PROGRAM TEACHING FACTORY MPLB
SMKS PGRI 3 BLITAR
TAHUN PELAJARAN 2024 / 2025
TAHUN PELAJARAN
2024/2025
YAYASAN PEMBINA LEMBAGA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA JAWA TIMUR
(YPLP DASMEN PGRI JAWA TIMUR)
SMK PGRI 3 BLITAR
Jl. Tanjung No. 113 b Telp./ Fax. ( 0342 ) 806306 - 809322 Blitar
e-mail : smkpgri3kotablitar@[Link]
PROGRAM TEACHING FACTORY MPLB
SMKS PGRI 3 BLITAR
I. Profil
A. Deskripsi Umum Teaching Factory
Nama Unit Kerja: Teaching Factory
Tanggal Berdiri: 5 Februari 2025
Alamat Unit Kerja: Jl. Tanjung No 113 B
Produk: Jasa Pengetikan, fotocopy dan penjilidan
B. Riwayat Unit Kerja
Teaching Factory merupakan perpaduan dari pada konsep pembelajaran berbasis kompetensi
dan berbasis pelayanan ( produk/jasa) yang dibentuk pada tanggal 5 Februari 2025.
C. Visi dan Misi Tefa MPLB
1. Visi
“Menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi standar nasional dan berakhlak terpuji”
2. Misi
“Menyelenggarakan Pendidikan dan pelatihan dengan prinsip kemampuan dan
profesionalisme melalui optimalisasi kerja sama industri dalam rangka meningkatkan mutu
serta daya saing lulusan”
D. Jenis Usaha yang Dikelola
Teaching Factory SMKS PGRI 3 BLITAR bergerak di bidang jasa, yaitu Pengetikan,
fotocopy dan penjilidan. Kami memilih usaha di bidang ini karena berdasarkan dengan
bidang manajemen perkantoran yang ada di SMKS PGRI 3 BLITAR
Kegiatan Pasar dan Pemasaran
A. Lingkungan Usaha
Di SMKS PGRI 3 BLITAR jenis usaha dibidang jasa memiliki peluang yang sangat
menjanjikan, karena jasa pengetikan, fotocopi dan penjilidan adalah kebutuhan dari anak usia
sekolah, mahasiswa bahkan masyarakat umum,. Oleh karena itu kami bertekad
mengembangkan usaha jasa pelayanan pengetikan, fotocopi dan penjilidan karena ditunjang
dari banyaknya peluang dalam mengembangkan jenis usaha ini.
Gambar 1. Siswa sedang memproses dokumen untuk dicetak
B. Kondisi Pasar
Jika melihat kompetitor-kompetitor yang bergerak dibidang usaha yang sama,
memang sudah cukup banyak. Tetapi, kami menyiasatinya dengan inovasi berbeda dari
produk-produk yang sudah ada. Yaitu, dengan inovasi senyum, salam, sapa, sopan, santun,
cepat, tepat, harga yang ekonomis,. Dengan ini, kami yakin Tefa yang kami miliki mampu
bersaing dipasaran.
C. Rencana Pemasaran
Dengan usaha jasa yang sudah memiliki pelanggan tetap, dari lingkungan sekolah
sendiri maka kami akan menambah pemasarannya dengan membuat brosur untuk
menyebarkan informasi yang akan keberadaan Tefa MPLB , sehingga akan ada banyak yang
membantu untuk mengembangkan usaha ini,.
III. Aspek Produksi
A. Alokasi Usaha
Teaching Factory SMKS PGRI 3 BLITAR berlokasi di Jl. Tanjung No. 113 B
Kelurahan Pakunden Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Dengan daerah pemasaran yaitu
disekitar sekolah dan diluar sekolah yang dekat dengan lokasi usaha tersebut.
B. Proses Waktu Kegiatan Teaching Factory
Dalam melakukan pekerjaan dilakukan dengan rincian sebagai berikut:
Hari : Senin – Kamis
Waktu : 07:00 – 15:00 WIB
Hari : Jumat
Waktu : 07:00 – 13.30 WIB
IV. Latar Belakang Teaching Factory SMKS PGRI 3 BLITAR
Saat ini pendidikan kejuruan sedang dihadapkan pada pemasalahan yang serius yaitu
belum terserapnya secara optimal lulusan sekolah menengah kejuruan oleh dunia usaha dan
dunia industri. Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 Bab 2 pasal 3 sudah diamanatkan
bahwa : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Merujuk pada fungsi pendidikan diatas, maka peningkatan kualitas sumber daya
manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan
zaman yang semakin global. Demikian juga halnya dengan pendidikan di Kota Blitar yang
masih perlu pembenahan. Pendidikan merupakan ujung tombak dalam peningkatan kualitas
sumber daya manusia, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan (Pemerintah
Daerah, Orang Tua, Masyarakat dan Instansi Pendidikan / sekolah) harus berperan aktif
dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan tersebut harus
terprogram dan melalui jalur yang tepat agar yang dihasilkan benar – benar bermutu dan
kompeten serta bisa bersaing dalam dunia global.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa SMK adalah lembaga pendidikan yang
berfungsi sebagai lembaga pencetak tenaga terampil dan kompeten dibidangnya harus bisa
selaras dengan kebutuhan dunia industri untuk bisa bersaing. Oleh karena itu peningkatkan
sumber daya manusia (skill / keahlian) harus menjadi prioritas utama dalam rangka
meningkatkan kualitas lulusannya.
Rendahnya kualitas lulusan sekolah kejuruan di Kota Blitar dapat berakibat produktifitas
tenaga kerja terampil di dunia industri semakin terpuruk. Kepercayaan dunia industri semakin
berkurang sehingga lulusan yang terserap juga sedikit. Faktor-faktor penyebabnya adalah :
1. Kurikulum yang terus berubah menyebabkan kondisi di lembaga pengelola
pendidikan kejuruan semakin terbebani;
2. Belum adanya sumber pembiayaan yang memadai sehingga kebutuhan proses
pendidikan di sekolah tidak maksimal;
3. Kurangnya kepedulian baik pemda, guru, orang maupun masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan.
Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat berakibat lembaga pendidikan kejuruan
tidak siap dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Seharusnya Sebagai lembaga
pendidikan yang mendidik calon tenaga kerja, keunggulan yang dikembangkan oleh sekolah
menengah kejuruan diutamakan pada keunggulan skill Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk
mencapai hal tersebut SMK harus memprioritaskan pengembangan sistem pendidikan yang
berorientasi pada peningkatan tamatan yang benar-benar profesional, memiliki etos kerja,
disiplin dan tetap menjunjung tinggi serta berakar pada budaya bangsa.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, maka pendidikan yang paling sesuai
untuk meningkatkan hal tersebut adalah pendidikan yang berorentasi pada dunia industri
dengan penekanan pada pendekatan pembelajaran dan didukung oleh kurikulum yang sesuai
dengan kebutuhan industri. Dunia industri yang merupakan sasaran dari proses dan hasil
pembelajaran sekolah menengah kejuruan mempunyai karakter dan nuansa tersendiri. Oleh
karena itu lembaga pendidikan kejuruan dalam proses pembelajaran harus bisa membuat
pendekatan pembelajaraan yang tepat dan sesuai dengan keinginan dunia industri. Salah satu
model pendidikan yang cocok adalah dengan menerapkan teaching factory dalam proses
belajar di SMK.
Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya,
sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan
pengetahuan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif
merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa
dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. (Brosur IGI, 2007).
Program Teaching Factory (TEFA) merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah
ada yaitu Competency Based Training (CBT) dan Production Based Training (PBT), dalam
pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan
dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk
menghasilkan produk barang atau yang sesuai dengan tuntutan pasar/ konsumen.
Dalam pengertian sederhana teaching factory adalah pembelajaran berorientasi bisnis
dan produksi. Proses penerapan program teaching factory adalah dengan memadukan konsep
bisnis dan pendidikan kejuruan sesuai dengan kompetensi keahlian yang relevan, misalnya :
pada kompetensi manajemen perkantoran melalui kegiatan pengetikan, penjilidan dan
fotocopy maka proses pelayanannya dikerjakan oleh peserta didik.
Program Teaching Factory merupakan langkah positif yang ditawarkan pihak SMK
PGRI 3 BLITAR kepada siswa dan orang tua murid guna mengembangkan jiwa enterpreneur,
dengan harapan tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK) mampu menjadi aset daerah dan
bukan menjadi beban daerah Kota Blitar.
Teaching factory merupakan suatu konsep pembelajaran pada tingkat yang
sesungguhnya, untuk itu ada beberapa elemen penting dalam teaching factory yang perlu
dikembangkan yaitu :
1) Standar Kompetensi
Standar kompetensi yang digunakan dalam pelaksanaan teaching factory adalah
kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia industri. Dengan pengajaran yang
berbasis kompetensi pada industri diharapkan siswa siap menghadapi tuntutan kebutuhan
dunia industri.
2) Peserta didik
Penggolongan peserta didik / siswa dalam proses teaching factory adalah berdasarkan
kualitas akademis dan bakat/minat. Siswa dengan kualitas yang seimbang antara akademis
dan ketrampilan bakat/minat memperoleh presentase yang besar untuk masuk dalam program
ini. Siswa yang kurang dalam dua hal tersebut direkomendasikan untuk mengambil bagian
yang termudah.
3) Media belajar
Media pembelajaran yang digunakan dalam proses teaching factory menggunakan
pekerjaan produksi sebagai media untuk proses pembelajaran. Pekerjaan Produksi dapat
berupa industrial order atau standard products. Produk ini harus dipahami terlebih dahulu
oleh instruktur sebagai media untuk pengembangan kompetensi melalui fungsi produk,
dimensi, toleransi, dan waktu penyelesaian.
4) Perlengkapan dan Peralatan (Toolkit)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Pemeliharaan perlengkapan dan peralatan yang maksimal;
2. Investasi untuk kegiatan teaching factory;
3. Manfaatkan untuk memfasilitasi pengembangan kompetensi siswa bersamaan dengan
penyelesaian pekerjan “Production” pada tingkat kualitas terbaik;
4. Pengawasan atas peralatan dan perlengapan yang sudah tidak efektif untuk kecepatan
dan ketelitian proses produksi.
5) Instruktur/Pengajar
Instruktur / pengajar adalah mereka yang memiliki kualifikasi akademis dan juga
memiliki pengalaman industri. Dengan demikian mereka mampu mentransformasikan
pengetahuan dan “know how” sekaligus men”supervisi” proses untuk dapat menyajikan
“finished products on time”.
6) Penilaian Prestasi Belajar
Dalam penilaian prestasi belajar, teaching factory menilai siswa yang berkompeten
melalui “penyelesaian produk/jasa”. Standar penilaian yang digunakan harus mengacu
kepada keinginan konsumen.
Berkenaan dengan teaching factory, SMK PGRI 3 BLITAR bersedia bekerjasama
dengan SMK-SMK baik negeri maupun swasta di Kota Blitar yang berkeinginan
mengembangkan teaching factory dalam proses pembelajaran di SMK, semoga melalui
teaching factory ini dapat memberikan bekal siswa SMK supaya mereka dapat menjadi SDM
yang berkompeten dalam bidangnya dan pada akhirnya “alumni SMK” dapat terserap oleh
dunia usaha dan indus