adalah…
A. peraktik, eksternal, risiko
B. peraktik, ekternel, risiko
C. praktik, eksteral, risiko
D. praktik, eksternel, resiko
E. praktik, eksternal, reseko
3. Penulisan daftar pustaka yang sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia untuk
buku Prestasi Solusi Reputasi karya Kurnyawan Pakpahan yang diterbitkan
oleh penerbit Purwanty Sastra di Medan tahun 2011 adalah…
A. Kurnyawan, Pakpahan. Prestasi Solusi Reputasi. Medan: Purwaty Sastra
B. Pakpahan, Kurnyawan. 2011. Prestasi Solusi Reputasi. Purwanty. Sastra:
Medan
C. Kurnyawan, Pakpahan. Prestasi Solusi Reputasi. Purwanty.(Medan,
2011), hal 14.
72 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
D. Kurnyawan, Pakpahan. Prestasi Solusi Reputasi. Purwanty. (Medan,
2011) hal 14,
E. Pakpahan, Kurnyawan. 2011. Prestasi Solusi Reputasi. Purwanty.
Medan: Purwanty Sastra.
4. Berikut ini penggunaan huruf kapital yang salah terdapat pada kalimat ...
A. “Bapak, ada yang bisa saya bantu?”
B. Siapakah nama Gubernur-gubernur itu?
C. Presiden Jokowi mengunjungi Amerika Serikat.
D. Gubernur Jakarta akan mengunjungi desa-desa kecil.
E. “Saya pergi dulu, Dik.”
5. Penggunaan huruf miring yang tepat terdapat pada kalimat ...
A. Artikel Andi dimuat di Jawa Pos.
B. Ali menulis artikel di Suara Merdeka.
C. Dia sedang membaca novel Romeo dan Julliete.
D. Andi sedang membaca koran sindo.
E. Artikelnya dipuji pihak jawa pos.
6. Kesalahan penulisan huruf kapital terdapat dalam kalimat ...
A. Ibu membeli pisang Ambon di pasar.
B. Pekerjaan itu dapat Anda lakukan setiap saat.
C. Bibiku sikapnya kebelanda-belandaan.
D. Kakak pulang dari Jakarta.
E. Adik membeli gula jawa.
7. Penulisan gelar pada kalimat dibawah ini yang benar adalah . . .
A. Suryani, M. Hum
B. Ratna M. M.
C. Diah: [Link]
D. Gilang. M. Pd.
E. Prof. Dr. Rahmat, [Link].
8. Penulisan huruf kapital untuk nama jabatan yang benar adalah, kecuali . . .
A. Sidang itu dipimpin Presiden.
B. Kegiatan itu direncanakan oleh Kepala Departemen.
C. Sidang itu diadakan di ruang Kementerian.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 73
D. Rapat yang dipimpin kepala daerah itu berjalan lancar.
E. Rencana Gubernur Jakarta telah disepakati oleh pemerintah.
9. Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Penulisan huruf miring pada kata serapan dibawah ini yang tepat dengan
PUEBI yaitu . . .
A. Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia Mangostana.
B. Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mangostana.
C. Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
D. Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mangostana.
E. Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
10. Penulisan huruf cetak tebal yang benar dalam PUEBI, kecuali . . .
A. Makalah ini memiliki Bab Pendahuluan.
B. Skripsi itu terdapat daftar, indeks dan lampiran.
C. Judul laporannya berjudul: Cinta Tanah Air.
D. Artikel tersebut memuat Pendahuluan, Isi, dan Penutup.
E. Laporan hasil KKN mahasiswa itu belum lengkap karena tidak terdapat
Latar Belakang Masalah.
11. Manakah kalimat yang menggunakan huruf kapital dengan tepat?
A. Orang Indonesia percaya pada Tuhan yang Mahakuasa
B. Pada saat ini orang tertarik untuk datang ke Indonesia karena keislaman.
C. Pemerintah Indonesia setiap tahun memberi Beasiswa kepada
mahasiswa Asing
D. Keinginan Bangsa Eropa untuk belajar bahasa Indonesia dimulai
beberapa abad yang lalu.
E. Pegawai bank Indonesia mendapatkan kenaikan gaji mulai Bulan depan.
12. Penulisan kata bercetak miring dalam kalimat berikut sesuai dengan PUEBI,
kecuali ...
A. Para pengusaha propertis pada saat krisis ekonomi ini dihadapkan pada
sejumlah problema yang tidak mudah diatasi.
B. Subjektifitas pada suatu penilaian yang tinggi akan menimbulkan
penilaian yang tidak objektif.
74 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
C. Di antara persyaratan keilmuan suatu penelitian ilmiah adalah
kerja analisis.
D. Pada zaman yang penuh dengan ketidakpastian ini perencanaan suatu
kegiatan tidak dapat dirumuskan dengan tegas.
E. Varietas padi yang baru saja ditemukan sangat diminati masyarakat.
13. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini!
(1) Dalam menyusun rencana suatu proyek diperlukan anggaran berimbang.
(2) Dalam menyusun rencana suatu proyek diperlukan anggaran yang
berimbang.
Terhadap penggunaan kata-kata yang bercetak miring pada dua kalimat di
atas dapat dikemukakan pernyataan berikut.
A. Kata-kata bercetak miring pada kalimat pertama merupakan kata istilah.
B. Kata-kata bercetak miring pada kalimat kedua merupakan kata istilah.
C. Kata-kata bercetak miring pada kalimat pertama seharusnya
ditulis anggaran berimbang.
D. Anggaran berimbang adalah kata umum dan anggaran yang berimbang
merupakan kata istilah.
E. Keduanya merupakan kata istilah.
14. Penulisan kata maha yang merujuk pada Tuhan dibawah ini yang benar
adalah ...
A. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
B. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang MahaEsa.
C. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang MahaPengasih.
D. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang MahaPemurah.
E. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Agung.
15. Penulisan menggunakan huruf miring dibawah ini yang kurang tepat adalah...
A. Buku Negarakertagama di buat oleh Empu Prapanca.
B. Nama lain buah manggis adalah Carcinia mangostama.
C. Rini tidak masuk sekolah karena sakit.
D. Huruf pertama kata abad adalah a.
E. Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
16. Penulisan kata menggunakan huruf kapital yang benar berikut ini adalah ...
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 75
A. Pada hari senin akan diadakan upacara bendera.
B. Pada hari Senin akan diadakan Upacara Bendera.
C. Pada hari Senin akan diadakan upacara bendera.
D. Pada hari Senin akan diadakan upacara Bendera.
E. pada hari senin akan di adakan upacara bendera.
17. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung di bawah ini
semuanya benar, kecuali ...
A. Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
B. Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
C. “Kemarin engkau terlambat,” katanya.
D. “Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”
E. “apa yang kau makan itu?” kata Ibu.
18. Penulisan gelar yang benar di bawah ini adalah ...
A. Prof Soekarno, [Link].
B. Rina Dwi Astuti. [Link]
C. Haji Wahyudi; S.S.
D. Ir. Sudirman Waluyo, S.H.
E. Ny. Maharani Sri Aryati.
19. Penulisan judul yang tepat adalah ...
A. Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Bali
B. Keramahan Orang Indonesia Kepada Orang Asing
C. Pengaruh Pertukaran Budaya Terhadap Sikap Mahasiswa
D. Beasiswa Dari Pemerintah Indonesia Untuk Mahasiswa Asing
E. Budaya Membaca Kini Menjadi Perhatian Para Penggiat Literasi
20. Manakah kata yang tepat untuk menggantikan kata bercetak tebal berikut?
Kwalitas tekstil buatan Indonesia sangat tinggi sehingga disukai di
mancanegara.
A. kualiti – manca negara
B. kwalitas – manca negara
C. kwaliti – mancanegara
D. kualitas – mancanegara
E. kualitas – manca negara
76 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Menghitung Tingkat Penguasaan Materi
Jumlah Jawaban Benar
Tingkat Penguasaan= x 100%
Jumlah Soal
Tingkat penguasaan : 90—100% = baik sekali
80—89% = baik
70—79% = cukup
< 70% = kurang
Tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan ke modul
selanjutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi
tersebut.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 77
KEGIATAN BELAJAR 2
PENULISAN KATA
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu satuan.
Misalnya: Ibu percaya engkau tahu.
B. Kata Berimbuhan
1. Imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya: bergetar, diperlebar.
2. Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung
mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan
kata.
Misalnya: menganak sungai, sebar luaskan.
3. Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat
awalan dan akhiran maka kata-kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: Memberitahukan
4. Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi
gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: Antarkota.
5. Bila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
besar, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya: Non-Indonesia
C. Kata Ulang
Bentuk kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda
hubung.
Misalnya: biri-biri
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, bagian-bagiannya umumnya ditulis terpisah.
78 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya: Kambing hitam
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
salah baca, dapat diberi tanda hubung (-) untuk menegaskan pertalian di
antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya: Anak-istri.
3. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
Misalnya: Apabila
E. Kata Ganti ku, kau, mu dan nya
Kata ganti ku dan kau dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya;
ku, mu dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya: Apa yang kumiliki boleh kauambil.
F. Kata Depan di, ke dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya,
kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata
seperti kepada dan daripada.
Misalnya: Adiknya pergi ke luar negeri.
G. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya: sang kancil
H. Partikel
1. Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya: bacalah, apakah, dan adalah.
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya: apa pun.
3. Partikel yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian-
bagian kalimat yang mendampinginya.
Misalnya: Rp 2.000,- per helai
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 79
I. Singkatan
Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
1. Setiap menyingkat satu kata dipakai satu tanda titik.
Misalnya: nomor disingkat no.
2. Bila menyingkat dua kata dipakai dua tanda titik.
Misalnya: atas nama disingkat a.n.
3. Bila menyingkat tiga kata atau lebih pada akhir singkatan dipakai satu
tanda titik.
Misalnya: dan kawan-kawan disingkat dkk.
4. Penulisan lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan,
dan mata uang tidak diikuti titik.
Misalnya: Co2
J. Akronim
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata atau
gabungan suku kata dari deret kata yang disingkat.
