0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan4 halaman

Simulasi Deteksi Gas SO2 dengan ZnO

Dokumen ini membahas tentang sulfur dioksida (SO2) sebagai polutan berbahaya yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan alam, serta dampaknya terhadap kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk membuat simulasi pendeteksian gas SO2 menggunakan material ZnO yang berbasiskan perubahan fungsi kerja. Selain itu, penelitian ini juga akan membandingkan hasil simulasi dengan eksperimen sebelumnya untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan sensor gas SO2.

Diunggah oleh

Ahmad Risu Z
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan4 halaman

Simulasi Deteksi Gas SO2 dengan ZnO

Dokumen ini membahas tentang sulfur dioksida (SO2) sebagai polutan berbahaya yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan alam, serta dampaknya terhadap kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk membuat simulasi pendeteksian gas SO2 menggunakan material ZnO yang berbasiskan perubahan fungsi kerja. Selain itu, penelitian ini juga akan membandingkan hasil simulasi dengan eksperimen sebelumnya untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan sensor gas SO2.

Diunggah oleh

Ahmad Risu Z
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu polutan utama di atmosfer (Syty,

1973).

Polutan SO2 di atmosfer terjadi akibat pencemaraan secara alami, seperti letusan

gunung berapi (Kawamoto dkk., 2004). Namun, kebanyakan SO2 terjadi akibat

aktivitas manusia (antropogenik) seperti pembakaran bahan bakar fosil, batubara,

dan simpanan minyak mentah yang umumnya mengandung 1–2% sulfur (Smith

dkk., 2001).

Gas SO2 sangat berbahaya bagi manusia. Pada konsentrasi 5 ppm, gas SO 2

menyebabkan kekeringan pada hidung, tenggorokan dan peningkatan resistensi

terhadap aliran udara bronkus yang terukur, 6-8 ppm menyebabkan penurunan

volume pernapasan yang tidak stabil. Pada 10 ppm terjadinya bersin, batuk,

tersedak, iritasi mata, hidung, dan tenggorokan bahkan jika seseorang yang rentan

terhadap serangan asma mungkin mengalami serangan asma, yang dapat bertahan

selama beberapa hari. Pada 20 ppm ada iritasi mata yang pasti dan mungkin juga

ada bronkospasme, 50 ppm menyebabkan ketidaknyamanan yang ekstrem tetapi

tidak ada cedera dalam paparan kurang dari 30 menit. Paparan dengan konsentrasi

yang lebih tinggi (diperkirakan 50-l00 ppm) dapat menyebabkan penutupan

refleks glotis selama beberapa menit. Tingkat paparan dalam kisaran 400-500 ppm
2

dianggap sebagai bahaya langsung bagi kehidupan. Kadar lebih besar dari 1000

ppm dapat menyebabkan kematian dalam waktu 10 menit, mungkin karena

depresi pernafasan (Burg, 1995). Selain itu, gas SO 2 mempunyai karakteristik bau

yang tajam dan tidak terbakar di udara (Lide, 2003). Oleh karena itu, diperlukan

sebuah sensor untuk mendeteksi keberadaan gas SO 2 untuk memberikan

peringatan tentang tingkat SO2 yang berbahaya bagi manusia.

Jenis sensor yang sering digunakan untuk mendeteksi keberadaan gas adalah

sensor kimia (Korotcenkov, 2011). Sensor kimia merupakan suatu perangkat yang

dapat mengubah interaksi kimia menjadi sinyal listrik (Göpel, 1991). Sensor

kimia dapat diklasifikasikan sesuai dengan prinsip operasi transduser, yaitu

perangkat yang mampu mengubah energi dengan membawa informasi kimia

tentang sampel menjadi sinyal yang bermanfaat secara analitis (Hulanicki dkk.,

1991). Korotcenkov (2011) mengklasifikasikan jenis sensor kimia yang dapat

diterapkan berdasarkan prinsip operasinya, di antaranya adalah sensor padatan.

Pendeteksian gas dengan sensor padatan telah banyak digunakan (Moseley, 1997).

Keunggulan dari sensor gas padatan yaitu mempunyai ukuran kecil, sensitivitas

tinggi dalam mendeteksi konsentrasi yang sangat rendah (pada tingkat ppm atau

bahkan ppb) dari berbagai senyawa kimia gas dan memungkinan operasi online

dan biaya rendah. Karakteristik sensor gas padatan adalah interaksi gas yang

bersifat dapat balik (reversible) dengan permukaan materialnya. Selain perubahan

konduktivitas bahan sensor gas, deteksi reaksi ini dapat dilakukan dengan

mengukur perubahan fungsi kerja, kapasitansi, massa, dan karakteristik optik atau

energi reaksi yang dilepaskan oleh gas atau interaksi padatan (Capone dkk.,
3

2003). Pada pengukuran sensor padatan berbasiskan perubahan fungsi kerja, dapat

menggunakan material Zinc oxide (ZnO) sebagai lapisan sensitif (Lange dkk.,

2014).

Material ZnO dapat menyerap molekul oksigen dan menghasilkan perubahan

konduktivitas pada permukaannya, fenomena ini dimanfaatkan oleh para peneliti

dalam pengembangan sensor gas (Korotcenkov, 2007). Hong dkk (2016)

melaporkan bahwa material ZnO dapat mendeteksi keberadaan gas SO 2 di udara

pada suhu 180℃ pada konsentrasi target gas 20 ppm. Widanarto (2011) berhasil

melakukan penelitian bahwa ZnO dapat digunakan sebagai material untuk

mendeteksi keberadaan gas di udara. Material ZnO di uji pada gas H 2, CO2, O2,

H2S, NH3, H2O, dan SO2 pada suhu 165℃ . Pada gas SO2 dapat terdeteksi oleh

material ZnO, walaupun sinyal yang ditampilkan lemah dan perubahan fungsi

kerja ( ) yang dihasilkan sebesar -36,67 mV.

Berdasarkan laporan Widanarto (2011), salah satu cara untuk memahami

mekanisme perubahan fungsi kerja ( ) yang terjadi antara ZnO dan gas SO 2

adalah dengan melakukan simulasi. Berdasarkan studi literatur yang telah

dilakukan, belum ada simulasi terkait hal tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini

bertujuan untuk membuat simulasi atau pemodelan dalam hal pendeteksian gas

SO2 menggunakan bahan ZnO berbasiskan perubahan fungsi kerja ( ).

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana simulasi atau pemodelan untuk deteksi gas SO 2 pada permukaan

ZnO berbasiskan perubahan fungsi kerja ( ).


4

b. Bagaimana perbandingan hasil simulasi dengan hasil eksperimen.

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Hasil simulasi akan dibandingkan dengan hasil eksperimen yang telah

dilakukan oleh Widanarto (2011).

b. Simulasi dalam penelitian ini menggunakan software MATLAB dengan

memanfaatkan fungsi ode23tb.

c.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:

a. Membuat simulasi atau pemodelan untuk mendeteksi gas SO 2 pada permukaan

ZnO berbasiskan perubahan fungsi kerja ( ).

b. Membandingkan hasil simulasi dengan hasil eksperimen.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah berkontribusi dalam ilmu pengetahuan terkait teori

sensor gas SO2 pada permukaan ZnO berbasiskan perubahan fungsi kerja ( ).

Anda mungkin juga menyukai