[Link] [Link].
id
xxvii
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Problem Solving
1. Pengertian Problem Solving
Masalah selalu ada dalam setiap jengkal kehidupan manusia baik pada
masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa maupun masa tua. Dengan
permasalahan-permasalahan yang ada dan dihadapi akan membuat manusia
semakin berupaya untuk mengembangkan daya pikir maupun
mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Menurut Kneeland (2001)
masalah adalah kesenjangan antara apa yang terjadi dengan segala hal dan apa
yang seharusnya terjadi dengan hal-hal tersebut. Masalah secara sederhana
dapat dijelaskan sebagai setiap hal yang dapat menghambat tercapainya tujuan
(Glover dalam Cahyono, dkk 2002).Masalah didefinisikan oleh D’Zurilla, dkk
(1989) sebagai situasi atau tugas yang menuntut respon terhadap fungsi
adaptif namun tidak segera tersedianya respon efektif karena adanya beberapa
hambatan. Hambatan itu sendiri dapat berupa masalah fisik, ekonomi, maupun
sosial. Setiap individu pasti menginginkan keluar dari masalah tersebut dan
segera menemukan penyelesaian ideal terhadap masalah yang menghambat
dirinya.
Problem solving merupakan penilaian menyeluruh individu mengenai
kemampuan khusus dalam pemecahan masalah yang terjadi dalam hidupnya
(Heppner dalam MacNair and Elliot, 1992). Neal dan Heppner (dalam Salami
commit to user
9xxvii
[Link] [Link]
xxviii
10
dan Oyesoji, 2006) mengungkapkan bahwa individu yang mampu
menyelesaikan masalahnya dengan efektif mempunyai kemampuan sosial
yang lebih baik dan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Problem solving
dapat dilakukan dengan insight atau pemahaman, Widayatun (1999)
menyatakan problem solving sebagai suatu proses berpikir, belajar, mengingat
serta menjawab atau merespon dalam bentuk pengambilan keputusan.
Menurut Piaget (dalam Davidoff, 1988) problem solving dapat didefinisikan
sebagai suatu usaha yang cukup keras, yang melibatkan suatu tujuan dan
hambatan-hambatannya. D’Zurilla & Maydeu-Olivares (1995) mendefinisikan
problem solving yaitu pengarahan diri individu pada proses perilaku kognitif
yang melibatkan kesadaran, pemikiran rasional, dan aktivitas dalam usahanya
untuk mengidentifikasi atau menemukan cara-cara yang efektif atau adaptif
dalam mengatasi permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Individu yang memiliki satu tujuan akan menghadapi persoalan, dengan
demikian individu tersebut menjadi terangsang untuk mencapai tujuan itu dan
mengusahakan sedemikian rupa sehingga persoalan itu dapat diatasi.
Selain memahami masalah, menemukan solusi atau jalan keluar yang
ideal merupakan substansi penting dalam problem solving. Seperti yang
dikemukakan oleh Solso (1995) problem solving merupakan pemikiran
langsung terhadap permasalahan khusus yang meliputi respon-respon terhadap
permasalahan yang timbul, sehingga diperoleh cara yang tepat untuk mencapai
suatu tujuan. Chauhan (1987) menambahkan bahwa problem solving
commit to user
xxviii
[Link] [Link]
xxix
11
menghendaki adanya prediksi, analisis, dan fakta-fakta serta prinsip-prinsip
mengembangkan hubungan sebab akibat pada fenomena yang terjadi.
