Riset Survei dalam Penelitian Kuantitatif
Riset Survei dalam Penelitian Kuantitatif
Penelitian Survei
Penelitian survei sangat populer. Banyak media (majalah, radio, tv, jaringan komputer)
dan perusahaan menggunakan rancangan penelitian tersebut untuk mengetahui
berbagai pendapat pelanggan. Contohnya adalah pengumpulan data kependudukan
oleh Biro Pusat Statistik.
Menurut Singarimbun (1991:3), survei ialah penelitian yang sampelnya diambil dari satu
populasi dengan kuesioner sebagai pengumpul data yang pokok. Meskipun pada definisi
tersebut dinyatakan bahwa kuesioner adalah pengumpul data yang pokok, survei bisa
juga memakai pengumpul data yang lain, (seperti wawancara dan pemeriksaan
catatan/berkas. Apa pun pengumpul datje kyang diheliti dan data harus dikenakan juga
pada setiap subjek yang diteliti dan dalam kondisi yang seserupa
mungkin.
Informasi yang diperoleh melalui alat survei dianggap dapat dikuantifikasikan (diubah ke
dalam angka). Pada kuesioner dengan pilihan ganda, informasi sudah dikuantifikasikan
ketika dikumpulkan. Pada kuesioner dengan pertanyaan terbuka, informasi yang
diperoleh harus diberi lambang bilangan sehingga dapat dianalisis dan dilaporkan secara
kuantitatif (Borg dan Gal, 1989:418).
Maksud Survei
Ada yang berpendapat bahwa survei itu terbatas pada deskripsi. Padahal, survei jauh
lebih luas daripada sekadar menggunakan kuesioner untuk menggambarkan sesuatu itu
"apa adanya". Survei dapat digunakan untuk penjajagan, penggambaran, penjelasan,
penilaian, prakiraan, penelitian dalam mengatasi hambatan operasional suatu program,
dan pengembangan indikator segi-segi keadaan tertentu dalam masyarakat
(Singarimbun, 1989:4-6).
Dalam hal penggunaan untuk maksud penjajagan, riset survei adalah salah satu
penelitian deskriptif. Penelitian semacam itu mencoba menjawab pertanyaan "what is".
Caranya adalah dengan mengumpulkan data dari kelompok-kelompok tertentu
kemudian menganalisisnya untuk menghasilkan pernyataan mengenai kelompok
tersebut (Yount, 1990:7).
Menurut Borg dan Gal (1989:418, 421), riset survei ada dua macam, yaitu survei cross-
sectional dan survei longitudinal. Dalam survei cross-sectional data empiris dikumpulkan
dari sampel sebuah populasi yang ditentukan lebih dahulu atau dari seluruh populasi
(dinamakan sensus). Data tersebut dikumpul-kan pada suatu waktu dan sekali saja
(singkat atau dalam jangka waktu tertentu), kemu lian dianalisis dengan berbagai
metode sesuai dengan jenis inferensi yang akan dibuat peneliti.
Contoh survei yang paling sederhana adalah penggambaran tentang bagaimana populasi
membagi diri terhadap pilihan jawaban dari setiap pertanyaan dalam kuesioner
mengenai se-buah variabel. Dengan cara tersebut, mereka dapat digolongkan, misalnya
dari segi pemerintahan gereja yang mereka sukai atau dari kegiatan gereja yang paling
atau kurang diminati.
Contoh yang lebih rumit dan akan memberikan sumbangan yang lebih berarti bagi dunia
pengetahuan adalah survei mengenai hubungan dua atau lebih variabel, baik berupa
gejala masa lampau, kini, maupun yang akan datang. Misalnya, survei mengenai minat
terhadap kegiatan-kegiatan gereja, dihubung-- kan dengan minat terhadap pelayanan-
pelayanan. Jika data empiris itu berhubungan dengan pengalaman sekarang, hubungan
yang dicari itu disebut hubungan yang terikat dengan waktu. Jika peneliti mencari
hubungan antara minat para hamba Tuhan sekarang terhadap berbagai macam
pelayanan dan minat mereka terhadap mata kuliah pada waktu mereka belajar di
seminari, hubungan yang dicari disebut hubungan menurut urutan waktu (peneliti harus
waspada karena daya ingat subjek dan pengaruh sikapnya terhadap ingatan dapat
menjadi sumber kesalahan). Hubungan antara kedua variabel itu dapat ditentukan
dengan menghitung koefisien korelasi.
Pada contoh tersebut, hipotesis dapat diuji dengan implikasi sebab akibat antara minat
pelayanan sekarang dan minat mata kuliah di masa lampau. Namun, perlu diingat bahwa
hal tersebut hanya menunjukkan kemungkinan hubungan sebab akibat. Jadi, tidak dapat
disimpulkan bahwa jika pada mahasiswa dikembangkan minat terhadap mata kuliah
tertentu, mereka nantinya pasti akan berminat terhadap pelayanan tertentu. Yang dapat
meningkatkan keyakinan peneliti sampai tingkat kepasti-an mengenai kemungkinan
hubungan sebab akibat adalah eksperimen dengan pengendalian yang patut.
Pada survei longitudinal, data empiris mengenai variabel tertentu dikumpulkan dalam
urutan waktu yang berbeda dua kali atau lebih sehingga peneliti dapat mengetahui
adanya perubahan. Di samping itu, peneliti dapat lebih baik dalam menyelidiki
hubungan menurut urutan waktu, yaitu dalam hal hubungan antara variabel itu dan
subjek yang sama atau subjek yang berbeda dari populasi yang sama. Dari segi subjek,
survei longitudinal memiliki variasi sebagai berikut.
-1. Studi trend. Subjeknya adalah sampel-sampel dari populasi yang diambil pada waktu
mengumpulkan data empiris (data bukan dari orang yang sama). Misalnya, studi trend
me-ngenai penggunaan nyanyian kontemporer dalam kebaktian di sebuah gereja.
Peneliti mengumpulkan data mengenai nyanyian kontemporer yang disukai oleh satu
sampel umat gereja itu (yang diambil secara acak) dalam kebaktian di tahun itu. Tahun
berikutnya peneliti mengumpulkan data empiris yang sama dari sampel yang berbeda,
demikian seterusnya.
2. Studi cohort. Dalam penelitian tersebut, populasi diikuti sampai jangka waktu
tertentu. Setiap pengumpulan data dilakukan atas sampel yang berbeda dari populasi
itu. Misalnya, penelitian terhadap "panggilan" wisudawan Sekolah Tinggi Teologi di
Indonesia tahun 1996.
3. Studi panel. Dalam penelitian tersebut, orang-orang yang sama diikuti sampai jangka
waktu tertentu. Jadi, pe-ngumpulan data empiris dilakukan beberapa kali atas orang
yang sama pada jangka waktu berbeda. Misalnya, penelitian terhadap "panggilan"
wisudawan STBI tahun 1996.
Menurut Borg dan Gall (1989:423 dst.), langkah-langkah riset survei adalah sebagai
berikut.
2. Memilih sampel. Peneliti harus menetapkan target populasi yang akan diambil sebagai
sampel.
8. Menganalisis hasil.
9. Melaporkan penelitian.
Penelitian tersebut dianggap dapat mengatasi kelemahan ari penelitian survei, yaitu
kekeliruan data karena bias yang imiliki oleh si pemberi keterangan. Di samping itu,
penelitian ersebut dapat mengatasi kekeliruan data yang mungkin terjadi ka peneliti
tidak melakukan pengamatan sistematik.
Pelaksanaan Penelitian
4. Memilih dan melatih pengamat. Pemilihan harus dilakukan dengan hati-hati. Bila
perlu, pilihlah orang dengan kecerdasan yang lebih dari rata-rata, dengan kefasihan
verbal, dan bermotivasi tinggi untuk bekerja dengan baik (Borg dan Gall, 1989:487
mengutip Hartmann). Dalam pelatihan itu, termasuk juga cara-cara untuk mengurangi
efek dari pengamat pada data pengamatan, seperti pengaruh pengamat pada yang
diamati, blas pengamat, kesalahan dalam mencatat, dan pengaruh pengetahuan
pengamat
Analisis Isi
Analisis isi sering dipakai bersama dengan penelitian pengamatan, misalnya dalam
menganalisis transkrip hasil rekaman diskusi. Sudah tentu teknik itu pun dapat berdiri
sendiri seperti sering dilakukan dalam bidang komunikasi.
Analisis isi ialah sebuah teknik riset untuk menggambarkan isi yang tampak (manifest
content) dalam bentuk komunikasi apa pun secara objektif, sistematik, dan kuantitatif
(Borg dan Gall, 1989:519 mengutip Berelson). Holsti dan Stone mendefinisikan analisis isi
sebagai sebuah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi dengan
mengidentifikasi secara sistemik dan objektif karakteristik-karakteristik khusus dalam
sebuah teks (1965:5). Krippendorff memberikan definisi analisis isi yang lain yang
memperlengkapi kedua definisi tersebut, yaitu sebuah teknik penelitian untuk membuat
inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan yang
memerhatikan konteksnya (Wajidi, 1993:15).
Penjelasan definisi tersebut tidak dibatasi pada analisis isi pada isi yang tampak, tetapi
memperluas ke analisis isi yang tidak tampak; tidak membatasi pada analisis secara
kuantitatif, tetapi memperluas ke analisis kualitatif; dan menyatakan bahwa analisis isi
dapat dibedakan sebagai metode penelitian makna simbolik pesan-pesan. Tampaknya
Krippendorff menyetujui pendapat Holsti dan Stone, tetapi menambahkan konteks
(Krippendorff, 1993:17). Objek penelitian tersebut biasanya bahan-bahan tertulis, tetapi
dapat juga musik, gambar, dan gerak isyarat.
1. Menetapkan tujuan yang akan dicapai atau hipotesis yang akan diuji. Misalnya, untuk
menghasilkan informasi yang menggambarkan; untuk memastikan hasil riset yang diper-
oleh dengan metode lain (penyahihan lintas metode); untuk menguji hipotesis.
5. Mengembangkan prosedur coding atau sistem klasifikasi data (bisa dibantu dengan
kamus sistem klasifikasi) untuk analisis isi, termasuk aturan atau kriteria dalam
klasifikasinya.
6. Merencanakan prosedur analisis. Pada langkah tersebut, prosedur statistik tentu saja
diperlukan untuk meringkas-kan data dan membantu dalam menafsirkannya. Beberapa
metode analisis statistik yang sering dipakai adalah frekuensi absolut atau frekuensi
relatif (seperti proporsi), mean (rata-rata), median (pertengahan), standar deviasi (untuk
membandingkan kemunculan isi tertentu), dan analisis chi-square (Borg dan Gall,
1989:522 dst.).
Peneliti tidak selalu langsung dapat melakukan eksperimen. Oleh sebab itu, penelitian
yang dapat menyelidiki hubungan kausal di antara variabel perlu diadakan sebelum
eksperimen diadakan atau sebagai pengganti eksperimen walaupun tidak dapat
dipastikan adanya hubungan kausal. Penelitian semacam itu disebut penelitian kausal
komparatif.
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian kausal komparatif mirip dengan strategi eksperimental. Namun, peneliti tidak
mengatur variabel bebas. Variabel bebas terjadi sebelum penelitian dilakukan.
Penelitian tersebut kadang-kadang disebut penelitian ex post facto. Pelaksanaannya
meliputi pembandingan sampel-sampel yang berbeda dalam sebuah variabel kritikal
(variabel bebas), tetapi sebanding dalam hal-hal lain. Misalnya, kelompok pendeta yang
bekerja sambilan dan yang tidak bekerja sambilan (variabel bebas atau variabel
pengaruh) dalam hubungannya dengan kesiapan berkhotbah atau frekuensi kunjungan
(variabel terikat atau terpengaruh).
4. Memilih dan menyiapkan alat pengumpul data, seperti tes baku, kuesioner,
wawancara, atau pengamatan
Penelitian Korelasional:
Dalam segi-segi tertentu, penelitian korelasional memunyai kesamaan dengan penelitian
kausal komparatif. Namun, ada juga perbedaan yang besar.
Pelaksanaan Penelitian:
Statistik korelasional juga banyak dipakai dalam penyusun-an dan analisis pengujian.
Pemilihan statistik korelasional bergantung kepada variabel yang termasuk dalam
penelitian. Berkenaan dengan analisis tersebut, penelitian korelasional menekankan
pola hubungan sebab akibat di antara variabel, dan mencakup prediksi perilaku yang
akan datang dari variabel yang diúkur sebelum perilaku itu. Sebagai penelitian yang
menekan-kan pola hubungan sebab akibat antara variabel, penelitian itu berguna pada
studi cksploratif.
2. Pemilihan subjek. Pada langkah itu, peneliti memilih subjek yang dapat diukur sesuai
dengan variabel-variabel yang menjadi perhatian peneliti. Kelompok yang dipilih harus
homogen. Jika tidak, hubungan di antara variabel mungkin dikaburkan oleh perbedaan
itu.
4. Analisis data. Pada langkah tersebut, data dianalisis dengan mengorelasikan ukuran
yang diduga berhubungan dengan pola perilaku yang rumit dengan ukuran pola perilaku
itu sendiri. Pengorelasian itu akan menghasilkan koefisien korelasi. Teknik korelasi di
antara dua variabel disesuaikan dengan variabel yang diteliti dan sifat hubungannya.
Misalnya, jika yang dikorelasikan berupa continuous score, yang dipakai adalah korelasi
product-moment. Jika yang di-korelasikan adalah angka rank, yang dipakai adalah
koefisien korelasi rank, rho, atau tau Kendall. Jika yang dikorelasikan adalah angka
dichotomi (true atau artificial), yang dipakai adalah koefisien korelasi biserial (ruis),
kocfisien korelasi biserial widespread (wbis), koofisien korclasi biserial point (rpbis),
koefisien korelasi biserial tetrachoric (rt), atau koefisien Phi. Jika yang dikorelasikan
adalah variabel dalam bentuk kategori, yang dipakai adalah koefisien kontingensi.
Koefisien korelasi itu mungkin juga perlu disesuaikan dengan alasan dan cara-cara
tertentu, misalnya koreksi kelemahan, koreksi pembatasan dalam range yang lebih
rendah dari kelompok yang dijadikan dasar pembuatan tes baku, dan korelasi parsial.
Seperti telah dijelaskan, penelitian korelasional dapat mencakup prediksi atau prakiraan.
Penelitian (korelasional) prakiraan bertujuan untuk menetapkan tingkat kemungkinan
bahwa sesuatu dapat terjadi di masa depan. Dengan kata lain, penelitian tersebut
memeriksa kemampuan suatu variabel (atau Hebih) untuk memprakirakan suatu
variabel kriterion. Misalnya, apakah variabel kesadaran sebagai anggota gereja dapat
mem-prediksi jumlah persembahan yang mereka berikan.
Menurut Borg dan Gall (1989:583), penelitian prakiraan memberikan tiga macam
informasi, yaitu sejauh mana pola perilaku kriterion dapat diprakirakan, data bagi
pembangun-an teori mengenai kemungkinan penentu-penentu perilaku kriterion, dan
bukti mengenai validitas pengujian prediktif atau pengujian lain yang dikorelasikan
dengan pola perilaku kriterion. Berdasarkan hal tersebut, terdapat tiga macam
penelitian prakiraan. Pertama, penelitian yang menekankan perilaku kriterion dengan
satu atau lebih pada pengujian bakat Han kepribadian yang dipakai untuk
memprakirakan kriterion tu (pengujian yang paling tepat yang diterapkan pada masalah
praktis adalah seleksi). Kedua, penelitian prakiraan yang, cerutama, memerhatikan
kepentingan teoretis penemuannya. Ketiga, penelitian untuk kepentingan
pengembangan pengujian atau penulisan soal uji, untuk menentukan validitas prediktif
dari pengujian itu.
2. Pemilihan subjek. Subjek harus dipilih dari populasi yang ada kaitannya dengan
penelitian.
3. Pengumpulan data. Metode dan alat yang dipakai sama dengan penelitian
körelasional.
4. Analisis data. Analisis data meliputi pengorelasian setiap variabel prediktor dengan
variabel kriterion, multiple regression (pemakaian dua atau lebih angka subjek untuk
memprakirakan kinerja yang berkenaan dengan ukuran kriterion), dan apa yang disebut
analisis moderator (menentukan bagian kelompok yang korelasinya lebih besar secara
signifikan dari korelasi keseluruhan kelompok sampel). Selain multiple regression, ada
teknik statistik lain yang bisa dipakai, seperti analisis diskriminan (jika kriterion adalah
keanggotaan kelompok subjek) atau korelasi kanonikal (jika variabel kriterion dua atau
lebih).
Penelitian Evaluasi:
Penelitian evaluasi merupakan kegiatan penelitian yang luas dan penting untuk
merancang, menjalankan, dan memeriksa kegunaan program-program kemasyarakatan.
Para peneliti dengan rancangan tersebut akan terlibat dalam pengembangan dan
pengujian prakarsa-prakarsa pembaruan yang dirancang untuk meringankan dan
mengendalikan masalah masyarakat serta dalam hal peningkatan kedayagunaan dan
keberhasil gunaan program-program yang sudah ada.
1. Apakah sifat dan ruang lingkup masalah menghendaki program sosial baru yang
diperluas atau diperbaiki? Di mana letak masalahnya dan siapa yang dipengaruhi?
2. Intervensi apakah yang dapat dilaksanakan dan akan me-ngurangi masalah secara
signifikan?
3. Target populasi yang seperti apakah yang patut dalam intervensi tertentu?
6. Apakah efektif?
Evaluasi ialah penilaian sistematis atas suatu program atau produk untuk menentukan
apakah hal itu mencapai yang diharapkan (Yount, 1990:7). Rossi dan Freeman (1993:5)
mem-beri batasan penelitian evaluasi sebagai penerapan sistematis dari prosedur riset
sosial untuk memeriksa pengonsepan, perancangan, pelaksanaan, dan penggunaan
program-program intervensi sosial. Dengan kata lain, peneliti evaluasi (evaluator)
memakai metode sosial untuk penelitian menilai dan meningkatkan cara-cara kebijakan
dan program pelayanan sosial yang dijalankan dari tahap awal, ketika program
ditentukan dan dirancang, sampai dengan pengembangan dan pelaksanaannya.
Tiga kelompok besar evaluasi menurut Rossi dan Freeman (1993:55) adalah sebagai
berikut.
Langkah-langkah penelitian evaluasi menurut Borg dan Gall (1989:744 dst.) adalah
sebagai berikut.
3. Memutuskan apa yang akan dievaluasi, misalnya ciri-ciri program yang jelas, arah atau
sasaran program, sumber daya, prosedur, dan manajemen program.
4. Menetapkan pertanyaan evaluasi. Hal itu dapat dilakukan dua tahap. Pertama,
membuat daftar pertanyaan, masalah, keprihatinan, dan keperluan informasi yang
dapat dihadapi dalam evaluasi selengkap mungkin. Kedua, mengurangi pertanyaan
sampai dengan jumlah yang dapat dikelola.
6. Mengumpulkan dan menganalisis data evaluasi. Alat, prosedur, dan teknik yang
dipakai dalam penelitian, yang dijelaskan sebelumnya, dapat dipilih sesuai dengan data
yang terkumpul.
7. Melaporkan hasil evaluasi, yaitu skripsi, tesis, disertasi, atau laporan teknis. Versi yang
lebih singkat dapat dibuat untuk disajikan sebagai makalah dalam pertemuan
profesional atau diterbitkan sebagai artikel jurnal.
Batasan
Penelitian dan pengembangan ialah penerapan metode ilmiah untuk menciptakan
sesuatu yang baru, yaitu suatu proses yang mencipta berulang dan dimulai dari
penetapan tujuan dan mutu produk. Sételah produk dipakai, penilaian dilakukan. Jika
belüm-sesuai dengan sasaran, diperbaiki, dipakai lagi, dan dinilai lagi sampai mencapai
hasil yang memuaskan.
1. Mempelajari penemuan riset yang relevan bagi produk yang akan dikembangkan.
Langkah tersebut bukan hanya berupa tinjauan pustaka, melainkan meliputi
pemeriksaan keperluan, bahkan riset kecil-kecilan jika penemuan yang relevan belum
ada.
3. Melakukan uji lapangan terhadap produk itu. Setelah dikembang-kan secara penuh,
penting sekali melakukan uji coba di lingkungan yang sesuai dengan tempat produk itu
nantinya akan dipakai.
4. Memperbaiki produk dengan membetulkan kekurangan yang dijumpai pada tahap uji
coba lapangan.
Dalam penelitian dan pengembangan yang lebih ketat, siklus tersebut diulangi sampai
data uji coba coba lapangan menyatakan bahwa produk mencapai tujuan khusus yang
telah ditetapkan.