PROPOSAL SKRIPSI
ANALISIS KUAT TEKAN PADA CAMPURAN BETON
DENGAN BAHAN TAMBAHAN FLY ASH (PEMANFAATAN
LIMBAH ABU BATU BARA PLTU LABUAN DALAM
PEMBUATAN STRUKTUR RISHA)
Disusun oleh :
Nama : Agung Nurgaha
NIM : F27170006
Program studi : Teknik Sipil
Jenjang : Strata Satu ( S1 )
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MATHLA’UL ANWAR
BANTEN
2023
BUKTI PELAKSANAAN LAPORAN SEMINAR PROPOSAL
SKRIPSI
ANALISIS KUAT TEKAN PADA CAMPURAN BETON
DENGAN BAHAN TAMBAHAN FLY ASH (PEMANFAATAN
LIMBAH ABU BATU BARA PLTU LABUAN DALAM
PEMBUATAN STRUKTUR RISHA)
Bahwa Laporan Proposal Skripsi Ini Telah Di Seminarkan Di Hadapan Tim
Penguji Proposal Skripsi Program Studi Teknik Sipil Pada Hari Dan Tanggal,
Sabtu 03 Juni 2023 Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Mata Kuliah Skripsi.
Disusun oleh :
Agung Nurgaha
F27170006
Menyetujui,
Dosen Penguji 1 Dosen Penguji 2
H. Gunawan Noor, ST., [Link] Sangiru, [Link]
Mengetahui,
Dekan
Susilawati, [Link]
NIND. 104103200039
i
PERSETUJUAN PROPOSAL SKRIPSI
Nama Pelaksana Skripsi : Agung Nurgaha
NIM : F27170006
Program Studi : Teknik Sipil
Jenjang Studi : Strata Satu ( S1)
Judul Skripsi : Analisis Kuat Tekan Pada Campuran Beton
Dengan Bahan Tambahan Fly Ash
(Pemanfaatan Limbah Abu Batu Bara PLTU
Labuan Dalam Pembuatan Struktur RISHA)
Dosen Pembimbing : 1. H. Gunawan Noor, ST., [Link]
2. Sangiru [Link]
Pandeglang, ……,……..,2023
Menyetujui,
Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2
H. Gunawan Noor, ST., [Link] Sangiru, [Link]
Mengetahui,
Dekan
Susilawati, [Link]
NIND. 104103200039
ii
PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Nama Pelaksana Skripsi : Agung Nurgaha
NIM : F27170006
Program Studi : Teknik Sipil
Jenjang Studi : Strata Satu ( S1)
Judul Skripsi : Analisis Kuat Tekan Pada Campuran Beton
Dengan Bahan Tambahan Fly Ash
(Pemanfaatan Limbah Abu Batu Bara PLTU
Labuan Dalam Pembuatan Struktur RISHA)
Dosen Pembimbing : 1. H. Gunawan Noor, ST., [Link]
2. Sangiru [Link]
Pandeglang, ……,……..,2023
Mengesahkan,
Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2
H. Gunawan Noor, ST., [Link] Sangiru, [Link]
Mengetahui,
Dekan
Susilawati, [Link]
NIND. 104103200039
iii
DAFTAR ISI
Halaman
BUKTI PELAKSANAAN LAPORAN SEMINAR PROPOSAL SKRIPSI ..... i
PERSETUJUAN PROPOSAL SKRIPSI .......................................................... ii
PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI .......................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 4
1.3 Batasan Masalah.............................................................................. 5
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................. 6
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................... 6
1.7 Sistematika Penulisan ...................................................................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ......................... 10
2.1 Beton............................................................................................. 10
2.2 Bahan Dasar Penyusun Beton ........................................................ 11
2.2.1 Semen Potland...................................................................... 11
2.2.2 Agregat ................................................................................ 13
2.2.3 Air........................................................................................ 15
2.2.4 Bahan Tambah Fly Ash ........................................................ 16
iv
v
2.3 Metode Perencanaan Pencampuran Beton (Mix Desain) ................ 19
2.4 Pengujian Material Benda Uji ........................................................ 23
2.5 Percetakan Benda UJi .................................................................... 29
2.6 Perawatan Benda UJi ..................................................................... 30
2.7 Kuat Tekan Beton.......................................................................... 31
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 33
3.1 Metode Penelitian .......................................................................... 33
3.2 Teknik Pengumpulan Data............................................................. 33
3.2.1 Data Primer .......................................................................... 33
3.2.2 Data Sekunder ...................................................................... 33
3.2.3 Observai ............................................................................... 34
3.2.4 Literatur/buku referensi ........................................................ 34
3.3 Studi Experimental ........................................................................ 34
3.3.1 Material benda uji................................................................. 35
3.3.2 Peralatan Penelitian .............................................................. 35
3.3.3 Keterangan Benda Uji .......................................................... 36
3.4 Alur Penelitian .............................................................................. 37
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 39
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Komposisi unsur kimia fly ash dalam satuan persen berat ................... 17
Tabel 2.2 Persyaratan sifat kimia fly ash ............................................................ 18
Tabel 2.3 Persyaratan sifat fisik fly ash .............................................................. 19
Tabel 2.4 Nilai Slump yang Dianjurkan untuk Berbagai Pekerjaan Konstruksi ... 20
Tabel 2.5 Perkiraan Air Pencampur dan Kadar Udara untuk Berbagai Slump
dan Ukuran Nominal Agregat Maksimum Batu Pecah .................... 20
Tabel 2.6 Hubungan antara Rasio Air-semen (w/c) atau Rasio Air-bahan
Bersifat Semen ((f/(c + p)) dan Kekuatan Beton ................................. 21
Tabel 2.7 Volume Agregat Kasar per Satuan Volume Beton .............................. 21
Tabel 2.8 Perkiraan Awal Berat Beton Segar...................................................... 22
Tabel 3.1 Sample Benda Uji............................................................................... 36
vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Peta Lokasi PLTU Banten 2 Labuan ................................................. 4
Gambar 1.2 Peta Lokasi Penelitian ....................................................................... 8
Gambar 2.1 Fly Ash ........................................................................................... 16
Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian ................................................................. 38
vii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi di Indonesia semakin meningkat dari masa ke
masa, khususnya di bidang teknologi bahan konstruksi. Perkembangan tersebut
tentunya akan berpengaruh terhadap inovasi campuran bahan konstruksi yang
salah satunya adalah beton. Inovasi-inovasi tersebut bertujuan untuk menciptakan
beton yang memiliki mutu yang baik, ekonomis, dan ramah lingkungan. Beton
merupakan salah satu bahan konstruksi yang paling populer di masyarakat,
Keistimewaan beton adalah mudah dibentuk sesuai keinginan, memiliki nilai kuat
tekan yang tinggi, memiliki ketahanan dalam jangka panjang dengan perawatan
yang sederhana dan relatif murah karena menggunakan bahan dasar dari bahan
lokal (Tjokrodimuljo, 1992). Beton adalah campuran yang terdiri dari semen, air,
agregat kasar, agregat halus. Selain itu, beton juga dapat dicampurkan bahan
tambah yang dapat menunjang kinerja beton contohnya pozolan seperti fly ash.
Fly ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara pada pembangkit listrik.
Ketersediaan fly ash cukup melimpah sehingga bisa didapatkan dengan mudah.
Selain untuk pemanfaatan limbah, penggunaan fly ash dalam campuran semen
bisa meningkatkan nilai ekonomi fly ash itu sendiri. fly ash bisa membantu
memperbaiki sifat-sifat beton normal (beton tanpa fly ash). Campuran beton
dengan fly ash memiliki workability yang lebih baik dibandingkan campuran
beton tanpa fly ash pada nilai slump yang sama. Umumnya penggunaan fly ash
1
2
akan mengurangi bleeding dikarenakan berkurangnya kebutuhan air (Gebler,
dalam Thomas, 2007). Abu terbang (fly ash) adalah produk sampingan dari
industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batubara
sebagai bahan bakar, berupa butiran halus ringan, bundar, tidak porous serta
bersifat pozzolanik ataupun pengisi (filler) dan dapat di gunakan sebagai bahan
tambah pada beton. Fly ash yang di produksi PLTU Banten 2 Labuan sebanyak
350 ton perhari, persediaanya sangat melimpah dan belum banyak yang
memanfaatkanya. Pada penelitian kali ini penulis akan memanfaatkan fly ash
sebagai bahan campuran dalam pembuatan beton .
Dari hasil pengujian oleh Alfiandinata (2020), pengaruh penggunaan fly
ash sebagai pengganti sebagian semen terhadap sifat mekanik beton, yaitu ditinjau
terhadap kuat tekan, kuat tarik, dan kuat geser pada umur beton 28 hari dengan
variasi penggantian fly ash sebanyak 0%, 5%, 10%, 20%, dan 30% dari berat
semen. Pada pengujian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa terjadi
peningkatan pada kuat tekan beton sebesar 6,757% pada variasi fly ash 20%.
Penelitian tersebut juga memperkirakan proporsi optimum pada kuat tekan beton
yang didapati pada variasi 12,727% yaitu sebesar 23,332 MPa. Sedangkan dari
hasil pengujian oleh Esha Muhammady (2022), Proporsi penggantian semen
dengan fly ash yang memiliki nilai kuat tekan optimum berada pada beton
proporsi fly ash 12%. Beton tersebut memiliki nilai kuat tekan yang optimum
secara berturut-turut selama pengujian kuat tekan beton umur 3, 7, 14, dan 28 hari,
beton dengan variasi fly ash 12% memiliki nilai peningkatan kuat tekan beton
yang paling cepat mencapai nilai kuat tekan rencananya apabila dibandingkan
3
variasi yang lainnya yaitu selama 16,35 hari. Beton dengan penggantian fly ash
12% mampu memberikan peningkatan kuat tekan yang lebih cepat 8,65 hari
apabila dibandingkan dengan beton tanpa fly ash. dibandingkan beton proporsi fly
ash yang lainnya. Dari penelitian-penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa proporsi penggantian semen dengan fly ash yang memiliki nilai kuat tekan
optimum berada pada beton proporsi fly ash 12% - 13%. Oleh karena itu, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kuat tekan beton dengan campuran
fly ash dari hasil pembakaran batu bara PLTU Banten 2 Labuan dengan variasi
campuran 12,5%, 20% dan 30% dari tolat berat semen pada usia beton 28 hari
dengan menggunakan metode perencanaan campuran beton SNI 7656-2012
dengan kuat tekan rencana senilai (fc’) 29,5 MPa yang nantinya akan digunakan
sebagai acuan pembuatan panel struktur RISHA .
Dari uraian-uraian tersebut di atas maka penulis mengambil judul
“Analisis Kuat Tekan Pada Campuran Beton Dengan Bahan Tambahan Fly Ash
(Pemanfaatan Limbah Abu Batu Bara Pltu Labuan Dalam Pembuatan Struktur
RISHA)”. Adapun lokasi pengambilan bahan fly ash untuk penelitian bisa dilihat
pada gambar 1.1 pada halaman berikutnya.
4
Lokasi
Sumber: Rencana Tata Ruang BAPEDA Provinsi Banten, 2000.
Gambar 1.1 Peta Lokasi PLTU Banten 2 Labuan
1.2 Rumusan Masalah
Identifikasi masalah yang akan dibahas dalam penelitian kali ini adalah
sebagai berikut:
1. Berapakah kuat tekan beton akibat penambahan abu terbang (fly ash)
12,5%, 20% , 30% dari berat total semen pada umur beton 28 hari?
2. Berapakah proporsi penggantian semen dengan fly ash untuk
mendapatkan nilai kuat tekan beton yang optimum?
3. Bagaimana proses pencampuran (komposisi) pergantian semen
dengan fly ash yang masuk pada persyaratan pembuatan panel struktur
RISHA?
5
1.3 Batasan Masalah
Untuk mempermudah dalam pelaksanaan penelitian ini, maka
permasalahan yang ditinjau dibatasi sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan hanya sebatas uji kuat tekan berupa uji silinder
dan tingkat workabilitas berupa uji slump.
2. Kuat tekan minimum persyaratan RISHA senilai (fc’) 21,7 MPa.
3. Kuat tekan beton rencana senilai (fc’) 29,5 MPa.
4. Desain campuran beton menggunakan metode SNI 7656-2012 Tata
Cara Pemilihan Campuran Untuk Beton Normal, Beton Berat dan
Beton Massa. Badan Standarisasi Nasional.
5. Komposisi campuran bahan-bahan penyusun pada beton
menggunakan bahan tambah fly ash dari sisa pembakaran abu batu
bara PLTU Banten 2 Labuan.
6. Fly ash yang digunakan sebagai pengganti 12,5 %, 20% dan 30% dari
total berat semen.
7. Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I.
8. Pasir (agregat halus) yang digunakan adalah pasir yang berasal dari
tambang pasir Jalupang, Lebak Banten.
9. Penelitian ini menggunakan benda uji bentuk Kubus dengan ukuran
15 cm x 15 cm x 15 cm.
10. Sampel benda uji berjumlah 15 buah.
11. Pengaruh suhu, udara, dan faktor lain diabaikan.
6
12. Perawatan terhadap benda uji beton dilaksanakan dengan cara
merendam dalam bak, dengan cara tersebut diharapkan hidrasi semen
berlangsung dengan baik.
13. Pengujian desak beton dilakukan setelah umur 28 hari.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui berapa kuat tekan beton akibat penambahan abu
terbang (fly ash) 12,5%, 20% , 30% dari berat total semen pada umur
beton 28 hari.
2. Untuk mengetahui proporsi penggantian semen dengan fly ash untuk
mendapatkan nilai kuat tekan beton yang optimum.
3. Untuk mengetahui proses pencampuran (komposisi) pergantian semen
dengan fly ash yang masuk pada persyaratan pembuatan panel struktur
RISHA.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang bisa diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Bagi Akademik
Meningkatkan kualitas pendidikan dengan melibatkan hasil dari
penelitian tersebut terkait pemanfaatan fly ash sebagai bahan
campuran beton.
Dapat menerapkan Ilmu Bahan Dan Beton yang diperoleh dari
Dosen Pengajar.
7
Menambah pengetahuan mengenai Ilmu Bahan Dan Beton yang
tidak didapatkan dari Dosen Pengajar.
Mengenali lebih dalam informasi umum terkait hasil penelitian
Kuat Tekan Beton Menggunakan Campuran Fly Ash.
2. Bagi Pemerintah Daerah
Memberikan ide baru untuk mendapatkan hasil penelitian yang
optimal terkait pemanfaatan fly ash sebagai bahan campuran
beton untuk struktur RISHA.
3. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat diterapkan oleh masyarakat pada
pembuatan rumah instan sederhana (RISHA).
1.6 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Laboratorium UPTD pengujian bahan,
konstuksi bangunan dan informasi konsturksi , Dinas Pekerjaan Umum Dan
Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten. Adapun peta lokasi penelitian bisa
dilihat pada gambar 1.2 pada halaman berikutnya.
8
Lokasi
Sumber : Rencana Tata Ruang BAPEDA Provinsi Banten, 2000.
Gambar 1.2 Peta Lokasi Penelitian
1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan untuk mempermudah para pembaca dalam
memahami isi proposal skripsi ini, maka dipandang perlu mengemukakan
sistematiknya. Adapun sistematika penyusunan proposal skripsi ini adalah
sebagaimana uraian berikut ini.
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis membahas mengenai latar belakang,
perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan skripsi, manfaat
skripsi dan sistematika penulisan laporan skripsi Analisis Kuat
Tekan Pada Campuran Beton Dengan Bahan Tambahan Fly Ash
9
(Pemanfaatan Limbah Abu Batu Bara PLTU Labuan Dalam
Pembuatan Struktur RISHA).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
Bab ini terdiri dari tinjauan pustaka dan landasan teori yang
digunakan untuk memberikan penjelasan mengenai studi
penelitian ini dan dasar perencanaan campuran beton serta
metode perhitungan kuat tekan beton yang akan di bahas.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini terdiri dari metode dan studi yang di gunakan dalam
penelitian, keterangan peralatan dan benda uji, pelaksanaan
penelitian serta alur penelitian yang akan di lakukan dalam
proses penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Beton
Teknologi beton terus berkembang seiring dengan tuntutan kebutuhan
yang semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitas. Beton merupakan suatu
bahan komposit dari beberapa material yaitiu: semen, agregat kasar, agregat ha!us,
air, serta bahan tarnbahan lain dengan perbandingan tertentu karena beton
merupakan komposit, maka kualitas beton sangat tergantung dari kualitas masing
masing material pembentuknya.
Beton adalah bahan gabungan yang diperoleh dengan cara mencampurkan
semen portland, air, agregat dan kadang-kadang ditambah dengan bahan tambah
lain yang bervariasi. Campuran tersebut bilamana dituang akan mengeras seperti
batuan, yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen dan akan
bertambah keras sesuai dengan umur beton tersebut (Tjokrodimuljo. 1996).
Umumnya beton dapat digolongkan berdasarkan berat volume, di antaranya beton
ringan, beton normal, dan beton berat. Masing-masing jenis beton memiliki
keunggulan tersendiri, yang dapat dipergunakan sesuai dengan kondisi di
lapangan. Dari ketiganya, beton normal yang paling umum diaplikasikan karena
mampu digunakan pada bagian struktur utama bangunan. Berikut adalah ketiga
jenis beton:
10
11
1. Beton ringan Menurut SNI 7656-2012, beton ringan mengandung
agregat ringan yang menyebabkan berat volume kurang dari
1900 kg/m3.
2. Beton normal Menurut SNI 7656-2012, beton normal merupakan
beton yang menggunakan agregat alam, dengan berat volume dalam
rentang 2200 kg/m3 sampai 2500 kg/m3.
3. Beton berat Menurut SNI 7656-2012, merupakan beton yang
mempunyai berat volume lebih dari 2500 kg/m3 .
2.2 Bahan Dasar Penyusun Beton
Beton merupakan material komposit yang terbentuk dari bahan-bahan
yang kompleks. Bahan-bahan ini memiliki keberagaman dari segi jenis, bentuk,
ukuran, dan kualitas. Sebagai contoh, agregat halus dapat dibedakan berdasarkan
ukuran butirannya menjadi pasir, pasir halus, lanau (silt), dan lempung (clay).
Begitu juga dengan semen, yang memiliki tipe berbeda-beda sesuai
peruntukannya. Dalam penggunaannya, bahan-bahan penyusun beton dibatasi
jumlahnya. Umumnya beton mengandung bahan-bahan pembentuk dengan
persentase volume 65%-80% agregat, 10% semen portland, 15% air, dan 5%
udara (Nugraha dan Antoni, 2007).
2.2.1 Semen Potland
Semen portland merupakan salah satu material yang paling vital dalam
proyek konstruksi. SNI 15-2049-2004 tentang Semen Portland mendefinisikan
semen portland sebagai semen hidraulis yang dihasilkan dengan cara menggiling
12
terak semen portland, terutama yang terdiri dari kalsium silikat yang bersifat
hidraulis dan digiling bersama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih
bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambah dengan bahan
tambahan lain. Walaupun persentase semen dari volume beton hanya sekitar 10%,
tetapi fungsi semen sangat penting karena sebagai pengikat antara butiran-butiran
agregat dan pengisi rongga-rongga udara di antara agregat sehingga terbentuk
suatu massa padat dan kokoh (Mulyono, 2004).
Menurut SNI 7656-2012 Dilihat dari jenisnya semen portland dibagi
menjadi empat jenis :
1. Semen Portland jenis I adalah semen Portland untuk penggunaan umum
yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang
disyaratkan pada jenis-jenis lain.
2. Semen Portland jenis II adalah semen Portland yang dalam
penggunaanya memerlukan ketahanan terhadap sulfat atau kadar hidrasi
sedang.
3. Semen Portland jenis III adalah semen yang dalam penggunaanya
memerlukan kekuatan tinggi pada tahap permulaan setelah pengikat
terjadi.
4. Semen Portland jenis IV adalah semen yang dalam penggunaanya
memerlukan kalor hidrasi rendah.
13
2.2.2 Agregat
Agregat adalah bahan penyusun beton yang saling diikat oleh perekat
semen. Dalam struktur beton, agregat menempati kurang lebih 70 - 75 % dari
volume masa yang telah mengeras umumnya agregat diklasifikasikan sebagai
agregat halus dan agregat kasar.
1. Agregat halus
Agregat halus adalah pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari
batuan atau pasir yang dihasilkan oleh indrustri pemecah batu dan mempunyai
ukuran terbesar 5,0 mm. Pasir alam dapat digolongkan menjadi 3 macam
(Tjokodimuljo, 1993), yaitu :
a. Pasir Galian
Pasir ini diperoleh langsung dan pennukaan tanah atau dengan eara
menggali. Bentuk pasir ini biasanya tajam, bersudut, berpori dan bebas
dari kandungan garam walaupun biasanya harus dibersihkan dari
kotoran tanah dengan jalan dicuci terlebih dahulu.
b. Pasir Sungai
Pasir ini diperoleh lansung dari dasar sungai, yang pada umumnya
berbutir halus, bulat-bulat akibat proses gesekan. Daya lekat antar
butiran agak kurang karena bentuk butiran yang bulat.
c. Pasir Laut Pasir
laut adalah pasir yang diambil dan pantai. Butir-butimya halus dan bulat
karena gesekan. Pasir ini merupakan pasir yang kurang baik karena
mengandung banyak garam-garaman. Garam-garaman ini menyerap
14
kandungan air dari udara dan mengakibatkan pasir selalu agak basah
serta menyebabkan pengembangan volume bila dipakai pada bangunan.
Selain itu garam-garaman ini mengakibatkan korosi terhadap struktur
beton. Oleh karena itu pasir laut sebaiknya tidak dipakai.
2. Agregat kasar
Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alami dan batu atau
berupa batu pecan yang diperoleh dan pemecah batu dengan ukuran 5 - 40 mm,
Berdasarkan berat jenisnya, agregat kasar dibedakan menjadi 3 golongan
(Tjokrodimuljo, 1993) yaitu :
a. Agregat Normal Agregat normal adalah agregat yang berat jenisnya
antara 2,5 - 2,7 gram/cm3 , Agregat ini biasanya berasal dari agregat
basalt, granit, kuarsa dan sebagainya. Beton yang dihasilkan
mempunyai berat jenis sekitar 2,3 gram/cm3 .
b. Agregat Berat Agregat berat adalah agregat yang mempunyai berat
jenis lebih dari 2,8 gram/cm3 , misalnya magnetik (Fe304), Bant
(BaS04), atau serbuk besi. Beton yang dihasilkan mempunyai berat
jenis tinggi sampai 5 gram/cm3 , Penggunaannya sebagai dinding
pelindung radiasi.
c. Agregat Ringan Agregat ringan adalah agregat yang mempunyai berat
jenis kurang dari 2,0 gram/cm3, yang biasanya dibuat untuk beton non
struktural atau dinding beton. Kebaikannya adalah berat sendin yang
rendah sehingga struktumya ringan dan pondasinya lebih kecil.
15
2.2.3 Air
Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen serta menjadi bahan pelumas
antara butir-butir agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Untuk bereaksi
dengan semen, air yang diperlukan sekitar 30 % dan berat semen, namun pada
kenyataannya nilai faktor air-semen yang dipakai sulit kurang dari 0,35.
Kelebihan air ini dipakai sebagai pelumas dengan catatan penambahan air untuk
pelumas ini tidak boleh terlalu banyak karena kekuatan beton akan rendah dan
menghasilkan beton yang porous. Selain itu kelebihan air akan bersama-sama
dengan semen bergerak ke permukaan adukan beton segar yang baru dituang
(bleeding) yang kemudian menjadi buih dan membentuk lapisan tipis yang
mengurangi rekatan antara lapis lapis beton dan merupakan bidang sambung yang
lemah.
Air yang memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai campuran beton
adalah air minum, tetapi tidak berarti pencampuran beton harus memenuhi
persyaratan air minum. Secara umum air yang dapat dipakai untuk bercampur
belon ialah air yang bila dipakai akan dapat menghasilkan beton dengan kekuatan
lebih dan 90 % dari kekuatan beton yang memekai airsuling. Pemakaian air untuk
beton sebaiknya air memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tidak mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter.
2. Tidak mengandung garam-garaman yang dapat merusak beton (asam,
zat organik dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter.
3. Tidak mengandung khlorida (CI) lebih dan 0,5 gram/liter. 4. Tidak
mengandung senyawa sulfat lebih dari 1gram/liter.
16
2.2.4 Bahan Tambah Fly Ash
Bahan tambahan adalah material yang dicampurkan ke dalam campuran
beton yang berfungsi sebagai bahan yang mempengaruhi sifat-sifat beton
contohnya seperti untuk memperkuat beton, mempermudah pekerjaan, atau
menghemat biaya. Bahan tambahan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu
bahan tambah kimiawi dan bahan tambah mineral. Pada penelitian kali ini
penggunaan bahan tambah menggunakan bahan tambah mineral yaitu fly ash
sebagai bahan pengganti sebagian semen.
Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2023
Gambar 2.1 Fly Ash
Secara umum bahan fly ash dari proses pembakaran batubara pada PLTU
mengandung oksida-oksida kimia seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O
dan Na2O.
1. Menurut ASTM C.618 – 89a bahwa limbah batubara jenis fly ash
bersifat pozzolanic yang dapat digunakan sebagai bahan substitusi
17
semen portland tipe I, sehingga pabrik semen di Indonesia sudah ada
yang menggunakan fly ash untuk pembuatan semen jenis Portland
Composite Cement (PCC).
2. Berdasarkan peneliti terdahulu, bahan fly ash dapat digunakan sebagai
bahan pengikat agregat dan bottom ash dapat digunakan sebagai bahan
agregat halus dengan ukuran butir < 0,5 mm.
Menurut laporan hasil pengujian fly ash PT Indonesia Power PLTU
Banten 2 Labuan operation, kandungan yang terdapat pada fly ash dapat di lihat
pada tabel 2.1 di halaman selanjutnya.
Tabel 2. 1 Komposisi unsur kimia fly ash dalam satuan persen berat
No Parameter Uji Persentase Berat Fly Ash
1 SiO2 46,62%
2 AL2O3 14,06%
3 Fe2O3 11,00%
4 CaO 16,43%
5 Na2O 0,53%
6 K2O 1,00%
7 MgO 9,77%
8 SO3 0,38%
9 Loss of ignition (LOI) 0,17%
10 Maisture Conten 0,09%
11 Kehalusan (Fineness) 45µm 14,49%
Sumber: PT Indonesia Power PLTU Banten 2 Labuan,2022
Fly ash memiliki klasifikasi dari sifatnya masing-masing. Adapun
klasifikasi fly ash yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Kelas N, adalah fly ash yang dapat dikategorikan seperti tanah
18
diatornic, tuff dan abu vulkanik, yang bisa diproses dengan
pembakaran ataupun tanpa pembakaran. dan berbagai bahan yang
membutuhkan kalsinasi untuk menghasilkan sifat yang memuaskan,
seperti lempung (clays) dan shales.
b. Kelas F, adalah fly ash yang biasanya dihasilkan dari pembakaran
batu bara antrasit atau bituminus, tetapi juga dapat dihasilkan dari
batu bara subbituminus dan lignit.
c. Kelas C, adalah fly ash yang biasanya dihasilkan dari pembakaran
batu bara lignit atau subbituminus, dan juga dapat dihasilkan dari batu
bara antrasit atau bituminus. Kelas ini memiliki kandungan kalsium
total, contohnya seperti kalsium oksida (CaO), yang lebih tinggi
daripada fly ash kelas F.
