Pendidikan Karakter di MTsN 5 Pasaman
Pendidikan Karakter di MTsN 5 Pasaman
Proposal Penelitian
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ([Link]) Pada
Program Studi Tadris IPS
Hanifa Patihardani
NIM. 2014090032
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kurniaNya
sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Implementasi
Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah Pada Pembelajaran IPS Kelas VIII
Di MTsN 5 Pasaman”, sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan penelitian
dalam rangka penulisan skripsi pada program sarjana Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN IB.
Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih banyak
terdapat kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati peneliti
mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun dari berbagai
pihak. Semua masukan tersebut akan peneliti jadikan motivasi untuk berkarya
lebih baik lagi di masa yang akan datang. Setiap jerih payah dan do’a yang kita
lakukan pasti akan membuahkan hasil, jika kita sadar akan nikmat Allah untuk
setiap makhluk-Nya. Akhirnya hanya kepada Allah SWT saya memohon ampun
dan memanjatkan do’a semoga diberi limpahan rahmat, hidayah, dan murah
rezeki serta memberi kemudahan bagi kita dalam melaksanakan semua kebaikan
dan amal saleh. Aamiin.
Wassalamu’alaikum WarahmatullahiWabarakatuh.
Hanifa Patihardani
2014090032
i
OUTLINE
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Identifikasi Masalah
C. Fokus dan Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Penelitian Relevan
C. Kerangka Berfikir
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Sumber Data
D. Instrumen Penelitian Data
E. Tekhnik Penelitian Data
F. Tekhnik Pengumpulan Data
G. Tekhnik Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan yang
diperlukan dirinya. Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga,
masyarakat melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang
berlangsung di dalam dan luar sekolah untuk mempersiapkan peserta didik agar
dapat memainkan peranan yang memiliki budi pekerti (karakter) dalam berbagai
lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan budi pekerti
yang diajarkan merefleksikan prioritas betapa pentingnya pendidikan karakter
yang merujuk kepada budi pekerti bagi setiap peserta didik.
Pendidikan karakter merupakan salah satu bentuk perwujudan hasil
Program Nasional yang diselenggarakan oleh Kemendiknas pada tanggal 14
Januari 2020 tentang “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” sebagai gerakan
nasional. Pembangunan karakter bangsa yang sudah diupayakan dengan berbagai
bentuk, sehingga saat ini belum optimal. Hal itu tercemin dari kesengajaan sosial,
ekonomi, dan politik yang masih besar, kerusakan lingkungan yang terjadi di
berbagai seluruh pelosok negeri, masih terjadinya ketidakadilan hukum, pergaulan
bebas dan pornografi yang terjadi dikalangan remaja. Memperlihatkan situasi dan
kondisi karakter bangsa yang memprihatinkan tersebut. Pembangunan karakter
bangsa seharusnya menjadi yang paling utama pada pembangunan nasioanl,
artinya setiap upaya pembangunan harus selalu dipikirkan dan dampaknya
terhadap pengembangan karakter (Sakiyat, 2020).
Dasar pelaksanaan pendidikan karakter mengacu pada Pancasila dan
Undang – Undang Dasar 1945 pasar 31 ayat 3 menyatakan “Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdasakan kehidupan bangsa, yang diatur dalam dengan Undang – Undang”.
1
Operasional pendidikan karakter perlu adanya rujukan kebijakan nasional,
sebagaimana yang tertulis dalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 yaitu
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakn
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pembangunan karakter adalah tujuan penting dalam pendidikan nasional,
walaupun memerlukan proses yang panjang dan pengaturan yang cerdas serta
keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Pada masa globalisasi yang bercirikan
persaingan bebas dan keunggulan serta didukung oleh teknologi informasi modern
ternyata memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan dalam pembangunan
karakter bangsa. Maraknya penyimpangan sosial merupakan salah satu masalah
sosial di Indonesia. Penyimpangan sosial terjadi di kalangan masyarakat umum
dan siswa. Berdasarkan teori fungsi dari Emile Durkeim faktor terjadinya
penyimpangan sosial antara lain faktor lingkungan dan fisik. Contoh
penyimpangan sosial dikalangan siswa antara lain menyontek, berbohong,
membolos, terlambat sekolah, tawuran antar pelajar, merokok. Penyimpangan
sosial membawa dampak negatif bagi siswa, keluarga, sekolah maupun
masyarakat.
Generasi muda Indonesia yang saat ini terindikasi kemerosostan karakter.
Maraknya fenomena penyimpangan perilaku remaja, didominasi oleh pelajar. Hal
ini membuktikan minimnya implementasi nilai religius yaitu keimanan dan pada
tuntutan agama serta rusaknya lingkungan sosial di kalangan pelajar. Dalam
proses perkembangannya, karakter seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
faktor lingkungan dan faktor bawaan. Secara psikologis perilaku karakter
merupakan perwujudan dari potensi Inteligence Quotient (IQ), Emotional
Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ) dan Adverse Quotient (SQ) yang dimiliki
seseorang. Kalau secara definisi karakter adalah sifat alami seseorang dalam
merespon situasi secara bermoral, sifatnya jiwa manusia, cara berfikir dan
2
berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu baik dalam lingkungan keluarga,
maupun masyarakat.
Pendidikan karakter adalah suatu gerakan nasional yang berguna untuk
menciptakan suatu lingkungan sekolah yang mana mendidik generasi muda yang
berteika dan berkhlaqul karimah dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter
merupakan suatu usaha dimana menanmkan kebiasaan – kebiasaan yang baik pula
sehingga peserta didik mampu bertindak dan bersikap sesuai dengan nilai – nilai
yang telah melekat pada kepribadiannya (Safitri, 2015). Pendidikan karakter tidak
bisa hanya diajarkan melalui proses kegiatan belajar mengajar formal di dalam
kelas saja, karena pada hakikatnya pendidikan karakter adalah pendidikan yang
berbasis kegiatan. Ketika kita hanya menjelaskan pendidikan karakter di dalam
kelas sebatas teori dan ruang lingkup, maka karakter tidak akan banyak berubah,
maka perlu disadari bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang bisa
menyentuh peserta didik, dari mengenal, kemudian peserta didik yakin akan
kebenaran dan setelah mereka yakin yang perlu dilakukan adalah melakukan
perubahan dalam bertindak. Oleh karena itu pendidikan karakter bukan terletak
pada materi pembelajaran melainkan pada aktivitas yang melekat, mengiringi agar
bisa mengubah pola tingkah laku seseorang.
Dalam konteks pendidikan karakter, kultur sekolah memiliki kontribusi
besar untuk membentuk karakter peserta didik, karena kultur sekolah memiliki
peran penting dalam membangun karakter sebab di dalamnya terdapat kreasi
bersama yang dapat di pelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan – kesulitan
yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, dan mandiri.
Kultur sekolah adalah sekumpulan norma, nilai dan tradisi yang telah dibangun
dalam waktu yang lama oleh semua warga sekolah dan mengarah ke seluruh
aktivitas personal sekolah (Daryanto, 2015). Sekolah dipandang sebagai sebuah
miniatur masyarakat, artinya apa yang ada di masyarakat harus sesuai dengan apa
yang ada disekolah. Perspektif sekolah sebagai miniatur masyarakat ini memiliki
implikasi bahwasannya peserta didik dipandang sebagai suatu individu yang
memiliki karakteristik yang terwujud dalam bakat dan minat serta aspirasi yang
dimiliki hak peserta didik. Pada level sekolah dengan adanya berbagai perbedaan
3
yang dimiliki masing – masing individu maka sekolah harus memperhatikan
setiap peserta didik memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda – beda,
kebutuhan vokasi dan karier, serta kebutuhan psikologi dan perkembangan moral
spiritual (Arifin, 2012).
Perlu diketahui bahwa bahwasannya salah satu lingkup pendidikan
karakter adalah kultur sekolah. Kultur sekolah yang sudah dibangun merupakan
salah satu usaha dalam menanamkan nilai – nilai karakter semua warga negara di
sekolah. Kultur sekolah yang baik tentu akan berpengaruh pada peserta didik
kearah yang baik juga, sebaliknya apabila suatu sekolah memiliki kultur sekolah
yang buruk maka akan berdampak pada siswa yang mengarah kepada keburukan
juga.
Permasalahan yang ditunjukkan di MTsN 5 Pasaman adalah pelaksanaan
pendidikan karakter belum optimal dan dilakukan belum baik dari segi
perencanaan, dan pelaksanaannya. Pada pembelajaran IPS dengan Kurikulum
2013, guru sudah berusaha mengoptimalkan pendekatan saintifik. Dalam kegiatan
pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi, guru menjelaskan materi
pembelajaran kemudian menugaskan siswa untuk berkelompok dan mengerjakan
soal. Setelah mengerjakan soal yang sesuai dengan materi yang telah dijelaskan
siswa ditugaskan untuk mempresentasikan hasil. Pada saat presentasi ada siswa
yang mendominasi tetapi ada juga siswa yang kurang termotivasi dalam
pembelajaran sehingga proses pembelajaran tersebut menyebabkan tidak semua
siswa dapat menggunakan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik dalam
proses pembelajaran.
Masalah pendidikan karakter yang ada di MTsN 5 Pasaman adalah ketika
kegiatan pembelajaran berlangsung sebagian siswa memiliki rasa percaya diri
yang rendah, sebagian siswa pasif dalam proses pembelajaran dikelas. Selain itu
adanya kurang rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Dari latar belakang
masalah tersebut penting untuk diteliti implementasi pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah pada MTsN 5 Pasaman, sehingga peneliti menggunakan judul
penelitian “Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah Pada
Pembelajaran IPS Kelas VIII Di MTsN 5 Pasaman”.
4
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan terkait
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ketika proses pembelajaran berlangsung siswa kurang termotivasi
dalam pembelajaran sehingga tidak semua siswa menggunakan
kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.
2. Adanya sebagian siswa yang memiliki rasa percaya diri yang rendah,
sebagian siswa pasif dalam proses pembelajaran di kelas.
3. Adanya kurang kepedulian terhadap lingkungan sekitar sekolah.
C. Fokus dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya,
maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah pada kegiatan pembelajaran yang
dilakukan guru dan siswa melalui pembelajaran IPS sebagai langkah untuk
mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah pada
pembelajaran IPS di MTsN 5 Pasaman.
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya,
maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana langkah – langkah implementasi pendidikan karakter
berbasis kultur sekolah pada pembelajaran IPS kelas VIII di MTsN 5
Pasaman?
2. Apa saja kendala dalam implementasi pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah pada pembelajaran IPS kelas VIII di MTsN 5 Pasaman?
3. Bagaimana solusi dalam implementasi pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah pada pembelajaran IPS kelas VIII di MTsN 5 Pasaman?
D. Tujuan Penelitian
Dapat diketahui bahwasannya tujuan dari adanya penelitian ini sebagai
berikut:
1. Untuk meningkatkan implementasi pendidikan karakter berbasis kultur
sekolah pada pembelajaran IPS kelas VIII di MTsN 5 Pasaman.
5
2. Untuk mengetahui upaya pencegahan dalam implementasi pendidikan
karakter berbasis kultur sekolah pada pembelajaran IPS kelas VIII di
MTsN 5 Pasaman.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya:
1. Secara Teoritis
Secara teori maka hasil pada kegiatan penelitian ini diharapkan
mampu memperluas dan memperdalam pengetahuan pada
implementasi pendidikan karakter berbasis kultur sekolah yang telah
dibudayakan suatu lembaga pendidikan dalam pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial.
2. Secara Praktis
a. Bagi peserta didik
Penelitian ini diharapkan dapat menerapkan pendidikan
karakter siswa yang bisa diamalkan dan diterapkan dalam
kehidupan sehari – hari.
b. Bagi guru
Sebagai upaya dalam penanaman dan meningkatkan
pendidikan karakter siswa berbasis kultur sekolah terlebih dalam
pembelajaran IPS supaya peserta didik mampu menerapkannya di
ruang lingkup sosial masyarakat.
c. Bagi sekolah
Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa meningkatkan
kualitas sekolah peserta didik dalam pandangan dunia luar baik itu
di masyarakat dan sekitarnya melalui implementasi pendidikan
karakter siswa yang baik dan kultur sekolah yang baik juga.
d. Bagi penulis
Dapat menambahkan wawasan dan pengalaman penulis
dalam pengembangan karakter siswa dan menjadi acuan untuk
mengembangkan penelitian berikutnya.
6
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Pendidikan Karakter
a. Pengertian Pendidikan Karakter
Kata karakter menurut kamus besar Bahasa Indonesia
(2008) berarti sifat – sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain. Sedangkan karakter
menurut pusat bahasa depdiknas memiliki makna bahwa hati, jiwa
kepribadian budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat,
temperamen, watak. Adapun makna berkarakter adalah
berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Jadi
dapat dikatakan bahwa individu yang berkarakter baik adalah
seseorang yang berusaha melakukan hal – hal terbaik (Ayafri, 2012)
Pendidikan karakter adalah suatu istilah yang luas yang
digunakan untuk menggambarkan kurikulum dan ciri – ciri
organisasi sekolah yang mendorong pengembangan nilai – nilai
fundamental anak – anak disekolah. Dikatakan istilah yang luas
karena mencakup berbagai sub komponen yang menjadi bagian
dari program pendidikan karakter seperti pembelajaran dan
kurikulum tentang keterampilan sosial, pengembangan moral,
pendidikan nilai, pembinaan kepedulian, dan berbagai program
pengembangan sekolah yang mencerminkan beraktivitas yang
mengarah pada pendidikan karakter (Yaumi, 2016)
Karakter merupakan nilai kebaikan dalam bentuk tingkah
laku yang memancar dari dalam diri seseorang (Zubaedi, 2018),
artinya kebiasaan yang baik tersebut dilakukan bukan atas
permintaan atau tekanan dari orang lain, melainkan atas kesadaran
dan kemauan sendiri. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha
untuk mendidik anak – anak agar dapat mengambil keputusan
dengan bijak dan mempraktikan dalam kehidupan sehari – hari
7
sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif kepada
masyarakat. Definisi lain dari pendidikan karakter adalah sebuah
proses transformasi nilai – nilai kehidupan untuk dikembangkan
dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam
kehidupan seseorang (Wiyani, 2012).
Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 pasal 2 ayat 2,
masing – masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri,
melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara
dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Kelima nilai karakter
tersebut antara lain:
1. Religius, mencerminkan beriman kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
2. Nasionalis, menempatkan kepentingan bangsa dan negara
diatas kepentingan diri dan kelompok.
3. Integritas, upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu
dapat dipercaya dalam perkataan dan tindakan.
4. Mandiri, tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan
tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan.
5. Gotong royong, mencerminkan tindakan menghargai semangat
kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan
bersama.
b. Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan bertujuan membentuk dan membangun pola
pikir, sikap dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang
positif yang berakhlak karimah, berjiwa luhur dan bertanggung
jawab. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter adalah
usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk peserta didik
menjadi pribadi yang positif dan berakhlak karimah sesuai dengan
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sehingga dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari (Fitri, 2012).
8
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Menurut Perpres (Peraturan Presiden) nomor 87 tahun 2017
pasal 2 tujuan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) antara lain:
1. Membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi
emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan
pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika
perubahan di masa depan.
2. Mengembangkan platform pendidikan nasional yang
meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam
penyelenggaraan. Pendidikan bagi peserta didik dengan
dukungan yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, non
formal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman
budaya Indonesia.
3. Merevitalisasi dan memperkuat potensi serta kompetensi
pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan
lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan penguatan
pendidikan karakter.
Tujuan pendidikan karakter menurut (Sofyan, 2015) meliputi:
1. Mendorong kebiasaan perilaku yang terpuji sejalan dengan
nilai – nilai universal, tradisi budaya, kesepakatan sosial dan
religius agama.
2. Menanamkan jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab
sebagaai penerus bangsa.
3. Memupuk ketegaran dan kepekaan mental peserta didik
terhadap situasi sekitarnya sehingga tidak terjerumus kepada
9
perilaku yang menyimpang baik secara individual maupun
sosial.
4. Meningkatkan kemampuan menghindari sifat tercela yang
dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
5. Memahami dan menghayati nilai – nilai yang relevan bagi
pertumbuhan dan penghargaan harkat daan martabat manusia.
Selain itu tujuan pertama pendidikan karakter adalah
memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai – nilai tertentu
sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah
maupun setelah proses sekolah. Pengetahuan dan pengembangan
memiliki makna bahwa pendidikan dalam lokasi sekolah bukanlah
suatu nilai kepada peserta didik untuk memahami dan merefleksi
bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam
perilaku keseharian manusia, termasuk bagi anak. Penguatan juga
mengarahkan proses pendidikan pada proses pembiasaan yang
disertai oleh logika dan refleksi terhadap proses dan dampak dari
proses pembiasaan yang dilakukan oleh sekolah baik dalam setting
kelas maupun sekolah. Penguatan memiliki makna adanya
hubungan antara penguatan perilaku melalui pembiasaan
(Gunawan, 2012).
c. Unsur – unsur Pendidikan Karakter
Sikap seseorang akan dilihat orang lain dan sikap itu akan
membuat orang lain menilai bagaimanakah karakter orang tersebut,
demikian juga halnya emosi, kemauan, kepercayaan, kebiasaan dan
juga konsep diri.
1. Sikap
2. Emosi
3. Kepercayaan
4. Kebiasaan dan Kemauan
5. Konsep diri
10
d. Jenis – jenis Pendidikan Karakter
Ada empat jenis karakter yang selama ini dikenal dan
dilaksanakan dalam proses pendidikan yaitu:
1. Pendidikan karakter berbasis nilai religius yang merupakan
kebenaran wahyu Tuhan.
2. Pendidikan karakter berbasis nilai budaya antara lain yang
berupa budi pekerti, Pancasila, keteladanan tokoh – tokoh
sejarah dan para pemimpin bangsa.
3. Pendidikan karakter berbasis lingkungan.
4. Pendidikan karakter berbasis potensi diri yaitu sikap pribadi,
hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang
diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Khan,
2010).
e. Nilai – nilai Pendidikan Karakter
Pada dasarnya, pendidikan karakter merupakan suatu usaha
yang mana digunakan untuk menanamkan kebiasaan – kebiasaan
yang baik kepada para peserta didik di sekolah sehingga peserta
didik mampu bersikap dan memiliki sikap yang mana bergantung
sesuai dengan nilai – nilai yang mana telah menjadi kepribadinnya.
Di Indonesia memiliki nilai – nilai karakter yang dikembangkan
khususnya di sekolah yang mana nilai – nilai tersebut bersumber
dari agama, Pancasila, budaya dan juga sesuai dengan tujuan
pendidikan. Adapun nilai – nilai karakter yang dikembangkan di
Indonesia yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras,
kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikasi,
cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan peduli sosial
(Armin, 2015).
f. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Karakter
Menurut (Gunawan, 2014)terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi karakter, akhlak, moral, budi pekerti dan etika
11
manusia. Dari sekian banyak faktor tersebut, para ahli
menggolongkan ke dalam dua bagian yaitu faktor pendukung dan
faktor penghambat.
1. Faktor Pendukung
a. Insting atau naluri
Insting adalah suatu sifat yang dapat menemukan
perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berfikir
lebih dahulu kea rah tujuan dan tidak di dahului latihan
perbuatan itu. Naluri merupakan sifat yang dibawa sejak
lahir yang merupakan suatu bawaan.
b. Kebiasaan
Salah satu faktor penting dalam tingkah laku
manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang
menjadi akhlak (karakter) sangat erat sekali dengan
kebiasaan yang merupakan perbuatan yang di ulang – ulang
sehingga mudah dikerjakan.
c. Kehendak atau kemauan
Kemauan adalah kemampuan untuk melangsungkan
segala ide yang disertai dengan berbagai rintangan. Salah
satu yang mendorong manusia dengan berperilaku yang
baik atau buruk.
d. Suara batin atau suara hati
Suara batin berfungsi memperingati bahanya
perbuatan buruk dan berusaha untuk mencegahnya,
disamping dorongan untuk melakukan perbuatan baik.
e. Keturunan
Keturunan merupakan suatu faktor yang dapat
mempengaruhi perbuatan manusia. Kehidupan dapat
melihat anak – anak yang berperilaku menyerupai orang
tuanya. Sifat yang diturunkan secara garis besarnya ada dua
sebagai berikut:
12
1. Sifat jasmaniah, yaitu fisik orang tua yang dapat
diwariskan kepada anaknya.
