0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
290 tayangan52 halaman

Konflik Keluarga dan Cinta Terlarang

Dokumen ini menggambarkan konflik emosional antara Kiara dan suaminya, Bram, yang mengkhianatinya dan menganggapnya sebagai kesalahan. Kiara bertekad untuk membesarkan putrinya, Kiara, dengan penuh cinta meskipun harus menghadapi masa lalu yang menyakitkan. Setelah 23 tahun, Kiara masih teringat akan luka tersebut dan berjuang untuk melindungi putrinya dari bahaya yang mengancam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
290 tayangan52 halaman

Konflik Keluarga dan Cinta Terlarang

Dokumen ini menggambarkan konflik emosional antara Kiara dan suaminya, Bram, yang mengkhianatinya dan menganggapnya sebagai kesalahan. Kiara bertekad untuk membesarkan putrinya, Kiara, dengan penuh cinta meskipun harus menghadapi masa lalu yang menyakitkan. Setelah 23 tahun, Kiara masih teringat akan luka tersebut dan berjuang untuk melindungi putrinya dari bahaya yang mengancam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Aland bard wilson

Jeslyn maisha brown


Kiara Brown (bunda)
Bram salim (ayah)
Putri tiara (ibu, istri pertama bram)
Azka aldric salim
Denaya earth salim
Stevani bard wilson

“aku mohon pergi dari kehidupan ku dan bawa anak itu, kiara” wanita yang menggenggam erat
tangan seorang gadis kecil berusia 6 tahun itu terisak pilu. Tidak menyangka mendapatkan
perlakuan sehina itu dari pria yang merupakan suaminya.

Kiara tahu ini kebodohannya yang muda percaya pada pria itu saat pria itu mengajaknya menikah
secara agama namun tidak dengan negara. Kiara mengatas namakan cinta untuk hubungan mereka
namun pria itu hanya menggunakannya sebagai alatnya.

“aku tau aku bersalah tapi aku tidak bisa meninggalkan istri dan kedua anak ku”

“tapi aku juga istri mu dan maisha jugak anak mu. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini pada
kami”

“kau dan dia adalah kesalahan terbesarku” kiara menutup erat telinga putrinya dan merasa hancur
saat itu juga. Dia tidak menyangka dirinya dan putrinya sebuah kesalahan untuk pria yang dia cintai
sepenuh hatinya. “aku akan membayar mu berapapun asal kau pergi dari kehidupan ku selamanya.
Ku mohon”

Kiara tertegun di tempatnya menatap pria itu tidak percaya. Pria yang ia cintai menebarkan uang
kewajahnya dengan sangat menghina. Kiara menggertakan giginya menahan setiap emosi yang ada
di dadanya dan dengan sisa harga diri yang ia miliki. Kiara menatap hina pria yang menatapnya
tajam.

“aku tidak membutuhkan uang mu. Satu hal yang perlu kau tau mas. Tuhan tidak pernah tidur dan
akan ada saat dimana Tuhan membalas semua perbuatan mu” kiara mengusap kasar air matanya.
“aku akan hidup dengan putri ku. Tapi sebelum itu aku ingin kau menceraikan ku dan ku rasa itu
tid....”

“kau aku ceraikan. Di mulai hari ini kau bukanlah istri ku dan satu hal yang harus kau ingat. Ini
semua kesalahan.. KESALAHAN”

Kiara menarik lembut putrinya yang berusia 6 tahun melangkah keluar dari rumah mewah dimana ia
di hina dan di permalukan. Maisah berbalik menatap lekat wajah pria yang merupakan ayahnya
yang tak pernah menatapnya. Satu hal yang ia sadari alasan ayahnya tidak pernah menatapnya
dengan cinta adalah hal ini. Dia sebuah kesalahan untuk pria itu. Dan maisah menoleh pada dua
anak lainnya satu seorang pria yang berusia sekitar 10 tahun dan satunya lagi seorang gadis yang
tampak seusia 8 tahun menatapnya dengan hina.

Maisah kembali menatap ibunya dan mengeratkan genggamannya membuat wanita cantik itu
menoleh padanya lalu sebuah pelukan erat ia rasakan bersama derasnya air mata dan hujan malam
itu.
“je tidak membutuhkan seorang ayah selama bunda anda bersama je” kiara semakin mengeratkan
pelukannya dan rasa sakit itu semakin dalam mendapati wajah anaknya yang tampak menyedihkan
di matanya.

“bunda janji je tidak akan pernah merasakan kekurangan apapun” ucap kiara. Ia bersumpah peri
hidupnya akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia akan menciptakan cinta yang luar biasa
besar untuk anaknya. Ia akan menjadi seorang ibu dan ayah sekaligus untuk anaknya.

Aku tersentak bangun saat mimpi itu kembali lagi 23 tahun berlalu dan kejadian itu masih menjadi
mimpi buruk untuk ku. Sama seperti mimpi itu goresan luka itu juga masih terbuka lebar seakan
enggan untuk di sembuhkan.

SREKK
Suara tirai di geser dan membuat cahaya terang menusuk mata ku dengan berlahan aku mulai
membuka mata dan menyipit kembali untuk mencoba melihat siapa orang yang membuka tirai
dengan asal. Di sana satu-satunya alasan untuk aku bertahan sejauh ini menatap ku dengan garang.
Dan sebuah ingatan melintas membuat ku meringis pelan karena melupakan hal itu dan memilih
menghabiskan malam bersama beberapa sahabat ku.

“what time did you go home last night?” sekali lagi aku meringis merasa bersalah. “answer it”.

Aku mendesah lalu membenarkan letak posisi ku sendiri dengan bersandar pada kepala ranjang ku.
Kemudian sedikit memijat lembut keningku yang terasa sangat menyakitkan dan ku yakin ini lah
dampak dari malam itu. Malam itu aku seakan lepas kendali sampai melupakan seberapa buruk aku
jika berhubungan dengan alkohol. “ sorry bun” ucapku akhirnya.

Yah dia bunda ku satu-satunya orang yang menjadi alasan ku selama ini untuk bertahan. Dan satu-
satunya orang yang akan selalu aku percaya seumur hidup ku. “kau taukan hari ini kau akan pergi”
Aku melirik sinis pada bunda merasa jengah dengan pembahasan yang paling ku hindari. “je juga
sudah bilang jika je tidak ingin kesana.” Ujar ku kesal. “je tidak pernah ingin kembali kesana dan tidak
ada alasan untuk je kesana.”

Bunda memijat keningnya dan rautnya tampak gusar. Aku tau kami akan memulai pertengkaran
hebat lagi dengan masalah yang masih sama mengenai keputusan bunda yang ingin kembali ke
Indonesia. Dan aku yang bersih keras tidak berniat untuk kembali kesana dan memang tidak ada
yang harus membuat aku harus kesana. Aku dan bunda telah menata hidup di sini dan entah alasan
apa bunda ingin kesana.

“aku juga sudah bilang jika bunda ingin kesana silahkan tapi tidak dengan ku.” Ujar ku lagi. “shit”
bisik ku memaki pada diri ku sendiri saat menemukan raut kesedihan di wajah bunda dan sekali lagi
perdebatan ini akan berakhir dengan aku yang mengalah. “baiklah tapi aku mengajukan syarat”

Bunda mengangkat wajahnya dan menatap ku lekat membuat ku membalas tatapan bunda namun
dengan sorot mata yang tidak ingin di bantah. “aku bisa kapan saja kembali kesini dan tidak ada kata
untuk merubah warganegara ku. Aku akan tetap menjadi warganegara LA” sekilas bunda termangu
dengan sorot mata kecewa tapi kali ini aku akan bertahan dengan keputusan ku.

“bunda setuju dengan kewarganegaraan tapi bunda menolak dengan kau bebas kembali kesini” aku
akan membantah namun tertahan saat bunda melanjutkan ucapannya. “kau hanya bisa kembali saat
bunda menyetujuinya”
“ta..”

“atau bunda akan memasang 15 bodyguard untuk mu” aku terperangah tak percaya hal gila yang
paling aku hindari adalah di kelilingi pria-pria kaku itu. 1 orang saja sudah membuat ku jengah apa
lagi harus 15 orang, sebaiknya bunuh saja aku.

Aku akhirnya mengalah dan setuju dengan keputusan bunda, setidaknya aku tidak perlu dikelilingi
oleh orang-orang yang selalu mengawasi ku. “tapi aku tidak ingin ada satu orang pun yang me...”

“tidak, kau akan tetap memiliki satu orang untuk menjaga mu”

Aku melongoh tak percaya. “tapi bunda”

“aku tidak ingin kejadian 13 tahun lalu kembali terjadi atau jika kau ingin bunda mati saat itu juga”

“itu sudah lama bunda dan sekarang aku sudah dewasa”

Bunda menggeleng tegas yang membuat ku mengatupkan bibirku menahan amarah yang siap kapan
saja membludak. “Leo akan mengawasi mu dalam tahap aman.”

“lalu bunda?” tanya ku. Leo adalah asisten kepercayaan bunda yang merangkap sebagai bodyguard
bunda. “aku akan terima seorang wanita saja. Sebaiknya suruh leo mencarinya dan biarkan leo tetap
bersama bunda” saran ku akhirnya. Bunda menatap ku sejenak hingga akhirnya ia mengangguk
setuju.

“kau akan berangkat sore ini” aku melotot sempurna mendengar ucapan bunda yang sangat luar
biasa mengejutkan. Dan sebuah ide melintas di benak ku lalu saat itu pula menatap awas pada ku.

“seperti biasa aku akan mengajukan dua syarat” bunda tampak memberikan tatapan antisipasi untuk
ku yang ku balas dengan senyum lebar tanda jika kali ini aku akan memenangkan perdebatan kami.

“yang pertama aku akan bekerja dan bunda tidak bisa mendebatnya” ucap ku cepat sebelum bunda
mengeluarkan argumennya.

“yang kedua?”

Aku tersenyum licik. “aku akan tinggal sendiri di apartemen”

“WHAT” aku mengangguk yakin menjelaskan dari anggukan ku jika yang ku ucapkan itu adalah
sebuah kebenaran. “tidak, bunda tidak mengizinkannya” aku melotot gerah.

“Bunda tidak bisa menolaknya”

Bunda menggeleng tegas. “tidak, kau akan tetap tinggal bersama bunda. Dan bunda akan
memberikan penawaran lain”

“apa?”

“kau bunda izinkan menyetir sendiri. Bunda akan memberi mu izin mutlak untuk menyetir tanpa
supir dan pengawal mu hanya akan mengintaimu dalam jarak aman saja”
Aku mengangguk antusias dan melupakan ide lain untuk tinggal sendiri. Hal yang selama ini ku
inginkan adalah menyetir sendiri tanpa perlu di antar jemput seperti boca berusia 5 tahun. “tapi
kenapa aku harus tetap menggunakan bodiguard di saat aku berada jauh dari negara ini?” tanya ku
penasaran.

“hanya untuk berjaga-jaga” jawab bunda yang setelah itu pergi meninggalkan ku begitu saja.

Bunda adalah pemilik hotel brown. Salah satu hotel terbesar yang mungkin kini menjadi salah satu
hotel ternama di dunia, sejak kejadian itu bunda kembali pada keluarganya yang menetap di LA.
Yang aku sadari adalah ternyata bunda bukanlah gadis sembarangan dia memutuskan hijrah ke
indonesia saat itu karena dia mengikuti ibu kandungnya yang berkebangsaan indonesia. Kami di
terima dengan hangat dan aku ingat kakek ku sangat menerima ku dengan tangan terbuka. Dan
kakek ku adalah pendiri hotel ternama yang membuat banyak pesaing mencari informasi
keluarganya. Usiaku saat itu baru 8 tahun gadis kecil yang tidak memiliki seorangpun teman dan
menjadi target buly.

Aku ingat saat itu aku meninggalkan sekolah dengan keadaan sangat marah dan berantakan.
Beberapa pria berjas mengajakku dengan alasan mereka orang suruhan kakek yang sebenarnya
adalah orang suruhan pesaing kakek. Di mulai saat itu bunda tidak pernah membiarkan ku
berkeliaran tanpa pengawal. Dan penjagaan ku mulai berkurang saat aku masuk sekolah menengah
dengan berdebat panjang yang berakhir dengan aku mengunci diri di kamar selama seminggu
menolak siapa pun masuk ke kamar ku dan menolak untuk makan. Hingga akhirnya aku masuk
rumah sakit yang membuat bunda mengalah untuk mengurangi penjagaan.

Dan mulai saat itu aku di sembunyikan. Tak ada yang tau pertumbuhan ku, bunda juga membayar
mahal untuk semua berita kelam agar di hapus hingga tak ada satu orang pun bisa menemukannya.
Aku hanya menyaksikan kepergian bunda dari kamar dan tepat setelah pintu kamar tertutup aku
kembali membaringkan tubuh ku dan mulai menelisik jauh apa yang akan terjadi saat aku kembali
kenegara dimana hal terburuk pernah terjadi padaku.

Seminggu berlalu dari perdebatan ku dengan bunda kini hari keberangkatanku pun tiba. Hingga
semalam aku masih berusaha membujuk bunda agar membatal kan kepergian ku dan bunda masih
dengan keteguhannya yang membuatku menyetujuinya
“bunda akan menyusulmu saat pekerjaan bunda selesai dan kau tenang saja bik sumi sudah
menunggu mu di bandara” aku mengangguk malas merasa enggan untuk meninggalkan negara
dimana aku tumbuh dewasa. “Bunda juga sudah memasuki obat mu dan jangan terlambat untuk
meminumnya ka...”

“karena bunda tidak ingin saat menemui mu yang bunda dapatkan adalah mayat” ujar ku cepat
memotong ucapan bunda. “aku sudah tau bun. Aku tidak akan telat minum obat dan vitamin. Aku
juga akan mengirimi kabar ku setiap harinya pada bunda dan dokter anna.” Jelas ku kembali.
“seharusnya jangan biarkan aku pergi jika bunda sekhawatir ini” aku memeluk tubuh ibu ku erat
menyalurkan perasaan ku padanya. Ia mengelus lembut bahu ku sentuhan yang selalu mampu
menenangkan ku.

Aku kembali menoleh pada bunda sebelum benar-benar meninggalkan bunda dan memasuki
boeding pas. Aku membiarkan carla menyerahkan tiket ku membiarkannya mengambil alih
semuanya. Carla adalah penjaga baru ku ia benar-benar sama seperti leo sangat kaku dan
menyebalkan.
Carla menunggu ku tepat di ambang pintu pesawat sebelah aku masuk dengan sempurna ia pun
kembali sibuk mencari lokasi duduk kami. Ia bahkan mulai memeriksa setiap sudut tempat ku yang
membuat ku memutar bola mata ku dengan jengah. Tepat saat carl meyakini tempat ku aman aku
pun mencoba melirik kesetiap sudut untuk memastikan tidak seorangpun menyaksikan itu. Dan
disana seorang pria duduk dengan pandangan anehnya menatap ku membuat ku mengernyit.
“permisi” ucap ku saat melewati dirinya untuk mendekati kursi ku yang memang berada di
sampingnya tepat bersebelahan dengan jendela. Aku selalu menyukai posisi kursi yang berdekatan
dengan jendela membuat ku dapat melihat dunia luar.

Kiara menatap lirih bandara tempat saat dia melepas kepergian putri nya. Ini pertama kalinya ia
melepaskan gadis itu sendiri namun ia memiliki alasan kuat untuk semua itu. Alasan itu yang
membuatnya berani mengambil keputusan ini meski ia tau ia akan berada dalam keterpurukan saat
gadis itu pergi seperti saat ini. Ia hanya menatap senduh dan sesekali menghapus sudut matanya
yang berair.

Setelah kejadian kelam itu ia hanya bertahan hidup untuk putrinya. Ia melakukan semuanya meski ia
harus merangkak kembali pada keluarganya yang berada di LA. Ia mengabaikan harga dirinya dan
menjilat kembali ludahnya sendiri saat memutuskan tidak akan kembali pada ayahnya dulu. Ia ingat
ayahnya menatapnya senduh saat ia kembali membawa jeslyn saat itu yang membuat ayahnya
meluluh saat melihat putri kecilnya.

“kau sudah mengatur pertemuan kami kan, leo?” tanya kiara setelah ia merasa cukup baik.

“pertemuannya tepat saat kita tiba disana 20 menit lagi. Dan saya juga sudah menghubungi lauren
untuk menyiapkan semua berkas yang sudah saya cek untuk di letakkan di meja anda”

Kiara mengangguk paham. “bagus. Kalau begitu untuk 2 jam kedepan kosongkan semua jadwal saya
dan jangan ada yang mengganggu kami. Lalu kabari saya dimanapun pesawat je berhenti dan
usahakan untuk mencari kabarnya melalui bandara”

“baik nyonya”

Kiara memejamkan matanya menenangkan debaran jantungnya yang tak beraturan. Pertemuan saat
ini teramat penting untuk kelanjutan hidup putrinya. Sebuah perubahan yang tidak akan bisa ia buat
nanti.

Entah berapa lama ia terlelap yang pasti saat ia terbangun ia telah berada di parkiran khusus
miliknya dan ia berada sendiri di sana sedangkan leo berada di luar mobilnya tampak berjaga. Ia
membenahi rambutnya yang sedikit berantakan setelah merasa cukup ia keluar dan memberikan
senyum kecil untuk leo yang di tanggapi anggukan leo.

“dia sudah tiba?” tanya kiara sambil berjalan menuju lift khusus yang akan langsung mengantarnya
tepat di depan ruangannya.

Leo melihat ponselnya lalu menoleh pada kiara yang berada di belakangnya. “dia baru saja tiba”.

“antar makan siang dan teh untuk kami. Lalu seperti ucapan ku tadi jangan ganggu aku hingga dua
jam kedepan” leo mengangguk tepat suara dentingan lift yang menunjuk kan jika mereka telah
sampai di lantai 18 dimana ruangan kiara berada. “bawa dia masuk” ujar kiara kembali sebelum
memasuki ruangannya dan leo tampak berjalan menuju arah yang berbeda.
Lantai 18 memang di buat khusus untuk ruangan para pemimpin. Dulu lokasi ini di isi dengan
ruangan kiara dan ayahnya namun sejak ayahnya meninggal ia menempati ruangan itu sendiri. Saat
ini ia menggunakan ruangan ayahnya lalu ruangan lamanya ia gunakan untuk ruang istirahat berjaga-
jaga jika putrinya datang.
Kiara mengangkat kepalanya saat pintu ruangannya terbuka di sana seorang anak muda bersama leo
berada. Kiara beranjak dari duduknya melangkah untuk mendekati pria yang kini telah berada di
dekat sofa yang sengaja di buat di ruangan nya.

Pria itu membulatkan matanya saat mengenali siapa kiara dan sedetik kemudian matanya tampak
menyenduh kilatan masalalunya kembali bermain. “duduklah” ujar kiara lembut namun tegas. Pria
itu menurut dan memilih duduk di sofa panjang itu sedangkan kiara memilih sofa bedone yang
berada di sebelah sofa pria itu.

“bagaimana kabar mu?” tanya pria itu bergetar. Kiara hanya memberikan senyuman khas miliknya,
sebuah senyuman kaku yang selalu ia tunjukkan didepan karyawannya. Ia berhenti tersenyum untuk
orang lain sejak insiden itu dan ia hanya akan menjadi dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan
jeslyn
Kiara meletakkan sebuah berkas yang sejak tadi ia pegang keatas meja. “lihat dan baca” ujar kiara
mengabaikan pertanyaan pria itu. Pria itu meraihnya dan mulai mengamati isi berkas itu sesekali ia
mengernyit dengan raut wajah bingung.

“aku tahu kondisi hotel mu dan aku sudah membaca berkas pengajuan mu” kiara memberikan jedah
untuk mihat raut pria itu. “dan aku setuju jika kalian menyetujui syarat ku juga. Semua persyaratan
ku ada di dalam berkas itu dan ku rasa itu cukup menguntungkan untuk kita berdua. Kalian bisa
tetap memegang hotel itu dan aku juga bisa merasa aman. Bagaimana azka aldrik salim?”

Azka mengangkat wajahnya untuk melihat raut datar kiara dengan tatapan sedih. Kiara dapat
melihat itu dan dia harus menekan perasaan manusiawinya untuk keamanan putrinya kelak. Ia rela
mesti harus menjadi orang yang sangat kejam dengan memanfaatkan kelemahan orang lain.

“dan kalian juga bisa berhenti mencari keberadaan ku dan putri ku” azka menegang di tempatnya
dan itupun tak lepas dari pengamatan kiara. “aku tau kau mencari kami dan aku telah
menyembunyikan semuanya dengan rapi. Dan maaf aku juga sudah lama memantau kalian bahkan
aku juga yang mengklaim kalian agar mendapatkan pinjaman maupun penyandang dana untuk hotel
kalian” jelas kiara yang semakin membuat azka membeku di tempatnya.

“apa semua ini karena per...”

“bukan” kiara mengerti apa yang akan di katakan oleh azka hingga ia memotong perkataan azka.
“pria itu hanya masalalu kelam yang telah ku hapus meski luka itu tidak akan pernah bisa di
sembuhkan. Aku memang sengaja melakukan hal ini agar kalian tidak memiliki pilihan lain selain
mengirim proposal pada ku”

Azka tak mampu melontarkan perasaannya saat mengingat seberapa hancur kehidupan wanita di
hadapannya bersama putrinya dulu karena perbuatan ayahnya dan bisa dibilang perbuatannya juga.
Ia masih ingat bagaimana tatapan kebencian dirinya dan adik nya dulu yang langsung menuduh jika
wanita itu adalah perusak keharmonisan keluarganya. Namun kebenaran yang ia dapatkan sehari
sebelum ibunya meninggal membuatnya menjadi orang paling kejam. Wanita di hadapannya dan
putrinya adalah korban ayahnya yang kejam.
“kau tak perlu melakukan hal ini jika untuk menjaga putri mu. Karena kau tau jika dia juga adik ku,
aku akan menjaganya sama seperti denaya”

Kiara menggeleng dengan senyuman kecil. “dia akan menolak hal ini. Kalian tidak permah ada
[Link] hidupnya sejak kejadian itu. Bahkan ia telah menghapus rupa ayahnya sendiri, sejak
saat itu semua mati untuk nya”. Kiara tersenyum getir setiap mengingat je yang selalu mengatakan
jika ayahnya telah mati setiap kali orang bertanya padanya.

“aku melakukan ini karena aku sangat mengenal putri ku dari siapapun. Dia lebih memilih mati
daripada harus mengakuin kalian sebagai keluarganya” jelas kiara kembali. Namun setelah itu kiara
tersenyum hangat membuat azka mengerut bingung. “tapi dia adalah gadis yang sangat baik di balik
kekerasan hati dan kepalanya” ujar kiara tampak berpikir jauh mengingat semua kelakuan putrinya.

“aku akan menjelaskan semuanya kembali jika kau sudah menyetujui...”

“aku setuju, Nyonya” ucap azka yakin yang membuat kiara menyelediki wajahnya “aku memang
membutuhkan menyandang dana hotel. Tapi di balik semua ini aku jauh lebih ingin dekat dengan je,
mencoba memperbaiki semuanya dengan kesempatan yang kau berikan. Aku tidak akan biisa
menolaknya”

“lalu bagaimana dengan adik dan ayahmu”

“aku mencari kalian selain untuk diriku sendiri ini juga pesan mama sebelum dia meninggal. Denaya
juga ikut dalam pencarian ini” jelas azka. “dan papa, aku rasa ini adalah hukuman untuk
perbuatannya dan ku rasa anda juga tahu kondisi papa yang sakit. Dia melakukan perawatan intems
yang membuatnya tidak bisa bekerja lagi da...”

“cukup” sela kiara merasa tak kuat untuk mendengarkan semua kisah pria yang telah
menghancurkan kehidupannya. “Aku tidak tertarik dengan keadaannya. Jika kau sudah menanda
tangani berkas itu kita akan lanjutkan setelah makan siang”

Kiara mendekati meja kerjanya lalu memencet tombil 1 pada telpon di ruangan itu. “leo bawa masuk
makan siang kami dan kau bisa pergi untuk makan siang. Aku akan menghubungimu jika
memerlukan bantuan” kiara menutup kembali panggilannya lalu melangkah mendekati azka yang
berada di sofa.
Leo masuk dengan dua bungkus makanan pesanan kiara setelah meletakkan kedua bungkus
makanan itu pria kaku itu kembali meninggalkan kiara dan azka. Kiara tau ada begitu banyak
pertanyan di benak azka dan anak muda itu merasa sangat sungkan untuk bertanya dengannya.

“izinkan aku menanyakan sesuatu” kiara mengangguk sambil menyiapkan makan siang mereka.
“kenapa kau ingin aku dan denaya menjaga jeslyn sedangkan kau ada?” kiara tersenyum dia sudah
menebak pertanyaan ini.

Kiara kembali meraih map lain yang sejak tadi ada di depnnya. Leo maraihnya wajahnya berubah
pias saat membaca isi map itu. “leokimia yang menggrogoti tubuh ku membuat aku harus melakukan
hal ini. Aku ingin dia tidak sendirian saat aku pergi. Aku tau ini sangat egois tapi untuk seorang ibu ini
adalah tindakan keharusan. Menjamin putrinya dalam pengawasan orang yang tepat adalah hal yang
harus di lakukan seorang ibu” Kiara menarik kuat nafas nya lalu mengeluarkannya kembali dengan
kasar. “aku harus memastikan putri ku aman. Itu sebabnya aku sudah memantau mu sejak lama
karena aku tau hanya kalian saudaranya nanti. Dan sepertinya aku tidak salah memilih mu”
“apa maksud mu dengan dia aman?”

“je pernah di culik saat usianya 10 tahun. Dia hampir mati saat itu andai polisi terlambat untuk
datang. Setelah kejadian itu dia melakukan perawatan panjang untuk kejiawaannya dan
kesehatannya” kiara memberi jedah dallam ucapannya untuk melihat reaksi azka yang bergetar.
“anak berusia 10 tahun harus melihat pembunuhan selama dia di culik oleh orang suruhan saingan
hotel kami. Kau tau sendiri bagaimana mentalnya, kami tiba di sana yang hanya menyisahkan je
sendiri dengan mayat anak seusiany bergeletakan. Sejak saat itu aku menyembunyikan semua
identitas je meski harus membayar mahal. Satu hal yang hingga saat ini tidak kami ketahui adalah hal
apa yang terjadi di dalam ruangan itu selama mereka di sekap”

“apa maksudmu?” tanya azka bingung.

“je depresi berat saat itu dan selalu memberikan tatapan kebencian. Hingga suatu malam dia
mendekati ku berbisik. “bunda aku tidak pernah ingin di lahirkan jika saja aku memiliki ayah seperti
pria yang telah membuang kita. Aku sangat membencinya”. Saat itu aku sadar ada yang mencari
masalalu ku dan mencoba mempengaruhi je. Aku dan ayah ku akhirnya memilih membuat je
melupakan semua kejadian itu. Mengubur semua ingatan milik je mengenai kejadian itu, hingga
akhirnya kasus selesai tanpa bisa memenjarakan dalang kejadian itu. Untuk ku selama je hidup aku
tidak mengharapkan apapun”

“kalau begitu kau harus sembuh”

Sekali lagi kiara tersenyum hangat. “aku sudah berusaha bahkan aku melakukan perawatan di
belanda dan hasilnya sangat kecil kemungkinan. Itu lah aku sadar jika je harus mengenal kalian”

Azka menunduk dengan pilu dan kiara tau apa yang di pikirkan azka. “dekati dia secara berlahan. Dia
memang keras kepala tapi dia bukan gadis yang menolak kasih sayang. Aku tau putri ku dengan baik
dan di balik rasa kebenciannya dia merindukan ayah dan saudaranya”.

“bagaimana caranya aku bisa dekat dengannya?”

“dia akan bekerja di hotel kalian buat dia dekat dengan mu dan denaya. Mulai dengan menjadi
temannya, dan jangan pernah beritahu dia mengenai ini termasuk penyakitku”

“kenapa. Bukankah dia harus tau?”

“aku yang akan memberitahukannya sendiri” jelas kiara tegas. “saat ini kau hanya harus fokus untuk
mendekatinya”

Azka mengangguk setuju namun matanya menunjukkan perasaan penyesalaan dan kemarahan
mendengar semua cerita kiara mengenai masalalu mereka. Apa yang terjadi oleh je adalah sebuah
kejadian yang membuatnya ingin membunuh para otak-otak dalam kejadian itu.

Ruangan itu tampak tenang selama mereka melangsungkan makan siang. Tidak kiara maupun azka
yang berniat membuka suara. Azka yang terlalu larut dalam pikirannya mengenai masa lalu kiara dan
kiara yang terlalu memikirkan je kedepannya tanpa dirinya.

Kiara meraih map yang telah di tanda tangani azka dan mulai memeriksa semua isi map itu kembali.
Ia tersenyum bahagia saat membaca bait kata di mana je akan menjadi pemegang saham 55% untuk
hotel Salim. Ia tau ia kejam namun ia akan melakukan segalanya untuk je nya., untuk putrinya yang
sudah terlalu lama menderita karena dirinya dan ayahnya. Kini meski ia akan meninggalkan gadis itu
ia akan jauh lebih tenang. Selain gadis itu tidak akan kekurangan materi ia juga akan ada dalam
perlindungan yang tepat.

Leo memasuki ruangan kiara setelah ketukan tiga kali dan matanya bertemu langsung dengan mata
kiara yang menatapnya dalam. Kiara mengerutkan keningnya saat melihat sorot penyesalan leo
namun ia mmasih memilih bungka menunggu apa yang akan pria itu katakan selanjutnya. Sama
seperti kiara, azka pun menunggu kabar apa yang akan di sampaikan oleh leo dengan raut yang
sedikit tegang.
“nona muda je” leo meneguk air liurnya dengan sangat berat saat sorot mata kiara semakin
menajam begitu ia menyebutkan nama putri wanita itu. “dia di tahan oleh keamanan inggris karena
sebuah perkelahian selama di pesawat” jelas leo yang membuat kiara seketika memijat keningnya.

“aku sudah menghubungi pihak perusahaan kita di inggris dan meminta pengacara menyelesaikan
ini” kiara mengangguk dengan penjelasan leo. “tapi nona muda je terlalu sulit untuk di hadapi
mereka”

“je tidak apa-apa kan?” tanya kiara dan leo mengangguk. “coba sambungkan aku padanya” ujar kiara
kembali yang langsung di kerjakan oleh leo. “kau lihatkan kita baru menghabiskan waktu 3 jam dan
dia sudah membuat ulah” jelas kiara pada azka yang masih tampak terperangah di tempatnya.

“dia aman bersama carla, nyonya” jawab leo tegas dan yakin.

Jeslyn prov

Aku baru sejenak menutup mata ku lalu kembali terbuka saat pria yang duduk di sebelah ku
mencolek lengan ku. Aku menoleh padanya dengan amarah yaang meluap sedangkan dia hanya
melirik ku sekilas dengan tatapan yang sama sekali tidak ku ketahui. Tapi hei..ini pertama kali aku
bertemu dengannya dan apa masalah nya dengan ku sehingga dia mencolek ku.

“apa yang barusan kau lakukan?” tanya ku sengit dan dia hanya melempar senyuman kecil yang
entah kenapa membuat ku marah. Carla tampak akan berdiri namun aku menggeleng kecil
menyuruhnya untuk tidak ikut campur. “bukan kah seharus nya kau mengatakan maaf seelah
mencolek ku?” tanya ku kembali.

Dia menunjukkan senyuman culas lalu menatap ku kembali. “aku tidak melakukannya. Kau jangan
mengarang”

Aku melotot saat ia mengatakan hal itu dengan ringannya dan tanpa berpikir panjang aku menarik
rambutnya dengan kuat menulikan telinga ku dengan rintihannya. “akhhh....dasar gadis bar-bar..
lepaskan rambut ku.. awww ini sangat menyakitkan”.

Carla mencoba melepaskan ku namun itu tidak akan berguna untuk ku. Pria di hadapan ku ini harus
tau siapa yang coba dia lawan. Para pramugari tampak mendekati ku dan membantu carla untuk
melepaskan tarikan ku pada rambut pria itu. Hingga akhirnya tarikan itu terlepas dan aku yang di
bawa menjauhi pria itu.

“dasar pria mesum aku akan melaporkan mu saat kita transit. Kau tidak akan kubiarkan lolos sialan”
umpat ku yang membuat perhatian seluruh orang di dalam pesawat menonton ku dan pria itu. Aku
juga melihat raut pucat pria itu saat umpatan ku yang terus meneriakinya. “lepaskan aku” ujar ku
kasar. “carla aku ingin buaat laporan ini saat kita transit nanti”
“aku juga akan melaporkan mu dengan tuduhan pencemaran nama baik” balasnya yang membuat
ku hanya melemparkan senyuman sinis.

“kita liat saja. Dasar pria tak bermoral, pria mesum yang suka menyentuh sembarangan. Kau tidak
akan bisa lolos dari ku. Kau lihat saja nanti, sialan”

Tepat dua jam kemudian kami tarnsit di inggris dan aku langsung menarik carla untuk mengikuti ku
menuju tempat pengaduan. Dan sialnya pria itu telah berada di sana lebih dulu dari ku.
“bagus sekali kau suda disini” ujarnya sengit membuat ku menggeram. “dia gadis yang menyerang ku
dan aku ingin dia di hukum” aku melebarkan mata ku terkejut namun aku tidak akan pernah kalah.
Apa lagi aku benar dan dia yang salah.

“aku juga akan melaporkannya. Dia melecehkan ku menyentuh dada ku, aku ingin pria mesum ini
juga di hukum” ujar ku tak kala sengit dan menata pria itu dengan tajam.

Aku tidak akan pernah mau mengalah apapun itu. Aku benar-benar akan membuat pria di depan ku
ini di hukum karena kemesumannya dan dia juga harus meminta maaf pada ku karena dirinya aky
terpaksa harus menunda keberangkatan ku dan belum lagi bunda pasti akan segera menghubungi
ku.
“aku tidak akan melepaskan mu” desisnya geram.

“aku juga tidak akan melepaskan mu” kami tidak ada yang ingin berdamai dan dapat ku lihat polisi di
hadapan ku yang memijat keningnya dengan kasar. Aku mendengar derap langkah seorang pria
berstelan lengkap menghampiri pria itu lalu mereka berdua melangkah menjauh membahas sesuatu.
Aku bisa menduka aku lah bahasan mereka saat ini sebab pria itu terus melirik ku kasar.

“telpon dari nyonya, nona je”

Aku menerima telpon itu lalu melirik carla sengit. “sudah ku bilang panggil aku je, carla” gadis
didepan ku mengangguk kaku mendengar desisan geram ku.

“ini belum ada 24 jam je dan kau sudah mendapatkan musuh”

Aku mendesah mendenggar grutuan bunda. “dia yang salah bun. Dia menyentuh dada ku, itu sudah
melecehkan ku”

“mungkin dia tidak sadar je. Kau tau sendiri siapapun bisa mengantuk dan tak sadar melakukannya”

“dia tidak mengantuk je lihat dia sadar. Je tidak akan kemanapun sebelum dia di hukum” aku
memutuskan sambungan telpon ku tang berkenan mendengarkan ocehan bunda lagi. Apapun itu
lelaki itu harus di hukum.

Aku berbalik saat sentuhan di pundak ku dan mendapati pria paruh baya bersama carla di sana. “ini
pengacara kiriman perusahaan”

Dia mengulur kan tangannya dan ku sambut dengan cepat. Secara berlahan aku menjelaskan
semuanya pada pria itu dan saat dia mengerti dia tersenyum lalu membawa ku mendekati polisi
yang tadi bertugas mengurus laporan ku. Sedangkan pria itu kini tampak mulai mendekat.
“selamat siang saya pengacara nona Jeslyn maisah brown.” Aku melirik polisi di hadapan ku tanpak
terkejut sama seperti pria yang ada di sebrang ku. “aku ingin menyelesaikan masalah ini mengenai
tuntutan klienku dan tuntutan pihak lawan”

“aku menarik tuntutan ku” secepat kilat aku memutar kepla untuk mihat raut pria itu. Dan aku yakin
dia serius sama seperti ku pengacaranya juga tampak terkejut dengan penuturan tiba-tiba pria itu.
Eku mengernyit curiga padanya mencoba mencari tahu sesuatu dari wajah pria itu. Sebab dia tadi
sangat berusaha keras untuk menghukum ku dan kini dia secara mendadak ingin menariknya. Apa
rencananya sebenarnya?.

“sebenarnya ini sangat mudah di selesaikan” ujar polisi itu ramah. “jika kedua belh pihak saling
berdamai semua terpecahkan” lanjutnya yang membuat ku merengut.

Jack yang merupakan pengacara ku tampak menoleh pada ku menunggu keputusan ku. “aku akan
berdamai jika dia memohon maaf pada ku. Karena dia sudah melecehkan ku da....”

“aku minta maaf. Aku rasa saat aku mengantuk tadi tanpa sadar aku menyentuh mu. Ku mohon
maaf kan aku”.

Aku mengangguk lalu menjabat tangan pria itu dengan sungkan. “kami sudah memesan tiket
keberangkatan anda. Dan 15 menit lagi anda sudah bisa menuju pesawat” aku melepaskan jabatan
tangan ku lalu menoleh pada jack yang memberitahukan mengenai penerbangan ku.

“apa kau putri dari pemilik perusahaan brown?” aku mengernyit mendengar pertanyaan pria di
hadapan ku ini. Sekali lagi aku menelisik curiga mencari tahu sesuatu di wajah pria itu yang mungkin
bisa ku jadikan alasan untuk mencurigainya.

Namun aku tidak menemukan apapun. Dia terlihat biasa saja dan tampak penasaran akhirnya aku
mengangguk hal pertama kali yang kulakukan selama ini membenarkan identitas ku pada orang
asing. Kini aku menemukan raut wajah legah dan sorot mata yang teduh dari pria itu membuat ku
semakin penasaran padanya.

“ayo kita pergi” aku kembali menoleh pada carla lalu mengangguk dan melangkah meninggalkan pria
itu. Sebelum aku benar-benar menjauh aku kembali menoleh kebelakang untuk melihat pria itu dan
ia tampak berbisik “THANK YOU” yang membuat aku semakin mengernyit bingung.

“carla cari tau siapa pria tadi”

“dia Aland bard wilson, pemilik perusahaan wilson dan pemilik keamanan nomor 1 di Amrik.. tapi
ada appa kau menanyakannya?” aku mengangguk mengerti lalu memberikan senyuman lembut
pada carla yang tampak biasa saja.

“apa dia bekerja sama dengan perusahaan bunda? Atau apa dia pernah menerima bantuan bunda?”
tanya ku kembali.

Carla [Link] keras lalu membuka tabletnya. “tidak, perusahaan tidak pernah bekerja sama
dengan mereka dan tidak pernah bertemu dengan nyonya”

“kau tau dari mana?” tanya ku malas..

“leo memberitahukan ku”


“ah.... ternyata leo si wajah kaku itu”.

Aku tiba tepat tengah malam di indonesia dan saat itu pulah luka itu kembali terbuka. Kenangan
menyakitkan itu kembali bermain di ingatan. Bagai mana bunda yang membawa ku pergi dari negara
ini dengan raut wajah yang menyedihkan. Aku benar-benar tidak bisa melupakan semua itu, tidak
sedikitpun ada yang aku lupakan kejadian waktu itu.

“nona je” aku berbalik dan menemukan wanita pruh baya yang teramat sangat banyak membantu
ku dan bunda. Dia kembali ke indonesia 3 tahun yang lalu. Satu-satunya seseorang yang selalu
membuat ku mengingat indonesia.

“ini sudah larut malam kenapa bibik datang menjemput. Seharusnya bibik suruh supir aja atau kirim
alamat lengkap rumah biar kami naik taksi saja” grutu ku pada bik sumi sambil berjalan beriringan
bersamanya. Dia tersenyum lalu mengelus lembut punggung tangan ku yang membuat ku ikut
membalas senyumnya.

“ini pertama kalinya neng datang lagi ke indonesia mana mungkin bibik tidak menjemput” ujarnya
masih dengan senyuman khasnya yang selalu tulus. “lagian nyonya bisa ngomel kalau tau bibik gak
jemput neng.” Aku memutar mata ku mengingat bunda yang sudah jelas terus-terusan menghubungi
bik sumi.

2 jam berlalu perjalanan dari bandara ke rumah. Aku tertegun sesaat melihat rumah yang sudah
sangat lama tidak ku lihat ini. Sebuah rumah yang sederhana yang memiliki halaman luas. Aku ingat
dulu alasan bunda memilih halaman luas dengan rumah yang sederhana. Agar ia bisa menanami
bunga di sana dan menajdi tempat aku bermain kelak. Aku menoleh ke kiri ki dan mendapati pondok
sederhana yang di bangun dulu. Dan semua itu bunda buat hanya untuk ku, agar aku bisa mbelajar
dengan tenang dengan suasana alam yang segar.

Sebuah usapan lembut menyadarkan ku dari lamunan masalalu ku mengenai rumah ini. Di depan ku
bik sumi tersenyum hangat sambil membimbing ku untuk mengikutinya. Ia terus membawa ku
masuk menuju kamar ku yang berada di lantai dua. Dan selama langkah ku menuju kamar aku
kembali menelisik isi rumah yang masih sama seperti dulu. Aroma terapi yang sangat di sukai bunxa
dan tatanan prabot yang masih sama. Aku ingat semua susunan isi rumah ini karena terlalu sulit
melupakan rumah ini. Aku bersyukur rumah ini tidak memiliki kenangan tentang pria itu, karena pria
itu yang lebih memilih tinggal di sebuah apartemen ketimbang rumah peninggalan ibu bunda ini.

“masih sama seperti yang dulu” ujar ku pelan.

“non jiya masi ingat?” tanya bik sumi. “gak ada yang di rubah sedikit pun. Karena ibuk gak kasih ijin
dia gak mau kehilangan kenangan masa kecip non di sini. Yang di benerin Cuma atap nya aja biar gak
bocor karena mulai lapuk” jelas bi sumi.

Aku mengangguk mengerti dan itu memang bunda sekali. Jangankan rumah di sini yang di LA aja
sama sekali tidak ada perubahan sejak kami datang ke sana. Bunda selalu membuat suasana tetap
seperti awal dia tidak suka perubahan.

“bibik udah beresin kamar non jiya. Non istirahat aja besok baru keliling rumah”

“andai bibik tidak berada disini, ku rasa tidak akan ada lagi yang bisa ku ingat dari negara ini” ujar ku
dengan pandangan lurus mengarah lantai dua. Aku menoleh pada bibik dan Kembali tersenyum.
“aku akan istirahat dan ku harap bibik juga istirahat” aku meninggalkan bibik setelah dia
mengangguk dengan sorot mata luka yang sangat jelas.

Aku terlonjak saat membuka mata dan menemukan bibik berdiri tepat di hadapan ku dengan
menjulurkan sebuah ponsel. Aku menyentuh dada ku dan menghembuskan nafas berlahan “bibi aku
bisa mati dengan cepat jika bibi seperti ini di depan ku” ujar ku sedikit menggrutu.

Wanita paruh baya itu terkekeh geli, ia kemudian berjalan mendekati ku lalu menyerahkan
ponselnya yang tampak masih terhubung dengan sosok Wanita yang merupakan ibu ku. “maaf,
sebenarnya tadi bibi baru akan mendekati mu namun bibi terlalu asik memandangi wajah non yang
semkin cantik” jelasnya, aku meraih ponsel itu yang di balas bibik dengan senyuman ibunya. “bibi
akan kebawa menyiapkan sarapan, non je silahkan berbicara dengan nyonya. Beliau sudah lama
menghubungi bibik karena ingin berbicara dengan non”

Aku mengangguk menyetujuin sambal terus memandangi pungging rentan itu meninggalkan kamar
ku. Ku Tarik sekali lagi nafas lalu melepaskannya Kembali baru mulai meletakkan ponsel tersebut di
telinga ku.

“hallo bunda. Iya, je baru bangun dan sebentar lagi akan sarapan. Bunda bisa menyuruh Carla yang
mengantarnya kan?. Ah…baiklah, lusa akan je antar. Kenapa je harus menemui wakilnya berkas itu
bisa saja je berikan pada satpam kan? Mereka tidak akan membuangnya. Ok, baiklah bunda and
please call him to wait for me not me waiting for them. Bye, love you too”

Jeslyn End

Aland memasuki ruangan nya dan menemukan Roy yang merupakan orang suruhan yang sangat ia
percayai. Ia duduk di kursinya lalu menerima sebuah map coklat yang di serahkan oleh roy, ia mulai
membaca setiap informasi yang tertulis di dalam nya.

“dia akan menetap di sini?” tanya aland mengernyit curiga. “dan masih menjadi warga negara
asing?” tanyanya Kembali. “duduk dan jelaskan” perintahnya kemudian.

“semua informasi ini saya dapatkan dari orang terpercaya dan dia akan mulai bekerja di hotel
keluarga salim”

“What?”

“Keluarga Brown pemilik saham tertinggi. Kabar yang saya dapatkan, Nyonya Brown membeli 50%
saham hotel salim dan menyelamatkan hotel itu dari kebangkrutan. Dan saat ini Azka baru akan
berangkat Kembali ke tanah air setelah menemui Nyonya Brown”

Aland mengangguk mengerti “ok, terima kasih atas informamsi ini. Kau bisa lanjtkan pekerjaan mu”

Roy baru akan meninggalkan ruangan aland dan membiarkan pria itu Kembali bermain dengan
pikirannya sendiri namun ia urung karena rasa penasarannya untuk pria itu. Ia tidak pernah meminta
siapapun mencari informasi orang lain selain klien mereka. “boleh ku tau kenapa kau ingin tau
semua informasi gadis itu?”

Aland menatap tajam roy, tatapan yang cukup mampu mematikan orang-orang yang melawannya
namun tidak berlaku untuk roy. “dia orang yang menyelamatkan stevani saat penculikan di New
York”
“WHAT?” aland menatap iba pada pria itu yang tampak Kembali murung. “aku akan terus
mengawasinya” lanjut roy serak.

“aku tau tujuan mu yang ingin mengawasinya, tapi ku harap kau memiliki Batasan mu. Dia tidak
mengingat apapun kejadian itu seperti yang kau informasikan keluarganya membuat dia melupakan
semuanya karena Kesehatan gadis itu”

“tapi dia akan tetap membawa kita pada mereka yang te…”

Alan mengangkat tangannya menandakan roy harus menghentikan kata-katanya. “aku tau kau
belum bisa melupakan stevani tapi kita tidak bisa menyalahkan dia untuk perginya adik ku yang
memilih jalan buntu. Kita tidak bisa melupakan jika gadis itu lah yang menyelamatkan vani dan
mengorbankan dirinya sendiri. Andai sat itu vani tidak di selamatkan mungkin dia mati di sana”

“aku tidak akan menyakitinya, aku hanya ingin mengawasinya agar saat orang-orang itu Kembali
akulah yang akan menghab…”

“jangan lupakan jika vani adalah adik ku. Jika kau hanya kekasihnya maka aku adalah ikatan
darahnya, dan aku akan melakukan apapun untuk orang-orang yang telah membuatnya pergi seperti
itu. Tapi di akhir hidup vani ia selalu menyuruh ku untuk menemukan gadis itu dan melindunginya.
Dan saat aku sudah menemukannya maka tidak akan ku biarkan siapapun melukainya atau
menekannya”

“maaf, aku benar-benar hanya ingin mengawasinya dari jarak yang aman”

“kau bisa pergi dan lakukan pekerjaan mu, kita akan membahas hal ini lagi nanti”

“sebelum aku pergi boleh ku tau apa rencana mu?”

Aland tersenyum kecil. “aku berteman baik dengan azka dan aku akan mulai dengan mereka untuk
mendapatkan jarak yang aman mendekati gadis itu” roy mengangguk mengerti ia pun memilih
meninggalkan ruangan aland setelah memahami rencana atasan nya tersebut.

“aku akan menjaganya sesuai janji ku pada mu van” bisik aland sambil memandangi foto dirinya
Bersama dengan adik perempuannya terebut.

Jeslyn menuruni mobilnya lalu memandangi hotel yang menjadi tujuan atau lebih tepatnya tujuan
yang di perintahkan oleh ibunya. Ia menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk memasuki
hotel tersebut. Gadis itu mengernyit saat mendapati tatapan seluruh karyawan hotel utuknya.

“selamat pagi ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang satpam, nadanya terdengar lembut
namun tidak dengan tatapannya yang mencemooh.

“kenalkan aku jeslyn” saut je lembut mencoba menekan rasa amarahnya. “aku memiliki janji dengan
wakil CEO, untuk menyerahkan sebuah berkas ini” lanjutnya sambal menunjukkan sebuah berkas
yang sejak tadi ia genggam.

“maaf sebelumnya, apa anda sudah membuat janji?”

Je menggeleng berlahan. “bisa pertemukan saja saya dengan receptionosnya”


“maaf sebelumnya jika anda belum membuat janji sebaiknay kembali kesini setelah membuat janji”

“lalu bagaiaman jika saya ingin mengambil kamar di sini?” ujar je mulai merasa kesal. “apa saya
harus emmesan terlebih dahulu baru bisa ke receptionis?” tanya je sedikit meninggikan suaranya.

Je meninggalkan security tersebut dan memasuki hotel dengan raut penuh kemarahan. Ia baru akan
mendekati receptionis saat salah satu petugas hotel lebih dulu mendekatinya. Sama seperti
sebelumnya tatapan tak ramah ia dapatkan dan bahkan kali ini terlihat elbih jelas.

“maaf sebelumnya apa ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu.

“aku ingin bertemu dnegan wakil CEO disini untuk menyerahkan berka…”

“bukan kah tadi security kami sudah mengatakan jika kau harus memiliki janji lebih dulu. Atau jika
kau tidak membuat janji setidaknya berpenampilan lah layaknya seseorang yang akan bertemu
dengan pimpinan. Kau seharusnya melihat dirimu yang tidak layak untuk bertemu dengan mereka.
Dan jika kau membutuhkan pekerjaan lakukan sesuai prosedur”

Pria itu memanggil satpam dengan lirikan sinisnya. “bawa gadis ini keluar dari sini dan jangan
biarkan dia masuk lagi, melihatnya saja sudah membuat para tamu terganggu” jeslyn mengedarkan
pandangannya melihat semua orang emnatapnya dengan cemooh.

Ia mengangkat tangannya menahan para satpam yang mencoba menariknya. Ia tersenyum sinis
pada karyawan hotel yang masih menatapnya dengan sinis. “jangan menyentuh ku dengan tangan
kotor mu, aku bisa keluar dari sini namun kalian ingat pesan ku. Kita akan segera bertemu namun
dengan keadaan yang berbeda” jeslyn meninggalkan hotel itu untuk, melangkah penuh emosi
menuju mobilnya yang ia parkir tepat di sebrang hotel.

Gadis itu menarik nafas nya lalu menghembuskannya kembali, mencoba menenangkan dirinya
snediri. Saat ia merasa cukup tenang ia mulai membuka map coklat itu, ia membacanya dengan
seksama. Dan sebuah senyum kekejian terpancar di bibirnya saat ia mengetahui isi map itu.

“hallo, Carla hubungi pihak hotel katakan aku mau bertemu detik ini juga dan tolong bawa pakaian
ku sekarang dan gunakan mobil paling mahal milik bunda, sekarang juga. Ya, aku berada tepat di
depan hotel. Ok, thank you”

Jeslyn kemudian menghubungi ibunya untuk memastian sesuatu. “hallo, bunda. Bunda hanya perlu
menjawab ku saja. Apa bunda berencana mempekerjakan ku di hotel yang ini?. Jika aku setuju apa
aku memiliki hak untuk merombak semuanya?, no questions,bunda. Kali ini bunda hanya perlu
menjawab tanpa memberikan pertanyaan. Ok, jika aku memiliki hak itu aku akan bekerja disana dan
aku akan mengirimkan rencana kerja ku kedepan. I love you”

Hotel tampak sepi dan terlihat pula seluruh karyawan yang berjejer di depan pintu masuk hotel. Dan
disana terlihat para petinggi yang ikut berdiri menanti kehadiran gadis yang menjadi utusan pemilik
saham tertinggi disana.

Je keluar dengan penampilan yang berwibawah sangat berbeda dengan beberapa saat lalu, dan
terlihat pula keterkejutan beberapa orang yang melihat je. Gadis itu berhenti di ambang pintu saat
yang lainnya membungkuk memberikan salam dan hormat.
“Langkah awal yang akan ku lakukan adalah pemberhentian kerja karyawan yang sama sekali tak
layak berada di sini. Carla tolong catat, dan untuk semua kita akan kumpul di dalam dan ku harap
seluruh karyawan berada di aula sekarang juga”

“siap, nona” je melirik sinis pada Carla yang kini tampak gugup.

Je melangkah meninggalkan tempat itu menuju lokasi yang ia maksud. Ia tak dapat melihat tatapan
penuh haru milik denaya dan azka yang sejak tadi hanya memandang gadis itu penuh rindu dan
penuh dengan penyesalan.

“je, kenalkan ini..”

“hai aku azka aldric salim” azka dengan cepat memotong ucapan Carla memperkenalkan dirinya
sendiri.

Je mengernyit “Salim?” ulang je tampak berfikir keras merasa sangat tidak asing dnegan nama
keluarga itu. Namun ia dengan cepat menepis rasa ingin tahunya tersebut saat ia merasakan sakit
kepala mencoba mengingat nama itu.

“Denaya eart salim” lanjut denaya yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari jeslyn. “apa
aku boleh memeluk mu?” tanya dena bergetar. Azka mencoba menahan dena namun terhenti saat
melihat je mengangguk setuju.

“aku mengizinkan mu karena kau tampak sedih” ujarnya lembut, hal itu membuat dena semakin
memeluknya dengan erat.

“thank you, je” balas dena penuh syukur.

“aku akan pada intinya, kalian semua tau apa yang ku terima saat tadi aku tiba hanya menggunakan
pakaian biasa dan tampak tak memiliki uang. Seluruh karyawan menatap ku dengan cemooh dan
beberapa lalu aku masuk dengan penampilan bak pemilik hotel semua menunduk penuh rasa
hormat dan tampak memuakkan di mata ku”

Jeslyn memberi jedah pada kata-katanya untuk melihat semua orang yang berada di dalam aula.
“dengan ini aku akan melakuakn evaluasi dan menujukkan sikap seorang karyawan hotel pada tamu,
siapapun tamu itu kau harus memiliki etika. Kalian tau apa yang membuat hotel ini jatuh itu karena
cara kalian melayani tamu tak layak”

Je kemudian melirik pada Carla dan tampak Carla mengerti dengan maksut gadis itu. Semua mata
menuju pada layar yang menampilkan bagaimana buruknya jamuan di hotel dan kebersihan yang
sangat buruk.

Carla juga menyerahkan berkas-berkas pada seluruh petinggi yang berisikan daftar karyawan yang
akan di pecat saat itu juga.

“kalian bisa melihat nama-nama yang di berhentikan secara tidak hormat di bulletin hotel. Dengan
rasa penyesalan aku harus memecat kalian karena kinerja kalian yang buruk, dan aku tidak akan
memberikan toleransi pada orang-orang yang mempekerjakan karyawann dikarenakan relasi atau
saudara.”
“bukankah kau harus mengadakan rapat jika ingin melakukan hal itu?” ujar salah satu petinggi
dengan emosi.

Je menoleh menatap keji pada pria itu. “apa kau Tuan Broto? Kau terlihat sangat marah apa karena
nama mu ada di daftar tersebut?. Aku akan memberikan kalian alasan untuk pemecatan ini” jelas je
dengan tegas tak terbantahkan.

“30% karyawan masuk kesini karena relasi dan sogokan yang tinggi, di sini tertera juga gaji yang tak
layak menurut ku jika melihat pemasokan hotel. Aku juga menemukan penggelapan dana yang
membuat hotel semakin merosot dan buruk di mata masyarakat. Lalu apa menurut kalian aku harus
mengadakan rapat untuk pemecatan ini?”

Je menoleh pada seluruh petinggi yang tampak mulai gelisah. Ia kemudian tersenyum lebar dan
mengerikan. “dan aku telah mendapatkan titah dari pemilik saham tertinggi di sini untuk mengambil
keputusan sesuai fakta di lapangan. Maka untuk seluruh orang mendapatkan email sebagai surat
pemecatan ku harap tinggalkan tempat ini detik ini juga. Terima kasih”

Gadis itu menuruni podium ia melangkah lalu berhenti tepat di hadapann azka dan denaya. “ku rasa
kita bertiga harus segera rapat, ayo bawa aku keruangan mu, pak azka”

Azka mengangguk ia melangkah lebih dulu lalu di ikuti oleh denaya dan kemudian jeslyn sendiri.
Namun Langkah mereka terhenti saat ponsel jeslyn berdering.

“hallo, bunda. No. I've done research. Aku tidak melakukan keputusan bodoh dan aku sudah
menyuruh Carla mengirimkan file bunda baca lalu boleh menghubungi ku. No way, aku tidak akan
bekerja jika bunda berani mencampuri semuanya.”

“maaf kalian mendengar ini, tapi tidak akan ada yang bisa merubah keputusan ku meski itu ibu ku
sendiri” ujar je kesal.

Azka tersenyum kecil melihat ketegasan jeslyn yang terlihat sangat mirip dengan ibunya dan oh
jangan lupakan tatapan tegas itu yang terlihat sama persis seperti ayah mereka. “apa kau memiliki
pengalaman kerja di bidang ini?” tanya azka penasaran tepat saat mereka telah memasuki ruangan
pribadinya.

Je memilih duduk di salah satu sofa single, lalu memandagi ruangan itu yang cukup estetik
menurutnya. “aku memang mengambil kuliah perhotelan dan mungkin karena aku memiliki gen ibu
dan kakek ku”.

“dan bagaiaman dengan gen ayah mu?” denaya seketika mengatupkan mulutnya saat tersadar atas
pertanyaan nya. Sama seperti denaya, azka juga tampak membeku di tempatnya.

“dia Sudah lama mati” ketus je tanpa berfikir Panjang.

“ah….”

Je mengedikkan bahunya merasa biasa saja. “dia mati sudah sangat lama sekali” jelas je kembali.

“apa kau tidka memiliki saudara?” lanjut denaya mengabaikan raut azka yang memohon untuk
menghentikannya. Namun denaya tidak mempedulikannya dan hanya terus bertanya.
Jeslyn tampak terdiam sesaat sebelum menjawab denaya. “aku anak tunggal dan ku rasa memilki
saudara adalah hal buruk menurut ku” jawab jeslyn asal.

Gadis itu meraih map yang baru saja di letakkan oleh azka dengan tenang. Ia tidak melihat seberapa
sedihnya dua orang di hadapannya mendengar ucapannya baru saja. “kenapa menurut mu saudara
adalah sebuah beban?” kali ini azka yang bertanya.

Je menatap azka dan denaya datar. “bukankah kita akan membahas soal pekerjaan bukan masalah
pribadi ku?” tanya jeslyn ketus. “dan soal saudara, aku hanya tidak ingin memiliki saudara yang
memuakkan. Apa itu cukup menjawab rasa ingin tau kalian?”

Gadis itu kembali menatap berkasnya. “aku akan membawa berkas ini pulang lusa akan ku kabari”
ujar je merasa suasana hatinya memburuk. “ah.. ku harap kau melakukan pegumuman di semua
media untuk perekrutan karyawan, selanjutnya kita akan adakan rapat saat kita sudah bertemu lagi”

“apa kau memiliki acara lain?”

“Kenapa?”

“ah… aku hanya ingin mengajak kau keliling karena kabar yang ku dapat kau sudah lama tidak
kembali ke sin..”

Jeslyn kembali tersenyum sinis. “aku tidak tertarik pergi kemanapun Bersama orang lain, jikapun aku
mau, aku akan pergi Bersama Carla”

Denaya tampak sangat patah hati dengan penolakan jeslyn yang blak-blakan ia hanya mampu
membiarkan jeslyn pergi tanpa mampu menahan gadis itu.

“secara berlahan, de” ujar azka sambil menyentu Pundak denaya yang mulai bergetar.

“tapi aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya”

“kita beri dia waktu dulu, secara berlahan dia akan mulai membuka hatinya pada kita” ujar azka yang
sebenarnya merasakan apa yang adiknya itu rasakan. “dia masih menutup dirinya dna jika kita
memaksa aku takut akan membuat dia semakin menjauhi kita” denaya mengangguk setuju pada
saran azka.

Apa yang di katakana azka benar, meliat jeslyn yang tampak arogan dan menjaga Batasan untuk
siapa saja bisa membuat apa yang dikatakan azka benar terjadi. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi, ia
akan mencoba lebih bersabar lagi agar adiknya itu bisa menerima mereka.

Clara telah berjam-jam berada di luar kamar jesly dengan raut cemas, pasalnya ini sudah 5 jam sejak
gadis itu kembali dari hotel dengan setumpuk berkas. “apa non je belum keluar?” clara tampak
terkejut sesaat sebelum dia mengangguk membenarkan.

“dia juga belum memakan apapun” ujar clara dengan raut bersalah.

Bik sumi tersenyum geli melihat raut khawatir Carla, lalu Wanita paruh baya itu kembali terkekeh
saat melihat makanan clara yang belum di sentuh. “kau juga belum makan?” clara kembali
mengangguk membenarkan. “sebaiknya kau makan dan pergi istirahat”
“tapi, je..”

“kamarnya memiliki kulkas yang berisikan makanan dan ada stok roti juga di situ. Lalu jika nona je
lapar dia akan keluar jam berapa pun itu, jika kau menunggunya kau akan sakit. Jadi sebaiknya kau
makan lalu pergi istirahat dan jika nona muda melihat kau kelaparan lalu jatuh sakit dia akan lebih
murka”

“apa je selalu seperti ini?”

Wanita baya itu tersenyum penuh haru sambil mengangguk. “dia akan benar-benar sangat focus
saat sudah berniat ingin melakukan hal apapun. Dia akan menjadi sangat serius dan tidak ada yang
bisa mengusiknya”

Carla kembali menoleh menatap dalam pintu kamar jeslyn sebelum ia meninggalkan tempat itu
mengikuti bik sumi yang sudah lebih dulu berlalu.

Jeslyn mengamati smeua berkas yang snegaja ia bawa dari hotel dan ia bisa langsung menemumkan
banyaknya kecurangan di sana. Ia memijat sejenak keningnya yang mendadak terasa menyakitkan.

“apa sebenarnya yang mereka lakukan hingga bisa kecolongan sebanyak ini” ujar jeslyn menatap
geram pada semua laporan itu.

Ia akhirnya meletakkan berkas itu dan membaringkan tubuhnya di Kasur, menatap jauh ke langit-
lagit kamarnya yang selalu mampu membuatnya merasa nyaman. Sebab saat ia merebahkan
tubuhnya ia bisa melihat lukisan alam semesta yang di Lukis ibunya saat ia masih berusia 10
[Link] hal itu cukup mampu membuatnya selalu merasa tenang dan aman.

Pagi ini je akhirnya keluar kamar setelah dua hari mengurung dirinya hanya untuk mengamati
berkas-berkas bawaannya. Ia menoleh pada Carla lalu menyerahkan sebuah berkas yang tampak
tertutup rapat dan rapi.

“kau pergi ke pengacara keluarga dan serahkan ini padanya, setelah itu katakan padanya laporan
harus segera di naikkan dan para korupsi itu harus di tahan sesegera mungkin”

Carla mengangguk paham, ia kemudian menerima map berikutnya yang tampak sedikit berbed. “ini
apa?”

“selidiki orang itu diam-diam”

“kenapa?”

“entahlah aku hanya merasa mereka berdua cukup aneh” jelas je yang memang merasa sedikit
ganjal dengan azka dan denaya. Je kemudian menyerahkan sebuah atm miliknya. “ini gunakan untuk
membeli pakaian kerja mu, aku tidak ingin di bantah, kau akan menjadi sekertaris ku bukan bodiguar
ku dan beli pakaian yang sesuai dengan jabatan mu”

Jesly meninggalkan Carla menuju meja makan lalu meraih sebuah bekal yang memang je minta di
siapi karena dia tidak akan sempat untuk sarapan.

“ini ada nasi dan lauk yang bisa kau makan di waktu senggang dan untuk menjaga stamina mu, bibi
sudah menyiapkan roti, dan minuman sehat yang jelas bukan susu”
“kau memang paling memahami ku, bik” ujar je penuh kepuasan, ia tidak pernah merasa Wanita
baya itu melakukan pekerjaan yang buruk dan malah sebaliknya.

Azka tidak bisa menyembunyikan senyum penuh kasihnya saat melihat je yang baru memasuki hotel.
Mereka memang sudah membuat janji untuk mulai menginterfiuw calon pegawai baru. Awalnya
azka mengatakan biar dia saja yang melakukannya namun jeslyn bersikeras untuk ikut terjun
langsung. Mengingat betapa buruknya cara penilaian mereka terhadap karyawan.

“ah…aku ingin mengatakan jika untuk securetee kita bisa menggunakan ajsa agen sahabat ku” jeslyn
menoleh pada azka dengan sinis yang memuat pria itu mengatupkan mulutnya degan cepat.

“bukan kah sudah ku katakan, aku tidak ingin ada yang masuk kesini karena relasi”

“tapi aku yakin kau akan menyukai cara kerja mereka, dan selama ini yang ku tau mereka agen
terbaik Sudha masuk dalam Tingkat internasional.”

“hotel mu bahkan sudah memasuki daftar falid dan kau mau berlagak menggunakan agen bes…”

“kita bisa menego masalah harga” jeslyn dan azka sama-sama berbalik saat mendengar seseorang
menyela perbincangan mereka.

“kau?” jeslyn mengernyit tak suka saat mengenali siapa pemilik agen tersebut.

“kau mengenalnya?” tanya azka lembut. Je menggeleng malas yang membuat pria itu tersenyum
kaku. “dia sahabat ku dan agen nya cukup terpercaya”

Je kembali menoleh pada azka menatapnya jengah. “kau bahkan tidak bisa menilai karyawan mu
yang lama sampai hotel ini mengalami krisis” ujar jeslyn geram.

“bisa kita mengenyampingkan masalah internal kita yang lama dan hanya membahas mengenai
pekerjaan” sela aland yang merasa je masih membencinya karena masalah yang bisa di bilang
sebuah salah paham.

“kau bisa mengintrogasi langsung untuk calon secureteenya sesuai standart mu” lanjut aland
kembali meyakinkan jeslyn.

“bawa calon securetee yang kau promosikan setelah aku melihat kuwalitasnya kita bisa membahas
hal selanjutnya” ujar je mencoba berdamai dengan kekesalannya mengingat ini adalah pekerjaan
yang harus ia sukseskan sesuai janjinya pada ibunya. “dan kau, mari kita bahas hal selanjutnya
sebelum interfiuw”

Jeslyn, azka, dan denaya mulai melihat keterampilan anggota aland yang akan menjadi keamanan di
hotel mereka. Hingga penampilan terkahir jeslyn tidak menunjukkan raut apapun, ia hanya terus
memantau dengan serius dan bersungguh-sungguh. Azka dan denaya yang sesekali melirik pada
jeslyn mengharapkan sedikit saja ketertarikan jeslyn namun semua sia-sia.

“bagaimana, apa ada yang membuat kalian ragu atau kurang?” tanya aland setelah pertunjukan
selesai.
“semua tampak bagus dan sepertinya layak untuk di rekrut, kk. Benarkan kk azka, je?” tanya denaya
yang merasa semua orang yang di usulkan oleh alan memang yang terbaik. Azka mengangguk setuju
dengan ucapan denaya namun tidak dengan jeslyn yang masih bungkam.

“hanya 1 orag yang menurut ku bagus” ujar jeslyn yang membuat denaya dan azka terperangah.
“apa menurut kalian mereka semua yang terbaik? Tanya jeslyn kembali. “dan apa hanya ini produk
terbaik yang kau punya dan dari kata-kata pak azka tadi agen mu sudah mendunia”

Aland tersenyum melihat ketelitian jeslyn. “maaf, bisa katakan Dimana letak eksalahan anggota ku?”
tanya alan menantang yang membuat jeslyn mengerutkan kening tak suka.

“orang pertama sampai ke tiga tidak memiliki focus yang bener mereka tampak tidak bersungguh-
sungguh. Lalu ke 4 sampai ketujuh mereka tidak cukup lincah untuk menangani hal-hal yang urgent.
Lalu nomor 9 dan 10 tatapan mereka sudah menunjukkan ketidak sopanan pada orang-orang yang
berlalu Lalang terutama pada Wanita yang sedikt sexi. Mereka juga tidak menunjukkan keramahan
yang merupakan poin utama pegawai hotel”

“lalu bagaiaman dengan nomor 8? Bukan kah kau melewatinya?”

Jeslyn mengangguk. “bukan kah di awal aku sudah katakan hanya 1 orang saja yang bagus meski dia
juga kurang namun dia mendekati kreteria yang ku inginkan”

“bisa katakan mengapa kau masih meragukannya?”

“dia tampak sedikit lamban” Aland mengangguk paham dan benar saja ketelitian jeslyn tidak bisa di
ragukan. “kalau begitu aku akan menunjukkan yang terbaik yang menurut ku ini tidak akan
mengecewakan mu. Dan untuk anggota ku yang sebelumnya aku akan mengurus mereka agar lebih
baik”

Jesly awalnya malas namun meliat azka dan denaya yang mengangguk setuju ia pun mulai mengikuti
mereka. “baiklah, tapi aku bolehkan sambil sarapan” azka, denaya serta aland menatap jeslyn sedikit
cemas.

“permisi” Carla masuk perlahan dengan sebuah kantongan yang ia ambil dari mobil jesly. “maaf,
nona je memiliki masalah lambung yang er…”

Carla menghentikan penjeasannya tepat saat je menatapnya sinis. “aku butuh sarapan jika mau
semua pekerjaan berjalan dengan baik” ujar je tegas. “mulai tampilkan,pak aland”

Aland mulai memutar pertunjukan anggota nya yang lain dengan sesekai menoleh pada jeslyn
yangmemang tampaks edikit pucat. Jeslyn tetap focus meski ia merasa sedikit perih di perutnya, dan
dengan Gerakan berlahan ia mulai menyuapi sarapannya.

Kali ini azka dan denaya hanya memfokuskan semuanya pada jeslyn setelah mereka menyelesaikan
menyaksikan penampilan tahap 2. “kita bisa membahas kontrak untuk 11 anggota mu”

“bukankah kita hanya butuh 10?” tanya azka bingung.

“aku butuh 1 orang kepala keamanan untuk mengontrol yang lainnya. Dan Roy sebagai pilihan ku
untuk menjadi kepala keamanan. Bagaimana menurut kalian?” ujar jeslyn dan kembali bertanya
pada rekannya. “jika kalian setuju dengan ku kitab isa membahas kontrak dengan agen nya”
“jika menurut mu itu semua terbaik kami tidak akan keberatan” celetuk denaya yang membuat
jeslyn mengernyit bingung.

Azka juga ikut mengangguk dengan ucapan denaya. “baik, kita akan memasuki pada kontrak dan
gaji”

Aland menyerahkan beberapa berkas yang di terima oleh jeslynn dan azka. “aku sudah memberikan
harga yang minim dan ini bisa di katakan harga sa…”

“sorry” sela jeslyn. “aku tidak menerima harga kenalan karena aku tidak menginginkan kinerja yang
hanya bermodalkan kenalan”

“aku bisa jamin dengan kualitas tidak akan berubah, kau bisa menuntut 2 kali lipat jika anggota ku
membuat hal yang merugikan Hotel”

“apa kau tidka merasa di rugikan? Dan bukan kah semua ini harus kau rundingkan dengan anggota
mu?” tanya jeslyn merasa aneh dengan penawaran yang minim dari aland.

“aku rasa mereka tidak akan merasa di rugikan selama bekerja sama dengan kalian” jelas aland

Jeslyn mengangguk setuju yang juga di setujui oleh azka dan denaya. “aku rasa kita break sebentar”
ujar jeslyn yang merasa tubuhnya tidak sefit tadi. “kita lanjutkan sekita pukurl 2 siang”. Carla meraih
lengan jeslyn saat melihat jeslyn mencoba meraihnya.

Hal itu tak luput dari pandangan ketiga orang di sana, je mengabaikan mereka dan memilih Carla
sebagai sandarannya. Ada raut khawatir di wajah mereka namun benteng penolakan je membuat
mereka hanya mampu termangu di tempat.

“je kita bisa lanjutkan besok inter…”

Jeslyn menggeleng tegas. “harus selesai hari ini agar besok sampai minggu mereka bisa melanjutkan
Pendidikan” ujar jeslyn tegas yang tak terbantahkan. “aku hanya perlu istirahat 30 menit dan kalian
juga sebaiknya istirahat juga”

Aland bergegas menemui roy dan ia semakin mempercepat langkahnya saat melihat roy berada di
ujung Lorong. “selidiki apa yang terjaadi pada hyun ra, cari tau semua hal tentangnya tanpa
tertinggal satu halapapun” roy mengangguk.

“jangan katakan apapun pada bunda mengenai kondisi ku hari ini” ujar jeslyn tegas.

“bukankah kau baik-baik saja tadi?”

Jeslyn mengangguk membenarkan ucapan Carla, dia juga sudah memakan sarapannya tadi pagi dan
dia juga tidka meminum kopi. “bisa kau cek sisi tv?” Carla mengangguk namun ia juga tampak
sungkan meninggalkan jeslyn sendiri. “aku akan baik-baik saja setelah istirahat”

Carla pun akhirnya meninggalkan ruangan jeslyn, ia tidak akan lama dan secepatnya kembali untuk
menemani jeslyn. Carla melihat denaya yang menyemprotkan parfum sebelum memasuki ruang
meateng dan selanjutnya ia melihat perubahan wajah jeslyn tepat setelah denaya masuk. Gadis itu
berjalan cepat menuju keberadaan denaya dna ia menemukan gadis itu Bersama azka duduk di
kantin yang berada di hotel tersebut.

“permisi buk denaya” ujar Carla sopan yang membuat denaya menoleh pada Carla. “saya
mohonmaaf sebelumnya sudah menggangguk waktu istirahat anda.”

“tidak apa-apa. Tapi ada apa dan di mana jeslyn?” tanya denaya lembut

“bisa saya tau anda menggunakan parfum apa?” denaya mengernyit bingung namun saat melihat
raut cemas Carla ia langsung mengeluarkan parfum dari tasnya. Carla meraih nya lalu mencium
aroma bunga mawar yang terasa segar. Ia pun mengembalikan parfum itu setelah tau penyebab
dropnya jeslyn.

“apa terjadi sesuatu?” tanya azka kemudian.

Carla mengangguk “nona je alergi bunga mawar dan sepertinya parfum mu lah awalnya”

“ya Tuhan, maafkan aku Carla. Aku tidak tau” Carla tersenyum kecil dengan sungkan. “lalu
bagaimanan kondisi jeslyn saat ini?” lanjut denaya penuh penyesalan.

“saya rasa Nyonya besar sudah menceritakan kondisi nona je, dan sebenarnya ini bukan seperti
alergi tetapi seperti trauma fisik yang di alami nona.

“kau tau siapa kami?”

Carla mengangguk mendengar perkataan azka. “tepat saat nona memutuskan bekerja di sini, saya
langsung mencari tau soal kalian. Dan untuk kondisi je saat ini dia akan membaik setelah
beristirahat. Saya mohon undur diri menemui nona je” jelas Carla sopan.

Azka dan denaya hanya dapat terpaku mendengar kejelasan Carla, dan di sudut lain aland
mendengar semua ucapan Carla. Ia langsung mengirimkan informasi entah pada siapa dengan raut
serius, setelah itu ia mendekati azka dan denaya yang menatapnya dengan enggan.

“apa jeslyn adik yang ceritakan?” azka mengangguk lemah, ia memang telah menganggap aland
sebagai keluarga hingga tak ada satu masalah hidup nya yang tidak ia katakan apda aland. “aku akan
melindungi nya sama seperti kau ingin melindunginya”

“thank you, land”

“tapi sepertinya kk aland sudah mengenal je, apa benar?”

Aland mengangguk dan sedikit tersenyum kecil mengingat awal perkenalan mereka. “kami satu
pesawat saat kembali ke Indonesia, dan ada insiden kecil yang membuat ku tau sosok jeslyn”

“dia sangat manis kan?” ujar denaya lembut. “meski terlihat sangat pemarah” lanjut denaya pelan
seakan ntakut jelsyn mendengarnya. Aland dan azka tertawa renyah melihat raut takut denaya, yang
mereka tak sadari adalah jeslyn yang dapat melihat semua nya melalui ruangannya yang mengarah
pada kantin hotel tersebut.
Jeslyn juga melihat Carla yang menemui mereka namun pandangan senduh je lebih tertuju pada
kedekatan 3 orang di bawah sana. Ada perasaan sedih yang tiba-teba melanda hatinya dan ia hanya
mampu terpaku pada keakraban itu.

Gadis itu menjauhi jendela dan kebali pada kursi. Ia menjatuhkan bokongnya lalu menengadahkan
kepalanya pada langit-langit putih polos ruangannya itu. Tatapannya tampak kosongdan fikirannya
secara tiba-tiba mundur pada insiden masalalu saat ia meninggalkan Indonesia.

Suara pintu terbuka menyadarkan jeslyn sebelum jauh menerawang dan di sana Carla berdiri dengan
raut yang tidak sepanik tadi. “nona denaya menggunakan parfum aroma mawar asli dan ku rasa dari
situlah awal kau mulai merasa lemas”

Jeslyn tersenyum senduh. “terima kasih Carla. Kau bisa pergi istirahat dan kembali kesini pukul 2
kurang 5. Bantu aku bangun jika aku ketiduran lebih lama” Carla mengangguk paham, ia pun berjalan
meninggalkan ruangan jeslyn membiarkan gadis itu menenangkan dirinya sendiri.

Mereka melanjutkan interview setelah tertunda istirahat dan kini semua berjalan dengan rapi sesuai
dengan yang di harapkan oleh jeslyn. Pendidikan pun di mulai selama 1 minggu hingga penyelesaian
renofasi hotel pun di lakukan.

Jeslyn meminta agar keberadaa kantin hotel di sertai dengan kolam renang yang estetik, di sesuaikan
dengan kolam rengan yang berada di puncak Gedung hotel. Kini sebulan berlalu hotelpun telah
mulai di buka. Promosi secara besar dilakukan dan benar saja marketing yang jeslyn saran kan
berjalan dengan baik.

“apa bunda akan ke sini?. Bukan kah bund akatakan dalam sebulan akan menyusul ku. Je
merindukan bunda. Atau bagaimana jika je yang kesana?. Baiklah, bunda sehat-sehat disana apa
lagi cuaca disana sedang tidak teratur. Iya, bukankah dokter sudah mengabari bunda? Iya tidak
akan dilewatkan bundaaa. [Link] you too”

Je mengernyit saat melihat Carla yang memasuki ruangannya tanpa dia panggil. “kau melewatkan
makan siang mu?” tanya Carla yang paham dengan tatapan mendesak milik jeslyn. “bagaimana kalau
hari ini kita makan di luar?” dengan senyum kecil mengangguk.

“aku boleh makan apa aja kan?” tanya je sambil meraih ponselnya. Carla menagngguk mengiyakan,
ia mulai menyadari sifat manja jeslyn sejak mereka dekat. Gadis itu seperti bayi kecil yang selalu
haus akan perhatian. Dan Carla selalu menjadi sosok kakak yang selama ini jeslyn tidak pernah
dapatkan.

Mereka berjalan dengan jeslyn yang merangkul Carla dengan santai. “kalian mau kemana?” tanya
denaya yang tanpa sengaja melihat Carla dan jeslyn yang akan emmasuki mobil.

“mau makan siang, ibuk mau bergabung?” ujar Carla sopan.

“apa boleh?”

Carla menoleh pada jeslyn dan gadis itu mengangguk setuju yang membuat denaya tersenyum lebar.
Hari ini mereka memutuskan untuk tidak kembali bekerja dan menghabiskan hari untuk bersantai.
Jeslyn pun yang sosok tertutup kini tampak menikmati hari menjadi sosok dirinya sendiri. Denaya
tiada henti-hentinya memanjatkan Syukur setiap kali jeslyn memeluknya tanpa sadar.
“apa terjadi sesuatu hari ini, de?” tanya azka yang baru saja kembali dan menemukan denaya yang
masih terus tersenyum. Denaya mengangguk dengan riang. “kau tidak ingin bercerita?”

“aku menghabiskan hari Bersama jeslyn seharian”

“oh my god”

Denaya menyerahkan ponselnya yang menunjukkan potret ke akrabann dirinya dan jesly. “lihat dia
merangkul ku dan tersenyum tulus”

Azka menyeka sudut matanya setiap kali menggeser layer ponsel adijnya dan melihat kedua adiknya
tampak dekat. Ia kemudian mengelus sayang puncak kepala denaya dengan senyuman tulus. “kami
membuat janji akan kebali dan kau harus ikut” ujar denaya yang di saut azka dengan anggukan
antusias.

Di tempat lain jeslyn tampak duduk termenung di salah satu kaffe, dia memutuskan untuk keluar
setelah membersihkan dirinya dna berganti pakaian. Ia ingin menenangkan fikirannya yang
berkecamuk seharian ini, mencoba meneliti perasaannya yang merasa nyaman saat berada di dekat
denaya. Ia juga merasa aman setiap kai berkumpul Bersama azka dan denaya, dan ada perasaan
tenang setiap kali azka mengelus puncak kepalanya.

Atau ada perasaann bangga saat azka memberikannya ucapan selamat, meski terkadang ia merasa
apa yang ia lakukan ada yang salah. Namun pria itu tidak menunjukkan kemarahan, ia hanya
mengatakan dengan lembut karyanya bagus namun harus ada yang di perbaiki sedikit. Dan sialnya
setiap kata-kata azka seperti air sejuk yang menenangkan.

“boleh aku bergabung?” jeslyn tersentak dan entah mengapa dia terpana pada aland yang malam ini
berpenampilan santai. Aland menggerakkan tangannya keatas dan kebawah saat melihat jeslyn yang
masih terpaku.

“ah..silahkan” ujar jeslyn begitu tersadar namun gadis itu tidak bisa menghilangkan debaran
jantungnya yang menggebu.

“aku tidak melihat Carla”

Jeslyn mengedikan bahunya. “Carla butuh istirahat dan ini juga sudah bukan jam kerja” aland
mengangguk paham. “kau tinggal di dekat sini?”

“tidak” jawab aland santai. “kenapa kau berfikir seperti itu?”

“karena hampir semua pengunjung kaffe ini tinggal di dekat sini”

“bagaiaman kau tau?”

“aku sudah terlalu sering disini dan setiap kali pulang kami selalu searah”

Aland tersenyum kecil mendengar jawaban polos jeslyn, menunjukkan jika gadis itu memang tidak
lah suka keluar. “aku baru menemui klien di depan sana, dan tidak sengaja melihat mu. Jadi aku
sekalian mampir saja menemani mu yang sepertinya kesepian”

“apa aku terlihat kesepian?”


“tidak-tidak” jawab aland saat menemukan wajah serius jeslyn. “aku hanya bercanda” lanjutnya
yang membuat jeslyn sedikit salah tingkah. Lambat laun jeslyn mulai bersikap santai dan tampak
lebih terbuka saat berbincang dengan aland.

Hotel keluarga salim semakin membaik dan semakin layak bersaing kepasaran, kedekatan jeslyn dan
kedua saudaranya pun semakin menunjukkan jalan yang baik. Meski jeslyn belum mengenal siapa
mereka yang sebenarnya, setidaknya ia Sudha mulai mau bergaul dengan azka dan denaya.

Jeslyn juga memiliki hubungan yang baik dengan aland yang secara berlahan ia mengetahui arti
perasaan nya bukanlah kagum namun ada perasaann suka. Dan jeslyn dengan sejuta gengsinya
memiliki harga diri setinggi langit hanya memilih untuk memendamnya dan menyimpan untuk
dirinya sendiri. Namun Carla dapat mengetahui perasaan tersembunyi jeslyn yang terkadang
membuat Carla tersenyum kecil melihat tingkah canggung jeslyn saat Bersama aland.

Hari ini jeslyn menghabiskan hari bekerja di luar kantor, ia benar-benar hanya berpindah-pindha
Lokasi untuk membicarakan pekerjaan dengan klient mereka. Ia akhirnya memilih istirahat di sebuah
caffe yang cukup menenangkan. Carla yang melihat jeslyn kelelahan dan teringat jika gadis itu belum
memakan nasi di jam makan siang mereka pun. Memutuskan untuk memesan langsung tanpa harus
menunggu jeslyn.

Jeslyn baru akan menutup matanya saat tanpa sengaja ia melihat denaya dan aland yang baru
memasuki caffe yang sama dengannya. Namun ada yang berbeda dengan keakraban denaya dan
aland dalam pandangan jeslyn. Ia memutuskan memindahkan tempat duduknya berada di balik
tembok tepat bersebalahan dengan tempat denaya dan aland. Ia juga menyempatkan diri untuk
mengirimkan pesan pada Carla posisi dirinya saat ini.

“kau tampak Bahagia akhir-akhir ini de?” tanya aland lembut dengan senyuman ramah khas milik
pria itu.

Denaya mengangguk riang dan siapapun yang berada di sana dapat melihat dengan jelas gadis itu
memang sedang Bahagia. Dan orang-orang juga dapat melihat gadis itu tidak hanya Bahagia dalam
karir namun juga tampak sedang jatuh cinta.

“kondisi hotel semakin baik, aku dan jeslyn juga semakin akrab” ujar denaya riang, jeslynn yang
masih dapat mendengar hal itu mengernyit bingung.

Jeslyn meletakkan jarinya tepat di bibirnya saat melihat Carla mendekati mejanya, I ahanya
memberikan kode agar Carla dapat duduk dengan tenang tanpa bertanya papun.

“apa akrab dengan jeslyn sungguh semenyenangkan itu?” tanya aland kembali.

Denaya mengangguk penuh antusias. “bukankah dia sangat menggemaskan. Aku sangat bersyukur
dia mau bergaul dengan ku”

“apa lagi yang membuat mu Bahagia selain itu?”

“apa maksud mu?”

“aku tau kau tidak hanya sedang Bahagia bisa dekat dengan jeslyn, mata mu menunjukkan kau juga
sedang jatuh cinta, de”
Denaya tersenyum malu-malu berbeda dengan jeslynn yang tampak membeku. Carla berkali-kali
memberi kode agar mereka pergi namun tatapa tajam jeslyn telah menjawab penolakan gadis itu.

“apa hal itu terlihat dengan jelas?” tanya denaya malu-malu. Tidak terdengar perbincangan selama
beberapa detik hingga denaya kembali bersuara. “aku memang sedang menyukai seseorang”.

Jeslyn merasa dunianya membeku kembali seketika mungkin, ia mendorong kasar kursinya yang
cukup menarik perhatian semua orang.

“jes…”

Jeslyn melangkah dengan cepat di ikuti oleh Carla mengabaikan panggilan denaya yang juga
tersentak mendengarkan suara decitan kursi jeslyn. Gadis itu memasuki mobil yang di ikuti Carla
mengabaikan teriakan denaya yang memanggil Namanya.

“jalan Carla” perintah jeslyn tegas. Carla hanay mampu melirik denaya yang berada di belakang
Bersama aland.

“apa dia tidak mendengar ku?” tanay denaya pada aland.

“ku rasa seperti itu, tidak mungkin dia mengabaikan mu kan?” ujar aland mencoba menenangkan
denaya. “ayo sebaiknya kita selesaikan makan siang dan bergegas kembali ke hotel”

“apa meteang hari ini tidak berjalan baik?” gumam denaya kembali.

“kau bisa menanyakannya nanti saat bertemu dnegan jeslyn, de” jelas aland kembali meyakinkan
denaya.

Jeslyn memutuskann kembali ke rumah selain ia merasa moudnya hancur ia juga dapat merasakan
kondisi tubuhnya sedang tidak baik karena mengabaikan makan siangnya. “non, apa kau sakit?”
tanya bik sumi khawatir yang melihat raut pucat gadis itu.

“bik jangan katakan pada bunda” jelas jeslyn penuh permohonan. “siapkan aku sup dan air hangat
saja, setelah berberes aku akan makan” lanjutnya mencoba menenangkan Wanita paruh baya itu.

Jeslyn meneruskan langkahnya menuju kamar. “je, melupakan makann siangnya dna dia benar-
benar hanya bekerja seharian ini”jelas Carla menjelaskan kondisi jeslyn.

“ya ampun, gadis itu apa tidak menyayangi tubuhnya” bik sumi mulai beranjak ke dapur menyiapkan
sup yang di minta jeslyn. Carla yang masi berada di tempatnya hanya memandangi pintu kamar
jeslyn.

Ia tau moud gadis itu hancur karena mendengarkann percakapan singkat tadi. Namun siapa yang
bisa menangani gadis itu jika ia sudah dalam kondisi buruk seperti ini.

Seminggu berlalu jeslyn tidak bekerja, setelah hari mencekam itu jeslyn terjatuh sakit seperti prediksi
bik sumi. Carla mengirim kabar hanya mengatakan jika jeslyn tidak sehat dan melarang azka serta
denaya datang untuk menjenguk. Sebab Carla tau kehadiran mereka hanya akan membuat je
semakin memburuk. Ia bahkan menolak semua panggilan orang termasuk aland.
Jeslyn turun dari kamar dengan penampilan yang rapi namun semua orang dapat menebak jika gadis
itu masih kurang sehat dari raut pucatnya. “kau bisa istirahat lebih lama je”

“hari ini adalah Keputusan final untuk Pembangunan hotel baru, aku ahrus mengahadiri rapat”

“pak azka dan buk denaya bisa mengatasinya, tadi mereka menghubungi ku”

Jeslyn melirik Carla tidak suka. “ini proyek ku dan aku yang harus menanganinya langsung”

“tapi kau belum sehat je”

Gadis itu melirik sinis Carla.”aku yang tau sendiri kodisi tubuh ku”

“Tap..”

“kau ikut atau aku akan pergi sendiri” ujar jeslyn tegas memotong ucapan Carla.

“non boleh pergi kalau suda memakan sarapan dan obat ini” sela bik sumi tegas yang tidak akan bisa
jeslyn bantah.

Carla tersenyum simpul saat melihat jeslyn merengut kesal tidak bisa membantah Wanita apruh
baya itu. Gadis itu tidak akan bisa berkutik jika berhadapan dengan ibunya serta bik sumi.

Azka terkejut hebat saat melihat kehadiran jeslyn yang sudah sangat menyerupai mayat hidup. Ia
melirik pada Carla yang hanya di berikan gedikan bahu gadis itu yang mengartikan tidak ada yang
bisa mengalahkan keras kepala jeslyn. Pria itupun mendesah pasrah dan tampak sangat khawatir.

“apa kau baik-baik saja?” tanya azka lembut, jeslyn hanya mengangguk mengiyakan azka. “aku dan
denaya bisa mengatasi hal ini, je” lanjut azka mencoba membujuk jeslyn.

Jeslyn meririk sinis azka yang membuat pria itu meneguk air liurnya berat. “aku akan tetap ikut rapat
meski aku akan mati detik ini”

Gadis itu tidak berhenti memijat kepalanya yang terasa menyakitkan dan hal itu tidak bisa lepas dari
pandangan azka. Ia berdiri dengan tegas hingga meraik perhatian semua orang. “rapat kita tunda 3
hari”

“why” tanya jeslyn tidak terima dengan Keputusan azka.

“karena kau terlalu keras kepala untuk istirahat maka sebagai pemimpin di sini aku ingin rapat di
tunda” azka menoleh pada jeslyn yang mencoba membantahnya. “meski kau pemegang saham
terbesar aku masih seorang pemimpin yang Keputusan ku adalah finalnya”

Jeslyn menutup rapat mulutnya, ia menatap azka penuh amarah lalu ia mulai beranjak dari
duduknya meninggalkan ruang rapat. Ia berpapasan dengan denaya namun ia hanay menunjukkan
raut wajah kemarahan.

“kak..”

“dia harus istirahat dan aku yakin ini Keputusan yang tepat, benerkan carl?” Carla mengangguk
mengiyakan.
Denaya hanya mampu menatap punggung jesslyn yang mulai menghilang saat gadis itu memasuki
sebuah ruangan yang merupakan milik jesslyn. Ia sangat mengkhawatirkan jesslyn namun ia tidak
bisa melakukan hal itu, ia ingin memainkan perannya sebagai seorang kakak Perempuan yang
mengkhawatirkan adiknya. Namun mengingat kondisi jesslyn yang buruk selalu membuatnya
memudarkan harapannya. Ia harus kembali berlapang dada dan semua itu untuk Kesehatan jesslyn.

“aku benar-benar ingin merawatnya”

“sabar de, sebentar lagi hal itu bakal bisa kita lakukan”

Jesslyn merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada dalam ruangan kerjanya. Ia masih meraskan
sakit kepala yang luar biasa, sakit yang ia terima karena kondisi tubuhnya dan pekerjaannya. Ia baru
akan memejamkan matanya namun wajah ibunya melintas di benaknya dan rasa rindu membuncah
di dadanya. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu dan hanya menegur sapa dari sebuah chat
atau telfonan singkat. Di karenakan perbedaan waktu yang cukup jauh di antara mereka berdua.

“bunda I miss you. Sudah lebih baik kok. Aku bener-bener merindukan mu, aku berharap kau segera
mengizinkan ku kembali atau bund ayang kesini. Entahlah aku hanya merasa sangat jenuh. Ok, I love
you”

Jesslyn memutuskan keluar dari ruangan setelah merasa tak bisa beristirahat dengan tenang di
dalam ruangannya. Dan ia menemukan aland yang berdiri di depan pintunya dengan tangan yang
ingin mengetuk ruangannya.

“kau ingin keluar?” tanya aland dengan senyum canggung miliknya. Jesslyn mengangguk
membenarkan membuat pria itu tersenyum lebar. Aland menarik lembut tangan jesslyn yang
membuat gadis itu mengernyit bingung namun tampak tak berniat untuk mendebatnya, selain rasa
lelahnya dan sakit di tubuhnya ia juga penasaran kemana pria itu akan membawanya.

Setelah melalu jarak tempuh yang cukup jauh, mereka tiba di sebuah rumah yang berada di
pedesaan. Jesslyn mengikuti Langkah aland yang keluar dari mobil namun gadis itu tidak bisa
memalingkan pandangannya dari bangunan klasik yang di buat dari kayu-kayu pilihan . ia kembali
mengedarkan pandangannya kesekeliling yang terlihat hanya pohon-pohon pinus dan di sekitar lain
tampak sebuah taman kecil yang di penuhi bunga-bunga indah. Ia berbalik ke belakang lalu
menemukan pandangan indah susunan rumah-rumah dan sawah-sawah yang membuat terlihat
sangat indah.

Jesslyn sedikit tersentak saat sebuah selimut tebal terbalut di pundaknya, ia menoleh ke kanan dan
menemukan aland yang tersenyum lembut cukup membuat hatinya berdegub memburu dengan
cepat.

“aku sering kesini di saat merasa jenuh dan Lelah, tempat ini selalu menjadi tempat ku
menenangkan diri dan mengistirahatkan tubuh ku” aland melirik jesslyn sesaat dengan senyuman
kecilnya. “dan kau satu-satunya orang yang pernah ku bawa kesini, de dan azka bahkan tidak tau aku
memiliki rumah ini”

Je masih memilih untuk diam menikmati pemandangan yang sudah teramat sulit ia temukan di kota-
kota besar. “kenapa kau membawa ku kesini jika tempat ini special untuk mu?”
Aland menarik nafas kuat “mungkin karena kau special untuk ku” je dengan cepat menoleh pada
aland yang juga menatapnya dalam hingga beberapa menit mereka saling beradu pandang hingga
jesslyn dnegan cepat memalingkannya. Ia kembali teringat keakraban de dan aland yang menjadi
salah satu pemicu drop tubuhnya.

Pria itu mendekati jesslyn lalu kembali menarik tangannya dengan lembut, ia membawa jesslyn
memasuki rumah itu dan je kembali merasa kagum menemukan isi rumah itu yang tampak seperti
kediaman nya di swis. Rumah peristirahatan yang selalu ia singgahi dna hanya dirinya yang tau
mengenai rumah itu.

Je berjalan kea rah sofa yang terletak di dekat jendela dan ia kembali dapat melihat keindahan alam
di sana. Aland yang melihat je duduk dengan sorot mata yang memandang jauh tampak tak terlihat
kebahagiaan di sana. Ia terkadang suka bertanya-tanya saat menemukan tatapan kosong je, apa
yang gadis itu fikirkan hingga ia bisa terlihat sangat rapuh, namun ia juga terkadang menemukan
tatapan yang teramat sulit aland artikan, gadis di hadapannya itu selalu memasang tembok tinggi
yang teramat sulit untuk di panjat siapapun.

Aland memutuskan meninggalkan je sendiri dan melangkah menuju dapur awalnya ia hanya
memandangi dapur tampak berfikir.

“kau punya apa saja?” aland terlonjak kecil terkejut dengan kehadiran je yang tiba-tiba. Je
melangkah lebih menuju kulkas saat tak menemukan jawaban apapun dari alan, ia tersenyum kecil
melihat isi kulkas yang cukup lengkap.

Je meletakkan selimut nya di atas kursi lalu mulai menggulung lengan baju nya yang cukup Panjang.
Ia kemudian megeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas. “biar aku yang membuat makan
malam kau bisa isti..”

“aku tau kau tidka bisa memasak”

“bagaimana kau tau?”

“kau tidak mungkin tidka tau isi kulkas mu jika hanya kau yang mendatangi rumah ini” aland
menggaruk Pundak nya sungkan. “kau tenang saja aku masih sanggup memasak untuk kita makan”

“kau bisa?”

Je mengernyit kesal mendengar nada tak percaya aland, je mulai meracik bumbu yang ada di
hadapannya. “saat bunda sibuk bekerja aku suka melihat acara memasak di tv dan untuk
menyenangkan diri ku sendiri aku mulai mengikutinya. Dan dulu memasak adalah kesenangan ku
saat aku merasa kesepian”

“realy?”

Gadis itu mengangguk kecil, aland pun terlihat mulai duduk di salah satu kursi menunggu kelanjutan
cerita jesslyn. “sejak bunda membawa ku ke LA, dia mulai di sibukkan dengan pekerjaannya dan
hanya memiliki sedikit waktu bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk menemani ku. Dan setiap
aku merasa sangat kesepian aku akan mulai memasak”
Aland tertegun sejenak. “dan kau tau, suara api, minyak yang memanas, air yang mendidih dan
bahkan suara air yang mengalir membuat ku merasa sedikit berisik. Hal itu selalu berhasil memuat
mod ku membaik”

“apa ibu mu tau kau bisa memasak?”

Je menggeleng. “dia selalu melarang ku kedapur”

“why?”

“aku pernah hampir membakar rumah kakek saat awal-awal belajar” jesslyn terkekeh kecil yang
kembali membuat aland terpaku. Tawa lepas je yang tidak pernah aland lihat selama ia mengenal
gadis itu. “sejak saat itu aku memutuskan menggunakan dapur saat bunda ke luar kota, Tengah
malam saat semua orang tidur atau saat aku benar-benar merasa sangat kesepian”

Aland berdiri dari duduknya, ia tidka bisa mendengarkan semua cerita-cerita je, ia hanya berfokus
pada wajah cantik je yang masih tersenyum indah. Je melebarkan matanya saat aland mendekapnya
lalu bibir tebal pria itu menyatu di bibirnya, pria itu melumat dnegan lembut bibir je yang berasa
cerry. Manis dan sangat lembut.

Je mendorong tubuh aland saat ia mulai kehabisan nafas, dan saat itulah aland tersadar untuk
perbuatannya. “kau bisa menunggu ku di depan, saat masakan selesai aku akan memanggil mu” ujar
je gugup.

Aland berbalik dengan cepat lalu melangkah meninggalkan je yang masih terpaku dnegan kegiatan
sesaat mereka. Je memegang dadanya yang berdetak dengan cepat, ia pun tampak kebingungan
untuk melanjutkan kegiatannya.

Di sisi lain aland tampak uring-uringan, ia selalu merasa akan lepas kendali jika berada di sekitar je
namun ia merasa sangat buruk karena saat ini ia tidak bisa menahan dirinya sendiri. Ia berbalik
menatap dapur yang berada di hadapannya namun terhalang sebuah tirai hingga menutupi je yang
berada di sana. Alan kemudian tersenyum kecil mengingat hal yang ia lakukan barusan.

Jesslyn dengan cepat menyelesaikan makan malam, ia kemudian meletakkan piring kotor di dalam
bak cuci piring. “kau yang membereskannya” ujar jesslyn sebelumeninggalkan aland yang terkekeh
geli dengan tingkah je yang sejak tadi tidak dapat melihat wajahnya.

Aland mengambil tempat tepat di hadapan je, menatapnya dalam yang membuat gadis itu tampak
gelisah. “je” panggil aland lembut. “aku tidak akan meminta maaf untuk perbuatan ku tadi” gadis itu
dengan cepat menatap aland penuh keterkejutan.

Aland beranjak dari duduknya lalu mendekati je dengan lembut ia meraih jemari-jemari je. “aku tau
kau paham maksud ku, dan aku yakin kau tau maksud ku”

“bukan kah kau dengan de?”

“what?” je menggaruk pundaknya yang terasa gatal mendadak dan aland tau ada yang salah di
artikan oleh gadis di hadapannya. “jangan bilang kau menghindari ku selama ini karena hal itu?”
aland memutar tubuh je agar berhadapan dengannya, ia mendekap gadis itu saat ingin menauhinya.

“aku tidak akan melepaskan mus ebelum kau menjelaskan nya”


“aku tidka sengaja mendengar perbincangan kalian dan de mengungkapkan perasaannya pada mu”

Aland sedikit tersentak saat mengingat awal je menghindari dirinya dna de. “apa saat kau ke caffe
setelah rapat saat itu?” je menggeliat gelisah dan aland semakin mengeratkan pelukannya. “apa
karena itu kau mengabaikan kami?”

Je mengangguk kecil, aland terkekeh yang membuat jesslyn merengut tak suka. Satu lagi ekspresi je
yang membuat aland merasa ingin memeluk gadis itu lebih lama. “kau seharusnya bertanya pada ku
dan de”

“for what?”

“agar otak kecil mu tidak memikirkan hal aneh itu” aland menoyor lembut kening jesslyn. “dia
bercerita pada ku kalau dia menyukai seseorang yang sudah dia kenal lama dan pria itu bukan aku”

“bagaiaman kau tau?”

“karena de tau dia hanyalah seorang adik untuk ku, dan bagi ku dia hanya seorang adik seperti yang
dia tau. Dan aku tidak mungkin bisa menyukainya”

“why?”

“karena aku menyukai mu dan sejak aku menyadari perasaan ku, bisa ku pastikan aku hanya akan
meletakkan hati k uke lo, jesslyn”

Aland mendekap jesslyn semakin erat seakan takut gadis itu pergi meninggalkannya. Je merasa
hatinya menghangat, ia dengan berlahan membalas pelukan aland dan pria itu tau ia telah berhasil
memenangkan hati je. Dan ia akan berjanji untuk dirinya akan melindungi je sesuai janjinya pada
adiknya juga.

Je tertidur dalam dekapan aland dengan suhu tubuh yang kembali memanas, aland terus merawat je
dan tak meninggalkan gadis itu sedikit pun. Ia memandangi wajah pucat je yang terlelap, dan saat je
menggigil ia akann semakin mengeratkan pelukannya.

Aland membawa jesslyn kembali setelah ia memastikan gadis itu istirahat penuh selama seminggu.
Dan kembalinya mereka dengan seribu persyaratan yang di berikan oleh aland, je memutuskan
menurut agar ia bisa kembali bekerja seperti biasa. Ia juga berjanji akan benar-benar melakukan
hidup sehat seperti makan dengan teratur dan mulai berolahraga sesekali.

Gadis itu memasuki kantornya dengan raut wajah yang lebih fres, ia juga terus tersenyum yang
membuat semua ornag menatapnya ngeri. Je baru saja duduk di kursinya saat Carla memasuki
ruangannya dengan sebuah map yang ia Yakini sebuah laporan pekerjaan yang Sudha ia abaian
selama beberpaa minggu ini.

“kau tampak berbeda” ujar Carla yang sejak atdi menyaksikan tingkah jesslyn. “tapi aku senang kau
banyak berubah setelah istirahat” lanjut Carla dengan kerlingan jahilnya. Dan jesslyn mengetahui
maksud itu yang membuat wajahnya seketika memerah karena malu.

“katakan apa yang membawa mu ke sini”


Carla bedehem sebentar lalu ia mulai membuka map yang sejak tadi ada di tangannya. “kau akan
melakukan perjalan bisnis ke bali atau lebih tepatnya melihat langsung Lokasi hotel baru kita”

“what?”

“yes, kita memenangi hotel itu dan karena kau yang berusaha keras mendapati hotel itu maka kau
yang mendapat mandat untuk terjun langsung melihatnya kesana”

“oh My God. I’m so happy, car”

“me too for you”

“ok, kalau begitu siapkan rapat sekitar 2 jamm lagi dan kita akan siapi team yang akan ikut kesana”

Carla mengangguk setuju, iapun mengundurkan diri dari ruangan jesslyn dengan senyum
merekahnya. Sedangkan jesslyn dengan cepat meraih ponsel untuk menghubungi seseorang.

“bundaaaa, aku mendapatkannya. Bunda akan nepati janjikan. Nanti saat aku sudah mendirikannya
akan ku ceritakan semuanya pada bunda, dan saat aku sudah mendapatkannya aku akan
mengatakannya. Yes, I’m promise. Love you too”

Jesslyn membentuk 7 orang team yang akan ikut dengannya ke bali dan akan menjadi team inti
pengembangan hotel. Ia sudah cukup lama meneliti ketujuh orang tersebut dan ia bisa jamin
pekerjaan mereka yang rapi dan cekatan. Sesuai seperti yang ia harapkan, dan jangan pernah
ragukan penilaian jesslyn untuk urusan pegawai, karena ia teramat cukup lihai untuk urusan hal itu.

Hari ini jeeslyn memutuskan menghabiskan hari dengan aland mengingat ia akan menetap di bali
cukup lama.

“apa kau harus di sana selama itu?” tanya aland yang mengekori jesslyn di dapur menyiapi makan
siang mereka. Jesslyn mengangguk membenarkan hal itu. “untuk apa? Kau bisa menyerahkan
pekerjaann itu pada Carla”

Jesslyn menghentikan gerakannya lalu menoleh pada aland yang merengut seperti anak kecil. “aku
Sudah lama menargetkan hotel itu” aland mengernyit bingung, jesslyn menghela nafas kecil. “nanti
aku akan ceritakan semuanya, termasuk alasan ku memutuskan untuk terjun langsung menangani
hotel ini dan nama apa yang akan ku buat disana”

Aland sedikit mengernyit dan kembali menormalkan rautnya saat menemukan kesungguhan jesslyn
yang terlihat jelas. “kalau begitu berjanji pada ku”

“apa?”

“kau akan makan teratur, istirahat yang cukup dan selalu menghubungi ku”

“kau bsia kesana menyusul ku, aland”

“akann berbeda je.”


Aland memberengut dan tampak sangat mencemaskan jeslyn yang membuat gadis itu kembali
menghela nafas. “ok, aku akan menuruti kata-kata mu. Dan kau bisa menanyakan semua
kesungguhan ku”

Pria itu memeluk jesslyn erat ada perasaan khawatir yang mendadak ia rasakan namun melihat
kesungguhan gadisnya ia tidak dapat mematahkan hal itu. Aland kemudian meninggalkan je
sendirian di dapur ia meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“siapkan pengawasan untuk je selama di bali. Aku akan ke New York dan lakukan saja yang ku
perintahkan dalamm jarak aman.”

“apa semua sudah siap?” leo mengangguk mengiyakan ucapan bosnya.

“aku sudah menyiapkan semua yang anda perintahkan” jelas leo tegas. “dan selama nona muda di
bali anda bisa melakukann trapi dengan dokter yang sudah saya reserpasi”

Wanita itu mengangguk. “apa pertemuan juga sudah kau atur?”

“sudah Nyonya, semua urusan telah ku atur selama nona muda tidak di Jakarta dan semua
kerahasiaan juga sudah kupastikan terjaga”

“lalu bagaimana dengan mereka?”

Leo semakin memasang raut tegas yang tdiak terbantahkan. “sejauh ini mereka belum melakukan
pergerakan” kiara mengernyit tidak menyukai jawaban leo.

“bagaimana dengan keamanan je?”

“aku menemukan aland menyiapkan keamanan yang ketat di sekitar nona muda”

“aland?”

“pria yang kini menjadi kekasih nona muda dan pemilik salah satu Perusahaan keaman terbaik di
Dunia” leo sedikit berdehem. “dan dia kakak dari salah satu korban yang berada Bersama nona
muda saat itu”

Kiara menoleh dengan cepat menatap leo sinis. “aku sudah pastikan dia hanya ingin melindungi
nona je”

“maksud mu?”

“stevani adalah gadis yang di selamatkan nona muda saat itu dan dia meninggal bunuh diri karena
berfikir nona je meninggal saat ia selamat”

Kiara meremas kuat jemarinya, kenangan itu selalu cukup membuatnya merasa ketakutan. Dan rasa
trauma saat ia menemukan anaknya dalam keadaan kritis cukup membuat ia sangat hancur hingga
keakar-akarnya.

Leo menyentuh Pundak kiara, cara ampuh yang dapat menyadarkan kiara agar tidak mengingat hal
itu lagi. Leo selalu menjaga keluarga brown sejak ia di selamatkan oleh kiara yang hampir mati
kelaparan saat itu. Dan semua pertolongan kiara terhadap adik nya juga menjadi salah satu alasan
dia dan adiknya bersumpah akan mengabdi kepada kiara dan jesslyn yang juga sudah seperti adiknya
sendiri.

Kiara menatap hampa kota LA dari dalam pesawat yang menunjukkan secerah apa kota itu, ia tidak
pernah berfikir akan menetap lama di situ namun masalalu kelam nya selalu membuat ia tertahan
disana. Kini ia memutuskan kembali kenegara Dimana ribuan luka nya terjadi. Namun demi putri
semata wayangnya ia mampu menahan rasa sakit dari luka-luka itu. Ia harus memastikan putrinya
benar-benar berada di tangan yang tepat.

Di kelilingi oleh orang-orang yang akan selalu melindunginya saat ia tidak bisa lagi melindungi gadis
itu. Ia harus memastikan semua kebutuhan gadis itu terpenuhi sampai tidak ada ruang lagi untuk ia
merasa kekurangan. Selain harta ia juga harus memastikan cinta yang di terima gadis itu benar-
benar tulus dan jujur.

Jesslyn memasuki hotel Bersama teamnya yang di sambut oleh beberapa orang yang merupakan
interior yang sengaja ia pesan dari jauh hari. Ia memandangi ruangan itu kesetiap sudut hingga ke
lantai atas yang masih tertata rapi.

“bali, jika nanti kita bebas ayo kebali dan membuat hotel yang indah seperti milik ibu mu” jesslyn
meremas kuat tasnya dengan raut sedih dann hal itu tidak luput dari pandangan Carla. Jesslyn tanpa
sengaja menoleh pada Carla dan dengan cepat ia mengubah mimic wajahnya.

“aku sudah melihat dekor mu dan aku menyukainya. Namun aku ingin kau menambahkan sebuah
lukisann di receptionis”

“bisa aku melihat lukisan itu?” je mengangguk mengiyakan ia kemudian emngeluarkan ponselnya
lalu membuka galeri disana.

Carla melebarkan matanya saat mengenali sosok orang yang ada di dalam lukisan itu. “aku mau
ruangan ini semakin hidup dengan kehadiran dia”

“siapa dia?”

“Seseorang yang tidak akan pernah bisa ku lupakan, dan aku ingin hotel ini memiliki perasaan yang
membuat orang akan selalu berfikir untuk terus hidup”

Carla berbalik dengan cepat saat merasakan sesuatu yang mengintai mereka. Ia selalu merasa
gelisah sejak kehadiran mereka di bali dan selalu merasa cemas setiap detik, dan setelah ia melihat
lukisan milik je membuatnya semakin merasa waspada. Ia kembali menoleh pada jesslyn yang
menatapnya dengan lebih tegas dan Carla menemukan sesuatu yang di sembunyikan jesslyn selama
ini.

Jesslyn berbalik menatap ke7 teamnya. “kalian Sudha boleh langsung mengaudisi karyawann yang
akan bekerja disini” jelas jesslyn. “dan kau Carla bisa ikut aku meneliti desain”

Carla mengernyit bingung namun ia menurut tanpa banyak bertanya. Mereka tiba di sebuah caffe
yang berada bersebrangan dengan hotel milik jesslyn.

“aku merasa memiliki janji untuk membangun hotel disini”


“what?”

“aku selalu bermimpi kemasa kecil ku, dan aku memiliki seorang temann yang ingin membangun
hotel di bali seperti milik bunda. Dan kau tau sejak aku melihat bangunan hotel serta lokasinya aku
merasa sangat cocok dengan karakter gadis itu”

“apa kau ingat siapa dia?”

Jesslyn menggeleng. “aku hanya ingat dia menamai dirinya vani” Carla membeku di tempatnya
sedangkan jesslyn tampak menunjukkan raut pilu. Gadis itu memijat kepalanya pelan “dan kau tau
car, setiap kali aku mencoba mengingat vani kepala ku terasa ingin pecah”

“kalau begitu jangan mengingatnya”

“tapi aku merasa kami memiliki keterikatan yang kuat”

“itu karena kau selalu memimpikannya, sekarang kau hanya perlu focus pada hotel baru mu”
jesslynn mengangguk setuju dengan ucapan Carla.

Carla memutuskan duduk di pinggiran kolam renang setelah memastikan jesslyn istirahat. Ia selalu
merasa gelisah sejak tiba di bali, ia tidak pernah menyangkal dari rasa hati-hatinya. Carla
memutuskan menghubungi leo yang baru saja mendarat.

“aku merasa ada yang mengawasi kami. Aku sudah meletakkan semua keamanan pada nona muda.
Iya, aku akan terus menghubungi mu, kak”

Jesslyn terbangun dari istirahatnya saat merasakan dahaganya yang kering, ia baru akan beranjak
dari kamarnya saat suara dentingan pesan masuk terdengar. Ia meletakkan kembali gelasnya lalu
meraih ponselnya. Ia mengernyit saat isi pesan menyuruhnya untuk membuka email.

Ia beralih pada laptopnya lalu membuka emailnya disana, ada sebuah pesan yang berisikan
beberapa foto dan video.

Jesslyn merasakan sesak seketika saat ia membuka sebuah video Dimana menunjukkan didirnya
yang berusia 10 tahun dalam sebuah Gedung tua dan gelap. Ia juga bisa melihat seseorang yang
tergeletak tak bernyawa ada di sana.

Gadis itu semakin melebarkan matanya saat melihat stevani yang selama ini ada di mimpinya berada
di dekatnya sambil menangis. Jesslyn kecil mendekati setvani mencoba menenangkan diri gadis kecil
itu.

Dorr…

Laptop milik jesslyn hancur seketika dan saat itu pula semua ingatan yang selama ini tertutup rapat
dalam memori ingatan je kembali terbuka. Ingatan kelam yang membuat tubuh je dalam seketika
menegang kaku.

Brak…
Carla mendekati jesslyn yang kiti hanya diam membeku dan tak berapa lama pria-pria asing pun
memasuki kamar milik jesslyn dan sisanya tampak berlari melompati jendela kamar jesslyn untuk
mengejar seseorang yang belum sempat di lihat gadis itu.

“je..je” teriak Carla sambil menampar pelan pipi jesslyn untuk mengembalikan kesadaran nya. “ku
mohon je lihat aku” teriak Carla kembali namun kini ia sudah memeluk tubuh kaku je dnegan erat
dengan isakan-isakan kecilnya.

“ak…ak…aku ti..tidak bermimpi car” bisik je sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran.

Suara derap high heels memenuhi koridor rumah sakit yang hening, di sudut lain tampak Carla yang
sudah berdiri dengan air mata yang membasahi pipinya menatap kiara penuh penyesalan. “jelaskan
pada ku”

“maafkan aku Nyonya besar”

“jelaskan smeuanya Carla” ujar kiara kembali dengan lebih tegas dan tatapan penuh membunuh.

“aku mendengar suara tembakan saat selesai menghubungi leo, dan saat aku kekamar nona muda
dia sudah dalam keadaann kaku. Dia hanay bergumam memgatakan jika dia tidak bermimpi”

Kiara hampir terjatuh jika leo tidak memeganginya dengan cepat. “lanjutkan”

Carla baru akan melanjutkan ceritanya saat seseorang berlari dnegan cepat mendekati mereka.
“kami menemukan pelaku penembakan dan sudah menemukan Lokasi sindikatnya”

Kiara mencoba berdiri dengan kuat saat mendengar informasi yang selama ini selalu ia cob acari.
“katakan Dimana”

“di Brazil”

“leo hubungi semuanya dan pastikan mereka di temukan lalu serahkan semua bukti pada kepolisian
LA” kiara berbalik menatap leo tajam. “kali ini mereka harus ditemukan dan aku tidak ingin ada satu
orangpun yang tersisa” leo mengangguk tegas ia kemudian menghubungi seseorang yang ia percaya.

“dan siapa kau?” kiara kembali menoleh pada pria lain yang masih berada di sana.

“dia orang suruhan aland” jelas Carla. “aland mengatakan pada ku telah membuat pengawasan
dalam jarak aman itulah kenapa mereka dengan cepat bergerak saat suara tembakann terdengar”

“kenalkan saya Roy, atau seseorang yang selalu mengawasi putri mu sejak ia berada di Jakarta. Saya
juga pria yang akan menikahi stevani gadis yang di selamati jesslyn jika tidak memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya karena merasa bersalah pada je”

Kiara memegangi kepalanya yang terasa sakit seketika saat mendengar penjelasan roy. Leo
membantu kiara untuk duduk di salah satu bangku tunggu, ia kembali menghubungi seseorang
setelah memastikan kiara sudah lebih baik.

Jesslyn Prov
“kak, vani takut” aku menelusuri setiap sudut ruangan gelap itu saat mendengar rengekan gadis
lainnya. Dan yah aku melihat gadis itu yang meringkuk dnegan tubuh bergetar.

Aku mendekatinya dan tubuhnya semakin bergetar hebat saat aku menyentuh pundaknya.
“tenanglah aku tidak akan menyakiti mu” ia berbalik dan menatap ku dengan raut wajah penuh
ketakutan.

“apa kau di culik?” aku mengangguk dan dia kembali terisak namun kali ini terdengar lebih
menyakitkan. “jangan mendekati ku”

“kenapa?”

“kau akan mati seperti mereka” jelasnya kembali meringkuk. “aku tidak ingin kau seperti mereka”

“kenapa kau berfikir seperti itu?”

“karena mereka semua didekat ku dan mereka mati” jelasnya dengan isakan-isakan menyedihkan.

Aku memeluk nya kembali mencoba menenangkan gadis yang lebih kecil dari ku. “aku tidak akan
mati dan akan terus melindungi mu”

“bagaimana bisa kau melakukan nya dengan tubuh kecil itu”

“kau harus percaya pada ku. Aku akan melindungi mu dan memastikan kau selamat”

Gadis itu memeluk ku kini dengan getaran yang sedikit lebih tenang, sedangkan aku
menyembunyikan rasa takut ku mencoba lebih kuat agar gadis kecil ini menenang.

Hari berganti hari, dan minggu pun telah berganti. Aku tidak menemukan tanda-tanda pertolongan,
aku semakin tertekan setiap harinya selalu ku lihat pembunuhan dari cela lobang kecil yang
menghubungkan ku dengan dunia luar atau lebih tepatnya hutan belantara. Setiap suara tembakan
terdengar aku dan vani yang merupakan teman kecil ku ini akan berpelukan meredam rasa takut
yang membuat kami berdua semakin menggila.

“saat kita bebas apa yang akan kau lakukan?” tanya ku di sela rasa sakit yang ku terima karena
melindungi vani.

Ia terisak sambil meniup luka-luka di tubuh ku. “aku akan mengadukan mereka pada kakak ku agar
mereka di hukum. Lalu memberikan mu banyak hadia karena terus Bersama ku”

Aku tersenyum mendengar celotehan nya. Aku menariknya lembut agar berbaring di samping ku
“lalu katakan apa Impian mu?”

“bali”

“hmmm?”

“aku akan mengajak mu ke bali lalu membangun hotel seperti milik ibu mu. Dan menjadikan hotel
itu salah satu hotel terbaik di dunia sama persis seperti milik ibu mu”
Aku menggeser tubuh ku agar dapat melihat raut vina yang tersenyum kecil, aku dapat melihat
sorot matanya yang menunjukkan keyakinan yang kuat. Dann hal itu membuat ku semakin
meyakinkan diri ku untuk membuatnya selamat dan kembali ke keluarganya.

“aku berjanji, kau akan kembali ke keluarga mu dan mewujudkan Impian mu”

“aku ingin kita berdua selamat dan pergi kebali Bersama-sama. Kau mau berjanji kan”

Aku mengangguk mengiyakan meski dengan pemikiran yang tidak bisa menjaminn hal itu. Berlahan
aku mulai memejamkan mata berharap esok rasa sakit ini akan kembali menghilang seperti
biasanya. Namun suara dobrakan kuat membuat ku kembali membuka mata dan mendorong vina
bersembunyi di antara tumpukan kardus yang kami buat untuk menyembunyikan tubuh kecil kami
berdua.

“apa kau jesslyn?” tanya salah satu orang dengan raut garang, aku mengangguk dengan ragu dan
ia tersenyum menjijikkan. “putri mu ada disini salim” tepat setelah ia mengatakan nama yang tidak
pernah ingin ku dengar pintu masuk kembali terbuka dan di balik silau Cahaya yang berasal dari luar
itu menunjukkan raut wajah yang sudah termaat lama tidak ku lihat dan tidak pernah ingin ku lihat
seumur hidup ku.

Pria itu tersenyum, senyuman yang sama seperti dia menatap kami saat di arak keliling komplek.
“apa dia putri mu?” tanya pria itu kembali dan aku bisa melihat pria yang merupakan ayah kandung
ku itu mengangguk mengiyakan. “aku tidak menyangka kau memiliki seorang putri yang cantik dan
akan mewariskan kekayaan yang tidak tahu kapan harta itu akan habis”

Aku mengernyit saat senyum nya menghilang dan ada kilatan kekhawatiran di matanya. “serahkan
dia pada ku dan kau akan menerima sesuai yang kau inginkan”

Pria itu kembali menoleh pada ku dengan senyuman kasihan. “kau tau kenapa dia ingin mengambil
mu?” aku menggeleng. “karena putrinya membutuhkan tulang sumsum belakang dan setelah
pengecekan Panjang milik mu sangat cocok untuknya”

Dengan Gerakan berlahan aku kembali menatap wajah ayah ku, dia hanya diam namun ketegasan
rahangnya membuat ku sekali lagi hancur bahkan lebih hancur. Dia melakukan semua ini hanya
untuk mengambil tulang sumsum ku.

“serahkan saja dia sekarang dna berhenti bercerita”

“ah…dia harus menerima hadiah sebelum pergi dengan terpaksa Bersama ayahnya yang tidak
pernah menyukainya atau mengharapkan kehadirannya”

Aku mencoba berdiri dengan tubuh bergetar karena rasa sakit di sekujur tubuh ku, aku bahkan
teralalu bingung untuk mengetahui bagian mana saja yang terasa menyakitkan karena sudah taka
da cela di tubuhku yang tak terluka.

“apa aku benar-benar boleh meminta apapun jika aku menyerahkan nya?” tanya ku tanpa menoleh
sedikitpun dari wajah pria itu.

“wah, putrimu sangat pemberani salim. Apa kau tidak ingin berubah fikiran karena kau tau sendiri
jika dia melakukan operasi ini maka akan banyak dampak yang ia terima”
Ayahku menoleh pada ku sesaat lalu berkata. “saat ini yang kupedulikan adalah kondisi putri ku dan
dia tidak penting dalam hidup ku. Keberadaannya hanya untuk pendorong kehidupan putri ku yang
lain”

Aku hampir terjatuh mendengar kata-kata menyakitkan miliknya, apa aku benar-benar sebegitu
tidak ia harapkan hingga ia ingin menghilangkan ku dari hidupnya. Dengan sedikit keberanian aku
berbalik untuk melihat keberadaan vina yang masih bersembunyi.

“hikz..”

“siapa itu”

Vina keluar dari persembunyian dan ia langsung di geret dengan kasar mendekati kami. “bagaimana
bisa masih ada yang hidup” tanya pria licik itu pada anak buahnya. “bukankah aku menyuruh kalian
untuk membunuh semuanya dan menyerahkan organ mereka pada pembeli”

Aku berlari mendekati vina dan memeluk gadis itu erat. “kau sudah berjanji akan memberikan
apapun yang ku inginkan. Dan aku ingin dia selamat kembali pada keluargaya”

“cuih…” murka pria itu kejam. “tidak aka nada yang bisa keluar dengan hidup-hidup dari sini sama
seperti mu yang akan mati demi menyelamatkan kakak mu”

“tapi kau sudah berjanji”

“kau masih terlalu kecil untuk percaya pada janji orang-orang seperti ku”

Duar….

“polisi mulai mengepung kit abos” teriak salah satu anak buah pria itu dan tampak semua panik,
aku menarik vina sedikit menjauh dari kerusuhan itu.

“vina dnegarkan aku” ucap ku pada vina dan ia menatap ku dengan tangisan pilunya. Aku
menyerahkan sebuah kertas untuknya, ia akan membuka kertas itu namun aku menggeleng tegas.
“buka saat kau sudah selamat, kau lihat jalan setapak itu pergi lari kesana lalu ikuti jejak kaki yang
ada di tanah saat kau mendengar suara air maka bergerak berlawanan dengan arus. Jika kau terus
berjalan atau berlari kau akan sampai di jalan besar sekitar 2 jam”

“ba…bagaimana kau tau?”

“aku selalu menghitung waktu yang mereka habiskan keluar masuk tempat ini, mereka selalu
berjalan dari arah sana” ujar ku sambil menunjukkan jalur di luar pintu. “dan aku selalu melihat
celana mereka basah hampir selutut itu menandakan air yang mereka lewati tidak terlalu dalam”

“bukankah seharusnya aku mengikuti arus?”

Aku menggeleng dengan sneyum kecil. “saat aku pertama kali di bawa kesini aku mendengar suara
riak air yang jatuh menandakan mereka datang dengan searah jalur air, itu tandanya kau harus
balas jalan mu agar bisa keluar”

“ayo aku akan membantu mu berjalan”


Aku memeluk vina dengan erat. “kau pergi lebih dulu”

“tapi kau sudah berjanji akan pergi Bersama ku”

“aku berjanji akan menemui mu nanti, sekarang aku harus menmemui ayah ku”

“tapi dia hanya ingin memanfaat kan mu”

“maka aku harus membalasnya sendiri”

“ku mohon je”

“dengarkan aku vina, aku tidak pernah melanggar janji ku dan aku sudah berjanji akan menemui
mu. Kita akan melakukan perjalanan ke bali untuk membangun hotel.” Vina kembali menangis
sambil mengangguk mengiyakan. “kau pergi lebih dulu, aku akan mencari mu setelah semua
selesai”

“kapan?”

Aku terdeiam sesaat namun demi keselamatan gadis ini aku akan melakukan kebohongan kecil.
“bulan depan setelah kau dan aku menerima perawatan yang intens” vina memeluk ku kembali. “ku
mohon vin, pergi”

Vina mulai berlari ekcil di sela-sela keributan yang terjadi, aku menatapnya penuh dengan perasaan
bersalah. Mungkin kali ini aku tidak akan bisa menepati janji ku padanya namun aku akan menepati
hal itu di kehidupan selanjutnya.

Aku berbalik dan menemukan pria yang merupakan ayah ku berada di sana, aku baru akan
mendekatinya saat tangan lain menarik ku. Aku mencoba memberontak namun pelukan itu semakin
erat. Hingga sebuah benturan menghantam Pundak ku yang secara berlahan menarik kesadaran ku,
namun aku masih bisa melihat raut wajah ayah ku dengan tatapan kebencian.

Jesslyn End

Je membuka matanya berlahan dan ia langsung bisa merasakan aroma obat-obatan dalam
ruangannya. Matanya memandangi langit-langit kamar dan merasakan panasnya sinar mata hari, ia
menggerakkan kepalanya menoleh pada jendela yang memamerkan pemandangan bangunan-
bangunan kokoh di luar sana.

“je..” ia kembali menoleh kearah berlawanan dan mendapati ibunya yang terlihat sangat
berantakan. Ada persaan berkecamuk dan takut yang ia rasakan, namun melihat raut ibunya yang
tampak lei=bih parah sama seperti dulu membuatnya kembali merasa bersalah.

“bun..”panggilnya serak, kiara mendekati dirinya untuk mendengar kembali apa yang di ucapkan
putrinya. “haus” bisiknya.

Kiara dengan cepat meraih gelas dan kemudian membantu jesslyn untuk minum. Jesslyn dapat
melihat wajah ibuhnya lebih dekat dan setelah ia puas meneguk air ia langsung memeluk tubuh
ibunya yang mulai bergetar. Je dapat melihat leo baru membuka pintu lalu kembali menutupnya, je
yakin leo pasti langsung memanggil dokter untuk mengecek kondisinya. Pria itu selalu siaga untuk
dirinya dan ibunya selama ini.
“apa kau ada merasakan mual?” aku menggeleng dengan pandangan masih menatap ibu ku. “apa
kau mengingat sesuatu?” aku dapat mendengar suara ketakutan milik dokter tersebut dan raut takut
serta kemarahan milik ibu ku.

Dengan Gerakan pelan aku menoleh pada dokter yang menunggu jawaban ku. “aku hanya ingat
terkahir kali kejadian di kamar vila seseorang menembak dari jendela”

Dokter tersebut menoleh sesaat pada ibu ku. “kejadian 30 tahun yang lalu?”

“aku berada di rumah sakit namun di temoat yang berbeda” aku sedikit meringis sambil memegang
kepala ku. Kira menggeleng memberi kode pada dokter agar menghentikan semuanya.

“jangan terlalu memaksakan ingatan mu, kau istirahat saja dan jika kondisi mu stabil kau bisa dengan
cepat kembali kerumah”

Kiara mendekati je dan membantu gadis itu berbaring kembali, ia membelai kepala je penuh kasih
sayang. “terima kasih” bisik kiara dengan sebuah isakan kecil. “terima kasih kau tidak meninggalkan
bunda dan tetap bertahan”

“aku akan selalu Bersama bunda” kiara memeluk jesslyn meluapkan semua rasa takutnya, ia bahkan
tidak pernah pergi dari ruangan je sejak gadis itu di pindahkan ke ruang vvip yang di pesan oleh leo
langsung ke pemilik rumah sakit. Ia juga terus menggenggam tangan je untuk memastikan gadis itu
masih hidup.

Azka dan denaya tiba di rumah sakit setelah mereka menyelesaikan pekerjaan di Jakarta. Mereka
tidak bisa meninggalkan hotel begitu saja namun mereka sedikit lebih tenang saat tau kiara berada
di sana. Azka memasuki ruang inap jesslyn dan menemukan kiara yang baru saja keluar dari kamar
mandi dengan keadaan yang sedikit lebih segar. Dan jesslyn yang tampak tertidur di atas nakasnya.

Denaya menyusul azka dan tampak terperangah melihat kiara yang masih saja terlihat cantik meski
tampak terlihat guratan-guratan Lelah di wajah Wanita itu. Kiara menatap denaya sekilas dan ia bisa
melihat raut sedih dan khawatir gadis itu untuk putrinya yang masih tertidur.

“tante ini…”

Kiara mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan agar azka tidak meneruskan ucapannya. “saya
tau dia denaya kan, terlihat matanya sama seperti milik jesslyn” denaya maju selangkah lalu
menyalam Wanita itu dengan tulus.

“bagaimana keadaan je?”

“sebaiknya kalian duduk dulu” perintah kiara sopan. “leo pergi beli makan malam dan bawa
beberapa pakaian ganti jesslyn. Dia mengeluh tidak nyaman dengan pakaian rumah sakit”.

Leo mengangguk setuju ia kemuidan meninggalkan ruangan jesslyn untuk melakukan perintah kiara.
Namun sebelum ia benar-benar pergi leo tampak berbisik dengan Carla dan gadis itupun tampak
memasang keaman yang lebih ketat.
Denaya mendekati jesslyn membelainya dengan penuh kasih sayang, dan hal itu tidak luput dari
pandangan kiara. “dia tidak apa-apa dan aku sudah memastikan hal itu” ujar kiara menjelaskan
kondisi terakhir jesslyn.

3 hari berlalu jesslyn kini sudah kembali kejakarta dna menyerahkan pembenahan hotel di bali pada
teamnya yang telah di tempatkan disana sampai semua selesai. Banyak perubahan yang terjadi pada
jesslyn dimulai ia lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Dan terlihat lebih sering menyerahkan
pekerjaan pada Carla.

Pintu kamar gadis itu terbuka dan ia bisa melihat aland yang menatapnya senduh. Jesslyn sedikit
terkejut saat menyadari kemiripan aland dan gadis yang ia kenal. Namun pemikiran itu sirna saat
aland mendekatinya lalu memberikannya pelukan hangat yang jeslsyn rindukan.

“maaf, aku benar-benar tidak bisa langsung mendapatkan tiket pesawat kemaren dan di tambah
cuaca ekstrim yang membuat semua penerbangan di close”

Jesslyn mengeratkan pelukannya dan menghirup sebanyak-banyaknya aroma pria yang ia rindukan
selama beberapa hari ini.

“apa pelaku itu sudah tertangkap?” jesslyn dapat merasakan tubuh aland yang menegang.

“mereka sudah di temukan”

“seluruhnya?”

Aland mengelus sayang wajah cantik jesslyn yang masih terlihat pucat. “hari ini aku hanya ingin
menghabiskan waktu dengan mu, bisa kita tidak membahas hal mengerikan itu?”

Gadis itu kembali memeluk aland lalu mengangguk menyetujui saran pria itu. Meski ada banyak
pertanyaan difikirannya, ia akan menahannya dan akan mencari tahu semuanya sendiri. Ia juga akan
menangkap pelaku itu sendiri dengan caranya lalu menyeretnya sendiri ke hukum.

Hari ini jesslyn memutuskan masuk kerja hanya dengan car aitu ia bisa mulai menyelidiki semua hal
yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia akan mengumpulkan semua bukti dan mulai merakit kembali
pelan-pelan ingatannya mengenai masa kelam itu.

“Carla bisa ke ruangan ku sebentar” setelah memanggil asistennya melalui telepon jesslyn memasuki
berkas-berkas yang akan ia serahkan pada Carla. Jesslyn menutup berkas yang lain saat pintu
ruangannya di buka dan Carla tampak emlangkah dengan tegas mendekatinya.

Ia menyerahkan map yang telah ia rapikan pada Carla. “serahkan ini pada denaya, dia sedang
melakukan rapat di Alamat yang telah ku kirim kan ke ponsel mu” Carla mengernyit bingung. “aku
masih sedikit pusing jika aku kesana, kau taukan aku akan emmilih tinggal untuk menyelesaikannya”

Carla mengangguk membenarkan ucapan jesslyn, dan ia juga sudah menerima mandat dari ibu gadis
itu agar tidak membiarkan jesslyn keluar kantor hari ini dan membiarkan ia bekerja melalui
ruangannya yang jelas sudah di pasang pengawasan yang ketak.

Jesslyn kembali membuka laptopnya dan sedikit mengernyit saat melihat notif pesan email masuk
melintas di brandanya. Ia terkulai lemas saat melihat isi pesan yang merupakan laopran kesehan
ibunya beserta foto-foto yang terlampir.
Ia merasakan sesak dalam seketika dan tubuhnya terasa kaku dalam bersamaan. Ia baru akan
menghubungi ibunya namun ia kembali membatalkannya, ia beranjak dari duduknya saat teringat
ibunya ke hotel karena ingin melakukan evaluasi. Dengan Langkah berat dan detak jantung yang
memburu ia meninggalkan ruangannya dan memutuskan menggunakan tangga untuk naik satu
Tingkat dari ruangannya. Ia perlu sedikit waktu untuk mencoba tenang saat akan berhadapan
dengan ibunya.

Gadis itu mengernyit saat melihat kondisi Lokasi itu yang sepi, ia tidak melihat keberadaan sekertaris
azka. Jesslyn pun menoleh kearah lift yang tampak terkunci menandakan tidak akan ada izin untuk
siapapun menaiki Lokasi ini. Jesslyn sedikit melangkah mendekati ruangan itu dan betapa
beruntungnya ia mendapati ruangan itu yang tidak tertutup dengan rapat.

Matanya membulat sempurna saat melihta siapa saja yang berada di dalam ruangan itu. Tidak hanya
azka dan ibunya namun disana juga terdapat keberadaaan aland. Ibunya terbatuk dan leo mendekati
kiara untuk membantu Wanita itu untuk duduk di kursninya. Jesslyn terenyuh melihat ibunya yang
tampak ringkih dan ia juga baru menyadari jika ibunya tampak lebih kurus dan Lelah.

“apa yang ingin kau katakan sampai mengumpulkan semua orang di sini” tanya kiara dengan tubuh
lemahnya. Azka sedikit merasa bersalah karena mengganggu waktu perobatan Wanita di
hadapannya.

“aku dan denaya ingin mengatakan semuanya pada jesslyn secara langsung. Dan tidak ingin
menunda nya lagi” ujar azka dengan nada kekhawatirann yang kental. “mendengar kabar dia yang di
serang dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk adik ku sangat menyiksa ku, tante” jelas azka
kembali.

Kiara memijat kepalanya sekilas, ia juga merasa sudah tidak bisa menunda waktu lagi mengingat
kondisinya yang semakin memburuk. Apa lagi kejadian di bali membuat kiara semakin
mengkhawatirkan putri malangnya itu.

“dan saya juga ingin membantu jesslyn mengingat kembali masala..”

“tidak, dia tidak akan bisa menerimanya”

“tapi kita butuh ingatan itu untuk menangkap pelaku itu tante” ujar azka meyakinkan Wanita di
hadapannya. “dan untuk papa, mereka akan bertemu jika jesslyn benar-benar mau menemuinya.
Aku tidak akan memaksa jesslyn untuk bertemu dengannya secara langsung. Aku hanya ingin dia tau
aku dan denaya adalah kakak nya dan akan melindungi dirinya”

“dan aku juga perlu tau siapa orang-orang yang telah menculik vani adik ku. Dan hanya jesslyn yang
bisa membawa ku pada para pelaku”

“bunda” kiara melebarkan matanya dengan sempurna, sedangkan azka dan aland berbalik dan tak
dapat menyembunyikan keterkejutan mereka yang menemukan jesslyn berada di dalam ruangan
yang sama.

Jesslyn hampir terjatuh jika Carla yang baru saja tiba tidak langsung menangkap tubuh gadis itu.
Kiara melangkah mendekati jesslyn dengan raut wajah yang campur aduk. Gadis kecilnya menatap
nya dengan tatapan penuh kehancuran dan kehampaan. Dan secara berlahan semua orang
mendekati jesslyn namun tatapan tajam gadis itu mengisyaratkan agar tidak ada yang mendekatinya
selain ibunya.

“je, bunda harap kau te…” kiara menghentikan ucapannya saat putrinya terkulai lemas dalam
pelukannya. Leo yang menyadari hal itu bergerak cepat lalu membawa jesslyn dalam gendongannya.

Kiara terus menggenggam tangan putrinya dengan derai air mata yang terus mengalir. Ia dapat
melihat raut pucat putrinya yang tampak seperti mayat, dan setelah itu ia kembali merutuki dirinya
sendiri. Wanita paruh paruh baya itu terduduk dengan lemas di sebelah sofa Dimana jesslyn masih
tak sadarkan diri.

Jesslyn membuka matanya secara berlahan namun dengan sorot mata yang berbeda. Je meremas
lembut tangan ibunya yang membuat kiara dengan cepat menatap wajah putrinya yang
menyedihkan. Gadis itu menatap wajah ibunya yang terlihat jelas mengkhawatirkannya dan sangat
pucat.

“bunda” panggilnya parau, Wanita itu mengangguk sambil mengelus sayang puncak kepala jesslyn.
“je mau pulang”

Dengan anggukan penuh kesedihan ia menoleh pada leo. “siapkan mobil kita pulang”

“kerumah sesungguhnya bunda” kiara kembali menoleh pada jesslyn dan dia tau pulang yang
dimaksud oleh jesslyn.

“tapi je..”

“bunda, je Cuma butuh bunda dan je juga akan ngerawat bunda” kiara menutup mulutnya pilu
menyadari putri kecilnya telah mengetahui kondisinya. Jesslyn bangkit dari tidurnya, ia dapat
melihat semua orang berada di ruangan itu. Namun ia hanya membutuhkan ibunya yah hanya
ibunya, satu-satunya orang yang tidak akan memanfaatkann dirinya seperti semua orang.

Kiara dapat melihat kehancuran dimata putrinya tatapan yang sama seperti saat ia menemukan
jesslyn kala itu. Leo mendekati kiara dan mulai memahami kenapa Wanita itu berubah setelah
melihat jesslyn.

“siapkan semua leo”

“tapi Nyonya..”

Kiara menggeleng menandakan ia tidak ingin dibantah oleh siapapun, jika dengan membawa
putrinya kembali satu-satunya cara agar gadis itu Bahagia maka akan ia lakukan. Dan ia akan
bersumpah akan menghukum pelaku-pelaku yang membuat putrinya seperti ini.

Denaya melangkah emndekati je dan kiara, ia lalu berlutut di hadapan jesslyn dengan derai air mata.
“je maafkan kami, je. Kami melakukan ini karena kami mau menebus segalanya je dan ingin
melindungi mu” denaya lalu menoleh pada kiara dengan kedua tangan yang memohon pada Wanita
itu. “de mohon tante, biarkan kami terus dekat dengan je”

Jesslyn berdiri dari duduknya melangkah mendekati alan yang sejak tadi tidak mampu melihat wajah
gadis itu. “kau tau aku meletakkan perasaan ku dengan tulus sama seperti aku mencintai ayah ku
dulu. Tapi ternyata kau hanya menggunakan ku sebagai alat untuk menemukan siapa pelaku adik
mu.” Jesslyn meneguk air liurnya dengan rasa berat dan memilukan.

“terima kasih, kau sudah membuat ku yakin tidak akan ada satu orangpun yang mencintai ku
dengann tulus selain ibu ku”

“je..”

Jesslyn menoleh pada azka yang menatapnya penuh kehampaan. “aku ingat semuanya bunda” aland
menoleh pada jesslyn dengan cepat yang membuat gadis itu semakin hancur. “jika kau benar-benar
ingin tau siapa pelakunya silahkan temui pria yang mengaku sebagai ayah kandung ku”

“apa maksud mu?” tanya kiara tajam.

“hari Dimana vina kabur pria itu ada disana dan meminta ku karena membutuhkan pendonoran
tulang sumsum belakang untuk putrinya yang sekarat” kiara terduduk dengan tatapan tidak percaya.

“itu gak mungkin” ujar denaya. “ayah gak mungkin melakukan hal itu”

“silahkan tanyakan padanya apa dia mengenal Rudolf Smith” je kembali menoleh pada aland.
“diakan yang kau butuhkan dari hubungan kita dan aku sudah mengatakannya maka ini juga akhir
untuk kita. Aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan mu dan kalian semua lagi”

Je mendekati ibunya menatap Wanita paruh baya itu penuh permohonan, kiara yang mendapati
kehancuran di mata putrinya hanya mampum engelus sayang gadis itu lalu mengangguk setuju. Leo
dan Carla mengikuti ibu dan anak itu meninggalkan ruangan azka yang di penuhi isak tangis. Aland
yang sejak tadi diam mematung hanya mampu menatap hampa punggung jesslyn yang mulai
menghilng dari pandangannya.

Seperti ucapan jesslyn ia hanay menghabiskann waktu dnegan merawat ibunya dan bekerja. Sesekali
kiara menemukan jesslyn yang melamun lalu kembali menyibukkan dirinya sendiri. Sedangkan
dirinya yang kini hanya menghabiskan waktu di rumah dan terus melakukan pengobatan yang
sebenarnya hanya menunda kematian nya saja.

Pagi ini rintikan hujan seakan mengerti kondisi jesslyn yang duduk dengan tatapan kosong pada
ibunya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit yang tubuhnya telah di penuhi selang. Alat yang
selalu membantu ibunya untuk terlihat hidup.

Leo mendekati jesslyn megelus sayang puncak kepala gadis rapuh itu. “kau tau permintaan
terakhirnya apa?” je mengangguk mengiyakan. “dan bukankah kali ini kau harus menyerah je atau
dia akan semakin menderita”

Je mndongakan kepalanya untuk beradu tatap dengan leo, dan pria itu mencoba tersenyum kecil
sambil mengangguk. Jesslyn mulai terisak saat leo memeluknya membiarkan gadis itu meluapkan
semua perasaannya yang hancur.

Leo mendorong kursi roda jesslyn, yah gadis itu jatuh sakit sejak ibunya tak sadarkan diri. Ia juga
mendapatkan perawatan di ruangan yang sama dengan ibunya. Yang mengharuskannya wajib di
infus dan menggunakan kursi roda karena ia benar-benar tidak mampu menggerakan seluruh
tubuhnya. Bukankah ia sudah mengatakan jika ibunya adalah satu-satunya orang alasan ia bertahan
sejauh ini.
Carla mendampingi jesslyn saat leo kakaknya menyiapkan semua hal terakhir untuk kiara. Ia sudah
memesan jet pribadi dan mengabari ke Indonesia agar menyiapkan pemakaman karena saat mereka
tiba di sana jenazah akan langsung di kebumikan.

Kiara memohon pada jesslyn agar ia di makamkan di Indonesia salah satu alasan yang akan mebuat
jesslyn kembali kenegara itu. Bahkan sampai akhir kiara masih berusaha agar gadis itu kembali, ia
masih berharap jesslyn mau membuka pintu maaf untuk kedua saudaranya.

Jesslyn pun menerima ucapan ibunya dan fakta lainnya adalah, ayahnya berbohong pada pihak
penculik mengatakan putrinya membutuhkan pendonor dan jesslyn sangat cocok dengan donor itu.
Jesslyn hanya menerima kenyataan itu namun tidak berniat bertemu dengan ayahnya. Ia juga
menolak bertemu dengan denaya dan azka. Setelah persidangan yang membuat smith harus di
hukum mati ia memutuskan untuk meninggalkan pengadilan dan menyibukkan diri. Ia juga tidak
berniat menyapa aland yang saat itu berada di sana. Mereka benar-benar menjadi orang asing
seperti yang di katakan jesslyn.

Mereka tiba di Indonesia siang hari sesuai rencana leo, jesslyn merasa sesak setiap kali kembali ke
Indonesia. Namun kali ini ia akan mencoba kuat demi permintaan ibunya. Mereka keluar dari
bandara selain sinar mata hari yang menyengit mereka juga di sambut oleh denaya dan azka yang
berada di sana dengan balutan baju hitam. Kedua manusia itu juga tampak sama hancurnya dengan
jesslyn, denaya bahkan terus menatap adiknya dengan pilu dan khawatir.

Ia dann azka yang merupakan kakak jesslyn tidak dapat melakukan apapun untuk adiknya, selain
mereka tertolak oleh jesslyn, gadis itu juga terlihat sangat enggan hanya untuk sekedar menatap
mereka berdua.

Carla kembali mendorong kursi roda jesslyn melewati denaya dan azka, ia melakukan hal itu atas
perintah jesslyn yang memang tidak ingin bertegur sapa dengan mereka.

Jesslyn baru memasuki mobilnya saat aland mendekati azka. Ia seakan-akan tau pria itu akan disana
hingga waktu untuk bertemu pun tidak ia inginkan.

“apa semua keluarga sudah berkumpul?” tanya salah satu penggali kuburan setelah ibunya di
masukkan kedalam tanah.

“yah” jesslyn melirik sinis pada pria paruh baya yang berada di antara kerumunan para pelayat. Pria
yang merupakan ayahnya itu berada di sana sama seperti dirinya berada di atas kursi roda. Mereka
beradu pandang yang langsung di putus jesslyn dengan membuang pandangannya kebali pada
jenazah ibunya.

Jesslyn meremas kuat tangan leo dan pria itu tau jesslyn mencoba menahan isakannya. Ia bersujud
di hadapan jesslyn lalu memeluk gadis itu. Dan saat itu pula isakan menyakitkan jesslyn keluar,
isakan yang menjadi sebuah sayatan menyakitkan untuk denaya, azka, dan aland. Tidak ada harapan
kebahagian di raut wajah jesslyn, yang terlihat jelas hanya sebuah masa depan yang hampa.

Azka merasa tidak berguna karena tidak dapat melakukan apapun pada adiknya itu, ia bahkan tidak
bisa menjadi sandaran jesslyn seperti leo saat ini. Pemakaman telah sepi meninggalkan jesslyn, azka,
denaya dan salim. Sedangkan leo dan Carla memilih sedikit menjauh dari Lokasi jesslyn, mereka
masih memiliki waktu sebelum penerbangan kembali ke LA.
“je, maaf kan ayah nak” ujar salim dengan isakan pilunya. “maafkan untuk semua kesalahan yang
telah ayah buat ke kamu” je tidak bergeming, tidak berniat menjawab pria itu sama sekali. Ia hanya
memandangi makam ibunya yang kini dipenuhi kelopak bunga.

“je” kali ini suara azka yang menyebut Namanya. “biarkan kami menjaga mu, agar tante kiara bisa
lebih tenang”

Kali ini je menatap merka bertiga secara bergantian. “aku memaafkan kalian bukan berarti berniat
kembali ke kalian” denaya tampak terisak sambil menunduk tak mampu menatap jesslyn. “aku tidak
pernah bermimpi untuk tinggal dnegan kalian atau menetap disini, dan ku harap kalian tidak
berusaha lagi untuk mendekati ku. Jika kalian benar-benar mengasihani ku maka jangan lakukan hal
itu”

Jesslyn berbalik dan saat itu leo mengerti maksud gadis itu. Ia dan Carla mendekati jesslyn. “Carla
bawa jesslyn ke mobil” Carla mengangguk patuh meninggalkan leo Bersama keluarga gadis itu yang
masih menangis hancur.

“aku akan menjaga nya sama seperti keluarga ku sendiri” leo menghentikan ucapan tegasnya lalu
menoleh pada salim yang masih menatap jesslyn yang semakin menjauh. “dan aku akan terus
mengirimi kabar je pada kalian dan segera memberikan kabar saat gadis itu sudah mulai membuka
dirinya”

“ap aitu mungkin?” tanay denaya pilu.

Leo berbalik sekilas untuk melihat jesslyn yang sedang berusaha masuk kedalam mobil. “kalian tau,
jesslyn adalah gadis yang tidak pernah menyimpan dendam”

“apa maksud mu?” tanya azka penuh kebingungan.

“sejak aku mengenalnya dulu aku selalu mendengar ia berdoa untuk keluarganya termasuk kalian.
Dia juga masih menyimpan foto ayahnya yang kini mungkin berada di dalam kotak rahasianya” leo
sedikit tersenyum setiap mengingat tingkah jesslyn yang selalu berusaha kejam. “dia hanya butuh
waktu, karena hidupnya sudah terlalu lama tegar dikarenakan tuntutan. Saat hari itu tiba aku jamin
dia akan mendatangi kalian dengan sendirinya. Aku undur diri”

Denaya kembali terisak mendengar ucapan leo dan kini mereka benar-benar hanya akan menunggu
seperti ucapan leo.

“leo” pria yang duduk di depan bersebelahan dengan supir menoleh kebelakang untuk menatap
jeslyn. “kau dan Carla tidak akan meninggalkan ku kan?”

Leo dan Carla melebarkan matany terkejut. “aku akan benar-benar mati jika kalian meninggalkan ku.
Kalian akan tetap manjadi saudara ku kan?” pria itu mengusap sudut matanya tidak menyangka jika
selama ini jesslyn menganggap dirinya dan Carla sebagai saudara dan bukan sebagai bawahan
ibunya. mengingat jesslyn yang teramat jarang berinteraksi dnegannya.

“aku dan Carla tidak akan pernah meninggalkan mu meski kau mengusir kami”

“bagaimana aku bisa mengusir keluarga ku sendiri” celetuk jeslyn dengan hampa. “leo” panggil
jesslyn kembali. “apa aku boleh ke swiss?”
Leo menatap jesslyn sesaat lalu menatap pada Carla. “tapi je..”

“aku ingin kau saja yang menjalankan semua bisnis bunda, sebelum bunda sekarat kami sudah
memasukkan mu dan Carla kedalam kartu keluarga. Memperjelas status kalian berdua sebagai
keluarga Brown dan orang yang akan bertanggung jawab pada ku dan Perusahaan”

“whats?”

“sejak kalian datang ke rumah, kalian tidka pernah di anggap sebagai orang asing. Dan kalian tau
kenapa bunda mendidik Leo dengan keras. Karena bunda mau kau bisa melindungi ku dan Carla,
azka dan denaya hanyalah rencana kedua bund ajika kau menghiyanatinya”

“apa maksudnya?”

“aku juga baru tau , karena bunda menceritakannya saat ia mulai sulit bicara” ujar je dengan
senyuman kecilnya. “aku benar-benar tidak ingin kembali ke mereka, leo”

“tapi mereka saudara kandung mu”

“aku sudah menerima hal itu namun jika harus hidup dengan mereka hal itu tidak akan pernah
terjadi leo. Mereka benar-benar tidak ada dalam rencana hidup ku”

Leo menoleh pada jesslyn yang duduk di kursi belakang, wajahnya tampak Lelah dan pandangan
matanya juga terlihat kosong. Gadis itu benar-benar tampak menyedihkan dan putus asah.

“jika selama ini aku hidup karena bunda, maka kali ini aku hanya bisa hidup jika kalian terus Bersama
ku. Aku tidak memiliki apapun selain kalian berdua, dan kali ini aku hanya perlu waktu untuk aku bisa
tetap waras”

Carla memeluk jesslyn dengan lembut dan menatap leo dengan sorot memohon agar dia mau
mengerti kondisi jesslyn saat ini. Dan mengabulkan keinginan gadis itu, karena saat ini hanya mereka
lah yang jesslyn butuhkan.

5 TAHUN KEMUDIAN

Gadis itu menghela nafas berat sebelum ia turun dari mobil yang sengaja ia pesan setiba di negara
ini. Dengan Langkah berat ia berjalan menyusuri tanah setapak, tatapannya lurus hanya tertuju pada
gundukan tanah yang di penuhi taburan bunga dan rangkaian bunga kesukaannya.

Ia awalnya hanya menatap kosong gundukan itu hingga kini ia memutuskan meletakkan kepalanya di
atas gundukan yang sudah di penuhi rerumputan halus. Dan secara berlahan isakannya terdengar,
isakan penuh kerinduan dan kesedihan yang dalam.

“bunda, je kangen” bisiknya di sela-sela isakann itu. “bunda..hiks..hiks…bunda”.

Di tempat lain leo tampak kelabakan saat tak menemukan keberadaan jesslyn, mata tajamnya terus
menelusuri cctv pengawasan yang ia buat untuk gadis itu. Ia sebenarnya mulai mencurigai gadis itu
sejak menyuruh Carla kembali untuk membantunya di hotel.

“stop, zoom” leo meraih ponselnya menghubungi seseorang tanpa menoleh sedikitpun dari layar
yang menunjukkan keberadaan gadis itu. “dia di bandara, segera cari tau kem…”
“je keindonesia” leo berbalik menemukan adiknya yang menatapnya senduh. “hari ini 5 tahun
kepergian Nyonya besar”

“shit…” leo memutus sambungan teleponnya dengan rahang yang mengeras, ia kembali mencari
nama seseorang di dalam ponselnya. “je di Indonesia hari ini 5 tahun kepergian ibunya, ku mohon
temukan dia dan jaga sampai aku tiba. Ku mohon kabari aku”

“bagaimana?” tanya Carla kembali.

Leo menatap adiknya dalam dna kemudian tersenyum kecil mencoba meyakinkan adiknya kalau je
akan dalam keadaan baik-baik saja. “tunda semua rapat dan pesann 2 tiket ke Indonesia” leo
memerintahkan asistennya sesegera mungkin.

Entah berapa lama gadis itu berada di sana yang jelas ia telah melewati sengitnya panas matahari
dan kini membiarkan tubuhnya di guyur hujan deras. Ia tidak beranjak dari pemakaman itu dan
hanya membiarkan tubuhnya berbaring memeluk gundukan makam ibunya. ia bahkan mengabaikan
tubuhnya yang mulai melemah, hingga kesadarannya mulai menghilang.

Jesslyn membuka matanya secara berlahan selama beberapa menit ia hanya diam memandangi
langit-langit kamar. Ia kemudian menoleh pada seseorang yang tampaknya tertidur sambil
menggenggam tangannya lembut. Jesslyn dapat melihat jejak air mata di pipi gadis yang tampak
terlelap dengan gelisah.

Gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman lembut itu dan menemukan pria lain yang terlelap
di atas kursi. Pria itu tampak berantakan sama seperti dirinya, ia tampak kurus dan tak terawat,
sama seperti gadis yang ada di dekatnya.

Jesslyn mulai mengenang mundur semua kejadian dalam hidupnya, dan sejak ia pertama kali dulu
kembali kesini mereka berdua berusaha keras mendekati dirinya. Menyembunyikan identitas
mereka agar bisa berada di dekat dirinya, hingga saat pria yang merupakan ayah mereka meninggal
dan je memutuskan tidak kembali untuk melihat, ia bisa mendengar isak tangis mereka berdua
namun tidka meletakkan kebencian untuk penolakan jesslyn menghadiri pemakaman ayah mereka.
Ia mulai menyadari kini yang ia miliki secara biologis hanyalah azka dan denaya. Meski selama ini ia
mendapatkan kasih sayang penuh dari leo dan Carla tetap saja ada perasaan yang kosong setiap ia
mengingat kedua manusia itu.

Setitik air mata miliknya jatuh, dan isakan-isakan kecilnya mulai terdengar. Azka menggeliat ia
kemudian membuka matanya lalu melompat dengan cepat saat menemukan jesslyn yang menangis
dnegan sangat menyedihkan. Ia bergerak cepat mendekati jesslyn dan tepat saat pria itu berada di
dekat nya ia memeluk, meluapkan semua perasaan hancurnya. Azka yang menerima perlakuan itu
tertegun dan kemudian mulai ikut menangis dengan Bahagia sambil memeluk jesslyn dengan
lembut.

Denaya terbangun ia juga mulai bergabung memeluk jesslyn dan azka dengan isakan dirinya. Malam
ini adalah awal yang baru untuk ketiga bersaudara itu, harapan yang selalu di impikan oleh kiara
untuk masa depan jesslyn.

Jesslyn tertidur dalam pelukan azka, dan dengan perlahan azka meletakkan jesslyn agar lebih
nyaman. Ia membelai sayang puncak kepala jesslyn lalu memberikan kecupan seorang kakak untuk
adiknya yang teramat ia rindukan. Denaya mengikuti Tindakan azka namun tidak berniat
meninggalkan sisi jesslyn.

“aku udah masak sup untuk je”

“dia harus makan bubur yang di sediakan rumah sakit, de”

“je gak bakal suka, percaya deh sama aku”

“kamukan dengar tadi dokter bilang apa?”

“aku gak mau makanan rumah sakit” denaya dan azka menoleh pada jesslyn yang tampak baru
terbangun. Denaya melirik azka penuh kemenangan, “bisa bantu aku ke toilet?”

Azka bergerak lebih cepat untuk membantu jesslyn berdiri dari tempat tidurnya, lalu menyerahkan
tubuh lemah je pada denaya tepat di pitu masuk ke dalam kamar mandi. 5 menit kemudian kedua
gadis itu keluar dan kembali ke tempat tidur jesslyn sedangkan azka tampak selesai mengidangkan
sarapan untuk jesslyn.

Ruangan itu kembali hening dan hanya dentingan sendok yang beradu dengan piringlah yang
terdengar. “bagaimana kalian tau aku disini?” tanya jesslyn memecah kesunyian.

“leo menghubungi kk azka, dan kita berdua langsung ke pemakaman tante” jelas denaya gugup.

“leo juga sudah dalam perjalanan kesini” lanjut azka senduh.

“aku memang tidka berniat lama disini” denaya dann azka menghentikan pergerakan mereka lalu
menatap jesslyn dengan senduh. Jesslyn dapat melihat raut kesedihan di wajah kedua saudaranya
tersebut. “aku sudah memiliki keuarga di LA” lanjut jesslyn.

“kami juga keluarga mu bahkan keluarga kandung” azka menyentuh Pundak denaya mencoba
menahan gadis itu untuk berbicara lebih jauh.

“leo dan Carla memang tidak sedarah dengan ku, tapi bagi ku mereka keluarga ku. Sejak mereka
hadir aku benar-benar bisa mengerti ap aitu keluarga”

Ruangan itu kembali hening dan hanya isakan denaya yang terdengar. “kami akan terus mendukung
apapun Keputusan mu, je. Kau mulai membuka hati menerima kami saja sudah lebih dari cukup”

Jesslyn menatap dalam azka dan dia tau pria itu serius dengan ucapannya. “bagaimana kalu kalian
yang ikut dengan ku?” Denaya dan azka saling memandang. “kalian bisa pindah dengan ku ke LA dan
menjadi satu keluarga Bersama ku disana”

“tapi je”

“negara ini benar-benar tidak ada dalam rencana hidup ku untuk ku tempati” jelas je dengan
linangan air matanya. “terlalu banyak hal menyakitkan disini, kalaupun aku kesini itu hanya untuk
menjenguk bunda tidak untuk menetap. Meski kalian mengabari kalian akan menikah aku tidak akan
menghadiri acara itu”
Azka memeluk jesslyn lembut. “maafkan kami dan semua perbuatan kami di masalalu je, hingga kau
membenci negara ini” jesslyn membalas pelukan azka dan semakin terisak pilu. “maaf karena hal itu
membuat mu jauh dari tante kiara” lanjut azka senduh.

Leo dan Carla mendengar semua perbincangan mereka dari luar kamar, mereka tidak hanya berdua
di sana juga aland berada. Pria itu tau luka yang ia buat pada gadis itu juga menjadi salah satu alasan
jesslyn tidak ingin berada di sini. Ia bahkan tidka memiliki kesempatan apapun untuk bertemu
dengan je, untuk mengatakan penyesalannyapun seakan terkunci rapat.

Anda mungkin juga menyukai