PROGRAM PKB GURU
MTs SA AL MUSYRIFAH
KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN TASIKMALAYA
Jalan Raya Cipatujah Kmp. Muara Rt.13 RW. 05 [Link]
Kecamatan. Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya 46189
TAHUN PELAJARAN 2024/2025
Abstrak
Saat ini pemerintah telah memiliki program pengembangan keprofesian berkelanjutan
(PKB) yang dikembangkan atas dasar profil kinerja guru sebagai perwujudan hasil penilaian
kinerja guru dan didukung dengan hasil evaluasi diri.
Orientasi PKB tersebut memiliki tujuan dan pencapaian standar kompetensi dan
pengembagan kompetensi untuk memenuhi layanan pembelajaran berkualitas dan peningkatan
karir guru. Dilihat dari ruang lingkup pembinaan dan pengembangan guru pada program PKB
tersebut masih pada tataran pembinaan dan pengembangan guru secara umum. Sehingga perlu
model khusus yang terarah kepada guru Madrasah. Oleh karena itu, dalam memenuhi pembinaan
dan pengembangan guru Madrasah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan keprofesian
guru Madrasah sangat perlu untuk dilakukan pengembangan pembinaan dan pengembangan
profesi guru Madrasah secara berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan guru Madrasah secara
bertahap dan berkelanjutan. Sehingga, pembinaan dan pengembangan profesi guru Madrasah
dapat dilakukan dengan pengembangan model keprofesian guru Madrasah berkelanjutan yang
sesuai dengan kebutuhan karakteristik pendidikan kejuruan.
A. Pendahuluan
Daya saing dan daya tahan sumber daya manusia merupakan persyaratan yang
diperlukan dalam perkembangan ekonomi dan pendidikan suatu bangsa. Walaupun ada upaya-
upaya mengkoreksi tesis Human Resources’ Development (HRD) dengan pemikiran- pemikiran
yang menekankan kepada perkembangan dan keterwujudan kemampuan manusia atau Human
Capacity Development (HCD), yang menunjuk pada kontelasi kemampuan akademik dan
keterampilan, sikap dan perilaku dalam menuju kemandirian (Conny, 1998:14), tetapi kedua
pemikiran tersebut menekankan pada betapa pentingnya kualitas sumber daya manusia yang
memiliki daya tahan dan daya saing tinggi.
Kondisi kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding negara-negara lain masih
ketinggalan. Berdasarkan Human Development Report UNDP (2014), pada tahun 2013 Human
Development Index Indonesia sebesar 0,684, dan men-duduki peringkat ke 108 dari 187 negara
pada kategori Medium Human Development. Posisi Indonesia 46 tingkat dibawah Malaysia yang
ada pada peringkat 62 dunia dengan index 0,773. Sementaraitu, berada pada 13 tingkat di atas
Vietnam yang berada di peringkat 121 dengan indek 0,638 (UNDP, 2014: 194). Indikator
kualitas sumber daya manusia tersebut menunjukkan bahwa kita masih ketinggalan dengan
negara tetangga dalam membangun pendidikan yang berkualitas. Membangun pendidikan yang
bermutu dan berkualitas, tidak cukup hanya melengkapi sarana dan prasarananya, tetapi juga
harus mencakup peningkatan kualitas guru dan sub-sub sistem lainnya.
Kualitas manusia Indonesia dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang
bermutu. Terwujudnya penyelenggaraan pendidikan yang memiliki kualitas dan mutu yang baik
ditentukan oleh pendidikan sebagai suatu sistem yang meliputi sub sistem yang meliputi konteks,
input, proses, output dan outcome yang saling terkait dan bersinergi (Slamet PH, 2013: 12).
Salah satu komponen dalam sub sistem input pendidikan sebagai sistem adalah pendidik atau
guru. Oleh karena itu, guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis.
Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga
profesional mempunyai visi terwujudnya pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip
profesionalitas untuk setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Selain
itu juga, guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat
penting dalam mencapai visi pendidikan 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia cerdas dan
kompetitif.
Guru senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena
guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, upaya
perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan
memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan
berkualitas (Mohamad Surya, 2002: 323., Mulyasa, 2012: 7., Tilaar, 2012: 167). Oleh sebab itu,
kedudukan dan fungsi guru harus tetap diarahkan pada pembinaan yang lebih profesional sesuai
dengan kebutuhan guru yang bersangkutan dan sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku serta menunjang kepuasan kerja bagi guru. Dengan kata lain, perbaikan kualitas
pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula.
Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova mengatakan dunia menghadapi masalah guru,
baik soal jumlah maupun kualitas (Kompas, 6 Oktober 2014, 11). Senada dengan itu, menurut
Tilaar (2012: 374) gejala menurunnya kualitas guru bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi
merupakan gejala internasional. Mungkin saja hal ini disebabkan karena profesi guru tidak dapat
bersaing dengan profesi-profesi lainnya. Entah karena begitu banyaknya manipulasi, pendidikan
bangsa tidak kunjung membaik bahkan terpuruk oleh gemerlapnya modernisasi yang serba
praktis, sehingga sedikit banyak berdampak pada dangkalnya pola pikir peserta didik.
Sejauh ini pemerintah sudah ekstra keras mengangkat pendidikan bangsa dengan
anggaran 20 persen dari APBN dipandang cukup untuk menopang pendidikan. Sekitar 50 persen
dari total anggaran fungsi pendidikan tahun 2015, senilai RP. 40,9 Triliun, dialokasikan untuk
membiayai gaji dan tunjangan profesi guru. Namun, guru menganggap jumlah anggaran itu
belum signifikan untuk meningkatkan kualitas (Kompas, 10 Oktober 2014. 11). Terkait
peningkatan budget APBN untuk pembayaran tunjangan profesi namun tidak juga diimbangi
peningkatan mutu guru, ketua umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo
mengatakan peningkatan mutu guru tidak serta merta terjadi setelah menerima tunjangan
profesi, karena memang butuh waktu, disamping itu juga harus ada peran pemerintah untuk
melibatkan guru dalam berbagai pelatihan. sementara itu, masih berkaitan dengan dana
tunjangan profesi guru sesuai saran Bappenas pada waktu yang akan datang akan diberikan
berdasarkan kinerja guru sesuai hasil penilaian yang dilakukan Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Pendidikan dan Mutu Pendidikan (BPSDMPMP) Kemdikbud (Kompas, 16
Oktober 2014, 16). Sementara itu, ketika pemerintah sudah memperjuangkan nasib guru berupa
sertifikasi justru disalahgunakan. Demikian realitasnya, setelah mendapat sertifikasi tidak sedikit
guru yang mengajar sebatas memenuhi jam kerja. Hal senada juga diungkapkan oleh Tilaar
(2012, 44-45) yang mengatakan dalam ujian profesionalisme guru baru-baru ini yang
dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meskipun banyak kekurangannya
namun menunjukkan betapa generasi guru dewasa ini banyak yang belum memenuhi syarat
kompetensi profesional dan kompetensi pedagogis. Demikian pula beberapa penelitian
menunjukkan performance guru-guru yang telah mempunyai sertifikat ternyata tidak lebih baik
dari guru-guru yang belum memiliki sertifikat (Badrun Kartowagiran, 2011; Kardiyem, 2013;
Hurmaini, 2011). Jika demikian program sertifikasi sebenarnya bukan berdampak pada
peningkatan kualitas pendidikan tetapi lebih kepada peningkatan pendapatan gaji pendidik. Oleh
karena itu, membenahi profesi guru tidaklah mudah. Masalah guru bukan hanya masalah
penggajiannya yang rendah, juga bukan disebabkan karena masalah-masalah teknis belaka, tetapi
merupakan suatu masalah yang kompleks, karena merupakan refleksi dari perubahan besar di
dalam masyarakat kita, yaitu pentingnya upaya untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia
Indonesia (Tilaar, 2013: 375).
Secara legitimasi pencanangan Guru sebagai profesi pada tanggal 4 Desember 2004 oleh
pemerintah merupakan awal milestone pembinaan guru sebagai profesi. Sejalan dengan
pencanangan tersebut telah terbit dan diberlakukan undang-undang, peraturan pemerintah,
peraturan menteri, dan peraturan lainnya sebagai dasar hukum yang mengatur guru sebagai
profesi tersebut. Hingga akhir tahun 2013 profesi guru dengan segala dinamika permasalahan
dan pengembangannya masih jauh dari yang diharapkan yang mencerminkan profesionalisme
sebagai seorang guru.
Pada tahun 2012 telah dilakukan ujian kompetensi awal (UKA) bagi guru yang akan
mengikuti program sertifikasi guru yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Berdasarkan data hasil uji kompetensi awal (UKA) guru diperoleh gambaran
bahwa nilai rata-rata nasional adalah 42,25 untuk skala nilai 0-100. Artinya, nilai rata-rata
nasional tingkat kompetensi guru masih cukup jauh dibawah angka 50, atau angka separuhnya
dari nilai ideal. Nilai tertinggi adalah 97,0 dan nilai terendah adalah 1,0. Jumlah guru terbanyak,
sekitar 80-90 ribu orang terdapat pada interval nilai 35-40. Jika dilihat dari daerah sebaran
berdasarkan wilayah provinsi di Indonesia, maka dari jumlah 33 provinsi hanya terdapat 8
(delapan) provinsi saja yang nilainya berada di atas rata-rata nasional. Kedelapan provinsi itu
adalah DIY (50,1), DKI (49,2), Bali (48,8), Jatim (47,1), Jateng (45,2), Jabar (44,0), Kepri
(43,8), dan Sumbar (42,7). Sedangkan 25 provinsi lainnya memiliki nilai di bawah 42,25, di
mana tiga nilai terendah dimiliki oleh provinsi Maluku (34,5), Maluku Utara (34,8) dan
Kalimantan Barat (35,4). Apabila dilihat dari jenjang sekolah, maka nilai tertinggi rata-rata
nasional diperoleh guru TK (58,9), kemudian diikuti guru SMA (51,3), guru SMK (50,0), guru
SLB (49,1), guru SMP (46,1), dan nilai terendah diperoleh guru SD (36,9).
Secara khusus kondisi guru pada jenjang sekolah Madrasah berdasarkan nilai hasil UKA
berada pada posisi diatas rata-rata nilai nasional, yaitu 50.0. dengan perincian nilai tertinggi 97.0
dan terendah 4.0 dengan standar deviasi 12.07, dengan jumlah peserta sebanyak 15.105.
Walaupun demikian Hal ini mengindikasikan masih banyak yang harus dilakukan untuk
meningkatkan kompetensi guru Madrasah.
Sementara itu, berdasarkan nilai hasil uji kompetensi guru (UKG) secara online yang
dilakukan terhadap guru setelah memperoleh sertifikat profesional, maka diperoleh nilai rata-
rata nasional sebesar 45,82 untuk skala nilai 0-100. Artinya, nilai rata-rata nasional masih
dibawah angka 50, atau kurang dari separuh angka ideal. Nilai tertinggi adalah 96,25 dan nilai
terendah adalah 0,0. Jumlah guru terbanyak, sekitar 60-70 ribu orang terdapat pada interval nilai
42-43. Jika dilihat dari daerah sebaran berdasarkan wilayah provinsi di Indonesia, maka dari
jumlah 33 provinsi hanya terdapat 7 (tujuh) provinsi saja yang nilainya berada di atas rata-rata
nasional. Ketujuh provinsi itu adalah DIY (53,60), Jateng (50,41), Babel (48,25), DKI (47,93),
Jatim (47,89), Sumbar (47,21), dan Jabar (46,81). Adapun 26 provinsi lainnya, memperoleh di
bawah rata-rata nasional, 45,82, di mana tiga nilai terendah dipegang oleh provinsi Maluku Utara
(38,02), Aceh (38,88), dan Maluku (40,00). Apabila dilihat dari jenjang sekolah, maka nilai
tertinggi rata-rata nasional diperoleh guru SMP (51,23), kemudian diikuti guru SMK (49,75),
guru SMA (47,7), guru TK (45,84), dan nilai terendah diperoleh guru SD (42,05). Secara khusus
kondisi guru Madrasah pada hasil UKG sama dengan hasil UKA yang berada pada posisi diatas
rata-rata nasional. Walaupun demikian posisi ini juga mengindikasikan bahwa hasil UKG yang
diikuti oleh guru yang telah memiliki sertifikat profesional guru belum juga memuaskan,
sehingga diwaktu yang akan datang diperlukan suatu usaha dan program pembinaan profesi dan
karir guru yang memiliki dampak pada peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru
Madrasah. Dampak tersebut juga diharapkan berkontribusi pada peningkatan hasil belajar
peserta didik dan kualitas lulusan Madrasah.
Guru Madrasah menghadapi banyak tantangan di masa depan. Tantangan guru Madrasah
dapat diprediksi dari arah kebijakan pemerintah dan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang berdampak pada pengembangan Madrasah, guru Madrasah, dan peserta didik
Madrasah. Beberapa tantangan yang akan dihadapai guru Madrasah yaitu: (1) tantangan guru
Madrasah dalam menyiapkan tenaga kerja yang relevan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi; (2) tantangan guru Madrasah menghadapi pembangunan politik dan
ekonomi; (3) tantangan guru Madrasah dalam perkembangan teknologi pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik peserta didik di masa depan; dan (4) tantangan guru Madrasah dalam
melakukan uji kompetensi lulusan Madrasah (Surya Darma, 2013:182).
Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di dunia kerja
berjalan lebih cepat daripada perkembangan IPTEK yang terjadi di Madrasah. Hal ini
menyebabkan kompetensi keahlian yang diajarkan guru Madrasah sering mengalami
kesenjangan dengan kompetensi keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja sehingga daya serap
lulusan Madrasah di dunia kerja masih relatif rendah.
Selain itu, rendahnya daya serap lulusan Madrasah di dunia kerja, menurut Ace Suryadi
(2010: 4) dikarenakan proses pendidikan di Madrasah diindikasikan terdapat gejala yang
konsisten bahwa program pendidikan di Madrasah terisolasi dengan kebutuhan nyata dunia
usaha dan industri. Program pendidikan kejuruan di sekolah kaku dan tidak lentur terhadap
perubahan kebutuhan lapangan kerja serta belum berorientasi terhadap kebutuhan pasar kerja
yang berubah.
Mendefinisikan kualitas lulusan Madrasah dan kualitas guru Madrasah dan mengukurnya
merupakan tantangan utama bagi sistem pendidikan kejuruan untuk mencapai target penyediaan
tenaga kerja dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan tuntutan pasar
kerja. Oleh karena itu peran guru Madrasah menjadi sangat penting dalam turut andil melahirkan
lulusan Madrasah berkualitas. Guru Madrasah sebagai sosok terdepan di dalam proses
pendidikan, dituntut mampu memberikan pengetahuan, sikap, perilaku, dan keterampilan melalui
strategi dan pola pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja dan perkembangan
zaman.
Karakteristik peserta didik Madrasah yang sekarang sudah berbeda dengan karakteristik
peserta didik Madrasah dimasa lampau maupun dimasa yang akan datang. Sehingga, peran guru
Madrasah menjadi sangat penting dalam turut andil melahirkan lulusan SMK berkualitas. Begitu
pula secara khusus untuk guru Madrasah yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan
profesi guru lainnya belum berdampak pada hasil pembelajaran dan kualitas lulusan Madrasah.
Sebagai profesi, guru Madrasah merupakan tenaga profesional yang mempunyai fungsi,
peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia
yang cerdas dan kompetitif. Guru Madrasah yang profesional diharapkan mampu berpartisipasi
dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan sumberdaya manusia Indonesia tersebut
diatas. Oleh sebab itu, profesi guru Madrasah perlu dikembangkan secara terus menerus dan
terencana. Oleh karena itu perlu suatu sistem pengembangan profesional guru Madrasah yang
terus menerus dan profesional bagi guru. Bentuk pembinaan dan pengembangan tersebut
selayaknya juga memperhatikan guru-guru Madrasah yang memiliki karakteristik berbeda dari
guru pada umumnya.
Karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi, maka
kondisi jabatan guru sebagai profesi dan untuk mewujudkan guru yang profesional serta
meyakinkan bahwa setiap guru adalah seorang profesional dibidangnya, maka harus dilakukan
pembinaan yang berkelanjutan terhadap guru disemua satuan pendidikan.
Kurangnya publikasi dan penelitian tentang praktek-praktek yang efektif untuk
pengembangan keprofesian berkelanjutan dalam pendidikan kejuruan yang berorientasi pada
keprofesionalan guru Madrasah, perlu dikembangkan model PKB bagi guru Madrasah yang
sekaligus memenuhi tuntutan dan tantangan guru Madrasah abad 21 yang memiliki karakteristik
pendidikan kejuruan di Indonesia. Mengingat pentingnya model pengembangan Keprofesian
berkelanjutan (PKB) bagi guru Madrasah, maka penting dilakukan penelitian untuk
mengembangkan model PKB yang efektif.
B. Permasalahan.
Berdasarkan pendahuluan dimuka maka dalam penulisan makalah ini dapat dirumuskan
permasalahan-permasalahanyang ada sebagai berikut: (1) Model PKB yang seperti apakah yang
efektif sesuai dengan kebutuhan guru dan institusi Madrasah?; (3) Bagaimanakah pelaksanaan
unsur-unsur PKB yang telah dikembangkan dalam meningkatkan penilaian kinerja guru?; (4)
Indikator apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan unsur-unsur PKB dalam meningkatkan
penilaian kinerja guru?
C. Pembahasan.
Dengan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan guru Madrasah yang efektif,
profesionalisme guru Madrasah yang diharapkan terwujud akan dapat direalisasikan. Untuk
dapat mendeskripsikan hal-hal yang terkait dengan PKB dan pengembangan profesional guru
Madrasah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pendidikan Kejuruan
Pendidikan kejuruan di Indonesia merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan
peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Indonesia menempatkan pendidikan
kejuruan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional untuk menyiapkan lulusan bekerja atau
melanjutkan kejenjang lebih tinggi atau bekerja mandiri berwirausaha (Sudira, 2012: 13).
Sebagai bagian dari sistem pendidikan Madrasah menurut Kuswana (2013: 198-199) memiliki
tujuan secara umum dan secara khusus. Secara umum Madrasah bertujuan: (1) menyiapkan
peserta didik agar dapat menjalani kehidupan secara layak; (2) menimgkatkan keimanan dan
ketaqwaan peserta didik; (3) meyiapkan peserta didik agar menjadi warga Negara yang mandiri
dan bertanggung jawab; (4) menyiapkan peserta didik agar memahami dan menghargai
keanekaragaman budaya bangsa indonesia; dan (5) meyiapkan peserta didik agar dapat
menerapkan dan memelihara hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan, dan seni.
Sedangkan secara khusus Madrasah bertujuan: (1) menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja,
baik secara mandir atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dunia industry
(DU/DI) sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan program keahlian
yang diminati; (2) membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam
berkompetisi, dan mampu mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang
diminatinya; dan (3) membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar
mampu mengembangkan diri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi; dan (4) membekali
peserta didik agar mampu berusaha mandiri di masyarakat.
Berdasarkan berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan
menekankan pengembangan keterampilan kejuruan dan sikap kewirausahaan serta peningkatan
pengetahuan yang berkenaan dengan keahlian bidang tertentu sebagai bekal bagi peserta didik
terutama untuk memasuki dunia kerja. Di samping itu, pendidikan kejuruan juga memberikan
bekal pengetahuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih baik langsung maupun
setelah memasuki dunia kerja.
