LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DEWASA DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE II
DI RUANG ARYA JAYA SANTIKA RSUD BALARAJA
DI SUSUN OLEH :
MELLA SARI DWI HASTUTI
24030121
Minggu Ke-3 PPKMB
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
UNIVERSITAS YATSI MADANI
TAHUN 2024/2025
DIABETES MELLITUS
1. Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan
hiperglikemia yang terjadi karena pankreas tidak dapat mengeluarkan
insulin, aktivitas insulin yang melemah atau keduanya. Kerusakan jangka
panjang dan kegagalan organ yang berbeda, misalnya, mata, ginjal, saraf,
jantung dan vena dapat terjadi ketika dalam kondisi hiperglikemia
berkelanjutan (American Diabetes Assosiation, 2020).
Diabetes Melitus tipe 2 adalah jenis yang paling banyak dikenal luas,
rata-rata penderita DM berumur ≥ 30 tahun. Pada Diabetes Melitus tipe 2
pankreas mampu menghasilkan insulin, namun sifat insulin yang dihasilkan
buruk dan tidak dapat bekerja seperti yang diharapkan sebagai kunci untuk
memasukkan glukosa ke dalam sel. Dengan demikian terjadi peningkatan
glukosa dalam darah. Peluang lain terjadinya Diabetes Melitus tipe 2 adalah
bahwa jaringan tubuh dan sel otot pasien tidak peka atau secara efektif kebal
terhadap obstruksi insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam
seldan dalam jangka panjang menumpuk dalam aliran darah (Kemenkes RI,
2020).
2. Klasifikasi
Secara umum DM dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu:
a. Diabetes Tipe I
Penderita diabetes tipe I ditemukan pada anak-anak dan remaja. Data
penderita diabetes tipe I secara global belum ada tetapi di negara maju
penderita diabetes tipe II meningkat antara 3 sampai 4% pada anak-anak,
baik laki-laki maupun perempuan per tahunnya, (WHO, 2019).
b. Diabetes Tipe II
Meskipun diabetes tipe II biasanya ditemukan pada orang dewasa,
jumlah anak-anak dan remaja yang menderita meningkat. Perubahan
dalam budaya, ekonomi, dan sosial, populasi lanjut usia, peningkatan
urbanisasi, perubahan pola makan (peningkatan konsumsi gula dan
makanan olahan), obesitas, penurunan aktivitas fisik, gaya hidup tidak
sehat, malnutrisi pada janin, dan paparan hiperglikemia pada janin
selama kehamilan adalah semua faktor yang menyebabkan diabetes tipe
II menjadi masalah kesehatan global yang serius (Alauddin, 2020).
c. Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional adalah diabetes yang muncul selama kehamilan.
Ini biasanya muncul pada trimester kedua dan ketiga kehamilan karena
hormon yang disekresi oleh plasenta menghentikan kerja insulin.
Diabetes gestasional berkembang menjadi diabetes tipe II pada 30-40%
penderita. Ini terjadi pada 7% kehamilan dan meningkatkan risiko
kematian ibu dan janin. Diabetes terkait genetik, penyakit pankreas,
gangguan hormonal, penyakit lain, atau efek penggunaan obat (seperti
glukokortikoid, pengobatan HIV/AIDS, antipsikotik atipikal) adalah
diabetes tambahan (Alauddin, 2020).
d. Diabetes Spesifik Lain.
3. Etiologi
a. Diabetes Tipe I
DM Tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena
sebab autoimun. Pada DM tipe ini terdapat sedikit atau tidak sama sekali
sekresi insulin dapat ditentukan dengan level protein c-peptida yang
jumlahnya sedikit atau tidak terdeteksi sama sekali. Manifestasi klinik
dari penyakit ini adalah ketoasidosis.
Faktor penyebab terjadinya DM tipe 1 adalah infeksi virus atau
rusaknya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan karena reaksi
autoimun yang merusak sel-sel penghasil insulin yaitu sel β pada
pangkreas, secara menyeluruh. Oleh sebab itu, pada tipe 1 pankreas tidak
dapat memproduksi insulin. Penderita DM untuk bertahan hidup harus
diberikan insulin dengan cara disuntikan pada area tubuh penderita.
