Chronic LBP e.
c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)
Oleh:
dr. Cika Elnandari
Pembimbing :
dr. Allan Yudhiatmoko, Sp. N
dr. Abdul Jaelani
dr. Danengsih
Wahana:
RSUD Pantura M.A. Sentot Patrol
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
2020
Nama Peserta : dr. Cika Elnandari
Nama Wahana : RSUD. Pantura M.A Sentot Patrol Indramayu
Topik : Chronic LBP e.c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)
Nama Pasien : Ny. S No. RM : 172400
Nama Pendamping: dr. Allan Yudhiatmoko,
Tanggal Presentasi :
Sp. N / dr. Abdul Jaelani / dr. Danengsih
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik √ Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Perempuan 66 tahun, dengan keluhan nyeri pada pinggang yang menjalar ke
kaki satu minggu lalu.
Tujuan : Menentukan penyebab low back pain, memberikan terapi yang tepat, dan memberikan
edukasi pada keluarga pasien tentang penyebab dan pencegahan low back pain.
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
bahasan: Pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
membahas:
Data pasien: Nama : Ny. S
Nomor Registrasi : 194316
Usia : 66 tahun
Nama klinik : [Link] M.A Telp : Terdaftar sejak : 16 Desember
Sentot Patrol Indramayu - 2019
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis
Ny. S, 66 tahun datang ke UGD RSUD MA Sentot Patrol dalam keadaan sadar dengan keluhan
nyeri pinggang. Keluhan nyeri pinggang dirasakan sejak 2 tahun yang lalu namun hilang timbul
nyerinya, awalnya nyeri tidak mengganggu aktivitas dan pasien masih bisa beraktivitas seperti biasa
tetapi lama kelamaan keluhan makin bertambah nyerinya apalagi ketika pasien bergerak dan sampai-
sampai ketika pasien mau duduk saat bangun dari tidur nyerinya bertambah dan sudah tidak bisa
ditahan lagi karena sangat mengganggu. Bahkan semenjak seminggu terakhir ini karena keluhan
nyerinya pasien tidak bisa berjalan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya dan nyeri dirasakan
sekarang sampai menjalar ke bokong. Keluhan lain seperti keluhan terganggunya BAK dan BAB tidak
ada.
2. Riwayat Pengobatan :
Riwayat pengobatan sebelumnya (-), Riwayat konsumsi obat-obatan (-)
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
Pasien jatuh terduduk kurang lebih 2 tahun lalu, Riwayat alergi (-)
4. Riwayat Keluarga :
Tidak ada keluarga yang punya penyakit yang sama dengan pasien atau mengalami keluhan yang
sama dengan pasien.
5. Lain-lain
A. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran E4M6V5 = 15 (composmentis)
Tekanan darah : 140/100 mmHg
Frek. Nadi : 92 x/menit, Reguler, Isi cukup
Frek. Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,1 0C
STATUS GENERALIS
Kulit : warna kulit sawo matang
Kepala : Normosefal, distribusi rambut merata, rambut tidak mudah dicabut, ,
warna rambut hitam bercampur uban, Nyeri tekan (-)
Mata : Simetris, CA -/- , SI -/- , pupil isokor θ 3 mm,
Hidung : Deviasi (-), mukosa hiperemis (-)
Telinga : Bentuk simetris, serumen dan secret -/-, membrane timpani intak, reflek
cahaya (+).
Leher : Pembesaran tiroid (-), KGB (-), trakea deviasi (-), tidak tampak pelebaran
vena, JVP meningkat (-).
Thorak
Inspeksi : Bentuk normothorak, pernafasan simetris
Palpasi : Fokal fremitus kanan = kiri, Nyeri tekan (-),
Perkusi : Semua lapang paru sonor
Auskultasi : Vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : jantung dalam batas normal. Perkusi redup, batas atas ICS 2, batas kanan
di linea sternalis dextra, batas kiri di linea midclavicular sinistra ICS 5
Auskultasi : s1s2 murni regular, murmur (-) gallop (-)
Abdomen
Inspeksi :Bentuk normal, tidak tampak pelebaran vena, tidak tampak kelainan kulit.