Dari beberapa pengertian tentang problem solving yang dikemukakan
oleh beberapa tokoh di atas, penelitian ini menggunakan definisi problem
solving yang dikemukakan oleh D’Zurilla & Maydeu-Olivares (1995) yaitu
pengarahan diri individu pada proses perilaku kognitif yang melibatkan
kesadaran, pemikiran rasional, dan aktivitas dalam usahanya untuk
mengidentifikasi atau menemukan cara-cara yang efektif atau adaptif dalam
mengatasi permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
2. Karakteristik Problem Solving
MacNair & Elliot (1992) menjelaskan karakeristik individu dengan
problem solving yang efektif:
a. Memiliki kontrol internal yang baik
b. Membuat sedikit atribusi untuk menyalahkan diri sendiri
c. Memiliki konsep diri yang positif dan berpikir secara rasional
d. Menikmati proses berpikir dan aktivitas kognitif lainnya
e. Terkait dengan banyak kebiasaan belajar dan sikap yang adaptif
f. Memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan
g. Memiliki harapan yang tinggi dan tujuan yang jelas
Karakteristik individu dengan problem solving yang efektif
dikemukakan oleh Johnson (2005) sebagai berikut:
a. Kesadaran dan kepekaan terhadap masalah interpersonal
b. Mampu untuk menggeneralisasikan situasi
commit to user
xxix
[Link] [Link]
xxx
12
c. Mampu membangun langkah-langkah untuk menemukan solusi ideal dan
mengidentifikasi hambatan-hambatan
d. Mempertimbangkan efek perilakunya terhadap orang lain
e. Mempertimbangkan motivasi diri dengan motivasi orang lain
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan karakteristik problem solving
meliputi memiliki kontrol internal yang baik, membuat sedikit atribusi untuk
menyalahkan diri sendiri, memiliki konsep diri yang positif dan berpikir secara
rasional, menikmati proses berpikir dan aktivitas kognitif lainnya, terkait
dengan banyak kebiasaan belajar dan sikap yang adaptif, memiliki kepercayaan
diri dalam mengambil keputusan, memiliki harapan yang tinggi dan tujuan
yang jelas, Kesadaran dan kepekaan terhadap masalah interpersonal, mampu
untuk menggeneralisasikan situasi, mampu membangun langkah-langkah untuk
menemukan solusi ideal dan mengidentifikasi hambatan-hambatan,
mempertimbangkan efek perilakunya terhadap orang lain, dan
mempertimbangkan motivasi diri dengan motivasi orang lain.
3. Aspek-aspek Problem Solving
Menyelesaikan masalah memerlukan suatu pemikiran yang terarah
secara langsung untuk menemukan solusi atau jalan keluar dari suatu
permasalahan, sehingga memerlukan aspek-aspek yang mendukung untuk
menyelesaikan suatu permasalahan.
commit to user
xxx
[Link] [Link]
xxxi
13
Aspek problem solving menurut Heppner dan Petersen (1981) yaitu:
a. Kepercayaan dalam penyelesaian masalah (problem solving confidence)
Pemecahan masalah ini mengacu pada kepercayaan atau keyakinan
yang efektif dalam mengatasi suatu permasalahan. Seperti contoh ketika
dihadapkan pada suatu permasalahan seorang individu akan mempunyai
kepercayaan akan mampu mengatasi pemasalahannya itu atau tidak. Jika
seorang individu yakin akan dapat mengatasi masalahnya dengan baik maka
permasalahan yang dihadapi akan tertangani dengan baik. Akan tetapi kalau
seorang individu tidak yakin untuk dapat menyelesaikan permasalahannya
dengan baik maka permasalahan tidak dapat terselesaikan dengan baik.
b. Gaya dalam pemecahan masalah (approach-avoidance style)
Gaya mengacu pada suatu kecenderungan umum untuk mendekati
atau menghindari aktivitas penyelesaian masalah. Semakin individu
mendekati masalah, individu akan mempunyai problem solving yang efektif.
Sebaliknya, individu yang cenderung menghindari aktivitas penyelesaian
masalah, individu mempunyai problem solving yang kurang efektif.
c. Kendali pribadi (personal control)
Kendali pribadi digambarkan sebagai suatu kepercayaan atau
keyakinan individu untuk dapat bertanggung jawab dan mengontrol emosi
dan perilaku dalam menyelesaikan masalah.
commit to user
xxxi
[Link] [Link]
xxxii
14
Menurut D’Zurilla & Maydeu-Olivares (1995), aspek dalam problem
solving, yaitu:
a. Orientasi positif pada masalah (positive problem orientation)
Suatu konstruksi kognitif individu yang dibangun berdasar konsep-
konsep positif, yaitu memberikan sudut pandang positif mengenai suatu
permasalahan
b. Orientasi negatif pada masalah (negative problem orientation)
Merupakan suatu kondisi emosional kognitif yang mencerminkan
suatu kondisi negatif suatu [Link] cenderung memberikan
sudut pandang negatif suatu permasalahan, misalnya memandang suatu
masalah adalah sebagai suatu ancaman dan hambatan.
