VALUASI EKONOMI OBJEK WISATA TREKKING MANGROVE,
GRAND MAERAKACA TAMAN MINI JAWA TENGAH DAN POTENSI
PENGEMBANGANNYA
(Review Jurnal Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan)
Oleh
Kelompok 3
M. Naufal Setiawan 2214131062
Kurniyawan 2214131020
Khoirul Hudha 2254131007
JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2024
I. RINGKASAN JURNAL
Penelitian ini bertujuan untuk menilai potensi ekonomi dari Objek Wisata
Trekking Mangrove di Grand Maerakaca, Semarang, dengan menggunakan
Travel Cost Method (TCM) dan Willingness to Pay (WTP). Penelitian ini juga
menganalisis karakteristik pengunjung serta persepsi mereka terhadap potensi
pengembangan wisata. Mayoritas pengunjung adalah pelajar dan karyawan swasta
berusia 15-25 tahun, dengan daya tarik utama adalah trekking mangrove dan
harga tiket yang terjangkau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung tertarik dengan potensi edukasi
penanaman mangrove sebagai pengembangan tambahan yang paling potensial.
Nilai ekonomi objek wisata ini dihitung sebesar Rp [Link] per tahun,
sementara nilai WTP untuk wahana seperti perahu sampan, perahu motor, dan
tiket masuk juga dihitung. Faktor biaya transportasi dan jarak dari tempat tinggal
pengunjung juga mempengaruhi nilai ekonomi wisata ini.
Penelitian ini merekomendasikan pengembangan wisata secara berkelanjutan
untuk meningkatkan daya tarik dan jumlah pengunjung. Dengan memanfaatkan
edukasi lingkungan seperti penanaman mangrove, objek wisata ini dapat
memperkuat nilai tambahnya serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi
lokal di Semarang.
II. PEMBAHASAN
A. Masalah
Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana mengukur nilai ekonomi
dan potensi pengembangan Objek Wisata Trekking Mangrove di Grand
Maerakaca, Semarang. Objek wisata ini memiliki daya tarik yang unik, namun
belum dimaksimalkan sepenuhnya. Terdapat tantangan dalam memahami
karakteristik pengunjung serta faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan,
seperti biaya, aksesibilitas, dan preferensi pengunjung terhadap fasilitas yang ada.
meskipun Grand Maerakaca memiliki potensi besar sebagai objek wisata alam
berbasis ekosistem mangrove, belum ada pengembangan yang signifikan dalam
hal wahana tambahan yang dapat menarik lebih banyak pengunjung. Hal ini
menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana meningkatkan kualitas layanan dan
memperluas pengalaman wisata agar lebih variatif dan menarik bagi pengunjung,
terutama generasi muda yang menjadi mayoritas pengunjung saat ini.
Metode Travel Cost Method (TCM) dan Willingness to Pay (WTP) digunakan
dalam penelitian ini untuk menghitung nilai ekonomi objek wisata dan
mengetahui seberapa besar pengunjung bersedia membayar untuk menikmati
fasilitas tambahan. Namun, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman
mengenai berapa banyak pengunjung yang bersedia mengeluarkan biaya lebih
untuk pengembangan baru, seperti edukasi penanaman mangrove dan wahana-
wahana lainnya.
Masalah ini semakin kompleks ketika mempertimbangkan keberlanjutan
pengelolaan objek wisata tersebut. Pengelola wisata perlu merumuskan strategi
pengembangan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi
juga pada keberlanjutan ekosistem mangrove yang menjadi daya tarik utama.
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang mempertimbangkan keseimbangan antara
pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
B. Variabel Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa variabel penting yang dianalisis untuk
memahami lebih mendalam mengenai Objek Wisata Trekking Mangrove di Grand
Maerakaca. Variabel-variabel ini diidentifikasi berdasarkan tujuan penelitian,
yaitu menilai nilai ekonomi objek wisata, mengukur karakteristik pengunjung, dan
mengeksplorasi potensi pengembangan wisata. Setiap variabel memiliki peran
kunci dalam memberikan data dan informasi yang diperlukan untuk pengambilan
keputusan pengembangan wisata yang efektif.
Variabel pertama adalah karakteristik pengunjung. Ini mencakup demografi
pengunjung seperti usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan alat transportasi yang
digunakan. Informasi ini penting untuk mengetahui siapa saja yang menjadi target
utama dari objek wisata ini. Misalnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa
mayoritas pengunjung adalah pelajar dan karyawan swasta berusia 15-25 tahun
yang menggunakan sepeda motor. Pemahaman tentang karakteristik pengunjung
dapat membantu pengelola dalam merancang strategi pemasaran dan
pengembangan yang tepat.
Variabel kedua adalah biaya perjalanan yang meliputi biaya transportasi,
akomodasi, konsumsi, dan dokumentasi selama kunjungan. Biaya ini dihitung
menggunakan Travel Cost Method (TCM), yang memberikan gambaran tentang
berapa banyak pengunjung mengeluarkan biaya untuk menikmati wisata ini.
Variabel ini penting karena jarak tempat tinggal pengunjung dengan objek wisata
dapat memengaruhi keputusan mereka untuk berkunjung. Semakin jauh jarak,
semakin besar biaya yang harus dikeluarkan, yang dapat memengaruhi frekuensi
kunjungan.
Variabel ketiga adalah kesediaan untuk membayar (Willingness to Pay, WTP),
yang mencerminkan seberapa besar pengunjung bersedia mengeluarkan uang
untuk menikmati fasilitas tambahan di objek wisata. Misalnya, penelitian ini
menemukan bahwa pengunjung bersedia membayar Rp 5.000 untuk edukasi
penanaman mangrove. WTP ini menjadi indikator penting untuk mengetahui
potensi pengembangan layanan baru, seperti wahana edukasi atau tambahan
fasilitas yang dapat menarik lebih banyak pengunjung.
Variabel keempat adalah persepsi pengunjung terhadap potensi pengembangan
wisata. Variabel ini mengukur bagaimana pengunjung menilai daya tarik wisata
dan apa yang mereka harapkan dari pengembangan di masa depan. Persepsi ini
mencakup faktor-faktor seperti harga yang terjangkau, kualitas pengalaman
wisata, serta kebutuhan akan wahana atau fasilitas tambahan. Persepsi positif dari
pengunjung dapat menjadi modal kuat untuk mendorong pengembangan objek
wisata ini menjadi lebih berkelanjutan dan menarik bagi berbagai segmen
pengunjung.
Dengan menganalisis variabel-variabel tersebut, penelitian ini memberikan
landasan yang kuat untuk pengelola Grand Maerakaca dalam merencanakan
strategi pengembangan yang sesuai. Setiap variabel memberikan wawasan penting
yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya tarik wisata, memperkuat aspek
ekonomi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan mangrove sebagai nilai tambah
utama dari objek wisata ini.
C. Kerangka Pemecahan Masalah
Kerangka pemecahan masalah dalam penelitian ini dimulai dengan identifikasi
permasalahan utama terkait pengembangan Objek Wisata Trekking Mangrove di
Grand Maerakaca. Langkah pertama adalah menganalisis karakteristik
pengunjung, biaya perjalanan, serta persepsi mereka terhadap potensi
pengembangan wisata. Data ini akan memberikan gambaran tentang profil
pengunjung dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan mereka untuk
berkunjung. Dengan memahami siapa pengunjung utama, pengelola dapat
merancang strategi pemasaran yang lebih efektif dan fokus pada segmen pasar
yang relevan.
Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai ekonomi objek wisata
menggunakan Travel Cost Method (TCM) dan Willingness to Pay (WTP). TCM
akan digunakan untuk menghitung total biaya yang dikeluarkan pengunjung,
sementara WTP akan mengukur sejauh mana pengunjung bersedia membayar
untuk layanan tambahan seperti edukasi penanaman mangrove. Perhitungan ini
penting untuk mengetahui potensi pendapatan dan memahami apakah
pengembangan wahana tambahan dapat meningkatkan keuntungan serta daya
tarik objek wisata.
Tahap terakhir adalah merumuskan strategi pengembangan yang berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisis TCM dan WTP, pengelola dapat merencanakan
pengembangan fasilitas baru yang sesuai dengan preferensi pengunjung, seperti
penambahan wahana edukasi atau fasilitas wisata lainnya. Selain itu, strategi
pengembangan harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, khususnya
pelestarian mangrove sebagai daya tarik utama. Dengan pendekatan ini, objek
wisata dapat terus berkembang secara ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan
ekosistem.
D. Hasil Analisis
Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung Objek
Wisata Trekking Mangrove di Grand Maerakaca mayoritas berasal dari kalangan
pelajar, mahasiswa, dan karyawan swasta yang berusia antara 15 hingga 25 tahun.
Sebagian besar pengunjung menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi
utama. Temuan ini mengindikasikan bahwa wisata ini menarik bagi segmen usia
muda yang dinamis, serta menunjuk pada kebutuhan pengelola untuk
mempertahankan atau meningkatkan daya tarik bagi segmen ini. Hal ini juga
membuka peluang bagi peningkatan pemasaran melalui platform yang digemari
anak muda seperti media sosial.
Dalam perhitungan biaya perjalanan menggunakan Travel Cost Method (TCM),
ditemukan bahwa biaya transportasi dan konsumsi menjadi komponen terbesar
dari pengeluaran pengunjung selama berwisata. Pengeluaran ini sangat
dipengaruhi oleh jarak antara tempat tinggal pengunjung dan lokasi wisata. Oleh
karena itu, semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin tinggi pula biaya yang
dikeluarkan. Ini menunjukkan pentingnya mempertahankan harga tiket masuk
yang terjangkau untuk menarik pengunjung, terutama dari luar kota, yang
mungkin memiliki beban biaya perjalanan yang lebih besar.
Analisis Willingness to Pay (WTP) mengungkapkan bahwa pengunjung bersedia
membayar sekitar Rp 5.000 untuk wahana edukasi penanaman mangrove, yang
merupakan salah satu potensi pengembangan yang memiliki daya tarik tinggi.
Selain itu, beberapa pengunjung juga menunjukkan ketertarikan untuk mencoba
wahana lain seperti perahu motor atau sampan. Kesediaan pengunjung untuk
membayar biaya tambahan ini menunjukkan bahwa ada peluang untuk menambah
pendapatan dari fasilitas dan layanan tambahan, tanpa mengurangi minat
kunjungan.
Persepsi pengunjung terhadap potensi pengembangan wisata menunjukkan bahwa
daya tarik utama dari objek wisata ini adalah pengalaman trekking mangrove itu
sendiri. Harga yang terjangkau menjadi faktor penentu utama kunjungan, namun
pengunjung juga menilai pentingnya penambahan wahana edukasi dan hiburan
yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pengalaman. Pengunjung
berharap adanya peningkatan fasilitas umum seperti area parkir yang lebih luas
serta wahana yang ramah lingkungan, seperti edukasi penanaman mangrove yang
memberikan manfaat ganda, yaitu edukasi dan konservasi.
Secara keseluruhan, hasil analisis ini memberikan rekomendasi bahwa
pengembangan objek wisata harus berfokus pada peningkatan fasilitas yang
selaras dengan preferensi pengunjung, sambil tetap mempertahankan harga yang
terjangkau. Pengelola dapat memanfaatkan potensi pengembangan wahana
edukasi dan perbaikan fasilitas pendukung untuk meningkatkan daya tarik wisata,
sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. Dengan demikian, Objek
Wisata Trekking Mangrove Grand Maerakaca dapat berkembang menjadi
destinasi yang menarik dan berkelanjutan dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
E. Ide Untuk Penelitian Mendatang
Berikut adalah beberapa ide untuk penelitian mendatang terkait pengembangan
Objek Wisata Trekking Mangrove di Grand Maerakaca:
1. Studitentang Efektivitas Program Edukasi Mangrove: Penelitian ini bisa fokus pada
seberapa efektif program edukasi penanaman mangrove dalam meningkatkan
kesadaran lingkungan pengunjung serta dampak langsungnya terhadap pelestarian
mangrove.
2. Analisis
Dampak Ekonomi Pengembangan Wahana Baru: Mengkaji potensi
peningkatan pendapatan wisata melalui pengembangan wahana baru seperti
perahu motor, sampan, dan area edukasi, serta dampaknya terhadap sektor
ekonomi lokal.
3. Evaluasi Kepuasan Pengunjung Terhadap Fasilitas Wisata: Penelitian yang
berfokus pada kepuasan pengunjung mengenai fasilitas umum seperti parkir,
kebersihan, dan ketersediaan fasilitas edukasi di objek wisata, untuk
mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan.
4. Studi Kelayakan Wisata Ramah Lingkungan: Mengembangkan strategi
pengelolaan wisata berkelanjutan dengan fokus pada penerapan konsep eco-
tourism dan konservasi ekosistem mangrove di Grand Maerakaca.
5. Pengaruh Media Sosial dalam Mempromosikan Wisata Mangrove: Penelitian
mengenai bagaimana platform media sosial dapat dimanfaatkan lebih optimal
untuk mempromosikan wisata mangrove kepada segmen pasar yang lebih luas,
terutama generasi muda.
III. KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Objek Wisata Trekking
Mangrove Grand Maerakaca memiliki potensi signifikan untuk dikembangkan
sebagai destinasi wisata yang menarik dan berkelanjutan. Penilaian menggunakan
metode Travel Cost Method (TCM) dan Willingness to Pay (WTP) menunjukkan
bahwa pengunjung, terutama kalangan muda, memiliki minat yang tinggi terhadap
edukasi dan pelestarian mangrove. Dengan mempertahankan harga yang
terjangkau dan meningkatkan fasilitas serta layanan, objek wisata ini dapat
menarik lebih banyak pengunjung dan memberikan dampak ekonomi positif.
Penambahan wahana baru dan program edukasi yang relevan dapat meningkatkan
daya tarik dan kontribusi terhadap kesadaran lingkungan. Upaya pengelolaan
yang berfokus pada keberlanjutan ekosistem mangrove akan memperkuat peran
objek wisata ini dalam konservasi alam. Oleh karena itu, strategi pengembangan
yang terencana dan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan pertumbuhan
jangka panjang yang seimbang antara aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan.