0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa SD

Dokumen ini membahas pentingnya aktivitas belajar siswa dan hasil belajar dalam proses pembelajaran, terutama dalam konteks pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar. Aktivitas belajar melibatkan fisik, pikiran, dan indera, sedangkan hasil belajar mencakup perubahan tingkah laku siswa yang diukur melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan dan fungsi pembelajaran IPA di SD adalah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap ilmiah siswa terhadap lingkungan dan alam.

Diunggah oleh

fidyadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa SD

Dokumen ini membahas pentingnya aktivitas belajar siswa dan hasil belajar dalam proses pembelajaran, terutama dalam konteks pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar. Aktivitas belajar melibatkan fisik, pikiran, dan indera, sedangkan hasil belajar mencakup perubahan tingkah laku siswa yang diukur melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan dan fungsi pembelajaran IPA di SD adalah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap ilmiah siswa terhadap lingkungan dan alam.

Diunggah oleh

fidyadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Aktivitas Belajar Siswa
Istilah aktivitas sering dikenal dalam kehidupan sehari-hari yang
bermakna kegiatan. dijelaskan bahwa "Activity is being active or lively,
when a man is over seventy last time of full us usually past," Artinya:
Aktivitas mengerjakan sesuatu kegiatan dengan aktif, di mana seseorang
mempergunakan waktunya semuanya selalu berhasil, Sedangkan belajar
atau learning dapat didefenisikan : "Learning Is a relatively permanent
change In behavioral tendency and is the result of reinforced practice,"
(John P. De Cacco, 1996:243) Yang bermaksud: Belajar adalah perubahan
yang relatif tetap dalam kecenderungan berpusat dan ia membawa hasil
kenyataan yang kuat. Pendapat lain tentang belajar berbunyi :"Belajar
adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai
suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,
kepandaian atau suatu pengertian ([Link] Purwanto, 1985: 81)
Dalam proses pembelajaran, aktivitas merupakan salah satu faktor
penting, karena aktivitas merupakan proses pergerakan secara berkala dan
tidak akan tercapainya proses pembelajaran yang efektif apabila tidak
adanya aktivitas. Seperti yang diungkapkan oleh Dave Meiner (dalam Iis
Indraeni 2009:10) bahwa “belajar berdasar aktivitas berarti bergerak aktif
secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indera sebanyak mungkin,
sehingga dapat membuat seluruh tubuh dan fikiran terlibat dalam proses
belajar mengajar”
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas
belajar siswa adalah bergerak aktif secara berkala yang melibatkan fisik,
fikiran dan semua indera yang berhubungan dengan proses pembelajaran.
Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Oeh sebab itulah aktivitas
dikatakan asas yang snagt penting dalam pembelajaran.

7
8

Bila pengertian aktivitas dikaitkan dengan pengertian belajar dapat


dimaksudkan : Aktivitas adalah melakukan suatu perbuatan yang dapat
merubah kepribadian seseorang dengan aktif, dimana seseorang memper
gunakan waktunya, kecakapannya sehingga menghasilkan kecakapan baru
yang berupa kecakapan sikap, kebiasaan, kapandaian dan pengertian.
Dengan kata lain aktivitas belajar adalah kegiatan yang aktif dilakukan
oleh seseorang untuk membawanya pada perubahan tingkah laku yang
baru dan dicerminkan dalam kepribadiannya.
Menurut Usman ( dalam Iis Indraeni 2009:11) mengemukakan
bahwa aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa
bentuk, yaitu sebagai berikut:
a. Aktivitas visual (Visual activities) meliputi membaca, menulis,
melakukan eksperimen dan demontrasi.
b. Aktivitas lisan (Oral activities) meliputi bercerita, membaca sajak,
tanya jawab, diskusi dan menyanyi.
c. Aktivitas mendengarkan (Listening activities) meliputi mendengarkan
penjelasan dari guru, mendengarkan ceramah, mendengarkan pengarahan.
d. Aktivitas gerak (Motor actifities) meliputi senam, atletik, menari.
e. Aktivitas menulis (Writing activities) meliputi mengarang, menulis
surat, membuat makalah.
2. Hasil Belajar
Pengertian hasil belajar menurut Sudjana (2005:19) adalah “Suatu
akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu
berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun
tes perbuatan.”. Nasution (2000:35), mengemukakan bahwa “Hasil belajar
adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai
pengetahuan, tetapi membentuk kecakapan dan pengahayatan dalam diri
pribadi individu yang belajar.”.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan
penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar
9

dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam


upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Menurut
Dimyati dan Mudjiono (2007:213) mengungkap bahwa hasil belajar
merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari
sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkem bangan
mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan
kegiatan. menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990: 110) bahwa
hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik. Oemar Hamalik (2000:67) mengatakan bahwa “hasil
belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah
laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari
tidak mengerti menjadi mengerti.”
Hasil belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi
merupakan hasil dari proses belajar. Hasil belajar dibagi menjadi tiga
macam hasil belajar yaitu : Keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan
pengertian, sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi
dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah (Nana Sudjana, 2004:22).
Berdasarkan pengertian tersebut maka hasil belajar merupakan tingkat
keberhasilan siswa setelah mengikuti satu kegiatan pembelajaran yang
ditunjukkan dalam beberapa bentuk perubahan tingkah laku. Perubahan
tingkah laku tersebut berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan
keterampilan (psikomotor). Hal ini sesuai dengan pendapat Benyamin
Bloom (2007:85) yang mengemukakan bahwa yang diukur dalam penilaian
hasil belajar adalah:
a. Aspek kognitif mencakup : pengetahuan (recaling) kemampuan
mengingat, pemahaman (comprehention) kemampuan memahami,
aplikasi (application) kemampuan penerapan, analisi (anazlysis)
kemampuan menganalisa informasi yang luas menjadi bagian-
bagian yang kecil, sintesis (syntesis) kemampuan menggabung
kan beberapa informasi menjadi suatu kesimpulan, evaluasi
(evaluating) kemampuan mempertimbangkan mana yang baik
10

dan mana yang buruk memutuskan untuk mengambil tindakan


tertentu.
b. Aspek afektif mencakup : menerima (receiving) termasuk
kesadaran keinginan untuk menerima stimulus, respon, kontrol
dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar, menanggapi
(responding) reaksi yang diberikan ketepatan aksi, perasaan,
kepuasan dan lain-lain, menilai (evaluating) kesadaran
menerima norma, sistem nilai dan lain-lain, mengorganisasi
(organization), membentuk watak (characterization) sistem nilai
yang terbentuk mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
laku.
c. Aspek psikomotor mencakup : meniru (perception), menyusun
(manipulating), melakukan dengan prosedur (precision),
melakukan dengan baik dan tepat (articulating), melakukan
tindakan secara alami (naturalization).

Keberhasilan suatu pembelajaran dilihat dari perubahan perilaku


siswa sebagai hasil belajar. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan
belajar siswa antara lain :
a. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sasaran yang akan dicapai
dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan proses pembelajaran dapat
berhasil berpangkal dari jelas tidaknya perumusan tujuan pembelajaran.
b. Guru
Guru adalah tenaga pengajar yang memberi atau mentransfer
ilmu pengetahuan serta mendidik dan membimbing anak didiknya di
sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang
profesinya dengan keilmuan yang dimilikinya akan menentukan
keberhasilan suatu proses pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa
yaitu hasil belajar.
c. Anak didik (siswa)
Anak didik (siswa) adalah orang yang sengaja datang ke
sekolah dengan tujuan untuk belajar agar menjadi orang yang berilmu
dan pintar sebagai bekal dikemudian hari. Faktor dari dalam diri
siswalah yang menentukan dan sangat berpengaruh terhadap hasil
belajarnya.
11

d. Kegiatan pembelajaran
Kegiatan proses belajar mengajar adalah terjadinya interaksi
antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan. Guru harus dapat menciptakan suasana
belajar yang kondusif sehingga siswa merasa senang dan berminat
untuk belajar. Penggunaan metode, teknik dan strategi mengajar yang
tepat akan mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran sehingga
hasil belajar yang diharapkan dari siswa akan dicapai.
e. Bahan dan alat evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan atau materi yang terdapat
di dalam kurikulum yang akan dipelajari oleh siswa. Suatu materi
pelajaran harus dikemas sedemikian rupa agar siswa tertarik untuk
mempelajarinya. Alat evaluasi adalah alat yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan belajar siswa baik berupa tes atau non tes
3. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
a. Pengertian Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Sekolah Dasar (SD) sebagai lembaga pendidikan dasar memberi
kan sejumlah mata pelajaran atau bidang studi pada siswa sebagai
materi atau bahan pembelajaran, salah satunya yaitu Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menurut kurikulum
pendidikan dasar adalah bidang studi yang menanamkan dan mengem
bangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa
serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha
Esa. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menurut Darmojo (1992:2)
dalam Rumini (2011: 15) adalah kumpulan teori yang telah diuji
kebenarannya, yang menjelaskan tentang pola-pola keteraturan dari
gejala alam yang diamati secara seksama.
Berdasarkan pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di atas,
maka Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bidang studi yang
disajikan di Sekolah Dasar (SD) yang isinya tentang kumpulan teori
yang mempelajari tentang alam semesta dengan segala isinya. Teori
12

atau konsep tersebut diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian


kegiatan ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunandan pengujian
gagasan-gagasan, yang akhirnya pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) diprogramkan untuk menanamkan sikap dan nilai ilmiah
pada diri siswa, sehingga tumbuh rasa mencintai dan menghargai
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada hakikatnya terdiri atas
3 unsur yaitu proses, produk dan sikap. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sulistyorini (2008:9) yang mengemukakan bahwa Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) memiliki dimensi proses, dimensi hasil (produk) dan
dimensi pengembangan sikap ilmiah.
1) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai proses atau metode
ilmiah yaitu cara kerja yang dilakukan dalam melakukan
penyelidikan untuk mencari penjelasan tentang gejala-gejala
alam.
2) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai produk atau hasil
yaitu hasil temuan sains berupa fakta, konsep, hukum,
kaidah dan teori tentang gejala-gejala alam.
3) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai sikap yaitu tingkah
laku yang diperlukan selama melakukan proses kegiatan,
sehingga memperoleh hasil Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Sikap ilmiah tersebut yaitu sikap ingin tahu, ingin
mendapatkan sesuatu, kerja sama, tidak putus asa, tidak
berperasangka, mawas diri, bertanggung jawab, berpikir
bebas dan kedisiplinan diri.

Berdasarkan uraian di atas, maka Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)


yang diberikan pada siswa sekolah Dasar (SD) bukan hanya
pengetahuan tentang fakta-fakta, konsep atau teori saja, melainkan juga
harus diperhatikan pengembangan aspek keterampilan proses dan sikap
ilmiah pada diri siswa.
b. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah
Dasar (SD) menurut Depdikbud (2006:32), yaitu sebagai berikut :
13

1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang


Maha Esa berdasarkan keberadaaan, keindahan dan
keteraturan alam cipataan-Nya.
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-
konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran
tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara
IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki
alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk mengahrgai alam dan segala
keteranturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan
IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/
MTs.

Berdasarkan tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam


(IPA) di atas, maka setelah mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
siswa diharapkan memperoleh keyakinan bahwa alam semesta dengan
segala isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) juga siswa dibina
dan dikembangkan sikapnya untuk senantiasa memelihara, menjaga,
menghargai dan melestarikan lingkungan alam. Konsep, keterampilan
dan sikap ilmiah tentang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang telah
dimiliki siswa tersebut merupakan bekal dan dasar untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP/ MTs.
c. Fungsi Pembelajaran IPA
Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar (Depdikbud 1993/1994:
97-98) Mata Pelajaran IPA berfungsi untuk: (1) Memberikan pengeta
huan tentang berbagai jenis dan perangai lingkungan alam dan
lingkungan buatan yang berkaiatan dengan pemanfaatannya bagi
kehidupan sehari-hari. (2) Mengembangkan keterampilan proses. (3)
14

Mengembangkan wawasan, sikap dan nilai yang berguna bagi siswa


untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. (4) Mengembang
kan kesadaran tentang adanya hubungan keterkaitan yang saling
mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi dengan keadaan
lingkungan di sekitarnya dan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-
hari. (5) Mengembangkan kemajuan untuk menerapkan ilmu pengeta
huan dan teknologi (IPTEK), serta keterampilan yang berguna dalam
kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikannya ke
tingkat pendidikan yang lebih tinggi
d. Karakteristik Pembelajaran IPA
Objek kajian pendidikan IPA berada pada berbagai persoalan/
fenomena alam. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Supriyadi
(1999: 1) bahwa objek kajian IPA adalah segala fenomena lingkungan
(alam) yang berujud titik kecil hingga alam raya yang sangat besar.
IPA menurut Depdiknas (2003: 6) merupakan cara mencari tahu
tentang alam semesta secara sistematis untuk menguasai pengetahuan
fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan
memiliki sikap ilmiah.
Trowbidge dan Byebee (1986: 38) mendefinisikan IPA sebagai
berikut : Science is body of knowledge, formed by of continous inquiry,
and compassing the people who are engaged in the scientific
enterprise. Jadi karakteristik IPA yang kemudian membedakannya
dengan ilmu pengetahuan yang lain adalah bahwa IPA ditempuh
melalui berbagai penemuan proses empiris secara berkelanjutan yang
masing-masing akan memberi kontribusi dengan berbagai jalan untuk
membentuk sistem unik yang disebut IPA.
Suyoso (2001: 1-4) mengungkapkan bahwa nilai intelektualitas
IPA menuntut kecerdasan dan ketekunan, dalam mencari jawaban
suatu persoalan didasarkan atas pertimbangan rasional dan objektivitas
dengan melalui observasi atau kegiatan eksperimen untuk memperoleh
data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Secara lebih
15

terperinci. Robert B. Sund (1989:12) menjelaskan tentang bagaimana


suatu pemahaman IPA ditemukan atau yang sekarang dikenal sebagai
metode IPA (scientific method). Setidaknya ada enam langkah untuk
melakukan proses IPA , yaitu (1) stating the problem, (2) formulating
hypotheses, (3) designing an experiment, (4) making obsevation, (5)
collecting data from the experiment, (6) drawing conclutions.
e. Konsep Pembelajaran Gaya Magnet pada Siswa Kelas VI Gaya magnet
berasal dari magnet. Istilah magnet berasal dari kata “magnesia”.
1) Magnet menarik benda-benda tertentu
Gaya tarik pada magnet mampu menarik benda-benda
tertentu, tidak semua benda dapat ditarik oleh magnet. Benda yang
dapat ditarik oleh magnet adalah benda yang terbuat dari bahan
logam tertentu, yaitu besi, nikel, dan kobalt. Jika suatu benda
mengandung salah satu dari bahan logam tersebut maka benda itu
dapat ditarik oleh magnet. Benda itu dinamakan benda magnetis.
Jadi benda magnetis adalah benda yang dapat ditarik oleh magnet.
Benda lain tidak dapat ditarik oleh magnet karena tidak mengandung
salah satu dari bahan logam besi, nikel, atau kobalt tersebut. Benda
ini dinamakan benda tidak magnetis atau benda non magnetis.
2) Kekuatan gaya magnet
Gaya magnet mampu menembus penghalang, yaitu benda
non magnetis. Gaya tarik magnet masih berpengaruh terhadap benda
magnetis di balik penghalang tersebut, jika penghalang itu terlalu
tebal, maka pengaruh magnet bisa hilang, dengan demikian, kekuatan
gaya tarik magnet dipengaruhi oleh ketebalan penghalang antara
magnet dan benda magnetis. Makin dekat jarak benda ke magnet,
maka makin kuat gaya tarik magnet tersebut. Gaya tarik magnet ini
menyebabkan magnet harus disimpan dengan hati-hati. Hindarkan
magnet dari peralatan elektronika yang rumit, seperti jam, telepon
genggam, radio, televisi, komputer, dan lain-lain. Gaya tarik magnet
bisa merusak fungsi benda-benda tersebut.
16

Kekuatan gaya tarik magnet tidak merata di seluruh sisi atau


bagiannya. Gaya magnet terkuat berada di kedua kutubnya. Pada
magnet batang, gaya magnet terkuat berada di kedua ujungnya, yaitu
kutub-kutubnya. Jika beberapa benda magnetis didekatkan magnet,
maka benda-benda tersebut cenderung untuk segera ditarik ke kutub-
kutub tersebut.
Daerah tertentu di sekitar magnet yang dipengaruhi oleh gaya
tarik magnet disebut medan magnet. Medan inilah yang menyebab
kan terbentuknya pola tertentu. Pola tersebut disebut garis-garis gaya
magnet. Garis-garis tersebut saling bertemu di ujung kedua kutub
magnet. (Haryanto, 2007 : 107)
3) Magnet memiliki dua kutub
Magnet memiliki dua kutub. Jika magnet bisa bergerak
bebas, maka ada satu kutub yang menunjuk ke arah utara. Kutub itu
dinamakan kutub utara magnet, biasanya diberi warna merah atau
huruf N (north). Kutub satunya lagi yang menunjuk ke arah selatan,
disebut kutub selatan magnet, biasanya diberi warna biru atau huruf
S (south). Sifat inilah yang menjadi prinsip dasar kompas. Kutub-
kutub magnet memiliki sifat yang istimewa. Jika dua kutub magnet
yang senama didekatkan, maka keduanya akan tolak-menolak, dan
sebaliknya jika dua kutub magnet yang tidak senama didekatkan,
maka keduanya akan tarik-menarik.
4) Kegunaan Magnet
Magnet mempunyai banyak kegunaan. Magnet digunakan
pada berbagai macam alat, mulai dari alat yang sederhana sampai
alat yang rumit. Penggunaan alat-alat yang menggunakan magnet
dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pengunci kotak pensil atau
tas, obeng, dan gunting jahit. Demikian pula kompas, dinamo, lemari
es, dan alarm pengaman (mobil atau rumah) juga menggunakan
magnet. Magnet juga digunakan pada alat-alat berat untuk
mengangkut benda benda dari besi. Magnet pada alat berat itu dibuat
17

dengan cara mengalirkan arus listrik. Arus listrik berasal dari dinamo
alat berat tersebut. Pada saat mengangkat benda-benda besi, arus
listrik disambung, dan pada saat benda-benda besi diturunkan
(dilepaskan), aliran arus listrik diputuskan.
5) Membuat Magnet
Selain magnet alam, ada juga magnet buatan. Magnet buatan
adalah magnet yang dibuat orang dari besi atau baja. Magnet buatan
digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bentuk magnet buatan
bermacam-macam, ada yang berbentuk batang, jarum, tabung
(silinder), huruf U, dan ada yang berbentuk ladam (tapal kuda).
Logam yang digunakan untuk membuat magnet adalah besi dan baja.
Besi dan baja dapat dibuat menjadi magnet karena besi dan baja
bersifat feromagnetik (mempunyai sifat magnet yang kuat).
Aluminium dan tembaga sulit dibuat menjadi magnet karena
mempunyai sifat magnet yang tidak kuat. (Haryanto, 2007 : 111)
Ada beberapa cara membuat magnet yaitu:
a) Cara induksi
Cara induksi adalah cara membuat magnet dengan menempel
kan atau mendekatkan magnet dengan benda feromagnetis yang
akan dijadikan magnet. Sifat magnet yang dibuat dengan cara
induksi sifatnya sementara. Sifat magnet ini akan hilang begitu
magnetnya dilepaskan.
b) Cara gosokan
Pembuatan magnet dengan cara gosokan dapat dilakukan
dengan cara menggosok-gosok banyak gosokan yang dilakukan,
semakin kuat sifat, kemagnetan besi atau baja tersebut. Sifat
kemagnetan ini juga berlangsung sementara.
c) Cara aliran listrik.
Magnet yang dihasilkan dengan cara dialiri listrik disebut
elektromagnet. Paku yang akan dibuat magnet digulung dengan
kabel listrik. Lalu kedua ujung kabel dihubungkan dengan kutub
18

positif dan kutub negatif baterai. Arus listrik dari baterai akan
mengalir dari batu baterai ke paku melalui kabel listrik, sehingga
paku mendapat gaya magnet dari arus listrik tersebut. Semakin
rapat gulungan kabel maka aka semakin besar gaya magnet yang
diterima paku.
f. Metode Demonstrasi
1) Pengertian Metode Demontrasi
Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses
terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan
tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami
oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara
memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan
suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan
media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi
yang sedang disajikan” (Muhibbin Syah, 2000:22).
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa “metode
demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan
sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan
bahan pelajaran”.
Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih
sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan
suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat
rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan
mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang
sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-
kesimpulan yang diharapkan.
2) Tahapan Metode Demontrasi
a) Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
19

(1) Merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah


proses demonstrasi berakhir.
(2) Mempersiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang
akan dilakukan.
(3) Melakukan uji coba demonstrasi yang akan dilaksananakan
sebelum melaksanakannya di kelas, agar tidak terjadi kekeliruan
berkaitan dengan materi pembelajaran dan juga tujuan dari
demontrasi yang dilakukan.
b) Tahap Pelaksanaan
(1) Langkah pembukaan.
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, di antaranya :
 Mengatur tempat duduk yang memungkinkan semua siswa
dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
 Mengemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
 Mengemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh
siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal
yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
(2) Langkah pelaksanaan demonstrasi.
 Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang
merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui
pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga
mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
 Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari
suasana yang menegangkan.
 Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya
demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
 Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif
memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari
proses demonstrasi itu.
20

(3) Langkah mengakhiri demonstrasi.


Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembela
jaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu
yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan
proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan
untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi
itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada
baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang
jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.
c) Tindak Lanjut
Di ahir pembelajaran setelah siswa diberi tugas, peneliti
memeriksa hasil pekerjan siswa untuk dapat menyimpulkan sejauh
mana tujuan yang di tentukan dapat tercapai.
3) Kelebihan dan Kekurangan Metode Demontrasi
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:211) kelebihan dan
kekurangan metode demonstrasi adalah sebagai berikut :
a) Kelebihan metode demonstrasi
(1) Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap
penting oleh guru sehingg hal yang penting itu dapat diamati
secara teliti. Di samping itu, perhatian siswa pun lebih mudah
dipusatkan kepada proses belajar mengajar dan tidak kepada
yang lainya.
(2) Dapat membimbing siswa ke arahberpikir yang sama dalam
satu saluran pikiran yang sama.
(3) Ekonmis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam
waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi
dengan waktu yang pendek.
(4) Dapat mengurangi kesalahan-kesalahn bila dibandingkan
dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid
mendapatkan gambaan yang jelas dari hasil pengamatannya.
21

(5) Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlu


kan keterangan-keterangan yang banyak
(6) Beberapa persoalan yang menimbulkan petanyaan atau
keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.
b) Kekurangan metode demonstrasi
(1) Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat
atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang
didemonstrasikan kadang-kadang terjadiperubahan yang tidak
terkontrol.
(2) Untuk mengadakan demonstrasi digunakan ala-alat yang
khusus, kadang-kadang alat itu susah didapat. Demonstrasi
merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemon
strasikan tidak dapat diamati secara seksama.
(3) Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang
didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal
ini banyak diabaikan leh peserta didik.
(4) Tidak semua hal dapatdidemonstrasikan di kelas.
(5) Memerlukan banyak waku sedangkan hasilnya kadang-kadang
sangat minimum.
(6) Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan di kelas akan
berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata
atau sebenarnya.
(7) Agar demonstrasi mendapaptkan hasil yang baik diperlukan
ketekitian dan kesabaran.

Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap


pelajaran akan lebih berkesan secra mendalam, sehingga membentuk
pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati
dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran
berlangsung.
Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan
22

proes mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya


sesuatu proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-
komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara
dengan cara lain untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
B. Kerangka Berpikir
Pelaksanaan pembelajaran IPA masih bersifat konvensional karena
siswa diminta membaca soal kemudian menjawab pertanyaan, serta minimnya
penggunaan alat peraga dan pemilihan metode mengajar yang kurang sesuai
dengan karakteristik siswa, akibatnya aktivitas siswa menjadi kurang yang
berujung pada rendahnya hasil belajar. Hal tersebut juga terjadi pada
pembelajaran IPA materi gaya magnet siswa kelas VI SD Negeri 5 Dewantara
Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Untuk mengatasi masalah
tersebut, salah satu solusi sebagai upaya perbaikan terhadap proses dan hasil
pembelajaran adalah dengan menerapkan metode demonstrasi. Kondisi akhir
yang ingin dicapai dalam penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran
IPA materi gaya magnet siswa kelas VI SD Negeri 5 Dewantara Kecamatan
Dewantara Kabupaten Aceh Utara Semester 1 Tahun Pelajaran 2023/2024
adalah meningkatnya aktivitas dan hasil belajar siswa.
Penerapan metode demonstrasi sangat cocok digunakan untuk
menyampaikan informasi tentang konsep-konsep IPA. Penerapan metode
demonstrasi dalam mata pelajaran IPA akan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa, jika dalam proses penerapan metode demonstrasi betul-betul dapat
diterapkan sesuai dengan langkah langkah dari penerapan masing-masing
metode tersebut.
Untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai alur berpikir dari
permasalahan dan solusi tindakan serta hasil yang diharapkan dengan
penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran IPA materi gaya magnet
siswa kelas VI SD Negeri 5 Dewantara Kecamatan Dewantara Kabupaten
Aceh Utara Semester 1 Tahun Pelajaran 2023/2024 sebagaimana dijelaskan
pada Gambar 2.1 bagan kerangka berpikir.
23

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan paradigma dari kerangka pikir di atas, dapat diturunkan
hipotesis tindakan sebagai berikut: Diduga penerapan metode demonstrasi
dapat meningkatkan proses, aktivitas dan hasil pembelajaran IPA materi gaya
magnetnya pada siswa kelas VI SD Negeri 5 Dewantara Kecamatan
Dewantara Kabupaten Aceh Utara Semester 1 Tahun Pelajaran 2023/2024.

Anda mungkin juga menyukai