Menu
Utama
Laba-Rugi
PPM Manajemen
Jl. Menteng Raya 9, Jakarta 10340
Telp. (021) 2300313
Fax : (021) 2302051
[Link]
Tujuan Sesi Laba-Rugi
Konsep pendapatan dan
biaya
Memahami Format dasar laporan
laba-rugi
Penyusunan laporan
laba-rugi
Format Pelaporan
p
Format Pelaporan Akuntansi
Ste
PT. Telekomunikasi
g le
Sin
Perhitungan Laba-Rugi, 1 Jan. - 31 Des. 2006
Operating Revenues Pendapatan Usaha
Fixed Lines Telepon Tidak Bergerak XX
Cellular Telepon Selular XX
Interconnection Interkoneksi XX
Joint Operation Schemes Kerja Sama Operasi XX
Data and Internet Data dan Internet XX
Network Jaringan XX
Other Telecom. Services Jasa Telekomunikasi Lainnya XX +
Total Operating Revenues Jumlah Pendapatan Usaha XX
Operating Expenses Beban Usaha
Personnel Karyawan XX
Depreciation Penyusutan XX
Oper., Maint. & telc. Services Operasi, Peml. & Jasa Tel. XX
General & Administrative Umum & Administrasi XX
Marketing Pemasaran XX +
Total Operating Expenses Jumlah Beban Usaha XX
Income Before Tax Laba Sebelum Pajak XX
Tax Expense Beban Pajak XX -
Net Income Laba Bersih XX
Format Pelaporan Akuntansi
S tep
PT. Profito
le
ltip
Perhitungan Laba-Rugi, 1 Jan. - 31 Des. 2006
Mu
Sales Penjualan Bersih XX
Cost of Goods Sold Harga Pokok Penjualan XX -
Gross Profit Laba Kotor XX
Operating Expense Beban Usaha XX -
Operating Income Laba Usaha XX
Other Income (Expense) Pendapatan (Beban) Lain-lain XX +/-
Income Before Extra- Laba Sebelum pos Luar Biasa XX
ordinary Item
Extraordinary Item Pos Luar Biasa XX
Cumulative Effect of Pengaruh Kumulatif dari Peru-
Accounting Changes bahan Prinsip Akuntansi XX +/-
Income Before Tax Laba Sebelum PPh XX
Income Tax Pajak Penghasilan XX -
Net Income Laba Bersih XX
p
Ste
Format Analisis
le
PT. Profito
ltip
Mu
Perhitungan Laba-Rugi, 1 Jan. - 31 Des. 2006
Sales Penjualan Bersih XX
Cost of Goods Sold Harga Pokok Penjualan XX -
Gross Profit Laba Kotor XX
Operating Expense Beban Usaha XX -
Operating Income Laba Usaha XX
Other Income (Expense) Pendapatan (Beban) Lain-lain XX +/-
Earning Before Interest & Tax Laba Sebelum Bunga dan Pajak XX
Interest Expense Biaya Bunga XX -
Earning Before Tax Laba Sebelum Pajak XX
Income Tax Pajak Penghasilan XX -
Earning After Tax Laba Setelah Pajak XX
Pendapatan
Laporan Laba-Rugi
Utang
Neraca:
• Menggambarkan posisi keuangan Aset
Modal Disetor
Modal
perusahaan pada saat tertentu Agio
• Harta = Utang + Modal
Saldo Laba
Laporan Laba-Rugi:
• Menggambarkan hasil yang
dicapai/prestasi perusahaan selama
Laba Bersih
periode tertentu
• Pendapatan – Biaya = Laba
Biaya Pendapatan
(Beban) (Penjualan)
Klasifikasi Pendapatan
Pendapatan Operasi :
pendapatan yang diperoleh
dari usaha utama perusahaan
Pendapatan Non Operasi :
pendapatan yang diperoleh dari
usaha sampingan perusahaan
Konsep Pendapatan
Produk (perdagangan, manufaktur) : Pendapatan dari
penjualan produk diakui pada tanggal penjualan
(penyerahan produk).
Jasa (Konsultan) : Pendapatan perusahaan diakui pada
saat jasa telah dilakukan dan dapat dibuat fakturnya.
Jasa (Bank, Asuransi, Properti) : Pendapatan bunga,
sewa dan royalti diakui sejalan dengan berlalunya
waktu.
Lain-lain : Pendapatan dari penjualan aktiva tetap atau
surat berharga diakui pada tanggal penjualan.
Contoh : United Tractors 2003
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI
o. Pengakuan penghasilan dan beban
Penghasilan bersih adalah penghasilan yang
diperoleh dari penjualan produk dan jasa,
setelah dikurangi retur, cadangan penjualan,
cukai dan Pajak Pertambahan Nilai.
Penghasilan dari penjualan dalam negeri
diakui pada saat barang diserahkan dan
diterima pelanggan dan jasa telah selesai
dikerjakan. Penghasilan dari penjualan ekspor
diakui pada saat barang dikapalkan.
Beban diakui pada saat terjadinya
berdasarkan metode akrual.
Contoh : Telkom 2003
p. Pengakuan pendapatan dan beban
i. Pendapatan sambungan telepon tidak bergerak
Pendapatan dari biaya pemasangan sambungan telepon tidak bergerak diakui pada saat
pesawat pelanggan mulai berfungsi. Pendapatan dari biaya pemakaian diakui pada saat
pelanggan memakai telepon tersebut.
ii. Pendapatan telepon selular dan jaringan tetap nirkabel
Pendapatan dari jasa penyambungan diakui pada saat pesawat telepon selular pelanggan
diaktivasi. Pendapatan pulsa (airtime) dan pendapatan bulanan diakui pada saat diakses dan
saat terjadinya. Pendapatan kartu prabayar yang terdiri dari penjualan kartu perdana (starter
pack) yang dikenal sebagai kartu Subscriber Identification Module (“SIM”) untuk selular dan
Removable Unit Identity Card (“RUIM”) untuk telepon tetap nirkabel dan voucher pulsa isi ulang
diakui sebagai berikut:
1. Penjualan kartu perdana (starter pack) diakui sebagai pendapatan pada saat kartu perdana
tersebut diserahkan kepada distributor, penyalur, atau langsung kepada pelanggan.
2. Penjualan voucher pulsa isi ulang diakui sebagai pendapatan diterima di muka dan secara
proporsional diakui sebagai pendapatan berdasarkan jumlah panggilan yang berhasil
dilakukan oleh pelanggan atau pada saat sisa pulsa pada voucher prabayar telah habis
masa berlakunya.
iii. Pendapatan interkoneksi
Pendapatan dari interkoneksi jaringan dengan penyelenggara telekomunikasi dalam negeri dan
internasional diakui pada saat terjadinya dan disajikan sebesar jumlah neto atas beban
interkoneksi.
Contoh : BNI46 2003
Biaya (Beban)
Harga Pokok Penjualan
(Perdagangan)
Persediaan awal barang XX
Pembelian XX
Transport pembelian XX +
XX
Retur pembelian XX
Potongan pembelian XX +
XX -
Pembelian bersih XX+
Barang tersedia untuk dijual XX
Persediaan akhir XX -
Harga pokok penjualan XX
Harga Pokok Penjualan
(Manufaktur)
Persediaan awal barang XX
Harga pokok produksi XX +
Barang tersedia untuk dijual XX
Persediaan akhir XX -
Harga pokok penjualan XX
Harga Pokok Produksi
Pemakaian bahan :
Persediaan awal XX
Pembelian XX
Transport pembelian XX+
Pembelian bersih XX+
Bahan siap dipakai XX
Persediaan akhir XX -
Bahan dipakai XX
Biaya tenaga kerja langsung XX
Biaya overhead pabrik XX+
Total biaya produksi XX
Persediaan awal barang dalam proses (BDP) XX +
XX
Persediaan akhir BDP XX -
Harga pokok produksi XX
Langkah Menghitung Harga
Pokok Penjualan
P. AWAL P. AWAL P. AWAL
BAHAN BDP B. JADI
BIAYA TK
LSG. HARGA HARGA
PEMBE- BIAYA
BAHAN POKOK POKOK
LIAN PRO-
TERPAKAI PRO- PENJU-
BAHAN DUKSI DUKSI ALAN
BIAYA
[Link]
P. AKHIR P. AKHIR P. AKHIR
BAHAN BDP B. JADI
Persediaan
Persediaaan
Neraca Persediaan Pembelian
Awal
Tersedia untuk Dijual
Terjual (Harga Pokok Persediaan Neraca
Penjualan) Akhir
Laba-Rugi
Specific Identification Method
• Pencatatan barang yang dibeli dan
dijual ditelusuri secara akurat
riwayat masing-masing barang
Contoh : United Tractors 2003
• Persediaan dinilai pada nilai terendah
antara harga perolehan dengan nilai
realisasi bersih. Harga perolehan pada
umumnya ditentukan berdasarkan
metode identifikasi khusus untuk unit
alat-alat berat dan barang dalam
proses
FIFO vs. LIFO
FIFO (First In First Out) LIFO (Last In First Out)
Contoh FIFO-LIFO
• Persediaan awal 10 unit @ 100 nilai 1.000
• Pembelian 1 10 unit @ 110 nilai 1.100
• Pembelian 2 10 unit @ 120 nilai 1.200
• Total tersedia 30 unit nilai 3.300
• Terjual 25 unit
• Sisa 5 unit
• Pertanyaan : [Link] harga pokok penjualan?
[Link] nilai persediaan akhir?
Contoh 1 : FIFO
Terjual :
• Persediaan awal 10 unit @ 100 nilai 1.000
• Pembelian 1 10 unit @ 110 nilai 1.100
• Pembelian 2 5 unit @ 120 nilai 600
• Harga pokok penjualan :
25 unit nilai 2.700
• Persediaan akhir 5 unit @ 120 nilai 600
Contoh 2 : LIFO
Terjual :
• Pembelian 2 10 unit @ 120 nilai 1.200
• Pembelian 1 10 unit @ 110 nilai 1.100
• Persediaan awal 5 unit @ 100 nilai 500
• Harga pokok penjualan :
25 unit nilai 2.800
• Persediaan akhir 5 unit @ 100 nilai 500
Contoh 3 : Rata-rata
• Persediaan awal 10 unit @ 100 nilai 1.000
• Pembelian 1 10 unit @ 110 nilai 1.100
• Pembelian 2 10 unit @ 120 nilai 1.200
• Total tersedia 30 unit nilai 3.300
• Rata-rata per unit 110
• HPP 25 unit @ 110 nilai 2.750
• Persediaan akhir 5 unit @ 110 nilai 550
Contoh : United Tractors 2003
f. Persediaan
• Persediaan dinilai pada nilai terendah antara harga perolehan
dengan nilai realisasi bersih. Harga perolehan pada umumnya
ditentukan berdasarkanmetode rata-rata untuk persediaan suku
cadang, bahan baku, batu bara dan bahan pembantu.
• Harga perolehan barang jadi dan barang dalam proses terdiri dari
biaya bahan baku, tenaga kerja serta alokasi biaya overhead yang
dapat diatribusi secara langsung baik yang bersifat tetap maupun
variabel.
• Nilai realisasi bersih adalah estimasi harga penjualan dalam kegiatan
usaha normal, dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan beban
penjualan.
• Penyisihan untuk persediaan usang dan tidak lancar ditentukan
berdasarkan estimasi penggunaan atau penjualan masing-masing
jenis persediaan pada masa mendatang.
Penyusutan
Penyusutan
Alokasi sistematik jumlah yang dapat disusutkan dari
suatu aktiva sepanjang masa manfaat
PSAK No.16
Yang mempengaruhi tarip penyusutan :
• nilai perolehan
• perkiraan umur ekonomis
• perkiraan nilai sisa (salvage value)
Metode Depresiasi
Straight - line method (Metode garis lurus)
Double declining - balance method (Metode
saldo menurun ganda)
Production method (Metode produksi)
Metode Garis Lurus
• Besar penyusutan per tahun adalah sama dari awal sampai
akhir umur aset
Nilai perolehan - Nilai sisa
Penyusutan =
Umur aset
60
40
20
0
1 2 3 4
Metode Garis Lurus - Contoh
• Harga beli mobil 160 juta, umur 4 tahun
• Penyusutan :
– Tahun 1 = 1/4 x 160 =40 juta
– Tahun 2 = 1/4 x 160 =40 juta
– dst
Metode Saldo Menurun Ganda
• Nilai buku = Nilai perolehan - akumulasi
penyusutan
• Nilai buku = Nilai perolehan di tahun ke 0
• Saldo menurun ganda (double declining
balance) =
2 X (100% / Umur aset)
Metode Saldo Menurun
Ganda - Contoh
• Harga beli mobil 160 juta, umur 4 tahun
• Tarip penyusutan = (100%/4)x2 = 50%
• Penyusutan :
– Tahun 1 = 50% x 160 = 80 juta
– Tahun 2 = 50% x (160 – 80) = 40 juta
– dst
Straight Line vs. Double
Declining Balance
Mesin :
Harga : Rp 160 jt.
8 Umur : 4 tahun
0
Th 1 Th 2 Th 3 Th 4
-2
-4
STRAIGHT LINE DOUBLE DECLINING BALANCE
KOREKSI LABA KOREKSI PAJAK
Metode Unit Produksi
• Besar penyusutan bervariasi
tergantung kepada tingkat
pemakaian kapasitas
Nilai perolehan - Nilai sisa
Tarip =
Kapasitas sepanjang umur aset
Metode Unit Produksi - Contoh
• Harga beli mobil 160 juta, 160.000 Km (kilometer)
• Tarip penyusutan = 160 juta / 160.000 km = 1.000/km
• Pemakaian :
– Tahun 1 = 45.000 km
– Tahun 2 = 50.000 km
• Penyusutan :
– Tahun 1 = 45.000 x 1.000 =45 juta
– Tahun 2 = 50.000 x 1.000 =50 juta
– dst
Tarip Penyusutan Harta
Berwujud
Kelompok Masa Tarip
manfaat GL DDB
I. Bukan bangunan
- Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
- Kelompok 2 8 12.5 25
- Kelompok 3 16 6.25 12.5
- Kelompok 4 20 5 10
II. Bangunan
- Permanen 20 tahun 5 %
PAJAK
- Tidak permanen 10 10
Tarip Amortisasi
Harta Tak Berwujud
Kelompok Masa Tarip
manfaat GL DDB
- Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
- Kelompok 2 8 12.5 25
- Kelompok 3 16 6.25 12.5
- Kelompok 4 20 5 10
PAJAK
End of session !