0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan14 halaman

Manajemen Risiko Radiologi di Rumah Sakit

Dokumen ini membahas program manajemen risiko dalam radiologi imejing dan intervensional di rumah sakit, dengan tujuan utama meningkatkan keselamatan pasien melalui pengendalian risiko. Manajemen risiko mencakup identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang dapat mengancam keselamatan pasien dan staf, serta melibatkan berbagai tanggung jawab di tingkat manajemen rumah sakit. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan langkah-langkah dalam menyusun asesmen risiko dan daftar risiko yang sering terjadi dalam layanan radiologi.

Diunggah oleh

bruriananto1278
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan14 halaman

Manajemen Risiko Radiologi di Rumah Sakit

Dokumen ini membahas program manajemen risiko dalam radiologi imejing dan intervensional di rumah sakit, dengan tujuan utama meningkatkan keselamatan pasien melalui pengendalian risiko. Manajemen risiko mencakup identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang dapat mengancam keselamatan pasien dan staf, serta melibatkan berbagai tanggung jawab di tingkat manajemen rumah sakit. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan langkah-langkah dalam menyusun asesmen risiko dan daftar risiko yang sering terjadi dalam layanan radiologi.

Diunggah oleh

bruriananto1278
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM MANAJEMEN RISIKO RADIOLOGI IMEJING

DAN RADIOLOGI INTERVENSIONAL

A. PENDAHULUAN
Pengertian dari risiko adalah peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai
dampak pada pencapaian tujuan (AS/NZS 4360:2004). Sedangkan manajemen risiko
adalah budaya, proses dan struktur yang diarahkan untuk mewujudkan peluang
peluang sambi mengelola efek yang tidak diharapkan (AS/NZS 4360:2004) atau
kegiatan terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi berkaitan
dengan risiko berdasarkan ISO 31000:2009.
Referensi utama manajemen risiko adalah standar Australia dan New Zealand
AS/NZS 4360:2004 yang kemudian diadopsi oleh lembaga ISO dengan standar ISO
321000:2009. ISO pun menerbitkan standar pendukungnya, yaitu ISO Guide 73:2009
dan ISO/IEC 31010:2009.
Manajemen risiko bertujuan untuk minimisasi kerugian dan meningkatkan
kesempatan ataupun peluang. Bila dilihat terjadinya kerugian degan teori accident
model dari ILICI, maka manajemen risiko dapat memotong mata rantai kejadian
kerugian tersebut, sehingga efek dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya
manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun
’acident’.
B. LATAR BELAKANG
Sarana pelayanan Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja
dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan,
tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap
pasien maupun penunjang RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola
menerapkan upaya-upaya Manajemen Resiko.
Sistem manajemen resiko dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja dapat
diberikan batasan sebagai berikut : manajemen resiko merupakan bagian dari sistem
manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung
jawab pelaksanaan prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi
pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan

1
keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan
dengan kegiatan kerja guna tercapainya kerja yang aman, efisien dan produktif.
Potensi bahaya rumah sakit, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi
bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di tempat pelayanan
tersebut, yaitu kecelakaan (peledekan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan
dengan fasilitas, dan sumber-sumber cedera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia
yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial, dan ergonomi. Semua
potensi-potensi bahaya tersebut jelas mengancam jiwa bagi kehidupan bagi para
karyawan di rumah sakit, para pasien maupun para pengunjung yang ada di
lingkungan puskesmas dan rumah sakit.
Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk mengendalikan,
meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya, oleh karena itu manajemen resiko
di tempat pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik. Agar penyelenggaraan
K3 rumah sakit lebh efektif, efisien dan terpadu dierlukan sebuah manajemen resiko
di rumah sakit baik bagi pengelola maupun karyawan rumah sakit.
C. TUJUAN UMUM & TUJUAN KHUSUS
1. Tujuan Umum,
Meningkatkan keselamatan pasien Rumah Sakit melalui pendekatan proaktif dan
pengendalian risiko yang ada di lingkungan kerja pelayanan RIR RS.
2. Tujuan khusus,
a. Pelayanan RIR RS mampu melakukan identifikasi risiko unit.
b. Pelayanan RIR RS mampu melakukan analisis risiko unit.
c. Pelayanan RIR RS mampu melakukan evaluasi risiko unit.
d. Pelayanan RIR RS mampu melakukan kelola risiko unit.
e. Pelayanan RIR RS mampu melakukan pelaporan pelaksanaan program
manajemen risiko unit ke komite PMKP RS.
D. KEGIATAN POKOK & RINCIAN KEGIATAN
Berdasarkan PMK 1691 tahun 2011 tentang keselamatan pasien, insiden
keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden adalah setiap kejadian yang
tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan
cedera yang dapat dicegah pada pasien , terdiri dari :

2
1. Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah insiden yang
mengakibatkan cedera pada pasien.
2. Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah terjadinya insiden
yang belum sampai terpapar ke pasien.
3. Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang sudah
terpapar ke pasien,tetapi tidak timbul cedera.
4. Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi yang
sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi .
5. Kejadian katastropik/ Sentinel adalah suatu KTD yang mengakibatkan
kematian atau cedera yang serius

Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah
proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang

Manajemen Risiko adalah proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi,


evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau
aktivitas perusahaan.

Manajemen Risiko

1. PROAKTIF : Risiko Berpotensi Terjadi


2. REAKTIF / RESPONSIVE : Insiden Yang Telah Terjadi

Hospital Risk Management adalah Kegiatan klinis dan administratif yang dilakukan
untuk mengidentifikasi, evaluasi, dan mengurangi risiko cedera pada pasien, staf,
pengunjung, dan risiko kerugian untuk organisasi itu sendiri.

Tanggung jawab manajemen risiko

Dalam rangka mencapai tujuan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko,


Rumah Sakit RSUD Bayu Asih mengatur kewenangan dan tanggung jawab
manajemen rumah sakit :

3
1. Level rumah sakit oleh Tim (Subkomite) mutu dan manajemen risiko dari komite
Mutu dan keselamatan Pasien rumah sakit.
2. Level unit kerja / bagian dalam rumah sakit oleh kepala instalasi atau kepala bagi
bagian dari masing-masing unit kerja.

Uraian tanggung jawab manajem risiko :

1. Tanggung Jawab Pimpinan Rumah Sakit.


a. Menetapkan kebijakan mengenai manajemen risiko rumah sakit.
b. Menetapkan dan membina tim manajemen risiko rumah sakit.
c. Mengawasi da memastikan sistem manajemen risiko berjalan dengan baik dan
berkesinambungan.
d. Menerima laporan dan rekomendasi pengelola / pengendalian risiko serta
menindaklanjuti sesuai arah kebijakan rumah sakit termasuk pendanaannya.
e. Mengambil alih tanggung jawab pengelolaan dan pengendalian insiden
keselamatan pasien sesuai grading risiko.
2. Tanggung Jawab Komite Mutu dan Keselamatan Pasien
a. Meninjau daftar risiko rumah sakit dan memberi rekomendasi untuk menurunkan
skor risiko.
b. Meninjau risiko-risiko ekstrim, tindakan, pengendalian, dan menyoroti area-area
utama kepada masing-masing kepada unit kerja terkait.
3. Tim Manajemen risiko
a. Membuat dan meninjau strategi dan kebijakan manajemen risiko.
b. Penyediaan pelatihan penilaian risiko.
c. Meantau daftar risiko per unit kerja untuk setiap perubahan, bagian yang tidak
lengkap, dengan perhatian pada tingkat risiko dan jadwal waktu.
d. Memberi saran kepada penilai risiko, kepala unit kerja dan pihak eksekutif perihal
manajemen risiko.
e. Memelihara dan membina daftar penilai risiko yang aktif.
f. Menanggapi permintaan audit internal dan eksternal berkaitan dengan manajemen
risiko.
g. Menanggapi permintaan pihak eksternal untuk informasi berkaitan proses risiko.

4
4. Tanggung Jawab Penilai Risiko
Penilaian risiko harus dipilih oleh Kepala Unit Kerja untuk memastikan bahwa penilai
risiko yang dipilih mempunyai keterampilan kerja, pengetahuan, dan pengalaman
yang memadai untuk memenuhi perannya. Staf yang berminat pada peran sebagai
penilai risiko harus mendiskusikan peran tersebut dan mendapat persetujuan dari
kepala unit kerja. Penilai risiko bertanggung jawab untuk :
a. Menghindari pelatihan penilai risiko dan pemutakhiran yang diselenggarakan oleh
Tim Manajemen Risiko.
b. Menilai risiko di area kerja mereka menggunakan form penilaian risiko,
mengidentifikasi seluruh risiko yang penting terlebih dahulu dan memastikan
bahwa kepala unit kerja mengambil perhatian terhadap risiko tersebut.
c. Memastikan bahwa mereka menyimpan dokumen penilaian risiko yang asli dan
memberikan satu salinan kepada kepala unit kerja untuk disimpan dalam arsip.
d. Menunjukan bukti penilaian dan rencana tindakan yang lengkap dengan jadwal
waktu penyelesaian.
e. Jika penilai risiko memandang bahwa penilaian risiko mereka tidak memperoleh
perhatian yang memadai, mereka harus menghubungi komite mutu dan
keselamatan pasien untuk meminta nasehat.
5. Tanggung Jawab Kepala Unit Kerja
a. Mengelola seluruh risiko di tempat kerja mereka. Kepala unit kerja boleh
mendelegasikan tugas melakukan penilaian risiko kepada anggota tim yang telah
menghadiri pelatihan penilaian risiko untuk penilai.
b. Kepala unit kerja bertanggung jawab untu :
1) Pelaksanaan strategi dan kebijakan manajemen risiko di area tanggung jawab
mereka.
2) Mengelola daftar risiko unit kerja masing-masing. Hal ini termasuk
mengumulkan, meninjau, da memutakhirkan data.
3) Menunjuk penilai risiko untuk area mereka, memastikan bahwa mereka
diijinkan untuk menghadiri pelathan penilai risiko dan sesi pemutakhiran.
4) Memastikan bahwa penilai risiko mempunyai alokasi waktu yang memadai
untuk melakukan penilaian risikov

5
5) Melakukan validasi seluruh penilaian risiko yang dilakukan; dan melakukan
tindakan untuk mengurangi risiko yang teridentifiksi sampai pada tingkat
terendah yang mungkin dicapai.
6) Melengkapi form penilaian risiko (meninjau/ menyetujui pemeringkatan
matriks: menyatakan tindakan apa yang diperlukan/ diambil untuk menurunkan
risiko sampai pada tingkat terendah yang mungkin dicapai).
7) Jadwal waktu untuk memulai/ meningkatkan langkah pengendalian. (pada
tingkat berapa risiko sisa tertinggal setelah pelaksanaan tindakan/peningkatan
langkah pengendalian: apakah risiko perlu dimasukan ke dalam daftar risiko
unit kerja / rumah sakit).
8) Penyediaan informasi yang sesuai dan memadai, pelatihan dan supervisi bagi
staf untuk mendukung penurunan risiko. (hal ini mencakup bahwa seluruh staf
menghadiri training wajib yang terkait).
9) Memelihara catatan penilaian risiko yang dilaksanakan dan untuk mencatat
perkembangan dan kinerja dibandingkan tindakan perbaikan yang
direncanakan.
10) Kepala unit kerja harus meningkatkan tim manajemen risiko jika penilai risiko
meninggalkan / tidak lagi memenuhi perannya, sehingga tim manajemen risiko
mempunyai tanggung jawab untuk memutakhiran data penilai risiko
organisasi.
11) Berkoordinasi dengan unit kerja lain di dalam rumah sakit.
12) Dalam keadaan dimana rencana untuk mengelola risiko berada di luar
kewenangan kepala Unit Kerja atau dimana ada implikasi sumber daya yang
besar, risiko akan diprioritaskan oleh Direktur Rumah Sakit.
13) Memastikan bahwa penilaian risiko divalidasi ulang pada jangka waktu yang
sesuai atau mengikuti perubahan keadaan. Frekuensi peninjauan akan
bervariasi mengikuti tingkat sisa risiko.
6. Tanggung Jawab Karyawan
a. Seluruh staf mempunyai tanggung jawab untuk memberi informasi kepada atasan
mereka setiap bahaya yang bermakna di tempat kerja. Merupakan suatu hal yang
mendasar bahwa jika seorang staf menganggap ada hal yang serius yang telah

6
mereka laporkan kepada atasan langsung mereka, tetapi belum ditindaklanjuti,
mereka harus melaporkan ini kepada tingkat yang lebih tinggi.
b. Dalam rangka untuk memastikan kebijakan ini dilaksanakan dengan efektif, setiap
karyawan harus :
1) Menghadiri pelatihan sebagaimana ditentukan oleh atasan mereka atau oleh
rumah sakit (misal induksi / orientasi dan prosedur baru, pelatihan wajib :
induksi keselamatan kebakaran, memindahkan dan mengangkat, keselamatan
personal, dan lain-lain).
2) Dapat bekerja sama secara penuh dalam menerapkan pedoman, protokol,
dan kebijakan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan, dan
manajemen risiko.
3) Melaporkan setiap insiden, kecelakaan, atau setiap perubahan yang dapat
mempengaruhi kondisi kerja langsung kepada atasan/ penilai risiko lokal dan
melengkapi form insiden report dengan tepat.
4) Mengikuti petunjuk kerja yang tertulis serta pelatihan yang disediakan.
5) Berpartisipasi aktif dalam proses penilaian risiko.
6) Memenuhi dan melaksanakan langkah pengendalian / tindakan setelah
penilaian dilakukan.
E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
Langkah- lagkah Menyusun Assesmen Risiko
1. Membuat daftar potensial risiko (masalah)
2. Menetapkan nilai untuk setiap risiko
3. Menilai/memberi skor setiap risiko (masalah) dengan mengalikan setiap risiko
4. Menyusun dan mengurutkan prioritas (risiko) masalah dari skor tinggi sampai
yang paling rendah.
5. Membuat dan menyusun tindak lanjut penyelesaian masalah –actionplan (tujuan,
strategi, evaluasi dan analisis dari masing-masing masalah)
6. Melaporkan hasil risk assesment dan tindak lanjut kepada direktur dan di
feedback kepada seluruh unit.

7
Tahap Manajemen Risiko :

Penetapan konteks
Komunikasi dan konsultasi

Monitoring dan review


Identifikasi risiko
Penilaian
risiko

Analisis risiko

Evaluasi risiko

Penanganan risiko

a. Membangun konteks :
1) Struktur organisasi manajemen risiko.
2) Tentukan tujuan dan sasaran.
3) Faktor yang mendukung dan yang menghambat.
b. Identifikasi Risiko (5 W 1 H)
1) What ! Apa yang terjadi.
2) How ! Bagaimana kejadiannya.
3) Why ! Mengapa bisa terjadi.
4) When ! Kapan terjadi.
5) Where ! Dimana terjadi.
6) Who ! Siapa yang bisa tertimpa kejadian tersebut.
c. Analisan risiko
1) Probabilitas (likelihood)
2) Dampak (consequences).
3) Tingkat Risiko.
d. Evaluasi Risiko

8
1) Risk rangking→ prioriti risk.
2) Bandingkan tingkat risiko dengan kriteria
3) Analisa untung rugi
4) Tetapkan risiko diterima atau tidak.
e. Pengelolaan Risiko
1) Tetapkan alternatif / pilihan
2) Analisa untung rugi.
3) Pilih tindakan yang paling sesuai.
4) Perencanaan tindakan & implementasi.

Daftar risiko di radiologi imejing dan diagnostik intervensional (RIR)


Berikut daftar risiko yang sering terjadi atau berpotensi terjadi di layanan RIR, antara
lain :
1) Kesalahan identifikasi pasien.
2) Kesalahan obyek yang di foto
3) Resiko jatuh
4) Reaksi obat kontras
5) Miskomunikasi persiapan pemeriksaan pasien USG
6) Kesalahan pada saat print hasil film rontgen
7) Waktu tunggu pasien untuk diperiksa lama
8) Ketidaksesuaian antara foto dengan hasil ekspertise.
9) Kesalahan memberikan hasil pemeriksaan
10)Kesalahan pemberian marker pada hasil foto rontgen.
11)Infeksi Nosokomial
12)Kehilangan foto rontgen
13)Kesalahan pembuangan limbah medis
14)Dan lain-lain.

F. SASARAN

Sasaran kegiatan program managemen risiko : seluruh staf unit pelayanan RIR
di RS.

9
G. SCHEDULE (JADWAL) PELAKSANAAN

Tahun PIC
No Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Membangun Konteks Ka. Unit
2 Identifikasi Risiko Ka. Unit
3 Analisis Risiko Ka. Unit
4 Evaluasi Risiko Ka. Unit
5 Pengelola Risiko [Link]

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


Evaluasi program dilaksanakan pada tiap akhir tahun dan rapat koordinasi tiap tri
bulan dengan komite PMKP rumah sakit.

I. PENCATATAN, PELAPORAN & EVALUASI KEGIATAN


Setiap Kegiatan yang dilakukan harus terdokumentasi dengan baik dan
tersimpan rapih, mudah dibuka kembali jika dibutuhkan dan dilaporkan rutin komite
PMKP setiap bulan.

J. PEMBIAYAAN / ANGGARAN
Pembiayaan kegiatan melalui RAB yang sudah ditetapkan.

Purwakarta, 25 Agustus 2018

RUMAH SAKIT BAYU ASIH


Kepala Instalasi Radiologi

dr. ASEP SUTIANA, [Link]


NIP. 19620717 1 199602 1 001

10
Contoh Manajemen Risiko RIR
Tahap 2. Indikasi Risiko

No Identification Classificatio Kronologi Penyebab Date Time Tempat Human


Risk n Risk Kejadian (caution) Accident Accident kejadian Accident
(chronolog (dd/mm/yyy) ([Link])
y)
What ? How ? Why ? When ? Where ? Who ?
1
Kesalahan Reaktif/ Pasien 16 Agustus 09.10.44 Pendaft Medical
Identifikasi Responsiv tidak sabar 2018 aran staff
pasien e untuk ingin
diperiksa
2
Pengantar Proaktif Perawat 20 Agustus 10.15.20 Pemerik Medical
pemeriksa ruangan 2018 saan staff
an rontgen kurang
tidak teliti
sesuai menulis
dengan form.
objek yang Pemeriksa
di foto an rontgen
3
Tersetrum Reaktif / Tidak ada 10 Maret 10.05.44 Pemerik Medical
Responsif grounding 2018 saan staff
4
Risiko Proaktif Pasien

11
jatuh jatuh - - Radiolo Medical
ketika gi staff
akan ke
toilet.
5
Waktu Adanya
tunggu Reaktif/ pemeriksa - - pemerik Kurangn
pemeriksa responsive an khusus saan ya
an lama kontras fasilitas

Tahap 3. Probability / likelihood

TINGKAT RISIKO (level ) DESKRIPSI


1 Very low 0-5%- extremely unlikely or virtually impossible [> 5 Thn/kali]
HAMPIR TIDAK MUNGKIN TERJADI [SANGAT JARANG]
2 Low 6-20% - low but not impossible [>2-5 Thn/kali]
3 medium 21-50% - fairly likely to occur [1-2 Thn / kali]
4 High 51-80% - more likely to occur than not [beberapa kali/Thn]
5 Very high 81-100% - almost certainly will occur [tiap minggu/bulan]
HAMPIR PASTI AKAN TERJADI [SANGAT SERING]

Tahap 4. Dampak
No kriteria Cedera Pelayanan/ Biaya / Publikasi Reputasi
operasional keuangan
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 INSIGNIFICA Tidak ada cedera Terhenti lebih Kerugian Rumor Rumor
NT dari 1 jam kecil
Dampak
kecil
Cedera ringan terhadap
misalkan Terhenti lebih Kerugian Media moril
2 MINOR lecet,dapat dari 8 jam lebih dari local karyawan
diatasi dengan 0,1% &waktu dan
pertolongan anggaran singkat kepercaya
pertama an
masyarak

12
at
Cedera sedang,
missal luka
robek,berkurangn Dampak
ya fungsi bermakna
motorik/sensorik/ terhadap
psikologis atau Terhenti lebih Kerugian Media moril
intelektual dari 1 hari lebih dari local & karyawan
3 MODERATE (reversible) tidak 0,25% waktu dan
berhubungan Anggaran lama kepercaya
dengan penyakit ; an
setiap kasus masyarak
yang at
memperpanjang
perawatan.
Cedera luas/berat
missal cacat, Dampak
lumpuh, fungsi serius
motoris/sensoris/ terhadap
psikologis Terhenti lebih Kerugian Media moril
4 MAJOR atauintelektual dari 1 minggu lebih dari Nasional karyawan
(revesible) tidak 0,5% kurang dan
berhubungan Anggaran dari 3 hari kepercaya
dengan penyakit an
(kehilangan masyarak
fungsi utama an
permanent)
5 CATASTROP Kematian Terhenti Kerugian Media Menjadi
HIC permanen lebih dari Nasional masalah
1% lebih dari berat bari
anggaran 3 hari PR

Tahap 4. Matrix Assesment

Likelihood / Potencial concequences / impact


probability Insignificant Minor Moderate Major Catastrophic
1 2 3 4 5
Almost Moderate Moderate High Extreme Extreme
certain (tiap
mgg/bln)
5
Likely Moderate Moderate High Extreme Extreme
(beberapa
x/thn)
4
Possible (1- Low Moderate High Extreme Extreme

13
2 thn/x)
3
Unlikely (1-2 Low Low Moderate High Extreme
thn/x)
2
Rare (>5 Low Low Moderate high Extreme
thn/x)
1

Can be manage by Clinical manager / Detailed review & Immediate review &
procedure lead clinician should urgent treatment action required at
assess the should be board level. Director
consequences undertaken by must be informed
against cost of senior management
treating the risk

Tahap 6. Penilaian tindakan dan kewenangan


LEVEL / TINDAKAN PENANGGUNG JAWAB EVALUASI
BANDS
Extreme RCA paling lama 45 hari Direktur Tiap bulan
(15-25) membutuhkan tindakan segera
High RCA paling lama 45 hari, lakukan Top manajemen 2 bulan
(8-12) pengkajian dan tindakan segera
Moderate Investigasi sederhana paling Manajer / kepala 3 bulan
(4-6) lama 2 minggu Bagian
Low Investigasi sederhana paling Kepala unit 6 bulan
(1-8) lama 1 minggu

14

Anda mungkin juga menyukai