1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata yang
disingkat, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya: FBS (Fakultas Bahasa dan Seni)
2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf
dan suku kata dari deret kata huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital
dan tidak diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya: Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
3. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata,
ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang disingkat
seluruhnya ditulis dengan huruf kecil dan tidak diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya: rudal (Peluru Kendali)
K. Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan nomor. Dalam tulisan
lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
80 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
2. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, satuan waktu,
nilai uang, dan kuitansi.
3. Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau
kamar pada alamat.
4. Angka digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut :
a. Bilangan utuh.
Misalnya: Dua belas (12)
b. Bilangan pecahan.
Misalnya: Setengah (1/2)
6. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
7. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
agar lebih mudah dibaca.
8. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angkat dan huruf sekaligus dalam teks,
kecuali dalam dokumen resmi seperti akta.
Setelah membaca materi di atas, Anda perhatikan dan pahami juga video
pembelajaran di bawah ini.
Sumber: [Link]
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 81
Setelah membaca dan memahami materi di atas, jika diperlukan, Anda dapat
bertanya atau berdiskusi melalui Forum Diskusi Mata Kuliah Bahasa
Indonesia dengan pranala [Link] dan
menuliskan identitas NPM_Nama_Program Studi_Kelas_Pertanyaan.
Pertanyaan dan diskusi juga dapat disampaikan melalui forum yang
dipersiapkan oleh Dosen Pengampu masing-masing.
Latihan
1. Berilah 5 contoh pemenggalan kata dasar!
2. Buatlah kalimat menggunakan kata berimbuhan!
3. Buatlah 1 paragraf menggunakan kata depan!
4. Jelaskan perbedaan singkatan dan akronim!
Hasil latihan dikirimkan melelui Google Form dengan pranala
[Link] atau melalui media yang dipersiapkan
oleh Dosen Pengampu masing-masing.
Rangkuman
➢ Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu satuan.
➢ Kata Berimbuhan
6. Imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
7. Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung
mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan
kata.
8. Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat
awalan dan akhiran maka kata-kata itu ditulis serangkai.
9. Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi
gabungan kata itu ditulis serangkai.
10. Bila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
besar, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
➢ Kata Ulang
82 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Bentuk kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda
hubung.
➢ Gabungan Kata
4. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, bagian-bagiannya umumnya ditulis terpisah.
5. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
salah baca, dapat diberi tanda hubung (-) untuk menegaskan pertalian di
antara unsur yang bersangkutan.
6. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
➢ Kata Ganti ku, kau, mu dan nya
Kata ganti ku dan kau dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya;
ku, mu dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
➢ Kata Depan di, ke dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya,
kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata
seperti kepada dan daripada.
➢ Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
➢ Partikel
4. Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
5. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
6. Partikel yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian-
bagian kalimat yang mendampinginya.
➢ Singkatan
Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
5. Setiap menyingkat satu kata dipakai satu tanda titik.
6. Bila menyingkat dua kata dipakai dua tanda titik.
7. Bila menyingkat tiga kata atau lebih pada akhir singkatan dipakai satu
tanda titik.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 83
8. Penulisan lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan,
dan mata uang tidak diikuti titik.
➢ Akronim
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata atau
gabungan suku kata dari deret kata yang disingkat.
➢ Angka dan Lambang Bilangan
9. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan nomor. Dalam tulisan
lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
10. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, satuan waktu,
nilai uang, dan kuitansi.
11. Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau
kamar pada alamat.
12. Angka digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
13. Penulisan lambang bilangan dengan huruf
14. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
15. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
agar lebih mudah dibaca.
16. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angkat dan huruf sekaligus dalam teks,
kecuali dalam dokumen resmi seperti akta.
Tes Formatif
Mengerjakan tes formatif dapat dilakukan melalui tautan … atau mengikuti
ketentuan dari dosen pengampu masing-masing.
Bacalah dengan cermat soal-soal berikut ini, lalu pilihlah jawaban yang
paling tepat!
1. Bacalah kalimat berikut!
Pipa gas milik pertamina meledak akibat penurunan tanah karena tekanan
lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa [...].
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. terendam
B. merendam
C. direndam
84 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
D. berendam
E. Merendam
2. Bacalah kalimat berikut!
Asian Games yang [...] di Jakarta tanggal 18 Agustus sampai 2 September
2018 diikuti oleh ribuan atlet dari berbagai negara yang termasuk dalam
wilayah Asia. Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut
adalah ....
A. diselenggarakan
B. menyelenggarakan
C. terselenggara
D. berselenggara
E. diselenggarakan
3. Bacalah kalimat berikut!
Pergeseran lempeng tektonik di bawah laut [...] air laut tertarik ke bawah dan
kembali ke atas dengan tekanan besar.
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. disebabkan
B. penyebab
C. menyebabkan
D. sebab-sebab
E. penyebabnya
4. Bacalah kalimat berikut!
Ali lihai bermain [...] dan senang memainkannya setiap siang di gubuk tengah
sawahnya sambil mengembalakan kerbau-kerbaunya.
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. sulingan
B. seruling
C. menyuling
D. penyuling
E. disuling
5. Bacalah kalimat berikut!
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 85
[...] pegawai bisa meningkat dengan adanya penghargaan yang ditawarkan
oleh perusahaan untuk setiap capaian prestasi.
