KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN
MUSI RAWAS
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN PERENCANAAN
KEGIATAN : PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUANG KELAS BARU
MAN 1 KAB. MUSI RAWAS
PEKERJAAN : BELANJA MODAL JASA KONSULTANSI PERENCANAAN
PEMBANGUNAN RUANG KELAS BARU MAN 1
KAB. MUSI RAWAS
LOKASI KEGIATAN : KABUPATEN MUSI RAWAS
SUMBER DANA : SBSN TAHUN ANGGARAN 2024
KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)
PENGADAAN KONSULTAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUANG KELAS
BARU MAN 1 KAB. MUSI RAWAS
KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN MUSI RAWAS.
1. PENDAHULUAN
1. Perencanaan Pembangunan Ruang Kelas Baru MAN 1 Kab. Musi Rawas merupakan suatu
perencanaan yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat terutama dalam
bidang pelayanan Haji dan Umrah.
2. Pemberi jasa perencanaan untuk bangunan gedung negara perlu diarahkan secara baik dan
menyeluruh, sehingga mampu menghasilkan karya perencanaan teknis bangunan yang memadai dan
layak diterima menurut kaidah, norma serta tata laku profesional.
3. Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk pekerjaan perencanaan perlu disiapkan secara matang sehingga
memang mampu mendorong perwujudan karya perencanaan yang sesuai dengan kepentingan
kegiatan.
2. MAKSUD DAN TUJUAN
1) Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini merupakan petunjuk bagi Konsultan Perencana yang memuat
masukan, azas, kriteria, keluaran dan proses yang harus dipenuhi dan diperhatikan serta di
interprestasikan ke dalam pelaksanaan tugas Perencanaan Pembangunan Ruang Kelas Baru MAN 1
Kab. MUSI RAWAS.
2) Dengan penugasan ini diharapkan Konsultan Perencana dapat melaksanakan tanggung jawabnya
dengan baik untuk menghasilkan keluaran yang memadai sesuai KAK Perencanaan Pembangunan
Ruang Kelas Baru MAN 1 Kab. MUSI RAWAS ini.
3. SASARAN
Sasaran akhir dari kegiatan Perencanaan Pembangunan Ruang Kelas Baru MAN 1 Kab. MUSI RAWAS
adalah tersedianya Dokumen Tender pengadaan kontraktor untuk melaksanakan kegiatan Pembangunan
Pembangunan Ruang Kelas Baru MAN 1 Kab. MUSI RAWAS yang terdiri dari:
1. Gambar Rencana Teknis Rinci;
2. Spesifikasi teknis berupa Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS);
3. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan /Bill of Quantity (BoQ);
4. Rencana Anggaran Biaya (RAB)/Engineer Estimate (EE).
4. NAMA DAN ORGANISASI PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN (PPTK)
Pengguna Jasa adalah : Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan
Alamat : Jalan Ade Irma Nasution No.08 Palembang
5. SUMBER PENDANAAN
Untuk Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Ruang Kelas Baru MAN 1 Kab. MUSI RAWAS digunakan
dana dari SBSN Tahun 2024 sebesar Rp.100.000.000,- (Seratus juta rupiah).
6. LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG
A. Lingkup Kegiatan;
Adalah Perencanaan Pembangunan Pembangunan Ruang Kelas Baru MAN 1 Kab. Musi Rawas.
B. L o k a s i K e g i a t a n ;
Lokasi kegiatan Perencanaan Pembangunan di Kab. Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan.
C. Data Lokasi;
1) Untuk melaksanakan tugasnya Konsultan Perencana harus mencari informasi yang dibutuhkan
selain dari informasi yang diberikan oleh Kepala Satuan Kerja termasuk melalui Kerangka Acuan
Kerja ini.
2) Konsultan Perencana harus memeriksa kebenaran informasi yang digunakan dalam pelaksanaan
tugasnya, baik yang berasal dari Dinas terkait, Pengurus Provinsi, Federasi, maupun yang dicari
sendiri. Kesalahan kelalaian pekerjaan perencanaan sebagai akibat dari kesalahan informasi
menjadi tanggung jawab Konsultan Perencana.
