0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan11 halaman

Laporan Kasus Gawat Janin dan SC

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan dan resume mengenai seorang pasien Ny.C dengan G2 yang menjalani tindakan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Mitra Delima. Laporan ini mencakup konsep dasar, etiologi, tipe, komplikasi, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan terkait dengan Sectio Caesarea. Disusun oleh Widya Dwi Aprilia sebagai bagian dari tugas praktik pendidikan profesi Ners Keperawatan Maternitas.

Diunggah oleh

akiraharist
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan11 halaman

Laporan Kasus Gawat Janin dan SC

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan dan resume mengenai seorang pasien Ny.C dengan G2 yang menjalani tindakan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Mitra Delima. Laporan ini mencakup konsep dasar, etiologi, tipe, komplikasi, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan terkait dengan Sectio Caesarea. Disusun oleh Widya Dwi Aprilia sebagai bagian dari tugas praktik pendidikan profesi Ners Keperawatan Maternitas.

Diunggah oleh

akiraharist
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME PADA Ny.

C DENGAN G2
P1001 Ab000 UK 38 MINGGU LEBIH 2 HARI+ BSC 1 TAHUN YANG LALU DI
INSTALASI GAWAT DARURAT MATERNAL RUMAH SAKIT MITRA DELIMA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Maternitas

Oleh :
WIDYA DWI APRILIA
2430038

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI


UNIVERSITAS KEPANJEN
2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Preeklamasia Departemen Keperawatan Maternitas di Ruang IGD Maternal RSU Mitra
Delima, yang dilakukan oleh :
Nama : Widya Dwi Aprilia

Nim : 2430038

Prodi : Pendidikan Profesi Ners

Sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan tugas studi klinik Keperawatan Kritis Program Pendidikan
Profesi Ners Ruang IGD Maternal yang dilaksanakan pada tanggal 10-15 Februari 2025 yang telah disetujui dan
disahkan pada:
Hari :

Tanggal :

Malang, 10 Februari 2025

Mengetahui

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik


BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep BSC

Bekas luka SC terdiri dari dua komponen yaitu bagian hypoechoic pada bekas luka
dan jaringan parut pada miometrium yang dinilai sebagai ketebalan miometrium residual
(KMR). Ketebalan seluruh SBR diukur dengan menggunakan transabdominal sonografi,
sementara lapisan otot diukur dengan menggunakan transvaginal sonografi (TVS). Ketebalan
SBR harus dievaluasi karena berperan penting sebagai prediktor terjadinya ruptur uteri. Hal ini
mengingat resiko ruptur uteri akan meningkat sesuai dengan jumlah pelahiran SC
sebelumnya. Bekas luka operatif SC pada uterus akan mengalami perubahan selama proses
kehamilan selanjutnya. Peningkatan lebar rata-rata 1,8 mm per semester pada bagian bekas
luka. Sedangkan kedalaman dan panjang bekas luka mengalami penurunan dengan rata-rata 1,8
mm dan 1,9 mm per trimester. Ketebalan myometrium residual menurun rata-rata 1,1 mm per
trimester. Section Caesarian (SC) juga akan meningkatkan resiko terjadinya plasenta
previa dan abrupsio plasenta pada kehamilan berikutnya. Peningkatan resiko terjadinya
plasenta previa dan abrupsio plasenta pada kehamilan kedua. karena adanya respon yang
berbeda terhadap bekas luka SC, terutama respon terhadap sitokin dan mediator inflamasi,
kejadian stress oksidatif. Keadaan tersebut berdampak pada pertumbuhan dan rekonstruksi
desidua basalis dan kemampuan desidua untuk menampung dan memodulasi infiltrasi trofoblas.
Ketebalan dinding uterus wanita dengan riwayat SC lebih tipis daripada uterus wanita dengan
persalinan pervaginam (Suryawinata et al.,
B. Konsep Dasar Sectio
1. Definisi Sectio Caesaria
Sectio Caessarea (SC) adalah tindakan untuk melahirkan bayi melalui
pembedahan abdomen dan dinding uterus (Nugroho, 2017). Tindakan Sectio cassarea
(SC) merupakan salah satu alternatif bagi seorang wanita dalam memilih proses persalinan
di samping adanya indikasi medis dan indikasi non medis, tindakan SC akan memutuskan
kontinuitas atau persambungan jaringan karena insisi yang akan
mengeluarakan reseptor nyeri sehingga pasien akan merasakan nyeri terutama setelah
efek anastesi habis. Rasa nyeri dapat menimbulkan stressor dimana individu
berespon secara biologis dan hal ini dapat menimbulkan respon perilaku fisik dan
psikologis (Manuaba, 2017).
2. Etiologi
Menurut Mitayani (2019), banyak faktor resiko indikasi SC pada ibu antara lain :
a. Disproporsi Cepalo Pelvik
b. Placenta previa
c. Tumor jalan lahir
d. Hidromnion
e. Kehamilan gemeli
Sedangkan faktor dari bayi :
a. Bayi Besar
b. Mal presentasi
c. Letak lintang
d. Hidrocepalus
- Etiologi berasal dari Ibu
Ibu pada primigravida dengan kelainan letak, primipara tua disertai kelainan
letak, disproporsi cepalo pelvik (disproporsi janin/panggul), ada sejarah kehamilan dan
persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, plasenta previa terutama pada
primigravida, komplikasikehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia, atas permintaan
kehamilan yang disertai penyakit (Jantung, Diabetes Mellitus), gangguan
perjalanan persalinan (kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya).

- Etiologi berasal dari janin


Etiologi yang berasal dari janin seperti Fetal distress/gawat janin, mal presentasi
dan mal posisi kedudukan janin, prolapses tali pusat dengan pembukan kecil, kegangalan
persalinan vakum atau ferseps ekstraksi
3. Tipe tipe Sectio Caesaria
Menurut Oxorn (2019), tipe-tipe sectio caesarea yaitu :
a. Sectio caesaria klasik

Sectio Caesarea Klasik dibuat vertikal pada bagian atas rahim. Pembedahan
dilakukan dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kirra kira sepanjang 10
cm. Tidak dianjurkan untuk kehamilan berikutnya melahirkan melalui vagina
apabila sebelumnya telah dilakukan tindakan pembedahan ini.
b. Sectio caesaria transperitonel profunda
Sectio Caesarea Transperitonel Profunda disebut juga low cervical yaitu
sayatan vertikal pada segmen lebih bawah rahim. Sayatan jenis ini dilakukan jika
bagian bawah rahim tidak berkembang atau tidak cukup tipis untuk memungkinkan
dibuatnya sayatan transversal. Sebagian sayatan vertikal dilakukan sampai ke otot-
otot bawah rahim.
c. Sectio Caesarea Histerektomi Sectio
Caesarea Histerektomi adalah suatu pembedahan dimana setelah janin
dilahirkan dengan Sectio Caesarea, dilanjutkan denganpegangkatan rahim.
d. Sectio Caesarea Ekstraperitoneal Sectio
Caesarea Ekstraperitoneal, yaitu Sectio Caesarea berulang pada seorang
pasien yang sebelumnya melakukan Sectio Caesarea. Biasanya dilakukan di atas
bekas sayatan yang lama. Tindakan ini dilakukan dengan insisi dinding dan faisa
abdomen sementara peritoneum dipotong ke arah kepala untuk memaparkan segmen
bawah uterus sehingga uterus dapat dibuka secara ekstraperitoneum.
4. Komplikasi
a. Komplikasi pada ibu
Infeksi puerperalis, bisa bersifat ringan seperti kenaikan suhu selama beberapa hari
dalam masanifas, atau bersifat berta seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya.
Infeksi postoperatif terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala-gejala
yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah
ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Perdarahan, bisa timbul pada waktu
pembedahan jika cabang cabang arteri uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri.
b. Komplikasi
komplikasi lain seperti luka kandung kencing dan embolisme paru. suatu
komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kuatnya perut pada dinding uterus,
sehingga pada kehamilan berikutnya bisa ruptur uteri. Kemungkinan hal ini lebih
banyak ditemukan sesudah sectio caesarea. Komplikasi-komplikasi lain seperti
luka kandung kemih, dan embolisme paru.
c. Komplikasi baru Komplikasi yang kemudian tampak ialah kurang kuatnya parut
pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptur uteri.
Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah Sectio Caesarea Klasik
5. Penatalaksamnaan
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan per
intavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi,
dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan
biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai
kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan per infus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan per oral. Pemberian minuman dengan
jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 sampai 8 jam pasca operasi,
berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : Miring kanan dan kiri dapat dimulai
sejak 6 sampai 10 jam setelah operasi, Latihan pernafasan dapat dilakukan
penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar, Hari kedua post
operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas
dalam lalu menghembuskannya, Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah
menjadi posisi setengah duduk (semifowler), Selanjutnya selama berturut- turut, hari
demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke-5 pasca operasi.
d. Kateterisasi
e. Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan rasa tidak enak pada
penderita,menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan
penderita Pemberian obat-obatan. Antibiotik cara pemilihan dan pemberian antibiotik
sangat berbeda-beda sesuai indikasi.
f. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan Obat yang dapat
di berikan melalui supositoria obat yang diberikan ketopropen sup 2x/24 jam,
melalui orang obat yang dapat diberikan tramadol atau paracetamol tiap 6 jam,
melalui injeksi ranitidin 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu.
g. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit C.
h. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus
dibuka dan diganti.
i. Pemeriksaan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi, dan pernafasan.
j. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak
menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa
banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
b. Pemantauan EKG
c. JDL dengan diferensial
d. Elektrolit
e. Hemoglbin / Hematokrit
f. Golongan darah
g. Urunalisis
7. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak
dapat lahir secara normal/spontan, misalnya karena ketidakseimbangan ukuran kepala
bayi dan panggul ibu,keracunan kehamilan yang parah, pre eklampsia dan eklampsia
berat, kelainan letak bayi seperti sungsang dan lintang, kemudian sebagian kasus mulut
rahim tertutup plasenta yang lebih dikenal dengan plasenta previa, bayi kembar, kehamilan
pada ibu yang berusia lanjut, persalinan yang berkepanjangan, plasenta keluar dini,
ketuban pecah dan bayi belum keluar dalam 24 jam, kontraksi lemah dan sebagainya.
Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio
Caesarea.
8. Macam Macam Lochea Berdasarkan Jumlah dan Warna Nya (Bobak,
2018)
a. Lochea rubra : 1-3 berwarna merah dan hitam, terdiri dari sel
desidua, verniks kaseosa, rambut lanugo, sisa mikonium, sisa darah.
b. Lochea Sanguinolenta : 3-7 hari berwarna putih campur merah kecoklatan.
c. Lochea Serosa : 7-14 hari berwarna kekuningan.
Lochea Alba : setelah hari ke-14 berwarna putih
9. Pathway Sectio Caesarea (CS)
C. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Sectio Caecarea

a. Pada pengkajian yang pertama-tama kita harus mengkaji identitas pasien dan
penanggung jawab yang meliputi: nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, status
perkawinan dan alamat.
b. Alasan dirawat, disini kita mengkaji apakah ibu merasakan keluhan pada masa nifas.
c. Kaji adanya sakit perut, perdarahan dan kekuatan untuk bergerak.
d. Kaji riwayat kesehatan ibu dan keluarga dan keadaan bayi saat ini yang meliputi berat
badan, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar perut dan lain-lain.

e. Lakukan pengkajian riwayat obsetri dan ginekologi yang meliputi: kaji riwayat
menstruasi. Yang dimaksud dengan riwayat menstruasi adalah menarche, siklus banyak
atau sedikit, keluhan dan HPHT. Kaji juga riwayat pernikahan, riwayat persalinan.
f. Lakukan pemeriksaan fisik dari kepala meliputi: apakah adanya edema pada wajah,
konjungtiva pucat dan lain-lain. Pada leher, kaji adanya hiperpigementasi perlahan
berkurang, kaji pembesaran kelenjar tiroid, pembuluh limfe dan pembesaran vena
jugularis.
g. Pada pengkajian payudara lakukan teknik inspeksi apakah payudara membesar, puting
susu mudah erektil, produksi kolostrum, serta kaji adanya massa atau pembesaran
pembuluh limfe.
h. Pada abdomen kaji bising usus dalam 4 kuadran, konsistensi, kekuatan kontraksi,
posisi, tinggi fundus
i. Pola eleminasi Pada klien SC biasanya dipasang folly kateter selama pembedahan
sampai 2 hari post operasi. perlu dilakukan bleder training karna terjadigangguan BAK.
Kaji warna urine yang keluar, jumlahnya dan [Link] ibu dengan hbsag biasanya
urine gelap, feses warna tanah liat
j. Pada pengkajian genetalia, lakukan pemeriksaan uterus, kaji apakah kondisi uterus
sudah kembali dalam kondisi normal. Pemeriksaan lochea, lakukan pemeriksaan tipe,
jumlah, bau, dan komposisi lochea. Untuk pemeriksaan serviks, kaji adanya edema,
distensi, dan perubahan strukturinternal dan eksternal. Untuk pemeriksaan vagina kaji
adanya buruga, perubahan bentuk dan perubahan mukus normal

k. Keadaan umum: observasi tingkat kesadaran


l. Tanda-tanda vital: tekanan darah, suhu, pernafasan dan nadi
m. Thorax Jantung : kaji munculnya bradikardiparu : kaji pernafasan hati:
pembesarah hepar, sirosis hepatis
n. Ekstermitas : tidak terjadi pembengkakkan, warna kulit kekuningan
2. Diagnosis keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul:
1. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir/Agen pencedera
fisiologis
2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi/Efek prosedur
invasive
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin
DAFTAR FUSTAKA

Bullechek, G. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th Edition.


Missouri: Elseiver [Link], T & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing
Diagnoses:Definitions & Classification 2015-2017 10 ed. Oxford: Wiley Blackwell.
Moorhead, S. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Measurement of Health
Outcomes 5th Edition. Missouri: Elsevier Saunder.

Nuratif, A.H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda
Nic-Noc. Edisi Revisi Jilid 3. Jogjakarta: Meidcation Jogja.

Nugroho, Taufan. 2011. Buku Ajar Obstetri untuk Mahasiswa [Link]:


Nuha Medika

Rukiyah, Ai Yeyeh dkk. 2012. Asuhan Kebidanan II Persalinan Edisi [Link]: Buku Kesehatan

Bluechek, G.M.,Butcher,H.M.,Dochterman,J.M.&Wagner,C.M.,[Link] Interventions


Classification (NIC) Edisi Bahasa Indonesia. 6 [Link]:Mocomedia.

Dewi, R. S., Apriyanti, F., & Harmia, E. 2020. Hubungan Paritas Dan
AnemiaDenganKejadianKetubanPecahDiniDiRsudBangkinangTahun2018
. JurnalKesehatanTambusai,1(2),76-84.

Herdman, T. H. & Kamitsuru, S., 2015. Diagnosa Keperawatan: Definisi


&Klasifikasi 2015-2017.10penyunt. Jakarta:EGC.

Sarwono. 2015. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka.

Tim pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan


Indonesia. DPP PPNI.

Tim pokja SLKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan


Indonesia. DPP PPNI.
Tim pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia. DPP PPNI.

Anda mungkin juga menyukai