BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Madrasah keberadaannya sampai saat ini masih dianggap oleh sebagian masyarakat
sebagai lembaga pendidikan yang masih konservatif di era globalisasi. Beberapa dekade
lalu, madrasah seringkali tertinggal bilamana dibandingkan dengan sekolah umum lainnya,
seperti prestasi hasil belajar siswa yang rendah, lembaga pendidikan dikelola dengan
manejemen seadanya, guru kurang berkualitas dan gaji pun rendah. Begitu pula dengan
sarana dan prasarana pendidikan yang masih apa adanya belum sesuai dengan strandar.
Karena itu, madrasah pun menghadapi persoalan yang cukup dilematis. Bahkan seperti
tidak ada prestasi yang dihasilkan oleh madrasah kecuali dalam hal mendalami nilai-nilai
religius yang sangat mengedepankan nilai-nilai agama pribadi luhur dan akhlak [Link]
ini pendidikan di madrasah mencoba untuk bertransformasi menjadi lembaga pendidikan
yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Perlu adanya dukungan dari
pemerintah untuk memajukan madrasah guna memberikan kontribusi bagi kemajuan
pendidikan secara umum. Disamping adanya dukungan dari pemerintah, optimalisasi dari
proses pembelajaran merupakan salah satu faktor pendukung terhadap kemajuan mutu
pendidikan. 1
Dalam rangka memajukan pendidikan nasional diperlukan suatu paradigma yang jelas
melalui tatanan normatif dalam bentuk undang-undang sistem pendidikan nasional dan
peraturan pemerintah yang akan memberikan arahan makro terhadap pendidikan nasional,
dan selanjutnya peraturan daerah yang akan mengembangkan potensi keunggulan lokal
yang dapat memperkaya potensi nasional. Bagi para praktisi pendidikan dalam upayanya
memajukan pendidikan maka minimal ia harus berangkat dari dua paradigma: (1)
1
2
Paradigma Normatif, dan (2) Paradigma [Link] normatif adalah perangkat
perundang-undangan dan peratuan di bidang pendidikan yang merupakan pedoman dalam
pengelolaan pendidikan. Jika harus berangkat dari perundang-undangan yang sedang
berlaku, maka pijakan awalnya dari UUD pasal 31 tentang pendidikan kemudian UU No.2
tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan berbagai peraturan pemerintah
sebagai turunannya. Kemudian UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
dengan berbagai peraturan daerah yang mengatur implementasinya di daerah. Terdapat
kecenderungan lulusan suatu jenis/jenjang pendidikan tidak memiliki keterampilan dasar
sesuai dengan keterampilan yang seharusnya menjadi kewajiban jenis/jenjang pendidikan
untuk memberikannya.2 Berdasarkan pengalaman tersebut, maka muncul kebijakan
penerapan konsep life skills di semua satuan, jenis dan jenjang pendidikan dengan harapan
para tamatan pendidikan tersebut dapat menguasai keterampilan dasar minimal sesuai
standar kewenangannya.
KMA 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah
diterbitkan Kementerian Agama untuk mendorong dan memberi aturan bagaimana
berinovasi dalam mengimplementasikan kurikulum madrasah serta memberikan payung
hukum dalam pengembangan kekhasan Madrasah, pengembangan penguatan Karakter,
Pendidikan Anti Korupsi dan Pengembangan Moderasi Beragama pada Madrasah. Secara
umum madrasah inovatif adalah madrasah yang terus-menerus melakukan pembaharuan
dalam merespons perubahan lingkungan, memiliki kemampuan mengembangkan ide-ide
baru untuk meningkatkan lembaganya, sehingga adaptif terhadap perubahan jaman.
Madrasah inovatif, pandai mewujudkan tujuan pendidikan dan pandai mengasah
kompetensi peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan hidup secara efektif. Madrasah
inovatif selalu melakukan pembaharuan materi, strategi dan proses pembelajaran, sehingga
menghasilkan lulusan yang memiliki daya adaptasi terhadap setiap perubahan,
perkembangan iptek dan mampu menggali ide yang diterima masyarakat luas dalam
konteks persaingan yang ketat. Dengan demikian madrasah Inovatif adalah madrasah yang
melakukan pendekatan terhadap dunia pendidikan dari perspektif yang baru, sehingga
madrasah inovatif akan selalu memberi kebebasan peserta didik untuk berkreasi,
mengekspresikan perasaan dan kemampuannya, mampu memenuhi kebutuhan peserta
2
Masruroh, Z. Manajemen pendidikan keterampilan (vocational skill) di man kembang sawit. Heritage,1 (2016), 417–
[Link]: [Link]
3
didik terhadap lingkungan, menerapkan kurikulum berbasis kompetensi dan
mengembangkan peserta didik pada seluruh aspek kepribadiannya, sehingga menghasilkan
lulusan yang berkualitas.