c. Pemecahan masalah secara rasional (rational problem solving)
Aspek pemecahan masalah secara rasional mengacu pada
kemampuan individu untuk berpikir secara logis dan sistematis mengenai
permasalahan dan pemecahannya.
d. Gaya impulsif (impulsive style)
Aspek ini mencerminkan pola pemecahan masalah yang mengacu
pada tindakan-tindakan impulsif seperti ceroboh dan tergesa-gesa.
e. Gaya menghindari masalah (avoidance style)
Aspek ini merefleksikan kurangnya keinginan memecahkan masalah,
ditandai dengan adanya prokrastinasi (penundaan), pasif atau tidak bertindak
dan ketergantungan.
commit to user
xxxii
[Link] [Link]
xxxiii
15
Anderson (dalam Suharnan, 2005) mengemukakan tiga aspek problem
solving, yaitu:
a. Sikap (attitudes)
Merupakan cara seseorang dalam memandang permasalahannya
secara positif, meliputi:
1) Berpikir positif terhadap permasalahannya. Masalah ada untuk dihadapi
dan dengan adanya suatu masalah individu dapat menemukan hambatan-
hambatan yang ada pada dirinya
2) Berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah. Hal ini
merupakan keyakinan individu terhadap kekuatan dirinya sendiri bahwa
ia mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan
3) Berpikir secara sistematis, yaitu melakukan langkah demi langkah suatu
penyelesaian untuk menyelesaikan masalah tersebut
b. Tindakan (action)
Yaitu bagaimana seseorang berusaha untuk memecahkan
permasalahan yang sedang dihadapi, meliputi:
1) Merumuskan masalahnya, yaitu bagaimana seseorang memahami pokok
permasalahan yang sedang dihadapi dan situasi yang diinginkan
nantinya
2) Mencari dan mengumpulkan fakta-fakta, yaitu individu menemukan
sumber fakta yang cukup kemudian memikirkan secara teliti fakta yang
dikumpulkan
3) Memfokuskan pikiran pada fakta-fakta yang penting
commit to user
xxxiii
[Link] [Link]
xxxiv
16
4) Menemukan ide, yaitu memikirkan beberapa ide untuk memecahkan
masalah kemudian memilih salah satu ide yang tepat sesuai dengan
masalah yang sedang dihadapi
5) Memilih ide terbaik dengan mempertimbangkan beberapa kriteria
penting
Berdasarkan pemaparan beberapa tokoh di atas tentang aspek-aspek
problem solving, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek problem solving yang
dikemukakan oleh D’Zurilla & Maydeu-Olivares yaitu orientasi positif pada
masalah (positive problem orientation), orientasi negatif pada masalah
(negative problem orientation), pemecahan masalah secara rasional (rational
problem solving), gaya impulsif (impulsive style), dan gaya menghindari
masalah (avoidance style) merupakan penjabaran dari aspek problem solving
yang dikemukakan oleh Heppner dan Anderson.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Problem Solving
Ester (Walgito, 2002) mengemukakan bahwa inteligensi mempengaruhi
pemecahan masalah. Dalam memecahkan masalah, cepat atau lambatnya
tergantung dari tingkat inteligensi individu yang bersangkutan. Kreativitas
merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam
memandang masalah dan solusinya (Munandar, 1998). Semakin tinggi tingkat
kreativitas individu, semakin banyak pula ide atau alternatif yang ditemukan.
Menurut Mappiare (1982) ada dua faktor yang mempengaruhi problem
solving, yaitu :
commit to user
xxxiv
[Link] [Link]
xxxv
17
a. Usia. Semakin bertambah usia individu maka semakin matang
kepribadiannya dan kemampuan menyelesaikan masalah juga bertambah.
Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha menyelesaikan masalah
yang merupakan hasil dari kemampuan berpikir lebih sempurna yang
ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional.
b. Pengalaman. Kemampuan pemecahan masalah akan meningkat seiring
dengan bertambahnya pengalaman yang di dapat. Secara kognitif,
pengalaman membantu individu memahami suatu masalah dari berbagai
sudut pandang, baik pengalaman yang dialami sendiri (direct) atau
pengalaman yang dialami orang lain (indirect).
Menurut Andayani dan Afiatin (1991) ada faktor-faktor yang
mempengaruhi problem solving :
a. Usia dan tingkah laku coping. Bertambahnya usia maka bertambah pula
pengalaman hidup. Pengalaman berperan dalam pembentukan tingkah laku
coping. Individu cenderung melakukan coping saat menghadapi masalah
yang pernah dihadapi sebelumnya dan akan mengulangnya jika masalah
tersebut dapat diatasi dengan tingkah laku tersebut.
b. Tingkat pendidikan. Pendidikan berfungsi antara lain meningkatkan atau
memaksimalkan perkembangan kognisi individu. Dengan pendidikan formal
diharapkan seseorang dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya
semaksimal mungkin sesuai dengan usia perkembangannya.
Rakhmat (2001) mengemukakan bahwa pemecahan masalah
dipengaruhi oleh faktor situasional dan personal. Faktor situasional mengacu
commit to user
xxxv
[Link] [Link]
xxxvi
18
pada stimulus yang menimbulkan masalah dan sifat-sifat masalah. Faktor
personal terbagi menjadi dua subfaktor, yaitu faktor biologis dan faktor
sosiopsikologis. Faktor biologis meliputi kondisi fisik individu, misalnya saat
dalam kondisi kelelahan atau lapar maka individu akan mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan suatu masalah. Faktor sosiopsikologis yang
mempengaruhi problem solving, yaitu:
a. Motivasi. Motivasi yang rendah dapat mengalihkan perhatian, seorang
individu yang memiliki motivasi yang rendah maka perhatiannya dapat
beralih dari usaha yang dilakukan dalam pemecahan masalah, sedangkan
individu yang mempunyai motivasi yang tinggi akan berusaha mencari
solusi bagi setiap permasalahan.
b. Kepercayaan dan sikap yang tepat. Kepercayaan terhadap kemampuan diri
dan sikap individu yang mau terbuka pada orang lain akan menambah
informasi baru yang akan memudahkan pemecahan masalah, sedangkan
ketidakpercayaan dan sikap tertutup akan membuat individu sulit dalam
pemecahan masalah.
c. Kebiasaan. Kecenderungan untuk mempertahankan pola berpikir tertentu
atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang
berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas dapat menghambat
pemecahan masalah yang efisien.
d. Emosi. Dalam menghadapi situasi tanpa sadar emosi sering terlibat
didalamnya sehingga menyebabkan seseorang berpikir secara tidak efektif.
Manusia yang utuh tidak dapat mengesampingkan emosi, emosi bukan
commit to user
xxxvi
[Link] [Link]
xxxvii
19
hambatan utama tetapi bila mencapai intensitas tinggi akan menjadi stres
yang menimbulkan kesulitan berpikir efisien dan menghambat pemecahan
masalah.
Berdasarkan uraian di atas faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan pemecahan masalah meliputi inteligensi, kreativitas, usia,
pengalaman, tingkah laku coping, tingkat pendidikan, faktor situasional, faktor
biologis, motivasi, kepercayaan dan sikap yang tepat, fleksibilitas, danemosi.
5. Tahapan dalam Problem Solving
Individu dalam kenyataannya tidak selalu mampu memecahkan
masalah yang datang padanya. Dalam menghadapi masalah, individu
adakalanya menggunakan suatu cara lain walaupun menghadapi masalah yang
sama.
Menurut Nezu & D’Zurilla (dalam Good, 2003), terdapat limatahapan
dalam problem solving, yaitu:
a. Orientasi pada masalah. Langkah ini meliputi bagaimana individu bereaksi
terhadap kondisi bermasalah, yaitu suatu situasi yang tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan. Reaksi individu dapat berupa reaksi positif mapun
negatif, misalnya perhatian, kecemasan, asumsi, kepercayaan, motivasi, dan
harapan individu terhadap suatu masalah.
b. Mendefinisikan dan merumuskan masalah. Langkah ini mencakup
pemahaman individu terhadap suatu masalah dan menetapkan tujuan yang
nyata dalam pemecahan masalah tersebut.
commit to user
xxxvii
[Link] [Link]
xxxviii
20
c. Perumusan strategi. Setelah masalah sudah didefinisikan secara efektif,
langkah selanjutnya adalah merencanakan strategi untuk menyelesaikan
masalahnya. Langkah ini membutuhkan usaha keras dan kreativitas individu
dalam merumuskan alternatif solusi terbaik dalam memecahkan masalah.
d. Menentukan solusi pemecahan masalah. Individu menentukan solusi yang
ideal dengan cara membandingkan dan memprediksi efektivitas serta
konsekuensi masing-masing alternatif solusi.
e. Evaluasi terhadap solusi yang telah dilakukan. Pada langkah ini, individu
mengevaluasi kembaliefektivitas solusi yang telah dilakukan dengan cara
membandingkan konsekuensi yang terjadi dengan konsekuensi yang
diprediksi sebelum solusi dilakukan.
Kneeland (2001) mengemukakan 6 tahapan dalam proses pemecahan
masalah, yaitu:
a. Menyadari adanya permasalahan. Sesuatu yang menarik perhatian yang
memerlukan perhatian secara khusus.
b. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan. Menyelidiki lingkungan,
menanyakan beberapa pertanyaan, dan mendapatkan fakta-fakta dari orang
yang penting.
c. Mendefinisikan permasalahan. Memahami masalah secara keseluruhan dan
tahu apa permasalahan itu.
d. Mengembangkan pilihan-pilihan solusi.
e. Memilih solusi terbaik.
f. Menerapkan solusi.
commit to user
xxxviii
[Link] [Link]
xxxix
21
Dari pendapat beberapa tokoh di atas, dapat dirangkum tahap-tahap
pemecahan masalah meliputi kesadaran akan adanya masalah, orientasi pada
masalah, mendefinisikan dan merumuskan masalah, mengumpulkan fakta-fakta
yang relevan, merumuskan dan mengembangkan strategi, menentukan solusi
ideal, menerapkan solusi, dan mengevaluasi solusi yang telah dilakukan.
B. Kestabilan Emosi
1. Pengertian Kestabilan Emosi
Menurut Chaplin (2001), kestabilan emosi (emotional stability) ialah
terbebas dari sejumlah besar variasi atau perselang-selingan dalam suasana
hati, sifat karakteristik orang yang memiliki kontrol emosi yang baik. Kontrol
emosi merupakan usaha di pihak individu untuk mengatur dan menguasai
emosi sendiri atau emosi orang lain. Sedangkan ketidakstabilan emosi
merupakan satu kecenderungan untuk menunjukkan perubahan yang cepat dan
tidak dapat diduga-duga atau diramalkan dalam emosionalitas.
Morgan (1986) menjelaskan bahwa, kestabilan emosi merupakan suatu
keadaan emosi seseorang yang apabila mendapat rangsangan secara emosional
dari luar tidak menunjukkan gangguan emosional seperti depresi dan
kecemasan. Sementara itu, Sharma (2006) menjelaskan bahwa, kestabilan
emosi berarti kondisi yang benar-benar kokoh, tidak mudah berbalik atau
terganggu, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu untuk menghadapi
segala sesuatu dengan kondisi emosi yang tetap atau sama. Senada dengan
pernyataan tersebut, Smitson (dalam Aleem, 2005) menyebutkan bahwa
commit to user
xxxix
[Link] [Link]
22xl
kestabilan emosi merupakan proses dimana kepribadian secara
berkesinambungan berusaha mencapai kondisi emosi yang sehat dan selaras
dalam jiwa dan raga.
Kestabilan emosi adalah keadaan dimana seseorang dapat menampilkan
reaksi yang tidak berlebihan atas rangsangan yang diterima, terutama dalam
menghadapi masalah-masalah. Kestabilan emosi ini merupakan suatu tahapan
yang harus dicapai oleh seseorang untuk lebih tenang dalam menghadapi
segala permasalahan, mencakup kemampuan untuk mengungkapkan emosi
dengan melakukan kendali yang tidak berlebihan terhadap gejala-gejala yang
muncul (Irma, 2003). Kestabilan emosi berperan penting dalam pembentukan
kepribadian, seperti yang dikemukakan Gerungan (1978) bahwa kestabilan
emosi merupakan kematangan emosional yang berdasarkan kesadaran yang
mendalam terhadap kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, cita-cita dan
alam perasaannya serta pengintegrasian semuanya itu ke dalam suatu
kepribadian yang bulat dan harmonis.
Dari beberapa pengertian kestabilan emosi yang dikemukakan oleh
beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan kestabilan emosi adalah suatu
kondisi emosi yang tetap, tidak mudah berubah, tidak labil, tidak mudah
mengalami gangguan emosional, memiliki kontrol emosi yang baik dan
mampu mengendalikan emosi secara tepat ketika menghadapi kondisi yang
menyenangkan ataupun ketika menghadapi masalah dalam hidup.
commit to user
xl
[Link] [Link]
xli
23
2. Karakeristik Kestabilan Emosi
Menurut Aleem (2005) karakteristik kestabilan emosi meliputi:
a. Mampu merespon perubahan situasi dengan baik
b. Mampu menunda respom, terutama respon negatif
c. Bebas dari rasa takut yang tidak beralasan
d. Mau mengakui kesalahan tanpa merasa malu
Individu yang mempunyai kestabilan emosi dikarakteristikan menurut
Albin (1990)antara lain:
a. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif individu tentang dirinya
bahwaia mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukan.
b. Optimis yaitu sikap positif individu yang selalu berpandangan baik dalam
menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya.
c. Objektif yaitu sikap individu yang memandang permasalahan ataupun
sesuatu sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut
kebenaran pribadi atau yang menurut dirinya sendiri benar.
d. Bertanggung jawab yaitu kesediaan individu untuk menanggung segala
sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.
e. Rasional dan realistis yaitu kemampuan menganalisis suatu masalah, seusatu
hal, sesuatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima
oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik
kestabilan emosi individu dapat dilihat pada keyakinan terhadap kemampuan
diri, optimisme, objektivitas individu dalam memandang suatu permasalahan,
commit to user
xli
[Link] [Link]
xlii
24
tanggung jawab serta rasionaliltas dan realistis. Individu yang memiliki emosi
stabil mempunyai katakteristik kreatif, produktif, tidak mudah cemas,
sedangkan individu dengan emosi tidak stabil mempunyai karakteristik tidak
produktif mudah cemas, tegang, frustrasi serta kurang hati-hati, tergantung,
kurang semangat dan tidak efisien.
3. Aspek-aspek Kestabilan Emosi
Kestabilan emosi yang dimiliki setiap orang akan berbeda satu sama
lain. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kondisi emosi yang dapat dilihat
melalui aspek-aspek yang menyusun kestabilan emosi. Aspek-aspek kestabilan
emosi dikemukakan oleh Schneiders (1991) yaitu:
a. Kontrol Emosi
Aleem (2005) menjelaskan bahwa, kondisi emosi yang stabil akan
ditunjukkan dengan adanya kendali dan kontrol emosi pada situasi yang
ekstrim sekalipun. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Schneiders
(1991) bahwa kontrol emosi meliputi pengaturan emosi dan perasaan sesuai
dengan tuntutan lingkungan atau situasi dan standar dalam diri individu
yang berhubungan dengan nilai-nilai, cita-cita, serta prinsip. Semiun (2006)
menjelaskan bahwa kontrol emosi tidak berarti emosi ditekan atau tidak
boleh diungkapkan, akan tetapi melatih emosi dan mengendalikan emosi
tersebut sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain
disekitarnya.
commit to user
xlii
[Link] [Link]
xliii
25
b. Respon Emosi
Li dan Hui (2005) menyebutkan bahwa respon emosi yang
ditunjukkan seseorang dapat menggambarkan stabilitas emosinya. Pada
penelitian Li dan Hui (2005), seseorang yang memilliki kestabilan emosi
cenderung memberikan respon emosi yang positif, walaupun individu
tersebut dalam pengalaman emosi yang negatif. Witherington (1978)
menjelaskan bahwa kestabilan emosi dapat dicapai oleh individu apabila
individu tersebut di dalam menghadapi situasi bahaya dapat menemukan
suatu cara untuk mengatasinya, sehingga emosi yang tidak menyenangkan
sebelumnya dapat menurun atau menjadi reda. Safaria dan Saputra (2009)
menjelaskan bahwa seseorang akan berusaha menyeimbangkan antara
respon emosi positif dan respon emosi negatif. Seseorang yang gagal
menyeimbangkan respon emosinya, misalnya saat berada dalam situasi yang
tidak menyenangkan hanya akan dimunculkan respon emosi yang negatif,
maka individu tersebut gagal mencapai stabilitas emosi. Jadi, bentuk respon
emosi yang dipilih dan ditampilkan seseorang saat menghadapi situasi
tertentu dapat menunjukkan kestabilan emosi seseorang.
