BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diungkapkan oleh Scientific Committee ASMIHA 2016, [Link] Radi,
PhD, FIHA, FasCC, Data WHO saat ini menunjukkan bahwa penyakit
kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu secara global, yaitu
sebagai penyebab 31% kematian. Pada tahun 2012 sekitar 17.5 juta orang di dunia
meninggal dunia karena penyakit kardiovakular ini, yang terdiri dari 42%
kematian karena penyakit jantung koroner, dan 38% karena stroke. Di Indonesia,
prevalensi penyakit jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter dan gejala
sekitar 1,5%, gagal jantung 0,3%, sedangkan prevalensi stroke berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan dan gejala sebesar 1,2%.
Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di dunia.
Berdasarkan WHO tahun 2005, terdapat 17,5 juta kasus di dunia yang meninggal
dikarenakan penyakit jantung dan pembuluh darah.1 Setiap tahunnya angka
kejadian terus meningkat, dan diprediksikan akan mencapai angka dua puluh juta
kasus pada tahun 2015.1 Salah satu penyebab kematian akibat penyakit jantung
adalah henti jantung atau cardiac arrest.
Henti-jantung-mendadak (Sudden Cardiac Arrest/SCA) adalah penyebab
kematian tertinggi hampir diseluruh dunia. Banyak korban henti-jantung berhasil
selamat jika orang disekitarnya bertindak cepat saat jantung bergetar atau
ventrikel fibrilasi (VF) masih ada, tetapi resusitasi kebanyakan gagal apabila ritme
jantung telah berubah menjadi tidak bergerak/asystole.
Bantuan hidup dasar adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan
napas, membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa
menggunakan alat bantu (Alkatiri, 2007). Tujuan bnatuan hidup dasar ialah untuk
oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui
ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan
oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal.
Tindakan bantuan hidup dasar sangat penting pada pasien trauma terutama
pada pasien dengan henti jantung yang tiga perempat kasusnya terjadi di luar
rumah sakit.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat diambil rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Apa pengertian bantuan hidup dasar?
2. Bagaimana indikasi bantuan hidup dasar?
3. Kapan harus dilakukan tindakan bantuan hidup dasar ?
4. Bagaimana teknik bantuan hidup dasar?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini yakni untuk mengetahui bagaimana cara
memberikan pertolongan agar bisa mempertahan kehidupan korban saat
korban mengalami keadaan yang mengancam nyawa, dengan bantuan
hidup dasar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian BHD (Bantuan Hidup Dasar)
Bantuan hidup dasar merupakan usaha yang pertama kali dilakukan untuk
mempertahankan kondisi jiwa seseorang pada saat mengalamai kegawat
daruratan. Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan sebuah fondasi utama yang
dilakukan untuk menyelamatkan seseorang yang mengalami henti jantung.
Keadaan darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu dan di
mana pun. Kondisi ini memerlukan bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar
adalah usaha untuk mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami
keadaan yang mengancam nyawa.
2.2 Tujuan BHD (Bantuan Hidup Dasar)
Tujuan dari Bantuan Hidup Dasar sebagai berikut :
1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya pernafasan.
2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban
yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui Resusitasi Jantung
Paru (RJP)
2.3 BHD (Bantuan Hidup Dasar) Dewasa
Indikasi melakukan RJP adalah sebagai berikut:
1. Henti Nafas
Henti nafas dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:
a. Tenggelam
b. Stroke
c. Sumbatan jalan nafas
d. Syok
e. Menghirup asap
f. Keracunan
g. Tersengat listrik
h. Tercekik
i. Trauma
j. Infark miokard
k. Tersambar petir
l. Koma akibat berbagai macam kasus
Yang ditandai dengan tidak ada gerakan dan aliran udara pernafasan dari
korban. Pada awal henti nafas oksigen masih didalam darah untuk beberapa
menit dan jantung masih dapat mensirkulasi darah ke otak dan organ vital
lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan nafas maka akan sangat
bermanfaat sehingga korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.
2. Henti Jantung
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti
sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ
vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu (tersengal-sengal)
merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Pada kondisi henti
jantung, sirkulasi terhenti, dan semua organ tubuh mengalami hipoksia.
2.4 Chain of Survival
1. Cepat mengenali keadaan kegawat daruratan (henti nafas dan henti jantung)
2. Cepat melakukan CPR
3. Cepat melakukan defibrilasi; CPR dengan defibrilasi dalam 3-5 menit awal
dapat meningkatkan angka keberhasilan antara 45%-75%.
4. Cepat melakukan bantuan hidup lanjut.
5. Integrated post cardiac arrest.
Berikut penjelasan dari rangkaian tindakan Bantuan Hidup Dasar :
1. Aman penolong, pasien dan lingkungan
2. Mengenali korban henti nafas dan atau henti jantung .
Saat kita menemukan orang yang tiba-tiba tidak sadar, maka perlu dipastikan
terlebih dahulu apakah korban mengalami henti nafas dengan cara :
a. Cek respon korban dengan memanggil namanya atau
menepuk/mengguncang bahunya.
b. Cek pernafasannya dengan metode lihat, dengar dan rasakan (look, feel
move). Amati apakah ada pergerakan dinding dada serta dengar dan rasakan
apakah ada hembusan nafas korban.
c. Cek denyut nadi korban dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di
pembuluh darah arteri carotis di daerah leher
Cek respon korban Cek Pernafasan Cek denyut nadi
Gambar 1. Cara mengecek respon, nafas & denyut nadi
Jika korban tidak memberikan respon dan tidak bernafas, maka korban
mengalami henti nafas. Sedangkan bila korban tidak memberikan respon, tidak
bernafas dan tidak teraba denyut nadinya, dapat dipastikan korban mengalami
henti jantung. Waktu untuk melakukan pengecekan di atas oleh penolong harus
dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 detik.
3. Meminta bantuan (aktivasi sistem tanggap darurat) Jika korban tidak
memberikan respon, tidak bernafas dan tidak teraba denyut nadinya, segera
minta bantuan orang sekitar untuk memanggil ambulance dan mengambil alat
Automatic External Defibrilator (AED) jika ada. AED adalah alat elektronik
portable yang secara otomatis dapat menganalisa irama jantung pasien dan
memberikan gelombang kejut /defibrilasi jantung apabila diperlukan. Sambil
menunggu bantuan medis datang maka tindakan pemberian bantuan hidup
dasar selanjutnya harus dilakukan.
Gambar 2. Skema pertolongan pada korban henti jantung diluar RS menurut AHA
4. Memperbaiki posisi pasien
Posisi pasien dalam keadaan telentang dan berada pada permukaan yang rata
dan keras. Jika ditemukan dalam keadaan miring atau tengkurap ubah keposisi
telentang dengan cara membalikkan pasien sebagai satu kesatuan antara kepala,
leher dan bahu (control servikal).
5. Mengatur posisi penolong
Segera berlutut sejajar dengan bahu pasien.
6. Berikan kompresi dinding dada; lakukan RJP berkualitas/high quality CPR.
Pada korban yang mengalami henti jantung, harus segera dilakukan
Resusitasi Jantung Paru yang berkualitas. Komponen dari tindakan RJP
menganut prinsip C-A-B, terdiri dari kompresi dinding dada (Compression),
membuka jalan nafas (Airway) dan memberikan bantuan nafas (Breathing).
Gambar 3. Komponen yang dilakukan pada tindakan resusitasi jantung paru
Teknik melakukan Resusitasi Jantung Paru yang berkualitas adalah :
Letakkan korban pada permukaan datar dan keras untuk memastikan
korban mendapatkan penekanan yang adekuat/cukup.
Pastikan bagian dada korban terbuka untuk meyakinkan penempatan
tangan yang tepat dan melihat recoil/pengembangan kembali dinding dada.
Letakkan tangan di tengah dada korban, tumpukan salah satu pangkal
tangan pada daerah separuh bawah tulang dada; tangan lainnya diletakkan
di atas tangan yang bertumpu tersebut.
Lengan harus tegak lurus 900 terhadap dada korban, dengan bahu penolong
sebagai tumpuan atas.
Tekan/kompresi dada dengan kecepatan 100 – 120x/ menit dengan
kedalaman minimal 5 cm tapi tidak boleh lebih dari 6 cm.
Selama melakukan penekanan/kompresi, pastikan bahwa dinding dada
mendapatkan kesempatan untuk mengembang kembali ke bentuk semula
(recoil penuh).
Gambar 4. Posisi badan serta tangan penolong pada dada korban
Berikan 2 kali bantuan nafas setiap selesai 30 kali melakukan penekanan
dinding dada, dengan durasi selama 1 detik untuk setiap pemberian
bantuan nafas. Pastikan dinding dada korban mengembang saat diberikan
bantuan nafas. Interupsi/jeda waktu antara selesai melakukan satu siklus
kompresi dinding dada dengan memberikan bantuan nafas tidak boleh
lebih dari 10 detik.
Untuk penolong yang tidak terlatih melakukan RJP/CPR, disarankan untuk
melakukan kompresi/penekanan dinding dada saja, tanpa memberikan
bantuan nafas.
Lakukan pengecekan apakah sudah muncul sirkulasi spontan, dengan cara
melakukan pengecekan denyut nadi korban setiap 2 menit.
Pasangkan AED jika ada, dan ikuti langkah-langkah instruksi yang
diperintahkan dari alat AED
RJP/CPR dihentikan bila :
Kembalinya sirkulasi spontan, yang ditandai dengan terabanya denyut nadi
korban
Penolong terlatih tiba
Anda kelelahan untuk melakukan RJP/CPR
Keadaan lingkungan menjadi tidak aman
7. Membuka dan membebaskan jalan nafas
Pada korban yang tidak sadar harus dipastikan bahwa tidak ada sumbatan jalan
nafas. Sumbatan jalan nafas pada pasien tidak sadar dapat disebabkan oleh
lidah yang tertarik ke bagian belakang tenggorokan akibat kekuatan otot yang
menurun. Oleh karena itu perlu kita pastikan tidak ada sumbatan jalan nafas
dengan cara membuka dan membebaskan jalan nafas. Ada dua cara yang dapat
dilakukan untuk membuka jalan nafas, yaitu :
Head tilt/chin lift technique maneuver yaitu dengan menekan dahi dan
mengangkat dagu korban, sehingga posisi dagu menjadi terangkat
Jaw thrust maneuver yaitu dengan mendorong rahang korban ke arah atas.
Teknik ini dilakukan bila curiga terdapat cedera pada kepala, leher atau
tulang belakang korban. Cara melakukannya dengan mengambil posisi di
atas pasien, penolong berlutut, lalu letakkan telapak tangan pada kedua sisi
kepala dan letakkan jari-jari pada sudut tulang rahang dengan ibu jari pada
sudut mulut. Lalu angkat rahang korban ke arah atas dengan jari-jari
penolong, sementara ibu jari bertugas untuk membuka mulut dengan
mendorong dagu ke arah depan. Pastikan penolong tidak menggerakkan
kepala atau leher korban ketika melakukan maneuver tersebut.
Gambar 5. Maneuver untuk membuka dan membebaskan jalan nafas
8. Evaluasi
a. Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi pasien dievaluasi kembali
b. Jika tidak ada nadi karotis, lakukan kembali kompresi dan bantuan nafas
dengan rasio 30 : 2.
c. Jika ada nafas dan denyut nadi teraba letakkan pasien pada posisi mantap
d. Jika tidak ada nafas tapi nadi teraba, beri ventilasi 10-12 x/menit dan
monitor nadi setiap 10 detik
e. Jika nafas spontan ada dan nadi teraba, jaga agar jalan nafas tetap terbuka
f. Lanjutkan resusitasi sampai:
1) Pertolongan diambil alih oleh yang berkompeten
2) Pasien menunjukkan tanda-tanda sirkulasi
3) Penolong kelelahan
4) Ada DNR
5) Ada tanda-tanda kematian irreversible
Komplikasi
a. Nafas buatan: Inflasi Gaster, Regurgitasi, mengurangi volume paru
b. RJP
1) Fraktur iga & sternum
2) Pneumothorax
3) Hemothorax
4) Kontusio paru
5) Laserasi hati dan limpa
6) Emboli lemak
9. Posisi Pemulihan
Posisi ini dilakukan jika korban sudah bernapas dengan normal. Posisi ini
dilakukan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko
tersumbatnya jalan napas dan tersedak. Tidak ada standard baku untuk
melakukan posisi pemulihan, yang terpenting adalah korban dimiringkan agar
tidak ada tekanan pada dada korban yang bisa mengganggu pernapasan.
Namun rekomendasi posisi pemulihan adalah meletakkan tangan kanan korban
ke atas, tekuk kaki kiri korban, kemudian tarik korban sehingga korban miring
ke arah kanan dengan lengan di bawah kepala korban.
Gambar 6. Cara melakukan posisi pemulihan
2.5 Triage
Triage berasal dari bahasa prancis “Trier” berarti mengambil atau memilih.
Triage adalah penilaian, pemilahan dan pengelompokan penderita yang akan
mendapat penanganan medis dan evakuasi pada kondisi kejadian masal atau
bencana. Penanganan medis yang diberikan berdasarkan prioritas sesuai dengan
keadaan penderita. Triage dibagi menjadi dua yaitu:
1. Triage di UGD/IGD Rumah Sakit
Pemilihan penderita ketika masuk UGD rumah sakit. Prioritas utama diberikan
kepada penderita yang mengalami kondisi yang sangat mengancam nyawa.
Secara umum prioritas penderita dikelompokan menjadi 4 kategori yaitu:
a. High Priority: red/merah
Penderita mengalami kondisi kritis sehingga memerlukan penanganan
segera untuk usaha penyelamatan.
b. Intermediete Priority: Yellow/kuning
Kondisi penderita tidak kritis namun jika tidak segera diberikan pertolongan
maka keadaan penderita akan memburuk.
c. Low Priority: Green/Hijau
Penanganan pada penderita dapat ditunda. Penderita tidak mengalami cidera
yang serius sehingga dapat menunggu penanganan tanpa menambah tingkat
keparahan.
d. Lowest Priority: Black/hitam
Penderita yang sudah tidak dapat bertahan lagi dengan keadaan yang fatal
atau sudah meninggal.
2. Triage di bencana
Bencana adalah peristiwa yang terjadi secara mendadak atau tidak terencana
atau secara perlahan tetapi berlanjut. Baik yang disebabkan oleh alam maupun
manusia, yang dapat menimbulkan dampak kehidupan normal atau kerusakan
ekosistim, sehingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa untuk
menolong, menyelamatkan manusia beserta lingkungannya. Prioritas yang
diberikan adalah
a. High priority green/hijau
Penanganan kepada penderita yang memiliki kemungkinan hidup lebih
besar. Penderita tidak mengalami cidera yang serius sehingga dapat
dibebaskan dari TKP agar tidak bertambah korban yang lebih banyak
penderita yang memiliki hidup lebih banyak harus diselamatkan terlebih
dahulu.
b. Intermediete Priority Yellow/kuning
Kondisi penderita tidak kritis dan memiliki prioritas kedua setelah
penderita dengan arna hijau.
c. Low Priority red/merah
Penderita mengalami kondisi kritis sehingga memerlukan penanganan
yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
usaha penyelamatan.
d. Lowest Priority Black/hitam
Penderita sudah tidak dapat bertahan lagi dengan keadaan yang fatal atau
sudah meninggal.
Tujuan triage adalah untuk memudahkan penolong untuk memberikan
pertolongan dalam kondisi korbal massal atau bencana dan diarapkan banyak
penderita yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Kejadian yang
mengakibatkan korban dua atau lebih harus dilakukan triage. Dalam
melakukan pertolongan dengan melihat kondisi korban dan berdasarkan
prioritas yang disesuaikan dengan jumlah penolong. Untuk kasus yang biasa
tingkat “urgency” harus selalu diperhatikan. Pada kasus bencana dengan
korban yang banyak ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan
prioritas yaitu ungercy dan potensial untuk bertahan. Triage dimulai dengan
mengkaji lingkungan. Satu orang senior atau yang sudah berpengalaman
mengaktifkn sistim dengan menganalisa kebutuhan bantuan medis yang
diperlukan. Pengunakan APD harus dilakukan oleh petugas dan kelengkapan
alat medis. Pastikan orang umum berada diarea lokasi kejadian harus
diamankan untuk keselamatan dan mempermudah penanganan.
B. Prosedur triage dibencana
Terjadinya bencana dapat disebabkan beberapa faktor, diantaranya karena
alam (gempa bumi, banjir, tanah longsor, dll) teknologi (kecelakaan kerja dan alat
transportasi, keracunan, kebakaran) dan komflik (perang, terosisme, tauran).
Dalam keadaan bencana tidak semua orang dapat memasuki area bencana.
Maka dari itu ada pembagian area di lokasi bencana yang alokasikan untuk orang-
orang tertentu. Pemilihan penderita yang dilakukan diluar UGD rumah sakit
ketika mengalami suatu bencana (Bencana alam, kecelakaan bus/mobil, kebakaran
gedung, bom, keracunan, dll) triage dilakukan dengan sistim START (Simple
Triage Rapid Treatment) yaitu memilih korban berdasarkan pengkajian awal
terhadap penderita dengan menilai air way, breating dan circulation.
a. Penolong pertama melakukan penilaian cepat tanpa menggunakan alat atau
melakukan tindakan medis.
b. Panggil penderita yang dapat berjalan dan kumpulkan diarea pengumpulan
atau collecting area.
c. Nilai penderita yang tidak dapat berjalan, mulai dari posisi terdekat dengan
penolong.
Langkah 1: respiration (breathing)
a. Tidak bernapas, buka jalan napas, jika tetaptidak bernapas: hitam
b. Pernapasan > 30 x/m atau < 10 x/m: merah
c. Pernapasan 10-30 x/m: tahap berikut.
Langkah 2: cek perfusi (radial pulse) capiral refill test (kuku/bibir
sianosis)
a. Bila > 2 detik: merah
b. Bila < kurang 2 detik: tahap berikutnya
c. Bila pencahayaan kurang, cek nadi radialis, bila tidak teraba/lemah: merah
d. Bila nadi radialis teraba: tahap berikutnya
Langkah 3: mental status
a. Berikan perintah sederhana kepada penderita, jika dapat mengikuti: kuning
b. Bila tidak dapat mengikuti perintah: merah
Tindakan yang harus cepat dilakukan:
- Buka jalan napas, bebaskan benda asing atau darah (sumbatan jalan napas)
- Berikan napas buatan segera jika korban tidak bernapas
- Balut tekan dan tinggikan jika ada luka terbuka/perdaraha
Setelah melakukan langkah 1 sampai 3 dan memberikan tanda kartu
kepada penderita, lekas untuk menuju kependerita lain yang belum dilakukan
triage. Triage selalu dievaluasi untuk menghindari kemungkinan terjadi kesalahan
pada waktu triage.
Setiap penolong harus mengerti dan memahami konsep triage dengan
menggunakan cara START, karena cara ini sangatlah bagus dan efektif serta
mudah untuk diterapkan. Agar penolong terampil dan cekatan dalam triage harus
sering dilakukan simulasi bencana (disaster drill), sehingga dapat menambah
kemampuuan dan keterampila penonton.
Triage dilakukan dalam kondisi korban lebih dari satu, sedangkan jumlah
petugas terbatas. Hal termudah dalam membantu korban adalah dengan
dilakukannya START, penilaian korban sangat cepat terutama dalam kondisi
bencana.
Sistim penanganan pada saat bencana harus berkoordinasi dan
terkoordinasi dalam suatu sistim yang dapat diterapkan untuk kelancaran
penanganan bencana. Hal ini terutama pemerintah harus memahami konsep
penanganan bencana. Pimpinan atau komando saat bencana adalah pemerintah
setempat atau pihak kepolisian, seperti contoh bencana terjadi dikabupaten, maka
sebagai pimpinan adalah bupati atau terjadi di tingkat propinsi maka gubernur
menjadi pimpinan dan jika terjadi mencapai nasional maka pimpinan adalah
presiden.
Hal yang harus diperhatikan saat penanggulan bencana dan seorang
pimpinan harus peka adalah tentang struktur komando, operasional, logistik,
planning, dan keuangan. Semua struktur tersebut harus memiliki penanggung
jawab dari bagian masing-masing, sehingga ada pembagian tugas yang sesuai
dengan fungsinya.
Untuk tim kesehatan, harus mempunyai pimpinan yang sudah terlatih dan
lihai dalam penaganan bencana, diharapkan hal-hal yang akan menjadi keperluan
dan dukungan terhadap pertolongan kepada korban dapat diterapkan dengan baik.
Hal yang harus dipersiapkan untuk antisipasi dalam kesehatan adalah logistik
medis dan non medis, alat transportasi/ambulans yang dibutuhkan untuk sistim
rujukan korban, terapi/obat-obatan yang diberikan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Bantuan hidup dasar merupakan dasar guna menyelamatkan nyawa ketika
terjadi henti jantung. Aspek dasar dari bantuan hidup dasar adalah mengenali
secara langsungSudden Cardiac Arrest (SCD), kemudian mengaktivasi sistem
tanggap daruratCardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru
(RJP) sedini mungkin, dan defibrilasi cepat menggunakan Automated External
Defibrillator (AED). CPR merupakan tindakan darurat yang berupaya untuk
mengembalikan keadaan henti nafas dan atau henti jantung ke fungsi optimal,
guna mencegah terjadinya kematian biologis.
Sebelum melakukan tindakan CPR penolong haruslah melakukan
pengenalan dini tanda henti jantung mendadak terlebih dahulu dan segera
meminta pertolongan (termasuk melakukan aktivasi sistem penanggulangan gawat
darurat). Dimana tanda-tanda henti jantung yang harus diketahui oleh penolong
adalah hilang kesadaran, tidak ada respon dan tidak bernafas atau adanya nafas
yang tidak normal (gasping).
Berbicara tentang Triage dirumah sakit maupun bencana, triage dilakukan
dengan kondisi ketika penderita melampaui batas jumlah tenaga kesehatan. Triage
dapat dilakukan di UGD RS dan juga dikejadian bencana. Model prioritas
penanganan korban berbeda dalam kondisi tersebut. Merah sebagai prioritas
utama ketika triage di UGD, namun menjadi prioritas ketiga ketika dilingkungan
bencana. Korban dengan warna hijau sebagai prioritas utama.
3.2 Saran
Perawat hendaknya menguasai ilmu gawat darurat tentang bantuan hidup
dasar dan CPR sehingga bisa membantu masyarakat dalam mengatasi masalah
kegawat daruratan. Begitupula dengan managemen triage, perawat perlu
menerapkan teknik triage di RS maupun di lokasi bencana.
DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association (2015). American Heart Association Guidelines 2015
CPR and ECG. Dikutip dari [Link] pada tanggal 10 juni
2016
Hipgabi Sulut 2017. Materi Pelatihan Emergency Nursing Basic Trauma Cardiac
Life Support.
Setyawati, 2016. Training Basic Life Support.
Tim Bantuan Medis Bem IKM FKUI, 2016. Modul bantuan hidup dasar dan
penanganan tersedak.