0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan23 halaman

Karakteristik dan Aspek Problem Solving

Dokumen ini membahas tentang problem solving, termasuk definisi, karakteristik, aspek-aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah. Problem solving didefinisikan sebagai proses kognitif yang melibatkan kesadaran dan pemikiran rasional untuk menemukan solusi terhadap permasalahan. Karakteristik individu yang efektif dalam problem solving mencakup kontrol internal yang baik, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk mempertimbangkan efek perilaku terhadap orang lain.

Diunggah oleh

Aqnest Naibaho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan23 halaman

Karakteristik dan Aspek Problem Solving

Dokumen ini membahas tentang problem solving, termasuk definisi, karakteristik, aspek-aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah. Problem solving didefinisikan sebagai proses kognitif yang melibatkan kesadaran dan pemikiran rasional untuk menemukan solusi terhadap permasalahan. Karakteristik individu yang efektif dalam problem solving mencakup kontrol internal yang baik, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk mempertimbangkan efek perilaku terhadap orang lain.

Diunggah oleh

Aqnest Naibaho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id
xxvii

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Problem Solving

1. Pengertian Problem Solving

Masalah selalu ada dalam setiap jengkal kehidupan manusia baik pada

masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa maupun masa tua. Dengan

permasalahan-permasalahan yang ada dan dihadapi akan membuat manusia

semakin berupaya untuk mengembangkan daya pikir maupun

mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Menurut Kneeland (2001)

masalah adalah kesenjangan antara apa yang terjadi dengan segala hal dan apa

yang seharusnya terjadi dengan hal-hal tersebut. Masalah secara sederhana

dapat dijelaskan sebagai setiap hal yang dapat menghambat tercapainya tujuan

(Glover dalam Cahyono, dkk 2002).Masalah didefinisikan oleh D’Zurilla, dkk

(1989) sebagai situasi atau tugas yang menuntut respon terhadap fungsi

adaptif namun tidak segera tersedianya respon efektif karena adanya beberapa

hambatan. Hambatan itu sendiri dapat berupa masalah fisik, ekonomi, maupun

sosial. Setiap individu pasti menginginkan keluar dari masalah tersebut dan

segera menemukan penyelesaian ideal terhadap masalah yang menghambat

dirinya.

Problem solving merupakan penilaian menyeluruh individu mengenai

kemampuan khusus dalam pemecahan masalah yang terjadi dalam hidupnya

(Heppner dalam MacNair and Elliot, 1992). Neal dan Heppner (dalam Salami
commit to user

9xxvii
[Link] [Link]
xxviii
10

dan Oyesoji, 2006) mengungkapkan bahwa individu yang mampu

menyelesaikan masalahnya dengan efektif mempunyai kemampuan sosial

yang lebih baik dan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Problem solving

dapat dilakukan dengan insight atau pemahaman, Widayatun (1999)

menyatakan problem solving sebagai suatu proses berpikir, belajar, mengingat

serta menjawab atau merespon dalam bentuk pengambilan keputusan.

Menurut Piaget (dalam Davidoff, 1988) problem solving dapat didefinisikan

sebagai suatu usaha yang cukup keras, yang melibatkan suatu tujuan dan

hambatan-hambatannya. D’Zurilla & Maydeu-Olivares (1995) mendefinisikan

problem solving yaitu pengarahan diri individu pada proses perilaku kognitif

yang melibatkan kesadaran, pemikiran rasional, dan aktivitas dalam usahanya

untuk mengidentifikasi atau menemukan cara-cara yang efektif atau adaptif

dalam mengatasi permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Individu yang memiliki satu tujuan akan menghadapi persoalan, dengan

demikian individu tersebut menjadi terangsang untuk mencapai tujuan itu dan

mengusahakan sedemikian rupa sehingga persoalan itu dapat diatasi.

Selain memahami masalah, menemukan solusi atau jalan keluar yang

ideal merupakan substansi penting dalam problem solving. Seperti yang

dikemukakan oleh Solso (1995) problem solving merupakan pemikiran

langsung terhadap permasalahan khusus yang meliputi respon-respon terhadap

permasalahan yang timbul, sehingga diperoleh cara yang tepat untuk mencapai

suatu tujuan. Chauhan (1987) menambahkan bahwa problem solving

commit to user

xxviii
[Link] [Link]
xxix
11

menghendaki adanya prediksi, analisis, dan fakta-fakta serta prinsip-prinsip

mengembangkan hubungan sebab akibat pada fenomena yang terjadi.

