0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan33 halaman

Panduan Lengkap CSS untuk Desain Web

Dokumen ini membahas tentang Cascading Style Sheet (CSS) yang digunakan untuk mengatur tampilan dokumen web, termasuk sejarah dan perkembangan berbagai level CSS dari 1 hingga 4. CSS memisahkan isi dan tampilan dokumen, meningkatkan fleksibilitas dan pengelolaan gaya visual. Selain itu, dokumen ini menjelaskan tentang aturan CSS, tipe selector, dan cara mengelompokkan selector.

Diunggah oleh

Gede Widnyana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan33 halaman

Panduan Lengkap CSS untuk Desain Web

Dokumen ini membahas tentang Cascading Style Sheet (CSS) yang digunakan untuk mengatur tampilan dokumen web, termasuk sejarah dan perkembangan berbagai level CSS dari 1 hingga 4. CSS memisahkan isi dan tampilan dokumen, meningkatkan fleksibilitas dan pengelolaan gaya visual. Selain itu, dokumen ini menjelaskan tentang aturan CSS, tipe selector, dan cara mengelompokkan selector.

Diunggah oleh

Gede Widnyana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Workshop Desain web

(Syauqi@PENS)

Bab III
Cascading Style Sheet

Cascading Style Sheet (CSS) merupakan bahasa yang dapat digunakan untuk
mengatur tampilan dari sebuah dokumen yang ditulis menggunakan bahasa
markup. Walaupun CSS banyak sekali digunakan untuk mengatur tampilan dari
sebuah halaman web yang ditulis menggunakan bahasa HTML, sebenarnya CSS
dapat juga diaplikasikan pada dokumen XML (eXtensible Markup Language) lain
seperti XML standar, SVG (Scalable Vector Graphic), maupun XUL (XML User
Interface Language).

Jika bahasa HTML mengatur struktur dari dokumen web dan memberi tahu
browser terkait fungsi dari beberapa elemen (seperti tautan ke dokumen lain, form
masukan, ataupun tombol aksi), bahasa CSS memberikan instruksi kepada
browser terkait dengan bagaimana sebuah elemen harus ditampilkan. CSS dapat
digunakan untuk mengatur style (pewarnaan, tipe huruf, ukuran, dll), lebar spasi,
serta tata letak elemen dari dokumen web.

CSS mengatur tampilan dari dokumen web menggunakan aturan (rule). Rule
ini yang menentukan elemen dokumen web mana yang akan diatur visualisasinya.
Pada setiap rule, kita dapat mengatur properti (seperti warna, ukuran, jenis huruf,
dll) dari elemen yang dikenakan rule tersebut.

Tujuan utama dari CSS adalah agar isi dan tampilan dari sebuah dokumen
dapat dipisahkan. Dengan pemisahan ini dapat meningkatkan performa
pembacaan isi dari sebuah dokumen, menyediakan fleksibilitas dan pengelolaan
pada spesifikasi dari karekteristik tampilan, memungkinkan beberapa dokumen
HTML menggunakan gaya visualisasi yang sama (menggunakan file CSS yang
sama), serta dapat mengurangi kompleksitas serta perulangan didalam dokumen
HTML.
Workshop Desain web

3.1 Sejarah CSS

CSS pertama kali diusulkan oleh Håkon Wium Lie pada 10 Oktober 1994.
Pada saat itu Lie bekerja dengan Tim Berners-Lee di CERN (Conseil Européen
pour la Recherche Nucléaire – sebuah organisasi penelitian bidang nuklir di
Eropa). Pada kurun waktu yang sama, terdapat beberapa bahasa style sheet selain
CSS yang juga diusulkan untuk digunakan pada dokumen web. Setelah melalui
berbagai diskusi, baik di beberapa mailing list maupun didalam W3C (World
Wide Web Consortioum), pada tahun 1996 dikeluarkan rekomendasi dari W3C
untuk CSS (CSS1).

3.1.1 CSS level 1

Spesifikasi resmi dari CSS level 1 dipublikasikan pada 17 Desember 1996,


dimana Håkon Wium Lie dan Bert Bos dinobatkan sebagai pengembang aslinya.
Berikut ini beberapa hal yang dapat diatur dengan CSS1:

- Properti dari huruf seperti bentuk huruf maupun penekanannya (huruf


tebal, bergaris bawah, miring, dll).

- Warna teks, latar belakang, dan elemen-elemen lainnya.

- Atribut dari teks seperti lebar spasi antar kata ataupun spasi antar kalimat.

- Alignment dari teks, gambar, tabel, dan elemen-elemen lainnya.

- Margin (batasan), border (garis tepi), padding, dan pengaturan posisi


untuk sebagian besar elemen.

- Identifikasi unik dan klasifikasi untuk sekelompok atribut.

