0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan35 halaman

Strategi Pembelajaran Kooperatif PAI

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan agama Islam (PAI) dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dan mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran konvensional yang masih mendominasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi pembelajaran kooperatif sebagai solusi untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman siswa di SMPN 3 Pengabuan. Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.

Diunggah oleh

Ardi Yansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan35 halaman

Strategi Pembelajaran Kooperatif PAI

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan agama Islam (PAI) dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dan mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran konvensional yang masih mendominasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi pembelajaran kooperatif sebagai solusi untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman siswa di SMPN 3 Pengabuan. Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.

Diunggah oleh

Ardi Yansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 dijelaskan bahwa

tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis, serta

bertanggung jawab.1 Berkaitan dengan itu, PAI merupakan usaha

sadar untuk menciptakan siswa dalam menyakini, memahami,

menghayati dan mengamalkan agama Islam, mempunyai peranan

yang sangat besar dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional

tersebut. Secara umum PAI bertujuan agar siswa memahami,

menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi

manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT

dan berakhlak mulia.2

Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, siswa haruslah

memiliki latar belakang pendidikan yang terintegrasi. Pendidikan

harus merupakan bagian yang utuh. Komponen pendidikan yang

1
Tim Redaksi Fokus Media, UU Sistem Pendidikan Nasional (No. 20 Tahun 2003),
(Bandung: Fokus Media, 2003), hlm. 6-7
2
Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan PAI di
Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 14
terdiri dari guru, materi pelajaran, proses pembelajaran,

lingkungan, dan siswa sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Masalah pokok pembelajaran pada pendidikan formal

dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal

ini tampak pada rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa

sangat memprihatinkan. Ini merupakan dampak dari pembelajaran

yang masih bersifat konvensional yang tidak menyentuh ranah

peserta didik itu sendiri. Proses pembelajaran hingga dewasa ini

masih didominasi guru. Siswa didik untuk berkembang secara

mandiri melalui penemuan dan proses berfikirnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, proses pembelajaran masih

bersifat tradisional. Guru cenderung mendominasi kelas. Guru

menjadi pusat kegiatan pembelajaran. Suasana kelas cenderung

bersifat theacher centered. Guru menjadi pusat kegiatan kelas dan

siswa menjadi pasif. Timbul pertanyaan mengapa guru lebih suka

menerapkan model pembelajaran tradisional. Dari hasil

pengamatan dinyatakan, bahwa dengan model pembelajaran

tradisional, guru tidak memerlukan alat dan media. Pekerjaan guru

dirasa lebih ringan. Sementara penerapan model pembelajaran

variatif dirasa mempersulit pekerjaan guru. Persiapan guru lebih

rumit dan membutuhkan banyak biaya. Itulah suatu kenyataan di


lapangan. Sebagaimana dinyatakan Trianto, masalah ini yang

paling dijumpai dalam proses belajar mengajar di kelas.3

Sementara itu, sistem mengajar dengan pola tradisional

dapat menjauhkan siswa dari bahan ajarnya. Siswa tidak dapat

berinteraksi langsung dengan bahan ajar. Interaksi dalam kelas

hanya terjadi antara guru dan siswa. Komunikasi kelas hanya

bersifat satu arah (one-way communication). Interaksi secara

intensif antara siswa dengan siswa cenderung minim. Itulah yang

menyebabkan siswa bersifat reseptif. Siswa hanya menerima, tanpa

ada interaksi. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin kecilnya

nyali siswa untuk bertanya. Siswa hanya duduk dan mendengarkan

penjelasan guru. Karena itu, bahan ajar tidak mampu merangsang

kreatifitas berfikir siswa. Padahal disadari, betapa pentingnya

kreatifitas berfikir siswa dalam memahami materi yang

disampaikan guru. Sebagaimana dinyatakan Djuhar, bahwa

pemikiran kreatif memungkinkan orang berfikir alternatif.4

Selain itu pembelajaran konvensional dapat membuat siswa

menjadi tidak aktif dan dapat menimbulkan gap (sekat) sosial

dalam kelas. Dimana siswa yang pandai akan bersaing dengan

siswa yang pandai saja, sedangkan siswa yang kurang pandai

merasa terisolasi. Keadaan ini dapat menimbulkan

3 ?
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka,2007), hlm. 1-2
4
Djohar, Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan, (Yogyakarta:
Lesfi, 2002), hlm. 5-6
kompetisi yang tidak sehat. Yang lebih parah lagi, kesenjangan itu

mengarah pada kondisi yang merugikan. Siswa akan cenderung

bersikap individualistik , apatis, dan hanya mengejar nilai.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar proses

pembelajaran pendidikan agama Islam lebih baik adalah melalui

pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan

pembelajaran yang secara sadar dan sengaja untuk menciptakan

interaksi yang saling mengasihi sehingga peserta didik tidak hanya

belajar dari guru dan buku ajar semata, tetapi juga dari sesama

peserta didik.55

Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori

konstruktivistik. Teori ini menyatakan bahwa siswa harus

menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks,

mengecek informasi baru dengan dengan aturan-aturan lama dan

merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Bagi siswa agar

benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka

harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu

untuk dirinya dan berusaha mengeluarkan ide-ide yang ada pada

diri siswa.6

5
Nur Hadi, et. al., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, (Malang:
UNM, 2004), hlm. 61
6
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, op. cit.,
hlm.13
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa

akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit

jika mereka saling

berdiskusi dengan temannya. Sebagaimana dinyatakan

Melsilberman, ” what I teach to another, I master”.7 Di dalam

kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok

kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa sederajat tapi heterogen,

kemampuan, jenis kelamin dan satu sama lain saling membantu.

Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan

kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif

dalam proses berfikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam

kelompok, tugas anggota

kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh

guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai

ketuntasan belajar.8

Pembentukan kelompok bertujuan agar peserta didik dapat

teratur dan saling bekerja sama dalam kelompok. Seperti Firman

Allah dalam surat At Taubah ayat 2 :

‫َٰٓي َأ ُّي َها ٱ َّل ِذي َن َءا َم ُنو ْا َلا ُت ِح ُّلو ْا َش َٰٓع ِئ َر ٱل َّل ِه َوَلا ٱل َّش ۡه َر ٱۡل َح َرا َم َوَلا ٱۡل َه ۡد َي‬

‫َوَلا ٱۡل َق َٰٓل ِئ َد َو َل ٓا َء ٓا ِّمي َن ٱۡل َبۡي َت ٱۡل َح َرا َم َيۡب َت ُغو َن َف ۡض ٗلا ِّمن َّر ِّب ِه ۡم َو ِر ۡض َٰو ٗن ۚا َو ِإ َذا َح َل ۡل ُت ۡم‬

‫َفٱ ۡص َطا ُدوْۚا َو َلا َي ۡج ِر َم َّن ُك ۡم َش َنَٔ‍ا ُن َق ۡو ٍم َأن َص ُّدو ُك ۡم َع ِن ٱۡل َم ۡس ِج ِد ٱۡل َح َرا ِم َأن َت ۡع َت ُدوْۘا‬

7 ?
Melsilberman, Active Learning, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta:
Yapendis,2002),hlm.1
8
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, op. cit.,

hlm.41
‫َو َت َعا َو ُنو ْا َع َلى ٱۡل ِب ِّر َوٱل َّت ۡق َو ٰۖى َوَلا َت َعا َو ُنو ْا َع َلى ٱۡل ِإ ۡث ِم َوٱۡل ُع ۡد َٰو ِۚن َوٱ َّت ُقو ْا ٱل َّل َۖه ِإ َّن ٱل َّل َه‬

٢ ‫َش ِدي ُد ٱۡل ِع َقا ِب‬

“Dan tolong menolonglah dalam hal kebaikan dan taqwa

dan janganlah tolong menolong di dalam hal berbuat dosa

dan pelanggaran”. (Q.S Al Maidah: 2)9

Dalam tafsir Al Misbah, Quraisy Syihab menyatakan

bahwa ayat inilah yang menjadi prinsip dasar dalam menjalin

kerjasama dan saling membantu selama tujuannya adalah kebaikan

dan ketaqwaan.10

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa agama Islam selain

memerintahkan umatnya untuk belajar, juga memerintahkan

umatnya agar mengajarkan ilmunya untuk orang lain. Hal ini

sesuai dengan tujuan pembelajaran kooperatif yang disusun dalam

sebuah usaha; (1) untuk meningkatkan partisipasi peserta didik, (2)

memfasilitasi peserta didik dengan pengalaman sikap

kepemimpinan dan (3) membuat keputusan dalam kelompok, serta

(4) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berinteraksi

dan belajar bersama-sama. Jadi dalam pembelajaran kooperatif

peserta didik berperan ganda, yaitu sebagai peserta didik ataupun

sebagai guru.

9
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahannya, (Jakarta: Pustaka Amani, 2005)
hlm. 277
10
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Volume 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 14
Bertolak dari pandangan diatas maka penulis bermaksud

meneliti kajian tersebut sehingga nantinya pembelajaran

pendidikan agama Islam yang

berlangsung di SMK Muhammadiyah 1 Pemalang dapat

menjadikan peserta didik lebih aktif dan paham pada materi yang

dipelajari dan pembelajaran yang dilakukan. Untuk judul dari

penelitian ini adalah “Strategi Pembelajaran Kooperatif

(Cooperative Learning Strategy) dalam Pembelajaran PAI di

Kelas VII SMPN 3 Pengabuan”

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang dijelaskan diatas, maka

permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana strategi pembelajaran PAI di SMPN 3 Pengabuan?

2. Bagaimana implementasi strategi pembelajaran kooperatif

(cooperative learning strategy) dalam pembelajaran PAI di

kelas VII SMPN 3 Pengabuan?

C. Fokus Masalah
Adapun fokus masalah dalam penelitian ini adalah

bagaimana strategi pembelajaran kooperatif learning dalam

pembelajaran PAI di kelas VII SMPN 3 Pengabuan.

D. Tujuan Penulisan

Setiap penulisan ilmiah tentu memiliki maksud dan tujuan

pokok yang akan dicapai.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui strategi pembelajaran pembelajaran PAI di

SMPN 3 Pengabuan.

2. Untuk mengetahui implementasi strategi pembelajaran

kooperatif (cooperative learning strategy) dalam pembelajaran

PAI di kelas VII SMPN 3 Pengabuan.

E. Kegunaan Penelitina

Sedangkan kegunaaan dari penelitian ini adalah:

1 Secara teoritis

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi atau acuan

yang dapat dijadikan pedoman guru dalam menyampaikan

materi-materi pendidikan agama [Link] penelitian ini

dapat digunakan sebagai bahan dasar bagi pelaksanaan

penelitina lebih lanjut.

2. Secara praktis

a. Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan kualitas

pembelajaran di sekolah.
b. Sebagai motivator dalam meningkatkan kualitas mengajar.

c. Sebagai bahan rujukan dalam mengelola pembelajaran

pendidikan agama Islam dengan strategi pembelajaran

kooperatif.

F. Landasan Teori

Landasan berfikir dalam menganalisa, menelaah dan mengkaji

serta menjabarkan permasalahan yang diteliti maka diperlukan suatu

rujukan dan konsep para ahli atau pakar dalam bidang pendidikan

yang sesuai dengan masalah yang diteliti.

Berangkat dari permasalahan yang diteliti, strategi

pembelajaran kooperatif learning dalam Pendidikan Agama Islam di

kelas VII SMPN 3 Pengabuan, maka teori yang dikembangkan dalam

kerangka berfikir ini adalah:

1. Strategi

Dalamkontekspendidikan,strategimerupakankebijakankebijakanyang

mendasardalampengembanganpendidikan sehingga

tercapai tujuan pendidikan secara lebih terarah, lebih efektif dan

efisien.11 Dalam aplikasi pembelajaran, strategi merupakan

langkah-langkah atau

tindakan-tindakan yang mendasar dalam proses belajar mengajar

untuk
11
Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar”, dalam Ismail (ed), PBM-PAI di
Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 194
mencapai sasaran pendidikan maupun tujuan pembelajaran itu

sendiri.

Menurut Newman dan Logan yang dikutip oleh

Djamaludin

Darwis, strategi merupakan dasar setiap usaha meliputi:

3. Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dari

kualifikasi tujuan yang akan dicapai dengan

memperhatikan dan mempertimbangkan aspirasi

masyarakat yang memerlukan

4. Pertimbangan dan pemilihan cara atau pendekatan utama

yang dianggap ampuh untuk menempuh sasaran

5. Pertimbangan dan pengetahuan langkah-langkah yang

ditempuh sejak titik awal pelaksanaan sampai titik akhir

pencapaian sasaran

6. Pertimbangan dan penetapan tolok ukur untuk mengukur

taraf keberhasilan sesuai dengan tujuan yang dijadikan

sasaran.12

2. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

1. Pengertian Dalam proses belajar mengajar dewasa ini dikenal

istilah pembelajaran kooperatif atau lebih sering disebut

dengan Cooperative Learning. Cooperative Learning

terdiri dari dua kata yaitu Cooperative dan

Learning. Cooperative berarti“cooperation is


12
Ibid.,
13
working together to accomplish shared goals”.

Basyiruddin Usman mendefinisikan cooperative sebagai

belajar kelompok atau bekerjasama. Menurut Burton yang

dikutip oleh Nasution, kooperatif atau kerjasama ialah cara

individu mengadakan relasi dan bekerjasama dengan

individu lain untuk mencapai tujuan bersama.14

Sedangkan Learning adalah “the process through

which experience causes permanent change in knowledge

and behavior” yakni proses melalui pengalaman yang

menyebabkan perubahan permanent dalam pengetahuan

dan perilaku.15 Senada dengan hal itu Arthur T. Jersild,

yang dikutip Syaiful Sagala, mendefinisikan bahwa

Learning adalah “ modification of behavior through

experience and training” yakni pembentukan perilaku

melalui pengalaman dan latihan.16 Dia menambahkan

bahwa learning sebagai kegiatan memperoleh

pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara

mengolah bahan ajar.17

“Cooperative learning can be described as means

of providing opportunities for pupils to work together as a

13
M. Basyiruddin Usman, Metode Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
14
S. Nasution, Didaktik Azas Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2000), hlm. 149
15
Anita E. Woofolk, Educational Psychology, (USA: Allyn & Bacon,1996), cet. VI, hlm.
196
16
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 12
17
Ibid.,
team in accomplishing a set of given objectives” (belajar

bersama dapat dideskripsikan sebagai pemberian

kesempatan kepada siswa untuk bekerja bersama sebagai

sebuah tim dalam penyelesaian tugas yang diberikan).18

Mutadi mendefinisikan Cooperative Learning adalah

sebuah group kecil yang bekerja bersama sebagai sebuah

tim untuk

memecahkan masalah (solve a program), melengkapi

latihan (complete a task), atau untuk mencapai tujuan

tertentu (accomplish a common goal).19

David dan Roger Johnson mendefinisikan “a teaching

strategy

in which small teams, each with students of different levels

of ability, use a variety of learning activities to improve

their understanding of a subject.” 20 (Strategi pembelajaran

dalam bentuk kelompok-kelompok kecil dimana setiap

siswa memiliki tingkat kemampuan berbeda, dengan

menggunakan berbagai macam aktifitas belajar untuk

meningkatkan pemahaman terhadap materi).

18
http//:[Link]/[Link], [on line] 19 Oktober 2009
19
Mutadi, Change and Change Practial Approach In Teaching and Learning
Mathemathics, (Australia: 2000), hlm. 7
20
David and Roger Jhonson, Cooperative Learning, http//:[Link]/[Link],[Online] 20
October 2009
Yang dimaksud strategi cooperative learning

disini adalah strategi yang dapat membuat siswa

mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, serta

dapat memanfaatkan potensi yang ada pada siswa dengan

seluas-luasnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi

pembelajaran kooperatif dirancang untuk memanfaatkan

fenomena

kerjasama/gotong royong dalam pembelajaran yang

menekankan terbentuknya hubungan kerjasama antara

siswa satu dengan yang lainnya, terbentuknya sikap dan

perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas

kegiatan belajar siswa.

3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pembelajaran berasal dari kata dasar “belajar”. Ban yak

pengertian tentang belajar yang dikemukakan oleh para ahli

pendidikan. Beberapa diantaranya mengatakan bahwa belajar

adalah proses interaksi dengan lingkungan.21 Hal ini berarti

bahwa manusia belajar melalui interaksi dengan

lingkungannya yang akan berlangsung seumur hidupnya,

21
Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar ”, dalam Chabib Thoha dan
Abdul Mu’thi, PBM-PAI di Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan
Agama Islam, loc. cit., hlm. 216
karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT

sebagai makhluk sosial yang tidak lepas dari lingkungannya.

Sebagai makhluk sosial, maka manusia mempunyai

tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi. Sebagaimana

firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 30:

‫ل ِفي ٱۡل َأ ۡر ِض َخ ِلي َف ۖٗة َقا ُل ٓو ْا َأ َت ۡج َع ُل ِفي َها َمن ُي ۡف ِس ُد ِفي َها َو َي ۡس ِف ُك ٱل ِّد َم ٓا َء َو َن ۡح ُن ُن َس ِّب ُح ِب َح ۡم ِد َك َو ُن َق ِّد ُس‬ٞ ‫َو ِإ ۡذ َقا َل َر ُّب َك ِل ۡل َم َٰٓل ِئ َك ِة ِإ ِّني َجا ِع‬

٣٠ ‫َل َۖك َقا َل ِإ ِّن ٓي َأ ۡع َل ُم َما َلا َت ۡع َل ُمو َن‬

sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang

khalifah di atas bumi (Adam).” (Q.S Al-Baqarah: 30)22

Pengertian lain dari belajar adalah bahwa belajar

merupakan suatu

kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah

laku.23 Sedangkan menurut WS. Winkell, belajar adalah suatu

aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi

aktif dengan lingkungan

yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,

pemahaman, ketrampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan ini

bersifat relatif konstan dan berbeda.24

Clifford T. Morgan mengemukakan bahwa “Learning

is any relatively permanent change in behavior that is a result

22
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahannya, loc. cit., hlm. 6
23
Max Darsono, dkk., Belajar dan Pembelajaran, (Semarang: CV. IKIP Semarang Press,
2000), hlm. 24
24
W.S. Winkell, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1986), hlm. 36
of past experience”. 25 (Belajar adalah perubahan tingkah laku

yang relatif tetap yang terjadi sebagai hasil pengalaman atau

latihan).

Dari beberapa definisi belajar di atas, dapat diambil

kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses interaksi dengan

lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan-

perubahan, baik dalam tingkah laku, pemikiran, pemahaman,

ketrampilan dan nilai sikap yang baik sebagai hamba Allah

maupun sebagai khalifah Allah.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses saling

pengaruh mempengaruhi dalam bentuk hubungan interaksi

antara siswa dan lingkungannya sehingga terjadi perubahan

tingkah laku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut

banyak diketahui oleh faktor internal yang

dipengaruhi oleh diri sendiri maupun faktor eksternal yang

dipengaruhi oleh lingkungan pembelajaran, tugas utama

seorang guru adalah mengkondisikan lingkungan agar

menunjang perubahan perilaku peserta didik.26

Dimyati dan Mudjiono mengemukakan, Pembelajaran

merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk

membelajarkan siswa, dalam belajar bagaimana memperoleh

25
Clifford T. Morgan, Introduction to Psychologi, (New York: Mc. Grow Hil, Book
Company, [Link]), hlm. 187
26
E. Mulyasa, Kurikulim Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),
hlm. 100
dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap.27 Dari

beberapa defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran adalah interaksi edukatif antara dua pihak yaitu

peserta didik yang melakukan kegiatan belajar dengan pendidik

yang melakukan kegiatan membelajarkan, dimana terdapat

juga proses memilih, menetapkan, mengembangkan metode

yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Setelah mengetahui pengertian pembelajaran,

selanjutnya akan dibahas pengertian pendidikan agama Islam.

Dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Islam”, Zakiah

Daradjat mengemukakan bahwa PAI adalah suatu usaha

bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya

setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang

terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati

makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat

mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam

yang telah dianutnya sebagai pedoman hidup sehingga dapat

menjadikan keselamatan di dunia dan di akhirat.28

Menurut Zuhairini PAI adalah usaha-usaha secara

sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik supaya

mereka hidup sesuai

27
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Depdikbud bekerjasama
dengan Rineka Cipta, 1999), hlm. 15
28
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), hlm. 88
dengan ajaran Islam.29 Adapun menurut M. Arifin PAI adalah

usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar

mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta

perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui

ajaran Islam kearah titik klimaks pertumbuhan dan

perkembangannya.30

Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal

yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran PAI, yaitu :

E. PAI sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan,

pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara

berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.

F. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai

tujuan, dalam arti ada yang dibimbing, diajari dan atau

latihan dalam peningkatan keyakinan, pemahaman,

penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam.

G. Pendidik/ GPAI yang melakukan kegiatan bimbingan,

pengajaran dan atau latihan secara sadar terhadap peserta

didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.

H. Kegiatan (pembelajaran) PAI diarahkan untuk

meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan

pengamalan ajaran PAI dari peserta didik, yang disamping

29
Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983),
hlm. 10
30
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 22
untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga

sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial.31

G. Studi Relevan

Untuk mempermudah penyusunan skripsi maka peneliti

akan mendeskripsikan beberapa karya yang ada relevansinya

dengan judul skripsi ini. Adapun karya-karya tersebut adalah:

Pertama, skripsi Yayuk Afiana lulus tahun 2004 dengan

judul “Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran PAI di

SMUN Jumantono Karanganyar”.32 Hasil penelitian menunjukkan

bahwa penerapan metode diskusi mampu membangun kreativitas

dan daya kritis siswa dalam mempelajari mata pelajaran

pendidikan agama Islam di SMUN Jumantono. Hal ini dibuktikan

dengan keaktifan siswa untuk berargumen dalam kelompok

maupun dalam diskusi kelas.

Kedua, skripsi Nur Khamidah lulus tahun 2005 dengan

judul “Implementasi Azas Kooperatif dalam Pembelajaran PA I di

SMP N 01 Comal Pemalang”.33 Penelitian ini berisi tentang azas

kooperatif yang terdiri dari saling ketergantungan positif (Positive

interdependence), tanggung jawab


31
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 76
32
Yayuk Afiana, “Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran PAI di SMUN
Jumantono Karanganyar” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2004).

33
Nur Khamidah, “Implementasi Azas Kooperatif dalam Pembelajaran PA I di SMP
N 01 Comal Pemalang” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2005).
perseorangan (Individual accountabilty), tatap muka (Face to face

interaction), ketrampilan sosial (Social skill) dan proses kelompok

(Group processing). Melalui azas kooperatif, peserta didik dalam

belajar yang berbentuk kelompok kecil untuk mencapai tujuan

yang sama dengan menggunakan aktivitas belajar guna

meningkatkan kemampuan peserta didik

dalam memahami materi pelajaran dan memecahkan masalah

secara kolektif. Dari segi afektif dapat meningkatkan jiwa sosial

dan solidaritas yang tinggi dengan diterapkannya metode-metode

yang mengutamakan adanya sifat kerjasama, selain kedua peranan

diatas juga dapat mencetak peserta didik yang mempunyai

tanggung jawab dalam menjalankan peranannya dalam proses

belajar mengajar di sekolah.

Ketiga, skripsi Nur Chayati lulus tahun 2006 dengan judul

“Strategi Pembelajaran PAI berbasis life skill (Studi Kasus di

SMAN 1 Tegal)”.34 Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

strategi pembelajaran PAI di SMAN 1 Tegal sudah

mengintegrasikan life skill yaitu dengan menggunakan metode

pembelajaran ceramah, tanya jawab dan lain-lain. Dari penelitian

tersebut bisa disimpulkan bahwa pendidikan hendaknya

diorientasikan tidak hanya pada kecakapan kognitif saja tetapi

lebih diorientasikan kepada kecakapan hidup.

34
Nur Chayati, “Strategi Pembelajaran PAI berbasis life skill (Stu di Kasus di SMAN
1 Tegal)” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2006).
Keempat, skripsi Eka Fitriyani lulus tahun 2009 dengan

judul “Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembelajaran

PAI di SMP Hj. Isriati Semarang”.35Hasil penelitian menunjukkan

bahwa strategi pembelajaran yang dikembangkan di SMP Hj Isriati

diwujudkan dalam kelima komponen yang saling mempengaruhi

yaitu tujuan pembelajaran, metode, media, guru serta siswa.

Komponen tersebut dirancang dan diarahkan agar dalam

pelaksannaanya siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Untuk itulah

strategi yang dikembangkan adalah active learning sedangkan

implementasi strategi active learning dalam pembelajaran PAI di

SMP Hj Isriati terwujud dalam tiga bentuk metode pembelajaran

yaitu teman sebaya (peer leassons), rapat kota (town meeting), dan

menghubungkan kembali (reconnecting).

Perbedaan tersebut terutama pada aspek pelaksanaan

pembelajaran kooperatif dalam mata pelajaran PAI. Dimana ciri

khas penelitian ini adalah peran penggunaan metode belajar

kelompok (learning together), diskusi

kelompok (group discussion), dan tutor sebaya (peer teaching)

sebagai bagian dari salah satu metode pembelajaran kooperatif.

Fokus penelitian ini adalah pada kesesuain penggunaan metode

tersebut terhadap materi yang diajarkan serta peran-peran

35
Eka Fitriyani, “Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembel ajaran PAI di
SMP Hj. Isriati Semarang” Skripsi (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2009).
komponen pembelajaran dalam menopang pelaksanaan

pembelajaran kooperatif sehingga peran siswa dapat tercapai

dengan optimal terutama pada aspek interaksi para siswa dalam

proses pembelajaran.

BAB II

PROSEDUR PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan kualitatif dengan teknik analisis deskriftif. Dengan pendekatan

kualitatif ini diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang

ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu,

kelompok, masyarakat, dan atau organisasi dalam suatu setting konteks


tertentu yang dikaji daru sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan

holistik.36

Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan

aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data dan informasi yang

bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan

penting bagi peneliti.37 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian

kualitatif karena data dan informasi yang peneliti kumpulkan lebih banyak

bersifat keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.

Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip dari Lexy J. Moleong,

mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang

36 ?
Jusuf Soewadji. Pengantar Metode Penelitian, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012).
hlm. 52.
37
Anjani Putri Belawati Pandiangan. Penelitian Tindakan Kelas, (Yogyakarta: CV Budi
Utama, 2019). hlm. 7
17

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang diamati.38

Krik dan Miller juga mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif

adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara

fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam

kawasannya maupun dalam peristilahannya.39

Berdasarkan karakteristik dapat dikemukakan disini bahwa

penelitian kualitatif itu :

1. Dilakukan pada kondisi yang alamiyah (sebagai lawannya adalah

eksperimen), langsung kesumber data dan peneliti adalah instrument

kunci.

2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul

berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada

angka.

3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses dari pada produk atau

outcome.

4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.

5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang

teramati).40

Penelitian ini mendeskripsikan fenomena yang terjadi sesuai dengan

permasalahan yang ada dengan menggunakan instrument penelitian,

38
Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2018). hlm. 4.
39
Loc. Cit.
40
Sugiyono. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, ( Bandung: Alfabeta,
2017). hlm. 13-14.
pedoman, observasi, wawancara dan dokumentasi serta menggunakan sudut

pandang pendidikan yang meneliti tentang nilai-nilai pendidikan agama Islam

dalam ekstrakurikuler Palang Merah Remaja SMP Negeri 1 Kuala Tungkal.

B. Setting dan Subjek Penelitian

Setting penelitian ini akan dilakukan di lokasi SMPN 3 Pengabuan

dengan maksud mengkaji strategi pembelajaran coperative learning dalam

Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMPN 3 Pengabuan.

Subjek penelitian ini adalah guru pendidikan Agama Islam SMPN 3

Pengabuan. Subjek yang diteliti diambil dengan menggunakan teknik

Purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel

sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini,

misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita

harapkan.41

C. Jenis dan Sumber Data

[Link] Data

Data yang digunakan dalam penelitian dan penulisan skripsi ini

terbagi menjadi dua jenis yaitu :

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperolah secara

langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat,

pengambilan langsung dari subjek sebagai informasi yang

41
Ibid. hlm. 218-219.
dicari.42 Sumber data penelitian terkait dengan pokok

permasalahan penelitian, berupa pengamatan langsung

(observasi) dan wawancara.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari

sumber pendukung untuk memperjelas sumber data primer

berupa data kepustakaan yang berkorelasi dengan

pembahasan objek penelitian termasuk dokumentasi.43

[Link] Data

Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. 44

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini penelitian ini adalah:

a. Guru Pendidikan Agama Islam (Siti Jahura, [Link])

b. Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Pengabuan

c. Murid SMP Negeri 3 Pengabuan

d. Sarana dan prasarana serta data-data lain yang berkaitan dengan

penelitian ini.

[Link] Pengumpulan Data

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, maka

peneliti menggunakan metode lapangan (field research).

Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data di

42
Saefudin Anwar, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 91
43
Ibid.,
44
Suharjono, dkk. Panduan Penulisan Skripsi dan Tugas Akhir, (Surabaya: Scopindo
Media Pustaka, 2020). hlm. 43
lapangan dengan menggunakan metode-metode sebagai

berikut:

1. Metode pengamatan (observasi)

Metode observasi yaitu metode yang digunakan

melalui pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan

perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan

keseluruhan alat indera.45

Metode ini digunakan untuk mengamati proses

pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam kelas

penelitain. Metode ini diharapkan dapat mendapatkan data-

data terkait dengan penerapan model-model pembelajaran

kooperatif.

2. Metode wawancara (Interview)

Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses

memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan

cara tanya jawab, sambil bertatap muka antar penannya

atau pewawancara dengan penjawab atau responden

dengan menggunakan alat yang dinamakan Interview guide

(panduan wawancara).46 Wawancara dilakukan peneliti

kepada kepala sekolah, guru dan karyawan, baik untuk

menilai keadaan seseorang, atupun untuk mencari data

tentang variabel latar belakang


45
Suharsimi Arikunto, Prosuder Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), cet.3, hlm. 149
46
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 194
siswa, orang tua, pendidikan, sikap terhadap sesuatu. 47

Lebih spesifik metode ini digunakan untuk memperoleh

data tentang kondisi yang ada di SMPN 3 Pengabuan, serta

mengenai pelaksanaan metode kelompok, diskusi

kelompok dan tutor sebaya antara lain:

- Guna mengetahui tentang pelaksanaan strategi

pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran PAI.

- Guna mengetahui faktor penghambat dan pendukung

dengan diterapkannya strategi pembelajaran

kooperatif dalam pembelajaran PAI.

3. Metode dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi

ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-

dokumen.27 Metode ini digunakan untuk mengumpulkan

data yang berkaitan dengan SMPN 3 Pengabuan yang

dibutuhkan dalam penelitian ini.

Metode dokumentasi penulis gunakan untuk

mengumpulkan data-data yang bersifat dokumenter,

misalnya; sejarah berdirinya sekolah, struktur organisasi

siswa, jumlah guru, karyawan dan siswa.

E. Triangulasi

47
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 155
Triangulasi adalah melihat sesuatu dengan realitas dari berbagai sudut

pandang atau perspektif dari berbagai segi sehingga lebih kredibel dan akurat.

Untuk membuat triangulasi, perlu mengoleksi tipe data yang berbeda-beda,

menggunakan sumber data berbeda, dalam waktu yang berbeda-beda pula.

Triangulasi sangat penting dalam riset kualitatif dan tindakan, agar

kesimpulan penelitiannya dapat sungguh valid, akurat dan dipercaya.48

Menurut Lexy J Moleong, triangulasi terhadap sumber dilakukan

dengan cara:

← Membandingkan data hasil pengamatan lapangan dengan data hasil

wawancara

← Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa

yang dikatakan secara pribadi

← Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi

penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu

← Membandingkan keadaan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat

dan pandangan orang

← Membandingkan hasil wawancara dengan suatu dokumen yang lain.49

Berdasarkan triangulasi diatas, maka yang dimaksud untuk mengecek

kebenaran dan keabsahan data-data yang diperoleh dilapangan tentang strategi

pembelajaran coperative learning dalam Pendidikan Agama Islam di SMP

Negeri 3 Pengabuan.

48
Paul Suparno. Riset Tindakan untuk Pendidik, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 71
49
Lexy J. Moleong. Op. Cit, hlm. 330-331.
F. Analisis Data

Menurut Bogdan dan Biklen yang dikutip dari Lexy J Moleong

analisis data kualitatif adalah “upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja

dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan

yang dapat dikelola, mensinstesiskannya, mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa

yang dapat diceritakan kepada orang lain.”50 Adapun tahapan analisis data

yang peneliti gunakan adalah :

1. Analisis Domain

Analisis ini pada umumnya dilakukan untuk memperoleh

gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti/

ojek penelitian.51

Pada tahap ini akan dianalisis data yang berkenaan dengan

gambaran umum SMP Negeri 3 Pengabuan serta rangkaian pelaksanaan

pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

2. Analisis Taksonomi

Setelah Peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan

domain-domain kategori dari situasi sosial tertentu (agak mendetail), maka

selanjutnya ditetapkan sebagai fokus penelitian, perlu diperdalam lagi

melalui pengumpulan data lapangan. Oleh karena itu pada tahap ini

diperlukan analisis lagi yang disebut analisis taksonomi. Analisis

50
Ibid, hlm. 248.
51
Sugiyono. Op. Cit, hlm. 256.
taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul

berdasarkan domain yang telah ditetapkan.52

Pada tahap ini data yang akan di analisis adalah strategi

pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMP Negeri 3

Pengabuan.

3. Analisis Kompensial

Pada analisis komponensional, yang dicari untuk diorganisasikan

dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang

memiliki berbedaan atau yang kontras.53 Analisis kompenensial dilakukan

setelah peneliti mempunyai cukup banyak fakta/informasi dari hasil

wawancara dan observasi yang melacak kontras-kontras di antara suatu

domain.

Pada tahap ini data yang akan dianalisis adalah dokumentasi yang

berkenaan dengan strategi pembelajaran pendidikan agama islam serta

manfaaat yang dirasakan siswa terhadap strategi yang diterapkan dalam

pembelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 3 Pengabuan.

G. Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian ini disusun bertujuan sebagai pedoman dalam

melakukan langkah-langkah penelitian. Dengan adanya jadwal penelitian,

penulis akan lebih mudah mempersiapkan langkah-langkah penelitian yang

akan dilakukan nantinya. Lebih jelasnya jadwal penelitian ini dapat dilihat

pada tabel halaman :


52
Ibid, hlm. 261.
53
Ibid, hlm. 264.
Tabel I

Jadwal Penelitan

Bulan

Septemb
Kegiatan Februari Mei Juni Juli Agustus
er

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Pengajuan Judul X

Pembuatan
X X X X X X X
Proposal

Pengurusan

Dosen

Pembimbng

Perbaikan

Proposal

Pengurusan Izin

& Pelaksanaan

seminar

Perbaikan

Seminar

Pengurusan Izin

Riset
Riset Lapangan

Penyusun Data

Penulisan Skripsi

Perbaikan dari

Pembimbing

Penyempurnaan

Pramunaqasah

Munaqasah
Daftar Pustaka

Tim Redaksi Fokus Media,(2003). UU Sistem Pendidikan Nasional (No. 20

Tahun 2003). Bandung: Fokus Media

Muhaimin,dkk.,(2001). Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan PAI

di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Trianto,(2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik.

Jakarta: Prestasi Pustaka

Djohar,(2002). Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan.


Yogyakarta: Lesfi

Nur Hadi,(2004). et. al., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam


KBK. Malang: UNM

Melsilberman,(2002). Active Learning, Strategi Pembelajaran Aktif.


Yogyakarta: Yapendis

M. Quraish Shihab,(2002). Tafsir Al Misbah Volume 3. Jakarta: Lentera Hati

Djamaluddin Darwis,(1998). Strategi Belajar Mengajar, dalam Ismail (ed), PBM-


PAI di Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama
Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

S. Nasution,(2000). Didaktik Azas Mengajar. Bandung: Bumi Aksara

Anita E. Woofolk, (1996). Educational Psychology. USA: Allyn & Bacon

Syaiful Sagala,(2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Mutadi,(2000). Change and Change Practial Approach In Teaching and Learning


Mathemathics. Australia
Max Darsono, dkk,(2000). Belajar dan Pembelajaran. Semarang: CV. IKIP
Semarang Press

W.S. Winkell,(1986). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia

E. Mulyasa,(2004). Kurikulim Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja


Rosdakarya

Dimyati dan Mujiono,(1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud


bekerjasama dengan Rineka Cipta

Zakiah Daradjat,(1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 1996

Zuhairini, dkk,(1983). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha


Nasional

M. Arifin,(2003). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Muhaimin,(2001). Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan


Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Yayuk Afiana,(2004). Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran PAI di


SMUN Jumantono Karanganyar Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang

Nur Khamidah,(2005). Implementasi Azas Kooperatif dalam Pembelajaran PA


I di SMP N 01 Comal Pemalang Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang

Nur Chayati,(2006). “Strategi Pembelajaran PAI berbasis life skill (Stu di


Kasus di SMAN 1 Tegal)” Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang

Eka Fitriyani,(2009). “Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembel


ajaran PAI di SMP Hj. Isriati Semarang” Skripsi. Semarang: Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

Jusuf Soewadji,(2012). Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Mitra Wacana


Media

Anjani Putri Belawati Pandiangan,(2019). Penelitian Tindakan Kelas.


Yogyakarta: CV Budi Utama

Lexy J. Moleong,(2018). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda


Karya
Sugiyono,(2017). Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta

Saefudin Anwar,(2001). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Suharjono, dkk,(2020). Panduan Penulisan Skripsi dan Tugas Akhir. Surabaya:


Scopindo Media Pustaka

Suharsimi Arikunto,(2006). Prosuder Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: PT. Rineka Cipta

Moh. Nazir,(2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia

Paul Suparno,(2008). Riset Tindakan untuk Pendidik. Jakarta: PT. Grasindo

Anda mungkin juga menyukai