Auskultasi :Bising usus (+),
Perkusi : Timpani
Palpasi :Nyeri tekan (-),Hepar dan lien tidak teraba membesar
Vetebrae
Inspeksi : perubahan warna (-), gibus (-)
Palpasi : nyeri tekan di daerah lumbal. Deformitas (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik, laseque (-)
Pemeriksaan Umum :
o Tingkat Kesadaran : GCS 15 (Eye : 4, Verbal: 5, Motor: 6)
o Kepala : Normocephal
Fungsi Luhur
o Tangan dominan : tidak dinilai
o Orientasi Waktu : baik
o Orientasi Orang : baik
o Orientasi Tempat : baik
o Ingatan Jangka Pendek : baik
o Ingatan Jangka Panjang : baik
o Kalkulasi : tidak dinilai
Status Neurologis
Tanda Rangsang Meningeal
o Kaku kuduk : (-)
o Kuduk kaku : (-)
o Brudzinski I : (-)
o Brudzinski II : (-)
o Brudzinski III : (-)
o Brudzinski IV : (-)
o Laseque : (+),
o Kernig : (+),
Saraf Kranial
o CN I (Olfaktorius) :
Kanan : tidak dilakukan
Kiri : tidak dilakukan
CN II (Optikus)
OD OS
Tajam Pandangan tidak dilakukan tidak dilakukan pemeriksaan
pemeriksaan
Lapang Pandang tidak dilakukan tidak dilakukan pemeriksaan
pemeriksaan
Funduskopi tidak dilakukan tidak dilakukan pemeriksaan
pemeriksaan
CN III, IV, VI (Okulomotor, Koklear dan Abdusen)
OD OS
Fisura Palpebra dalam batas normal Dalam batas normal
Ptosis - -
Posisi Mata orthoporia orthoporia
Gerakan Bola Mata Gerakan baik ke segala arah Gerakan baik ke segala arah
Eksoftalmus - -
Enoftalmus - -
Diplopia - -
Tekanan Bola Mata tidak dilakukan pemeriksaan tidak dilakukan
pemeriksaan
Nystagmus - -
Pupil (Ukuran, Bentuk) 3mm, bulat 3mm, bulat
Reaksi Cahaya + +
• Direct + +
• Indirect
CN V (Trigeminal)
Motorik : m. maseter dan m. temporalis dalam batas normal
Sensorik
Kanan Kiri
N. Oftalmik normal normal
N. Maksilaris normal normal
N. Mandibularis normal normal
Kornea reflek : tidak dilakukan pemeriksaan
Jaw-jerk refleks : tidak dilakukan pemeriksaan
CN VII (Facialis)
Motorik :Bibir simetris, tidak ada deviasi, Kerut dahi simetris, Kedua mata masih
dapat menutup kuat
Sensorik :tidak dilakukan pemeriksaan
CN VIII (Vestibulokoklear)
Koklear :
Rinne : tidak dilakukan pemeriksaan
Weber : tidak dilakukan pemeriksaan
Swabach : tidak dilakukan pemeriksaan
Vestibular : tidak dilakukan pemeriksaan
Kesan :-
CN IX dan X (Glosofaringeal dan vagus)
Suara : dalam batas normal
Menelan : dalam batas normal
Palatum : simetris
Uvula : posisi di tengah
Refleks muntah : tidak dilakukan pemeriksaan
CN XI (Assesoris)
Strenocleidomastoid : dalam batas normal
Trapezius : dalam batas normal
CN XII (Hipoglossus)
• Simetris, tidak ada deviasi
• Atropi : tidak ada
• Fasikulasi : tidak ada
Status Motorik
Inspeksi :
Keadaan otot : atrofi (-) , fasikulasi (-)
Gerakan involunter : (-)
Palpasi :
Tonus : dalam batas normal
nyeri tekan : (-)
Kekuatan kontraksi : 5 5
5 5
Perkusi
Fasikulasi : (-)
Status Sensorik
Anggota badan atas : normal
Batang tubuh : tidak dilakukan
Anggota badan bawah : normal
Refleks
Fisiologis
Kanan Kiri
Biceps ++ ++