2. Sifat Rohaniyah, yaitu lemah dan kuatnya naluri yang
diturunkan oleh orang tuanya yang kelak
mempengaruhi perilaku anaknya.
2. Faktor Penghambat Penanaman Pendidikan Karakter
Dalam penanaman pendidikan karakter tentunya memiliki
faktor penghambat yang mana mampu menghambat dalam
mewujudkan suatu perencanaan. Begitupun dengan perwujudan
pendidikan karakter, tentunya juga memiliki beberapa faktor
penghambat dalam pelaksanaannya karena banyak pula pihak yang
ada di suatu lembaga pendidikan sehingga hal tersebut menjadi
salah satu faktor penghambat dalam menerapkan pendidikan
karakter di sekolah. Menurut (Sofia, 2019) ada beberapa faktor
penghambat dalam menanamkan ataupun mewujudkan pendidikan
karakter di sekolah meliputi:
1. Anak itu sendiri
2. Sikap pendidik
3. Lingkungan
2. Kultur Sekolah
a. Pengertian Kultur Sekolah
Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks
persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan
kultur organisasi pendidikan. Banyak pakar budaya sekolah
mendefinisikan kultur sekolah sebagai tradisi bagaimana kepala
sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar,
dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang
tumbuh dan berkembang sesuai dengan tekad dan nilai – nilai yang
ada disekolah. Kultur sekolah (school culture) merupakan faktor
esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang penuh
13
optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif dan kecakapan
dalam bidang akademik (Roemintoyo, 2013).
b. Jenis – jenis Kultur Sekolah
Menciptakan suatu lingkungan yang mendukung dan
menjamin semua warga sekolah mampu merasakan nyaman ketika
berada didalamnya dan juga penataan sekolah yang membantu
setiap siswa untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam mengatasi
tantangan – tantangan akademiknya. Salah satu tujuan dari sekolah
adalah untuk membantu siswa dalam mengatasi sebuah tantangan
standar akademik yang dimilikinya. Dalam hal tersebut tentunya
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Pimpinan sekolah mengarahkan perhatiannya pada
pembelajaran siswa dan dapat melatih semua guru serta
karyawan yang mampu menjamin bahwa semua siswa dapat
mencapai standar – standar yang ditentukan.
2. Semua guru memiliki komitmen untuk membantu siswa
mencapai standar – standar yang telah ditentukan.
3. Data – data yang ada disekolah dipakai untuk mengidentifikasi
setiap kekuatan dan kelemahan akademik siswa dengan
berdasarkan pada strategi setuap kemajuan belajar siswa.
4. Mendukung dan melatih guru – guru sehingga mereka dapat
membimbing setiap siswa dan membantu mereka untuk
mencapai tingkat yang tinggi.
Adapun unsur – unsur yang terdapat dalam kultur sekolah
sebagai berikut:
1. Koneksi perseorangan
Sekolah memberikan ruang bagi berlangsungnya koneksi
personal di dalam sekolah dan memperluas hubungan dengan
keluarga siswa sehingga hubungan akan terjalin dengan luas
dan akan mampu memberikan sebuah komitmen yang sangat
kuat.
14
2. Harapan yang tinggi
Pencapaian tingkat keberhasilan akademik dicatat oleh
sekolah – sekolah hal tersebut berarti bahwa sekolah harus
melakukan guna meningkatkan kualitas pada lembaga
pendidikan tersebut. Harapan yang tinggi bukan hanya sebagai
omong kosong namun juga harus dibuktikan agar menjadi
tujuan dalam kultur sekolah yang tercapai dengan baik.
3. Strategi khusus
Sekolah – sekolah menggunakan strategi khusus yang
sesuai dengan keadaan masing – masing siswa. Sekolah
diharapkan mampu menganalisis data dan juga saling bekerja
sama. Proses tersebut dilakukan dengan menjadikan keluarga
sebagai mitra untuk menentukan pembeljaran.
c. Langkah – langkah Membangun Kultur Sekolah
Dalam membentuk ataupun membaangun kultur sekolah
tentunya setiap lembaga sekolah memiliki suatu program tertentu
di dalamnya guna mensukseskan pelaksanaan dan mewujudkan
kultur sekolah. Dalam membangun dan melakukan perubahan pada
kultur sekolah tidak bisa dilakukan dengan hanya melalui slogan,
himbauan dan ceramah saja namun juga diperlukan tekad dan
komitmen yang sungguh – sungguh. Sebagaimana yang dijelaskan
oleh Zamroni, bahwasannya perlu adanya komitmen yang kuat
yang harus dilakukan secara konsisten dengan program – program
yang dlihat melalui langkah – langkah seperti:
1. Pengkondisian
2. Pembiasaan
3. Keteladanan dengan pendekatan struktural
4. Pendekatan struktural
Pendekatan struktural merupakan pendekatan yang
terstruktur yang dimana mampu dilakukan dengan membuat
kesepakatan yang dapat berupa dengan regulasi mencakup
15
peraturan, tata tertib yang bisa mengikat antara siswa, pendidik,
dan seluruh warga sekolah dengan program – program pembiasaan
yang sudah menjadi budaya di sekolah tersebut. Pendekatan
struktural dapat dilakukan dengan melalui interaksi dalam
menanamkan nilai – nilai, sikap dan juga perilaku pada setiap mata
pelajaran yang dapat dibuktikan dengan keteladanan ditunjukkan
oleh kepala sekolah, guru, dan semua staff yang ada pada suatu
sekolah (Zamroni, 2019).
3. Mata Pelajaran IPS
a. Pengertian Mata Pelajaran IPS
Dalam bidang pengetahuan sosial, dikenal beberapa istilah
yang sering kali ditemukan diantaranya adalah ilmu sosial, studi
sosial dan ilmu pengetahuan sosial. Maka dari itu perlu diberikan
batasan terhadap ketiga istilah tersebut. Menurut Eliana dan
Mardawani, secara sederhana IPS sebagai sebuah mata pelajaran
yang dipelajari pada waktu SD, SMP, bahkan SMA (Eliana, 2021).
