1.
Konsep Medis
1.1 Definisi
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit hasil dari regulasi
sistem imun yang terganggu, yang menyebabkan autoantibodi diproduksi berlebihan,
yang pada kondisi normal diproduksi dan digunakan untuk melindungi tubuh dari
benda asing (virus, bakteri, alergen, dan lain - lain) namun pada kondisi ini antibodi
tersebut kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benda asing dan jaringan
tubuh sendiri (Fatmawati, 2018). Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit
autoimun kronis yang ditandai dengan produksi autoantibodi dan pengendapan
kompleks imun, yang mempengaruhi berbagai organ. Faktor genetik, faktor
lingkungan dan faktor hormonal diyakini berkontribusi terhadap terjadinya SLE (Pan,
L, et. all., 2020)
Menurut Laeli (2016) Systemic Lupus Erythematosus merupakan penyakit
autoimun yang bukan disebabkan oleh virus, kuman atau bakteri. Faktor hormon,
lingkungan dan genetik adalah sebagai pemicu penyakit lupus. Keterbatasan fisik
yang mudah lelah, sensitif terhadap perubahan suhu, kekakuan sendi, nyeri tulang
belakang dan pembuluh darah yang mudah pecah sering dialami oleh penderita lupus.
Penderita dapat mengalami rasa lelah yang berlebihan, penampilan fisik yang berubah
karena efek dan pengobatan yang bisa menyebabkan kebotakan, muncul ruam pada
wajah dan pembengkakan pada kaki
1.2 Epidemiologi
Lupus erythematosus adalah penyakit autoimun kronis yang mempengaruhi
berbagai organ dalam tubuh. Epidemiologi lupus erythematosus, terutama lupus
eritematosus sistemik (Systemic Lupus Erythematosus/SLE), melibatkan studi
tentang distribusi, pola, dan faktor risiko penyakit ini dalam populasi.
Prevalensi SLE bervariasi secara global, tergantung pada populasi dan metode
diagnosis. Di Amerika Serikat, prevalensi berkisar antara 20 hingga 150 kasus per
100.000 orang. Angka ini lebih tinggi pada populasi tertentu, seperti orang
Afrika-Amerika, Asia, dan Hispanik, dibandingkan dengan orang kulit putih. Insidensi
atau jumlah kasus baru SLE berkisar antara 1 hingga 10 kasus per 100.000 orang
per tahun.
Demografi
- Jenis Kelamin: SLE lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria,
dengan rasio sekitar 9:1. Penyakit ini paling sering berkembang pada wanita usia
subur (15-45 tahun), tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak dan orang tua.
- Etnis: Insidensi dan keparahan SLE lebih tinggi pada kelompok etnis tertentu,
seperti Afrika-Amerika, Asia, dan Hispanik, dibandingkan dengan orang Eropa atau
Kaukasia.
1.3 Etiologi
Menurut (Hikmah, 2018) penyebab Systemic Lupus Erythematosus dibagi menjadi 2
faktor, yaitu :
1. Faktor Genetik Jumlah, usia, dan usia anggota keluarga yang menderita
penyakit autoimun menentukan frekuensi autoimun pada keluarga tersebut.
Pengaruh riwayat keluarga terhadap terjadinya penyakit ini pada individu
tergolong rendah, yaitu 3-18%. Faktor genetik dapat mempengaruhi keparahan
penyakit dan hubungan familial ini ditemukan lebih besar pada keluarga
dengan kondisi sosial ekonomi yang tinggi.
2. Faktor Lingkungan Beberapa faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya
Systemic Lupus Erythematosus antara lain:
1) Hormon
Hormon estrogen dapat merangsang sistem imun tubuh dan
penyakit ini sering terjadi pada perempuan terutama saat usia
reproduktif dimana terdapat kadar estrogen yang tinggi.
2) Obat-obatan
Beberapa obat dapat menyebabkan terjadinya gangguan sistem
imun melalui mekanisme molecular mimicry, yaitu molekul obat
memiliki struktur yang sama dengan molekul di dalam tubuh sehingga
menyebabkan gangguan toleransi imun.
3) Infeksi
Infeksi dapat memicu respon imun dan pelepasan isi sel yang
rusak akibat infeksi dan dapat meningkatkan respon imun sehingga
menyebabkan penyakit autoimun.
4) Paparan sinar ultraviolet Adanya paparan sinar ultraviolet dapat
menyebabkan kerusakan dan kematian sel kulit serta berkaitan dengan
fotosensitivitas pada penderita.
1.4 Gejala Klinis
SLE dapat menyerang berbagai organ tubuh, sehingga gejala yang muncul pun
beragam. Beberapa gejala yang umum ditemui pada penderita SLE antara lain:
1. Ruam Kulit:
a. Butterfly Rash: Ruam kemerahan yang berbentuk seperti sayap kupu-kupu,
biasanya muncul di pipi dan hidung. Ini adalah salah satu gejala yang paling
khas pada SLE.
b. Discoid Rash: Ruam merah tebal yang sering muncul di area kulit yang
terpapar sinar matahari, seperti wajah, telinga, dan kulit kepala.
c. Ruam lain: Ruam merah atau ungu yang bisa muncul di berbagai bagian
tubuh, seringkali disertai dengan luka.
Nyeri Sendi:
Nyeri dan bengkak pada sendi, terutama sendi tangan dan kaki. Nyeri ini seringkali
berpindah-pindah dari satu sendi ke sendi lainnya.
Kelelahan:
Rasa lelah yang ekstrem, bahkan setelah beristirahat cukup.
Demam:
Demam yang tidak diketahui penyebabnya.
Rambut Rontok:
Rambut rontok yang signifikan.
Gangguan Ginjal:
Proteinuria (protein dalam urine) dan hematuria (darah dalam urine).
Gangguan Saraf:
Sakit kepala, pusing, kejang, kebingungan, dan depresi.
Fenomena Raynaud:
Jari tangan dan kaki menjadi putih atau biru ketika terkena suhu dingin.
Sariawan:
Ulserasi mulut yang sering dan sulit sembuh.
Peradangan pada organ dalam:
Peradangan pada jantung, paru-paru, ginjal, dan otak.
1.5 Patofisiologi
Pada pasien SLE terjadi gangguan respon imun yang menyebabkan aktivasi
sel B, peningkatan jumlah sel yang menghasilkan antibodi. hipergamaglobulinemia,
produksi autoantibodi, dan pembentukan kompleks imun (Kemenkes, 2016).
Antigen ini dibawa oleh antigen presenting cells (APCs) atau berikatan
dengan antibodi pada permukaan sel B. Kemudian diproses oleh sel B dan APCs
menjadi peptida dan dibawa ke sel T melalui molekul HLA yang ada di permukaan.
Sel T akan teraktivasi dan mengeluarkan sitokin yang dapat merangsang sel B untuk
membentuk autoantibodi yang patogen. Interaksi antara sel B dan sel T serta APCs
dan sel terjadi dengan bantuan sitokin,molekul CD 40, CTLA-4 (Terry, 2016).
Gangguan sistem imun pada SLE dapat berupa gangguan kliren kompleks
imun, gangguan pemrosesan kompleks imun dalam hati, dan penurunan uptake
kompleks imun pada limpa Adanya gangguan tersebut menyebabkan meningkatnya
paparan antigen terhadap sistem imun dan terjadinya deposisi kompleks imun pada
berbagai macam organ sehingga terjadinya fiksasi komplemen pada organ tersebut
Peristiwa ini menyebabkan aktivasi komplemen yang menghasilkan
mediator-mediator inflamasi yang menimbulkan reaksi radang. Reaksi radang inilah
yang menyebabkan timbulnya keluhan/gejala pada organ atau tempat yang
bersangkutan seperti ginjal, sendi, pleura, pleksus koroideus, kulit, dan sebagainya
(Corwin,2009)
Menurut Wijaya (2019) patogenesis Systemic Lupus Erythematosus bersifat
multifaktorial yang merupakan interaksi dari faktor genetik, faktor lingkungan dan
faktor hormonal yang menghasilkan respon imun yang abnormal. Pada pasien ini
cenderung terjadi gangguan sistem imun. Abnormalitas pada sel T meliputi respon
abnormal pada autoantigen, gangguan toleransi sistem imun dan gangguan
transduksi signal pada T cell receptor. Gangguan pada fungsi sel B berupa
terbentuknya autoantibodi dan modulasi sel T untuk mensekresi sitokin. Autoantibodi
yang paling penting antara lain anti-dsDNA, anti-Ro, anti-Sm, antibodi antifosfolipid
dan antibodi antinuklear. Pada pasien Systemic Lupus Erythematosus juga terjadi
peningkatan produksi sitokin proinflamasi, antara lain Interleukin- 2 (IL-2), Interferon
gamma (IFN-γ), Interferon alpha (IFN-α), Interleukin-4 (IL-4), Interleukin-6 (IL-6),
Interleukin-10 (IL-10), Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α), dan Transforming
Growth Factor Beta (TGF-β) dimana semua sitokin proinflamasi ini semua disekresi
oleh sel T Helper-1 (TH1). Pada pasien Systemic Lupus Erythematosus juga terjadi
gangguan aktivitas fagositosis, gangguan fiksasi komplemen, peningkatan apoptosis
yang dapat mengakibatkan terjadinya inflamasi jaringan dan kerusakan organ. Pada
orang yang sehat, kompleks imun dibersihkan oleh Fragmen crystallizable (Fc) dan
Complement Receptor (CR). Kegagalan pembersihan kompleks imun menyebabkan
deposisi. Kerusakan jaringan dimulai dengan adanya sel inflamasi, intermediet
oksigen reaktif, produksi sitokin proinflamasi dan modulasi kaskade koagulasi.
1.6 Penatalaksaan
Penatalaksanaan SLE menurut Brunner and Suddart (2017) adalah
a. Istirahat
Istirahat diperlukan untuk mengatasi kelelahan. Ini dilakukan
dengan cara membatasi aktivitas secara berlebih dengan
istirahat yang cukup
b. Ingatkan pasien untuk menghindari paparan sinar matahari dan
ultraviolet dengan menggunakan tabir surya atau masker
c. Diet
Mengingatkan pasien untuk membatasi asupan lemak agar
kadar lipid darah normal
d. Obat obatan
Menurut Soedarto (2012) obat obatan untuk penyakit lupus
adalah
1.7 Pathway
2. Konsep Keperawatan
2.1 Pengkajian Fokus
Anamnesa
Riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan pada gejala sekarang
dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah Ielah, lemah, nyeri, kaku,
demam panas,anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta
citra diri pasien
Riwayat penyakit sebelumnya. Biasanya pada penderita Systemic Lupus
Erythematosus mengalami penyakit nyeri terutama pada persendian. Pasien
merasa panas seluruh badan badan selama 1 bulan, dan pasien merasakan
kulitnya kering/ bersisik, pecah-pecah rambut rontok dan semakin parah
apabila terpapar sinar matahari (Alamanda, 2018).
Riwayat penyakit keluarga Pada penyakit Systemic Lupus Erythematosus ini
belum diketahui secara pasti penyebab penyakitnya tetapi faktor genetik juga
sering dikaitkan dengan penderita (Alamanda, 2018).
Riwayat pengobatan Pada penderita Systemic Lupus Erythematosus
sebelum mengalami penyakit ini biasanya sering mengkonsumsi obat asam
urat seperti Allopurinol 100 mg yang diminum setiap hari selama 1 tahun
(Fatmawati, 2018).
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien menurut Hikmah (2018):
1) Keadaan umum
a) Kesadaran Pada pasien Systemic Lupus Erythematosus kesadarannya
composmentis bahkan bisa sampai terjadi penurunan kesadaran
b) Tanda-tanda vital Biasanya pada penderita Systemic Lupus Erythematosus ini
ditemukan peningkatan suhu dan nadi diatas rentang normal.
2) Pemeriksaan head to toe
a) Kepala Terdapat ruam (malar) pada pipi yang tampak kemerah – merahan,
terdapat butterfly rash pada wajah terutama pipi dan sekitar hidung, telinga, dagu,
daerah pada leher
b) Mata Pada pemeriksaan mata di dapatkan hasil mata tampak pucat (anemis)
c) Telinga Melakukan inspeksi dan palpasi struktur telinga luar, melakukan inspeksi
struktur telinga tengah dengan ostoskop dan menguji telinga dalam dengan
mengukur ketajaman pendengaran.
d) Hidung Mengobservasi bentuk, ukuran, warna kulit, dan adanya deformitas atau
inflamasi. Jika ada pembengkakan, perawat melakukan palpasi dengan hati-hati.
e) Mulut Mengobservasi bentuk, ukuran, warna kulit, dan adanya deformitas atau
inflamasi. Melakukan palpasi ada nyeri tekan terhadap pasien pada bagian mulut &
bibirnya. Pada pasien biasanya akan terjadi sariawan dan bibir pecah – pecah.
f) Leher Memulai dengan leher dalam posisi anatomik biasa dengan sedikit
hiperekstensi. Inspeksi kesimetrisan bilateral dari otot leher untuk menguji fungsi otot
sternokleidomastoideus. Periksa adanya pembesaran kelenjar tiroid
g) Payudara Mengenali adanya abnormalitas dengan tampilan payudara pasien.
Melakukan palpasi untuk menentukan adanya nyeri tekan konsistensi dan ukuran
besarnya payudara
h) Genetalia Melakukan inspeksi karakteristik warna kulit sekitar genetalia adanya
gangguan serta nyeri tekan hingga benjolan lain yang didapatkan saat sakit
i) Dada Inspeksi adanya luka/parut sekaligus bekas luka dan kesimetrisan dinding
dada, perkusi biasanya peranannya menurun sesudah ada foto rontgen toraks
sekaligus dapat dilakukan dengan cara sederhana untuk menentukan letak jantung
dengan ketukan
j) Muskuloskeletal Sistem otot dikaji dengan memperhatikan kemampuan mengubah
posisi, kekuatan otot pasien serta kelemahan yang [Link] dilakukan dengan
tes ROM yang menentukan gerakan sendi normal/tidak. ROM dibagi menjadi 2 yaitu
pasif dan aktif
k) Abdomen Pemeriksaan abdomen pasien harus rileks. Otot abdomen yang
mengencang akan menyembunyikan keakuratan palpasi dan auskultasi. Perawat
meminta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan dimulai. Inspeksi dilakukan
dengan cara melihat kondisi abdomen secara keseluruhan yang nampak
Pemeriksaan Penunjang
SLE merupakan suatu penyakit autoimun pada jaringan ikat yang menujukan
berbagai manifestasi,paling sering berupa artitis. Dapat juga timbul manifestasi
dikulit, ginjal dan neorologis. Penyakit ini ditandai dengan adanya periode aktivitas
(ruam) dan remisi. SLE ditegakan atas dasar gambaran klinis disertai dengan
penanda serologis, khususnya beberapa autoantibodi yang
paling sering digunakan adalah antinukelar antibody ( ANA, terapi antibody ini
juga dapat ditemukan pada wanita yang tidak menderita SLE. Antibody yang
kurang spesifik adalah antibouble standed DNA antibody (anti DNA),
pengukuran bermanfaat untuk menilai ruam pada lupus. Anti-Ro, anti-La dan
antibody antifosfolipidpenting untuk diukur karena meningkatkan resiko pada
kehamilan. Penatalaksanaan SLE harus dilaksanakan secara multidisiplin.
Periode aktifitas penyakit dapat sulit untuk didiagnosa. Keterlibatan ginjal
sering kali disalah artikan dengan pre-eklamsia, tetapi temuan adanya
peningkatan antibody anti DNA serta penurunan tingkat komplemen membantu
mengarahkan pada ruam.
Antibody fosfolipid dapat timbul tanpa SLE tetapi menandakan resiko
keguguran. Temuan pemeriksaan laboratorium :
1. Tes flulorensi untuk menentukan antinuclear antibody (ANA), positif
dengan titer tinggi pada 98% penderita SLE.
2. Pemeriksaan DMA double standed tinggi,spesifik untuk menentukan SLE
3. Bila titel antibobel strandar tinggi, spesifik untuk diagnose SLE
4. Tes sifilis bias positif palsu pada pemeriksaan SLE.
5. Pemeriksaan zat antifosfolipid antigen (seperti antikardolipin antibody)
berhubungan dengan menentukan adanya thrombosis pada pembuluh arteri,
vena atau pada abortus spontan, bayi meninggal dalam kandungan dan
trombositopeni.
Pemeriksaan laboratorium ini diperiksa pada penderita SLE atau lupus
meliputi darah lengkap, laju sedimentasi darah, antibody antinuklir (ANA),
anti-AND, SLE, CRP, analyses urin, komplemen 3 dan 4 pada pemeriksaan
diagnosis yang dilakukan adalah biopsy.
2.2 Diagnosis
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenairespons
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi
yang berkaitan dengan kesehatan (SDKI, 2017). Diagnosis Keperawatan yang
muncul pada pasien Systemic Lupus Erythematosus antara lain:
1. Gangguan citra tubuh b.d perubahan struktur bentuk tubuh (D.0083)
2. Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mencerna makanan (D.0019)
3. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (D.0077)
4. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d sekresi yang tertahan (D.0001)
5. Resiko Infeksi d.d faktor resiko Imununosupresi (D.0142)
2.3 Intervensi
Rencana tindakan keperawatan menurut Bulechek (2013) adalah
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi
yang tertahan
Definisi ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi ari
saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas
Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
Kriteria hasil
Status pernapasan
a. pernapasan dalam balas normal (1 6-24x)
b menunjukkan jalan napas yang paten
c. mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang
adekuat
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisiologis
Definisi nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau
potensial yang digambarkan sebagai kerusakan yang tiba tiba, dar intensitas ringan
hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi
Kriteria hasil
Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
Tingkat Nyeri
1. Skala nyeri berkurang
2. Tidak ada mual
3 Pasien dapat beristirahat
3. Defisit Nutrisi
Definisi ketidakseimbangan nutrisi adalah nutrisi yang dibutuhkan
kurang dari kebutuhan tubuh
Intervensi: Manajemen Nutrisi (I. 03119)
Kriteria hasil
Status Nutrisi
a. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
b. Adanya peningkatan berat badan sesuai tujuan
c. Berat badan ideal dengan tinggi badan
d. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
4. Resiko Infeksi faktor resiko imununosupresi
Definisi risiko infeksi faktor risiko imunosupresi yaitu rentan
mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik yang dapat
menganggu kesehatan
Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
Kriteria Hasil:
5. Gangguan Citra tubuh
Gangguan citra tubuh adalah gangguan mental dari kondisi fisik individu
Kriteria hasil
Intervensi : Promosi citra tubuh (I.09305)
Citra tubuh:
a. Pasien mampu menyesuaikan terhadap perubahan tampilan fisik
b. pasien mampu menyesuaikan terhadap status kesehatan
c. pasien mampus mempertahankan interaksi sosial
3. Kasus
Ny.B 45 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan demam sejak 2 hari yang lalu
dan nyeri sendi 1 tahun yang lalu, lokasinya yaitu sendi bahu,siku,pergelangan tangan,
pergelangan kaki,dan [Link] sendi dirasakan setiap hari,terus menerus dan kelelahan.
Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah akral hangat terdapat sedikit malar rash
di [Link] darah 11080 mmhg. nadi 60x/menit,pemapasan 2x/menit,suhu
37°[Link] kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium.
A. Pengkajian
Nama:Ny.B
Umur :45 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat: kebomas
Status perkawinan:Menikah
Agama: Islam
Suku: Jawa
B. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengalami nyeri sendi pada bahu, siku, pergelangan tangan
pergelangan kaki dan lutut
a) Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit
Klien lesu dan merasakan nyeri
b) Keluhan Utama Saat Dikaji
Klien mengatakan bahwa ia merasakan lemah, akral, hangat, terdapat
sedikit maralras dihidung,tekanan darah110/80mmhg, nadi 60x/menit,
pernafasan 22x/menit, suhu 38°cc,
C. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum Klien
Penampilan: Composmentis
Tanda Tanda Vital
TD: 110/80 mmHg
Suhu : 37°cc
RespirasiNadi x/60menit
22x/menit
2. Kulit: Sawo matang, turgorkulit kurang baik
3. Kepala dan Rambut
Kepala:
Bentuk: Bulat, Simetris
Rambut
Distribusi: Merata
Warna: Hitam
Kebersihan: Bersih
Rontok: Tipis dan Rontok
4. Wajah dan Leher
Wajah
Bentuk: Simetris
Warna: Pucat
Lesi: ada
Bekas trauma: Tidak ada
Leher: Simetris tidak ada benjolan
5. Mata
Bentuk kedua mata : Menonjol
Kongjungtiva : Anemis (Pucat)
Sklera : Warna putih
Reflek cahaya: Baik, pupil refleks terhadap cahaya ada terbukti ketika diberi cahaya pupil
berkontraksi dan ketika cahaya di jauhkan pupil dilatasi Pupil Baik
6. Telinga
Bentuk: Simetris
Kebersihan: Bersih
7. Hidung
Bentuk hidung Simetris
Lesi Tidak ada
Sekret: Ada, lendir cair dan tidak ada kotoran
Mukosa Hidung: Sedikit kemerahan
Kebersihan : Tidak terdapat kotoran
8. Mulut
Bentuk bibir Simetris
Keadaan bibir Kering, pecah-pecah
Gigi: Lengkap jumlah 32 Buah
Lidah: Bersih
9. Dada
Bentuk: Simetris
Bunyi nafas paru: Vesikuler (bernada rendah)
Perkusi paru: Resonant (suara perkusi paru yang normal)
Pola nafas: cepat
Ekspansi paru: Seimbang
Irama Jantung: Reguler (teratur)
10. Abdomen
Bentuk: Simetris
Nyeri tekan: Tidak ada
Bising usus: 14x/menit
Lesi: Tidak ada
11. Repreduksi
Keadaan genetalia: Bersih
Lesi: Tidak ada
Kateter: Tidak terpasang
Hemoroid: Tidak ada
12. Ekstremitas atas/bawah
Atas
Bentuk: Simetris dan lengkap
Keadaan kuku: Pendek, bersih
Bawah
Bentuk: Simetris dan lengkap
Keadaan kuku: Pendek bersih