Timer dan Counter pada PLC FX5U
Timer dan Counter pada PLC FX5U
A. Materi
B. Tujuan
C. Jumlah Pertemuan
D. Pengantar
1. Timer
Pewaktuan sangat dibutuhkan pada banyak sistem kendali. Contohnya sebuah motor
atau pompa terkadang harus dikendalikan untuk beroperasi pada interval waktu tertentu saja
atau mungkin harus menyala setelah sekian interval waktu. Oleh karena itu, mayoritas PLC
dilengkapi oleh perangkat timer built-in. Timer menghitung tiap detik atau per-sekian detik
menggunakan clock internal CPU.
Elektronika Industri 1
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
tangga (rung) dengan kontak sebagai input yang ditempatkan pada rung yang lain (Gambar 2. 1
a). Ada juga yang memerlakukan timer seperti blok tundaan yang jika dimjasukkan pada rung
akan menunda sinyal mencapai keluaran (Gambar 2. 1 b).
Menurut standar IEC 6113101 ada tiga buah tipe timer: on delay timer (TON), off-delay
timer (TOF) dan pulse timer (TP). Simbol ketiga timer dapat diliha pada Gambar 2. 2.
Guna memperjelas cara operasi timer, pada Gambar 2. 3 ditunjukkan diagram pewaktuan
masing-masing timer.
Elektronika Industri 2
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
TON : timer ON jika input ON dan output akan ON setelah pewaktuan timer
selesai
TOF : output ON jika input ON dan jika input OFF timer akan ON dan output
akan OFF setelah pewaktuan selesai
TP : timer ON jika input ON dan sekaligus membuat output ON, kemudian
output OFF jika pewaktuan timer selesai
Secara umum, jenis timer yang tersedia pada PLC FX5U mengikuti standar IEC 61131-1
yaitu: TON, TOF, dan TP dengan tambahan retentive timer. Semua timer ini tersedia dalam
bahasa ladder, FBD/LAD dan structured text (ST).
Akses ke timer sebagai instruksi OUT bisa diakses melalui panel “Element Selection”
di sebelah kanan layar kerja GX-Works 3 kemudian scroll mouse untuk mencari “Sequence
Instruction” dan klik pada pilihan “Output Instructions” dan pilih OUT[2] Timer/Retentive
timer (Gambar 2. 4).
Akses ke timer sebagai blok fungsi pada GX-Works 3 bisa dilakukan pada panel
“Element Selection” di sebelah kanan layar kerja GX-Works 3 kemudian scroll mouse untuk
mencari “Standar Function/Function Block” dan klik pada pilihan “Timer” (Gambar 2. 5).
Elektronika Industri 3
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Elektronika Industri 4
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Timer sebagai instruksi OUT memiliki karakteristik seperti Timer On-Delay. Saat kondisit
eksekusi True, timer akan menjalakan pewaktuan hingga nilai yang sudah ditentukan. Jika
pewaktuan sudah mencapai nilai tersebut maka keluaran timer (coil) akan ON. Timer ini dapat
dituliskan dalam bahasa ladder dan structured text () maupun FBD ().
OUT : 100 ms
OUTH : 10 ms
Elektronika Industri 5
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
OUTHS : 1 ms
Timer ini akan mengaktifkan sinyal setelah pewaktuan selesai dikerjakan. Basis
pewaktuan TON ada 2 yaitu: 100ms (TON_ atau TON_E_) dan 10ms (TON_10_ atau TON_10_E_).
Fungsi TON bisa diterjemahkan dalam ladder diagram, FBD (functional block diagram) maupun
structured text (ST) seperti pada Gambar 2. 8.
Elektronika Industri 6
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Timing diagram TON dengan EN/ENO (Gambar 2. 10). Syarat eksekusi adalah EN True,
jika selama eksekusi terjadi kesalahan maka nilai d1 dan d2 adalah nilai keluaran yang
sebelumnya.
Berkebalikan dengan TON, timer ini akan menonaktifkan sinyal setelah pewaktuan
selesai dikerjakan. Basis pewaktuan TOF ada 2 yaitu: 100ms (TOF_ atau TOF_E_) dan 10ms
(TOF_10_ atau TOF_10_E_). Fungsi TOF bisa diterjemahkan dalam ladder diagram. FBD
(functional block diagram) maupun structured text (ST) seperti terlihat pada Gambar 2. 11.
Elektronika Industri 7
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Timing diagram TOF dengan EN/ENO (Gambar 2. 13). Syarat eksekusi adalah EN True.
Jika selama eksekusi terjadi kesalahan maka nilai d1 dan d2 adalah nilai keluaran yang
sebelumnya.
Elektronika Industri 8
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Fungsi timer pulse adalah mengaktifkan sinyal keluaran selama periode waktu yang telah
ditentukan. Basis pewaktuan TP ada 2 yaitu: 100ms (TP_ atau TP_E_) dan 10ms (TP_10_atau
TP_10_E_). Fungsi TP bisa diterjemahkan dalam ladder diagram, FBD (functional block diagram)
maupun structured text (ST) seperti terlihat pada Gambar 2. 14.
Tabel 2. 4 Parameter TP
Timing diagram TP tanpa EN/ENO ditunjukkan pada Gambar 2. 15. Jika terjadi error
selama eksuksi TOF maka nilai d1 dan D2 tidak terdefinisikan.
Elektronika Industri 9
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Timing diagram TP dengan EN/ENO ditunjukkan pada Gambar 2. 16. Eksekusi TP dimulai
jika EN True. Jika terjadi error selama ekskusi TP maka nilai d1 dan d2 tidak terdefinisikan.
Selain blok TON, TOF dan TO, GX-Works 3 juga menyediakan blok khusus Timer Function.
Timer ini berfungsi sebagai pewaktu secara umum namum karakteristiknya mirip dengan TON,
jika kondisi eksekusi True maka timer akan menjalankan pewaktuan hingga nilai yang sudah
ditentukan (present value). Jika pewaktuan sudah mencapai nilai tersebetu, maka output akan
ON. Timer ini memiliki nilai awal pewaktuan yang bisa diatur dan basis pewaktuan blok timer
ini lebih bervariasi:
Blok fungsi timer bisa dituliskan dalam ladder, FBD maupun structured text seperti
ditunjukkan oleh Gambar 2. 17.
Elektronika Industri 10
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Retentive timer memiliki sifat mempertahankan nilai pewaktuan (d1) paling akhir ketika
timer memperoleh kondisi eksekusi False. Jika kondisi eksekusi menjadi True kembali, timer
akan melanjutkan pewaktuan dengan nilai timer yang tersimpan tersebut. Perintah Reset (RST)
bisa digunakan untuk memaksa nilai pewaktuan kembali ke nilai awal pengaturan (nol atau sama
dengan s3).
Elektronika Industri 11
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
2. Counter
Counter (pencacah) merupakan elemen yang disediakan secara built-in pada kebanyakan
PLC. Counter akan menghitung banyaknya sinyal masukan yang diberikan. Penggunaan counter
misalnya pada jumlah produk yang harus dihitung ketika produk tersebut melewati conveyor
belt. Jumlah putaran shaft, atau banyaknya orang yang melewati sebuah pintu.
Terdapat dua tipe dasar counter: up-counter dan down counter. Up-counter akan
mencacah dari nilai awal (intial value, biasanya nol) hingga ke nilai yang telah ditentukan (preset
value), saat itulah status keluarannya akan berubah, sedangkan down-counter akan mencacah
dari nilai preset value hingga mencapai nol, saat itulah status keluarannya akan berubah.
Beberapa PLC, mempunyai up-down-counter. Simbol counter sesuai IEC 61131-1 ditunjukkan
oleh Gambar 2. 20.
Elektronika Industri 12
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Gambar 2. 20 Simbol IEC 61131-1 untuk counter (a) down-counter (b) up-counter (c) up-down-counter
Manufaktur PLC seperti Mitsubishi menganggap counter terdiri dari dua elemen dasar
yaitu: satu koil relai untuk menghitung pulsa/sinyal masukan dan satu koil relai untuk me-reset
counter itu sendiri. Kontak relai yang terkait, bisa digunakan di rung yang lain. Ilustrasi metode
ini ditunjukkan oleh Gambar 2. 21.
Secara umum, counter yang tersedia pada PLC FX5U mengikuti standar IEC 61131-1,
yaitu: up-counter (CTU), down-counter (CTD), up-down-counter (CTUD) dan ditambah blok
khusus Fungsi Counter. Semua counter ini tersedia dalam bahasa ladder, FBD/LAD dan
structured text (ST).
Elektronika Industri 13
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Akses ke counter sebagai Instruksi OUT pada GX-Works 3 bisa dilakukan pada panel
“Element Selection” di sebelah kanan layar kerja GX-Works 3 kemudian scroll mouse untuk
mencari ”Sequence Instruction” dan klik pada pilihan “OUT Counter” (Gambar 2. 22).
Akses ke counter sebagai blok fungsi pada GX-Works 3 bisa dilakukan pada panel
“Element Selection” di sebelah kanan layar kerja GX-Works 3 kemudian scroll mouse untuk
mencari “Standard Function/Function Block” dan klik pada pilihan “Counter” (Gambar 2.
23).
Elektronika Industri 14
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Counter sebagai bagian instruksi OUT memiliki karakteristik seperti up-counter. Saat
kondisi eksekusi counter True dan masukan counter menerima rising signal maka counter akan
mencegah naik hingga nilai tertentu. Jika nilai ini tercapai maka status keluaran counter akan
ON. Counter ini dapat dituliskan dalam bahasa ladder dan structured text (Gambar 2. 24)
maupun FBD/LD (Gambar 2. 25).
Elektronika Industri 15
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Up-Counter (CTU)
Up-counter akan mencacah naik setiap kali muncul rising signal pada masukkannya. Up-
counter bisa dituliskan dalam ladder diagram, FBD (functional block diagram) maupun
structured text (ST) seperti ditunjukkan pada Gambar 2. 26.
Elektronika Industri 16
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Contoh timing diagram CTU tanpa EN/ENO (dengan n = 3) ditunjukkan oleh Gambar 2.
27. Jika nilai d2 sudah mencapai n maka d1 akan ON. Counter akan kembali ke keadaan awal
jika sinyal s2 (reset) di-ON-kan.
Contoh timing diagram CTU dengan EN/ENO (dengan n = 3) ditunjukkan oleh Gambar 2.
28. Counter bekerja jika EN di-ON-kan selain itu nilai d1 dan d2 berisi nilai pada operasi
sebelumnya. Counter akan kembali ke keadaan awal jika sinyal s2 (reset) di-ON-kan.
Elektronika Industri 17
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Down-Counter (CTD)
Down-counter akan mencacah turun setiap kali muncul rising signal pada masukannya.
Down-counter bisa dituliskan dalam bahasa ladder diagram, FBD (functional block diagram)
maupun structured text (ST) seperti ditunjukkan pada Gambar 2. 29.
Elektronika Industri 18
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Contoh timing diagram CTD dengan EN/ENO (dengan n = 3) ditunjukkan oleh Gambar 2.
31. Syarat supaya counter bisa dieksekusi dengan normal, EN dan ENO harus ON jika tidak maka
nilai d1 dan d2 akan berisi nilai operasi sebelumnya.
Up-Down-Counter (CTUD)
Counter ini akan mencacah naik atau turun setiap kali muncul rising signal pada
masukannya. Berbeda dengan counter CTU dan CTD yang hanya memilki 1 masukkan, CTUD
Elektronika Industri 19
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
memilki 2 buah masukan: untuk cacahan naik dan untuk cacahan turun. CTUD bisa dituliksan
dalam ladder diagram, FBD (functional block diagram) maupun structured text (ST) seperti
ditunjukkan pada Gambar 2. 32.
Counter akan mencacah naik jika rising signal terjadi di s1. Jika nilai d3 telah
mencapai n maka d1 akan ON dan counter berhenti mencacah. Untuk kembali ke
keadaan awal, s3 di-ON-kan, d1 akan OFF dan d3 kembali ke nol.
Counter akan mencacah turun jika rising signal terjadi di s2. Jikai nilai d3 nol, d2
akan ON dan counter berhenti mencacah. Untuk mengembalikan counter ke
keadaan awal, s4 di-ON-kan, d2 akan OFF dan nilai d3 akan sama dengan n.
Jika rising signal terjadi pada s1 dan s2 bersmaan maka s1 akan diprioritaskan,
counter akan menambah 1 pada nilai d3.
Elektronika Industri 20
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Contoh timing diagram CTUD dengan EN/ENO (dengan n = 3) ditunjukkan oleh . Pada
dasarnya sama dengan CTUD tanpa EN/ENO. Untuk beroperasi dengan normal diperlukan EN
dan ENO ON, jika tidak maka d1, d2, dan d3 akan berisi nilai yang dihasilkan oleh operasi
sebelumnya.
Elektronika Industri 21
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
Blok fungsi counter akan mulai mencacah naik jika kondisi eksekusi pada masukanya
berubah dari OFF menjadi ON (rising signal). Khusus pada blok ini, nilai awal pencacahan dapat
ditentukan/diatur. Blok fungsi counter ini juga bisa diterjemahkan dalam ladder diagram, FBD
(functional block diagram) maupun structured text (ST) seperti ditunjukkan oleh Gambar 2. 35.
Elektronika Industri 22
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
E. Kebutuhan Praktikum
Komputer PC/Laptop
Elektronika Industri 23
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
F. Kegiatan Praktikum
a. Buka GX-Works 3, buat New Project dengan CPU FX5U dan bahasa ladder, simpan
sebagai timer01.gx3
b. Buatlah ladder berikut ini:
Komponen ladder:
Masukan : X0 dan X1
Keluaran : Y0, Y1 dan Y3
Timer : T1, T2 dan T3 (masing-masing dengan set value 100)
Konstanta : K100 (nilai set timer)
c. Setelah di-build dan di-write to PLC, tahapan kerja program:
ON-kan X0
Catat urutan aktifnya Y0
Setelah semua keluaran ON, OFF-kan X0
ON dan kemudian OFF-kan X1
d. Setelah melakukan percobaan diatas:
1. Jelaskan mengapa keluaran tidak ON serentak, padahal Set Value timer
sama semua yaitu 100 (K100)!
Elektronika Industri 24
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
a. Buka GX-Work 3, buat New Project dengan CPU FX5U dan bahasa ladder, simpan
sebagai timer02.gx3.
b. Buatlah ladder berikut ini:
Komponen ladder:
Masukan : X0, X1 dan X2
Keluaran : Y0, Y1 dan Y2
Timer : TON_1, TOF_1 dan TP_1 (preset value all timer 10 s)
Label : ton_elapsed, tof_elapsed dan tp_elapsed (semuanya local
label bertibe TIME)
Konstanta : nilai timer t#10s = 10s
c. Proses kerja timer:
Masing-masing timer bekerja independen
Pelajarilah bagaimana masukan dan proses pewaktuan mempengaruhi
status keluaran
d. Jelaskan masing-masing karakter timer, lengkapi dengan timing diagram yang
lebih mendetail.
Elektronika Industri 25
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
a. Buka GX-Works 3, buat New Project dengan CPU FX5U dan bahasa ladder, simpan
sebagai counter01.gx3.
b. Buatlah ladder berikut ini:
Komponen ladder:
Masukan : X0 dan X1
Keluaran : Y0
Counter : C0 dengan cacahan 10 (=K10)
Konstanta : K10 (nilai set cacahan = 10)
c. Jelaskanlah program counter01.gx3 dengan dilengkapi timing diagram!
a. Buka GX-Works 3, buat New Project dengan CPU FX5U dan bahasa ladder, simpan
sebagai counter02.gx3.
b. Buatlah ladder berikut ini:
Komponen ladder:
Masukan : X0 (pencacah), X1 (select counter), X2 (reset counter)
Keluaran : Y0 dan Y1
Counter : CTD dan CTU (masing-masing preset value = 10)
Konstanta : K10 (untuk preset value = 10)
Elektronika Industri 26
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
G. Tugas
1. Timer
Buatlah program ladder dengan komponen utama TON dan TOF dan ketentuan seperti
berikut:
2. Counter
Buatlah program ladder dengan komponen utama CTU dan CTD atau boleh
menggunakan CTUD dan ketentuan seperti berikut:
Elektronika Industri 27
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
iv. Jika pencacahan dilanjutkan maka counter akan mencacah turun dari 15 hingga
0. Saat mencapai nol, status CTD ON.
v. Reset counter supaya status CTU dan CTD OFF.
vi. Proses kembali ke [Link].
3. Studi Kasus
Keterangan IO:
Input:
i. Pendeteksi cangkir X000 (ON ketika cangkir ada)
ii. Tombol penyedia teh X001
iii. Tombol konfirmasi daun teh X002
iv. Saklar batas minimal tangki pengisi air X003
v. Saklar batas maksimal tangki pengisi air X004
Output:
i. Lampu indikator pengganti daun teh Y000
ii. Output penyedia teh Y001
iii. Output pengisi air Y003
Penejelasan operasi:
i. Apabila deteksi cangkir X000 ON, dan ketika kita menekan tombol penyedia teh
X001, maka output penyedia teh Y004 akan beroperasi, dan air panas tertuang
Elektronika Industri 28
Lab. Instrumentasi Timer dan Counter | Modul 2
ke cangkir. Air panas akan tertuang hanya saat cangkir sudah berada di
tempatnya.
ii. Apabila air di tabung berkurang, batas minimal LS X003 akan menjadi ON, dan
output penyedia air Y003 akan beroperasi, tombol ditekan (X003), dan ketika
tombol dilepaskan maka air panas akan berhenti. Saat deteksi cangkir X000 OFF,
air panas tidak akan tertuang walaupun tombol penyedia teh X001 ditekan.
Apabila output penyedia air Y003 beroperasi dan air tertuang ke tabung, tidak
lama kemudian batas maksimal LS X004 menjadi ON (tombol ditekan), dan output
penyedia air Y003 menjadi tidak beroperasi.
iii. Apabila pengoperasian penyedia air telah dilaksanakan sebanyak 5 kali, lampu
tanda pengganti daun teh akan menyala.
iv. Apabila menekan tombol konfirmasi, lampu tanda pengganti daun teh akan mati.
H. Pembahasan
I. Penutup
J. Refrensi
Elektronika Industri 29