Makalah
KERAPAN SAPI
Disusun
Oleh :
[Link] HASAN BASRI
SMK PELAYARAN BRAJAGUNA
BANGKALAN
T.A. 2024/2025
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolonganNya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehinggan penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah. Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan
di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk
makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik
lagi.
Bangkalan, Januari 2025
Pemakalah
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3
A. Dasar terbentuknya Kerapan Sapi .................................................... 3
B. Fungsi budaya kerapan sapi bagi masyarakat Madura ...................... 4
C. Pelaksanaan kerapan sapi pada masa sekarang ................................. 5
BAB III PENUTUP .......................................................................................... 9
A. Kesimpulan ........................................................................................ 9
B. Saran .................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 10
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Apabila kita melihat dalam konteks global, maka kebudayaan yang dimiliki
ini sebetulnya dapat dijadikan aset negara sebagai keunggulan dan kekayaan
budaya khas Indonesia yang tidak tertandingi oleh Negara - negara lain sehingga
hal tersebut dapat mengangkat citra Indonesia dimata dunia. Partisipasi
masyarakat dalam melestarikan budaya sendiri harus saling terjalin dengan baik,
sehingga kesadaran kolektif dan jiwa optimis akan tertanam di setiap manusia
Indonesia.
Dengan keaneragaman kebudayaan yang muncul dalam keberadaan di
nusantara ini, ada bebebrapa macam kebudayaan yang sangat unik dan tetap
dinilai sebagai salah satu kebudayaan yang dihormati, salah satunya adalah
karapan sapi. Kerapan Sapi adalah sebagai salah satu wujud hasil budaya yang
berupa kesenian yang mana kerapan sapi merupakan salah satu jenis atraksi yang
diangkat dari budaya Madura dan bentuk dari budaya tersebut adalah
memperagakan lomba pacuan sapi yang memang khusus untuk dilombakan.
Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan keanekaragaman etnis dan suku,
karena memang Indonesia terbentuk dari berbagai suku - suku bangsa, dan setiap
suku bangsa mempunyai kebudayaan masing-masing. Sehingga tidak asing
apabila diasumsikan dengan kata bhineka tunggal ika, yang artinya berbeda –beda
tetapi tetap satu.
Kerapan sapi merupakan budaya asli dari tanah Madura yang sudah dikenal
sejak abad ke-14 M. Pada zaman dahulu sapi merupakan satu-satunya alat
Transportasi tercepat yang ada di Madura dan banyak digunakan oleh masyarakat,
khususnya masyarakat elit atau kerajaan. Kerapan sapi ini merupakan salah satu
contoh budaya dan hiburan bagi masyarakat Madura yang telah turun temurun
1
dilaksanakan. Kerapan sapi dibuat untuk membantu masyarakat Madura dalam
melakukan interakasi dan komunikasi dengan orang lain. Interaksi dan
komunikasi yang terjadi melalui Budaya Kerapan Sapi mengakibatkan
terbentuknya kelompok sosial.
Aspek menarik dari kelompok sosial adalah cara yang dilakukan dalam
mengendalikan anggotaanggotanya. Hal yang penting dari kelompok sosial terkait
tentang kekuatan-kekuatan yang saling berhubungan dan berkembang serta
memiliki peranan dalam mengatur tindakan-tindakan anggotanya untuk mencapai
tata tertib demi kebaikan kelompok. Dalam even karapan sapi para penonton
tidak hanya disuguhi adu cepat sapi dan ketangkasan para jokinya, tetapi sebelum
memulai para pemilik biasanya melakukan ritual arak-arakan sapi disekelilingi
pacuan disertai alat musik seronen perpaduan alat music khas Madura sehingga
membuat acara ini menjadi semakin meriah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penulisan ini,
antara lain:
1. Bagaimana dasar terbentuknya Kerapan Sapi ?
2. Apa fungsi budaya kerapan sapi bagi masyarakat Madura ?
3. Bagaimana Pelaksanaan kerapan sapi pada masa sekarang ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah yaitu untuk:
1. Untuk mengetahui dasar terbentuknya Kerapan Sapi
2. Untuk mengetahui fungsi budaya kerapan sapi bagi masyarakat Madura
3. Untuk mengetahui Pelaksanaan kerapan sapi pada masa sekarang
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Terbentuknya Kerapan Sapi
Istilah kerapan sapi berasal dari bahasa Madura “keraben” atau “kerab”
yang berarti sebuah pertunjukan. Kata – kata ini kemudian diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia menjadi kerapan. Jadi istilah kerapan sapi berarti sebuah
pertandingan beberapa pasangsapi dengan bentuknya agar mendorong masyarakat
Madura melaksanakan tekhnik baru dalam pengolahan tanah pertanian. (Mercy
Hendrawati Kosasih, A paper, 1982 : 2)
Disebut kerapan sapi karena dua pasang sapi jantan diadu cepat larinya (ê
kerrap) sejauh jarak tertentu. Setiap satu pasang sapi dikendalikan seorang joki
(bhuto/tokang tongko’) dengan memakai peralatan/perlengkapan berupa
pangonong dan kalêlês. Yang paling awal sampai ke garis finis dianggap sebagai
pemenang.
Berdasar cerita yang berkembang di masyarakat Madura, keberadaan
kerapan sapi tak bisa dilepaskan dari figur Kyai Ahmad Baidawi (yang dikenal
dengan sebutan Pangeran Katandur), salah seorang penyebar Islam di Madura.
3
Konon, kyai Baidawi menyebarkan Islam di Madura (utamanya di Sumenep) atas
perintah Sunan Kudus, salah seorang dari sembilan wali berpengaruh dalam
penyebaran Islam di tanah Jawa. Sebelum berangkat ke Madura, Sunan Kudus
memberi bekal kepada kyai Baidawi berupa dua tongkol jagung (janggel) yang
masih utuh. Setiba di Madura, beliau tidak langsung berdakwah, melainkan
mengajarkan pola bercocok tanam jagung. Kemudian setelah panen, harus
dibarengi dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah Sang Maha Pencipta. Untuk
tujuan ini, kaum petani diajari cara melaksanaan ibadah salat lima waktu.
Demikian seterusnya, cara tersebut diulangulang sampai akhirnya pemeluk Islam
semakin bertambah.
Dalam perkembangan berikutnya, karena pengolahan tanah pertanian
dengan tenaga manusia dirasa kurang efektif, muncul ide kyai Baidawi untuk
menggunakan tenaga hewan, yaitu sapi. Caranya, sepasang sapi dilengkapi
dengan pangonong dan nangggeleh atau salageh, kemudian seorang petani—
sambil memegang ujung nanggeleh/salageh-- mengikuti dari belakang untuk
membajak tanah-tanah yang hendak ditanami. Cara seperti ini oleh orang Madura
disebut asaka’ dan/asalageh. Bagi para petani, mengolah tanah dengan cara baru
ini cukup menyenangkan, lebih-lebih jika diselingi dengan permainan yang
menggembirakan dengan cara mengadakan lomba adu lari sapi sambil me-nyaka’
sawah. Dengan cara ini, betapapun banyaknya pekerjaan asaka’ yang harus
diselesaikan, karena dikerjakan sambil berlomba, para petani tak merasakan
beratnya pekerjaan.
Untuk mensyukuri hasil tani yang semakin melimpah, setiap pasca panen
kyai Baidawi menyelenggarakan “pesta panen” di sebuah alun-alun dengan
hiburan lomba lari sapi yang diiringi musik-musik tradisional. Momentum itu,
oleh kyai Baidawi, juga digunakan sebagai forum pembagian zakat hasil tani
kepada yang berhak (mustahiqqîn). Sejak itu, kerapan sapi menjadi tradisi turun
4
temurun yang tetap lestari hingga sekarang. Istilah ‘kerapan’ atau ‘karapan’ yang
dipakai hingga kini sebenarnya berasal dari kata ‘garapan’, karena pada awalnya
perlombaan sapi diadakan para petani sambil ‘menggarap’ sawahnya.
B. Fungsi budaya kerapan sapi bagi masyarakat Madura
Fungsi budaya dari Budaya Kerapan Sapi tidak lain adalah sebagai
kebudayaan orisinil masyarakat Madura. Kerapan Sapi merupakan suatu persitiwa
budaya yang menunjukkan identitas daerah Madura sebagai budaya asli yang
perlu dilestarikan dan dicermati dari aspek waktu baik pada saat persiapan, saat
pelaksanaan, dan setelah pelaksanaan dengan melibatkan masyarakat Madura
sebagai pemilik sapi kerapan, penonton, dan joki kerapan sapi. Budaya Kerapan
Sapi dikatakan sebagai sebuah kebudayaan, karena lahir dari adanya faktor sugesti
yang mengakar dan kemudian disepakati oleh masyarakat Madura serta dapat
melahirkan kearifan dalam masyarakat Madura dan membentuk pola pikir
perilaku masyarakat Madura.
Dilihat dari segi budaya, Kerapan Sapi berpengaruh terhadap penduduk
Madura, terutama bagi generasi mudanya. Hal ini disebabkan oleh Budaya
Kerapan Sapi yang merupakan budaya pewarisan dan turun-temurun dari generasi
ke [Link] media komunikasi dan informasi yang semakin canggih
tidak meurunkan semangat generasi Madura yang memiliki ketertarikan sangat
tinggi terhadap Budaya Kerapan Sapi. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemilik
kerapan sapi yang tertarik dengan Budaya Kerapan Sapi karena orangtuanya yang
juga pemilik kerapan sapi.
Nilai budaya yang terkandung dalam Budaya Kerapan Sapi sebenarnya
dapat membentuk pola dalam tatanan kehidupan [Link] tersebut baik
yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, maupun [Link] aspek
Budaya Kerapan Sapi dapat membentuk suatu keunikan yaitu pola perilaku
5
pemilik sapi yang lebih menyayangi sapinya dengan bentuk perawatan sapi yang
sangat luar biasa, sehingga membutuhkan biaya yang [Link] perilaku pemiliki
sapi inilah yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat
Madura yang disebabkan oleh adanya faktor sugesti dari pihak yang memiliki
kedudukan dan berwibawa.
C. Pelaksanaan kerapan sapi pada masa sekarang
Kerapan sapi masa kini tidak sama dengan di masa lampau. Kini,
pelaksanaan kerapan sapi sangat kompleks, banyak pihak terlibat di dalamnya,
motif dan jenis kerapan sapi-pun beragam. Secara umum penyelenggaraan
kerapan sapi masa kini dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni jenis
kerapan sapi formal dan nonformal. Kerapan sapi formal diselenggarakan secara
rutin tiap tahun oleh panitia yang dibentuk pemerintah. Waktu pelaksanaannya
relatif tetap dan pemenangnya mendapat hadiah. Puncak kerapan sapi formal
adalah kerapan sapi gubeng yang memperebutkan piala bergilir Presiden RI.
Sedangkan kerapan sapi non-formal tidak selalu diselenggarakan panitia tertentu,
walaupun pelaksanaannya tetap diawasi aparat kepolisian karena menyangkut
ketertiban dan keamanan. Pemenangnya ada yang mendapat hadiah ada yang
tidak. Pelaksanaannya bersifat insidentil, tergantung kebutuhan penyelenggara.
Termasuk dalam kategori ini adalah kerapan sapi pesanan, kerapan adat, dan
kerapan nadzar.
Pada kerapan sapi formal, agenda lomba diawali dari tingkat kecamatan
(berlangsung antara bulan AgustusSeptember), kemudian tingkat kabupaten
(berlangsung antara bulan SeptemberOktober), dan puncaknya adalah tingkat
karesidenan/tingkat Madura yang berlangsung antara bulan OktoberNopember.
Yang terakhir ini biasa disebut dengan kerapan sapi gubeng, yang diikuti empat
kabupaten di Madura, dan hadiahnya sangat bergengsi, yakni memperebutkan
piala bergilir presiden RI. Dalam kerapan sapi gubeng, pesertanya terdiri atas 24
6
pasang sapi mewakili empat kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang,
Pamekasan, dan Sumenep). Masing-masing kabupaten mengirim 6 pasang hasil
seleksi jenjang di bawahnya. Pelaksanaan kerapan sapi gubeng harus memenuhi
standar sebagaimana telah diatur dalam Konferensi Karesidenan Madura tahun
1956. Diantara ketentuan yang harus diikuti adalah; umur sapi peserta minimal 2
tahun, tinggi sapi peserta harus mencapai 120 cm, jarak tempuh kerap 130 meter,
dan sapi peserta dalam keadaan sehat yang dinyatakan oleh dokter hewan.
Kerapan sapi gubeng biasanya diawali dengan acara êpamantan, yakni
“pawai” keliling lapangan yang diikuti 24 pasang sapi peserta lomba, guna
mempertontonkan betapa anggun, tegar dan gagahnya semua pasangan sapi kerap
yang siap berlaga. Dalam acara ini setiap pasang sapi dilengkapi hiasan dan
aksesoris khas Madura di hampir sekujur tubuhnya, mulai dari kedua tanduk,
leher, moncong mulut, bahkan sampai ekornyapun dibungkus dengan hiasan
gemerlap. “Pawai” pasangan sapi kerap tersebut bertambah semarak karena
diiringi atraksi menarik musik tradisional khas Madura, saronên, yang dimainkan
oleh 6 sampai 8 orang. Dengan pakaian tradisional khas Madura yang kaya
asesoris dan corak warna menyolok, bahkan kadang lengkap dengan udeng dan
kacamata hitamnya, para pemain saronên menunjukkan kelihaian
berjingkrakjingkrak dan keterampilan memainkan tetabuhan, sambil melantunkan
kidungkidung bernada sakral yang menggambarkan heroisme pasangan sapi kerap
yang siap berlaga. Disamping musik saronên, para penonton juga disuguhi tari
pecut massal khas Madura. Setelah itu, barulah acara kerapan dimulai.
Perubahan makna budaya kerapan sapi ini pada gilirannya turut mengubah
pandangan budaya dan konsep diri orang Madura. Pada perkembangan
berikutnya, kerapan sapi lebih mengarah pada kompetisi, sehingga para pemilik
sapi menghalalkan segala cara untuk memenangkan perlombaan. Apalagi setelah
7
ada intervensi pemodal besar atau konglomerat dalam kerapan sapi formal.
Kondisi semacam ini menyebabkan terjadinya penyimpangan dari tujuan semula
kerapan sapi; kontes memelihara sapi dengan tujuan agar melahirkan dan menjaga
sapi Madura yang berkualitas berubah menjadi bisnis (economics-oriented) dan
prestise (status sosial). Perubahan ini terlihat dari sebuah pola yang mulanya
tradisional-religius berubah menjadi pola yang berorientasi pasar.
Dengan demikian, sportifitas pemilik sapi kerapan semakin pudar.
Berbagai upaya dilakukan untuk menang, seperti menyogok joki lawan, menyiksa
sapi, dan bahkan membeli nomor punggung untuk menghindari lawan yang
tangguh, karena kemenangan di arena lomba sangat memengaruhi harga sapi. Di
samping itu, kemenangan merupakan harapan dan idaman setiap peserta kerapan
sapi, karena dapat menaikkan status sosial dan gengsi si pemilik. Oleh karena itu,
harga sapi yang berhasil menjadi juara semakin mahal.
8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Semula, kerapan sapi diselenggarakan sebagai kesenian rakyat khas
Madura yang diadakan setiap selesai panen dalam rangka “pesta panen”
keberadaan kerapan sapi dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur, salah
seorang penyebar Islam di Madura. Kerapan sapi masa kini tidak sama dengan di
masa lampau. Kini, pelaksanaan kerapan sapi sangat kompleks, banyak pihak
terlibat di dalamnya, motif dan jenis kerapan sapi-pun beragam. Secara umum
penyelenggaraan kerapan sapi masa kini dapat dikelompokkan menjadi dua jenis,
yakni jenis kerapan sapi formal dan nonformal
Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi
yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi
yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan
pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-
pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba
pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.
9
B. Saran
Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca. Penulis
mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang
kurang jelas, dimengerti, dan [Link] penulis hanyalah manusia biasa yang
tak luput dari kesalahan Dan penulis juga sangat mengharapkan saran dan kritik
dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi, Edisi Revisi. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
MSC, K.J. Veeger. 1992. ilmu budaya dasar, Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Fuad Hasan, 2012. Dampak Sosial Ekonomi Pergeseran Nilai Budaya Karapan
Sapi. Dampak sosial ekonomi. 5(2): 97.
Astutik, Kurnia Fahmi dan Sarmini. 2014. Budaya kerapan sapi sebagai modal
sosial masyarakat madura di kecamatan sepulu kabupaten bangkalan.
Budaya Kerapan Sapi sebagai Modal Sosial Masyarakat madura. 3(1):
324, 328 - 329.
Siregar, Leonard. 2002. antropologi dan konsep kebudayaan”. Antropologi Papua.
1(1)
Kosim, Mohammad. 2007. Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura (Perspektif
Historis-Normatif). 11(1): 69-70.
Juhari, Imam Bonjol. Ekonomi dan Prestise dalam Budaya Kerapan Sapi di
Madura. 194.
Moh Ahsanil Umam. 1998. Tinjauan hukum islam tentang budaya kerapan sapi.
Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
10