0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan2 halaman

Hidup Sepi Wanita Berwajah Penyok

Cerita ini menggambarkan kehidupan seorang wanita berwajah penyok yang terasing dan dipasung di sebuah ruangan dekat pekuburan. Dia menemukan teman dalam rembulan, berbicara dengan bulan dalam bahasa yang hanya dia mengerti, hingga suatu malam bulan tidak datang dan dia merasakan kesedihan mendalam. Akhirnya, dia tertidur di genangan air, menemukan wajah rembulan dan merasa damai, tanpa keinginan untuk bangun lagi.

Diunggah oleh

nur saleha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan2 halaman

Hidup Sepi Wanita Berwajah Penyok

Cerita ini menggambarkan kehidupan seorang wanita berwajah penyok yang terasing dan dipasung di sebuah ruangan dekat pekuburan. Dia menemukan teman dalam rembulan, berbicara dengan bulan dalam bahasa yang hanya dia mengerti, hingga suatu malam bulan tidak datang dan dia merasakan kesedihan mendalam. Akhirnya, dia tertidur di genangan air, menemukan wajah rembulan dan merasa damai, tanpa keinginan untuk bangun lagi.

Diunggah oleh

nur saleha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Seperti apakah rasanya hidup menjadi orang yang tak dimaui?

Tanyakan pertanyaan ini


padanya. Jika dia bisa berkata-kata, maka yakinlah dia akan melancarkan jawabnya. Konon dia
lahir tanpa diminta. Jika korban gagal gugur kandungan dari seorang perempuan maka jika hasil
sebuah hubungan gelap yang dilaknat warga dan Tuhan. Perempuan yang saat ini disebut
"ibunya" bukanlah ibu yang sebenarnya. Dia hanya inang yang berkasihan lalu bergantian
menyusui lapar mulut dua orang bayi; bayi berwajah penyok yang dibuang orang di pinggir
kampung.
Suatu hari yang biasa; siang terang dan wanita berwajah penyok tengah keliling kampung sendiri
saat anak-anak kecil sepulang sekolah itu mulai mengekori dan menyambut punggungnya di
belakang.
Maka, wanita berwajah penyok mengambil sebongkah batu. Tangannya yang dekil melemparkan
batu itu ke arah anak-anak. Seorang anak bengal berkepala peyang terkena timpukannya.
Membuat jidatnya terluka. Darah segar mengucur dari situ, mengubah seragam putihnya menjadi
merah. Dia pulang ke rumah mengadu kepada ibunya, sementara anak-anak lain menjadi takut
dan bubar satu-satu.
Dengan terpaksa, keluarga wanita berwajah penyok akhirnya memutuskan untuk memasung
dirinya pada sebuah ruangan kecil yang tak bisa disebut manusiawi dekat tanah pekuburan. Sejak
itu wanita berwajah penyok tinggal di dalamnya. Bulan berganti tahun, tanpa tahu itu malam atau
siang.
Seperti apakah rasanya hidup dalam sepi? Tanyakan pertanyaan ini kepadanya. Maka, yakinlah
jika dia bisa berkata-kata, dia akan melancarkan jawabannya. Tak ada yang benar benar tahu apa
yang dia kerjakan di dalam sana walau kadang terdengar suaranya berteriak untuk berontak. Ini
hanya menambah ngeri tanah pekuburan.
Orang-orang mengira itu suara kuntilanak jejadian penghuni kuburan. Tak pernah ada orang yang
benar-benar mendekat. Wanita berwajah penyok telah lupa bahasa tanpa ia pernah benar-benar
menguasainya.
Andaikata suatu saat dia bisa terbebas dari pasungnya, orang akan bertanya bagaimana ia bisa
bertahan hidup? Sebab ia telah menjadi sendiri.
Pada malam yang biasanya kelam nan pekat, kini wanita berwajah penyok bisa mendapat segaris
cahaya dari celah lubang tadi. Kepalanya didongakkan ke atas, dia bisa melihat rembulan.
Bertahun dia tidak melihat rembulan hingga ia lupa bahwa yang dilihatnya adalah rembulan.
Untuk pertama kalinya dalam periode tahunan pasungnya, ia merasa bahwa dirinya punya teman.
Dia mulai berkenalan. Dengan bahasa yang hanya ia mengerti, ia bercakap-cakap dengan bulan.
Dia selalu menunggu teman barunya untuk berkunjung dan bercakap-cakap dengannya setiap
malam.
Namun, semakin hari bentuk wajah rembulan semakin sempit dan cekung. Mengecil dan terus
mengecil hingga hanya menjadi sabit. Air muka rembulan juga semakin pasi.
Semakin hari sabit rembulan jadi kembali membulat walaupun wajahnya masih pasi. Saat bulan
bulat penuh, wanita berwajah penyok girang sekali sebab ini berarti dirinya berhasil menghibur
teman baiknya. Tapi suatu hari rembulan kembali menyabit dan seperti yang sudah-sudah, wanita
berwajah penyok tak pernah bosan menghiburnya dengan bahasanya sendiri hingga rembulan
bulat penuh. Terus seperti itu.
Hingga suatu malam, sehari setelah bulan benar-benar sabit, rembulan tidak datang
mengunjunginya. Ia sedih sekali dan mengira rembulan tak mau menemuinya. Malam itu hujan
turun deras. Wanita berwajah penyok berpikir bahwa rembulan sedang menangis. Maka dia ikut
menangis pula, kesedihan mendalam sahabatnya, dan sekali lagi, dengan bahasa yang hanya bisa
dia mengerti, dirinya berusaha membujuk bulan dan menghiburnya.
Dia tak pernah bosan. Tetapi, langit tetap hujan, rembulan terus menangis. Tetesan air masuk dari
celah atap ruang pasung yang menjadi bocor. Menimpa kepala wanita berwajah penyok dan
membuat dirinya kebasahan.
Lelah, wanita berwajah penyok tertidur. Ia menggigil hebat tanpa ada orang yang tahu
keadaannya. Paginya ia terbangun oleh segaris sinar yang masuk dari celah atap. Sinar kecil itu
jatuh ke kubangan air yang menggenang. Dirasakannya tubuhnya demam. Tetapi, begitu dia
terbangun yang diingatnya hanyalah rembulan.
Siang telah menjelang, ini berarti rembulan telah pulang ke rumahnya setelah semalam
bersembunyi di balik awan sambil menangis. Ia menyesal tak bisa melihat wajah rembulan
malam tadi.
Didekatinya genangan air tadi. Genangan yang tak jernih. Ia berwarna coklat karena bercampur
debu. Sebuah bayangan ada di sana. la tersenyum dan menemukan wajah rembulan di sana. Lalu
dia tertidur tanpa merasa perlu bangun lagi sebab bersama sahabat di dekatnya.

Anda mungkin juga menyukai