Panduan PSMS untuk K3LH PAMA
Panduan PSMS untuk K3LH PAMA
PT. Pamapersada
Nusantara
Operational Training
Department
District KPC Sangatta
13:17:2913:17:29
PSMS ( PAMA Safety Management System )
6 7
8 9 10
11 12 13 14
15
Monitor dan
Seleksi dan Alat Pelindung Sistem Evaluasi Keselamatan di luar
Perlindungan
Penempatan Diri Lingkungan Kerja
Lingkungan
Standar Kode Warna ( Demarkasi ) STANDAR KODE WARNA PIPA & TANKI
Abu-abu : Daerah Areal Pekerjaan
Hijau Air Minum
Merah : Daerah bebas dari barang untuk pemadan api
Hijau-Kuning-Hijau
Hijau : Area aman untuk jalan
Air Tidakbisadiminum
Putih : Daerah Areal Pekerjaan
Kuning : Daerah tempat sampah dan barang bekas Coklat Oli
Orange : Daerah bebas dari barang untuk listrik
Coklat : Daerah penumpukan dan penyimpanan Udara Udara
Kuning-Hitam : Perubahan ketinggian
Merah - Putih : Daerah penyimpanan Apar Solar
Colat-Putih - Coklat
[Link] dalam keadaan darurat
Menjelaskan prosedur kesiapan tanggap darurat seluruh site PAMA. MPKD adalah dokumen
yang disusun sebagai petunjuk bagi karyawan dan manajemen sehingga bisa menghadapi
situasi darurat yang mungkin terjadi.
8. Pelatihan
Pelatihan adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, skill, dan
keterampilan agar sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan sesuai dengan pekerjaanya.
WAJIB DILALUI AWAS TIKUNGAN JALAN DILARANG PARKIR DILARANG HATI – HATI
KE KANAN MENDAHULUI JALAN SIMPANG TIGA
1. Aturan Umum
1 Dengan sengaja merusak rambu lalu lintas, peringatan san rambu lainnya di Lingkungan Perusahaan. SP1
2 Melanggar rambu lalu lintas atau rambu lainnya selain yang sudah diatur secara khusus. SP1
Menggunakan tools/peralatan ( powertool, sling/rantai, hook/shacle, stand, tangga/perancah,
3 peralatan listrik, alat las, hammer ) tidak sesuai standar PSMS elemen 10, serta tools / peralatan yang SP2
dimodifikasi atau buatan tersendiri yang belum disetujui.
Tidak memiliki surat ijin kerja (Work Permit ) untuk pekerjaan yang mewajibkannya (ijin kerja dengan
panas, ganguan panas, Bekerja di dekat atau diatas ait, Bekerja dengan listrik tegangan tinggi > 380
4 SP3
volt, Bekerja di dekat sumber radioaktif, bekerja di ketinggian lebih dari 5 meter, dan bekerja di
ruang terbatas ).
Merokok atau menyalakan api terbuka pada area fuel tank, gudang bahan peledak, area peledakan
5 aktif, kendaraan angkutan bahan bakar / peledak, gudang tabung gas dan gudang bahan kimia SP3
lainnya yang mudah meledak atau terbakar.
Melanggar SOP ( Standart Operating Procedure ) Blasting yaitu melanggar jarak aman evakuasi, lalai
dalam mengisolasi area batas aman peledakan, menembus blocker, melakukan / memerintahkan
6 PHK
orang untuk melakukan kegiatan blasting tanpa lisensi, lalai dalam melakukan pemeriksaan hasil
peledakan sehingga bahan peledak/detonator yang tidak meledak tertinggal di tanah.
2. Aturan Alat Pelindung Diri
Tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan peralatan keselamatan yang telah ditentukan kecuali
7 SP1
sudah diatur khusus.
Tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan peralatan keselamatan yang telah ditentukan saat
bekerja, jenis SPD tersebut itu yaitu : Jaket Pelampung pada saat di dekat atau diatas air, Full Body
8 SP3
Harness pada saat di ketinggian lebih dari 5 m, Dosimeter radiasi radioaktif bagi petugas proteksi
radiasi atau petugas radiasi.
3. Aturan Alat Pengangkatan & Penyanggaan Beban
Melanggar prosedur pengangkatan (lifting) dan penyanggan beban yaitu: tidak ada Rigger dalam
aktivitas pengangkatan menggunakan alat angkat yang tidak sesuai, tidak mengisolasi lokasi yang ada
9 SP1
aktivitas pengangkatan dan penyanggaan beban, menggunakan penyangga beban yang tidak sesuai
dengan SWL (Safe Working Load) nya.
4. Aturan Pengoperasian Peralatan
Tidak menjalankan prosedur P2H/pre-use check untuk unit sarana / alat produksi dan peralatan lain
10 dengan benar yang mengharuskan pelaksanaan P2H sebelum mengendarai/mengoperasikan SP1
unit/peralatan tersebut.
Menumpang / membawa penumpang di alat produksi dan alat support (kecuali dalam rangka
11 SP1
training, ground test, inspeksi, observasi, audit).
12 Menumpang / membawa penumpang melebihi kapasitas tempat duduk / seat belt. SP1
Tidak melaporkan ke atasan terhadap kosdisi fisiknya dalam keadaan fatique ( lelah / mengantuk )
13 dan tetap mengoperasikan peralatan bergerak bermotor sehingga berpotensi menyebabkan SP2
kecelakaan.
14 Menggunakan / mengoperasikan peralatan bergerak bermotor yang belum lulus komisioning. SP2
Menggunakan / mengoperasikan peralatan bergerak bermotor yang telah dinyatakan tidak layak
15 SP2
pakai (terpasang tanda "Tidak Aman").
