BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan
agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sudjana
(2005, p. 21). Dalam proses belajar mengajar diharapkan pendidik dapat menyampaikan materi yang
diajarkan dan memberi fasilitas dalam belajar, sedangkan siswa dapat memahami materi yang
diajarkan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan seperti yang diharapkan.
Dalam proses pembelajaran tidak pernah lepas dari munculnya masalah belajar siswa. Tahap adopsi
dan adaptasi teknologi telah mengarah pada paradigma “ melakukan hal-hal baru dengan cara-cara
baru”. Munculnya perubahan dan pergeseran paradigma belajar memberikan dampak pada berbagai
aspek pembelajaran, diantaranya dalam desain instruksional dan pengembangan media
pembelajaran yang perlu berintegrasi dengan perkembangan teknologi. Pembelajaran harus
ditekankan pada pemahaman, skill dan pendidikan karakter (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 2013).
Pada masa sekarang ini , perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau IPTEK membawa
perubahan pada setiap bagian kehidupan manusia dan berbagai macam permasalahan yang timbul
yang diakibatkan oleh perubahan tersebut, sehingga permasalahan tersebut hanya dapat
dipecahkan dengan penguasaan IPTEK . Oleh karena itu diperlukan kemampuan untu mendapatkan,
mengelola dan memanfaatkan IPTEK sebagai upaya untuk bertahan pada keadaan yang selalu
berubah ini. Kemampuan tersebut hendaknya mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis,
sistematis dan kemampuan ini dapat dikembangkan dalam pembelajaran kimia.
Tuntutan sistem berpikir secara konprehensif dalam pendidikan bertujuan untuk mewujudkan
manusia yang berkualitas, terampil dan professional (Slamet, et. al., 2014). Beberapa keterampilan
yang harus dimiliki oleh pelajar antara lain berpikir kritis, kreatif, inovatif, keterampilan kolaborasi
dan komunikasi (Partnership for 21st Century Skills, 2015). Prayogi, Yuanita & Wasis, (2018); Wasis,
(2016) Keterampilan berpikir kritis sebagai salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan
menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pebelajar untuk dapat beradaptasi dengan
perkembangan sains dan teknologi abad 21. Dengan keterampilan berpikir kritis seseorang dapat
mengetahui kekutan dan kelemahan suatu perkembangan (Sari, [Link]., 2019).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan keterampilan berpikir kritis yang dimiliki peserta didik
berdampak positif terhadap kemandirian dalam mengembangkan pengetahuan. Keterampilan
berpikir kritis yang dimiliki guru memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi peserta didik.
Keterampilan berpikir kritis berkolerasi positif dengan pemahaman konsep peserta didik.
keterampilan berpikir kritis berpengaruh pada prestasi akademik siswa. Siswa dengan keterampilan
berpikir kritis tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi dari pada siswa
dengan keterampilan berpikir kritis rendah. Penemuan-penemuan tersebut menunjukkan bahwa
keterampilan berpikir kritis sangat penting untuk dibelajarkan (Mulyanto, Gunarhadi, & Indriayu,
2018).
Berkaitan dengan berpikir kritis, kenyataan yang tidak dapat dihindari adalah masih banyak siswa
yang menganggap matematika adalah mata pelajaran kimia yang sulit dan susah untuk dipahami.
Rendahnya kemampuan berpikir kritis terungkap dari hasil penelitian Syahbana (2012: 46) bahwa
sekolah justru mendorong siswa memberi jawaban yang benar daripada mendorong mereka
memunculkan ide-ide baru atau memikirkan ulang kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada. Dari hal
tersebut mengakibatkan lulusan siswa sekolah hanya memiliki kemampuan yang tidak mendalam
terhadap ilmu pengetahuan. Pada pembelajaran konvensional kegiatan pembelajaran guru selalu
menjelaskan, memberi contoh soal, memberikan latihan, dan seluruh kegiatan berpusat kepada
guru. Siswa hanya menerima informasi satu arah, hanya dari guru saja sehingga ide siswa tidak
muncul, mengakibatkan kemampuan berpikir kritis siswa tidak mengalami peningkatan. Berdasarkan
teori belajar di atas, agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, maka diperlukan
beberapa aspek untuk mendukung pembelajaran tersebut. Oleh karena itu untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir kritis matematis siswa diperlukan pendekatan yang mampu mengebangkan
kemampuan tersebut. Salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran yang dapat digunakan
adalah pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari-hari.
Dalam proses belajar guru harus merangsang siswanya untuk belajar aktif, sehingga siswa dapat
menggali dan mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki supaya dapat memanfaatkan
lingkungan sebagai sumber belajar dengan bantuan guru sebagai fasilitator. Menurut Vygotsky
(dalam Sutawidjaja dan Afgani, 2011: 1.4) berpendapat bahwa proses belajar akan terjadi secara
efisien dan efektif apabila anak belajar secara kerjasama dengan anak-anak lain dalam suasana dan
lingkungan yang mendukung, dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu, guru atau orang
dewasa.
Untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, siswa perlu terlibat aktif dalam pembelajaran
dan tatap muka dengan situasi kehidupan nyata (Rohmawatiningsih, Rachman & Kodama, 2018).
Dalam KKNI dan Permenristek 2015 dinyatakan bahwa biologi merupakan suatu proses penemuan
atau inkuiri, dan proses pembelajaran mendorong terbentuknya pola pikir yang komprehensif dan
luas dengan meginternalisasikan keunggulan dan kearifan lokal daerah. Untuk dapat memenuhi hal
tersebut maka perlu tersedianya perangkat pembelajaran yang terintegrasi dengan kearifan lokal.
Integrasi kearifan local dalam perangkat pembelajaran inkuri merupakan suatu inovasi yang
memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengkritisi, dan mengembangkan self regulation
sebagai bagian dari berpikir kritis. Pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran dapat
menstimulus motivasi dan mempermudah mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir
kritis (Oktavia, Usmedi, & Yohandri, 2018). Pengintegrasian kearifan lokal dalam kurikulum dapat
menjaga keutuhan dan kelestarian adat dan budaya masyarakat baik hubungan dengan manusia
maupun dengan lingkungan (Adrian, Kortowagiran, & Hadi, 2018). Hunaepi,dkk (2018) menyatakan
bahwa dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal kedalam pembelajaran akan membuat
peserta didik memiliki rasa cinta terhadap budaya lokal serta dapat membentuk peserta didik yang
berkarakter, mampu membangkitkan rasa ingin tahu, keinginan untuk memecahkan masalah melaui
proses berpikir.
Kearifan lokal yang diintegrasikan kedalam perangkat pembelajaran adalah kearifan-kearifan lokal
yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) seperti rowot sasak. Rowot sasak adalah kalender
tradisional yang dikembangkan dan dipedomani oleh masyarakat sasak, masayarakat sasak
menpedomani kalender tersebut sebagai acuan penyelenggaraan gawe (pesta), betaletan (bercocok
tanam), pembangian musim, arah naga, dan waktu (pengaruh posisi rasi bintang, terhadap
peristiwa-peristiwa di permukaan bumi (Hunaepi, dkk 2019). Mengintegrasikan kearifan lokal dalam
pembelajaran akan membangun karakter rasa ingin tahu dan kemampuan memecahkan masalah
melalui proses berpikir. Selain itu berpikir kritis dapat difasilitasi melalui pemberian fenomena-
fenomena autentik yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan
menanamkan nilai-nilai budaya lokal siswa-siswi melalui perangkat pembelajaran berbasis kearifan
lokal. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi faktor-faktor yang
mempengaruhi pembelajaran berbasis kearifan lokal dan kontekstual terhadap kemampuan berpikir
kritis siswa-siswi SMA Negeri 1 Lenek.
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Batasan Masalah
1.4 Rumusan Masalah
1.5 Tujuan Penelitian
1.6 Manfaat Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Teori
Bagian ini menjelaskan tentang berbagai teori yang digunakan sebagai landasan dalam
melakukan penelitian. Teori-teori tersebut antara lain tentang keterampilan berpikir kritis dan
2.1.1 Kajian Teori
Berpikir adalah kegiatan memfokuskan pada pencarian gagasan, memberikan berbagai
kemungkinan-kemungkinan dan mencari jawaban yang lebih benar. Trianto (2010) yang menyatakan
bahwa berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik dan mencapai kesimpulan
berdasarkan pada inferensi atau pertimbangan yang seksama. Pernyataan lain
Berpikir kritis adalah proses menerapkan logika sistematis dan keraguan terhadap klaim dengan
berpikir secara reflektif dan beralasan (Ennis,2013; Novella, 2012). Arends (2008) juga menyatakan
bahwa berpikir adalah proses analisis dan evaluasi kognitif yang memuat analisis argumen untuk
konsistensi logis guna mengenali bias dan pemikiran yang salah. Menurut Lai (2011) berpikir kritis
memuat keterampilan menganalisis, mensistensis argumen, mengevaluaasi informasi, menarik
kesimpulan menggunakan penalaran deduktif-induktif dan menyelesaikan permasalahan. Selain itu
berpikir kritis terdiri dari kemampuan kognitif dan disposisi. Disposisi dapat dilihat sebagai sikap,
kebiasaan, keinginantahuan, fleksibilitas, kecendrungan untuk mencari alasan, keinginan dan
kemauan untuk mencari sudut pandang yang beragam.
2.1.2 Penelitian yang Relevan
2.1.3 Kerangka Berpikir
2.1.3 Hipotesis Penelitian