Sekolah inovatif memiliki beberapa karakteristik, yaitu 1) mempunyai ide pendidikan
yang berani, kreatif, inovatif dan mampu diterapkan di kelas; 2) memiliki standar peserta
didik dan staf yang tinggi, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat yang juga tinggi; 3)
tingkat eksperimen, metode, pendekatan, dan strategi pembelajaran yang tinggi; 4)
memiliki data hasil penilaian dan peningkatan keberhasilan peserta didik yang
terdokumentasi lewat sistem informasi manajemen sekolah; 5) semangat pengabdian,
profesionalitas dan keterlibatan staf yang tinggi dalam usaha mewujudkan peserta didik
terbaik; 6) melakukan usaha yang terstruktur untuk menjadi sekolah Seni Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STTM); dan 7) memiliki kemitraan
yang luas. Dengan kata lain, sekolah inovatif memiliki bentuk-bentuk inovasi pada proses
belajar mengajar mencakup inovasi pada: manajemen kurikulum; manajemen pelaksanaan
pembelajaran, manajemen siswa; manajemen personil ketenagaan; manajemen tatalaksana
atau ketatausahaan; manajemen sarana dan material; manajemen anggaran; manajemen
lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi pendidikan; dan manajemen hubungan
masyarakat atau komunikasi pendidikan3
MAN 1 Kota Kediri merupakan salah satu madrasah yang melaksanakan inovasi
kurikulum sebagai madrasah aliyah plus keterampilan. Keberadaaan MAN 1 Kota Kediri
cukup menarik bagi madrasah-madrasah plus keterampilan di wilayah Jawa Timur bahkan
di tingkat Nasional karena program keterampilannya cukup eksis meskipun mengalami
beberapa kali perubahan kurikulum. Secara geografis letak MAN 1 Kota Kediri berada di
wilayah Kota Kediri, namun siswanya tidak hanya dari wilayah Kota Kediri saja sebagian
berasal dari wilayah kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Blitar serta
dari luar provinsi Jawa Timur yang merupakan santri dari pondok-pondok pesantren di
wilayah Kota Kediri. Penyelenggaraan program Plus Keterampilan sebagai salah satu
inovasi madrasah merupakan jawaban dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang dalam
hal ini adalah siswa, orang tua, masyarakat, pendidikan tinggi dan dunia kerja. MAN 1
Kota Kediri sebagai madrasaha aliyah yang menjadi brancmarking bagi madrasah plus
3
Hidayati, U. Inovasi Madrasah Melalui Penyelenggaraan Madrasah Riset. EDUKASI: Jurnal Penelitian
Pendidikan Agama Dan Keagamaan( 2019), 17(3), 238–[Link]: [Link]
4
keterampilan lainnya tentu harus memiliki manjemen yang baik. Sebagaimana hasil
observasi awal oleh peneliti menunjukkan bahwa MAN 1 Kota Kediri disamping sebagai
madrasah aliyah yang memiliki kurikulum mata pelajaran umum dan PAI juga telah
menerapkan sistem SKS ini memiliki program keterampilan yang terintegrasi dengan
kurikulum. Program keterampilan di MAN 1 Kota Kediri sudah ada sejak sebelum KMA
184 terbit, oleh karenanya sering dijadikan sebagai rujukan bagi MA Plus Keterampilan
lainnya. Dalam SK Dirjen Pendis 2851 Tahun 2020 mengenai penetapan MA Plus
Keterampilan disana terdapat 8 jenis keterampilan, ini paling banyak jika dibandingkan
dengan MA Plus keterampilan lainnya di Jawa Timur, khususnya di wilayah eks
karesidenan Kediri. Prestasi akademik dan non akademik cukup signifikan dalam menarik
jumlah pelanggan (siswa baru). Para lulusan sebagian bersar melanjutkan ke Perguruan
Tinggi namun diantara lulusan tersebut juga ada yang membuka usaha sesuai keterampilan
yang diperoleh saat bersekolah di MAN 1 Kota Kediri. Penyelenggaraan program
keterampilan sebagai salah satu image branding bagi MAN 1 Kota Kediri tentunya
memerlukan manajemen kurikulum yang baik. Sebagaimana dinstruksikan oleh KSKK
bahwa pelaksanaan KMA 184 Tahun 2019 harus dilaksanakan secara serentak di seluruh
wilayah Indonesia pada tahun pelajaran 2020/2021, namun pada awal pelaksanaan di
MAN 1 Kota Kediri terjadi kondisi Darurat Covid-19.
