0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Media Kulit Pisang untuk Jamur Aspergillus

Dokumen ini membahas potensi kulit pisang kepok sebagai media alternatif untuk pertumbuhan jamur Aspergillus flavus, dibandingkan dengan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan jamur pada kedua media tersebut dan diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan serta biaya pengadaan media. Selain itu, penelitian ini juga memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat bagi tenaga medis dan peneliti.

Diunggah oleh

nikol127vb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Media Kulit Pisang untuk Jamur Aspergillus

Dokumen ini membahas potensi kulit pisang kepok sebagai media alternatif untuk pertumbuhan jamur Aspergillus flavus, dibandingkan dengan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan jamur pada kedua media tersebut dan diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan serta biaya pengadaan media. Selain itu, penelitian ini juga memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat bagi tenaga medis dan peneliti.

Diunggah oleh

nikol127vb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamur berperan banyak dalam kehidupan, baik yang menguntungkan

maupun merugikan. Beberapa jamur jenis tertentu mampu menghasilkan

suatu senyawa organik beracun yang disebut mikotoksin (Miskiyah, 2010).

Menurut Octavia dan Wantini (2017), salah satu jamur penghasil mikotoksin

adalah jamur Aspergillus flavus dengan menghasilkan aflatoksin. Aspergillus

flavus merupakan jamur yang sering mengkontaminasi makanan, baik

sayuran maupun buah-buahan. Spesies jamur ini dapat menyebabkan infeksi

pada manusia yang disebut aspergilosis (Lusianti, 2016).

Sifat-sifat mikroorganisme seperti jamur patogen dapat diidentifikasi

dengan pembiakan melalui media pertumbuhan. Menurut Putri (2017), media

pertumbuhan merupakan suatu bahan yang terdiri dari campuran zat makanan

(nutrient) yang berfungsi sebagai tempat tumbuhnya suatu mikroorganisme.

Pertumbuhan pada jamur merupkan proses fermentasi dimana jamur

mengubah nutrisi kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana yang

mudah diserap oleh jamur untuk kelangsungan hidupnya. Pertumbuhan ini

ditandai dengan penambahan volume sel sehingga morfologi jamur terlihat

memanjang (Gandjar dkk., 2018). Suatu jamur dapat tumbuh baik dalam

media pertumbuhan apabila medium tersebut memenuhi beberapa persyaratan

seperti mempunyai pH yang sesuai, tidak mengandung zat penghambat, steril,

dan media harus mengandung semua nutrisi yang mudah diserap

1
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
2

mikroorgnisme (Gandjar dkk., 2018). Kultivasi jamur membutuhkan

penggunaan media selektif seperti Sabouraud Dextrose Agar (SDA) atau

Potato Dextrose Agar (PDA) (Cappucino, 2014).

Sabouraud Dextrose Agar (SDA) adalah media selektif yang seringkali

digunakan untuk menumbuhkan jamur di laboratorium. Media SDA

mengandung 40% glukosa, 10% pepton dan 15% agar. Kandungan pepton

dan glukosa dalam media SDA berperan dalam menyediakan asam amino

dan senyawa nitrogen untuk pertumbuhan jamur dan ragi (Rijal, 2021).

Menurut Octavia dan Wantini (2017) media SDA yang dibuat oleh pabrik

sudah dalam bentuk kemasan siap pakai, namun harganya relatif mahal,

hanya dapat dibeli dalam jumlah banyak, pengadaan membutuhkan waktu

yang lama, serta hanya dapat ditemukan di toko bahan kimia tertentu. Maka

dari itu beberapa peneliti terdahulu seperti Mulyawati dkk. (2019) dan Nail

dkk. (2020) berhasil membuat media alternatif pertumbuhan jamur seperti

Rhizopus sp. dan Aspergillus niger menggunakan beberapa bahan alami salah

satunya berasal dari kulit pisang.

Pisang merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak ditemukan

dan dimanfaatkan di Indonesia (Mulyawati dkk., 2019). Salah satu jenis

pisang yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah pisang kepok. Menurut

Kasrina dan Anis (2013) pisang kepok memiliki cita rasa yang lezat, murah,

mudah didapat dan diolah menjadi berbagai macam jenis makanan yang

memiliki daya jual tinggi. Banyaknya permintaan buah pisang kepok untuk

konsumsi menjadikan banyaknya limbah kulit pisang kepok yang dibuang

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


3

begitu saja yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan juga dapat

menimbulkan pertumbuhan bakteri maupun jamur yang merugikan manusia

(Ali dkk., 2014).

Menurut Mulyawati dkk. (2019), kulit pisang kepok mengandung gula

sederhana dan gula kompleks yang dapat dimanfaatkan dalam metabolisme

jamur. Kulit pisang kepok mengandung zat gizi yang cukup tinggi yaitu

40,74% karbohidrat, 5,99% protein, 20,96% serat, 11,09% kadar air, 16,47%

kadar lemak, serta terdapat vitamin dan mineral (Hernawati dan Aryani,

2007).

Media alternatif tepung kulit pisang kepok diharapkan dapat mengganti

media SDA di laboratorium apabila media SDA habis atau masih dalam masa

pemesanan. Media alternatif ini juga dapat menghemat biaya agar menjadi

lebih rendah. Selain itu pemanfaatan kulit pisang sebagai media alternatif

pertumbuhan jamur dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah

kulit pisang yang kurang diolah dengan baik.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti bermaksud

melakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan pertumbuhan jamur

Aspergillus flavus pada media alternatif kulit pisang kepok konsentrasi 8%

dengan Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) sebagai media pembanding.

B. Rumusan Masalah

Apakah ada perbedaan pertumbuhan jamur Aspergillus flavus pada media

alternatif kulit pisang kepok (Musa paradisiaca Linn.) dengan media

Sabouraud Dextrose Agar (SDA)?

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


4

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan pertumbuhan jamur Aspergillus flavus pada media

alternatif kulit pisang kepok (Musa paradisiaca Linn.) dan media

Sabouraud Dextrose Agar (SDA)

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui rerata hasil pengukuran diameter jamur Aspergillus flavus

yang tumbuh pada media alternatif kulit pisang kepok (Musa

paradisiaca Linn.) dan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)

b. Mengetahui selisih rerata dan persentase selisih rerata diameter

pertumbuhan jamur Aspergillus flavus pada media alternatif kulit

pisang kepok (Musa paradisiaca Linn.) dan media Sabouraud Dextrose

Agar (SDA)

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang ilmu Teknologi Laboratorium

Medis yang mencakup pada bidang yang berfokus tentang media alternatif

tepung kulit pisang kepok (Musa paradisiaca Linn.) untuk pertumbuhan

jamur Aspergillus flavus

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Ilmu Pengetahuan

a. Mengetahui salah satu manfaat kulit pisang kepok (Musa paradisiaca

Linn.) sebagai media alternatif pertumbuhan jamur Aspergillus flavus

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


5

b. Memberikan informasi ilmiah mengenai teknologi media alternatif

untuk pertumbuhan Aspergillus flavus dengan biaya yang lebih

terjangkau

2. Tenaga Medis

Membantu tenaga laboratorium medis terutama yang berada di daerah

pedalaman dalam pembuatan media alternatif menggunakan bahan baku

kulit pisang untuk menumbuhkan jamur Aspergillus flavus.

3. Peneliti

a. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam melakukan suatu

penelitian tentang manfaat kulit pisang kepok sebagai media alternatif

untuk menumbuhkan jamur Aspergillus flavus.

b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk peneliti

selanjutnya.

F. Keaslian Penelitian

Penelitian sejenis yang sudah pernah dilakukan sebelumnya antara lain :

1. Mulyawati dkk. (2019) melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Varietas

dan Konsentrasi Broth Kulit Pisang sebagai Media Alternatif Pertumbuhan

Aspergillus niger”.

Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama membuat media

alternatif dengan salah satu jenis kulit pisang yang sama. Perbedaan pada

penelitian ini adalah obyek penelitian terdahulu menggunakan banyak

jenis kulit pisang, sedangkan pada penelitian ini hanya menggunakan satu

jenis kulit pisang yaitu kulit pisang kepok, serta subyek penelitian

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


6

terdahulu yang menggunakan jamur Aspergillus niger, sedangkan pada

penelitian ini menggunakan Aspergillus flavus. Media pembanding yang

digunakan pada penelitian terdahlu adalah Potato Dextrose Agar (PDA),

sedangkan pada penelitian ini digunakan media pembanding Sabouraud

Dextrose Agar (SDA).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya perlakuan terbaik

ditemukan pada V2K3 (Kulit Pisang Kepok konsentrasi 6%) dengan

diameter rata-rata 55 mm, hasil hitung diameter bisa dibandingkan dengan

diameter PDA yang mencapai 55,5 mm. Menunjukkan bahwa media

dengan kulit pisang memiliki nutrisi yang setara dengan PDA, dan bisa

digunakan sebagai media alternatif pengganti PDA.

2. Nail dkk. (2020) melakukan penelitian berjudul “Pemanfaatan Kulit

Pisang Kepok (Musa paradisiaca Linn.) dan Kulit Ubi Kayu (Manihot

utilisma Pohl.) sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Jamur Rhizopus sp”.

Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama membuat media

alternatif dan menggunakan obyek yang sama yaitu pengganti karbohidrat.

Perbedaan pada penelitian ini adalah obyek penelitian terdahulu

menggunakan sumber karbohidrat dari kulit pisang kepok dan kulit ubi

kayu dalam pembuatan media alternatif sedangkan pada penelitian ini

hanya dilakukan dengan bahan alami sumber karbohirat dari kulit pisang

kepok dalam pembuatan media alternatif, serta subyek penelitian terdahulu

yang menggunakan jamur Rhizopus sp. sedangkan pada penelitian ini

menggunakan jamur Aspergullus flavus. Perbedaan lainnya yaitu pada

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


7

penelitian terdahulu menggunakan kontrol pembanding media PDA

sedangkan pada penelitian ini menggunakan kontrol pembanding media

SDA.

Hasil pada penelitian tersebut menunjukan rata-rata diameter koloni

jamur Rhizopus sp. tertingi pada media kulit pisang kepok sebesar 8,8 cm,

diikuti oleh media PDA sebesar 8,53 cm dan koloni jamur yang terendah

pada media kulit ubi kayu sebesar 5,23 cm. Adanya pertumbuhan koloni

jamur Rhizopus sp. menunjukan bahwa kulit pisang kepok dan kulit ubi

kayu dapat digunakan sebagai media alternatif pertumbuhan jamur, media

alternatif terbaik yaitu media kulit pisang kepok.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai