Pada percobaan ini digunakan pelarut methanol.
Penggunaan
methanol sebagai pelarut karena parasetamol larut dalam methanol.
Selain itu, methanol memiliki serapan pada Panjang gelombang di
bawah 210 nm sehingga tidak akan mengganggu spektrum serapan dari
parasetamol. Dibuat kurva kalibrasi dengan memplotkan nilai absorban
dengan konsentrasi larutan standar yang bervariasi menggunakan
Panjang gelombang maksimum. Bila hukum Lambert – Beer terpenuhi
maka kurva kalibrasi akan berupa garis lurus.
Gambar 4.1 Kurva Kalibrasi
Berdasarkan hasil kurva kalibrasi dengan konsentrasi larutan
standar yang dibuat adalah dari rentang 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40
ppm, dan 50 ppm diperoleh persmaaan Y = a+bx adalah Y = -418105 +
80012,1x. Dari persamaan tersebut akan menghasilkan nilai koefisien
korelasi (r). Nilai r yang didapatkan adalah 0,999463. Namun nilai r ini
masih dibawah kriteria koefisien korelasi yaitu 0,9998. Meskipun
begitu hal ini masih dapat dikatakan baik karena selisih perbedaannya
tidak terlalu signifikan.
1
konsentrasi Waktu Area Symmetry resolusi NTP (Number of
retensi (µV/s) factor Theoritical Plate)
(menit)
10 ppm 1.733 384190 0.837 2.833 1829
20 ppm 1.750 1225327 0.778 0.000 1706
30 ppm 1.792 1919694 0.773 0.000 1612
40 ppm 1.775 2769244 0.774 0.000 1584
50 ppm 1.792 3612837 0.792 0.000 1689
Tabel 4.1 Hasil kurva kalibrasi
Pengujian larutan baku dilakukan pengulangan sebanyak dua kali
setiap konsentrasinya, namun dipilih data yang terbaik pada tiap
pengulangan tersebut. Pada percobaan ini menggunakan HPLC fase
terbalik, dengan fase gerak bersifat polar dan kolom bersifat non polar.
Parasetamol memiliki gugus polar sehingga interaksi analit yang
bersifat polar dengan kolom yang bersifat non polar akan terelusi lebih
cepat.
Setelah mendapatkan kurva kalibrasi selanjutnya data diolah untuk
menentukan batas deteksi ( LOD) dan batas kuantitas (LOQ). Harga
LOD didapat sebesar 1,79517 ppm yang artinya pada konsentrasi
tersebut masih dapat dilakukan pengukuran sampel yang memberikan
hasil ketelitian suatu alat berdasarkan Tingkat akurasi individual hasil
analisis. Sedangkan harga LOQ sebesar 5,9839 ppm artinya konsentrasi
tersebut bila dilakukan pengukuran masih dapat memberikan
kecermatan analisis. Semakin kecil nilai LOD dan LOQ maka metode
analisis yang dilakukan semakin sensitive.
֪∑(Y-Y’)2 6877218266
LOD 1,79517
LOQ 5,9839
Tabel 4.2 Nilai LOD dan LOQ
2
Analisis selanjutnya yaitu dilakukan uji akurasi presisi. Parameter
akurasi ditunjukkan dengan persen perolehan Kembali atau disebut juga
% recovery, dilakukan untuk mengetahui kedekatan antara nilai yang
diperoleh dengan nilai yang sebenarnya. Ada dua metode untuk
mengukur akurasi yaitu metode simulasi dan metode adisi. Metode
simulasi merupakan analisis jumlah analit senyawa murni yang
ditambahkan ke dalam placebo. Sedangkan metode adisi yaitu
pengukuran sejumlah analit tertentu yang ditambahkan ke dalam
sampel, selanjutnya perbedaan dari kedua hasil uji dibagi dengan hasil
yang sebenarnya.
Presisi sering diukur sebagai % relative standard deviation (RSD)
atau coefficient of variation (CV) untuk sejumlah sampel yang berbeda
bermakna secara statistic. Presisi merupakan derajat kedekatan hasil
pengujian ketika prosedur diterapkan berulang kali pada beberapa
sampel atau sampel yang homogen.
Pada praktikum ini menggunakan metode adisi dan tanpa adisi
dengan rentang 80%, 100% dan 120%. Berikut data akurasi presisi
parasetamol
Rentang replikasi Area Area Area C yang Recover Rerata SD RSD
(%) Adisi non standar diperoleh y recovery
(µV/s) adisi (ppm) (%) (%)
(µV/s)
1 11222908 168419 11054489 143,3857 358,4643
80 2 11706592 183584 11523008 149,2413 373,1033 367,1914 7,71485 2,101043%
3 11597475 173579 11423896 148,0026 370,0066
1 12114221 173380 11940841 154,4635 308,9269
2 12611775 219461 12392314 160,106 320,212
3
100 321,6819 13,5498 4,212192%
3 13248851 228652 13020199 167,9534 335,9068 6
1 13581089 279247 13301842 171,4734 285,789
120 2 13816000 260873 13555127 174,639 291,065 287,7221 2,90681 1,010286%
3 13590035 263070 13326965 171,7874 286,3123 6
Tabel 4.3 Hasil Akurasi presisi parasetamol
Berdasarkan hasil data diatas nilai %RSD terkecil diperoleh pada
rentang 120% yaitu 1,010286% dan paling besar pada rentang 100%
yaitu 4,212192%. Semakin kecil nilai % RSD yang diperoleh maka
semakin tepat analisis yang dilakukan dan semakin baik digunakan
untuk analisis senyawa parasetamol. Jika RSD ≤ 1% artinya sangat
teliti, jika 1% < RSD ≤ 2% mengartikan teliti, jika 2% < RSD ≤ 5%
artinya ketelitian sedang dan jika RSD > 5% artinya tidak teliti
(Riyanto,2014).
Sementara itu untuk standar deviasi, semakin besar nilai standar
deviasi maka semakin beragam nilai pada item atau semakin tidak
akurat dengan mean. Sebaliknya, jika nilai standar deviasi semakin
kecil maka semakin serupa nilai pada item atau semakin akurat dengan
mean. Berdasarkan hasil diatas nilai standar deviasi terkecil diperoleh
pada rentang 120% yaitu 2,906816.
Setelah dilakukan validasi metode dan dipastikan nilai akurasi
presisi nya,tahap selanjutnya adalah memperhitungkan % kadar
paracetamol dalam sampel. Berikut adalah hasil kadar parasetamol.
Sampel Konsentrasi sebenarnya % kadar
Sampel A 8,71558 ppm 20,92%
Tabel 4.4 Hasil Kadar Parasetamol
Dari perhitungan kadar, dengan luas area sampel 279247 µV/s
didapatkan konsentrasi sebenarnya 8,71558 ppm dari persamaan
linearitas Y = -418105 + 80012,1x. Sementara konsentrasi teoritis yaitu
50 ppm sehingga dihasilkan %kadar parasetamol 20,92%
4
5