Panduan Lengkap CSS untuk Desain Web
Panduan Lengkap CSS untuk Desain Web
(Syauqi@PENS)
Bab III
Cascading Style Sheet
Cascading Style Sheet (CSS) merupakan bahasa yang dapat digunakan untuk
mengatur tampilan dari sebuah dokumen yang ditulis menggunakan bahasa
markup. Walaupun CSS banyak sekali digunakan untuk mengatur tampilan dari
sebuah halaman web yang ditulis menggunakan bahasa HTML, sebenarnya CSS
dapat juga diaplikasikan pada dokumen XML (eXtensible Markup Language) lain
seperti XML standar, SVG (Scalable Vector Graphic), maupun XUL (XML User
Interface Language).
Jika bahasa HTML mengatur struktur dari dokumen web dan memberi tahu
browser terkait fungsi dari beberapa elemen (seperti tautan ke dokumen lain, form
masukan, ataupun tombol aksi), bahasa CSS memberikan instruksi kepada
browser terkait dengan bagaimana sebuah elemen harus ditampilkan. CSS dapat
digunakan untuk mengatur style (pewarnaan, tipe huruf, ukuran, dll), lebar spasi,
serta tata letak elemen dari dokumen web.
CSS mengatur tampilan dari dokumen web menggunakan aturan (rule). Rule
ini yang menentukan elemen dokumen web mana yang akan diatur visualisasinya.
Pada setiap rule, kita dapat mengatur properti (seperti warna, ukuran, jenis huruf,
dll) dari elemen yang dikenakan rule tersebut.
Tujuan utama dari CSS adalah agar isi dan tampilan dari sebuah dokumen
dapat dipisahkan. Dengan pemisahan ini dapat meningkatkan performa
pembacaan isi dari sebuah dokumen, menyediakan fleksibilitas dan pengelolaan
pada spesifikasi dari karekteristik tampilan, memungkinkan beberapa dokumen
HTML menggunakan gaya visualisasi yang sama (menggunakan file CSS yang
sama), serta dapat mengurangi kompleksitas serta perulangan didalam dokumen
HTML.
Workshop Desain web
CSS pertama kali diusulkan oleh Håkon Wium Lie pada 10 Oktober 1994.
Pada saat itu Lie bekerja dengan Tim Berners-Lee di CERN (Conseil Européen
pour la Recherche Nucléaire – sebuah organisasi penelitian bidang nuklir di
Eropa). Pada kurun waktu yang sama, terdapat beberapa bahasa style sheet selain
CSS yang juga diusulkan untuk digunakan pada dokumen web. Setelah melalui
berbagai diskusi, baik di beberapa mailing list maupun didalam W3C (World
Wide Web Consortioum), pada tahun 1996 dikeluarkan rekomendasi dari W3C
untuk CSS (CSS1).
- Atribut dari teks seperti lebar spasi antar kata ataupun spasi antar kalimat.
aural style sheet (yang kemudian digantikan dengan speech modules dari CSS3),
dan beberapa properti baru dari huruf seperti shadows (bayangan).
Berbeda dengan CSS level 2 yang didefinisikan sebagai satu kesatuan yang
berisi semua fitur yang ada, spesifikasi CSS level 3 dibagi menjadi beberapa
dokumen yang disebut sebagai modul. Setiap modul dapat menambahkan
kemampuan baru atau mengembangkan kemampuan dari CSS2, dengan tetap
menjaga kampatibilitas terhadap versi sebelumnya. Konsep awal dari CSS3
pertama kali dipublikasikan pada Juni 1999.
Karena konsep modular pada CSS3, maka modul yang berbeda memiliki
tingkat stabilitas dan status yang berbeda pula. Sampai pada Juni 2012, terdapat
lebih dari 50 modul CSS yang telah dipublikasikan dari CSS Working Group. 4
diantaranya telah dipublikasikan sebagai Formal Recommendation, yaitu:
- 2011-09-29: Namespaces
- 2011-06-07: Color
sudah cukup stabil. Tabel berikut ini merupakan status dari modul-modul dari
CSS3.