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. pekerjaan
B. pekerja
C. kerja
D. kinerja
E. kerjaan
6. Bacalah kalimat berikut!
Keberadaan hiu putih yang semakin langka disebabkan oleh [...] liar nelayan
yang kurang peduli pada lingkungan.
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. berburu
B. pemburu
C. memburu
D. perburuan
E. diburu
7. Bacalah kalimat berikut!
Kemampuan menulis dapat dilatih sejak dini dengan [...] anak menulis segala
hal yang mereka alami sehari-hari.
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. dibiasakan
B. membiasakan
C. kebiasaan
D. pembiasaan
E. biasa
8. Bacalah kalimat berikut!
Burger adalah makanan yang memiliki sekitar 1.200 kalori yang dapat [...] di
dalam darah dan mengakibatkan penyakit jantung atau strok.
Kata bentukan yang tepat untuk melengkapi teks tersebut adalah ....
A. diendapkan
B. terendap
86 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
C. mengendap
D. berendap
E. terendapi
9. Yang tidak termasuk kata depan adalah . . . .
A. di
B. dari
C. ke
D. pada
E. dimana
10. yang tidak termasuk kata sandang adalah . . . .
A. si
B. sang
C. lah
D. hang
E. tuah
11. Penggunaan kata sandang untuk memberikan tambahan tokoh yang gagah
berani adalah . . . .
A. si
B. kah
C. Hang
D. Sang
E. Hang
12. Saya , Wina, dan Ira akan pergi ke Bandung. Kata ganti yang tepat untuk
mengganti kata bergaris adalah . . .
A. kita
B. kalian
C. kami
D. Mereka
E. Kami
13. Ari , Wina, dan Ira akan belajar bersama. Kata ganti yang tepat untuk
mengganti kata bergaris adalah . . .
A. kita
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 87
B. kalian
C. kami
D. Mereka
E. Kami
14. Mari. . . mendoakan orang tua Sisi yang sedang sakit. Kata ganti yang tepat
untuk melengkapi kalimat tersebut adalah . . .
A. kita
B. kalian
C. kami
D. Mereka
E. Mereka
15. Yang termasuk kata ganti orang kedua tunggal adalah . . . .
A. kamu
B. dia
C. Saya
D. Hamba
E. Kita
16. Yang termasuk kata ganti orang ketiga tunggal adalah . . . .
A. kamu
B. dia
C. Saya
D. Hamba
E. Kita
17. lukisan itu sangat indah. Sangat indah adalah contoh kata . . . .
A. kerja
B. sifat
C. Benda
D. Keterangan
E. Kerja
18. Di bawah ini penulisan akronim nama diri yang terdiri atas unsur awal setiap
kata yang benar adalah..
A. Bulog
88 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
B. Iptek
C. PASI
D. Suramadu
E. Wika
19. Penulisan yang benar singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih adalah..
A. Sda
B. d.k.k
C. [Link]
D. t-t-d
E. y.t.h
20. Berikut ini adalah kalimat yang menerapkan penulisan kaidah yang baik dan
benar adalah...
A. Dua kelompok bersenjata itu terlibat tawuran di simpang 5
B. Sekretaris baruku membeli sebuah rumah yang dibangun sekitar tahun
2.000 an
C. Seperempat penghasilanku akan disumbangkan untuk yayasan amal
D. Total hadiah yang diberikan sponsor-sponsor utama adalah Rp10 miliar
E. 5 anak bergerombol mengikuti perlombaan
Menghitung Tingkat Penguasaan Materi
Jumlah Jawaban Benar
Tingkat Penguasaan= x 100%
Jumlah Soal
Tingkat penguasaan : 90—100% = baik sekali
80—89% = baik
70—79% = cukup
< 70% = kurang
Tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan ke modul
selanjutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi
tersebut.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 89
KEGIATAN BELAJAR 3
PENULISAN TANDA BACA
A. Tanda Titik ( . )
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya :
Ayahku tinggal di Depok.
Anak kecil itu menangis.
Mereka sedang minum kopi.
Adik bungsunya bekerja di Jepang.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul
bab dan subbab.
Misalnya :
I. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal PMD
B. Direktorat Jenderal Agraria
1. Subdit ...
2. Subdit ...
II. Isi Karangan 1. Isi Karangan
A. Uraian Umum 1.1 Uraian Umum
B. Ilustrasi 1.2 Ilustrasi
1. Gambar 1.2.1 Gambar
2. Tabel 1.2.2 Tabel
3. Grafik 1.2.3 Grafik
Catatan :
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka pada pengkodean sistem digit
jika angka itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka sebelum
judul bab atau subbab.
3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit dan detik yang
menunjukkan waktu dan jangka waktu.
Misalnya :
Pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik)
90 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
12.10.20 (12 jam, 10 menit, 20 detik)
4. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya :
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir
dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar
pustaka.
Misalnya :
Lawrence, Marry S. Writting as a Thingking Process. Ann
Arbor : University of Michigan Press, 1974.
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya :
Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang.
Koleksi buku di perpustakaanku sebanyak 2.799 judul.
7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan
lain, kepala ilustrasi, atau tabel.