Melihat fenomena diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui keberhasilan suatu
program implementasi kurikulum diperlukan suatu informasi yang dapat diandalkan
terkait dengan ketercapaian implementasi kurikulum khususnya Kurikulum MA Plus
Keterampilan di MAN 1 Kota Kediri melalui sebuah kegiatan evaluasi. Evaluasi hasil
implementasi kurikulum MA Plus Keterampilan di MAN 1 Kota Kediri dapat memberikan
informasi kepada pembuat program untuk membantu perbaikan dan pengembangan
program pendidikan. Evaluasi terhadap Komponen konteks , input, proses program dan
output program keterampilan di MAN 1 Kota Kediri berdasarkan SK Dirjen Pendis nomor
1026 tahun 2016 sudah pernah dilakukan oleh Vicky Rivaldi Nugroho pada tahun 2019
dengan model CIPP.4 Pada perkembangan selanjutnya tahun yang sama, pemerintah
menetapkan KMA 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada
Madrasah yang secara terperinci memuat struktur kurikulum MA plus Keterampilan dan
inovasi-inovasi lainnya. Sebagaimana instruksi oleh Bidang Penma Kemenag RI bahwa
4
Nugroho, Vicky Rivaldy (2019) Evaluasi Program Keterampilan di MAN 1 Kota Kediri (Studi Evaluatif
Model CIPP). Masters thesis, IAIN Kediri.
5
KMA 184 tersebut harus dilaksanakan secara serempak pada semua jenjang pendidikan
madrasah pada Tahun Pelajaran 2020/2021. MAN 1 Kota Kediri menindaklanjuti dengan
melaksanakan KMA 184 tersebut sampai sekarang, meskipun pada pertengahan bulan
Maret 2021 terjadi Pandemi Covid-19. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan
evaluasi kurikulum secara lebih menyeluruh dengan model Countenance Stake agar bisa
mengambarkan dan memberikan pertimbangan untuk kebijakan selanjutnya di MAN 1
Kota Kediri.
Kurikulum di MAN 1 Kota Kediri memiliki banyak aspek yang menarik untuk dikaji,
akan tetapi dalam penelitian ini hanya akan dibahas mengenai kurikulum MA Plus
keterampilan khususnya mata pelajaran keterampilan. Kurikulum yang dilaksanakan untuk
mata pelajaran keterampilan di MAN 1 Kota Kediri berbeda dengan SMK ataupun MAK
pada [Link] karena itu, judul penelitian yang akan diambil adalah “Evaluasi
Kurikulum Madrasah Aliyah Plus Keterampilan di MAN 1 Kota Kediri dengan
Model Countenance Stake”
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah evaluasi kurikulum Madrasah Aliyah Plus Keterampilan di
MAN 1 Kota Kediri dengan model Countenance Stake. Selanjutnya fokus penelitian akan
dibagi sesuai dengan evaluasi model Countenance Stake yang terdiri dari :
1. Bagaimana kurikulum madrasah aliyah plus keterampilan di MAN 1 Kota Kediri
ditinjau dari aspek antecedents (persiapan)?
2. Bagaimana kurikulum madrasah aliyah plus keterampilan di MAN 1 Kota Kediri
ditinjau dari aspek transaction (proses)?
3. Bagaimana kurikulum madrasah aliyah plus keterampilan di MAN 1 Kota Kediri
ditinjau dari aspek outcomes (hasil)?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini mengevaluasi kurikulum Madrasah Aliyah Plus Keterampilan di
MAN 1 Kota Kediri dengan model Countenance Stake. Selanjutnya tujuan penelitian akan
dibagi sesuai dengan evaluasi model Countenance Stake yang terdiri dari :
6
1. Menjelaskan kurikulum madrasah aliyah plus keterampilan di MAN 1 Kota Kediri
ditinjau dari aspek antecedents (persiapan).
2. Menjelaskan kurikulum madrasah aliyah plus keterampilan di MAN 1 Kota Kediri
ditinjau dari aspek transaction (proses).
3. Menjelaskan kurikulum madrasah aliyah plus keterampilan di MAN 1 Kota Kediri
ditinjau dari aspek outcomes (hasil).
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritik dan praktis, yaitu sebagai berikut:
1. Secara teoretik
Secara teoretik penelitian evaluasi ini diharapkan dapat berguna untuk
mempertajam dan mengembangkan manajemen kurikulum madrasah aliyah
keterampilan guna meningkatkan mutu lembaga pendidikan madrasah.
2. Secara praktis
Dengan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi MAN 1 Kota Kediri
sebagai bahan evaluasi manajemen kurikulum madrasah aliyah keterampilan.
E. Penelitian Terdahulu
Kajian terhadap penelitian terdahulu bertujuan untuk mencari persamaan dan
perbedaan antara penelitian yang akan peneliti tulis dengan penelitian-penelitian
terdahulu. Ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan ditulis oleh
peneliti, diantaranya adalah:
Nama/Tahun Judul Tesis Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
Pengelolaan Hasil penelitian ini adalah Sama-sama Penelitian di
Nurul Program (1) perencanaan program studi kasus di MAN 1
Diniyati Vokasional vokasional diawali Madrasah Magelang lebih
Tahun 2015 Pada dengan identifikasi Aliyah Negeri menekankan
Tesis Madrasah kebutuhan program yaitu yang merupakan pembahasan
Universitas Berwawasan kondisi latar belakang pelaksana mengenai fungsi
Negeri Pendidikan ekonomi siswa sebagian program manajemen
Semarang Keterampilan besar dari kalangan ketrampilan perencanaan,
(Studi Kasus menengah ke bawah, pengorganisasia
Di Madrasah kemudian tidak dapat n, pengarahan
Aliyah melanjutkan ke perguruan dan
Negeri tinggi, sehingga tujuan pengawasan.
7
Magelang) program vokasional adalah Adapun
untuk menyiapkan tenaga penelitian di
kerja dengan kemampuan MAN 1 Kota
menengah, persiapan Kediri hanya
program dilakukan dengan fokus ke
membentuk tim pelaksana Evaluasi
harian serta membuat Kurikulumnya
rencana pembiayaan; (2)
pengorganisasian
dilakukan dengan
membagi tugas kepada
pelaksana harian dan
penyusunan jadwal
program yang mengikuti
karakteristik full day
school system; (3)
pengarahan dilakukan oleh
kepala madrasah saat
briefing dan event-event
tertentu, serta motivasi
dilakukan dengan
memberikan motivasi
verbal untuk
menggerakkan seluruh
guru dan siswa yang
terlibat dalam program; (4)
pengawasan dilakukan
dengan mengadakan
supervisi kunjungan kelas
dan diikuti tindak lanjut.
Indra Manajemen 1) Perencanaan Kurikulum Sama-sama SMA Negeri
Moesthafa Kurikulum Sistem menelaah Probolinggo
Tahun 2018 Sistem Kredit Kredit Semester di SMA Manajemen merupakan
Tesis Semester Negeri 1 Probolinggo Kurikulum SMA dibawah
Universitas Dalam yakni: (a) menyiapkan dengan sistem Dinas
Islam Negeri Meningkatka perangkat pembelajaran SKS Pendidikan dan
Maulana n Prestasi yang berkaitan dengan Kebudayaan
Malik Belajar Siswa dasar hukum Sistem sedangkan
Ibrahim Di Sma Kredit Semester, berbagai MAN 1 Kota
Malang Negeri 1 macam media, sarana dan Kediri
Probolinggo prasarana yang dapat merupakan
menunjang pembelajaran lembaga
di sekolah; (b) Pendidikan
menyiapkan rencana Islam dibawah
pemetaan struktur mata Kemenag
pelajaran dan atau
kompetensi dasar di setiap
semesternya; (c)
menentukan alokasi
waktu; (d) menentukan
8
tujuan pembelajaran dan
pengidentifikasian materi
pembelajaran untuk siswa;
(e) mendesain kegiatan
pembelajaran; (f)
menentukan strategi dan
jenis penilaian yang akan
digunakan; (g) membantu
siswa menyusun Kartu
Rencana Studi. 2)
Pelaksanaan kurikulum
Sistem Kredit Semester di
SMA Negeri 1
Probolinggo, yakni: (a)
Kepala sekolah
mengembangkan
kurikulum dengan
memanfaatkan sarana dan
prasarana; (b) Kepala
sekolah memberi arahan
tentang pelaksanaan
kurikulum; (c) Kepala
sekolah memberikan solusi
kepada guru jika terdapat
kesulitan dalam praktek
pembelajaran; (d) Guru
melaksanakan
pembelajaran. 3) Evaluasi
kurikulum Sistem Kredit
Semester yang dilakukan
di SMA Negeri 1
Probolinggo yaitu melalui
rapat bersama wakil kepala
bidang kurikulum,
monitoring, supervisi,
laporan evaluasi. 4)
Implikasi manajemen
kurikulum Sistem Kredit
Semester dalam
meningkatkan prestasi
belajar siswa di SMA
Negeri 1 Probolinggo,
yakni (a) nilai-nilai siswa
SMA Negeri 1
Probolinggo ini tinggi di
ketiga aspek yang menjadi
penilaian, yaitu aspek
sikap, pengetahuan, dan
keterampilan; (b)
manajemen kurikulum
9
Sistem Kredit Semester
memotivasi siswa untuk
meningkatkan belajar; (c)
manajemen kurikulum
Sistem Kredit Semester
mengakomodasi
kemampuan serta
kecepatan belajar siswa;
(d) manajemen kurikulum
Sistem Kredit Semester
memberikan dampak
psikologis, fisiologis, dan
kognitif bagi siswa.
