BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 dijelaskan bahwa
tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis, serta
bertanggung jawab.1 Berkaitan dengan itu, PAI merupakan usaha
sadar untuk menciptakan siswa dalam menyakini, memahami,
menghayati dan mengamalkan agama Islam, mempunyai peranan
yang sangat besar dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional
tersebut. Secara umum PAI bertujuan agar siswa memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT
dan berakhlak mulia.2
Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, siswa haruslah
memiliki latar belakang pendidikan yang terintegrasi. Pendidikan
harus merupakan bagian yang utuh. Komponen pendidikan yang
1
Tim Redaksi Fokus Media, UU Sistem Pendidikan Nasional (No. 20 Tahun 2003),
(Bandung: Fokus Media, 2003), hlm. 6-7
2
Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan PAI di
Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 14
terdiri dari guru, materi pelajaran, proses pembelajaran,
lingkungan, dan siswa sebagai bagian yang tidak terpisahkan.
Masalah pokok pembelajaran pada pendidikan formal
dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal
ini tampak pada rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa
sangat memprihatinkan. Ini merupakan dampak dari pembelajaran
yang masih bersifat konvensional yang tidak menyentuh ranah
peserta didik itu sendiri. Proses pembelajaran hingga dewasa ini
masih didominasi guru. Siswa didik untuk berkembang secara
mandiri melalui penemuan dan proses berfikirnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, proses pembelajaran masih
bersifat tradisional. Guru cenderung mendominasi kelas. Guru
menjadi pusat kegiatan pembelajaran. Suasana kelas cenderung
bersifat theacher centered. Guru menjadi pusat kegiatan kelas dan
siswa menjadi pasif. Timbul pertanyaan mengapa guru lebih suka
menerapkan model pembelajaran tradisional. Dari hasil
pengamatan dinyatakan, bahwa dengan model pembelajaran
tradisional, guru tidak memerlukan alat dan media. Pekerjaan guru
dirasa lebih ringan. Sementara penerapan model pembelajaran
variatif dirasa mempersulit pekerjaan guru. Persiapan guru lebih
rumit dan membutuhkan banyak biaya. Itulah suatu kenyataan di
lapangan. Sebagaimana dinyatakan Trianto, masalah ini yang
paling dijumpai dalam proses belajar mengajar di kelas.3
Sementara itu, sistem mengajar dengan pola tradisional
dapat menjauhkan siswa dari bahan ajarnya. Siswa tidak dapat
berinteraksi langsung dengan bahan ajar. Interaksi dalam kelas
hanya terjadi antara guru dan siswa. Komunikasi kelas hanya
bersifat satu arah (one-way communication). Interaksi secara
intensif antara siswa dengan siswa cenderung minim. Itulah yang
menyebabkan siswa bersifat reseptif. Siswa hanya menerima, tanpa
ada interaksi. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin kecilnya
nyali siswa untuk bertanya. Siswa hanya duduk dan mendengarkan
penjelasan guru. Karena itu, bahan ajar tidak mampu merangsang
kreatifitas berfikir siswa. Padahal disadari, betapa pentingnya
kreatifitas berfikir siswa dalam memahami materi yang
disampaikan guru. Sebagaimana dinyatakan Djuhar, bahwa
pemikiran kreatif memungkinkan orang berfikir alternatif.4
Selain itu pembelajaran konvensional dapat membuat siswa
menjadi tidak aktif dan dapat menimbulkan gap (sekat) sosial
dalam kelas. Dimana siswa yang pandai akan bersaing dengan
siswa yang pandai saja, sedangkan siswa yang kurang pandai
merasa terisolasi. Keadaan ini dapat menimbulkan
3 ?
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka,2007), hlm. 1-2
4
Djohar, Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan, (Yogyakarta:
Lesfi, 2002), hlm. 5-6
kompetisi yang tidak sehat. Yang lebih parah lagi, kesenjangan itu
mengarah pada kondisi yang merugikan. Siswa akan cenderung
bersikap individualistik , apatis, dan hanya mengejar nilai.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar proses
pembelajaran pendidikan agama Islam lebih baik adalah melalui
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja untuk menciptakan
interaksi yang saling mengasihi sehingga peserta didik tidak hanya
belajar dari guru dan buku ajar semata, tetapi juga dari sesama
peserta didik.55
Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori
konstruktivistik. Teori ini menyatakan bahwa siswa harus
menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan dengan aturan-aturan lama dan
merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Bagi siswa agar
benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka
harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu
untuk dirinya dan berusaha mengeluarkan ide-ide yang ada pada
diri siswa.6
5
Nur Hadi, et. al., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, (Malang:
UNM, 2004), hlm. 61
6
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, op. cit.,
hlm.13
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa
akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit
jika mereka saling
berdiskusi dengan temannya. Sebagaimana dinyatakan
Melsilberman, ” what I teach to another, I master”.7 Di dalam
kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok
kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa sederajat tapi heterogen,
kemampuan, jenis kelamin dan satu sama lain saling membantu.
Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan
kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif
dalam proses berfikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam
kelompok, tugas anggota
kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh
guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai
ketuntasan belajar.8
Pembentukan kelompok bertujuan agar peserta didik dapat
teratur dan saling bekerja sama dalam kelompok. Seperti Firman
Allah dalam surat At Taubah ayat 2 :
َٰٓي َأ ُّي َها ٱ َّل ِذي َن َءا َم ُنو ْا َلا ُت ِح ُّلو ْا َش َٰٓع ِئ َر ٱل َّل ِه َوَلا ٱل َّش ۡه َر ٱۡل َح َرا َم َوَلا ٱۡل َه ۡد َي
َوَلا ٱۡل َق َٰٓل ِئ َد َو َل ٓا َء ٓا ِّمي َن ٱۡل َبۡي َت ٱۡل َح َرا َم َيۡب َت ُغو َن َف ۡض ٗلا ِّمن َّر ِّب ِه ۡم َو ِر ۡض َٰو ٗن ۚا َو ِإ َذا َح َل ۡل ُت ۡم
َفٱ ۡص َطا ُدوْۚا َو َلا َي ۡج ِر َم َّن ُك ۡم َش َنَٔا ُن َق ۡو ٍم َأن َص ُّدو ُك ۡم َع ِن ٱۡل َم ۡس ِج ِد ٱۡل َح َرا ِم َأن َت ۡع َت ُدوْۘا
7 ?
Melsilberman, Active Learning, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta:
Yapendis,2002),hlm.1
8
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, op. cit.,
hlm.41
َو َت َعا َو ُنو ْا َع َلى ٱۡل ِب ِّر َوٱل َّت ۡق َو ٰۖى َوَلا َت َعا َو ُنو ْا َع َلى ٱۡل ِإ ۡث ِم َوٱۡل ُع ۡد َٰو ِۚن َوٱ َّت ُقو ْا ٱل َّل َۖه ِإ َّن ٱل َّل َه
٢ َش ِدي ُد ٱۡل ِع َقا ِب
“Dan tolong menolonglah dalam hal kebaikan dan taqwa
dan janganlah tolong menolong di dalam hal berbuat dosa
dan pelanggaran”. (Q.S Al Maidah: 2)9
Dalam tafsir Al Misbah, Quraisy Syihab menyatakan
bahwa ayat inilah yang menjadi prinsip dasar dalam menjalin
kerjasama dan saling membantu selama tujuannya adalah kebaikan
dan ketaqwaan.10
Dari ayat diatas dijelaskan bahwa agama Islam selain
memerintahkan umatnya untuk belajar, juga memerintahkan
umatnya agar mengajarkan ilmunya untuk orang lain. Hal ini
sesuai dengan tujuan pembelajaran kooperatif yang disusun dalam
sebuah usaha; (1) untuk meningkatkan partisipasi peserta didik, (2)
memfasilitasi peserta didik dengan pengalaman sikap
kepemimpinan dan (3) membuat keputusan dalam kelompok, serta
(4) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berinteraksi
dan belajar bersama-sama. Jadi dalam pembelajaran kooperatif
peserta didik berperan ganda, yaitu sebagai peserta didik ataupun
sebagai guru.
9
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahannya, (Jakarta: Pustaka Amani, 2005)
hlm. 277
10
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Volume 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 14
Bertolak dari pandangan diatas maka penulis bermaksud
meneliti kajian tersebut sehingga nantinya pembelajaran
pendidikan agama Islam yang
berlangsung di SMK Muhammadiyah 1 Pemalang dapat
menjadikan peserta didik lebih aktif dan paham pada materi yang
dipelajari dan pembelajaran yang dilakukan. Untuk judul dari
penelitian ini adalah “Strategi Pembelajaran Kooperatif
(Cooperative Learning Strategy) dalam Pembelajaran PAI di
Kelas VII SMPN 3 Pengabuan”
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang dijelaskan diatas, maka
permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana strategi pembelajaran PAI di SMPN 3 Pengabuan?
2. Bagaimana implementasi strategi pembelajaran kooperatif
(cooperative learning strategy) dalam pembelajaran PAI di
kelas VII SMPN 3 Pengabuan?
C. Fokus Masalah
Adapun fokus masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimana strategi pembelajaran kooperatif learning dalam
pembelajaran PAI di kelas VII SMPN 3 Pengabuan.
D. Tujuan Penulisan
Setiap penulisan ilmiah tentu memiliki maksud dan tujuan
pokok yang akan dicapai.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui strategi pembelajaran pembelajaran PAI di
SMPN 3 Pengabuan.
2. Untuk mengetahui implementasi strategi pembelajaran
kooperatif (cooperative learning strategy) dalam pembelajaran
PAI di kelas VII SMPN 3 Pengabuan.
E. Kegunaan Penelitina
Sedangkan kegunaaan dari penelitian ini adalah:
1 Secara teoritis
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi atau acuan
yang dapat dijadikan pedoman guru dalam menyampaikan
materi-materi pendidikan agama [Link] penelitian ini
dapat digunakan sebagai bahan dasar bagi pelaksanaan
penelitina lebih lanjut.
2. Secara praktis
a. Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran di sekolah.
b. Sebagai motivator dalam meningkatkan kualitas mengajar.
c. Sebagai bahan rujukan dalam mengelola pembelajaran
pendidikan agama Islam dengan strategi pembelajaran
kooperatif.
F. Landasan Teori
Landasan berfikir dalam menganalisa, menelaah dan mengkaji
serta menjabarkan permasalahan yang diteliti maka diperlukan suatu
rujukan dan konsep para ahli atau pakar dalam bidang pendidikan
yang sesuai dengan masalah yang diteliti.
Berangkat dari permasalahan yang diteliti, strategi
pembelajaran kooperatif learning dalam Pendidikan Agama Islam di
kelas VII SMPN 3 Pengabuan, maka teori yang dikembangkan dalam
kerangka berfikir ini adalah:
1. Strategi
Dalamkontekspendidikan,strategimerupakankebijakankebijakanyang
mendasardalampengembanganpendidikan sehingga
tercapai tujuan pendidikan secara lebih terarah, lebih efektif dan
efisien.11 Dalam aplikasi pembelajaran, strategi merupakan
langkah-langkah atau
tindakan-tindakan yang mendasar dalam proses belajar mengajar
untuk
11
Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar”, dalam Ismail (ed), PBM-PAI di
Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 194
mencapai sasaran pendidikan maupun tujuan pembelajaran itu
sendiri.
Menurut Newman dan Logan yang dikutip oleh
Djamaludin
Darwis, strategi merupakan dasar setiap usaha meliputi:
3. Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dari
kualifikasi tujuan yang akan dicapai dengan
memperhatikan dan mempertimbangkan aspirasi
masyarakat yang memerlukan
4. Pertimbangan dan pemilihan cara atau pendekatan utama
yang dianggap ampuh untuk menempuh sasaran
5. Pertimbangan dan pengetahuan langkah-langkah yang
ditempuh sejak titik awal pelaksanaan sampai titik akhir
pencapaian sasaran
6. Pertimbangan dan penetapan tolok ukur untuk mengukur
taraf keberhasilan sesuai dengan tujuan yang dijadikan
sasaran.12
2. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
1. Pengertian Dalam proses belajar mengajar dewasa ini dikenal
istilah pembelajaran kooperatif atau lebih sering disebut
dengan Cooperative Learning. Cooperative Learning
terdiri dari dua kata yaitu Cooperative dan
Learning. Cooperative berarti“cooperation is
12
Ibid.,
13
working together to accomplish shared goals”.
Basyiruddin Usman mendefinisikan cooperative sebagai
belajar kelompok atau bekerjasama. Menurut Burton yang
dikutip oleh Nasution, kooperatif atau kerjasama ialah cara
individu mengadakan relasi dan bekerjasama dengan
individu lain untuk mencapai tujuan bersama.14
Sedangkan Learning adalah “the process through
which experience causes permanent change in knowledge
and behavior” yakni proses melalui pengalaman yang
menyebabkan perubahan permanent dalam pengetahuan
dan perilaku.15 Senada dengan hal itu Arthur T. Jersild,
yang dikutip Syaiful Sagala, mendefinisikan bahwa
Learning adalah “ modification of behavior through
experience and training” yakni pembentukan perilaku
melalui pengalaman dan latihan.16 Dia menambahkan
bahwa learning sebagai kegiatan memperoleh
pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara
mengolah bahan ajar.17
“Cooperative learning can be described as means
of providing opportunities for pupils to work together as a
13
M. Basyiruddin Usman, Metode Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
14
S. Nasution, Didaktik Azas Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2000), hlm. 149
15
Anita E. Woofolk, Educational Psychology, (USA: Allyn & Bacon,1996), cet. VI, hlm.
196
16
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 12
17
Ibid.,
team in accomplishing a set of given objectives” (belajar
bersama dapat dideskripsikan sebagai pemberian
kesempatan kepada siswa untuk bekerja bersama sebagai
sebuah tim dalam penyelesaian tugas yang diberikan).18
Mutadi mendefinisikan Cooperative Learning adalah
sebuah group kecil yang bekerja bersama sebagai sebuah
tim untuk
memecahkan masalah (solve a program), melengkapi
latihan (complete a task), atau untuk mencapai tujuan
tertentu (accomplish a common goal).19
David dan Roger Johnson mendefinisikan “a teaching
strategy
in which small teams, each with students of different levels
of ability, use a variety of learning activities to improve
their understanding of a subject.” 20 (Strategi pembelajaran
dalam bentuk kelompok-kelompok kecil dimana setiap
siswa memiliki tingkat kemampuan berbeda, dengan
menggunakan berbagai macam aktifitas belajar untuk
meningkatkan pemahaman terhadap materi).
18
http//:[Link]/[Link], [on line] 19 Oktober 2009
19
Mutadi, Change and Change Practial Approach In Teaching and Learning
Mathemathics, (Australia: 2000), hlm. 7
20
David and Roger Jhonson, Cooperative Learning, http//:[Link]/[Link],[Online] 20
October 2009
Yang dimaksud strategi cooperative learning
disini adalah strategi yang dapat membuat siswa
mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, serta
dapat memanfaatkan potensi yang ada pada siswa dengan
seluas-luasnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran kooperatif dirancang untuk memanfaatkan
fenomena
kerjasama/gotong royong dalam pembelajaran yang
menekankan terbentuknya hubungan kerjasama antara
siswa satu dengan yang lainnya, terbentuknya sikap dan
perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas
kegiatan belajar siswa.
3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pembelajaran berasal dari kata dasar “belajar”. Ban yak
pengertian tentang belajar yang dikemukakan oleh para ahli
pendidikan. Beberapa diantaranya mengatakan bahwa belajar
adalah proses interaksi dengan lingkungan.21 Hal ini berarti
bahwa manusia belajar melalui interaksi dengan
lingkungannya yang akan berlangsung seumur hidupnya,
21
Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar ”, dalam Chabib Thoha dan
Abdul Mu’thi, PBM-PAI di Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan
Agama Islam, loc. cit., hlm. 216
karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT
sebagai makhluk sosial yang tidak lepas dari lingkungannya.
Sebagai makhluk sosial, maka manusia mempunyai
tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi. Sebagaimana
firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
ل ِفي ٱۡل َأ ۡر ِض َخ ِلي َف ۖٗة َقا ُل ٓو ْا َأ َت ۡج َع ُل ِفي َها َمن ُي ۡف ِس ُد ِفي َها َو َي ۡس ِف ُك ٱل ِّد َم ٓا َء َو َن ۡح ُن ُن َس ِّب ُح ِب َح ۡم ِد َك َو ُن َق ِّد ُسٞ َو ِإ ۡذ َقا َل َر ُّب َك ِل ۡل َم َٰٓل ِئ َك ِة ِإ ِّني َجا ِع
٣٠ َل َۖك َقا َل ِإ ِّن ٓي َأ ۡع َل ُم َما َلا َت ۡع َل ُمو َن
sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang
khalifah di atas bumi (Adam).” (Q.S Al-Baqarah: 30)22
Pengertian lain dari belajar adalah bahwa belajar
merupakan suatu
kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah
laku.23 Sedangkan menurut WS. Winkell, belajar adalah suatu
aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, ketrampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan ini
bersifat relatif konstan dan berbeda.24
Clifford T. Morgan mengemukakan bahwa “Learning
is any relatively permanent change in behavior that is a result
22
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahannya, loc. cit., hlm. 6
23
Max Darsono, dkk., Belajar dan Pembelajaran, (Semarang: CV. IKIP Semarang Press,
2000), hlm. 24
24
W.S. Winkell, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1986), hlm. 36
of past experience”. 25 (Belajar adalah perubahan tingkah laku
yang relatif tetap yang terjadi sebagai hasil pengalaman atau
latihan).
Dari beberapa definisi belajar di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses interaksi dengan
lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan-
perubahan, baik dalam tingkah laku, pemikiran, pemahaman,
ketrampilan dan nilai sikap yang baik sebagai hamba Allah
maupun sebagai khalifah Allah.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses saling
pengaruh mempengaruhi dalam bentuk hubungan interaksi
antara siswa dan lingkungannya sehingga terjadi perubahan
tingkah laku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut
banyak diketahui oleh faktor internal yang
dipengaruhi oleh diri sendiri maupun faktor eksternal yang
dipengaruhi oleh lingkungan pembelajaran, tugas utama
seorang guru adalah mengkondisikan lingkungan agar
menunjang perubahan perilaku peserta didik.26
Dimyati dan Mudjiono mengemukakan, Pembelajaran
merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk
membelajarkan siswa, dalam belajar bagaimana memperoleh
25
Clifford T. Morgan, Introduction to Psychologi, (New York: Mc. Grow Hil, Book
Company, [Link]), hlm. 187
26
E. Mulyasa, Kurikulim Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),
hlm. 100
dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap.27 Dari
beberapa defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah interaksi edukatif antara dua pihak yaitu
peserta didik yang melakukan kegiatan belajar dengan pendidik
yang melakukan kegiatan membelajarkan, dimana terdapat
juga proses memilih, menetapkan, mengembangkan metode
yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Setelah mengetahui pengertian pembelajaran,
selanjutnya akan dibahas pengertian pendidikan agama Islam.
Dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Islam”, Zakiah
Daradjat mengemukakan bahwa PAI adalah suatu usaha
bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya
setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang
terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati
makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat
mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam
yang telah dianutnya sebagai pedoman hidup sehingga dapat
menjadikan keselamatan di dunia dan di akhirat.28
Menurut Zuhairini PAI adalah usaha-usaha secara
sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik supaya
mereka hidup sesuai
27
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Depdikbud bekerjasama
dengan Rineka Cipta, 1999), hlm. 15
28
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), hlm. 88
dengan ajaran Islam.29 Adapun menurut M. Arifin PAI adalah
usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar
mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta
perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui
ajaran Islam kearah titik klimaks pertumbuhan dan
perkembangannya.30
Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran PAI, yaitu :
E. PAI sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan,
pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara
berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
F. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai
tujuan, dalam arti ada yang dibimbing, diajari dan atau
latihan dalam peningkatan keyakinan, pemahaman,
penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam.
G. Pendidik/ GPAI yang melakukan kegiatan bimbingan,
pengajaran dan atau latihan secara sadar terhadap peserta
didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
H. Kegiatan (pembelajaran) PAI diarahkan untuk
meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan
pengamalan ajaran PAI dari peserta didik, yang disamping
29
Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983),
hlm. 10
30
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 22
untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga
sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial.31
G. Studi Relevan
Untuk mempermudah penyusunan skripsi maka peneliti
akan mendeskripsikan beberapa karya yang ada relevansinya
dengan judul skripsi ini. Adapun karya-karya tersebut adalah:
Pertama, skripsi Yayuk Afiana lulus tahun 2004 dengan
judul “Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran PAI di
SMUN Jumantono Karanganyar”.32 Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penerapan metode diskusi mampu membangun kreativitas
dan daya kritis siswa dalam mempelajari mata pelajaran
pendidikan agama Islam di SMUN Jumantono. Hal ini dibuktikan
dengan keaktifan siswa untuk berargumen dalam kelompok
maupun dalam diskusi kelas.
Kedua, skripsi Nur Khamidah lulus tahun 2005 dengan
judul “Implementasi Azas Kooperatif dalam Pembelajaran PA I di
SMP N 01 Comal Pemalang”.33 Penelitian ini berisi tentang azas
kooperatif yang terdiri dari saling ketergantungan positif (Positive
interdependence), tanggung jawab
31
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 76
32
Yayuk Afiana, “Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran PAI di SMUN
Jumantono Karanganyar” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2004).
33
Nur Khamidah, “Implementasi Azas Kooperatif dalam Pembelajaran PA I di SMP
N 01 Comal Pemalang” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2005).
perseorangan (Individual accountabilty), tatap muka (Face to face
interaction), ketrampilan sosial (Social skill) dan proses kelompok
(Group processing). Melalui azas kooperatif, peserta didik dalam
belajar yang berbentuk kelompok kecil untuk mencapai tujuan
yang sama dengan menggunakan aktivitas belajar guna
meningkatkan kemampuan peserta didik
dalam memahami materi pelajaran dan memecahkan masalah
secara kolektif. Dari segi afektif dapat meningkatkan jiwa sosial
dan solidaritas yang tinggi dengan diterapkannya metode-metode
yang mengutamakan adanya sifat kerjasama, selain kedua peranan
diatas juga dapat mencetak peserta didik yang mempunyai
tanggung jawab dalam menjalankan peranannya dalam proses
belajar mengajar di sekolah.
Ketiga, skripsi Nur Chayati lulus tahun 2006 dengan judul
“Strategi Pembelajaran PAI berbasis life skill (Studi Kasus di
SMAN 1 Tegal)”.34 Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
strategi pembelajaran PAI di SMAN 1 Tegal sudah
mengintegrasikan life skill yaitu dengan menggunakan metode
pembelajaran ceramah, tanya jawab dan lain-lain. Dari penelitian
tersebut bisa disimpulkan bahwa pendidikan hendaknya
diorientasikan tidak hanya pada kecakapan kognitif saja tetapi
lebih diorientasikan kepada kecakapan hidup.
34
Nur Chayati, “Strategi Pembelajaran PAI berbasis life skill (Stu di Kasus di SMAN
1 Tegal)” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2006).
Keempat, skripsi Eka Fitriyani lulus tahun 2009 dengan
judul “Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembelajaran
PAI di SMP Hj. Isriati Semarang”.35Hasil penelitian menunjukkan
bahwa strategi pembelajaran yang dikembangkan di SMP Hj Isriati
diwujudkan dalam kelima komponen yang saling mempengaruhi
yaitu tujuan pembelajaran, metode, media, guru serta siswa.
Komponen tersebut dirancang dan diarahkan agar dalam
pelaksannaanya siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Untuk itulah
strategi yang dikembangkan adalah active learning sedangkan
implementasi strategi active learning dalam pembelajaran PAI di
SMP Hj Isriati terwujud dalam tiga bentuk metode pembelajaran
yaitu teman sebaya (peer leassons), rapat kota (town meeting), dan
menghubungkan kembali (reconnecting).
Perbedaan tersebut terutama pada aspek pelaksanaan
pembelajaran kooperatif dalam mata pelajaran PAI. Dimana ciri
khas penelitian ini adalah peran penggunaan metode belajar
kelompok (learning together), diskusi
kelompok (group discussion), dan tutor sebaya (peer teaching)
sebagai bagian dari salah satu metode pembelajaran kooperatif.
Fokus penelitian ini adalah pada kesesuain penggunaan metode
tersebut terhadap materi yang diajarkan serta peran-peran
35
Eka Fitriyani, “Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembel ajaran PAI di
SMP Hj. Isriati Semarang” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2009).
komponen pembelajaran dalam menopang pelaksanaan
pembelajaran kooperatif sehingga peran siswa dapat tercapai
dengan optimal terutama pada aspek interaksi para siswa dalam
proses pembelajaran.
BAB II
PROSEDUR PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kualitatif dengan teknik analisis deskriftif. Dengan pendekatan
kualitatif ini diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang
ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu,
kelompok, masyarakat, dan atau organisasi dalam suatu setting konteks
tertentu yang dikaji daru sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan
holistik.36
Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan
aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data dan informasi yang
bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan
penting bagi peneliti.37 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian
kualitatif karena data dan informasi yang peneliti kumpulkan lebih banyak
bersifat keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.
Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip dari Lexy J. Moleong,
mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
36 ?
Jusuf Soewadji. Pengantar Metode Penelitian, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012).
hlm. 52.
37
Anjani Putri Belawati Pandiangan. Penelitian Tindakan Kelas, (Yogyakarta: CV Budi
Utama, 2019). hlm. 7
17
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang diamati.38
Krik dan Miller juga mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif
adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara
fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam
kawasannya maupun dalam peristilahannya.39
Berdasarkan karakteristik dapat dikemukakan disini bahwa
penelitian kualitatif itu :
1. Dilakukan pada kondisi yang alamiyah (sebagai lawannya adalah
eksperimen), langsung kesumber data dan peneliti adalah instrument
kunci.
2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul
berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada
angka.
3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses dari pada produk atau
outcome.
4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.
5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang
teramati).40
Penelitian ini mendeskripsikan fenomena yang terjadi sesuai dengan
permasalahan yang ada dengan menggunakan instrument penelitian,
38
Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2018). hlm. 4.
39
Loc. Cit.
40
Sugiyono. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, ( Bandung: Alfabeta,
2017). hlm. 13-14.
pedoman, observasi, wawancara dan dokumentasi serta menggunakan sudut
pandang pendidikan yang meneliti tentang nilai-nilai pendidikan agama Islam
dalam ekstrakurikuler Palang Merah Remaja SMP Negeri 1 Kuala Tungkal.
B. Setting dan Subjek Penelitian
Setting penelitian ini akan dilakukan di lokasi SMPN 3 Pengabuan
dengan maksud mengkaji strategi pembelajaran coperative learning dalam
Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMPN 3 Pengabuan.
Subjek penelitian ini adalah guru pendidikan Agama Islam SMPN 3
Pengabuan. Subjek yang diteliti diambil dengan menggunakan teknik
Purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel
sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini,
misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita
harapkan.41
C. Jenis dan Sumber Data
[Link] Data
Data yang digunakan dalam penelitian dan penulisan skripsi ini
terbagi menjadi dua jenis yaitu :
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperolah secara
langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat,
pengambilan langsung dari subjek sebagai informasi yang
41
Ibid. hlm. 218-219.
dicari.42 Sumber data penelitian terkait dengan pokok
permasalahan penelitian, berupa pengamatan langsung
(observasi) dan wawancara.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari
sumber pendukung untuk memperjelas sumber data primer
berupa data kepustakaan yang berkorelasi dengan
pembahasan objek penelitian termasuk dokumentasi.43
[Link] Data
Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. 44
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini penelitian ini adalah:
a. Guru Pendidikan Agama Islam (Siti Jahura, [Link])
b. Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Pengabuan
c. Murid SMP Negeri 3 Pengabuan
d. Sarana dan prasarana serta data-data lain yang berkaitan dengan
penelitian ini.
[Link] Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, maka
peneliti menggunakan metode lapangan (field research).
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data di
42
Saefudin Anwar, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 91
43
Ibid.,
44
Suharjono, dkk. Panduan Penulisan Skripsi dan Tugas Akhir, (Surabaya: Scopindo
Media Pustaka, 2020). hlm. 43
lapangan dengan menggunakan metode-metode sebagai
berikut:
1. Metode pengamatan (observasi)
Metode observasi yaitu metode yang digunakan
melalui pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan
perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan
keseluruhan alat indera.45
Metode ini digunakan untuk mengamati proses
pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam kelas
penelitain. Metode ini diharapkan dapat mendapatkan data-
data terkait dengan penerapan model-model pembelajaran
kooperatif.
2. Metode wawancara (Interview)
Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan
cara tanya jawab, sambil bertatap muka antar penannya
atau pewawancara dengan penjawab atau responden
dengan menggunakan alat yang dinamakan Interview guide
(panduan wawancara).46 Wawancara dilakukan peneliti
kepada kepala sekolah, guru dan karyawan, baik untuk
menilai keadaan seseorang, atupun untuk mencari data
tentang variabel latar belakang
45
Suharsimi Arikunto, Prosuder Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), cet.3, hlm. 149
46
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 194
siswa, orang tua, pendidikan, sikap terhadap sesuatu. 47
Lebih spesifik metode ini digunakan untuk memperoleh
data tentang kondisi yang ada di SMPN 3 Pengabuan, serta
mengenai pelaksanaan metode kelompok, diskusi
kelompok dan tutor sebaya antara lain:
- Guna mengetahui tentang pelaksanaan strategi
pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran PAI.
- Guna mengetahui faktor penghambat dan pendukung
dengan diterapkannya strategi pembelajaran
kooperatif dalam pembelajaran PAI.
3. Metode dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi
ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-
dokumen.27 Metode ini digunakan untuk mengumpulkan
data yang berkaitan dengan SMPN 3 Pengabuan yang
dibutuhkan dalam penelitian ini.
Metode dokumentasi penulis gunakan untuk
mengumpulkan data-data yang bersifat dokumenter,
misalnya; sejarah berdirinya sekolah, struktur organisasi
siswa, jumlah guru, karyawan dan siswa.
E. Triangulasi
47
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 155
Triangulasi adalah melihat sesuatu dengan realitas dari berbagai sudut
pandang atau perspektif dari berbagai segi sehingga lebih kredibel dan akurat.
Untuk membuat triangulasi, perlu mengoleksi tipe data yang berbeda-beda,
menggunakan sumber data berbeda, dalam waktu yang berbeda-beda pula.
Triangulasi sangat penting dalam riset kualitatif dan tindakan, agar
kesimpulan penelitiannya dapat sungguh valid, akurat dan dipercaya.48
Menurut Lexy J Moleong, triangulasi terhadap sumber dilakukan
dengan cara:
← Membandingkan data hasil pengamatan lapangan dengan data hasil
wawancara
← Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa
yang dikatakan secara pribadi
← Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu
← Membandingkan keadaan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat
dan pandangan orang
← Membandingkan hasil wawancara dengan suatu dokumen yang lain.49
Berdasarkan triangulasi diatas, maka yang dimaksud untuk mengecek
kebenaran dan keabsahan data-data yang diperoleh dilapangan tentang strategi
pembelajaran coperative learning dalam Pendidikan Agama Islam di SMP
Negeri 3 Pengabuan.
48
Paul Suparno. Riset Tindakan untuk Pendidik, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 71
49
Lexy J. Moleong. Op. Cit, hlm. 330-331.
F. Analisis Data
Menurut Bogdan dan Biklen yang dikutip dari Lexy J Moleong
analisis data kualitatif adalah “upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja
dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan
yang dapat dikelola, mensinstesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa
yang dapat diceritakan kepada orang lain.”50 Adapun tahapan analisis data
yang peneliti gunakan adalah :
1. Analisis Domain
Analisis ini pada umumnya dilakukan untuk memperoleh
gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti/
ojek penelitian.51
Pada tahap ini akan dianalisis data yang berkenaan dengan
gambaran umum SMP Negeri 3 Pengabuan serta rangkaian pelaksanaan
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Analisis Taksonomi
Setelah Peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan
domain-domain kategori dari situasi sosial tertentu (agak mendetail), maka
selanjutnya ditetapkan sebagai fokus penelitian, perlu diperdalam lagi
melalui pengumpulan data lapangan. Oleh karena itu pada tahap ini
diperlukan analisis lagi yang disebut analisis taksonomi. Analisis
50
Ibid, hlm. 248.
51
Sugiyono. Op. Cit, hlm. 256.
taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul
berdasarkan domain yang telah ditetapkan.52
Pada tahap ini data yang akan di analisis adalah strategi
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMP Negeri 3
Pengabuan.
3. Analisis Kompensial
Pada analisis komponensional, yang dicari untuk diorganisasikan
dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang
memiliki berbedaan atau yang kontras.53 Analisis kompenensial dilakukan
setelah peneliti mempunyai cukup banyak fakta/informasi dari hasil
wawancara dan observasi yang melacak kontras-kontras di antara suatu
domain.
Pada tahap ini data yang akan dianalisis adalah dokumentasi yang
berkenaan dengan strategi pembelajaran pendidikan agama islam serta
manfaaat yang dirasakan siswa terhadap strategi yang diterapkan dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 3 Pengabuan.
G. Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian ini disusun bertujuan sebagai pedoman dalam
melakukan langkah-langkah penelitian. Dengan adanya jadwal penelitian,
penulis akan lebih mudah mempersiapkan langkah-langkah penelitian yang
akan dilakukan nantinya. Lebih jelasnya jadwal penelitian ini dapat dilihat
pada tabel halaman :
52
Ibid, hlm. 261.
53
Ibid, hlm. 264.
Tabel I
Jadwal Penelitan
Bulan
Septemb
Kegiatan Februari Mei Juni Juli Agustus
er
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan Judul X
Pembuatan
X X X X X X X
Proposal
Pengurusan
Dosen
Pembimbng
Perbaikan
Proposal
Pengurusan Izin
& Pelaksanaan
seminar
Perbaikan
Seminar
Pengurusan Izin
Riset
Riset Lapangan
Penyusun Data
Penulisan Skripsi
Perbaikan dari
Pembimbing
Penyempurnaan
Pramunaqasah
Munaqasah
Daftar Pustaka
Tim Redaksi Fokus Media,(2003). UU Sistem Pendidikan Nasional (No. 20
Tahun 2003). Bandung: Fokus Media
Muhaimin,dkk.,(2001). Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan PAI
di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Trianto,(2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka
Djohar,(2002). Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan.
Yogyakarta: Lesfi
Nur Hadi,(2004). et. al., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam
KBK. Malang: UNM
Melsilberman,(2002). Active Learning, Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta: Yapendis
M. Quraish Shihab,(2002). Tafsir Al Misbah Volume 3. Jakarta: Lentera Hati
Djamaluddin Darwis,(1998). Strategi Belajar Mengajar, dalam Ismail (ed), PBM-
PAI di Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama
Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
S. Nasution,(2000). Didaktik Azas Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
Anita E. Woofolk, (1996). Educational Psychology. USA: Allyn & Bacon
Syaiful Sagala,(2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Mutadi,(2000). Change and Change Practial Approach In Teaching and Learning
Mathemathics. Australia
Max Darsono, dkk,(2000). Belajar dan Pembelajaran. Semarang: CV. IKIP
Semarang Press
W.S. Winkell,(1986). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia
E. Mulyasa,(2004). Kurikulim Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Dimyati dan Mujiono,(1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud
bekerjasama dengan Rineka Cipta
Zakiah Daradjat,(1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 1996
Zuhairini, dkk,(1983). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha
Nasional
M. Arifin,(2003). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Muhaimin,(2001). Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan
Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Yayuk Afiana,(2004). Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran PAI di
SMUN Jumantono Karanganyar Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang
Nur Khamidah,(2005). Implementasi Azas Kooperatif dalam Pembelajaran PA
I di SMP N 01 Comal Pemalang Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang
Nur Chayati,(2006). “Strategi Pembelajaran PAI berbasis life skill (Stu di
Kasus di SMAN 1 Tegal)” Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang
Eka Fitriyani,(2009). “Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembel
ajaran PAI di SMP Hj. Isriati Semarang” Skripsi. Semarang: Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
Jusuf Soewadji,(2012). Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Mitra Wacana
Media
Anjani Putri Belawati Pandiangan,(2019). Penelitian Tindakan Kelas.
Yogyakarta: CV Budi Utama
Lexy J. Moleong,(2018). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda
Karya
Sugiyono,(2017). Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta
Saefudin Anwar,(2001). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suharjono, dkk,(2020). Panduan Penulisan Skripsi dan Tugas Akhir. Surabaya:
Scopindo Media Pustaka
Suharsimi Arikunto,(2006). Prosuder Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Moh. Nazir,(2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Paul Suparno,(2008). Riset Tindakan untuk Pendidik. Jakarta: PT. Grasindo