Triceps ++ ++
Patella ++ ++
Achiles ++ ++
Patologis
Kanan Kiri
Babinski - -
Chaddock - -
Oppenheim - -
Gordon - -
Hoffman Trommer - -
Rossolimo - -
Mendel-Bechterew - -
Tanda Iritasi Radiks
Tanda Iritasi Radiks
+ Laseque : -/-
+ Kernigs : -/-
+ Braggard : -/-
+ Sicard : -/-
+ Patrick : +/+
+ Kontrapatrick : +/+
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi
Hb : 8,3 gr%
Leukosit : 5,800 gr/dL
Hematokrit : 29,5%
Trombosit : 372.000/mm
Kimia Darah
GDS : 124,1 mg/dl
DIAGNOSIS
Chronic LBP e.c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)
PENATALAKSANAAN
Advice dr. Sp. S
Medikamentosa
IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
Ranitidin 2x50 mg iv
Ketorolac 3x30 mg iv
Prognosis
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
Ad fungsional : Dubia ad bonam
Daftar Pustaka
1. Perhimpunan dokter spesialis saraf indonesia 2016. Panduan praktik klinis neurolog
2. Deyo RA, Mirza SK. Herniated lumbal intervertebral disk. N ENGL J MED.2016
3. Baldwin JF. Lumbar (Intervertebral) Disk Disorders. Emedicine. 2016
4. Company Saunder. B. W. Classification, diagnostic imaging, and imaging characterization of a
lumbar. Volume 38. 2000
5. Autio Reijo. MRI Of Herniated Nucleus Pulposus. Acta Universitatis Ouluensis D Medica. 2006.
Hal 1-31
6. Meli Lucas, Suryami antradi. Nyeri Punggung. Use Neurontin. 2003. Hal 133-148
7. Sylvia A. Price. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep-konsep prose penyakit. Jakarta : 1995.
EGC. Hal 1023-1026.
Hasil Pembelajaran:
HNP
1. Kasus pasien HNP dengan manifestasi klinis dan pemeriksaan fisik
2. Penegakan diagnosis HNP
3. Manajemen penanganan HNP
HNP
Definisi
Kelainan diskus intervertebral lumbal atau lumbal intervertebral disc disorder adalah suatu bulging, protrusi,
ekstrusi atau sekuestrasi dari diskus lumbal yang sering menyebabkan nyeri pinggang. Material dari diskus
tersebut dapat berupa elemen dari nukleus pulposus, annulus fibrosis atau keduanya. Kondisi yang dapat
terjadi walaupun jarang ketika terjadinya penekanan diskus pada kauda equina yang menyebabkan
gangguan satu sisi atau kedua penjalaran saraf skiatika, kelemahan anggota gerak dan inkontinensia atau
retensi urin.
Pathogenesis
Proses Degenaratif
Diskus intervertebralis tersusun atas jaringan fibrokartilago yang berfungsi sebagai shock absorber,
menyebarkan gaya pada kolumna vertebralis dan juga memungkinkan gerakan antar vertebra. Kandungan
air diskus berkurang dengan bertambahnya usia (dari 90% pada bayi sampai menjadi 70% pada orang usia
lanjut). Selain itu serabut-serabut menjadi kasar dan mengalami hialinisasi yang ikut membantu terjadinya
perubahan ke arah herniasi nukleus pulposus melalui anulus dan menekan radiks saraf spinal. Pada
umumnya hernia paling mungkin terjadi pada bagian kolumna vertebralis dimana terjadi peralihan dari
segmen yang lebih mobil ke yang kurang mobil (perbatasan lumbosakral dan servikotolarak).