Pada hakiktanya IPS adalah mata pelajaran wajib di tingkat
pendidikan dasar dan menengah yang memuat berbagai disiplin
ilmu sosial, karena dalam IPS memiliki konteks pengertian yang
tidak jauh berbeda dengan ilmu sosial sebab ilmu IPS adalah hasil
perpaduan berbagai konsep ilmu sosial tersebut. Mata pelajaran
IPS merupakan suatu bahan kajian yang terpadu berupa
penyederhanaan, adaptasi, modifikasi dari konsep keterampilan
sejarah, sosiologi, geografi, antropologi dan ekonomi. Berdasarkan
pengertian diatas, disimpulkan bahwa IPS adalah mata pelajaran
yang memuat disiplin ilmu – ilmu sosial yang saling berinteraksi
secara konseptual dan secara ilmiah serta psikologis untuk tujuan
pendidikan (Sapriya, 2009).
IPS adalah mata pelajaran atau bidang studi yang
merupakan perpaduan ilmu – ilmu sosial yang disusun berdasarkan
materi – materi yang sedehana, menarik, mudah dimengerti dan
16
dipelajari untuk tujuan sekolah. Latar belakang dimasukkannya IPS
pada kurikulum disekolah di Indonesia berbeda dari hal serupa di
Inggris dan Amerika. Ilmu Pengetahuan Sosial diartikan sebagai
upaya pembinaan baik dari segi pengetahuan maupun kemampuan
berfikir tingkat tinggi peserta didik yang diharapkan pada akhirnya
memiliki kesadaran tanggung jawab yang tinggi terhadap diri
sendiri dan lingkungannya.
17
2. Mempersiapkan mental positif dalam menghadapi berbagai
permasalahan dalam kehidupan.
3. Memberikan pengetahuan cara berinteraksi yang baik antar
individu dengan individu yang lainnya, kelompok dengan
kelompok yang berbeda maupun antar individu dengan
kelompok bermasyarakatnya.
4. Memberikan pengetahuan dan pengalaman cara bertindak
sesuai dengan perkembangan lingkungannya (menyesuaikan
dengan perkembangan zaman).
5. Memberikan pemahaman cara berkomunikasi yang baik
c. Hasil Belajar Pada Pembelajaran IPS
Menurut (Mudjiono, 2019) hasil belajar merupakan hasil
dari suatu interaksi tindakan dalam belajar dan tindakan dalam
kegiatan mengajar. Dari sisi guru, tindakan dalam mengajar
diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Sedangkan dari siswa,
hasil belajar merupakan suatu proses belajar dalam hal ini tentunya
antara peserta didik sama – sama memiliki sebuah target dalam
mencapai pembelajaran sehingga mampu mengetahui hasil dari
selama pembelajaran berlangsung.
Menurut (Sarjianto, 2019) bahwasannya hasil belajar
merupakan adanya suatu perubahan pada tingkah laku peserta didik
yang ada disekolah menyangkut pada aspek penilaian yakni aspek
yang menyangkut nilai dan juga sikap (afektif), perubahan yang
bersifat pengetahuan (kognitif), dan perubahan yang menyangkut
pada keterampilan peserta didik (psikomotorik).
B. Penelitian Relevan
Menurut pengalaman peneliti, beberapa peneliti yang sebelumnya
relevan dengan penelitian ini memberikan beberapa temuan dari penelitian
tersebut yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.
Diantaranya sebagai berikut:
18
1. (Ali Miftakhu & Darmiyati, 2018) melakukan penelitian
dengan judul “Aktualisasi Pendidikan Karaktr Berbasis Kultur
Sekolah Dalam Pembelajaran IPS Di SMP Negeri 2
Juntinyuat”. Hasil penelitian bahwa Program pengembangan
kultur sekolah di SMP Negeri 2 Juntinyuat Kabupaten
Indramayu sangat jelas dituangkan dalam program kerja
sekolah yang merupakan manifestasi dari pelaksanaan misi
untuk mencapai visi sekolah. Pengembangan kultur sekolah
melibatkan semua warga sekolah baik kepala sekolah, pendidik,
dan tenaga kependidikan sehingga semuanya bertanggung
jawab terhadap pengembangan budaya sekolah.
Persamaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian ini
adalah sama – sama membahas aktualisasi pendidikan karakter
berbasis kultural dan menggunakan penelitian kualitatif.
Perbedaannya terdapat pada lokasi penelitian yang mana
terdapat di SMP Negeri 2 Juntinyuat, sedangkan penulis di
MTsN 5 Pasaman.
2. (Novika Malinda, 2015) melakukan penelitian dengan judul
“Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur Sekolah Di
SMP Negeri 14 Yogyakarta”. Hasil penelitian bahwa dalam
membangun sumber daya manusia yang unggul dalam
berprestasi dan memiliki pribadiyang baik, SMP Negeri 14
Yogyakarta menjalin kerja sama dengan semua komponen
sekolah (kepala sekolah, guru, staf, siswa, dan orang tua atau
wali murid) dan secara bersama-sama menyatukan langkah
untuk membangun karakter yang baik di lingkungan sekolah.
Persamaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian ini
adalah sama – sama membahas pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah dan menggunakan pendekatan deskriptif dalam
penelitiannya. Perbedaannya terletak pada lokasi dan penelitian
sebelumnya tidak menggunakan pembelajaran dalam meneliti.
19
3. Skripsi (Elya Lelin, 2023) melakukan penelitian dengan judul
“Penerapan Pendidikan Karakter Peduli Sosial Berbasis Kultur
Sekolah Pada Pembelajaran IPS Kelas VIII Di SMP Negeri 2
Jetis”. Hasil penelitian bahwa banyak sekali kultur sekolah
yang dikembangkan di sana dilakukan setiap hari seperti salam,
senyum, sapa, sopan, santun dan pendidikan karakter di
sekolah tersebut sudah diterapkan dengan sangat baik.
Persamaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian ini
adalah menggunakan pendekatan deskriptif dan sama – sama
membahas pendidikan karakter berbasis kultur sekolah.
Perbedaannya pada lokasi penelitian.
4. (M. Taufik & Ahmad Safii, 2023) melakukan penelitian dengan
judul “ Kultur Sekolah Dalam Membangun Siswa Di MTS
Muhammadiyah 15 Medan”. Hasil penelitian bahwa Madrasah
Tsanawiyah Muhammadiyah 15 Medan telah berupaya
melakukan peningkatan mutu pembelajaran, dengan
meningkatkan kualitas melalui diklat-diklat, workshop, dan
lain-lain dalam upaya memberikan peningkatan keterampilan
yang memadai dan pemahaman untuk peningkatan prestasi
siswa. Persamaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian
ini adalah sama – sama membahas tentang karakter dan kultur
sekolah. Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian.
5. (Zulfarno & Mursal, 2019) melakukan penelitian dengan judul
“ Aktualisasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Dan
Kemuhammadiyah Di SMA Muhammadiyah Kota Padang”.
Hasil penelitian bahwa melalui implementasi pendidikan
karakter melalui budaya sekolah seperti adanya kegiatan
membaca al-Quran pada jam pembelajaran pertama selama 15
menit. Selain itu tidak sesuai dengan hasil observasi yang
menunjukkan bahwa, ada di antara guru mengalami
keterlambatan waktu pelajaran selama 5-10 menit.