Vicky Evaluasi Komponen konteks , input, Sama-sama Evaluasi
Rivaldi Program proses program dan output menelaah Manajemen
Nugroho/ Keterampilan program keterampilan di madrasah aliyah Kurikulum
2019 di MAN 1 MAN 1 Kota Kediri sudah Plus program terkait
Tesis Kota Kediri Efektif dan memenuhi keterampilan di pelaksanaan
IAIN Kediri (Studi standar yang ditetapkan MAN 1 Kota KMA 184
Evaluatif yaitu SK Dirjen Pendis Kediri dengan Tahun 2019
Model CIPP) nomor 1026 tahun 2016 model Evaluasi pada Masa
CIPP Darurat Covid
Rakhmat Studi 1) Implementasi Sama-sama Manajemen
Raafi/ 2020 Implementasi manajemen kurikulum menelaah kurikulum yang
Tesis Manajemen Sekolah Islam Terpadu di Manajemen dilaksanakan
Universitas Kurikulum SDIT Ihsanul Fikri Kota Kurikulum berbeda jenjang
Muhamadiya Sekolah Magelang dilakukan sekolah dan
h Magelang Islam dengan menggunakan status
Terpadu Di prinsip-prinsip sekolahnya
Sdit Ihsanul manajemen, yaitu bukan sekolah
Fikri perencanaan kurikulum, Negeri
Kota pengorganisasian
Magelang kurikulum, pelaksanaan
kurikulum dan
pengawasan/evaluasi
kurikulum;
2) Faktor-faktor yang
mendukung implementasi
manajemen kurikulum
Sekolah Islam Terpadu di
SDIT Ihsanul Fikri Kota
Magelang meliputi:
potensi dan kemampuan
siswa, jumlah guru yang
memadai dan
berkompeten, kesamaan
visi dan misi antara
kepala sekolah, guru dan
karyawan, motivasi
belajar yang tinggi pada
10
guru dan siswa, adanya
dukungan dari orang tua
siswa serta sarana dan
prasarana sekolah yang
memadai. Sedangkan
faktor-faktor yang
menghambat
implementasi manajemen
kurikulum Sekolah Islam
Terpadu di SDIT Ihsanul
Fikri Kota Magelang
adalah minimnya minat
baca guru untuk
menambah wawasan
terkait inovasi
pembelajaran,
menurunnya tanggung
jawab guru dalam
melaksanakan tanggung
jawabnya, keberagaman
karakteristik siswa,
perbedaan visi antara
pihak sekolah dengan
orang tua siswa serta
meningkatnya kebutuhan
dan kualitas SDM;
3) Strategi yang dilakukan
sekolah dalam
pelaksanaan kurikulum
Sekolah Islam Terpadu
agar sesuai dengan
kekhasan JSIT adalah
dengan rekrutmen guru-
guru yang memiliki
kualifikasi khusus sampai
kepada pelatihan-pelatihan
penunjangnya serta
memperkuat komunikasi
dan teamwork di antara
pimpinan, koordinator
jenjang (kelas), dan
seluruh guru dalam forum
khusus
Mariza Implementasi 1) Perencanaan Kurikulum Sama-sama MAN Bandung
Silvia/ 2020 Manajemen 2013 dilakukan menelaah Barat bukan
Tesis Kurikulum melalui kegiatan rapat Kurikulum di Madrasah
Universitas 2013 Di awal tahun bersama para Madrasah Aliyah Plus
Pendidikan Madrasah guru dan tenaga Aliyag Negeri Keterampilan
Indonesia Aliyah kependidikan, serta pelaksana
Negeri melakukan analisis Kurikulum 2013
11
Bandung struktur kurikulum,
Barat analisis kebutuhan guru,
menyusun jadwal
mengajar, dan pembekalan
guru; 2) Pengorganisasian
Kurikulum 2013
dilakukan melalui
kegiatan rapat atau
briefing, pendistribusian
tugas kepada guru dan
tenaga kependidikan,
membangun budaya dan
iklim madrasah serta
mengikuti kebijakan
nasional terkait
Kurikulum 2013; 3)
Pelaksanaan Kurikulum
2013 dilakukan melalui
kegiatan
pembelajaran yang
menggunakan kaidah-
kaidah Kurikulum 2013,
kegiatan
pengembangan diri peserta
didik, serta kegiatan
pengembangan
kompetensi guru; 4)
Evaluasi Kurikulum 2013
dilakukan melalui
kegiatan supervisi
akademik dan kegiatan
monitoring kurikulum
terhadap pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar
(analisis nilai hasil
belajar), lulusan yang
diterima di perguruan
tinggi dan kegiatan
kesiswaan
Tabel 1 Peneltian Terdahulu
Disamping itu juga terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan
penelitian ini pada jurnal sebagai berikut:
Nama/Jurnal/ Judul Hasil Persamaan Perbedaan
Tahun
Fauziah, N., Evaluasi Sekolah inklusi yang Sama-sama Model evaluasi
Munsyifah, Kurikulum diterapkan MAN 2 Sleman evaluasi yang digunakan
A., & Pendidikan merupakan terobosan baru kurikulum di dalam pelaksanan
12
Purwanto, M. Inklusi Di untuk pendidikan anak Madrasah evaluasi program
R. (2021).. At- Madrasah yang menyandang pendidikan inklusi
Thullab Jurnal Aliyah kebutuhan khusus sudah yaitu, model
Mahasiswa Negeri 2 sejalan dengan konvensi Descrepancy.