3) Dalam hal ini informasi yang diperlukan dan harus diperoleh untuk bahan perencanaan
diantaranya mengenai hal-hal sebagai berikut:
a. Informasi tentang lahan, meliputi:
i. Kondisi fisik lokasi seperti: luasan, batas-batas, dan topografi,
ii. Kondisi tanah (hasil soil test),
iii. Keadaan air tanah,
iv. Peruntukan tanah,
v. Koefisien dasar bangunan,
vi. Koefisien lantai bangunan,
vii. Perincian penggunaan lahan, perkerasan, penghijauan dan lain-lain.
b. Pemakai bangunan:
i. Struktur organisasi,
ii. Jumlah personil – personil sekarang dan satuan kerja pengembangan untuk tahun
mendatang (umumnya 5 tahun),
iii. Kegiatan utama, penunjang, pelengkap,
iv. Perlengkapan / peralatan khusus, jenis, berat, dan dimensinya.
c. Kebutuhan bangunan:
i. Program ruang,
ii. Keinginan tentang organisasi / pemanfaatan ruang,
iii. Standar Pertandingan yang berskala Internasional
d. Keinginan tentang ruang – ruang tertentu, baik yang berhubungan dengan pemakai
atau perlengkapan yang akan digunakan dalam ruang tersebut.
e. Keinginan tentang kemungkinan perubahan fungsi ruang / bangunan.
f. Keinginan – keinginan tentang utilitas bangunan seperti:
i. Air bersih :
1) kebutuhan (sekarang dan proyeksi mendatang),
2) sumber air, jaringan dan kapasitasnya.
ii. Air hujan dan air buangan;
1) Letak saluran kota,
2) cara pembuangan keluar tapak.
iii. Air kotor dan sampah.
1) Letak Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
2) Cara pembuangan keluar dari TPS
iv. Tata Udara / A.C. (bila dipersyaratkan)
1) beban (Ton ref),
2) pembagian beban,
3) sistem yang diinginkan.
v. Transportasi verfikal dalam bangunan (bila di persyaratkan) ;
1) type dan kapasitas yang akan dipilih,
2) intervall dan waktu tunggu (Waifing Time),
3) penggunaan escalator dan conveyor.
vi. Penanggulangan bahaya kebakaran (bila di persyaratkan) :
1) detector (jenis, type),
2) fire alarm (jenis),
3) peralatan permadam kebakaran (jenis, kemampuan).
vii. Pengaman dari bahaya pencurian dan perusakan (bila dipersyaratkan)
1) alarm (jenis, type),
2) sistim yang dipilih.
viii. Jaringan listrik:
1) kebutuhan daya,
2) sumber daya dan spesifikasinya,
3) kebutuhan cahaya lampu pertandingan
4) cadangan apabila dibutuhkan (kapasitas, spesifikasi).
ix. Jaringan komunikasi (telepon, telex, radio, intercom) ;
1) kebutuhan titik pembicaraan,
2) sistim yang dipilih.
x. Dan lain-lain sesuai keperluannya.
4) Program alih teknologi.
5) Staf / tim teknis pelaksanaan pekerjaan.
6) Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan akan mengangkat petugas sebagai wakilnya yang bertindak
sebagai Tim Teknis untuk pendamping dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
7. LINGKUP PEKERJAAN
LINGKUP TUGAS
Lingkup tugas yang harus dilaksanakan oleh konsultan Perencana adalah berpedoman pada
ketentuan yang berlaku, khususnya Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara,
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 22/PRT/M/2018 yang dapat meliputi tugas-tugas
perencanaan lingkungan, site / tapak bangunan, dan perencanaan fisik bangunan gedung negara
yang terdiri dari:
A. Persiapan Perencanaan seperti mengumpulkan data dan informasi lapangan (termasuk
penyelidikan tanah sederhana), studi banding pada venue yang telah ada, membuat interpretasi
secara garis besar terhadap KAK, dan konsultasi dengan pemerintah daerah setempat mengenai
peraturan daerah / perijinan bangunan.
B. Penyusunan Prarencana seperti rencana tapak, pra-rencana bangunan termasuk program dan
konsep ruang, perkiraan biaya, dan mengurus perijinan sampai mendapatkan keterangan rencana
kota, keterangan persyaratan bangunan dan lingkungan, dan IMB pendahuluan dari Pemerintah
Daerah Setempat.
C. Penyusunan Pengembangan Rencana, antara lain membuat:
1. Rencanaar sitektur, beserta uraian konsep dan visualisasi atau studi maket
yang mudah dimengerti oleh pemberi tugas.
2. Perhitungan struktur harus ditandatangani oleh Tenaga Ahli.
3. Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
4. Rencanautilitas, dan Tata Hijau / landscape beserta uraian konsep dan perhitungannya.
5. Perkiraan biaya.
E. Penyusunan Rencana Detail antara lain membuat:
1. Gambar-gambar detail arsitektur, detail struktur, detail utilitas yang sesuai dengan gambar
rencana yang telah disetujui.
Semua gambar arsitektur, struktur, dan utilitas harus ditandatangani oleh Penanggung
Jawab Perusahaan dan Tenaga Ahli yang mempunyai Ijin Sertifikat.
2. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
3. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi (E.E.).
4. Laporan akhir perencanan.
F. Mengadakan persiapan pelelangan, seperti membantu Kepala Satuan Kerja di dalam menyusun
dokumen pelelangan dan membantu panitia pelelangan menyusun program dan pelaksanaan
pelelangan.
G. Membantu panitia pelelangan pada waktu penjelasan pekerjaan, termasuk menyusun berita acara
penjelasan pekerjaan, evaluasi penawaran, menyusun kembali dokumen pelelangan, dan
melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi lelang ulang.
H. Mengadakan pengawasan berkala selama pelaksanaan konstruksi fisik dan melaksanakan satuan
kerja seperti:
1. Melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada perubahan.
2. Memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang timbul selama masa pelaksanaan
konstruksi.
3. Memberikan saran-saran, pertimbangan dan rekomendasi tentang penggunaan bahan.
4. Membuat laporan akhir pengawasan berkala.
I. Menyusun buku petunjuk penggunaan peralatan bangunan dan perawatannya termasuk petunjuk
yang menyangkut peralatan dan perlengkapan mekanikal-elektrikal bangunan.
J. Merencanakan dan menyusun program K3 serta membuat prosedur kerja dan instruksi kerja
penerapan ketentuan K3
TANGGUNG JAWAB PERENCANAAN
A. Konsultan Perencanaan bertanggungjawab secara profesionalitas jasa perencanaan yang berlaku
dilandasi pasal 11 Undang-undang Nomor 18 Tentang Jasa Konstruksi.
B. Secara umum tanggung jawab konsultan adalah minimal sebagai berikut:
1. Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan standar hasil
karya perencanaan yang berlaku mechanisme pertanggungan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus telah mengakomodasi batasan - batasan yang
telah diberikan oleh kegiatan, termasuk melalui KAK ini, seperti dari segi pembiayaan, waktu
penyelesaian pekerjaan dan mutu bangunan yang akan diwujudkan.
3. Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus telah memenuhi peraturan, standar, dan
pedoman teknis bangunan gedung yang berlaku untuk bangunan gedung pada umumnya dan
yang khusus untuk bangunan gedung negara.
4. Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus telah memenuhi standar-standar dan
ketentuan-ketentuan.
8. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN
Jangka waktu pelaksanaan Perencanaan selama 1 (satu) bulan atau 30 (tiga puluh) hari kalender,
terhitung sejak terbit SPMK.
