0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Panduan Bantuan Hidup Dasar Efektif

Dokumen ini membahas tentang pentingnya Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam menangani keadaan darurat seperti henti jantung dan henti nafas, yang merupakan penyebab utama kematian global. BHD bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dengan memberikan sirkulasi dan ventilasi darurat, serta menjelaskan teknik dan langkah-langkah yang harus diambil dalam situasi tersebut. Selain itu, dokumen ini juga mencakup konsep triage untuk penanganan medis yang tepat dalam situasi darurat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Panduan Bantuan Hidup Dasar Efektif

Dokumen ini membahas tentang pentingnya Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam menangani keadaan darurat seperti henti jantung dan henti nafas, yang merupakan penyebab utama kematian global. BHD bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dengan memberikan sirkulasi dan ventilasi darurat, serta menjelaskan teknik dan langkah-langkah yang harus diambil dalam situasi tersebut. Selain itu, dokumen ini juga mencakup konsep triage untuk penanganan medis yang tepat dalam situasi darurat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diungkapkan oleh Scientific Committee ASMIHA 2016, [Link] Radi,

PhD, FIHA, FasCC, Data WHO saat ini menunjukkan bahwa penyakit

kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu secara global, yaitu

sebagai penyebab 31% kematian. Pada tahun 2012 sekitar 17.5 juta orang di dunia

meninggal dunia karena penyakit kardiovakular ini, yang terdiri dari 42%

kematian karena penyakit jantung koroner, dan 38% karena stroke. Di Indonesia,

prevalensi penyakit jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter dan gejala

sekitar 1,5%, gagal jantung 0,3%, sedangkan prevalensi stroke berdasarkan

diagnosis tenaga kesehatan dan gejala sebesar 1,2%.

Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di dunia.

Berdasarkan WHO tahun 2005, terdapat 17,5 juta kasus di dunia yang meninggal

dikarenakan penyakit jantung dan pembuluh darah.1 Setiap tahunnya angka

kejadian terus meningkat, dan diprediksikan akan mencapai angka dua puluh juta

kasus pada tahun 2015.1 Salah satu penyebab kematian akibat penyakit jantung

adalah henti jantung atau cardiac arrest.

Henti-jantung-mendadak (Sudden Cardiac Arrest/SCA) adalah penyebab

kematian tertinggi hampir diseluruh dunia. Banyak korban henti-jantung berhasil

selamat jika orang disekitarnya bertindak cepat saat jantung bergetar atau

ventrikel fibrilasi (VF) masih ada, tetapi resusitasi kebanyakan gagal apabila ritme

jantung telah berubah menjadi tidak bergerak/asystole.


Bantuan hidup dasar adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan

napas, membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa

menggunakan alat bantu (Alkatiri, 2007). Tujuan bnatuan hidup dasar ialah untuk

oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui

ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan

oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal.

Tindakan bantuan hidup dasar sangat penting pada pasien trauma terutama

pada pasien dengan henti jantung yang tiga perempat kasusnya terjadi di luar

rumah sakit.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian diatas dapat diambil rumusan masalah yaitu sebagai berikut :

1. Apa pengertian bantuan hidup dasar?

2. Bagaimana indikasi bantuan hidup dasar?

3. Kapan harus dilakukan tindakan bantuan hidup dasar ?

4. Bagaimana teknik bantuan hidup dasar?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari makalah ini yakni untuk mengetahui bagaimana cara

memberikan pertolongan agar bisa mempertahan kehidupan korban saat

korban mengalami keadaan yang mengancam nyawa, dengan bantuan

hidup dasar.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian BHD (Bantuan Hidup Dasar)

Bantuan hidup dasar merupakan usaha yang pertama kali dilakukan untuk

mempertahankan kondisi jiwa seseorang pada saat mengalamai kegawat

daruratan. Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan sebuah fondasi utama yang

dilakukan untuk menyelamatkan seseorang yang mengalami henti jantung.

Keadaan darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu dan di

mana pun. Kondisi ini memerlukan bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar

adalah usaha untuk mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami

keadaan yang mengancam nyawa.

2.2 Tujuan BHD (Bantuan Hidup Dasar)

Tujuan dari Bantuan Hidup Dasar sebagai berikut :

1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya pernafasan.

2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban

yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui Resusitasi Jantung

Paru (RJP)

2.3 BHD (Bantuan Hidup Dasar) Dewasa

Indikasi melakukan RJP adalah sebagai berikut:

1. Henti Nafas

Henti nafas dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:

a. Tenggelam

b. Stroke
c. Sumbatan jalan nafas

d. Syok

e. Menghirup asap

f. Keracunan

g. Tersengat listrik

h. Tercekik

i. Trauma

j. Infark miokard

k. Tersambar petir

l. Koma akibat berbagai macam kasus

Yang ditandai dengan tidak ada gerakan dan aliran udara pernafasan dari

korban. Pada awal henti nafas oksigen masih didalam darah untuk beberapa

menit dan jantung masih dapat mensirkulasi darah ke otak dan organ vital

lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan nafas maka akan sangat

bermanfaat sehingga korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.

2. Henti Jantung

Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti

sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ

vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu (tersengal-sengal)

merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Pada kondisi henti

jantung, sirkulasi terhenti, dan semua organ tubuh mengalami hipoksia.


2.4 Chain of Survival

1. Cepat mengenali keadaan kegawat daruratan (henti nafas dan henti jantung)

2. Cepat melakukan CPR

3. Cepat melakukan defibrilasi; CPR dengan defibrilasi dalam 3-5 menit awal

dapat meningkatkan angka keberhasilan antara 45%-75%.

4. Cepat melakukan bantuan hidup lanjut.

5. Integrated post cardiac arrest.

Berikut penjelasan dari rangkaian tindakan Bantuan Hidup Dasar :

1. Aman penolong, pasien dan lingkungan

2. Mengenali korban henti nafas dan atau henti jantung .

Saat kita menemukan orang yang tiba-tiba tidak sadar, maka perlu dipastikan

terlebih dahulu apakah korban mengalami henti nafas dengan cara :

a. Cek respon korban dengan memanggil namanya atau

menepuk/mengguncang bahunya.

b. Cek pernafasannya dengan metode lihat, dengar dan rasakan (look, feel

move). Amati apakah ada pergerakan dinding dada serta dengar dan rasakan

apakah ada hembusan nafas korban.

c. Cek denyut nadi korban dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di

pembuluh darah arteri carotis di daerah leher


Cek respon korban Cek Pernafasan Cek denyut nadi

Gambar 1. Cara mengecek respon, nafas & denyut nadi

Jika korban tidak memberikan respon dan tidak bernafas, maka korban

mengalami henti nafas. Sedangkan bila korban tidak memberikan respon, tidak

bernafas dan tidak teraba denyut nadinya, dapat dipastikan korban mengalami

henti jantung. Waktu untuk melakukan pengecekan di atas oleh penolong harus

dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 detik.

3. Meminta bantuan (aktivasi sistem tanggap darurat) Jika korban tidak

memberikan respon, tidak bernafas dan tidak teraba denyut nadinya, segera

minta bantuan orang sekitar untuk memanggil ambulance dan mengambil alat

Automatic External Defibrilator (AED) jika ada. AED adalah alat elektronik

portable yang secara otomatis dapat menganalisa irama jantung pasien dan

memberikan gelombang kejut /defibrilasi jantung apabila diperlukan. Sambil

menunggu bantuan medis datang maka tindakan pemberian bantuan hidup

dasar selanjutnya harus dilakukan.


Gambar 2. Skema pertolongan pada korban henti jantung diluar RS menurut AHA

4. Memperbaiki posisi pasien

Posisi pasien dalam keadaan telentang dan berada pada permukaan yang rata

dan keras. Jika ditemukan dalam keadaan miring atau tengkurap ubah keposisi

telentang dengan cara membalikkan pasien sebagai satu kesatuan antara kepala,

leher dan bahu (control servikal).

5. Mengatur posisi penolong

Segera berlutut sejajar dengan bahu pasien.

6. Berikan kompresi dinding dada; lakukan RJP berkualitas/high quality CPR.

Pada korban yang mengalami henti jantung, harus segera dilakukan

Resusitasi Jantung Paru yang berkualitas. Komponen dari tindakan RJP

menganut prinsip C-A-B, terdiri dari kompresi dinding dada (Compression),

membuka jalan nafas (Airway) dan memberikan bantuan nafas (Breathing).

Gambar 3. Komponen yang dilakukan pada tindakan resusitasi jantung paru

Teknik melakukan Resusitasi Jantung Paru yang berkualitas adalah :


 Letakkan korban pada permukaan datar dan keras untuk memastikan

korban mendapatkan penekanan yang adekuat/cukup.

 Pastikan bagian dada korban terbuka untuk meyakinkan penempatan

tangan yang tepat dan melihat recoil/pengembangan kembali dinding dada.

 Letakkan tangan di tengah dada korban, tumpukan salah satu pangkal

tangan pada daerah separuh bawah tulang dada; tangan lainnya diletakkan

di atas tangan yang bertumpu tersebut.

 Lengan harus tegak lurus 900 terhadap dada korban, dengan bahu penolong

sebagai tumpuan atas.

 Tekan/kompresi dada dengan kecepatan 100 – 120x/ menit dengan

kedalaman minimal 5 cm tapi tidak boleh lebih dari 6 cm.

 Selama melakukan penekanan/kompresi, pastikan bahwa dinding dada

mendapatkan kesempatan untuk mengembang kembali ke bentuk semula

(recoil penuh).

Gambar 4. Posisi badan serta tangan penolong pada dada korban

 Berikan 2 kali bantuan nafas setiap selesai 30 kali melakukan penekanan

dinding dada, dengan durasi selama 1 detik untuk setiap pemberian

bantuan nafas. Pastikan dinding dada korban mengembang saat diberikan


bantuan nafas. Interupsi/jeda waktu antara selesai melakukan satu siklus

kompresi dinding dada dengan memberikan bantuan nafas tidak boleh

lebih dari 10 detik.

 Untuk penolong yang tidak terlatih melakukan RJP/CPR, disarankan untuk

melakukan kompresi/penekanan dinding dada saja, tanpa memberikan

bantuan nafas.

 Lakukan pengecekan apakah sudah muncul sirkulasi spontan, dengan cara

melakukan pengecekan denyut nadi korban setiap 2 menit.

 Pasangkan AED jika ada, dan ikuti langkah-langkah instruksi yang

diperintahkan dari alat AED

RJP/CPR dihentikan bila :

 Kembalinya sirkulasi spontan, yang ditandai dengan terabanya denyut nadi

korban

 Penolong terlatih tiba

 Anda kelelahan untuk melakukan RJP/CPR

 Keadaan lingkungan menjadi tidak aman

7. Membuka dan membebaskan jalan nafas

Pada korban yang tidak sadar harus dipastikan bahwa tidak ada sumbatan jalan

nafas. Sumbatan jalan nafas pada pasien tidak sadar dapat disebabkan oleh

lidah yang tertarik ke bagian belakang tenggorokan akibat kekuatan otot yang

menurun. Oleh karena itu perlu kita pastikan tidak ada sumbatan jalan nafas

dengan cara membuka dan membebaskan jalan nafas. Ada dua cara yang dapat

dilakukan untuk membuka jalan nafas, yaitu :


 Head tilt/chin lift technique maneuver yaitu dengan menekan dahi dan

mengangkat dagu korban, sehingga posisi dagu menjadi terangkat

 Jaw thrust maneuver yaitu dengan mendorong rahang korban ke arah atas.

Teknik ini dilakukan bila curiga terdapat cedera pada kepala, leher atau

tulang belakang korban. Cara melakukannya dengan mengambil posisi di

atas pasien, penolong berlutut, lalu letakkan telapak tangan pada kedua sisi

kepala dan letakkan jari-jari pada sudut tulang rahang dengan ibu jari pada

sudut mulut. Lalu angkat rahang korban ke arah atas dengan jari-jari

penolong, sementara ibu jari bertugas untuk membuka mulut dengan

mendorong dagu ke arah depan. Pastikan penolong tidak menggerakkan

kepala atau leher korban ketika melakukan maneuver tersebut.

Gambar 5. Maneuver untuk membuka dan membebaskan jalan nafas

8. Evaluasi

a. Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi pasien dievaluasi kembali

b. Jika tidak ada nadi karotis, lakukan kembali kompresi dan bantuan nafas

dengan rasio 30 : 2.

c. Jika ada nafas dan denyut nadi teraba letakkan pasien pada posisi mantap

d. Jika tidak ada nafas tapi nadi teraba, beri ventilasi 10-12 x/menit dan

monitor nadi setiap 10 detik


e. Jika nafas spontan ada dan nadi teraba, jaga agar jalan nafas tetap terbuka

f. Lanjutkan resusitasi sampai:

1) Pertolongan diambil alih oleh yang berkompeten

2) Pasien menunjukkan tanda-tanda sirkulasi

3) Penolong kelelahan

4) Ada DNR

5) Ada tanda-tanda kematian irreversible

Komplikasi

a. Nafas buatan: Inflasi Gaster, Regurgitasi, mengurangi volume paru

b. RJP

1) Fraktur iga & sternum

2) Pneumothorax

3) Hemothorax

4) Kontusio paru

5) Laserasi hati dan limpa

6) Emboli lemak

9. Posisi Pemulihan

Posisi ini dilakukan jika korban sudah bernapas dengan normal. Posisi ini

dilakukan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko

tersumbatnya jalan napas dan tersedak. Tidak ada standard baku untuk

melakukan posisi pemulihan, yang terpenting adalah korban dimiringkan agar

tidak ada tekanan pada dada korban yang bisa mengganggu pernapasan.

Namun rekomendasi posisi pemulihan adalah meletakkan tangan kanan korban


ke atas, tekuk kaki kiri korban, kemudian tarik korban sehingga korban miring

ke arah kanan dengan lengan di bawah kepala korban.

Gambar 6. Cara melakukan posisi pemulihan

2.5 Triage

Triage berasal dari bahasa prancis “Trier” berarti mengambil atau memilih.

Triage adalah penilaian, pemilahan dan pengelompokan penderita yang akan

mendapat penanganan medis dan evakuasi pada kondisi kejadian masal atau

bencana. Penanganan medis yang diberikan berdasarkan prioritas sesuai dengan

keadaan penderita. Triage dibagi menjadi dua yaitu:

1. Triage di UGD/IGD Rumah Sakit

Pemilihan penderita ketika masuk UGD rumah sakit. Prioritas utama diberikan

kepada penderita yang mengalami kondisi yang sangat mengancam nyawa.

Secara umum prioritas penderita dikelompokan menjadi 4 kategori yaitu:

a. High Priority: red/merah

Penderita mengalami kondisi kritis sehingga memerlukan penanganan

segera untuk usaha penyelamatan.


b. Intermediete Priority: Yellow/kuning

Kondisi penderita tidak kritis namun jika tidak segera diberikan pertolongan

maka keadaan penderita akan memburuk.

c. Low Priority: Green/Hijau

Penanganan pada penderita dapat ditunda. Penderita tidak mengalami cidera

yang serius sehingga dapat menunggu penanganan tanpa menambah tingkat

keparahan.

d. Lowest Priority: Black/hitam

Penderita yang sudah tidak dapat bertahan lagi dengan keadaan yang fatal

atau sudah meninggal.

2. Triage di bencana

Bencana adalah peristiwa yang terjadi secara mendadak atau tidak terencana

atau secara perlahan tetapi berlanjut. Baik yang disebabkan oleh alam maupun

manusia, yang dapat menimbulkan dampak kehidupan normal atau kerusakan

ekosistim, sehingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa untuk

menolong, menyelamatkan manusia beserta lingkungannya. Prioritas yang

diberikan adalah

a. High priority green/hijau

Penanganan kepada penderita yang memiliki kemungkinan hidup lebih

besar. Penderita tidak mengalami cidera yang serius sehingga dapat

dibebaskan dari TKP agar tidak bertambah korban yang lebih banyak

penderita yang memiliki hidup lebih banyak harus diselamatkan terlebih

dahulu.
b. Intermediete Priority Yellow/kuning

Kondisi penderita tidak kritis dan memiliki prioritas kedua setelah

penderita dengan arna hijau.

c. Low Priority red/merah

Penderita mengalami kondisi kritis sehingga memerlukan penanganan

yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk

usaha penyelamatan.

d. Lowest Priority Black/hitam

Penderita sudah tidak dapat bertahan lagi dengan keadaan yang fatal atau

sudah meninggal.

Tujuan triage adalah untuk memudahkan penolong untuk memberikan

pertolongan dalam kondisi korbal massal atau bencana dan diarapkan banyak

penderita yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Kejadian yang

mengakibatkan korban dua atau lebih harus dilakukan triage. Dalam

melakukan pertolongan dengan melihat kondisi korban dan berdasarkan

prioritas yang disesuaikan dengan jumlah penolong. Untuk kasus yang biasa

tingkat “urgency” harus selalu diperhatikan. Pada kasus bencana dengan

korban yang banyak ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan

prioritas yaitu ungercy dan potensial untuk bertahan. Triage dimulai dengan

mengkaji lingkungan. Satu orang senior atau yang sudah berpengalaman

mengaktifkn sistim dengan menganalisa kebutuhan bantuan medis yang

diperlukan. Pengunakan APD harus dilakukan oleh petugas dan kelengkapan


alat medis. Pastikan orang umum berada diarea lokasi kejadian harus

diamankan untuk keselamatan dan mempermudah penanganan.

B. Prosedur triage dibencana

Terjadinya bencana dapat disebabkan beberapa faktor, diantaranya karena

alam (gempa bumi, banjir, tanah longsor, dll) teknologi (kecelakaan kerja dan alat

transportasi, keracunan, kebakaran) dan komflik (perang, terosisme, tauran).

Dalam keadaan bencana tidak semua orang dapat memasuki area bencana.

Maka dari itu ada pembagian area di lokasi bencana yang alokasikan untuk orang-

orang tertentu. Pemilihan penderita yang dilakukan diluar UGD rumah sakit

ketika mengalami suatu bencana (Bencana alam, kecelakaan bus/mobil, kebakaran

gedung, bom, keracunan, dll) triage dilakukan dengan sistim START (Simple

Triage Rapid Treatment) yaitu memilih korban berdasarkan pengkajian awal

terhadap penderita dengan menilai air way, breating dan circulation.

a. Penolong pertama melakukan penilaian cepat tanpa menggunakan alat atau

melakukan tindakan medis.

b. Panggil penderita yang dapat berjalan dan kumpulkan diarea pengumpulan

atau collecting area.

c. Nilai penderita yang tidak dapat berjalan, mulai dari posisi terdekat dengan

penolong.

Langkah 1: respiration (breathing)

a. Tidak bernapas, buka jalan napas, jika tetaptidak bernapas: hitam

b. Pernapasan > 30 x/m atau < 10 x/m: merah

c. Pernapasan 10-30 x/m: tahap berikut.


Langkah 2: cek perfusi (radial pulse) capiral refill test (kuku/bibir

sianosis)

a. Bila > 2 detik: merah

b. Bila < kurang 2 detik: tahap berikutnya

c. Bila pencahayaan kurang, cek nadi radialis, bila tidak teraba/lemah: merah

d. Bila nadi radialis teraba: tahap berikutnya

Langkah 3: mental status

a. Berikan perintah sederhana kepada penderita, jika dapat mengikuti: kuning

b. Bila tidak dapat mengikuti perintah: merah

Tindakan yang harus cepat dilakukan:

- Buka jalan napas, bebaskan benda asing atau darah (sumbatan jalan napas)

- Berikan napas buatan segera jika korban tidak bernapas

- Balut tekan dan tinggikan jika ada luka terbuka/perdaraha

Setelah melakukan langkah 1 sampai 3 dan memberikan tanda kartu

kepada penderita, lekas untuk menuju kependerita lain yang belum dilakukan

triage. Triage selalu dievaluasi untuk menghindari kemungkinan terjadi kesalahan

pada waktu triage.

Setiap penolong harus mengerti dan memahami konsep triage dengan

menggunakan cara START, karena cara ini sangatlah bagus dan efektif serta

mudah untuk diterapkan. Agar penolong terampil dan cekatan dalam triage harus

sering dilakukan simulasi bencana (disaster drill), sehingga dapat menambah

kemampuuan dan keterampila penonton.


Triage dilakukan dalam kondisi korban lebih dari satu, sedangkan jumlah

petugas terbatas. Hal termudah dalam membantu korban adalah dengan

dilakukannya START, penilaian korban sangat cepat terutama dalam kondisi

bencana.

Sistim penanganan pada saat bencana harus berkoordinasi dan

terkoordinasi dalam suatu sistim yang dapat diterapkan untuk kelancaran

penanganan bencana. Hal ini terutama pemerintah harus memahami konsep

penanganan bencana. Pimpinan atau komando saat bencana adalah pemerintah

setempat atau pihak kepolisian, seperti contoh bencana terjadi dikabupaten, maka

sebagai pimpinan adalah bupati atau terjadi di tingkat propinsi maka gubernur

menjadi pimpinan dan jika terjadi mencapai nasional maka pimpinan adalah

presiden.

Hal yang harus diperhatikan saat penanggulan bencana dan seorang

pimpinan harus peka adalah tentang struktur komando, operasional, logistik,

planning, dan keuangan. Semua struktur tersebut harus memiliki penanggung

jawab dari bagian masing-masing, sehingga ada pembagian tugas yang sesuai

dengan fungsinya.

Untuk tim kesehatan, harus mempunyai pimpinan yang sudah terlatih dan

lihai dalam penaganan bencana, diharapkan hal-hal yang akan menjadi keperluan

dan dukungan terhadap pertolongan kepada korban dapat diterapkan dengan baik.

Hal yang harus dipersiapkan untuk antisipasi dalam kesehatan adalah logistik

medis dan non medis, alat transportasi/ambulans yang dibutuhkan untuk sistim

rujukan korban, terapi/obat-obatan yang diberikan.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Bantuan hidup dasar merupakan dasar guna menyelamatkan nyawa ketika

terjadi henti jantung. Aspek dasar dari bantuan hidup dasar adalah mengenali

secara langsungSudden Cardiac Arrest (SCD), kemudian mengaktivasi sistem

tanggap daruratCardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru

(RJP) sedini mungkin, dan defibrilasi cepat menggunakan Automated External

Defibrillator (AED). CPR merupakan tindakan darurat yang berupaya untuk

mengembalikan keadaan henti nafas dan atau henti jantung ke fungsi optimal,

guna mencegah terjadinya kematian biologis.

Sebelum melakukan tindakan CPR penolong haruslah melakukan

pengenalan dini tanda henti jantung mendadak terlebih dahulu dan segera

meminta pertolongan (termasuk melakukan aktivasi sistem penanggulangan gawat

darurat). Dimana tanda-tanda henti jantung yang harus diketahui oleh penolong

adalah hilang kesadaran, tidak ada respon dan tidak bernafas atau adanya nafas

yang tidak normal (gasping).

Berbicara tentang Triage dirumah sakit maupun bencana, triage dilakukan

dengan kondisi ketika penderita melampaui batas jumlah tenaga kesehatan. Triage

dapat dilakukan di UGD RS dan juga dikejadian bencana. Model prioritas

penanganan korban berbeda dalam kondisi tersebut. Merah sebagai prioritas

utama ketika triage di UGD, namun menjadi prioritas ketiga ketika dilingkungan

bencana. Korban dengan warna hijau sebagai prioritas utama.


3.2 Saran

Perawat hendaknya menguasai ilmu gawat darurat tentang bantuan hidup

dasar dan CPR sehingga bisa membantu masyarakat dalam mengatasi masalah

kegawat daruratan. Begitupula dengan managemen triage, perawat perlu

menerapkan teknik triage di RS maupun di lokasi bencana.


DAFTAR PUSTAKA

American Heart Association (2015). American Heart Association Guidelines 2015

CPR and ECG. Dikutip dari [Link] pada tanggal 10 juni

2016

Hipgabi Sulut 2017. Materi Pelatihan Emergency Nursing Basic Trauma Cardiac

Life Support.

Setyawati, 2016. Training Basic Life Support.

Tim Bantuan Medis Bem IKM FKUI, 2016. Modul bantuan hidup dasar dan

penanganan tersedak.

Anda mungkin juga menyukai