Studi Islam, Sleman PBB mengenai Hak Asasi Langkah-
3(1), 641–649. Yogyakarta Manusia tanpa langkahnya yaitu :
[Link] diskriminasi khusunya di a. Design, b.
[Link]/thulla bidang pendidikan. Instalation, c.
b/article/view/ Program ini sudah berjalan Process, d.
20317 sesuai dengan sebagamana Product, e.
mestinya perencanaan Comparation.
kurikulum inklusi tetapi Sedangkan
masih ada beberapa faktor Evaluasi
yang menjadi kendala Kurikulum MA
dalam pelaksanaannya. Plus Keterampilan
Hasil penelitian yang di MAN 1 Kota
diperoleh ialah kurikulum Kediri
inklusi yang diterapkan di menggunakan
MAN 2 Sleman memang model Contenace
sudah baik dalam Stake
implementasinya, perlu
dikembangkan lebih serius
lagi agar kurikulum yang
sudah dirancang
direalisasikan secara
matang dan berkembang.
Khususnya dari segi
fasilitas di sekolah yang
harus diseimbangkan
antara fasilitas umum dan
fasilitas untuk siswa
disabilitas. Begitupula
dengan sumber daya
pendidik yang memang
harus diberikan pelatihan
baik secara teori dan
teknis untuk mengajar
serta membimbing anak
penyandang disabilitas
Barlian, I., Evaluasi Kesimpulan hasil penilaian Sama-sama Evaluasi hanya
Koryati, D., & Kualitas terhadap kualitas Desain menggunakan untuk desain mata
Jaenudin, R. Desain Pembelajaran Guru evaluasi model pelajaran
(2020). Jurnal Pembelajaran Ekonomi di kelas Countenence Ekonomi
PROFIT Ekonomi Di X IPS dengan Model Stake
Kajian Sekolah Countenence Stake, yaitu;
Pendidikan Menengah bahwa penilaian atas
Ekonomi Dan Atas keterkaitan dan
Ilmu Menggunaka keselarasan antara
Ekonomi, n Model perencanaan (antecedent),
7(1), 47–59. Countenence proses (transaction), dan
13
[Link] Stake hasil belajar (outcome)
10.36706/jp.v sudah Baik. Hasil analisis
7i1.11395 horizontal (Congruence)
dan vertikal
(Contingency) Desain
Pembelajaran Guru
Ekonomi juga sudah
adakesesuaian antara yang
diharapkan dengan yang
teramati/terobservasi
antara antecedent,
transaction, dan outcomes
dengan katgori Baik
Mohammad Madrasah 1. Madrasah vokasi di Sama-sama Vokasi di MAN 2
Alfan Makmur Vokasi MAN 2 Kota Madrasah Kota Probolinggo
pada Jurnal Bidang It Probolinggo diwujudkan Vokasi kerjasama dengan
PEDAGOGY Menyongson adanya kerjasama dengan ITS untuk
Vol.7 No.1 g Revolusi Institut 10 Nopember prodistik
(2020) Industri 4.0 (ITS) dalam bidang IT sedangkan MAN
Menuju sejak tahun 2017 hingga 1 Kota Kediri
Madrasah saat ini melalui prodistik. madrasah plus
Hebat Dan 2. Metode madrasah keterampilan
Bermartabat vokasi tersebut tanpa program
Di Man 2 dilaksanakan melalui Prodistik
Kota proses pembelajaran
Probolinggo kejuruan yang efektif
melalui kegiatan prodistik
di MAN 2 Kota
Probolinggo setiap
pulang sekolah secara
fakultatif. [Link] adanya
program madrasah vokasi
bidang IT di MAN 2
Kota Probolinggo,
ternyata mampu
menjadikan madrasah
sebagai madrasah yang
Hebat dan Bermartabat
dengan ditunjukkan
dengan banyaknya
prestasi yang diraih oleh
MAN 2 Kota Probolinggo
pada bidang IT dalam
ruang lingkup nasional
maupun internasional.