16 Mendahului kendaraan lain tidak sesuai dengan prosedur. SP2
17 Melanggar jarak aman beriringan antar kendaraan. SP2
18 Melanggar prosedur mendekati alat produksi atau jarak aman parkir dengan alat produksi. SP2
Mengoperasikan / mengemudikan kendaraan bermotor bergerak dengan kecepatan melebihi 6 - 10
19 SP1
km/jam dari batas kecepatan maksimum yang telah ditentukan.
Mengoperasikan / mengemudikan kendaraan bermotor bergerak dengan kecepatan melebihi 11 -
20 SP2
20 km/jam dari batas kecepatan maksimum yang telah ditentukan.
Mengoperasikan / mengemudikan kendaraan bermotor bergerak dengan kecepatan melebihi 21 -
21 SP3
30 km/jam dari batas kecepatan maksimum yang telah ditentukan.
Mengoperasikan / mengemudikan kendaraan bermotor bergerak dengan kecepatan melebihi 31
22 PHK
km/jam dari batas kecepatan maksimum yang telah ditentukan.
Melanggar jarak aman dumping ke air/lumpur atau dumping ketinggian sesuai dengan peraturan
23 SP3
yang berlaku.
Menggunakan telepon genggam, menggunakan headset pada saat menggunakan kendaraan
24 SP3
bergerak bermotor
Mengoperasikan peralatan bergerak bermotor tanpa memiliki lisensi perusahaan yang sesuai
25 kecuali pada saat training yang disampingi oleh instruktur atau pekerja lain yang ditunjuk sebagai PHK
instruktur.
Memerintahkan bawahannya yang tidak memiliki lisensi untuk mengoperasikan peralatan bergerak
26 PHK
bermotor.
Mengoperasikan peralatan bergerak bermotor dalam keadaan fatique (lelah/ mengantuk) hingga
27 PHK
menyebabkan kecelakaan.
5. Aturan Lingkungan
28 Membuang limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) tidak pada tempatnya. SP1
Melakukan tindakan yang menyebabkan pencemaran lingkungan berdampak besar, yaitu : dengan
29 sengaja atau karena kelalaiannyamengakibatkan dilampauinya batu mutu lingkungan atau baku SP3
mutu kerusakan lingkungan hidup.
6. Aturan Insiden & Pelaporan
Tidak melaporkan insiden yang dialaminya atau insiden yang terjadi di areal tanggungjawabnya
30 SP1
dengan segera setelah terjadi insiden, selambat-lambatnya akhir shift setelah insiden terjadi.
Memindahkan / merubah / menghilangkan barang bukti di tempat kejadian insiden kecuali seijin
31 SP1
Project Manager.
7. Aturan Pengisolasian (Log Out & Tag Out Prosedur)
32 Tidak memasang label Danger Tag dan Lock Out sesuai prosedur. SP2
Melepas label Danger Tag dan Lock Out orang lain tanpa mengikuti prosedur atau mengabaikan
33 SP3
Danger Tag dan Lock Out.
Melepas label Danger Tag dan Lock Out orang lain tanpa mengikuti prosedur atau mengabaikan
34 PHK
Danger Tag dan Lock Out sehingga mengakibatkan kecelakaan.
IBPR adalah proses identifikasi semua bahaya yang ada kemudian menilai tingkat resiko,
selanjutnya melakukan pengelolaan dan pengendalian untuk mengurangi resiko bahaya sampai
pada level yang dapat diterima
Apa yang dimaksud dengan Bahaya ?
Bahaya adalah Benda, Bahan (zat), Aktivitas, atau Kondisi yang potensial menyebabkan cedera,
kerusakan, atau kerugian dalam derajat apapun.
Apa sajakah contoh-contoh dari Bahaya ?
- Benda: berupa benda fisik, seperti: meja, kursi, truk, ban, perkakas
- Bahan: Berupa zat kimia, seperti: diesel, minyak, debu, gas, dll
- Aktivitas: Berupa tindakan, kegiatan, atau tugas-tugas yang dilakukan oleh karyawan, seperti:
tidak memakai APD dan tidakan berbahaya lainnya.
- Kondisi: Berupa kondisi berbahaya seperti: Jalan yang licin dan kondisi berbahaya lainnya.
Apakah pengertian dari Resiko ?
Resiko: “Kesempatan atau Kemungkinan bertemunya satu Bahaya atau lebih yang dapat
mengakibatkan kerugian atau kemungkinan mengakibatkan kerugian dalam derajat apapun
(termasuk Near Miss, Kerusakan Harta benda atau Kerugian Prematur).
Menghitung Potensi Resiko Formula: Potensi Resiko = Probability x Severity x Frekuensi
Protokol pengendalian ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk keselamatan bagi para
operator dan pengawas dilapangan yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung
untuk mencegah terjadi insiden yang berakibat fatal.
Aktivitas yang termasuk kedalam HRCP :
1. Pengoperasian Dump Truck dan Trailer 6. Isolasi Energi
2. Pengoperasian Light Vehicle (LV) 7. Bekerja dengan Listrik
3. Aktivitas Peledakan 8. Bekerja di ruang terbatas
4. Bekerja di Ketinggian 9. Pengoperasian alat angkat
5. Bekerja di dekat air 10. Bekerja di dekat tebing
1. Pengoperasian Dump Truck dan Trailer
Bahaya - Bahaya Pengoperasian Dump Truck & Traler:
• Berkecepatan tinggi pada jalan angkut
• Mengoperasikan alat tanpa sabuk pengaman
• Mengoperasikan Dump Truck dalam kondisi ngantuk, lelah, dan pengaruh alkohol atau obat.
• Mengoperasikan unit tanpa wewenang (SIMPER)
• Beroperasi dijalan yang licin
• Menyalip unit lain tidak sesuai dengan prosedur, dll.
Prosedur Operasi
Mendahului Kendaraan
I. Tidak Boleh Mendahului :
Bila dalam jarak 100 meter atau kurang, dari tikungan, persimpangan jalan, jalan
tanjakan, dan daerah perkantoran.
Bila dalam jarak 150 meter dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang datang.
Mendahului dari sebelah kiri unit yang didahului.
Jika kendaraan yang akan didahului adalah HD belum memberi tanda overtaking.
II. Boleh Mendahului :
Bila kendaraan yang lebih besar memberi jalan kepada yang lebih kecil untuk
mendahului, dengan catatan kecepatan tidak melebihi yang diijinkan pada batas
kecepatan.
Grader, Compactor, Crane bila sedang melakukan perawatan jalan / travelling.
Operator telah melakukan komunikasi dua arah menggunakan radio Jika yang akan di
dahuluI adalah unit HD telah membeikan tanda lampu hijau.
Kerusakan Unit di Jalan
Mesin harus dimatikan.
Menghidupkan lampu bahaya/hazard lamp.
Memasang traffic cone/segitiga 25 meter di depan dan 25 meter dibelakang.
Memfungsikan rem parkir/parking brake.
Pemasangan ganjal baik arah maju maupun mundur dengan ganjal yang standard.
Memberitahukan kerusakkan ke CCR atau GL setempat.
Penarikan & Penderekan Unit
Jarak antara kendaraan penarik dan kendaraan/peralatan yang ditarik, harus minimum
1,8m dan maksimum 3,5m.
Hanya ‘Tow Bar’ (atau ‘Sling Wire Rope’) harus digunakan untuk menarik.
Kecepatan maksimum untuk penderekan kendaraan berat atau peralatan besar ialah
30 km/jam dan untuk kendaraan kecil 40 km/jam.
Tidak boleh ada penumpang pada kendaraan yang sedang ditarik /diderek.
Di jalan hauling, harus ada ‘kendaraan pengiring’ di depan dan belakang ‘group
penderekan’, untuk memperingatkan lalulintas dari depan & lebih cepat.
Lampu-lampu dari kendaraan harus dinyalakan.
Dumping di Ketinggian dan di Dekat Air
Highfive Dumping atau dumping di ketinggian adalah apabila penimbunan material
dumping melebihi 12 m.
Tersedia patok / tongkat setinggi 6m atau safety berm yang berfungsi sebagai batas
dumping dengan jarak 7,5 m dari crest. Ditempatkan satu orang spotter yang
mengarahkan dump truck saat dumping.
Inspeksi dilakukan oleh GL setiap 1 jam sekali untuk memastikan ada atau tidaknya
potensi longsor atau keretakan pada dumping point.
Saat dump truck mundur untuk dumping muatan, pastikan posisi dump truck mundur
tidak melewati batas dumping / patok.
Ketika dump truck maneuver harus searah jarum jam agar dapat mengamati kondisi
dumping area dan bila terjadi retakan harap segera lapor GL.
Penempatan muatan dumping di dumping area harus dilakukan melebar sepanjang
crest yaitu mulai dari arah kanan ke kiri dan ketika front loading sudah penuh makan
penempatan material dimulai dari arah kanan ke kiri.
Aktifivitas dozing di dumping area dengan menggunakan dozer, tegak lurus terhadap
crest timbunan dan sejajar posisi dump truck saat dumping
Aktivitas dumping di malam hari harus dilengkapi dengan penerangan yang cukup (50
lux).
Pengendalian Kelelahan (Fatigue)
Fatigue adalah menurunnya daya konsentrasi yang bias diakibatkan karena faktor
kelelahan, gangguan emosional, kondisi badan yang tidak fit, kurang istirahat, dll.
Cara pengendalian fatigue:
Medical Check dan Body mapping pada operator saat istirahat secara bergilir dan pada
jam ngantuk.
Melaksanakan kegiatan Safety Patrol pada malam hari diarea Tambang dan Hauling
serta random pengecekan Pit operator dilakukan oleh Pengawas
Membuat form yang berisi kesanggupan operator Pit saat membawa unit dan
dilaporkan kepada pengawas pada saat awal shift kerja.
Pengawas harus memastikan bawahannya dalam kondisi siap bekerja dengan
mengontrol kesiapan dan kebugaran pekerja melalui control awal shift dan pada saat
beroperasi di jam-jam kritis yang dapat menyebabkan kelelahan.
Parkir Unit
Unit Sarana (Light Vehicle) vs Alat-alat Berat (A2B) Jarak parkir minimal 30 m
Alat-alat Berat (A2B) vs Alat-alat Berat (A2B):
Jarak dari samping : minimal 2 meter
Jarak dari belakang : minimal lebar 1x unit
Jarak dari depan : minimal 5 meter
Prosedur Loading dan Dumping
A. Isi Muatan (Loading)
• Saat memasuki area loading, amati seluruh kegiatan yang sedang berlangsung
• Perlambat laju kendaraan dan beri signal kepada operator loading agar mengetahui
keberadaan anda
• Jarak aman dengan unit lainnya, dan usahakan harus dapat terlihat oleh operator
alat loading
• Jika truck didapan anda sudah selesai mengisi dan sudah bergerak maju, mulailah
bersiap untuk maju ke titik pemuatan
• Sebelum anda manuver mundur, periksalah keadaan di belakang anda serta
keberadaan alat loading dibelakang anda melalui kaca spion, dan mundur dengan
hati-hati.
• Usahakan truck berhenti dalam keadaan rata dan stabil
• Jangan bergerak maju sebelum ada aba-aba signal klakson dari operator alat loading
B. Tumpahkan Muatan (Unloading)
• Saat memasuki disposal operator harus mengamati situasi disposal, beri signal saat
memasuki arel agar keberadaan anda dapat diketahui oleh unit lainnya.
• Penumpahan (dumping) harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati, operator
harus selalu mengamati kaca spion
• Jika muatan terhalang oleh tumpukan, majukan truck secara perlahan lurus
kedepan, jika muatan sudah ditumpahkan semua, berhenti dan turunkan dump
body.
• Pada saat dumping, naikkan dump body untuk menumpahkan muatan secukupnya.
Jika muatan sudah ditumpahkan, turunkan dump body dalam keadaan unit berhenti
• Jangan melewati bundwall, ini berfungsi sebagai acuan bagi operator. Bukan ganjal
untuk berhenti.
2. Pengoperasian Light Vehicle
Bahaya-bahaya pada saat pengoperasian light vehicle
Mengoperasikan LV tanpa sabuk pengaman
Mengemudi dalam keadaan lelah atau mengantuk
Berkecepatan tinggi pada jalan angkut
Mengoperasikan LV tanpa wewenang (SIMPER)
Jarak beriringan yang terlalu dekat
Menyalip kendaraan lain atau unit produksi yang tidak sesuai prosedur
Mengemudi dalam keadaan mabuk (pengaruh alcohol ataupun obat)
Standar, Prosedur Operasi dan Penegakan Disiplin
Sabuk pengaman : Semua tempat duduk depan harus dilengkapi dengan sabuk pengaman
yang disetujui semua orang yang duduk di kursi depan dari LV termasuk bis harus selalu
memakai sabuk pengaman mereka (mengurangi cedera).
Lampu : Lampu dari semua kendaraan harus terlindungi (tertutup) dan harus mempunyai
lampu rotary memancar di atap
Seperangkat Buggy Whipe : Wajib memakai seperangkat buggy whipe yang terdiri dari
tiang dengan tinggi 4m dan bendera berbentuk segitiga sama sisi ukuran 50 x 50 x 50 cm.
Buggy Whipe : LV yang memasuki daerah pit tambang harus four wheel drive (4x4), harus
dilengkapi dengan bendera yang cocok (kecuali bus besar) dan harus mempunyai lampu
rotary memancar di atap.
Pemadam api : Mempunyai setidaknya satu pemadam api tipe DCP 9kg yang diletakan
dekat pengemudi.
3. Aktivitas Peledakan
Semua area dan proses dari kegiatan peledakan harus terlebih dahulu dilakukan penilaian risiko
sebelum izin untuk melakukan aktifitas peledakan diberikan, minimum untuk menetapkan hal-
hal berikut ini:
a. Jarak aman evakuasi unit dan manusia.
b. Lokasi area blasting.
c. Penempatan blast guard di titik-titik evakuasi aman.
d. Perlengkapan keselamatan minimal yang harus dipergunakan.
e. Semua aspek pengoperasian yang aman lainnyatermasuk
Proses Evakuasi Orang dan Peralatan
a. Mengosongkan blast area 10 menit menjelang peledakan, dan membunyikan sirine 1 kali
panjang selama 2 menit. Posisi tidak di depan bidang bebas (free face), dan jarak aman untuk
berlindung adalah :
- Untuk orang/man power : radius 500 m.
- Untuk peralatan tambang dengan penggerak rantai (track type) : radius 300 m dari lokasi
peledakan.
b. Mengecek ulang 5 menit menjelang peledakan/menanyakan keadaan (melalui radio) kepada
penanggung jawab area dan petugas pemblokir jalan untuk memastikan apakah keadaan
sudah aman atau belum.
c. Membunyikan sirene pendek sebanyak 3 kali sebagai tanda peledakan dapat dilakukan.
d. Melakukan blasting (peledakan).
4. Bekerja di ketinggian
Prosedur operasi bekerja di ketinggian
Setiap pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan ketinggian diatas 5 meter harus mengajukan
surat izin bekerja aman yang ditanda tangani oleh kepala departemen dan pengawas terkait
serta diketahui oleh Petugas K3LH.
Persyaratan Bekerja di Ketinggian :
1. Mendapatkan ijin kerja dari atasan 3. Menggunakan safety harness
2. Induksi she department 4. Bekerja sesuai tsp bekerja diketinggian
5. Bekerja di dekat air
Bekerja di dekat air yang dapat menimbulkan bahaya:
1. Mengoperasikan Pompa Ponton. 5. Pemberian Kapur (Aktifitas Settling
2. Maintenance Pompa Ponton. Ponds).
3. Pengambilan Sampel Air Sump. 6. Dumping Overburden Di Sump
4. Pemasangan Pipa Di Sump.
Syarat :
1. Mampu memilih, memeriksa dan menggunakan, memelihara semua peralatan yang terkait
dengan keselamatan bekerja di dekat air.
2. Memahami prosedur bekerja di dekat air.
3. Memahami prosedur kerja yang akan digunakan.
4. Mempunyai kemampuan berenang.
5. Mempunyai lisensi khusus bekerja di dekat air.
Prosedur operasi pekerjaan di dekat air
a. Mempunyai kemampuan/kompetensi untuk bekerja di dekat atau di atas air.
b. Wajib menggunakan pelampung yang standar.
c. Apabila pekerjaan dilakukan didekat atau diatas air dengan kedalaman lebih dari 1 meter
harus menggunakan surat izin bekerja didekat air.
6. Isolasi Energi
Bahaya-bahaya isolasi energi
1. Memasang isolasi energi pada peralatan bergerak dengan tidak benar.
2. Tidak melakukan isolasi energi pada peralatan listrik yang sedang rusak atau sedang
diperbaiki.
3. Tidak melakukan isolasi energi pada maintank.
Contoh pekerjaan yang memerlukan isolasi energi
1. Pekerjaan repair/ maintenance/ service mesin, equipment atau sistem yang mempunyai
potensi orang cedera, kerusakan equipment.
2. Pekerja menempatkan anggota badannya dalam daerah atau pada mesin atau sebagian
peralatan dimana pekerjaan dilangsungkan.
3. Saat pengisian angin pada tyre.
7. Bekerja dengan Listrik
Langkah-langkah Pengisolasian Listrik
1. Mengidentifikasi Sumber Energi 4. Menguji isolasi.
Berbahaya. 5. Menerapkan gembok dan tag yang
2. Menginformasikan pihak terkait. sesuai.
3. Mengisolasi sumber energi yang 6. Memulai pekerjaan.
berbahaya dan pemakaian kunci 7. Menyelesaikan pekerjaan.
utama. 8. Memeriksa daerah kerja.
8. Bekerja di ruang terbatas
Bahaya-bahaya bekerja di ruang terbatas
a. Atmosfir yang berbahaya :
Kekurangan/kelebihan kadar oksigen
Gas beracun
Gas yang mudah terbakar/mudah meledak
b. Bahaya fisik :
Kekurangan atau kelebihan Kadar Arus listrik
Oksigen Permukaan yang licin
Saat masuk dan saat keluar Terbatas penglihatan
Mesin dan peralatan yang terdapat di Kebisingan dan getaran
dalam ruangan Suhu yang abnormal
9. Pengoperasian alat angkat
Bahaya-bahaya pada saat aktifitas pengangkatan dan penyanggaan beban
1. Mengoperasikan alat angkat yang rusak.
2. Menggunakan penyangga beban yang rusak.
3. Menggunakan penyangga beban yang tidak sesuai dengan SWLnya.
4. Menggunakan sling yang rusak.
5. Menggunakan alat angkat yang tidak sesuai.
6. Tidak mengisolasi lokasi yang terdapat aktifitas pengangkatan dan penyanggaan beban.
7. Mengoperasikan alat angkat tanpa wewenang (SIMPER).
8. Tidak ada Rigger/suppoter dalam aktifitas pengangkatan.
Tanda ijin kerja peralatan angkat
Kategori 1:- ‘Tanda Hijau’ berarti ‘Benda’ tersebut (yang digantungi) dalam ‘Kondisi Aman dan
Bisa Dipakai’.
Kategori 2:- ‘Tanda Merah’ berarti ‘Benda’ tersebut (yang digantungi) tidak dalam ‘Kondisi Aman
dan Bisa Dipakai’ sehingga tidak boleh digunakan. Benda yang telah diberi ‘Tanda Merah’ harus
disingkirkan segera dan diperbaiki.
10. Bekerja di dekat tebing
Bahaya-bahaya bekerja di dekat tebing :
a. Loading overburden di kaki slope j. Pekerjaan pemasangan pipa melewati
b. Loading batu bara di kaki slope tebing
c. Pembuatan bench dinding tambang k. Pemasangan patok oleh tim survey
d. Pengambilan data topografi oleh tim
survey
e. Pengecekan elevasi dinding tambang
oleh tim survey
f. Pembersihan lumpur pada dinding
g. Pekerjaan dozer di samping dinding
tambang
h. Pembuatan drainase di samping
dinding tambang
i. Kegiatan ripping oleh dozer
Persyaratan Bekerja di dekat tebing :
1. Telah mengikuti pelatihan dasar slope stability.
2. Mampu memilih, memeriksa dan menggunakan, memelihara semua peralatan yang terkait
dengan keselamatan bekerja di dekat tebing.
3. Memahami prosedur bekerja di dekat tebing.
4. Memahami prosedur kerja yang akan digunakan.
5. Tidak menderita phobia diketinggian.
6. Memenuhi Standar Tes Kesehatan PT. Pamapersada Nusantara.
Prosedur Pengoperasian Buldozer
Pada saat buldozer melakukan ripping agar tidak tertimpa longsoran/kerusakan unit maka
diharuskan :
a. Saat bekerja di dekat tebing/slope, periksa tempat kerja, perhatikan kestabilan lereng,
jauhi tebing/slope minimum adalah 20 meter.
b. Jangan me-ripping sejajar tebing/slope karena akan merusak kestabilan.
c. Usahakan me-ripping secara menurun agar terbantu dengan berat unit.
d. Unit harus dipertahankan bergerak lurus, jangan berbelok/ mundur saat ripper tertanam
di dalam tanah.
e. Gunakan gigi satu waktu me-ripping.
f. Jangan memaksakan unit, ubah posisi ripping dari titik lain/atur ke dalam ripper, jika unit
menjadi slip.
Prosedur Pengoperasian Excavator
Standar pengoperasian excavator pada saat digging dan excavating di dekat tebing adalah :
a. Sebelum memulai operasi pemuatan/penumpahan, pelajari dulu material yang akan
dimuat, kondisi lokasi kerja dan pengaturan lalu lintas di point loading, perhatikan kabel
listrik udara atau saluran bawah tanah.
b. Usahakan point loading selalu bersih, stabil, rata dan bebas material penghalang,
bongkahan batu besar atau lantai bergelombang.
c. Ikuti petunjuk pengoperasian alat dengan seksama.
d. Selama beroperasi, sprocket diusahakan selalu di belakang menjauhi dinding galian. Serta
hindari bekerja di dekat safety berm atau high wall (jaga jarak aman dengan slope).
e. Jangan bekerja melewati safety berm atau melangkahinya.
f. Jangan bekerja membelakangi highwall atau mundur ke arah tebing.
g. Jangan menggali bagian bawah tebing yang tinggi (undercutting) atau membiarkan ada
batuan/bongkahan yang menggantung tidak stabil.
EMERGENCY RESPON
Situasi darurat adalah suatu kejadian atau peristiwa yang mengancam seseorang atau banyak
nyawa manusia atau menyebabkan kerugian besar karena kerusakan harta benda atau lingkungan.
Saluran panggilan darurat :
Radio truking system chanel 1A, untuk daerah Swarga Bara dan Operasional tambang, atau rescue
PAMA KPC 0549523000 dan untuk PAMA Sentul 0811580911.
Prosedur panggilan darurat :
1. Mayday 3x..
2. Identitas diri
3. Lokasi kejadian / peristiwa
4. Jenis kejadian
5. Jumlah dan kondisi korban
6. Bantuan atau pertolongan yang dibutuhkan
Hal yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran didalam unit :
1. Bersikap tenang, jangan panik
2. Hentikan unit, parkir di tempat yang aman
3. Netralkan transmisi untuk DT atau attachment untuk A2B.
4. Aktifkan parking brake untuk DT, dan Lock lever untuk A2B.
5. Periksa kondisi unit, jika terjadi kebakaran di sekitar engine tekan fire suppression.
6. Jika kebakaran di belakang unit dan api kecil, gunakan APAR untuk memadamkannya.
7. Apabila tidak sanggup untuk memadamkannya, langsung meminta bantuan pertolongan dan
segera lapor CCR atau GL setempat.
Prinsip dasar pencegahan kebakaran adalah mengontrol atau mengisolasi sumber bahan bakar dan
panas sehingga tidak terjadi pembakaran
BASIC MACHINE
Engine : Suatu alat yang menghasilkan tenaga melalui suatu proses tertentu, dimana proses thermis
dirubah menjadi tenaga mekanis
Machine : Suatu unit secara keseluruhan yang mencakup engine sampai power train.
Klasifikasi Engine:
2 x Putaran Crankshaft
4 x Langkah Piston
1 x Pembakaran
1. Langkah Hisap (Intake) : Piston dari TMA ke TMB, Intake valve terbuka, Exhaust valve tertutup,
Udara masuk kedalam silinder.
2. Langkah Kompresi : Piston dari TMB ke TMA, Intake valve tertutup, Exhaust valve tertutup,
Tekanan naik 30-40 kg/cm2 , Temperatur 300-4000 C.
3. Langkah Kerja/Tenaga : Piston dari TMA ke TMB, Fuel dikabutkan oleh nozle, Udara tebakar dengan
Fuel, Intake valve tertutup, Exhaust valve tertutup, Tekanan naik 60 - 80 kg/cm2, Temperatur 600-
8000 C.
4. Langkah Buang (Exhaust) : Piston dari TMB ke TMA, Intake valve tertutup, Exhaust valve terbuka,
Sisa gas pembakaran keluar.
Engine System :
Air System / Sistem Udara
Lubrication System / Sistem Pelumasan
Fuel System / Sistem Bahan Bakar
FIP Fuel System
Boost pressure sensor Mendeteksi tekanan di turbocharger (intake pressure) dan memasukkan signal
analog ke controller. Di pasang di intake manifold
Boost temperature sensor Mendeteksi temperatur di turbocharger (intake pressure) dan memasukkan
signal analog ke controller. Di pasang di intake manifold
HPI system terdiri dari: Fuel pump assembly, Control valve assembly dan Injector assembly.
Timing rail actuator valve : Fuel untuk mengatur langkah plunger injector (5E), dengan cara mengatur
ruangan dibagian atas plunger.
Fuel rail actuator valve : Untuk mengatur jumlah Fuel yang menuju ruangan di bagian ujung injector
selanjutnya di semprotkan/dikabutkan dengan tekanan tinggi ±1300 s/d 1500 kg/cm2, oleh injector (5E).
Radiator Tempat penampungan air pendingin engine dan sekaligus tempat pendinginan nya.
Mendinginkan air pendingin yang ada diradiator dengan menggunakan flow udara
Cooling Fan
yang dihisap.
Water Pump Untuk menyuplay air pendingin yang akan dialirkan kedalam sistem.
Corrosion Resistor Bahan anti karat untuk mencegah timbulnya karat dalam sistem pendinginan.
Menjaga suhu air pendingin agar tetap konstan berkisar 70o C s/d 90o C (mulai
Thermostat
membuka pada suhu 76,50C).
Alat sensor untuk mengukur suhu air pendingin engine yang akan dihubungkan ke
Thermostat Switch
sistem instrumen panel.
Tempat penampungan sisa bekas air pendingin yang kan dikirim kembali ke engine
Water Manifold
atau keradiator.
Electric System / Sistem Kelistrikan
Starting System
Charging System
Glow Plug/ Ribbon Komponen yang prinsip kerjanya mengubah energi listrik menjadi panas yang
Heater digunakan sebagai pemanasan awal
Glow Plug Indicator Sebagai indikator saat glowplug berfungsi/membara
INSTRUMENT PANEL
Oli
INSTRUMENT PANEL
A. Switch Item B. Control Lever, Pedal
1. Machine monitor selector switch 1 1. Dump Lever
2. Monitor monitor selector switch 2 2. Turn signal lever, lamp switch,
3. Fog Lamp switch dimmer switch
4. Yellow rotating lamp switch (jika 3. Steering wheel
dilengkapi) 4. Machine monitor switch
5. Slide lamp switch 5. Retarder Control Lever
6. Machine monitor bulb check switch 6. Cigarete lighter
7. Night lighting dimmer switch 7. Gear shift lever
8. Hazard lamp switch 8. Gear shift lever
9. Emergency steering switch 9. Parking brake switch
10. Power mode selector switch 10. Accelerator pedal
11. Ais low switch 11. Brake pedal
12. Exhaust brake switch (jika dilengkapi) 12. secondary brake pedal
13. ARSC switch 13. dump lever lock knob
14. ASR switch 14. ARSC set lever
15. ABS switch (jika dilengkapi)
C. Caution Item 8. Machinery system caution item E03
1. Seat belt caution lamp 9. Engine system caution lamp E03
2. Parking brake pilot lamp 10. Transmisi system caution lamp E03
3. Dump body pilot lamp 11. Retarder system caution lamp E03
4. Emergency steeringpilot lamp 12. Brake oil temperature
5. Fuel lever caution lamp
6. Maintenance caution lamp E 01 E. Pilot display Meter
1. Engine preheating pilot lamp
D. Emergency Stop Item 2. Retarder pilot lamp
1. Coolant temperature caution lamp 3. Lock up pilot lamp
E02 4. Head lamp, head beam pilot lamp
2. Torque conventer oil temperature 5. Turn signal pilot lamp
cation lamp E02 6. Shift indicator
3. Battery charge caution lamp E03 7. Shift lever pilot lamp
4. Steering oil temperature caution lamp 8. Power mode pilot lamp
E02 9. ARSC set speed indicator
5. Engine oil pressure caution lamp E03 10. ASR pilot lamp
6. Brake oil pressure temperature E03
7. Tilt / angle caution lamp
DOZER 375 A
PC 800
Grader 825A
ARTI KODE ENGINE DAN KODE UNIT KOMATSU :
1. KODE ENGINE
Keterangan : S = Supercharger (Menggunakan turbocharger)
S 6 D 125-1
A = After Cooler
S A6D125-1
AA = Air to air aftercooler
S AA6D140-3
6/12 = Jumlah piston
S AA12V140-3
D/V = Tipe engine
140 = diameter cylinder liner (mm)
-3 = modifikasi engine
2. KODE UNIT
HD Articulated Dozer Excavator Grader
HD 785 – 5/7 HM 400 -1/2 D 65 E/P PC 200 LC GD 825 A -2
VOLVO A 40 D/F D 85 E/P/A SS PC 750 SE – 7 CAT 24 H/M
D 155 A PC 1250 SP -7
D 375 A EX 2500 – 5
EX 2600 - 6
Keterangan : Keterangan : Keterangan : Keterangan : Keterangan :
H = Heavy H = Hauler D = Bulldozer P = Hydraulic Excavator GD = Grader
D = Duty M = Mooka Komatsu Komatsu 82 = Ukuran Unit
78 = Size Unit 400 = 400 x 0,1 : 40 6 = Size Unit C = Crawler 0/5 = Driving
5 = Torque Ton (Kapasitas 5 = Torque 125 = Berat unit siap System
Conventer Muat) conventer Operasi (ton) 2 = Modifikasi
- 5/7 = Modifikasi -1/2 = Modifikasi E = Long Track -7 = Modifikasi A = Basic Mode
P = Swamp Shoe LC = Long Crawler (A= articulated,
A = Standar SE = Super Earth Moving R= Rigid)
SS =Super Skider SP = Super Production CAT = Caterpilar
24 = Panjang Blade
(ft)
H/M = Series
POWER SKELETON UNIT
HD 785
1. Engine (SA12V140)
2. Out put shaft
3. Front drive shaft
4. Brake cooling pump (SAR(4)-285+285)
5. Torque converter transmission
charger pump (SAR(4)-160)
6. PTO
7. Torque converter
8. Transmission
9. Rear drive shaft
10. Differential
11. Drive shaft
12. Brake
13. Tire
14. Final drive
15. Parking brake
16. Steering, hoist pump
(SAR(4)-180+180)
PC 2000-8
HM 400-1
1. Output Shaft
2. Drive Shaft
Fungsi sebagai penghubung / meneruskan putaran komponen-komponen power train. Front drive
shaft menghubungkan output shaft dengan PTO. Rear drive shaft menghubungkan transmission
dengan differensial. Axle drive shaft menghubungkan differensial dengan final drive.
Hydraulic Pump berfungsi untuk memompa oli hidrolik dan terdiri dari pompa, yaitu :
1. Brake cooling pump :Untuk memopa oli brake cooling
2. Steering & hoist pump :Untuk memompa oli steering & hoist
3. Front brake cooling control pump :Untuk memompa oli brake dalam system brak
4. Torque conventer/ transmisi charge pump :Untuk memompa oli transmisi
4. Torque Converter
Torqueconverter adalah komponen yang berfungsi sebagai penerus putaran dari engine ke
transmisi dengan menggunakan oil flow dimana energi mekanis dirubah menjadi energi kinetis
oleh Pompa kemudian energi kinetis kembali dirubah menjadi energi mekanis oleh Turbin dengan
tujuan untuk meninkatkan torsi.
Tiga Komponen Utama : Terdiri dari 3 Valve :
1. Pompa 1. T/C Relief Valve
2. Turbin 2. T/C Regulator Valve
3. Stator
3. T/C LockUp Valve
Keuntungan :
1. Torque Output dapat berubah-ubah sesuai dengan
beban unit
2. Suara tidak berisik
3. Dapat meredam getaran dari engine maupun
power train
Kerugian :
1. Transfer tenaga dari engine tidak 100 %
2. Rawan kebocoran
3. Konstruksi rumit
NOTE : LOCK UP AKTIF PADA RPM (1250 – 1475) & NON AKTIF PADA RPM (1000 – 1050)
Prinsip kerja pompa yaitu mengubah energi mekanis menjadi energi kinetis untuk
Pompa menggerakkan turbin. Terpasang dengan drive case yang berhubungan dengan
flywheel engine
Prinsip kerja turbin yaitu mengubah energi kinetis menjadi energi mekanis yang
Turbin
dihubungkan dengan shaft menuju transmisi.
Berfungsi untuk mengarahkan oli yang jatuh ke sudu-sudu turbin kembali menuju
Stator
pompa.
Suatu kondisi dimana putaran output Turbin sama dengan nol atau berhenti
Stall sedangkan pompa masih berputar sesuai dengan putaran output engine. Hal ini
disebabkan karena beban yang berlebihan.
Suatu kondisi dimana putaran turbin sama dengan nol atau berhenti saat putaran
Stall Speed
pompa mencapi putaran yang maksimal.
5. Transmisi
Berfungsi untuk menggerakan unit maju / mundur, merubah percepatan saat unit traveling.
Transmisi Case Tempat untuk menampung oli transmisi/ torqueconverter dan oli brake cooling.
Strainer Sebagai filter untuk menyaring oli transmisi/torque converter dari transmisi case
ECMV /
Untuk mengontrol kerja transmisi sesuai input signal dari Transmisi Controler
Electronic Control dan berfungsi agar memperhalus perpindahan shift up maupun shift down
Modulating Valve)
Clutch Transmisi Berfungsi untuk menghubungkan gear yang ada ditransmisi
Komponen yang terdiri dari Sun Gear, Planetary Gear, Planetary Carrier, dan Ring
Planetary Gear
Gear
6. Differential
Berfungsi untuk meneruskan putaran
dari transmisi ke roda kanan dan kiri
melalui drive shaft, dengan putaran
masing-masing roda berbeda.
Perbedaan putaran pada masing-
masing roda disebabkan karena adanya
distribusi beban, traksi atau jalan yang
menikung.
7. Final Drive
Final drive dibangun dari suatu unit planetary gear sebagai reduksi dan meneruskan tenaga ke roda
(wheel), sehingga menghasilkan gaya yang besar.
8. Wheel / Axle
Sebagai Komponen pada power train yang bersinggungan langsung dengan tanah. Roda
menghasilkan traksi ke tanah sehingga unit dapat bergerak.
A2B
1. Main Pump
Dipasang di PTO dihubungkan ke control valve oleh hose hydraulic. Berfungsi untuk mensuplay
aliran oli ke system hydraulic dan bersama komponen yang lain menimbulkan pressure.
2. Control Valve
Berfungsi untuk mengarahkan oli sesuai yang dikehendaki. Prinsip kerjanya aliran oli yang
dihasilkan pump akan diatur jumlah alirannya dan tekanannya.
3. Swing Motor
Swing motor dipasang pada swing machinery berfungsi untuk memutar upper struktur unit ke kiri
dan kanan 360 derajat. Prinsip kerja merubah pressure hydraulic menjadi tenaga mekanis untuk
menggerakan ring gear pada swing machinery.
4. Swing Brake
Terletak di swing motor berfungsi untuk menghentikan upper struktur. Prinsip kerja swing brake
akan on ketika control valve swing posisi netral.
5. Swing Machinery
Merupakan tempat kedudukan swing motor dan juga penghubung antara swing motor dengan
swing circle. Fungsinya untuk meneruskan putaran swing motor ke swing circle dengan mereduksi
putaran swing motor. Prinsip kerjanya gaya dari swing motor dipindahkan dan direduksi melalui
sun gear, planetary gear, ring gear dan planetary carrier. Lalu diteruskan ke swing circle.
6. Swing circle
Berfungsi untuk meneruskan putaran dari swing machinery ke upper struktur sekaligus sebagai rel
upper struktur sehingga dapat berputar.
7. Center swivel Joint
Berfungsi mengarahkan aliran oli dari control valve ke travel motor, dengan adanya center swivel
join upper struktur berputar 360 derajat maka aliran oli dari control valve ke travel motor tidak
akan terjadi masalah.
8. Travel Motor
Terletak pada undercarriage yaitu fixed dengan final drive kiri dan kanan. Fungsinya merubah
tenaga hidrolik menjadi mekanik. Prinsip kerjanya meneruskan tekanan oli yang diterima piston
motor dari travel control valve sehingga output shaft memutar penggerak akhir/ final drive.
9. Final Drive
Srbagai penggerak akhir yang meneruskan putaran travel motor ke sprocket. Lokasinya pada
bagian bawah undercarriage. Fungsi Final Drive adalah untuk mereduksi putaran travel motor
supaya didapatkan tenaga yang lebih besar.
10. Unedercarriage
Terletak dibawah upper struktur, berfungsi untuk bergerak maju, mundur, kiri dan kanan, sebagai
penahan beban dan meneruskan berat dari tractor ke landasan, dan untuk pembawa dan
pendukung unit. Adapun komponen utama dari Undercariagge, yaitu :
a. Track roller : sebagai pembagi beban agar sama rata, sebagai rel track saat menggulung
track.
b. Carrier Roller : Sebagai penahan berat gulungan atas dari track assy agar tidak melentur
dan menjaga gerakan track shoe antara sprocket ke idler atau sebaliknya tetap lurus.
c. Sprocket : bagian undercarriage dengan perantaraan gigi sprocket sebagai penggerak dari
tractor assy, sehingga track dapat bergerak.
d. Track roller guard : berfungsi menjaga kelurusan pergerakan rantai agar tidak mudah lepas,
menjaga agar kotoran / benda keras tidak masuk kedalam komponen undercarriage yang
akan mempercepat keausan terutama pada roller.
e. Track shoe : berfungsi sebagai alas gerak traktor, persinggungan dengan tanah dan sebagai
pembagi ground pressure ke landasan.
f. Adjuster track/ recoil spring : berfungsi untuk menegangkan atau mengendorkan track
dengan menekan yoke yang mana gaya tekan tersebut diteruskan ke front idler, sebagai
peredam benturan yang diterima track / idler.
g. Front Idler : berfungsi sebagai peredam kejutan, untuk membantu menegakkan /
mengendorkan track
h. Track Link : berfungsi untuk merubah gerakan putaran menjadi gerakan gulungan, sebagai
tumpuan / sel dari track roller sehingga memungkinkan unit dapat berjalan.
Miss Operation : Kesalahan operator pada saat mengoperasikan unit yang tidak sesuai dengan
OMM (Operational Manual Maintenance).
Contoh :
Mengurangi kecepatan kenderaan dengan foot brake pada kecepatan 30 km/jam.
Over running.
dll.
Test Brake Komatsu Truck
NO UNIT BRAKE TYPE RPM
1 HM 400 Retarder Brake 1090
Service Brake 1500
Parking Brake 1400
2 HD 785 - 5 Retarder Brake 1240
Service Brake 1680
Parking Brake 1770
Emergency Brake 1900
3 HD 785 - 7 Retarder Brake 1200
Service Brake 1570
Parking Brake 1440
Emergency Brake 1900
4 HD 1500 - 5 Retarder Brake 1560
Service Brake 1560
Parking Brake 1550
Emergency Brake Full
5 HD 1500 - 7 Brake Lock 1410
Retarder Brake 1490
Service Brake 1520
Parking Brake 1550
Emergency Brake Full