0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan99 halaman

Perencanaan Waterfront Tanjung Aan

Dokumen ini adalah tugas akhir yang diajukan oleh Riski Dwi Saputra untuk memperoleh gelar Strata 1 Teknik Arsitektur di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Judulnya adalah 'Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan dengan Pendekatan Lokalitas', yang mencakup analisis perencanaan dan perancangan arsitektur. Tugas akhir ini juga mencakup berbagai kajian dan analisis terkait lokasi, konsep, dan pendekatan lokalitas dalam desain arsitektur.

Diunggah oleh

rskds11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan99 halaman

Perencanaan Waterfront Tanjung Aan

Dokumen ini adalah tugas akhir yang diajukan oleh Riski Dwi Saputra untuk memperoleh gelar Strata 1 Teknik Arsitektur di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Judulnya adalah 'Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan dengan Pendekatan Lokalitas', yang mencakup analisis perencanaan dan perancangan arsitektur. Tugas akhir ini juga mencakup berbagai kajian dan analisis terkait lokasi, konsep, dan pendekatan lokalitas dalam desain arsitektur.

Diunggah oleh

rskds11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN


ARSITEKTUR (DP3A)

WATERFRONT TOURIST AREA DI PANTAI TANJUNG AAN DENGAN


PENDEKATAN LOKALITAS

Diajukan sebagai Pelengkap dan Syarat


Guna Mencapai Gelar Strata 1 Teknik Arsitektur
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh:

RISKI DWI SAPUTRA


D30018010

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022
TUGAS AKHIR
DASAR PROGRAM PERANCANGAN DAN PERENCANAAN
ARSITEKTUR (DP3A)

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik


Universitas Muhammadiyah Surakarta

JUDUL : WATERFRONT TOURIST AREA DI PANTAI TANJUNG


AAN DENGAN PENDEKATAN LOKALITAS
PENYUSUN : RISKI DWI SAPUTRA
NIM : D 300 180 100

Disetujui untuk disampaikan di depan Dewan Penguji


Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Telah diperiksa dan disahkan oleh:


pembimbing

Dr. Ir. DhaniMutiari, M.T.


NIK.620

i
LEMBAR PENILAIAN

TUGAS AKHIR
DASAR PROGRAM PERANCANGAN DAN PERENCANAAN
ARSITEKTUR (DP3A)

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik


Universitas Muhammadiyah Surakarta

JUDUL : WATERFRONT TOURIST AREA DI PANTAI TANJUNG


AAN DENGAN PENDEKATAN LOKALITAS
PENYUSUN : RISKI DWI SAPUTRA
NIM : D 300 180 100

Setelah melalui tahap pengujian


Di hadapan dewan penguji pada tanggal 14 April 2022
Dinyatakan…………..Dengan nilai……………

Surakarta, 2022

Pembimbing I : Dr. Ir. DhaniMutiari, M.T (…………)

Penguji : Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T (…………)

ii
LEMBAR PENILAIAN

TUGAS AKHIR
DASAR PROGRAM PERANCANGAN DAN PERENCANAAN
ARSITEKTUR (DP3A)

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik


Universitas Muhammadiyah Surakarta

JUDUL : WATERFRONT TOURIST AREA DI PANTAI TANJUNG


AAN DENGAN PENDEKATAN LOKALITAS
Penyusun : RISKI DWI SAPUTRA
NIM : D 300 180 100

Setelah melalui tahap pengujian


Di hadapan dewan penguji pada tanggal 14 April 2022
Dinyatakan…………..Dengan nilai……………

Surakarta, 2022
Penguji
Pembimbing I : Dr. Ir. Dhani Mutiari, M.T (……………………)
Penguji I : Ir. Alpha Febela Priyatmono, M. (……………………)
Penguji II : (……………………)

DekanFakultas Teknik Ketua Program StudiArsitektur

Rois Fatoni, S.T., [Link], Ph.D Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T.
NIK. 682 NIK. 720

iii
SURAT PERNYATAAN

Dengan ini, saya menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di suatu perguruan
tinggi di sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis orang lain, kecuali yang secara tertulis disebutkan dalam
naskah dan daftar Pustaka.
Apabila kelak di kemudian hari terbukti ada ketidakbenaran dalam
pernyataan saya di atas, maka saya akan bertanggung jawab sepenuhnya.

Surakarta

RISKI DWI SAPUTRA


D 300 180 100

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kemudahan dalam pelaksanaan dan penulisan Dasar Program Perencanaan dan
Perancangan Arsitektur (DP3A) yang berjudul : “Waterfront Tourist Area di
Pantai Tanjung Aan dengan Pendekatan Lokalitas” dengan baik dan lancar.
Dasar Program Perencanaan dan PerancanganArsitektur (DP3A) ini
merupakan salah satu syarat akademik untuk memperoleh gelar Strata I (S1) pada
program Studi Arsitektur Fakuktas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Keberhasilan dalam penulisan laporan Dasar Program Perencanaan dan
Perancangan Arsitektur (DP3A) ini tidak lepas dari bantuan bimbingan serta
pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua tercinta yang selalu mendukung dari segi spiritual dan
material.
2. Ibu Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T. selaku Ketua Program
Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta.
3. Ibu Fadhilla Tri Nugrahaini, ST, MSc. Selaku koordinator Studio Konsep
Perancangan Arsitektur Program Studi Arsitektur Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
4. Ibu Dr. Ir. Dhani Mutiari, M.T. selaku dosen pembimbing Dasar Program
Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) yang telah membimbing.
Penulis menyadari adanya keterbatasan dan kekurangan baik dari segi
materi maupun teknik penyajian pada penulisan laporan ini shingga kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis. Semoga laporan ini dapat
memberikan manfaat dan pengetahuan bagi pembaca.
Surakarta, 2022
Penulis,

RISKI DWI SAPUTRA


D 300 180 100

v
DAFTAR ISI

TUGAS AKHIR .................................................................................................. 1

LEMBAR PENILAIAN....................................................................................... ii

LEMBAR PENILAIAN...................................................................................... iii

SURAT PERNYATAAN ................................................................................... iv

KATA PENGANTAR ......................................................................................... v

DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... x

DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii

BAB I .................................................................................................................. 1

PENDAHULUAN ............................................................................................... 1

1.1 Pengertian Judul .................................................................................... 1

1.2 Latar Belakang ...................................................................................... 2

1.3 Permasalahan......................................................................................... 4

1.4 Tujuan ................................................................................................... 4

1.5 Batasan Pembahasan.............................................................................. 4

1.6 Keluaran atau Desain yang Dihasilkan ................................................... 5

1.7 Metode Pembahasan .............................................................................. 6

1.7.1 Pengumpulan Data.......................................................................... 6

1.7.2 Analisa Data ................................................................................... 6

1.8 Sistematika Penulisan ............................................................................ 7

BAB II................................................................................................................. 8

TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 8

2.1 Kajian Objek Perancangan ..................................................................... 8

vi
2.1.1 Pengertian Kawasan Ekonomi Khusus ............................................ 8

2.1.2 Pengertian Wisata ........................................................................... 9

2.1.3 Pengertian Tepian Air / Waterfront ............................................... 10

2.1.4 Kriteria Tepian Air / Waterfront ................................................... 10

2.1.5 Tipologi Tepian Air / Waterfront .................................................. 10

2.1.6 Aspek Dominan Perencanaan Waterfront...................................... 11

2.2 Kajian Tema Perancangan ................................................................... 14

2.2.1 Definisi Lokalitas ......................................................................... 14

2.2.2 Pendekatan Lokalitas Dalam Arsitektur ........................................ 14

2.2.3 Manfaat Tema Lokalitas ............................................................... 14

2.2.4 Prinsip – prinsip Dalam Pendekatan Lokalitas .............................. 14

2.2.5 Studi Banding Berdasarkan Tema ................................................. 15

2.3 Studi Banding ...................................................................................... 16

2.3.1 The Victoria and Alfred Waterfront .............................................. 16

2.3.2 Navy Pier ..................................................................................... 21

2.4 Tinjauan Studi Banding ....................................................................... 23

BAB III ............................................................................................................. 26

GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN ..................................... 26

3.1 Gambaran Umum Lokasi ..................................................................... 26

3.1.1 Kondisi Geografis dan Iklim ......................................................... 26

3.1.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lombok Tengah ........... 27

3.1.3 Keadaan Penduduk ....................................................................... 28

3.2 Gambaran Khusus Lokasi .................................................................... 28

3.2.1 Lokasi Site ................................................................................... 28

3.2.2 Atraksi Wisata Sekitar Kawasan ................................................... 29

vii
3.2.3 Studi Banding Dengan Objek Wisata Sekitar ................................ 30

3.2.4 Aksesibilitas ................................................................................. 31

3.2.5 Zoning dan Entrance ..................................................................... 32

3.2.6 Fasilitas Sekitar Lokasi ................................................................. 33

3.2.7 Topografi...................................................................................... 34

3.2.8 View............................................................................................. 35

3.3 Alternatif Site Waterfront Tourist Area Pantai Tanjung Aan ................ 35

3.3.1 Alternatif Site 1 ............................................................................ 36

3.3.2 Alternatif Site 2 ............................................................................ 38

3.3.3 Alternatif Site 3 ............................................................................ 40

3.4 Ide dan Gagasan .................................................................................. 41

BAB IV ............................................................................................................. 43

ANALISA PENDEKATAN DAN KONSEP PERENCANAAN DAN


PERANCANGAN ............................................................................................. 43

4.1 Analisa Makro ..................................................................................... 43

4.1.1 Analisa Pemilihan Site.................................................................. 43

4.1.2 Analisa Site .................................................................................. 43

4.2 Analisa Mikro...................................................................................... 49

4.2.1 Analisa Pelaku Kegiatan ............................................................... 49

4.2.2 Analisa Kegiatan dan Kebutuhan Ruang ....................................... 51

4.2.3 Hubungan Antar Ruang dan Organisasi Ruang ............................. 64

4.2.4 Analisa Tata Masa .......................... Error! Bookmark not defined.

4.2.5 Analisa Bentuk dan Gubahan Massa Error! Bookmark not defined.

4.2.6 Analisa Struktur............................................................................ 71

4.2.7 Analisa Utilitas ............................................................................. 75

viii
4.2.8 Analisa Pendekatan Konsep Lokalitas Pada Kawasan ................... 80

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 83

ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Peta Sebaran Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia...................... 9
Gambar 2. 2 Gedung Kantor Gubernur NTB ...................................................... 15
Gambar 2. 3 Eksterior Mola – mola Resort ........................................................ 15
Gambar 2. 4 Jambaluwuk Oceano Resort ........................................................... 16
Gambar 2. 5 Pemandangan The Victoria and Alfred Waterfront......................... 16
Gambar 2. 6 Masterplan dari V & AW Waterfront ............................................. 17
Gambar 2. 7 Amfiteater di V & AW Waterfront ................................................ 17
Gambar 2. 8 Pier Head ....................................................................................... 18
Gambar 2. 9 North Wharf .................................................................................. 18
Gambar 2. 10 Croquet Lawn .............................................................................. 19
Gambar 2. 11 Historic Tunnel ............................................................................ 19
Gambar 2. 12 Clocktower Squere ...................................................................... 19
Gambar 2. 13 Market Square ............................................................................. 20
Gambar 2. 14 Nobel Square ............................................................................... 20
Gambar 2. 15 Amsterdam Site ........................................................................... 21
Gambar 2. 16 Navy Pier..................................................................................... 21
Gambar 2. 17 Labirin Funhouse Chicago ........................................................... 22
Gambar 2. 18 Crystal Garden............................................................................. 22
Gambar 2. 19 Chicago Children’s Museum........................................................ 23
Gambar 2. 20 Chicago Shakespeare Theatre ...................................................... 23
Gambar 2. 21 Ferris Wheel ................................................................................ 23
Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah .............................. 27
Gambar 3. 2 Peta Environmental Site................................................................. 29
Gambar 3. 3 Pantai Kuta .................................................................................... 29
Gambar 3. 4 Sirkuit Mandalika .......................................................................... 29
Gambar 3. 5 Bukit Merese ................................................................................. 30
Gambar 3. 6 Batu Payung .................................................................................. 30
Gambar 3. 7 Bukit Tunak................................................................................... 30
Gambar 3. 8 Aksesibiltas ................................................................................... 32
Gambar 3. 9 Zoning dan Akses menuju Site....................................................... 33

x
Gambar 3. 10 Fasilitas Sekitar Lokasi ................................................................ 33
Gambar 3. 11 Peta Topografi ............................................................................. 34
Gambar 3. 12 Garis Topografi pada Kawasan .................................................... 35
Gambar 3. 13 View Sekitar Site ......................................................................... 35
Gambar 3. 14 3 Alternatif Site yang Dipilih ....................................................... 36
Gambar 3. 15 Alternatif Site 1 ........................................................................... 36
Gambar 3. 16 Sirkulasi pada Alternatif Site 1 .................................................... 37
Gambar 3. 17 Garis Sempadan Pantai ................................................................ 38
Gambar 3. 18 Sirkulasi pada Alternatif Site 2 .................................................... 38
Gambar 3. 19 Sirkulasi pada Alternatif Site 2 .................................................... 39
Gambar 3. 20 Garis Sempadan Pantai ................................................................ 39
Gambar 3. 21 Sirkulasi pada Alternatif Site 2 .................................................... 40
Gambar 3. 22 Sirkulasi pada Alternatif Site 2 .................................................... 41
Gambar 3. 23 Garis Sempadan Pantai ................................................................ 41
Gambar 4. 1 Pemilihan Site pada Kawasan ....................................................... 43
Gambar 4. 2 Tata Guna Lahan pada Site ........................................................... 44
Gambar 4. 3 Aksesibilitas & Sirkulasi pada Site ............................................... 44
Gambar 4. 4 Respon Kebisingan pada Site dengan Peletakan Vegetasi ............. 45
Gambar 4. 5 Respon Kebisingan pada Site dengan Pembagian Zona ................. 45
Gambar 4. 6 Analisa dan Respon Matahari pada Site ........................................ 46
Gambar 4. 7 Analisa dan Respon Angin pada Site............................................. 46
Gambar 4. 8 Tata Masa Bangunan Sekitar Site.................................................. 47
Gambar 4. 9 View pada Area Site ..................................................................... 47
Gambar 4. 10 Vegetasi pada Site ...................................................................... 48
Gambar 4. 11 Potongan pada Tapak .................................................................. 48
Gambar 4. 12 Pembagian Zoning Berdasarkan FungsiError! Bookmark not
defined.
Gambar 4. 13 Pola Tata Massa Linier Pada KawasanError! Bookmark not
defined.
Gambar 4. 14 Pola Tata Massa Radial Pada KawasanError! Bookmark not
defined.