Apabila insulin tidak diberikan maka penderita akan tidak sadarkan diri,
disebut juga dengan koma ketoasidosis atau koma diabetic.
b. Diabetes Tipe II
DM tipe 2 disebabkan oleh kegagalan relatif sel Beta pankreas dan
resisten insulin. resisten insulin adalah turunnya kemampuan insulin
untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk
menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel Beta pankreas tidak mampu
mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defensiesi
relatif insulin, hal ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada
rangsangan glukosa, maupun pada ransangan glukosa bersama bahan
perangsang sekresi insulin lainnya.
c. Diabetes Gestasional
Kejadian diabetes gestasional ini sering muncul pada kehamilan
trimester kedua atau ketiga (minggu ke-24). Apabila penanganannya
kurang baik berakibat pada bayi dengan berat badan lahir mencapai lebih
kurang 4 kg. Diabetes tipe ini terjadi akibat penyakit pankreas dan
sindrom hormonal yang dapat mengganggu kinerja insulin,
mengkonsumsi obat-obatan yang mengganggu penghasilan insulin, dan
faktor genetik dan tipe ini terjadi akibat penyakit gangguan metabolik
yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah akibat faktor genetik
fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas,
penyakit metabolik endokrin lain, iatrogenik, infeksi virus, penyakit
autoimun dan sindrom genetik lain yang berkaitan dengan penyakit DM.
Diabetes tipe ini dapat dipicu oleh obat atau bahan kimia (seperti dalam
pengobatan hiv/aids atau setelah transplantasi organ).
d. Diabetes Spesifik Lain (Diabetes Malnutrisi)
Diabetes tipe ini disebabkan oleh rusaknya sistem endokrin akibat
terjadinya pankreatitis yang ditandai dengan nyeri perut menjalar ke
punggung, BMI <20, malnutrisi pada anak atau bayi, dan hiperglikemi.
Diabetes melitus tipe ini mulai tampak gejala pada usia muda, 10-40
tahun (sebagian besar di bawah umur 30 tahun) (Simatupang, 2020).
4. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dibagi menjadi 2, yaitu gejala klasik dan umum. Gejala
klasik, antara lain :
a. Polydipsia yaitu keadaan sering merasa haus
b. Polifagia keadaan dimana sering merasa lapar sehingga makan
berlebihan
c. Poliuria yaitu sering buang air kecil
d. Penurunan berat badan yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan.
Sedangkan Gejala Umum :
a. Kelelahan yaitu keadaan pasien yang mengalami DM sering lelah
walaupun tidak beraktifitas
b. Kegelisahan keadaan pasien sering merasa gelisah walaupun sedang
baik-baik saja
c. Nyeri tubuh yang dimana biasa pada pasien DM sering mengalami nyeri
sendi dikarenakan neuropati diabetic alias kerusakan saraf yang dipicu
penyakit metabolic tersebut
d. Kesemutan
e. Mata kabur, gatal yaitu pandangan kabur dan gatal pada seluruh badan
f. Disfungsi ereksi pada pria, yaitu kondisi penis pria tidak bisa
mendapatkan ereksi atau mempertahankan ereksi untuk
mempertahankan ereksi untuk dapat penetrasi sampai ejakulasi saat
berhubungan seksual dengan pasangan
g. Serta pruritus vulva pada wanita yaitu gangguan yang ditandai dengan
sensasigatal dari alat kelamin eksternal perempuan (Widiasari et al.,
2021).
5. Patofisiologi
Ada kemungkinan bahwa ini terjadi pada kaki karena seseorang yang
menderita diabetes mellitus mungkin memiliki gula dalam darah yang
tinggi, yang dapat menyebabkan kelainan pada pembuluh darah dan
neuropati. Memiliki neuropati motorik dan sensorik dapat menyebabkan
perubahan distribusi tekanan pada telapak kaki. Ini dapat mempercepat
timbulnya ulkus. Sangat rentan terhadap penyebaran infeksi. Mengelola
ulkus diabetes akan lebih sulit dengan aliran darah yang kurang (Amaliyah,
2022).
Hiperglikemia mempengaruhi saraf perifer pada awal pembentukan
ulkus. Ketika suatu tekanan mekanik muncul, keratin pada kaki yang
mengalami beban yang signifikan akan terbentuk. Kemungkinan trauma
berulang yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan adalah akibat
neuropati sensori perifer. Selanjutnya, kavitas dapat membesar dan pecah
pada permukaan kulit, menyebabkan ulkus (Desi, 2019).