Misalnya :
Catur untuk semua umur (tanpa titik)
Gambar 1 Bentuk Surat Resmi Indonesia Baru (tanpa titik)
8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal
surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jakarta, 11 Januari 2005 (tanpa titik)
Yth. Bpk. Iwan Setiawan (tanpa titik)
Jalan Arif Supardi No. 26 (tanpa titik)
Palembang 12241 (tanpa titik)
Sumatera Selatan (tanpa titik)
Kantor Pengadulan Negeri (tanpa titik)
Jalan Teratai II/61 (tanpa titik)
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 91
Depok 16436 (tanpa titik)
B. Tanda Koma ( , )
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
pembilangan.
Misalnya :
Ana membeli permen, roti, dan air mineral.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus, memerlukan perangko.
Menteri, pengusaha, serta tukang becak, perlu makan.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau
melainkan.
Misalnya :
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Daud.
3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Anak Kalimat Induk Kalimat
Kalau hujan tidak reda, saya tidak akan pergi
Karena sakit, kakek tidak bisa hadir.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya :
Anak Kalimat Induk Kalimat
Saya tidak akan pergi kalau hujan tidak reda.
Kakek tidak bisa hadir karena sakit.
4. Tanda koma harus dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu,
jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
92 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya :
Meskipun begitu, kita harus tetap berjaga-jaga.
Jadi, sakitnya bukan main.
5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh,
kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya :
O, begitu ?
Wah, bagus, ya!
Aduh, sakitnya bukan main.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dalam kalimat.
Misalnya :
Kata ibu, “saya berbahagia sekali”.
“Saya berbahagia sekali,” kata ibu, “karena kamu berhasil”
7. Tanda koma dipakai diantara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian
alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayahnya atau
negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya :
Surat ini agar dikirim kepada Dekan Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Indrapasta PGRI, Jalan Nangka, Jakarta Selatan.
Sdr. Ana Widyastuti, Jalan Madura, Gg. Masjid Arrahmah Blok H, no: 11
L Cinere, Depok 16514
Depok, 11 Maret 2015
Jawa Barat Indonesia
8. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya :
Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Diksi Insan Mulia, 2001), hlm. 27.
9. Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga
atau marga.
Misalnya : A. Yasser Samad, S.S.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 93
Ajeng Dinar Wisesa Wardhani, [Link]
10. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya
tidak membatasi.
Misalnya:
Guru saya, Bu Ana pandai sekali.
Di daerah Aceh, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang
Makan sirih.
Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan,
Mengikuti praktik komputer.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang tidak diapit oleh tanda
koma.
Semua siswa yang berminat mengikuti lomba penulisan resensi
segera mendaftarkan namanya kepada panitia.
11. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang
keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan
sikap yang bersungguh-sungguh.
Atas pertolongan Ana, Ajeng mengucapkan terima kasih.
12. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu
berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya :
“Di mana pameran itu diadakan?” tanya Sinta.
“Baca dengan teliti!” ujar Bu Guru.
C. Tanda Titik Koma ( ; )
1. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang
sejenis dan setara.
Misalnya:
Hari makin siang; dagangannya belum juga terjual.
94 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
2. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; adik menghafal
nama-nama menteri; saya sendiri asyik menonton siaran langsung
pertandingan sepak bola.
3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat
kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma demi
memperjelas arti kalimat secara keseluruhan.
Misalnya:
Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi
tanggung jawab para orang tua, guru, polisi, atau pamong praja;
sebab sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas anak-anak,
remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun.
D. Tanda Titik Dua ( : )
1. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap diikuti
perincian.
Misalnya :
Kami memerlukan alat tulis: pensil, penggaris, penghapus, dan
kertas.
FBS Unindra mempunyai tiga program studi: Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Desain
Komunikasi Visual.
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan
pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya :
Kami memerlukan pensil, penggaris, penghapus, dan kertas.
FBS Unindra mempunyai program studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Desain
Komunikasi Visual.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 95
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
pemerian.
Misalnya :
i. Ketua : Ana Widyastuti
Sekretaris : Ajeng Dinar Wisesa Wardhani
Bendahara : Ammira Anna
ii. Hari : Senin
Tanggal : 11 Maret 2015
Waktu : 14.30 WIB
3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya :
Dandang Gendis : (memegang tangan Dewi Amisan) Jangan
Dewi mempermainkan hati yang putus asa.
Kalau Dewi benci kepadaku, katakanlah
dengan jelas. Aku sekarang seperti Dasamuka
di pondok Rama membujuk Sinta.
Dewi Amisani : Seperti Dasamuka? Bukan. Akan tetapi, seperti
Rama, karena Tuanlah yang dinanti-nanti
jiwaku.
4. Tanda titik dua dipakai (i) diantara jilid atau nomor dan halaman antara
bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu
karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya :
Jurnal Perempuan (1996), I:28.
Siagian, Irwan. 2007. Bahasa Indonesia: Untuk Program Studi
Bukan Bahasa Indonesia. Jakarta: Lembaga Bahasa.
E. Tanda Hubung ( - )
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh
pergantian baris.
Misalnya:
96 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Disamping program lama ada juga prog-
gram yang baru.
Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung
baris atau pangkal baris.
Misalnya:
Mata kuliah baru yang ditawarkan tahun
ini adalah Estetika dan ....
bukan
Mata kuliah baru yang ditawarkan tahun i-
ni adalah Estetika dan ....