9. TENAGA AHLI
Untuk mencapai hasil yang diharapkan, Pihak Konsultan Perencana harus menyediakan tenaga-tenaga
ahli dalam suatu struktur organisasi Konsultan Perencana untuk menjalankan kewajibannya sesuai
dengan lingkup jasa yang tercantum dalam KAK ini yang bersertifikat dan disetujui oleh Pemberi
Tugas.
Struktur Organisasi serta daftar tenaga ahli beserta kualifikasinya, minimal sebagai berikut:
KUALIFIKASI SPESIFIKASI TKDN JML PENGALAMAN
NO. JABATAN PENDIDIKAN / (org) MINIMAL
KEAHLIAN
A Tenaga Ahli
1. Team Leader (Teknik Arsitek/Sipil) S1 Arsitektur WNI 100% 1 3 Tahun
/ S1 Sipil
2. Ahli Bangunan Gedung (Teknik S1 Teknik WNI 100% 1 3 Tahun
Sipil) Sipil
B Tenaga Pendukung
1. Estimator / Juru Hitung SMK / SMA WNI 100% 1 1 Tahun
Sederajat
2. Drafter / Juru Gambar SMK / SMA WNI 100% 1 1 Tahun
Sederajat
3. Surveyor / Juru Ukur SMK / SMA WNI 100% 2 1 Tahun
Sederajat
Operator Komputer / Staff WNI
4. SMK / SMA 100% 1 1 Tahun
Administrasi
Sederajat
Sesuai dengan ketentuan, maka Tenaga Ahli diatas harus memiliki Sertifikat tenaga ahli SKK/SKT dari
Asosiasi dan dilengkapi dengan Curiculum Vitae (pengalaman dilengkapi dengan referensi /surat
keterangan) serta ijazah.
10. KELUARAN
TAHAPAN PERENCANAAN
Keluaran yang dihasilkan oleh Konsultan Perencana berdasarkan Kerangka Acuan Kerja ini
adalah lebih lanjutakan diatur dalam surat perjanjian, yang minimal meliputi:
A. Tahap Konsep Perencanaan
1) Konsep penyiapan rencana teknis, termasuk konsep organisasi, jumlah dan kualifikasi
tim perencana, metoda pelaksanaan, dan tanggung jawab waktu perencanaan.
2) Konsep skematik rencana teknis, termasuk program ruang, organisasi hubungan ruang,
dll.
3) Laporan data dan informasi lapangan, termasuk penyelidikan tanah sederhana,
keterangan rencana kota, studi banding dll.
B. Tahap Pra - Rencana Teknis
1) Gambar-gambar rencana tapak.
2) Gambar-gambar pra-rencana bangunan.
3) Perkiraan biaya pembangunan.
4) Laporan Perencanaan.
5) Hasil konsultasi rencana dengan Pemda setempat.
6) Garis besar rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).
C. Tahap Pengembangan Rencana
1) Rencana arsitektur, beserta uraian konsep dan visualisasi dwi dan trimatra bila
diperlukan;
2) Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya;
3) Garis besar spesifikasi teknis (Outline Specifi-cations);
4) Perkiraan biaya.
D. Tahap Rencana Detail
1) Membuat gambar-gambar detail,
2) Rencana kerja dan syarat-syarat, (RKS)
3) Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, (BQ)
4) Rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi, (RAB) berdasarkan Analisa Biaya
Konstruksi - SNI
5) Menyusun laporan perencanaan ; struktur, utilitas, lengkap dengan perhitungan-
perhitungan yang bisa dipertanggung jawabkan.
