BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Persimpangan Jalan
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (1995) dijelaskan, “Simpang adalah tempat berbelok atau
bercabang dari yang lurus”. Persimpangan adalah simpul dalam jaringan
transportasi dimana dua atau lebih ruas jalan bertemu, disini arus lalu lintas
mengalami konflik. Untuk mengendalikan konflik ini ditetapkan aturan lalu
lintas untuk menetapkan siapa yang mempunyai hak terlebih dahulu untuk
menggunakan persimpangan ([Link]
Persimpangan jalan dapat di definisikan sebagai daerah umum dimana
dua jalan atau lebih bergabung atau bersimpangan, termasuk jalan dan fasilitas
tepi jalan untuk pergerakan lalu lintas didalamnya (AASHTO, 2001).
2.2 Jenis-Jenis Simpang
Pada persimpangan, sebagaimana disajikan pada gambar dibawah ini,
terdapat 4 jenis dasar dari gerakan kendaraan, yaitu berpencar (diverging),
bergabung (merging), bersilangan (crossing), dan menjalin (weaving).
Gambar 2.1 Jenis dasar dari gerakan kendaraan
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
5
6
Adapun jenis simpang dibedakan menjadi :
1. Simpang tak bersinyal (unsignalised intersection)
Simpang tak bersinyal banyak dipakai pada volume lalulintas yang
rendah. Pada simpang jenis ini hak utama pada simpang diperoleh berdasarkan
aturan General priority Rule, dimana kendaraan yang lebih dulu berada pada
simpang mempunyai hak jalan lebih dahulu, daripada kendaraan yang akan
memasuki simpang tersebut.
Di Indonesia, pada kondisi simpang dengan kelas ruas jalan (kaki
simpang) yang sama, semestinya prioritas diberikan bagi kendaraan yang datang
dari sebelah kiri. Namun demikian dalam kenyataanya, atran ini tidak berjalan
karena ketidaktahuan aturan ataupun karena budaya berlalu lintas yang masih
kurang.
Sementara itu pada kondisi pertemuan jalan mayor dan jalan minor,
priorita memberi hak yang lebih kepada suatu jalan utama atau volume lalulintas
lebih banyak. Bentuk operasi ini dilakukan pada simpang yang mempunyai
volume atau arus lalulintas yang lebih rendah, yaitu pada pendekat dipasang
tanda stop atau yield.
Pengaturan simpang juga dapat dilakukan dengan memberikan kanalisasi
yang bisa berupa maeka ataupun pulau-pulau lalulintas sehingga arah gerakan
kendaraan dapat dipertegas. Pulau-pulau lalu lintas juga bisa dipakai sebagai
tempat perlindungan bagi pejalan kaki.
2. Simpang bersinyal (signalised intersection)
Pada simpang dengan menggunakan sinyal, arus kendaraan memasuki
simpang secara bergantian yang diatur dengan menggunakan lampu lalu lintas.
7
Arus lalulintas yang melaluinya cukup tinggi, sehingga penggunaan simpang tak
bersinyal sudah tidak memadai lagi. Lampu lalu lintas mempunyai pungsi utama
sebagai pengatur hak jalan sebagai pergerakan lalu lintas termasuk pejalan kaki.
Pengaturan arus lalu lintas dipersimpangan digunakan traffic control signal, yang
terdiri dari tiga buah warna, yaitu hijau, kuning dan merah. Dari ketiga warna
sinyal ini, sinyal hijau mengisyaratkan bahwa kendaraan boleh berjalan selama
waktu terdebut, sinyal kuning mengisyaratkan agar pengemudi berhati–hati dan
bersiap untuk berhenti, dan sinyal merah mengisyaratkan agar kendaraan berhenti.
Urutan warna sinyal di Indonesia yaitu merah-hijau-kuning-merah, dimana urutan
terssebut mengikuti urutan warna sinyal yang berlaku di Amerika.
Pada pengaturan dengan dua fase disimpang empat, jumlah titik konflik
mengalami pengurangan dibandingkan dengan pengaturan simpang tak bersinyal
sebagaimana gambar berikut (Tamin 2008):
Gambar 2.2 Pergerakan kendaraan pada simpang tak bersinyal
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
8
Gambar 2.3 Pergerakan kendaraan pada simpang bersinyal dua fase
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
Gambar 2.4 Tundaan pada simpang tak bersinyal (A) dan simpang bersinyal (B)
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
3. Bundaran (roundabout)-bagian jalinan
Bundaran adalah alternatif lain pengganti lampu lalulintas. Bundaran
lebih disukai apabila:
a Arus pada tiap lengan relatif seimbang
b Terdapat volume yang tinggi untuk lalu lintas membelok ke
kanan c Jika persimpangan mempunyai lebih dari 4 lengan
Bundaran sangat berguna di Indonesi. Bundaran dapat meningkatkan
pemilihan kontrol dan menghasilkan antrian yang lebih kecil pada periode
9
jam tidak sibuk dibandingkan dengan lampu lalulintas.
Gambar 2.5 Contoh bundaran
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
Gambar 2.6 Contoh pengaturan fase pada bundaran bersinyal
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
4. Simpang susun
Persilangan sering kali merupakan bottle neck (bagian yang mempunyai
kapasitas terkecil), sehingga kapasitas suatu jaringan jalan sering ditentukan oleh
kapasitas persilangannya. Oleh karena itu, pada arus lalu lintas yang sangat tinggi,
persilangan dibuat tidak sebidang (simpang susun) guna meningkatkan
kapasitasnya. Bentuk yang paling banyak dipakai adalah bentuk semanggi.
10
Gambar 2.7 Simpang susun
Sumber: Rekayasa Dan Manajemen Lalulintas, 2014
2.3 Titik Konflik Pada Simpang
Suatu perempatan jalan yang umum dengan jalur tunggal dan jalan keluar
biasanya terjadi titik konflik. Jumlah konflik yang terjadi setiap jamnya pada
masing-masing pertemuan jalan dapat langsung diketahui dengan cara mengukur
volume aliran untuk seluruh gerakan kendaraan. Masing-masing titik
berkemungkinan menjadi tempat terjadinya kecelakaan dan tingkat keparahan
kecelakaannya berkaitan dengan kecepatan relatif suatu kendaraan. Apabila ada
pejalan kaki yang menyeberang jalan pada pertemuan jalan tersebut, konflik
langsung kendaraan dengan pejalan kaki akan meningkat frekuensinya sekali lagi
11
tergantung pada jumlah dan arah aliran kendaraan dan pejalan kaki. Pada saat
pejalan kaki menyeberang jalur pendekatan, 24 titik konflik kendaraan/pejalan
kaki terjadi pada pertemuan jalan tersebut, dengan mengabaikan gerakan diagonal
yang dilakukan pejalan kaki.
Suatu operasi yang paling sederhana adalah hanya melibatkan satu
manuver penggabungan, pemisahan atau penyilangan dan memang hal ini
diinginkan sepanjang memungkinkan, untuk menghindari gerakan yang banyak
dan berkombinasi yang kesemuanya ini agar diperoleh pengoperasian yang
sederhana. Biasanya terdapat batas pemisah dari aliran yang paling diprioritaskan
dan kemudian pergerakan yang terkontrol dibuat terhadap dan dari sebuah aliran
sekunder. Keputusan untuk menerima atau menolak konflik diserahkan kepada
pengemudi dari aliran bukan prioritas.
Gambar 2.8 Potensi titik-titik konflik pada simpang
2.1 Tujuan Pengaturan Simpang
Tujuan utama dari pengaturan lalu lintas umumnya adalah untuk menjaga
keselamatan arus lalu lintas dengan memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas dan
terarah, tidak menimbulakan keraguan. Pengaturan lalu lintas di persimpangan
12
dapat dicapai dengan menggunakan lampu lalu lintas, marka, dan rambu-rambu
yang mengatur, mengarahkan, dan memperingati serta pulau-pulau lalu lintas.
Selanjutnya dari pemilihan pengaturan simpang dapat ditentukan tujuan yang
diinginkan dicapai seperti berikut:
1. Mengurangi maupun menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan yang
berasal dari berbagai kondisi titik konflik
2. Menjaga kapasitas dari simpang agar dalam operasinya dapat dicapai
pemanfaatan simpang yang sesuai dengan rencana
3. Dalam operasinya dalam pengaturan simpang harus memberikan petunjuk
yang jelas dan pasti serta sederhana, mengarahkan arus lalu lintas pada
tempatnya yang sesuai.
Pada pengaturan persimpangan perlu memperhatikan arus lalu lintas
yang baik dari jalan minor maupun dari jalan mayor, dari data arus tersebut dapat
di tentukan 3 pengaturan di simpang yang meliputi:
1. Pengaturan dengan prioritas
a. Pengaturan simpang biasa
b. Pengaturan simpang dengan bundaran
2. Pengaturan dengan lampu lalu lintas
a. Pengaturan simpang biasa
b. Pengaturan simpang dengan bundaran
2.2 Jenis-jenis Pengendalian Simpang
Pengaturan simpang disusun berdasarkan kebutuhan arus dari tiap-tiap
pendekat. Faktor besar kecilnya arus merupakan pertimbangan utama untuk
13
menentukan jenis-jenis pengaturan, disamping tentunya pertimbangan masalah
dana yang tersedia, karena jumlah arus yang besar akan menyebabkan tundaan
yang berlebihan akibat distribusi kesempatan jalan yang tidak merata pada setiap
bagian, dan meningkatnya angka kecelakaan. Sebaliknya pengaturan simpang
yang tidak tepat juga akan menyebabkan jumlah tundaan meningkat, pemborosan
fasilitas, dan meningkatnya kecenderungan pengemudi untuk melanggar. Terdapat
beberapa cara untuk mengendalikan lalu lintas di persimpangan, bergantung pada
jenis persimpangan dan volume lalu lintas pada tiap aliran kendaraan.
Gambar2.9Aliran kendaraan dan laju penggabungan, Penyebaran, dan
persimpangan
Sumber: Salter, 1974
Berdasarkan urutan tingkat pengendalian, dari kecil ke tinggi,
dipersimpangan, keenamnya adalah: tanpa kendali, kanalisasi, rambu pengendali
kecepatan atau rambu berhenti, bundaran, dan lampu lalu lintas. MUTCD
(FHWA, 2000) memberikan petunjuk mengenai penggunaan jenis pengendali
persimpangan, dalam bentuk ketentuan.
1. Rambu berhenti
14
Rambu berhenti harus ditempatkan pada suatu persimpangan pada kondisi-kondisi
berikut:
a Persimpangan antara suatu jalan yang relatif kurang penting dengan jalan
utama, dimana penerapan aturan daerah milik jalan yang normal bisa
berbahaya
b Persimpangan antara jalan-jalan luar kota dan perkotaan dengan jalan
raya c Jalan yang memasuki suatu jalan atau jalan raya tembus
d Persimpangan tanpa lampu lalu lintas di suatu daerah yang menggunakan
lampu lalu lintas
e Persimpangan tanpa lalu lintas dimana kombinasi antara kecepatan tinggi,
pandangan terbatas, dan banyaknya kecelakaan serius mengindikasikan
adanya kebutuhan akan pengendalian oleh rambu berhenti.
2. Rambu pengendali kecepatan
Rambu ini umumnya ditempatkan:
a Pada suatu jalan minor di titik masuk menuju suatu persimpangan ketika
perlu memberikan hak jalan kejalan utama, namun dimana kondisi berhenti
tidak diperlukan setiap saat, dan dimana kecepatan datang yang aman dijalan
minor melebhi 10 mil per-jam.
b Pada pintu masuk kejalan ekspres (expressway), dimana lajur khusu untuk
percepatan tidak ada.
c Dimana terdapat suatu lajur belok kanan yang terpisah atau dikanalisasi,
namun tanpa adanya lajur yang memadai.
d Disemua persimpangan, dimana masalah lalu lintas dapat ditagulangi dengan
15
mudah dengan pemasangan rambu kecepatan.
e Di suatu persimpangan dengan jalan raya yang terbagi, di mana rambu
berhenti terletak dipintu masuk menuju jalan yang pertama, dan pengendalian
selanjutnya diperlukan pada pintu masuk menuju jalan yang kedua. Lebar
median antara masing-masing jalan harus melebihi 30 feet.
3. Kanalisasi di persimpangan (Channelization)
Kanalisasi adalah proses pemisahan atau pengaturan terhadap aliran
kendaraan yang saling konflik ke dalam rute-rute jalan yang jelas dengan
menempatkan beton pemisah atau rambu perkerasan untuk menciptakan
pergerakan yang aman dan teratur bagi kendaraan dan pejalan kaki. Kanalisasi
yang benar dapat meningkatkan kapasitas, menyempurnakam keamanan,
memberikan kenyamanan penuh, dan juga menaikan percaya diri pengemudi.
Kanalisasi seringkali digunakan bersama dengan rambu berhenti atau rambu
pengatur kecepatan atau pada persimpangan dengan lampu lalu lintas.
Beberapa prinsip dasar untuk membantu perancangan persimpangan yang
dikanalisasi adalah sebagai berikut:
a Pengemudi harus dibantu dengan garis-garis kanal yang mudah diikuti.
b Tikungan tajam dan tiba-tiba harus dihindarkan.
c Area persinggungan kendaraan harus dikurangi sebanyak mungkin.
d Arus lalu lintas yang bersimpangan tanpa penggabungan dengan penjalinan
harus berpotongan tepat atau hampir membentuk sudut tegak lurus.
e Penempatan beton pemisah harus dipilih secara hati-hati dan sedikit mungkin.
f Kanalisasi yang berlebihan harus dihindari, karena terbukti kontraproduktif.
16
The Intersection Channelization Design Guid (TRB, 1985) dan
AASHTO (2001) menyediakan rincian yang jelas tentang kanalisasi.
4. Bundaran (Rotary) dan perputaran (Roundabout)
Bundaran dan perputaran adalah persimpangan kanalisasi yang terdiri
dari sebuah lingkaran pusat yang dikelilingi oleh jalan satu arah. Berbedaan
mendasar antara bundaran dan perputaran adalah bahwa bundaran umumnya
mengunakan lampu lalulintas (seperti di Washington, D.C.), sedangkan
perputaran tidak. Umumnya, dalam kasus perputaran, lalu lintas yang masuk
mengikuti lalu lintas yang ada disitu.
Perputaran umumnya mempunyai tingkat keselamatan yang baik dan
kendaraan tidak harus berhenti saat volume lalu lintas rendah. Perputaran yang
didesain dengan baik seharusnya dapat membelokan kendaraan yang melalui
suatu persimpangan dengan menggunakan pulau pusat (central island) yang
cukup besar, pulau didekat persimpangan yang desainya layak, dan meliukan
alinyemen keluar dan alinyemen masuknya.
5. Pengaturan dengan lampu lalu lintas
Lampu lalu-lintas yang dipasang pada suatu simpang dengan tiga jenis
warna yakni: merah, hijau, dan kuning yang menyala secara bergantian
merupakan upaya pengaturan simpang untuk mencegah konflik antar kendaraan
berdasarkan interval waktu (time interval). Kendaraan yang datang dari berbagai
arah menuju titik yang sama dalam waktu yang bersamaan pula dipisah
berdasarkan interval waktu karena adanya lampu merah, hijau, dan kuning yang
menyala secara periodik pada tiap- tiap kaki simpang.
17
2.3 Rancangan Lalu Lintas pada Persimpangan
Walaupun lampu lalu lintas adalah alat yang sangat baik untuk
mengendalikan lalu lintas pada persimpangan-persimpangan yang ada sekarang,
namun dalam perancangan persimpangan-persimpangan baru selalu diusahakan
agar lampu lalu lintas tidak lagi diperlukan. Dengan pemikiran ini, kehendak
untuk meniadakan atau mengurangi secara besar-besaran jumlah titik-titik konflik
dapat dilakukan melalui tiga cara:
1. membuat pulau-pulau penyalur pada persimpangan-persimpangan yang
diprioritaskan
Pulau lalu lintas harus dengan mudah terlihat, oleh karena itu harus
diterangi di malam hari, atau sekurang-kurangnya diberi pemantul agar mudah
terlihat; sering pula dibuat gambar “tengkorak” pada permukaan jalan menjelang
pulau-pulau lalu lintas. Pada suatu jaringan jalan baru diusahakan agar
meniadakan sebanyak mungkin persimpangan-persimpangan, apabila tidak
mungkin seluruhnya dan membatasi semua persimpangan minor dalam bentuk
simpang T. Suatu simpang T yang modern dilengkapi dengan berbagai teknik
penyalur, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar berikut.
Gambar 2.10 Tipikal simpang T menunjukan pengunaan pulau-pulau lalu lintas
Sumber: Rekayasa Lalu-Lintas, 1993
2. Bundaran Lalu Lintas
Suatu bundaran hanyalah wujud lain daripada pulau lalu lintas sesungguhnya
18
hanya satu elaborasi saja. Ada dua sikap berpikir atas rancangan bundaran lalu
lintas, di Inggris bundaran lalu lintas relatif kecil dan diharapkan memperlambat
laju lalu lintas, sedangkan di Amerika bundaran-bundaran jauh lebih besar,
dengan kecepatan lebih tinggi. Imbangan waktu dan rancangan bundaran dalam
hal ini adalah waktu tundaan - pada hakikatnya sama saja pada kedua rancangan
itu, yakni: kecepatan tinggi x jarak panjang : kecepatan rendah x jarak pendek
Pada kawasan-kawasan yang dibangun yang harga tanahnya cukup tinggi, lebih
banyak dianut cara berpikir orang Inggris.
Bundaran secara khusus dibutuhkan bila:
a arus lalu lintas dari dua jalan atau lebih (tidak berlawanan) yang masuk
simpangan sama besar pada saat yang sama;
b lalu lintas belok kanan cukup besar;
c simpangan lebih dari empat (simpang lima atau lebih);
d pada ujung jalur jalan cepat, apabila diperlukan untuk mengurangi kecepatan
lalu lintas sebelum tersebar memasuki jaringan jalan tempat lalu lintas
bercampur (jalan serba guna).
Kemampuan suatu bundaran melayani besarnya lalu lintas yang
menggunakannya tergantung pada tersedianya uang untuk berambing
(weaving),yaitu lalu lintas yang memotong dari satu alur pada bundaran ke alur
lain. Kapasitas "ruas ambing" suatu bundaran adalah fungsi luas dari "proporsi
lalu lintas ambing". Proporsi ini, p, diperoleh dengan menambahkan arus ambing,
b dan c, dan membaginya dengan jumlah seluruh lalu lintas, a + b + c + d
(lihatGambar 2.11).
19
Gambar 2.11 Lalulintas ambing dan dimensi luas
ambing
Sumber: Rekayasa Lalu-Lintas, 1993