Fly ash memiliki persyaratan dari segi kimiawi maupun segi fisik yang
tercantum pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. 2 Persyaratan sifat kimia fly ash
Kelas
Komponen
N F C
Silikon dioksida (SiO2) ditambah aluminium oksida 70,0 70,0 50,0
(Al2O3) ditambah oksida besi (Fe2O3), min, %
Sulfur trioksida (SO3), maks, % 4,0 5,0 5,0
Kadar air, maks, % 3,0 3,0 3,0
Kehilangan saat pembakaran, maks, % 10,0 6,0 6,0
Sumber: ASTM C618
19
Tabel 2. 3 Persyaratan sifat fisik fly ash
Kelas
Komponen
N F C
Kehalusan:
Jumlah yang tertahan saat diayak basah pada ayakan 34 34 34
no. 325, maks, %
Indeks aktivitas kekuatan:
Dengan semen portland, pada 7 hari dan 28 hari, min,% 75 75 75
Kebutuhan air, maks, % 115 105 105
Ekspansi, maks, % 0,8 0,8 0,8
Persyaratan keseragaman:
Kepadatan dan kehalusan sampel tidak boleh berbeda
oleh rata-rata yang ditetapkan dari sepuluh pengujian
sebelumnya, atau dari semua pengujian sebelumnya
jika jumlahnya kurang dari sepuluh, lebih dari:
Kepadatan, rata-rata maksimal, % 5 5 5
Persen dipertahankan pada ayakan no. 325, rata-rata 5 5 5
maksimal, %
Sumber: ASTM C618
2.3 Metode Perencanaan Pencampuran Beton (Mix Desain)
Mix design yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode
SNI 7656-2012. Adapun tahapan perencanaan campuran dengan metode tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Tentukan slump yang diisyaratkan berdasarkan tabel 2.4 pada halaman
berikutnya.
20
Tabel 2.4 Nilai Slump yang Dianjurkan untuk Berbagai Pekerjaan
Konstruksi
Slump (mm)
Tipe Konstruksi
Maksimum Minimum
Pondasi beton bertulang (dinding dan pondasi telapak) 75 25
Pondasi telapak tanpa tulangan, pondasi tiang 75 25
pancang, dinding bawah tanah
Balok dan dinding bertulang 100 25
Kolom bangunan 100 25
Perkerasan dan pelat lantai 75 25
Beton massa 50 25
Sumber: SNI 7656-2012
2. Tentukan ukuran nominal maksimum agregat maksimum
3. Tentukan banyaknya air pencampur berdasarkan Tabel 2.5
Tabel 2. 5 Perkiraan Air Pencampur dan Kadar Udara untuk Berbagai
Slump dan Ukuran Nominal Agregat Maksimum Batu Pecah
Air (kg/𝒎𝟑 ) untuk ukuran nominal agregat maksimum batu pecah
Slump 9,5 12,7 19 25 37,5 50 75 150
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
25-50 207 199 190 179 166 154 130 113
75-100 228 216 205 193 181 169 145 124
150-175 243 228 216 202 190 178 160 -
>175 - - - - - - - -
Banyaknya 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0,3 0,2
udara
dalam
beton (%)
Sumber: SNI 7656-2012
21
4. Tentukan rasio air-semen berdasarkan tabel 2.6.
Tabel 2. 6 Hubungan antara Rasio Air-semen (w/c) atau Rasio Air-bahan
Bersifat Semen ((f/(c + p)) dan Kekuatan Beton
Rasio air-semen (berat)
Kekuatan beton umur 28
Beton dengan
Beton tanpa tambahan
hari, (MPa)
tambahan
Udara
udara
40 0,42 -
35 0,47 0,39
30 0,54 0,45
25 0,61 0,52
20 0,69 0,60
15 0,79 0,70
Sumber: SNI 7656-2012
5. Hitung kadar semen dengan cara air pencampur dibagi rasio air-semen
6. Hitung berat kering agregat dengan cara volume agregat kasar kering oven
dibagi berat kering oven.
Tabel 2. 7 Volume Agregat Kasar per Satuan Volume Beton
Ukuran Volume agregat kasar kering oven per satuan volume beton
nominal untuk berbagai modulus kehalusan dari agregat halus
maksimum
2,40 2,60 2,80 3,00 3,20 3,40 3,60 3,80
(mm)
9,5 0,50 0,48 0,46 0,44 0,42 0,40 0,38 0,36
12,5 0,59 0,57 0,55 0,53 0,51 0,49 0,47 0,45
19 0,66 0,64 0,62 0,60 0,58 0,56 0,54 0,52
25 0,71 0,69 0,67 0,65 0,63 0,61 0,59 0,57
37,5 0,75 0,73 0,71 0,69 0,67 0,65 0,63 0,61
50 0,78 0,76 0,74 0,72 0,70 0,68 0,66 0,64
75 0,82 0,80 0,78 0,76 0,74 0,72 0,70 0,68
150 0,87 0,85 0,83 0,81 0,79 0,77 0,75 0,73
Sumber: SNI 7656-2012
22
7. Perkirakan kadar agregat halus dari metode berdasarkan berat atau volume
absolut. Bandingkan kedua metode tersebut kemudian gunakan nilai kadar
agregat halus yang terbesar.
a. Berdasarkan berat
Perkiraan awal berat beton dapat dilihat pada Tabel 2.7 berdasarkan dari
ukuran nominal maksimum agregat dan pengaruh udara pada campuran
beton. Perkiraan awal tersebut digunakan untuk menentukan berat dari
agregat halus yang didapat dari berat beton dikurangi dengan air, semen,
dan agregat kasar.
Tabel 2. 8 Perkiraan Awal Berat Beton Segar
Ukuran nominal Perkiraan awal berat beton, kg/m3
maksimum agregat Beton tanpa tambahan Beton dengan
(mm) udara tambahan udara
9,5 2280 2200
12,5 2310 2230
19 2345 2275
25 2380 2290
37,5 2410 2350
50 2445 2345
75 2490 2405
150 2530 2435
Sumber: SNI 7656-2012
b. Berdasarkan volume absolut
Satuan volume beton dikurangi dengan jumlah volume dari bahan-bahan
yang telah diketahui seperti air, udara, dan agregat kasar. Volume beton
sama dengan berat beton dibagi densitas bahan
23
8. Sesuaikan kelembaban agregat, agregat-agregat harus diperhitungkan seberapa
kandungan air yang ada di dalamnya. Umumnya agregat berada dalam kondisi
lembab sehingga berat keringnya harus ditambah sesuai dengan banyaknya air
yang di berada di dalam ataupun di permukaan agregat. Banyaknya jumlah air
tersebut yang harus ditambahkan ke campuran harus dikurangi sejumlah air
bebas yang ada di agregat yaitu jumlah air dikurang air yang terserap agregat.
9. Lakukan pengaturan campuran percobaan, proporsi hasil perhitungan harus
diperiksa melalui pembuatan campuran percobaan yang diuji menurut SNI 03-
2493-1991 atau sesuai dengan proporsi campuran di lapangan. Penggunaan air
harus tepat menghasilkan slump yang disyaratkan disaat memilih proporsi
percobaan. Perkirakan kembali berat beton segar untuk penyesuaian setara
dengan berat beton segar dalam kg/m3 dari percobaan, ditambahi atau
dikurangan berdasarkan persentase perubahan kadar air campuran yang sudah
disesuaikan.
2.4 Pengujian Material Benda Uji
Langkah-langkah pengujian material pada penelitian kali ini dapat dilihat
sebagai berikut:
1. Agregat halus
Agregat halus harus dilakukan beberapa pengujian yang berguna untuk
mengetahui karakteristik agregat halus yang digunakan. Adapun beberapa
pengujian tersebut adalah sebagai berikut:
24
a. Analisis saringan
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 1968-1990.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut:
1) Ambil agregat halus seberat 1000 gram yang sebelumnya sudah
dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu
110±5°C.
2) Masukkan agregat ke dalam satu set ayakan agregat dengan
ukuran lubang ayakan yang paling besar berada paling atas
berturut-turut hingga ayakan kecil berada paling bawah.
3) Getarkan ayakan dengan vibrator selama 15 menit.
4) Timbang agregat yang tertinggal pada setiap ayakan, lalu catat
nilai berat agregat yang tertinggal pada ayakan.
5) Pastikan total berat agregat pada masing-masing ayakan harus
kembali lagi kurang lebih seberat 1000 gram.
b. Berat jenis dan penyerapan agregat halus
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 1970-2016.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut:
1) Siapkan agregat halus sekitar 1 kg lalu keringkan ke dalam oven
selama 24 jam dengan suhu 110±5°C.
2) Setelah dioven, rendam agregat ke dalam air selama 24 jam.
Buang air tadi lalu keringkan di udara panas dengan cara
membolak-balikkan agregat sampai kondisi kering permukaan
jenuh.
25
3) Periksa kondisi kering permukaan jenuh dengan mengisikan
agregat ke dalam kerucut pancung, padatkan dengan batang
penumbuk sebanyak 25 kali lalu rata permukaannya. Kondisi
kering permukaan jenuh tercapai apabila kerucut diangkat,
benda uji runtuh namun masih dalam kondisi tercetak.
4) Masukkan agregat dalam kondisi jenuh kering ke dalam
piknometer sebanyak 500 gram lalu masukkan air sampai 90%
isi piknometer. Putar-putar piknometer sampai gelembung
udara didalamnya sudah tidak ada.
5) Timbang dan catat berat piknometer yang sudah berisi agregat
dan air.
6) Keluarkan agregat tersebut lalu masukkan ke dalam oven
selama 24 jam dengan suhu 110±5°C.
7) Keluarkan agregat tersebut dari oven lalu diamkan pada suhu
ruangan selama kurang lebih 1 jam. Setelah suhu stabil,
kemudian agregat tersebut ditimbang.
8) Isi penuh piknometer dengan air lalu timbang beratnya.
c. Kadar air
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 1971-2011.
Adapun tahapan tahapannya ialah sebagai berikut:
1) Ambil agregat halus dengan berat sesuai dengan ukuran
maksimum agregat berdasarkan acuan dari SNI.
2) asukkan agregat tersebut ke dalam oven selama 24 jam dengan
26
suhu 110±5°C.
3) Keluarkan dari oven, lalu timbang kembali agregat tersebut.
d. Berat isi
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 4804-1998.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut:
1) Siapkan cetakan beton silinder dengan diameter 15 cm dan
tinggi 30 cm, kemudian hitung volume dan timbang berat
cetakan kosong tersebut.
2) Untuk kondisi padat, isi cetakan tersebut dengan agregat halus
dalam kondisi jenuh kering muka, tiap 1/3 volume lapisan
ditusuk sebanyak 25 kali dengan batang besi hingga penuh, lalu
timbang beratnya.
3) Untuk kondisi lepas, isi cetakan tersebut dengan agregat halus
dalam kondisi jenuh kering muka hingga penuh tanpa ditusuk
dengan batang penusuk, lalu timbang beratnya
2. Agregat kasar
Agregat kasar harus dilakukan beberapa pengujian yang berguna untuk
mengetahui karakteristik agregat kasar yang digunakan. Adapun beberapa
pengujian tersebut adalah sebagai berikut.
a. Analisis saringan
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 1968-1990.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut.
27
1) Ambil agregat halus seberat 3000 gram yang sebelumnya sudah
dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu
110±5°C.
2) Masukkan agregat ke dalam satu set ayakan agregat dengan
ukuran lubang ayakan yang paling besar berada paling atas
berturut-turut hingga ayakan kecil berada paling bawah.
3) Getarkan ayakan dengan vibrator selama 15 menit.
4) Timbang agregat yang tertinggal pada setiap ayakan, lalu catat
nilai berat agregat yang tertinggal pada ayakan.
5) Pastikan total berat agregat pada masing-masing ayakan harus
kembali lagi kurang lebih seberat 3000 gram.
b. Berat jenis dan penyerapan agregat kasar
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 1969-2016.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut.
1) Saring agregat dengan ukuran ayakan yang direncanakan.
2) Bersihkan benda uji untuk menghilangkan kotoran dengan cara
dicuci.
3) Keringkan agregat di dalam oven selama 24 jam dengan suhu
110±5°C.
4) Keluarkan agregat dari oven dan diamkan pada suhu ruangan
selama 1 jam kemudian ditimbang.
5) Sesuaikan beratnya dengan ketentuan yang ada di SNI
berdasarkan ukuran maksimum agregatnya.
28
6) Rendam agregat di dalam air pada suhu ruangan selama 24±4
jam.
7) Keluarkan dari air lalu lap dengan handuk sampai air pada
permukaan menghilang dengan cara diguling-gulingkan.
8) Timbang agregat kering permukaan jenuh tersebut.
9) Masukkan agregat ke dalam keranjang kemudian goncangkan
untuk mengeluarkan udara yang terperangkap dan tentukan
beratnya di dalam air.
c. Kadar air
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 1971-2011.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut:
1) Ambil agregat kasar dengan berat sesuai dengan ukuran
maksimum agregat berdasarkan acuan dari SNI.
2) Masukkan agregat tersebut ke dalam oven selama 24 jam
dengan suhu 110±5°C.
3) Keluarkan agregat dari oven, kemudian timbang kembali
agregat tersebut.
d. Berat isi
Pelaksanaan pengujian ini berdasarkan acuan dari SNI 4804-1998.
Adapun tahapan pelaksanaan pengujiannya adalah sebagai berikut.
1) Siapkan cetakan beton silinder dengan diameter 15 cm dan
tinggi 30 cm, kemudian hitung volume dan timbang berat
cetakan kosong tersebut.
29
2) Untuk kondisi padat, isi cetakan tersebut dengan agregat kasar
dalam kondisi jenuh kering muka, tiap 1/3 volume lapisan
ditusuk sebanyak 25 kali dengan batang besi hingga penuh, lalu
timbang beratnya.
3) Untuk kondisi lepas, isi cetakan tersebut dengan agregat kasar
dalam kondisi jenuh kering muka hingga penuh tanpa ditusuk
dengan batang penusuk, lalu timbang beratnya.
2.5 Percetakan Benda UJi
Tahapan-tahapan pencetakan benda uji adalah sebagai berikut:
1. Siapkan material benda uji seperti semen, fly ash, agregat kasar,
agregat halus, dan air)
2. Siapkan alat-alat yang membantu pembetonan seperti loyang,
timbangan, sekop, cetakan kubus, mesin mixer, dan lain-lain)
3. Masukkan agregat kasar dan halus ke dalam mesin mixer berdasarkan
proporsi
4. Masukkan juga semen dan fly ash kemudian berikan air secara
perlahan sesuai proporsi
5. Putar mesin mixer sampai campuran beton homogen
6. Keluarkan campuran beton tersebut dari mixer kemudian lakukan
pengujian slump
30
7. Sebelum dimasukkan ke dalam cetakan, oleskan terlebih dahulu
bagian permukaan dalam cetakan dengan menggunakan oli
8. Setelah dirasa sesuai dengan slump rencana, isilah cetakan dengan
adukan beton dalam 3 lapis, tiap-tiap lapis dipadatkan dengan 25 x
tusukan secara merata, pada saat melakukan pemadatan lapisan
pertama, tongkat pemadat tidak boleh mengenai dasar cetakan, pada
saat pemadatan lapisan kedua serta ketiga tongkat pemadat boleh
masuk kira-kira 25,4 mm kedalam lapisan dibawahnya.
9. Pukul-pukul bagian luar cetakan dengan palu karet untuk
menghilangkan rongga udara yang terperangkap di dalam cetakan
10. Lakukan tahap kedelapan dan kesembilan hingga campuran beton
memenuhi cetakan.
11. Berikan keterangan benda uji pada cetakan tersebut Diamkan hingga
24 jam, kemudian buka cetakan tersebut
2.6 Perawatan Benda UJi
Perawatan benda uji merupakan kegiatan untuk merawat beton dari
beberapa kondisi yang mengurangi kekuatan beton. Pada penelitian kali ini
perawatan benda uji dilakukan dengan perendaman benda uji, Perendaman ini
berfungsi untuk mengurangi dampak panas hidrasi beton yang menyebabkan
keretakan sehingga mengurangi kekuatan beton.
31
2.7 Kuat Tekan Beton
Kuat tekan beton adalah beban per satuan luas, yang menyebabkan benda
uji hancur apabila dibebani gaya tekan yang dihasilkan mesin uji tekan beton (SNI
03-1974-1990). Kuat tekan beton dapat di hitung menggunakan rumus sebagai
berikut:
𝑷
Kuat tekan beton = (kg/cm2 )……………………….………..……………..(2.1)
𝑨
Keterangan :
P = Beban maksimum (kg)
A = Luas Penampang (cm2 )
Tahapan-tahapan pengujian kuat tekan beton adalah sebagai berikut:
1. Setelah beton direndam, keluarkan benda uji dari bak air kemudian
lap permukaannya sampai kering.
2. Timbang benda uji tersebut dan catat hasilnya.
3. Letakkan benda uji ke dalam compression testing machine.
4. Hidupkan mesinnya hingga dial pembacaan mesin berhenti atau
benda uji sudah hancur.
5. Catat nilai kuat tekan maksimumnya.
Menurut SNI 03-3403-1994, jumlah benda uji harus lebih dari 3 buah agar
didapatkan data nilai kuat tekan yang bervariasi sehingga setelah dievaluasi,
ditemukan kisaran nilai kuat tekan yang lebih tepat. Untuk mengevaluasi nilai
32
kuat tekan beton digunakan metode perhitungan standar deviasi (σ). Dengan
metode standar deviasi akan didapatkan rentang nilai maksimum dan minimum
dari rata-rata suatu kelompok nilai, sehingga didapatkan nilai yang cukup tepat
untuk menyatakan nilai kuat tekan beton. Dari metode tersebut didapatkan nilai
yang memasuki rentang nilai standar deviasi dan ada juga yang tidak memasuki
rentang nilai standar deviasi. Apabila ditemukan jumlah nilai yang memasuki
rentang nilai standar deviasi kurang dari 3 buah, maka rentang nilai standar
deviasinya dinaikkan sampai jumlah nilai yang memasuki rentang nilai standar
deviasi berjumlah 3 buah. Adapun rumus untuk menghitung standar deviasi
adalah sebagai berikut:
∑(𝑥−𝜇)2
𝜎= ...................................................................................(2.2)
𝑛−1
Keterangan :
σ = Standar deviasi
x = Suatu data darikelompok nilai
µ = Rata-rata suatu kelompok nilai
n = Banyaknya data dari kelompok nilai
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Pada Penelitian kali ini penulis menggunakan metode quantitatif dimana
data cukup lengkap dan jelas.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis tempuh dalam penelitian ini
adalah dengan cara mengumpulkan data primer, data sekunder, observasi,
literature-literatur/buku referensi dan studi experimental.
3.2.1 Data Primer
Data primer adalah data yang di peroleh langsung dengan cara melakukan
wawancara terhadap pihak-pihak yang terkait ( pihak PLTU Banten 2 Labuan dan
Pihak Dinas Perumahan Dan Permukiman Rakyat).
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data tertulis yang berupa : peta lokasi penelitian,
hasil pengujian fly ash PLTU Banten 2 Labuan, SNI tentang beton dan lain-lain.
33
34
3.2.3 Observai
Observasi yaitu data yang di perolah penulis secara langsung di lapangan,
terkait data rumah instan sederhana sehat (RISHA).
3.2.4 Literatur/buku referensi
Data yang di peroleh penulis yang berasal dari literature-literatur atau
buku buku referensi, guna mendapatkan dukungan teori-teori, serta berbagai
materi rujukan melalui textbook ataupun SNI (Standar Nasional Indonesia).
3.3 Studi Experimental
Penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan SNI sebagai
acuan pencampuran, pengujian dan pembuatan beton, penelitian ini meliputi
percobaan penambahan fly ash pada campuran beton sebagai pengganti semen
dengan variasi 12,5%, 20% dan 30%. Jumlah benda uji total adalah 15 buah
silinder beton dengan ukuran 15 cm x 15 cm x15 cm dengan pembagian 5 benda
uji untuk setiap variasi penambahan fly ash tersebut.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan pengujian yang dilakukan guna
mengetahui pengaruh fly ash pada kuat tekan beton adalah sebagai berikut :
1. Pengujian agregat kasar, meliputi analisa saringan, berat isi, kadar air,
berat jenis dan penyerapan.
2. Pengujian agregat halus, meliputi analisa saringan, berat isi, kadar air,
berat jenis dan penyerapan.
3. Pengujian slump test pada adonan beton sebagai acuan tingkat
workability.
35
4. Pembuatan benda uji menggunakan cetakan silinder dengan diameter
15 cm x 15cm x 15cm.
5. Perawatan benda uji dengan cara direndam ke dalam air (curing).
6. Pengujian kuat tekan beton pada umur 28 hari.
3.3.1 Material benda uji
Dalam penelitian ini digunakan bahan material berupa semen Portland
tipe I, air, agregat kasar (kerikil), halus (pasir) dan abu terbang (fly ash). Rincian
bahan campuran beton pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Semen Portland tipe I,
2. Agregat kasar berasal dibeli dari toko material daerah Serang Banten,
3. Agregat halus berasal dari tambang pasir Jalupang, Lebak Banten,
4. Air yang digunakan adalah air berasal dari Laboratorium UPTD
pengujian bahan, konstuksi bangunan dan informasi konsturksi , Dinas
Pekrjaan Umum Dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten,
5. Abu terbang (fly ash) berasal dari PLTU Banten 2 Labuan.
3.3.2 Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan pada penelitian kali ini adalah:
1. Set ayakan/saringan
2. Oven
3. Timbangan
4. Mesin Mixer
5. Cetakan kubus berukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm
36
6. Kerucut Abrams
7. Bak air
8. Compression Testing Machine (CTM)
9. Alat-alat pembantu seperti sekop, piknometer, penggaris, dan lain-lain
3.3.3 Keterangan Benda Uji
Pada penelitian ini terdapat Tiga variasi benda uji yang berbeda dengan
jumlah masing-masing variasi yang sama berdasarkan besarnya persentase fly ash
terhadap banyaknya volume semen yang digunakan ke dalam campuran beton.
Variasi persentase fly ash yang digunakan untuk campuran beton adalah 12,5%,
20% dan 30%. Adapun uraian keterangan dari masing-masing variasi benda uji
dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut:
Tabel 3. 1 Sample Benda Uji
Penggantian Fly Jumlah
Umur Beton (hari) Kode Benda Uji Ash Terhadap Benda
Berat Semen uji
FA 1 - 12,5%
FA 2 - 12,5%
FA 3 - 12,5% 12,5% 5
FA 4 - 12,5%
FA 5 - 12,5%
FA 6 - 20%
FA 7 - 20%
28 FA 8 - 20% 20% 5
FA 9 - 20%
FA 10 - 20%
37
Lanjutan Tabel 3. 2 Sample Benda Uji
Penggantian Fly Jumlah
Umur Beton (hari) Kode Benda Uji Ash Terhadap Benda
Berat Semen uji
FA 11 - 30%
FA 12 - 30%
28 FA 13 - 30% 30% 5
FA 14 - 30%
FA 15 - 30%
Jumlah 15
3.4 Alur Penelitian
Alur penelitian dapat diuraikan melalui Gambar 3.1 yang bisa di lihat pada
halaman berikutnya.
38
Mulai
Latar belakang
PLTU Banten 2 Labuan memproduksi 350 ton limbah abu batu bara perhari
dan belum di manfaatkan secara maksimal dan harga semen setiap tahunnya
mengalami kenaikan, limbah abu batu bara dapat di manfaatkan untuk
campuran pengganti semen pada struktur rumah RISHA
Tujuan
Untuk mengetahui berapa kuat tekan beton akibat penambahan abu terbang
(fly ash) 12,5%, 20% , 30% dari berat total semen pada umur beton 28 hari.
Studi literatur
fly ash sebagai bahan campuran pada beton,
beton K-300, konstruksi struktur RISHA
Pengumpulan data
Data primer Data sekunder
wawancara Peta lokasi
Hasil pengujian fly ash
SNI dan ketentuan lainnya
Studi Experimen
Perencanaan campuran, percetakan, perawatan, dan pengujian
KEP Tidak
Ya
Selesai
Sumber: Analisis penulis 2023
Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Alfiandinata, 2020. Pengaruh Penggunaan Fly Ash Sebagai Pengganti Sebagian
Semen Terhadap Sifat Mekanik Beton. Skripsi Program Studi Teknik Sipil,
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram.
Anonim, “ rumah instan sederhana sehat” diakes pada 20 januari 2023 melalui
[Link]
sehat#:~:text=RISHA%20(RUMAH%20INSTAN%20SEDERHANA%20SE
HAT)%20adalah%20solusi%20berbasis%20teknologi%20mutakhir,gemp
a%20yang%20bergerak%20secara%20horizontal. ,
Esha Muhammady, 2022. Analisis Peningkatan Kuat Tekan Beton Terhadap
Umur Beton Dengan Menggunakan Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi
Parsial. Skripsi Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan Universitas Islam Indonesia.
Nugraha dan Antoni. 2007. Teknologi Beton. Penerbit Andi. Yogyakarta.
SNI 03-1968-1990. Metode Pengujian Analisis Saringan Agregat Halus dan
Kasar. Badan Standarisasi Nasional.
SNI 03-1974-1990. Uji Kuat Tekan Beton kubus. Badan Standarisasi Nasional.
SNI 03-4804-1998. 1998. Metode Pengujian Berat Isi Dan Rongga Udara Dalam
Agregat. Badan Standarisasi Nasional.
SNI 1969-2016. Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar. Badan
Standarisasi Nasional.
SNI 1970-2016. Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus.
Badan Standarisasi Nasional.
SNI 1971-2011. Cara Uji Kadar Air Total Agregat Dengan Pengeringan. Badan
Standarisasi Nasional.
SNI 1972-2008. 2008. Cara Uji Slump Beton. Badan Standarisasi Nasional.
SNI 4804-1998. Metode Pengujian Berat Isi Dan Rongga Udara Dalam Agregat.
Badan Standarisasi Nasional.
SNI 7656-2012. Tata Cara Pemilihan Campuran Untuk Beton Normal, Beton
Berat dan Beton Massa. Badan Standarisasi Nasional.
Tjokrodimuljo, Kardiyono., 1992, Teknologi Beton, Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik UGM.
39