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya
atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk mengu-
kur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
Senjata itu merupakan alat pertahan-an yang canggih.
3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya :
kijang-kijang
berlari-lari
4. Tanda hubung dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu
ataupun bagian-bagian tanggal, bulan, dan tahun.
Misalnya :
r-e-f-o-r-m-a-s-i
16-6-2015
5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata
atau ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
dua-puluh-lima-ribu (20x5000)
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 97
bandingkan dengan :
be-revolusi
dua-puluh-lima ribuan (25x1000)
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya
yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka
dengan -an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap.
Misalnya :
se-Asia, hari-H; hadiah ke-3; tahun 60-an; mem-PHK-kan, sinar-X,
Menteri-Sekretaris Negara.
7. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan
unsur bahasa asing.
Misalnya:
di-tackle
pen-tackle-an
F. Tanda Pisah ( - ) *)
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Hasil pertandingan itu –sungguh diluar dugaan– ternyata
Imbang.
2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan
yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian temuan ini –evolusi, teori kenisbian, dan pembelahan
atom –telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua nama tempat atau tanggal dengan arti
sampai ke atau sampai dengan.
Misalnya:
Jakarta – Depok
tanggal 10 – 15 Maret 2015
98 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
G. Tanda Elipsis ( ... )
1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya :
Jika demikian ... ya, apa boleh buat.
2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada
bagian yang dihilangkan.
Misalnya :
Sebab-sebab kolusi di ... akan diteliti lebih lanjut.
Catatan :
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai
empat titik: tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk
menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Dalam karangan, tanda baca harus digunakan ....
H. Tanda Tanya ( ? )
1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya :
Kapan Anda diwisuda?
Saudara paham, bukan?
2. Tanda tanya dipakain di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian
kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Misalnya :
Putri Pukes dilahirkan pada tahun 1899 (?)
Kios sebanyak 200 pintu (?) terbakar.
I. Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan
atau perintah.
Misalnya :
Jangan nyalakan lampu!
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 99
Merdeka!
Ayo, maju!
J. Tanda Kurung (( ... ))
1. Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau
penjelasan.
Misalnya:
Penyunting penyelia sudah selesai menyunting KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia)
2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang
bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
Kumpulan puisi L.K. Ara yang berjudul “Laut Tawar” (nama danau
di Aceh) ditulis pada tahun 1982.
Data itu (lihat Tabel 10) menunjukkan adanya perkembangan baru
di bidang pemasaran modal.
3. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya
di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya :
Kata semiotik diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi
semiotik(a).
Pejalan kaki itu berasal dari (daerah) Baduy.
4. Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang merinci satu
urutan keterangan.
Misalnya :
Faktor produksi menyangkut masalah (a) dalam, (b) modal, dan (c)
sumber daya manusia.
K. Tanda Kurung Siku ([...])
1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang
100 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau
kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Misalnya :
Kata beliau waktu itu, “Kita jangan hanya mau meng[e]ritik, tetapi
juga mau dikritik”.
2. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat
penjelas yang sudah tertanda kurung.
Misalnya :
Persamaan kedua proses ini (pemberdayaannya dibicarakan di
dalam Bab II [lihat halaman 35-38] buku pertama) perlu
dibentangkan di sini.
L. Tanda Petik (“...”)
1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya :
“Saya belum siap,” kata Zahra, “tunggu sebentar!”.
Pasal 36 UUD 45 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa
Indonesia”.
2. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul syair, karangan atau bab buku
yang diacu dalam kalimat.
Misalnya :
Sajak “Berdiri Aku” adalah ciptaan penyair Amir Hamzah.
Tulisan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Prestasi”
dapat dibaca dalam Tempo No. 1
3. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah atau kata yang mempunyai arti
khusus atau kurang dikenal.
Misalnya :
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “trian and error” saja .
Gadis itu mengenakan rok “span” berwarna hitam.
4. Tanda petik dipakai untuk mengapit kata atau ungkapan yang dipakai
dengan arti khusus.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 101
Misalnya :
Karena warna kulitnya. Rudi mendapat julukan “si hitam”.
Si Anto sering digelari “Jackpot” karena suka berjudi.
5. Tanda petik dipakai untuk menandai ungkapan atau bagian kalimat yang
tidak mengandung arti yang sebenarnya.
Misalnya :
Dalam pertandingan sepak bola, para pemain depan sering
“dimakan” oleh lawan.
Menulis surat lamaran pekerjaan pada hakikatnya sama dengan
“menjual diri”.
M. Tanda Petik Tunggal (‘...’)
1. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang tersusun di
dalam petikan lain.
Misalnya :
Tanya Deny, “Kau dengar bungai ‘kret-kret’ tadi?”
“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriakan anakku, ‘Ibu, Bapak
pulang’, rasa letihku pun lenyap seketika”, ujar Pak Sasmita.
2. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata atau ungkapan asing.
Misalnya :
face-to-face ‘bersemuka’
N. Tanda Garis Miring ( / )
1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat
dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya :
No. : 7/PK/VIII/2004
Jalan Kramat III/c-400
Tahun Akademik 2004/2005
2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau dan tiap.
Misalnya :
102 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
dikirim lewat darat/laut = dikirimkan lewat darat atau laut
Biaya fotokopi Rp90,00/lembar = biaya fotokopi Rp90,00 tiap
lembar
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata.
Misalnya :
Malam’lah tiba. (‘lah=telah)
Anita’kan kusuruti (‘kan=akan)
17 Agustus’05 (‘05=2005)
P. Penulisan Unsur Serapan
Berdasarkan taraf integritasnya unsur pinjaman dalam Bahasa Indonesia
dapat dibagi atas 2 golongan besar.
Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap kedalam Bahasa
Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks
Bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur asing yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan
dengan kaidah Bahasa Indonesia diusahakan agar ejaan asing hanya diubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan
bentuk asalnya.
Di samping itu, akhiran yang berasal dari bahasa asing diserap sebagai
bagian kata yang utuh. Kata seperti standarisasi, objektif, dan implementasi
diserap secara utuh disamping kata standar, objek, dan implemen.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 103
Setelah membaca materi di atas, Anda perhatikan dan pahami juga video
pembelajaran di bawah ini.
Sumber: [Link]
Setelah membaca dan memahami materi di atas, jika diperlukan, Anda dapat
bertanya atau berdiskusi melalui Forum Diskusi Mata Kuliah Bahasa
Indonesia dengan pranala [Link] dan
menuliskan identitas NPM_Nama_Program Studi_Kelas_Pertanyaan.
Pertanyaan dan diskusi juga dapat disampaikan melalui forum yang
dipersiapkan oleh Dosen Pengampu masing-masing.
Latihan
Isilah penulisan kata serapan asing berikut ini!
Kata Asing Penyerapan yang salah Penyerapan yang benar
System
Risk
Carier
Aphotek
Nofember
Complex
104 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Hasil latihan dikirimkan melelui Google Form dengan pranala
[Link] atau melalui media yang dipersiapkan
oleh Dosen Pengampu masing-masing.
Rangkuman
Tanda baca adalah simbol yang nggak ada hubungannya sama suara,
kata, atau frasa dalam suatu bahasa. Tanda baca itu sendiri berperan
menunjukkan sebuah struktur tulisan, intonasi, dan jeda pada saat pembacaan.
Penulisan unsur serapan biasanya masih menggunakan bahasa asing, namun
tetap dipakai dalam konteks bahasa Indonesia. Unsur asing tersebut sudah
diserap dan disesuaikan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga sering digunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
Tes Formatif
Mengerjakan tes formatif dapat dilakukan melalui tautan … atau mengikuti
ketentuan dari dosen pengampu masing-masing.
Bacalah dengan cermat soal-soal berikut ini, lalu pilihlah jawaban yang
paling tepat!
1. Wah! kau memang hebat, Ndra!
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
A. penggunaan tanda seru setelah “Ndra”
B. pengunaan tanda koma setelah kata “hebat”
C. penggunaan tanda seru setelah kata “wah”
D. tidak menggunakan tanda petik dua
E. tidak menggunakan tanda petik
2. Ayahku bernama Seto Martono, [Link]. Beliau adalah seorang guru. Beliau
lahir di Pekanbaru, 2 Februari 1979. Sekarang beliau tinggal di Jalan
Makassar Nomor 3 (Pekanbaru).
Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
A. pertama
B. kedua
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 105
C. ketiga
D. Keempat
E. kelima
3. Ibu membeli buah-buahan, seperti : apel, melon, dan jeruk.
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
A. tanda koma sebelum kata “seperti”
B. tanda titik dua setelah kata “seperti”
C. tanda koma sebelum kata “dan”
D. tanda titik di akhir kalimat
E. tanda titik
4. Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
A. Namun, mereka selalu semangat dalam menghadapi rintangan.
B. Dia ingin makan, tetapi gusinya sakit.
C. Tutuplah pintu itu!
D. Wah! dia memang sangat hebat.
E. Dia ingin minum
5. Harga telur ayam sedang naik. Sekarang harganya mencapai Rp28.000,-
per kilogram. Sementara itu, harga kebutuhan pokok lain justru harganya
turun. Cabai, gula, dan beras adalah contoh barang kebutuhan pokok yang
turun harganya.
Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
A. pertama
B. kedua
C. ketiga
D. keempat
E. kelima
6. Yth: Drs. Saptono, [Link]
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
A. penggunaan tanda titik dua dan tidak ada tanda titik di akhir gelar
belakang nama
B. penggunaan tanda titik dua dan tanda titik setelah gelar di depan nama
106 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
C. penggunaan tanda koma setelah nama dan tanda titik di tengah gelar di
belakang nama
D. penggunaan tanda koma dan tidak ada tanda titik di akhir gelar belakang
nama
E. penggunaan tanda titik dan tidak ada tanda titik di akhir gelar belakang
nama
7. Puisi “Bulan” terdapat di buku kumpulan puisi “Pada Malam”.
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
A. tanda petik dua yang mengapit kata “Bulan”
B. tanda petik dua yang mengapit “Pada Malam”
C. tanda titik di akhir kalimat
D. tanda petik dua setelah kata “Malam”
E. tanda titik dua di akhir kalimat
8. Nomor surat itu bukan seperti yang ditulis sebelumnya, melainkan ini
004/SDN01/IX-2019.