Dari beberapa pengertian tentang problem solving yang dikemukakan

oleh beberapa tokoh di atas, penelitian ini menggunakan definisi problem

solving yang dikemukakan oleh D’Zurilla & Maydeu-Olivares (1995) yaitu

pengarahan diri individu pada proses perilaku kognitif yang melibatkan

kesadaran, pemikiran rasional, dan aktivitas dalam usahanya untuk

mengidentifikasi atau menemukan cara-cara yang efektif atau adaptif dalam

mengatasi permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

2. Karakteristik Problem Solving

MacNair & Elliot (1992) menjelaskan karakeristik individu dengan

problem solving yang efektif:

a. Memiliki kontrol internal yang baik

b. Membuat sedikit atribusi untuk menyalahkan diri sendiri

c. Memiliki konsep diri yang positif dan berpikir secara rasional

d. Menikmati proses berpikir dan aktivitas kognitif lainnya

e. Terkait dengan banyak kebiasaan belajar dan sikap yang adaptif

f. Memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan

g. Memiliki harapan yang tinggi dan tujuan yang jelas

Karakteristik individu dengan problem solving yang efektif

dikemukakan oleh Johnson (2005) sebagai berikut:

a. Kesadaran dan kepekaan terhadap masalah interpersonal

b. Mampu untuk menggeneralisasikan situasi


commit to user

xxix
[Link] [Link]
xxx
12

c. Mampu membangun langkah-langkah untuk menemukan solusi ideal dan

mengidentifikasi hambatan-hambatan

d. Mempertimbangkan efek perilakunya terhadap orang lain

e. Mempertimbangkan motivasi diri dengan motivasi orang lain

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan karakteristik problem solving

meliputi memiliki kontrol internal yang baik, membuat sedikit atribusi untuk

menyalahkan diri sendiri, memiliki konsep diri yang positif dan berpikir secara

rasional, menikmati proses berpikir dan aktivitas kognitif lainnya, terkait

dengan banyak kebiasaan belajar dan sikap yang adaptif, memiliki kepercayaan

diri dalam mengambil keputusan, memiliki harapan yang tinggi dan tujuan

yang jelas, Kesadaran dan kepekaan terhadap masalah interpersonal, mampu

untuk menggeneralisasikan situasi, mampu membangun langkah-langkah untuk

menemukan solusi ideal dan mengidentifikasi hambatan-hambatan,

mempertimbangkan efek perilakunya terhadap orang lain, dan

mempertimbangkan motivasi diri dengan motivasi orang lain.

3. Aspek-aspek Problem Solving

Menyelesaikan masalah memerlukan suatu pemikiran yang terarah

secara langsung untuk menemukan solusi atau jalan keluar dari suatu

permasalahan, sehingga memerlukan aspek-aspek yang mendukung untuk

menyelesaikan suatu permasalahan.

commit to user

xxx
[Link] [Link]
xxxi
13

Aspek problem solving menurut Heppner dan Petersen (1981) yaitu:

a. Kepercayaan dalam penyelesaian masalah (problem solving confidence)

Pemecahan masalah ini mengacu pada kepercayaan atau keyakinan

yang efektif dalam mengatasi suatu permasalahan. Seperti contoh ketika

dihadapkan pada suatu permasalahan seorang individu akan mempunyai

kepercayaan akan mampu mengatasi pemasalahannya itu atau tidak. Jika

seorang individu yakin akan dapat mengatasi masalahnya dengan baik maka

permasalahan yang dihadapi akan tertangani dengan baik. Akan tetapi kalau

seorang individu tidak yakin untuk dapat menyelesaikan permasalahannya

dengan baik maka permasalahan tidak dapat terselesaikan dengan baik.

b. Gaya dalam pemecahan masalah (approach-avoidance style)

Gaya mengacu pada suatu kecenderungan umum untuk mendekati

atau menghindari aktivitas penyelesaian masalah. Semakin individu

mendekati masalah, individu akan mempunyai problem solving yang efektif.

Sebaliknya, individu yang cenderung menghindari aktivitas penyelesaian

masalah, individu mempunyai problem solving yang kurang efektif.

c. Kendali pribadi (personal control)

Kendali pribadi digambarkan sebagai suatu kepercayaan atau

keyakinan individu untuk dapat bertanggung jawab dan mengontrol emosi

dan perilaku dalam menyelesaikan masalah.

commit to user

xxxi
[Link] [Link]
xxxii
14

Menurut D’Zurilla & Maydeu-Olivares (1995), aspek dalam problem

solving, yaitu:

a. Orientasi positif pada masalah (positive problem orientation)

Suatu konstruksi kognitif individu yang dibangun berdasar konsep-

konsep positif, yaitu memberikan sudut pandang positif mengenai suatu

permasalahan

b. Orientasi negatif pada masalah (negative problem orientation)

Merupakan suatu kondisi emosional kognitif yang mencerminkan

suatu kondisi negatif suatu [Link] cenderung memberikan

sudut pandang negatif suatu permasalahan, misalnya memandang suatu

masalah adalah sebagai suatu ancaman dan hambatan.

c. Pemecahan masalah secara rasional (rational problem solving)

Aspek pemecahan masalah secara rasional mengacu pada

kemampuan individu untuk berpikir secara logis dan sistematis mengenai

permasalahan dan pemecahannya.

d. Gaya impulsif (impulsive style)

Aspek ini mencerminkan pola pemecahan masalah yang mengacu

pada tindakan-tindakan impulsif seperti ceroboh dan tergesa-gesa.

e. Gaya menghindari masalah (avoidance style)

Aspek ini merefleksikan kurangnya keinginan memecahkan masalah,

ditandai dengan adanya prokrastinasi (penundaan), pasif atau tidak bertindak

dan ketergantungan.

commit to user

xxxii
[Link] [Link]
xxxiii
15

Anderson (dalam Suharnan, 2005) mengemukakan tiga aspek problem

solving, yaitu:

a. Sikap (attitudes)

Merupakan cara seseorang dalam memandang permasalahannya

secara positif, meliputi:

1) Berpikir positif terhadap permasalahannya. Masalah ada untuk dihadapi

dan dengan adanya suatu masalah individu dapat menemukan hambatan-

hambatan yang ada pada dirinya

2) Berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah. Hal ini

merupakan keyakinan individu terhadap kekuatan dirinya sendiri bahwa

ia mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan

3) Berpikir secara sistematis, yaitu melakukan langkah demi langkah suatu

penyelesaian untuk menyelesaikan masalah tersebut

b. Tindakan (action)

Yaitu bagaimana seseorang berusaha untuk memecahkan

permasalahan yang sedang dihadapi, meliputi:

1) Merumuskan masalahnya, yaitu bagaimana seseorang memahami pokok

permasalahan yang sedang dihadapi dan situasi yang diinginkan

nantinya

2) Mencari dan mengumpulkan fakta-fakta, yaitu individu menemukan

sumber fakta yang cukup kemudian memikirkan secara teliti fakta yang

dikumpulkan

3) Memfokuskan pikiran pada fakta-fakta yang penting


commit to user

xxxiii
[Link] [Link]
xxxiv
16

4) Menemukan ide, yaitu memikirkan beberapa ide untuk memecahkan

masalah kemudian memilih salah satu ide yang tepat sesuai dengan

masalah yang sedang dihadapi

5) Memilih ide terbaik dengan mempertimbangkan beberapa kriteria

penting

Berdasarkan pemaparan beberapa tokoh di atas tentang aspek-aspek

problem solving, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek problem solving yang

dikemukakan oleh D’Zurilla & Maydeu-Olivares yaitu orientasi positif pada

masalah (positive problem orientation), orientasi negatif pada masalah

(negative problem orientation), pemecahan masalah secara rasional (rational

problem solving), gaya impulsif (impulsive style), dan gaya menghindari

masalah (avoidance style) merupakan penjabaran dari aspek problem solving

yang dikemukakan oleh Heppner dan Anderson.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Problem Solving

Ester (Walgito, 2002) mengemukakan bahwa inteligensi mempengaruhi

pemecahan masalah. Dalam memecahkan masalah, cepat atau lambatnya

tergantung dari tingkat inteligensi individu yang bersangkutan. Kreativitas

merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam

memandang masalah dan solusinya (Munandar, 1998). Semakin tinggi tingkat

kreativitas individu, semakin banyak pula ide atau alternatif yang ditemukan.

Menurut Mappiare (1982) ada dua faktor yang mempengaruhi problem

solving, yaitu :

commit to user

xxxiv
[Link] [Link]
xxxv
17

a. Usia. Semakin bertambah usia individu maka semakin matang

kepribadiannya dan kemampuan menyelesaikan masalah juga bertambah.

Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha menyelesaikan masalah

yang merupakan hasil dari kemampuan berpikir lebih sempurna yang

ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional.

b. Pengalaman. Kemampuan pemecahan masalah akan meningkat seiring

dengan bertambahnya pengalaman yang di dapat. Secara kognitif,

pengalaman membantu individu memahami suatu masalah dari berbagai

sudut pandang, baik pengalaman yang dialami sendiri (direct) atau

pengalaman yang dialami orang lain (indirect).

Menurut Andayani dan Afiatin (1991) ada faktor-faktor yang

mempengaruhi problem solving :

a. Usia dan tingkah laku coping. Bertambahnya usia maka bertambah pula

pengalaman hidup. Pengalaman berperan dalam pembentukan tingkah laku

coping. Individu cenderung melakukan coping saat menghadapi masalah

yang pernah dihadapi sebelumnya dan akan mengulangnya jika masalah

tersebut dapat diatasi dengan tingkah laku tersebut.

b. Tingkat pendidikan. Pendidikan berfungsi antara lain meningkatkan atau

memaksimalkan perkembangan kognisi individu. Dengan pendidikan formal

diharapkan seseorang dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya

semaksimal mungkin sesuai dengan usia perkembangannya.

Rakhmat (2001) mengemukakan bahwa pemecahan masalah

dipengaruhi oleh faktor situasional dan personal. Faktor situasional mengacu


commit to user

xxxv
[Link] [Link]
xxxvi
18

pada stimulus yang menimbulkan masalah dan sifat-sifat masalah. Faktor

personal terbagi menjadi dua subfaktor, yaitu faktor biologis dan faktor

sosiopsikologis. Faktor biologis meliputi kondisi fisik individu, misalnya saat

dalam kondisi kelelahan atau lapar maka individu akan mengalami kesulitan

dalam menyelesaikan suatu masalah. Faktor sosiopsikologis yang

mempengaruhi problem solving, yaitu:

a. Motivasi. Motivasi yang rendah dapat mengalihkan perhatian, seorang

individu yang memiliki motivasi yang rendah maka perhatiannya dapat

beralih dari usaha yang dilakukan dalam pemecahan masalah, sedangkan

individu yang mempunyai motivasi yang tinggi akan berusaha mencari

solusi bagi setiap permasalahan.

b. Kepercayaan dan sikap yang tepat. Kepercayaan terhadap kemampuan diri

dan sikap individu yang mau terbuka pada orang lain akan menambah

informasi baru yang akan memudahkan pemecahan masalah, sedangkan

ketidakpercayaan dan sikap tertutup akan membuat individu sulit dalam

pemecahan masalah.

c. Kebiasaan. Kecenderungan untuk mempertahankan pola berpikir tertentu

atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang

berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas dapat menghambat

pemecahan masalah yang efisien.

d. Emosi. Dalam menghadapi situasi tanpa sadar emosi sering terlibat

didalamnya sehingga menyebabkan seseorang berpikir secara tidak efektif.

Manusia yang utuh tidak dapat mengesampingkan emosi, emosi bukan


commit to user

xxxvi
[Link] [Link]
xxxvii
19

hambatan utama tetapi bila mencapai intensitas tinggi akan menjadi stres

yang menimbulkan kesulitan berpikir efisien dan menghambat pemecahan

masalah.

Berdasarkan uraian di atas faktor-faktor yang mempengaruhi

kemampuan pemecahan masalah meliputi inteligensi, kreativitas, usia,

pengalaman, tingkah laku coping, tingkat pendidikan, faktor situasional, faktor

biologis, motivasi, kepercayaan dan sikap yang tepat, fleksibilitas, danemosi.

5. Tahapan dalam Problem Solving

Individu dalam kenyataannya tidak selalu mampu memecahkan

masalah yang datang padanya. Dalam menghadapi masalah, individu

adakalanya menggunakan suatu cara lain walaupun menghadapi masalah yang

sama.

Menurut Nezu & D’Zurilla (dalam Good, 2003), terdapat limatahapan

dalam problem solving, yaitu:

a. Orientasi pada masalah. Langkah ini meliputi bagaimana individu bereaksi

terhadap kondisi bermasalah, yaitu suatu situasi yang tidak sesuai dengan

apa yang diharapkan. Reaksi individu dapat berupa reaksi positif mapun

negatif, misalnya perhatian, kecemasan, asumsi, kepercayaan, motivasi, dan

harapan individu terhadap suatu masalah.

b. Mendefinisikan dan merumuskan masalah. Langkah ini mencakup

pemahaman individu terhadap suatu masalah dan menetapkan tujuan yang

nyata dalam pemecahan masalah tersebut.

commit to user

xxxvii
[Link] [Link]
xxxviii
20

c. Perumusan strategi. Setelah masalah sudah didefinisikan secara efektif,

langkah selanjutnya adalah merencanakan strategi untuk menyelesaikan

masalahnya. Langkah ini membutuhkan usaha keras dan kreativitas individu

dalam merumuskan alternatif solusi terbaik dalam memecahkan masalah.

d. Menentukan solusi pemecahan masalah. Individu menentukan solusi yang

ideal dengan cara membandingkan dan memprediksi efektivitas serta

konsekuensi masing-masing alternatif solusi.

e. Evaluasi terhadap solusi yang telah dilakukan. Pada langkah ini, individu

mengevaluasi kembaliefektivitas solusi yang telah dilakukan dengan cara

membandingkan konsekuensi yang terjadi dengan konsekuensi yang

diprediksi sebelum solusi dilakukan.

Kneeland (2001) mengemukakan 6 tahapan dalam proses pemecahan

masalah, yaitu:

a. Menyadari adanya permasalahan. Sesuatu yang menarik perhatian yang

memerlukan perhatian secara khusus.

b. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan. Menyelidiki lingkungan,

menanyakan beberapa pertanyaan, dan mendapatkan fakta-fakta dari orang

yang penting.

c. Mendefinisikan permasalahan. Memahami masalah secara keseluruhan dan

tahu apa permasalahan itu.

d. Mengembangkan pilihan-pilihan solusi.

e. Memilih solusi terbaik.

f. Menerapkan solusi.
commit to user

xxxviii
[Link] [Link]
xxxix
21

Dari pendapat beberapa tokoh di atas, dapat dirangkum tahap-tahap

pemecahan masalah meliputi kesadaran akan adanya masalah, orientasi pada

masalah, mendefinisikan dan merumuskan masalah, mengumpulkan fakta-fakta

yang relevan, merumuskan dan mengembangkan strategi, menentukan solusi

ideal, menerapkan solusi, dan mengevaluasi solusi yang telah dilakukan.

B. Kestabilan Emosi

1. Pengertian Kestabilan Emosi

Menurut Chaplin (2001), kestabilan emosi (emotional stability) ialah

terbebas dari sejumlah besar variasi atau perselang-selingan dalam suasana

hati, sifat karakteristik orang yang memiliki kontrol emosi yang baik. Kontrol

emosi merupakan usaha di pihak individu untuk mengatur dan menguasai

emosi sendiri atau emosi orang lain. Sedangkan ketidakstabilan emosi

merupakan satu kecenderungan untuk menunjukkan perubahan yang cepat dan

tidak dapat diduga-duga atau diramalkan dalam emosionalitas.

Morgan (1986) menjelaskan bahwa, kestabilan emosi merupakan suatu

keadaan emosi seseorang yang apabila mendapat rangsangan secara emosional

dari luar tidak menunjukkan gangguan emosional seperti depresi dan

kecemasan. Sementara itu, Sharma (2006) menjelaskan bahwa, kestabilan

emosi berarti kondisi yang benar-benar kokoh, tidak mudah berbalik atau

terganggu, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu untuk menghadapi

segala sesuatu dengan kondisi emosi yang tetap atau sama. Senada dengan

pernyataan tersebut, Smitson (dalam Aleem, 2005) menyebutkan bahwa


commit to user

xxxix
[Link] [Link]
22xl

kestabilan emosi merupakan proses dimana kepribadian secara

berkesinambungan berusaha mencapai kondisi emosi yang sehat dan selaras

dalam jiwa dan raga.

Kestabilan emosi adalah keadaan dimana seseorang dapat menampilkan

reaksi yang tidak berlebihan atas rangsangan yang diterima, terutama dalam

menghadapi masalah-masalah. Kestabilan emosi ini merupakan suatu tahapan

yang harus dicapai oleh seseorang untuk lebih tenang dalam menghadapi

segala permasalahan, mencakup kemampuan untuk mengungkapkan emosi

dengan melakukan kendali yang tidak berlebihan terhadap gejala-gejala yang

muncul (Irma, 2003). Kestabilan emosi berperan penting dalam pembentukan

kepribadian, seperti yang dikemukakan Gerungan (1978) bahwa kestabilan

emosi merupakan kematangan emosional yang berdasarkan kesadaran yang

mendalam terhadap kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, cita-cita dan

alam perasaannya serta pengintegrasian semuanya itu ke dalam suatu

kepribadian yang bulat dan harmonis.

Dari beberapa pengertian kestabilan emosi yang dikemukakan oleh

beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan kestabilan emosi adalah suatu

kondisi emosi yang tetap, tidak mudah berubah, tidak labil, tidak mudah

mengalami gangguan emosional, memiliki kontrol emosi yang baik dan

mampu mengendalikan emosi secara tepat ketika menghadapi kondisi yang

menyenangkan ataupun ketika menghadapi masalah dalam hidup.

commit to user

xl
[Link] [Link]
xli
23

2. Karakeristik Kestabilan Emosi

Menurut Aleem (2005) karakteristik kestabilan emosi meliputi:

a. Mampu merespon perubahan situasi dengan baik

b. Mampu menunda respom, terutama respon negatif

c. Bebas dari rasa takut yang tidak beralasan

d. Mau mengakui kesalahan tanpa merasa malu

Individu yang mempunyai kestabilan emosi dikarakteristikan menurut

Albin (1990)antara lain:

a. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif individu tentang dirinya

bahwaia mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukan.

b. Optimis yaitu sikap positif individu yang selalu berpandangan baik dalam

menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya.

c. Objektif yaitu sikap individu yang memandang permasalahan ataupun

sesuatu sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut

kebenaran pribadi atau yang menurut dirinya sendiri benar.

d. Bertanggung jawab yaitu kesediaan individu untuk menanggung segala

sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.

e. Rasional dan realistis yaitu kemampuan menganalisis suatu masalah, seusatu

hal, sesuatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima

oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik

kestabilan emosi individu dapat dilihat pada keyakinan terhadap kemampuan

diri, optimisme, objektivitas individu dalam memandang suatu permasalahan,


commit to user

xli
[Link] [Link]
xlii
24

tanggung jawab serta rasionaliltas dan realistis. Individu yang memiliki emosi

stabil mempunyai katakteristik kreatif, produktif, tidak mudah cemas,

sedangkan individu dengan emosi tidak stabil mempunyai karakteristik tidak

produktif mudah cemas, tegang, frustrasi serta kurang hati-hati, tergantung,

kurang semangat dan tidak efisien.

3. Aspek-aspek Kestabilan Emosi

Kestabilan emosi yang dimiliki setiap orang akan berbeda satu sama

lain. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kondisi emosi yang dapat dilihat

melalui aspek-aspek yang menyusun kestabilan emosi. Aspek-aspek kestabilan

emosi dikemukakan oleh Schneiders (1991) yaitu:

a. Kontrol Emosi

Aleem (2005) menjelaskan bahwa, kondisi emosi yang stabil akan

ditunjukkan dengan adanya kendali dan kontrol emosi pada situasi yang

ekstrim sekalipun. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Schneiders

(1991) bahwa kontrol emosi meliputi pengaturan emosi dan perasaan sesuai

dengan tuntutan lingkungan atau situasi dan standar dalam diri individu

yang berhubungan dengan nilai-nilai, cita-cita, serta prinsip. Semiun (2006)

menjelaskan bahwa kontrol emosi tidak berarti emosi ditekan atau tidak

boleh diungkapkan, akan tetapi melatih emosi dan mengendalikan emosi

tersebut sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain

disekitarnya.

commit to user

xlii
[Link] [Link]
xliii
25

b. Respon Emosi

Li dan Hui (2005) menyebutkan bahwa respon emosi yang

ditunjukkan seseorang dapat menggambarkan stabilitas emosinya. Pada

penelitian Li dan Hui (2005), seseorang yang memilliki kestabilan emosi

cenderung memberikan respon emosi yang positif, walaupun individu

tersebut dalam pengalaman emosi yang negatif. Witherington (1978)

menjelaskan bahwa kestabilan emosi dapat dicapai oleh individu apabila

individu tersebut di dalam menghadapi situasi bahaya dapat menemukan

suatu cara untuk mengatasinya, sehingga emosi yang tidak menyenangkan

sebelumnya dapat menurun atau menjadi reda. Safaria dan Saputra (2009)

menjelaskan bahwa seseorang akan berusaha menyeimbangkan antara

respon emosi positif dan respon emosi negatif. Seseorang yang gagal

menyeimbangkan respon emosinya, misalnya saat berada dalam situasi yang

tidak menyenangkan hanya akan dimunculkan respon emosi yang negatif,

maka individu tersebut gagal mencapai stabilitas emosi. Jadi, bentuk respon

emosi yang dipilih dan ditampilkan seseorang saat menghadapi situasi

tertentu dapat menunjukkan kestabilan emosi seseorang.

c. Kematangan Emosi

Menurut Schneiders (1991), kematangan emosi adalah kemampuan

seseorang untuk melakukan reaksi emosi sesuai dengan tingkat

perkembangannya. Indikator kematangan emosi seesorang dapat dilihat dari

kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap stres, tidak mudah

khawatir, tidak mudah cemas dan tidak mudah marah. Gerungan (2004) juga
commit to user

xliii
[Link] [Link]
xliv
26

menyebutkan bahwa kestabilan emosi pada dasarnya harus ada kematangan

emosi yang berdasarkan kesadaran yang mendalam daripada kebutuhan

keinginan-keinginan, cita-cita, dan alam perasaannya, serta pengintegrasian

semuanya itu ke dalam kepribadian yang bulat dan harmonis.

Sharma (2006) mengemukakan 3 aspek kestabilan emosi sebagai

berikut :

a. Firmly esthablised and fixed, merupakan suatu kondisi yang kuat dan

mantap, kondisi emosi yang tidak mudah tergoyahkan dan terganggu dan

tidak mudah terpengaruh pada hal-hal negatif disekitarnya.

b. Well balanced, merupakan kemampuan untuk mengalami atau menghadapi

emosi yang terjadi secara seimbang. Individu tidak menghindari emosi

negatif, tetapi akan menghadapi, mengatasi dan menjaganya untuk lebih

tenang, mampu untuk merespon emosi positif dan emosi negatif dengan

seimbang, tidak mudah mengalami emosi yang ekstrem.

c. Capable remain in same status, adalah kemampuan untuk berada dalam

kondisi emosi yang sama atau tetap dalam suatu situasi. Individu tidak cepat

mengalami perubahan emosi serta tidak mengalami perubahan emosi yang

disebabkan oleh sesuatu yang tidak terprediksi.

Aspek kestabilan emosi menurut Chrystal (2012) yaitu

a. Keseimbangan (balance). Bertindak sesuai dengan usia, membuat suatu

keputusan dengan pemikiran matang, mengakui kesalahan, dan minta maaf

jika membuat kesalahan merupakan bentuk kondisi seimbang dalam

menghadapi emosi.
commit to user

xliv
[Link] [Link]
xlv
27

b. Keberanian (courage). Individu dengan kestabilan emosi yang baik

mempunyai keberanian yang tepat dalam menghadapi emosi. Keberanian

membantu individu dalam mengatasi emosi negatif yang dapat menghambat

perkembangan kepribadian.

c. Kontrol emosi (emotional control). Kontrol emosi yang baik berbanding

lurus dengan kestabilan emosi. Semakin tinggi control emosi individu maka

semakin tinggi kestabilan emosi individu. Tanpa adanya control emosi,

individu cenderung untuk bersikap impulsif dan temperamen.

d. Sensitivitas emosi (emotional sensitivity). Sensitivitas emosi yang tinggi

akan melemahkan kestabilan emosi pada individu. Individu akan mudah

merasa tersakiti, merasa diserang dan akan menunjukkan tingkah laku yang

tidak sesuai dengan situasi yang terjadi.

f. Kecemasan (anxiety). Kestabilan emosi ditentukan oleh tingkat kecemasan

pada diri individu. Kecemasan merupakan manifestasi dari berbagai proses

emosi yang bercampur baur. Kecemasan yang berlebihan dapat

mengakibatkan stress, depresi dan frustrasi.

g. Kekuatan diri (ego strength). Kekuatan diri menentukan stabil tidaknya

emosi individu. Kekuatan diri yang positif seperti kepercayaan diri dan

menghargai diri sendiri dapat meningkatkan kestabilan emosi.

Berdasarkan penjelasan tentang aspek-aspek kestabilan emosi di atas,

penelitian ini menggunakan aspek kestabilan emosi yang dikemukakan oleh

Schneiders (1991) meliputi kontrol emosi, respon emosi, dan kematangan

emosi.
commit to user

xlv
[Link] [Link]
xlvi
28

C. Hubungan antara Kestabilan Emosi dengan Problem Solving

Pada Mahasiswa

Kehidupan mahasiswa sangat unik dan menarik. Berbagai macam masalah

mulai bermunculan pada masa ini, karena pada masa ini mahasiswa berada di usia

antara 17-24 tahun dimana menurut teori perkembangan Hurlock (2006)

merupakan masa remaja akhir dan dewasa [Link] mahasiswa mulai terjadi

kesenjangan antara keinginan pribadi dan tuntutan dari keluarga dan masyarakat.

Hal ini menjadi masalah dan menyita perhatian bagi mahasiswa.

Permasalahan yang terjadi dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan

apabila tidak terselesaikan dengan baik. Permasalahan bersumber dari dalam diri

sendiri maupun lingkungannya (Suharnan, 2005). Permasalahan yang berasal dari

dalam diri sendiri dapat berupa ketidaksesuaian antara harapan dengan

kemampuan yang dimiliki untuk mewujudkannya, sedangkan permasalahan yang

berasala dari lingkungan dapat terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara

harapan pribadi dengan kondisi lingkungannya. Permasalahan pada mahasiswa

sering terjadi antara lain masalah akademik, masalah dengan orangtua, masalah

dengan dosen, masalah dengan teman sebaya dan masalah dengan lingkungan

disekitarnya.

Permasalahan tersebut membutuhkan penyelesaian yang ideal atau

problem solving supaya mahasiswa tidak terhambat dan lebih matang dalam

menghadapi tugas perkembangan selanjutnya menuju masa dewasa. Chaplin

(2001) dalam kamus psikologi menjelaskan bahwa problem solving adalah proses

commit to user

xlvi
[Link] [Link]
xlvii
29

yang tercakup dalam usaha menemukan urutan yang benar dan alternatif-alternatif

jawaban sehingga mengarah pada satu saran atau ke arah pemecahan yang ideal.

Ada beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar diri individu yang

mempengaruhi problem solving. Faktor dari luar individu berkaitan dengan

dukungan sosial dari lingkungan disekitarnya. Sementara faktor dari dalam

individu antara lain inteligensi, jenis kelamin, keyakinan dan nilai, kontrol

kepercayaan, harga diri, kebugaran, motivasi, kepercayaan dan sikap yang tepat,

fleksibilitas, dan emosi. Problem solving dalam penerapannya yang efektif

membutuhkan kestabilan emosi yag baik, dengan emosi yang stabil maka

langkah-langkah yang diambil pada proses problem solving lebih terarah dan

rasional.

Kestabilan emosi adalah suatu kondisi yang benar-benar kokoh, tidak

mudah berbalik atau terganggu, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu

untuk menghadapi segala sesuatu dengan kondisi emosi yang tetap atau sama

(Sharma, 2006). Keberhasilan individu dalam mengendalikan emosinya dapat

menuntun individu dalam membuat keputusan dan menemukan solusi yang tepat

dalam menghadapi suatu permasalahan. Mahasiswa sebagai individu yang dalam

perkembangan selanjutnya akan memasuki masa dewasa dituntun untuk dapat

mengontrol emosi, mampu merespon suatu kejadian dengan emosi yang tepat, dan

mempunyai emosi yang matang agar dalam tugas perkembangan berikutnya

remaja dapat memiliki kestabilan emosi yang sangat penting peranannya sebagai

salah satu pembentuk karakter individu. Kestabilan emosi membantu individu

untuk dapat berpikir efektif dan efisien dalam menelaah masalah dan menemukan
commit to user

xlvii
[Link] [Link]
xlviii
30

solusi yang ideal untuk permasalahan tersebut. Dengan kestabilan emosi yang

tinggi maka problem solving individu juga akan meningkat. Sebaliknya semakin

rendah kestabilan emosi yang dimiliki individu maka semakin rendah problem

solving individu tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kestabilan emosi

mempunyai peranan untuk meningkatkan problem solving pada mahasiswa.

Mahasiswa dengan kestabilan emosi yang tinggi akan mempunyai problem

solving yang tinggi.

D. Kerangka Pemikiran

Hubungan antara kestabilan emosi dengan problem solving pada

mahasiswaProgram Studi Psikologi Universitas Sebeas Maret Surakarta dapat

digambarkan dengan kerangka pikiran sebagai berikut:

KESTABILAN
PROBLEM SOLVING
EMOSI

Bagan

Kerangka Pemikiran

commit to user

xlviii
[Link] [Link]
xlix
31

E. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif

antara kestabilan emosi dengan problem solving pada mahasiswa Program Studi

Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

commit to user

xlix

Anda mungkin juga menyukai