Jurnal Physics Education
PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN PROBLEM BASED LEARNING
(PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
BERPIKIR KRITIS SISWA
Oleh
Dinapita Ratnasari Sitanggang1), Sari Wahyuni Rozi Nasution2)
1
Fakultas Pendidikan MIPA, Institut Pendidikan Tapanuli Selatan
email: sitanggangdina9@[Link]
2
Fakultas Pendidikan MIPA, Institut Pendidikan Tapanuli Selatan
email: sariwahyunirozinasution@[Link]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada cairan
statis antar kelas menggunakan model Problem Based Learning dan konvensional pada siswa kelas XI SMA
Negeri 2 Tukka T.P2017 / 2018. Jenis penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode
Eksperimental dengan dua kelompok desain Desain Postest Pretest. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Tukka yang terdiri dari 2 kelas dengan jumlah siswa 64 siswa.
Dengan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan Totaly Sampling, sehingga sampel penelitian ini kelas
XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan Kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Model Pembelajaran Problem
Based Learning menggunakan observasi memperoleh skor rata-rata sebesar 83,4%, berada dalam kategori
“Baik”. Berdasarkan hasil analisis data secara deskriptif diperoleh nilai rata-rata kemampuan kritis kritis
materi static static sebelum menerapkan model Problem Based Learning yaitu 26,83 kategori “kurang”
Sedangkan setelah menggunakan Problem Based Learning adalah kategori 79,33 “bagus ". Hasil uji
hipotesis dengan menggunakan rumus “t-test” diperoleh thitung 3,8 sedangkan niali ttabel sebesar 1,70, dapat
disimpulkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (3,8> 1,70) maka dapat dinyatakan hipotesi yang dapat
diterima. Ini berarti bahwa penggunaan Pembelajaran Berbasis Masalah secara efektif digunakan untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi cairan statis di kelas XI SMA Negeri 2 Tukka
T.P. 2017/2018.
Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
1. Pendahuluan
Dalam pencapaian program sebagai fasilisator dan motivator dalam
peningkatatan kemampuan berpikir, pemerintah mengoptimalkan belajar sehingga dalam
Indonesia melalui bidang pendidikan telah menyusun rancangan pembelajaran sebaiknya
mengunakan suatu pendekatan dalam menggunakan berbagai variasi model
pembelajaran IPA yaitu kemampuan berpikir pembelajaran yang dapat memberikan
kritis. pembelajaran dengan kemampuan berpikir kesempatan kepada siswa untuk belajar seluas
kritis siswa ini nantinya dapat membawa luasnya dan membangun pengetahuan sendiri.
perubahan yang baik dalam pelaksanaan Berdasarkan hasil observasi yang
kegiatan mengajar. dilakukan di SMA dengan melakukan
Kegiatan belajar siswa hanya wawancara kepada guru bidang studi fisika
berdasarkan pada perintah atau tugas-tugas yang bahwa hasil ulangan harian fisika belum
diberikan oleh guru. metode seperti ini tidak memuaskan, dimana nilai rata-rata siswa hanya
akan mengakibatkan siswa tidak mampu berkisar antara 60-65. Jika dilihat dari nilai
melaksanakan keterampilan proses, agar dapat kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 72
terwujud kemampuan pemecahan masalah, yang ditetapkan oleh sekolah untuk menyatakan
sehingga siswa dapat menguasai konsep fisika siswa tuntas dalam belajar fisika, hanya 1-5
dengan baik dengan berprestasi secara optimal orang saja yang mampu mencapai nilai tersebut.
Upaya untuk meningkatkkan mutu kegiatan Ketika diwawancara lebih lanjut, ternyata setiap
belajar mengajar, guru hendaknya berperan nilai siswa yang dilaporkan merupakan penilaian
Jurnal Program Studi Pendidikan Fisika Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Hal. 15
Jurnal Physics Education
tugas pribadi, kehadiran siswa, dan disiplin adalah mode berpikir mengenai hal, subtansi atau
siswa. masalah apa saja dimana si pemikir
Rendahnya hasil belajar siswa meningkatkan kualitas pemikirannya dengan
berdasarkan hasil wawancara guru fisika menangani secara terampil struktur-struktur yang
disebabkan oleh 2 Faktor yaitu faktor internal melekat dalam pemikiran dan menerapkan
dan eksternal, dimana faktor internal yang standar intelektual padanya”. Selanjutnya
berasal dari lingkungan sekolah seperti sarana Siahaan Parsaoran (2015:170) menyatakan
prasarana, (laboratorium tidak berjalan), Metode bahwa “kemampuan berpikir Kritis siswa dapat
yang digunakan yaitu metode ceramah (Teacher dilihat dilatihkan dengan lebih muda apabila
Oriented), minat belajar siswa masih rendah, proses pembelajaran berpusat pada siswa
tingkat pengetahuan masih rendah. Sedangkan (student centered) ”.
faktor eksternal yang berasal dari luar seperti : Berdasarkan pendapat diatas dapat
lingkungan, teman pergaulan, motivasi, akses disimpulkan bahwa berfikir kritis adalah
kendaran yang sulit. mengembang pemikiran melalui mengevaluasi
Apabila permasalahan tersebut tidak dari pernyatan sederhana dengan mengambil
segera dipecahkan, maka akan sangat keputusan menganalisis serta membuat evaluasi
berpengaruh kepada siswa dan mutu sekolah. dalam perkembangan kognitif siswa, yang
Siswa akan beranggapan bahwa fisika adalah dimana langkah–langkahnya adalah memberikan
pelajaran yang sulit dipahami, dan siswa akan penjelasan lanjut, memberikan keterampilan
sulit memahami materi materi selanjutnya. Siswa dasar,mentimpulkan,memberikan penjelasan
akan sulit mengaplikasikannya materi yang di lanjut, mengatur strategi taktik.
peroleh di sekolah dalam mengatasi masalah
dalam kehidupan sehari-hari siswa. 2. METODE PENELITIAN
Pupita T.A. (2013:122) menyatakan Metode penelitian yang digunakan yaitu
bahwa “kemapuan berpikir kritis adalah “suatu quasi eksperimen dengan design Two group
kompetensi yang harus di latihkan pada peserta Pretest Postest Design yang diharapkan dapat
didik, Karena kemampuan ini sangat mengukur pemahaman kosnsep siswa dan
diperlakukan dalam kehidupan sekarang”. kemampuan berpikir kritis siswa pada kedua
Kemudian menurut Nasution. U.S.Z. (2016:113) kelas sebelum dan susudah mendapatkan
menyatakan bahwa “kemampuan berpikir kritis pengajaran.
Tabel 1
Model Two Group Pretest Postest Design
Kelas Pretest Perlakuan Postest
Kontrol X1 P1 X2
Eksperi Y1 P2 Y2
men
Keterangan:
X1 dan Y1 = Test Awal sebelum perlakuan diberikan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen
X2 dan Y2 = Tes akhir kelas kontrol setelah diberi perlakuan melalui pembelajaran berdasarkan
masalah
P1 = Perlakuan yang diberikan pada kelompok kontrol melalui metode ceramah
P2 = Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen melalui pembelajaran berdasarkan
masalah.
Jurnal Program Studi Pendidikan Fisika Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Hal. 16
Jurnal Physics Education
Kegiatan penelitian, keberadaan populasi 3. Hasil dan Pembahasan
sangat dibutuhkan sebab dengan adanya populasi Hasil analisis data nilai yang diperoleh dari observasi
penelti bisa mengetahui pengambilan data yang akan tentang Probelem Based Learning pada kelas XI
diteliti sehingga pemecahan masalah dan tujuan IPA1 SMA Negeri 2 Tukka , diperoleh skor rata
penelitian dapat terlaksana. Sugiyono (2014:117) 83,4%. Nilai tersebut kategori “baik”. Adapun nilai
menyatakan bahwa “populasi adalah wilayah tersebut berdasarkan indikator yang diperoleh dari
generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang dari pelaksanaan pembelajaran Probelem Based
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang Learnig di kelas XI IPA SMA Negeri 2 Tukka
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan dapat dilihat dari tabel berikut ini:
kemudian ditarik kesimpulannya”. Sedangkan Tabel 2
menurut Arikunto (2010:173) menyatakaan bahwa Analisis Lembar Penilaian Observasi Tentang
“populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Probelem Based Learnig
Apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang No Indikator Penilaian Rata-
ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya Pert1 Pert2 Rata
merupakan penelitian populasi”. 1 Orientasi 4 4 100%
Dengan demikian, yang menjadi populasi siswa pada
dalam penelitian ini adalah seluruh Siswa-Siswi masalah
Kelas XI IPA di SMA. Dengan jumlah siswa 64 2 Mengorganis 3 3 100%
Orang. asikan siswa
Jika Kita hanya akan meneliti Sebagian dari untuk belajar
populasi, Maka penelitian tersebut disebut penelitian 3 Membimbing 2 1 67%
sampel. Arikunto (2010:95) “Sampel adalah sebagian pengalaman
atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan individual/kel
penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk ompok
menetralisasikan hasil penelitian sampel”. 4 Mengembang 3 3 100%
Peneliti menggunakan teknik sampel yang kan dan
digunakan adalah Totaly sampling. teknik menyajikan
pengambilan dengan dilakukan dengan totaly hasil karya
sampling karena terdiri dari dua kelas, jadi yang 5 Menganalisis 2 3 50%
menjadi sampelnya adalah seluruh kelas XI IPA dan
dimana kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan mengevaluasi
kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. proses
Instumen dalam penelitian adalah suatu alat pemecahan
yang digunakan untuk mengumpulkan data dan masalah
informasi yang diinginkan. Instumen yang yang
dipakai harus dapat menampung yang dibutuhkan. Jumlah 14 14 83,4
Menurut Sugiyono (2014:5), “Instrumen penelitian %
adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur
fenomena alam maupun sosial yang diamati”. Berdasarkan Tabel di atas dapat disimpulkan
Peneliti menggunakan instrumen tes objektif bahwa nilai persentase keseluruhan indikator 83 %
dengan bentuk pilihan ganda untuk materi fluida dalam kategori “baik”. Artinya, peneliti telah
statis karena penelitian ini, penelitian akan mengukur menerapkan menerapan dan melaksanakan langkah-
kemampuan siswa yang lebih siswa kompleks dan langkah Probelem Based Learnig pada pertemuan
berkenan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi pertama dan kedua.
sintesis dan evaluasi. Untuk lebih jelasnya data hasil penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menerapkan tersebut dapat digambarkan secara histogram pie
instrumen penelitan untuk Problem Based Learning berikut pada gambar di bawah ini:
dengan menggunakan lembar observasi langsung,
dan kemudian untuk kemampuan berpikir kritis siswa
peneliti menggunakan bentuk tes objektif bentuk
pilihan berganda dan untuk materi Fluida
menggunakan instrumen tes objektif bentuk pilihan
berganda.
Jurnal Program Studi Pendidikan Fisika Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Hal. 17
Jurnal Physics Education
Tabel 4
Model Problem Data Post-test kelompok sampel
Kelas Post-test
Based Learning
Orientasi
N Nilai Nilai
Max Min
Rata-
rata
siswa pada Eksperimen. 30 60 95 79,33
masalah Kontrol 40 65 85 75
Berdasarkan data pada tabel terlihat bahwa
rata-rata nilai Pre-test pada kelas eksperimen dan
kontrol masing 79,33 dan 75 terlihat bahwa rata-rata
Mengorganis nilai Post-test kelas eksperimen dibanding Post-test
asikan siswa kelas kontrol.
Dari perhitungan yang dilakukan, dapat
untuk belajar disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa
menggunakan Problem Based Learning adalah
50% termaksud dalam kategori “ baik” dengan nilai 79,33
100% dengan nilai simpangan baku 9,29 pada ketentuan
100% yang ada sehingga pembelajaran Problem Based
Membimbing Learning dapat dilaksanakan atau digunakan pada
100% pengalaman materi fluida statis di kelas XI IPA SMA Negeri 2
67% individual/kel Tukka
ompok Diperoleh nilai x2hitung 130,72 dari tabel harga
Chi kuadrat diketahui bahwa dengan rumus derajat
kebebasan menurut sugiyono (2013:244), yaitu db =
k-1. dimana dalam data perhitungan yang dilakukan
Mengembang peneliti yaitu dengan panjang kelas 6 maka rentang
kan dan derajat kebebasan adalah 5,83 atau dibulatkan 6,
dengan tingkat kepercayaan 95% atau tingkat
menyajikan
kesalahan 5%.
hasil karya Dari hasil penelian yang dilakukan di kelas XI
IPA sebagai kelas kontol maka data yang diperoleh
untuk nilai rata - rata sebesar 72,205 dengan jumlah
siswa 34.
Dari hasil pengolaan data untuk masing Diperoleh nilai x2hitung 132,63. dari tabel harga
masing kelas diperoleh nilai maksimum, nilai chi kuadrat diketahui bahwa dengan dengan rumus
minimum dan nilai rata-rata (Pre-test) kelompok derajat kebebasan db= k-1. dimana dalam derajat
sampel. seperti berikut: kebesan peneliti dalam penelitian ini adalah 6 dengan
tingkat kepercayaan sebesar 95% atau tingkat
Tabel 3 kesalahan sebesar 5 % Nilai x2 tabel 12,6. jadi dalam
Data Pre-test kelompok sampel hal ini x2 hitung lebih kecil dari x2 tabel ( 132,63), dan
dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis
Kelas Pre-test siswa menggunakan metode konvensional sebaran
N Nilai Nilai Rata-rata
normal.
Maksimum Minimum
Eksperimen 30 45 10 5,33 Melalui perhitungan yang dilakukan diperoleh
Kontrol 40 60 15 33,52 thitung = 3,8 bila di bandingkan dengan t tabel pada
tingkat kepercayaan 95% atau tingkat kesalahan 5%
Berdasarkan data pada tabel terlihat bahwa dengan derajat kebebasan (dk) = n-1= 30-1= 29 1,70,
rata-rata nilai Pre-test pada kelas eksperimen dan jika thitung = 3,8 dibandingkan dengan t tabel 1,70 maka
kontrol masing 5,33 dan 33,52 terlihat bahwa rata- nilai thitung lebih besar dari pada nilai t tabel (3,8>1,70).
rata nilai Pretest kelas eksperimen dibanding Pre-test Berdasarkan hasil kontultasi nilai hipotesis yang di
kelas kontrol. ajukan dalam penelitian dapat diterima atau disetujui
Dari hasil pengolaan data untuk masing kebenarannya. Artinya “Terdapat perbandingan
masing kelas diperoleh nilai maksimum, nilai peningkatan kemapuan berpikir kritis siswa pada
minimum dan nilai rata-rata (Post-test) kelompok materi fluida statis antara kelas yang mendapatkan
sampel. seperti pada tabel 4 berikut: perlakuan Problem Based Learning dan konvensional
di kelas XI IPA SMA Negeri 2 Tukka”.
Jurnal Program Studi Pendidikan Fisika Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Hal. 18
Jurnal Physics Education
Melalui perhitungan yand dilakukan diperoleh Berdasarkan perhitungan yang dilakukan
thitung= 3,7 bila di bandingkan dengan t tabel pada Melalui perhitungan yang dilakukan diperoleh t hitung=
tingkat kepercayaan 95% atau tingkat kesalahan 5% 3,7 bila di bandingkan dengan t tabel pada tingkat
dengan derajat kebebasan (dk) = n-1= 34-1= 33 1,70, kepercayaan 95% atau tingkat kesalahan 5% dengan
jika thitung = 3,7 dibandingkan dengan t tabel 1,71 maka derajat kebebasan (dk) = n-1= 34-1= 33 1,70, jika
nilai thitung lebih besar dari pada nilai t tabel (3,7>1,70). thitung = 3,7 dibandingkan dengan t tabel 1,71 maka nilai
Berdasarkan hasil kontultasi nilai hipotesis yang di thitung lebih besar dari pada nilai t tabel (3,7>1,70).
ajukan dalam penelitian dapat diterima atau disetujui Berdasarkan hasil konsultasi nilai tersebut, maka
kebenarannya. Artinya “Terdapat perbandingan hipotesis yang dirumuskan dapat diterima atau
peningkatan kemapuan berpikir kritis siswa pada disetujui, artinya “Berdasarkan Hasil Penelitian di
materi fluida statis antara kelas yang mendapatkan atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbandingan
perlakuan Problem Based Learning dan konvensional peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada
di kelas XI IPA SMA. materi fluida statis antara kelas mendapatkan
Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap perlakuan Problem Based Learning dan
permasalahan, maka penulis merasa bahwa proses konvensional di kelas XI SMA
pelaksanaan penelitian ini telah dilakukan dengan
langkah-langkah yang terdapat dalam penulisan [Link] Dan Saran
skripsi dengan penuh kehati-hatian, yaitu dengan [Link]
merujuk pada pengertian model Problem Based Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,
Learning. Problem Based Learning diperoleh nilai peneliti menarik beberapa kesimpulan yang
rata-rata 82,3 berada pada kategori “ Baik” dengan berdasarkan dari hasil pengumpulan data. Adapun
arti peneliti melaksanakan dengan baik. kesimpulan tersebut sebagai berikut:
Sedangkan pada tahap selanjutnya peneliti
memberikan post test di kelas XI IPA 1 sebagai 1. Terdapat perbandingan kemapuan berpikir
sampel dengan menggunakan model Problem Based kritis siswa pada materi fluida statis antara kelas
Learning dengan nilai rata-rata yang diperoleh kontrol dengan kelas eksperimen yang mendaptakan
sebesar 79,33. Dari hasil posttest terlihat bahwa pemberlakuan metode konvesional dan model
kemampuan berpikr kritis siswa berada pada kategori Problem Based Learning pada materi fluida statis di
“baik”. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kelas XI IPA SMA. Hal ini dapat dibuktikan dengan
peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini membandingkan hasil uji signifikan dimana
sejalan dengan teori menurut Desmiati (2009:153) thitung>ttabel (3,7>1,70).
Menyatakan bahwa “kemampuan berpikir kritis siswa Berdasarkan kesimpulan tersebut, hipotesis
adalah kemampuan untuk berpikir logis, reflektif, dan yang di ajukan dalam penelitian ini dapat diterima
produktif yang di aplikasikan untuk menilai situasi yaitu “ Terdapat perbandingan kemampuan berpikir
untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang kritis pada materi fluida statis antara kelas kontrol
baik”. dan kelas eksperimen di kelas XI SMA. Hal ini
Pembelajaran dengan menggunakan model ini, menunjukkan bahwa pencapaian hasil pengetahuan
dapat tercipta suatu aktivitas siswa secara aktif dalam siswa materi fluida statis dipengaruhi oleh
belajar. Dalam model pembelajaran ini guru hanya kemampuan guru dalam melaksanakan metode
memberikan suatu topik pelajaran, dan siswa Problem Based Learning.
diarahkan untuk membuat beberapa pertanyaan dari
topik tersebut, dan mereka didorong untuk mencari [Link]
dan menemukan jawaban atas pertanyaan dari topik Berdasarkan kesimpulan dan implikasi hasil
tersebut. Apabila model pembelajaran ini digunakan penelitian yang telah dipaparkan pada pembahasan
dalam proses belajar mengajar (PBM), maka siswa sebelumnya, maka dalam hal ini peneliti
akan lebih terdorong dan termotivasi untuk belajar. menyarankan beberapa hal :
Hal ini sudah pasti dapat meningkatkan kemampuan 1. Untuk siswa, diharapkan lebih giat dan lebih
berpikir kritis siswa dalam pembelajaran fisika aktif lagi dalam belajar agar hasil belajar fisika dapat
terutama pada materi fluida statis. memuaskan sehingga mata pelajaran fisika tidak
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dianggap sebagai mata pelajaran yang paling sulit.
peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada 2. Bagi guru, terkhusus untuk guru bidang studi
materi pokok fluida statis. Siswa yang diajarkan fisika ada baiknya sebelum melaksanakan kegiatan
dengan menggunakan model Problem Based mengajar maka guru terlebih dahulu menguasai
Learning jauh lebih baik daripada sebelum Problem Based Learning, di samping itu guru juga
menggunakan model Problem Based Learning. harus mampu memilih model atau metode yang
sesuai dengan materi pelajaran agar nantinya materi
Jurnal Program Studi Pendidikan Fisika Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Hal. 19
Jurnal Physics Education
3. yang diberikan dapat dikuasai dengan mudah Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik.
oleh siswa sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Bandung: [Link] RosdaKarya
4. Bagi kepala sekolah, sebagai pemimpin Nasution, U.S.Z, Sahyar, Makmur sirair. 2016. Pengaruh
sekaligus penanggung jawab dalam kegiatan Model Problem based Learning dan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan Kemampuan Berpikir Kritis Terhadap
agar lebih meningkatkan mutu dari tenaga pendidik Kemampuan Pemecahan Masalah. Jurnal
yang profesional dengan cara menumbuh Pendidikan Fisika. Vol.5 no.2 p- ISNN 2252-
kembangkan kemampuan guru bidang studi untuk 732X. Hal.112-117
menggunakan model atau metode pembelajaran Puspita. T.A. dan Budi [Link]
seperti Problem Based Learning. model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided
5. Kepada rekan mahasiswa ataupun peneliti Inquiri) terhadap keterampilan berpikir kritis
selanjutnya ada kemungkinan kelemahan yang terjadi siswa pada pembelajaran fisika materi fluida
dalam pelaksanaan penelitian ini, maka perlu kiranya statis kelas XI di SMA Negeri 2 Siduarjo.
diadakan penelitian lebih lanjut dengan memperbesar Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol. [Link].
objek dan memperluas kajian tentang hal-hal yang 03 Tahun 2013,121-125.
menjadi faktor yang dapat mempengaruhi hasil Siahaan, Parsaoran, Archamad Samsuddin, dan Suhendi.
belajar siswa pada materi fluida statis. 2015. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa SMP Melalui Pembelajaran Berbasis
Multimedia Komputer Pada Materi Alat Optik.
4. Daftar Pustaka Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2015
Arikunto Suharsimin. 2010. Prosedur Penelitian. Bandung. ISBN:978-602-74598-0-9. 169-173
Jakarta: PT Rineka Cipta Sugiyono. [Link] Penelitian [Link]: Alfabet
Jurnal Program Studi Pendidikan Fisika Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Hal. 20