Pasien dengan defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar
glukosa plasma puasa atau toleransi karbohidrat sesudah makan yang
normal. Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi ambang ginjal
normal (konsentrasi glukosa antara 160 dan 180 mg/100 ml), glukosuri
muncul karena tubulus-tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua
glukosa. Dieresis osmotik, yang menyebabkan poliuri dan kehilangan
sodium, klorida, potassium, dan fosfat, akan terjadi sebagai akibat dari
glukosuri ini. Poliuri mengakibatkan dehidrasi dan polidipsi. Pasien akan
mengalami keseimbangan protein negatif, berat badan menurun, dan
kemungkinan polifagia sebagai akibat dari glukosa yang keluar bersama
urine. Akibat yang lain adalah asthenia, atau kekurangan energi, yang
menyebabkan pasien lelah dan mengantuk dengan cepat, yang disebabkan
oleh hilangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya
penggunaan karbohidrat untuk menghasilkan energi. Arterosklerosis,
penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer semuanya
dapat disebabkan oleh hiperglikemia yang lama (Manurung, 2018).
Hiperglikemia adalah tanda awal ulkus diabetik. Neuropati dan kelainan
pembuluh darah disebabkan oleh hiperglikemia ini. Neuropati terdiri dari
sensasi, motorik, dan otot. Selanjutnya, kondisi ini mengubah distribusi
tekanan pada telapak kaki, yang meningkatkan kemungkinan ulkus.
Pengendalian kaki diabetik dapat menjadi lebih sulit jika ada faktor aliran
darah yang kurang (Sudoyo, 2006). Penyakit DM dapat menyebabkan
neuropati perifer yang mengganggu serabut motorik, sensorik, dan
autonom. Kerusakan serabut motorik dapat menyebabkan kelemahan otot,
atrofi otot, deformitas (hammer toes, claw toes, pes cavus, pes planus,
halgus vagus, kontraktur tendon archiles), dan neuropati yang memudahkan
pertumbuhan kalus. Kerusakan serabut sensoris karena kerusakan serabut
myelin mengurangi sensasi nyeri, yang menyebabkan ulkus kaki lebih
mudah terjadi. Iskemia pada kaki disebabkan oleh gangguan vaskuler
perifer, baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler (aterosklerosis). Selain
menjadi penyebab ulkus, kondisi ini juga menyulitkan penyembuhan
(Arimurti, 2017 dalam (Sulistia, 2021).
6. Penatalaksanaan Medis
Sesuai (Perkeni, 2021) individu dengan diabetes melitus memerlukan
pertimbangan yang sah dalam pemberian klien diabetes melitus, ada 4
(empat) poin pendukung, untuk lebih spesifiknya:
a. Obat Anti Hiperglikemi Oral
Berdasarkan cara kerja obat dapat dibagi menjadi 5 (lima) golongan,
(perkeni, 2021), yaitu:
1) Pemacu Sekresi Insuin (Insulin Secretagogue)
a) Sulfoniluera
Contoh obat dalam kelas ini adalah glibenclamide, glipizide,
gliquidone dan gliclazide.
b) Glinid
Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinide (derivate
asam benzoate) dan Nateglinide (Derivat fenilalanin).
2) Peningkatan Sensitivitas Terhadap Insulin (Insulin Sensitizers)
a) Metformin
b) Thiazolidinedione
3) Penghambat Alfa Glukosa: Metrofin
Efek samping yang mungkin terjadi berupa bloating (penumpukan gas
dalam usus) sehingga akan sering menimbulkan flatus. Guna
mengurangi efek samping pada awalnya dapat diberikan dengan dosis
kecil. Contohnya obat golongan ini adalah acarbose.
4) Penghambat Absorbs Gula: Penghambat Glukosidase Alfa
a) DPP-IV Inhibitor
Efek samping dari pemberian obat ini adalah pemberian obat ini
adalah infeksi saluran kemih dan genital.
5) Obat Antihiperglikemia Injeksi
a) Insulin, insulin digunakan pada keadaan:
(1) HbA1c saat diperiksa ≥ 7,5% dan sudah menggunakan satu atau
dua obat antidiabetes
(2) HbA1c saat diperiksa >9% - Penurunan berat badan yang cepat
(3) Hiperglikemia berat yang di sertai dengan ketosis
(4) Krisis hiperglikemia
(5) Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
(6) Stress berat (infeksi, operasi besar, infarkcmiokard akut, stroke)
(7) Kehamilan dengan Diabetes Melitus Gestasional yang tidak
terkendali dengan perencanaan makan
(8) Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat, kontraindikasi
alergi
(9) Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi.