Wardina, U. Kurikulum Memasuki era revolusi Sama-sama Fokus penelitian
V., Jalinus, N., Pendidikan industri 4.0 memberi mengkaji ini pada
& Asnur, L. Vokasi Pada dampak pada lembaga kurikulum pendidikan vokasi
(2019). Era Revolusi pendidikan, pendidikan pada SMK/MAK
Jurnal Industri 4.0. khususnya pendidikan vokasi sedangkan MAN
14
Pendidikan, Jurnal vokasi. Pendidikan vokasi 1 Kota Kediri
Volume 20, Pendidikan, sebagai lembaga mencetak merupakan MA
Nomor 1, lulusan yang siap kerja Reguler dengan
Maret 2019, harus memeperhatikan tambahan
82-90 kebutuhan industri saat ini. keterampilan
[Link] Kurikulum pendidikan
10.33830/jp.v vokasi dituntut selalu
20i1.843.2019 beradaptasi dengan
perubahan kondisi,
teknologi, dan tuntutan
dunia kerja. Kurikulum
perlu menginetgrasikan
kompetensi dan literasi
baru yang relevan dengan
dunia kerja era revolusi
industri 4.0. Model dan
modus pembelajaran juga
perlu fleksibel,
menerapkan pembelajaran
tatap muka maupun yang
berbasis teknologi
informasi untuk
membangun peserta didik
menjadi pembelajar
mandiri. Dalam paradigma
baru ini peran pengajar
tetap strategis sebagai
perancang dan pelaksana
pembelajaran, lebih
berperan sebagai fasilitator
dan motivator supaya
peserta didik aktif dalam
proses belajar yang efektif
dan optimal. Untuk
menyusun kurikulum
pendidikan vokasi era
revolusi Industri 4.0
diperlukan sinergi yang
melibatkan pemerintah,
lembaga pendidikan, dan
industri untuk
merevitalisasi kurikulum.
Amalia Evaluasi Berdasarkan Sama-sama Evaluasi untuk
Puspayanti pembelajaran paparan hasil menggunakan model
Balai Diklat diklat penelitian dan pembahasan model pembelajaran
Keagamaan menggunaka maka dapat Countenance diklat sedangkan
Denpasar. n model disampaikan simpulan Stake Evaluasi
Jurnal Countenance bahwa pembelajaran kurikulum di
Andragogi Stake Diklat MAN 1 Kota
Volume: VI Teknis Substantif Kediri untuk MA
15
No. 1 Januari Peningkatan Kompetensi Plus keterampilan
– Juni 2018 PKG dan PKB bagi Guru
, 143–167. PAI SMA dan Guru
Madrasah (MTs dan MA)
di Lingkungan Kantor
Kementerian
Agama Kabupaten
Sumbawa
Tahun 2017 yang
dievaluasi menggunakan
model
Countenance Stake
menunjukkan hasil pada
kategori amat baik
dengan
capaian nilai sebesar
88,71%. Ketiga komponen
yang menjadi fokus
penelitian berada pada
kategori amat baik, namun
belum mencapai nilai
maksimal 100% sehingga
memerlukan tindak lanjut
dalam upaya peningkatan
kualitas proses
pembelajaran maupun
menindaklanjuti hasil
yang diperoleh setelah
mengikuti Diklat agar ada
bukti nyata dan
keberlanjutan
implementasi
pengetahuan
dan
keterampilan
pasca
Diklat sesuai dengan
substansi materi yang
diterima.
Sri Budiani Evaluasi Hasil penelitian ini Sama-sama Berbeda jenjang
, Sudarmin & Implementasi menyimpulkan penelitian pendidikannya
Rodia Kurikulum beberapa hal: (1) Kesiapan evaluasi (SD dan MA), dan
Syamwil. 2013 di implementasi di SD kurikulum K 13 lembaga yang
Innovative Sekolah Nasima Semarang dilihat dengan Model menaunginya
Journal of Pelaksana dari aspek guru, buku evaluasi yang (Kemdikbud dan
Curriculum Mandiri siswa dan pegangan guru, digunakan Kemenag).
and sarana prasarana, rencana adalah
Educational pembelajaran berkategori Countanance
Technology sangat baik (95%), (2) Stake. Model ini
IJCET 6 (1) Proses pembelajaran dan membagi
16
(2017) : 45 – evaluasi pembelajaran kegiatan
57 berkategori sangat baik , evaluasi dalam
[Link] 90% sudah sesuai dengan matriks
[Link]/sju Standar Proses dan observasi dan
/[Link]/ujet Standar Penilaian matriks
/article/view/1 Pendidikan, (3) Hasil pertimbangan
5998 implementasi yang pada tahap
meliputi respon peserta pendahuluan
didik dalam pembelajaran (antecedent),
dan hasil belajar dapat proses
dideskripsikan dengan (transaction),
angka 94% dan hasil (outcomes)
berkategori sangat baik,
(4) Tingkat keberhasilan
implementasi masuk
dalam kategorsi sangat
baik (93%), (5)
Keberhasilan
implementasi kurikulum
yanng sangat baik ini tidak
terlepas dari
terpemenuhinya standar
nasional pendidikan,
motivasi, kreativitas dan
kinerja yang baik dari para
guru selaku pelaksana
kurikulum.
Ishmah, S. A., Evaluasi Berdasarkan hasil Sama-sama Evaluasi program
Silitonga, H. Program penelitian dan menggunakan remidi dengan k
T. M., & Remedi pembahasan yang telah evaluasi model 13 namun hanya
Mursyid, S. S. Berbasis diperoleh pada Countenence pasa pembelajaran
(2016). Jurnal Kurikulum pelaksanaan penelitian Stake dan Fisika
Pendidikan 2013 Pada ini, maka dapat Kurikulum K 13
Dan …, 1–11. Pembelajaran dikemukakan beberapa
[Link] Fisika kesimpulan penelitian
[Link]/inde Menggunaka sebagai berikut:
[Link]/jpdpb/ar n Model (1) Perencanaan remedi
ticle/view/418 Countenance mata pelajaran Fisika
04 Stake berdasarkan angket respon
guru dikategorikan cukup
(59,26%) dan berdasarkan
angket respon peserta
didik dikategorikan cukup
(68,32%); (2) pelaksanaan
remedi mata pelajaran
Fisika berdasarkan angket
respon guru dikategorikan
kurang (42,86%) dan
berdasarkan angket respon
peserta didik dikategorikan
baik (71,68%); (3) hasil
17
pelaksanaan remedi mata
pelajaran Fisika menurut
angket respon guru
dikategorikan kurang
(50,00%) dan berdasarkan
angket repson peserta
didik dikategorikan
kurang (54,46%); dan (4)
terdapat contingency
antara perencanaan,
pelaksanaan, dan hasil
pelaksanaan remedi mata
pelajaran Fisika, yang
perencanaan pelaksanaan
remedi dengan kategori
yang cukup menyebabkan
guru melaksanakan
pembelajaran belum
sesuai standar dan
panduan penilaian
sehingga hasil remedi
peserta didik belum
memenuhi kebutuhan
peserta didik dalam
memahami materi
yang belum tuntas.
Tabel 2. Penelitian yang Relevan
F. Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan kemudahan memahami alur penulisan tesis ini, maka penulis
menyajikan sistematika pembahasan adalah sebagai berikut:
Pertama, Bab I adalah pendahuluan dan merupakan kerangka dasar tesis ini, yang di
dalamnya memuat sebagai berikut: konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, penelitian terdahulu atau kajian riset sebelumnya, dan sistematika
pembahasan tesis.
Kedua, Bab II adalah landasan teoretik yang dimanfaatkan sebagai pisau analisis dan
pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan, yang berisi
diantaranya: konsep dasar manajemen yang di dalamnya terdapat tentang pengertian,
manajemen kurikulum, fungsi manajemen kurikulum, prosedur pengembangan kurikulum
dan evaluasi kurikulum Coutigency Countenance Model Stake.
Ketiga, Bab III adalah setting dan penyajian data penelitian yang terdiri dari jenis dan
pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur
pengumpulan data, teknik analisis data dan pengecekan keabsahan data dari MAN 1 Kota
18
Kediri sebagai Madrasah Aliyah Plus Keterampilan meliputi tahapan-tahapan Antecedents,
Transaction, dan Outcome sebagaimana langkah-langkah evaluasi kurikulum Countigency
Countenance Model Stake.
Keempat, Bab IV adalah pembahasan dan temuan penelitian, yang akan
mensinergikan secara komprehensif objektif antara teori dangan fakta, sehingga bisa
diketahui apa yang seharusnya dan apa yang terjadi secara aktual. Adapun Model
countenance terdiri atas dua matriks yaitu gambaram (description) dan pertimbangan
(judgement) yang masing-masing terdiri dari Antecedents, Transaction, dan Outcome
terhadapa pelaksanaan kurikulum MA Plus Keterampilan sebagaimana diisyaratkan dalam
KMA 184 Tahun 2019.
Kelima, Bab V adalah penutup, merupakan epilog dari proses kerja ilmiah yang
diharapkan secara tepat memberikan rekomendasi untuk pelaksanaan Kurikulum
Madrasah Aliyah Plus Keterampilan, apakah perlu dilakukan perbaikan setelah melihat
fakta-fakta secara objektif dan komprehensif. Diantaranya tersaji dalam: kesimpulan dan
saran.