c. Kematangan Emosi
Menurut Schneiders (1991), kematangan emosi adalah kemampuan
seseorang untuk melakukan reaksi emosi sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Indikator kematangan emosi seesorang dapat dilihat dari
kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap stres, tidak mudah
khawatir, tidak mudah cemas dan tidak mudah marah. Gerungan (2004) juga
commit to user
xliii
[Link] [Link]
xliv
26
menyebutkan bahwa kestabilan emosi pada dasarnya harus ada kematangan
emosi yang berdasarkan kesadaran yang mendalam daripada kebutuhan
keinginan-keinginan, cita-cita, dan alam perasaannya, serta pengintegrasian
semuanya itu ke dalam kepribadian yang bulat dan harmonis.
Sharma (2006) mengemukakan 3 aspek kestabilan emosi sebagai
berikut :
a. Firmly esthablised and fixed, merupakan suatu kondisi yang kuat dan
mantap, kondisi emosi yang tidak mudah tergoyahkan dan terganggu dan
tidak mudah terpengaruh pada hal-hal negatif disekitarnya.
b. Well balanced, merupakan kemampuan untuk mengalami atau menghadapi
emosi yang terjadi secara seimbang. Individu tidak menghindari emosi
negatif, tetapi akan menghadapi, mengatasi dan menjaganya untuk lebih
tenang, mampu untuk merespon emosi positif dan emosi negatif dengan
seimbang, tidak mudah mengalami emosi yang ekstrem.
c. Capable remain in same status, adalah kemampuan untuk berada dalam
kondisi emosi yang sama atau tetap dalam suatu situasi. Individu tidak cepat
mengalami perubahan emosi serta tidak mengalami perubahan emosi yang
disebabkan oleh sesuatu yang tidak terprediksi.
Aspek kestabilan emosi menurut Chrystal (2012) yaitu
a. Keseimbangan (balance). Bertindak sesuai dengan usia, membuat suatu
keputusan dengan pemikiran matang, mengakui kesalahan, dan minta maaf
jika membuat kesalahan merupakan bentuk kondisi seimbang dalam
menghadapi emosi.
commit to user
xliv
[Link] [Link]
xlv
27
b. Keberanian (courage). Individu dengan kestabilan emosi yang baik
mempunyai keberanian yang tepat dalam menghadapi emosi. Keberanian
membantu individu dalam mengatasi emosi negatif yang dapat menghambat
perkembangan kepribadian.
c. Kontrol emosi (emotional control). Kontrol emosi yang baik berbanding
lurus dengan kestabilan emosi. Semakin tinggi control emosi individu maka
semakin tinggi kestabilan emosi individu. Tanpa adanya control emosi,
individu cenderung untuk bersikap impulsif dan temperamen.
d. Sensitivitas emosi (emotional sensitivity). Sensitivitas emosi yang tinggi
akan melemahkan kestabilan emosi pada individu. Individu akan mudah
merasa tersakiti, merasa diserang dan akan menunjukkan tingkah laku yang
tidak sesuai dengan situasi yang terjadi.
f. Kecemasan (anxiety). Kestabilan emosi ditentukan oleh tingkat kecemasan
pada diri individu. Kecemasan merupakan manifestasi dari berbagai proses
emosi yang bercampur baur. Kecemasan yang berlebihan dapat
mengakibatkan stress, depresi dan frustrasi.
g. Kekuatan diri (ego strength). Kekuatan diri menentukan stabil tidaknya
emosi individu. Kekuatan diri yang positif seperti kepercayaan diri dan
menghargai diri sendiri dapat meningkatkan kestabilan emosi.
Berdasarkan penjelasan tentang aspek-aspek kestabilan emosi di atas,
penelitian ini menggunakan aspek kestabilan emosi yang dikemukakan oleh
Schneiders (1991) meliputi kontrol emosi, respon emosi, dan kematangan
emosi.
commit to user
xlv
[Link] [Link]
xlvi
28
C. Hubungan antara Kestabilan Emosi dengan Problem Solving
Pada Mahasiswa
Kehidupan mahasiswa sangat unik dan menarik. Berbagai macam masalah
mulai bermunculan pada masa ini, karena pada masa ini mahasiswa berada di usia
antara 17-24 tahun dimana menurut teori perkembangan Hurlock (2006)
merupakan masa remaja akhir dan dewasa [Link] mahasiswa mulai terjadi
kesenjangan antara keinginan pribadi dan tuntutan dari keluarga dan masyarakat.