20
6. (Binti Maunah, 2015) melakukan penelitian dengan judul
“ Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan
Kepribadian Holistik Siswa”. Hasil penelitian bahwa
dilaksanakan terintegrasi ke dalam visi dan misi sekolah yang
diimplementasikan melalui pembelajaran di semua bidang mata
pelajaran dan melalui kerja sama dengan keluarga orang tua
siswa dan masyarakat. Pendidikan karakter di kedua sekolah
tersebut dimaknai dengan suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Allah Swt., diri
sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga
menjadi manusia insan kamil.
Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian dalam penelitian
sebelumnya menggunakan dua lokasi penelitian. Persamaannya
terletak pada sama – sama membahas pendidikan karakter.
7. (Buchory & Budi Swadayani, 2014) melakukan penelitian
dengan judul “ Implementasi Program Pendidikan Karakter Di
SMP Negeri 1 Sapuran Wonosobo Jawa Tengah”. Hasil
pembahasan bahwa Sesuai dengan konsep manajemen
pendidikan karakter yang mengacu pada fungsi-fungsi
manajemen, pengelolaan manajemen pendidikan karakter di
SMP Negeri 1 Sapuran menjalankan fungsi manajemen, yaitu
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) sudah
terjalankan dengan baik.
C. Kerangka Berfikir
Menurut (Rahman, 2020) kerangka berfikir adalah konsep teori
yang berhubungan dengan faktor – faktor yang sudah diidentifikasikan
sebagai masalah penting. Sedangkan menurut (Tohardi, 2019) menyatakan
jika kerangka pikiran penelitian adalah gambaran tentang hubungan antar
21
variabel penelitian yang diuraikan melalui jalan piker berdasarkan
kerangka logis, sehingga dari kerangka berfikir ini peneliti dapat mengerti
dengan jelas masalah – masalah yang ada pada penelitian yang menjadi
objek permasalahan. Kerangka berfikir berawal dari teori sehingga peneliti
harus menguasi teori – teori sebagai dasar untuk beragumentasi dalam
menyusun kerangka berfikir.
Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan pada hakikatnya
pendidikan karakter ini berbasis kultur sekolah ini sangat penting
dijalankan karena karakter siswa dapat ditanamkan dengan nilai – nilai dan
norma yang sudah ada disekolah, peserta didik akan melihat ketika guru
saat pembelajaran berlangsung etika guru ketika mengajar dikelas dan
mengembangkan nilai dan norma tersebut.
Kerangka Berfikir
Permasalahan:
Pelaksanaan pendidikan karakter masih belum optimal dilakukan,
kurangnya pengoptimalan pada kegiatan pembelajaran terkait
kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Kultur sekolah
yang masih sering diabaikan oleh seluruh warga sekolah.
Kultur sekolah
22
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Prof. Dr. Sugiyono menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk
meneliti pada kondisi objek yang alamiah (Sugiyono P. D., 2016). Penelitian
kualitatif merupakan suatu pendekatan yang lebih melihat fenomena di tengah
masyarakat yang bersifat natural. Penelitian kualitatif dapat dikatakan sebagai
penelitian yang menekankan kualitas ataupun hal penting suatu barang atau jasa
yang dapat dilihat dari kejadian, fenomena dan gejala sosial sehingga dari hal
terpenting itu dapat menjadi pengembangaan konsep teori (Miftachul, 2019).
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
deskriptif dengan menggambarkan tentang aktualisasi pendidikan karakter
berbasis kultur sekolah pada pembelajaran IPS kelas VIII di MTsN 5 Pasaman.
Peneliti dalam penelitian ini berusaha mendeskripsikan data yang ada di lapangan
untuk menunjang dan mendukung penelitian yang diteliti. Sebagaimana yang
dijelaskan Basrowi dan Suwandi, mengemukakan bahwa metode penelitian
kualitatif merupakan suatu prosedur ataupun susunan penelitian yang mana
menghasilkan suatu data deskriptif yang berupa kalimat tertulis maupun argument
dari orang lain dan tingkah laku yang dapat diamati secara langsung (Basrowi,
2008).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan sebuah observasi yang mana
berlokasi di MTsN 5 Pasaman yang mana lembaga pendidikan ini berada di
Andilan, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman. Peneliti ini memilih
penelitian pada MTsN 5 Pasaman, dikarenakan lembaga ini memiliki keselarasan
topik yang dipilih untuk digunakan sebagai penelitian dan juga sekolah ini
memiliki kultur sekolah yang baik sehingga mampu mencetak generasi yang
berkarakter juga. MTsN 5 Pasaman dirasa begitu mendukung dalam hal
aktualisasi pendidikan karakter berbasis kultur sekolah pada pembelajaran IPS.
23
Peneliti mengambil lokasi penelitian di MTsN 5 Pasaman karena di
sekolah ini memiliki aktualisasi pendidikan karakter berbasis kultur sekolah yang
layak untuk diteliti. Sekolah ini memiliki perkembangan yang cukup baik dalam
setiap tahunnya baik dari segi akademik maupun non akademik. Sekolah ini
terkenal dimasyarakat sekitar dan daerah yang ada di Kecamatan Dua Koto.
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini yaitu pada semester genap tahun
2023/2024.
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian kualitatif ini adalah subjek dimana data
yang diinginkan akan diperoleh, sumber data ini sebagai kenyataan yang
berfungsi sebagai sebuah bahan sumber yang digunakan untuk menyusun sebuah
pendapat, keterangan yang valid. Jadi pada dasarnya sumber data dalam penelitian
yaitu sebuah subjek penelitian dimana terletak dengan sumber data yang berupa
sebuah kejadian atau peristiwa (Suwendra, 2018).
Sumber data utama penelitian kualitatif adalah tindakan dan argument
selebihnya data tambahan seperti dokumen yang berkaitan dengan permasalahan
yang diteliti. Sumber data merupakan segala sesuatu yang dapat memberikan
informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua
yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
1. Sumber Data Primer
Data yang diperoleh langsung dari hasil penelitian di lapangan baik
dengan pihak – pihak yang mengetahui betul masalah yang akan dibahas dicatat
melalui catatan dan rekam audio. Data primer penelitian ini di dapat melalui
observasi maupun melalui wawancara dengan pihak informan mengenai
aktualisasi pendidikan karakter berbasis kultur sekolah pada pembelajaran IPS di
MTsN 5 Pasaman. Sumber data dari penelitian seperti:
a. Guru mata pelajaran IPS
b. Kepala Sekolah MTsN 5 Pasaman
c. Guru BK
d. Peserta didik kelas VIII
24
2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder adalah data pelengkap yang berfungsi melengkapi data –
data yang diperlukan untuk mendukung dari data primer. Sumber data sekunder
berupa dokumen – dokumen, buku literature, jurnal, artikel. Dokumen audio
berupa rekaman suara yang peneliti gunakan selama penelitian berlangsung.
Sedangkan dokumen visual yaitu berupa foto – foto yang dihasilkan peneliti
nantinya pada saat penelitian berlangsung. Pengumpulan data sekunder dilakukan
dengan mengambil atau menggunakannya dari sekumpulan data yang telah di
catat.
D. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data adalah alat yang digunakan untuk mengukur
data yang hendak dikumpulkan. Instrumen pengumpulan data ini pada dasarnya
tidak terlepas dari metode pengumpulan data. Bila metode pengumpulan datanya
adalah depth interview (wawancara mendalam), instrumennya adalah pedoman
wawancara terbuka atau tidak terstruktur. Bila metode pengumpulan datanya
observasi atau pengamatan, instrumennya adalah pedoman observasi atau
pedoman pengamatan terbuka atau tidak terstruktur. Begitupun bila metode
pengumpulan datanya adalah dokumentasi, instrumennya adalah format pustaka
atau format dokumen (Ardianto, 2010). Secara operasional, pengukuran
merupakan suatu prosedur perbandingan antar atribut yang hendak diuur dengan
alat ukurnya.
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang diperlukan atau dipergunakan
untuk mengumpulkan data. Ini berarti, dengan menggunakan alat-alat tersebut
data dikumpulkan. Dalam penelitian kualitatif, atau instrumen utama dalam
pengumpulan data adalah manusia yaitu, peneliti sendiri atau orang lain yang
membantu peneliti. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri yang
mengumpulkan data dengan cara bertanya, meminta, mendengar, dan mengambil.
Untuk mengumpulkan data dari sumber informasi (informan), peneliti
sebagai instrument utama penelitian memerlukan instrumen bantuan. Ada dua
macam instrumen bantuan yang sering digunakan yaitu:
25
1. Panduan atau pedoman wawancara mendalam. Ini adalah suatu tulisan
singkat yang berisikan daftar informasi yang perlu dikumpulkan.
Pertanyaan-pertanyaan lazimnya bersifat umum yang memerlukan
jawaban panjang, bukan jawaban ya atau tidak.
2. Alat rekaman. Peneliti dapat menggunakan alat rekaman seperti, tape
recorder, telepon seluler, kamera fot, dan kamera video untuk merekam
hasil wawancara. Alat rekaman dapat dipergunakan apabila peneliti
mengalami kesulitan untuk mencatat hasil wawancara (Afrizal, 2014).
E. Tekhnik Pengumpulan Data
Suatu cara maupun langkah primer dalam menyususn sebuah penelitian
adalah tekhnik pengumpulan data karena tujuan dari pelaksanaan penelitian ini
guna memperoleh sebuah data. Dalam penelitian kualitatif pada pengumpulan
datanya tidak diperoleh oleh teori, namun diperoleh melalui fakta – fakta yang di
temukan pada saat penelitian langsung dilapangan. Adapun langkah – langkah
yang dapat dilaksnaakan adalah sebagai berikut:
1. Tekhnik Observasi
Pada tekhnik observasi ini tent saja peneliti langsung turun ke
lapangan untuk mengamati secara langsung bagaimana aktivitas dan
perilaku peserta didik yang ada di lokasi penelitian. Observasi ini juga di
bagi menjadi dua yaitu observasi partisipan dan observasi non partisipan,
namun dalam penelitian ini menggunakan tekhnik pengumpulan data
observasi partisipan dimana peneliti terlibat secara langsung dengan
kegiatan yang sedang di teliti atau di amati yang akan digunakan sebagai
sumber data penelitian. Melalui kegiatan observasi ini tentunya akan
memperoleh data secara langsung dilokasi penelitian sesuai dengan data
yang dibutuhkan.
Dalam hal ini peneliti akan melakukan sebuah penelitian mengenai
pendidikan karakter yang ditanamkan melalui kultur sekolah pada
pembelajaran IPS di MTsN 5 Pasaman. Peneliti melaksnakan kegiatan ini
pada saat proses kegiatan belajar mengajar IPS berlangsung di kelas
melalui pengamatan langsung yang mana kemudian hasil pengamatan
26
tersebut ditulis dengan catatan lapangan dalam penelitian kualitatif.
Observasi penelitian ini dilakukan di lingkungan sekolah dengan maksud
dan bertujuan untuk mengetahui bagaimana aktualisasi pendidikan
karakter siswa berbasis kultur sekolah pada pembelajaran IPS di MTsN 5
Pasaman.
2. Wawancara
Dalam tekhnik pengumpulan data ini wawancara terbagi menjadi tiga
jenis yaitu wawancara terstruktur, wawancara semiterstruktur dan
wawancara tidak terstruktur. Namun dalam penelitian kali ini
menggunakan tekhnik pengumpulan data terstruktur, dan dalam penelitian
ini juga melakukan wawancara secara langsung dengan berhadapan secara
langsung dengan informan yang akan di wawancarai. Selain itu dalam
tekhnik wawancara terstruktur ini tentu saja peneliti sudah terlebih dahulu
menyiapkan instrument penelitian yang di dalamnya berisi tentang
pertanyaan yang di gunakan sebagai pedoman saat melakukan wawancara
(Creswell, 2015).
Wawancara terstruktur juga dapat dijadikan sebuah penelitian dimana
peneliti melakukan kegiatan tanya jawab secara langsung dengan informan
dengan berpedoman pada instrument wawancara yang telah disiapkan,
yang mana di susun guna memunculkan argument oleh partisipan. Pada
peneliti ini akan dilakukan wawancara dengan beberapa pihak sebagai
berikut:
a. Kepala sekolah MTsN 5 Pasaman
b. Guru mata pelajaran IPS
c. Guru BK MTsN 5 Pasaman
d. Peserta didik kelas VIII MTsN 5 Pasaman
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu tekhnik yang digunakan dalam kegiatan
penelitian untuk menemukan data berupa foto ataupun catatan mengenai
topik penelitian. Dokumentasi yang diperoleh pada penelitian kali ini
27
dengan memotret atau mengambil gambar kegiatan pembelajaran di MTsN
5 Pasaman kelas VIII.
F. Tekhnik Keabsahan Data
Keabsahan data pada penelitian yaitu sebuah konsep yang akan
diperbaharui dan konsep validitas serta reabilitas untuk melihat kebenaran
hasil penelitian dan tentunya bisa dipercaya, cara yang dapat dilakukan
seperti:
1. Triangulasi
Triangulasi adalah suatu tekhnik yang mana akan dilakukan
sebuah pengecekan keabsahan data yang didapatkan dari berbagai
sumber, wawancara melalui data dan pengamatan dokumen serta
pelaksanaan pemeriksaan data dari berbagai informan. Upaya
triangulsi dapat dilakukan dengan langkah berikut:
a. Mengecek hasil wawancara dengan hasil observasi peneliti
b. Memperbanyak sumber data pada setiap fokus penelitian
tertentu
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik
triangulasi sumber dan juga triangulasi tekhnik guna
memeriksa keabsahan data yang telah diperoleh melalui cara
berikut:
a. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber merupakan suatu proses pengujian
untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara
mengecek informasi atau data yang diperoleh melalui
wawancara dengan informan. Data dari berbagai sumber
sumber data tersebut nantinya dideskripsikan, dikategorikan
mana pandangan yang sama, mana yang berbedadan mana
yang spesifik dari berbagai sumber data tersebut.
b. Triangulasi tekhnik
Triangulasi tekhnik merupakan suatu proses yang dilakukan
oleh peneliti guna melakukan pengecekan terkait informan atau
28
data yang diperoleh antara hasil wawancara dan dokumen.
