BAB II
LANDASAN TEORI
A. Objek Wisata Istana Siak
Istana Siak Sri Indrapura, yang juga dikenal sebagai Istana Asserayah
Hasyimiah, merupakan peninggalan Kerajaan Siak yang berfungsi sebagai
pusat pemerintahan dan tempat tinggal Sultan beserta keluarganya pada masa
kejayaannya. Istana ini mencerminkan kebesaran Kerajaan Siak dan kekayaan
budaya Melayu. Bangunannya memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa,
Timur Tengah, dan Melayu, yang menampilkan keindahan serta keagungan
kerajaan di masanya. Saat ini, Istana Siak dijadikan museum yang menyimpan
berbagai koleksi peninggalan sejarah, termasuk singgasana, pedang, guci, alat
musik komet, dan dokumen penting.
Istana Siak Sri Indrapura, yang dikenal dengan nama Istana Asserayah
Hasyimiah, adalah salah satu warisan budaya dan sejarah Melayu yang berada
di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Istana ini merupakan peninggalan dari
Kerajaan Siak Sri Indrapura, sebuah kerajaan Melayu yang berdiri sejak abad
ke-18 dan memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara. Istana ini dibangun
sebagai pusat pemerintahan, tempat tinggal Sultan, dan simbol kebesaran
Kerajaan Siak. Hingga saat ini, Istana Siak tidak hanya menjadi ikon sejarah,
tetapi juga destinasi wisata budaya yang memikat pengunjung dengan
keindahan arsitektur dan koleksi peninggalan kerajaan (Halim, 2019).
Pembangunan Istana Siak dimulai pada masa pemerintahan Sultan Syarif
Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, Sultan ke-11 dari Kerajaan Siak, pada tahun
6
1889 dan selesai pada tahun 1893. Gaya arsitektur Istana Siak memadukan
unsur Melayu, Arab, dan Eropa, mencerminkan hubungan diplomasi Kerajaan
Siak dengan bangsa lain. Bangunan ini terdiri dari dua lantai yang memiliki
berbagai ruangan, seperti ruang tamu, ruang persidangan, kamar Sultan, dan
ruang penyimpanan benda pusaka. Selain itu, Istana ini menyimpan berbagai
koleksi sejarah, termasuk artefak, perabot antik, dan barang-barang kerajaan
yang menjadi daya tarik bagi wisatawan (Putra et al., 2021).
Istana Siak dapat diakses melalui jalur darat maupun sungai, bergantung
pada titik keberangkatan. Perjalanan darat menuju Istana Siak memakan waktu
sekitar 2–3 jam dengan jarak sekitar 120 km. Rute perjalanan melintasi Jalan
Lintas Pekanbaru - Siak, melalui Kecamatan Maredan dan Kandis sebelum
mencapai Kota Siak. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau
transportasi umum seperti bus atau travel.
Pengunjung juga dapat menggunakan transportasi air dengan perahu atau
speedboat dari Pelabuhan Sungai Duku di Pekanbaru. Perjalanan menyusuri
Sungai Siak ini memakan waktu sekitar 2–3 jam, menawarkan pengalaman
unik dengan pemandangan alam dan aktivitas masyarakat di sepanjang sungai.
Perjalanan dari Dumai ke Istana Siak dapat ditempuh melalui jalur darat
dengan jarak sekitar 180 km. Rute ini melewati jalan lintas Dumai – Duri –
Kandis – Siak dengan waktu tempuh sekitar 4–5 jam menggunakan kendaraan
pribadi atau angkutan umum. Jika sudah berada di Kabupaten Siak, akses ke
Istana Siak sangat mudah. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda
dua, mobil, atau ojek dari berbagai wilayah di sekitar Kota Siak. Lokasinya
yang strategis di pusat kota membuat Istana Siak mudah dijangkau.
7
B. Pariwisata Budaya
Pariwisata budaya adalah bentuk perjalanan yang berfokus pada
eksplorasi budaya, tradisi, dan warisan suatu komunitas atau bangsa. Menurut
Richards (2001), "pariwisata budaya mencakup aktivitas di mana pengalaman
budaya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan." Jenis pariwisata ini
melibatkan kunjungan ke situs bersejarah, museum, acara budaya, dan destinasi
yang mencerminkan identitas budaya lokal.
Pariwisata budaya memainkan peran penting dalam pelestarian warisan
budaya dan peningkatan ekonomi lokal. UNWTO (2018) menyatakan bahwa
"pariwisata budaya adalah alat penting untuk memperkuat identitas budaya
sekaligus mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan." Dengan
mengedepankan nilai-nilai lokal, sektor ini dapat menciptakan rasa bangga
komunitas terhadap tradisi mereka.
Pariwisata budaya mendorong pelestarian tradisi lokal melalui promosi
seni, kerajinan, dan festival budaya. Sebagai contoh, festival seni tradisional
seperti Bali Arts Festival telah menjadi wadah untuk melestarikan kesenian
Bali (Picard, 1996). Pariwisata budaya membantu meningkatkan pendapatan
lokal melalui penciptaan lapangan kerja di bidang perhotelan, transportasi, dan
pemanduan wisata (Richards & Wilson, 2007). Wisata budaya memberikan
kesempatan bagi wisatawan untuk memahami dan menghargai perbedaan
budaya, yang pada gilirannya mendukung perdamaian global (UNESCO,
2019).
Meskipun bermanfaat, pariwisata budaya juga menghadapi berbagai
tantangan, seperti:
8
a. Komersialisasi Berlebihan
Dalam beberapa kasus, pariwisata budaya dapat menyebabkan degradasi
nilai-nilai budaya asli akibat tekanan komersial (Cohen, 1988).
b. Overtourism
Situs budaya yang ramai dapat mengalami kerusakan fisik dan gangguan
terhadap komunitas lokal (Hughes, 1995).
c. Kurangnya Partisipasi Lokal
Penduduk lokal sering kali kurang dilibatkan dalam pengambilan
keputusan terkait pariwisata, sehingga manfaat ekonomi dan sosial tidak
sepenuhnya dirasakan.
Bali merupakan contoh sukses dalam pariwisata budaya, dengan tradisi
Hindu Bali menjadi daya tarik utama. Ritual keagamaan, arsitektur pura, dan
seni tari Bali menarik jutaan wisatawan setiap tahun. Namun, pertumbuhan
pariwisata yang cepat juga memunculkan tantangan, seperti kemacetan,
pencemaran lingkungan, dan perubahan sosial (Cole, 2008).
Pariwisata budaya adalah sektor penting yang menghubungkan
pelestarian warisan budaya dengan pertumbuhan ekonomi. Untuk
memaksimalkan manfaatnya, penting untuk menerapkan pendekatan yang
berkelanjutan, melibatkan komunitas lokal, dan menjaga keaslian budaya.
C. Peran Sejarah dan Budaya Lokal
Sejarah dan budaya lokal memiliki peran yang signifikan dalam
membentuk identitas, nilai, dan perkembangan suatu masyarakat. Pemahaman
terhadap sejarah dan budaya lokal membantu masyarakat mengenali akar
9
tradisi dan kontribusi nenek moyang mereka terhadap kemajuan sosial dan
budaya. Menurut Smith (2020), sejarah lokal memungkinkan masyarakat untuk
memahami perkembangan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di wilayah
mereka, sekaligus memberikan pelajaran berharga untuk masa depan.
Budaya lokal juga menjadi cerminan identitas suatu komunitas, yang
berfungsi sebagai alat penghubung antar generasi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Anderson (2018) yang menyatakan bahwa tradisi budaya lokal
memberikan landasan yang kuat bagi keberlanjutan nilai-nilai yang diwariskan
secara turun-temurun, serta memperkuat rasa solidaritas sosial.
Selain itu, pelestarian budaya lokal dianggap penting untuk menjaga
keberagaman budaya global, sebagaimana dijelaskan oleh UNESCO (2019),
bahwa keanekaragaman budaya adalah aset berharga yang perlu dijaga untuk
memastikan keberlanjutan perkembangan manusia.
Adapun dalam konteks pendidikan, integrasi sejarah dan budaya lokal
menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang kontekstual. Melalui
pengajaran sejarah dan budaya lokal, siswa dapat mengembangkan
kemampuan berpikir kritis dan menghargai keunikan tradisi mereka sendiri.
Hal ini diungkapkan oleh Johnson dan Clark (2021), yang menegaskan bahwa
pembelajaran berbasis sejarah lokal memberikan pengalaman belajar yang
relevan, yang mengaitkan siswa dengan komunitas mereka melalui perspektif
yang historis.
Selain itu, sejarah dan budaya lokal juga memiliki dampak terhadap
sektor pariwisata. Sumber daya budaya seperti situs sejarah, tradisi, dan seni
lokal menjadi daya tarik yang signifikan bagi wisatawan. Menurut Hall (2020),
10
pariwisata berbasis budaya lokal tidak hanya memberikan manfaat ekonomi,
tetapi juga mendorong pelestarian warisan budaya. Dengan demikian, sejarah
dan budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai landasan identitas, tetapi juga
sebagai pendorong inovasi ekonomi dan pendidikan.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Wisatawan
Minat wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang saling berinteraksi. Faktor-faktor tersebut dapat
diklasifikasikan menjadi faktor internal, seperti preferensi individu dan
kebutuhan psikologis, serta faktor eksternal, seperti daya tarik destinasi dan
pengaruh sosial. Berikut adalah pembahasan tentang faktor-faktor utama yang
memengaruhi minat wisatawan.
Daya tarik destinasi mencakup keunikan dan keindahan suatu tempat,
baik dari segi alam, budaya, maupun sejarah. Destinasi dengan daya tarik yang
kuat, seperti pemandangan alam yang memukau, budaya yang otentik, atau
pengalaman unik, memiliki peluang lebih besar untuk menarik wisatawan.
Swarbrooke dan Horner (2007) menyatakan bahwa pengalaman yang autentik
dapat menciptakan kenangan positif yang mendorong minat wisatawan untuk
berkunjung kembali.
Aksesibilitas menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan
destinasi yang dipilih wisatawan. Infrastruktur transportasi yang baik,
kemudahan dalam mencapai lokasi, serta konektivitas antar wilayah
memengaruhi keputusan wisatawan. Kotler et al. (2017) menegaskan bahwa
11
destinasi dengan aksesibilitas tinggi memiliki daya saing lebih baik
dibandingkan destinasi yang sulit dijangkau.
Fasilitas seperti penginapan, restoran, pusat perbelanjaan, dan tempat
rekreasi menjadi elemen pendukung yang penting bagi wisatawan. Menurut
Goeldner dan Ritchie (2009), keberadaan fasilitas yang memadai akan
meningkatkan kenyamanan wisatawan selama perjalanan. Destinasi yang
memiliki fasilitas berkualitas tinggi lebih mungkin menarik minat wisatawan.
Harga memiliki pengaruh signifikan terhadap minat wisatawan.
Wisatawan cenderung membandingkan harga yang mereka bayarkan dengan
nilai yang mereka peroleh. Cooper et al. (2008) menyebutkan bahwa destinasi
dengan penawaran yang ekonomis, tanpa mengorbankan kualitas, memiliki
daya tarik lebih tinggi. Promosi melalui media sosial, ulasan daring, dan iklan
digital menjadi strategi efektif dalam menarik wisatawan. Gretzel et al. (2011)
mengungkapkan bahwa pemasaran digital memengaruhi persepsi wisatawan
terhadap citra destinasi. Ulasan positif dari wisatawan lain juga menjadi salah
satu faktor penting dalam membangun kepercayaan.
Keamanan dan kebersihan adalah aspek yang sering menjadi perhatian
utama wisatawan, terutama pada masa pascapandemi. Kozak (2002)
menjelaskan bahwa wisatawan akan cenderung memilih destinasi yang
memberikan rasa aman dan nyaman, serta memiliki fasilitas sanitasi yang baik.
Rekomendasi dari keluarga, teman, atau kelompok sosial memainkan peran
penting dalam membentuk minat wisatawan. Decrop (2006) menyebutkan
bahwa keputusan wisata sering kali dipengaruhi oleh kelompok referensi yang
memberikan pandangan positif atau pengalaman pribadi mereka.
12
Minat wisatawan dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang kompleks.
Daya tarik destinasi, aksesibilitas, fasilitas, harga, promosi, keamanan, dan
pengaruh sosial semuanya berperan dalam membentuk keputusan wisatawan.
Destinasi yang mampu mengoptimalkan faktor-faktor ini memiliki peluang
lebih besar untuk menarik dan mempertahankan wisatawan.
E. Strategi Pengembangan Wisata Budaya di Riau
Wisata budaya merupakan salah satu sektor pariwisata yang memiliki
potensi besar dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah, pelestarian
budaya, dan peningkatan citra destinasi wisata. Strategi pengembangan wisata
budaya di suatu daerah, termasuk Riau, perlu dilakukan dengan pendekatan
yang terintegrasi, melibatkan elemen ekonomi, sosial, dan lingkungan secara
berkelanjutan (Hall, 2020).
Wisata budaya didefinisikan sebagai perjalanan wisata yang bertujuan
untuk memahami, menghargai, dan mengalami nilai-nilai budaya lokal, tradisi,
seni, serta warisan sejarah suatu daerah (Richards, 2018). Riau memiliki
kekayaan budaya Melayu yang unik, seperti tradisi zapin, pantun, serta seni
tenun songket yang dapat menjadi daya tarik wisatawan domestik dan
mancanegara. Oleh karena itu, pengembangan wisata budaya di Riau
memerlukan strategi yang tidak hanya mempromosikan, tetapi juga
melestarikan keasliannya (Timothy, 2022).
Strategi pengembangan wisata budaya dapat mencakup beberapa
pendekatan berikut:
13
a. Pelestarian dan Promosi Budaya Lokal.
Pelestarian budaya lokal melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah,
dan sektor swasta menjadi inti dari pengembangan wisata budaya. Program
pelatihan dan pelibatan komunitas dalam mengelola atraksi wisata budaya
dapat memperkuat kapasitas lokal (UNWTO, 2019).
b. Peningkatan Infrastruktur dan Aksesibilitas.
Infrastruktur seperti transportasi, fasilitas akomodasi, dan pusat informasi
wisata perlu dikembangkan untuk meningkatkan aksesibilitas wisatawan ke
lokasi-lokasi budaya (Inskeep, 1991).
c. Digitalisasi dan Pemasaran Wisata Budaya.
Pemanfaatan teknologi digital, seperti media sosial dan platform pariwisata
daring, dapat memperluas jangkauan promosi wisata budaya di Riau kepada
pasar global (Kotler et al., 2021).
Masyarakat lokal merupakan aktor utama dalam pengembangan wisata
budaya. Partisipasi aktif masyarakat dapat meningkatkan rasa memiliki
terhadap produk budaya yang dikembangkan, sehingga meningkatkan
keberlanjutan wisata budaya (Ashley & Roe, 2002). Pengembangan wisata
budaya harus mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan yang mencakup tiga
aspek utama: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pendekatan ini penting untuk
mencegah eksploitasi budaya serta menghindari dampak negatif terhadap
identitas lokal (Goodwin, 2008).
Strategi pengembangan wisata budaya di Riau melibatkan berbagai
aspek, mulai dari pelestarian budaya, promosi, pembangunan infrastruktur,
pemberdayaan masyarakat lokal, hingga kolaborasi multi-stakeholder. Dengan
14
mengintegrasikan aspek-aspek ini, Riau memiliki potensi untuk menjadi salah
satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia yang mampu menarik
wisatawan lokal maupun mancanegara.
15