E. Tahap Pelelangan (Dokumen Perencanaan Teknis)
1) Gambar Rencana beserta detail pelaksanaan; arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal,
plumbing,pertamanan, tata ruang,
2) Rencana kerja dan syarat-syarat administratif, syarat umum dan syarat teknis (RKS)
3) Rencana Anggaran Biaya (RAB),
4) Rincian Volume pekerjaan/ bill of quatity (BQ),
5) Laporan Perencanaan;
F. Tahap Pengawasan Berkala
1) Laporan Pengawasan Berkala; seperti memeriksa kesesuaian pelaksanaan pekerjaan
dengan rencana secara berkala, melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis
pelaksanaan bila ada perubahan, memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan
yang timbul selama masa konstruksi, memberikan rekomendasi tentang penggunaan
bahan, dan membuat laporan akhir pengawasan berkala;
2) Menyusun laporan akhir pekerjaan perencanaan yang terdiri atas perubahan perencanaan
pada masa pelaksanaan konstruksi, petunjuk penggunaan, pemeliharaan, dan perawatan
bangunan gedung, termasuk petunjuk yang menyangkut peralatan dan perlengkapan
mekanikal-elektrikal bangunan.
KRlTERlA
A. KriteriaUmum
Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan Perencana seperti yang dimaksud pada
KAK harus memperhatikan kriteria umum bangunan disesuaikan berdasarkan fungsi dan
kompleksitas bangunan, yaitu:
1) Persyaratan Peruntukan dan Intensitas:
a. Menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata
bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan,
b. Menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya,
c. Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat, dan lingkungan.
2) Persyaratan Arsitektur dan Lingkungan
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang di dirikan berdasarkan karakteristik
lingkungan, ketentuan wujud bangunan, dan budaya daerah,
Sehingga seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya (fisik, sosial dan budaya),
b. Menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan
keserasian bangunan terhadap lingkungannya,
c. Menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan
dampak negative terhadap lingkungan.
3) Persyaratan Struktur Bangunan
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul
akibat perilakualam dan manusia (gempa,dll),
b. Menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang
disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan,
c. Menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan
oleh perilaku struktur,
d. Menjamin perlindungan property lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh
kegagalan struktur.
4) Persyaratan Ketahanan terhadap Kebakaran
a. Menjamin terwujudnya system proteksipasif dan aktif pada bangunan gedung.
b. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul
akibat perilakualam dan manusia,
c. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehingga
mampu secara struktural stabil selama kebakaran, sehingga:
i. Cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman,
ii. Cukup waktu dan mudah bagi pasukan pemadam kebakaran memasuk ilokasi untuk
memadamkan api,
iii. Dapat menghindari kerusakan pada property lainnya.
5) Persyaratan Sarana Jalan Masuk dan Keluar
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak, aman dan
nyaman kedalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamya,
b. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dan kesakitan atau luka saat
evakuasi pada saat keadaan darurat,
c. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat, khususnya untuk bangunan
fasilitas umum dan sosial,
6) Persyaratan Transportasi dalam Gedung
a. menjamin tersedianya sarana transportasi yang layak, aman, dan nyaman di dalam
bangunan gedung,
b. menjamin tersedianya akses bilitas bagi penyandang cacat, khususnya untuk bangunan
fasilitas umum dan sosial,
7) Persyaratan Pencahayaan Darurat, Tanda arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya
a. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung
apabila terjadi keadaan darurat,
b. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman, apabila terjadi
keadaan darurat,
8) Persyaratan Instalasi Listrik, Penangkal Petir dan Komunikasi:
a. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang
terselenggaranya satuan kerja didalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya,
b. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya
akibat petir,
c. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang
terselenggaranya satuan kerja didalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
9) Persyaratan Sanitasi Bangunan Gedung dan Lingkungan
a. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang pada bangunan
gedung dan lingkungan sesuai dengan fungsinya,
b. menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi
penghuni bangunan dan lingkungan,
c. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik,
10) Persyaratan Ventilasi dan Pengkondisian Udara
a. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup, baik alami maupun buatan dalam
menunjang terselenggaranya satuan kerja dalam bangunan gedung sesuai dengan
fungsinya,
b. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik,
11) Persyaratan Pencahayaan:
a. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup, baik alami maupun buatan
dalam menunjang terselenggaranya satuan kerja dalam bangunan gedung sesuai dengan
fungsinya,
b. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik,
12) Persyaratan Kebisingan dan Getaran
a. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang
tidak diinginkan,
b. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau satuan kerja yang menimbulkan
dampak negative suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran
dan atau mencegah perusakan lingkungan.