Proses Traumatik
Dimulainya degenerasi diskus mempengaruhi mekanika sendi intervertebral, yang dapat menyebabkan
degenerasi lebih jauh. Selain degenerasi, gerakan repetitive, seperti fleksi, ekstensi, lateral fleksi, rotasi,
dan mengangkat beban dapat memberi tekanan abnormal pada nukleus. Jika tekanan ini cukup besar
sampai bisa melukai annulus, nucleus pulposus ini berujung pada herniasi. Trauma akut dapat pula
menyebabkan herniasi, seperti mengangkat benda dengan cara yang salah dan jatuh.
Hernia Nukleus Pulposus terbagi dalam 4 grade berdasarkan keadaan herniasinya, dimana ekstrusi dan
sequestrasi merupakan hernia yang sesungguhnya, yaitu :
1. Protrusi diskus intervertebralis : nukleus terlihat menonjol ke satu arah tanpa kerusakan annulus
fibrosus. 2. Prolaps diskus intervertebral : nukleus berpindah, tetapi masih dalam lingkaran anulus
fibrosus.
3. Extrusi diskus intervertebral : nukleus keluar dan anulus fibrosus dan berada di bawah ligamentum,
longitudinalis posterior.
4. Sequestrasi diskus intervertebral : nukleus telah menembus ligamentum longitudinalis posterior
Manifestasi Klinis
Gejala yang ditimbulkan dari penekanan diskus tersebut lebih sering pada bagian posterolateral diskus
tetapi bagian tengah juga dapat terjadi. Herniasi dari diskus tidak secara langsung menyebabkan nyeri atau
asimtomatik. Kondisi klinis yang sering dikeluhkan oleh sebagian besar penderita adalah nyeri pada
punggung, kemudian dapat diikuti dengan parastesia pada penjalaran saraf skiatika yang nyerinya dirasakan
sampai dibawah lutut. Oleh karena itu gejala sensorik yang dirasakan tipikal sesuai dermatom terhadap
distrubusi saraf yang terkena. Kadang nyeri tersebut mengalami peningkatan intensitas pada saat batuk,
bersin dan ketegangan.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik. Tes Laseque atau straight leg raising test untuk melihat kompresi radiks saraf secara
luas digunakan. Dikatakan tes tersebut positif apabila timbul nyeri akibat iritasi skiatika pada sudut antara
30-70 derajat. Ipsilateral tes laseque adalah sensitif tetapi tidak spesifik, sedangkan positif kontralateral tes
laseque memiliki hasil spesifik tetapi tidak sensitif.
Posisi tegak:
- cara berjalan, jongkok, berdiri, fungsi integritas sendi panggul dan tungkai, tulang belakang,
paraspinal, bokong dan kedua tungkai, mobilitas punggung.
- Posisi terlentang: lesi primer pada reffered pain atau metastasis, pemeriksaan neurologis.
Hasil pemeriksaan otot, refleks, dan sensibilitas dapat menyimpulkan tinggi lesi.
- Posisi telungkup: tulang belakang, paraspinal, bokong, cari lesi primer reffered pain.
Sindroma radikuler:
- Nyeri radikuler spontan dibangkitkan (batuk/bersin/mengedan) o Valsava (+) o
Laseque/SLR, Bragard o Parese motorik o Gangguan sensibilitas: hipestesi, hiperestesi o
Refleks fisiologis ↓ o Refleks patiologis (-)
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan data yang didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Perjalanan penyakit yang didapatkan dari anamnesis biasanya sudah cukup untuk
mengarahkan terhadap diagnosis diatas. Pemeriksaan penunjang lanjutan seperti computed tomography
(CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) diperlukan jika kondisi pasien tidak mengalami perbaikan
dalam 4 sampai 6 minggu dengan pengobatan konservatif, adanya defisit yang progresif dan berat atau
menyingkirkan kemungkinan lain seperti infeksi atau tumor.
Pengobatan
Terapi fisik pasif
Terapi fisik pasif biasanya digunakan untuk mengurangi nyeri punggung bawah akut, misalnya:
a. Kompres hangat/dingin
merupakan modalitas yang mudah dilakukan. Untuk mengurangi spasme otot dan inflamasi. Beberapa
pasien merasakan nyeri hilang pada pengkompresan hangat, sedangkan yang lain pada
pengkompresan dingin.
b. Iontophoresis
Merupakan metode pemberian steroid melalui kulit. Steroid tersebut menimbulkan efek anti inflamasi
pada daerah yang menyebabkan nyeri. Modalitas ini terutama efektif dalam mengurangi serangan
nyeri akut.
c. Unit TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulator)
Sebuah unit transcutaneous electrical nerve stimulator (TENS) menggunakan stimulasi listrik untuk
mengurangi sensasi nyeri punggung bawah dengan mengganggu impuls nyeri yang dikirimkan ke
otak
d. Ultrasound
merupakan suatu bentuk penghangatan di lapisan dalam dengan menggunakan gelombang suara
pada kulit yang menembus sampai jaringan lunak dibawahnya. Ultrasound terutama berguna dalam
menghilangkan serangan nyeri akut dan dapat mendorong terjadinya penyembuhan jaringan.
Terapi Farmakologis
a. Analgetik dan NSAID ( Non Steroid Anti Inflamation Drug)
obat ini diberikan dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi sehingga mempercepat
kesembuhan. Contoh analgetik : paracetamol, Aspirin Tramadol. NSAID : Ibuprofen, Natrium
diklofenak, Etodolak, Selekoksib.
b. Obat pelemas otot (muscle relaxant)
adalah spasme otot. Efek terapinya tidak sekuat NSAID, seringkali di kombinasi denganNSAID.
Sekitar 30% memberikan efek samping mengantuk. Contoh Tinazidin, Esperidone dan Carisoprodol.
c. Opioid
Obat ini terbukti tidak lebih efektif daripada analgetik biasa yang jauh lebih aman. Pemakaian jangka
panjang bisa menimbulkan toleransi dan ketergantungan obat.
e. kortikosteroid oral.
Dipakai pada kasus HNP yang berat dan mengurangi inflamasi jaringan.
f. Anelgetik ajuvan
Terutama dipakai pada HNP kronis karena ada anggapan mekanisme nyeri pada HNP sesuai dengan
neuropatik. Contohnya : amitriptilin, Karbamasepin, Gabapentin.
g. suntikan pada titik picu
Cara pengobatan ini dengan memberikan suntikan campuran anastesi lokal dan kortikosteroid ke
dalam jaringan lunak/otot pada titik picu disekitar tulang punggung. Cara ini masih kontroversi. Obat
yang dipakai antara lain lidokain, lignokain, deksametason, metilprednisolon dan triamsinolon
Terapi operatif
pada pasien dilakukan jika:
a. Pasien mengalami HNP grade 3 atau 4.
b. Tidak ada perbaikan lebih baik, masih ada gejala nyeri yang tersisa, atau ada gangguan fungsional
setelah terapi konservatif diberikan selama 6 sampai 12 minggu.
c. Terjadinya rekurensi yang sering dari gejala yang dialami pasien menyebabkan keterbatasan
fungsional kepada pasien, meskipun terapi konservatif yang diberikan tiap terjadinya rekurensi dapat
menurunkan gejala dan memperbaiki fungsi dari pasien.
d. Terapi yang diberikan kurang terarah dan berjalan dalam waktu lama
Prognosis
Dengan operasi 90% perbaikan fungsi secara baik dalam 1 tahun. Perbaikan motoris biasanya lebih
cepat dari pada sensorik. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan dan prognosis adalah:
diagnosis etiologi spesifik, usia lanjut, pernah nyeri pinggang sebelumnya dan gangguan psikososial.
Sebagian besar pasien sembuh secara cepat dan tanpa gangguan fungsional. Rata-rata 60-70% sembuh
dalam 6 minggu, 80-90% dalam 12 minggu. Penyembuhan setelah 12 minggu berjalan sangat lambat
dan tak pasti. Diagnosis sangat berkaitan dengan penyembuhan, penderita nyeri pinggang bawah
dengan iskialgia membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan tanpa iskialgia. Dari penelitian
Weber, tahun pertama terdapat perbaikan secara signifikan pada kelompok yang dioperasi dibanding
tanpa operasi, namun kedua kelompok baik dioperasi maupun tidak, pada observasi tahun ke 4-10
terlihat perbaikan yang ada tidak berbeda secara signifikan
Edukasi
Olahraga secara teratur untuk mempertahankan kemampuan otot, seperti berlari dan berenang.
Hindari mengangkat barang yang berat, edukasi cara mengangkat yang benar.
Tidur di tempat yang datar dan keras.
Hindari olahraga/kegiatan yang dapat menimbulkan trauma
Kurangi berat badan.
1. Objektif:
Dari hasil anamensis dan pemeriksaan fisik mendukung diagnosis LBP e.c HNP. Pada kasus ini
ditegakan berdasarkan:
1. Gejala klinis: nyeri pinggang, menjalar ke bokong, ke kaki, kesemutan (-), baal (+)
2. Riwayat penyakit terdahulu : pasien jatuh terduduk dua tahun lalu dan ditemukan adanya
fraktur kompresi.
3. Pemeriksaan Penunjang : pada pemeriksaan darah lengkap tidak dapat menentukan diagnosis.
Diagnosis :
Chronic LBP e.c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)
Pengobatan :
Advice [Link].S
Medikamentosa :
IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
Ranitidin 2x50 mg iv
Ketorolac 3x30 mg iv
Follow Up
Tanggal Perjalanan penyakit Penatalaksanaan
16-12-2019 S : nyeri pinggang (+), IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
kesemutan (-), baal (+), pasien Ranitidin 2x50 mg iv
mengatakan kesusahan untuk Ketorolac 3x30 mg iv
miring kanan dan kiri
O : cm, sakit sedang
TD 110/80, N 84 R 20 S 36,7
Motoric 5/5/5/5
Laseque -/-
A : chronic LBP e.c HNP e.c post
fraktur kompresi
17-12-2019 S : nyeri pinggang (+), IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
kesemutan (-), baal (-), pasien Ranitidin 2x50 mg iv
mengatakan kesusahan untuk Tramadol drip dalam Nacl
miring kanan dan kiri 500 cc
O : cm, sakit sedang Pregabalin 2x75 mg i.v
TD 110/80, N 92 R 20 S 36,7 Mecobalamin 2x500 mg i.v
Motoric 5/5/5/5
Laseque -/-
A : chronic LBP e.c HNP e.c post
fraktur kompresi
18-12-2019 S : nyeri pinggang (+), IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
kesemutan (-), baal (-), pasien Ranitidin 2x50 mg iv
mengatakan sudah bisa miring Tramadol drip dalam Nacl
kanan dan kiri 500 cc
O : cm, sakit sedang Pregabalin 2x75 mg i.v
TD 110/80, N 92 R 20 S 36,7 Mecobalamin 2x500 mg i.v
Motoric 5/5/5/5
Laseque -/-
A : chronic LBP e.c HNP e.c post
fraktur kompresi
19-12-2019 S : nyeri pinggang (+), IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
kesemutan (-), baal (-), pasien Ranitidin 2x50 mg iv
mengatakan sudah bisa miring Pregabalin 2x75 mg i.v
kanan dan kiri Mecobalamin 2x500 mg i.v
O : cm, sakit sedang
TD 110/80, N 92 R 20 S 36,7
Motoric 5/5/5/5
Laseque -/-
A : chronic LBP e.c HNP e.c post
fraktur kompresi
1. Edukasi
2) Edukasi mengenai penyakit pasien
3) Harus tetap aktif, hindari mobilisasi
4) Hindari mengangkat barang yang berat
5) Posisi berbaring semiflower, panggul dan lutut fleksi digantal bantal
6) Melakukan latihan fisik seperti aerobic untuk memperkuat otot batang tubuh
7) Konsultasi
Konsultasi dengan spesialis penyakit saraf untuk penanganan selanjutnya.
PESERTA PEMBIMBING
dr. Cika Elnandari dr. Allan Yudhiatmoko, Sp. S
PEMBIMBING PEMBIMBING
dr. Abdul Jaelani dr. Danengsih