0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan32 halaman

Fungsi dan Prinsip Drainase Perkotaan

Dokumen ini membahas tentang drainase perkotaan, termasuk definisi, fungsi, dan infrastruktur yang diperlukan untuk mengelola kelebihan air di wilayah kota. Selain itu, dijelaskan juga konsep drainase ramah lingkungan yang bertujuan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah dan mencegah banjir. Analisis hidrologi juga dibahas, mencakup pengukuran data hujan, estimasi data hujan yang hilang, dan uji homogenitas serta abnormalitas data.

Diunggah oleh

nafreza230
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan32 halaman

Fungsi dan Prinsip Drainase Perkotaan

Dokumen ini membahas tentang drainase perkotaan, termasuk definisi, fungsi, dan infrastruktur yang diperlukan untuk mengelola kelebihan air di wilayah kota. Selain itu, dijelaskan juga konsep drainase ramah lingkungan yang bertujuan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah dan mencegah banjir. Analisis hidrologi juga dibahas, mencakup pengukuran data hujan, estimasi data hujan yang hilang, dan uji homogenitas serta abnormalitas data.

Diunggah oleh

nafreza230
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Drainase Perkotaan


Drainase yang berasal dari kata bahasa inggris drainage mempunyai arti mengalirkan,
menguras, membuang, atau mengalihkan air. Drainase secara umum dapat didefinisikan
sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air
hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan/ lahan, sehingga fungsi
kawasan tidak terganggu (Suripin, 2004.p. 7). Drainase yaitu suatu cara pembuangan
kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan
akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut. Dari sudut pandang yang lain,
drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota
dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana
drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air
permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga
berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk
memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir. Kegunaan dengan adanya saluran
drainase ini antara lain :
1. Mengeringkan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah.
2. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
3. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
4. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir
Prinsip dasar drainase perkotaan yaitu air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu
ditampung, diresapkan dan dialirkan dengan cara pembuatan tampungan, fasilitas resapan
dan saluran drainase. Sistem saluran drainase di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang
lebih besar yaitu ke badan air penerima (Menteri Pekerjaan Umum, 2014).
Saat ini sistem drainase sudah menjadi salah satu infrastruktur perkotaan yang sangat
penting. Kualitas manaemen suatu kota dapat dilihat dari kualitas sistem drainase yang ada.
Suripin (2004. p. 8).

7
8

Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah
perkotaan yang meliputi :
1. Permukiman
2. Kawasan industri dan perdagangan
3. Kampus dan sekolah
4. Rumah sakit dan fasilitas umum
5. Lapangan olahraga
6. Lapangan parkir
7. Instalasi militer, listrik, telekomunikasi
8. Pelabuhan udara.
Prasarana dan sarana drainase perkotaan terdiri dari bangunan-bangunan seperti
berikut:
1. Saluran Terbuka
2. Saluran Tertutup
3. Gorong-gorong
4. Siphon Drainase
5. Bangunan Terjun
6. Tanggul
7. Bangunan Penangkap Air
8. Pintu Air
9. Kolam Retensi
10. Kolam Tandon
11. Kolam detensi
12. Pompa
13. Rumah Pompa
14. Trash Rack
15. Sumur Resapan
16. Kolam Resapan
17. Jalan Inspeksi
18. Daerah sempadan
19. Bak Pemeriksaan/Man Hole
20. Tali Air/Inlet Street
9

2.1.1. Fungsi Drainase Perkotaan


Fungsi Drainase Perkotaan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 12
Tahun 2014 yaitu :
 Fungsi Drainase Perkotaan Secara Umum
1. Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan air sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
2. Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat secepatnya.
3. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk
persediaan air dan kehidupan akuatik.
4. Meresapkan air pemukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air).
5. Melindungi prasarana dan sarana perkotaan yang sudah terbangun
 Fungsi Drainase Perkotaan Berdasarkan Fungsi Layanan yaitu :
1. Sistem drainase lokal
Yang dimaksud sistem drainase lokal adalah saluran awal yang melayani suatu
kawasan kota tertentu seperti komplek, areal pasar, perkantoran, areal industri
dan komersial. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab
masyarakat, pengembang/pengelola kawasan atau instansi lainnya.
2. Sistem drainase utama
Yang dimaksud sistem drainase utama adalah jaringan saluran drainase primer,
sekunder, tersier beserta bangunan pelengkapnya yang melayani kepentingan
sebagian besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utama
merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota.
3. Pengendalian banjir (Flood Control)
Pengendalian banjir adalah usaha untuk mengendalikan air sungai yang
melintasi wilayah kota, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat
memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia.
Pengelolaan/pengendalian banjir merupakan tugas dan tanggung jawab dinas
pengairan (Sumber Daya Air).
 Fungsi Drainase Perkotaan Berdasarkan Fisiknya :
1. Saluran primer adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran
sekunder dan menyalurkannya ke badan air penerima
2. Saluran sekunder adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran
tersier dan menyalurkannya ke saluran primer
10

3. Saluran tersier tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran
penangkap menyalurkannya ke saluran sekunder
Dalam perencanaan saluaran drainase dapat dipakai standar yang telah ditetapkan,
baik debit rencana (periode ulang) dan cara analisis yang dipakai, tinggi jagaan, struktur
saluran, dan lain-lain. Berikut standar desain saluran drainase berdasarkan “Pedoman
Drainase Perkotaan dan Standar Desain Teknis” ditunjukan pada Tabel 2.1.
Tabel 2. 1Kriteria Desain Hidrologi Sistem Drainase Perkotaan
Periode ulang Metode perhitungan
Luas DAS (ha)
(tahun) debit banjir
<10 2 Rasional
10-100 2-5 Rasional
101-500 5-20 Rasional
>500 10-25 Hidrograf satuan
Sumber: Suripin (2004. p. 241)

2.2. Konsep Drainase Berwawasan Lingkungan


Konsep drainase konvensional (paradigma lama) adalah upaya membuang atau
mengalirkan air kelebihan secepatnya ke sungai terdekat. Dalam konsep drainase
konvensional, seluruh air hujan yang jatuh di suatu wilayah, harus secepatnya dibuang ke
sungai dan seterusnya ke laut. Dampak dari konsep ini adalah kekeringan yang terjadi di
mana-mana, banjir, dan juga longsor. Dampak selanjutnya adalah kerusakan ekosistem,
perubahan iklim mikro dan makro serta tanah longsor di berbagai tempat yang disebabkan
oleh fluktuasi kandungan air tanah pada musim kering dan musim basah yang sangat
tinggi. Konsep pengatusan ini masih dipraktekkan masyarakat sampai sekarang. Pada
setiap proyek drainase, dilakukan upaya untuk membuat alur-alur saluran pembuang dari
titik genangan ke arah sungai dengan kemiringan yang cukup untuk membuang sesegera
mungkin air genangan tersebut. (Menteri Pekerjaan Umum, 2014).
Dalam drainase ramah lingkungan, justru air kelebihan pada musim hujan harus
dikelola sedemikian rupa sehingga tidak mengalir secepatnya ke sungai. Namun
diusahakan meresap ke dalam tanah, guna meningkatkan kandungan air tanah untuk
cadangan pada musim kemarau. Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya
mengelola air kelebihan dengan cara meresapkan sebanyak-banyaknya air ke dalam tanah
secara alamiah atau mengalirkan air ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai
sebelumnya (Menteri Pekerjaan Umum, 2014).
11

Dalam prinsip drainase ramah lingkungan dilakukan upaya untuk mengelola air
kelebihan (air hujan) dengan berbagai metode diantaranya dengan menampung melalui bak
tandon air, menampung dalam tampungan buatan atau badan air alamiah, meresapkan dan
mengalirkan ke sungai terdekat tanpa menambah beban pada sungai yang bersangkutan, air
tersebut dapat langsung dimanfaatkan atau dimanfaatkan pada musim berikutnya misalnya
untuk sumber air bersih, dapat digunakan untuk mengisi/konservasi air tanah, dapat
digunakan untuk meningkatkan kualitas ekosistem dan lingkungan, dan dapat digunakan
sebagai sarana untuk mengurangi genangan dan banjir yang ada, serta senantiasa
memelihara sistem tersebut sehingga berdaya guna secara berkelanjutan.
Ada beberapa metode drainase ramah lingkungan yang dapat dipakai di Indonesia,
diantaranya adalah metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode river side
polder dan metode pengembangan areal perlindungan air tanah (ground water protection
area) (Menteri Pekerjaan Umum, 2014).

2.3 Analisa Hidrologi


Analisis hidrologi tidak hanya diperlukan dalam perencanaan berbagai bangunan air
seperti : bendungan, bangunan pengendali banjir, dan bangunan irigasi, tetapi juga
diperlukan untuk bangunan jalan raya, lapangan terbang, dan bangunan lainnya.

2.3.1 Pengukuran Data Hujan


Hujan merupakan komponen yang amat penting dalam analisis hidrologi pada
perencanaan debit untuk menentukan dimensi saluran drainase. Pengukuran hujan
dilakukan selama 24 jam, dengan cara ini berarti hujan yang diketahui adalah hujan total
yang terjadi selama satu hari. Untuk berbagai kepentingan perencanaan drainase tertentu
data hujan yang diperlukan tidak hanya data harian, akan tetapi juga distribusi jam-jaman
atau menitan. Hal ini akan membawa konsekuensi dalam pemilihan data, dan diajurkan
untuk menggunakan data hujan hasil pengukuran dengan alat ukur otomatis. Maka dalam
penelitian ini data hujan yang digunakan adalah curah hujan harian pada tiap bulan selama
10 tahun di dua stasiun pengukuran hujan.

2.3.2 Estimasi Data Hujan yang Hilang


Ada 3 metode yang digunakan untuk memperkirakan data hujan periode kosong
diantaranya rata – rata aritmatik (arithmatical average), perbandingan normal (normal
ratio), dan kantor cuaca Nasional Amerika Serikat ([Link] Weather
12

service).(Soewarno, 1995. p. 202) Dalam perhitungan data hujan yang hilang pada
penelitian ini akan digunakan metode normal rasio.
Persamaan untuk Normal Ratio Methodsebagai berikut :
1 n An x
Dx  
n i 1
di
Ani
............................................................................................................(2-1)

dengan :
Dx = data tinggi hujan harian maksimum di stasiun x
n = jumlah stasiun di sekitar x untuk mencari data di x
di = data tinggi hujan harian maksimumdi stasiun i
Anx = tinggi hujan rata-rata tahunan di stasiun x
Ani = tinggi hujan rata-rata tahunan di stasiun sekitar x

2.3.3 Uji Homogenitas


Uji homogenitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah seri data yang terkumpul dari
2 stasiun pengukur yang berada di dalam suatu daerah pengaliran atau salah satu berada di
luar daerah pengaliran yang bersangkutan berasal dari populasi yang sama atau bukan.
Pengujian homogenitas suatu seri data dilakukan dengan Metode Uji-t dan Uji-F.
Pengujian uji t adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

thitung 
X 2  X1 
0,5 .................................................................................................(2-2)
1 1
 
N1 N 2
2 2 0,5
.............................................................................................(2-3)
N1S1  N 2 S2

N1  N 2  2
0,5
 ( X1i  X1 ) 2 ...........................................................................................(2-4)
S1 
N1  1
0,5
( X 21i  X 2 ) 2 .......................................................................................(2-5)
S2 

N2 1

dengan :
t : variabel –t terhitung.
X1 : rata-rata hitung sampel ke.l.

X2 : rata-rata hitung sampel ke'2.


Nl : jumlah sampel set ke-1.
13

N2 : jumlah sampel set ke.2.


 : deviasi standar.
S12 : varian sampel set ke-l.
S22 : varian sampel set ke-2.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai t dari persamaan diatas, akan diperoleh 2 kemungkinan
yaitu:
 thitung> t, atau tkritis; artinya kedua sampel yang diuji tidak berasal dari populasi yang
sama.
 thitung< t, atau tkritis; artinya kedua sampel yang diuji berasal dari populasi yang sama.
(Kamiana, 2011. pp. 23-24)
Dan pengujian dengan Uji-F adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
0,5
2
n1  X 2  ( X ) 2
Sx 
n1 (n1  1) ..........................................................................................(2-6)
0, 5
2 n2  Y 2  ( Y )2
Sy  ..............................................................................................(2-7)
n2 (n2  1)

Sx 2
Fhitung 
Sy 2 .................................................................................................................(2-8)
dengan :
F : variabel –Fterhitung.
2
Y : Jumlah sampe set Y
2
X : Jumlah sampe set X

nl : jumlah sampel set ke-1


n2 : jumlah sampel set ke.2
Sx2 : varian sampel set ke-X
Sy2 : varian sampel set ke-Y
Berdasarkan hasil perhitungan nilai t dari persamaan diatas, akan diperoleh 2 kemungkinan
yaitu:
 Fhitung> F, atau Fkritis; artinya kedua sampel yang diuji tidak berasal dari populasi yang
sama.
 Fhitung< F, atau Fkritis; artinya kedua sampel yang diuji berasal dari populasi yang sama.
14

2.3.4 Uji Abnormalitas DataInlier-Outlier


Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data maksimum dan minimum dari
rangkaian data yang ada layak digunakan atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji Inlier-
Outlier, di mana data yang menyimpang dari dua batas ambang, yaitu ambang bawah (XL)
dan ambang atas (XH) akan dihilangkan. Rumus untuk mencari kedua ambang tersebut
adalah sebagai berikut:
XH = Exp. (Xrerata + Kn . S) ....................................................................................(2-9)
XL = Exp. (Xrerata - Kn . S) ...................................................................................(2-10)
dengan:
XH : nilai ambang atas
XL : nilai ambang bawah
Xrerata : nilai rata-rata
S : simpangan baku dari logaritma terhadap data
Kn : besaran yang tergantung pada jumlah sampel data
n : jumlah sampel data
Berikut ini ditabelkan nilai-nilai Kn untuk masing-masing jumlah data yang ditujukan pada
Tabel 2.2.
Tabel 2. 2 Nilai Kn untuk Uji Inlier-Outlier
Jumlah Jumlah Jumlah
Jumlah Data Kn Kn Kn Kn
Data Data Data
10 2,036 24 2,467 38 2,661 60 2,837
11 2,88 25 2,468 39 2,671 65 2,866
12 2,134 26 2,502 40 2,682 70 2,893
13 2,175 27 2,519 41 2,692 75 2,917
14 2,213 28 2,534 42 2,7 80 2,95
15 2,247 29 2,549 43 2,71 85 2,961
16 2,279 30 2,563 44 2,719 90 2,981
17 2,309 31 2,577 45 2,727 95 3
18 2,335 32 2,591 46 2,736 100 3,017
19 2,361 33 2,604 47 2,744 110 3,049
20 2,385 34 2,616 48 2,753 120 3,078
21 2,408 35 2,628 49 2,76 130 3,104
22 2,429 36 2,639 50 2,768 140 3,129
23 2,448 37 2,65 55 2,804
Sumber : Chow, 1988 p.404
15

2.3.5 Uji Konsistensi Data dengan Metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sum)
Uji konsistensi berarti menguji kebenaran data lapangan yang tidak dipengaruhi oleh
kesalahan pada saat pengiriman atau saat pengukuran, data tersebut harus betul-betul
menggambarkan fenomena hidrologi seperti keadaan sebenarnya di lapangan. Dengan kata
lain data hidrologi disebut tidak konsisten apabila terdapat perbedaan antara nilai
pengukuran dengan nilai sebenarnya (Soewarno, 1995. p. 23) Pemindahan alat penakar
hujan, tertutupnya alat penakar hujan oleh vegertasi atau bentuk peghalang lainnya dapat
mengakibatkan perubahan data curah hujan yang tercatat. Uji konsistensi data
dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran data lapangan yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor :
 Spesifikasi alat penakar berubah
 Tempat alat ukur dipindah
 Perubahan lingkungan disekitar alat penakar.
(Kamiana, 2011. p. 16)
Dalam penelitian ini data curah hujan yang digunakan adalah berasal dari dua stasiun
hujan sehingga di lakukan uji konsistensi dengan metode RAPS(Rescaled Adjusted Partial
Sums).Dalam metode ini, konsistensi data hujan ditunjukan dengan nilai kumulatif
penyimpangan terhadap nilai rata-rata berdasarkan persamaan berikut :

1
= ..............................................................................................(2-11)

Sk*  (X Xrerata) ................................................................................(2-12)

Sk * 2
Dy 2 
n ........................................................................................................(2-13)

Sk *
Sk * * 
Dy ........................................................................................................(2-14)

Q = nilai S**k Maksimum ............................................................................................(2-15)


R= Sk** Maksimum – Sk**mininmum .......................................................................(2-16)
dengan :
Xi : nilai data X ke i
: nilai X rata-rata
Sk* :nilai kumulatif penyimpangan terhadap nilai rata-rata
S**k : nilai konsistensi data
16

n : jumlah data X
Dy : simpangan rata-rata
Q : nilai statistik
R : nilai statistik
Bandingkan untuk jumlah data (n) dan derajat kepercayaan tertentu, nilai-nilai
dibawah ini:
 Qterhitung dengan Qtabel
 Rterhitung dengan Rtabel
Syarat analisis diterima (masih dalam batasan konsisten) jika nilai Q/(n0.5) dan
R/(n0.5) hitung lebih kecil dari nilai Q/(n0.5) dan R/(n0.5) Nilai Qtabel dan Rtabel
ditunjukan pada Tabel 2.3.
Q R
Tabel 2. 3 Nilai dan
n n
Q R
N n n
90% 95% 99% 90% 95% 99%
10 1,05 1,14 1,29 1,21 1,28 1,38
20 1,1 1,22 1,42 1,34 1,43 1,6
30 1,12 1,24 1,46 1,4 1,5 1,7
40 1,13 1,26 1,5 1,42 1,53 1,74
50 1,14 1,27 1,52 1,44 1,55 1,78
100 1,17 1,29 1,55 1,5 1,62 2,86
∞ 1,22 1,36 1,63 1,62 1,75 2
Sumber : Sri Harto,Br (1993) dalam Kamiana (2011. p. 201)

2.3.6 Curah Hujan Rerata Daerah


Ada tiga macam cara yang umum dipakai dalam menghitung hujan rata-rata kawasan:
(1) rata-rata aljabar, (2) poligon thiessen, dan (3) isohyet (Suripin ,2004. p.26).
Pemilihan metode mana yang cocok dipakai pada suatu DAS dapat ditentukan dengan
mempertimbangkan tiga faktor, terlepas dari kelebihan dan kelemahan kedua metoda yang
tersebut di atas. Faktor – faktor tersebut adalah sebagai berikut (Suripin ,2004. p.31):
1. Jaring-jaring pos penakar hujan dalam DAS
2. Luas DAS
3. Topografi DAS
Syarat faktor untuk tiap jenis metode di tunjukan pada tabel 2.4 berikut.
17

Tabel 2. 4 Cara Memilih Metoda Curah Hujan


Faktor-Faktor Syarat-Syarat Jenis Metode
Metoda Isohiet, Thiessen atau Rata-
Jaring-Jaring Jumlah Pos Penakar Hujan Cukup
Rata Aljabar
Pos Penakar Metoda Rata-Rata Aljabar atau
Hujan Dalam Jumlah Pos Penakar Hujan Terbatas
Thiessen
DAS
Pos penakar Hujan Tunggal Metoda Hujan Titik
2
DAS Besar (>5000 km ) Metoda Isohiet
2
Luas DAS DAS Sedang (500 s/d km ) Metoda Thiessen
DAS Kecil (<500 km2) Metoda Rata-Rata Aljabar
Pegunungan Metoda Rata-Rata Aljabar
Topografi
Dataran Metoda Thiessen
DAS
Berbukit dan Tidak Beraturan Metoda Isohiet
Sumber : Suripin (2004. pp. 31-32)
Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode rata-rata aljabar
(Aritmatik) dengan 2 stasiun hujan.
 Rata-rata aljabar
Merupakan metode yang paling sederhana dalam perhitungan hujan kawasan.
Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa semua penakar hujan mempunyai
pengaruh yang setara. Cara ini cocok untuk kawasan daerah topografi rata atau datar,
alat penakar tersebar merata/hampir merata, dan harga individual curah hujan tidak
terlalu jauh dari harga rata-ratanya. Hujan kawasan diperoleh dari persamaan

P1  P2  P3  ....  Pn
P ...................................................................(2-17)
n

dengan P1, P2,....., Pn adalah curah hujan yang tercatat di pos penakar hujan 1,2,...,n
dan n adalah banyakanya pos penakar hujan (Suripin, 2004. p.27).

2.3.7 Analisis Frekuensi Hujan Rancangan Maksimum


Tujuan analisis frekuensi data hidrologi adalah berkaitan dengan besaran peristiwa-
peristiwa ekstrim yang berkaitan dengan frekuensi kebalikannya melalui penerapan
distribusi kemungkinan. Frekuensi hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran
hujan disamai atau dilampaui. Sebaliknya, kala ulang (return period) adalah waktu
hipotetik dimana hujan dengan suatu besaran tertentu akan disamai atau dilampaui. Dalam
hal ini tidak terkandung pengertian bahwa kejadian tersebut akan berulang secara teratur
setiap kala ulang tersebut. (Suripin, 2004. p.31).
18

Analisis frekuensi diperlukan seri data hujan diperoleh dari Pos penakar hujan,
baik yang manual maupun yang otomatis. Analisis frekuensi ini didasarkan pada sifat
statistik data kejadian yang telah lalu untuk memperoleh probabilitas besaran hujan dimasa
yang akan datang. Dengan anggapan bahwa sifat statistik kejadian hujan yang akan datang
masih sama dengan sifat statistik kejadian hujan masa lalu (Suripin, 2004. p.32).
Analisis frekuensi atau distribusi frekuensi digunakan untuk memperoleh probabilitas
besaran curah hujan rencana dalam berbagai periode ulang. Dasar perhitungan distribusi
frekuensi adalah parameter yang berkaitan dengan analisis data yang meliputi ratarata,
simpangan baku, koefisien variasi, dan koefisien skewness (kecondongan atau
kemiringan)(Suripin, 2004. p.32).
Berikut parameter yang digunakan dalam analisa frekuensi meliputi parameter nilai-
nilai rata-rata (X), standar deviasi (S), koefisient variasi (Cv), koefisien
kemiringan/skewness (Cs), dan koefisinet kurtosis (Ck) ditunjukan pada Tabel 2.5.
Tabel 2. 5 Parameter Statistik dalam Analisa Frekuensi
No. Parameter Sampel Populasi
= ( )
1
1 Rata-rata =
= ( )

Simpangan baku 1
2 = ( − ̅) = { [ − ) ]}
(Standar deviasi) −1

3 Koefisien variasi = =

∑ ( − ) [ − ) ]
4 Koefisien skewness = =
( − 1)( − 2)
Sumber : Suripin (2004. p.34)
Dalam analisis frekuensi data hujan atau data debit guna memperoleh nilai hujan
rencana atau debit rencana, dikenal beberapa distribusi probabilitas kontinu yang sering
diguakan yaitu: Gumbel, Normal, Log Normal dan Pearson Type III. Penentuan jenis
distribusi probabilitas yang sesaui dengan data dilakukan dengan mencocokan parameter
data tersebut dengan syarat masing masing jenis distribusi seperti pada Tabel 2.6.
19

Tabel 2. 6 Persyaratan Statistik suatu Distribusi


No Distribusi Persyaratan
1 Gumbel Cs = 1,14 ; Ck = 5,4
2 Normal Cs =0 ; Ck =3
C1 = Cv + 3Cv ; Ck = Cv8 + 6C46 + 15Cv4
3
3 Log Normal
+ 16Cv2 + 3
4 Log Pearson III Selain dari nilai diatas
Sumber : Triatmodjo (2008. p.250)
Distribusi Log Pearson III banyak digunakan dalam analisis hidrologi, terutama dalam
analisis data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum) dengan nilai ekstrim. Ada
12 Tipe Log Pearson, namun hanya distribusi Log Pearson III yang baik digunakan dalam
hidrologi, terutama dalam analisis data maksimum (Triatmodjo, 2008. p.229). Dalam studi
ini dipilih cara Log Pearson III dengan pertimbangan bahwa cara ini lebih fleksibel dan
dapat dipakai untuk semua sebaran data
Tiga parameter penting dalam Log Pearson III, yaitu (i) harga rata-rata; (ii) simpangan
baku; dan (iii) koefisien kemencengan
Berikut ini langkah-langkah penggunaan distribusi Log Pearson III.
Ubah data kedalam bentuk logaritma
................................................................................(2-18)
Xi  Log  X i 

Hitung harga rata rata

∑ |log | ...............................................................................(2-19)
log ̅ =
( )

Hitung harga simpangan baku


...................................................................(2-20)
∑ | ̅|
Sd = ( )

Hitung koefisien kepencengan

∑( ̅)
...................................................................(2-21)
Cs = ( )( )

Hitung logaritma huan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus :
..................................................................(2-22)
LogXt  Log X  K . S
20

Dengan K adalah variabel standar untuk X yang besarnya tergantung koefisien


kemencengan G. Hitung hujan atau bajir kala ulang T dengan menghitung antilog dari
logXt (Suripin, 2004. p.42).

2.3.8 Uji Kecocokan


Ada dua cara yag dapa dilakukan untuk menguji apakah jenis distribusi yang dipilih
sesuai dengan data yang ada, yaitu uji Chi-Kuadrat dan Smirnov Kolmogrof (Sri Harto,
1991 dalam Triatmodjo, 2008.p.238)

[Link] Metode Chi Kuadrat (χ2) (Chi-Square)


Prosedur perhitungan dengan mengunakan metode Chi Kuadrat adalah sebagai
berikut:
1. Urutkan data dari besar ke kecil atau sebaliknya
2. Menghitung jumlah kelas
3. Menghitung derajat kebebasan (Dk) dan (χ2cr)
4. Menghitung kelas distribusi
5. Menghitung interval kelas
6. Menghitung nilai χ2
7. Bandingkan nilai χ2 terhadap dan χ2 cr.
Uji Chi-kuadrat menggunakan nilai x2 yang dapat dihitung dengan persamaan berikut
:
∑ ( − ) ...................................................................................(2-23)
( )

dengan :
X2 : nilai Chi-Kuadrat terhitung
Ef : frekuensi (banyak pengamatan) yang diharapkan sesuai dengan pembagian
kelasnya
Of : frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama
N : jumlah sub kelompok dalam satu group
Nilai x2 yang diperoleh harus lebih kecil dari ilai X2cr (Chi-Kuadrat kritik), untuk
suatu derajat nyata tertentu, yang serig diambil 5%. Derajat kebebasan dihitung dengan
persamaan :
.............................................................................................(2-24)
DK = K – (α +1)
21

dengan :
DK : derajat kebebasan
K : banyaknya kelas
α : banyaknya keterikatan (parameter), untuk uji Chi-Kuadrat adalah 2
Disarankan agar banyaknya kelas tidak kurang dari 5 dan frekuensi absolut tiap kelas
tidak kurang dari 5 pula (Triatmodjo, 2013. pp. 238-239).

[Link] Metode Smirnov-Kolmogorof (Horizontal)


Dari hasil pembacaan grafik pengeplotan data curah hujan pada kertas probabilitas
logaritma, diadapat perbedaan antara distribusi teoritis dan empirisnya pada sumbu
horisontal yang merupakan data probabilitas. Selisih ini dicari yang maksimum yang
disebut  maks. Uji Smirnov-Kolmogorov ini akan membandingkan harga  maksimum
dengan suatu harga kritis yang ditentukan berdasarkan jumlah data dan batas nilai
simpangan data. Bila  maksimum<  kritis, hipotesa tersebut dapat diterima.(Soewarno,
1995. p.199),
Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorof, sering juga disebut uji kecocokan non
parametrik (non parametric test), karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi
distribusi tertentu. Prosedurnya adalah sebagai berikut :
1. Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari
masing-masing data tersebut ;
X1 P (X1)
X2 P (X2)
Xm P (Xm)
Xn P (Xn)
dengan :
X1, X2, Xm, Xn = data hujan yang telah diurutkan dari besar ke terkecil (mm)
P = Peluang Empiris (dihitung dengan persamaan Weibull, seperti
pada persamaan (2-20) berikut
 Persamaan Weibull :

+1 ................................................................................................. (2-25)
( )=

dengan :
n = jumlah data
i = nomor urut data hujan
22

2. Tentukan nilai masing-masing peluang teoritis di hasil penggambaran data:


X1 P (X1)
X2 P (X2)
Xm P (Xm)
Xn P (Xn)
dengan :
X1, X2, Xm, Xn = data hujan yang telah diurutkan dari besar ke terkecil (mm)
P’ = Peluang teoritis
3. Dari kedua nilai peluang tersebut tentukan selisih terbesamya antara peluang
pengamatan dengan peluang teoritis.
D = Maksimum (P (Xm) – P’(Xm)) ...............................................................(2-26)
dengan :
D = selisih peluang empiris dengan peluang teoritis
P = peluang empiris
P’ = peluang teoritis
Xm = data hujan yang diurutkan (mm)
Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-Kolmagorov test) tentukan harga Do, berikut
ditunjukan pada Tabel 2.7. (Soewarno, 1995. p.199),
Tabel 2. 7 Nilai Kritis Do Untuk Uji Smirnov-Kolmogorof
a (Derajat Kepercayaan)
N
0,2 0,1 0,05 0,01
5 0,45 0,51 0,56 0,67
10 0,32 0,37 0,41 0,49
15 0,27 0,31 0,34 0,4
20 0,23 0,26 0,29 0,36
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,2 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 0,25
45 0,16 0,18 0,2 0,24
50 0,15 0,17 0,19 0,23
N>50 1,07/N^0,5 1,22/N^0,6 1,36/N^0,7 1,63/N^0,8
Sumber : Bonnier (1980) dalam Soewarno (1995. p. 199)
23

Apabila D lebih kecil dari Do maka distribusi teoritis yang digunakan untuk
menentukan persamaan distribusi dapat diterima, apabila D lebih besar dari Do maka
distribusi teoritis yang digunakan untuk menentukan persamaan distribusi tidak dapat
diterima. (Soewarno, 1995. p.199).

2.4 Debit Limpasan Air Hujan


Sebagaimana telah diuraikan dalam siklus hidrologi, bahwa air hujan yang turun dari
atmosfir jika tidak ditangkap oleh vegetasi atau oleh permukaan buatan seperti atap atap
bangunan atau lapisan kedap air lainnya, maka akan jatuh ke permukaan bumi dan
sebagian akan menguap, berinfiltrasi, atau tersimpan dalam cekungan cekungan. Bila
kehilangan seperti cara-cara tersebut telat terpenuhi, maka sisa air hujan akan mengalir
langsung di atas permukaan tanah menuju alur aliran terdekat(Suripin, 2004. p. 74).

2.4.1 Analisa Debit Banjir Rancangan Metode Rasional


Debit banjir rencana adalah debit maksimum dari suatu sistem drainase yang
didasarkan kala ulang tertentu yang dipakai dalam perencanaan.(Menteri Pekerjaan Umum,
2014, p.6).
Pemakaian metode rasional sangat sederhana dan sering digunakan dalam perencanaan
drainasi perkotaan. Beberapa parameter hidrologi yang diperhitungkan adalah intensitas
hujan, durasi hujan, frekuensi hujan, luas DAS, abstraksi (kehilangan air akibat evaporasi,
intersepsi, infiltrasi, tampungan permukaan) dan konsentrasi aliran. Metode rasional
didasarkan pada persamaan berikut : (Triatmodjo, 2008.p.144)
....................................................................................(2-27)
Q = 0,278. C. I. A

dengan:
Q = debit banjir maksimum (m3/dt)
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas daerah tangkapan (km2)
C = koefisien aliran yang tergantung pada jenis permukaan lahan yang nilainya
diberikan pada tabel 2.8

a. Koefisien pengaliran (run-off coefficient)


Koefisien pengaliran adalah perbandingan antara jumlah air hujan yang mengalir
atau melimpas di atas permukaan tanah (surface run-off) dengan jumlah air hujan yang
24

jatuh dari atmosfir (hujan total yang terjadi). Besaran ini dipengaruhi oleh tata guna lahan,
kemiringan lahan, jenis dan kondisi tanah. Pemilihan koefisien pengaliran harus
memperhitungkan kemungkinan adanya perubahan tata guna lahan di kemudian hari. Nilai
koefisien pengaliran untuk metode rasional tertera pada tabel 2.8.
Tabel 2. 8 Koefisien Limpasan untuk Metode Rasional
Deskripsi lahan/ karakter permukaan Koefisien limpasan C
Perkotaan 0,70-0,95
Business
Pinggiran 0,50-0,70
Rumah Tunggal 0,30-0,50
Multiunit, terpisah 0,40-0,60
Perumahan Multiunit, Tergabung 0,60-0,75
Perkampungan 0,25-0,40
Apartemen 0,50-0,70
Ringan 0,50-0,80
Industri
Berat 0,60-0,90
Aspal dan beton 0,70-0,65
Perkerasan
Batu bata, paving 0,50-0,70
Atap 0,75-0,95
Datar 2 % 0,05-0,10
Halaman, tanah berpasir Rerata, 2-7% 0,10-0,15
Curam, 7% 0,15-0,20
Datar 2 % 0,13-0,17
Halaman, tanah berat Rata-rata, 2-7% 0,18-0,22
Curam, 7% 0,25-0,35
Halaman kereta api 0,10-0,35
Taman tempat bermain 0,20-0,35
Taman, pekuburan 0,10-0,25
Datar, 0-5% 0,10-0,40
Hutan Bergelombang, 5-10% 0,25-0,50
Berbukit, 10-30 % 0,30-0,60
Sumber : McGuen, 1989 dalam Suripin (2004. p.80)
25

Menurut Pd-T-02-2006-B Tentang Perencanaan Sistem Drainase Jalan apabila daerah


pengaliran atau daerah layanan terdiri dari beberapa tipe kondisi permukaan yang memiliki
nilai C yang berbeda maka nilai C rata-rata ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
1. 1 + 2. 2 + 3. 3 + ⋯ ................................................................... (2-28)
=
1+ 2+ 3+⋯

dengan :
C =koefisien pengaliran rata-rata dari beberapa tipe kondisi permukaan
C1, C2, C3, …= koefisien pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi permukaan
A1, A2, A3, …= luas daerah pengaliran yang diperhitungkan sesuai dengan kondisi
permukaan
(Menteri Pekerjaan Umum, 2014, p.6).

b. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan yang jatuh untuk
mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS ( titik kontrol) setelah tanah
menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Salah satu metode untuk
memperkirakan waktu konsetrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh Kiprich (1940),
yang dapat ditulis sebagai berikut :

0 , 385
 0,87 xL2 
Tc    ......................................................................................... (2-29)
 1000 xS 
 

Dengan Tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama dari hulu
sampai penguras dalam km, dan S kemiringan ratarata saluran utama dalam m/m. (Suripin,
2004. p. 82)

c. Intensitas hujan
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Sifat umum
hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung makin tinggi dan
makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya. Hubungan antara intensitas,
lama hujan, dan frekuensi hujan biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas-Durasi-
Frekuensi (IDF= Intensity-Duration-Frequency Curve). Diperlukan data hujan jangka
pendek, misalnnya 5 menit, 10 menit, 30 menit, 60 menit, dan jam-jaman untuk
26

membentuk lengkung IDF. Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari pos penakar
hujan otomatis. Selanutnya berdasarkan data hujan jangka pendek tersebut lengkung IDF
dapat dibuat dengan salah satu dari beberapa persamaan Talbot, Sherman, atau Ishiguro.
(Suripin, 2004. p. 66)
Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian,
maka intensitas hujan dapat dihitung dengan rumus Mononobe sebagai berikut :
2/3
R 24  24 
I=  
24  tc  ......................................................................................... (2-30)
dengan:
I = intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
R24 = curah hujan maksimum harian alam 24 jam (mm)
tc = lamanya hujan
(Suripin, 2004. pp. 67-68)
Pada penelitian ini digunakan rumus Mononobe karena lebih cocok dengan data yang
tersedia.

2.5 Analisa Proyeksi Penduduk


Proyeksi penduduk adalah perhitungan jumlah penduduk (menurut komposisi umur
dan jenis kelamin) di masa yang akan datang berdasarkan asumsi arah perkembangan
fertilitas, mortalitas dan migrasi.
2.5.1 Metode Geometrik
Cara ini mengasumsikan besarnya laju pertumbuhan yang menggunakan dasar bunga
berbunga dimana angka pertumbuhannya adalah sama untuk setiap tahun. Ramalan laju
pertumbuhan geometri adalah sebagai berikut:

Pn = Po (1 + r)n
.............................................................................. (2-31)
dengan:
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n
Po = jumlah penduduk pada awal tahun
r = angka pertumbuhan penduduk
n = interval waktu (tahun)

2.5.2 Metode Eksponensial


Pertumbuhan ini mengasumsikan pertumbuhan penduduk secara terus-menerus setiap
hari dengan angka pertumbuhan konstan. Pengukuran penduduk ini lebih tepat, karena
27

dalam kenyataannya pertumbuhan jumlah penduduk juga berlangsung terus-menerus.


Ramalan pertambahan penduduknya adalah:
................................................................................................. (2-32)
Pn = Po. em

dengan:
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n
Po = jumlah penduduk pada awal tahun
m = interval waktu
e = bilangan logaritma

2.5.3 Uji Kesesuaian Metode Koefisien Determinasi R-Square


Koefisien determinasi (R2) dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketepatan yang
paling baik dalam analisa regresi, hal ini ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi
(R2) antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu). Jika koefisien determinasi nol berarti variabel
independen sama sekali tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Apabila koefisien
determinasi semakin mendekati satu, maka dapat dikatakan bahwa variabel independen
berpengaruh terhadap variabel dependen.

2.6 Analisa Debit Air Kotor


Debit air kotor berasal dari air buangan hasil aktivitas penduduk yang berasal dari
lingkungan rumah tangga atau bangunan-bangunan atau yang lainnya. Untuk perhitungan
debit air buangan maka harus diketahui jumlah konsumsi air bersih per orang per hari.
Debit buangan diperkirakan 70-80% dari debit air bersih yang digunakan. Sehingga
persamaannya menjadi seperti berikut
Perhitungan air buangan tiap penduduk didapat dari:

Qair kotor = Pn x kebutuhan air bersih rata-rata tiap penduduk x 80%.......................(2-33)

dengan Qair kotor dalam (liter/hari), jumlah penduduk (Pn ) dalam jiwa dan dan kebutuhan
air bersih rata-rata dalam liter/hari/jiwa.

2.7 Evaluasi Saluran Drainase


Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai, memperbaiki dan meningkatkan seberapa jauh
sebuah proyek atau program kegiatan dapat berjalan secara efektif, efisien dan optimal
seperti yang telah dirumuskan bersama(Menteri Pekerjaan Umum, 2014. p. 4). Evaluasi
28

terhadap saluran drainase mencakup, kapasitas tampungan dan pengaliran debit, dan
sedimentasi.
2.8 Analisa Hidrolika
Analisa hidrolika bertujuan untuk mengevaluasi kondisi saluran, mengetahui
kemampuan penampang dalam menampung debit rencana. Kriteria perencanaan hidrolika
ditentukan oleh: bentuk saluran drainase, kecepatan saluran rata-rata, kekasaran dinding
saluran, pengempangan (back water effect), penampang saluran terbaik/ekonomis, ruang
bebas saluran (freeboard), kecepatan minimum dan saluran dengan berbagai lapisan. Hasil
dari analisa hidrolika untuk evaluasi saluran adalah berupa perbandingan antara Qsaluran
(kapasitas tampung saluran ) dengan Qrencana apabila Qsaluran > (lebih besar) dari pada
Qrencana maka kapasitasnya masih cukup.
Bentuk saluran drainase umumnya berbentuk trapesium, segiempat, lingkaran dan
segitiga.
a. Perhitungan Luas Profil Basah Berbentuk segiempat

Gambar 2. 1 Profil Saluran Drainase Berbentuk Segiempat


Sumber : Menteri Pekerjaan Umum (2014)
Luas profil basah berbentuk segiempat dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:
= . ℎ.........................................................................................................................(2-34)
dengan:
A : luas profil basah (m²)
B : lebar dasar saluran (m)
h : tinggi air di dalam saluran (m)
(Menteri Pekerjaan Umum, 2014. pp.61-62)

b. Perhitungan kecepatan rata-rata rata-rata


Kecepatan saluran rata-rata dihitung dengan menggunakan rumus Manning. Seorang
ahli dari Islandia, Robert Manning mengusulkan rumus berikut ini:

= ......................................................................................................................(2-35)

dengan koefisien tersebut, maka rumus kecepatan aliran menjadi:


29

= . . ...........................................................................................................(2-36)

= .............................................................................................................................(2-37)

P = b+2h ........................................................................................................................(2-38)
dengan :
V : kecepatan aliran dalam m/dt
n : koefisien Manning, kriteria ditunjukan pada Tabel 2.9
R : jari-jari hidrolis dalam m;
A : profil basah saluran dalam m²;
P : keliling basah dalam m;
h : tinggi muka air
I : kemiringan dasar saluran
Tabel 2. 9 Koefisien Manning
Bahan Koefisien Manning, n
Besi tuang dilapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu semen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2014

c. Rumus Aliran (Q)


Untuk menghitung debit profil majemuk existing pada saluran drainase perkotaan
digunakan rumus kontinuitas dengan mengalikan luas profil basah dengan kecepatan rata-
rata menggunakan rumus Manning dan koefisen kekasaran ekuivalen (neq). Rumus
alirannya adalah sebagai berikut:
= . ........................................................................................................................(2-39)

= . . .................................................................................................(2-40)

dengan :
Qt : debit total dalam m³/dt
30

V : kecepatan aliran dalam m/dt


At : luas profil basah total dari masing-masing sub-profil basah dalam m²
Rt : total jari-jari hidraulis dari masing-masing sub-profil basah dalam m
S : kemiringan rata-rata dasar saluran
neq : kekasaran dinding ekuivalen

d. Penampang saluran terbaik/ekonomis


Penampang saluran terbaik atau penampang saluran ekonomis adalah penampang
saluran yang mempunyai keliling basah minimum akan memberikan daya tampung
maksimum kepada penampang saluran.
 Bentuk Segiempat
Saluran dengan bentuk segiempat biasanya digunakan untuk saluran yang terbuat dari
pasangan batu atau beton seperti terlihat dalam Gambar 2.2

Gambar 2. 2 Saluran Ekonomis Berbentuk Segiempat


Sumber : Menteri Pekerjaan Umum, 2014
Luas penampang basah dapat diperhitungkan denga rumus:
= . .........................................................................................................................(2-41)
Keliling basah:
= + 2 ....................................................................................................................(2-42)
Lebar:
= 2 ...........................................................................................................................(2-43)
(Menteri Pekerjaan Umum, 2014. p.68)

e. Ruang bebas saluran (freeboard)


Ruang bebas (freeboard) suatu saluran adalah jarak vertikan dari puncak saluran ke
permukaan air pada kondisi rancang (rencana). Gelombang dan kenaikan muka air
disebabkan oleh:
1. Kecepatan sangat besar dan kemiringan sangat terjal;
31

2. Kecepatan besar akibat tikungan;


3. Pengaruh gerakan angin;
4. Pasang surut.
Ruang bebas saluran (freeboard) dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti
berikut ini :
= . ...................................................................................................................(2-44)
dengan :
Fr : ruang bebas (m)
y : kedalaman aliran rencana (m)
Cf : koefisien yang bervariasi dari 1,5 pada Q = 60 m³/dt. sampai dengan 2,5
untuk Q = 85 m³/dt
Atau diperkirakan ruang bebas saluran (freeboard) berkisar antara 0,30 sampai dengan
1,20 m tergantung dari dalam dan lebarnya (Menteri Pekerjaan Umum, 2014. p. 44)

2.9 Penanganan Genangan


Dalam sub bab ini membahas alternatif penanganan genangan yang akan direncanakan
pada penelitian ini yaitu perbaikan dimensi saluran dan bangunan pemanen air hujan (rain
harvesting).

2.9.1 Perbaikan Saluran


Alternatif ini dilakukan guna mengetahui dimensi yang di butuhkan suatu saluran
drainase untuk mengalirkan debit yang masuk dengan pertimbangan ketersediaan lahan
yang memungkinkan adanya pelebaran dan penambahan tinggi di saluran tersebut.
Perbaikan dimensi saluran dilakukan dengan menghitung luas profil basah dan
kecepatan rata-rata dengan rumus (2-34) sampai rumus (2-40), kemudian didapat hasil Q
untuk tiap saluran sebagai kapasitas eksisting. Maka diketahui saluran mana saja yang
memiliki Qsaluran < (lebih kecil) dari Qrencana, untu saluran tersebut maka di lakukan
perhitungan lanjut yaitu mencari lebar dan tinggi tambahan agar mencukupi kapasitas
dengan Qrencana yang dibutuhkan dengan cara trial and error pada Microsoft Excel.

2.9.2 Pemanen Air Hujan (Rain Harvesting)


Air merupakan kebutuhan setiap manusia dan makhluk hidup lainnya. Sumber daya air
merupakan salah satu sumberdaya yang paling vital. Namun pada nyatanya dilapangan
masih banyak daerah daearh di Indonesia yang mengalami kesulitan air, seperti di
Indonesia bagian timur, terutama saat musim kemarau. Disisi lain ketika musim hujan
32

terjadi kelebihan air yang tidak dapat tertampung dalam badan air yang ada pada sungai,
danau, situ, waduk buatan, sehingga meluap menjadi banjir. Dua kondisi yang sering
bertentangan ini dapat bermanfaat bila ditangani secara terpadu dan bersinergi (mengingat
begitu besarnya potensi sumberdaya air yang terbuang percuma menuju ke laut lepas).
Menampung air hujan merupakan salah satu alternatif yang efisien yang dapat di lakukan
untuk menyelesaikan permasalahan ini. (Amin et al, 2008)

a. Definisi
Teknik pemanenan air hujan atau disebut juga dengan istilah rain harvesting
didefinisikan sebagai suatu cara pengumpulan atau penampungan air hujan atau aliran
permukaan pada saat curah hujan tinggi untuk selanjutnya digunakan pada waktu air hujan
rendah. Dilihat dari ruang lingkup implementasinya, teknik ini dapat digolongkan dalam 2
(dua) kategori, yaitu :
1. Teknik pemanenan air hujan dengan atap bangunan (roof top rain harvesting),
2. Teknik pemanenan air hujan (dan aliran permukaan) dengan bangunan reservoir,
seperti dam parit, embung, kolam, situ, waduk, dan sebagainya.
Perbedaan dari kedua kategori di atas adalah bahwa untuk kategori yang pertama, ruang
lingkup implementasinya adalah pada skala individu bangunan rumah dalam suatu wilayah
permukiman ataupun perkotaan ; sementara untuk kategori yang kedua skalanya lebih luas
lagi, biasanya untuk suatu lahan pertanian dalam suatu wilayah DAS ataupun sub DAS
(Harsoyo, 2010. pp. 33-34).

b. Penerapan Pemanen Air Hujan


Penerapan pemanen hujan bukan hanya cocok untuk daerah yang kekurangan air
seperti di pedalaman atau pedesaan namun juga cocok di daerah perkotaan. Untuk
kompleks-kompleks industri, sangat disarankan untuk menerapkan metode ini. Kebutuhan
air untuk indstri sebagian besar dapat ditopang dengan memakai air hujan. Di kompleks
perkantoran pemerintah dan swasta, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, perumahan,
perhotelan, pertokoan dan lain-lain sangat relevan sekali menerapkan konsep memanen air
hujan dengan kolam tandon dan sumur resapan ini. Kebutuhan air untuk keperluan-
keperluan di luar air minum dapat dipasok langsung dari air hujan, sedang kebutuhan air
minum, mandi dan cuci dapat dipasok dari air hujan dengan pengolahan (treatment)
secukupnya terlebih dahulu. Pemerintah dapat mengimbau bahkan mewajibkan pada
33

kompleks-kompleks tersebut untuk melakukan upaya memanen air hujan dengan


mengaitkannya dengan pemberian ijin pembangunan atau ijin usaha sekaligus dengan
memberikan keringanan-keringanan pajak tertentu bagi yang telah
melaksanakannya.(Maryono dan Santoso, 2006). Berikut beberapa penerapan sistem
pemanen air hujan di dalam maupun luar negeri ditunjukan pada Gambar 2.3 Sampai 2.8.

Gambar 2. 3 Bangunan Tangki Penampung Air Hujan di Kabupaten Pidie, NAD


Sumber : Harsoyo (2010.p.34)

Gambar 2. 4 Sistem Penampung Air Hujan di Pemukiman Pesisir, Tarakan, Kaltim


Sumber : Said dan Widayat (2014 .p.81)

Gambar 2. 5 Sistem Penampung Air Hujan di Sangata, Kaltim


Sumber : Said dan Widayat (2014 .p.82)
34

Gambar 2. 6 Sistem Pemanen Air Hujan di Rumah Sakit Hauber Davidson, Australia
Sumber : Said dan Widayat (2014 .p.92)

c. Komponen Rain Harvesting


Konstruksi untuk sistem pemanenan air hujansederhana terdiri dari 3 komponen
dasar yang pentingdan harus ada, yaitu:
a. Daerah penangkap air atau yang berfungsi untuk menangkap air hujan untuk kemudian
dialirkan ke saluran pengumpul. Daerah tangkapan bisa berupa atap rumah dengan bahan
yang beragam, bisa juga taman diatas gedung (roof top garden), atau dinding vertikal.
b. Sistem pengiriman/ pegumpul untuk memindahkan air hujan yang sudah ditangkap dari
daerah penangkap atau permukaan atap ke bak penyimpanan berupa pipa atau talang. Pipa
talang biasanya direncanakan dengan bahan alumunium, pvc, kayu atau fiberglass dengan
kemiringan tertentu sehingga air dapat dialirkan dan tidak tertahan.
c. Bak, tangki atau kolam penyimpanan untuk menyimpan air hingga air hujan
[Link] bak atau tangki dapat terbuat dari ferro semen, pasangan bata, dan
fibreglass reinforced plastic (FRP). Ukuran, bentuk, dan bahan tempat penyimpanan
menyesuaikan dengan kebutuhkan. Untuk bak dan tangki biasanya dilengkapi dengan
penutup, keran air juga keran penguras, daa dalam pengerjaan konstruksinya biasanya juga
dilengkapi pondasi dan kuat dan pagar.
35

Gambar 2. 7 Komponen Dasar dari Sistem Pemanen Air Hujan


Sumber:: HATUM & WORM (2006) dalam [Link]
Beberapa komponen lain yang dibutuhkan untuk
unt mengoptimalhkan fungsi ddan manfaat
pemanen air hujan, serta menjunjang dan tidak kalah penting, antara lain
1. Gutter Guard atau saringan pada saluran pengumpul (talang) fungsinya untuk
menyaring dedaunan, serangga dan sedimen lain yang berukuran makro sahingga
tidak ikut dialirkan masuk ke saluran pengumpul. Biasanya terbuat dari alumunium.

Gambar 2. 8 Gutter guard


[Link]
Sumber :[Link]
2. Pipa udara yang berfungsi untuk mengeluarkan udara saat bak penampung terisi
3. Downspouts adalah pipa vertikal
vertik untuk menyalurkan air dari salluran pengumpul ke
tangki atau kolam penampung air.
4. Saluran
luran pembuangan yang berfungsi untuk mengalirkan air buangan agar PAH
tetap bersih dan kering
36

Gambar 2. 9 Downspout
Sumber : [Link]
5. Debris Traps dan tank screen atau perangkap adalah filter untuk menyaring
sedimen atau puing yang berukuran lebih kecil yang tidak tersaring pada gutter
guard agar tidak masuk ke kolam/bak penampung, biasanya di terapkan pada pipa
downspout atau sebagai saringan pada tangki

Gambar 2. 10 Debris Trap


Sumber : [Link]

Gambar 2. 11 Tank Screen


Sumber : (Amin et al, 2008)
37

6. Filter sedimen akhir, biasanya diperlukan untuk pemanfaatan air hujan untuk air
minum dengan komponen filter yang menyesuaikan sehingga output air dapat
memenuhi syarat untuk air minum.

d. Perencanaan Sistem Pemanen Air Hujan untuk Penanganan Genangan


Perencanaan sistem pemanen air hujan sebagai alternatif penanganan genangan dapat
menggunakan rasional (2-24) dengan CA yang merupakan luas atap bangunan, C koefisien
atap dan I dihitung menggunakan rumus mononobe.
Q = 0,278 C I A......................................................................................................(2-45)
dengan:
Q = debit banjir maksimum (m3/dt)
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas daerah tangkapan (km2)
C = koefisien aliran
dalam perhitungan ini C merupakan koefisien daerah tangkapan air yaitu atap rumah. I
adalah intensitas hujan yang turun dengan menggunakan curah hujan rencana kala ulang
yang di tentukan, di hitung menggunakan rumus mononobe, dan A adalah luas atap
sebagai daerah tangkapan air.
Dari debit yang di dapat dikalikan rencana lama penyimpanan didalam tempat
penampung sehingga menjadi nilai volume (m3), dengan rumus berikut

Volume (m3) = Debit masuk (m3/dt)x Lama penyimpanan (detik)...........................(2-46)

dari volume yang didapat kemudian digunakan untuk memperkirakan dimensi (H, B, L)
untuk satu bangunan. Dengan mengatahui kapasitas yang diketahui untuk satu bangunan
maka akan dapat diperkirakan jumlah bangunan yang butuh diterapkan sistem pemanen air
hujan sebagai jumlah minimal untuk mengurangi limpasan dan menangani masalah
genangan.
38

Halaman ini sengaja dikosongkan

Anda mungkin juga menyukai