Sama seperti CSS3 yang bersifat modular, tidak ada spesifikasi tunggal untuk
CSS4. Dan karena CSS3 didefinisikan secara modular, maka setiap modul
memiliki status yang berbeda serta dapat berkembang secara terpisah. Saat ini,
sebagian besar modul berada pada level 3, yang dibangun berdasarkan CSS2.1.
Beberapa modul CSS level 4 yang dibangun berdasarkan modul CSS level 3
seperti Image Values, Backgrounds & Borders, dan Selectors. Terdapat juga
beberapa modul yang mendefinisikan fungsi yang benar-benar baru, seperti
Flexbox, dimana modul ini didesain sebagai “level 1”.
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
Karena saat ini CSS3 belum sepenuhnya selesai, maka CSS4 juga belum
dapat digunakan secara utuh. Meskipun begitu, beberapa modul yang berada pada
level 4 dapat disebut sebagai CSS4.
Keterangan:
selector {
- property1:
selector merupakan identifikasi dari elemen dimana rule akan diterapkan.
value;
Selector dapat digunakan sebagai identifikasi untuk elemen sebenarnya
property2:
(seperti
value;
elemen p atau elemen body), atau sebagai identifikasi untuk nilai dari
atribut class.
- diantara tanda kurung kurawal buka ‘{‘ dan tanda kurung kurawal tutup ‘}’
berisi beberapa pasangan property/value yang dipisahkan dengan tanda titik
koma ‘;’. Property dan value dipisahkan dengan tanda titik dua ‘:’.
- property digunakan untuk mendefinisikan apa yang akan dilakukan terhadap
elemen yang terpilih. Terdapat banyak sekali property yang dapat
didefinisikan, seperti warna elemen, warna latar, posisi, margin, padding, jenis
huruf, dan lain sebagainya.
- value merupakan nilai yang didefinisikan untuk setiap property dari elemen
yang terpilih. Jenis nilai untuk satu properti bisa berbeda dibandingkan nilai
untuk properti lainnya. Sebagai contoh, nilai untuk properti color bisa dalam
nilai heksadesimal seperti #3399EE, nilai RGB seperti rgb(13,21134), atau
Workshop Desain web
nama warna seperti blue, red, atau green. Nilai untuk properti width bisa
berupa nilai dalam piksel, ems, prosentase, sentimeter, atau unit lainnya.
pElemen
{ HTML yang dipilih oleh rule diatas adalah elemen p. Sehingga,
untukmargin: 5px; p pada dokumen HTML yang menggunakan CSS diatas akan
setiap elemen
font-family:
terkena aturan pada rule tersebut. Yaitu, memiliki margin untuk paragraf sebesar
arial; color:
5 piksel, menggunakan huruf Arial, dan huruf yang digunakan berwarna biru.
blue;
Pada
/* contoh
These arediatas,
basickalimat
element“These are basic
selectors element selectors” akan
diabaikan oleh browser.
*/ selector {
property1:
Anda dapat meletakkan komentar diantara rule satu dengan rule lainnya
value;
ataupun meletakkan komentar didalam blok untuk property. Perhatikan contoh
property2:
CSS berikut
value;ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
selector {
property1:
value;
/*
property2:
value;
property3:
Pada contoh diatas, maka properti kedua dan ketiga akan diabaikan oleh
browser karena berada diantara tanda ‘/*’ dan ‘*/’.
Berbeda dengan bahasa lain, pada CSS anda hanya dapat menambahkan
komentar dalam bentuk blok (komentar berada diantara tanda ‘/*’ dan ‘*/’). Anda
dapat menuliskan komentar dalam satu baris, tetapi tetap harus menuliskannya
diantara tanda ‘/*’ dan ‘*/’.
Walaupun
h1 penulisan
{color:red;} rule seperti diatas tidak salah dan dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, namun hal tersebut tidak ideal karena terdapat perulangan
p {color:red;}
penulisan, dimana elemen h1 dan p sama-sama memiliki properti color bernilai
red. Untuk kondisi seperti diatas, anda dapat menyingkat penulisan rule CSS
dengan mengelompokkan beberapa selector menggunakan tanda koma ‘,’.
h1, p {color:red;}
Pada contoh diatas, aturan didalam tanda kurung kurawal akan diterapkan
untuk kedua selector (h1 dan p).
Workshop Desain web
Anda dapat menggunakan selector untuk berbagai tipe. Tiga tipe selector
yang paling banyak digunakan adalah element selector, class selector, dan ID
selector.
pAturan pada
{color: rule
red;} dengan element selector seperti contoh diatas akan
diaplikasikan pada semua elemen p yang berada didalam dokumen HTML.
Perhatikan contoh dokumen HTML berikut ini:
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
p {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<p>Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
(PENS) mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt In
ASEAN.” </p>
<p>Sajian musik vokal yang padu dari tim Paduan
Suara Mahasiswa PENS serta tarian tradisional bernuansa
modern menjadi pembuka dalam seminar ini. </p>
<p>Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara dimulai
pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
</body>
Pada gambar diatas dapat anda lihat bahwa semua elemen p dalam dokumen
HTML ditampilkan dengan warna merah, seperti yang diatur dalam rule CSS.
Class selector
.baru {color:ditulis
red;}dengan menambahkan tanda ‘.’ (titik) sebelum nama
selector. Aturan pada rule dengan class selector seperti contoh diatas akan
diaplikasikan pada semua elemen dalam dokumen HTML yang memiliki atribut
“class” dengan nilai “baru”. Perhatikan contoh dokumen HTML berikut ini:
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
.baru {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<h2 class="baru">Awal</h2>
<p>Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt In ASEAN.” </p>
Workshop Desain web
Dokumen HTML diatas menggunakan rule CSS yang mengatur warna untuk
class ‘baru’. Didalam dokumen HTML tersebut terdapat terdapat dua elemen h2
dimana elemen h2 yang pertama memiliki atribut ‘class’ dengan nilai ‘baru’.
Dalam dokumen tersebut juga terdapat tiga elemen p dimana salah satunya
memiliki atribut ‘class’ yang bernilai ‘baru’ (elemen p yang kedua). Visualisasi
dari dokumen HTML diatas pada browser adalah seperti berikut ini:
Perhatikan pada gambar diatas, terlihat bahwa hanya elemen yang memiliki
atribut ‘class’ bernilai ‘baru’ saja yang terkena aturan dari rule CSS (ditampilkan
dengan warna merah). Sedangkan elemen-elemen lainnya tetap berwarna hitam.
3.5.3 ID Selector
Dokumen HTML
<!DOCTYPE html> diatas menggunakan rule CSS yang mengatur warna untuk
ID <html>
‘baru’. Didalam dokumen HTML tersebut terdapat terdapat tiga elemen p
dimana salah satunya memiliki atribut ‘id’ yang bernilai ‘baru’ (elemen p yang
<head>
<style>
pertama). Visualisasi dari dokumen HTML diatas pada browser adalah seperti
#ali01 {color: red;}
berikut ini:
</style>
</head>
<body>
<h2 class="baru">Awal</h2>
<p id="ali01">Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) 2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri
Surabaya (PENS) mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt
In ASEAN.” </p>
<p id="ali02" class="baru">Sajian musik vokal yang padu
dari tim Paduan Suara Mahasiswa PENS serta tarian tradisional
bernuansa modern menjadi pembuka dalam seminar ini. </p>
<p id="ali03">Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara
dimulai pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
<h2>Akhir</h2>
</body>
</html>
Workshop Desain web
Perhatikan pada gambar diatas, terlihat bahwa hanya elemen yang memiliki
atribut ‘class’ bernilai ‘baru’ saja yang terkena aturan dari rule CSS (ditampilkan
dengan warna merah). Sedangkan elemen-elemen lainnya tetap berwarna hitam.
Rule diatas
[Link], akan diaplikasikan
[Link] pada
{color: elemen
red;} p yang memiliki atribut ‘class’
bernilai ‘info’ dan elemen h2 yang memiliki atribut ‘class’ bernilai ‘highlight’.
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
Selain tipe-tipe selector dasar yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya,
terdapat beberapa selecteor yang dapat anda gunakan untuk memilih elemen
secara lebih detil lagi. Berikut ini daftar tipe selector tersebut:
- Universal selector
- Attribute selectors
- Child selectors
- Descendent selectors
- Pseudo-classes
- Pseudo-elements
*Rule
{ diatas akan mengakibatkan semua elemen dalam dokumen HTML yang
menggunakan
border: CSS
1px tersebut memiliki garis tepi setebal 1px dengan tipe solid dan
solid blue;
berwarna
} biru.
img[alt] {
border: 3px solid red;
}
Workshop Desain web
Rule diatas akan mengakibatkan semua elemen img yang memiliki atribut
‘alt’ akan memiliki garis tepi setebal 3px dengan tipe solid dan berwarna merah.
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
img[src="[Link]"] {border: 3px solid red;}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan</h2>
<img src="[Link]" alt="Wajan">
<h2>Minuman</h2>
<img src="[Link]" alt="Minuman">
<h2>Onde-onde</h2>
<img src="[Link]" alt="Onde-onde">
</body>
</html>
Visualisasi dokumen HTML diatas pada browser adalah seperti berikut ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
Perhatikan pada gambar diatas, hanya gambar wajan saja yang memiliki garis
tepi berwarna merah. Hal ini dikarenakan rule CSS didefinisikan hanya untuk
elemen img yang memiliki atribut ‘src’ bernilai ‘[Link]’ saja.
Rule diatas hanya akan diaplikasikan pada elemen h2 yang meenjadi ‘anak’
(berada didalam) elemen div saja. Perhatikan contoh penggunaan child selector
pada dokumen HTML berikut ini:
Dokumen HTML
<!DOCTYPE html> diatas akan menghasilkan tampilan pada browser seperti
berikut ini:
<html>
<head>
<style>
div > h2 {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan Kuat</h2>
<div>
<h2>Minuman Segar</h2>
</div>
<h2>Onde-onde</h2>
</body>
</html>
Pada gambar diatas, hanya kata “Minuman Segar” saja yang berwarna merah.
Hal ini disebabkan karena rule didefinisikan hanya untuk elemen h2 yang menjadi
‘anak’ dari elemen div saja. Kata “Minuman Segar” berada dalam elemen h2 yang
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
menjadi ‘anak’ dari elemen div, sedangkan kata “Wajan Kuat” dan “Onde-onde”
walaupun berada didalam elemen h2 namun elemen h2 tersebut bukan merupakan
anak dari elemen div.
Ruleem
div diatas hanya akan diaplikasikan
{text-decoration: pada elemen
underline;} em yang meenjadi turunan
dari (berada didalam) elemen div saja.
Descendant selector mirip dengan child selector. Bedanya, jika child selector
hanya digunakan untuk memilih elemen yang merupakan turunan (anak) langsung
dari elemen lainnya, descendand selector dapat digunakan untuk memilih semua
elemen yang menjadi turunan elemen lainnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung (tidak memperhitungkan seberapa dalam level hirarkinya). Untuk
melihat perbedaan antara child selector dan descendent selector, perhatikan
dokumen HTML berikut ini:
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
div > em {color: red;}
div em {text-decoration: underline;}
</style>
</head>
<body>
<div>
<em>Minuman Segar</em>
<p>Di kala cuaca panas, saya sangat suka minum
<em>Beras Kencur Dingin</em>.</p>
</div>
</body>
</html>
Workshop Desain web
Pada dokumen HTML diatas terdapat dua rule. Rule yang pertama
menggunakan child selector (“div > em {color: red;}”) sedangkan yang kedua
menggunakan descendant selector (“div em {text-decoration: underline;}”). Rule
pertama berfungsi untuk merubah warna teks menjadi merah sedangkan rule
kedua berfungsi untuk merubah teks menjadi bergaris bawah.
Dokumen HTML tersebut akan ditampilkan dalam browser seperti berikut ini:
Penulisan rule dengan adjacent sibling selector adalah seperti berikut ini:
Rule
h2 + pdiatas akanred}
{color: diaplikasikan pada elemen p yang berada setelah
(bersebelahan dengan) elemen h2 pada level hirarki yang sama. Perhatikan contoh
dokumen HTML berikut ini:
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
h2 + p {color: red}
</style>
</head>
<body>
<h2>Wajan</h2>
<p>Merupakan alat untuk menggoreng.</p>
<p>Tapi kadangkala juga dibuat untuk antenna wireless</p>
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat yang berisi kacang ijo.</p>
<p>Rasanya enak sekali.</p>
</body>
</html>
Dokumen HTML diatas memiliki satu rule yang akan merubah warna teks
pada elemen p yang terletak tepat setelah elemen h2 menjadi merah. Dokumen ini
akan ditampilkan pada browser seperti gambar berikut ini:
Perhatikan gambar diatas, hanya elemen p yang berada tepat setelah elemen h2
saja yang dikenakan aturan dari rule (teks berwarna merah).
Workshop Desain web
3.7.6 Pseudo-class
- :link – normal, status awal dari sebuah link ketika pertama kali tampil.
- :visited – link yang sudah pernah anda kunjungi (sudah pernah di-klik).
- :focus – link (atau kotak isian/form, atau yang lain) dimana kursor keyboard
sedang berada didalamnya.
- :hover – link (atau elemen lainnya) dimana pointer mouse sedang berada
diatasnya.
</div>
<div>
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat berisi kacang ijo.</p>
</div>
</body>
</html>
Dokumen HTML diatas memiliki sebuah rule yang akan membuat elemen
div memiliki garis tepi (border)berwarna merah ketika pointer mouse diletakkan
diatas elemen tersebut. Perhatikan keluaran dari dokumen HTML pada browser
berikut ini:
Selain yang telah disebutkan diatas, berikut ini adalah daftar beberapa
pseudo- class yang dapat digunakan pada CSS3:
- :checked
- :disabled
- :empty
- :first-child
- :invalid
- dan lain-lain
3.7.7 Pseudo-element
Pseudo-element dapat digunakan dalam dua hal. Yang pertama, anda dapat
menggunakan pseudo-element untuk memilih huruf pertama atau baris pertama
dari teks yang berada dalam sebuah elemen HTML. Perhatikan contoh dokumen
HTML berikut ini:
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
p::first-letter {
font-size:
300%;
background-color: lightgrey;
}
p::first-line {font-weight: bold;}
</style>
</head>
<body>
<p>Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
2015, kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
mengadakan seminar nasional bertajuk “Melt In ASEAN.” </p>
<p>Sajian musik vokal yang padu dari tim Paduan Suara
Mahasiswa PENS serta tarian tradisional bernuansa modern
menjadi pembuka dalam seminar ini. </p>
<p>Bertempat di Hall Gedung D4 PENS, acara dimulai
pukul 08:00-12:30 WIB.</p>
</body>
Dokumen HTML diatas akan tampil di browser seperti gambar berikut ini:
Workshop Desain web
Perhatikan gambar diatas, untuk setiap huruf pertama dari elemen p akan
ditulis dengan ukuran 300% dan memiliki warna latar abu-abu. Dan setiap baris
pertama dari elemen p ditulis dengan huruf tebal.
Dapat anda lihat pada keluaran dari dokumen HTML diatas, rule CSS pada
dokumen tersebut akan menambahkan gambar ‘[Link]’ sebelum (before)
elemen h2 dan menambahkan gambar ‘[Link]’ sesudahnya (after).
Salah satu hal yang akan sering anda temui dalam penggunaan CSS adalah
Shorthand. Shorthand dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa properti
kedalam satu properti untuk mengurangi tempat penyimpanan dan waktu
penulisan.
Properti
div { border pada rule diatas sebenarnya adalah penggabungan dari
properti border-width,
border: border-style,
1px solid blue; dan border-color. Sehingga rule diatas akan
memiliki
} efek yang sama dengan rule berikut ini:
div {
border-width: 1px;
Workshop Desain web
border-style:
solid; border-
color: blue;
Rule{diatas
div dapat juga anda tuliskan menjadi seperti berikut ini:
margin-top: 1px;
div {
margin-right:
margin: 1px 2px 3px 4px;
2px; margin-
Beberapa shorthand property (seperti margin, border-width, atau padding)
}
bottom: 3px;
memerlukan 4 nilai. Namun anda mempunyai pilihan untuk memasukkan 1 nilai,
margin-left: 4px;
2 nilai, 3 nilai, ataupun 4 nilai sekaligus. Perhatikan penggunaan property border-
width (lebar garis tepi) pada dokumen HTML berikut ini:
<!DOCTYPE html>
<html>
<head>
<style>
.satu {border-width: 2px; border-color: red;}
.dua {border-width: 2px 6px; border-color: green;}
.tiga {border-width: 2px 6px 10px; border-color:
blue;} div {border-style: solid;}
</style>
</head>
<body>
<div class="satu">
<h2>Wajan Kuat</h2>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
</div>
<br>
<div class="dua">
<h2>Minuman Segar</h2>
</div>
<br>
<div class="tiga">
<h2>Onde-onde</h2>
</div>
</body>
</html>
Pada dokumen HTML tersebut terdapat 4 rule CSS: 3 rule masing-masing
untuk class ‘satu’, ‘dua’, dan ‘tiga’; serta 1 rule yang berlaku untuk elemen div.
Pada dokumen tersebut terdapat 3 elemen div dengan atribut ‘class’ yang bernilai
‘satu’, ‘dua’, dan ‘tiga’. Pada browser, dokumen tersebut akan ditampilkan seperti
berikut ini:
Perhatikan gambar diatas, elemen div pertama dikenakan aturan dari rule
pertama yang hanya memiliki 1 nilai untuk border-width (“border-width: 2px”).
Jika sebuah shorthand property border-width berisi satu nilai, maka nilai
ketebalan
Workshop Desain web
garis tepi tersebut akan diterapkan pada semua sisi atas/top, kanan/right,
bawah/bottom, dan kiri/left.
Elemen div kedua dikenakan aturan dari rule kedua yang memiliki 2 nilai
untuk border-width (“border-width: 2px 6px”). Jika sebuah shorthand property
border-width berisi dua nilai, maka nilai pertama akan diterapkan pada sisi
atas/top dan bawah/bottom, sedangkan nilai kedua akan diterapkan pada sisi
kanan/right dan kiri/left.
Elemen div ketiga dikenakan aturan dari rule ketiga yang memiliki 3 nilai
untuk border-width (“border-width: 2px 6px 10px”). Jika sebuah shorthand
property border-width berisi tiga nilai, maka nilai pertama akan diterapkan pada
sisi atas/top, nilai kedua akan diterapkan pada sisi kanan/right dan kiri/left,
sedangkan nilai ketiga akan diterapkan pada sisi bawah/bottom.
Anda dapat mengaplikasikan CSS style pada elemen dalam dokumen HTML
menggunakan atribut ‘style’, seperti pada contoh berikut ini:
Didalam
<p atribut ‘style’, anda dapat
style=”background:blue; menuliskan semua
color:yellow; properti CSS
padding:5px;”> beserta
nilainyaLorem
(property/value pair). Antara
Ipsum is simply pasangan
dummy text properti/nilai
of the printing andsatu dengan
typesetting industry.
pasangan lainnya dipisahkan dengan menggunakan tanda titik koma ‘;’.
</p>
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
Dengan embedded style, rule CSS ditempatkan pada bagian <head> dari
dokumen HTML didalam elemen style, seperti pada contoh berikut ini:
Hampir semua
<!DOCTYPE contoh
html> penggunaan CSS pada bab ini menggunakan embedded
style. Dengan cara ini anda tidak perlu menuliskan atribut style untuk setiap
<html>
elemen dalam dokumen HTML anda.