xi
Gambar 4. 15 Pengambilan Bentuk Dasar dari Bale LumbungError! Bookmark
not defined.
Gambar 4. 16 Pengambilan Bentuk Dasar dari Bale LumbungError! Bookmark
not defined.
Gambar 4. 17 Peletakan Massa Bangunan Mengikuti Bentuk Site .............. Error!
Bookmark not defined.
Gambar 4. 18 Gubahan Massa Salah Satu Bangunan dengan Konsep Lokalitas
............................................................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4. 19 Konsep Pencahayaan Alami pada Massa Bangunan ............. Error!
Bookmark not defined.
Gambar 4. 20 Konsep Penghawaan Alami pada Massa Bangunan .............. Error!
Bookmark not defined.
Gambar 4. 21 Sirkulasi pada Massa Bangunan .... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4. 22 Konsep Eksterior pada Bangunan . Error! Bookmark not defined.
Gambar 4. 23 Konsep Interior pada Bangunan .... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4. 24 Penggunaan Pondasi Umpak pada Bangunan .............................. 72
Gambar 4. 25 Penggunaan Pondasi Batu Kali pada Bangunan........................... 72
Gambar 4. 26 Penggunaan Pondasi Footplat pada Bangunan............................. 73
Gambar 4. 27 Penggunaan Kolom kayu dan Balok Kayu pada Bangunan ......... 73
Gambar 4. 28 Penggunaan Kolom Bambu dan Balok Bambu pada Bangunan
............................................................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4. 29 Penggunaan Kolom Beton dan Balok Beton pada Bangunan ....... 74
Gambar 4. 30 Penggunaan Kolom Baja dan Balok Baja pada Bangunan ........... 74
Gambar 4. 31 Penggunaan Struktur Atap Spaceframe pada Bangunan .............. 74
Gambar 4. 32 Penggunaan Struktur Limasan pada Bangunan ............................ 75
Gambar 4. 33 Penggunaan Struktur Atap Bale Lumbung pada Bangunan.......... 75
Gambar 4. 34 Skema Jaringan Air Bersih pada Kawasan .................................. 76
Gambar 4. 35 Skema Distribusi Air PAM ......................................................... 76
Gambar 4. 36 Konsep Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih pada Kawasan 77
Gambar 4. 37 Skema Distribusi Air Laut .......................................................... 77
Gambar 4. 38 Skema Jaringan Air Kotor pada Kawasan ................................... 78

xii
Gambar 4. 39 Skema Jaringan Air Kotor pada Kawasan ................................... 78
Gambar 4. 40 Skema Jaringan Distribusi Listrik pada Kawasan ........................ 79
Gambar 4. 41 Skema Distribusi Jaringan Listrik ............................................... 79
Gambar 4. 42 Sistem Proteksi Kebakaran pada Kawasan .................................. 79
Gambar 4. 43 Pengambilan Bentuk Dasar dengan Pendekatan Lokalitas ........... 80
Gambar 4. 44 Pemilihan Material dengan Pendekatan Lokalitas ....................... 81

xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Studi Banding Berdasarkan Tema...................................................... 15
Tabel 2. 2 Studi Banding Berdasarkan Fungsi .................................................... 23
Tabel 3. 1 Objek Wisata Disekitar Pantai Tanjung Aan ...................................... 29
Tabel 3. 2 Studi Banding Antar Objek Sekitar.................................................... 30
Tabel 3. 3 Spesifikasi Alternatif Site 1 ............................................................... 36
Tabel 3. 4 Spesifikasi Alternatif Site 2 ............................................................... 38
Tabel 3. 5 Spesifikasi Alternatif Site 3 ............................................................... 40
Tabel 3. 6 Ide dan Gagasan Perancangan .......................................................... 41
Tabel 3. 7 Kelompok Pelaku Kegiatan pada Kawasan ........................................ 49
Tabel 3. 8 Analisa Kegiatan Kelompok Pelaku .................................................. 56
Tabel 4. 1 Aspek Pemilihan Site ........................................................................ 43
Tabel 4. 2 Analisa Kegiatan dan Kebutuhan Ruang ............................................ 51
Tabel 4. 3 Besaran Ruang pada Pasar Tradisional .............................................. 58
Tabel 4. 4 Besaran Ruang pada Museum............................................................ 59
Tabel 4. 5 Besaran Ruang pada Rumah Baca ..................................................... 60
Tabel 4. 6 Besaran Ruang pada Amfiteater ........................................................ 61
Tabel 4. 7 Besaran Ruang pada Area Kuliner ..................................................... 61
Tabel 4. 8 Besaran Ruang pada Masjid .............................................................. 61
Tabel 4. 9 Besaran Ruang pada Kantor Pengelola .............................................. 62
Tabel 4. 10 Besaran Ruang pada Toilet Umum .................................................. 62
Tabel 4. 11 Besaran Ruang pada Parkir .............................................................. 63
Tabel 4. 12 Besaran Ruang pada Loket .............................................................. 63
Tabel 4. 13 Besaran Ruang pada Utilitas ............................................................ 63
Tabel 4. 14 Total Besaran Ruang ....................................................................... 63
Tabel 4. 15 Hubungan Ruang pada Kawasan ..................................................... 65
Tabel 4. 16 Organisasi Ruang pada Kawasan ..................................................... 65
Tabel 4. 17 Hubungan Ruang pada Pasar Tradisional ......................................... 66
Tabel 4. 18 Organisasi Ruang pada Pasar Tradisional ........................................ 66
Tabel 4. 19 Hubungan Ruang pada Mini Museum.............................................. 66
Tabel 4. 20 Organisasi Ruang pada Mini Museum ............................................. 67

xiv
Tabel 4. 21 Hubungan Ruang pada Mini Library ............................................... 67
Tabel 4. 22 Organisasi Ruang pada Mini Library ............................................... 67
Tabel 4. 23 Hubungan Ruang pada Amfiteater ................................................... 68
Tabel 4. 24 Organisasi Ruang pada Amfiteater .................................................. 68
Tabel 4. 25 Hubungan Ruang pada Area Kuliner ............................................... 68
Tabel 4. 26 Organisasi Ruang pada Area Kuliner ............................................... 68
Tabel 4. 27 Hubungan Ruang pada Masjid ......................................................... 68
Tabel 4. 28 Organisasi Ruang pada Masjid ........................................................ 69
Tabel 4. 29 Hubungan Ruang pada Kantor Pengelola ......................................... 69
Tabel 4. 30 Organisasi Ruang pada Kantor Pengelola ........................................ 69
Tabel 4. 31 Hubungan Ruang pada Toilet Umum............................................... 70
Tabel 4. 32 Organisasi Ruang pada Toilet Umum .............................................. 70
Tabel 4. 33 Hubungan Ruang pada Parkiran ...................................................... 70
Tabel 4. 34 Organisasi Ruang pada Parkiran ...................................................... 70
Tabel 4. 35 Hubungan Ruang pada Loket........................................................... 71
Tabel 4. 36 Organisasi Ruang pada Loket .......................................................... 71
Tabel 4. 37 Hubungan Ruang pada Utilitas ........................................................ 71
Tabel 4. 38 Organisasi Ruang pada Utilitas ........................................................ 71

xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Judul
Judul Laporan Dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A)
yang disusun oleh penulis adalah “Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan
dengan Pendekatan Lokalitas.”. Judul tersebut dapat diuraikan pengertian dan
definisinya dari masing – masing komponen kata sebagai berikut :
Waterfront : Waterfront adalah daerah tepian, bagian kota
yang berbatasan dengan air (Echols, 2003
dalam (Alpiannur, 2021)
Tourist Area : Kawasan Wisata adalah Kawasan yang
digunakan sebagai area wisata dengan
luasan tertentu. ((UU No.9 Tahun 1990
dalam (Tambunan, 2016)
Pantai : Pantai adalah daerah batas pertemuan antara
daratan dan lautan.
Tanjung Aan : Tanjung Aan merupakan salah satu pantai
yang ada di Lombok tepatnya di daerah
Lombok Tengah dan temasuk bagian dari
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.
([Link], 2020)
Pendekatan Lokalitas : Lokalitas adalah sesuatu yang khas atau
ikonik dari suatu daerah tertentu. Lokalitas
dalam arsitektur dapat terlihat dari aspek
atau elemen setempat yang tetap
dipertahankan dengan melihat potensi yang
ada. (Kinanti et al., 2017)
Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan dengan Pendekatan
Lokalitas dapat diartikan sebagai perancangan wisata tepian air dengan fungsi
sebagai kawasan pariwisata yang dikembangkan dengan mengadopsi budaya
setempat untuk menjadi daya tarik wisatawan sehingga dapat memajukan
pariwisata di Pulau Lombok.

1
2

1.2 Latar Belakang


Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam memajukan
perekonomian di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari tingginya jumlah pemasukan
yang berasal dari pariwisata. Sektor pariwisata memberikan kontribusi langsung
terhadap PDB sebesar 4,8 persen pada tahun 2019, nilai tersebut meningkat 0,30
poin dari tahun 2018 yaitu sebesar 4,5 persen (Pariwisata et al., 2018).Dalam
beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata Indonesia sempat mengalami
penurunan akibat adanya Covid - 19 yang memaksa Indonesia untuk melakukan
lockdown sehingga jumlah wisatawan berkurang. Pada saat ini sektor pariwisata
sudah mulai ada peningkatan dikarenakan sudah banyaknya adaptasi – adaptasi
yang dilakukan di masa pandemi.
Pulau Lombok merupakan salah satu pulau yang berada di Provinsi Nusa
tenggara Barat (NTB). Pada masa pandemi Covid - 19 sektor pariwisata NTB
sempat mengalami penurunan dikarenakan banyaknya regulasi pemerintah yang
menyebabkan wisatawan yang datang menurun akan tetapi setelah
diberlakukannya new normal pariwisata NTB perlahan mulai bangkit. Pada akhir
tahun 2021, terjadi peningkatan yang signifikan pada kunjungan wisatawan
mancanegara yang mengunjungi provinsi NTB sebesar 740 % pada bulan
desember. peningkatan yang signifikan ini terjadi mengingat baru baru ini pulau
lombok menyelenggarakan WSBK (World Super Bike) yang diselenggarakan di
Sirkuit Mandalika yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika atau biasa disingkat KEK
Mandalika terletak di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB). KEK Mandalika memiliki luas wilayah ± 1.250 ha atau sekitar 12.500.000
m². Kawasan ini terletak cukup jauh dari ibukota provinsi NTB yaitu sekitar 45
km dari Kota Mataram. Walaupun jauh dari Kota, kawasan ini cukup dekat
dengan Bandara Internasional Lombok yaitu sekitar 16 km. Terdapat dua konsep
bisnis yang sedang dikembangkan pada KEK Mandalika. Bisnis tersebut adalah
Public Realm dan Private Realm. Public Realm adalah konsep bisnis yang
sifatnya menunjang keberlangsungan kawasan seperti transportasi, utilitas air, gas,
komunikasi, sarana olahraga dan juga hiburan. Sedangkan Private Realm adalah
3

bisnis yang sifatnya individual atau independent. Contoh bisnis dari Private
Realm adalah Hotel, Spa, Homestay, Ruang Pertemuan, Museum, dan lain lain.
Ditengah berkembangnya pariwisata pada Kawasan Ekonomi Khusus
Mandalika masih banyak yang harus dibenahi dan dimaksimalkan. Dengan luas
area sebesar 1.035,67 Ha KEK Mandalika sudah memiliki spot wisata yang telah
dikembangkan untuk menjadi daya tarik wisatawan. Spot tersebut berada di pantai
kuta yang dimana area pantai kuta sudah terdapat fasilitas - fasilitas yang cukup
lengkap berupa homestay, warung - warung, masjid, hingga spot - spot foto dan
bermain di pesisir pantai. Lengkapnya fasilitas tersebut menjadi keunggulan
pantai kuta di kawasan mandalika. Selain pantai kuta masih ada beberapa pantai
disekitar kawasan mandalika yang memiliki pesona yang tak kalah menarik dari
pantai kuta salah satunya yaitu Pantai Tanjung Aan.
Pantai Tanjung Aan terletak di Desa Pengembur, Sengkol, Pujut,
Kabupaten Lombok Tengah Jaraknya tak jauh dari jalan utama Mandalika,
dengan lokasi semenanjung yang menjorok ke daratan. Pantai Tanjung Aan
sebenarnya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Namun karena
posisinya berada di Tanjung, ombak di pantai ini cenderung tenang, tak terlalu
besar dan cocok buat berenang. Selain lokasinya yang strategis, Pantai Tanjung
Aan memiliki pesona yang indah akan tetapi belum adanya penataan dan
minimnya fasilitas pada area tersebut seperti tempat ibadah, homestay, warung -
warung yang ditata rapi, serta spot - spot hiburan outdoor yang bisa menambah
daya tarik wisatawan. selain itu juga, untuk memperkenalkan budaya lokal perlu
adanya area yang bisa digunakan untuk pagelaran kesenian lokal.
Untuk memaksimalkan pariwisata pada kawasan ekonomi khusus
mandalika perlu adanya pengembangan berdasarkan permasalahan tersebut.
dengan melihat potensi pada pantai tanjung aan, area tersebut bisa dikembangkan
menjadi area yang bisa menambah daya tarik wisatawan pada KEK Mandalika.
Konsep Perancangan yang digagas pada pantai tanjung aan adalah wisata tepian
air dengan mengusung konsep pendekatan lokalitas. . Lokalitas dalam arsitektur
dapat terlihat dari aspek atau elemen setempat yang tetap dipertahankan dengan
melihat potensi yang ada. Lokalitas tidak melawan globalisasi namun
4

menyandingkan antara global dan lokal. dengan mengusung konsep lokalitas pada
perancangan wisata tepian air pada area pantai tanjung aan diharapkan dapat
memaksimalkan daya tarik wisatawan pada kawasan mandalika.
1.3 Permasalahan
Rumusan masalah yang dapat dikemukakan berdasarkan latar belakang
mengenai pengembangan Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan dengan
Pendekatan Lokalitas.
1. Jenis wisata apa saja yang akan di sediakan di kawasan wisata tersebut ?
2. Bagaimana menciptakan fasilitas yang bisa mewadahi aktivitas wisatawan
?
3. Bagaimana menciptakan suasana dan tampilan bangunan pada kawasan
dengan pendekatan lokalitas ?
1.4 Tujuan
Tujuan yang diharapkan dengan pengembangan Waterfront Tourist Area
di Pantai Tanjung Aan dengan Pendekatan Lokalitas ini antara lain :
1. Merancang jenis wisata dengan memanfaatkan potensi site dan budaya
setempat untuk menarik wisatawan.
2. Merancang fasilitas yang bisa mewadahi aktivitas wisatawan.
3. Menciptakan suasana dan tampilan bangunan dengan mengadopsi budaya
setempat sehingga tercipta kawasan wisata dengan pendekatan lokalitas.
1.5 Batasan Pembahasan
Pembahasan dibatasi dalam lingkup arsitektur dimana kajian terhadap
objek dan masalah – masalah utama yang diteliti dapat tercapai agar pembahasan
tetap berada pada fokus penelitian, oleh karena itu penulis membatasi
permasalahan dalam penelitian. Ruang lingkup pembahasan dibagi ke dalam (2)
dua ruang lingkup : ruang lingkup substansi materi dan spasial kawasan studi.
1. Lingkup substansi materi
Secara substansial ruang lingkup materi ini dibatasi pada materi
yang terkait dengan permasalahan arsitektural yang berhubungan dengan
pengembangan Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan dengan
Pendekatan Lokalitas. Pembahasan diorientasikan pada masalah
5

perencanaan dan perancangan dengan menggunakan pendekatan lokalitas.


Peraturan dan standar mengenai bangunan pada tepi pantai di di
Pantai Tanjung Aan pada Peraturan Menteri Pariwisata Republik
Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Petunjuk Operasional Pengelolaan
Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Pariwisata, Undang - undang No. 39
Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus, PP No. 52 Tahun 2014
tentang Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Keputusan Bupati Lombok
Tengah No 512 Tahun 2014 tentang Penetapan Badan Penanaman Modal
& Pelayanan Perizinan Terpadu Lombok Tengah sebagai Administrator
KEK.
2. Lingkup spasial Pantai Tanjung Aan
Secara astronomis, Kabupaten Lombok Tengah terletak pada posisi
82° 7' - 8° 30' Lintang Selatan dan 116° 10' - 116° 30' Bujur Timur. Pantai
Tanjung Aan memiliki panjang garis pantai 2 km. Pantai Tanjung Aan
diharapkan dapat meningkatkan sektor pariwisata Provinsi Nusa Tenggara
Barat dengan potensi yang dimilikinya. Pantai Tanjung Aan memiliki
batasan sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Desa Sengkol
b. Sebelah Timur : Taman Wisata Alam Gunung Tunak
c. Sebelah Barat : Pantai Seger
d. Sebelah Selatan : Samudra Indonesia
Luas kawasan yag akan dikembangkan menjadi Waterfront Tourist
Area adalah 9,4 Ha yang terletak pada pantai tanjung Aan .
1.6 Keluaran atau Desain yang Dihasilkan
Adapun keluaran (output) atau desain yang dihasilkan antara lain sebagai
berikut :
1. Konsep tata massa dan penzoningan Waterfront Tourist Area.
2. Konsep penzoningan ruang pada masing – masing jenis ruang berdasarkan
kegiatan yang dilakukan, kapasitas ruang, pengelompokkan, dan pola
hubungan antar ruang.
3. Penerapan konsep arsitektur dengan pendekatan lokalitas pada kawasan
6

serta bangunan – bangunan yang ada pada Waterfront Tourist Area di


Pantai Tanjung Aan.
1.7 Metode Pembahasan
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis menggunakan beberapa
metodologi dalam proses pengumpulan data dan analisa data. Data – data yang
diperoleh dan dianalisis ini akan digunakan sebagai acuan dalam proses
perancangan Waterfront Tourist Area Di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika
dengan Pendekatan Lokalitas.
1.7.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu survey lapangan,
wawancara, serta studi literatur.
a. Survey lapangan untuk memperoleh data fisik berupa :
1) Kondisi tapak, meliputi lingkungan sekitar tapak, luasan tapak,
vegetasi,view, atraksi sekitar tapak, dan topografi
2) Kondisi fasilitas yang sudah ada
b. Studi Literatur
1) Standar – standar pariwisata pantai
2) Standar wisata tepian air dalam kawasan pariwisata dan peraturan
perundang – undangan yang berlaku .
3) Teori – teori mengenai arsitektur dengan pendekatan lokalitas
4) Ide dan konsep arsitektural yang diterapkan sesuai dengan prinsip
– prinsip pendekatan lokalitas.
1.7.2 Analisa Data
a. Analisa Kualitatif
1) Analisa sistem sirkulasi dan pencapaian
2) Analisa penerapan arsitektur dengan pendekatan lokalitas dan
pengaruhnya terhadap daya tarik wisatawan
3) Analisa sistem struktur dan konstruksi.
b. Analisa Kuantitatif
1) Menentukan fungsi ruang – ruang pada bangunan.
2) Jumlah kebutuhan fasilitas pendukung.
7

3) Persyaratan masing – masing ruang.


c. Analisa Deskriptif
1) Penentuan bentuk massa bangunan.
2) Penentuan penampilan bangunan.
3) Penentuan tata landscape.
1.8 Sistematika Penulisan
Hasil – hasil dari pengamatan yang akan disusun menjadi sebuah laporan
Dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) dan disajikan
dalam tahapan – tahapan yang saling berkaitan satu sama lain. Tahapan tersebut
antara lain :
BAB I Pendahuluan
Bab I berisikan tentang pengertian judul, Latar belakang, rumusan
permasalahan, tujuan, batasan pembahasan, keluaran atau desain yang
dihasilkan, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka berisi uraian teori, temuan, dan standar – standar
wisata tepian air yang terkait dengan perencanaan dan perancangan
dengan penekanan pada pendekatan lokalitas.
BAB III Gambaran Umum Wilayah Perencanaan
Berisi tentang lokasi wilayah perencanaan, kondisi eksisting, aspek
fisik, aspek non fisik, aspek peraturan pemerintah tentang bangunan dan
kawasan.
BAB IV Analisa Pendekatan dan Konsep Perencanaan dan
Perancangan
Bab IV membahas tentang analisa yang didasarkan pada
pertimbangan – pertimbangan peraturan, standar – standar, serta konsep
arsitektur dengan pendekatan lokalitas, permasalahan, dan persoalan
terkait dengan pengembangan Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung
Aan. Hasil analisa akan digunakan sebagai dasar perancangan kawasan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Objek Perancangan
2.1.1 Pengertian Kawasan Ekonomi Khusus
Kawasan Ekonomi Khusus atau biasa disingkat KEK merupakan bagian
wilayah hukum Republik Indonesia yang memiliki batas – batas tertentu,
memiliki fungsi sebagai kawasan perekonomian dan memiliki fasilitas tertentu.
(Undang – undang, 2009 dalam (Purba, 2014)
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan strategi yang dilakukan oleh
Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan ekonomi dengan mendorong pusat
pertumbuhan ekonomi baru yang memiliki daya saing tinggi. Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) saat ini telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia.
Pemilihan daerah Kawasan Ekonomi Khusus didasarkan dari potensi demografis
dan aksesibilitas daerah tersebut ke pasar global. Pemerintah Indonesia
menargetkan untuk terciptanya 17 daerah KEK hingga 2019. Tujuannya, untuk
menarik investasi, mengelola industri, dan kegiatan ekonomi lainnya dengan nilai
ekonomi berskala tinggi dan terciptanya kualitas pekerjaan yang luas. Untuk
mencapai tujuannya tersebut, pemerintah membagi KEK menjadi 2 sektor yaitu
sektor pariwisata pada 10 wilayah dan sector lainnya seperti industri mineral
sampai industri perikanan sebanyak 7 wilayah (BKPM, 2018)
Hingga Agustus 2018, telah terdaftar 12 daerah yang menjadi KEK di Indonesia,
yaitu :
1. KEK Sei Mangkei
2. KEK Tanjung Lesung
3. KEK Tanjung Api-Api
4. KEK Morotai
5. KEK Mandalika
6. KEK Palu
7. KEK Bitung
8. KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK)
9. KEK Tanjung Kelayang

8
9

10. KEK Sorong


11. KEK Arun-Lhokseumawe

Gambar 2. 1 Peta Sebaran Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia


Sumber : [Link] (gambar disunting oleh penulis)

2.1.2 Pengertian Wisata


Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan dengan berkunjung
pada tempat – tempat tertentu dengan berbagai tujuan seperti rekreasi,
pengembangan diri, dan juga mempelajari hal – hal tertentu. ()
Berdasarkan jenisnya, wisata dibagi dalam dua kategori sebagai berikut :
a. Wisata alam yang terdiri dari :
1. Wisata Pantai (Marine tourism), wisata yang dilakukan dipantai yang
ditunjang oleh berbagai fasilitas seperti memancing, berenang,
speedboat dan lain - lain.
2. Wisata Etnik (Etnik tourism), wisata yang dilakukan untuk observasi
atau pengamatan untuk melihat kebudayaan atau gaya hidup
masyarakat tertentu yang dianggap menarik.
3. Wisata Cagar Alam (Ecotourism), wisata yang dilakukan untuk
melihat keindahan alam flora dan fauna.
4. Wisata Buru, wisata yang diakukan dengan tujuan untuk berburu pada
daerah – daerah tertentu seperti hutan dengan izin dari pemerintah.
5. Wisata Agro, wisata yang dilakukan dengan mengunjungi proyek –
proyek pertanian, perkebunan, dan ladang pembibitan dengan tujuan
studi maupun observasi.
10

b. Wisata Sosial-Budaya, yang terdiri dari:


1. Peninggalan sejarah kepurbakalaan dan monumen, wisata ini berupa
peninggalan sejarah seperti gedung, monument, dan tempat – tempat
bersejarah lainnya.
2. Museum dan fasilitas budaya lainnya, wisata ini berupa fasilitas –
fasilitas yang erat hubungannya dengan sosial budaya seperti museum
dan lain - lain.
2.1.3 Pengertian Tepian Air / Waterfront
Waterfront merupakan area atau kawasan yang terletak di tepi atau
berbatasan dengan air atau perairan. Perairan yang dimaksud meliputi laut, danau
maupun sungai,
2.1.4 Kriteria Tepian Air / Waterfront
Menurut (Prabudiantoro, 1997 dalam (Dwi Juwita Tangkuman, 2011)
kriteria umum penataan dan pendesainan waterfront adalah sebagai berikut :
a. Terletak di tepi perairan yang besar seperti sungai, danau, laut dan lain –
lain.
b. Pada umumnya merupakan area perdagangan, pelabuhan, permukiman,
dan pariwisata.
c. Berfungsi sebagai tempat industri, rekreasi, permukiman, atau pelabuhan.
d. Memilik orientasi mengarah ke perairan.
e. Pembangunannya dilakukan ke arah vertikal horisontal.
2.1.5 Tipologi Tepian Air / Waterfront
Berdasarkan Pertemuannya Dengan Badan Air
Breen (1994 dalam (Tangkuman & Tondobala, 2011) membedakan waterfront
berdasarkan pertemuannya dengan badan air sebagai berikut :
a. Waterfront Tepian Sungai
Waterfront yang berbatasan langsung dengan sungai.
b. Waterfront Tepi Laut
Waterfront yang berbatasan langsung dengan laut.
c. Waterfront Tepi Danau
Waterfront yang berbatasan langsung dengan danau.
11

Berdasarkan Aktivitas
Dalam (Tangkuman & Tondobala, 2011) Waterfront berdasarkan aktivitasnya
dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Cultural Waterfont
Waterfront yang mewadahi aktivitas pendidikan, pengetahuan, serta
kebudayaan.
b. Environmental Waterfront
Waterfront yang berfokus pada peningkatan kualitas lingkungan dengan
memanfaatkan potensi dari lingkungan tersebut. Contoh Environmental
waterfront adalah hutan di Lake Forest dan sungai di Portland, Oregon,
dan Maryland.
c. Historical Waterfront
Waterfront yang berfokus pada upaya konservasi dan restorasi bangunan
bersejarah di kawasan tepian air. Contoh historical waterfront adalah
dermaga tua di Baltimore dan jembatan kuno di Pennsylvania.
d. Mixed-use Waterfront
Waterfront yang berfokus pada berbagai aktivitas seperti perdagangan,
rekreasi, transportasi dan sebagainya.
e. Recreational Waterfront
Waterfront yang berfokus pada aktivitas rekreasi dengan ditunjang oleh
fasilitas – fasilitas tertentu.
f. Residental Waterfront
Waterfront yang berfokus pada fungsi perumahan. Fasilitas yang terdapat
pada waterfront ini berupa perumahan, apartemen, villa dan sebagainya.
g. Working Waterfront
Waterfront yang berfokus pada kegiatan kelautan. Aktivitas yang ada pada
waterfront ini berhubungan dengan perikanan, penyimpanan dan
pengolahan. Contohnya pembuatan kapal dan terminal angkutan air.
2.1.6 Aspek Dominan Perencanaan Waterfront
Dalam (Tangkuman & Tondobala, 2011), pada perencanaan waterfront
ada beberapa aspek yang dominan, yaitu aspek arsitektural, aspek keteknikan, dan
12

aspek sosial budaya


a. Aspek arsitektural, Aspek yang berkaitan dengan nilai – nilai estetika yang
nantinya membentuk citra (image) pada waterfront.
b. Aspek keteknikan, Aspek yang berkaitan dengan struktur dan teknologi
konstruksi dalam mewujudkan waterfront. Aspek keteknikan yang
dimaksud seperti stabilisasi perairan, korosi, erosi, transportasi dan
sebagainya.
c. Aspek sosial budaya, Aspek yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup masyarakat sekitar kawasan waterfront.
d. Aspek Peraturan berkaitan dengan tata aturan tentang pemanfaatan ruang
dan pelestarian lingkungn tepi air.
Pedoman pemanfaatan ruang tepi pantai di kawasan perkotaan
Pedoman Pemanfaatan Ruang Tepi Pantai di Kawasan Perkotaan disusun
berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yaitu :
1. Undang-Undang R.I No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.
2. Undang-Undang R.I No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
3. Undang-Undang R.I No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
4. Undang-Undang R.I No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
5. Undang-Undang R.I No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
6. Undang-Undang R.I No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.
7. Undang-Undang R.I No. 28 Tahun 2004 tentang Bangunan Gedung.
8. Undang-Undang R.I No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
9. Undang-Undang R.I No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
10. Peraturan Pemerintah R.I No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban
11. Serta Bentuk dan Tata Cara Peran masyarakat Dalam Penataan Ruang.
12. Peraturan Pemerintah R.I No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional.
13. Keputusan Presiden R.I No. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri.
14. Keputusan Presiden R.I No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
13

Kawasan Lindung.
Penerapan Elemen – elemen Pendukung Dalam Pengembangan
Waterfront
Pada kawasan tepian air atau waterfront, beberapa elemen bisa diberi
penekanan dengan tujuan untuk memberikan solusi desain yang spesifik.
Hal ini yang nantinya akan menjadi pembeda antara kawasan yang satu
dengan yang lainnya. (Tangkuman & Tondobala, 2011)
Elemen-elemen tersebut diantaranya adalah:
1. Tepian Air
Kawasan tanah atau pesisir yang landai/datar dan langsung bertasan
dengan air. Merupakan tempat berjemur atau duduk - duduk dibawah
keteduhan pohon (kelapa atau jenis pohon pantai lainnya) sambil
menikmati pemandangan perairan.
2. Promenade/Esplanade
Perkerasan di Kawasan tepian air untuk berjalan-jalan atau berkendara
(sepeda atau kendaraan tidak bermotor lainnya) sambil menikmati
pemandangan perairan.
3. Dermaga
Tempat bersandar kapal/perahu yang sekaligus berfungsi sebagai jalan
di atas air untuk menghubungkan daratan dengan kapal atau perahu.
4. Jembatan
Penghubung antara dua bagian daratan yang terpotong oleh sungai atau
kanal. Jembatan adalah elemen yang sangat populer guna
mengekspresikan misi arsitektural tertentu, misalnya tradisional atau
hightech, sehingga sering tampil sebagai sebuah scuilpture.
5. Pulau Buatan / Bangunan Air
Bangunan atau pulau yang dibuat/dibangun di atas air di sekitar
daratan, untuk menguatkan kehadiran unsur air di kawasan tersebut.
6. Ruang Terbuka (Open Space)
Bisa berupa taman atau ruang outdoor yang berorientasi ke arah
perairan.
14

7. Aktivitas
Pada waterfront perlu adanya rancangan aktivitas atau kegiatan yang
menjadi ciri khas dari kawasan tersebut.
2.2 Kajian Tema Perancangan
2.2.1 Definisi Lokalitas
Lokalitas berasal dari kata lokal. lokal dalam KBBI dimaknai dengan
“terjadi atau berlaku di suatu tempat” dan “tidak merata” atau “bersifat setempat”.
mandiri dan arbitrer bertindak sebagai pelaku dari pendukung kebudayaan
tersebut. (Mukmin, 2020)
2.2.2 Pendekatan Lokalitas Dalam Arsitektur
Lokalitas dalam arsitektur dapat terlihat dari aspek ata elemen setempat
yang tetap dipertahankan dengan melihat potensi yang ada. (Kinanti et al., 2017)
2.2.3 Manfaat Tema Lokalitas
Lokalita memiliki manfaat dan pengaruh dalam berbagai hal, antara lain :
a. Bagi Perkembangan Budaya
Dalam perkembangan budaya, Lokalitas tentu menjadi hal yang sangat
penting dikarenakan penggunaan tema lokalitas akan menjadi ciri khas
dan ikonik sehingga dapat mengembangkan budaya.
b. Bagi Daerah atau Lokalitas Terkait
Arsitektur yang menggunakan tema lokalitas bisa bermanfaat pada
daerah setempat atau lokalitas terkait dengan memanfaatkan potensi
yang ada pada daerah tersebut.
c. Bagi Dunia Arsitektur
Tema lokalitas bagi dunia arsitektur tentunya sangat berpengaruh.
Adanya tema lokalitas pada arsitektur akan menjadi solusi pada desain
yang dirancang. Penggunaan tema lokalitas pada arsitektur akan
memberikan keaneka ragaman desain yang dihasilkan sesuai denga
lokalitas yang digunakan.
2.2.4 Prinsip – prinsip Dalam Pendekatan Lokalitas
Menurut Pangarsa, Prijotomo, dan Mumford telah membagi kelokalitasan
atau kesempatan dalam berbagai kajian berikut :
15

a. Lokalitas tidak identik dengan sejarah, atau mengcopy sebubah konstruksi


masa lalu, Tema lokalitas disini mencoba untuk mengamati, meniru, dan
memodifikasi sehingga tercipta ide baru dengan tema setempat yang
bernilai luhur.
b. Lokalitas merupakan cara untuk bagaimana melihat sebuah tempat yang
seharusnyaa memiliki sentuhan khusus atau personal dan memiliki
keunikan ataupun keindahan yang tersembunyi.
c. Lokalitas dalam perkembangannya seharusnya bersifat berkelanjutan
dalam penggunaan teknologi dan material.
d. Pada Lokalitas seharusnya terdapat hubungan antara bentuk dan nilai –
nilai serta cara modifikasinya, penafsiran dan pengintegrasannya pada
arsitektur.
2.2.5 Studi Banding Berdasarkan Tema
Berikut adalah beberapa bangunan yang mengadopsi pendekatan lokalitas
pada konsep bentuk bangunannya.
Tabel 2. 1 Studi Banding Berdasarkan Tema
Bangunan Konsep Lokalitas Gambar
Kantor Gubernur NTB Mengambil bentuk atap
“Bale Lumbung” khas
Suku Sasak

Gambar 2. 2 Gedung Kantor


Gubernur NTB
Sumber :
[Link] 2022

Mola - mola Resort, Gili Penggunaan Material Kayu


Air dikombinasikan dengan
atap alang – alang. Dan
juga mengambil bentuk
atap “Bale Lumbung” khas
Suku Sasak
Gambar 2. 3 Eksterior Mola –
mola Resort
Sumber : [Link]/, 2018
16

Jambaluwuk Oceano Mengambil bentuk atap


Resort, Gili Trawangan “Bale Lumbung” khas
Suku Sasak. Lalu
kombinasi material kayu
dan beton menciptakan
konsep lokalitas yang lebih Gambar 2. 4 Jambaluwuk Oceano
modern Resort
Sumber : [Link]
2019

2.3 Studi Banding


2.3.1 The Victoria and Alfred Waterfront
The Victoria and Alfred Waterfront, biasa di singkat VA Waterfront
merupakan salah satu destinasi yang paling banyak dikunjungi di Afrika dan
menarik 24 juta pengunjung setiap tahun. Letaknya di pelabuhan tertua yang
bekerja di belahan bumi selatan, Cape Town, Afrika Selatan. Pemandangan yang
baik mengarah laut dan memiliki backdrop pemandangan gunung “Table
Mountain”.

Gambar 2. 5 Pemandangan The Victoria and Alfred Waterfront


Sumber : [Link] 2016

V&AW terletak di tepi pelabuhan Cape Town dan relatif dekat dengan
Table Mountain yang ikonik, Pulau Robben, Stadion Cape Town dan Cape Town
International Convention Center (CTICC). V&AW berbatasan dengan kawasan
pusat bisnis (CBD), Greenpoint, Duncan Dock, Samudra Atlantik, dan Granger
Bay. Untuk tujuan studi ini, apartemen hunian laut yang terletak di Marina Basin
tidak termasuk.
17

Gambar 2. 6 Masterplan dari V & AW Waterfront


Sumber : [Link] 2014

Luas permukaan V&AW adalah 604, 000m² yang mencakup 46.000m²


retail, 130, 000m² kantor, 7.000m² hiburan, 13.000m² museum, 250, 000m²
perumahan dan 98, 000m² ruang industri perikanan serta ruang publik. Ruang
publik yang terakhir mencakup berbagai 'daerah' di mana sepuluh digunakan
untuk acara di luar dan area pameran, enam lainnya digunakan sebagai lapangan
promosi dan terletak di dalam Pusat Perbelanjaan Victoria Wharf. Berikut ruang
terbuka yang terdapat pada V & AW :
a. Ampiteater
Amfiteater terdiri dari panggung tertutup seluas 123 m² yang dikelilingi
oleh tempat duduk beton. Area ini memiliki kapasitas untuk 2.000
penonton duduk dan 5.000 berdiri. Area ini digunakan untuk
menyelenggarakan berbagai pertunjukan langsung, acara media, dan
promosi interaktif.

Gambar 2. 7 Amfiteater di V & AW Waterfront


Sumber : [Link] , 2016

b. Pier-head
Ini adalah area seluas 25m² yang terletak di pelabuhan bersejarah yang
18

merupakan bagian dari pengembangan pertama V&AW. Area ini


mencakup amfiteater kecil dan digunakan untuk menyelenggarakan acara
publik kecil dan sebagai titik pandang untuk aktivitas laut di Quay 5 dan
Jetty 1 (mis. Volvo Ocean Yacht Race, Red bull Flugtag, dll.)

Gambar 2. 8 Pier Head


Sumber : [Link] 2020

c. North Wharf
Area dermaga seluas 1.123m² ini terletak di Marina Basin. Ini adalah
ruang serbaguna untuk menyelenggarakan berbagai macam acara
mengingat kedekatannya dengan Marina Basin.

Gambar 2. 9 North Wharf


Sumber : [Link] 2015

d. Croquet Lawn
Terletak di Portswood di atas Garasi Parkir Ulundi. Area ini terdiri dari
800m² halaman rumput dan digunakan untuk acara pribadi dan publik
dengan pertimbangan besar untuk kesejahteraan halaman. Acara publik
termasuk helipad. Selama musim perayaan yang akan datang (2014/15)
daerah tersebut akan menjadi tuan rumah teater terbuka untuk
menampilkan film kepada masyarakat umum di bawah bintang-bintang.
19

Gambar 2. 10 Croquet Lawn


Sumber : [Link] 2021

e. Historic Tunnel
Terletak di Portswood Ridge dan hanya digunakan untuk acara pribadi
kecil. Area ini awalnya merupakan terowongan terbuka yang memotong
punggungan untuk mengangkut batu dalam cocopan dari area Marina
Basin saat ini ke Breakwater, selama konstruksi terakhir pada tahun 1860..

Gambar 2. 11 Historic Tunnel


Sumber : [Link] 2015

f. Clocktower Square
Area ini terdiri dari halaman rumput yang terletak di antara Breakwater
Parking Garage dan area pantai Granger Bay. Area ini berukuran 1.000m²
dan digunakan untuk acara dan acara pribadi.

Gambar 2. 12 Clocktower Squere


Sumber : [Link] 2018

g. Market Square
20

Terletak di jantung V&AW, berdekatan dengan amfiteater dan area


bermain anak-anak. Area ini saat ini merupakan rumah semi permanen
Cape Wheel tetapi digunakan untuk menyelenggarakan berbagai acara
publik dan pribadi, misalnya pameran Balap Kapal Pesiar Volvo, voli
pantai, acara anak-anak, Festival Anggur, Festival Ikan Khoi, dan bahkan
rumah hantu..

Gambar 2. 13 Market Square


Sumber : [Link] 2016

h. Nobel Square
Dinamakan setelah empat pemenang hadiah Nobel Perdamaian Afrika
Selatan, Albert Luthuli, Desmond Tutu, FW de Klerk dan Nelson
Mandela.

Gambar 2. 14 Nobel Square


Sumber : [Link] 2021

i. Amsterdam Site
Sisa-sisa Baterai Amsterdam telah ditemukan di situs ini dan berasal dari
periode yang sama dengan Baterai Chavonnes. Manajemen V&A
memutuskan untuk menutupi sisa-sisa untuk melindungi daerah tersebut
21

sampai mereka memiliki sumber daya untuk melakukan penggalian yang


tepat.

Gambar 2. 15 Amsterdam Site


Sumber : [Link] 2015

2.3.2 Navy Pier


Navy Pier adalah dermaga sepanjang 3.300 kaki (1.010 m) di garis pantai
Danau Michigan, terletak di lingkungan Streeterville di area komunitas Near
North Side di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Navy Pier meliputi lebih dari 50
hektar (20 ha) taman, kebun, toko, restoran, atra
atraksi
ksi keluarga dan fasilitas pameran
dan merupakan salah satu tujuan utama di Amerika Serikat bagian barat tengah,
menarik hampir dua juta pengunjung setiap tahun. Ini adalah salah satu atraksi
yang paling banyak dikunjungi di seluruh Midwest dan merupakan oobjek
bjek wisata
yang paling banyak
ak dikunjungi kedua di Chicago.

Gambar 2. 16 Navy Pier


Sumber : [Link] 2018

Ada banyak atraksi Outdoor di Navy Pier Park, seperti Pepsi Wave
Swinger, Light Tower Ride, Remote Control Boats (sekarang dihapus bersama
dengan air mancur di sekitar Wave Swinger), Teacups dan Carousel. Yang baru
untuk tahun 2021 adalah Drop Tower, S&S Double Shot yang dipindahkan
dipindahka dari
22

Pleasure Island yang tertutup. Berikut atraksi yang ada pada Navy Pear.
a. Labirin Funhouse Chicago
Labirin Funhouse Chicago adalah pengalaman labirin sensorik yang serba
mandiri di mana seseorang menavigasi jalan mereka melalui terowongan
dan labirin seluas 4.000 kaki persegi (370 m2).

Gambar 2. 17 Labirin Funhouse Chicago


Sumber : [Link] 2013
b. Crystal Gardens
Crystal Gardens adalah kebun raya seluas satu hektar di dalam dermaga.

Gambar 2. 18 Crystal Garden


Sumber : [Link] 2009

c. Chicago Children’s Museum


Museum Anak Chicago adalah bagian dari dermaga, dengan banyak
pameran dan aktivitas berbeda untuk dinikmati anak-anak dan orang
dewasa.
23

Gambar 2. 19 Chicago Children’s Museum


Sumber : [Link]/, 2018

d. Chicago Shakespeare Theatre


Chicago Shakespeare Theatre, sebuah teater yang menampilkan produksi
Shakespeare

Gambar 2. 20 Chicago Shakespeare Theatre


Sumber : [Link] 2017

e. Ferris wheel
Ferris wheel merupakan kincir yang berada di dermaga.

Gambar 2. 21 Ferris Wheel


Sumber : [Link], 2016

2.4 Tinjauan Studi Banding


Tabel 2. 2 Studi Banding Berdasarkan Fungsi
Perbandingan
Elemen
Arsitektur Victoria & Alfred Waterfront Tourist Area
Navy Pier
Waeterfron Pantai Tanjung Aan
24

Perbandingan
Elemen
Arsitektur Victoria & Alfred Waterfront Tourist Area
Navy Pier
Waeterfron Pantai Tanjung Aan
Berada di Cape Town, Berada di Illinois, Berada di Kawasan
Afrika Selatan, Chicago, Amerika Mandalika yang sudah
berbatasan dengan laut Serikat. Mudah di dikenal oleh khalayak
Lokasi dan
dan dekat dengan capai. Namun hanya luas. Memiliki 2 akses
Pencapaian
gunung “Table dapat di capai dari satu menuju site melalui
Mountain”. Lokasi sisi bila menggunakan jalur darat.
mudai di capai. transportasi darat.
1. Amfiteater 1. Labirin Funhouse 1. Pasar Tradisional
2. Pier – Head Chicago (Labirin) 2. Museum
(Dermaga) 2. Crystal Gardens 3. Amfiteater
3. North Wharf (Kebun/Taman) 4. Dermaga
Dermaga) 3. Museum Anak 5. Joging Track
4. Croquet Lawn Chicago 6. Pusat Kuliner
(Ruang Terbuka (Museum)
untuk 4. Chicago
pertunjukan) Shakespeare
Atraksi
5. Historic Tunnel Theatre (Teater)
(Terowongan 5. Ferris wheel
Bersejarah) (Kincir)
6. Market Square
(Pasar)
7. Nobel Square
(Monumen)
8. Amsterdam Site
(Area bersejarah)
1. Mengubah bekas 1. Sebagai dermaga 1. Mengembangkan
kawasan angkatan laut potensi wisata
pelabuhan yang diubah pantai yang ada
menjadi ruang menjadi ruang dengan menambah
public publik berbagai atraksi
2. Sebagai area 2. Sebagai area 2. Sebagai area
Tata Guna
komersial komersial wisata dan rekreasi
Lahan (Land
3. Sebagai area 3. Sebagai area 3. Sebagai area
Use)
wisata wisata komersial
4. Sebagai
penghubung
kembali
pelabuhan dan
kota
Bentuk dan massa Bentuk dan massa Bentuk dan massa
Bentuk dan bangunan mengikuti bangunan mengikuti bangunan mengikuti
Massa pola tata guna lahan pola tata guna lahan pola tata guna lahan dan
Bangunan menyesuaikan dengan
arsitektur lokal
Memanfaatkan Memanfaatkan Memanfaatkan area
Ruang
kawasan bekas kawasan bekas pantai sebagai ruang
Terbuka
pelabuhan sebagai dermaga sebagai terbuka yang
25

Perbandingan
Elemen
Arsitektur Victoria & Alfred Waterfront Tourist Area
Navy Pier
Waeterfron Pantai Tanjung Aan
tempat wisata, dengan tempat wisata, dengan menciptakan ruang
adanya tempat wisata adanya tempat wisata publik.
menciptakan ruang menciptakan ruang
publik. publik.
Memberikan ruang Memberikan ruang Memberikan ruang
untuk sikulasi parkir untuk sikulasi parkir. untuk sikulasi parkir
yang bisa menampung
Sirkulasi &
cukup banyak
Parkir
kendaraan mengingat
lokasi site yang cukup
jauh dari kota.
Terdapat jalur pejalan Terdapat jalur pejalan Pada area kawasan akan
kaki di tepi dermaga kaki di tepi dermaga diutamakan area pejalan
Area Pejalan yang mengarah ke yang mengarah ke kaki, kendaraan
Kaki berbagai ruang berbagai ruang publik. bermotor akan
publik. disediakan khusus
untuk area parkir.
Terdapat signage di Terdapat signage di Terdapat signage di
berbagai area berbagai area kawasan berbagai area kawasan
Penanda /
kawasan untuk untuk mengarahkan untuk mengarahkan
Sigange
mengarahkan pengunjung pengunjung
pengunjung
Terdapat fasilitas Terdapat wisata kapal Akan disediakan wisata
pendukung seperti pesiar, boat dan juga air seperti Banana Boat,
Aktivitas wisata boat yang helicopter untuk perahu untuk keliling
Pendukung ditawarkan kepada berkeliling melihat pulau terdekat,
pengunjung. pemandangan melalui Snorkeling, dan juga Jet
udara. Ski
BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN
3.1 Gambaran Umum Lokasi
3.1.1 Kondisi Geografis dan Iklim
Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Nusa Tenggara Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Praya. Secara
geografis Kabupaten Lombok Tengah terletak pada 116°05′ − 116°24′ bujur timur
dan 8°24′ − 8°57′ lintang selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten dan Kabupaten
Lombok Timur
b. Sebelah selatan : Samudera Indonesia
c. Sebelah barat : Kabupaten Lombok Barat
d. Sebelah Timur : Kabupaten Lombok Timur
Kondisi geografis Kabupaten Lombok Tengah cukup beragam. Pada daerah
tengah pulau Lombok terdiri dari area perbukitan yang termasuk dalam kawasan
Gunung Rinjani. Kemudian pada daerah daerah dataran rendah yang terhampar
pada bagian tengah, membujur mulai dari utara ke selatan merupakan pusat
kegiatan pertanian. Sedangkan area pantai membentang mulai dari pantai Torok
Aiq Beleq di kecamatan Praya Barat Daya sampai dengan Desa Bilelando
Kecamatan Praya Timur. Total luas wilayah Lombok Tengah secara keseluruhan
adalah 1.208,39 Km².

26
27

Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah


Sumber : [Link]/, 2015

Kabupaten Lombok Tengah terdiri dari 12 kecamatan yang dimana terdiri


dari 4 kecamatan pesisir (33,3%) dengan 11 desa pesisir (7,9%) dari total
keseluruhan 139 desa/kelurahan di kabupaten Lombok Tengah yang kebanyakan
wilayah pesisirnya di peruntukkan sebagai kawasan pariwisata dan perikanan.
3.1.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lombok Tengah
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Tengah Nomor 7
Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lombok Tengah
Tahun 2011 – 2031 menyebutkan bahwa bangunan memiliki peraturan yaitu Garis
Sempadan Pantai 35-250 (tiga puluh lima sampai dengan dua ratus lima puluh)
meter dari titik pasang tertinggi secara proporsional sesuai dengan bentuk, letak,
28

kebutuhan ekonomi dan budaya dan kondisi fisik pantai.


3.1.3 Keadaan Penduduk
Pada tahun 2020 jumlah penduduk Kabupaten Lombok Tengah tercatat
sebesar 1.045.759 jiwa. Terdapat perbedaan antara jumlah penduduk laki – laki
dan perempuan yang dimana jumlah penduduk perempuan sedikit lebih besar. Hal
ini terlihat dari rasio jenis kelamin yang menunjukkan angka 99,5 yang artinya
dari sekitar 1000 penduduk perempuan terdapat 995 penduduk laki – laki. Di
Kabupaten Lombok Tengah, Kecamatan Praya memiliki penduduk terbesar
dengan total 125.559 penduduk atau sekitar 12 persen dari total penduduk
Kabupaten Lombok Tengah.
3.2 Gambaran Khusus Lokasi
3.2.1 Lokasi Site
Pantai Tanjung Aan terletak di Desa Sengkol, tepatnya di Kecamatan
Pujut. Pantai Tanjung Aan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia,
memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 2 kilometer (km), dan dikelilingi
perbukitan hijau menawan. Adapun batasan Kawasan Pantai Tanjung Aan adalah
:
a. Sebelah Timur dibatasi oleh Pantai Muluq Indah Permai
b. Sebelah Barat dibatasi oleh Pertamina Mandalika International Street
Circuit
c. Sebelah Utara dibatasi oleh Desa Sengkol
d. Sebelah Selatan dibatasi oleh Samudra Indonesia
29

3.2.2 Atraksi Wisata Sekitar Kawasan

Gambar 3. 2 Peta Environmental Site


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

Pantai Tanjung memiliki lokasi yang cukup strategis karena termasuk


dalam Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Berbagai atraksi wisata di KEK
Mandalika menjadi daya tarik untuk wisatawan. Seperti yang terlihat pada gambar
3.2, Pantai Tanjung Aan di kelilingi oleh beberapa objek wisata sebagai berikut :
Tabel 3. 1 Objek Wisata Disekitar Pantai Tanjung Aan
No Objek Wisata Jarak dari Site Gambar
1 Pantai Kuta 7.000 meter

Gambar 3. 3 Pantai Kuta


Sumber :
[Link] 2021
2 Sirkuit Mandalika 4.200 meter

Gambar 3. 4 Sirkuit Mandalika


Sumber :
[Link]
2022

3 Bukit Merese 900 meter


30

Gambar 3. 5 Bukit Merese


Sumber :
[Link]
2016

4 Batu Payung 2.500 meter

Gambar 3. 6 Batu Payung


Sumber : [Link]
2019

5 Bukit Tunak 16.600 meter

Gambar 3. 7 Bukit Tunak


Sumber : [Link] 2021

3.2.3 Studi Banding Dengan Objek Wisata Sekitar


Tabel 3. 2 Studi Banding Antar Objek Sekitar
Pantai Kuta Sirkuit Bukit Batu Bukit Pantai Tanjung
Mandalika Merese Payung Tunak Aan
Lokasi Masuk dalam Masuk Masuk Tidak Tidak Masuk dalam
KEK dalam dalam KEK masuk masuk KEK Mandalika,
Mandalika, KEK Mandalika, dalam dalam Lokasinya berada
Lokasinya Mandalika Lokasinya KEK KEK di tengah –
paling dekat . bersebelaha Mandalika Mandalika tengah sehingga
dengan kota. n dengan , Lokasiya , antara objek
Pantai cukup Lokasinya wisata tidak
Tanjung jauh dari paling terlalu jauh.
Aan. objek jauh
wisata karena
lain. letaknya
di ujung.
Aksesibilita Akses tercepat Akses Akses bisa Akses Akses Akses bisa
s bisa melalui tercepat melalui tercepat tercepat melalui Jalan
jalan sengkol bisa Jalan melalui melalui ByPass, Bisa
bisa juga melalui ByPass, Jalan Jalan juga melalui
melalui Jalan jalan Bisa juga ByPass ByPass Jalan sengkol.
Bypass tetapi sengkol melalui karena posisinya
harus bisa juga Jalan berada di
memutar. melalui sengkol. pertemuan antara
Jalan karena Jalan Sengkol
Bypass posisinya dan Jalan Bypass
tetapi berada di sehingga bisa
harus pertemuan menggunakan
31

memutar. antara Jalan keduanya.


Sengkol dan
Jalan
Bypass
sehingga
bisa
menggunak
an
keduanya.
Wisata yang Pantai dan Sirkuit Bukit Pantai, Pantai, Pantai,
ditawarkan terdapat bertaraf dengan terdapat Terdapat bersebelahan
beberapa internasio pemandanga batu besar
bukit dan dengan bukit
bangunan nal n mengarah yang menara merese dan bukit
ikonik. ke Pantai ikonik yang antara.
ikonik
Fasilitas - Wisata - Sirkuit - Wisata - Wisata - Wisata - Wisata Pantai
Pantai Bukit Pantai Pantai - Wisata Bukit
- Homestay - - Homestay
- Masjid Homestay - Warung –
- Area Kuliner - warung
Restaurant
- Bukit
Ciri khas Pantai Kuta Sirkuit Wisata Batu besar Wisata Selain
menjadi Mandalika Bukit yang pantai dan menawarkan
pantai ikonik merupaka dengan view terdapat di menara keindahan pantai
di KEK n sirkuit kea rah wisata ini yang ada dan bukit, Pantai
Mandalika pertama di pantai yang menjadi di bukit Tanjung menjadi
karena di Indonesia menarik. ciri khas. tunak wisata yang
Pantai Kuta yang menjadi ikonik
sudah menjadi ciri khas dikarenakan di
dibangun tempat yang ada Pantai Tanjung
fasilitas – diselengga di wisata Aan ini dipercaya
fasilitas rakannya ini. menjadi tempat
penunjang. Motogp. asal usulnya
legenda putri
mandalika
sehingga setiap
tahunnya di
Pantai Tanjung
Aan ini
diselenggarakan
festival Bau
Nyale untuk
memperingati
Putri Mandalika

3.2.4 Aksesibilitas
Akses menuju Pantai Tanjung Aan bisa dibilang cukup baik, untuk menuju
32

Pantai Tanjung Aan wisatawan bisa melalui dua jalan yaitu jalan yang pertama
bisa melalui Jalan Sengkol yang nantinya akan melewati Pantai Kuta dan Sirkuit
Mandalika. Sedangkan untuk jalan yang kedua bisa melewati Jalan Bypass –
Mandalika, jalan ini baru saja selesai dibuat untuk memberi akses ke Kawasan
Ekonomi Khusus Mandalika agar bisa lebih cepat dan bisa mengurangi
kemacetan. Berikut gambar aksesibilitas menuju Pantai Tanjung Aan.

Gambar 3. 8 Aksesibiltas
Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.2.5 Zoning dan Entrance


Area Kawasan Pantai Tanjung Aan didominasi oleh tanah kosong dengan
beberapa vegetasi yang tumbuh di sekitar Pantai. Berikut gambar pembagian
zonasi pada Pantai Tanjung Aan.
33

Gambar 3. 9 Zoning dan Akses menuju Site


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.2.6 Fasilitas Sekitar Lokasi


Pantai Tanjung Aan memiliki berbagai fasilitas disekitar lokasi yang bisa
menjadi penunjang wisatawan yang datang berkunjung. Berbagai fasilitas yang
ada disekitar lokasi adalah penginapan, restaurant, Masjid, dan juga penunjang
kesehatan seperti apotek. Fasilitas - fasilitas tersebut berada dalam Kawasan
Ekonomi Khusus Mandalika, walaupun demikian ada beberapa fasilitas yang
jaraknya cukup jauh dari lokasi perancangan seperti apotek dan masjid yang
jaraknya cukup jauh. Berikut gambaran lokasi fasilitas berada di sekitar Pantai
Tanjung Aan.

Gambar 3. 10 Fasilitas Sekitar Lokasi


34

Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.2.7 Topografi

Gambar 3. 11 Peta Topografi


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

Pada gambar 2.6 terlihat peta topografi pada kawasan Pantai Tanjung Aan.
Berdasarkan peta Topografi tersebut Pantai Tanjung Aan dikelilingi oleh beberapa
bukit disekitar Pantai Tanjung Aan. Dengan adanya perbedaan kontur pada
kawasan Pantai Tanjung Aan, ini bisa jadi daya tarik tersendiri sehingga kawasan
Pantai Tanjung Aan terlihat lebih indah.
35

Gambar 3. 12 Garis Topografi pada Kawasan


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.2.8 View

Gambar 3. 13 View Sekitar Site


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.3 Alternatif Site Waterfront Tourist Area Pantai Tanjung Aan


Pada pemilihan site yang akan di rancang sebagai Waterfront
Tourist Area, Penulis memilih 3 site sebagai alternatif dengan beberapa
pertimbangan seperti aksesibilitas, potensi keramaian pengunjung, tata guna
lahan, dan juga view. Site yang terpilih bisa dilihat pada gambar 3.9
36

Gambar 3. 14 3 Alternatif Site yang Dipilih


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.3.1 Alternatif Site 1


a. Spesifikasi

Gambar 3. 15 Alternatif Site 1


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022
Tabel 3. 3 Spesifikasi Alternatif Site 1
Luas Site 8.5 Ha
Keliling Total ± 1.200 meter
Kegunaan Lahan Pada Tapak Sebagian lahan sudah digunakan
sebagai area wisata sedangkan sisanya
masih lahan kosong
Potensi Pada Tapak Site yang dipilih memiliki 2 akses
sehingga memudahkan wisatawan.
37

Selain itu, sebagian lahan sudah


dimanfaatkan sehingga penulis bisa
melakukan pengembangan dan juga
sudah ada vegetasi yang tumbuh
membuat site bisa lebih teduh.
Kekurangan Pada Site  Jalan menuju site masih ada yang
belum di aspal
 Lahan pada site tidak berkontur
 Sebagian lahan belum ada vegetasi
View Sekitar Lokasi

b. Sirkulasi Pada Site

Gambar 3. 16 Sirkulasi pada Alternatif Site 1


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

c. Garis Sempadan Pantai


38

Gambar 3. 17 Garis Sempadan Pantai


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022
3.3.2 Alternatif Site 2
a. Spesifikasi

Gambar 3. 18 Sirkulasi pada Alternatif Site 2


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

Tabel 3. 4 Spesifikasi Alternatif Site 2


Luas Site 9 Ha
Keliling Total ± 1.300 meter
Kegunaan Lahan Pada Tapak Sebagian lahan sudah digunakan
sebagai area wisata sedangkan sisanya
masih lahan kosong
Potensi Pada Tapak Site ini terdapat kontur berupa bukit
yang bisa dimanfaatkan sebagai spot –
39

spot yang menarik.


Kekurangan Pada Site  Walaupun memiliki 2 akses pada
site ini memiliki posisi yang lebih
masuk kedalam.
 Jalan menuju site masih ada yang
belum di aspal
 Sebagian lahan belum ada vegetasi

b. Sirkulasi Pada Site

Gambar 3. 19 Sirkulasi pada Alternatif Site 2


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

c. Garis Sempadan Pantai

Gambar 3. 20 Garis Sempadan Pantai


40

Sumber Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022


3.3.3 Alternatif Site 3
a. Spesifikasi

Gambar 3. 21 Sirkulasi pada Alternatif Site 2


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

Tabel 3. 5 Spesifikasi Alternatif Site 3


Luas Site 5.7 Ha
Keliling Total ± 980 meter
Kegunaan Lahan Pada Tapak Site merupakan lahan kosong yang
sama sekali belum dimanfaatkan.
Potensi Pada Tapak Site ini memiliki beberapa kontur pada
tanahnya dan site ini berbatasan
langsung dengan bukit merese yang
merupakan atraksi wisata.
Kekurangan Pada Site  Walaupun memiliki 2 akses pada
site ini memiliki posisi yang lebih
masuk kedalam.
 Jalan menuju site masih ada yang
belum di aspal
 Merupakan lahan kosong yang
belum pernah dimanfaatkan
sehingga menjadi tantangan
tersendiri
41

b. Sirkulasi Pada Site

Gambar 3. 22 Sirkulasi pada Alternatif Site 2


Sumber : Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

c. Garis Sempadan Pantai

Gambar 3. 23 Garis Sempadan Pantai


Sumber Google Earth (Disunting oleh Penulis) , 2022

3.4 Ide dan Gagasan


Tabel 3. 6 Ide dan Gagasan Perancangan
Konsepsi Ide dan Gagasan pada Perancangan
Fungsi Kawasan Pada perancangan Waterfront Tourist Area ini, Fungsi utama
difokuskan pada aktivitas rekreasi yang dilengkapi dengan
fasilitas komersial.
Fasilitas a. Sarana Rekreasi
- Boat Trip
- Dermaga
42

- Museum
- Rumah Baca
- Amfiteater
b. Fasilitas Komersial
- Pasar Tradisional
- Pusat Kuliner
Land Use / Tata a. Pengembangan
Guna Lahan Mengembangkan wisata pada site yang sebelumnya sudah
ada dengan menambahkan fasilitas – fasilitas yang
mendukung.
b. Perancangan
Kawasan wisata pada site yang sudah ada akan dirancang
sebuah wisata baru dengan fungsi yang lebih kompleks.
Tata Masa Tata masa bangunan mengikuti bentuk site dan disesuaikan
Bangunan dengan alur sirkulasi dan aktivitas pengunjung.

Tampilan Tampilan Bangunan akan mengadopsi lokalitas setempat yaitu


Bangunan dengan mengambil ciri khas dari arsitektur tradisional Suku
Sasak Lombok.
Penggunaan Untuk penggunaan material, akan ditekankan pada penggunaan
Material material lokal yang banyak ditemukan pada sekitar lokasi dan
juga disesuaikan dengan penggunaan material yang lebih
modern.

Tata Ruang Luar Penataan lansekap pada setiap bangunan dan memaksimalkan
pohon peneduh pada area kawasan.

Sirkulasi Menerapkan pola linier dan radial pada sirkulasi kawasan


dengan mengikuti pembagian zoning dan tata masa bangunan.

Konsep Orientasi Sebagian bangunan difokuskan orientasinya kearah pantai


Bangunan sebagai atraksi utama dan sebagiannya lagi orientasinya
mengikuti arah sirkulasi kawasan.

Kegiatan - Rekreasi
- Belajar
- Bermain
- Jual Beli
- Berolahraga
BAB IV
ANALISA PENDEKATAN DAN KONSEP PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN
4.1 Analisa Makro
4.1.1 Analisa Pemilihan Site
Tabel 4. 1 Aspek Pemilihan Site
Aspek Penilaian Poin Alternatif Site 1 Poin Alternatif Site 2 Poin Alternatif Site 3
(Skala 1 - 10) (Skala 1 - 10) (Skala 1 - 10)
Lokasi dan 9 7 6
Pencapaian
Ukuran Site 8 9 6
View 7 9 9
Keramaian 9 7 9
Vegetasi 5 6 8
Kontur 4 7 6
Sirkulasi 9 7 6
Potensi 8 8 9
Fasilitas 7 8 8
Total Poin 66 68 67
4.1.2 Analisa Site
a. Lokasi

Gambar 4. 1 Pemilihan Site pada Kawasan


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.1 memperlihatkan pengambilan site pada Kawasan


Pantai Tanjung Aan. Site yang diambil memiliki luas ± 9.5 Ha. Pemilihan
site ini didasarkan hasil analisa yang menunjukkan site ini memiliki
potensi terbesar dengan beberapa aspek penilaian seperti Pencapaian,
View, Keramaian, Fasilitas, dan lain – lain.

43
44

b. Tata Guna lahan

Gambar 4. 2 Tata Guna Lahan pada Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.2 menjelaskan Tata Guna Lahan pada area site.
Pada saat ini kawasan wisata Pantai Tanjung Aan sudah dibuka sebagai
kawasan wisata. Hal ini terlihat sudah adanya penataan pada sebagian area
site. Area yang sudah mendapat penataan bisa dilihat pada area berwarna
orange dan area yang masih menjadi lahan kosong dan belum
dimanfaatkan bisa dilihat pada area berwarna hijau pada Gambar 4.2.
c. Aksesibilitas & Sirkulasi

Gambar 4. 3 Aksesibilitas & Sirkulasi pada Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Untuk aksesibilitas, site bisa dicapai melalui 2 jalan dari sisi timur
dan sisi barat. Kekurangan dari aksesibilitas pada site adalah kondisi
jalannya yang belum dilakukan pengaspalan secara menyeluruh.
45

d. Kebisingan

Gambar 4. 4 Respon Kebisingan pada Site dengan Peletakan Vegetasi


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.4 terlihat titik – titik kebisingan pada site dan
respon terhadapnya. Respon pertama yang dilakukan untuk mengantisipasi
kebisingan pada site adalah dengan menambahkan vegetasi pada titik –
titik kebisingan sebagai filter untuk meredam kebisingan pada site.

Gambar 4. 5 Respon Kebisingan pada Site dengan Pembagian Zona


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.5 terlihat titik- titik kebisingan pada site dan respon
terhadapanya. Respon kedua yang dilakukan untuk mengantisipasi
kebisingan pada site adalah dengan melakukan pembagian zoning pada
kawasan berdasarkan tingkat privasi. Pada area berwarna orange akan
menjadi area public dengan tingkat privasi yang rendah yang dimana pada
area ini akan menjadi area dengan keramaian tinggi. Lalu pada area
46

berwarna merah menjadi area dengan tingkat privasi yang tinggi dimana
pada area ini membutuhkan ketenangan yang lebih.
e. Matahari

Gambar 4. 6 Analisa dan Respon Matahari pada Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.6 terlihat analisa dan respon terhadap matahari.


Pada analisa tersebut terlihat arah matahari dari sisi kanan menuju sisi kiri
pada site. Untuk merespon hal tersebut, pada area site nantinya akan
dilakukan penambahan vegetasi pada tiap bangunan untuk meredam panas
matahari dan juga orientasi bangunan akan diarahkan ke sisi selatan yaitu
ke arah pantai dengan tujuan agar sinar matahari tidak langsung mengarah
ke bangunan.
f. Angin

Gambar 4. 7 Analisa dan Respon Angin pada Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.7 terlihat Analisa dan Respon angin pada site. Pada
analisa tersebut terlihat angin bertiup dari arah tenggara menuju ke arah
barat laut. Respon yang dilakukan pada site adalah dengan penambahan
vegetasi pada kawasan dan juga memberi bukaan pada masa bangunan
47

sehingga terjadi cross ventilation yang membuat bangunan menjadi lebih


sejuk.
g. Tata Masa Bangunan Sekitar

Gambar 4. 8 Tata Masa Bangunan Sekitar Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.8 terlihat tata masa bangunan pada area sekitar site. Area
permukiman yang diambil berada di sisi timur site seperti yang terlihat pada
Gambar 4.8. Pola tata masa bangunan pada permukiman tersebut memiliki pola
tata masa linier mengikuti arah sirkulasi pada kawasan.
h. View Pada Tapak

Gambar 4. 9 View pada Area Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.9 terlihat view pada area site. Pada view tersebut
memperlihatkan area pantai yang akan menjadi atraksi utama pada kawasan
tersebut.
i. Vegetasi
48

Gambar 4. 10 Vegetasi pada Site


Sumber : Analisa Penulis 2022

Pada Gambar 4.10 terlihat peletakan vegetasi yang ada pada site serta jenis
vegetasi yang ada disana. Pada perancangan nantinya pohon – pohon pada site
semaksimal mungkin akan dipertahankan menyesuaikan dengan penataan masa
bangunan.
j. Topografi

Gambar 4. 11 Potongan pada Tapak


Sumber : Analisa Penulis 2022
49

4.2 Analisa Mikro


4.2.1 Analisa Pelaku Kegiatan
Pelaku kegiatan dalam Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan
dengan Pendekatan Lokalitas antara lain :
1. Individu
a. Pengunjung
- Anak – anak
- Remaja
- Dewasa
- Lansia
b. Pedagang
- Pedagang Souvenir dan Oleh - oleh
- Pedagang Kuliner
c. Pengelola
- Kepala Kantor
- Seksetaris
- Staf pemeliharaan
- Staf Administrasi
- Staf Pelayanan
- Teknisi
d. Petugas Parkir
- Bagian Loket
- Bagian Parkir
e. Petugas Keamanan
- Satpam / Security
f. Petugas Kebersihan
- Office Boy
2. Kelompok
Tabel 3. 7 Kelompok Pelaku Kegiatan pada Kawasan
No Nama Kelompok Kategori Alamat
1 Teater Lho Indonesia Teater Mataram
2 Insomnia Theater Movement Teater Mataram
3 Teater Saka Teater Lombok Tengah
50

4 Komunitas Seniman Guru Teater,Tari,Musik, Lombok Tengah


(KOSERU) Seni Pertunjukkan
5 Sanggar Seni "RENGGANIS" Musik, Tari, Lombok Tengah
Teater, Seni Rupa,
Seni Pertunjukan
6 Saka Hayuning Tari Lombok Tengah
7 Sanggar Seni Solah Inges Tari Lombok Tengah
8 Syama Music Islami Musik Lombok Tengah
9 Sanggar Kesenian Tongker Musik Lombok Tengah
10 Sanggar Lawang Teater Lombok Timur
11 Mong Kecana Mas Musik Lombok Tengah
12 Teater Bulan Sabit Teater Lombok Timur
13 SANGGAR KREATIF RINJANI Musik, Tari, Lombok Timur
(SANKER) Teater
14 Sekarnite Gendang Belek Lombok Tengah
(Musik)
15 Sanggar Tari Sang Dewi Tari Lombok Barat
16 TEATER TERENG Teater Mataram
17 GENDANG BELEQ SMEKTI Musik, Tari Mataram
18 Teater Busi Musik, Tari, Lombok Barat
Teater, Seni
Media, Sastra,
Seni Pertunjukan
19 KOSIBUS Teater, Seni Rupa Lombok Timur
20 Sanggar Seni Dulang Mas Musik, Tari, Lombok Tengah
Teater, Seni
Pertunjukan
21 Qudratun-Nada Musik, Marawis, Mataram
Qasidah, Asrafal
Anam
22 Sanggar Gendang Beleq Musik Lombok Timur
Kembang Bakong
23 Teater Bintang Smnsaga Teater Lombok Utara
24 Kembang Mate Tari Lombok Timur
25 Darma Kerti Gamelan, wayang Lombok Timur
orang, tenun
26 Sanggar Seni Mahardika NTB Model , Vocal, Mataram
Publicspeaking,
Koreografi
27 Sanggar Seni 45 Seni Pertunjukan Mataram
28 Sanggar Mekar Kesuma Musik, Tari, Mataram
Teater, Seni Rupa,
Sastra, Seni
Pertunjukan
29 Bao Daya Tari, Teater, Seni Lombok Timur
Pertunjukan,
Pendidikan
gambelan usia din
30 SANGGAR SENI GITA ASTA Musik, Tari, Mataram
51

KENCANA Teater, Seni Rupa,


GENDANG
BELEQ,
HADROH

4.2.2 Analisa Kegiatan dan Kebutuhan Ruang


a. Analisa Kebutuhan Ruang
Analisa pendekatan pengeompokan kegiatan dan kebutuhan ruang
berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :
1. Pola dan macam kegiatan, dari pola dan macam kegiatan maka akan
diketahui suatu tuntunan kebutuhan ruang yang diperlukan bagi pelaku
kegiatan pada waterfront tourist area di Pantai Tanjung Aan.
2. Standar besaran ruang
3. Standar besaran ruang gerak (flow) yang berkisar 10% disesuaikan
dengan macam dan fungsi masing – masing ruang.
Tabel 4. 2 Analisa Kegiatan dan Kebutuhan Ruang
No Fungsi Utama Pelaku Kegiatan Kebutuhan Ruang
Pasar - Pengunjung - Berjalan – jalan -
Counter
Tradisional - Berbelanja -
Display Barang
- Istirahat -
Jalan Sirkulasi
- BAK / BAB -
Kasir
- Mencuci tangan -
Tempat duduk
-
Toilet
- Pedagang - Berjualan -
Lapak / Kios /
- Melayani pembeli Gerai
- Istirahat - Kasir
- BAK / BAB - Wastafel
- Mencuci tangan - Toilet
- Jalan Sirkulasi
- Pengelola - Menyimpan - Lobby
Dokumen - Ruang
- Mengolah Data Pengelola
Laporan Pedagang - Toilet
- Istirahat - Jalan Sirkulasi
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
- Petugas - Membersihkan - Bangunan Pasar
Kebersihan Bangunan - Ruang janitor
- Menyimpan - Toilet
peralatan
kebersihan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
52

- Petugas - Patroli - Pos Jaga


Keamanan - Menjaga - Toilet
keamanan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
Museum - Pengunjung - Melihat koleksi - Lobby
- Dokumentasi - Ruang Display
- Membaca Koleksi
- Observasi - Ruang
- Berjalan - jalan Informasi
- Berfoto - Toilet
- Belajar
- Menanyakan
informasi
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
- Pengelola - Manajemen - Lobby
koleksi display - Ruang
- Memberi pengelola
informasi pada - Ruang koleksi
pengunjung Display
- Memandu - Ruang
pengunjung informasi
- Melakukan - Toilet
pendataan pada
alat – alat dan
koleksi
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
- Petugas - Membersihkan - Bangunan
Kebersihan Bangunan Museum
- Menyimpan - Ruang janitor
peralatan - Toilet
kebersihan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
- Petugas - Patroli - Pos Jaga
Keamanan - Menjaga - Toilet
keamanan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
Rumah Baca - Pengunjung - Membaca Buku - Ruang Baca
- Bermain - Ruang koleksi
- Berkumpul buku
- Berdiskusi - Ruang Komunal
- Mengerjakan tugas - Ruang
- BAK / BAB Pelayanan
- Mencuci tangan - Toilet
53

- Pengelola - Melakukan - Lobby


pendataan pada - Ruang
koleksi buku pengelola
- Memberi - Ruang koleksi
informasi pada Display
pengunjung - Ruang
- BAK / BAB informasi
- Mencuci tangan - Toilet
- Petugas - Membersihkan - Bangunan
Kebersihan Bangunan Library
- Menyimpan - Ruang janitor
peralatan - Toilet
kebersihan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
Amfiteater - Pengunjung - Menonton - Tribun
Pertunjukan - Panggung
“Presean”
- Menjadi petarung
Presean
- Menonton Teater
Putri Mandalika
- Mengadakan
pertunjukan Teater
Putri Mandalika
- Menonton Pentas
Seni Musik
- Mengadakan
kegiatan sharing
- Duduk
- Bersantai
- Pengelola - Menonton - Panggung
Pertunjukan - Tribun
“Presean”
- Mengadakan
pertunjukan Teater
Putri Mandalika
- Petugas - Membersihkan - Panggung
Kebersihan Bangunan - Tribun
Area Kuliner - Pengunjung - Makan - Gerai / Warung
- Minum - Kasir
- Memesan - Meja dan kursi
makanan makan
- Membayar - Toilet
makanan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
- Pedagang - Menjual makanan - Dapur
- Memasak - Kasir
- Mengantarkan - Meja dan kursi
54

makanan makan
- BAK / BAB - Toilet
- Mencuci tangan
- Petugas - Membersihkan - Area kuliner
Kebersihan Bangunan - Ruang janitor
- Menyimpan - Toilet
peralatan
kebersihan
- BAK / BAB
- Mencuci tangan
No Fungsi Pelaku Kegiatan Kebutuhan Ruang
Penunjang
Musholla - Pengunjung - Ibadah - Ruang Shalat
- Wudhu - Ruang Wudhu
- BAK / BAB - Toilet
- Pengelola - Melakukan - Ruang Shalat
pengelolaan dan - Ruang Wudhu
pendataan alat - Toilet
- Mengatur jadwal
azan dan muazin
pada masjid
- Ibadah
- Wudhu
- BAK / BAB
- Petugas - Membersihkan - Ruang Shalat
kebersihan area masjid - Ruang Wudhu
- Ibadah - Toilet
- Wudhu
- BAK / BAB
- Petugas - Ibadah - Ruang Shalat
keamanan - Wudhu - Ruang Wudhu
- BAK / BAB - Toilet
- Pedagang - Ibadah - Ruang Shalat
- Wudhu - Ruang Wudhu
- BAK / BAB - Toilet
- Petugas - Ibadah - Ruang Shalat
parkir - Wudhu - Ruang Wudhu
- BAK / BAB - Toilet
Kantor - Pengelola - Monitoring - Ruang
Pengelola - Melakukan Pengelola
pendataan - Toilet
- Memberikan - Ruang Tamu
informasi - Lobby
- Menyambut Tamu
- BAK / BAB
- Petugas - Membersihkan - Ruang
kebersihan Bangunan pengelola
- Menyimpan - Ruang janitor
peralatan - Toilet
kebersihan
55

- BAK / BAB
- Mencuci tangan
Toilet - Pengunjung - Buang Air Kecir - Toilet Laki –
- Buang Air Besar laki
- Mencuci Tangan - Toilet
Perempuan
- Toilet Difabel
- Pengelola - Buang Air Kecir - Toilet Laki –
- Buang Air Besar laki
- Mencuci Tangan - Toilet
Perempuan
- Toilet Difabel
- Pedagang - Buang Air Kecir - Toilet Laki –
- Buang Air Besar laki
- Mencuci Tangan - Toilet
Perempuan
- Toilet Difabel
- Petugas - Membersihkan - Toilet Laki –
kebersihan Toilet laki
- Buang Air Kecir - Toilet
- Buang Air Besar Perempuan
- Mencuci Tangan - Toilet Difabel
- Petugas - Buang Air Kecir - Toilet Laki –
Keamanan - Buang Air Besar laki
- Mencuci Tangan - Toilet
Perempuan
- Toilet Difabel
- Petugas - Buang Air Kecir - Toilet Laki –
parkir - Buang Air Besar laki
- Mencuci Tangan - Toilet
Perempuan
- Toilet Difabel
No Fungsi Servis Pelaku Kegiatan Kebutuhan Ruang
Parkir - Pengunjung - Drop Off - Area Parkir
- Parkir Kendaraan Motor
- Area Parkir
Mobil
- Area Parkir Bus
- Pengelola - Drop Off - Area Parkir
- Parkir Kendaraan Motor
- Area Parkir
Mobil
- Area Parkir Bus
- Pedagang - Drop Off - Area Parkir
- Parkir Kendaraan Motor
- Area Parkir
Mobil
- Area Parkir Bus
- Petugas - Membersihkan - Area Parkir
56

kebersihan area parkir Motor


- Drop Off - Area Parkir
- Parkir Kendaraan Mobil
- Area Parkir Bus
- Petugas - Menjaga - Pos keamanan
keamanan keamanan - Area Parkir
- Drop Off Motor
- Parkir Kendaraan - Area Parkir
Mobil
- Area Parkir Bus
- Petugas - Melakukan - Area Parkir
parkir penataan parkir Motor
pada kendaraan - Area Parkir
- Drop Off Mobil
- Parkir Kendaraan - Area Parkir Bus
Loket - Pengunjung - Membayar - Ruang Loket
restribusi
- Pengelola - Menarik restribusi - Ruang Loket
Utilitas - Pengelola - Melakukan - Ruang MEE
pengecekan pada - Ruang Genset
utilitas - Ruang
Plumbing
Tabel 3. 8 Analisa Kegiatan Kelompok Pelaku
Kelompok Pelaku Kegiatan Kebutuhan Ruang
Komunitas Tari - Mengadakan
Pertunjukkan Tari
- Mengadakan
Perlombaan Tari
- Mengadakan
Latihan Tari
- Mengadakan
kursus Tari
Komunitas Teater - Mengadakan
Pertunjukkan Teater
- Mengadakan
Perlombaan Teater
- Mengadakan Amfiteater
Latihan Teater
- Mengadakan
kursus Teater
Komunitas Musik - Mengadakan
Pertunjukkan Musik
- Mengadakan
Perlombaan Musik
- Mengadakan
Latihan Musik
- Mengadakan
kursus Musik
Komunitas Seni - Mengadakan
57

Pertunjukkan pertunjukkan lokal


seperti presean,
gendang beleq dan
lain, lain
- Mengadakan
Perlombaan lokal
seperti presean,
gendang beleq dan
lain, lain
- Mengadakan
Latihan lokal seperti
presean, gendang
beleq dan lain, lain
- Mengadakan
kursus lokal seperti
presean, gendang
beleq dan lain, lain

b. Besaran Ruang
Beberapa pertimbangan analisis pendekatan terhadap besaran ruang pada
bangunan di waterfront tourist area di Pantai Tanjung Aan antara lain sebagai
berikut :
1. Jumlah pemakai
2. Kegiatan di dalam ruang
3. Kegiatan diluar rung
4. Dimensi furniture dan perawatan
5. Standar luasan ruang
6. Fleksibilitas ruang
Standar – standar ukuran / luasan yang dipakai dalam merancang
waterfront tourist area di Pantai Tanjung Aan antara lain :
1. Metrik Hand Book
2. Neufert, Architect Data
3. Public Library Space Needs : A Planning Outline / 1998 – Andres C
Dahlgren (P.L.S.N)
4. Planning and Design of Library Building – Godfrey Thopson,third edition
(P.D.L.B)
5. Asumsi Pribadi
58

Sedangkan dasar pertimbangan yang digunakan untuk menentukan flow


(besarnya ruang untuk keleluasaan gerak atau sirkulasi) yang ditentukan
berdasarkan sumber dari Time Saver for Building Type 2nd adalah sebagai
berikut :
1. Standar Minimum Sirkulasi = 5% - 10%
2. Standard Kebutuhan Keleluasaan Sirkulasi = 20%
3. Tuntutan Kenyamanan Fisik = 30%
4. Tuntutan Spesifik Kegitan = 50%
5. Efisiensi Sirkulasi Kendaraan = 100%
6. Sirkulasi Kenyamanan Berkendara = 150%

Efisiensi ruang dipengaruhi oleh efisiensi kerja terjadi di dalamnya,


sehingga untuk mendapatkan luasan ruang teori dan praktek yang efisiensi dan
fleksibel, maka unsur – unsur diatas disusun dalam bentuk layout ruang teori dan
praktek.
Tabel 4. 3 Besaran Ruang pada Pasar Tradisional
Fungsi Utama Kebutuhan Jumlah Kapasitas Besaran Sumber Sirkulasi Luasan (m²)
(m²)

Pasar - Lapak / Kios 200 3 6 Asumsi 25% 4500 m²


Tradisional / Gerai
- Lobby 1 300 0,65 MHB 20 % 234 m²

- Ruang 4 8 2 NAD 20 % 80 m²
Pengelola
- Pos Jaga 1 2 9 NAD 18 m²

- Toilet Laki – 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²


laki
- Toilet 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²
Perempuan
- Toilet 2 2 2,8 NAD 10 % 6,1 m²
Difabel m²/unit

- Urinoir 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Wastafel 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

Total Luasan 4.902,348 m²


59

Tabel 4. 4 Besaran Ruang pada Museum


Fungsi Utama Kebutuhan Jumlah Kapasitas Besaran Sumber Sirkulasi Luasan (m²)
(m²)

Museum - Ruang 5 8 2 NAD 20 % 96 m²


Pengelola
- Lobby 1 100 0,65 MHB 20 % 78 m²

- Ruang Tiket 1 6 2 Asumsi 20 % 14,4 m²

- Bagian 1 30 2,4 PLSN 60 % 115,2 m²


Informasi
- Ruang 1 150 2 Asumsi 50 % 450 m²
Pameran I
- Ruang 1 150 2 Asumsi 50 % 450 m²
Pameran II
- Ruang 1 150 2 Asumsi 50 % 450 m²
Pameran III
- Ruang 1 150 2 Asumsi 50 % 450 m²
Pameran IV
- Ruang 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²
Kebersihan
- Ruang 1 5 20 Asumsi 20 % 120 m²
Penyimpana
n
- Gudang 1 1 20 Asumsi 20 % 24 m²

- Toilet Laki – 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²


laki
- Toilet 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²
Perempuan
- Toilet 2 2 2,8 NAD 10 % 6,1 m²
Difabel m²/unit

- Urinoir 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Wastafel 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Ruang 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²


Kontrol
Panel
- Ruang 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²
CCTV
- Ruang AHU 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²
/ AC
- Ruang Trafo 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²

Total Luasan 2.425,348 m²


60

Tabel 4. 5 Besaran Ruang pada Rumah Baca


Fungsi Utama Kebutuhan Jumlah Kapasitas Besaran Sumber Sirkulasi Luasan (m²)
(m²)

Rumah Baca - Lobby 1 150 0,65 MHB 20 % 117 m²

- Ruang 5 8 2 NAD 20 % 96 m²
Pengelola
- Bagian 1 150 2,4 PLSN 60 % 576 m²
Informasi
- Ruang 2 150 10 PDLB 20 % 3600 m²
Koleksi
Buku
- Ruang 2 5 20 Asumsi 20 % 240 m²
Penyimpana
n
- Ruang Baca 4 150 2,5 Asumsi 20 % 1800 m²
m²/ruang

- Ruang 1 150 3 Asumsi 20 % 540 m²


Komunal m²/ruang

- Gudang 1 3 20 Asumsi 20 % 72 m²

- Toilet Laki – 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²


laki
- Toilet 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²
Perempuan
- Toilet 2 2 2,8 NAD 10 % 6,1 m²
Difabel m²/unit

- Urinoir 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Wastafel 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Ruang 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²


Kontrol
Panel
- Ruang 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²
CCTV
- Ruang AHU 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²
/ AC
- Ruang Trafo 1 4 2 Asumsi 20 % 9,6 m²

Total Luasan 7.209,148 m²


61

Tabel 4. 6 Besaran Ruang pada Amfiteater


Fungsi Utama Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Ruang
Amfiteater - Tribun 1 3000 2 Asumsi 20 % 7200 m²

- Panggung 1 100 5 Asumsi 20 % 600 m²

Total Luasan 7800 m²

Tabel 4. 7 Besaran Ruang pada Area Kuliner


Fungsi Utama Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Ruang
Area Kuliner - Gerai / 100 4 25 Asumsi 20 % 12.000 m²
Warung
- Area Makan 300 4 5,6 m²/ NAD 20 % 2.016m²
meja

- Toilet Laki – 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²


laki
- Toilet 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²
Perempuan
- Toilet 2 2 2,8 NAD 10 % 6,1 m²
Difabel m²/unit

- Urinoir 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Wastafel 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

Total Luasan 14.145,748


Tabel 4. 8 Besaran Ruang pada Masjid


Fungsi Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Penunjang Ruang

Masjid - Ruang 1 3000 0,72 m² 720 m²


Shalat (Ukuran
Sajadah)

- Ruang 2 8 2 NAD 20 % 38,4 m²


Takmir
- Gudang 1 1 20 Asumsi 20 % 24 m²

- Ruang 1 50 2 Asumsi 20 % 120 m²


Wudhu Laki
- laki
62

- Ruang 1 50 2 Asumsi 20 % 120 m²


Wudhu
Perempuan
- Toilet Laki – 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²
laki
- Toilet 2 6 2,25 PLSN 10 % 29,7 m²
Perempuan
- Toilet 2 2 2,8 NAD 10 % 6,1 m²
Difabel m²/unit

- Urinoir 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

- Wastafel 2 2 0,6 NAD 10 % 2,424 m²


m²/unit

Total Luasan 1.092,748 m²

Tabel 4. 9 Besaran Ruang pada Kantor Pengelola


Fungsi Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Penunjang Ruang

Kantor - Lobby 1 50 0,65 MHB 20 % 39 m²


Pengelola
- Ruang Rapat 1 15 2,4 PLSN 20 % 43,2 m²
m²/ruang

- Ruang 1 4 12 PDLB 20 % 12 m²
Pimpinan m²/ruang

- Ruang 1 4 2,32 m² PLSN 20 % 10 m²


Sekretariat
- Ruang 1 15 12 PDLB 20% 216 m²
Administrasi m²/staf

- Ruang Tamu 1 6 4 PDLB 30 % 31,2 m²


m²/orang

- Toilet 4 6 2,25 PLSN 10 % 59,4 m²

Total Luasan 410,8 m²

Tabel 4. 10 Besaran Ruang pada Toilet Umum


Fungsi Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Penunjang Ruang

Toilet Umum - Toilet Laki – 4 6 2,25 PLSN 10 % 59,4 m²


laki
63

- Toilet 4 6 2,25 PLSN 10 % 59,4 m²


Perempuan
- Toilet 2 2 2,8 NAD 10 % 6,1 m²
Difabel m²/unit

- Urinoir 5 8 0,6 NAD 10 % 3,3 m²


m²/unit

- Wastafel 4 4 0,6 NAD 10 % 2,64 m²


m²/unit

Total Luasan 130,84 m²

Tabel 4. 11 Besaran Ruang pada Parkir


Fungsi Servis Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Ruang
Parkir - Area Parkir 1 1000 2,2 Asumsi 20 % 2640 m²
Motor
- Area Parkir 1 100 14 Asumsi 20 % 1680 m²
Mobil
- Area Parkir 1 50 26 Asumsi 20 % 1560 m²
Bus
Total Luasan 5.880 m²

Tabel 4. 12 Besaran Ruang pada Loket


Fungsi Servis Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Ruang
Loket - Ruang Loket 3 2 3 DA 20 % 21,6 m²

Total Luasan 21,6 m²

Tabel 4. 13 Besaran Ruang pada Utilitas


Fungsi Servis Kebutuhan Jumlah Kapasitas Standard Sumber Sirkulasi Luasan
Ruang
Utilitas - Ruang MEE 1 3 12 MHB 36 m²

- Ruang 1 2 24 MHB 48 m²
Genset
Total Besaran Ruang 84 m²

Tabel 4. 14 Total Besaran Ruang


No Fungsi Luasan
1 Fungsi Utama 36.482,592 m²
64

2 Fungsi Penunjang 1.634,388 m²


3 Fungsi Servis 5.985,6 m²
Total Luasan 44.102,58 m²

Rekapitulasi Besaran Ruang


Luas Site : 96.000 m² ( 9,6 Ha )
Total Luasan Ruang : 44.102,58 m² ~ 46% dari Luas Lahan
Sisa Lahan : 51.897,42 m² ~ 54% dari Luas Lahan

KDB (Koefisien Dasar bangunan) maksimal 60%


60% x Luas Site = 60% x 96.000 m²
= 57.600 m² ~ 46% < 60% (memenuhi)
KDH (Koefisien Dasar Hijau) minimal 40%
40% x Luas Site = 40% x 9.600 m²
= 38.400 m² ~ 54% > 40% (memenuhi)
Perbandingan Total Luasan Ruang dengan KDB
Total Luasan Ruang : KDB = 44.102,58 : 57.600
= 0,76 ~ 0,76 < 1

4.2.3 Hubungan Antar Ruang dan Organisasi Ruang


a. Hubungan dan Organisasi Ruang Pada Kawasan (Makro)
65

Tabel 4. 15 Hubungan Ruang pada Kawasan


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 16 Organisasi Ruang pada Kawasan


Sumber : Analisa Penulis,2022

b. Hubungan dan Organisasi Ruang Pada Bangunan (Mikro)


Fungsi Utama
1) Pasar tradisional
66

Tabel 4. 17 Hubungan Ruang pada Pasar Tradisional


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 18 Organisasi Ruang pada Pasar Tradisional


Sumber : Analisa Penulis,2022

2) Mini Museum

Tabel 4. 19 Hubungan Ruang pada Mini Museum


Sumber : Analisa Penulis,2022
67

Tabel 4. 20 Organisasi Ruang pada Mini Museum


Sumber : Analisa Penulis,2022

3) Rumah Baca

Tabel 4. 21 Hubungan Ruang pada Mini Library


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 22 Organisasi Ruang pada Mini Library


68

Sumber : Analisa Penulis,2022


4) Amfiteater

Tabel 4. 23 Hubungan Ruang pada Amfiteater


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 24 Organisasi Ruang pada Amfiteater


Sumber : Analisa Penulis,2022

5) Area Kuliner

Tabel 4. 25 Hubungan Ruang pada Area Kuliner


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 26 Organisasi Ruang pada Area Kuliner


Sumber : Analisa Penulis,2022
6) Masjid

Tabel 4. 27 Hubungan Ruang pada Masjid


Sumber : Analisa Penulis,2022
69

Tabel 4. 28 Organisasi Ruang pada Masjid


Sumber : Analisa Penulis,2022

7) Kantor Pengelola

Tabel 4. 29 Hubungan Ruang pada Kantor Pengelola


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 30 Organisasi Ruang pada Kantor Pengelola


Sumber : Analisa Penulis,2022

8) Toilet Umum
70

Tabel 4. 31 Hubungan Ruang pada Toilet Umum


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 32 Organisasi Ruang pada Toilet Umum


Sumber : Analisa Penulis,2022
9) Parkir

Tabel 4. 33 Hubungan Ruang pada Parkiran


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 34 Organisasi Ruang pada Parkiran


Sumber : Analisa Penulis,2022
10) Loket
71

Tabel 4. 35 Hubungan Ruang pada Loket


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 36 Organisasi Ruang pada Loket


Sumber : Analisa Penulis,2022
11) Utilitas

Tabel 4. 37 Hubungan Ruang pada Utilitas


Sumber : Analisa Penulis,2022

Tabel 4. 38 Organisasi Ruang pada Utilitas


Sumber : Analisa Penulis,2022

4.2.4 Analisa Struktur


Sistem struktur adalah sistem yang dapat mendukung stabilitas, fungsi,
dan citra bangunan. Tuntutan terhadap sistem struktur yang menyangga bangunan
memberikan dasar pertimbangan sebagai berikut :
 Jaminan keamanan dan kenyamanan pengguna
 Ketahanan material
 Ekonomis
 Kesesuaian dengan tema bangunan
Berikut adalah pemilihan sistem struktur pada bangunan mulai dari
pondasi, kolom, balok, dan atap.
a. Pondasi
Berikut beberapa jenis pondasi yang akan diterapkan pada bangunan di
kawasan Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan.
72

1) Pondasi Umpak
Pondasi umpak biasa dipakai pada bangunan – bangunan panggung
yang dimana pondasi ini berada di atas tanah. Pondasi ini cocok
diterapkan pada kawasan yang mengusung konsep lokalitas.

Gambar 4. 12 Penggunaan Pondasi Umpak pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis,2022

2) Pondasi Batu Kali


Pondasi batu kali biasa digunakan pada bangunan dengan beban yang
tidak terlalu berat karena pondasi ini termasuk jenis pondasi dangkal.
Pondasi ini tersusun dari batu alam dengan berbagai bentuk lalu
dicampur dengan semen dan beton agar menjadi solid.

Gambar 4. 13 Penggunaan Pondasi Batu Kali pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis,2022

3) Pondasi Footplat

Pondasi cakar ayam merupakan pondasi bisa digunakan pada jenis


tanah yang keras maupun lembek sehingga akan cocok digunakan pada
perancangan kawasan. Pondasi cakar ayam sendiri terdiri dari pipa
beton panjang yang dimasukkan ke tanah. Pada pipa tersebut terpasang
73

plat beton yang ditautkan dengan baja pengait. Dengan itu pipa – pia
beton akan saling terhubung satu sama lain.

Gambar 4. 14 Penggunaan Pondasi Footplat pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis,2022
b. Kolom & Balok

Berikut beberapa jenis dan material kontruksi kolom dan balok yang akan
diterapkan pada bangunan di kawasan Waterfront Tourist Area di Pantai
Tanjung Aan.

1) Kayu

Gambar 4. 15 Penggunaan Kolom kayu dan Balok Kayu pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis,2022

2) Beton
74

Gambar 4. 16 Penggunaan Kolom Beton dan Balok Beton pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis,2022

3) Baja WF

Gambar 4. 17 Penggunaan Kolom Baja dan Balok Baja pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis,2022

c. Atap

Berikut beberapa jenis kontruksi atap yang akan diterapkan pada bangunan
di kawasan Waterfront Tourist Area di Pantai Tanjung Aan.
1) Space Frame

Gambar 4. 18 Penggunaan Struktur Atap Spaceframe pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis, 2022
75

2) Struktur Atap Limasan

Gambar 4. 19 Penggunaan Struktur Limasan pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis, 2022

3) Struktur Atap Bale Lumbung

Gambar 4. 20 Penggunaan Struktur Atap Bale Lumbung pada Bangunan


Sumber : 3dwarehouse dan Analisa Penulis, 2022

4.2.5 Analisa Utilitas


Selain diperhatikan dari segi estetika, bangunan juga harus memberikan
kenyamanan dan keselamatan bagi penghuninya. Oleh karena itu sarana dan
prasarana utilitas sangat penting bagi bangunan dan merupakan hal yang harus
ada serta dilengkapi.
a. Jaringan Air Bersih
1) Air PAM
Berikut adalah skema jaringan air bersih pada kawasan.
76

Gambar 4. 21 Skema Jaringan Air Bersih pada Kawasan


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

Gambar 4. 22 Skema Distribusi Air PAM


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

2) Pengolahan Air Laut


Berikut adalah skema pengolahan air laut menjadi air bersih :
1. Pertama, air asin akan di hisap menggunakan pompa 1 (sumur)
melewati Sand Filter 1 untuk proses penyaringan pertama
2. Kedua,
dua, Air tadi di tampung ke tangki 1. Dari tangki 1 ini air masih
berupa air asin disedot menggunakan pompa 2 dan melalui Sand
Filter 2 untuk proses penyaringan kedua,
3. Ketiga, air akan melewati Cartridge Filter 5 mikron sebanyak dua
buah dan Cartridge Filter 10 mikron 1 buah untuk proses
penyaringan lebih lanjut, disini air sudah terlihat bersih namun
77

masih terasa asin.


4. Lalu yang terakhir, air masuk ke R/O Unit, disinilah air asin
diproses menjadi air tawar, sistemnya menggunakan sistem
membran, yaitu pemisahan air as
asin
in dan air tawar. Perbandingan
antara air tawar dan air asin yang diproses adalah 1:5, 1 liter air
bersih : 5 liter air asin. Air bersih berupa air tawar yang dihasilkan
R/O di tampung kedalam tangki 2, dan air tawar siap untuk
dikonsumsi. Berikut gambar skema
skema pengolahan air laut menjadi air
bersih.

Gambar 4. 23 Konsep Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih pada Kawasan
Sumber : [Link] 2012

Gambar 4. 24 Skema Distribusi Air Laut


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

b. Jaringan Air Kotor


78

Berikut adalah skema jaringan air bersih pada kawasan.

Gambar 4. 25 Skema Jaringan Air Kotor pada Kawasan


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

Gambar 4. 26 Skema Jaringan Air Kotor pada Kawasan


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

c. Sistem Elektrikal
79

Gambar 4. 27 Skema Jaringan Distribusi Listrik pada Kawasan


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

Gambar 4. 28 Skema Distribusi Jaringan Listrik


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

d. Sistem Proteksi Kebakaran


Untuk memenuhi keamanan terhadap kebakaran dalam penanganan
sistem aktif di perlukan alat alat pemadam kebakaran yang disediakan
pada tiap – tiap bangunan seperti smoke detector, fire alarm,, hydrant.
hydrant

Gambar 4. 29 Sistem Proteksi Kebakaran pada Kawasan


Sumber : Analisa Pribadi, 2022
80

4.2.6 Analisa Pendekatan Konsep Lokalitas Pada Kawasan


a. Konsep Bentuk
Konsep bentuk yang diambil pada bangunan adalah dengan mengambil
tiga buah bangunan yang mencerminkan lokalitas pada Pulau Lombok
yaitu Bale Lumbung yang merupakan bangunan khas Suku Sasak dan
Atap Limasan pada Masjid Kuno Gunung Pujut yang merupakan
peninggalan sejarah.

Gambar 4. 30 Pengambilan Bentuk Dasar dengan Pendekatan Lokalitas


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

b. Konsep Material
Pemilihan material pada bangunan dipilih berdasarkan ketersediaan
material pada lokasi perancangan. Beberapa material yang tersedia pada
lokasi perancangan adalah kayu, bambu, bata, dan juga beton.
81

Gambar 4. 31 Pemilihan Material dengan Pendekatan Lokalitas


Sumber : Analisa Pribadi, 2022

c. Konsep Fungsi
Fungsi Bangunan pada kawasan Waterfront Tourist Area di Pantai
Tanjung Aan selain digunakan sebagai sarana rekreasi juga berperan
penting dalam memperkenalkan budaya setempat. Beberapa bangunan
yang berfungsi sebagai sarana pengenalan budaya setempat adalah sebagai
berikut.
1) Museum
Museum pada kawasan berperan penting dalam pengenalan budaya
setempat terutama budaya suku sasak dipulau Lombok. Museum ini
nantinya akan memamerkan peninggalan – peninggalan sejarah yang
ada di pulau Lombok mulai dari keris, maket bangunan sejarah,
pakaian khas Lombok dll.
2) Rumah Baca
Rumah Baca pada kawasan nantinya akan memberikan banyak
pengetahuan mengenai budaya setempat. Hal ini dilakukan dengan
menyediakan buku – buku yang membahas tentang sejarah pulau
Lombok dan juga tentang budaya – budaya setempat
82

3) Pasar Tradisional
Pada pasar tradisional ini nantinya akan menjual berbagai souvenir dan
oleh – oleh khas pulau Lombok seperti gelang, kain, topi, tas, baju,
celana dan lain – lain.
4) Kuliner
Pada Area Kuliner nantinya akan menyediakan berbagai macam
kuliner khas Lombok seperti pelecing, ayam taliwang, sate tanjung,
nasi balap puyung, ayam rarang, sate bulayak, dan lain - lain
5) Amfiteater
Amfiteater pada kawasan nantinya akan menjadi sarana pengenalan
budaya melalui pentas seni dan pertunjukan. Beberapa pertunjukan
yang akan digelar nantinya adalah presean dan juga teater tentang putri
mandalika yang terkenal di pulau Lombok.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, B. S. (2015). Strategi Pengembangan Fasilitas Guna Meningkatkan Daya
Tarik Minat Wisatawan Di Darajat Pass (Waterpark) Kecamatan Pasirwangi
Kabupaten Garut. Universitas Pendidikan Indonesia, 10, 9–30.

Alpiannur, Z. (2021). PERANCANGAN PASAR TRADISIONAL TAMBAK SARI


KOTA BANGUN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR WATERFRONT.
Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Kinanti, K. W., Pitana, T. S., & Yuliani, S. (2017). Gedung Seni Dan Budaya
Banyumas Dengan Pendekatan Lokalitas Di Purwokerto. Arsitektura, 13(2).
[Link]
[Link]. (2020, September 4). [Link]/. Dipetik Maret 1, 2022,
dari [Link]
pantai-tanjung-aan-lombok-bisa-berselancar-dan-berenang?page=al
Mukmin, F. (2020). Kritik Salman Harun terhadap konstelasi sosial politik
Indonesia dalam buku secangkir tafsir juz terakhir (juz’amma).
[Link]
hrul Mukmin_E03216010.[Link]
Pariwisata, P. M., Indonesia, R., Pengelolaan, P. O., Alokasi, D., Fisik, K.,
Pariwisata, B., Rahmat, D., Yang, T., Esa, M., Pariwisata, M., & Indonesia,
R. (2018). [Link].
Purba, H. (2014). KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) FENOMENA
GLOBAL: Suatu Kajian Aspek Hukum. Paper Knowledge . Toward a Media
History of Documents, 11(2), 14–32.
Tambunan, T. D. (2016). Tourist Area Life Cycle Typology Approach for Natural
Tourism.
Tangkuman, D. J., & Tondobala, L. (2011). Arsitektur Tepi Air. Media
Matrasain, 8(2), 40–54.
[Link]

83

Anda mungkin juga menyukai