Fungsi dan Prinsip Drainase Perkotaan
Fungsi dan Prinsip Drainase Perkotaan
TINJAUAN PUSTAKA
7
8
Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah
perkotaan yang meliputi :
1. Permukiman
2. Kawasan industri dan perdagangan
3. Kampus dan sekolah
4. Rumah sakit dan fasilitas umum
5. Lapangan olahraga
6. Lapangan parkir
7. Instalasi militer, listrik, telekomunikasi
8. Pelabuhan udara.
Prasarana dan sarana drainase perkotaan terdiri dari bangunan-bangunan seperti
berikut:
1. Saluran Terbuka
2. Saluran Tertutup
3. Gorong-gorong
4. Siphon Drainase
5. Bangunan Terjun
6. Tanggul
7. Bangunan Penangkap Air
8. Pintu Air
9. Kolam Retensi
10. Kolam Tandon
11. Kolam detensi
12. Pompa
13. Rumah Pompa
14. Trash Rack
15. Sumur Resapan
16. Kolam Resapan
17. Jalan Inspeksi
18. Daerah sempadan
19. Bak Pemeriksaan/Man Hole
20. Tali Air/Inlet Street
9
3. Saluran tersier tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran
penangkap menyalurkannya ke saluran sekunder
Dalam perencanaan saluaran drainase dapat dipakai standar yang telah ditetapkan,
baik debit rencana (periode ulang) dan cara analisis yang dipakai, tinggi jagaan, struktur
saluran, dan lain-lain. Berikut standar desain saluran drainase berdasarkan “Pedoman
Drainase Perkotaan dan Standar Desain Teknis” ditunjukan pada Tabel 2.1.
Tabel 2. 1Kriteria Desain Hidrologi Sistem Drainase Perkotaan
Periode ulang Metode perhitungan
Luas DAS (ha)
(tahun) debit banjir
<10 2 Rasional
10-100 2-5 Rasional
101-500 5-20 Rasional
>500 10-25 Hidrograf satuan
Sumber: Suripin (2004. p. 241)
Dalam prinsip drainase ramah lingkungan dilakukan upaya untuk mengelola air
kelebihan (air hujan) dengan berbagai metode diantaranya dengan menampung melalui bak
tandon air, menampung dalam tampungan buatan atau badan air alamiah, meresapkan dan
mengalirkan ke sungai terdekat tanpa menambah beban pada sungai yang bersangkutan, air
tersebut dapat langsung dimanfaatkan atau dimanfaatkan pada musim berikutnya misalnya
untuk sumber air bersih, dapat digunakan untuk mengisi/konservasi air tanah, dapat
digunakan untuk meningkatkan kualitas ekosistem dan lingkungan, dan dapat digunakan
sebagai sarana untuk mengurangi genangan dan banjir yang ada, serta senantiasa
memelihara sistem tersebut sehingga berdaya guna secara berkelanjutan.
Ada beberapa metode drainase ramah lingkungan yang dapat dipakai di Indonesia,
diantaranya adalah metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode river side
polder dan metode pengembangan areal perlindungan air tanah (ground water protection
area) (Menteri Pekerjaan Umum, 2014).
service).(Soewarno, 1995. p. 202) Dalam perhitungan data hujan yang hilang pada
penelitian ini akan digunakan metode normal rasio.
Persamaan untuk Normal Ratio Methodsebagai berikut :
1 n An x
Dx
n i 1
di
Ani
............................................................................................................(2-1)
dengan :
Dx = data tinggi hujan harian maksimum di stasiun x
n = jumlah stasiun di sekitar x untuk mencari data di x
di = data tinggi hujan harian maksimumdi stasiun i
Anx = tinggi hujan rata-rata tahunan di stasiun x
Ani = tinggi hujan rata-rata tahunan di stasiun sekitar x
thitung
X 2 X1
0,5 .................................................................................................(2-2)
1 1
N1 N 2
2 2 0,5
.............................................................................................(2-3)
N1S1 N 2 S2
N1 N 2 2
0,5
( X1i X1 ) 2 ...........................................................................................(2-4)
S1
N1 1
0,5
( X 21i X 2 ) 2 .......................................................................................(2-5)
S2
N2 1
dengan :
t : variabel –t terhitung.
X1 : rata-rata hitung sampel ke.l.
Sx 2
Fhitung
Sy 2 .................................................................................................................(2-8)
dengan :
F : variabel –Fterhitung.
2
Y : Jumlah sampe set Y
2
X : Jumlah sampe set X
2.3.5 Uji Konsistensi Data dengan Metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sum)
Uji konsistensi berarti menguji kebenaran data lapangan yang tidak dipengaruhi oleh
kesalahan pada saat pengiriman atau saat pengukuran, data tersebut harus betul-betul
menggambarkan fenomena hidrologi seperti keadaan sebenarnya di lapangan. Dengan kata
lain data hidrologi disebut tidak konsisten apabila terdapat perbedaan antara nilai
pengukuran dengan nilai sebenarnya (Soewarno, 1995. p. 23) Pemindahan alat penakar
hujan, tertutupnya alat penakar hujan oleh vegertasi atau bentuk peghalang lainnya dapat
mengakibatkan perubahan data curah hujan yang tercatat. Uji konsistensi data
dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran data lapangan yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor :
Spesifikasi alat penakar berubah
Tempat alat ukur dipindah
Perubahan lingkungan disekitar alat penakar.
(Kamiana, 2011. p. 16)
Dalam penelitian ini data curah hujan yang digunakan adalah berasal dari dua stasiun
hujan sehingga di lakukan uji konsistensi dengan metode RAPS(Rescaled Adjusted Partial
Sums).Dalam metode ini, konsistensi data hujan ditunjukan dengan nilai kumulatif
penyimpangan terhadap nilai rata-rata berdasarkan persamaan berikut :
1
= ..............................................................................................(2-11)
Sk * 2
Dy 2
n ........................................................................................................(2-13)
Sk *
Sk * *
Dy ........................................................................................................(2-14)
n : jumlah data X
Dy : simpangan rata-rata
Q : nilai statistik
R : nilai statistik
Bandingkan untuk jumlah data (n) dan derajat kepercayaan tertentu, nilai-nilai
dibawah ini:
Qterhitung dengan Qtabel
Rterhitung dengan Rtabel
Syarat analisis diterima (masih dalam batasan konsisten) jika nilai Q/(n0.5) dan
R/(n0.5) hitung lebih kecil dari nilai Q/(n0.5) dan R/(n0.5) Nilai Qtabel dan Rtabel
ditunjukan pada Tabel 2.3.
Q R
Tabel 2. 3 Nilai dan
n n
Q R
N n n
90% 95% 99% 90% 95% 99%
10 1,05 1,14 1,29 1,21 1,28 1,38
20 1,1 1,22 1,42 1,34 1,43 1,6
30 1,12 1,24 1,46 1,4 1,5 1,7
40 1,13 1,26 1,5 1,42 1,53 1,74
50 1,14 1,27 1,52 1,44 1,55 1,78
100 1,17 1,29 1,55 1,5 1,62 2,86
∞ 1,22 1,36 1,63 1,62 1,75 2
Sumber : Sri Harto,Br (1993) dalam Kamiana (2011. p. 201)
P1 P2 P3 .... Pn
P ...................................................................(2-17)
n
dengan P1, P2,....., Pn adalah curah hujan yang tercatat di pos penakar hujan 1,2,...,n
dan n adalah banyakanya pos penakar hujan (Suripin, 2004. p.27).
Analisis frekuensi diperlukan seri data hujan diperoleh dari Pos penakar hujan,
baik yang manual maupun yang otomatis. Analisis frekuensi ini didasarkan pada sifat
statistik data kejadian yang telah lalu untuk memperoleh probabilitas besaran hujan dimasa
yang akan datang. Dengan anggapan bahwa sifat statistik kejadian hujan yang akan datang
masih sama dengan sifat statistik kejadian hujan masa lalu (Suripin, 2004. p.32).
Analisis frekuensi atau distribusi frekuensi digunakan untuk memperoleh probabilitas
besaran curah hujan rencana dalam berbagai periode ulang. Dasar perhitungan distribusi
frekuensi adalah parameter yang berkaitan dengan analisis data yang meliputi ratarata,
simpangan baku, koefisien variasi, dan koefisien skewness (kecondongan atau
kemiringan)(Suripin, 2004. p.32).
Berikut parameter yang digunakan dalam analisa frekuensi meliputi parameter nilai-
nilai rata-rata (X), standar deviasi (S), koefisient variasi (Cv), koefisien
kemiringan/skewness (Cs), dan koefisinet kurtosis (Ck) ditunjukan pada Tabel 2.5.
Tabel 2. 5 Parameter Statistik dalam Analisa Frekuensi
No. Parameter Sampel Populasi
= ( )
1
1 Rata-rata =
= ( )
Simpangan baku 1
2 = ( − ̅) = { [ − ) ]}
(Standar deviasi) −1
3 Koefisien variasi = =
∑ ( − ) [ − ) ]
4 Koefisien skewness = =
( − 1)( − 2)
Sumber : Suripin (2004. p.34)
Dalam analisis frekuensi data hujan atau data debit guna memperoleh nilai hujan
rencana atau debit rencana, dikenal beberapa distribusi probabilitas kontinu yang sering
diguakan yaitu: Gumbel, Normal, Log Normal dan Pearson Type III. Penentuan jenis
distribusi probabilitas yang sesaui dengan data dilakukan dengan mencocokan parameter
data tersebut dengan syarat masing masing jenis distribusi seperti pada Tabel 2.6.
19
∑ |log | ...............................................................................(2-19)
log ̅ =
( )
∑( ̅)
...................................................................(2-21)
Cs = ( )( )
Hitung logaritma huan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus :
..................................................................(2-22)
LogXt Log X K . S
20
dengan :
X2 : nilai Chi-Kuadrat terhitung
Ef : frekuensi (banyak pengamatan) yang diharapkan sesuai dengan pembagian
kelasnya
Of : frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama
N : jumlah sub kelompok dalam satu group
Nilai x2 yang diperoleh harus lebih kecil dari ilai X2cr (Chi-Kuadrat kritik), untuk
suatu derajat nyata tertentu, yang serig diambil 5%. Derajat kebebasan dihitung dengan
persamaan :
.............................................................................................(2-24)
DK = K – (α +1)
21
dengan :
DK : derajat kebebasan
K : banyaknya kelas
α : banyaknya keterikatan (parameter), untuk uji Chi-Kuadrat adalah 2
Disarankan agar banyaknya kelas tidak kurang dari 5 dan frekuensi absolut tiap kelas
tidak kurang dari 5 pula (Triatmodjo, 2013. pp. 238-239).
+1 ................................................................................................. (2-25)
( )=
dengan :
n = jumlah data
i = nomor urut data hujan
22
Apabila D lebih kecil dari Do maka distribusi teoritis yang digunakan untuk
menentukan persamaan distribusi dapat diterima, apabila D lebih besar dari Do maka
distribusi teoritis yang digunakan untuk menentukan persamaan distribusi tidak dapat
diterima. (Soewarno, 1995. p.199).
dengan:
Q = debit banjir maksimum (m3/dt)
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas daerah tangkapan (km2)
C = koefisien aliran yang tergantung pada jenis permukaan lahan yang nilainya
diberikan pada tabel 2.8
jatuh dari atmosfir (hujan total yang terjadi). Besaran ini dipengaruhi oleh tata guna lahan,
kemiringan lahan, jenis dan kondisi tanah. Pemilihan koefisien pengaliran harus
memperhitungkan kemungkinan adanya perubahan tata guna lahan di kemudian hari. Nilai
koefisien pengaliran untuk metode rasional tertera pada tabel 2.8.
Tabel 2. 8 Koefisien Limpasan untuk Metode Rasional
Deskripsi lahan/ karakter permukaan Koefisien limpasan C
Perkotaan 0,70-0,95
Business
Pinggiran 0,50-0,70
Rumah Tunggal 0,30-0,50
Multiunit, terpisah 0,40-0,60
Perumahan Multiunit, Tergabung 0,60-0,75
Perkampungan 0,25-0,40
Apartemen 0,50-0,70
Ringan 0,50-0,80
Industri
Berat 0,60-0,90
Aspal dan beton 0,70-0,65
Perkerasan
Batu bata, paving 0,50-0,70
Atap 0,75-0,95
Datar 2 % 0,05-0,10
Halaman, tanah berpasir Rerata, 2-7% 0,10-0,15
Curam, 7% 0,15-0,20
Datar 2 % 0,13-0,17
Halaman, tanah berat Rata-rata, 2-7% 0,18-0,22
Curam, 7% 0,25-0,35
Halaman kereta api 0,10-0,35
Taman tempat bermain 0,20-0,35
Taman, pekuburan 0,10-0,25
Datar, 0-5% 0,10-0,40
Hutan Bergelombang, 5-10% 0,25-0,50
Berbukit, 10-30 % 0,30-0,60
Sumber : McGuen, 1989 dalam Suripin (2004. p.80)
25
dengan :
C =koefisien pengaliran rata-rata dari beberapa tipe kondisi permukaan
C1, C2, C3, …= koefisien pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi permukaan
A1, A2, A3, …= luas daerah pengaliran yang diperhitungkan sesuai dengan kondisi
permukaan
(Menteri Pekerjaan Umum, 2014, p.6).
b. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan yang jatuh untuk
mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS ( titik kontrol) setelah tanah
menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Salah satu metode untuk
memperkirakan waktu konsetrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh Kiprich (1940),
yang dapat ditulis sebagai berikut :
0 , 385
0,87 xL2
Tc ......................................................................................... (2-29)
1000 xS
Dengan Tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama dari hulu
sampai penguras dalam km, dan S kemiringan ratarata saluran utama dalam m/m. (Suripin,
2004. p. 82)
c. Intensitas hujan
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Sifat umum
hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung makin tinggi dan
makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya. Hubungan antara intensitas,
lama hujan, dan frekuensi hujan biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas-Durasi-
Frekuensi (IDF= Intensity-Duration-Frequency Curve). Diperlukan data hujan jangka
pendek, misalnnya 5 menit, 10 menit, 30 menit, 60 menit, dan jam-jaman untuk
26
membentuk lengkung IDF. Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari pos penakar
hujan otomatis. Selanutnya berdasarkan data hujan jangka pendek tersebut lengkung IDF
dapat dibuat dengan salah satu dari beberapa persamaan Talbot, Sherman, atau Ishiguro.
(Suripin, 2004. p. 66)
Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian,
maka intensitas hujan dapat dihitung dengan rumus Mononobe sebagai berikut :
2/3
R 24 24
I=
24 tc ......................................................................................... (2-30)
dengan:
I = intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
R24 = curah hujan maksimum harian alam 24 jam (mm)
tc = lamanya hujan
(Suripin, 2004. pp. 67-68)
Pada penelitian ini digunakan rumus Mononobe karena lebih cocok dengan data yang
tersedia.
Pn = Po (1 + r)n
.............................................................................. (2-31)
dengan:
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n
Po = jumlah penduduk pada awal tahun
r = angka pertumbuhan penduduk
n = interval waktu (tahun)
dengan:
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n
Po = jumlah penduduk pada awal tahun
m = interval waktu
e = bilangan logaritma
dengan Qair kotor dalam (liter/hari), jumlah penduduk (Pn ) dalam jiwa dan dan kebutuhan
air bersih rata-rata dalam liter/hari/jiwa.
terhadap saluran drainase mencakup, kapasitas tampungan dan pengaliran debit, dan
sedimentasi.
2.8 Analisa Hidrolika
Analisa hidrolika bertujuan untuk mengevaluasi kondisi saluran, mengetahui
kemampuan penampang dalam menampung debit rencana. Kriteria perencanaan hidrolika
ditentukan oleh: bentuk saluran drainase, kecepatan saluran rata-rata, kekasaran dinding
saluran, pengempangan (back water effect), penampang saluran terbaik/ekonomis, ruang
bebas saluran (freeboard), kecepatan minimum dan saluran dengan berbagai lapisan. Hasil
dari analisa hidrolika untuk evaluasi saluran adalah berupa perbandingan antara Qsaluran
(kapasitas tampung saluran ) dengan Qrencana apabila Qsaluran > (lebih besar) dari pada
Qrencana maka kapasitasnya masih cukup.
Bentuk saluran drainase umumnya berbentuk trapesium, segiempat, lingkaran dan
segitiga.
a. Perhitungan Luas Profil Basah Berbentuk segiempat
= ......................................................................................................................(2-35)
= . . ...........................................................................................................(2-36)
= .............................................................................................................................(2-37)
P = b+2h ........................................................................................................................(2-38)
dengan :
V : kecepatan aliran dalam m/dt
n : koefisien Manning, kriteria ditunjukan pada Tabel 2.9
R : jari-jari hidrolis dalam m;
A : profil basah saluran dalam m²;
P : keliling basah dalam m;
h : tinggi muka air
I : kemiringan dasar saluran
Tabel 2. 9 Koefisien Manning
Bahan Koefisien Manning, n
Besi tuang dilapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu semen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2014
= . . .................................................................................................(2-40)
dengan :
Qt : debit total dalam m³/dt
30
terjadi kelebihan air yang tidak dapat tertampung dalam badan air yang ada pada sungai,
danau, situ, waduk buatan, sehingga meluap menjadi banjir. Dua kondisi yang sering
bertentangan ini dapat bermanfaat bila ditangani secara terpadu dan bersinergi (mengingat
begitu besarnya potensi sumberdaya air yang terbuang percuma menuju ke laut lepas).
Menampung air hujan merupakan salah satu alternatif yang efisien yang dapat di lakukan
untuk menyelesaikan permasalahan ini. (Amin et al, 2008)
a. Definisi
Teknik pemanenan air hujan atau disebut juga dengan istilah rain harvesting
didefinisikan sebagai suatu cara pengumpulan atau penampungan air hujan atau aliran
permukaan pada saat curah hujan tinggi untuk selanjutnya digunakan pada waktu air hujan
rendah. Dilihat dari ruang lingkup implementasinya, teknik ini dapat digolongkan dalam 2
(dua) kategori, yaitu :
1. Teknik pemanenan air hujan dengan atap bangunan (roof top rain harvesting),
2. Teknik pemanenan air hujan (dan aliran permukaan) dengan bangunan reservoir,
seperti dam parit, embung, kolam, situ, waduk, dan sebagainya.
Perbedaan dari kedua kategori di atas adalah bahwa untuk kategori yang pertama, ruang
lingkup implementasinya adalah pada skala individu bangunan rumah dalam suatu wilayah
permukiman ataupun perkotaan ; sementara untuk kategori yang kedua skalanya lebih luas
lagi, biasanya untuk suatu lahan pertanian dalam suatu wilayah DAS ataupun sub DAS
(Harsoyo, 2010. pp. 33-34).
Gambar 2. 6 Sistem Pemanen Air Hujan di Rumah Sakit Hauber Davidson, Australia
Sumber : Said dan Widayat (2014 .p.92)
Gambar 2. 9 Downspout
Sumber : [Link]
5. Debris Traps dan tank screen atau perangkap adalah filter untuk menyaring
sedimen atau puing yang berukuran lebih kecil yang tidak tersaring pada gutter
guard agar tidak masuk ke kolam/bak penampung, biasanya di terapkan pada pipa
downspout atau sebagai saringan pada tangki
6. Filter sedimen akhir, biasanya diperlukan untuk pemanfaatan air hujan untuk air
minum dengan komponen filter yang menyesuaikan sehingga output air dapat
memenuhi syarat untuk air minum.
dari volume yang didapat kemudian digunakan untuk memperkirakan dimensi (H, B, L)
untuk satu bangunan. Dengan mengatahui kapasitas yang diketahui untuk satu bangunan
maka akan dapat diperkirakan jumlah bangunan yang butuh diterapkan sistem pemanen air
hujan sebagai jumlah minimal untuk mengurangi limpasan dan menangani masalah
genangan.
38