2. Profesi dan Profesionalitas Guru Madrasah
Dalam bidang pendidikan, guru merupakan salah satu jabatan atau pekerjaan yang menuntut
profesionalitas dalam melaksanakan tugasnya. Pada prinsipnya profesionalitas guru tidak lepas dari
hakikat guru sebagai pendidik, dimana profesionalitas guru tercermin dalam menjalankan tugas dan
kewajiban yang menuntut kompetensi tertentu. Lebih lanjut menurut Kubow & Fossum (Surya Dharma,
2013: 233), dalam konteks guru sebagai sebuah profesi terdapat dua orientasi profesionalime guru yakni:
(1) Profesionalitas terbatas, yaitu seseorang guru yang memiliki kemampuan hanya pada mengajar,
menggunakan kewenangan sebagai guru sepenuhnya di dalam kelas, serta melakukan pengajaran dengan
baik; (2) Profesionalitas terbuka, yaitu seorang guru yang melihat tanggung jawabnya lebih besar dalam
hal mengembangkan kelas, dan juga siap bekerjasama dengan teman guru dalam mengembangkan
berbagai hal serta juga melakukan evaluasi terhadap kualitas mengajarnya sendiri.
Guru yang profesional memerlukan pemahaman mengenai ilmu yang mendasari
profesinya, sebab tidak semua orang mampu mengajar baik, dan karena itu ia tidak otomatis
menjadi seorang pengajar yang profesional. Seseorang berhak menyandang profesi sebagai guru
apabila telah memenuhi persyaratan kualifikasi yang ditujukan oleh latar belakang pendidikan
dan atau sertifikat yang diberikan oleh lembaga yang berwenang atas penilaiannya untuk
memberikan kualifikasi tersebut. Penilaian terhadap kemampuan dan keterampilan serta
kompetensi guru dalam menjalankan tugas, khususnya yang berkembang saat ini, antara lain
melalui uji kompetensi guru, penilaian kinerja guru, uji kompetensi di dunia usaha dan industri
melalui ujian di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
Dengan demikian, profesionalitas menuntut seorang guru tidak hanya semata-mata sebagai
pengajar yang melakukan transfer of knowledge dan transfer of value belaka pada peserta didik,
akan tetapi guru juga harus mampu menciptakan iklim pembelajaran yang bermakna,
kontekstual, dan sesuai dengan paradigma yang dikembangkan dalam kurikulum berbasis
kompetensi (KBK). Dengan kondisi demikian guru harus senantiasa berusaha memahami
tuntutan standar profesi, mencapai kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan, membangun
hubungan kesejawatan yang baik dan luas, mengembangkan etos kerja atau budaya kerja yang
bermutu tinggi, dan mengadopsi inovasi atau mengembangkan kreativitas dalam memanfaatkan
ilmu dan teknologi.
Menurut Frantz (1997: 10), komponen yang sangat vital dalam menyiapkan tamatan SMK
sebagai tenaga kerja yang berkualitas baik adalah guru guru dengan kemampuan
menghubungkan proses pembelajaran dengan kebutuhan tempat kerja. Guru guru seharusnya
disiapkan untuk tidak terfokus pada mata pelajaran, tetapi lebih pada hubungan kontekstual
antara masalah subjek dan kerja terpadu berdasarkan konteks yang bermakna bagi siswa pada
saat pembelajaran. Penguasaan materi dan keterampilan dasar harus digunakan dengan strategi-
strategi pengajaran yang terpadu antar disiplin ilmu untuk mengembangkan kemampuan
memecahkan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pengunaan-penggunaan
yang terkait dengan pekerjaan di dunia nyata.
Sementara itu, menurut Miller Melvin D (Surya Dharma, 2013: 232), mengemukakan
bahwa guru kejuruan harus kompeten baik secara profesional maupun okupasional. “Teacher of
vocational education are both professionally and occupationally competent. Teacher are the
most important and critical element in vocational education. The values, skill, professional
knowledge, experience, and human relations factors that a teacher posesses largely determint the
quality of learning opportunities that occur in the name of vocational education. Sehingga
sangat jelas bahwa guru Madrasah sudah seharusnya melakukan pengembangan pengetahuan
maupun keterampilannya baik secara substansi kejuruan maupun hal yang berkaitan dengan
keterampilan mengajar.
3. Pengembangan Keprofesian berkelanjutan guru Madrasah
Pengembangan keprofesional berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, secara bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan
profesionalitas guru. Dengan demikian, guru dapat memelihaanya, meningkatkan, dan
memperluas pengetahuan dan ketrampilannya untuk melaksanakan proses pembelajaran secara
professional. Pembelajaran yang berkualitas diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta didik. Melalui siklus evaluasi, refleksi pengalaman belajar,
perencanaan dan implementasi kegiatan pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan,
maka diharapkan guru akan mampu mempercepat pengembangan kompetensi pedagogik,
professional, sosial, dan kepribadian untuk kemajuan karirnya.
Pengembangan keprofesian berkelanjutan dilaksanakan sesuai dengan kebtuhan guru.
pelaksanaannya didasarkan pada unsur-unsur pengembangan keprofesian berkelanjutan, prinsip
pelaksanaan dan lingkup pelaksanaan kegiatan.
Menurut Permenneg PAN dan RB nomor 16 Tahun 2009 unsur kegiatan pengembangan
keprofesian berkelanjutan meliputi: (1) pengembangan diri; (2) Publikasi Ilmiah; dan (3) karya
inovatif. Masing-masing unsur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Pengembangan diri adalah upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri agar memiliki
kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau kebijakan pendidikan
nasional serta perkembnagan ilmu pengetahuan teknologi, dan/atau seni. Kegiatan
pengembangan diri dapat dilakukan melalui diklat fungsional dan/atau kegiatan kolektif guru
yang meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru.
2) Publikasi Ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat
sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah
dan pengembangan dunia pendidikan secara umum.
3) Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru
sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah
dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni. Karya inovatif ini dapat
berupa penemuan teknologi tepat guna, penemuan/peciptaan atau pengembangan karya seni,
pembuatan/modifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum, atau penyusun standar, pedoman,
soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi.
Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang mencakup ketiga unsur tersebut
harus dilaksanakan secara berkelanjutan, agar guru dapat selalu menjaga dan meningkatkan
profesionalismenya, tidak sekedar untuk pemenuhan angka kredit. Oleh sebab itu, meskipun
angka kredit seorang guru diasumsikan telah memenuhi persyaratan untuk kenaikan pangkat dan
jabatan fungsional tertentu. Guru tetap wajib melakukan kegiatan pengembangan keprofesian
berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan kejuruan, khususnya PKB yang berhubungan dengan guru
Madrasah terutama dalam pengembangan kompetensi kejuruan atau kompetensi bidang studi
dapat dilakukan dengan beberapa alternatif kegiatan. Alternatif kegiatan tersebut adalah konsep
Model Pengembangan keprofesian berkelanjutan guru Madrasah dengan pola Estafet.
D. Kesimpulan
Efektifitas guru merujuk pada dampak kinerja guru terhadap siswa. Kemampuan guru
membantu siswa untuk meraih hasil belajar yang diinginkan disebut efektifitas guru. Seberapa
jauh kefektifan guru dalam menjalankan tugas sebagai pendidik, dan pengajar tergantung pada
dua hal. Pertama, tergantung pada perilaku guru saat mengajar yang kemudian disebut “kinerja
guru”. Kedua, tergantung pada pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan
(atau diyakini dibutuhkan) guru yang kemudian disebut “ kompetensi guru”.
Kompetensi (Competency) guru didefinisikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-
nilai professional yang mungkin dimiliki dan dimiliki yang dipercaya relevan dengan
keberhasilan praktik pengajaran. Kompetensi guru juga merupakan kemampuan umum
(pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai professional ) untuk memecahkan problem profesi..
Seberapa banyak kompetensi yang dimiliki guru berpengaruh terhadap kinerja guru
dalam mengajar. Guru yang memiliki kompetensi minim, diyakini bakwa kinerja mengajarnya
dianggap tidak efektif. Kepribadian guru menentukan keberhasilan guru dalam mendidik siswa,
sedangkan keterampilan mengajar ditentukan oleh penguasaan guru terhadap metode, dan
teknik-teknik pengajaran termasuk penguasaan media pembelajaran.