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
A. koma
B. garis miring
C. tanda hubung
D. Titik
E. Titik dua
9. “Aku tidak tahu mengenai masalah itu,” katanya. Namun, aku tahu
sebenarnya ia sedang berbohong. Mungkin dia terpaksa menutupi masalah
itu, karena ingin membela saudaranya. Meskipun demikian, sebenarnya ia
tidak perlu berbohong kepadaku.
Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
A. pertama
B. kedua
C. ketiga
D. Keempat
E. kelima
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 107
10. “Siapa yang mendapat nilai 100, Pak!
Tanda baca yang salah dalam kalimat di atas adalah ….
A. tanda petik dua di awal kalimat dan tanda seru
B. tanda petik dua di awal kalimat dan tanda koma
C. tanda koma dan tanda seru
D. tanda seru di akhir kalimat
E. Tanda titik
11. Kesalahan penulisan huruf besar terdapat pada kalimat ....
A. Dea mengajar di sekolah dua kali seminggu
B. Paman suka membaca surat kabar Analisa
C. Ayah membeli pisang Ambon untuk kakek
D. Siang ini Banu akan bertemu dengan Tika
E. Pagi ini Danu akan bertemu dengan Tiwi
12. Berikut merupakan pemakaian huruf miring atau garis bawah yang benar,
kecuali ....
A. Menuliskan nama ilmiah
B. Menuliskan ungkapan asing
C. Menuliskan nama atau judul buku yang dikuti dalam karangan
D. Nama instansi atau lembaga
E. Menegaskan bagian kata dari sebuah kalimat
13. Kalimat di bawah ini yang penggunaan tanda bacanya benar adalah ....
A. David, membawakan majalah untuk Kartika.
B. A. Nasution merupakan murid yang rajin.
C. Dewi tidak datang, karena berada di luar kota.
D. Murid itu dihukum, karena tidak memakai atribut lengkap
E. Murid itu dihukum, karena tidak memakai atribut lengkap
14. Berikut merupakan contoh penggunaan tanda hubung (-) yang benar,
kecuali ....
A. se-Jawa Barat
B. Tahun 90-an
C. Anak-anak
D. memPHK-kan
108 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
E. 5-08-2016
15. Pemakaian tanda baca yang tepat terdapat pada ....
A. Dian bertanya: "Siapa gadis itu?"
B. Rok "canda" sudah tidak populer lagi di Indonesia
C. Lana tinggal di Jalan Hakim, Medan
D. Rate of inflation, 'laju inflasi', di Indonesia mulai menurun
E. Rina menjuarai perlombaan itu, karena rajin beralatih
16. Pemakaian huruf kapital yang benar terdapat pada kalimat ....
A. Deva akan berangkat ke Medan pada Bulan Januari
B. Di desa itu terdapat banyak Suku Batak
C. Pegunungan yang membentang di daratan Sumatera itu bernama Bukit
Barisan
D. Kita harus menggunakan Bahasan Indonesia yang baik dan benar.
E. Semua warga bergembira menyambut Hari Lebaran.
17. Berikut contoh penggunaan tanda koma yang tepat, kecuali ....
A. Oleh karena itu, ita harus berhati-hati
B. Jadi, kita akan pergi menggunakan bus
C. Meskipun begitu, Rina tetap saja marah
D. Akan tetapi, tidak semu orang menyetujuinya
E. Dian tidak suka padamu, karena sifatmu yang cuek
18. Paman mengajak kami berbelanja di Atrium Shopping Center. Kata serapan
yang dimiringkan seharusnya ...
A. Shopping Center Atrium
B. Belanja Pusat Atrium
C. Pusat Belanja Atrium
D. Atrium Pusat Belanja
E. Atrium Shopping Center
19. Penulisan kata serapan yang baku terdapat dalam kalimat ...
A. Mereka berlima memproklamirkan diri sebagai kelompok pecinta alam
B. Kami melakukan senam erobik setiap minggu sekali.
C. Aktivitas Gunung Galunggung selalu dipantau oleh Badan Meteorologi
dan Geofisika.
Modul 3-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 109
D. Kakak membuka usaha foto copy di halaman samping rumah
E. Ayah bermain kekurangan chock untuk bermain
20. Menteng Park Appartement terletak di wilayah yang strategis. Kata serapan
yang dimiringkan seharusnya ...
A. Apartemen Taman Menteng
B. Taman Apartemen Menteng
C. Menteng Taman Apartemen
D. Apartemen Daerah Menteng
E. Apartemen Menteng Daerah
Menghitung Tingkat Penguasaan Materi
Jumlah Jawaban Benar
Tingkat Penguasaan= x 100%
Jumlah Soal
Tingkat penguasaan : 90—100% = baik sekali
80—89% = baik
70—79% = cukup
< 70% = kurang
Tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan ke modul
selanjutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi
tersebut.
Daftar Pustaka
Arifin, E. Z., & Tansai, S.A. (2012). Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian. Jakarta : Pustaka Mandiri
Achmad HP, & Alek. (2016). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Erlangga
Pusat Bahasa Depdikbud. (2004). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional.
110 Modul 3- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia