Nama : Yosi lorenza
Nim : 1911250011
Ruang : 3.A
Tugas : Bimbingan dan Konseling AUD 3.A
Jurnal Paradigma, No. 14 Th. VII, Juli 2012 ISSN 1907-297X
Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling
Oleh : Sigit Sanyata
Abstrak
Proses konseling akan berjalan efektif jika konselor memahami dan menguasai
pendekatanteoretik dalam konseling. Pendekatan behavioristik banyak mendapatkan kritik
tetapi sekaligus dukungan. Kritik yang ditujukan kepada pendekatan behavioristik
difokuskan pada cara pandang terhadap manusia yang kemudian berimplikasi pada
teknik-teknik konseling yang [Link] pendekatan behavioristik
kontemporer berusaha untuk menempatkan manusia dalam dimensi yang lebih tinggi
dibandingkan konsep tentang manusia pada awal kemunculan behavioristik. Namun
demikian pendekatan behavioristik menjadi salah satu pendekatan yang masih dominan
dalam konseling dan psikoterapi. Perkembangan pendekatan ini memiliki kontribusi
besar dalam mencapai target konseling untuk mencapai perubahan pikiran, perasaan dan
perilaku. Kata kunci : konseling, behavioristik, psikoterapi
Abstract
The effective of counseling process if konselor comprehend and master approach of
teoritik in konseling. Approach of behavioristik getting many criticism but at the
same time support. addressed criticism to approach of behavioristik focussed by way of
approach to human being which later;then have implication to techniques of konseling used.
Growth of approach of out for contemporary behavioristik place human being in
compared to higher level dimension of concept about human being in the early
apparition of behavioristik. But that way approach of behavioristik become one of the
approach which still dominant in psychotherapy and konseling. Growth of this approach
have big contribution in reaching goals of konseling to reach change of heart, behavior and
feeling. Key words : counseling, behavioristic, psychotherapy
Pendahuluan
Corey (2005) mengemukakan bahwa psikoanalisa merupakan sebuah model
pengembangan kepribadian dengan pendekatan psikoterapi. Teori Freud
banyak dikembangkan pada model konseling dan terapi psikologis, sekaligus menjadai
salah satu menu wajib dalam memahami dimensi kepribadian manusia. Bagi yang
berminat di bidang helping profession tidak merasa asing dengan konsep dan kerangka
teoretik dari Freud dan Freudian. Psikoanalisa klasik yang kemudian berkembang dalam
psikoanalisa kontemporer tetap menjadi salah satu pertimbangan konselor dan terapis
dalam menentukan pendekatan psikoanalisa modern. Salah satu kritik terhadap
psikoanalisa adalah memandang manusia secara deterministic sehingga dianggap
melemahkan martabat kemanusiaan sebagai individu yang penuh dinamika dan memiliki
kebebasan. Perilaku deterministik disebabkan oleh kekuatan irasional, motivasi
1. ketidaksadaran, dorongan-dorongan biologis dan insting. Perhatian sentral psikoanalisa
adalah dorongan instingtif. Perkembangan manusia ditentukan pada masa kanak-
kanak merupakan salah satu deskripsi dari pandangan pesimisme dan pasivitas
terhadap manusia. Pendekatanpsikoanalisa bersifat klinis dan mementingkan energi-
energi psikis dan kurang mengakui aspek kognitif. Posisi individu hanya ditentukan
oleh model perkembangan pada masa kanak-kanak berimplikasi pada munculnya kritik
dan teori baru yang memiliki cara pandang berbeda dengan psikoanalisa. Pada tahun
1950-an banyak eksperimen yang dilakukan oleh psikolog dan terapis dalam upaya
pengembangan potensi manusia, Salah satu temuan baru yang didapatkan adalah
menganggap pentingnya faktor belajar pada manusia, di mana untuk memperoleh hasil
belajar yang optimal diperlukan reinforcement sehingga teori ini menekankan pada dua
hal dua
hal penting yaitu learning dan reinforcement serta tercapainya suatu perubahan
perilaku
(behavior).
Teori dan Pendekatan Behavioristik
1. Sejarah Perkembangan
Steven Jay Lynn dan John P. Garske (1985) menyebutkan bahwa di
kalangan konselor/psikolog, teori dan pendekatan behavior sering disebut sebagai
modifikasi perilaku (behavior modification) dan terapi perilaku (behavior therapy),
sedangkan menurut Carlton [Link] (1971) istilah ini dikenal dengan behavior
therapy, behavior counseling, reinforcement therapy, behavior modification,
contingency management. Istilah pendekatan behavior pertama kali digunakan oleh
Lindzey pada tahun 1954 dan kemudian lebih dikenalkan oleh Lazarus
pada tahun 1958. Peristiwa penting dalam salah satu sejarah perkembangan
behavioristik adalah dipublikasikannya tulisan seorang psikolog Inggris yaitu H.J.
Eysenck tentang terapi behavior pada tahun 1952. Di bawah pimpinan H.J.
Eysenck, Jurusan Psikologi di Institut Psikiatri
memiliki dua bidang yaitu bidang penelitian dan bidang pengajaran klinis. B.F.
Skinner pada tahun 1953 menulis buku Science and Human Behavior, menjelaskan
tentang peranan dari teori operant conditioning di dalam perilaku manusia.
Pendekatan behavior merupakan pendekatan yang berkembang secara logis dari
keseluruhan sejarah
psikologi eksperimental. Eksperimen Pavlov dengan classical conditioning dan
Bekhterev dengan instrumental conditioning-nya memberikan pengaruh besar
terhadap pendekatan behavior. Perkembangan ini diperkuat dengan tulisan dari
Joseph Wolpe (1958) dalam bukunya Psychotherapy by Reciprocal Inhibition yang
menginterpretasi dari perilaku neurotis manusia dengan inspirasi dari Pavlovian dan
Hullian serta memberikan rekomendasi teknik khusus dalam terapi behavior yaitu
desentisisasi sistematis (systematic desensitization) dan pelatihan asertivitas
(assertiveness training). Pada tahun 1960-an muncul gagasan baru yang
mengemukakan tentang terapi behavior dan neurosis oleh Eysenck yang pada
akhirnya berpengaruh besar pada Principles of Behavior Modification dari
Bandura (1969).
Perkembangan yang pesat membawa terapi behavior untuk pertama kalinya ditulis
dalam publikasi ilmiah yaitu Behavior Research and Therapy dan Journal of
Applied Behavior Analysis. Akhir tahun 1960-an dimasukkan elemen baru dalam
konsep terapi perilaku yaitu imitation learning and modeling di mana pada saat yang
sama, psikologi juga memberi perhatian pada imitation.
Awal tahun 1980-an muncul pembaharuan behaviorisme yaitu neo-behaviorisme
yang menekankan pada classical conditioning dalam etiologi dan perlakuan (treatment)
terhadap neurosis, di mana konsep baru ini berlawanan dengan sebutan black box/black
boxes. Pada akhir tahun 1980-an konsep behaviorisme difokuskan pada behavioral
medicine yang merujuk pada pendekatan psikologis yang menangani kondisi physical
or medicine disorder. Corey (2005) mengemukakan bahwa dalam perkembangan konsep
ini di tahun tahun 1980-an peran emosi ditekankan, dua hal yang sangat penting untuk
dikembangkan dalam behaviorisme adalah ; (1) cognitive behavior therapy sebagai
kekuatan utama, dan (2) mengaplikasikan teknik terapi behavioral untuk mencegah dan
memberi perlakuan pada medical disorders. Pada akhir tahun 1980 Association for
Advancement of Behavior Therapy telah memiliki anggota kurang
lebih 4.300 orang dan tidak kurang dari 50 jurnal sebagai media publikasi ilmiah.
2. Pandangan tentang Manusia
Berdasarkan pada hakikat manusia, teori dan pendekatan behavior ini menganggap
bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan
dengan control yang terbatas, hidup dalam alam deterministik dan sedikit berperan aktif
dalam menentukan martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dan memberikan reaksi
terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang akan
membentuk kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh intensitas dan beragamnya
jenis penguatan (reinforcement) yang
diterima dalam situasi hidupnya. Pendekatan behavior di dalam proses konseling
membatasi perilaku sebagai fungsi
interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilku yang dapat diamati merupakan
suatu kepedulian dari konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling.
Secara filosofis behaviorisme meletakkan manusia dalam kutub yang berlawanan, namun
pandangan modern menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki kekuatan alamiah
bagi manusia dalam stimulus-respon, sesuai dengan konsep social learning theory dari
Albert Bandura. Konsep ini menghilangkan pandangan manusia secara mekanistik dan
deterministic bahkan dalam tulisan Thoresen dan Coates, behaviorisme moder
merupakan perpaduan antara behavioral-humanistic approaches.
3. Asumsi Dasar dan Konsep Teori Behavioristik Steven Jay Lynn dan John P. Garske
(1985) mengemukakan bahwa asumsi dasar dalam pendekatan behavioristik adalah
(1) memilliki konsentrasi pada proses perilaku, (2) menekankan dimensi waktu
here and now, (3) manusia berada dalam perilaku maladaptif, (4) proses belajar
merupakan cara efektif untuk mengubah perilaku maladaptif, (5) melakukan
penetapan tujuan pengubahan perilaku, (6) menekankan nilai secara empiris dan
didukung dengan berbagai teknik dan metode. Sedangkan menurut Kazdin (2001),
Miltenberger (2004), dan Spiegler & Guevremont (2003) yang dikutip oleh Corey
(2005) karakteristik dan asumsi mendasar dalam behavioristik adalah (1) terapi
perilaku didasarkan pada prinsip dan prosedur metode ilmiah, (2) terapi perilaku
berhubungan dengan permasalahan konseli dan faktor-faktor yang mempengaruhinya,
(3) konseli dalam terapi perilaku diharapkan berperan aktif berkaitan dengan
permasalahannya, (4) menekankan keterampilan konseli dalam mengatur dirinya
dengan harapan mereka dapat bertanggung jawab, (5) ukuran perilaku yang terbentuk
adalah perilaku yang nampak dan tidak nampak, mengidentifikasi permasalahan dan
mengevaluasi perubahan, (6) menekankan pendekatan self-control di samping konseli
belajar dalam strategi mengatur diri, (7) intervensi perilaku bersifat individual dan
menyesuaikan pada permasalahan khusus yang dialami konseli, (8) kerjasama antara
konseli dengan konselor, (9) menekankan aplikasi secara praktis dan (10) konselor
bekerja keras untuk mengembangkan prosedur kultural secara spesifik untuk
mendapatkan konseli yang taat dan kooperatif. Landasan dalam pendekatan behavior
menurut pandangan Aubrey J. Yates (1970) adalah sebagai berikut :
a. Psikodinamika dan psikiatri tidak mampu menyelesaikan seluruh tingkah laku
yang salah suai.
b. Tingkah laku abnormal yang tidak disebabkan gangguan organik terjadi karena
kekeliruan belajar. Individu memperoleh tingkah laku baru yang dipandang
menyimpang melalui proses belajar.
c. Konsep-konsep seperti ketidaksadaran, id, ego, super ego, insight dan self,
tidak digunakan dalam memahami dan menyembuhkan penyimpangan tingkah laku.
d. Simptom merupakan penyimpangan tingkah laku yang penyembuhannya dilakukan
dengan menghilangkan tingkah laku tersebut, dan bukan sekedar mengganti
simptom.
e. Penelitian tentang sebab-sebab terjadinya simptom dan mencari stimulus
yang menyebabkan terjadinya simptom sangat diperlukan bagi penyembuhannya.
4. Tujuan dan Kegunaan Teori Behavioristik
Pendekatan behavioristik merupakan usaha untuk memanfaatkan secar sistematis
pengetahuan teoritis dan empiris yang dihasilkan dari penggunaan metode eksperimen
dalam psikologi untuk memahami dan menyembuhkan pola tingkah laku abnormal. Untuk
pencegahan dan penyembuhan abnormalitas tersebut dimanfaatkan hasil studi
eksperimental baik secara deskriptif maupun remedial. Pendekatan behavior bertujuan
untuk menghilangkan tingkah laku yang salah suai dan membentuk tingkah laku baru.
Pendekatan tingkah laku dapat digunakan dalam menyembuhkan berbagai gangguan
tingkah laku dari yang sederhana hingga yang kompleks, baik individual maupun
kelompok. Menurut Corey (1986) tujuan pendekatan behavioristik adalah sebagai
refleksi masalah konseli, dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling dan
sebagai kerangka untuk menilai hasil konseling. Karakateristik pendekatan
behavioristik yang dikemukakan oleh Eysenck, adalah pendekatan tingkah laku yang ;
a. Didasarkan pada teori yang dirumuskan secara tepat dan konsisten yang
mengarah kepada kesimpulan yang dapat diuji.
b. Berasal dari hasil penelaahan eksperimental yang secara khusus direncanakan
untuk menguji teori-teori dan kesimpulannya.
c. Memandang simptom sebagai respons bersyarat yang tidak sesuai (un-
adaptive conditioned responses)
d. Memandang simptom sebagai bukti adanya kekeliruan hasil belajar
e. Memandang bahwa simptom-simptom tingkah laku ditentukan berdasarkan
perbedaan individual yang terbentuk secara conditioning dan autonom sesuai
dengan lingkungan masing-masing
f. Menganggap penyembuhan gangguan neurotik sebagai pembentukan kebiasaan
(habit) yang baru
g. Menyembuhkan simptom secara langsung dengan jalan menghilangkan respon
bersyarat yang keliru dan membentuk respon bersyarat yang diharapkan
h. Menganggap bahwa pertalian pribadi tidaklah esensial bagi penyembuhan
gangguan neurotik, sekalipun untuk hal-hal tertentu yang kadang-kadang diperlukan.
5. Konsep Penyimpangan Tingkah Laku
Pendekatan behavioristik banyak digunakan untuk kepentingan-kepentingan klinis
(Corey,2005; Woolfe and Dryden, 1998; Ivey, 1987), sehingga pendekatan
behavioristik merupakan usaha untuk mengubah penyimpangan tingkah laku dengan
menggunakan conditioning atau proses belajar lainnya. Pengertian penyimpangan
tingkah laku (behavior disorder) menunjuk pada berbagai bentuk abnormalitas yang
sulit dirumuskan secara tegas dan tepat. Ada yang merumuskan abnormalitas dalam
pengertian statis, yaitu bahwa individu yang terletak di luar batas garis normal
pada kurva normal termasuk abnormal. Gordon Alport memandang abnormalitas
sebagai matter of degree, sedangkan Aubrey Yates mengklasifikasikan
penyimpangan pada tingkah laku dalam empat kategori, yaitu :
a. Menunjukkan gejala neuroticism yang tinggi, sekalipun ada tekanan (stress) yang
rendah tetapi dihayati subyek sebagai ancaman.
b. Memperlihatkan gejala neuroticism yang rendah akan tetapi mengalami tekanan
(stress) yang tinggi.
c. Memperlihatkan gejala neuroticism yang rendah akan tetapi gagal untuk
memperoleh keterampilan yang kompleks.
d. Memperlihatkan gejala psychoticism yang tinggi.
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Konseling
Ivey (1987) menjelaskan bahwa dalam pendekatan behavior hal yang penting
untuk mengawali konseling adalah mengembangkan kehangatan, empati dan hubungan
supportive. Corey (2005) menjelaskan bahwa proses konseling yang terbangun
dalam pendekatan behavioristik terdiri dari empat hal yaitu ; (1) tujuan terapis diarahkan
pada memformulasikan tujuan secara spesifik, jelas, konkrit, dimengerti dan diterima
oleh konseli dan konselor, (2) peran dan fungsi konselor/terapis adalah
mengembangkan keterampilan menyimpulkan, reflection, clarification, dan open-ended
questioning, (3) kesadaran konseli dalam melakukan terapi dan partisipasi konselor ketika
proses terapi berlangsung akan memberikan pengalaman positif pada konseli dalam terapi,
dan (4) memberi kesempatan pada konseli karena kerjasama dan harapan positif dari
konseli akan membuat hubungan terapis lebih efektif. Sedangkan
Bagian dari proses konseling yang tidak dapat ditinggalkan adalah proses [Link]
behavioral proses ini dapat dilakukan dengan memakai instrumen asesmen, self-
report,behavior rating scales, format self monitoring, teknik observasi sederhana. Perangkat
instrument tersebut merupakan bagian dari upaya behavioral konseling, sedangkan
teknik-teknik behavioral yang dapat digunakan adalah :
1. Teknik operant conditioning, prinsip-prinsip kunci dalam behavioral adalah
penguatan positif, penguatan negatif, extinction, hukuman positif dan hukuman negatif
(Corey, 2005;Ivey, 1987; Lynn, 1985; Carlton, 1971).
2. Model asesmen fungsional, merupakan blueprint bagi konselor dalam
memberikan intervensi yang diperlukan oleh konseli. Langkah-langkah yang
disiapkan konselor dilakukan tahap demi tahap dalam memberikan perlakuan (Corey,
2005).
3. Relaxation training and related methods, adalah teknik yang dipakai untuk melatih
konseli agar melakukan relaksasi. Dalam pelaksanaannya konselor dapat memodifikasi
teknik ini dengan systematic desentisization, asertion training, self management
programs. Teknik ini tepat digunakan untuk terapi-terapi klinis (Corey, 2005; Ivey,
1987; Carlton, 1971).
4. Systematic desentisization merupakan teknik yang tepat untuk terapi bagi konseli
yang mengalami phobia, anorexia nervosa, depresi, obsesif, kompulsif, gangguan
body imag (Corey, 2005; Ivey, 1987; Lynn, 1985; Carlton, 1971).
5. Exposure therapies. Variasi dari exposure therapies adalan in vivio desentisization
dan flooding, teknik terapi ini dengan memaksimalkan kecemasan/ketakutan konseli
(Corey,2005; Lynn and Garske, 1985).
6. Eye movement desentisization and reprocessing, didesain dalam membantu konseli
yang mengalami post traumatic stress disorder (Corey, 2005).
7. Assertion training, metode ini didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif
perilaku. Ditujukan bagi konseli yang tidak dapat mengungkapkan ketegasan dalam
dirinya (Corey,2005; Lynn, 1985).
8. Self-management programs and self-directed behavior, terapi bagi konseli untuk
membantu terlibat dalam mengatur dan mengontrol dirinya (Corey, 2005).
9. Multimodal therapy; clinical behavior therapy dikembangkan dengan berdasar
pada pendekatan secara holistic dari teori belajar sosial dan terapi kognitif
kemudian sering disebut dengan technical eclecticism (Corey, 2005). Teori kognitif
perilaku merupakan kelanjutan dari hasil eksperimen yang dirintis Skinner dan
Pavlov. Dalam model ini konseli diajak untuk dapat mengubah tingkah laku baru
dengan terapi-terapi emosi dan kognitif, modifikasi teori kognitif perilaku dari
sebelumnya teori behavior terletak pada peranan emosi dan kognisi yang turut menjadi
penyebab timbulnya perilaku salah suai serta dapat menentukan pengubahan tingkah
laku baru.
Albert Ellis dalam Corey (2005) mengajukan model-model terapi dalam konseling
merupakan implikasi dari social learning theory, yaitu ; cognitive (melawan
keyakinan-keyakinan irasional, melakukan aktivitas kognitif yang merupakan
implementasi model A-B-Cs, memakai bahasa yang lebih umum dan nayaman serta
memakai humor); emotive techniques (emosi yang rasional, role playing, latihan
melawan rasa malu, memanfaatkan kekuatan dan tenaga); behavioral techniques
(memakai teknik-teknik behavioral), sedangkan Aaron T. Beck’s cognitive therapy
menjelaskan kemungkinan adanya distorsi kognitif, tujuan dari konseling adalah
berusaha untuk mengubah distorsi tersebut.
Pembahasan
Empat pilar utama dalam behavioristik adalah classical conditioning, operan
conditioning, social learning theory dan cognitive behavior therapy. Dalam teori
pengkondisian klasik,perubahan perilaku yang diharapkan adalah adanya stimulus
langsung. Terjadinya perilaku tertentu disebabkan oleh stimulus tertentu yang secara
langsung terkait, sedangkan dalam operant conditioning perilaku yang terbentuk
diakibatkan oleh stimulus yang telah dikondisikan. Cognitive behavior therapy
mengemukakan empat komponen penting pada manusia yaitu phisik, perilaku, kognisi
dan emosi, di mana gangguan emosional akan mempengaruhi perilaku pada manusia
sehingga terapi yang dikembangkan adalah mensikapi gangguan emosi secara kognitif dan
perilaku yang menunjukkan kestabilan kognitif. Pendekatan behavioristik klasik manusia
dipandang secara mekanistik dan deterministik, namun dalam behavioristic
kontemporer difokuskan pada pendekatan scientific yang terstruktur dan sistematis
yang berusaha menghilangkan model mekanistik. Thompson (2004) berargumentasi bahwa
manusia pada dasarnya bersifat netral (tabula rasa), konsep ini memiliki anggapan
bahwa potensi manusia tidak dihargai dan menekankan pentingnya aspek lingkungan
sebagai penentu dalam pekembangan manusia. Tujuan konseling dikonsentrasikan pada
proses perilaku dari perubahan tingkah laku yang tampak atau tidak tampak.
Pendekatan konseling yang dominan adalah konseling klinis untuk mengatasi gangguan-
gangguan perilaku
yang ditunjukkan oleh konseli. Proses konseling yang paling urgen adalah adanya tujuan
yang spesifik, dapat terukur dan merupakan bentuk perilaku yang diharapkan
sehingga dalam konseling, konseli diajak untuk menentukan tujuan yang spesifiik, jelas,
terukur dan bermanfaat bagi dirinya (konseli)
Dalam proses konseling, pendekatan behavior merupakan suatu proses di mana
konselor membantu konseli untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional
dan keputusan tertentu yang bertujuan ada perubahan perilaku pada konseli.
Pemecahan masalah dan kesulitannya dengan keterlibatan penuh dari konselor.
Pendekatan behavioristik dalam konseling dipengaruhi oleh ; kelebihan dan perilaku
konseli, jenis problematika, jenis penguatan yang dilakukan dan orang lain yang
memiliki arti tertentu bagi kehidupan konseli dalam
perubahan perilakuknya. Dalam pelaksanaannya, pendekatan behavioristik memiliki
kontribusi yang cukup berarti dalam konseling dan psikoterapi. Muhammad Surya (2003)
mengemukakan bahwa beberapa sumbangan terapi behavior adalah ; secara epistemologis
menjadikan sebagai salah satu komponen dalam mengembangkan konseling,
mengembangkan perilaku spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur sebagai
manifestasi dari penetapan tujuan yang konkrit, memberikan ilustrasi bagaimana
mengatasi keterbatasan lingkungan, serta penekanan bahwa konseling hendaknya
memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan kepada perilaku yang terjadi pada masa
lalu. Dalam perkembangannya, berdasarkan banyak studi kasus ternyata prinsip-prinsip
belajar yang dikembangkan pada pendekatan behavior tidak mampu menjelaskan secara
memuaskan terhadap problem perilaku manusia yang memang lebih kompleks daripada
perilaku binatang (Foreyt & Goodrick, 1981). Kesimpulan tersebut merupakan kritik
terhadap terapi behavior karena hanya menekankan masalah perubahan perilaku
sebagai hasil akhir dari proses konseling. (Corey, 2005) memberikan kritik terahadap
terapi behavior, yaitu ; (1) terapi behavior hanya mengubah perilaku bukan mengubah
perasaan, (2) behavior therapy gagal menghubungkan faktor-faktor penting dalam
terapi/konseling, (3) behavior therapy tidak memberikan proses pemahaman, (4)
behavior therapy berusaha menghilangkan symptom daripada mencari penyebab, (5)
behavior therapy dikontrol dan dimanipulasi oleh terapis. Walaupun kritik dari Corey
merupakan titik-titik dari kelemahan behavior therapy tetapi pengaruh dari
behaviorisme yang cukup besar di bidang konseling, psikoterapi dan pendidikan, apresiasi
terhadap teori ini masih cukup tinggi.
Kemampuan konselor dalam menggunakan pendekatan dalam proses
konseling merupakan sebagian dari kompetensi yang harus dimiliki, karena sebagai seorang
helper tidak bijaksana jika dalam suatu proses konselig yang memungkinkan
dipakainya berbagai pendekatan, seorang konselor hanya mengaplikasikan satu
pendeaktan. Corey (1988) menekankan pentingya eklektik konseling yang merupakan
orientasi teoritis dalam melakukan proses konseling. Data dari Smith (1982)
menunjukkan bahwa sebesar 41,20% memakai pendekatan eklektik, 10,84
menggunakan pendekatan psikoanalisa sedangkan cognitive behavior sebesar 10,36%,
sementara pendekatan-pendekatan yang lain berada di bawah 10%.
Namun demikian keputusan untuk memilih pendekatan dalam konseling tetap berada
dalam koridor profesionalitas.
Kesimpulan
Pendekatan dalam layanan konseling merupakan suatu strategi untuk
memberikan intervensi kepada konseli. Tujuan yang akan dicapai adalah perubahan
pada konseli yang memungkinkan konseli untuk dapat menerima diri (self-acceptance),
memahami diri (self- understanding), menyadari diri (self-awareness), mengarahkan
diri (self-directing), dan aktualisasi diri (self-actualitation). Dalam proses konseling,
dimensi perubahan merupakan tujuan yang akan dicapai oleh konseli-konselor. Banyak
faktor yang mempengaruhi pemilihan pendekatan dalam konseling, diantaranya adalah
karakteristik personal (konseli), karakteristik problem, hingga pada tujuan yang hendak
dicapai.
Behavioristik merupakan salah satu pendekatan teoritis dan praktis mengenai
model pengubahan perilaku konseli dalam proses konseling dan psikoterapi. Pendekatan
behavioristic yang memiliki ciri khas pada makna belajar, conditioning yang dirangkai
dengan reinforcement menjadi pola efektif dalam mengubah perilaku konseli. Pandangan
deterministik behavioristic merupakan elemen yang tidak dapat di hilangkan. Namun
pada perkembangan behavioristic kontemporer, pengakuan pada manusia berada pada
tingkat yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan awal-awal munculnya teori ini.
Pendekatan behavioristik menekankan pentingnya lingkungan dalam proses
pembentukan perilaku. Pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan tingkah laku salah
suai, tidak sekedar mengganti simptom yang dimanifestasikan dalam tingkah laku
tertentu. Dengan pendekatan behavior, diharapkan konseli memiliki tingkah laku baru
yang terbentuk melalui proses conditioning, hilangnya simptom dan mampu merespon
terhadap stimulus yang dihadapi tanpa menimbulkan masalah baru.
DAFTAR PUSTAKA
Beck, CE. (1971). Philosophical Guidelines for Counseling. Second Edition. Dubuque :
WMC.
Brown Company. Publisher.
Corey, G., Corey, MS., and Callanan, P,. (1988). Issues and Ethiics in The Helping
Proffesion.
Third Edition. Belmont : Brooks/Cole-Thomson Learning.
Corey, G. (2005). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Seventh
Edition.
Belmont : Brooks/Cole-Thomson Learning.
Muhammad Djawad Dahlan. (1985). Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan
(Konseling).
Bandung. Diponegoro.
Foreyt, J.P. and Goodrick, G.K. (1981). Cognitive Behavior Therapy. Dalam Corsini, R.J.
(ed.).
Handbook of Innovative Psychotherapy. New York : John Wiley & Sons.
Ivey, AE., Ivey, MB and Simek-Downing, L., (1987). Counseling and Psychotherapy :
Integrating
Skills. Theory and Practice. Second Edition. New Jersey : Prentice Hall.
Ivey, AE., Ivey, MB and Simek-Morgan, L., (1993). Counseling and Psychotherapy
: A
Multicultural Perspective. Third Edition. Needham Eights : Allyn amd Bacoon.
Mohamad Surya. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung : CV Pustaka Bani Quraisy.
Rosjidan, (1985). Pengantar Teori-teori Konseling. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan
Kebudayaan.
Woolfe, R., and Dryden, W., (1998). Handbook of Counseling Psychology. London :
SAGE
Publications, Ltd.