Pengertian dan Fungsi Drainase Perkotaan
Pengertian dan Fungsi Drainase Perkotaan
TINJAUAN PUSTAKA
Drainase berfungsi mengalirkan air dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah. Berikut ini jenis drainase menurut fungsinya :
a. Single Purpose
Saluran yang berfungsi untuk mengalirkan satu jenis air buangan, misalnya
air hujan saja atau jenis air buangan yang lain.
b. Multi Purpose
Saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air buangan baik
secara bercampur maupun bergantian, misalnya mengalirkan air buangan
rumah tangga dan air hujan secara bersamaan.
a. Saluran terbuka
Saluran yang konstruksi bagian atasnya terbuka dan berhubungan dengan
udara luar. Saluran ini biasanya direncanakan hanya untuk menampung
dan mengalirkan air hujan.
b. Saluran tertutup
Saluran yang konstruksi bagian atasnya tertutup dan saluran ini tidak
berhubungan dengan udara luar. Saluran ini sering digunakan untuk aliran
air kotor atau untuk saluran yang terletak di tengah kota.
2.5 Banjir
Menurut (Dr. Ir. Suripin, 2004), siklus hidrologi adalah peredaran air yang
tiada henti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi,
presipitasi, evaporasi, dan transpirasi air. Air di Bumi mengalami siklus yang
terdiri dari serangkaian peristiwa terus menerus yang kita tidak tahu kapan, di
mana dimulainya, atau kapan akan berakhir.
Keterangan :
P = curah hujan rerata daerah (mm)
n = jumlah stasiun penakar hujan
P1, P2,.P3 = curah hujan di stasiun penakar hujan (mm)
[Link] Metode Poligon Thiessen
Metode ini disebut juga sebagai metode rata-rata timbang (weighted mean).
Metode ini memberikan proporsi luasan daerah pengaruh stasiun hujan untuk
mengakomodasi ketidakseragaman jarak antar stasiun. Daerah pengaruh dibentuk
dengan menggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus terhadap garis penghubung
antara dua pos penakar terdekat (Gambar 2.4). Dalam metode ini dianggap bahwa
variasi hujan antara stasiun yang satu dengan yang lainnya adalah linier dan
sembarang stasiun dianggap dapat mewakili kawasan tersebut. Hasil Metode
Thiessen lebih akurat dibandingkan dengan metode ratarata aljabar. Metode ini
cocok untuk daerah datar dengan luas 500 – 5.000 km2 dan jumlah stasiun hujan
terbatas dibandingkan luasannya. Hujan kawasan diperoleh dari persamaan
berikut :
P 1 A1 + P2 A 2 + P3 A 3+ ...…+ P n A n
P=
A 1 + A 2 +… .+ A n
Keterangan :
P = curah hujan daerah (mm)
P1 , P2, Pn = curah hujan di stasiun penakar (mm)
Keterangan :
P = curah hujan daerah (mm)
P1 , P2, Pn = curah hujan di stasiun penakar (mm)
Dari hasil rata-rata yang diperoleh (sesuai dengan jumlah stasiun hujan)
dipilih yang tertinggi setiap tahun, hasilnya merupakan hujan maksimum harian
DAS pada tahun yang bersangkutan (Suripin, 2004).
n ∞
1
Rata-rata X = ∑ Xi μ=E ( X )= ∫ xf ( x ) dx
n i=1 −∞
[ ]
n 1
1
1
∑ 2 2
Simpangan baku s= ( Xi−X ) σ ={ E [ ( X−μ ) ]}
2 2
n−1 i=1
Koefisien variasi s σ
CV = CV =
X μ
n
n ∑ ( Xi−X ) E [ ( X −μ )2 ]
3
[ ]
2
1 −( X−μ )
PX exp
σ √2 π 2σ
2
Keterangan :
P(X) = fungsi densitas peluang normal (ordinat kurva normal)
X = variabel acak kontinu
µ = rata-rata nilai X
σ = simpangan baku dari nilai X
Dalam pemakaian praktis, umumnya rumus tersebut tidak digunakan
secara langsung karena telah dibuat tabel untuk keperluan perhitungan dan
persamaan umum yang sering digunakan adalah :
X T =μ+ K T σ
yang dapat didekati dengan
\ X T =X + K T S
dimana :
X T −X
KT=
S
Keterangan :
X T = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-
tahunan
X = nilai rata-rata hitung variat
S = deviasi standar nilai variat
K T = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang
dan tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan untuk
analisa peluang
Nilai faktor frekuensi K T umumnya tersedia dalam tabel untuk
mempermudah perhitungan, seperti ditunjukkan dalam (tabel 2.1) yang umum
disebut sebagai tabel nilai variable reduksi Gauss (Variable Reduced Gauss)
Tabel 2.1 Nilai variabel reduksi Gauss
Periode ulang,T KT
No. Peluang
(tahun)
1 1,001 0,999 -3,05
2 1,005 0,995 -2,58
3 1,010 0,990 -2,33
4 1,050 0,950 -1,64
5 1,110 0,900 -1,28
6 1,250 0,800 -0,84
7 1,330 0,750 -0,67
8 1,430 0,700 -0,52
9 1,670 0,600 -0,25
10 2,000 0,500 0
11 2,500 0,400 0,25
12 3,330 0,300 0,52
13 4,000 0,250 0,67
14 5,000 0,200 0,84
15 10,000 0,100 1,28
16 20,000 0,050 1,64
17 50,000 0,020 2,05
18 100,000 0,010 2,33
19 200,000 0,005 2,58
20 500,000 0,002 2,88
21 1000,000 0,001 3,09
Sumber : Suripin 2004
[ ]
2
1 − ( Y −μY )
P ( X )= exp X >0
Xσ √ 2 π 2 σY
2
Keterangan :
Apabila nilai P(X) digambarkan pada kertas, maka peluang logaritma akan
merupakan persamaan garis lurus, sehingga dapat dinyatakan sebagai model
matematik dengan persamaan :
Y T =μ+ K T σ
yang dapat didekati dengan
Y T =Y + K T S
dimana :
Y T −Y
KT=
S
Keterangan :
YT = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-
tahunan
Y = nilai rata-rata hitung variat
S = deviasi standar nilai variat
K T = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode dan tipe
model model matematik distribusi peluang ulang digunakan untuk
analisa peluang
∑ log X i
log X = i=1
n
3) Hitung harga simpangan baku :
[ ]
n 0 ,5
∑ ( log X i−l og X ) 2
i =1
s=
n−1
4) Hitung koefisien kemencengan :
n
n ∑ ( log X i−log X )
3
i=1
G=
( n−1 ) ( n−2 ) s3
5) Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus
log X T =log X + K . s
Jika diambil Y = a(X-b), dengan Y disebut redeuced varied, maka dapat ditulis
−Y
P ( X )=e−e
dimana e = bilangan alam = 2,7182818....
Bila diambil dua kali harga logaritma dengan bilangan dasar e diperoleh
persamaan berikut :
1
X=
a
[ ab−¿ {−InP ( X ) }]
Kala ulang (return period) merupakan nilai banyaknya tahun rata-rata dengan
suatu besaran disamai atau dilampaui oleh suatu harga sebanyak satu kali.
Hubungan antara periode ulang dan probabilitas dapat dinyatakan dalam
persamaan berikut :
1
T r ( X )=
1−P( X )
1
X T =b− ∈ −¿ r
r
a {
T ( x )−1
T r ( x) }
dengan Y = a(X-b), maka diperoleh persamaan berikut :
Y T =−¿ −¿
r { T r ( x )−1
T r (x) }
Dalam penggambaran pada kertas probabilitas, Cho (1964) menyarankan
penggunaan rumus berikut ini.
X =μ+σ K
Keterangan :
µ = harga rata-rata populasi
σ = standar deviasi (simpangan baku)
K = faktor probabilitas
Apabila jumlah populasi yang terbatas (sampel), maka dapat didekati dengan
persamaan
X =X + s K
Keterangan :
X = harga rata-rata sampel
S = standar deviasi (simpangan baku) sampel.
Sn
Keterangan :
Yₙ = Reduced mean yang terdapat pada jumlah sampel atau data n (tabel
2.1)
Sn = Reduced standard deviation yang terdapat pada jumlah sampel atau
data n (tabel 2.2)
Y Tr = Reduced variate, dapat dihitung dengan persamaan berikut ini :
{
Y Tr= −¿
T r−1
Tr }
Tabel 2.5 memperlihatkan hubungan antara reduced variate dengan periode ulang.
N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 0,9496 0,9676 0,9833 0,9971 1,0095 1,0206 1,0316 1,0411 1,0493 1,0565
20 1,0628 1,0696 1,0754 1,0811 1,0864 1,0915 1,0961 1,1004 1,1047 1,1080
30 1,1124 1,1159 1,1193 1,1226 1,1255 1,1285 1,1313 1,1339 1,1363 1,1388
40 1,1413 1,1436 1,1458 1,148 1,1499 1,1519 1,1538 1,1557 1,1574 1,1590
50 1,1607 1,1623 1,1638 1,1658 1,1667 1,1681 1,1696 1,1708 1,1721 1,1734
60 1,1747 1,1759 1,177 1,1782 1,1793 1,1803 1,1814 1,1824 1,1834 1,1840
70 1,1854 1,1863 1,1873 1,1881 1,189 1,1898 1,1906 1,1915 1,1923 1,1930
80 1,1938 1,1945 1,1953 1,1959 1,1967 1,1973 1,198 1,1987 1,1994 1,2001
90 1,2007 1,2013 1,202 1,2026 1,2032 1,2038 1,2044 1,2049 1,2055 1,2060
100 1,2065 1,2069 1,2073 1,2077 1,2081 1,2084 1,2087 1,209 1,2093 1,2096
Y Tr−Y n
X Tr = X + S
Sn
Y n S Y Tr S
= X −¿ +
Sn Sn
atau
1
X Tr = b + Y
a Tr
dimana
Sn YnS
a= dan b = X −¿
S Sn
2.7.4 Uji Kecocokan
Data hidrologi yang dipakai untuk mengestimasi banjir rancangan (design
flood) ataupun debit andalan (dependable discharge) menggunakan analisa
frekuensi belum tentu sesuai dengan distribusi-distribusi yang dipilih. Untuk itu
perlu dilakukan uji kesesuaian distribusi (testing of goodness of fit). Karena
pengeplotan data pada kertas distribusi didasarkan pada 2 sistem yang umumnya
dikenal dengan peluang (%) sebagai absis (skala normal/logaritma) dan nilai
ekstrim (banjir/hujan) sebagai ordinat (skala normal/logaritma), maka sebaran
data ini diasumsi bisa mewakili oleh satu kurva teoritis (bisa berupa garis
lurus/lengkung, bergantung pada jenis skala yang dipakai).
Untuk menjamin bahwa pendekatan empiris (berupa pengeplotan data)
benar-benar bisa mewakili oleh kurva teoritis, perlu dilakukan uji kesesuaian
distribusi, yang biasa dikenal sebagai Testing of Goodness of Fit. Ada 2 uji yang
bisa dilakukan dalam hal ini, yaitu Uji Smirnov klomogorof dan Uji Chi Square
(Lily motarcih, 2009 : 71).
Sebelum melakukan uji kesesuaian terlebih dahulu dilakukan plotting data dengan
tahapan sebagai berikut :
1. Curah hujan terjadi dengan intensitas yang tetap dalam jangka waktu
tertentu setidaknya sama dengan waktu konsentrasi.
2. Limpasan langsung mencapai maksimum ketika durasi hujan dengan
intensitas tetap sama dengan waktu konsentrasi.
3. Koefisien run off dianggap tetap selama durasi hujan.
4. Luas DAS tidak berubah selama durasi hujan.
(Wanielista, 1990).
Rumus ini adalah rumus yang tertua dan yang terkenal diantara rumus-rumus
lainnya. Rumus ini banyak digunakan untuk sungai-sungai biasa dengan daerah
pengaliran yang luasnya kurang dari 300 ha dan juga untuk perencanaan drainase
daerah pengaliran yang relatif sempit. Bentuk umum rumus rasional adalah
sebagai berikut :
Q = 0,2778 . C . I . A
Keterangan :
Q = debit banjir maksimum (m3/dt)
C = koefisien pengaliran/limpasan
I = intensitas curah hujan rata-rata (mm/jam)
A = luas daerah pengaliran (km2)
Arti rumus ini segera dapat diketahui yakni jika terjadi curah hujan selama 1
jam dengan intensitas 1 mm/jam dalam daerah pengaliran seluas 1 km2, maka
debit banjir sebesar 0,2278 m3/dt dan melimpas selama 1 jam (Sosrodarsono dan
Takeda, 1993).
Koefisien Pengaliran
Koefisien ditetapkan sebagai rasio kecepatan maksimum pada aliran air dari
daerah tangkapan hujan. Koefisien ini merupakan nilai banding antara bagian
hujan yang membentuk limpasan langsung dengan hujan total yang terjadi. Nilai
C tergantung pada beberapa karakteristik dari daerah pengaliran yang termasuk
didalamnya :
1) Relief atau kelandaian daerah tangkapan
2) Karakteristik daerah, seperti perlindungan vegetasi, tipe tanah dan daerah
kedap air
3) Storage atau karakteristik detention lainnya.
Besarnya aliran permukaan dapat menjadi kecil, terlebih bila curah hujan tidak
melebihi kapasitas infiltrasi. Selama hujan yaug terjadi adalah kecil atau sedang,
aliran permukaan hanya terjadi di daerah yang impermeabel dan jenuh di dalam
suatu daerah tangkapan air (DAS) atau langsung jatuh di atas permukaan air.
Apabila curah hujan yang jatuh jumlahnya lebih besar dari jumlah air yang
dibutuhkan untuk evaporasi, intersepsi, infiltrasi, simpanan depresi dan cadangan
depresi, maka barulah bisa terjadi aliran permukaan. Apabila hujan yang terjadi
kecil maka hampir semua curah hujan yang jatuh terintersepsi oleh vegetasi yang
lebat (Kodoatie dan Sugiyanto, 2002).
Pada daerah dengan penggunaan lahan berubah-ubab, nilai dari koefisien
limpasan yang digunakan harus mempertimbangkan pembangunan di daerah hulu,
untuk daerah tangkapan air pada masa yang akan datang. Hal ini sangat cocok
pada daerah pengaliran di pedesaan mungkin berkembang sebagian atau
seluruhnya menjadi daerah tangkapan hujan perkotaan selama dilakukannya
perencanaan pelayanan kesejahteraan hidup.
Pengaruh tata guna lahan pada aliran permukaan dinyatakan dalam koefisien
aliran permukaan (C), yaitu bilangan yang menampilkan perbandingan antara
besarnya aliran permukaan dan besarnya curah hujan. Angka koefisien aliran
permukaan itu merupakan salah satu indikator untuk menentukan kondisi fisik
suatu DAS. Nilai C berkisar antara 0-1. Nilai C = 0 menunjukkan bahwa semua
air hujan terintersepsi dan terinfiltrasi ke dalam tanah, sebaliknya untuk nilai C =
1 menunjukkan bahwa air hujan mengalir sebagai aliran permukaan. Pada DAS
yang baik harga C mendekati nol dan semakin rusak suatu DAS maka harga C
semakin mendekati satu (Kodoatie dan Sjarief, 2005). Nilai koefisien limpasan
berdasarkan fungsi lahan menurut Metode Rasional disajikan pada Tabel 2.7.
( )
R 24 24 2 /3
I=
24 t
Keterangan :
I = intensitas curah hujan (mm/jam)
R = curah hujan rancangan setempat (mm)
t = lamanya curah hujan (jam)
Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan
yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS (titik
kontrol) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Dalam
hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan waktu konsentrasi,
maka setiap DAS secara serentak telah menyumbangkan aliran terhadap titik
kontrol. Salah satu metode untuk memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus
yang dikembangkan oleh Kirpich (1940), yang dapat ditulis sebagai berikut
(Suripin, 2004) :
( )
2 0,385
0 , 87 x L
t c=
1000 xS
Keterangan :
tc = waktu konsentrasi dalam jam
L = panjang sungai dalam km
S = kemiringan sungai dalam m/m
2.8 Analisa Hidrolika
atau
A
B=
h
Gambar 2.6 Penampang Persegi
Sumber : (Suripin, 2004)
P = B + 2h
kemiringan sisi terhadap garis vertikal, 𝜃, dan kedalaman air, h (Gambar 2.8),
Pada potongan melintang saluran yang berbentuk segitiga dengan
maka penampang basah, A, dan keliling basah, P, dapat ditulis sebagai berikut:
2
A=h tan θ
Atau
h=
√ A
tanθ
P=(2 h) secθ
Apabila kecepatan aliran dalam saluran drainase terlalu besar maka akan
terjadi pengikisan dinding saluran. Apabila kecepatan aliran dalam saluran terlalu
kecil maka akan terjadi pengendapan dari butiran / partikel lumpur yang terbawa
air (terjadi sedimentasi). Oleh karenanya harus dipilih kecepatan yang sedang,
sesuai dengan jenis material dinding saluran. Seperti disajikan pada tabel 2.8.
∆ t (t 2−t 1)
I= =
L L
Keterangan :
Kondisi
Tipe Saluran
Baik Cukup Buruk
Saluran Buatan :
1. Saluran tanah, lurus beraturan 0,02 0,023 0,25
2. Saluran tanah, digali biasanya 0,028 0,03 0,025
3. Saluran batuan, tidak lurus, tidak aturan 0,04 0,045 0,045
4. Saluran batuan, lurus beraturan 0,03 0,035 0,035
5. Saluran batuan, vegetasi pada sisinya 0,03 0,035 0,04
6. dasar tanah, sisi batuan koral 0,03 0,03 0,04
7. Saluran berliku-liku kecepatan rendah 0,025 0,028 0,03
Saluran Alam :
1. Bersih, lurus, tetapi tanpa pasir dan celah 0,028 0,03 0,033
2. Berliku, bersih, tetapi berpasir dan berlubang 0,035 0,04 0,045
3. Idem 2, tidak dalam, kurang beraturan 0,045 0,05 0,065
4. Aliran lambat, banyak tanaman dan lubang dalam 0,06 0,07 0,08
5. Tumbuh tinggi dan padat 0,1 0,125 0,15
Saluran dilapisi :
1. Batu kosong tanpa adukan semen 0,03 0,033 0,035
2. Idem1, dengan adukan semen 0,02 0,025 0,03
3. Lapisan beton sangat halus 0,011 0,012 0,013
4. Lapisan beton biasa dengan tulangan baja 0,014 0,014 0,015
5. Idem 4, tetapi tulangan kayu 0,016 0,016 0,018
Sumber: Imam Subarkah (1980)
Q= A x V
Keterangan :
Untuk Manning :
2 1
1
V = x R3 x I 2
n
A
R=
P
Keterangan :
V = Kecepatan aliran dalam saluran (m/dt)
n = Koefisien kekasaran manning
R = Radius hidrolik (m)
A = Luas penampang basah (m²)
P = Keliling basah (m)
I = Kemiringan dasar saluran