LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK KLINIK DENGAN
PASIEN SPINAL STENOSIS
DISUSUN OLEH
MUHAMMAD ILMIAWAN BAYU SAMUDRO
2206311614401036
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TUJUH BELAS
2023
Stenosis Manalis Spinalis
A. Definisi
Spinal stenosis adalah kondisi penyempitan satu atau lebih ruang di
dalam tulang belakang. Menyempitnya ruang di dalam tulang belakang pada
struktur tulang, dapat membatasi ruang yang tersedia untuk sumsum tulang
belakang dan saraf yang bercabang dari sumsum tulang belakang (Fitrina,
2018). Ruang yang sempit ini akan menyebabkan sumsum tulang
belakang atau saraf menjadi tertekan (terjepit) dan akhirnya menjadi iritasi.
Kondisi inilah yang nantinya akan menimbulkan berbagai gejala yang
mengganggu (Apsari et al., 2016).
B. Etiologi
Penyempitan ruang pada tulang belakang disebabkan oleh banyak
hal. Meski begitu, kesemuanya memiliki kesamaan yakni mengubah struktur
tulang belakang sehingga menyebabkan ruang di sekitar tulang belakang
menyempit (Dewangga & Rahayu, 2018).Berbagai penyebab spinal stenosis
yang mungkin Anda miliki adalah menurut Dimas (2017) :
[Link] Tulang Berlebihan
Peradangan pada tulang, seperti osteoarthritis dapat merusak
tulang rawan di persendian termasuk tulang belakang Anda. Tulang
rawan adalah pelindung yang menutupi sendi. Saat tulang rawan
melemah, tulang mulai bergesekan satu sama lain sehingga tubuh
merespons untuk menumbuhkan tulang baru. Tulang baru ini
tumbuh berlebihan (taji tulang) yang terjadi di sekitar tulang
belakang dapat meluas dan mempersempit ruang pada tulang
belakang dan menjepit saraf pada area tersebut. Penyakit paget pada
tulang juga dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada
tulang belakang yang akhirnya bisa menekan saraf. Penyakit Paget
pada tulang juga dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih dari
tulang di tulang belakang, menekan saraf.
2. Disk Bernia
Di setiap vertebra (tulang yang membentuk punggung) terdapat
bantalan bulat yang dapat dan ini disebut dengan disk vertebra.
Seiring bertambahnya usia, disk vertebra akan mengalami retakan
di tepi luar yang menyebabkan cairan khusus dari disk ini
menembus lapisan luar yang lemah. Disk akan menggembung,
memakan ruang pada tulang belakang dan menekan saraf di dekat
disk.
3. Penebalan Ligament
Ligamen adalah pita serat yang menahan tulang belakang.
Arthritis dapat menyebabkan ligamen menebal dari waktu ke waktu
sehingga memakan ruang sehingga penyempitan dapat terjadi.
[Link] atau cedera pada tulang belakang
Tulang patah, terkilir (keseleo), atau peradangan yang terjadi di
dekat tulang belakang dapat mempersempit ruang kanal dan
memberi tekanan pada saraf tulang belakang.
[Link]
Pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam dan di antara di
sumsum tulang belakang atau pada tulang belakang itu sendiri dapat
mempersempit ruang dan mengiritasi saraf di sekitarnya. Sebagian
orang terlahir dengan kanalis spinalis yang kecil tetapi sebagian
besar stenosis spinal terjadi karena ada suatu hal yang menyebabkan
kanalis spinalis menyempit. Penyebab stenosis spinal antara lain
menurut Arif (2015) :
a. Stenosis spinal paling sering disebabkan oleh
arthritis degeneratif, atau perubahan tulang dan
jaringan lunak karena proses penuaan, misalnya
pembentukan osteofit (bone spur), pembengkakan
dan kerusakan diskus intervertebralis, dan
penebalan ligamen antar tulang vertebra. Stenosis
spinal biasanya ditemukan pada pasien di atas usia
50 tahun, dan menjadi progresif dengan
bertambahnya usia.
b. Bertambahnya gerakan antar vertebra yang dapat
menyebabkan salah satu vertebra tergelincir ke
depan. Kondisi ini disebut dengan spondylolistesis.
Tidak semua lansia mengalami stenosis spinal.
Orang dengan riwayat keluarga mengalami
stenosis spinal atau masalah punggung
lainnya
C. Patway
Cedera veetebra Bipertropi degeneratif
osteoligamentu
m vetebra
Perubahan Osteofit / diskus
struktur diskus menonjol
Kanal spinal
menyempit
FRAKTUR LUMBAL KANAL
SPINAL STENOSIS
Perubahan Konpresi saraf Kerusakan RIsiko
stimulus saraf spinal neuromuskuler Inkontenesia
Urine Urgensi
Perubahan Nyeri Akut Defisit sensori
pola Kebiasaan
toileting tidak
efektif
Risiko Penurunan
Konstipasi Keterbatasan motorik Penurunan
kognitif ekstremita
produktifitas
s bawah
Kurang pajanan Perasaan
tidak
informasi Gangguan
adekuat
Moblitas Fisik
Defisit Ansietas
D. Manifestasi Klinis
Stenosis spinal yang terlihat pada MRI atau CT scan, tapi
mungkin tidak mengalami gejala karena penyempitan yang terjadi
adalah minimal. Biasanya gejala timbul secara bertahap dan
memburuk seiring berjalannya waktu, akibat saraf yang makin
tertekan. Gejala stenosis spina tergantung dari lokasi stenosis dan
saraf yang [Link] spinal pada leher (tulang belakang
bagian servikal) menurut Brian. dkk. (2015) :
1. Mati rasa atau kesemutan pada tangan, lengan, kaki atau
telapak kaki
2. Kelemahan pada tangan, lengan, kaki atau telapak kaki
3. Masalah pada keseimbangan dan kemampuan berjalan
4. Sakit pada leher
5. Dalam kasus yang berat, muncul gangguan dalam
mengontrol buang air besar dan buang air kecil
(inkontinensia)
Stenosis spinal pada punggung bagian bawah (tulang
belakang bagian lumbar) menurut Valiant (2017) :
1. Mati rasa atau kesemutan pada kaki
2. Kelemahan pada kaki
3. Sakit atau kram pada salah satu maupun kedua kaki ketika
berdiri untuk waktu yang lama, ketika berjalan, yang
biasanya membaik ketika membungkuk ke depan atau
duduk
4. Sakit pada punggung
E. Komplikasi
Meskipun jarang terjadi, stenosis spinal parah yang tidak diobati
dapat menimbulkan beberapa komplikasi menurut Rahayu (2017), yaitu:
1. Mati rasa di bagian tulang belakang
2. Gangguan keseimbangan
3. Inkontinensia urine
4. Kelumpuhan
F. Pemeriksaan penunjang
1. Ct scan
2. MRI
3. Sinar R Spinal
4. Foto ronsen Thorax
G. Penatalaksanaan medis
1. Terapi Konservatif
Terapi konservatif dilakukan apabila gejalanya ringan dan
durasinya pendek selain itu kondisi pasien tidak mendukung dilakukan
terapi operatif (misalnya pasien dengan hipertensi atau diabetes melitus).
Modalitas utama meliputi edukasi, penentraman hati, modifikasi aktivitas
termasuk mengurangi mengangkat beban, membengkokan badan,
memelintir badan, latihan fisioterapi harus menghindari hiperekstensi dan
tujuannya adalah untuk menguatkan otot abdominal flesor untuk
memelihara posisi fleksi, penggunaan lumbar corset-type brace dalam
jangka pendek (pada stenosis spina lumbar), analgesik sederhana,
NSAIDs, kalsitonin nasal untuk nyeri sedang, injeksi steroid epidural untk
mengurangi inflamasi, golongan narkotika bila diperlukan. Latihan juga
sangat penting antara lain bersepeda, treadmill, hidroterapi (berenang)
dapat memicu pengeluaran endorphin dan meningkatkan suplai darah ke
elemen saraf, serta membantu memperbaiki fungsi kardiorespirasi (Apsari
dkk, 2013).
2. Terapi operatif
Indikasi operasi adalah gejala neurologis yang bertambah berat,
defisit neurologis yang progresif, ketidakmampuan melakukan aktivitas
sehari- hari dan menyebabkan penurunan kualitas hidup, serta terapi
konservatif yang gagal. Tujuan tindakan operasi untuk dekompresi akar
saraf dengan berbagai teknik sehingga diharapkan bisa mengurangi gejala
(Apsari dkk, 2013).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan fisik: data focus
a. Primery survey
1) Airway: Memastikan kepatenan jalan napas tanpa adanya sumbatan atau
obstruksi,
2) Breathing: memastikan irama napas normal atau cepat, pola napas teratur,
tidak ada dyspnea, tidak ada napas cuping hidung,dan suara napas vesikuler,
3) Circulation: nadi lemah/ tidak teraba, cepat >100x/mt, tekanan darah
dibawah normal bila terjadi syok, pucat oleh karena perdarahan, sianosis,
kaji jumlah perdarahan dan lokasi, capillary refill >2 detik apabila ada
perdarahan.
4) Disability: kaji tingkat kesadaran sesuai GCS, respon pupil anisokor apabila
adanya diskontinuitas saraf yang berdampak pada medulla spinalis.
5) Exposure/Environment: fraktur terbuka di femur dekstra, luka laserasi pada
wajah dan tangan, memar pada abdomen, perut semakin menegang.
a. Secondary survey
1) Fokus Asesment
a) Kepala: Wajah, kulit kepala dan tulang tengkorak, mata, telinga, dan
mulut.
b) Leher: lihat bagian depan, trachea, vena jugularis, otot-otot leher bagian
belakang. Temuan yang dianggap kritis: Distensi vena jugularis, deviasi
trakea atau tugging, emfisema kulit
c) Dada: Lihat tampilan fisik, tulang rusuk, penggunaan otot-otot asesoris,
pergerakan dada, suara paru. Temuan yang dianggap kritis: Luka terbuka,
sucking chest wound, Flail chest dengan gerakan dada para doksikal,
suara paru hilang atau melemah, gerakan dada sangat lemah dengan pola
napas yang tidak adekuat (disertai dengan penggunaaan otot-otot
asesoris).
d) Abdomen: Memar pada abdomen dan tampak semakin tegang, lakukan
auskultasi dan palpasi dan perkusi pada abdomen. Temuan yang dianggap
kritis ditekuannya penurunan bising usus, nyeri tekan pada abdomen
bunyi dullness.
e) Pelvis: Daerah pubik, Stabilitas pelvis, Krepitasi dan nyeri tekan. Temuan
yang dianggap kritis: Pelvis yang lunak, nyeri tekan dan tidak stabil serta
pembengkakan di daerah pubik
f) Extremitas: ditemukan fraktur terbuka di femur dextra dan luka laserasi
pada tangan. Anggota gerak atas dan bawah, denyut nadi, fungsi motorik,
fungsi [Link] yang dianggap kritis: Nyeri, melemah atau
menghilangnya denyut nadi, menurun atau menghilangnya fungsi sensorik
dan motorik.
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital yang meliputi suhu, nadi, pernafasan dan
tekanan darah. Pemeriksaan status kesadaran dengan penilaian GCS (Glasgow
Coma Scale): terjadi penurunan kesadaran pada pasien.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. POST OPERASI
a. Nyeri b.d agen pencedera fisik
b. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik
Tujuan dan KH
Setelah dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam diharapkan tingkat nyeri menurun
dengan kh
Tingkat nyeri menurun
Meringis menurun
Gelisah menurun
Intervensi
Menejemen nyeri
Observasi
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
Identifikasi skala nyeri
Idenfitikasi respon nyeri non verbal
Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis: TENS,
hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi,
Teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan)
Fasilitasi istirahat dan tidur
Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
Jelaskan strategi meredakan nyeri
Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
b. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri
Tujuan dan KH
Setelah dilakukan tindakan selama 3x 24 jam diharapkan mobolitas fisik meningkat
dengan kh
Kekuatan otot meningkat
Rentan gerak (ROM) meningakat
Intervensi
Dukungaan mobilisasi
Observasi
Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi
Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi
Terapeutik
Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis: pagar tempat tidur)
Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan
Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
Anjurkan melakukan mobilisasi dini
Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis: duduk di tempat
tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi)
IMPLEMENTASI
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang di lakukan oleh perawat
untuk membantu pasien dari maslah status Kesehatan yang di hadapi ke status Kesehatan
yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang di harpkan.
proses pelaksanaan implementasi harus berpusat pada kebutuhan [Link] factor lain
yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan,staregi implementasi keperawatan dan kegiatan
komunikasi(Dinari,R.,Aryani,[Link],cairani dan tutiany,2016).
EVALUASI
Menurut muttaqin dan arif ( 2017 ) evaluasi di definisikan sebagai keputusan dari
efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah di tetapkan
dengan respon prilaku yang tampil.
Tujuan evaluasi antara lain:
a. Untuk menentukan perkembangan Kesehatan klien
b. Untuk menilai efektifitas,efisiensi dan produktifitas dari Tindakan keperawatan yang
telah di berikan.
c. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan
d. Mendapatkan umpan balik
DAFTAR PUSTAKA
Apsari, PIB., Suyasa, IK., Maliawan, S., dan Kawiyana, S
2013. Lumbar Spinal Canal Stenosis: Diagnosis dan
Tatalaksana. E-Jurnal Medika Udayana. Volume 2. Nomor
9.
Apsari, P. I. B. (2016). Lumbar Spinal Canal Stenosis
Diagnosis Dan Tatalaksana, 1—18.
Dewangga, M. W., & Rahayu, U. B. (2018). The 8 Th
University Research Colloquium 2018 Universitas
Muhammadiyah Purwokerto Pengaruh Neuromuscular
Taping Terhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada
Pengemudi Ojek Online The Effect Of Neuromuscular
Taping On The Of Low Back Pain In The 8 th University
Research Colloquium 2018 Universitas Muhammadiyah
Purwokerto, 332—336.
Dimas, S. (2017). Apa yang dimaksud dengan Terapi Latihan
pada fisioterapi?
Retrieved March 8, 2019, from [Link]
dimaksuddengan-terapi-latihan-pada-fisioterapi/12968.
Filantip, Arif. (2015). "Pengaruh Latihan Range Of Motio
Aktif Terhadap Kelentukan Sendi Ektremitas Bawah Dan
Gerak Motorik Pada Lansia Di Unit Pelayanan Sosial
j