3.1.2 CSS level 2

Spesifikasi untuk CSS level 2 dikembangkan oleh W3C dan di publikasikan


pada bulan Mei 1998. CSS level 2 merupakan pengembangan dari CSS1 dengan
menambahkan beberapa kemampuan seperti pengaturan posisi (absolute, relative,
atau fixed) dari elemen dan z-index, konsep untuk tipe-tipe media, mendukung
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

aural style sheet (yang kemudian digantikan dengan speech modules dari CSS3),
dan beberapa properti baru dari huruf seperti shadows (bayangan).

3.1.3 CSS level 2 revisi 1

CSS level 2 revisi 1, atau seringkali disebut sebagai CSS2.1, memperbaiki


beberapa kesalahan pada CSS2, menghapus beberapa fitur yang tidak banyak
didukung oleh browser atau tidak mempunyai interoperable yang bagus, serta
menambahkan beberapa ekstensi yang sudah diimplementasikan pada browser
kedalam spesifikasi. Setelah melalui proses yang cukup panjang, CSS2.1 akhirnya
dipublikasikan sebagai rekomendasi dari W3C pada 7 Juni 2011.

3.1.4 CSS level 3

Berbeda dengan CSS level 2 yang didefinisikan sebagai satu kesatuan yang
berisi semua fitur yang ada, spesifikasi CSS level 3 dibagi menjadi beberapa
dokumen yang disebut sebagai modul. Setiap modul dapat menambahkan
kemampuan baru atau mengembangkan kemampuan dari CSS2, dengan tetap
menjaga kampatibilitas terhadap versi sebelumnya. Konsep awal dari CSS3
pertama kali dipublikasikan pada Juni 1999.

Karena konsep modular pada CSS3, maka modul yang berbeda memiliki
tingkat stabilitas dan status yang berbeda pula. Sampai pada Juni 2012, terdapat
lebih dari 50 modul CSS yang telah dipublikasikan dari CSS Working Group. 4
diantaranya telah dipublikasikan sebagai Formal Recommendation, yaitu:

- 2012-06-19: Media Queries

- 2011-09-29: Namespaces

- 2012-09-29: Selector Level 3

- 2011-06-07: Color

Beberapa modul (termasuk modul Backgrounds and Borders dan modul


Multi- column Layout) mempunyai status Candidate Recommendation (CR) dan
dianggap
Workshop Desain web

sudah cukup stabil. Tabel berikut ini merupakan status dari modul-modul dari
CSS3.

Tabel 3.1 Status dari modul-modul CSS3

Modul Judul Spesifikasi Status, Tanggal


css3- CSS Backgrounds and Borders Candidate Recommendation,
background Module Level 3 September 2014
css3-box CSS basic box model Working Draft, August 2007
css-cascade-3 CSS Cascading and Inheritance Candidate Recommendation, October
Level 3 2013
css3-color CSS Color Module Level 3 Recommendation, June 2011
css3-content CSS3 Generated and Replaced Working Draft, May 2003
Content Module
css-fonts-3 CSS Fonts Module Level 3 Candidate Recommendation, October
2013
css3-gcpm CSS Generated Content for Paged Working Draft, May 2014
Media Module
css3-layout CSS Template Layout Module Working Draft, November 2011
css3- Media Queries Recommendation, June 2012
mediaqueries
css3-page CSS Paged Media Module Level 3 Working Draft, March 2013
css3-selectors Selectors Level 3 Recommendation, September 2011
css3-ui CSS Basic User Interface Module Working Draft, January 2012
Level 3 (CSS3 UI)

3.1.5 CSS level 4

Sama seperti CSS3 yang bersifat modular, tidak ada spesifikasi tunggal untuk
CSS4. Dan karena CSS3 didefinisikan secara modular, maka setiap modul
memiliki status yang berbeda serta dapat berkembang secara terpisah. Saat ini,
sebagian besar modul berada pada level 3, yang dibangun berdasarkan CSS2.1.

Beberapa modul CSS level 4 yang dibangun berdasarkan modul CSS level 3
seperti Image Values, Backgrounds & Borders, dan Selectors. Terdapat juga
beberapa modul yang mendefinisikan fungsi yang benar-benar baru, seperti
Flexbox, dimana modul ini didesain sebagai “level 1”.
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

Karena saat ini CSS3 belum sepenuhnya selesai, maka CSS4 juga belum
dapat digunakan secara utuh. Meskipun begitu, beberapa modul yang berada pada
level 4 dapat disebut sebagai CSS4.

3.2 Style Rule

CSS merupakan kumpulan dari rule yang digunakan untuk mengatur


bagaimana sebuah elemen pada dokumen web divisualisasikan. Berikut ini
merupakan bentuk dasar dari rule pada CSS:

Keterangan:
selector {

- property1:
selector merupakan identifikasi dari elemen dimana rule akan diterapkan.
value;
Selector dapat digunakan sebagai identifikasi untuk elemen sebenarnya
property2:
(seperti
value;
elemen p atau elemen body), atau sebagai identifikasi untuk nilai dari
atribut class.
- diantara tanda kurung kurawal buka ‘{‘ dan tanda kurung kurawal tutup ‘}’
berisi beberapa pasangan property/value yang dipisahkan dengan tanda titik
koma ‘;’. Property dan value dipisahkan dengan tanda titik dua ‘:’.
- property digunakan untuk mendefinisikan apa yang akan dilakukan terhadap
elemen yang terpilih. Terdapat banyak sekali property yang dapat
didefinisikan, seperti warna elemen, warna latar, posisi, margin, padding, jenis
huruf, dan lain sebagainya.
- value merupakan nilai yang didefinisikan untuk setiap property dari elemen
yang terpilih. Jenis nilai untuk satu properti bisa berbeda dibandingkan nilai
untuk properti lainnya. Sebagai contoh, nilai untuk properti color bisa dalam
nilai heksadesimal seperti #3399EE, nilai RGB seperti rgb(13,21134), atau
Workshop Desain web

nama warna seperti blue, red, atau green. Nilai untuk properti width bisa
berupa nilai dalam piksel, ems, prosentase, sentimeter, atau unit lainnya.

Sebagai contoh, lihat rule CSS berikut ini:

pElemen
{ HTML yang dipilih oleh rule diatas adalah elemen p. Sehingga,
untukmargin: 5px; p pada dokumen HTML yang menggunakan CSS diatas akan
setiap elemen
font-family:
terkena aturan pada rule tersebut. Yaitu, memiliki margin untuk paragraf sebesar
arial; color:
5 piksel, menggunakan huruf Arial, dan huruf yang digunakan berwarna biru.
blue;

3.3 Komentar dalam CSS

Sebagaimana bahasa yang lain, anda dapat menambahkan komentar didalam


CSS. Anda dapat menambahkan komentar dengan mengapitnya diantara tanda ‘/*’
dan ‘*/’. Komentar dalam CSS dapat menggunakan satu atau beberapa baris, dan
browser akan mengabaikan baris-baris komentar tersebut. Lihat contoh berikut ini:

Pada
/* contoh
These arediatas,
basickalimat
element“These are basic
selectors element selectors” akan
diabaikan oleh browser.
*/ selector {
property1:
Anda dapat meletakkan komentar diantara rule satu dengan rule lainnya
value;
ataupun meletakkan komentar didalam blok untuk property. Perhatikan contoh
property2:
CSS berikut
value;ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

selector {
property1:
value;
/*
property2:
value;
property3:
Pada contoh diatas, maka properti kedua dan ketiga akan diabaikan oleh
browser karena berada diantara tanda ‘/*’ dan ‘*/’.

Berbeda dengan bahasa lain, pada CSS anda hanya dapat menambahkan
komentar dalam bentuk blok (komentar berada diantara tanda ‘/*’ dan ‘*/’). Anda
dapat menuliskan komentar dalam satu baris, tetapi tetap harus menuliskannya
diantara tanda ‘/*’ dan ‘*/’.

3.4 Mengelompokkan selector

Anda dapat mengelompokkan beberapa selector berbeda menjadi satu.


Sebagai contoh, anda ingin mengatur visualisasi dokumen HTML menggunakan
rule CSS sperti berikut ini:

Walaupun
h1 penulisan
{color:red;} rule seperti diatas tidak salah dan dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, namun hal tersebut tidak ideal karena terdapat perulangan
p {color:red;}
penulisan, dimana elemen h1 dan p sama-sama memiliki properti color bernilai
red. Untuk kondisi seperti diatas, anda dapat menyingkat penulisan rule CSS
dengan mengelompokkan beberapa selector menggunakan tanda koma ‘,’.

h1, p {color:red;}
Pada contoh diatas, aturan didalam tanda kurung kurawal akan diterapkan
untuk kedua selector (h1 dan p).
Workshop Desain web

3.5 Tipe selector

Anda dapat menggunakan selector untuk berbagai tipe. Tiga tipe selector
yang paling banyak digunakan adalah element selector, class selector, dan ID
selector.

3.5.1 Element Selector

pAturan pada
{color: rule
red;} dengan element selector seperti contoh diatas akan
diaplikasikan pada semua elemen p yang berada didalam dokumen HTML.
Perhatikan contoh dokumen HTML berikut ini:

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
p {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<p>Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
(PENS) mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt In
ASEAN.” </p>
<p>Sajian musik vokal yang padu dari tim Paduan
Suara Mahasiswa PENS serta tarian tradisional bernuansa
modern menjadi pembuka dalam seminar ini. </p>
<p>Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara dimulai
pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
</body>

Dokumen HTML diatas menggunakan rule CSS berbentuk embedded style


yang mengatur warna untuk elemen p. Didalam dokumen HTML tersebut terdapat
3 elemen p. Dokumen HTML diatas akan ditampilkan dalam browser seperti
berikut ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

Pada gambar diatas dapat anda lihat bahwa semua elemen p dalam dokumen
HTML ditampilkan dengan warna merah, seperti yang diatur dalam rule CSS.

3.5.2 Class Selector

Class selector
.baru {color:ditulis
red;}dengan menambahkan tanda ‘.’ (titik) sebelum nama
selector. Aturan pada rule dengan class selector seperti contoh diatas akan
diaplikasikan pada semua elemen dalam dokumen HTML yang memiliki atribut
“class” dengan nilai “baru”. Perhatikan contoh dokumen HTML berikut ini:

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
.baru {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<h2 class="baru">Awal</h2>
<p>Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt In ASEAN.” </p>
Workshop Desain web

<p class="baru">Sajian musik vokal yang padu dari


tim Paduan Suara Mahasiswa PENS serta tarian
tradisional bernuansa modern menjadi pembuka dalam
seminar ini. </p>
<p>Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara dimulai
pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
<h2>Akhir</h2>
</body>

Dokumen HTML diatas menggunakan rule CSS yang mengatur warna untuk
class ‘baru’. Didalam dokumen HTML tersebut terdapat terdapat dua elemen h2
dimana elemen h2 yang pertama memiliki atribut ‘class’ dengan nilai ‘baru’.
Dalam dokumen tersebut juga terdapat tiga elemen p dimana salah satunya
memiliki atribut ‘class’ yang bernilai ‘baru’ (elemen p yang kedua). Visualisasi
dari dokumen HTML diatas pada browser adalah seperti berikut ini:

Perhatikan pada gambar diatas, terlihat bahwa hanya elemen yang memiliki
atribut ‘class’ bernilai ‘baru’ saja yang terkena aturan dari rule CSS (ditampilkan
dengan warna merah). Sedangkan elemen-elemen lainnya tetap berwarna hitam.

3.5.3 ID Selector

#ali01 {color: red;}


Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

ID selector ditulis dengan menambahkan tanda ‘#’ (pagar) sebelum nama


selector. Aturan pada rule dengan ID selector seperti contoh diatas akan
diaplikasikan pada elemen dalam dokumen HTML yang memiliki atribut “id”
dengan nilai “ali01”. Berbeda dengan atribut ‘class’ yang dapat bernilai sama
untuk beberapa elemen, properti ‘id’ bersifat unik, sehingga tidak boleh ada dua
atau lebih elemen dalam satu dokumen HTML yang memiliki atribut ‘id’ yang
bernilai sama. Perhatikan contoh dokumen HTML berikut ini:

Dokumen HTML
<!DOCTYPE html> diatas menggunakan rule CSS yang mengatur warna untuk
ID <html>
‘baru’. Didalam dokumen HTML tersebut terdapat terdapat tiga elemen p
dimana salah satunya memiliki atribut ‘id’ yang bernilai ‘baru’ (elemen p yang
<head>
<style>
pertama). Visualisasi dari dokumen HTML diatas pada browser adalah seperti
#ali01 {color: red;}
berikut ini:
</style>
</head>
<body>
<h2 class="baru">Awal</h2>
<p id="ali01">Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) 2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri
Surabaya (PENS) mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt
In ASEAN.” </p>
<p id="ali02" class="baru">Sajian musik vokal yang padu
dari tim Paduan Suara Mahasiswa PENS serta tarian tradisional
bernuansa modern menjadi pembuka dalam seminar ini. </p>
<p id="ali03">Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara
dimulai pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
<h2>Akhir</h2>
</body>
</html>
Workshop Desain web

Perhatikan pada gambar diatas, terlihat bahwa hanya elemen yang memiliki
atribut ‘class’ bernilai ‘baru’ saja yang terkena aturan dari rule CSS (ditampilkan
dengan warna merah). Sedangkan elemen-elemen lainnya tetap berwarna hitam.

3.6 Mengkombinasikan Selector

Anda dapat menggabungkan beberapa selector untuk mendefinisikan aturan


yang lebih spesific. Perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Rule diatas {color:


[Link] akan diaplikasikan
red;} pada elemen p yang memiliki atribut ‘class’
bernilai ‘warning’.

h3#example {color: red;}


Rule diatas akan diaplikasikan pada elemen h3 yang memiliki atribut ‘id’
bernilai ‘example’.

Rule diatas
[Link], akan diaplikasikan
[Link] pada
{color: elemen
red;} p yang memiliki atribut ‘class’
bernilai ‘info’ dan elemen h2 yang memiliki atribut ‘class’ bernilai ‘highlight’.
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

3.7 Selector Tingkat Lanjut

Selain tipe-tipe selector dasar yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya,
terdapat beberapa selecteor yang dapat anda gunakan untuk memilih elemen
secara lebih detil lagi. Berikut ini daftar tipe selector tersebut:

- Universal selector

- Attribute selectors

- Child selectors

- Descendent selectors

- Adjacent sibling selectors

- Pseudo-classes

- Pseudo-elements

3.7.1 Universal Selector

Universal selector dapat digunakan untuk memilih semua elemen didalam


dokumen HTML. Perhatikan contoh rule berikut ini:

*Rule
{ diatas akan mengakibatkan semua elemen dalam dokumen HTML yang
menggunakan
border: CSS
1px tersebut memiliki garis tepi setebal 1px dengan tipe solid dan
solid blue;
berwarna
} biru.

3.7.2 Attribute Selector

Attribute selector dapat anda gunakan untuk memilih elemen berdasarkan


atribut yang dimilikinya. Perhatikan contoh berikut ini:

img[alt] {
border: 3px solid red;
}
Workshop Desain web

Rule diatas akan mengakibatkan semua elemen img yang memiliki atribut
‘alt’ akan memiliki garis tepi setebal 3px dengan tipe solid dan berwarna merah.

Anda juga dapat menggunakan attribute selector untuk melakukan pemilihan


elemen secara lebih detil dengan cara memasukkan nilai dari atribut yang dipilih.
Lihat contoh berikut ini:

Rule diatas hanya akan {diaplikasikan


img[src=”[Link]”] pada elemen img yang mempunyai
atributborder:
‘src’ bernilai ‘[Link]’. Perhatikan contoh penggunaan attribute selector
3px solid
pada red;
dokumen HTML berikut ini:

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
img[src="[Link]"] {border: 3px solid red;}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan</h2>
<img src="[Link]" alt="Wajan">
<h2>Minuman</h2>
<img src="[Link]" alt="Minuman">
<h2>Onde-onde</h2>
<img src="[Link]" alt="Onde-onde">
</body>
</html>
Visualisasi dokumen HTML diatas pada browser adalah seperti berikut ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

Perhatikan pada gambar diatas, hanya gambar wajan saja yang memiliki garis
tepi berwarna merah. Hal ini dikarenakan rule CSS didefinisikan hanya untuk
elemen img yang memiliki atribut ‘src’ bernilai ‘[Link]’ saja.

3.7.3 Child Selector


Anda dapat menggunakan child selector untuk memilih elemen tertentu yang
merupakan ‘anak’ dari dari elemen lainnya. Perhatikan contoh rule berikut ini:

div > h2 {color: red;}


Workshop Desain web

Rule diatas hanya akan diaplikasikan pada elemen h2 yang meenjadi ‘anak’
(berada didalam) elemen div saja. Perhatikan contoh penggunaan child selector
pada dokumen HTML berikut ini:

Dokumen HTML
<!DOCTYPE html> diatas akan menghasilkan tampilan pada browser seperti
berikut ini:
<html>
<head>
<style>
div > h2 {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan Kuat</h2>
<div>
<h2>Minuman Segar</h2>
</div>
<h2>Onde-onde</h2>
</body>
</html>
Pada gambar diatas, hanya kata “Minuman Segar” saja yang berwarna merah.
Hal ini disebabkan karena rule didefinisikan hanya untuk elemen h2 yang menjadi
‘anak’ dari elemen div saja. Kata “Minuman Segar” berada dalam elemen h2 yang
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

menjadi ‘anak’ dari elemen div, sedangkan kata “Wajan Kuat” dan “Onde-onde”
walaupun berada didalam elemen h2 namun elemen h2 tersebut bukan merupakan
anak dari elemen div.

3.7.4 Descendant Selector

Penulisan rule dengan descendant selector adalah seperti berikut ini:

Ruleem
div diatas hanya akan diaplikasikan
{text-decoration: pada elemen
underline;} em yang meenjadi turunan
dari (berada didalam) elemen div saja.

Descendant selector mirip dengan child selector. Bedanya, jika child selector
hanya digunakan untuk memilih elemen yang merupakan turunan (anak) langsung
dari elemen lainnya, descendand selector dapat digunakan untuk memilih semua
elemen yang menjadi turunan elemen lainnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung (tidak memperhitungkan seberapa dalam level hirarkinya). Untuk
melihat perbedaan antara child selector dan descendent selector, perhatikan
dokumen HTML berikut ini:

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
div > em {color: red;}
div em {text-decoration: underline;}
</style>
</head>
<body>
<div>
<em>Minuman Segar</em>
<p>Di kala cuaca panas, saya sangat suka minum
<em>Beras Kencur Dingin</em>.</p>
</div>
</body>
</html>
Workshop Desain web

Pada dokumen HTML diatas terdapat dua rule. Rule yang pertama
menggunakan child selector (“div > em {color: red;}”) sedangkan yang kedua
menggunakan descendant selector (“div em {text-decoration: underline;}”). Rule
pertama berfungsi untuk merubah warna teks menjadi merah sedangkan rule
kedua berfungsi untuk merubah teks menjadi bergaris bawah.

Dokumen HTML tersebut akan ditampilkan dalam browser seperti berikut ini:

Perhatikan gambar tampilan browser diatas, aturan dari rule pertama


(merubah warna teks menjadi merah) hanya dikenakan pada kata “Minuman
Segar” saja, sedangkan rule kedua (memberi garis bawah pada teks) dikenakan
baik pada kata “Minuman Segar” maupun kata “Beras Kencur Dingin”. Kata
“Beras Kencur Dingin” tidak dikenakan aturan dari rule pertama karena walaupun
kata ini berada didalam elemen em namun bukan merupakan turunan langsung
dari elemen div.

3.7.5 Adjacent Sibling Selector

Penulisan rule dengan adjacent sibling selector adalah seperti berikut ini:

Rule
h2 + pdiatas akanred}
{color: diaplikasikan pada elemen p yang berada setelah
(bersebelahan dengan) elemen h2 pada level hirarki yang sama. Perhatikan contoh
dokumen HTML berikut ini:

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

h2 + p {color: red}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan</h2>
<p>Merupakan alat untuk menggoreng.</p>
<p>Tapi kadangkala juga dibuat untuk antenna wireless</p>
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat yang berisi kacang ijo.</p>
<p>Rasanya enak sekali.</p>
</body>
</html>
Dokumen HTML diatas memiliki satu rule yang akan merubah warna teks
pada elemen p yang terletak tepat setelah elemen h2 menjadi merah. Dokumen ini
akan ditampilkan pada browser seperti gambar berikut ini:

Perhatikan gambar diatas, hanya elemen p yang berada tepat setelah elemen h2
saja yang dikenakan aturan dari rule (teks berwarna merah).
Workshop Desain web

3.7.6 Pseudo-class

Pseudo-class tidak digunakan untuk memilih elemen, namun untuk memilih


status dari sebuah elemen. Penggunaan yang paling umum adalah untuk
pewarnaan dari sebuah hyperlink. Berikut ini adalah beberapa status dari
hyperlink:

- :link – normal, status awal dari sebuah link ketika pertama kali tampil.

- :visited – link yang sudah pernah anda kunjungi (sudah pernah di-klik).

- :focus – link (atau kotak isian/form, atau yang lain) dimana kursor keyboard
sedang berada didalamnya.

- :hover – link (atau elemen lainnya) dimana pointer mouse sedang berada
diatasnya.

- :active – link yang sedang di-klik.

Berikut ini contoh penggunaan pseudo-class pada selector untuk penulisan


rule:

a:link {color: blue;}


a:visited {color:
Perhatikan dokumen HTML berikut ini:
gray;}
a:hover,
<!DOCTYPEa:focus
html> {text-decoration: none;}
<html>
<head>
<style>
div:hover {border: 1px solid red}
</style>
</head>
<body>
<div>
<h2>Wajan</h2>
<p>Merupakan alat untuk menggoreng.</p>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

</div>
<div>
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat berisi kacang ijo.</p>
</div>
</body>
</html>
Dokumen HTML diatas memiliki sebuah rule yang akan membuat elemen
div memiliki garis tepi (border)berwarna merah ketika pointer mouse diletakkan
diatas elemen tersebut. Perhatikan keluaran dari dokumen HTML pada browser
berikut ini:

Gambar diatas memperlihatkan tampilan pada browser ketika pointer mouse


tidak berada diatas elemen div.
Workshop Desain web

Gambar diatas memperlihatkan tampilan pada browser ketika pointer mouse


berada diatas elemen div. Perhatikan bahwa elemen div yang kedua memiliki
garis tepi berwarna merah.

Selain yang telah disebutkan diatas, berikut ini adalah daftar beberapa
pseudo- class yang dapat digunakan pada CSS3:

- :checked

- :disabled

- :empty

- :first-child

- :invalid

- dan lain-lain

3.7.7 Pseudo-element

Pseudo-element dapat digunakan dalam dua hal. Yang pertama, anda dapat
menggunakan pseudo-element untuk memilih huruf pertama atau baris pertama
dari teks yang berada dalam sebuah elemen HTML. Perhatikan contoh dokumen
HTML berikut ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
p::first-letter {
font-size:
300%;
background-color: lightgrey;
}
p::first-line {font-weight: bold;}
</style>
</head>
<body>
<p>Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt In ASEAN.” </p>
<p>Sajian musik vokal yang padu dari tim Paduan Suara
Mahasiswa PENS serta tarian tradisional bernuansa modern
menjadi pembuka dalam seminar ini. </p>
<p>Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara dimulai
pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
</body>
Dokumen HTML diatas akan tampil di browser seperti gambar berikut ini:
Workshop Desain web

Perhatikan gambar diatas, untuk setiap huruf pertama dari elemen p akan
ditulis dengan ukuran 300% dan memiliki warna latar abu-abu. Dan setiap baris
pertama dari elemen p ditulis dengan huruf tebal.

Selain itu, anda dapat pula menggunakan pseudo-element untuk


menambahkan isi pada dokumen HTML. Perhatikan contoh dokumen HTML
berikut ini:
<!DOCTYPE html>
Dokumen
<html> HTML diatas akan menghasilkan keluaran di browser seperti berikut
ini: <head>
<style>
h2::before {content:
url([Link])} h2::after
{content: url([Link])}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan</h2>
<p>Merupakan alat untuk menggoreng.</p>
<p>Tapi kadangkala juga dibuat untuk antenna wireless</p>
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat yang berisi kacang ijo.</p>
<p>Rasanya enak sekali.</p>
</body>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

Dapat anda lihat pada keluaran dari dokumen HTML diatas, rule CSS pada
dokumen tersebut akan menambahkan gambar ‘[Link]’ sebelum (before)
elemen h2 dan menambahkan gambar ‘[Link]’ sesudahnya (after).

3.8 CSS Shorthand

Salah satu hal yang akan sering anda temui dalam penggunaan CSS adalah
Shorthand. Shorthand dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa properti
kedalam satu properti untuk mengurangi tempat penyimpanan dan waktu
penulisan.

Pada contoh-contoh sebelumnya, sebenarnya beberapa rule CSS sudah


menggunakan shorthand. Perhatikan rule berikut ini:

Properti
div { border pada rule diatas sebenarnya adalah penggabungan dari
properti border-width,
border: border-style,
1px solid blue; dan border-color. Sehingga rule diatas akan
memiliki
} efek yang sama dengan rule berikut ini:

div {
border-width: 1px;
Workshop Desain web

border-style:
solid; border-
color: blue;

Perhatikan rule berikut ini:

Rule{diatas
div dapat juga anda tuliskan menjadi seperti berikut ini:
margin-top: 1px;
div {
margin-right:
margin: 1px 2px 3px 4px;
2px; margin-
Beberapa shorthand property (seperti margin, border-width, atau padding)
}
bottom: 3px;
memerlukan 4 nilai. Namun anda mempunyai pilihan untuk memasukkan 1 nilai,
margin-left: 4px;
2 nilai, 3 nilai, ataupun 4 nilai sekaligus. Perhatikan penggunaan property border-
width (lebar garis tepi) pada dokumen HTML berikut ini:

<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
.satu {border-width: 2px; border-color: red;}
.dua {border-width: 2px 6px; border-color: green;}
.tiga {border-width: 2px 6px 10px; border-color:
blue;} div {border-style: solid;}
</style>
</head>
<body>
<div class="satu">
<h2>Wajan Kuat</h2>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

</div>
<br>
<div class="dua">
<h2>Minuman Segar</h2>
</div>
<br>
<div class="tiga">
<h2>Onde-onde</h2>
</div>
</body>
</html>
Pada dokumen HTML tersebut terdapat 4 rule CSS: 3 rule masing-masing
untuk class ‘satu’, ‘dua’, dan ‘tiga’; serta 1 rule yang berlaku untuk elemen div.
Pada dokumen tersebut terdapat 3 elemen div dengan atribut ‘class’ yang bernilai
‘satu’, ‘dua’, dan ‘tiga’. Pada browser, dokumen tersebut akan ditampilkan seperti
berikut ini:

Perhatikan gambar diatas, elemen div pertama dikenakan aturan dari rule
pertama yang hanya memiliki 1 nilai untuk border-width (“border-width: 2px”).
Jika sebuah shorthand property border-width berisi satu nilai, maka nilai
ketebalan
Workshop Desain web

garis tepi tersebut akan diterapkan pada semua sisi atas/top, kanan/right,
bawah/bottom, dan kiri/left.

Elemen div kedua dikenakan aturan dari rule kedua yang memiliki 2 nilai
untuk border-width (“border-width: 2px 6px”). Jika sebuah shorthand property
border-width berisi dua nilai, maka nilai pertama akan diterapkan pada sisi
atas/top dan bawah/bottom, sedangkan nilai kedua akan diterapkan pada sisi
kanan/right dan kiri/left.

Elemen div ketiga dikenakan aturan dari rule ketiga yang memiliki 3 nilai
untuk border-width (“border-width: 2px 6px 10px”). Jika sebuah shorthand
property border-width berisi tiga nilai, maka nilai pertama akan diterapkan pada
sisi atas/top, nilai kedua akan diterapkan pada sisi kanan/right dan kiri/left,
sedangkan nilai ketiga akan diterapkan pada sisi bawah/bottom.

3.9 Mengaplikasikan CSS kedalam dokumen HTML

Terdapat tiga cara untuk mengaplikasikan CSS ke dalam dokumen HTML:


inline style, embedded style, dan external style. Jika anda tidak memiliki alasan
yang sangat kuat, jangan gunakan cara pertama dan kedua. Selalu gunakan cara
ketiga, external style, untuk mengaplikasikan CSS kedalam dokumen HTML.

3.9.1 Inline Style

Anda dapat mengaplikasikan CSS style pada elemen dalam dokumen HTML
menggunakan atribut ‘style’, seperti pada contoh berikut ini:

Didalam
<p atribut ‘style’, anda dapat
style=”background:blue; menuliskan semua
color:yellow; properti CSS
padding:5px;”> beserta
nilainyaLorem
(property/value pair). Antara
Ipsum is simply pasangan
dummy text properti/nilai
of the printing andsatu dengan
typesetting industry.
pasangan lainnya dipisahkan dengan menggunakan tanda titik koma ‘;’.
</p>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

3.9.2 Embedded Style

Dengan embedded style, rule CSS ditempatkan pada bagian <head> dari
dokumen HTML didalam elemen style, seperti pada contoh berikut ini:

Hampir semua
<!DOCTYPE contoh
html> penggunaan CSS pada bab ini menggunakan embedded
style. Dengan cara ini anda tidak perlu menuliskan atribut style untuk setiap
<html>
elemen dalam dokumen HTML anda.
<head>
<style>
p (color: blue;)
3.9.3 External Style
h1 (font-weight: bold
) divstyle
External > h2merupakan
{color: cara penggunaan CSS yang direkomendasikan.
red;}
Dengan cara ini, rule CSS ditulis didalam sebuah file terpisah yang berekstensi
</style>
‘.css’. Kemudian, file CSS tersebut diaplikasikan ke dalam dokumen HTML
</head>
dengan menggunakan elemen link, seperti contoh berikut ini:
<body>
. . cara
Dengan . . ini
. memungkinkan anda untuk membuat aturan-aturan terkait
<link rel=”stylesheet” href=”[Link]” />
. . . . .
visualisasi dalam sebuah file CSS, kemudian menggunakan file tersebut untuk
. . . . .
semua dokumen HTML dalam sebuah website. Anda dapat merubah tampilan dari
</body>
keseluruhan dokumen hanya dengan merubah satu file saja. Cara ini juga akan
Workshop Desain web

mempercepat waktu akses, karena browser hanya perlu mengunduh satu file CSS
saja untuk dapat digunakan oleh keseluruhan dokumen.

Contoh berikut ini adalah isi dari sebuah file CSS dengan nama [Link]:

Dan berikut
.satu ini adalah contoh
{border-width: 2px; dokumen HTML yang
border-color: red;}menggunakan file CSS
.dua {border-width: 2px 6px; border-color: green;}
[Link]:
.tiga {border-width: 2px 6px 10px; border-color:
<!DOCTYPE
blue;} html>
div {border-style: solid;}
<html>
<head>
<link rel="stylesheet" href="[Link]" />
</head>
<body>
<div class="satu">
<h2>Wajan Kuat</h2>
</div>
<br>
<div class="dua">
<h2>Minuman Segar</h2>
</div>
<br>
<div class="tiga">
<h2>Onde-onde</h2>
</div>
</body>
</html>
Contoh ini akan menghasilkan keluaran yang sama persis seperti contoh
dokumen HTML pada sub bab CSS Shorthand.
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

3.10 Inheritance

Didalam CSS, inheritance (warisan) merupakan suatu mekanisme untuk


mewariskan properti dari elemen induk ke elemen lain yang menjadi
anak/turunannya. Hal ini mirip dengan inheritance di dunia genetika, seperti, jika
orang tua memiliki mata berwarna biru maka anaknya juga akan memiliki mata
berwarna biru juga. Perhatikan contoh dokumen HTML berikut ini terkait dengan
inheritance:

Terdapat satu
<!DOCTYPE rule
html> pada dokumen HTML diatas yang mengatur warna teks
untuk elemen div dengan atribut class yang bernilai ‘satu’. Berikut ini visualisasi
<html>
dari<head>
dokumen diatas pada browser:
<style>
.satu {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<div class="satu">
<h2>Wajan</h2>
<div>
<p>Merupakan alat untuk menggoreng.</p>
<p>Tapi kadangkala juga dibuat untuk antenna
wireless</p>
</div>
</div>
<div class="dua">
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat yang berisi kacang
ijo.</p>
<p>Rasanya enak sekali.</p>
</div>
</body>
</html>
Workshop Desain web

Perhatikan gambar diatas, rule yang mengatur warna teks menjadi merah
tidak diterapkan pada elemen div dengan atribut class bernilai ‘satu’ saja,
melainkan juga diterapkan pada semua elemen yang berada didalam elemen div
dengan atribut class bernilai ‘satu’ tersebut.

Tidak semua properti di CSS dapat diwariskan, karena ada beberapa properti
yang memang tidak perlu untuk diwariskan. Sebagai contoh, properti margin tidak
diwariskan, karena jarang sekali elemen anak menggunakan margin yang sama
dengan induknya. Anda dapat mencari daftar lengkap properti apa saja yang dapat
diwariskan maupun tidak dari website World Wide Web Consortium (W3C) di
alamat [Link].

3.11 Cascade

CSS merupakan singkatan dari Cascading Style Sheet, sehingga sudah lumrah
jika cascade ini menjadi hal yang penting disini. Konsep cascade pada CSS
adalah mekanisme yang mengatur hasil akhir dari visualisasi jika terdapat
beberapa deklarasi CSS yang mengatur elemen yang sama. Terdapat tiga konsep
utama yang akan mengatur urutan dari beberapa deklarasi CSS yang akan
diaplikasikan:

1. Importance --> tingkat kepentingan


Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)

2. Specificity --> seberapa spesifik sebuah selector dari rule

3. Source order --> urutan kemunculan

Jika sebuah elemen pada dokumen HTML dikenakan dua rule, maka rule
dengan importance paling tinggi yang akan diterapkan. Jika nilai importance
sama, maka akan dilihat level specificity-nya, dan jika level specificity-nya sama
akan dilihat urutan kemunculannya.

Anda mungkin juga menyukai