0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan24 halaman

Nyeri Pinggang Kronis Akibat HNP

Dokumen ini membahas kasus seorang pasien perempuan berusia 66 tahun dengan keluhan nyeri pinggang kronis akibat Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Tujuan penanganan adalah untuk menentukan penyebab nyeri, memberikan terapi yang tepat, dan edukasi kepada keluarga pasien. Penatalaksanaan meliputi pemberian obat dan prognosis yang menunjukkan ketidakpastian mengenai pemulihan.

Diunggah oleh

cika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan24 halaman

Nyeri Pinggang Kronis Akibat HNP

Dokumen ini membahas kasus seorang pasien perempuan berusia 66 tahun dengan keluhan nyeri pinggang kronis akibat Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Tujuan penanganan adalah untuk menentukan penyebab nyeri, memberikan terapi yang tepat, dan edukasi kepada keluarga pasien. Penatalaksanaan meliputi pemberian obat dan prognosis yang menunjukkan ketidakpastian mengenai pemulihan.

Diunggah oleh

cika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chronic LBP e.

c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

Oleh:
dr. Cika Elnandari

Pembimbing :
dr. Allan Yudhiatmoko, Sp. N
dr. Abdul Jaelani
dr. Danengsih

Wahana:
RSUD Pantura M.A. Sentot Patrol

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
2020
Nama Peserta : dr. Cika Elnandari

Nama Wahana : RSUD. Pantura M.A Sentot Patrol Indramayu

Topik : Chronic LBP e.c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

Nama Pasien : Ny. S No. RM : 172400

Nama Pendamping: dr. Allan Yudhiatmoko,


Tanggal Presentasi :
Sp. N / dr. Abdul Jaelani / dr. Danengsih

 Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

 Diagnostik √ Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa  Lansia Bumil


Deskripsi : Perempuan 66 tahun, dengan keluhan nyeri pada pinggang yang menjalar ke

kaki satu minggu lalu.


Tujuan : Menentukan penyebab low back pain, memberikan terapi yang tepat, dan memberikan

edukasi pada keluarga pasien tentang penyebab dan pencegahan low back pain.

Bahan  Tinjauan Riset Kasus Audit

bahasan: Pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos

membahas:
Data pasien: Nama : Ny. S
Nomor Registrasi : 194316
Usia : 66 tahun

Nama klinik : [Link] M.A Telp : Terdaftar sejak : 16 Desember

Sentot Patrol Indramayu - 2019


Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis

Ny. S, 66 tahun datang ke UGD RSUD MA Sentot Patrol dalam keadaan sadar dengan keluhan

nyeri pinggang. Keluhan nyeri pinggang dirasakan sejak 2 tahun yang lalu namun hilang timbul

nyerinya, awalnya nyeri tidak mengganggu aktivitas dan pasien masih bisa beraktivitas seperti biasa

tetapi lama kelamaan keluhan makin bertambah nyerinya apalagi ketika pasien bergerak dan sampai-

sampai ketika pasien mau duduk saat bangun dari tidur nyerinya bertambah dan sudah tidak bisa

ditahan lagi karena sangat mengganggu. Bahkan semenjak seminggu terakhir ini karena keluhan

nyerinya pasien tidak bisa berjalan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya dan nyeri dirasakan

sekarang sampai menjalar ke bokong. Keluhan lain seperti keluhan terganggunya BAK dan BAB tidak

ada.
2. Riwayat Pengobatan :

 Riwayat pengobatan sebelumnya (-), Riwayat konsumsi obat-obatan (-)


3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :

 Pasien jatuh terduduk kurang lebih 2 tahun lalu, Riwayat alergi (-)
4. Riwayat Keluarga :

 Tidak ada keluarga yang punya penyakit yang sama dengan pasien atau mengalami keluhan yang

sama dengan pasien.

5. Lain-lain

A. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran E4M6V5 = 15 (composmentis)

Tekanan darah : 140/100 mmHg

Frek. Nadi : 92 x/menit, Reguler, Isi cukup

Frek. Pernafasan : 20 x/menit

Suhu : 36,1 0C
STATUS GENERALIS

Kulit : warna kulit sawo matang

Kepala : Normosefal, distribusi rambut merata, rambut tidak mudah dicabut, ,

warna rambut hitam bercampur uban, Nyeri tekan (-)

Mata : Simetris, CA -/- , SI -/- , pupil isokor θ 3 mm,

Hidung : Deviasi (-), mukosa hiperemis (-)

Telinga : Bentuk simetris, serumen dan secret -/-, membrane timpani intak, reflek

cahaya (+).

Leher : Pembesaran tiroid (-), KGB (-), trakea deviasi (-), tidak tampak pelebaran

vena, JVP meningkat (-).

Thorak

Inspeksi : Bentuk normothorak, pernafasan simetris

Palpasi : Fokal fremitus kanan = kiri, Nyeri tekan (-),

Perkusi : Semua lapang paru sonor

Auskultasi : Vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)


Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis tidak teraba

Perkusi : jantung dalam batas normal. Perkusi redup, batas atas ICS 2, batas kanan

di linea sternalis dextra, batas kiri di linea midclavicular sinistra ICS 5

Auskultasi : s1s2 murni regular, murmur (-) gallop (-)

Abdomen

Inspeksi :Bentuk normal, tidak tampak pelebaran vena, tidak tampak kelainan kulit.

Auskultasi :Bising usus (+),

Perkusi : Timpani

Palpasi :Nyeri tekan (-),Hepar dan lien tidak teraba membesar

Vetebrae

Inspeksi : perubahan warna (-), gibus (-)

Palpasi : nyeri tekan di daerah lumbal. Deformitas (-)

Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik, laseque (-)

 Pemeriksaan Umum :
o Tingkat Kesadaran : GCS 15 (Eye : 4, Verbal: 5, Motor: 6)

o Kepala : Normocephal

Fungsi Luhur

o Tangan dominan : tidak dinilai

o Orientasi Waktu : baik

o Orientasi Orang : baik

o Orientasi Tempat : baik

o Ingatan Jangka Pendek : baik

o Ingatan Jangka Panjang : baik

o Kalkulasi : tidak dinilai

Status Neurologis

 Tanda Rangsang Meningeal

o Kaku kuduk : (-)

o Kuduk kaku : (-)

o Brudzinski I : (-)

o Brudzinski II : (-)

o Brudzinski III : (-)

o Brudzinski IV : (-)

o Laseque : (+),
o Kernig : (+),

Saraf Kranial

o CN I (Olfaktorius) :

 Kanan : tidak dilakukan

 Kiri : tidak dilakukan

 CN II (Optikus)

OD OS

Tajam Pandangan tidak dilakukan tidak dilakukan pemeriksaan

pemeriksaan

Lapang Pandang tidak dilakukan tidak dilakukan pemeriksaan

pemeriksaan

Funduskopi tidak dilakukan tidak dilakukan pemeriksaan

pemeriksaan

 CN III, IV, VI (Okulomotor, Koklear dan Abdusen)

OD OS

Fisura Palpebra dalam batas normal Dalam batas normal

Ptosis - -

Posisi Mata orthoporia orthoporia


Gerakan Bola Mata Gerakan baik ke segala arah Gerakan baik ke segala arah

Eksoftalmus - -

Enoftalmus - -

Diplopia - -

Tekanan Bola Mata tidak dilakukan pemeriksaan tidak dilakukan

pemeriksaan

Nystagmus - -

Pupil (Ukuran, Bentuk) 3mm, bulat 3mm, bulat

Reaksi Cahaya + +

• Direct + +

• Indirect

 CN V (Trigeminal)

 Motorik : m. maseter dan m. temporalis dalam batas normal

 Sensorik

Kanan Kiri

N. Oftalmik normal normal


N. Maksilaris normal normal

N. Mandibularis normal normal

 Kornea reflek : tidak dilakukan pemeriksaan

 Jaw-jerk refleks : tidak dilakukan pemeriksaan

 CN VII (Facialis)

 Motorik :Bibir simetris, tidak ada deviasi, Kerut dahi simetris, Kedua mata masih

dapat menutup kuat

 Sensorik :tidak dilakukan pemeriksaan

 CN VIII (Vestibulokoklear)

 Koklear :

 Rinne : tidak dilakukan pemeriksaan

 Weber : tidak dilakukan pemeriksaan

 Swabach : tidak dilakukan pemeriksaan

 Vestibular : tidak dilakukan pemeriksaan

Kesan :-

 CN IX dan X (Glosofaringeal dan vagus)

 Suara : dalam batas normal


 Menelan : dalam batas normal

 Palatum : simetris

 Uvula : posisi di tengah

 Refleks muntah : tidak dilakukan pemeriksaan

 CN XI (Assesoris)

 Strenocleidomastoid : dalam batas normal

 Trapezius : dalam batas normal

 CN XII (Hipoglossus)

• Simetris, tidak ada deviasi

• Atropi : tidak ada

• Fasikulasi : tidak ada

Status Motorik

Inspeksi :

 Keadaan otot : atrofi (-) , fasikulasi (-)

 Gerakan involunter : (-)

Palpasi :

 Tonus : dalam batas normal


 nyeri tekan : (-)

 Kekuatan kontraksi : 5 5

5 5

Perkusi

 Fasikulasi : (-)

Status Sensorik

 Anggota badan atas : normal

 Batang tubuh : tidak dilakukan

 Anggota badan bawah : normal

Refleks

Fisiologis

Kanan Kiri

Biceps ++ ++

Triceps ++ ++

Patella ++ ++

Achiles ++ ++

Patologis
Kanan Kiri

Babinski - -

Chaddock - -

Oppenheim - -

Gordon - -

Hoffman Trommer - -

Rossolimo - -

Mendel-Bechterew - -

Tanda Iritasi Radiks

Tanda Iritasi Radiks

+ Laseque : -/-

+ Kernigs : -/-

+ Braggard : -/-

+ Sicard : -/-

+ Patrick : +/+

+ Kontrapatrick : +/+

 PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Pemeriksaan Laboratorium
 Hematologi

Hb : 8,3 gr%

Leukosit : 5,800 gr/dL

Hematokrit : 29,5%

Trombosit : 372.000/mm

 Kimia Darah

GDS : 124,1 mg/dl

 DIAGNOSIS

Chronic LBP e.c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

 PENATALAKSANAAN

Advice dr. Sp. S

Medikamentosa

 IVFD NaCl 0,9% 20 tpm

 Ranitidin 2x50 mg iv

 Ketorolac 3x30 mg iv

 Prognosis

Ad vitam : Dubia ad bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam

Ad fungsional : Dubia ad bonam

Daftar Pustaka
1. Perhimpunan dokter spesialis saraf indonesia 2016. Panduan praktik klinis neurolog

2. Deyo RA, Mirza SK. Herniated lumbal intervertebral disk. N ENGL J MED.2016

3. Baldwin JF. Lumbar (Intervertebral) Disk Disorders. Emedicine. 2016

4. Company Saunder. B. W. Classification, diagnostic imaging, and imaging characterization of a

lumbar. Volume 38. 2000

5. Autio Reijo. MRI Of Herniated Nucleus Pulposus. Acta Universitatis Ouluensis D Medica. 2006.

Hal 1-31

6. Meli Lucas, Suryami antradi. Nyeri Punggung. Use Neurontin. 2003. Hal 133-148

7. Sylvia A. Price. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep-konsep prose penyakit. Jakarta : 1995.

EGC. Hal 1023-1026.


Hasil Pembelajaran:

HNP

1. Kasus pasien HNP dengan manifestasi klinis dan pemeriksaan fisik

2. Penegakan diagnosis HNP

3. Manajemen penanganan HNP

 HNP

 Definisi

Kelainan diskus intervertebral lumbal atau lumbal intervertebral disc disorder adalah suatu bulging, protrusi,

ekstrusi atau sekuestrasi dari diskus lumbal yang sering menyebabkan nyeri pinggang. Material dari diskus

tersebut dapat berupa elemen dari nukleus pulposus, annulus fibrosis atau keduanya. Kondisi yang dapat

terjadi walaupun jarang ketika terjadinya penekanan diskus pada kauda equina yang menyebabkan

gangguan satu sisi atau kedua penjalaran saraf skiatika, kelemahan anggota gerak dan inkontinensia atau

retensi urin.
 Pathogenesis

 Proses Degenaratif

Diskus intervertebralis tersusun atas jaringan fibrokartilago yang berfungsi sebagai shock absorber,

menyebarkan gaya pada kolumna vertebralis dan juga memungkinkan gerakan antar vertebra. Kandungan

air diskus berkurang dengan bertambahnya usia (dari 90% pada bayi sampai menjadi 70% pada orang usia

lanjut). Selain itu serabut-serabut menjadi kasar dan mengalami hialinisasi yang ikut membantu terjadinya

perubahan ke arah herniasi nukleus pulposus melalui anulus dan menekan radiks saraf spinal. Pada

umumnya hernia paling mungkin terjadi pada bagian kolumna vertebralis dimana terjadi peralihan dari

segmen yang lebih mobil ke yang kurang mobil (perbatasan lumbosakral dan servikotolarak).

 Proses Traumatik

Dimulainya degenerasi diskus mempengaruhi mekanika sendi intervertebral, yang dapat menyebabkan

degenerasi lebih jauh. Selain degenerasi, gerakan repetitive, seperti fleksi, ekstensi, lateral fleksi, rotasi,

dan mengangkat beban dapat memberi tekanan abnormal pada nukleus. Jika tekanan ini cukup besar

sampai bisa melukai annulus, nucleus pulposus ini berujung pada herniasi. Trauma akut dapat pula

menyebabkan herniasi, seperti mengangkat benda dengan cara yang salah dan jatuh.

Hernia Nukleus Pulposus terbagi dalam 4 grade berdasarkan keadaan herniasinya, dimana ekstrusi dan

sequestrasi merupakan hernia yang sesungguhnya, yaitu :

1. Protrusi diskus intervertebralis : nukleus terlihat menonjol ke satu arah tanpa kerusakan annulus

fibrosus. 2. Prolaps diskus intervertebral : nukleus berpindah, tetapi masih dalam lingkaran anulus

fibrosus.

3. Extrusi diskus intervertebral : nukleus keluar dan anulus fibrosus dan berada di bawah ligamentum,

longitudinalis posterior.

4. Sequestrasi diskus intervertebral : nukleus telah menembus ligamentum longitudinalis posterior


 Manifestasi Klinis

Gejala yang ditimbulkan dari penekanan diskus tersebut lebih sering pada bagian posterolateral diskus

tetapi bagian tengah juga dapat terjadi. Herniasi dari diskus tidak secara langsung menyebabkan nyeri atau

asimtomatik. Kondisi klinis yang sering dikeluhkan oleh sebagian besar penderita adalah nyeri pada

punggung, kemudian dapat diikuti dengan parastesia pada penjalaran saraf skiatika yang nyerinya dirasakan

sampai dibawah lutut. Oleh karena itu gejala sensorik yang dirasakan tipikal sesuai dermatom terhadap

distrubusi saraf yang terkena. Kadang nyeri tersebut mengalami peningkatan intensitas pada saat batuk,

bersin dan ketegangan.

 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik. Tes Laseque atau straight leg raising test untuk melihat kompresi radiks saraf secara

luas digunakan. Dikatakan tes tersebut positif apabila timbul nyeri akibat iritasi skiatika pada sudut antara

30-70 derajat. Ipsilateral tes laseque adalah sensitif tetapi tidak spesifik, sedangkan positif kontralateral tes

laseque memiliki hasil spesifik tetapi tidak sensitif.

Posisi tegak:

- cara berjalan, jongkok, berdiri, fungsi integritas sendi panggul dan tungkai, tulang belakang,

paraspinal, bokong dan kedua tungkai, mobilitas punggung.

- Posisi terlentang: lesi primer pada reffered pain atau metastasis, pemeriksaan neurologis.

Hasil pemeriksaan otot, refleks, dan sensibilitas dapat menyimpulkan tinggi lesi.

- Posisi telungkup: tulang belakang, paraspinal, bokong, cari lesi primer reffered pain.

Sindroma radikuler:

- Nyeri radikuler spontan dibangkitkan (batuk/bersin/mengedan) o Valsava (+) o

Laseque/SLR, Bragard o Parese motorik o Gangguan sensibilitas: hipestesi, hiperestesi o

Refleks fisiologis ↓ o Refleks patiologis (-)


 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan data yang didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang. Perjalanan penyakit yang didapatkan dari anamnesis biasanya sudah cukup untuk

mengarahkan terhadap diagnosis diatas. Pemeriksaan penunjang lanjutan seperti computed tomography

(CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) diperlukan jika kondisi pasien tidak mengalami perbaikan

dalam 4 sampai 6 minggu dengan pengobatan konservatif, adanya defisit yang progresif dan berat atau

menyingkirkan kemungkinan lain seperti infeksi atau tumor.

 Pengobatan
 Terapi fisik pasif

Terapi fisik pasif biasanya digunakan untuk mengurangi nyeri punggung bawah akut, misalnya:

a. Kompres hangat/dingin

merupakan modalitas yang mudah dilakukan. Untuk mengurangi spasme otot dan inflamasi. Beberapa

pasien merasakan nyeri hilang pada pengkompresan hangat, sedangkan yang lain pada

pengkompresan dingin.

b. Iontophoresis

Merupakan metode pemberian steroid melalui kulit. Steroid tersebut menimbulkan efek anti inflamasi

pada daerah yang menyebabkan nyeri. Modalitas ini terutama efektif dalam mengurangi serangan

nyeri akut.

c. Unit TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulator)

Sebuah unit transcutaneous electrical nerve stimulator (TENS) menggunakan stimulasi listrik untuk

mengurangi sensasi nyeri punggung bawah dengan mengganggu impuls nyeri yang dikirimkan ke

otak

d. Ultrasound

merupakan suatu bentuk penghangatan di lapisan dalam dengan menggunakan gelombang suara

pada kulit yang menembus sampai jaringan lunak dibawahnya. Ultrasound terutama berguna dalam

menghilangkan serangan nyeri akut dan dapat mendorong terjadinya penyembuhan jaringan.

 Terapi Farmakologis

a. Analgetik dan NSAID ( Non Steroid Anti Inflamation Drug)

obat ini diberikan dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi sehingga mempercepat

kesembuhan. Contoh analgetik : paracetamol, Aspirin Tramadol. NSAID : Ibuprofen, Natrium

diklofenak, Etodolak, Selekoksib.

b. Obat pelemas otot (muscle relaxant)


adalah spasme otot. Efek terapinya tidak sekuat NSAID, seringkali di kombinasi denganNSAID.

Sekitar 30% memberikan efek samping mengantuk. Contoh Tinazidin, Esperidone dan Carisoprodol.

c. Opioid

Obat ini terbukti tidak lebih efektif daripada analgetik biasa yang jauh lebih aman. Pemakaian jangka

panjang bisa menimbulkan toleransi dan ketergantungan obat.

e. kortikosteroid oral.

Dipakai pada kasus HNP yang berat dan mengurangi inflamasi jaringan.

f. Anelgetik ajuvan

Terutama dipakai pada HNP kronis karena ada anggapan mekanisme nyeri pada HNP sesuai dengan

neuropatik. Contohnya : amitriptilin, Karbamasepin, Gabapentin.

g. suntikan pada titik picu

Cara pengobatan ini dengan memberikan suntikan campuran anastesi lokal dan kortikosteroid ke

dalam jaringan lunak/otot pada titik picu disekitar tulang punggung. Cara ini masih kontroversi. Obat

yang dipakai antara lain lidokain, lignokain, deksametason, metilprednisolon dan triamsinolon

 Terapi operatif

pada pasien dilakukan jika:

a. Pasien mengalami HNP grade 3 atau 4.

b. Tidak ada perbaikan lebih baik, masih ada gejala nyeri yang tersisa, atau ada gangguan fungsional

setelah terapi konservatif diberikan selama 6 sampai 12 minggu.

c. Terjadinya rekurensi yang sering dari gejala yang dialami pasien menyebabkan keterbatasan

fungsional kepada pasien, meskipun terapi konservatif yang diberikan tiap terjadinya rekurensi dapat

menurunkan gejala dan memperbaiki fungsi dari pasien.

d. Terapi yang diberikan kurang terarah dan berjalan dalam waktu lama
 Prognosis

Dengan operasi 90% perbaikan fungsi secara baik dalam 1 tahun. Perbaikan motoris biasanya lebih

cepat dari pada sensorik. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan dan prognosis adalah:

diagnosis etiologi spesifik, usia lanjut, pernah nyeri pinggang sebelumnya dan gangguan psikososial.

Sebagian besar pasien sembuh secara cepat dan tanpa gangguan fungsional. Rata-rata 60-70% sembuh

dalam 6 minggu, 80-90% dalam 12 minggu. Penyembuhan setelah 12 minggu berjalan sangat lambat

dan tak pasti. Diagnosis sangat berkaitan dengan penyembuhan, penderita nyeri pinggang bawah

dengan iskialgia membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan tanpa iskialgia. Dari penelitian

Weber, tahun pertama terdapat perbaikan secara signifikan pada kelompok yang dioperasi dibanding

tanpa operasi, namun kedua kelompok baik dioperasi maupun tidak, pada observasi tahun ke 4-10

terlihat perbaikan yang ada tidak berbeda secara signifikan

 Edukasi

 Olahraga secara teratur untuk mempertahankan kemampuan otot, seperti berlari dan berenang.

 Hindari mengangkat barang yang berat, edukasi cara mengangkat yang benar.

 Tidur di tempat yang datar dan keras.

 Hindari olahraga/kegiatan yang dapat menimbulkan trauma

 Kurangi berat badan.

1. Objektif:

Dari hasil anamensis dan pemeriksaan fisik mendukung diagnosis LBP e.c HNP. Pada kasus ini

ditegakan berdasarkan:

1. Gejala klinis: nyeri pinggang, menjalar ke bokong, ke kaki, kesemutan (-), baal (+)

2. Riwayat penyakit terdahulu : pasien jatuh terduduk dua tahun lalu dan ditemukan adanya

fraktur kompresi.
3. Pemeriksaan Penunjang : pada pemeriksaan darah lengkap tidak dapat menentukan diagnosis.

Diagnosis :

Chronic LBP e.c HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

Pengobatan :

Advice [Link].S

Medikamentosa :

 IVFD NaCl 0,9% 20 tpm

 Ranitidin 2x50 mg iv

 Ketorolac 3x30 mg iv

Follow Up

Tanggal Perjalanan penyakit Penatalaksanaan

16-12-2019 S : nyeri pinggang (+),  IVFD NaCl 0,9% 20 tpm

kesemutan (-), baal (+), pasien  Ranitidin 2x50 mg iv

mengatakan kesusahan untuk  Ketorolac 3x30 mg iv

miring kanan dan kiri

O : cm, sakit sedang

TD 110/80, N 84 R 20 S 36,7

Motoric 5/5/5/5

Laseque -/-

A : chronic LBP e.c HNP e.c post

fraktur kompresi

17-12-2019 S : nyeri pinggang (+),  IVFD NaCl 0,9% 20 tpm

kesemutan (-), baal (-), pasien  Ranitidin 2x50 mg iv

mengatakan kesusahan untuk  Tramadol drip dalam Nacl

miring kanan dan kiri 500 cc


O : cm, sakit sedang  Pregabalin 2x75 mg i.v

TD 110/80, N 92 R 20 S 36,7  Mecobalamin 2x500 mg i.v

Motoric 5/5/5/5

Laseque -/-

A : chronic LBP e.c HNP e.c post

fraktur kompresi

18-12-2019 S : nyeri pinggang (+),  IVFD NaCl 0,9% 20 tpm

kesemutan (-), baal (-), pasien  Ranitidin 2x50 mg iv

mengatakan sudah bisa miring  Tramadol drip dalam Nacl

kanan dan kiri 500 cc

O : cm, sakit sedang  Pregabalin 2x75 mg i.v

TD 110/80, N 92 R 20 S 36,7  Mecobalamin 2x500 mg i.v

Motoric 5/5/5/5

Laseque -/-

A : chronic LBP e.c HNP e.c post

fraktur kompresi

19-12-2019 S : nyeri pinggang (+),  IVFD NaCl 0,9% 20 tpm

kesemutan (-), baal (-), pasien  Ranitidin 2x50 mg iv

mengatakan sudah bisa miring  Pregabalin 2x75 mg i.v

kanan dan kiri  Mecobalamin 2x500 mg i.v

O : cm, sakit sedang

TD 110/80, N 92 R 20 S 36,7

Motoric 5/5/5/5
Laseque -/-

A : chronic LBP e.c HNP e.c post

fraktur kompresi

1. Edukasi

2) Edukasi mengenai penyakit pasien

3) Harus tetap aktif, hindari mobilisasi

4) Hindari mengangkat barang yang berat

5) Posisi berbaring semiflower, panggul dan lutut fleksi digantal bantal

6) Melakukan latihan fisik seperti aerobic untuk memperkuat otot batang tubuh

7) Konsultasi

Konsultasi dengan spesialis penyakit saraf untuk penanganan selanjutnya.

PESERTA PEMBIMBING

dr. Cika Elnandari dr. Allan Yudhiatmoko, Sp. S

PEMBIMBING PEMBIMBING
dr. Abdul Jaelani dr. Danengsih

Anda mungkin juga menyukai