Literasi Matematika dan HOTS Siswa SMP
Literasi Matematika dan HOTS Siswa SMP
TUGAS AKHIR
Oleh :
ANZIL RAHMAWATI
2204120152
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “HUBUNGAN
ANTARA LITERASI MATEMATIKA DAN KEMAMPUAN PENYELESAIAN
SOAL HOTS SISWA SMP”. Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat
tugas akhir.
Penulis menyadari bahwa penyelesaian tugas akhir ini tidak lepas dari
bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Maka dari itu penulis
mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang selalu menemani penulis.
.Wassalamu’aliakum [Link]
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
A. Jenis Penelitian................................................................................ 23
B. Populasi dan Sampel ....................................................................... 24
C. Variabel Penelitian ........................................................................... 25
D. Instrumen Penelitian ....................................................................... 25
E. Prosedur Penelitian .......................................................................... 26
F. Teknik Analisis Data ........................................................................ 27
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelajaran matematika merupakan salah satu pelajaran yang dipelajari siswa mulai
dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Menurut Frengky (2012) pelajaran matematika
untuk pertama kali diterima secara formal oleh pengajar pada waktu mereka duduk di
bangku kelas 1 sekolah dasar (SD). Dalam kehidupan sehari-hari siswa dihadapkan dengan
masalah yang berkaitan dengan penerapan matematika. Penguasaan matematika yang baik
akan dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut (Johar, 2012). Memahami suatu
pokok bahasan matematika tentunya siswa terlebih dahulu harus menguasai konsepkonsep
matematika. Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk
merumuskan, menggunakan dan menafsirkan dalam berbagai konteks. Kemampuan
literasi matematika membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan
matematika di dalam kehidupan sehari-hari (Puspitasari, et. al., 2015).
1
karakter bangsa yang bermartabat yang memiliki daya saing dan ketahanan hidup yang
kokoh. Tuntutan kemampuan siswa dalam matematika tidak sekedar memiliki kemampuan
berhitung saja, akan tetapi kemampuan berpikir yang logis, kritis dan sistematis dalam
pemecahan masalah. Pemecahan masalah ini bukan hanya berupa soal rutin akan tetapi
lebih kepada permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Kemampuan matematis demikian
ini yang disebut sebagai kemampuan literasi matematis. Seseorang yang memiliki
kemampuan literasi matematis tidak sekedar paham tentang matematika namun mampu
menggunakannya dalam pemecahan masalah sehari-hari. Memiliki kemampuan literasi
yang baik akan memudahkan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Dengan
demikian mangaktifkan literasi matematika sangatlah penting untuk memecahkan
permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan seharihari (Setiawan, et. al., 2014).
Menyadari hal itu maka belajar matematika seharusnya menjadi kebutuhan dan
kegiatan yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Siagian (2021) bahwa
“Matematika mempunyai peran dalam perkembangan IPTEK”. Namun hingga saat ini
pendidikan matematika masih bermasalah karena rendahnya hasil belajar matematika
siswa. Hal ini ditinjau dari peringkat yang dikeluarkan oleh Programme for Student
Assessment (PISA), Indonesia menempati peringkat ke-73 dari 79 negara (Casinillo &
Aure, 2018).
Dari masalah di atas, hasil belajar matematika siswa rendah disebabkan oleh
beberapa faktor, salah satu nya yaitu matematika masih dipandang sebagai pelajaran yang
sulit bagi siswa sehingga minat siswa dalam belajar matematika rendah. Komunikasi
pembelajaran yang terjadi di sekolah hanya satu arah, yaitu antara guru ke peserta didik
(Munawarah et al., 2023). Menurut Nugraha (2018:4) bahwa “Mayoritas guru tidak
menghubungkan satu konsep dalam istilah lain dalam kehidupan sehari-hari”. Selanjutnya
menurut Anggraeni et al (2020:25) bahwa “Siswa cenderung berfikir negatif terhadap
matematika dan motivasi siswa kurang. Pembelajaran matematika pun dianggap
membosankan dan siswa menjadi kurang tertarik (Mathebekase, 2018).
2
menurut Setiawan (dalam Khairunnisa et al., 2023) bahwa “Literasi matematika
didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam merumuskan, menggunakan dan
menafsirkan matematika dalam berbagai konteks”. Kemampuan literasi matematis siswa
penting sebab kemampuan literasi yang baik bagi siswa agar siswa mampu dan terbiasa
untuk berfikir secara kritis, kreatif, dan inovatif.
Berdasarkan laporan PISA pada tahun 2018 juga dijelaskan bahwa kelemahan siswa
Indonesia terletak pada ketidakmampuan mereka dalam menghadapi masalah yang
membutuhkan ketrampilan berpikir kritis, kreatif, dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi
(HOTS) (Erfan & Ratu, 2018). HOTS merupakan kemampuan yang dimiliki dalam
mengolah informasi dengan kreatif dan logis guna melakukan evaluasi dan menyelesaikan
permasalahan yang sedang dihadapinya (Dosinaeng et al., 2019). Masalah HOTS menjadi
alat ukur dalam melakukan kemampuan berpikir pada tingkatan tinggi selain mengingat,
yakni mengulang ataupun menunjuk dengan tidak mengolah (Widana, 2017).
Disempurnakan oleh Anderson et al. (2001) dimensi proses berpikir tingkat tinggi pada
taksonomi Bloom terdiri dari keterampilan: mengetahui, memahami, menerapkan,
analisis, evaluasi dan kreasi. Taksonomi Bloom yang telah diperbaiki membagi proses
berpikir dalam dua kelompok yakni keterampilan berpikir pada tingkatan rendah atau
LOTS di level C1-C3 dan ketrampilan berpikir tingkat tingi atau HOTS berada pada level
C4-C6 (Tanujaya et al., 2017).
Penerapan masalah HOTS di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah salah satu
cara untuk mendukung kualitas literasi matematika, salah satunya terletak pada materi
lingkaran yang diberikan kepada siswa kelas VIII. Pembelajaran materi lingkaran
membahas terkait titik pusat, jari-jari, luas, keliling lingkaran dan garis singgung yang
sering ditemui pada keseharian siswa. Namun kenyataannya siswa masih mengalami
kesalahan dalam menyelesaikan soal lingkaran. Ada beberapa kesalahan yang dilakukan
siswa saat menyelesaikan soal lingkaran yaitu kesalahan menggunakan rumus lingkaran,
kesalahan menafsirkan soal, kesalahan saat menghitung perkalian dan perpangkatan, dan
kesalahan menuliskan satuan luas lingkaran (Lestari et al., 2016).
3
matematika siswa dapat mengetahui fungsi matematika dalam kehidupan sehari-hari,
sedangkan melalui HOTS siswa dapat bernalar menghasilkan ide dan gagasan yang baru
untuk memecahkan permasalahan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diajabarkan, maka permasalah yang dapat
dirumuskan adalah
1. Adakah hubungan antara literasi matematika dan kemampuan penyelesaian soal
HOTS siswa SMP?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah untuk
mengetahui hubungan antara literasi matematika dan kemampuan penyelesaian soal
HOTS siswa SMP.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis: Pengembangan teori literasi matematika dan HOTS.
2. Manfaat Praktis: Memberikan masukan bagi guru, siswa, dan pengambil kebijakan
pendidikan.
4
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Literasi Matematika
1. Pengertian Literasi Matematika
Literasi adalah kemampuan seseorang dalam berbahasa dan berkomnikasi.
Dimana orang tersebut tidak hanya memiliki kemampuan membaca saja. Tetapi juga
memiliki kemampuan menyimak, berbicara serta menulis. Literasi sebagai faktor
utama agar seseorang berkemabang dan melihat ilmu pengetahuan lewat membaca.
Setidak, lewat membaca mengantarkan individu tersebut memiliki keterampilan lain
selain pengetahuan. Misalnya memiliki keterampilan lain di bidang yang telah
mereka baca atau semacamna (Elizabeth Suzbyy, 1986).
Literasi adalah suatu rangkaian pembelajaran dan kemahiran dalam
membaca, menulis, dan menggunakan angka dan merupakan bagian dari
serangkaian keterampilan yang mencakup pendidikan. Literasi sendiri semakin
meluas dan berkembang seiring dengan semakin banyaknya informasi dalam
pembelajaran.3 Tidak banyak orang menyadari bahwa kemampuan menghitung
termasuk ke dalam kemampuan literasi karena secara umum, kemampuan literasi
hanya di artikan untuk membaca dan menulis saja (National Institute for Literacy).
Literasi matematika terdiri dari dua kata yaitu “literasi” dan “matematika”
yang dikombinasikan sehingga membentuk sebuah definisi baru. Definisi literasi
matematika telah berkembang, bukan lagi sebatas membaca dan menulis matematika
tetapi lebih jauh sebagai suatu keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan
masalah dengan memberdayakan dan meningkatkan kemampuan berpikir yaitu
mengkritis, menganalisis, dan megavaluasi informasi dari berbagai sumber dalam
konteks multiliterasi, multikural, dan multimedia melalui pemberdayaan
multiintelegensi (Kusmiarti & Hamzah, 2019).
Pembahasan mengenai literasi matematika tidak terlepas dari PISA yang
menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari asesment yang dilakukan dalam
perogramnya. Perlu diketahui bahwa literasi matematika menurut Steen di dalam
buku Mathematics and Democracy tidak memiliki komponen yang tetap karena
kebutuhan matematika yang berkembang dari waktu ke waktu. Seperti kita ketahui
bahwa situasi sosial dan lingkupan berubah, membuat literasi matematika bervariasi
setidaknya dalam periode sejarah dan latar belakang suatu budaya. Perubahan
5
rumusan kompetensi literasi matematika OECD ini didasarkan pada perbedaan
tingkat kemahiran pada survei sebelumnya.
Dalam kerangka PISA 2022, literasi matematika adalah kapasitas individu
untuk bernalar secara matematis dan untuk merumuskan, menggunakan, dan
menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Termasuk di dalamnya bernalar
secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, memprediksi fenomena
dan alat matematika membantu seseorang untuk mengenal peran matematika dalam
dunia. Literasi matematika pengetahuan untuk mengetahui dan menerapkan dasar
matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan literasi matematika dianggap sebagai salah satu komponen
penting yang dibutuhkan peserta didik untuk dapat berhasil memecahkan soal-soal
matematika. Kemampuan ini juga berfokus kepada kemampuan peserta didik dalam
menganalisa, memberikan alasan, dan menyampaikan ide secara efektif,
merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasi masalah-masalah matematika
dalam berbagai bentuk dan situasi.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi matematika sangatlah penting bagi siswa
agar mampu memahami matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja akan
tetapi sampai kepada penggunaan penalaran konsep, fakta dan alat matematika
dalam pemecahan masalah sehari-hari serta menuntut siswa untuk
mengkomunikasikan dan menjelaskan fenomena yang dihadapinya dengan konsep
matematika. Kurangnya kemampuan literasi matematika menjadikan kemampuan
siswa dalam berkreasi, bernalar, dan beragumen tidak berkembang sehingga sulit
menyelesaikan persoalan matematika dalam kehidupam sehari-hari.
Dari beberapa uraian di atas, terlihat bahwa kemampuan literasi matematika
menekankan pada kompetensi siswa membaca dan memahami kondisi permasalahan
menggunakan kualitas berpikir matematika yang kemudian dihubungkan ke dalam
dunia nyata. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa literasi matematika adalah
kemampuan siswa dalam membaca, merumuskan, dan menafsirkan matematika
pada berbagai konteks dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi matematika menuntut siswa agar menggunakan penalaran, konsep,
fakta dan malat matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari serta mampu
mengkomunikasikan dan menjelaskan fenomena yang di hadapinya dengan konsep
matemaika. Kemampuan literasi matematika juga membantu individu untuk
6
mengenali bahwa matematika sangat berperan di setiap aspek kehidupan serta
berguna untuk membuat keputusan yang tepat dalam memecahkan soal.
2. Iindikator Literasi Matematika
Menurut Abidin, Y., Mulyati, T. Dan Yunansah, H. (2018), komponen kunci
dari siklus indikator matematis adalah komponen yang membentuk definisi literasi
matematika yang terdapat pada proses literasi matematika, yaitu :
a) Merumuskan, menggunakan serta menafsirkan matematika. Ketika
seseorang mampu mengaitkan konteks permasalahan dengan pengetahuan
matematika untuk memecahkan masalah, seseorang akan merumuskan
masalah itu secara sistematis (formulate)
b) Menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran dalam matematika
(employ), serta menafsirkan, menerapkan
c) Mengevaluasi hasil dari suatu proses matematika (interpret).
7
Kata „menafsirkan‟ yang digunakan dalam definisi literasi
matematika berfokus pada kemampuan siswa untuk memikirkan solusi
matematika, hasil, atau kesimpulan dan menafsirkannya dalam konteks
masalah kehidupan nyata. Hal ini melibatkan menerjemahkan solusi
matematika atau penalaran kembali ke konteks masalah dan menentukan
apakah hasilnya masuk akal dalam konteks masalah. Siswa yang terlibat
dalam proses ini dapat dipanggil untuk membangun dan
mengkomunikasikan penjelasan dan argumen dalam konteks masalah,
merefleksikan proses pemodelan dan hasilnya.
Dari beberapa indikator di atas peneliti menggunakan indikator
berdasarkan Mathematic Framework untuk mengukur kemampuan literasi
matematika yang dimana indikator ini berguna untuk mengatur proses
matematika yang menggambarkan apa yang dilakukan individu untuk
menghubungkan konteks masalah dengan memecahkan masalah
matematika.
Tabel 1.1 Indikator Proses Literasi Matematika
8
Mampu menerapkan Menerapkan konsep matematika
(employ) (prosedur dan penalaran) :
- Peseta didik mampu merancang
dan menarapkan strategi untuk
menemukan solusi matematika.
- Peseta didik mampu menerapkan
fakta, aturan, alogaritma, dan
struktur matematika ketika
mencari solusi.
- Peserta didik mampu membuat
generalisasi berdasarkan
prosedur hasil matematika untuk
mencari solusi.
Mampu Menafsirkan Menafsirkan, menerapkan, dan
(interpere) mengevaluasi hasil matematika :
- Peserta didik mampu
menafsrikan alasan mengapa
kesimpulan yang diperolehnya
sesuai dengan konteks
permasalahan yang diberikan.
9
2. Menerapkan Menggunakan informasi yang relavan, 4
(employ) mengidentifikasi beberapa bagian yang
paling penting dari masalah dan
menujnjukan pemahaman secara umum
tentang hubungannya dan memberikan
bukti yang jelas dalam proses
perhitungan dan sistematis, jawaban
benar.
Menggunakan informasi yang relavan, 3
mengidentifikasi beberapa bagian yang
paling penting dari masalah dan
menunjukkan pemahaman secara umum
tentang hubungannya dan memberikan
bukti yang jelas dalam proses
perhitungan dan sistematis, jawaban
mendekati benar.
Mengidentifikasi beberapa bagian 2
penting dalam permasalah tetapi hanya
menunjukkan sedikit pemehaman akan
hubungan kedua bagian tersebut,
menunjukkan fakta dari proses
perhitungan tetapi kurang lengkap dan
tidak sistematis.
Menggunakan informasi yang tidak 1
relavan, gagal mengidentifikasi bagian
yang penting, strategi yang digunakan
tidak tepat, fakta yang diberikan tidak
lengkap, susah diidentifikasi atau tidak
sistematis.
Tidak ada jawaban, kalaupun ada 0
enunjukkan tidak memahami konsep
sehingga informasi yang diberikan tidak
berarti apa-apa
10
3. Menafsirkan Memberikan respon lengkap dengan 3
(interprete) jelas, penjelasan dan/atau keterangan
tidak ambigu, menyajikan argumen
yang kuat dengan logis dan lengkap
untuk menarik suatu kesimpulan
Memberikan respon yang cukup 2
lengkap dengan penjelasan atau
keterangan cukup jelas; menyajikan
argumen yang cukup logis, tetapi berisi
bebarapa kesenjangan kecil
Memberikan haisl akhir, tetapi tidak 1
memberikan alasan/ penjelasan sama
sekali.
Salah sama sekali/tidak menjawab sama 0
sekali
Skor Total 10
(Sumber Gusti)
11
3. Peran Literasi Matematika Pada Pembelajaran Matematika
Literasi matematika memiliki tiga prinsip yaitu perencanaan, pemanfaatan,
dan penguraian yang spsesifik. Literasi matematika erat kaitannya dengan
kemampuan individu untuk menangani masalah dalam kehidupan sehari-hari
dengan memanfaatkan informasi matematika mereka sendiri. Selama waktu yang
dihabiskan untuk menangani masalah, seseorang yang memiliki kemampuan
matematika akan memahami ide-ide matematika yang mana penting untuk
digunakan dalam menangani masalah. Kemudian ia akan menciptakan cara terbaik
untuk menyelesaikan masalah ke dalam struktur matematikanya dan kemudian
menyelesaikannya. Siklus ini mengabungkan penyelidikan, mencari tahu,
memutuskan, berpikir, dan siklus penalaran matematika lainnya (Anwar, 2018)
Literasi matematika berperan krusial dalam pembelajaran matematika,
karena membantu siswa memahami dan menerapkan konsep matematika dalam
konteks kehidupan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa literasi matematika
yang baik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah
siswa.
Sebagai contoh, menurut penelitian oleh Arianto (2021), "Kemampuan
literasi matematis siswa sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mereka dalam
menyelesaikan masalah matematika yang kompleks". Ini menegaskan pentingnya
literasi matematika dalam mendukung pembelajaran yang efektif.
Oleh karena itu kemampuan Literasi matematika sangat dibutuhkan dalam
menyelesaikan permasalahan matematika. Kemampuan ini bisa diasah dengan
adanya latihan soal matematika yang memiliki banyak solusi dan banyak
penyelesaian untuk melatih siswa berpikir kreatif, misalnya dengan memberikan
soal-soal HOTS. Karena dalam menyelesaiakan masalah matematika diperlukan
kemampuan literasi matematika agar dapat dengan cepat menyelesaikan masalah
tersebut.
12
dalam konteks yang lebih luas. Menurut Anderson dan Krathwohl (2020), HOTS
adalah kemampuan yang melampaui sekadar mengingat fakta atau prosedur, dan
melibatkan pemikiran yang lebih mendalam dan reflektif dalam proses
pembelajaran.
Dalam konteks pendidikan, pengembangan kemampuan penyelesaian soal
HOTS sangat penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan di dunia
nyata. Penelitian oleh Zubaidah et al. (2021) menunjukkan bahwa siswa yang
dilatih untuk menyelesaikan soal HOTS cenderung lebih mampu mengaitkan
konsep-konsep yang mereka pelajari dengan situasi nyata, serta lebih siap untuk
menghadapi masalah yang tidak terstruktur. Hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran yang menekankan pada HOTS dapat meningkatkan pemahaman dan
aplikasi konsep matematika yang lebih baik.
Lebih lanjut, kemampuan penyelesaian soal HOTS juga berkontribusi pada
pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa. Ketika siswa terlibat
dalam diskusi kelompok untuk menyelesaikan soal HOTS, mereka belajar untuk
berkolaborasi, mendengarkan, dan menghargai pendapat orang lain. Penelitian oleh
Rahmawati dan Suhardi (2022) menunjukkan bahwa pembelajaran yang berfokus
pada HOTS tidak hanya meningkatkan kemampuan akademis siswa, tetapi juga
membangun keterampilan interpersonal yang penting untuk kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, pentingnya kemampuan penyelesaian soal HOTS dalam
pendidikan modern tidak dapat diabaikan. Dengan meningkatnya kompleksitas
masalah yang dihadapi di dunia saat ini, siswa perlu dilengkapi dengan
keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk dapat beradaptasi dan berinovasi.
Penelitian oleh Sari dan Prabowo (2023) menekankan bahwa pengembangan
HOTS harus menjadi fokus utama dalam kurikulum pendidikan, agar siswa dapat
menjadi pemikir kritis dan kreatif yang siap menghadapi tantangan di masa depan.
Kesimpulan dari uraian di atas menunjukkan bahwa kemampuan
penyelesaian soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan aspek penting
dalam pendidikan yang perlu dikembangkan untuk mempersiapkan siswa
menghadapi tantangan di dunia nyata. HOTS tidak hanya melibatkan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga mencakup keterampilan analisis, sintesis, dan
evaluasi yang diperlukan untuk memahami dan memecahkan masalah yang
kompleks. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang berfokus pada
HOTS dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang
13
diajarkan, serta kemampuan mereka untuk mengaitkan pengetahuan dengan situasi
nyata.
Selain itu, pengembangan kemampuan penyelesaian soal HOTS juga
berkontribusi pada keterampilan sosial dan emosional siswa, seperti kolaborasi dan
komunikasi, yang sangat penting dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dengan
melibatkan siswa dalam diskusi kelompok dan pembelajaran kolaboratif, mereka
tidak hanya belajar untuk menyelesaikan masalah secara individu, tetapi juga
belajar untuk menghargai perspektif orang lain dan bekerja sama dalam mencapai
tujuan bersama.
Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk mengintegrasikan pendekatan
HOTS dalam kurikulum pendidikan, agar siswa dapat menjadi pemikir kritis dan
kreatif yang siap menghadapi tantangan di masa depan. Dengan demikian,
pengembangan HOTS harus menjadi fokus utama dalam proses pembelajaran,
sehingga siswa tidak hanya siap secara akademis, tetapi juga memiliki
keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dan berinovasi dalam lingkungan
yang terus berubah.
2. Indikator Kemampuan Penyelesaian Soal HOTS
Indikator penyelesaian soal HOTS menurut Zubaidah et al. (2021)
mencakup kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Ketiga
indikator ini penting untuk membantu siswa dalam memahami dan menyelesaikan
masalah matematika yang kompleks secara efektif. Indikator penyelesaian soal
HOTS menurut Zubaidah et al. (2021) adalah sebagai berikut:
a) Kemampuan Menganalisis: Siswa harus mampu mengidentifikasi
elemen-elemen penting dalam suatu masalah dan memahami hubungan
antar elemen tersebut.
b) Kemampuan Mengevaluasi: Siswa diharapkan dapat menilai berbagai
solusi yang mungkin dan memilih yang paling tepat berdasarkan kriteria
tertentu.
c) Kemampuan Menciptakan: Siswa harus mampu merancang solusi baru
atau pendekatan yang inovatif untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi.
d) Kemampuan Berpikir Kritis: Siswa perlu mempertanyakan asumsi yang
ada dan mengembangkan argumen yang logis dalam proses pemecahan
masalah.
14
Indikator-indikator ini berperan penting dalam meningkatkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi siswa dalam konteks pembelajaran matematika.
a) Analisis masalah
b) Evaluasi solusi
c) Kreatifitas dalam penyelesaian
d) Penerapan teori
Dari beberapa indikator di atas, penulis mengambil tahap penyelesaian
soal HOTS matematika yang dikemukakan oleh Rahmawati dan Suhardi (2022)
dengan pertimbangan banyaknya penelitian yang mengunakannya untuk
mengukur kemampuan penyelesaian soal HOTS matematika siswa SMP.
Secara lebih rinci indikator penyelesaian soal HOTS matematika siswa
SMP sebagai berikut :
Tabel 2.3 Indikator Penyelesaian Soal HOTS Matematika
15
menganalisis elemen-elemen
penting dalam suatu masalah.
Evalusasi Solusi Mengevaluasi solusi yang digunakan :
- Siswa perlu mengevaluasi
berbagai solusi yang mungkin
dan memilih yang paling efektif.
Kreatifitas dalam Siswa perlu mencari penyelesaian soal
Penyelesaian yang tepat untuk memecahkan soal
HOTS
Penerapan Teori Penggunaan teori pemecahan masalah :
- Siswa memilih menggunakan
teori yang tepat untuk
memecahkan masalah soal
HOTS yang sesuai.
16
Menuliskan solusi tidak lengkap dan 3
sesuai dengan konsep soal yang
disajikan
Tidak menuliskan solusi 0
Total Skor 20
Nilai Kriteria
17
C. Penerapan Soal HOTS
Selain itu, hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal matematika berbasis HOTS berada pada kriteria yang baik. Penerapan
soal HOTS terbukti meningkatkan hasil belajar siswa secara keseluruhan. "Hasil penelitian
menunjukkan bahwa secara umum kemampuan siswa SMP dalam menyelesaikan soal
matematika berbasis HOTS berada pada kriteria yang baik, dengan peningkatan yang jelas
terlihat setelah penerapan soal tersebut." (Journal UNY, 2023).
Penelitian lain juga menyoroti pentingnya kualitas soal HOTS yang dirancang
untuk siswa SMP. Soal-soal tersebut tidak hanya menantang, tetapi juga dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. "Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kualitas butir soal HOTS pada siswa SMP kelas VII, dan menemukan bahwa
soal yang dirancang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa." (OJS FKIP
UMMETRO, 2023).
18
mendalam. "Peningkatan kemampuan berpikir logis matematis melalui implementasi soal
HOTS pada siswa kelas VIII SMP menunjukkan hasil yang signifikan, di mana siswa tidak
hanya menghafal rumus tetapi juga memahami konsep secara mendalam." (Jurnal Ilmiah
Pendidikan Matematika, 2023).
19
yang meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka." (Jurnal Pendidikan
Matematika, 2023).
Berikut beberapa contoh soal HOTS matematika yang dapat diterapkan
pada siswa Sekolah Menengah Pertama sesuai dengan uraian di atas :
a) Soal Analisis: "Sebuah taman berbentuk persegi memiliki luas 144 m².
Jika panjang salah satu sisinya ditambah 2 m, berapa luas taman tersebut
setelah penambahan? Analisislah perubahan luas yang terjadi dan jelaskan
langkah-langkah perhitunganmu."
Penyelesaian :
Diketahui :
Luas taman berbentuk persegi = 144 m²
Panjang sisi taman awal = s
Ditanya :
Berapa luas taman setelah panjang salah satu sisi ditambah 2 m?
Dijawab :
Menghitung panjang sisi awal
L = s2
144 = s2 -> s = √144 = 12 m
Panjang sisi setelah penambahan 2 m
S’ = 12 + 2= 14 m
Menghitung luas setelah penambahan sisi
L′ = (s′)2 = 142 = 196 m2
Jawaban: Luas taman setelah penambahan sisi adalah 196 m².
b) Soal Evaluasi: "Dua orang memiliki uang total Rp1.200.000. Jika satu
orang menghabiskan 30% dari uangnya dan yang lainnya menghabiskan
50% dari uangnya, siapa yang lebih banyak menghabiskan uang dan
berapa sisa uang masing-masing setelah pengeluaran? Berikan alasan
untuk jawabanmu."
Penyelesaian :
Diketahui :
20
Total uang dua orang: x+y=1.200. dengan x adalah uang A dan y adalah
uang B.
A menghabiskan 30% dari uangnya: 0,3x
B menghabiskan 50% dari uangnya: 0,5y
Ditanya :
Siapa yang lebih banyak menghabiskan uang?
Berapa sisa uang masing-masing setelah pengeluaran?
Dijawab :
Langkah 1: Hubungan antara x dan y
Diketahui x+y=1.200.000 sehingga y=1.200.000−x
Langkah 2: Uang yang dihabiskan
A menghabiskan 0,5x
B menghabiskan 0,5y
0,5 (1.200.000 − x) = 600.000−0,5x
Perbandingan:
Uang yang dihabiskan oleh A lebih besar dari B jika 0,3x>600.000−0,5x
Selesaikan persamaan
0,3x + 0,5x> 600.000
0,8x > 600.000
> 750.000
Artinya:
c. Soal Kreasi : “Rina ingin membuat sebuah kerajinan dari kertas yang
berbentuk prisma segitiga. Jika dia memiliki kertas dengan panjang alas
10 cm dan tinggi 5 cm, buatlah desain kerajinan tersebut dan hitunglah
21
volume prisma yang dihasilkan. Jelaskan proses kreatif yang kamu
lakukan dalam mendesain kerajinan ini.”
Penyelesaian :
Diketahui :
Ditanya :
22
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian
korelasional untuk mengeksplorasi hubungan antara literasi matematika dan kemampuan
penyelesaian soal HOTS pada siswa SMP. Menurut Suhardi dan Rahmawati (2022),
pendekatan kuantitatif memungkinkan peneliti untuk mengukur variabel secara numerik
dan menganalisis hubungan antar variabel dengan menggunakan teknik statistik. Desain
korelasional dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh literasi matematika terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal
HOTS, serta untuk mengidentifikasi pola yang mungkin ada di antara kedua variabel
tersebut.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP di beberapa sekolah di wilayah
tertentu. Penelitian sebelumnya oleh Hidayati (2021) menunjukkan bahwa pemilihan
sampel yang representatif sangat penting untuk mendapatkan hasil yang valid dan dapat
digeneralisasi. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan teknik pengambilan
sampel acak untuk memilih siswa dari berbagai latar belakang, sehingga hasil penelitian
dapat mencerminkan kondisi yang lebih luas dan beragam.
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari literasi matematika sebagai
variabel independen dan kemampuan penyelesaian soal HOTS sebagai variabel
dependen. Menurut Pratiwi (2020), literasi matematika mencakup kemampuan siswa
dalam memahami dan menggunakan konsep matematika dalam konteks kehidupan
sehari-hari. Di sisi lain, kemampuan penyelesaian soal HOTS melibatkan keterampilan
berpikir kritis dan kreatif, yang sangat penting dalam pembelajaran matematika.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua variabel tersebut
dan mengukur seberapa besar pengaruh literasi matematika terhadap kemampuan
penyelesaian soal HOTS.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mencakup tes literasi matematika
dan tes kemampuan penyelesaian soal HOTS. Tes literasi matematika akan dirancang
berdasarkan indikator yang relevan, seperti pemahaman konsep dan aplikasi matematika
dalam situasi nyata. Sementara itu, tes kemampuan penyelesaian soal HOTS akan berisi
23
soal-soal yang menuntut siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan
solusi untuk masalah matematika yang kompleks. Validitas dan reliabilitas instrumen
akan diuji untuk memastikan bahwa alat ukur yang digunakan dapat memberikan hasil
yang akurat dan konsisten, sebagaimana diungkapkan oleh Setiawan (2023).
Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional, penelitian
ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai hubungan antara
literasi matematika dan kemampuan penyelesaian soal HOTS pada siswa SMP. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kurikulum
dan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan literasi matematika dan
kemampuan berpikir kritis siswa di tingkat SMP. Selain itu, penelitian ini juga dapat
menjadi acuan bagi penelitian lebih lanjut di bidang pendidikan matematika, seperti yang
disarankan oleh Nuraini (2022), yang menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi literasi matematika dan kemampuan
berpikir kritis siswa.
B. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Menengah Pertama
(SMP) di wilayah tertentu, yang mencakup beberapa sekolah negeri dan swasta. Penelitian
ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang representatif mengenai literasi
matematika dan kemampuan penyelesaian soal HOTS di kalangan siswa SMP. Dengan
melibatkan berbagai latar belakang sekolah, diharapkan hasil penelitian dapat
mencerminkan kondisi yang lebih luas dan beragam, serta memberikan wawasan yang
lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi literasi matematika dan
kemampuan berpikir kritis siswa.
24
C. Variabel Penelitian
1. Variabel Independen (X) : Literasi Matematika
a) Definisi: Literasi matematika merujuk pada kemampuan siswa untuk memahami,
menggunakan, dan menginterpretasikan informasi matematis dalam berbagai
konteks. Ini mencakup kemampuan untuk menerapkan konsep matematika dalam
situasi nyata, serta kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi
yang berkaitan dengan matematika.
b) Indikator: Indikator literasi matematika dapat mencakup pemahaman konsep
dasar matematika, kemampuan menyelesaikan masalah yang melibatkan operasi
matematika, serta kemampuan untuk membaca dan memahami grafik atau tabel
yang berhubungan dengan data matematis.
2. Variabel Dependen (Y): Kemampuan Penyelesaian Soal HOTS (Higher Order
Thinking Skills)
a) Definisi: Kemampuan penyelesaian soal HOTS mencakup keterampilan berpikir
kritis dan kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang
kompleks. Soal HOTS biasanya menuntut siswa untuk menganalisis,
mengevaluasi, dan menciptakan solusi, bukan hanya menghafal atau menerapkan
rumus.
b) Indikator: Indikator kemampuan penyelesaian soal HOTS dapat mencakup
kemampuan siswa dalam menganalisis informasi yang diberikan, mengevaluasi
berbagai alternatif solusi, serta menciptakan atau merancang solusi baru untuk
masalah yang dihadapi. Soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan
ini biasanya melibatkan situasi nyata yang memerlukan pemikiran tingkat tinggi.
D. Instrumen Penelitian
1. Tes Literasi Matematika:
Instrumen ini dirancang untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami
dan menerapkan konsep-konsep matematika. Tes ini akan mencakup berbagai jenis soal,
seperti pilihan ganda, isian singkat, dan soal uraian yang mencakup aspek-aspek berikut:
a) Pemahaman konsep dasar matematika (misalnya, operasi bilangan, geometri,
dan statistik).
b) Kemampuan menerapkan konsep dalam situasi nyata.
c) Kemampuan membaca dan memahami grafik atau tabel.
25
Instrumen ini akan berisi soal-soal yang dirancang untuk mengukur kemampuan
berpikir kritis dan kreatif siswa. Soal-soal HOTS akan mencakup:
a) Soal analisis: Siswa diminta untuk menganalisis informasi dan menarik
kesimpulan.
b) Soal evaluasi: Siswa diminta untuk mengevaluasi solusi yang ada dan
memberikan alasan.
c) Soal kreasi: Siswa diminta untuk menciptakan atau merancang solusi baru
untuk masalah yang diberikan.
E. Prosedur Penelitian
1. Persiapan:
a) Mengajukan izin kepada pihak sekolah untuk melakukan penelitian.
b) Menyusun instrumen penelitian dan melakukan uji coba untuk memastikan
validitas dan reliabilitasnya.
2. Pengambilan Sampel:
3. Pengumpulan Data:
4. Pengolahan Data:
26
F. Teknik Analisis Data
1. Deskripsi Data:
Penelitian ini melibatkan 200 siswa SMP yang dipilih secara acak dari lima
sekolah di wilayah tertentu. Data yang dikumpulkan terdiri dari dua variabel utama:
literasi matematika dan kemampuan penyelesaian soal HOTS. Setiap siswa
mengikuti dua tes: tes literasi matematika dan tes kemampuan penyelesaian soal
HOTS.
27
penyelesaian soal HOTS yang lebih baik. Data ini akan dianalisis lebih lanjut
menggunakan analisis korelasi Pearson untuk menentukan kekuatan dan arah
hubungan antara kedua variabel tersebut.
2. Analisis Korelasi:
Diketahui:
b) Variabel Penelitian:
1) Variabel Independen (X): Literasi Matematika
28
Skor Soal HOTS (Y): Rata-rata = 72, Standar Deviasi = 10
d) Hipotesis:
3. Uji Hipotesis:
Rumus uji t:
𝑟 √𝑛−2
t=
√1−𝑟 2
Subtstitusi nilai :
Nilai t tabel dengan df = n−2 = 198 pada α=0.05 adalah sekitar 1.97.
29
Kesimpulan:
Ada hubungan positif dan signifikan antara literasi matematika dan kemampuan
penyelesaian soal HOTS siswa SMP. Siswa yang memiliki literasi matematika
yang baik cenderung memiliki kemampuan lebih tinggi dalam menyelesaikan
soal HOTS.
30
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, D. (2020). Analisis Hubungan antara Literasi Matematika dan Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan, 8(3), 201-210. doi:10.2345/jpp.v8i3.9101
Setiawan, A. (2023). Pengembangan Instrumen Tes Literasi Matematika untuk Siswa SMP.
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 12(4), 321-330. doi:10.6789/jpp.v12i4.2345
Suhardi, M., & Rahmawati, L. (2022). Metode Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Penerbit Edukasi.
31