0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan82 halaman

Peningkatan Keselamatan di SPOB Jeanita

Dokumen ini membahas upaya peningkatan keselamatan kerja pada proses bongkar muat di kapal SPOB JEANITA, dengan fokus pada faktor penyebab kecelakaan dan upaya perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi keselamatan kerja, faktor-faktor penyebab kecelakaan, serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan keselamatan. Keselamatan kerja di laut sangat penting untuk melindungi jiwa manusia, kapal, dan muatan, serta mendukung kepercayaan pengguna jasa transportasi laut.

Diunggah oleh

Bayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan82 halaman

Peningkatan Keselamatan di SPOB Jeanita

Dokumen ini membahas upaya peningkatan keselamatan kerja pada proses bongkar muat di kapal SPOB JEANITA, dengan fokus pada faktor penyebab kecelakaan dan upaya perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi keselamatan kerja, faktor-faktor penyebab kecelakaan, serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan keselamatan. Keselamatan kerja di laut sangat penting untuk melindungi jiwa manusia, kapal, dan muatan, serta mendukung kepercayaan pengguna jasa transportasi laut.

Diunggah oleh

Bayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA ILMIAH TERAPAN

UPAYA PENINGKATAN KESELAMATAN KERJA


PADA PROSES BONGKAR MUAT DISPOB JEANITA

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan

Program Studi Diploma III Pelayaran

(Diklat Pelaut Tingkat III Pembentukan)

ARIFKI DAFFA DWI BOWO


NIT.113305201044
AHLI NAUTIKA TINGKAT III

PROGRAM STUDI DIPLOMA III PELAYARAN

(DIKLAT PELAUT TINGKAT III PEMBENTUKAN)

POLITEKNIK PELAYARAN SUMATERA BARAT

TAHUN 2024
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keselamatan dalam bekerja adalah sebuah usaha dan suatu kegiatan yang

berguna dalam rangka menciptakan keadaan kerja yang aman sertamencegah

terjadinya kecelakaan. Diperlukan sikap yang berhati-hati dan tidak ceroboh

saat bekerja akan menjadikan pihak lainnya merasaaman dan tentram. Dalam

kegiatan bongkar atau muat banyaknya terjadinya kasus kecelakaan hingga

kematian dikarenakan tidak menggunakan prosedur dan alat-alat yang

semestinya, ceroboh, kurangnya marking line, kurang pengawasan.

Salah satu insiden terkait dengan keselamatan proses kerja saat bongkar

muat adalah tragedi pada tanggal 20 April 2023 pukul 20.30 WIB, terjadi

pada kapal SPOB JEANITA Ketika sedang melakukan proses pemuatan di

Pelabuhan Tanjung Uban, pada malam hari ketika cuaca hujan yang

cukupderastiba-tibaterjadikebocoran pada pipa manifold. Pada saat proses

pemuatan sehingga muatan menetes kelantai dan mengakibatkan jurumudi jaga

terpeleset dan terjatuh akibatdari tumpahan muatan tersebut.

Keselamatan pelayaran merupakan masalah dan tanggung jawabbersama

yang harus ditanggulangi oleh semua pihak khususnya bagi mereka yang

berkecimpung di dalam dunia pelayaran, hal ini tentu memberikan dampak

yang sangat besar terutama masalah keselamatan jiwa di laut serta kapal dan

muatannya yang sangat mempengaruhi kepercayaan para pemakai

1
jasa transportasi laut. Masalah ini tentunya menjadi perhatian utama para

pelaku bisnis pelayaran juga International Maritime Organization (IMO) yang

berkedudukan sebagai sebuah organisasi maritim internasional di bawah

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertanggung jawab dalam bidang ini

sesuai dengan misinya yaitu “Safer Shipping Cleaner Ocean”.

Motivasi utama dalam melaksanakan keselamatan kerja adalah untuk

mencegah kecelakaan kerja yang ditimbulkan oleh pekerjaannya untuk melihat

penyebab dan dampak yang ditimbulkannya. Hal inisudah di atur

dalamUndang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja,Safety

Of Life at Sea (SOLAS) yang merupakan pedoman keselamatan jiwa dilaut

1974 consilidated 2005, Standard of Trainning, Certification and

Watchkeeping for Seafarers (STCW) 1978 amandemen 2010 sebagai standar

pelatihan, sertifikasi dan juga pengaturan jaga bagipelaut yang diberlakukan

secara international mulai 1 januari 2012. The International Safety

Management System (ISM) code yang mengatur system manajemen

keselamatan bagi kapal dan perusahaan pelayaran, ataupun publikasi-publikasi

lainnya yang telah dikeluarkan oleh IMO untuk mendukung terciptanya

keselamatan pelayaran, keselamatan jiwa manusia, keselamatan kapal dan

muatannya, serta perlindungan terhadap lingkungan dari kerusakan akibat

pencemaran dari kapal.

Melihat pentingnya masalah diatas, maka dalam penelitian ini Penulis

mengangkat tema dan membahas tentang faktor-faktor dan upaya apa yang

akan dilakukan untuk meningkatkan keselamatan kecelakaan kerja saat

2
bongkar muat diatas kapal. Faktor ada dua yaitu dari crew kapal itu sendiri

(human error) dan dari alat-alat bongkar muat itu sendiri. Selain faktor-faktor

dari kecelakaan kerja saya juga memaparkan upaya-upaya untuk meningkatkan

keselamatan kerja pada saat bongkar muat diatas kapal. Yaitu dengan cara

meningkatkan SDM yang ada diatas kapal dan melakukan maintenance atau

perawatan terhadap alat-alat bongkar muat yang akan digunakan diatas kapal,

makaPenulis tertarik untuk menyusun Karya Ilmiah Terapan dengan judul

“UPAYA PENINGKATAN KESELAMATAN KERJA PADA PROSES

BONGKAR MUAT DI SPOB JEANITA”

1.2 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini peulis membatasi masalah pada upaya prningkatan

keselamatan kerja pada proses bongkar muat di SPOB JEANITA.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah

dalam penelitian ini dapat di identifikasikan menjadi suatu fokus masalah

dalam kasus-kasus satu persatu yang sangat erat hubungannya antara satu

dengan yang lain sehingga dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

1.3.1 Bagaimana kondisi keselamatan kerja saat proses bongkar muat di

SPOB JEANITA?

1.3.1 Apakah faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada saat

bongkar muat di SPOB JEANITA?

1.3.1 Bagaimana upaya untuk meningkatkan keselamatan kerja pada proses

bongkar muat di SPOB JEANITA?

3
1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dirumuskan, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1.4.1 Untuk mengetahui kondisi keselamatan kerjasaat proses bongkar muat

di SPOB JEANITA.

1.4.2 Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja

pada saat bongkar muat di SPOB JEANITA.

1.4.3 Untuk mengetahui upaya untuk meningkatkan keselamatan kerja pada

proses bongkar muat di SPOB JEANITA.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan diadakannya penelitian ini, penulis berharap akan tercapainya

beberapa tujuan antara lain:

1.5.1 Manfaat Teoritis

[Link] Memberikan pengetahuan tentang upaya yang efektif untuk

menjaga keselamatan dan mencegah terjadinya kecelakaan

kerja pada proses bongkar muat di SPOB JEANITA.

[Link] Menambah wawasan khususnya para membaca untuk

mengetahui hal apa saja yang berhubungan tentang

keselamatan kerja.

4
1.5.2 Manfaat Praktis

[Link] Sebagai bahan masukan mengenai tentang syarat dan

prosedur keselamatan kerja pada saat bongkar muat di

SPOB JEANITA.

[Link] Menambah wawasan dan pengetahuan para pembaca untuk

mengetahui bagaimana upaya meningkatkan keselamatan

kerja untuk mencegah kecelakaan kerja pada saat bongkar

muat di kapal serta menambah pengetahuan bagi perwira

dan awak kapal.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Review Penelitian Sebelumnya

Berkaitan dengan topik permasalahan yang dilakukan oleh penulis dalam

penelitian ini, maka perlu didukung dari penelitian-penelitian terdahulu yang

membahas penelitian yang sejenis. Berdasarkan review penelitian yang sudah

dibaca dan dikaji oleh penulis bahwa penelitian yang dibuat oleh penulis

memiliki kesamaan dalam segi penentuan rute pelayaran, namun berbeda

dalam segi keseluruhan dari judul, masalah, isi dan penyajiannya. Dalam

penelitian ini, peneliti melakukan review penelitian terdahulu yang relevan

dengan penelitian sejenis, sebagai berikut:

Tabel 2.1. Review Penelitian Sebelumnya

Judul
No Hasil Penelitian Keterkaitan
penelitian

Bayu Eko Kecelakaan kerja yang terjadi Terkait


Prasetyo disebabkan oleh beberapa Keselamatan
(2023).Upaya faktor seperti, kurangnya kerja. Akan tetapi
Peningkatan pengalaman crew dalam berbeda dengan
Keselamatan bekerja diatas kapal,kurangnya penelitian yang
Kerja saat kedisiplinan dan pemahaman dilakukan penulis
Bongkar Muat prosedur keselamatan kerja, yaitu terkait
1.
Batu Bara di pekerja yang susah diatur, dengan
MV. kondisi peralatan yang rusak, meningkatkan
MANALAGI serta banyak peralatan keselamatan
ASTRA keselamatan kerja yang kurang proses kerja,
layak. Dimana
perbandingan
penelitian ini

6
terdapat pada
lokasi
penelitian,objek
dan jenis muatan
yang di muat di
kapal.

Rudi Kurangnya pengawasan Penelitian ini


Handoko(2022). terhadap implementasi SOP memiliki
Optimalisasi safety equipment on deck keterkaitan yaitu
Implementasi dikarenakan kurang membahas
Prosedur pengawasan,rendahnya kualitas tentang
Keselamatan SDM, dan kurangnya keselamatan
Kerja Guna familiarisasi tentang SOP [Link]
meminimalisasi safety equipment on deck. perbandingan
2.
Kecelakaan penelitian ini
Kerjadi Kapal terdapat pada
MT. lokasi penelitian,
MEDITRAN objek dan jenis
muatan yang di
muat di kapal.

Andrie Rianto Kecelakaan kerja yang terjadi Terkait


(2023). Upaya disebabkan oleh beberapa pencegahan
Pencegahan faktor seperti, minimnya APD kecelakaan kerja.
Kecelakaan di kapal, kurangnya Akan tetapi
Kerja saat pemahaman crew dalam berbeda dengan
kegiatan penerapan SOP,tidak ada penelitian yang
Bongkar Muat penerapan K3 di lapangan, dilakukan penulis
di Pelabuhan kurangnya pemahaman dalam yaitu terkait
pada KM. kegiatan bongkar muat peti dengan
3 MARE MAS. kemas dan over time. meningkatkan
keselamatan
proses kerja,
Dimana
perbandingan
penelitian ini
terdapat pada
lokasi penelitian,
objek dan jenis
muatan yang di

7
muat di kapal.
FukushinNapitu Alat keselamatan yang ada di Terkait
pulu (2020). kapal MV. Energy Midas Keselamatan
Keselamatan kurang memadai serta kerja. Akan tetapi
Kerja Pada pengetahuan buruh dan crew berbeda dengan
Buruh dan Crew tentang peraturan keselamatan penelitian yang
Saat Kegiatan kerja itu masih kurang. Upaya- dilakukan penulis
yaitu terkait
Bongkar Muat upaya yang dapat dilakukan
dengan
Menggunakan untuk meningkatkan
meningkatkan
Floating Crane keselamatan diantaranya keselamatan
4 di MV. Energy adalah dengan peningkatan proses kerja,
Midas manajemen kerja, Dimana
pengendalian kebugaran serta perbandingan
kesehatan crew, pengecekan penelitian ini
kesiapan kerja dan pengawasan terdapat pada
saat bekerja. lokasi penelitian,
objek dan jenis
muatan yang di
muat di kapal.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Keselamatan Kerja

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, pengertian

keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 adalah segala kegiatan untuk

menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja

melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Berdasarkan pemikiran Sabir, M. (2009) mendefinisikan,

keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan mesin,

pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan tempat

kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.

Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi dan distribusi,

8
baik barang maupun jasa. Pendapat lain menyebutkan bahwa

keselamatan kerja berarti proses merencanakan dan mengendalikan

situasi yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja melalui

persiapan prosedur operasi standar yang menjadi acuan dalam bekerja

2.2.2. Peraturan Keselamatan Kerja

Ketentuan peraturan yang terkait dengan keselamatan dan

kesehatan kerja di kapal diantaranya di bawah ini:

[Link].1 UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

Ketentuan Menteri No. 4 tahun 1980 tentang kriteria

pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan.

[Link].2 ISO 45001 Mengatur tentang Standar Interasional

Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

[Link].3 UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (UU

Keselamatan Kerja) mengatur tentang prinsip-prinsip dasar

yang berkaitan dengan pelaksanaan keselamatan kerja.

[Link].4 SOLAS 1974 bersama amandemen-amandemennya

tentang kriteria keselamatan kapal.

[Link].5 Standar Perburuhan Internasional Konvensi 155 Tentang

Keseamatan dan Kesehatan Kerja Tahun 1981 dan

Rekomendasi ILO No.164

[Link].6 STCW 1978 amandemen 1995 tentang standar kursus bagi

para pelaut.

9
[Link].7 ISM Code tentang code manajemen internasional untuk

keselamatan pengoperasian kapal dan mencegah

pencemaran.

[Link].8 Occupational Health tahun 1950 tentang usaha kesehatan

kerja. International Code of Practice tentang panduan-

panduan mengenai prosedur/keselamatan kerja disuatu

perlengkapan, pengoperasian kapal dan terminal.

Tujuan dari peraturan-peraturan itu adalah untuk mendorong usaha

pelaksanaan keselamatan kerja dan penjaminan kesehatan bagi awak

kapal. Usaha keselamatan kerja dapat berhasil dengan baik apabila dapat

diketahui penyebab terjadinya suatu keadaan, karena dengan mengetahui

penyabab terjadinya suatu keadaan dapat ditentukan langkah–langkah

apa yang seharusnya diambil untuk mencegah atau bahkan menghindari

hal-hal tersebut.

2.2.3. Perlengkapan Keselamatan Kerja di atas Kapal

Keselamatan kerja adalah prioritas paling utama bagi seorang

pelaut profesional saat bekerja di atas kapal. Semua perusahaan

pelayaran meyakinkan kalau crew mereka mengikuti prosedur keamanan

pribadi dan ketentuan untuk semua operasi yang dibawa di atas kapal.

Dalam buku yang berjudul Keselamatan Pelayaran oleh DR. D.A.

Lasse, S.H., M.M di jelaskan bahwa untuk meraih keamanan optimal di

kapal, langkah basic yaitu meyakinkan kalau semua crew kapal

10
menggunakan perlengkapan pelindung pribadi mereka yang dibuat untuk

beragam jenis pekerjaan yang dikerjakan di atas kapal. Di bawah ini yaitu

perlengkapan basic pelindung diri yang perlu ada di atas kapal untuk

menanggung keselamatan pekerja

Jenis alat-alat keselamatan kerja yang diatur dalam aturan SOLAS 78:

[Link] Pakaian yang dipakai adalah jenis boiler suit, material ini

dapat melindungi pekerja secara menyeluruh dari tangan

sampai kaki terhadap bahan yang berbahaya seperti minyak,

cairan kimia, percikan api saat proses pengelasan dan

lainnya.

[Link] Helm sebagai alat pelindung utama kepala saat bekerja di

kapal. Helm safety umumnya memiliki tali pada dagu yang

bisa disesuaikan ukurannya dengan pengguna. Helm bisa

melindungi kepala dari runtuhan material atau saat terjatuh.

[Link] Safety shoes dipakai sebagai pelindung kaki saat berjalan di

area kapal. Terutama saat berada di ruangan kargo ataumesin

yang biasanya keras dan panas. Memakai safety shoes

melindungi kaki pengguna dari hal-hal yang bisa

membahayakan seperti itu.

[Link] Hand Safety atau pelindung tangan berbentuk sarungtangan.

Macam dan fungsinya sesuai dengan kebutuhan kapal

tersebut misalnya sarung tangan untuk melindungi dari

benda panas, sarung tangan las atau sarung tangan

11
untuk bahan kimia.

[Link] Googles atau pelindung mata digunakan untuk melindungi

mata dari cedera akibat kemasukan benda. Bisa debu yang

ada di kapal, atau percikan api intensitas tinggi saat

melakukan proses pengelasan.

[Link] Ear Plug (pelindung telinga) merupakan alat keselamatan

kerja di kapal yang sangat vital bagi crew yang ada di ruang

mesin. Hal ini karena suara yang ditimbulkan pada mesin

kapal mencapai 110-120 db sehingga bisa membahayakan

gendang telinga. Untuk mengatasi hal tersebut, pekerja

menggunakan plug untuk mengatasi gangguan pendengaran

yang terjadi.

[Link] Safety harness berbentuk seperti tali pengaman, digunakan

oleh crew yang bekerja pada ketinggian. Ujung safety

harness diikat pada titik yang kuat pada kapal dan ujung

satunya pada crew yang bertugas.

[Link] Welding/perisai adalah alat keselamatan kerja di kapal untuk

divisi pengelasan. Alat ini melindungi crew dari paparan

langsung percikan api dan sinar ultraviolet yang keluar saat

proses tersebut.

Dengan demikian bila sumber daya manusia yaitu awak kapal

apabila dalam melaksanakan pekerjaannya tanpa adanya kedisiplinan,

kesadaran serta ketidak mampuan untuk penggunaan alat – alat

12
keselamatan maka bahaya kecelakaan akan selalu ada dan menanti setiap

saat. Untuk itu apabila kecelakaan itu sampai terjadi maka akan dapat

menimbulkan kerugian-kerugian di berbagai pihak. Dan hal ini

merupakan hambatan-hambatan yang sangat mengganggu kelancaran

kerja serta hambatan pada sistem pengoperasian kapal tersebut. Akibat-

akibat yang timbul karena kecelakaan kerja ini berupa kerugian- kerugian

bagi semua pihak baik bagi anak buah kapal itu sendiri maupun bagi

perusahaan. Bagi anak buah kapal berupa penderitaan akibat

kecelakaan tersebut seperti luka, memar, cacat, bahkan dapat

menyebabkan kematian. Hal tersebut harus diantisipasi dengan seksama

karena berkaitan dengan kelancaran operasi kapal.

2.2.4. Kecelakaan Kerja

Kecelakan merupakan suatu kejadian yang tidak dapat diduga dan

terduga oleh seseorang yang mengalaminya yang sering berkaibat cidera

dan juga kerugian lain pada dirinya. World Health Organization (WHO)

mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dapat

dipersiapkan penanggulangan sebelumnya sehingga menghasilkan

cedera yang riil.

Menurut Rika Ampuh Hadiguna (2009), kecelakaan kerja

merupakan kecelakaan seseorang atau kelompok dalam rangka

melaksanakan kerja di lingkungan perusahaan yang terjadi secara tiba-

tiba dan tidak diduga sebelumnya, tidak diharapkan terjadi,menimbulkan

kerugian ringan sampai yang paling berat, dan bisa

13
menghentikan kegiatan pabrik secara total. Oleh sebab itu, kecelakaan

kerja ini mencakup dua permasalahan pokok, yaitu kecelakaan akibat

langsung dari sebuah pekerjaan dan kecelakaan terjadi pada saat

pekerjaan sedang dilakukan. Secara umumpenyebab kecelakaan kerja

ada 2 yaitu:

[Link] Perilaku pekerja itu sendiri (faktor manusia), yang tidak

memenuhi keselamatan. Contohnya: Karena kelengahan,

kecerobohan, ngantuk, kelelahan dan lain-lain.

[Link] Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak sama atau

unsafety condition. Contohnya: lantai licin,pencahayaan kurang,

silau, mesin yang terbuka.

2.2.5. Kerugian Akibat Kecelakaan

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun

kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha atau perusahaan tetapi juga

dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak

lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

Menurut Ramli (2010), kerugian akibat kecelakaan kerja dikategorikan

atas dua kerugian, yaitu:

[Link] Kerugian langsung

Kerugian langsung adalah kerugian akibat kecelakaan yang

langsung dirasakan dan membawa dampak terhadap

organisasi atau perusahaan. Kerugian langsung dapat berupa

biaya pengobatan dan mengakibatkan cedera, baik cedera

14
ringan, berat, cacat atau menimbulkan kematian. Cedera ini

akan mengakibatkan seorang pekerja tidak mampu

menjalankan tugasnya dengan baik sehingga mempengaruhi

produktivitas. Jika terjadi kecelakaan perusahaan harus

mengeluarkan biaya pengobatan dan tunjangan kecelakaan

sesuai ketentuan yang berlaku. Kerusakan lainnya adalah

kerusakan sarana produksi akibat kecelakaan seperti

kebakaran, meledaknya mesin sehingga terjadi kerusakan

pada alat produksi.

[Link] Kerugian tidak langsung

Di samping kerugian langsung, kecelakaan juga

menimbulkan kerugian tidak langsung antara lain:

[Link].1 Kerugian jam kerja jika terjadi kecelakaan,

kegiatan pasti akan terhenti sementara untuk

membantu korban yang cedera, penanggulangan

kejadian, perbaikan kerusakan atau penyelidikan

kejadian. Kerugian jam kerja yang hilang akibat

kecelakaan jumlahnya cukup besar yang dapat

mempengaruhi produktivitas.

[Link].2 Kerugian produksi kecelakaan juga membawa

kerugian terhadap proses produksi akibat

kerusakan atau cedera pada pekerja. Perusahaan

15
tidak bisa berproduksi sementara waktu sehingga

kehilangan peluang untuk mendapat keuntungan.

[Link].3 Kerugian sosial kecelakaan dapat menimbulkan

dampak sosial bagi keluarga korban yang terkait

langsung maupun lingkungan sosial sekitarnya.

2.2.6. Pencegahan Kecelakaan Kerja

Menurut Hadipoetro (2014), pencegahan kecelakaan adalah upaya

untuk menghilangkan satu atau lebih dari rangkaian penyebab

kecelakaan tersebut. Ada banyak cara yang digunakan untuk

menghindari, mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja yang terjadi.

Cara-cara tersebut antara lain sebagai tersebut:

[Link] Penerapan peraturan, yaitu ketentuan yang harus dipatuhi dalam

berbagai hal seperti: kondisi kerja umum, perancangan,

kontruksi, pemeliharaan, pengawasan, pengujian,

pengoperasian peralatan, kewajiban dan hak

pengusaha/pekerja, pengawasan/pemeriksaan kesehatan dan

pelatihan.

[Link] Penetapan standar, yaitu standar resmi kontruksi aman darisuatu

peralatan, standar setengah resmi alat pengaman perorangan,

standar tidak resmi himbauan kebiasaan yang aman dan sehat.

[Link] Pengawasan, menegakkan peraturan yang ada, memberi

peringatan atau hukuman bagi yang melanggar.

16
[Link] Riset teknis, misalnya penelitian pelindung mesin, percobaan

berbagai metode pencegahan kebakaran dan ledakan, pengujian

masker untuk alat bantu pernapasan.

[Link] Riset medis, misalnya penelitian dampak fisiologis dan

patologis dari faktor lingkungan kerja.

[Link] Riset psikologis, misalnya penyelidikan perilaku yang dapat

menyebabkan kecelakaan.

[Link] Riset statistik, misalnya penelitian mengenai jenis kecelakaan

pada suatu industri.

[Link] Pendidikan, misalnya menjadikan aspek keselamatan kerja

sebagai salah satu mata ajar/kuliah dalam sekolah/perguruan

tinggi.

[Link] Pelatihan, misalnya memberikan instruksi keselamatan pekerja

kepada pekerja yang baru bergabung dengan perusahaan.

[Link] Persuasi, sebagai contoh menggunakan media cetak untuk

menghimbau kesadaran akan keselamatan kerja.

[Link] Asuransi, misalnya menyediakan anggaran khusus untuk

membiayai kecelakaan kerja bagi pekerja.

[Link] Tindakan pengamanan yang dilakukan oleh setiap pekerja

secara individu.

2.2.7. Bongkar Muat

Menurut Dirk Koleangan (2008 : 241) Pengertian Bongkar Muat

adalah sebagai berikut: Kegiatan Bongkar Muat adalah kegiatan

17
memindahkan barang –barang dari alat angkut darat, dan untuk

melaksanakan kegiatan pemindahan muatan tersebut dibutuhkan

tersedianya fasilitas atau peralatan yang memadai dalam suatu cara atau

prosedur pelayanan.

Berdasarkan PM No.152 tahun 2016, Bab I Pasal 1, Usaha Bongkar

Muat adalah kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang bongkar muat

barang dari dan ke kapal di pelabuhan yang meliputi kegiatan yaitu:

[Link] Stevedoring (pekerjaan membongkar barang dari dermaga/

tongkang/truk/kedalam kapal dengan menggunakan derek

kapalatauderekdarat).

[Link] Cargodoring (pekerjaan memindahkan barang dari tali atau

jalajala (ex-tackle) di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke

Gudang/lapangan penumpukan barang atau sebaliknya).

[Link] Receiving/delivery (pekerjaan memindahkan barang dari

timbunan/tempat penumpukan di Gudang/lapangan penumpukan

dan menyerahkan sampai tersusun di atas kendaraan di pintu

Gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya).

18
2.3 Kerangka Penelitian

Meningkatkan Keselamatan
Proses Kerja Pada Saat Bongkar
Muat Di SPOB JEANITA

Kondisi Keselamatan Kerja saat


proses bongkar Muat Di SPOB
JEANITA

Apakah faktor-faktor yang Bagaimana upaya untuk meningkatkan


menyebabkan kecelakaan kerja keselamatan kerja pada proses bongkar
pada saat bongkar muat di SPOB muat di SPOB JEANITA
JEANITA

1. Pelatihan keselamatan
1. Cuaca buruk 2. Pemantauan cuaca
2. Kesalahan manusia 3. Pemeriksaan peralatan rutin
3. Perawatan mesin yang 4. Penerapan proses kerja yang
kurang aman

Pelaksanaan bongkar muat terlaksana dengan baik


dan aman tanpa ada kendala maupun accident

Gambar 2.1 Kerangka Penelitian

19
BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Untuk memperoleh data-data yang benar dan lengkap pada penelitian

ini, maka metode yang digunakan adalah metode penilitan kualitatif

deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang

digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan

menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidakdapat

dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif (Saryono,

2010:1).

Menurut Fauzi, dkk. (2017 : 22). Mendeskripsikan penelitian deskriptif

kualitatif sebagai penelitian yang menggunakan metode ilmiah untuk

mengungkapkan suatu fenomena dengan cara mendeskripsikan data dan fakta

melalui kata-kata secara menyeluruh terhadap subjek penelitian.

Menurut penulis deskriptif kualitatif adalah penelitian yang

menekankan pada penggalian terhadap fenomena data lapangan. Metode ini

lebih fokus kepada pengumpulan data deskriptif, seperti observasi,

wawancara dan dokumentasi untuk memahami suatu kejadian.

3.2 Lokasi Penelitian

Sebagai penerapan pengetahuan yang telah didapat selamagunakan

yaitu, tempat dimana penulis melakukan praktek laut terhadapkru kapal

akan pengetahuan tentang “Upaya Peningkatan Keselamatan Kerja Pada

20
Proses Bongkar Muat di SPOB JEANITA”. Maka setiap tarunawajib

melaksanakan praktek laut yang mana lokasi penelitian akan dipilih oleh

penulis berdasarkan saran dari pihak kampus.

3.3 Sumber data

Ada dua jenis sumber data yang dipergunakan dalam penelitian kali ini

yaitu:

3.3.1 Sumber Data Primer

Menurut Sugiyono, (2016 : 225). Data primer merupakan sumber

data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sumber

data primer didapatkan melalui kegiatan wawancara dengan subjek

penelitian dan dengan observasi atau pengamatan langsung dilapangan.

Data primer diperoleh dari sumber informan yaitu perorangan atau

individu seperti wawancara yang dilakukan oleh sipeneliti. Dalam

pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara,

observasi dan dokumentasi.

3.3.1 Sumber Data Sekunder

Data sekunder menurut Sugiyono, (2018 : 172). Merupakan data

yang diperoleh peneliti atau pengumpul data secara tidak langsung.

Dikatakan tidak langsung karena data diperoleh melalui perantara, yaitu

bisa lewat orang lain, ataupun lewat dokumen.

Data sekunder pada umumnya didapatkan melalui buku,catatan

internal organisasi, laporan, jurnal, sampai berbagai situs yang

berkaitan dengan informasi yang sedang dicari dan bisa peneliti

21
gunakan dalam meneliti tentang peningkatan keselamatan saat proses

bongkar muat di SPOB JEANITA.

3.4 Pemilihan Informan

Pengertian informan penelitian adalah narasumber yang merujuk pada

seseorang yang paham terkait dengan objek penelitian serta mampu

memberikan penjabaran tentang topik penelitian yang diangkat

(Sugiyono:2018 : 216).

Penelitian informan dalam penelitian ini menggunakan teknik

purposive sampling. Teknik purposive sampling ini adalah teknik

mengambil informan atau narasumber dengan tujuan tertentu sesuai dengan

tema penelitian karena ada orang tersebut dianggap memiliki informasi

yang diperlukan. Sumber informan dalam penelitian ini adalah officer atau

perwira diatas kapal, sebagai berikut:

Tabel 3.1. Pemilihan Informan

No Informan Jabatan

1. Capt. Adi Mardhani Randha Nakhoda

2. Herbinsyah Putra Ginting Mualim 1

3. Muhammad Hamidi Mualim 2

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Creswell, (2014 : 17). Teknik pengumpulan data adalah

proses untuk mengumpulkan informasi tentang suatu fenomena melalui

berbagai teknik yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu sebagai berikut.

22
3.5.1 Observasi

Menurut Widoyoko, (2014 : 4-6). Observasi merupakan

“pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur

yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian”.

Dalam teknik ini penulis akan melakukan pencarian dari

berbagai sumber yang ada secara langsung dan akan mengumpulkan

data-data dan informasi yang sesuai dengan keadaan yang terjadi

sebenarnya di kapal, sehingga penulis dapat menilai bagaimana

upaya peningkatan keselamatan pada saat kegiatan bongkar muat

diatas kapal SPOB JEANITA Instrumen Observasi didapatkan

dengan melakukan pengamatan di lapangan untuk mendapatakan

data dan fakta yang ada di lapangan. Peneliti menggunakan bentuk

instrumen observasi category system yang mana pengamatan

dibatasi pada sejumlah variabel saja.

3.5.2 Wawancara

Menurut Yusuf, (2017 : 64). Wawancara adalah salah satu teknik

pengumpulan data yang melibatkan proses interaksi antara

pewawacara dan orang yang diwawancara selaku sumber informasi.

Pengumpulan informasi dan data dengan mengajukan

beberapa pertanyaan kepada narasumber yang ada yaitu kepada

Nakhoda, Mualim I dan Mualim II dengan memberikan pertanyaan

23
sesuai dengan tanggung jawab perwira terhadap keselamatan kru

diatas kapal pada saat pelaksanaan bongkar muat.

3.5.3 Dokumentasi

Menurut Sugiyono, (2018 : 126). Dokumentasi adalah suatu

cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi berupa

laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian.

Teknik dokumentasi adalah salah satu metode

pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis

kegiatan yang terjadi dengan pengambilan foto, video serta audio

rekaman mengenai peningkatan keselamatan diatas kapal SPOB.

JEANITA dimana penulis melakukan Praktek Laut.

3.6 Instrumen Penelitian

Menurut Arikunto, (2019 : 94). Instrumen penelitian adalah alat atau

fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar

pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, lebih cermat, lengkap,

dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa instrumen penelitian itu merupakan hal yang sangat penting untuk

disiapkan sebelum melakukan penelitian karena instrumen peneltian

merupakan alat atau fasilitas yang digunakan untuk mendukung seorang

peneliti untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan untuk meneliti

suatu masalah sesuai dengan teknik pengumpulan data yang digunakan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa intrumen penelitian

yaitu sebagai berikut:

24
3.6.1 Instrumen Observasi

Menurut Kurniawan (2021 : 44) Observasi ialah salah satu

teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan

langsung atas fenomena atau kejadian yang sedang diteliti.

Observasi pada dasarnya memotret apa yang sedang terjadi selama

proses pengambilan data berlangsung. Dalam kegiatan observasi

atau pengamatan, agar penelitian ini dapat dipercaya, maka peneliti

menggunakan lembar obserasi yang terdapat pada lampiran.

Narasumber yang ada yaitu Nakhoda, Mualim I dan Mualim II

terkait dengan peningkatan keselamatan dan hasil pertanyaan

penulis menyantumkan pada lembaran observasi yang terdapat

pada lampiran 15.

3.6.2 Instrumen Wawancara

Menurut Kurniawan (2021:41) Wawancara pada dasarnya

ialah percakapan antara dua orang yang mana satu sebagai

pewawancara dan orang lainnya sebagai narasumber atau

informan/responden. Wawancara sering kali dilakukan untuk

memperoleh informasi atau penjelasan mengenai suatu fenomena

yang tidak dapat terambil dari alat pengumpul data lainnya.

Keakuratan dari tindakan wawancara adalah kejujuran dan

keterbukaan dari informan. Untuk memaksimalkan kegiatan

wawancara, sebelum melakukan wawancara peneliti telah

menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan kepada

25
pihak informan. Selama kegiatan wawancara berlangsung untuk

mengantisipasi peneliti dalam menangkap informasi pada saat

wawancara dengan informan, peneliti menggunakan kamera

handphone dalam pengambian data. Untuk mencatat pokok

pembahasan yang diteliti, menggunakan buku dan pena untuk

mempermudah peneliti dalam penelitian dan untuk pedoman

wawancara terdapat pada lampiran 17.

3.6.3 Instrumen Dokumentasi

Menurut Sugiyono, (2015 : 45) Instrumen dokumentasi

merupakan catatan peristiwa pada waktu yang lalu, dan dapat

berupa tulisan, gambar, maupun karya monumental dari

seseorang. Maka dari itu sebagai instrumennya dalam penelitian ini

adalah gadget, pensil, ballpoint dan buku catatan. Gadget

digunakan ketika penulis melakukan observasi untuk merekam

kejadian penting pada suatu peristiwa baik dalam foto, video

maupun audio. Sedangkan pensil, ballpoint dan buku catatan

digunakan untuk mencatat informasi data yang didapat dari hasil

wawancara

3.7 Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono, (2018 : 67-68). Menyatakan bahwa analisis

data dalam penelitian kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan

26
lapangan, dan 25 bahan-bahan lain sehingga lebih mudah dipahami, dan

temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.

3.7.1 Reduksi Data

Menurut Sugiyono, (2015 : 33-34). Reduksi data adalah

mencatat data yang telah diperoleh dengan teliti dan rinci. Data yang

telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan

mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

selanjutnya. Reduksi data dapat didefinisikan sebagai proses

pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan,

pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan

tertulis di lapangan.

3.7.2 Penyajian Data

Setelah tahap reduksi data, maka hal yang akan dilakukan

peneliti adalah melakukan penyajian data. Penyajian data kuantitatif

biasanya menggunakan diagram, grafik, atau statistik. Sedangkan

menurut Sugiyono, (2015:55). Dalam penelitian kualitatif penyajian

data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan

antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dalam penelitian ini,

peneliti akan memahami kembali hasil wawancara yang sudah

dilakukan dengan narasumber dan menulisnya dengan kata-kata

yang mudah dipahami. Selain itu, peneliti juga akan menguraikan

hasil-hasi temuan selama observasi di lapangan untuk melengkapi

data yang ada.

27
3.7.3 Kesimpulan

Setelah menyajikan data yang diperoleh dilapangan, peneliti

akan menarik kesimpulan dari data-data yang telah diolah

sebelumnya. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif menurut

Sugiyono, (2015 : 21- 23). Adalah temuan baru yang sebelumnya

belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran

suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap

sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan

kasual atau interaktif, hipotesis atau teori. Pada proses penarikan

kesimpulan ini, peneliti melakukan pembahasan dengan

menggunakan teori gaya bahasa komunikasi yang mudah untuk

dipahami dan dimengerti. Kemudian peneliti membuat sebuah

analisis atas tampilan data sesuai dengan permasalahan penelitian.

28
BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian

SPOB JEANITA adalah salah satu jenis kapal yang mengangkut

muatan minyak yang dibangun di Anugerah Wijaya Bersaudara Dock,

Samarinda, Indonesia pada tahun 2012. Kapal ini berbendera Indonesia yang

memiliki panjang 74.36 Meter dan lebar 18 Meter dengan Gross Tonnage

2.097 ton.

Gambar 4.1 Kapal SPOB JEANITA


Sumber: Dokumen Kapal

29
Berikut adalah data kapal secara umum SPOB JEANITA yang terdapat didalam

Ship Particular SPOB JEANITA.

Gambar 4.2 Ship Particular SPOB JEANITA


Sumber : Dokumen Kapal

30
SPOB JEANITA memiliki jumlah kru sebanyak 15 orang dengan rute pelayaran

perairan local Indonesia. Crew list SPOB JEANITA berisi nama seluruh crew,

jabatan No buku pelaut, No BST, No ijazah, dan tingkatan atau kelas pada pelaut.

Setiap crew harus memiliki sertifikat yang memadai contoh BST sehingga bisa

dibilang setiap crew sudah memiliki kemampuan dasar atau sudah memiliki

pengetahuan pada keselamatan-keselamatan diatas kapal terutama pada terjadinya

kebakaran, berikut adalah crew list dari SPOB JEANITA.

Gambar 4.3 Crew List SPOB JEANITA


Sumber : Dokumen Kapal

31
4.2. Hasil Penelitian

Penulis melakukan penelitian selama 12 bulan di kapal SPOB

JEANITA yang dimulai pada tanggal 18 November 2022 sampai 18 November

2023. Berikut adalah hasil penelitian yang penulis dapatkan ketika penulis

melaksanakan penelitian sekaligus melaksanakan kegiatan praktek laut

(PRALA) di kapal SPOB JEANITA khususnya mengenai judul penelitian

yang diambil penulis yaitu “Upaya Peningkatan Keselamatan Kerja Pada

Proses Bongkar Muat di SPOB JEANITA”. Hasil penelitian ini penulis

menggunakan penyajian data dan analisis data sesuai dengan teknik

pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian yang dilaksanakan

di kapal SPOB JEANITA.

4.2.1 Penyajian Data

Untuk mempermudah analisis data, penulis akan memaparkan sebuah

proses pemilihan rute pelayaran berdasarkan rumusan masalah yang telah

dirumuskan. Pemlihan rute kapal yang telah ditentukan pada tahun 2012 dan

dikembangkan, demi alasan keselamatan dan sudah dimasukan sebagai

ketentuan dalam konvensi (Safety Of Life At Sea) SOLAS bab [Link]-data

dari hasil penelitian ini di peroleh dari hasil observasi, wawancara, dan

dokumentasi, informan sangat berperan penting guna memperoleh hasil

penulisan karya ilmiah terapan dan kegiatan untuk mendapatkan informasi ini

juga sangat didukung oleh crew kapal SPOB JEANITA.

32
1. Bagaimana Kondisi Keselamatan Kerja pada saat proses bongkar

muat di kapal SPOB JEANITA ?

Sesuai dengan hasil wawancara,observasi dan dokumentasi yang

dilakukan penulis Ketika penelitian, didapat data terkait kondisi

Keselamatan kerja pada saat proses bongkar muat adalah sebagai

berikut :

Pada penyajian data ini, penulis menguraikan data dan dari hasil

penelitian mengenai rumusan masalah yang dirumuskan pada bab 1

melalui pengumpulan data menggunakan teknik wawancara

terkhusus pada Nakhoda, Mualim 1 dan mualim 2. Penulis

mendapatkan beberapa poin, sebagai berikut:

Tabel 4.1 Data hasilwawancara

Rumusanmasalah Hasil wawancara


NO Informan

1. Nakhoda Bagaimana Untuk kondisi keselamatan dilakukan secara


kondisi ketat. Ada petugas keselamatan yang
keselamatan bertanggung jawab untuk memastikan
kerja saat proses bahwa semua protocol keselamatan diikuti.
bongkar muat Mereka melakukan inspeksi rutin terhadap
diSPOB peralatan, memastikan penggunaan APD,
JEANITA? dan memberikan peringatan jika ada
tindakan yang berpotensi berbahaya. Selain
itu, setiap kecelakaan atau insiden
keselamatan selalu dianalisis untuk
mencegah terjadinya lagi di masa depan.
2. Mualim Bagaimana Kondisi crew dan pekerja darat harus
1 kondisi menjalani pelatihan keselamatan dasar,
keselamatan seperti pencegahan kecelakaan, penggunaan
kerja saat proses alat pelindung diri, dan penanganan bahan
bongkar muat berbahaya. Mereka juga mendapatkan
diSPOB pelatihan terkait prosedur keselamatan yang
JEANITA? berlaku selama bongkar muat

33
3. Mualim Bagaimana Kami memiliki program pelatihan
2 kondisi keselamatan yang rutin diadakan. Setiap
keselamatan crew baru harus mengikuti pelatihan dasar
kerja saat proses keselamatan kerja, dan crew yang terlibat
bongkar muat di langsung dalam proses bongkar muat
SPOB mendapatkan pelatihan tambahan. Kami
JEANITA? juga mengadakan latihan evakuasi darurat
dan memberikan pemahaman mendalam
tentang risiko yang mungkin terjadi selama
proses tersebut.

Keselamatan kerja selama proses bongkar muat di kapal sangat

penting untuk mencegah kecelakaan dan melindungi kesejahteraan

crew kapal. Berikut adalah beberapa aspek yang perlu diperhatikan

untuk memastikan kondisi keselamatan kerja yang baik selama

proses tersebut:

a. Pemahaman Risiko:

Identifikasi potensi bahaya yang terkait dengan proses bongkar

muat. Evaluasi risiko yang mungkin terjadi selama kegiatan

tersebut.

Gambar 4.4 Pemahaman Risiko (Risk Assesment) di SPOB


JEANITA
Sumber :Dokumen Kapal

34
b. Peralatan dan Alat Pelindung Diri (APD):

Pastikan pekerja dilengkapi dengan APD yang sesuai, seperti

helm, sepatu pengaman, sarung tangan, dan perlengkapan

keselamatan lainnya.

Gambar 4.5 Alat Pelindung Diri (APD)


Sumber :Dokumentasi Pribadi

c. Pelatihan dan Sertifikasi:

Pastikan bahwa semua Crew kapal terlibat dalam proses bongkar

muat telah menerima pelatihan yang memadai terkait

keselamatan [Link] yang menggunakan peralatan berat

harus memiliki sertifikasi yang valid.

Gambar 4.6Crew SPOB JEANITA melaksanakan pelatihan


keselamatan
Sumber :Dokumen Pribadi

35
d. Perencanaan Keselamatan

Buat perencanaan keselamatan sebelum memulai proses

bongkar [Link] jalur evakuasi, area kumpul, dan

prosedur darurat.

Gambar 4.7Crew melaksanakan Safety Meeting tentang perencanaan


keselamatan
Sumber :Dokumen Pribadi

2. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada

saat bongkar muat di SPOB JEANITA?

Melalui hasil observasi dan wawancara yang saya lakukan di

kapal SPOB JEANITA sebagai berikut:

Pada penyajian data ini, penulis menguriakan data dan darihasil

penelitian mengenai rumusan masalah yang dirumuskan pada bab 1

melalui pengumpulan data menggunakan teknik wawancara

terkhusus pada Nakhoda, Mualim 1 dan mualim 2. Penulis

mendapatkan beberapa poin, sebagai berikut:

36
Tabel 4.2 Data hasil wawancara

Rumusan Hasil wawancara


NO Informan
masalah
1. Nakhoda Apakah faktor- Untuk faktor-faktor yang biasa
faktor yang terjadi itu kurangnya safety
menyebabkan pada saat kita lagi jaga
kecelakaan kerja bongkar muat dan juga tidak
pada saat memperhatikan kondisi dan
bongkar muat di situasi pada saat jaga.
SPOB
JEANITA?

2. Mualim 1 Apakah faktor- Kurangnya kesadaran


faktor yang terhadap crew pada proses
menyebabkan bongkar muat dan pada saat
kecelakaan kerja jaga crew tidak mengenakan
pada saat alat-alat safety yang tidak
bongkar muat di lengkap.
SPOB
JEANITA?

3. Mualim 2 Apakah faktor- Kurangnya pengalaman pada


faktor yang saat proses bongkar muat,juga
menyebabkan kecerobohan saat kerja yang
kecelakaan kerja dapat menimbulkan
pada saat kecelakaan pada proses
bongkar muat di bongkar muat
SPOB
JEANITA?

37
a. Kondisi Cuaca Yang Buruk

Cuaca buruk seperti hujan, angin kencang, atau gelombang

tinggi dapat membuat aktivitas bongkar muat di kapal menjadi

lebih berisiko. Kondisi cuaca yang tidak baik dapat

menyebabkan ketidakstabilan kapal dan kesulitan dalam

mengontrol peralatan bongkar muat. Gelombang tinggi dapat

menyebabkan gangguan pada muatan dan dapat memicu

kecelakaan seperti jatuhnya muatan dari kapal.

Gambar 4.8 Bongkar muat pada saat cuaca buruk


Sumber : Dokumen Pribadi
b. Kesalahan Manusia

Kesalahan manusia mencakup berbagai aspek, mulai dari

kurangnya kesadaran terhadap prosedur keselamatan,

kelelahan, hingga komunikasi yang buruk. Pekerja atau awak

38
kapal yang tidak memahami atau mengabaikan prosedur

keselamatan dapat meningkatkan risiko [Link]

manusia, baik dari pihak awak kapal, pekerja pelabuhan, atau

operator peralatan bongkar muat, dapat menjadi penyebab

utama kecelakaan. Kesalahan ini bisa melibatkan

ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan, kurangnya

pelatihan, atau kecerobohan.

Gambar 4.9Crew tertidur saat proses bongkar muat


Sumber: Dokumen Pribadi

c. Perawatan Mesin Yang Kurang Maksimal

Kegagalan peralatan bongkar muat dapat menyebabkan

kecelakaan serius. Peralatan yang rusak atau tidak berfungsi

dengan baik, seperti terkena paparan air laut, cuaca ekstrim,

kelembaban, dan kualitas material., dapat menyebabkan

39
kegagalan operasi dan jatuhnya muatan. Pemeliharaan yang

buruk atau kurangnya inspeksi berkala dapat meningkatkan

risiko kerusakan peralatan dan kegagalan fungsi yang dapat

menyebabkan kecelakaan di area bongkar muat.

Gambar 4.10Manifold yang berkarat


Sumber: Dokumen Kapal

3. Bagaimana upaya untuk meningkatkan keselamatan kerja pada proses

bongkar muat di SPOB JEANITA?.

Melalui rumusan masalah ini, penulis juga melakukan

pengumpulan data dengan wawancara dengan mualim 2 dannakhoda.

Penulis juga mendapatkan beberapa poin penting, sebagai berikut.

40
Tabel 4.3 Data hasil wawancara
NO INFORMAN RUMUSAN HASIL
MASALAH WAWANCARA
1 Nakhoda Bagaimana upaya Harus tetap mengaja
untuk meningkatkan keselamatan pada saat
keselamatan kerja proses kerja bongkar
pada proses bongkar muat di kapal, selalu
muat di SPOB berhati-hati pada saat
JEANITA? berada di main deck.
2 Mualim 1 Bagaimana upaya Tetap waspada apabila
untuk meningkatkan sedang melaksakan
keselamatan kerja proses bongkar muat ,
pada proses bongkar juga jangan mendekati
muat di SPOB area-area berbahaya
JEANITA? yang bisa mengundang
nyawa

3 Mualim 2 Bagaimana upaya Selalu berhati hati


untuk meningkatkan dalam melaksanakan
keselamatan kerja pekerjaan mau pada
pada proses bongkar saat maut ataupun
muat di SPOB [Link]
JEANITA? menggunakan alat-alat
keselamatan diri supaya
terhindar dari
kecelakaan pada saat
kerja bongkar muat.

Berdasarkan observasi yang saya lakukan di SPOB JEANITA

saya mendapatkan hasil sebagai berikut:

a. Pelatihan keselamatan

Untuk pelatihan keselamatan di kapal SPOB [Link]

para crew melaksanakan drill pada tiap bulan nya. Dari proses

41
kita berkumpul di muster station yang diberi arahan pada

Nakhoda apa saja yang harus kita persiapkan pada saat

melaksanakan [Link] melakasanakan dengan rasa tanggung

jawab. Pada saat melaksanakan drill setiap bulannya, untuk

emergency darurat yang di lakukan berbeda beda dan pada tiga

bulan terakhir dilakukan seluruh keadaan darurat. Memastikan

bahwa pelatihan keselamatan dilakukan secara berkala untuk

memastikan pekerja tetap up-to-date dengan praktikkeselamatan

terkini dan terus-menerus meningkatkan kesadaran mereka

terhadap risiko potensial.

Gambar 4.11Crew melaksanakan Latihan keselamatan


Sumber :Dokumen kapal

b. Pemantauan Cuaca

Untuk pemantauan cuaca pada saat proses bongkar muat di kapal

SPOB JEANITA juga kita perhatikan apakah baik atau buruk,jika

pada saat cuaca yang cerah, Proses bongkar muat berjalan dengan

lancar. Apabila kondisi cuaca buruk,untuk proses bongkar muat

akan menjadi terganggu dan memakan waktu lebih lama untuk

menyelesaikan proses bongkar muat,juga kamipara crew harus

memperhatikan keselamatan

42
untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan. Kami juga

memantau Perkiraan cuaca secara teratur, termasuk informasi

tentang angin, hujan, badai, gelombang laut, dan kondisi cuaca

lainnya yang dapat mempengaruhi proses bongkar muat.

Gambar 4.12 kondisi cuaca cerah pada saat bongkar muat


Sumber :Dokumen pribadi

c. Pemeriksaan Peralatan Rutin

Pemeriksaan peralatan rutin adalah langkah krusial dalam

menjaga keselamatan selama proses bongkar muat. Peralatan yang

berfungsi dengan baik dapat mencegah kecelakaan dan

memastikan efisiensi operasional. Seperti memeriksa alat-alat

keslamatan terutama helm, dan peralatan pelindung diri lainnya

untuk memastikan mereka dalam kondisi baik dan sesuai dengan

standar keselamatan. Juga kami melakukan pemeriksaan visual

43
menyeluruh pada setiap peralatan sebelum digunakan. Periksa

apakah ada kerusakan, retak, atau bagian yang aus. Pastikan

semua bagian terpasang dengan [Link] sangat penting untuk

memprioritaskan pemeliharaan rutin dan pemeriksaan peralatan

guna memastikan keandalan dan keselamatanselama proses

bongkarmuat. Jika ditemukan masalah selama pemeriksaan,

peralatan harus segera diperbaiki atau ditarik dari operasi

sampai masalahnya dapat diatasi.

Gambar 4.13 kondisi valve yang sudah diberi greese


Sumber :Dokumen Pribadi

d. Penerapan proses kerja yang aman

Penerapan proses kerja yang aman selama proses bongkar muat

sangat penting untuk melindungi keselamatan dan kesehatan

pekerja di kapal SPOB JEANITA, serta mencegah potensi

kecelakaan atau kerugian materi. Seperti mewajibkan

44
penggunaan APD seperti helm, sepatu pengaman, sarungtangan,

dan kacamata pelindung sesuai dengan jenis pekerjaan yang

dilakukan,memastikan pekerja memiliki kondisi kesehatan yang

memadai untuk menjalankan tugas [Link] akses ke

area bongkar muat untuk mencegah orang yang tidak

berkepentingan masuk ke zona kerja. Mencatat daftar nama crew

serta tamu yang naik keatas kapal.

Gambar 4.14Kegiatan pengarahan yang dilakukan oleh perwira


Sumber :Dokumen Kapal

45
4.2.2 Analisis Data

Melalui data-data yang telah dikumpulkan oleh peneliti, selanjutnya

adalah menganalisis data tersebut. Analisis data merupakan proses

pengolahan data yang bertujuan untuk menemukan informasi yang

berguna yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan untuk

pemecahan masalah yang akan diteliti. Berikut adalah hasil dari analisis

data yang dilakukan peneliti selama melaksanakan penulisan ini:

a. Kondisi Keselamatan Kerja pada saat proses bongkar muat SPOB

JEANITA

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis mengenai

kondisi keselamatan kerja pada saat proses bongkar muat di SPOB

JEANITA adalah sebagai berikut:

Saat proses bongkar muat di SPOB JEANITA, kondisi keselamatan

kerja harus menjadi prioritas utama.

1. Pemahaman Resiko

Identifikasi potensi bahaya yang terkait dengan proses bongkar

muat. Evaluasi Resiko yang mungkin terjadi selama kegiatan

tersebut. Selain itu, perlu ada prosedur yang jelas dan

terdokumentasi untuk mengurangi risiko kecelakaan, termasuk

pemeriksaan rutin terhadap peralatan bongkar muat, penempatantan

dan peringatan yang jelas.

46
2. Peralatan dan Alat Pelindung Diri (APD)

Para Crew yang terlibat dalam proses tersebut harus dilengkapi

dengan peralatan keselamatan yang sesuai, seperti helm, pelindung

mata, sarung tangan, dan sepatu keselamatan, Serta perlengkapan

keselamatan lainnya.

3. Pelatihan dan Sertifikasi

Pastikan bahwa semua Crew kapal terlibat dalam proses

bongkar muat telah menerima pelatihan yang memadai terkait

keselamatan [Link] yang menggunakan peralatan berat harus

memiliki sertifikasi yang [Link] pelatihan yang memadai bagi

seluruh crew terkait tugas dan tanggung jawab mereka dalam

menjagakeselamatan selama proses bongkar muat.

4. Perencanaan Keselamatan

Buat perencanaan keselamatan sebelum memulai proses

bongkar [Link] jalur evakuasi, area kumpul, dan prosedur

darurat apabila terjadi kecelakaan kerja. Pihak pengelola juga harus

memastikan bahwa lingkungan kerja di sekitar kapal aman dan

terawatt dengan baik, termasuk penanganan yang tepat terhadap

bahan berbahaya atau beracun yang mungkin ada dalam muatan

kapal. Dengan demikian, upaya-upaya ini akan membantu

mencegah kecelakaan dan memastikan keselamatan dan

kesejahteraan semua pekerja yang terlibat dalam proses bongkar

muat di SPOB JEANITA.

47
b. Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada saat

bongkar muat di SPOB JEANITA.

Berdasarkan data hasil observasi, wawancara dan dokumentasi

yang dilakukan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan

kerja pada saat bongkar muat di SPOB JEANITA ditemukan beberapa

faktor yaitu:

1. Kondisi Cuaca Buruk

Cuaca buruk seperti hujan, angin kencang, atau gelombang

tinggi dapat membuat aktivitas bongkar muat di kapal menjadi

lebih berisiko. Kondisi cuaca yang tidak baik dapat menyebabkan

ketidakstabilan kapal dan kesulitan dalam mengontrol peralatan

bongkar muat.

2. Kesalahan Manusia

Kesalahan manusia mencakup berbagai aspek, mulai dari

kurangnya kesadaran terhadap prosedur keselamatan, kelelahan,

hingga komunikasi yang buruk. Pekerja atau awak kapal yang tidak

memahami atau mengabaikan prosedur keselamatan dapat

meningkatkan risiko kecelakaan. Kesalahan manusia, baik dari

pihak awak kapal, pekerja pelabuhan, atau operator peralatan

bongkar muat, dapat menjadi penyebab utama kecelakaan.

3. Perawatan Mesin Yang Kurang Maksimal

Kegagalan peralatan bongkar muat dapat menyebabkan

kecelakaan serius. Peralatan yang rusak atau tidak berfungsi

48
dengan baik, seperti terkena paparan air laut, cuaca ekstrim,

kelembaban, dan kualitas material., dapat menyebabkan kegagalan

operasi dan jatuhnya muatan. Pemeliharaan yang buruk atau

kurangnya inspeksi berkala dapat meningkatkan risiko kerusakan

peralatan dan kegagalan fungsi yang dapat menyebabkan

kecelakaan di area bongkar muat.

c. Bagaimana upaya untuk meningkatkan keselamatan kerja pada proses

bongkar muat di SPOB JEANITA.

Berdasarkan data yang sudah disajikan pada bagianpenyajian data

diatas dapat diketahui bahwa upaya untuk meningkatkan keselamatan

kerja guna menghindari kecelakaan kerjaadalah:

1. Pelatihan keselamatan

Untuk pelatihan keselamatan di SPOB [Link]

para crew melaksanakan drill pada tiap bulan nya. Dari proses kita

berkumpul di muster station yang diberi arahan pada Nakhoda apa

saja yang harus kita persiapkan pada saat melaksanakan [Link]

melakasanakan dengan rasa tanggung jawab. Pada saat

melaksanakan drill setiap bulannya, untuk emergency darurat yang

di lakukan berbeda beda dan pada tiga bulan terakhir dilakukan

seluruh keadaan darurat.

2. Pemantauan cuaca

Untuk pemantauan cuaca pada saat proses bongkar muat di

kapal SPOB JEANITA juga kita perhatikan apakah baik atau

49
buruk, jika pada saat cuaca yang cerah, Proses bongkar muat

berjalan dengan [Link] kondisi cuaca buruk,untuk proses

bongkar muat akan menjadi terganggu dan memakan waktu lebih

lama untuk menyelesaikan proses bongkar muat,juga kami para

crew harus memperhatikan keselamatan untuk menghindarisituasi

yang tidak diinginkan.

3. Pemeriksaan peralatan rutin

Pemeriksaan peralatan rutin adalah langkah krusial dalam

menjaga keselamatan selama proses bongkar muat. Peralatan yang

berfungsi dengan baik dapat mencegah kecelakaan dan

memastikan efisiensi operasional. Seperti memeriksa alat-alat

keslamatan terutama helm, dan peralatan pelindung diri lainnya

untuk memastikan mereka dalam kondisi baik dan sesuai dengan

standar keselamatan.

4. Penerapan proses kerja yang aman

Penerapan proses kerja yang aman selama proses bongkar

muat sangat penting untuk melindungi keselamatan dan kesehatan

pekerja di kapal SPOB JEANITA, serta mencegah potensi

kecelakaan atau kerugian materi. Seperti mewajibkan penggunaan

APD seperti helm, sepatu pengaman, sarung tangan, dan kacamata

pelindung sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.

50
4.2.3. Pembahasan

a. Kondisi Keselamatan Kerja pada saat proses bongkar muat diSPOB

JEANITA

Berdasarkan analisis data yang didapatkan penulis diatas

dan selama Praktek Laut di kapal mengenai kondisi keselamatan

kerja pada saat proses bongkar muat di kapal SPOB JEANITA.

Keselamatan kerja selama proses bongkar muat di kapal sangat

penting untuk mencegah kecelakaan dan melindungi kesejahteraan

crew kapal. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No.1 Tahun

1970 tentang keselamatan kerja, yang mengatur tentang

keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja, termasuk mesin,

peralatan, landasan dan lingkungan kerja. tujuannya adalah untuk

mencegah kecelakaan dan sakit akibat kerja.

Dari semua pengamatan yang diambil oleh penulis, dapat

disimpulkan tentang kondisi keselamatan kerja pada saat proses

bongkar muat di SPOB JEANITA. Berikut adalah beberapa

aspek yang perlu diperhatikan untuk memastikan kondisi

keselamatan kerja yang baik selama proses tersebut:

1. Pemahaman Risiko

Saat proses bongkar muat di kapal SPOB JEANITA, kondisi

keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama. Para Crew

yang terlibat dalam proses tersebut harus dilengkapi dengan

peralatan keselamatan yang sesuai. Identifikasi potensi bahaya

yang terkait dengan proses bongkar muat. Evaluasi Resiko yang

51
mungkin terjadi selama kegiatan tersebut. Selain itu, perlu ada

prosedur yang jelas dan terdokumentasi untuk mengurangi

risiko kecelakaan, termasuk pemeriksaan rutin terhadap

peralatan bongkar muat, penempatan dan peringatan yang jelas.

2. Peralatan dan Alat Pelindung Diri (APD)

Para Crew yang terlibat dalam proses tersebut harus

dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang sesuai, seperti

helm, pelindung mata, sarung tangan, dan sepatu keselamatan,

Serta perlengkapan keselamatan lainnya.

3. Pelatihan dan Sertifikasi

Pastikan bahwa semua Crew kapal terlibat dalam proses

bongkar muat telah menerima pelatihan yang memadai terkait

keselamatan [Link] yang menggunakan peralatan berat

harus memiliki sertifikasi yang [Link] pelatihan yang

memadai bagi seluruh crew terkaittugas dan tanggung jawab

mereka dalam menjaga keselamatan selama proses bongkar muat.

4. Perencanaan Keselamatan

Buat perencanaan keselamatan sebelum memulai proses

bongkar [Link] jalur evakuasi, area kumpul, dan prosedur

darurat apabila terjadi kecelakaan kerja. Pihak pengelola juga

harus memastikan bahwa lingkungan kerja di sekitar kapal aman

dan terawatt dengan baik, termasuk penanganan yang tepat

terhadap bahan berbahaya atau beracun yang mungkin ada dalam

muatan kapal. Dengan demikian, upaya-upaya ini akan membantu

mencegah kecelakaan dan memastikan keselamatan dan

kesejahteraan semua pekerja yang terlibat dalam proses bongkar


52
muat di SPOB JEANITA.

Semua kondisi diatas sudah dilakukan oleh setiap Crew

dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur yang ada, hanya

saja dibutuhkan perawatan lebih terkait peralatan untuk proses

bongkar muat guna mengurangi kecelakaan yang akan terjadi.

b. Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada saat

bongkar muat di SPOB JEANITA.

Berdasarkan dari analisis data yang didapatkan penulis diatas

dan selama praktek laut dikapal mengenai faktor-faktor yang

menyebabkan kecelakaan kerja pada saat bongkar muat di SPOB

JEANITA ditemukan masih banyak kekurangan. Disini penulis akan

menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada

saat bongkar muat. Menurut Poerwanto (1987:4) bahwa 85 %

kecelakaan disebabkan oleh perbuatan manusia yang salah (Unsafe

Human Act), walaupun sebenarnya telah ada sebab-sebab lain yang

tidak terlihat.

Dari semua pengamatan yang diambil oleh penulis, dapat

disimpulkan tentang Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan

kerja pada saat bongkar muat di SPOB JEANITA. Berikut adalah

beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk memastikan Faktor-

faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada saat bongkar muat

adalah sebagai berikut:

53
1. Kondisi Cuaca Buruk

Cuaca buruk seperti hujan, angin kencang, atau gelombang

tinggi dapat membuat aktivitas bongkar muat di kapal menjadi

lebih berisiko. Kondisi cuaca yang tidak baik dapat menyebabkan

ketidakstabilan kapal dan kesulitan dalam mengontrol peralatan

bongkar muat. Gelombang tinggi dapatmenyebabkan gangguan

pada muatan dan dapat memicu kecelakaan seperti jatuhnya

muatan dari kapal.

2. Kesalahan Manusia

Kesalahan manusia mencakup berbagai aspek, mulai dari

kurangnya kesadaran terhadap prosedur keselamatan, kelelahan,

hingga komunikasi yang buruk. Pekerja atau awak kapal yang

tidak memahami atau mengabaikan prosedur keselamatan dapat

meningkatkan risiko kecelakaan. Kesalahan manusia, baik dari

pihak awak kapal, pekerja pelabuhan, atau operator peralatan

bongkar muat, dapat menjadi penyebab utama kecelakaan.

Kesalahan ini bisa melibatkan ketidakpatuhan terhadap prosedur

keselamatan, kurangnya pelatihan, atau kecerobohan.

3. Perawatan Mesin Yang Kurang Maksimal

Kegagalan peralatan bongkar muat dapat menyebabkan

kecelakaan serius. Peralatan yang rusak atau tidak berfungsi

dengan baik, seperti terkena paparan air laut, cuaca ekstrim,

kelembaban, dan kualitas material, dapat menyebabkankegagalan

operasi dan jatuhnya muatan. Pemeliharaan yang buruk atau

kurangnya inspeksi berkala dapat meningkatkan risiko kerusakan

54
peralatan dan kegagalan fungsi yang dapat menyebabkan

kecelakaan di area bongkar muat. Kecelakaan dapat terjadi jika

peralatan bongkar muat, seperti derek atauconveyor, mengalami

kerusakan atau kegagalan teknis.

c. Upaya untuk meningkatkan keselamatan kerja pada proses bongkar

muat di SPOB JEANITA.

Dari hasil observasi yang penulis lakukan di kapal

SPOB JEANITA mengenai upaya untuk meningkatkan keselamatan

kerja pada proses bongkar muat, hal ini sesuai dengan peraturan

Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, yang

mengatur tentang keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja,

termasuk mesin, peralatan, landasan dan lingkungan kerja.

tujuannya adalah untuk mencegah kecelakaan dan sakit akibat kerja.

Adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan keselamatan

Untuk pelatihan keselamatan di kapal SPOB

[Link] crew melaksanakan drill pada tiap bulan

nya. Dari proses kita berkumpul di muster station yang diberi

arahan pada Nakhoda apa saja yang harus kita persiapkan pada

saat melaksanakan drill. Kami melaksanakan dengan rasa

tanggung jawab. Pada saat melaksanakan drill setiap bulannya,

untuk emergency darurat yang di lakukan berbeda beda dan pada

tiga bulan terakhir dilakukan seluruh keadaan darurat.

Memastikan bahwa pelatihan keselamatan dilakukan secara

berkala untuk memastikan pekerja tetap up to date dengan praktik


55
keselamatan terkini dan terus-menerus meningkatkan kesadaran

mereka terhadap risiko potensial.

2. Pemantauan cuaca

Untuk pemantauan cuaca pada saat proses bongkar muat di

kapal SPOB JEANITA juga kita perhatikan apakah baik atau

buruk, jika pada saat cuaca yang cerah, Proses bongkar muat

berjalan dengan [Link] kondisi cuaca buruk, untuk proses

bongkar muat akan menjadi terganggu dan memakan waktu lebih

lama untuk menyelesaikan proses bongkar muat, juga kami para

crew harus memperhatikan keselamatan untuk menghindari

situasi yang tidak diinginkan. Kami juga memantau Perkiraan

cuaca secara teratur, termasuk informasi tentang angin, hujan,

badai, gelombang laut, dan kondisi cuaca lainnya yang dapat

mempengaruhi proses bongkar muat.

3. Pemeriksaan peralatan rutin

Pemeriksaan peralatan rutin adalahlangkah krusial dalam

menjaga keselamatan selama proses bongkar muat. Peralatan yang

berfungsi dengan baik dapat mencegah kecelakaan dan

memastikan efisiensi operasional. Seperti memeriksa alat-alat

keslamatan terutama helm, dan peralatan pelindung diri lainnya

untuk memastikan mereka dalam kondisi baik dan sesuai dengan

standar keselamatan. Juga kami melakukan pemeriksaan visual

menyeluruh pada setiap peralatan sebelum digunakan. Periksa

apakah ada kerusakan, retak, atau bagian yang aus. Pastikan

semua bagian terpasang dengan baik. itu sangat penting untuk

56
memprioritaskan pemeliharaan rutin dan pemeriksaan peralatan

guna memastikan keandalan dan keselamatan selama proses

bongkar muat.

4. Penerapan proses kerja yang aman

Penerapan proses kerja yang aman selama proses bongkar

muat sangat penting untuk melindungi keselamatan dan

kesehatan pekerja di kapal SPOB JEANITA, serta mencegah

potensi kecelakaan atau kerugian materi. Seperti mewajibkan

penggunaan APD seperti helm, sepatu pengaman, sarungtangan,

dan kacamata pelindung sesuai dengan jenis pekerjaan yang

dilakukan, memastikan pekerja memiliki kondisi kesehatan yang

memadai untuk menjalankan tugas mereka. Mengontrol akses ke

area bongkar muat untuk mencegah orang yang tidak

berkepentingan masuk ke zona kerja. Mencatat daftar nama crew

serta tamu yang naik keatas kapal.

57
BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah penulis uraikan

diatas, maka penulis mendapat menarik kesimpulan sebagai berikut.

5.1.1 Kondisi Keselamatan kerja saat proses bongkar muat di SPOB JEANITA.

Seluruh Crew kapal harus memahami Pemahaman risiko,Identifikasi

potensi bahaya yang terkait dengan proses bongkar [Link] risiko yang

mungkin terjadi selama [Link] itu juga harus menggunakan peralatan

dan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap,Pastikan pekerja dilengkapi

dengan APD yang sesuai, seperti helm, sepatu pengaman, sarung tangan, dan

perlengkapan keselamatan [Link] Pelatihan dan Sertifikasi,

Pastikan bahwa semua Crew kapal terlibat dalam proses bongkar muat telah

menerima pelatihan yang memadai terkait keselamatan kerja. Pekerja yang

menggunakan peralatan berat harus memiliki sertifikasi yang valid. Dan yang

terakhir harus memiliki perencanaan Keselamatan, Buat perencanaan

keselamatan sebelum memulai proses bongkar muat. Tentukan jalur evakuasi,

area kumpul, dan prosedur [Link] demikian, upaya- upaya ini akan

membantu mencegah kecelakaan dan memastikan keselamatan dan

kesejahteraan semua pekerja yang terlibat dalam proses bongkar muat di kapal

SPOB JEANITA.

58
5.1.2 Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada saat bongkar muat di

SPOB JEANITA.

Kondisi cuaca yang buruk, Cuaca buruk seperti hujan, angin kencang, atau

gelombang tinggi dapat membuat aktivitas bongkar muat di kapal menjadi

lebih berisiko. Kondisi cuaca yang tidak baik dapat menyebabkan

ketidakstabilan kapal dan kesulitan dalam mengontrol peralatan bongkar muat.

Kesalahan manusia, Kesalahan manusia mencakup berbagai aspek,mulai dari

kurangnya kesadaran terhadap prosedur keselamatan, kelelahan, hingga

komunikasi yang [Link] mesin yang kurang maksimal, Kegagalan

peralatan bongkar muat dapat menyebabkan kecelakaan serius. Peralatan yang

rusak atau tidak berfungsi dengan baik, seperti terkena paparan air laut, cuaca

ekstrim, kelembaban, dan kualitas material., dapat menyebabkan kegagalan

operasi dan jatuhnya muatan.

5.1.3 Upaya untuk meningkatkan keselamatan kerja pada proses bongkar muat

Memberikan pelatihan keselamatan yang komprehensif kepada semua

pekerja yang terlibat dalam proses bongkar muat. Pelatihan ini mencakup

pemahaman tentang prosedur keselamatan khusus yang berlaku, penggunaan

peralatan pelindung diri, dan respons terhadap situasi [Link]

prosedur keselamatan yangterperinci dan mudah dipahami untuk setiap tahap

bongkar muat. Pastikan bahwa semua pekerja memahami dan mengikuti

prosedur tersebut dengan ketat.

59
Melakukan pemantauan secara rutin terhadap cuaca dan kondisi

lingkungan sebelum memulai proses bongkar muat. Menghentikan

pekerjaan jika kondisi cuaca tidak aman dan memberikan instruksi yang

jelas kepada pekerja [Link] prosedur darurat yangjelas dan

melibatkan semua pekerja dalam latihan darurat secara berkala. Ini

termasuk evakuasi, penanganan cedera, dan respons terhadap keadaan

darurat lainnya. Membangun budaya keselamatan di antara semua

pekerja, di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas

keselamatan diri sendiri dan rekan kerja. Mendorong pelaporan situasi

berbahaya dan memberikan insentif untuk partisipasiaktif dalam upaya

keselamatan.

Pemeriksaan peralatan rutin, langkah krusial dalam menjaga

keselamatan selama proses bongkar muat. Peralatan yang berfungsi

dengan baik dapat mencegah kecelakaan dan memastikan efisiensi

operasional. Seperti memeriksa alat-alat keslamatan terutama helm, dan

peralatan pelindung diri lainnya untuk memastikan mereka dalam

kondisi baik dan sesuai dengan standar [Link] proses

kerja yang aman, selama proses bongkar muat sangat penting untuk

melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja di kapal SPOB

JEANITA, serta mencegah potensi kecelakaan atau kerugian materi.

Seperti mewajibkan penggunaan APD seperti helm, sepatu pengaman,

sarung tangan, dan kacamata pelindung sesuai dengan jenis pekerjaan

yang dilakukan.

60
5.2 Saran
Dari permasalahan yang telah diuraikan diatas, terkait dengan

Upaya Meningkatkan Keselamatan Proses Kerja Pada Saat

Bongkar Muat Di Kapal SPOB JEANITA. Adapun saran saran

yang dapat penulis berikan sebagai berikut.

a. Nakhoda harus melaksanakan safety meeting secara rutin

dengan semua crew guna meningkatkan kesadaran akan

keselamatan kerja dalam kegiatan bongkar muat

b. Setiap crew sebaiknya lebih berpatisipasi aktif dan wajib

melakukantraining atau drill yang diadakan diatas kapal

guna memberi pemahaman terhadap keselamatan dalam

bongkar muat pada saat menghadapi keadaan darurat atau

emergency situation.

c. Melakukan serah terima tugas jaga atau handover sesuai

dengan prosedur.

d. Apabila melihat adanya potensi cuaca buruk harus

menberitahukan secepat mungkin ke nakhoda.

e. Semua crew tetap mengutamakan prinsip utamakan keselamatan


atau safety first.

61
DAFTAR PUSTAKA

Arifin (2013), Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

[Link]

Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka cipta.

Darbra & Casal, J. (2004). Historical Analysis of Accidents in Seaports. Safety

Science, 42(2), 85–98. [Link] 7535(03)00002-X.

Dirk K. (2008). Sistim Peti Kemas (Container System). Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Eko P B. (2023). Upaya Peningkatan Keselamatan Kerja Saat Bongkar Muat Batu

Bara Di MV. MANALAGI ASTRA. Program Studi Nautika. PIP Semarang.

Ernawati. (2008). Tata Busana Jilid 1 untuk Sekolah Menengah Kejuruan.

Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Hadipoetro & Sajidi. (2014). Manajemen Komprehensif Keselamatan Kerja.

Jakarta: Yayasan Putra Tarbiyyah Nusantara.

Handoko & Rudi. (2022). Optimalisasi Implementasi Prosedur Keselamatan Kerja

Guna Meminimalisasi Kecelakaan Kerja Di Kapal MT. MEDITRAN.

Program Studi Nautika. Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta.

Handoko R A. (2009). Manajemen Pabrik. Bumi Aksara: Jakarta.

International Maritime Organization (IMO). (1974). The International Convention

for The Safety Of Life at Sea (SOLAS).

62
Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. Undang-Undang Republik

Indonesia Tentang Pelayaran. Nomor KP 17 Tahun 2008.

Kurniawan (2021). Pengantar Praktis Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta:

Deepublish.

Peraturan Menteri Perhubungan tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan

Bongkar Muat Barang dari dan ke Kapal. No 153, Tahun 2016.

Poerwanto (1987). Keselamatan Kerja, Yayasan Neptune jl. Singasari 2 A

Semarang.

Rianto A. (2023). Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja Saat Kegiatan Bongkar

Muat di Pelabuhan Pada KM. MARE MAS. Jurnal: Studi Nautika. PIP

Semarang.

Saryono. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung; Alfabeta.

Soehatman R. (2010). Pedoman Praktis Manajemen Risiko dalam Perspektif K3

OHS Risk Management. Jakarta: Dian Rakyat.

Sugiyono. (2016). Garis Muat Kapal Dan Pemuatan. Jakarta: Transmedia

Pustaka.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian (Kuantitafif, Kualitatif dan R & D).

Bandung: Alfabeta

Wasimun. (2020). Peralatan keselamatan kerja utama di atas kapal.

[Link]

[Link].

Widayananti R, (2016), Alat Pelindung Diri Keselamatan Kerja Para Awak Kapal.

63
[Link]

dirikeselamatan-kerja-para-awak-kapal/.

64
LAMPIRAN

Lampiran 1. Kapal SPOB JEANITA

Lampiran 2. Ship Particular

65
Lampiran 3. Crew List

Lampiran 4. Pemahaman risiko (Risk assessment) di SPOB JEANITA

66
Lampiran 5. Alat Pelindung Diri (APD)

Lampiran 6. Crew SPOB JEANITA melaksanakan latihan keselamatan

67
Lampitan 7. Crew melaksanakan Safety Meeting tentang perencanaan keselamatan

Lampiran 8. Bongkar muat pada saat cuaca buruk

68
Lampiran 9. Crew tertidur saat proses bongkar muat

Lampiran 10. Manifold yang berkarat

69
Lampiran 11. Crew melaksakan latihan keselamatan

Lampiran 12. Kondisi cuaca cerah pada saat bongkar muat

70
Lampiran [Link] valve yang sudah diberi greese

Lampiran 14. Kegiatan pengarahan yang dilakukan oleh perwira

71
Lampiran 15. Lembar Observasi

Nama : Arifki Daffa Dwi Bowo


NIT 113305201044
Nama Kapal : SPOB JEANITA
Judul Penelitian : Upaya Peningkatan Keselamatan Kerja Pada Proses
Bongkar Muat Di SPOB JEANITA

Indikasi
No Aspek yang di observasi Tidak Keterangan
Ada
ada
1. Cara perwira untuk Selalu berkomunikasi dan
meningkatkan keselamatan crew memantau satu sama lain
pada saat proses bongkar muat rekan dalam bekerja
2. Penggunaan APD atau PPE Menggunakan seluruh PPE
untuk setiap crew sebagai salah satu bentuk
mengurangi insiden
3. Pemahaman crew dan abk dalam Melakukan sharing satu sama
pentingnya keselamatan dalam lain pada saat jaga maupun
pelaksanaan bongkar muat bekerja
4. Penerapan kebijakan Melakukan penenrapan dan
keselamatan sesuai regulasi pemberlakuan sanksi
solas
5 Adanya evaluasi atau safety Selalu terjepit waktu untuk
meeting sebelum melaksanaakan melakukan safety meeting
proses bongkar muat dengan proses bongkar muat
yang mendadak

72
Lampiran 16. Hasil Observasi

Nama : Arifki Daffa Dwi Bowo


NIT 113305201044
Nama Kapal : SPOB JEANITA
Judul Penelitian : Upaya Peningkatan Keselamatan Kerja Pada Proses
Bongkar Muat Di SPOB JEANITA

Indikasi
No Aspek yang di observasi Tidak Keterangan
Ada
ada
1. Cara perwira untuk Selalu berkomunikasi dan
meningkatkan keselamatan crew √ memantau satu sama lain
pada saat proses bongkar muat rekan dalam bekerja
2. Penggunaan APD atau PPE Menggunakan seluruh PPE
untuk setiap crew √ sebagai salah satu bentuk
mengurangi insiden
3. Pemahaman crew dan abk dalam Melakukan sharing satu sama
pentingnya keselamatan dalam √ lain pada saat jaga maupun
pelaksanaan bongkar muat bekerja
4. Penerapan kebijakan Melakukan penenrapan dan
keselamatan sesuai regulasi √ pemberlakuan sanksi
solas
5 Adanya evaluasi atau safety Selalu terjepit waktu untuk
meeting sebelum melaksanaakan melakukan safety meeting

proses bongkar muat dengan proses bongkar muat
yang mendadak

73
Lampiran 17. Pedoman Wawancara
Contoh Pedoman Wawancara

No Pertanyaan Jawaban

Jenis peralatan pelindung diri yang diberikan kepada


1 pekerja yang terlibat dalam proses bongkar muat di kapal?

Langkah-langkah konkret apa yang telah diambil


2 untuk meningkatkan keselamatan kerja selama proses
bongkar muat di kapal?
Bagaimana prosedur keselamatan khusus untuk
3 mengatasi risiko yang terkait dengan bongkar muat di
kondisi cuaca buruk?
Jelaskan risiko diintegrasikan ke dalam proses
4 bongkar muat untuk mencegah kecelakaan yang
mungkin terjadi?

Bagaimana program inspeksi rutin untuk memastikan


5 bahwa peralatan dan infrastruktur terkait bongkar
muat berada dalam kondisi kerja yang aman?

Bagaimana evaluasi risiko dilakukan sebelum


6
memulai proses bongkar muat?

Program inspeksi rutin seperti apa untuk memastikan


7 bahwa peralatan dan infrastruktur terkait bongkar
muat berada dalam kondisi kerja yang aman?
Apa respons cepat terhadap situasi darurat atau
kecelakaan diintegrasikan ke dalam rencana
8
keselamatan kerja untuk proses bongkar muat di
kapal?

Upaya keselamatan kerja diintegrasikan ke dalam


9
perencanaan umum operasi bongkar muat?

Bagaimana komunikasi keselamatan ditingkatkan


10 antara semua pihak yang terlibat, termasuk kapten
kapal, awak kapal, dan pekerja pelabuhan?

74
Lampiran 18. Hasil Wawancara

Dalam proses pengumpulan data-data karya ilmiah terapan dengan judul

UPAYA PENINGKATAN KESELAMATAN KERJA PADA PROSES BONGKAR

MUAT DI SPOB JEANITA ini, Penulis juga menggunakan metode pengumpulan

data dengan cara wawancara kepada Master, Chief Officer and Second Officer, di

kapal SPOB JEANITA. Berikut adalah data dari para responden yang penulis

lakukan wawancara:

Identitas Informan

NAMA : Adi Mardhani Randha

JABATAN : Nakhoda

Cadet : Selamat pagi capt,

Nahkoda : Pagi det, ada apa det?

Cadet : Ijin bertanya capt, mengenai tentang keselamatan pada saat


bongkar muat capt

Nahkoda : Silahkan det

Cadet : Siap capt, apa saja upaya untuk meningkatkan keselamatan untuk

mencegah kecelakaan pada proses bongkar muat apa saja capt?

Nahkoda : Jadi begini det,ada beberapa di antaranya adalah resistensi terhadap

perubahan dari beberapa pekerja yang sudah terbiasa dengan

metode kerja lama. Namun, kami terus melakukan komunikasi

aktif, memberikan pemahaman tentang pentingnya

75
keselamatan, dan memberikan dukungan yang diperlukan agar

mereka dapat beradaptasi.

Cadet : Apakah ada tantangan khusus yang dihadapi dalam meningkatkan

keselamatan di atas kapal capt ?

Nahkoda : Tentu, beberapa tantangan termasuk kondisi cuaca yang tidak dapat

diprediksi, kebutuhan akan koordinasi yang ketat di antara awak

kapal, dan penyesuaian dengan peraturan keselamatan yang terus

berkembang. Namun, kami bekerja keras untuk mengatasi

tantangan ini melalui pelatihan yang sesuai dan pembaruan terus-

menerus terhadapprosedurkeselamatan det.

Cadet : Siap capt. Bagaimana pelatihan keselamatan di atas kapal diorganisir

untuk memastikan keselamatan awak kapal dan pekerja di area

bongkar muat capt ?

Nahkoda : Pelatihan keselamatan di atas kapal sangat penting bagi keselamatan

semua orang yang berada di kapal. Kami menyelenggarakan

pelatihan rutin untuk awak kapal, termasuk penggunaan alat

pelindung diri, prosedur evakuasi darurat, dan penanganan bahan

berbahaya. Kami juga melibatkan merekadalam simulasi situasi

darurat untuk meningkatkan kesiapan mereka.

Cadet : Jadi saya simpulkan keselamatan itu yang paling penting capt?

Nahkoda : Nah betul det, keselamatan itulah yang paling utama.

76
Cadet : Siap capt, Terima kasihatas waktu dan wawasan yang berharga tentang

upaya meningkatkan keselamatan di atas kapal capt. Semoga

inisiatif ini terus membawa manfaat positif bagi

keselamatansemua yang terlibat.

Nahkoda : Sama-sama det.

Identitas Peforman

NAMA : Muhammad Hamidi

KELAS : Mualim 2

Cadet : Selamat siang ken, ijin mengganggu waktunya sebentar ken2/O

: siang det, silahkan det.

Cadet : ijin bertanya ken, saya ingin mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang

faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan selama proses

bongkar muat di kapal. Bisakah Anda berbagi pengalaman dan

pengetahuan Anda terkait dengan hal ini?

2/O : Bisa det, saya senang berbicara tentang hal ini. Beberapa faktor

yang sering menyebabkan kecelakaan selama bongkar muat di

kapal melibatkan berbagai aspek. Salah satu yang paling

mencolok adalah kurangnya kesadaran akan keselamatan.

Cadet : Apa yang dapat menyebabkan kurangnya kesadaran akan keselamatan

di kapal selama proses bongkar muat ken?

77
2/O : jadi begini det, beberapa pekerja mungkin tidak sepenuhnya

memahami risiko yang terlibat dalam pekerjaan mereka atau

mungkin kurang terlatih dalam menggunakan peralatan dengan

benar. Selain itu, terkadang ada kecenderungan untuk

mengabaikan prosedur keselamatan karena faktor-faktor seperti

tekanan waktu atau keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan

dengan cepat.

Cadet : Bagaimana kondisi cuaca dapat menjadi faktor risiko selama operasi

bongkar muat ken?

2/O : Cuaca yang buruk dapat membuat kapal menjadi tidak stabil,

meningkatkan risiko kecelakaan. Kami memantau perkiraan

cuaca dengan cermat dan, jika kondisinya buruk, sering kali

menunda atau menyesuaikan jadwal bongkar muat.

Cadet : siap ken. Menurut seken, apa langkah-langkah pencegahan khusus

yang telah diterapkan untuk mengurangi risiko kecelakaan di

kapal selama proses bongkar muat?

2/O : langkah-langkah nya det meningkatkan pemantauan cuaca,

mengintensifkan pelatihan keselamatan, dan memperketat

penegakan prosedur keselamatan. Selain itu, kami terus

mendorong budaya keselamatan di antara semua anggota tim.

Cadet : siap ken.

2/O : iya det,ada yang mau ditanyakan lagi ?

78
Cadet : sepertinya sudah cukup ken, Terima kasih atas wawasan yang berharga

mengenai faktor-faktor penyebab kecelakaan selama proses

bongkar muat di kapal. Semoga langkah-langkah yang diambil

dapat terus meningkatkan keselamatan di lapangan.

2/O : Terima kasih juga atas pertanyaanmu det . Kami akan terus

berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan

mengurangi risiko kecelakaan di kapal.

Identitas Peforman

NAMA : Herbinsyah Putra Ginting

JABATAN : Mualim 1

Cadet : Selamat siang chief, ijin mengganggu waktunya sebentar.

C/O : siang det, silahkan det.

Cadet : ijin chief, saya bertanya tentang meningkatkan keselamatan kerja

pada saat bongkar muat di kapal.

C/O : oiyaa, silahkan det

Cadet : menurut chief, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya

kecelakaan pada saat proses bongkar muat di kapal chief ?

C/O : menurut saya,Kecelakaan selama proses bongkar muat di atas kapal

bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu yang paling

umum adalah kelalaian atau kurangnya kesadaran

79
terhadap keselamatan baik dari pihak awak kapal maupun pekerja

di pelabuhan det.

Cadet : faktor-faktor spesifik yang dapat memicu kecelakaan di atas kapal

apa saja chief?

C/O : Beberapa faktor umum melibatkan penggunaan peralatan yang tidak

sesuai, kurangnya pelatihan, dan kurangnya komunikasi yang

efektif di antara tim yang terlibat dalam bongkar muat. Selain itu,

cuaca buruk, ketidakstabilan beban, dan perawatan yang kurang

baik terhadap peralatan pelabuhan dan kapal juga dapat menjadi

pemicu kecelakaan det.

Cadet : Bagaimana kurangnya kesadaran terhadap keselamatan dapat

mempengaruhi situasi di lapangan chief ?

C/O : Kurangnya kesadaran terhadap keselamatan dapat mengarah pada

perilaku yang berisiko, seperti pengabaian terhadap prosedur

keselamatan, penggunaan peralatan tanpa izin, atau kurangnya

perhatian terhadap tanda peringatan. Ini bisa berdampak serius

pada keselamatan seluruh tim yang terlibat di atas kapal det.

Cadet : siap chief, menurut chief apakah terdapat peran pelatihan dalam

mengatasi faktor risiko keselamatan chief ?

C/O :tentu, pelatihan sangat krusial. Pelatihan yang baik membantu

meningkatkan pemahaman pekerja terhadap prosedur

80
keselamatan, penggunaan peralatan dengan benar, dan

penanganan situasi darurat. Kami secara rutinmenyelenggarakan

pelatihan untuk awak kapal dan pekerja di pelabuhan untuk

memastikan mereka siap menghadapi berbagai situasi di

lapangan. Jadi begitu det.

Cadet : siap chief, terima kasih atas wawasan yang berharga mengenai faktor-

faktor penyebab kecelakaan selama proses bongkar muat di atas

kapal. Semoga upaya pencegahan yang dilakukan dapat terus

meningkatkan keselamatan di lapangan.

C/O : iya sama-sama det.

81

Anda mungkin juga menyukai