0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Riset Survei dalam Penelitian Kuantitatif

Dokumen ini membahas tentang penelitian kuantitatif bukan-eksperimental, termasuk penelitian survei yang populer dan berbagai jenisnya seperti survei cross-sectional dan longitudinal. Langkah-langkah dalam melakukan riset survei dijelaskan secara rinci, mulai dari menetapkan tujuan hingga menganalisis hasil. Selain itu, dokumen ini juga mencakup penelitian pengamatan sistematik dan analisis isi sebagai metode penelitian yang dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data.

Diunggah oleh

rezafnoval
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Riset Survei dalam Penelitian Kuantitatif

Dokumen ini membahas tentang penelitian kuantitatif bukan-eksperimental, termasuk penelitian survei yang populer dan berbagai jenisnya seperti survei cross-sectional dan longitudinal. Langkah-langkah dalam melakukan riset survei dijelaskan secara rinci, mulai dari menetapkan tujuan hingga menganalisis hasil. Selain itu, dokumen ini juga mencakup penelitian pengamatan sistematik dan analisis isi sebagai metode penelitian yang dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data.

Diunggah oleh

rezafnoval
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PASAL 4

PENELITIAN KUANTITATIF BUKAN-EKSPERIMENTAL

Beberapa pihak menyamakan penelitian kuantitatif bukan-eksperimental dengarı


penelitian survei, khususnya jika istilah penelitian survei dipakai dalam pengertian yang
luas. Namun, dalam pasal ini, yang dimaksud dengan penelitian dengan rancangan
kuartitatif bukan-eksperimental tidak hanya mencakup penelitian survei.

Jenis penelitian dengan rancangan kuantitatif bukan-eksperimental begitu beragam.


Penggolongan jenis-jenisnya dapat dilihat dari berbagai segi, misalnya dari tujuan secara
umum dan khusus atau dari sifat variabel bebasnya. Beberapa variasi perelitian dengan
metode kuantitatif bukan-eksperimental dan prosedur pelaksariaannya, secara ringkas,
dapat dilibat pada Peragaan 5 dan 6.

Penelitian Survei

Penelitian survei sangat populer. Banyak media (majalah, radio, tv, jaringan komputer)
dan perusahaan menggunakan rancangan penelitian tersebut untuk mengetahui
berbagai pendapat pelanggan. Contohnya adalah pengumpulan data kependudukan
oleh Biro Pusat Statistik.

Batasan dan Alat Pengumpul Data

Menurut Singarimbun (1991:3), survei ialah penelitian yang sampelnya diambil dari satu
populasi dengan kuesioner sebagai pengumpul data yang pokok. Meskipun pada definisi
tersebut dinyatakan bahwa kuesioner adalah pengumpul data yang pokok, survei bisa
juga memakai pengumpul data yang lain, (seperti wawancara dan pemeriksaan
catatan/berkas. Apa pun pengumpul datje kyang diheliti dan data harus dikenakan juga
pada setiap subjek yang diteliti dan dalam kondisi yang seserupa

mungkin.

Informasi yang diperoleh melalui alat survei dianggap dapat dikuantifikasikan (diubah ke
dalam angka). Pada kuesioner dengan pilihan ganda, informasi sudah dikuantifikasikan
ketika dikumpulkan. Pada kuesioner dengan pertanyaan terbuka, informasi yang
diperoleh harus diberi lambang bilangan sehingga dapat dianalisis dan dilaporkan secara
kuantitatif (Borg dan Gal, 1989:418).

Maksud Survei

Ada yang berpendapat bahwa survei itu terbatas pada deskripsi. Padahal, survei jauh
lebih luas daripada sekadar menggunakan kuesioner untuk menggambarkan sesuatu itu
"apa adanya". Survei dapat digunakan untuk penjajagan, penggambaran, penjelasan,
penilaian, prakiraan, penelitian dalam mengatasi hambatan operasional suatu program,
dan pengembangan indikator segi-segi keadaan tertentu dalam masyarakat
(Singarimbun, 1989:4-6).

Dalam hal penggunaan untuk maksud penjajagan, riset survei adalah salah satu
penelitian deskriptif. Penelitian semacam itu mencoba menjawab pertanyaan "what is".
Caranya adalah dengan mengumpulkan data dari kelompok-kelompok tertentu
kemudian menganalisisnya untuk menghasilkan pernyataan mengenai kelompok
tersebut (Yount, 1990:7).

Jenis-jenis Riset Survei

Menurut Borg dan Gal (1989:418, 421), riset survei ada dua macam, yaitu survei cross-
sectional dan survei longitudinal. Dalam survei cross-sectional data empiris dikumpulkan
dari sampel sebuah populasi yang ditentukan lebih dahulu atau dari seluruh populasi
(dinamakan sensus). Data tersebut dikumpul-kan pada suatu waktu dan sekali saja
(singkat atau dalam jangka waktu tertentu), kemu lian dianalisis dengan berbagai
metode sesuai dengan jenis inferensi yang akan dibuat peneliti.

Contoh survei yang paling sederhana adalah penggambaran tentang bagaimana populasi
membagi diri terhadap pilihan jawaban dari setiap pertanyaan dalam kuesioner
mengenai se-buah variabel. Dengan cara tersebut, mereka dapat digolongkan, misalnya
dari segi pemerintahan gereja yang mereka sukai atau dari kegiatan gereja yang paling
atau kurang diminati.

Contoh yang lebih rumit dan akan memberikan sumbangan yang lebih berarti bagi dunia
pengetahuan adalah survei mengenai hubungan dua atau lebih variabel, baik berupa
gejala masa lampau, kini, maupun yang akan datang. Misalnya, survei mengenai minat
terhadap kegiatan-kegiatan gereja, dihubung-- kan dengan minat terhadap pelayanan-
pelayanan. Jika data empiris itu berhubungan dengan pengalaman sekarang, hubungan
yang dicari itu disebut hubungan yang terikat dengan waktu. Jika peneliti mencari
hubungan antara minat para hamba Tuhan sekarang terhadap berbagai macam
pelayanan dan minat mereka terhadap mata kuliah pada waktu mereka belajar di
seminari, hubungan yang dicari disebut hubungan menurut urutan waktu (peneliti harus
waspada karena daya ingat subjek dan pengaruh sikapnya terhadap ingatan dapat
menjadi sumber kesalahan). Hubungan antara kedua variabel itu dapat ditentukan
dengan menghitung koefisien korelasi.

Pada contoh tersebut, hipotesis dapat diuji dengan implikasi sebab akibat antara minat
pelayanan sekarang dan minat mata kuliah di masa lampau. Namun, perlu diingat bahwa
hal tersebut hanya menunjukkan kemungkinan hubungan sebab akibat. Jadi, tidak dapat
disimpulkan bahwa jika pada mahasiswa dikembangkan minat terhadap mata kuliah
tertentu, mereka nantinya pasti akan berminat terhadap pelayanan tertentu. Yang dapat
meningkatkan keyakinan peneliti sampai tingkat kepasti-an mengenai kemungkinan
hubungan sebab akibat adalah eksperimen dengan pengendalian yang patut.

Dalam penelitian survei, terdapat cara-cara untuk meningkatkan keyakinan tersebut


sampai batas tertentu, bahwa suatu variabel berkorelasi dengan variabel lain, misalnya
dengan mendapatkan variabel lain yang dapat ikut menjelaskan hubungan dua variabel
yang asli (jika variabel ketiga itu ternyata tidak ada hubungannya, peneliti dapat lebih
yakin bahwa ada hubungan sebab akibat walaupun tetap tidak pasti). Cara lain adalah
mengulang penelitian dengan sampel yang berbeda dari populasi yang sama (jika
hasilnya banyak kesamaan dengan yang pertama, peneliti bisa lebih yakin bahwa ada
hubungan sebab akibat, tetapi tetap tidak dapat dipastikan).

Pada survei longitudinal, data empiris mengenai variabel tertentu dikumpulkan dalam
urutan waktu yang berbeda dua kali atau lebih sehingga peneliti dapat mengetahui
adanya perubahan. Di samping itu, peneliti dapat lebih baik dalam menyelidiki
hubungan menurut urutan waktu, yaitu dalam hal hubungan antara variabel itu dan
subjek yang sama atau subjek yang berbeda dari populasi yang sama. Dari segi subjek,
survei longitudinal memiliki variasi sebagai berikut.

-1. Studi trend. Subjeknya adalah sampel-sampel dari populasi yang diambil pada waktu
mengumpulkan data empiris (data bukan dari orang yang sama). Misalnya, studi trend
me-ngenai penggunaan nyanyian kontemporer dalam kebaktian di sebuah gereja.
Peneliti mengumpulkan data mengenai nyanyian kontemporer yang disukai oleh satu
sampel umat gereja itu (yang diambil secara acak) dalam kebaktian di tahun itu. Tahun
berikutnya peneliti mengumpulkan data empiris yang sama dari sampel yang berbeda,
demikian seterusnya.
2. Studi cohort. Dalam penelitian tersebut, populasi diikuti sampai jangka waktu
tertentu. Setiap pengumpulan data dilakukan atas sampel yang berbeda dari populasi
itu. Misalnya, penelitian terhadap "panggilan" wisudawan Sekolah Tinggi Teologi di
Indonesia tahun 1996.

3. Studi panel. Dalam penelitian tersebut, orang-orang yang sama diikuti sampai jangka
waktu tertentu. Jadi, pe-ngumpulan data empiris dilakukan beberapa kali atas orang
yang sama pada jangka waktu berbeda. Misalnya, penelitian terhadap "panggilan"
wisudawan STBI tahun 1996.

Langkah-langkah Riset Survei

Menurut Borg dan Gall (1989:423 dst.), langkah-langkah riset survei adalah sebagai
berikut.

1. Menetapkan tujuan. Peneliti harüs menetapkan masalah dan mendaftarkan tujuan


khusus yang akan dicapai atau hipotesis yang akan diuji dengan kuesioner.

2. Memilih sampel. Peneliti harus menetapkan target populasi yang akan diambil sebagai
sampel.

3. Menulis unsur-unsur kuesioner. Peneliti harus me-ngembangkan kuesioner


sedemikian rupa sehingga dapat mengukur aspek tertentu dari salah satu tujuan atau
hipotesisnya. Peneliti harus dapat menjelaskan secara terperinci mengapa ia
mengajukan sebuah pertanyaan dan bagaimana ia akan menganalisis jawaban. Peneliti
juga perlu berupaya membingkai pertanyaannya dalam bahasa yang dimengerti oleh
subjek penelitian. Oleh sebab itu, target populasi perlu ditetapkan dahulu. Pertanyaan
dapat bersifat tertutup atau terbuka.

4. Menyusun kuesioner. Kuesioner harus dibentuk sedemikian rupa sehingga menarik


dan mudah dijawab. Untuk itu, kertas dan tata letak harus baik, unsur-unsur dan
halaman kuesioner harus diberi nomor. Nama dan alamat pengiriman kuesioner yang
sudah dijawab ditempatkan di awal dan akhir kuesioner. Petunjuk cara menjawab dibuat
secara singkat, jelas, dan dicetak dengan huruf tebal. Beri contoh pada setiap unsur yang
dapat membingungkan atau sulit dimengerti. Atur pertanyaan dalam rangkaian logis,
misalnya mengelompokkan unsur yang berhubungan atau yang menghendaki cara
menjawab yang sama dan urutan yang kronologis jika pertanyaan mencakup urutan
waktu. Mulailah dengan pertanyaan yang menarik dan tidak "menakutkan" atau tidak
memulai dengan pertanyaan terbuka. Pada waktu pindah ke topik baru, masukkan
kalimat transisi. Jangan meletakkan pertanyaan penting di akhir kuesioner yang panjang.
Tempatkan pertanyaan yang "menakutkan" dan yang sulit di akhir kuesioner. Hindari
pemakaian kata kuesioner atau daftar cek. Masukkan keterangan yang cukup dalam
kuesioner sehingga unsur-unsurnya bermakna bagi subjek.

5. Menguji coba kuesioner. Walaupun peneliti sudah berhati-hati dalam menjaga


kejelasan kuesionernya, kuesioner itu perlu diuji coba sebelum benar-benar dipakai
dalam penelitian. Salah satu caranya adalah dengan meminta orang lain menyatakan
dengan kata-katanya sendiri arti dari setiap unsur dalam kuesioner tersebut. Dari hal
tersebut dapat dilihat apakah pertanyaan kuesioner perlu diperbaiki atau perlu diuji
coba lagi.

6. Mempersipakan surat pengantar. Surat tersebut sangat menentukan banyaknya


kuesioner yang kembali. sangat itu hendaknya singkat, tetapi menyampaikan keterangan
dan kesan yang penting. Surat itu juga harus menyatakan pentingnya mengisi kuesioner,
adanya jaminan kerahasiaan, Pujuan, serta kepentingan penelitian, dan jika mungkin,
mengaitkan kuesioner tersebut dengan lembaga atau me organisasi profesional.

7. Mengirim kuesioner dan menindaklanjutinya. Surat tindak lanjut perlu dikirim


beberapa hari setelah batas akhir pengembalian kuesioner. Surat itu harus bernada
kepasti-an dari peneliti bahwa subjek bersedia mengisi, tetapi mungkin terlupakan, dan
bersifat mengingatkan. Bila perlu, kuesioner baru bisa dilampirkan. Surat tercatat bisa
dipakai agar peneliti yakin bahwa surat itu diterima oleh subjek. Jika memungkinkan,
bisa juga menindaklanjutinya melalui telepon.

8. Menganalisis hasil.

9. Melaporkan penelitian.

Penelitian Pengamatan Sistematik

Penelitian tersebut dianggap dapat mengatasi kelemahan ari penelitian survei, yaitu
kekeliruan data karena bias yang imiliki oleh si pemberi keterangan. Di samping itu,
penelitian ersebut dapat mengatasi kekeliruan data yang mungkin terjadi ka peneliti
tidak melakukan pengamatan sistematik.

Pelaksanaan Penelitian

Dalam penelitian pengamatan. sistematik, seorang engamat menggunakan lembar


pengamatan yang telah disiap-an sebelumnya. Ia dapat juga dibantu dengan komputer
dan amera video. Pengamatan itu dapat dilakukan dalam situasi ang sebenarnya, tanpa
pengetahuan subjek (naturalistic Ontrived observation), atau dalam situasi buatan yang
diketahui abjek (situational testing), subjek yang diamati diminta me-kukan peran
tertentu, misalnya diskusi kelompok tanpa emimpin, tim pemecahan masalah, bermain
peran (role-play) perseorangan.
Langkah-langkah Persiapan

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum me-ngumpulkan data pengamatan


adalah sebagai berikut.

1. Menentukan variabel-variabel yang dapat diamati. Untuk itu, peneliti harus


mempertajam arah pengamatannya, menentu-kan unit waktu untuk mengamati dan
unit perilaku yang akan diamati. Borg dan Gall (1989:477) menyebutkan tiga macam
variabel pengamatan, yaitu deskriptif (hanya perlu sedikit inferensi dari pengamat
karena merupakan indikasi yang jelas, disebut juga variabel inferensial rendah),
inferensial (perlu upaya inferensi lebih dahulu karena masih berupa konsep, disebut juga
variabel inferensial tinggi), dan evaluatif (sama seperti variabel inferensial, tetapi
sebagai tambahan, pengamat perlu mengambil keputusan tentang nilai atau berkenaan
dengan kualitas yang diinferensikan dari perilaku).

2. Menentukan pencatatan informasi pengamatan. Setidak-tidaknya adaempat format


pencatatan informasi pengamatan, yaitu pencatatan durasi, pencatatan hitungan,
pencatatan interval, dan pencatatan terus-menerus. Pencatatan bisa juga dilakukan
dalam sampel waktu.

3. Mengembangkan lembar pengamatan (atau memilih lembar pengamatan standar


yang tersedia jika sesuai dengan tujuan penelitian). Variabel yang diamati akan dicatat
pada lembar pengamatan. Jadi, lembar pengamatan harus mencerminkan dan sesuai
dengan keputusan-keputusan dan langkah-langkah sebelumnya. Yang termasuk dalam
pengembangan tersebut adalah uji coba lembar pengamatan untuk situasi serupa
dengan yang akan diamati.

4. Memilih dan melatih pengamat. Pemilihan harus dilakukan dengan hati-hati. Bila
perlu, pilihlah orang dengan kecerdasan yang lebih dari rata-rata, dengan kefasihan
verbal, dan bermotivasi tinggi untuk bekerja dengan baik (Borg dan Gall, 1989:487
mengutip Hartmann). Dalam pelatihan itu, termasuk juga cara-cara untuk mengurangi
efek dari pengamat pada data pengamatan, seperti pengaruh pengamat pada yang
diamati, blas pengamat, kesalahan dalam mencatat, dan pengaruh pengetahuan
pengamat

Analisis Isi
Analisis isi sering dipakai bersama dengan penelitian pengamatan, misalnya dalam
menganalisis transkrip hasil rekaman diskusi. Sudah tentu teknik itu pun dapat berdiri
sendiri seperti sering dilakukan dalam bidang komunikasi.

Definisi Analisis Isi.

Analisis isi ialah sebuah teknik riset untuk menggambarkan isi yang tampak (manifest
content) dalam bentuk komunikasi apa pun secara objektif, sistematik, dan kuantitatif
(Borg dan Gall, 1989:519 mengutip Berelson). Holsti dan Stone mendefinisikan analisis isi
sebagai sebuah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi dengan
mengidentifikasi secara sistemik dan objektif karakteristik-karakteristik khusus dalam
sebuah teks (1965:5). Krippendorff memberikan definisi analisis isi yang lain yang
memperlengkapi kedua definisi tersebut, yaitu sebuah teknik penelitian untuk membuat
inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan yang
memerhatikan konteksnya (Wajidi, 1993:15).

Penjelasan definisi tersebut tidak dibatasi pada analisis isi pada isi yang tampak, tetapi
memperluas ke analisis isi yang tidak tampak; tidak membatasi pada analisis secara
kuantitatif, tetapi memperluas ke analisis kualitatif; dan menyatakan bahwa analisis isi
dapat dibedakan sebagai metode penelitian makna simbolik pesan-pesan. Tampaknya
Krippendorff menyetujui pendapat Holsti dan Stone, tetapi menambahkan konteks
(Krippendorff, 1993:17). Objek penelitian tersebut biasanya bahan-bahan tertulis, tetapi
dapat juga musik, gambar, dan gerak isyarat.

Perencanaan Analisis Isi

Perancanaan penelitian analisis isi meliputi langkah-langkah sebagai berikut.

1. Menetapkan tujuan yang akan dicapai atau hipotesis yang akan diuji. Misalnya, untuk
menghasilkan informasi yang menggambarkan; untuk memastikan hasil riset yang diper-
oleh dengan metode lain (penyahihan lintas metode); untuk menguji hipotesis.

2. . Mendapatkan tempat data yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Menurut


Krippendorff (1980), hal-hal yang ber-hubungan dengan gejala yang menarik minat
peneliti, memenuhi syarat sebagai data bagi analisis isi.

3. Mengumpulkan bukti kontekstual. Pada langkah tersebut, peneliti membangun kaitan


empiris antara data yang dipilih untuk dianalisis dan inferensi yang direncanakan akan
dibuat terhadap data itu. Dengan kata lain, peneliti membuat alasan bahwa data analisis
isi benar-benar berhubungan dengan tujuan atau hipotesis peneliti. Caranya, antara lain
dengan menyajikan sebuah teori atau model, meninjau riset sebelumnya, atau mengutip
pendapat ahli yang men-dukung hubungan data dan tujuan yang dijadikan dasar
penelitian.

4. Mengembangkan rencana. pengambilan sampel data. Pengambilan sampel data yang


mungkin dianalisis harus menggunakan metode yang betul-betul dapat menghasilkan
sampel yang mewakili.

5. Mengembangkan prosedur coding atau sistem klasifikasi data (bisa dibantu dengan
kamus sistem klasifikasi) untuk analisis isi, termasuk aturan atau kriteria dalam
klasifikasinya.

6. Merencanakan prosedur analisis. Pada langkah tersebut, prosedur statistik tentu saja
diperlukan untuk meringkas-kan data dan membantu dalam menafsirkannya. Beberapa
metode analisis statistik yang sering dipakai adalah frekuensi absolut atau frekuensi
relatif (seperti proporsi), mean (rata-rata), median (pertengahan), standar deviasi (untuk
membandingkan kemunculan isi tertentu), dan analisis chi-square (Borg dan Gall,
1989:522 dst.).

Penelitian Kausal Komparatif

Peneliti tidak selalu langsung dapat melakukan eksperimen. Oleh sebab itu, penelitian
yang dapat menyelidiki hubungan kausal di antara variabel perlu diadakan sebelum
eksperimen diadakan atau sebagai pengganti eksperimen walaupun tidak dapat
dipastikan adanya hubungan kausal. Penelitian semacam itu disebut penelitian kausal
komparatif.

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian kausal komparatif mirip dengan strategi eksperimental. Namun, peneliti tidak
mengatur variabel bebas. Variabel bebas terjadi sebelum penelitian dilakukan.
Penelitian tersebut kadang-kadang disebut penelitian ex post facto. Pelaksanaannya
meliputi pembandingan sampel-sampel yang berbeda dalam sebuah variabel kritikal
(variabel bebas), tetapi sebanding dalam hal-hal lain. Misalnya, kelompok pendeta yang
bekerja sambilan dan yang tidak bekerja sambilan (variabel bebas atau variabel
pengaruh) dalam hubungannya dengan kesiapan berkhotbah atau frekuensi kunjungan
(variabel terikat atau terpengaruh).

Perencanaan Penelitian Kausal Komparatif


1. Pernyataan masalah penelitian. Pada langkah tersebut, peneliti perlu berspekulasi
mengenai sebab-sebab dari gejala yang menarik perhatiannya berdasarkan hasil
penelitian sebelumnya atau berdasarkan teori. Setelah sebab-sebab yang mungkin itu
ditetapkan, sebab-sebab itu kemudian diramu ke dalam pernyataan masalah penelitian
(bisa dalam bentuk tujuan penelitian atau hipotesis).

2. Memilih kelompok tertentu. Pada langkah tersebut, peneliti menentukan kelompok


yang memiliki ciri yang sesuai dengan apa yang ingin ditelitinya. Kelompok itu adalah
kelompok homogen dari segi variabel kritikal tertentu.

3. Memilih kelompok pembanding. Pada langkah tersebut, peneliti memilih kelompok


yang tidak memiliki ciri kritikal yang dimiliki oleh kelompok yang dipilih sebelumnya.
Kelompok itu dan kelompok sebelumnya dipilih secara acak dari populasi yang sama.

4. Memilih dan menyiapkan alat pengumpul data, seperti tes baku, kuesioner,
wawancara, atau pengamatan

5. Merencanakan bagaimana cara menganalisis data. Pertama, statistik deskriptif,


termasuk mean dan standar deviasi, tetapi dapat juga yang lainnya. Kedua, uji
kesignifikanan statistik yang sesuai, apakah peneliti akan membandingkan angka mean,
varian, median, angka rank, atau kategori frekuensi. Misalnya, bermacam-macam t-test
untuk menguji kesignifikanan perbedaan mean, analisis varian sebelum melakukan t-test
untuk membandingkan lebih dari dua mean, analisis covarian untuk mengendalikan
perbedaan sebelumnya kelompok (mencocokkan kelompok berkenaan dengan variabel
umur, bakat, pen-didikan sebelumnya, kelas ekonomik sesudah pengukuran dilakukan),
analisis multivariasi dari varian (MANOVA) untuk menentukan apakah beberapa
kelompok berbeda dalam lebih dari satu variabel terpengaruh, tes homogenitas varian
untuk menentukan kesignifikanan perbedaan varian, bermacam-macam tes statistik
bukan parametrik untuk uji signifikansi (tes Chi-Square, tes Mann-Whitney U, tes
Wilcoxon signed-rank, tes Kruskal-Wallis, dsb.)

6. Merencanakan penafsiran penemuan kausal komparatif. Pada langkah tersebut,


peneliti menentukan bagaimana simpulan akan diambil berdasarkan berbagai
kemungkinan hasil analisis statistik.

Penelitian Korelasional:
Dalam segi-segi tertentu, penelitian korelasional memunyai kesamaan dengan penelitian
kausal komparatif. Namun, ada juga perbedaan yang besar.

Pelaksanaan Penelitian:

Seperti halnya penelitian kausal komparatif, penelitian korelasional menjelaskan kaitan


antara variabel-variabel yang ditentukan dalam penelitian. Perbedaannya adalah dalam
peng-ukuran variabel bebas dan dalam analisis data yang dihasilkan. Dalam hal itu,
variabel bebas adalah variabel berkesinambungan (misalnya, bukan hanya apakah
pendeta bekerja sambilan atau tidak, melainkan berapa jam ia bekerja sambilan) yang
diukur dari satu kelompok. Analisis data yang dihasilkan (misalnya, mengenai hubungan
jumlah jam kerja sambilan dan kesiapan berkhotbah di kalangan pendeta jemaat
tertentu) dilakukan dengan statistik korclasional.

Statistik korelasional juga banyak dipakai dalam penyusun-an dan analisis pengujian.
Pemilihan statistik korelasional bergantung kepada variabel yang termasuk dalam
penelitian. Berkenaan dengan analisis tersebut, penelitian korelasional menekankan
pola hubungan sebab akibat di antara variabel, dan mencakup prediksi perilaku yang
akan datang dari variabel yang diúkur sebelum perilaku itu. Sebagai penelitian yang
menekan-kan pola hubungan sebab akibat antara variabel, penelitian itu berguna pada
studi cksploratif.

Langkah-langkah Penelitian Korelasional:

1. Masalah. Pada langkah tersebut, peneliti menentukan variabel-variabel yang


memungkinkan untuk menjadi penentu yang penting dari ciri atau pola perilaku yang
akan diselidiki. Dalam penentuan tersebut, sangat menolong jika peneliti memeriksa
hasil penelitian dan teori yang sudah ada. Masalah itu bisa dinyatakan dalam bentuk
pertanyaan.

2. Pemilihan subjek. Pada langkah itu, peneliti memilih subjek yang dapat diukur sesuai
dengan variabel-variabel yang menjadi perhatian peneliti. Kelompok yang dipilih harus
homogen. Jika tidak, hubungan di antara variabel mungkin dikaburkan oleh perbedaan
itu.

3. Pengumpulan data. Sebelum mengumpulkan data, peneliti menentukan dahulu


metode pengumpulan data yang akan dipakai, misalnya tes baku, kuesioner,
wawancara, atau pengamatan. Yang penting, metode itu akan dapat menghasilkan data
dalam bentuk angka atau dapat dikuantifikasikan.

4. Analisis data. Pada langkah tersebut, data dianalisis dengan mengorelasikan ukuran
yang diduga berhubungan dengan pola perilaku yang rumit dengan ukuran pola perilaku
itu sendiri. Pengorelasian itu akan menghasilkan koefisien korelasi. Teknik korelasi di
antara dua variabel disesuaikan dengan variabel yang diteliti dan sifat hubungannya.
Misalnya, jika yang dikorelasikan berupa continuous score, yang dipakai adalah korelasi
product-moment. Jika yang di-korelasikan adalah angka rank, yang dipakai adalah
koefisien korelasi rank, rho, atau tau Kendall. Jika yang dikorelasikan adalah angka
dichotomi (true atau artificial), yang dipakai adalah koefisien korelasi biserial (ruis),
kocfisien korelasi biserial widespread (wbis), koofisien korclasi biserial point (rpbis),
koefisien korelasi biserial tetrachoric (rt), atau koefisien Phi. Jika yang dikorelasikan
adalah variabel dalam bentuk kategori, yang dipakai adalah koefisien kontingensi.
Koefisien korelasi itu mungkin juga perlu disesuaikan dengan alasan dan cara-cara
tertentu, misalnya koreksi kelemahan, koreksi pembatasan dalam range yang lebih
rendah dari kelompok yang dijadikan dasar pembuatan tes baku, dan korelasi parsial.

5. Penafsiran koefisien korelasi. Pada tahap tersebut, peneliti memeriksa apakah


koefisien korelasi yang diperoleh melalui analisis itu signifikan. Kesignifikanan koefisien
korelasi ter-sebut ditentukan oleh perbedaannya, dari nol dalam tingkat kepercayaan
yang ditetapkan (0,01% atau 0,05%). Jika secara statistik signifikan (tidak berbeda dari
0), hipotesis itu nihil (tidak ada hubungan), tidak bisa ditolak. Namun, bila secara
statitistik tidak signifikan (tidak sama dengan 0), secara praktis bisa signifikan.
Sebaliknya, jika koefisien korelasi itu signifikan, hubungan di antara variabel bukan 0
dapat dikatakan atau berarti ada hubungan yang signifikan. Kesignifikanan itu dapat
ditentukan secara langsung dengan melihat tabel yang terdapat dalam buku statistik,
apakah uji signifikannya mempertimbangkan satu sisi atau dua sisi distribusi kurva
normal.

Penelitian untuk Prakiraan:

Seperti telah dijelaskan, penelitian korelasional dapat mencakup prediksi atau prakiraan.
Penelitian (korelasional) prakiraan bertujuan untuk menetapkan tingkat kemungkinan
bahwa sesuatu dapat terjadi di masa depan. Dengan kata lain, penelitian tersebut
memeriksa kemampuan suatu variabel (atau Hebih) untuk memprakirakan suatu
variabel kriterion. Misalnya, apakah variabel kesadaran sebagai anggota gereja dapat
mem-prediksi jumlah persembahan yang mereka berikan.

Jenis Penelitian Prakiraan:

Menurut Borg dan Gall (1989:583), penelitian prakiraan memberikan tiga macam
informasi, yaitu sejauh mana pola perilaku kriterion dapat diprakirakan, data bagi
pembangun-an teori mengenai kemungkinan penentu-penentu perilaku kriterion, dan
bukti mengenai validitas pengujian prediktif atau pengujian lain yang dikorelasikan
dengan pola perilaku kriterion. Berdasarkan hal tersebut, terdapat tiga macam
penelitian prakiraan. Pertama, penelitian yang menekankan perilaku kriterion dengan
satu atau lebih pada pengujian bakat Han kepribadian yang dipakai untuk
memprakirakan kriterion tu (pengujian yang paling tepat yang diterapkan pada masalah
praktis adalah seleksi). Kedua, penelitian prakiraan yang, cerutama, memerhatikan
kepentingan teoretis penemuannya. Ketiga, penelitian untuk kepentingan
pengembangan pengujian atau penulisan soal uji, untuk menentukan validitas prediktif
dari pengujian itu.

Langkah-langkah Penelitian Prakiraan:

Rancangan penelitian prakiraan serupa dengan penelitian Korelasional, yaitu meliputi


penghitungan korelasi di antara ariabel. Bedanya, dalam penelitian prakiraan, sebagian
variabel variabel prediktor) diukur sebelum variabel yang diprakirakan Hiukur. Langkah-
langkah penelitiannya juga serupa, yaitu sebagai berikut:

1. Penetapan masalah. Masalah ditetapkan sesuai dengan tujuan penelitian. Pola


perilaku kriterion harus ditetapkan secara patut.

2. Pemilihan subjek. Subjek harus dipilih dari populasi yang ada kaitannya dengan
penelitian.

3. Pengumpulan data. Metode dan alat yang dipakai sama dengan penelitian
körelasional.

4. Analisis data. Analisis data meliputi pengorelasian setiap variabel prediktor dengan
variabel kriterion, multiple regression (pemakaian dua atau lebih angka subjek untuk
memprakirakan kinerja yang berkenaan dengan ukuran kriterion), dan apa yang disebut
analisis moderator (menentukan bagian kelompok yang korelasinya lebih besar secara
signifikan dari korelasi keseluruhan kelompok sampel). Selain multiple regression, ada
teknik statistik lain yang bisa dipakai, seperti analisis diskriminan (jika kriterion adalah
keanggotaan kelompok subjek) atau korelasi kanonikal (jika variabel kriterion dua atau
lebih).

5. Penafsiran. Pada langkah tersebut, peneliti menafsirkan koefisien korelasi yang


diperoleh dari analisis. Penafsiran tidak hanya melihat kesignifikanannya secara statistik.
Borg dan Gall (1989:632), memberikan tambahan pedoman umum untuk riset
pendidikan. Koefisien korelasi 0,20 sampai dengan 0,35 menyatakan sedikit hubungan di
antara variabel. Walaupun secara statistik signifikan, sedikit ber-guna bagi situasi
prakiraan praktis. Koefisien korelasi sekitar 0,50 sedikit berguna jika digabungkan
dengan korelasi yang lain dalam multiple regression. Koefisien korelasi 0,65 sampai
dengan 0,85 memungkinkan prakiraan yang cukup tepat untuk kebanyakan maksud.
Koefisien korelasi di atas 0,85 menyatakan hubungan yang dekat di antara variabel yang
dikorelasikan. Hasil setinggi itu, walaupun jarang, sangat berguna bagi prakiraan
kelompok dan perseorangan.

Penelitian Evaluasi:

Penelitian evaluasi merupakan kegiatan penelitian yang luas dan penting untuk
merancang, menjalankan, dan memeriksa kegunaan program-program kemasyarakatan.
Para peneliti dengan rancangan tersebut akan terlibat dalam pengembangan dan
pengujian prakarsa-prakarsa pembaruan yang dirancang untuk meringankan dan
mengendalikan masalah masyarakat serta dalam hal peningkatan kedayagunaan dan
keberhasil gunaan program-program yang sudah ada.

Hasil penelitian evaluasi akan memengaruhi kebijakan-kebijakan sosial dan membimbing


upaya-upaya peningkatan lingkungan Hidup dan lingkungan sosial anggota masyarakat
(Rossi dan Freeman, 1993:ix). Hasil penelitian evaluasi juga memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan para pem-buat kebijakan, organisasi penyandang dana,
perencana, dan staf pengelola program mengenai kedayagunaan dan kehasil-gunaan
program. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut.

1. Apakah sifat dan ruang lingkup masalah menghendaki program sosial baru yang
diperluas atau diperbaiki? Di mana letak masalahnya dan siapa yang dipengaruhi?

2. Intervensi apakah yang dapat dilaksanakan dan akan me-ngurangi masalah secara
signifikan?

3. Target populasi yang seperti apakah yang patut dalam intervensi tertentu?

4. Apakah intervensi mencapai target populasinya?

5. Apakah intervensi dilaksanakan dengan cara-cara seperti yang digambarkan?

6. Apakah efektif?

7. Berapa banyak biayanya?


8. Bagaimana hubungan antara biaya dan keefektifan serta keuntungannya?

Batasan dan Pengertian:

Evaluasi ialah penilaian sistematis atas suatu program atau produk untuk menentukan
apakah hal itu mencapai yang diharapkan (Yount, 1990:7). Rossi dan Freeman (1993:5)
mem-beri batasan penelitian evaluasi sebagai penerapan sistematis dari prosedur riset
sosial untuk memeriksa pengonsepan, perancangan, pelaksanaan, dan penggunaan
program-program intervensi sosial. Dengan kata lain, peneliti evaluasi (evaluator)
memakai metode sosial untuk penelitian menilai dan meningkatkan cara-cara kebijakan
dan program pelayanan sosial yang dijalankan dari tahap awal, ketika program
ditentukan dan dirancang, sampai dengan pengembangan dan pelaksanaannya.

Tiga kelompok besar evaluasi menurut Rossi dan Freeman (1993:55) adalah sebagai
berikut.

1. Analisis berhubungan dengan pengonsepan dan perancang-an intervensi atau


program. Misalnya, studi formatif, yaitu kegiatan evaluasi selama perancangan dan
prauji program untuk membimbing proses perancangan.

2. Pemantauan akuntabilitas pelaksanaan program. Misalnya, studi akuntabilitas, yaitu


studi yang dilakukan bagi sponsor program untuk menentukan sejauh mana program
telah di-jalankan dengan benar, mencapai target yang dimaksudkan, memunyai akibat
yang diinginkan, dan sejauh mana dana program dibelanjakan secara patut.

3. Pemeriksaan dampak dan efisiensi atau kegunaan program. Misalnya, studi


penyesuaian prosedur program yang ada untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
program.

Langkah-langkah Penelitian Evaluasi

Langkah-langkah penelitian evaluasi menurut Borg dan Gall (1989:744 dst.) adalah
sebagai berikut.

1. Menjelaskan alasan-alasan untuk melakukan evaluasi. Alasan itu mungkin


berhubungan dengan minat pribadi atau untuk keperluan evaluasi sebuah lembaga.
2. Menetapkan stakeholders, yaitu orang-orang yang terlibat dalam program yang
dievaluasi, yang mungkin dipengaruhi, atau berminat terhadap penemuan evaluasi.

3. Memutuskan apa yang akan dievaluasi, misalnya ciri-ciri program yang jelas, arah atau
sasaran program, sumber daya, prosedur, dan manajemen program.

4. Menetapkan pertanyaan evaluasi. Hal itu dapat dilakukan dua tahap. Pertama,
membuat daftar pertanyaan, masalah, keprihatinan, dan keperluan informasi yang
dapat dihadapi dalam evaluasi selengkap mungkin. Kedua, mengurangi pertanyaan
sampai dengan jumlah yang dapat dikelola.

5. Mengembangkan rancangan dan jadwal evaluasi. Rancangan bisa menggunakan


rancangan penelitian yang telah dibahas sebelumnya, tentunya harus disesuaikan
dengan maksud yang ditetapkan. Rossi dan Freeman (1993:55) menyatakan bahwa
rancangan evaluasi berbeda, bergantung kepada jenis pertanyaan yang diajukan, tahap
program yang akan dievaluasi (baru atau lama), dan jenis keputusan yang akan diberi
informasi. Jadwal dapat dibuat dengan bantuan PERT supaya bisa diselesaikan pada
waktu yang dikehendaki.

6. Mengumpulkan dan menganalisis data evaluasi. Alat, prosedur, dan teknik yang
dipakai dalam penelitian, yang dijelaskan sebelumnya, dapat dipilih sesuai dengan data
yang terkumpul.

7. Melaporkan hasil evaluasi, yaitu skripsi, tesis, disertasi, atau laporan teknis. Versi yang
lebih singkat dapat dibuat untuk disajikan sebagai makalah dalam pertemuan
profesional atau diterbitkan sebagai artikel jurnal.

Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan erat hubungannya atau tumpang tindih dengan


penelitian evaluasi. Metode yang dipakai dalam penelitian evaluasi dipakai juga dalam
penelitian dan pengembangan. Bahkan, dapat dikatakan bahwa evaluasi juga termasuk
penelitian dan pengembangan.

Batasan
Penelitian dan pengembangan ialah penerapan metode ilmiah untuk menciptakan
sesuatu yang baru, yaitu suatu proses yang mencipta berulang dan dimulai dari
penetapan tujuan dan mutu produk. Sételah produk dipakai, penilaian dilakukan. Jika
belüm-sesuai dengan sasaran, diperbaiki, dipakai lagi, dan dinilai lagi sampai mencapai
hasil yang memuaskan.

Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan

Menurut Borg dan Gall (1989:782), langkah-langkah peneliti-an dan pengembangan,


yang disebut juga siklus penelitian dan pengembangan, adalah, sebagai berikut.

1. Mempelajari penemuan riset yang relevan bagi produk yang akan dikembangkan.
Langkah tersebut bukan hanya berupa tinjauan pustaka, melainkan meliputi
pemeriksaan keperluan, bahkan riset kecil-kecilan jika penemuan yang relevan belum
ada.

2. Mengembangkan produk berdasarkan penemuan riset. Bentuk awal produk yang


memungkinkan, diujicobakan di lapangan. Dalam hal itu, perlu juga disediakan cara
mem-peroleh umpan balik dari pemakai produk, misalnya dengan mengembangkan
pedoman wawancara dan kuesioner.

3. Melakukan uji lapangan terhadap produk itu. Setelah dikembang-kan secara penuh,
penting sekali melakukan uji coba di lingkungan yang sesuai dengan tempat produk itu
nantinya akan dipakai.

4. Memperbaiki produk dengan membetulkan kekurangan yang dijumpai pada tahap uji
coba lapangan.

Dalam penelitian dan pengembangan yang lebih ketat, siklus tersebut diulangi sampai
data uji coba coba lapangan menyatakan bahwa produk mencapai tujuan khusus yang
telah ditetapkan.

Anda mungkin juga menyukai