<head>
<style>
p (color: blue;)
3.9.3 External Style
h1 (font-weight: bold
) divstyle
External > h2merupakan
{color: cara penggunaan CSS yang direkomendasikan.
red;}
Dengan cara ini, rule CSS ditulis didalam sebuah file terpisah yang berekstensi
</style>
‘.css’. Kemudian, file CSS tersebut diaplikasikan ke dalam dokumen HTML
</head>
dengan menggunakan elemen link, seperti contoh berikut ini:
<body>
. . cara
Dengan . . ini
. memungkinkan anda untuk membuat aturan-aturan terkait
<link rel=”stylesheet” href=”[Link]” />
. . . . .
visualisasi dalam sebuah file CSS, kemudian menggunakan file tersebut untuk
. . . . .
semua dokumen HTML dalam sebuah website. Anda dapat merubah tampilan dari
</body>
keseluruhan dokumen hanya dengan merubah satu file saja. Cara ini juga akan
Workshop Desain web
mempercepat waktu akses, karena browser hanya perlu mengunduh satu file CSS
saja untuk dapat digunakan oleh keseluruhan dokumen.
Contoh berikut ini adalah isi dari sebuah file CSS dengan nama [Link]:
Dan berikut
.satu ini adalah contoh
{border-width: 2px; dokumen HTML yang
border-color: red;}menggunakan file CSS
.dua {border-width: 2px 6px; border-color: green;}
[Link]:
.tiga {border-width: 2px 6px 10px; border-color:
<!DOCTYPE
blue;} html>
div {border-style: solid;}
<html>
<head>
<link rel="stylesheet" href="[Link]" />
</head>
<body>
<div class="satu">
<h2>Wajan Kuat</h2>
</div>
<br>
<div class="dua">
<h2>Minuman Segar</h2>
</div>
<br>
<div class="tiga">
<h2>Onde-onde</h2>
</div>
</body>
</html>
Contoh ini akan menghasilkan keluaran yang sama persis seperti contoh
dokumen HTML pada sub bab CSS Shorthand.
Workshop Desain web
(Syauqi@PENS)
3.10 Inheritance
Terdapat satu
<!DOCTYPE rule
html> pada dokumen HTML diatas yang mengatur warna teks
untuk elemen div dengan atribut class yang bernilai ‘satu’. Berikut ini visualisasi
<html>
dari<head>
dokumen diatas pada browser:
<style>
.satu {color: red;}
</style>
</head>
<body>
<div class="satu">
<h2>Wajan</h2>
<div>
<p>Merupakan alat untuk menggoreng.</p>
<p>Tapi kadangkala juga dibuat untuk antenna
wireless</p>
</div>
</div>
<div class="dua">
<h2>Onde-onde</h2>
<p>Makanan berbentuk bulat yang berisi kacang
ijo.</p>
<p>Rasanya enak sekali.</p>
</div>
</body>
</html>
Workshop Desain web
Perhatikan gambar diatas, rule yang mengatur warna teks menjadi merah
tidak diterapkan pada elemen div dengan atribut class bernilai ‘satu’ saja,
melainkan juga diterapkan pada semua elemen yang berada didalam elemen div
dengan atribut class bernilai ‘satu’ tersebut.
Tidak semua properti di CSS dapat diwariskan, karena ada beberapa properti
yang memang tidak perlu untuk diwariskan. Sebagai contoh, properti margin tidak
diwariskan, karena jarang sekali elemen anak menggunakan margin yang sama
dengan induknya. Anda dapat mencari daftar lengkap properti apa saja yang dapat
diwariskan maupun tidak dari website World Wide Web Consortium (W3C) di
alamat [Link].
3.11 Cascade
CSS merupakan singkatan dari Cascading Style Sheet, sehingga sudah lumrah
jika cascade ini menjadi hal yang penting disini. Konsep cascade pada CSS
adalah mekanisme yang mengatur hasil akhir dari visualisasi jika terdapat
beberapa deklarasi CSS yang mengatur elemen yang sama. Terdapat tiga konsep
utama yang akan mengatur urutan dari beberapa deklarasi CSS yang akan
diaplikasikan:
Jika sebuah elemen pada dokumen HTML dikenakan dua rule, maka rule
dengan importance paling tinggi yang akan diterapkan. Jika nilai importance
sama, maka akan dilihat level specificity-nya, dan jika level specificity-nya sama
akan dilihat urutan kemunculannya.