Triangulasi tekhnik ini merupakan salah satu triangulasi yang
berusaha mengecek keabsahan data ataupun temuan hasil yang
mana dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu
metode ataupun tekhnik pengumpulan data guna mendapatkan
data ataupun informasi yang sama.
2. Pemanfaatan bahan referensi
Dengan melakukan penyimpanan berbagai informasi yang
diperoleh dari lapangan seperti foto ataupun rekaman suara. Hal ini
seorang peneliti akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang
infromasi yang diberikan oleh seorang informan hal ini dilakukan
juga untuk mengurangi ketidakpaksaan dalam wawancara yang
dilakukan dengan seorang yang memberikan informasi.
3. Mengadakan pengecekan
Pengecekan ini dilakukan pada saat informan dan peneliti
sedang membahas tentang catatan lapangan, hal tersebut dilakukan
untuk mengantisispasi kesalahan dalam menuliskan atau
menyimpulkan hasil wawancara yang sudah dilakukan. Oleh
karena itu setelah dilakukannya wawancara peneliti dan informan
melakukan pengecekan untuk memastikan semuanya sudah baik.
G. Tekhnik Analisis Data
Setelah data terkumpul tahap selanjutnya adalah mengolah data
yang telah ada. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif
kualitatif yaitu dengan cara menghimpun fakta dan mendeskripsikannya.
Mendeskripsikan data kualitatif dilakukan dengan cara menyusun dan
mengelompokkan data yang ada sehingga memberikan gambaran nyata
terhadap sumber data. Analisis ini dilakukan pada seluruh data yang
diperoleh melalui hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.
Menurut Miles dan Humerman dalam (Sugiyono, 2016, p. 401),
bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif melalui 3 tahap yaitu data
29
reduction (reduksi data), data display (penyajian data) dan conclusion
drawing atau verivication (penarikan kesimpulan).
1. Reduksi data
Reduksi data merupakan kegiatan dimana merangkum,
memilih hal – hal yang pokok memfokuskan pada hal – hal yang
penting. Data yang didapatkan selama proses penelitian akan
diamati terlebih dahulu sehingga akan menggambarkan apa yang
akan diungkap peneliti, sehingga mendapatkan gambaran yang
jelas.
2. Penyajian data
Kegiatan penyajian data adalah menyajikan data setelah semua
data melalui proses reduksi data. Dalam penyajian data bisa
dilakukan dengan teks yang bersifat naratif, grafik ataupun bagan.
3. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan tahapan akhir dari proses
analisis data. Pada penarikan kesimpulan, proses penelitian dari
awal pengumpulan data dan melakukan reduksi data. Kemudian
data disajikan, peneliti dapat memberikan argument,
membandingkan data dan mencari hubungan antara satu komponen
yang lain sehingga dapat ditarik kesimpulan.
30
DAFTAR PUSTAKA
Malinda Safitri Safitri, “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur
Sekolah Di SMPN 14 Yogyakarta,” Jurnal Pendidikan Karakter 6, no. 2
(2015): 174.
Daryanto. (2015). Pengelolaan budaya dan iklim sekolah. Yogyakarta: Penerbit
Gava Media.
Arifin, A.H. (2012). Implementasi pendidikan multikultural dalam praksis
pendidikan di Indonesia. Jurnal Pembangunan Pendidikan; Fondasi dan
Aflikasi, 1(1), 72-82.
Zubaedi. “Desain Pendidikan Karakter.” Journal of Chemical Informtion and
Modelling 53, no. 9 (2018): 1689 – 99.
Tsauri, Sofyan. Pendidikan Karakter: Peluang Dalam Membangun Karakter
Bangsa. IAIN Jember Press, 2015.
Reza Armin Abdillah Dalimunthe, “Strategi Dan Implementasi Pelaksanaan
Pendidikan Karakter Di SMP Negeri 9 Yogyakarta,” Jurnal Pendidikan
Karakter 5, no. 1 (2015): 103.
Sofia Intan rachmayanti and M. Ghufron, “Analisis Faktor Yang Menghambat
Dalam Penanaman Pendidikan Karakter Disiplin Pada Siswa,” Jurnal
Ilmu-Ilmu Sosial 6, no. 2 (2019): 126.
R. Roemintoyo, “Manajemen Kultur Sekolah,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik
Dan Kejuruan 6, no. 2 (2013): 38.
Zamroni, Membangun Kultur Sekolah (Jakarta: Gavin Kalam Utama, 2019), 64.
M P Eliana Yunitha Seran and M P Mardawani, Konsep Dasar IPS (Yogyakarta:
Deepublish, 2021), 1-2.
Sapriya, Pendidikan IPS Konsep Dan Pembelajaran (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2009),140.
Nimas Puspitasari, Pengembangan Pembelajaran IPS SD (Semarang: Guepedia,
2019), 13.
Siska, Konsep Dasar IPS Untuk SD/MI (Yogyakarta: Garudhawaca, 2016), 8.
Dimyati and Mudjiono, Belajar Dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2019).
31
Sarjianto, “Peningkatan Hasil Belajar,” Jurnal Pendidikan Empirisme 6, no. 30
(2019): 140.
Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta CV, 2016),
15
Umar Shidiq and Miftachul Choiri, Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang
Pendidikan, Journal of Chemical Information and Modeling, vol. 53, 2019,
3-5.
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2008), 21.
Wayan Suwendra and I. B. Arya Lawa Manuaba, Metodologi Penelitian Kualitatif
Dalam Ilmu Sosial, Pendidikan, Kebudayaan dan Keagamaan (Badung:
Nilacakra, 2018), 71.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung:
Alfabeta, 2009), 137.
Ardianto, Alvinaro. (2010). Metode Penelitian Untuk Public Relations Kuantitatif
dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Jhon W. Creswell, Research Design (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, Dan
Mixed) (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 267.
D. Yahya, Khan. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri. Yogyakarta:
Pelang Publishing.
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Karakter. Bandung: Alfabeta.
32