AZAS-AZAS
Selain dari kriteria diatas, di dalam melaksanakan tugasnya Konsultan Perencana hendaknya
memperhatikan azas-azas bangunan gedung negara sebagai berikut:
A. Bangunan gedung negara hendaknya fungsional, efisien, menarik tetapi tidak berlebihan.
B. Kreatifitas desain hendaknya tidak ditekankan pada kelatahangaya dan kemewahan material,
tetapi pada kemampuan mengadakan sublimasiantara fungsi teknik dan fungsi sosial
bangunan, terutama sebagai bangunan pelayanan kepada masyarakat.
C. Dengan batasan tidak mengganggu produktivitas kerja, biaya investasi dan pemeliharaan
bangunan sepanjang umurnya, hendaknya diusahakan serendah mungkin.
D. Desain bangunan hendaknya dibuat sedemikian rupa, sehingga bangunan dapat dilaksanakan
dalam waktu yang pendek dan dapat dimanfaatkan secepatnya.
E. Bangunan gedung negara hendaknya dapat menerapkan konsep Green Building guna
meningkatkan kualitas lingkungan, dan menjadi acuan tata bangunan dan lingkungan di
sekitarnya.
PROSES PERENCANAAN
A. Dalam proses perencanaan untuk menghasilkan keluaran-keluaran yang diminta, konsultan
Perencan harus menyusun jadwal pertemuan berkala dengan Pengelola Kegiatan.
B. Dalam pertemuan berkala tersebut ditentukan produk awal, antara dan pokok yang harus
dihasilkan konsultan sesuai dengan rencana keluaran yang ditetapkan dalam KAK ini.
C. Dalam pelaksanaan tugas, konsultan harus selalu memperhitungkan bahwa waktu pelaksanaan
pekerjaan adalah mengikat.
PROGRAM KERJA
A. Konsultan Perencana harus segera menyusun program kerja minimal meliputi:
1. Jadwal kegiatan secara detail.
2. Alokasi tenaga yang lengkap (disiplin dan keahliannya). Tenaga-tenaga yang diusulkan
oleh konsultan perencana harus mendapatkan persetujuan dari Kepala Satuan Kerja.
3. Konsep penanganan pekerjaan perencanaan.
B. Program kerja secara keseluruhan harus mendapatkan persetujuan dari Kepala Satuan Kerja,
setelah sebelumnya dipresentasikan oleh Konsultan Perencana dan mendapatkan pendapat
teknis dari Direksi Teknis Kegiatan.
C. Secara Umum, persyaratan teknis bangunan gedung negara mengikuti ketentuan dalam:
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 29/PRT/M/2006 tanggal 1 Desember 2006
tentang Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
2) Peraturan Menteri Pekerjaan UmumNomor: 22/PRT/M/2018 Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
3) Standar Nasional Indonesia tentang Bangunan Gedung serta standar teknis yang terkait.
4) Peraturan daerah setempat tentang Bangunan Gedung.
11. PELAPORAN
1) Laporan Pendahuluan (Konsep Perencanaan dan Pra Rencana Teknis)
2) Laporan Antara (Pengembangan Rencana dan Rencana Detail)
3) Dokumen Pelelangan (DED, RKS dan RAB)
4) Laporan Pengawasan Berkala
5) Laporan Akhir Perencanaan
6) Metode Pelaksanaan Konstruksi
7) Rencana K3 Kontrak (RK3K)
12. PENUTUP
A. Setelah Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini diterima, maka Konsultan Perencana hendaknya
memeriksa semua bahan masukan yang diterima dan mencari bahan masukan lain yang dibutuhkan.
B. Berdasarkan bahan-bahan tersebut,Konsultan Perencana agar segera menyusun program kerja untuk
dibahas dengan Kepala Satuan Kerja.