0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Model Pembelajaran Efektif dan Strategi

Dokumen ini membahas empat rumpun model pembelajaran: Model Interaksi Sosial, Model Pemrosesan Informasi, Model Personal-humanistik, dan Model Modifikasi Tingkah Laku. Setiap model memiliki teori dasar, aplikasi dalam pembelajaran, serta strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Penekanan utama adalah pada hubungan antara individu dan masyarakat, pemrosesan informasi, pengembangan diri, dan perubahan perilaku melalui penguatan.

Diunggah oleh

Refendo Neno07
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Model Pembelajaran Efektif dan Strategi

Dokumen ini membahas empat rumpun model pembelajaran: Model Interaksi Sosial, Model Pemrosesan Informasi, Model Personal-humanistik, dan Model Modifikasi Tingkah Laku. Setiap model memiliki teori dasar, aplikasi dalam pembelajaran, serta strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Penekanan utama adalah pada hubungan antara individu dan masyarakat, pemrosesan informasi, pengembangan diri, dan perubahan perilaku melalui penguatan.

Diunggah oleh

Refendo Neno07
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : REFENDO NENO

NIM : 1801140049
KELAS :B
SEMESTER : 6

4 RUMPUN MODEL - MODEL PEMBELAJARAN

1. Model Interaksi Sosial


Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field theory). Model ini menitikberatkan hubungan
yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together). Pokok Pandangan
Gestala adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang
terorganisasikan. Makna suatu objek/peristiwa adalah terletak pada keseluruhan bentuk (gestalt)
dan bukan bagian-bagiannya. Pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara
utuh bukan bagian-bagian.
Aplikasi teori Gestalt dalam pembelajaran adalah:
a) Pengalaman Insight/ Tilikan.
Dalam proses pembelajaran siswa hendaknya memiliki kemampuan insight yaitu kemampuan
mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek. Pengajar hendaknya mengembangkan
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan insight.
b) Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek
akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari
siswa hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidupannya di
masa yang akan datang.
c) Perilaku bertujuan. Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku disamping adanya kaitan
dengan SR-bond, juga terkait erat dengan tujuan yang hendak dicapai.
d) Prinsip ruang hidup (life space). Dikembangkan oleh Kurt Lewis (teori medan/field theoty).
Perilaku siswa terkait dengan lingkungan/medan di 4 mana ia berada. Materi yang disampaikan
hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan berada (CTL)
Model interaksi sosial ini mencakup strategi pembelajaran sebagai berikut:
a) Kerja kelompok, bertujuan mengembangkan keterampilan berperan serta dalam proses
bermasyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal dan discovery skills dalam
bidang akademik.
b) Pertemuan kelas, bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri maupun
terhadap kelompok.
c) Pemecahan masalah sosial atau inquiry social bertujuan untuk mengambangkan kemampuan
memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis.
d) Model laboratorium, bertujuan untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan
dalam kelompok. e) Bermain peran, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta
didik menemukan nilai-nilai sosial dan pribadi melalui situasi tiruan.
f) Simulasi sosial, bertujuan untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan sosial serta
menguji reaksi mereka.
2. Model Pemrosesan Informasi
Model ini berdasarkan Teori Belajar Kognitif (Piaget) dan berorientai pada kemampuan siswa
memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan informasi merujuk
pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan : mengorganisasi data, memecahkan
masalah, menemukan konsep dan menggunakan simbol verbal dan visual. Dipelopori oleh
Robert Gagna (1985), asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting
dalam perkembangan yang merupakan hasil komulatif dari pembelajaran.
Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia
(human capibilities) yag terdiri dari: (1) informasi verbal, (2) kecakapan intelektual, (3) strategi
kognitif, (4) sikap, dan (5) kecakapan motorik. Delapan fase proses pembelajaran menurut
Robert M. Gagne (19850 adalah:
a) Motivasi, fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan
suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu.
b) Pemahaman, individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari
pembelajaran.
c) Pemerolehan, individu memberikan makna/mempersepsi segala informasi yang sampai
pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori siswa.
d) Penahanan, menahan informasi/hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka panjang.
e) Ingatan kembali mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada
rangsangan.
f) Generalisasi, menggunakan hasilpembelajaran untuk keperluan tertentu.
g) Perlakuan, perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran.
h) Umpan balik, individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.

Ada sembilan langkah yang harus diperhatikan pendidik di kelas kaitannya dengan
pembelajaran pemrosesan informasi.
a) Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.
b) Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang akan dibahas.
c) Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
d) Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah direncanakan.
e) Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
f) Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran.
g) Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.
h) Melaksanakan penilaian proses dan hasil.
i) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab berdasarkan
pengalamannya.

Model Proses Informasi ini meliputi beberapa strategi pembelajaran, diantaranya:


a) Mengajar induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan membentuk
teori.
b) Latihan inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan.
c) Inquiry keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dan
diharapkan akan memperoleh pengalaman dalam domai-domain disiplin ilmu lainnya.
d) Pembentukan konsep, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama
berpikir logis, aspek sosial dan moral.
e) Advanced Organizer Model, bertuuan untuk mengembangkan kemampuan memproses
informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan secara
bermakna.

Implikasi Teori Belajar Kognitif (Piaget) dalam pembelajaran diantaranya:


a) Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa .
b) Guru harus dapat membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan belajarnya
sebaik mungkin (fasilitator).
c) Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
d) Di kelas, berikan kesempatan pada anak untuk dapat bersosialisasi dan diskusi sebanyak
mungkin.
3. Model Personal-humanistik
Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri
individu. Perhatian utamanya pada emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang
produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk
hubungan harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif. Model ini juga
berorientasi pada individu dan perkembangan keakuan. Menurut teori ini, guru harus berupaya
menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa merasa bebas dalam belajar dan
mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual.
Implikasi teori humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
a) Bertingkal laku dan belajar adalah hasil pengamatan.
b) TL yang ada, dapat dilaksanakan sekarang (learning to do).
c) Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri.
d) Sebagian besar TL individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri.
e) Mengajar adalah bukan hal penting, tapi belajar siswa adalah sangat penting (learn how to
learn).
f) Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang
produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.

Model pembelajaran personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut:


a) Pembelajaran non direktif, bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkembangan
pribadi (kesadaran diri, pemahaman, dan konsep diri)
b) Latihan kesadaran, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan interpersonal atau
kepedulian siswa.
c) Sinetik, untuk mengembangkan kreativitas pribadi dan memecahkan masalah secara
kreatif.
d) Sistem konseptual, untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.

4. Model Modifikasi Tingkah Laku


Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan sistem
yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk TL dengan cara
memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan
perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati. Karakteristik model ini adalah dalam
hal penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari siswa lebih efisien dan berurutan. Ada empat
fase dalam model modifikasi tingkah laku ini, yaitu fase mesin pengajaran (CAI dan CBI),
penggunaan media, pengajaran berprograma (linier dan branching) Operant Conditioning, dan
Operant Reinforcement

DAFTAR RUJUKAN
[Link]
WAWAN_DANASASMITA/Makalah/
PENDEKATAN_DAN_MODEL_PEMBELAJARAN.pdf

Anda mungkin juga menyukai