Hal ini menjadi masalah dan menyita perhatian bagi mahasiswa.
Permasalahan yang terjadi dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan
apabila tidak terselesaikan dengan baik. Permasalahan bersumber dari dalam diri
sendiri maupun lingkungannya (Suharnan, 2005). Permasalahan yang berasal dari
dalam diri sendiri dapat berupa ketidaksesuaian antara harapan dengan
kemampuan yang dimiliki untuk mewujudkannya, sedangkan permasalahan yang
berasala dari lingkungan dapat terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara
harapan pribadi dengan kondisi lingkungannya. Permasalahan pada mahasiswa
sering terjadi antara lain masalah akademik, masalah dengan orangtua, masalah
dengan dosen, masalah dengan teman sebaya dan masalah dengan lingkungan
disekitarnya.
Permasalahan tersebut membutuhkan penyelesaian yang ideal atau
problem solving supaya mahasiswa tidak terhambat dan lebih matang dalam
menghadapi tugas perkembangan selanjutnya menuju masa dewasa. Chaplin
(2001) dalam kamus psikologi menjelaskan bahwa problem solving adalah proses
commit to user
xlvi
[Link] [Link]
xlvii
29
yang tercakup dalam usaha menemukan urutan yang benar dan alternatif-alternatif
jawaban sehingga mengarah pada satu saran atau ke arah pemecahan yang ideal.
Ada beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar diri individu yang
mempengaruhi problem solving. Faktor dari luar individu berkaitan dengan
dukungan sosial dari lingkungan disekitarnya. Sementara faktor dari dalam
individu antara lain inteligensi, jenis kelamin, keyakinan dan nilai, kontrol
kepercayaan, harga diri, kebugaran, motivasi, kepercayaan dan sikap yang tepat,
fleksibilitas, dan emosi. Problem solving dalam penerapannya yang efektif
membutuhkan kestabilan emosi yag baik, dengan emosi yang stabil maka
langkah-langkah yang diambil pada proses problem solving lebih terarah dan
rasional.
Kestabilan emosi adalah suatu kondisi yang benar-benar kokoh, tidak
mudah berbalik atau terganggu, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu
untuk menghadapi segala sesuatu dengan kondisi emosi yang tetap atau sama
(Sharma, 2006). Keberhasilan individu dalam mengendalikan emosinya dapat
menuntun individu dalam membuat keputusan dan menemukan solusi yang tepat
dalam menghadapi suatu permasalahan. Mahasiswa sebagai individu yang dalam
perkembangan selanjutnya akan memasuki masa dewasa dituntun untuk dapat
mengontrol emosi, mampu merespon suatu kejadian dengan emosi yang tepat, dan
mempunyai emosi yang matang agar dalam tugas perkembangan berikutnya
remaja dapat memiliki kestabilan emosi yang sangat penting peranannya sebagai
salah satu pembentuk karakter individu. Kestabilan emosi membantu individu
untuk dapat berpikir efektif dan efisien dalam menelaah masalah dan menemukan
commit to user
xlvii
[Link] [Link]
xlviii
30
solusi yang ideal untuk permasalahan tersebut. Dengan kestabilan emosi yang
tinggi maka problem solving individu juga akan meningkat. Sebaliknya semakin
rendah kestabilan emosi yang dimiliki individu maka semakin rendah problem
solving individu tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kestabilan emosi
mempunyai peranan untuk meningkatkan problem solving pada mahasiswa.
Mahasiswa dengan kestabilan emosi yang tinggi akan mempunyai problem
solving yang tinggi.
D. Kerangka Pemikiran
Hubungan antara kestabilan emosi dengan problem solving pada
mahasiswaProgram Studi Psikologi Universitas Sebeas Maret Surakarta dapat
digambarkan dengan kerangka pikiran sebagai berikut:
KESTABILAN
PROBLEM SOLVING
EMOSI
Bagan
Kerangka Pemikiran
commit to user
xlviii
[Link] [Link]
xlix
31
E. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif
antara kestabilan emosi dengan problem solving pada mahasiswa Program Studi
Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
commit to user
xlix