b) Jenis dan lama kerja insulin :
(1) Insulin kerja cepat (Rapid-acting insulin)Insulin kerja pendek
(Short-acting insulin)
(2) Insulin kerja menengah (Intermediate-acting insulin)
(3) Insulin kerja panjang (Long-acting insulin)
(4) Insulin kerja ultra panjang (Ultra long-acting insulin)
(5) Insulin campuran tepat, kerja pendek dengan menengah dan
kerja cepat dengan menengah (premixed insulin)
(6) Insulin campuran tetap, kerja ultra panjang dengankerja cepat
c) Efek samping insulin:
(1) Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya
hipoglikemia
(2) Reaksi GLP-1 (Incretin Mimetic)
(3) Incretin adalah bahan kimia peptide yang dilepaskan oleh
saluran pencernaan setelah konsumsi makanan, yang dapat
meningkatkan emisi insulin melalui perasaan glukosa. Obat ini
membuat fit menekan kedatangan glucagon, menekan rasa
lapar dan mengurangi pembersihan lambung, sehingga
menurunkan kadar glukosa darah postprandial. Obat- obatan
yang termasuk dalam kelompok ini adalah: Liraglutide,
Exenatide, Albiglutide, Lixisenatide dan Dulaglutide.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes Gula Darah Acak atau Sewaktu
Sampel darah akan diambil pada waktu acak. Terlepas dari kapan
seseorang terakhir makan, Kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL (11,1
mmol/ L) sudah dapat digunakan untuk menyatakan seseorang menderita
diabetes, terutama bila digabungkan dengan gejala khas dan tidak khas
dari diabetes.
b. Tes Gula Darah Puasa
Sampel darah akan diambil stelah puasa semalam selama 8-10 jam.
Tingkat gula darah puasa kurang dari 100 mg/ dL (5,6 mmol/L) adalah
normal. Tingkat gula darah puasa dari 100 hingga 125 mg/dL (5,6
hingga 6,9 mmol/L) diangap prediabetes. Jika 126 mg/dL (mmol/L) atau
lebih tinggi pada dua tes terpisah berarti pasien menderita diabetes.
c. Tes Toleransi Glukosa Oral
Untuk tes ini, pasien harus berpuasa selama 8-10 jam, minum air putih
tanpa gula tetap diperbolehkan. Setelah diperiksa kadar gula darah
puasa, pasien diberi glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam air 250 cc,
lalu diminum dalam waktu 5 menit, selanjutnya berpuasa kembali.
Setelah 2 jam kemudian glukosa darah diepriksa. Kadar gula darah
kurang dari 140 mg/dL (7,8 mmol/L) adalah normal. Pembacaan antara
140 dan 199 mg/dL (7,8 mmol/L dan 11,0 mmol/L) menunjukkan
prediabetes. Pembacaaan 200mg/dL (11,1 mmol/L) atau lebih tinggi
setelah dua jam pembebanan glukosa dapat mengindikasi diabetes
(Paulus Subiyanto, 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Amaliyah, L. (2022). Hubungan Motivasi Dengan Tingkat Kepatuhan Diet Pada
Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 : Literature Review. Karya Tulis Ilmiah,
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
American Diabetes Association, (2020). Classification and Diagnosis: Standars of
Medical Care in Diabetes-2020. In Diabetes Care (Vol. 43, pp. S14-S31)
Arimurti, I. (2017). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Mellitus (Dm)
Tipe Ii Dengan Ulkus Diabetikum Di Ruang Irna Non-Bedah Penyakit
Dalam Rsup [Link] Padang. KTI .
Elsa, S. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus (DM) Tipe 2
Dengan Ulkus Diabetikum Di RSI Ibnu Sina Padang. Padang: Politeknik
Kesehatan Kemenkes Padang.
Fatmawaty, Desi. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Mellitus
Dengan Masalah Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit Di RSUD Dr
HarjonoPonorogo. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah
Floranty, M. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Kalimantan Timur: Politeknik
Kesehatan Kalimantan Timur.
Kementrian Kesehatan RI, (2020). Infodatin: Tetap Produktif, Cegah dan Atasi
Diabetes Melitus.
Manurung, N. (2018). Keperawatan Medikal Bedah, Konsep, Mind Mapping dan
Nanda Nic Noc. Jakarta: Trans Info Media.
Paulus Subiyanto, (2019). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Diabetes Melitus.
Perkeni, (2021). Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia: [Link].
Simatupang, R. (2020). Pedoman Diet Penderita Diabetes Melitus. (A. Rahman,
Penyunt.) Banten: Yayasan Pendidikan dan Sosial Indonesia Maju (YPSIM).
World Health Organization. (2019). Global Report On Diabates. Geneva:WHO.